Senin, 07 Mei 2012

Mencintainmu Membahagiakanku





W
1




aaahhhh….!!!”, jeritan lantang memecahkan hening pagi yang cerah.
Penghuni ruah kosan berlari kearah kamar yang bersebelahan dengan kamar mandi. “Ada apa?” semua bertanya pada cewek penghuni kamar yang sedang menatap dirinya di balik kaca.
“Ada apa Nat?” Tanya ibu Dewi pemilik rumah kosan tu yang ikut panik.
“Ada jerawat…” rengek Nata sambil menujuk jerawat di pipinya.
“Uuuuhhh….” Semua bersorak sebelum keluar dari kamar.
“Kau ini ada-ada saja” heran ibu Dewi sambil menggeleng meninggalkan kamar.
“Hu…hu…hu…” Nata menanggis yang di buat-buatnya, “Gua gak cantik lagi deh…” yang masih menatap dirinya dari balik kaca.
Sella menjulak kepala Nata dari belakang, “sialan lu, gua pikir apa tadi!” kesal Sella terngganggu tidurnya. Di jatuhkannya tubuhnya ke atas kasur, tak lama kemudian terlelap.
“Lu kan bisa ke salon?” Sarat Rut.
“Hmmm…” Nata menarik nafas panjang, “lu temenin ya…”
“Iya.”
Nata melihat isi dompetnya, “habis deh,” sedih melihat uang gajinya mulai menipis, “tapi ini untuk kencantikkan gue.” Nata kembali semangat. Nata memang suka sekali merawat dirinya di salon walaupun gajinya sebagai pelayan pas-pasan tapi dia tetap menyisahkan uang gajinya untuk ke salon dan membeli barang-barang kecantikkan yang membuat dirinya tambah menarik.
Rut tersenyum lebar sambil menggeleng melihat sifat temennya yang satu ini tidak berubah-ubah sejak di panti asuhan. Sebelum mereka tinggal di kosan, mereka tinggal dipanti asuhan sejak dari kecil dan bayi. Rut dan Sella tak tahu siapa orang tua mereka, dari bayi mereka sudah di berada dipanti. Jangankan mereka, ibu panti aja gak tahu orang tua mereka. Sedangkan Nata, sejak umur 10 tahun tinggal dipanti asuhan, karna gak ada keluarga dari pihak ayah dan ibunya mau merawatnya, mungkin karna ayah dan ibu tidak meninggalkan harta jadi mereka takut nantinya akan menguarkan biaya besar. Namun bagi Nata, dia lebih bahagia tinggal dipanti bersama-sama dengan teman senasipnya.
Selain Nata, Rut dan Sella, mereka punya satu sahabat lagi yang bernama Lina. Lina lebih beruntung dari pada mereka bertiga, sejak umur 12 tahun Lina di angkat jadi anak keluarga yang kaya yang tidak bias memilikkin anak. Tapi dua tahun kemudian keluarga Lina kecelakaan pesawat terbang dan manyatnya kedua orang tua Lina belum di temukkan sampai sekarang. Namun setidakknya orang tua angkat Lina meninggalkan harta yang banyak untuk di wariskan ke Lina. Namun itu tidak membuat Lina puas, walaupun warisa  dari orang tua angkatnya berlimpah, dia tinggal bersama ketiga sahabatnya dipanti dulu, dikosan yang tak begitu besar, namun masih layak di huni.
Namun setahun yang lalu, dua bulan sesudah Lina menikah dengan Davin. Lina tak ada kabar lagi, komunikasih hilang. Jangan ketiga sahabatnya, Davin aja suaminya gak tahu apa alasan Lina pergi tak memberi kabar. Sampai sekarang.

Semua mata memadang kearah mereka berdua ketika dalam perjalanan menuju lestoran tempat kerja mereka berdua, terdengar suara dengungan dan celetukkan tak karuan, juga umpatan kecil. Tapi semua itu bukan karma jerawan yang menempel di wajah Nata melainkkan tingkah Nata yang berlebihan, malu dilihat jerawat pada semua orang.
