Senin, 07 Mei 2012

Mencintainmu Membahagiakanku 2


2
 
“Mana Nata?!” marah Rut yang baru pulang.
“kenap sih lu marah!!?” Tanya Sella.
“Siapa yang gak marah. Gua jadi barang taruhan di cave, dan lu tahu siapa bos
taruhan itu?!.”
“Siapa?.”
“Nata!!.”
Belum satu langkah Rut melangkahkan kakinya ke kamar nata, Sella langsung memengang tangan Rut, “Jangan sekarang?.”
“kenapa?!.”
“Lagi patah hati.”
“Dengan siapa?.”
Sella menggeleng, “gak tahu, dia gak mau bilang.”

Jam sudah pukul 6.30 WIB. Jemputan dari Evan sudah datang, Sella yang sudah siap dari tadi, lalu kekamar Nata, “Tok…tok…tok…”
“masuk,” terdengar suara dari dalam.
Sella masuk kedalam kamar. Petapah kagetnya Sella melihat Nata tidur-tiduran di kasur, “Lu kok belum siap-siap!.”
“Gua lagi males.”
“Kalau gak jadi bilang dong!” kesal Sella. Sella melihat map di kasur, lalu dilihat isi map itu, “untuk apa ijasa lu nih.”
“Tadi siang Evan bilang, kalau perusahaan tantenya sering menyalurkan beasiswa. Gua disuruh bawak ijasa gua.”
“Lu mau kuliah.”
Nata menggangguk.
“Kalau gitu jangan sia-siakan kesempatan ini,” saran Sella.
Nata berpikir sejenak, “Ok. Gua siap-siap dulu,” sambil bangkit dari kasur. “Mana Rut?.”
“Dia pergi denga Heru tadi.”
Nata cenggar-cenggir.
Sella yang tahu kenapa Nata cenggar-cenggir, lansung berkata, “Rut marah baget sama lu. Lu juga keterlaluan banget!” lalu keluar dari kamar.
***
Tante dan Evan membantu Kakek jalan menuju meja yang sudah di pesan Tante atas namanya. Dengan sopannya pelayan lestoran mengatar mereka. Setelah Tante memesan makanan untuk makan malam mereka, lalu kakek berkata kepada Eva, “Tadi kakek bertemu dengan Darman. Kakek membantalkan pertunangan kalian.”
“Apa!!” kaget Evan.
Kakek yang melihat Evan kaget, langsung kebinggungat, “kenapa kau kaget, bukannya kau menyukain Nata?.”
“Sudah aku bilangkan kek, kami hanya temen!” evan pergi dari tempat itu. Didepan lestoran Evan bertemu Sella dan Nata yang baru tiba. Nata langsung mengejar Evan yang kelihatan marah, sedangkan Sella masuk di atas mang Udin sopir yang menjemput mereka.
“Maaf tuan. Ini Non Sella ya,” kata mang Udin sopan.
Kakek dan tante melihat Sella, “Silakan duduk,” kata tante lembut, “Mana Nata?.”
“Tadi gejar Evan,” jawab Sella.
“Ya sudah kalau gitu. Ayo kita makan,” ajak Tante pada Sella.
Lalu mereka makan.
***
Setiba ditaman, Nata membeli dua bungkus kacang rebus lalu memberikannya pada Evan yang dari lestoran gak gomong sepata katapun. “Ternyata kalau malam, bintang-bintang dilihat dari sini indah banget ya,” puji Nata membuka obrolan sambil melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Evan menolek kearah Nata yang duduk disebelahnya, “lu gak lapar?.”
“Laparlah….”
“Lalu kenapa lu ikutin gua?.”
“Gua takut lu bunuh diri.”
Evan tertawa.
“Kalau gitukan kelihatan manis,” rayu Nata.
“Ha…. Ada-ada aja loe.”
“Kalau boleh tahu. Tadi lu kenapa?” yang masih penasaran.
“Gua marah ke Kakek.”
“Kenapa?.”
“Kakek membatalkan perjodohan gua dengan Sindy.”
“Apa!” kaget Nata yang bercampur senang namun tak ditampakkannya didepan Evan.
“Kakek pikir gua menyukain lu.”
“Memang benar khan…”
Evan menatap Nata.
“Bercanda. Serius baget.” Terdiam sejenak, “tapi kalau gua kasih saran, lu jangan marah segitunya ke Kakek. Khan lu bisa ngomong baik-baik. Sebenarnya sih, kalau lu bener-bener menyukain Sindy, tanpa dijodohkan pun lu harus tekat mendapatkannya,” saran Nata.
“Lu bener juga. Thank ya…”
***
Dari ruang tamu Rut dan Sella mengitip Nata yang melamun diteras, entah apa yang dipikirkan Nata mereka tidak tahu. Lalu mereka mendekatin Nata, “Lu gak apa-apa?” Tanya Sella, sambil duduk.
Nata melihat Rut dan Sella, “Gua gak apa-apa kok. Gua pikir kalian belum pulang.”
“Dari tadi kok,” kata Rut.
“Bagaimana kecan lu,” goda Nata.
“Apaan sih loe,” malu Rut.
“Bagaiman makan malamnya?” Tanya Nata pada Sella.
“gitu deh. Habis makan langsung pulang. Tapi kakek banyak nanya tentang Lina.”
“Nanya apa?.”
“Ya keluarga dan sifat Lina.”
Nata kembali memadangin langit, “kok bintang disini lain yang ditaman …”
“Apa yang lain?” Tanya Rut lalu melihat ke langit. Sella pun ikutan melihat langit.
***

Rut langsung membuka pintu tanpa mengetuk lagi, dilihatnya Nata sedang membersihkan wajah dengan pelembab. “Loe belum siap?” Tanya Rut heran.
“Emangnya mau kemana. Ke cave, kemarinkan sudah telajur minta cuti seminggu, ya… sekarang malas-malasan aja,” jawab Nata.
“Kita gak jadi ke Bali?.”
“Semalam Evan gak ngomong apa-apa, mungkin gak jadi.”
“Tapi sopir Evan datang.”
“Apa,” kaget Nata yang belum siap-siap. ,”Memang jadi, jam berapa berangkatnya?.”
“Jam 10 nanti kata pak sopir.”
“Adu…”sibuk Nata, “Gua belum ke salon lagi, nanti gua jelek dilihat orang-orang Bali.”
“Udah jangan bawel, siap-siap!” lalu kembali ke kamar.
Nata langsung bergegas memasukkan baju ke koper. Tinggal 2 jam lagi pesawat lepas ladas padahal kosan mereka sangat jauh dari bandara, untung-untung gak macet, kalau macet… gawat baget. Apalagi jam-jam segini mana ada gak macet, semua orang beraktivitas.
***
Evan melihat Kakek dan tante sedang santai diruang tengah, “Kita gak jadi ke Bali?” Tanya Evan.
Tante dan Kakek menolek ke Evan. “Tante pikir gak jadi,” kata Tante yang sudah memerintahkan anak buahnya untuk membatalkan keberakatan mereka.
“Kalau jadi, biar dibeli lagi,” kata Tante melihat Kakek yang tersenyum.
“Ya cepat beli,” kata Kakek tak mau buang kesempatan.
Tante langsung keluar untuk menelpon bawahannya untuk membeli tiket ke Bali lagi.
“Kau gak marah ke Kakek?” Tanya Kakek ragu-ragu.
“Kalau dipikir-pikir gua gak pantas marah ke Kakek cumak gara-gara itu. Kalau kami jodoh, Sindy tak akan kemana-mana,” bijak Evan.
Kakek tersenyum mendengar perkataan Evan yang bijak.
“Aku ke kosan Nata dulu, nanti telepon aja jam berapa berangkatnya,” sambil berdiri, “tolong bilang ke Tante jangan lupa bawak koper gua dikamar.”
“Iya.”
Lalu Evan pergi.
“Kemana Evan?” Tanya Tante.
“Ke kosan Nata. Jam berapa berangkat?.”
“Jam 2 nanti.”
Lalu kakek terdiam.
“Apa lagi yang Ayah pikirkan?.”
“Apa kita beritahu Evan aja, kalau semalam kita telepon Darman untuk melanjutkan perjodohan itu, tapi Sindy tidak mau karna dia menyukain laki-laki lain?” pendapat Kakek.
“Tak usahlah Yah. Faktanya juga, Sindy gak mencintain Evan. Duluhkan dari keluarga aja niat menjodohkan mereka, tapi sampai sekarang aku belum pernah dengan Sindy setuju perjodohan itu.”
“Tapi aku tak mau lihat Evan patah hati.”
“Sudahlah Yah. Evan sudah dewasa, dia tahu mana cinta tulus dan tidak.”
“Maksud kau Nata.”
“Bisa aja. Seminggu ini, dia selalu ketemu Nata. Dan… makan malam, beasiswa, dan ke Bali, kenapa harus ajak Nata? Kenapa gak gajak Sindy aja?” pendapat Tante.
“Aku jadi penasaran dengan yang namanya Nata.”
“Ayah pernah ketemu kok. Ayah lupa.”
“Kapan?.”
***
“Ruttt……!!!” teriak Nata dari teras.
Nata dan Sella berlari keruang teras sambil membawa koper masing-masing.
“Apaan sih lu!!”marah Rut, Nata teriak-teriak.
“Kata lu tadi, sopir sudah jemput kita!,” Nata yang juga marah.
“Tuh….” Sambil menujuk ke halaman teras, “mana mobil ya?” kaget Rut.
Sella pun ikut kaget, “tadi ada kok mobilnya malah sama sopirnya.”
“Lalu mana mereka?!!” marah Nata yang merasa dipermainnkan.
“Gak tahu,” serentak.
“Ehhh…” kesal Nata. Baru membalikkan tubuhnya, Nata mendengar suara motor, lalu langsung kembali membalikkan tubuh, siapa gerangan yang datang.
Cowok itu membuka helmnya, “kalian sudah siap?” Tanya Evan, sambil turun dari motor. Melihat mereka semua sudah siap untuk berangkat.
“Gak jadi ya?” Tanya Nata.
“Jadi kok. Tapi jam 2 nanti berangkat.”
“Tapi tadi sopir lu…”
“Udah dong! Kalian ini mainin orang aja sih!” marah Nata memotong perkataan Rut.
“Kami gak bohong kok!!” kesal Sella.
“sudah dong…” kata Nata lagi.
“Cukup cukup cukup…. Tadi memang sopir gua ke sini, cumak tadi sudah gua suruh dia  pulang, kata Evan menghentikan petengkaran.
“Benerkan…” kata Rut.
“Iya, sorry,” kata Nata meminta maaf pada kedua sahabatnya.
“Jam 2 nanti kita berangkat.”
Rut dan sella menatap Evan, seakan tak percaya.
“Ini pastih,” kata Evan lagi menyakitkan Rut dan Sella.
Rut dan Sella masuk kedalam. Sedangkan Nata senyum-senyum pada Evan.
“Kenapa lu senyum?.”
“Lu temenin gua kesalon ya.”
“Males,” sambil duduk di anak tangga, “gak ada kerjaan lain aja.”
“Ayo….” Maksa Nata.
Dengan terpaksa Evan mengikutin keinginan Nata untuk mengatarnya ke salon langganannya yang berada diseberang jalan.
***
Davin keluar dari rumahnya yang berniat membeli menuman keras yang sudah habis dibelinya semalam. Tapi tak tahu kenapa Davin merasa ada yang mengikutinnya dari belakang sejak dari rumah. Berkali-kali Davin menolek kebelakang tapi tak ada orang yang mecuringakan melainkkan hanya orang-orang lewat saja.
Dipertengahan jalan, sebuah mobil berhenti di dekat Davin. Davin melihat orang yang keluar dari mobil BMW berwarna biru itu. “Kak Davin,” sapa Sindy, “Kakak mau kemana?” yang melihat Davin yang setengah sadar.
“Bukan urusan lu!” kesal Davin sambil melajutkan langkahnya.
“Mau ku antar kak?.”
“Gak perluh.”
Sindy memengang tangan Davin, “Kak…” bujuk Sindy, takut nanti terjadi apa-apa ke teman masa kecilnya.
Davin mengikutin keinginan Sindy.