“Eeekkk…ee…e…” rengek Nata.
“Kenapa lagi?” Tanya Rut yang sudah lelah mendengar rengekkan Nata, “keluar lagi jerawatnya.”
“Eng…gak…mereka pastih omongin gue, kalau gue jelek, gue gak cantik lagi. Gue malu…”
Rut menarik nafas panjang, “ kan nak ke salon?” bujuk Rut, “Mana sih Nata yang cantik, manis, imut dan centil.”
“Centilnya gak termasuk.”
“Iya, iya. Yuk…”
Nata menujukkan senyuman manisnya, “yuk…” Tiba-tiba tak segaja Nata menabrak seseorang yang baru keluar dari cave, “auhh…” Nata terjatuh.
“Sorry. Lu gak apa-apa khan?” suara lembut itu keluar dari bibir cowok yang di tabraknya, sambil menjulurkan tangannya.
Dengan senyuman manisnya, bercampur kagum, Nata menyabut tangan kekar itu. Lalu berdiri, “Lu ganteng sekali,” tanpa sadar kata-kata itu terucap dari mulut Nata. Cowok itu tersenyum. Baru beberapa langkah, Nata memanggil cowok itu, “Heii….” Cowok itu menolek ke belakang. “Baru kali ini gue lihat cowok seperti lu.” Rayu Nata. Cowok itu hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan lestoran menggunakan motor king berwarna hijau muda.
“Lu tuh malu-maluin aja,” betek Rut lalu melangkah kearah ruang ganti karyawan yang berada di sebelah dapur.
“Dia ganteng kok,” kagum Nata, lalu mengikutin Rut dari belakang sambil menutup jerawat dipipinya.
***
“Gua pulang,” langsung ke kamarnya. Tak lama kemudian pintu dibuka dari luar kamar. Evan menolek ke pintu.
“Apa gak ada kerjain lain!?” marah tante Nadia melihat sikap Evan yang tak mau tahu.
Evan menarik nafas panjang, “ada apa lagi sih tan?.”
“Kalau kau gak ada kerjaan. Kau Bantu Davin cari Lina!.”
“Gak ada kerjaan lain aja.”
“Memang kau gak pernah bisa diadalkan di rumah ini!.” Evan mengambil bantal, lalu ditutup wajahnya dengan bantal. Tante yang melihat Evan yang tak bergerak sedikit pun, lalu keluar dari kamar dengan kekesalan.
***
Sesampai dirumah, Rut langsung duduk diteras dengan muka cemberut. “kenapa lu??” Tanya Sella yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Rut diam. “Kenapa dia?” Tanya lagi pada Nata.
“Marah.”
“Kenapa?.”
“Lu tuh maluin gue! Semua orang lihatin kita. Kalau sikap biasa kenapa sih…?? Seperti tak pernah aja kenah jerawat!” betek Rut.
Sella melihat wajah Nata, “kalian gak jadi ke salon?.”
“Rut gak mau. Padahal tadi pagi dia sudah janji,” betek Nata.
“Yang seharusnya tuh yang marah tuh gue bukan lu!” kata Rut.
“Tapi kan lu sudah janji.”
“Tapi lu tuh malu-maluin!.”
“Apa!.”
“Ha…ha…ha…” Sella tertawa lepas, “kalian tuh sama aja.”
Nata dan Rut menatap Sella dengan wajah keheran. Nata sambil mengaruk kepala yang sebenarnya gak gatal.
***
“Pagi Nata,” sapa Pak Iwan menejer cave tempat Nata berkerja, “baru datang?.”
“Iya pak,” jawab Nata, “masuk dulu ya pak.”
“Iya manis.”
“Hiiii…” Nata mempercepat langkahnya ke ruang ganti pakaian.
“Kenapa lu?” Taya Heru melihat sikap Nata yang aneh.
“Gua  merinding dengan Pak Iwan.”
“Ha…ha…ha… Pak Iwan kan suka sama lu,” sambung Diko.
“Najis. Seperti gak ada cowok lain aja, “betek Nata.
“Ha…ha…ha…!!!.”
“Mana Rut?” Tanya Heru yang biasa melihat Rut bersama Nata jika datang ke lestoran.
“Ukhh…” batuk nakal Doni yang tahu Heru ada piling ke Rut.
“Apaan sih lu!” pemukul Doni.
“Gua pikir lu tahu,” yang pura-pura panik, “Rut gak bilang sama lu?” Tanya Nata.
“Gak,” Heru mulai panik.
Melihat reaksi Heru yang panik, Nata langsung tertawa terbahak-bahak,
“Ha…ha…ha… ternyata lucu lihat lu panik ha…ha…”
“Lu gak kuatir?.”
Doni yang tak tahu kenapa Nata tertawa, hanya ikut tertawa, “Apa sih yang lucu Nat?.”
“Untuk apa kuatir, Rut pergi ke panti kok.”
“Apa.”
“Kalau lu suka bilang dong, nanti kalau diambil orang yahok lu…” ucap Nata sebelum masuk ke kamar ganti khusus cewek.
“Bener tuh…” sambung Doni.
“Diam lu!!” marah Heru.
Doni langsung pergi, takut dimarahin lagi.
***
Seperti biasa Evan bangun siang. Berkali-kali ia mengucek kedua matanya sambil keluar dari kamar, lalu duduk di meja makan, tanpa melihat sekitarnya yang sepih Evan langsung menyatap nasi goreng sarapan paginya yang disiapkan Bi Ija.
“Tuan besar masuk rumah sakit lagi det,” kata Bi Ija memberitahu kepada Evan.
“Kapan masuknya?.”
“Tadi pagi tuan. Saat sarapan pagi.Kondisi tuan besar menurun.”
Evan terhenti sejenak menyatap sarapan paginya, lalu kembali menyatap.

Evan ke rumah sakit. “Bagaimana keadaan kakek?” Tanya Evan yang baru tiba.
Tante melihat jam di lengannya yang menujuk pukul 12 siang, “kenapa baru datang?.”
Evan duduk di bangku yang berada di depan kamar Kakek dirawat, “udahlah tan.”
Tante menarik nafas panjang, “dari pada kau keluyuran tak jelas, lebih baik kau cari Lina. Kalau tidak kau bujuk Dapin supaya pulang.” Lalu masuk kembali ke dalam kamar.
Dipikir ma udah cari orang yang tak di kenal!, kata Evan dalam hati.
***
“Lu mau keman Nat?” Tanya Heru melihat Nata yang tak memakai baju kerja lagi.
“Ke salon. Lu mau ikut?”.
“Ini kan masih jam kerja.”
“Gua sudah minta ijin, tapi…” Nata memperkecil volume suaranya, “lu jangan bilang ke bos kalau gue ke salon. Ok!.”
“Lu bilang ke bos apa?.”
“Nenek gua ninggal.”
Heru terdiam sejenak, “Emang lu punya nenek?.”
“Itulah salah satu begoknya bos kita.”
Heru tertawa lebar, “Haa…ha…”
“Tapi lu jangan bilang ke bos.”
“Iya.”
“Thank ya,” lalu pergi dari pintu belakang, “gua pergi.”
***
“Lu kenapa?” Tanya Beni melihat Evan yang murung. “Di omelin Tante lu lagi?.”
“Sudah dapan?” Tanya Evan langsung keinti pembicaraan kenapa dia bertemu Beni di taman kota.
“Serius bangen,” lalu memberikan selembar foto kepada Evan.
“Siapa mereka?” melihat 4 cewek yang di foto itu.
“Mereka sahabat Lina. Soal Lina, belum ada kabar, kemarin anak buahku bilang ada yang melihat Lina di Bengkulu.”
“Lalu?.”
“Hilang jejak.”
“Mana yang namanya Lina?.”
“Yang baju merah.”
Bukan Lina yang Evan lihat melainnkan cewek yang berada disebelah Lina, “Gua gak asing lihat cewek ini, dimana ya?” sambil mengingat-ingat.
“Yang mana?.”
“Evan menuju kearah cewek di sebelah Lina.
“Nama ya Nata. Cantikkan,” puji Beni.
“Mereka tinggal dimana?”.
***
Kepulangan Rut di sambut Nata dan Sella, “lama banget lu pulang?” Tanya Sella yang sebelumnya melihat jam di dalam rumah sebelum keluar.
“Baru jam 10,” kata Rut sambil duduk di kursi teras. Rut melihat muka Nata, “jerawat lu hilang.”
“Iya. Tadi gua ke salon.”
“Sama Sella?”.
“Ma…les…” jawab Sella.
“Cantik lagi khan,” puji Nata.
Rut melepaskan nafasnya yang sangan terdengar gak begitu jelas.
“Bagaimana keadaan Bunda?” Tanya Sella membuka obrolan lain.
“Baik,” terdiam sejenak. “seminggu yang lalu Lina ke panti.”
Nata dan Sella menatap Rut, “Lu tahu dari mana?” Tanya Sella.
“Dari Bunda. Lina bilang ke Bunda, kalau dia sudah gajukkan surat cerai ke kak Davin.”
“Apa Lina bilang kenapa dia menghilang?.”
Rut menatap Nata yang dari tadi hanya diam. Nata yang merasa ditatap kedua temannya, lalu masuk ke dalam rumah.
Rut dan Sella mengejar Nata ke kamarnya. Nata langsung menghapus air mata yang di pipinya. “Lu gak mau tahu kenapa Lina menghilang dari kita semua?” Tanya Rut sambil duduk di atas kasur.
Nata duduk, “kenapa?.”
“Karena Lina gak mau mengambil yang seharusnya jadi milikmu.”
“Sekarang Lina kemana?” Tanya Sella lagi.
Rut menggeleng.
“Gua gak akan mengambil yang sudah menjadi milik Lina. Gak akan,” air mata itu kembali membasahin pipi Nata.
Rut dan Sella langsung memeluk sahabatnya itu.
***

“Sel. Ada tamu untuk lu?” kata Sarah temen satu kos ya.
“Siapa?.”
“Mana gua tahu,” lalu kembali ke kamarnya.
Sella mengambil tas yang akan dibawahnya ke tempat kerja. Lalu ke teras , “Siapa lu?” Tanya Sella pada cowok yang belum memperlihatkan wajahnya.
Cowok itu membalik tubuhnya, “Nama gua Evan. Lu Sella khan?.”
“Apa kita saling kenal?.”
“Gua adik Davin.”
“Mau lu apa? Kalau mau cari Davin dia gak ada disini,” kata Sella dengan wajah tak bersahabat.
“Sepertinya Davin sudah membuat lu marah? Kalau boleh tahu, apa itu?” sambil tersenyum.
“Lu Tanya aja langsung ke Davin!.”
“Maaf.”
“Mau lu apa?!.”
“Gua mau nanya soal Lina.”
Sella terdiam sejenak, “percuma lu cari disini, dia sudah lama gak tinggal disini lagi. Sebaiknya lu tanya langsung aja Davin, dia kan suaminya. Masak suami gak tahu istri dimana!. Kalau gak ada yang penting, gua mau pergi. Permisih…” lalu meninggalkan Evan.
Tak lama setelah Sella pergi, Sarah muncul dari balik pintu. Evan menatap Sarah. “kalau mau nanya soal Lina, lebih baik Tanya ke Rut atau Nata. Mereka berdua berkerja di cave Citra yang berada diujung jalan.”
“Thank ya.”
Sarah menggangguk.
“Permisih.” Lalu pergi.

Baru beberapa menit, evan sudah mendapankan cave yang diberitahu cewek di kosan itu. Setelah memakirkan motor, Evan langsung masuk ke dalam cave, lalu duduk di salah satu meja, sambil melihat wajah-wajah pelayan yang mirip dengan cewek di foto yang diberikan Beni kemarin.
“Mau pesan apa pak?” Tanya salah satu pelayan cave.
“Kopi.”
“Ada yang lain pak?.”
“E… gua mau nanya?.”
“Ada apa ya pak?.”
“Apa Rut dan Nata kerja disini?” Tanya Evan keinti pembicaraan.
“Iya.”
“Bisa gua bertemu mereka?.”
“Hari ini mereka gak masuk. Tapi nanti sore nanti Nata masuk.”
“Oh… trimah kasih.”
“Sama-sama pak” lalu pergi ke dapur untuk mengambil pesanan Evan.
***
“Tok… tok…tok…!!” suara pintu terdengar sangat jelas di telinga, Davin yang masih belum sadar sepenuhnya lalu melangkah kearah pintu, “Mau apa lu?!” Tanya Davin ketika melihat tamu yang datang.
“kak… kakak mabuk?” Tanya Nata.
“Bukan urusan lu!!.”
“Gua hanya…”
Belum sempat Nata melanjutkan kata-katanya, “Jangan lu pikir gua akan mencintain lu! Karna gua gak akan mencintain lu dan tak akan pernah!!” kasar Davin, “Lu tuh seperti cewek murahan. Cewek gak tahu diri. Puas sekarang lu khan!!! Gara-gara lu Lina minta cerai ke gue, puas lu!!! Dasar cewek murahan!!!.”
Tiba-tiba tamparan keras menempel di wajah Davin. “Lu gak pantas hina Nata seperti itu!!” marah Rut gak terimah sahabatnya dihina.
“Kenapa? Apa karna dia sahabat lu, lu harus menutupin kesalahan ya…. Jawab!!! Lina juga sahabat kalian?! Kenapa kalian tak pernah membela Lina?!!.”
“Lu tuh tak tahu apa-apa?!.”
Nata yang tak tahan lagi mendengar pertengkaran itu, langsung berlari, Rut yang melihat Nata pergi langsung mengejar. Dipertengahan jalan Rut kehilangan jejak Nata. Lalu Rut memutuskan untuk pulang, berharap Nata langsung pulang.

Walaupun jarak rumah Davin ke taman cukup jauh, namun kejadian itu masih teringat jelas di benak Nata. Air mata terus menetes, melepas kesedihan yang terpendam. Nata trus melangkahkan kaki tak tahu arah. Tiba-tiba bahu Nata di pengang dari belakang. Nata langsung kaget, di benak Nata langsung terpikir Davin mengejarnya sampai di taman dan mau menghinanya lagi. Nata memberanikan diri menolek ke belakang, “Syukur deh….” Nata menarik nafas lega Ketika melihat orang yang dibelakangnya.
“Ada yang mengejar lu?” Tanya Evan melihat Nata yang tengang sebelum melihat wajahnya.
“Lu siapa?” tapi belum lama Nata bertanya, Nata langsung teringan, “sepertinya kita pernah ketemu?.”
“Gua rasa iya.”
Nata mengingat-ingat wajah yang gak asing lagi di benaknya itu, “O… gua ingat. Lu cowok yang gua tabrak di depan cave khan?.”
“Mungkin.”
“Kalau lu gak ingat gua. Lu mau apa? O… lu mau macam-macam sama gua ya… dasar cowok mata kerajang,” langsung memukul Evan dengan tas yang di bawaknya, “Ternyata lu cakep-cakep lu mata kerajang juga ya!,” yang trus memukul Evan.
Evan yang tak terimah dipukul tanpa sebab, langsung memengang kedua tangan Nata, “Hei… gua bukan cowok seperti itu!!!” marah Evan, “Gua hanya ingin Tanya soal Lina!”.
Nata terdiam sejenak, “Lu siapa?.”
“Gua Evan, bisa gomong sebentar?.”
Nata menggangguk. Lalu mereka mencari bangku taman yang kosong. “Siapa lu?” Tanya Nata lagi sambil duduk.
“Gua adik Davin.”
“Lu mau hina gua lagi?.”
“Apa.”
“Lu pastih di suruh kakak Davin untuk hina gua lagi khan,” air mata itu keluar kembali membasahin pipi Nata.
“Lu dari rumah Davin?” Tanya Evan. Namun Nata tak menjawab, dia hanya mengapus air mata di pipi ya. “Kalian ada masalah?” Tanya Evan lagi.
“Mau apa lu?.”
“Ekhh… gua ingin Tanya soal Lina. Apa kalian tahu dimana Lina berada?.”
Nata mengeleng, “percuma lu Tanya ke gue dan temen-temen lainnya, gak ada yang tahu Lina sekarang dimana.” Terdiam sejenak, “kemarin Rut ke panti, seminggu yang lalu Lina ke panti, kata bunda, Lina minta cerai ke Davin.”
“Sebab itulah lu datang ke rumah Davin.”
Nata menggangguk.
“Apa Bunda lu tuh tahu di mana Lina sekarang?.”
Nata menggeleng lagi.
“Lalu kenapa lu tadi nanggis?.”
Nata terdiam.
“Masalah pribadi ya?.”
Nata menatap Evan, “Lu sudah punya pacar lum?.”
“Apa.”
“Kalau belum gua masih jombloh loh…”
Evan tersenyum yang dubuat-buatnya, gak janji deh punya pacar secentil ini, kata Evan dalam hatinya.
***
“Bagaimana keadaan Ayah?” Tanya Tante Nadia lembut yang baru tiba.
“Mana Evan?” Tanya kakek dengan suara pelan.
Tante hanya diam.
“Kapan anak itu berubah.”
“Ayah gak usah mikirin dia.”
Kakek terdiam sejenak, “gak usah lagi suruh Evan cari Lina. Kakek sudah pasrah. Kalau ingin pulang, pulang kalau gak ya sudah… itu sudah keputusannya. Yang pastih pintu rumah terbuka untuk Davin,” kakek menanggis.
***
Evan mengatar Nata ke cave dengan menggunakan motor yang selalu menemaninnya kemana saja dia pergi, menyusurin kota Jakarta.
“Thank ya,” kata Nata sambil turun dari motor.
“Gua pergi dulu ya.”
“Tunggu.”
“Ada apa lagi?.”
“Besok kita jalan ya?.”
“Besok gua kuliah.”
“Kok tadi lu gak bilang kalau lu anak kuliah?.”
“Lu gak nanya.”
“Mau ya…” rayu Nata.
“Nanti gua kasih kabar.”
“Ok.”
Lalu Evan pergi. Setelah jauh, Nata baru masuk ke dalam cave. Heru yang melihat cowok yang mengatar Nata, langsung berkata, “pacar lu Nat?.”
“Calon. Kenapa? Lu cemburu?.”
“Nanya doang kok.”
“Bener nih… nanti bohong.”
“Stress.” Lalu masuk. Nanta mengikutin Heru dari belakang namun masih menggoda Heru.
***

Berkali-kali Rut dan Sella menghubungin hp Nata yang sejak dari rumah Davin hpnya gak aktif. Mungkin sudah berkali-kali menghubungin dan sms di kirim, jangankan telepon, sms pun belum masuk.
“Kemana sih Nata?.” Panik Rut.
“Kita tunggu aja, mungkin sebentar lagi dia pulang,” kata Sella sambil duduk di kursi teras. “Tadi pagi adik Davin datang.”
“Mau apa dia?.”
“Nanya Lina dimana.”
“Dia salah orang,” kata Rut yang sebenarnya marah ke Lina, namun ditutupnya di depan kedua sahabatnya.
***
Evan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, “uuhhhh….”
Tante tiba-tiba muncul dan langsung duduk didekat Evan, “ada pesan dari kakek?.”
“Apa?.”
“Katanya, tak usah lagi cari Lina. Kakek tak memikirkannya lagi.”
Evan hanya diam sejenak menanggapin perkataan tante. Lalu mengambil foto dari sakunya, kemudian diberikannya pada tante.
“Siapa mereka?.”
“Lina dan ketiga sahabatnya.”
“Mana yang namanya Lina?.”
Evan heran dengan pertanyaan Tante, “Baju merah.”
“Tapi… bukan dia yang kami lihat waktu itu,” kata tante yang masih teringan dengan wajah cewek yang dikenalkan Davin, saat tak segaja bertemu di cave waktu itu, “Tapi cewek yang disebelahnya,” ingat tante.
“Nata.”
“Gak tahu juga, karna waktu itu Davin tidak memperkenalkannya.”
“Jadi karna itulah kakek mengira Nata itu Lina.”
“Mungkin.”
“Tapi kata Nata, Lina sudah menggunggat cerai Davin.”
Tante hanya diam tidak menanggapin perkataan Evan.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Evan yang tak tahu apa-apa masalah kakek dan Davin.
Lalu Tante bercerita. Setahun sebelum Davin dan Lina belum menikah namun sudah berencana akan segera menikah seminggu lagi dikarenakan Lina sudah hamil diluar nikah. Saat Davin mau meminta ijin kepada kakek dan tante untuk menikahin Lina, tanpa mau mendengar alasan Davin, kakek langsung menentang pernikahan itu, karena dua minggu lagi Davin akan menikah dengan Elsa, tunangannya. Rencana pernikahan Davin dan Elsa sama sekali tidak diketahuin Davin, karena kakek berpikir ingin membuat kejutan pada Davin, dua hari sebelum acara pernikahan Davin ulang tahun.
Davin langsung pergi meninggalkan rumah. Seminggu kemudian kakek dan tante mendengar dari anak buah kakek, kalau Davin sudah menikah, dan dari anak buah kakek tuhlah kakek mengetahuin bahwa Lina hamil dua bulan.
Kakek yang tak mau malu di depan keluarga Elsa, karna pernikahan ini sudah direncanakan sejak mereka masih kecil. Kakek bertindak bodoh, sampai Lina pergi meninggalkan Davin.
Davin berpikir kakeklah yang membuat Lina pergi darinya, dan berjanji tak akan memaafkan kakek sebelum Lina kembali kepadanya.
***

“Rut…rut…!!” Sella membangunkan Rut yang tertidu pulas di kursi teras bersamanya.
“Nata sudah pulang?” Tanya Rut, matanya masih tertutup karna tertidur kemalaman.
“Seperti ya belum. Kalau sudah pastih dia bangunkan kita.”
“Kemana sih dia…” kuatir Rut.
Sella melihat jam dinding di ruang tamu, “Lu gak kerja?.”
“Kerjalah, nanti coba gue Tanya ke temen-temen.”
“Nanti kalau gak ada yang tahu, beritahu gue, biar langsung kita lapor ke polisi.”
“Iya…” sambil melangkahkan kakinya ke kamar. Baru satu langkah melewatin kamar Nata, Rut dan Sella kaget melihat Nata sudah berada dikamarnya sambil membedakkin wajahnya di kasur. Rut dan Sella langsung masuk ke kamar yang dibiarkan pintu terbuka.
“Kalian baru bangun?” Tanya Nata yang tak merasa bersalah.
“Lu keterlaluan ya! Lu tahu kita tidur diteras, lu gak bangunin kita!!” marah Sella.
“Kalian tidur di teras?.”
“Jangan sok gak tahu deh!” marah Rut.
“Gue memang gak tahu kok.”
“Memang lu semalam lewat mana?”
“Belakang. Karna sudah malam, gua takut ketahuan bu kos, lalu lewat pintu belakang, kalian gapain tidur diteras?”.
“Semalam lu kemana?” Tanya Sella lagi.
“Kerjalah,” jawab Nata singkat.
“Pulang dari rumah Davin lu kemana?” Tanya Rut.
Sella langsung mencubit lenggan Rut.
“Auhh… sakit…” marah Rut sambil menatap Sella yang berdiri disampingnya.
Sella melotot ke Rut.
“Gua ke taman. Ketemu cowok ganteng lalu gobrol. Tapi kata cowok itu dia adik kak Davin,” cerita singkat Nata.
“Apa,” serentak.
“Kok kalian kaget, biasa aja kali.”
“Kemarin dia juga kesini,” kata Sella.
“Evan bilang kok, mala dia ke tempat kerja kita,” sambil menolek ke Rut.
“Namanya Evan,” kata Rut.
“Lu cerita apa ke dia?” Tanya Sella.
“Semuanya. Sepertinya dia cowok baik-baik,” puji Nata.
Bagi mereka berdua tak penduli apa yang ceritakan Nata pada Evan. Lihat Nata tersenyum aja mereka sudah cukup senang.
***
Sewaktu melewatin kamar kakek, Evan melihat Bi Ija membersihkan kamar kakek, “Hari ini kakek pulang?” Tanya Evan pad Bi Ija.
Bi Ija langsung menolek kearah pintu, “Iya det. Det mau kampus atau jempun tuan?.”
“Kampus. Gua ada ujian hari ini.”
“Hati-hati det,” kata Bi Ija lembut.
Evan tersenyum lalu pergi.
***
“Mana Evan?” Tanya kakek pada Tante yang sedang memasukkan pakain kakek ke dalam tas.
“Mungkin ke kampus,” jawab tante.
“Evan masih marah?”.
“Kenapa Ayah bilang begitu?” Tanya Tante.
“Karna setahun ini kakek merasa tak memperhatikan Evan lagi.”
“Ayah jangan berpikir macam-macam. Ayah tahu kan Evan sangat sayang ke Ayah.”
Kekak terdiam sejenak, “kakek ingin berlibur dengan Evan.”
Tante menatap Kakek, “Nanti aku urus, kakek terimah beres aja.”
Kakek tersenyum.
***
Beni yang melihat Evan melamun di anak tanggah langsung di kagetkannya, “Heeiii….”
Evan menolek ke belakang.
“Lamun aja loe. Lamunin ap sih?.”
“Penget tahu aja loe.”
“Jalan yuk.”
“Males.”
“Emang lu ada jam kuliah lagi?.”
“Enggak.” Evan mengeluarkan hp dari sakunya, lalu menulis pesan untuk di tujuh ke Nata, hai…lu ada wkt g?, lalu Evan mengirim sms itu.
“Nata temennya Lina khan?” Tanya Beni yang melihat is isms Evan.
Evan menggangguk. Tak lama kemudian balasan sms tiba, Evan langsung membuka sms itu, g, emg knp??lu m’u g’jk gw jln y. Lalu Evan membalas sms Nata, Y, ada ingin gw brth soal Lina, lalu mengirimnya lagi. Cukup lama sms balasan diterimah Evan dari pada sms sebelumnya, lu jemt gw d kos’n gw j. lalu membalas lagi, Ok. Setelah mengirim balasan Evan bangkit dari duduknya.
“Lu mau kemana?” Tanya Beni, “gua nebeng ya.”
“Sorry. Hari ini gak bisa. Kapan-kapan aja ya…” lalu ke tempat pakiran, dan pergi menggunakan motor adalannya.

Baru beberapa menit Evan sudah sampai dikosan, dilihatnya Nata duduk termenung menatap dirinya yang baru tiba. Evan langsung memberikan helm yang