Setiba di cave tempat langganan biasa mereka datangin. Davin langsung memesan minuman keras sedangkan Sindy hanya jus apel. “Sejak kapan kakak minum?” Tanya Sindy, tak pernah melihat Davin mabuk. Walaupun mereka sering minum, tapi yang mereka minum hanya untuk menghangatkan tubuh dan tak terlalu berlebihan seperti dilihat Sindy sekarang.
Davin tak menjawab. “Kapan lu datang?” Tanya Davin mencari obrolan lain.
“Barusan,”jawab Sindy yang baru tiba di Jakarta yang sebelumnya ke Paris untuk kuliahnya S1 jurusan bisnis.
“Bukannya 4 tahun.”
“Iya sih…. Ini lagi libur, tapi rencananya semester depan mau lanjut di Jakarta aja.”
“Kenapa?lebih baguskan di Paris.”
“Iya sih… cumak….”
“Bukan karna Evan khan?.”
“Kakak tahu aja,” malu Sindy.
“Sekarang dimana dia?.”
“Di Bali. dua hari lagi ke Jakarta kok, dan… rencananya dia mau menetap di Jakarta.”
“Kenapa? Usaha filemnya kurang laku disana?” lalu minum lagi.
“Kakak…”
Davin tersenyum.
“Aku dengar dari Papa, Kakak sudah nikah? Sudah punya anak belum?.”
“Sudah, tapi gua gak pernah ketemu dia,”kata Davin memedam kerinduannya selama setahun lebih. “Gua rindu banget ke mereka.”
Sindy  diam melihat Davin yang hampir menangis, namun ditahannya.

***
Dibandara, Nata, Rut, sella dan Evan sudah tiba duluan dari Kakek dan Tante padahal setengah jam lagi pesawat yang menuju ke Bali akan lepas landas. Seseorang pria dengan berpakai dasi dan jas berwarna hitam mendekati Evan yang sedang duduk di bangku tunggu sambil mendengarkan musik dari hpnya. “Sore tuan,” sopan pria itu.
Evan melihat pria yang berdiri didepannya, lalu melepaskan headset dari telinganya, “Pak Win. Ada apa?.”
Pak Win memberikan 4 tiket kepada Evan.”Tuan tunggu didalam saja, sudah saya cekking. Biar saya yang nunggu nyonya dan tuan besar disini.”
“Ya sudah kalau gitu,” sambil berdiri, “yuk…” ajak Evan pada Nata, Sella dan Rut. Lalu mereka masuk ke dalam tempat di mana orang-orang di bolehkan jika sudah cekking. Sedangkan Pak Win menunggu kedatangan Kakek dan Tante. Setengah jam pun berlalu, panggilan keberangkatan menuju Kota Bali sudah diumumkan agar memasukkin pesawat.
“Ayo…” ajak Evan pada ketiga sahabat itu.
“Tapi, Kakek dan Tante lu?” Tanya Nta yang belum melihat mereka dari pintu yang mereka lewatin tadi.
“Nanti mereka nyusul,” jawab Evan yang masih melangkahkan kakinya.
Rut menarik tangan Nata,”yuk….”
Didalam pesawat,gamugari mengantar mereka berempat ke bangku masing, Nata dan Evan duduk di bangku 3,4 jadi mereka sebangku, sedangkan Rut dan Sella bangku 5,6 jadi mereka duduk pas dibelakang Nata dan Evan. Nata yang mengetahuin dirinya sebangku dengan Evan cenggar-cenggir.
“Kenapa lu senyum-senyum?” aneh Evan melihat Nata.
“Seneng aja,” yang masih tersenyum.
“Apa.”
“Dasar gajen!” kata Rut dari belakang.
“Biarin….” Jawab Nata.
Evan hanya tersenyum.
Pengumuman untuk duduk, cara memakai sabuk pengaman dan jika terjadi kecelakaan pesawat dengan lihainya gamugari itu memberitahu pada awak pesawat. Ketika pesawat akan lepaslandas, Nata langsung memengang tangan Evan dengan erat.
“Auhhh…” teriak Evan kesakitan.
Nata yang mendengar teriakkan langsung ikut berteriak,”aaahhhh…..!!!”

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar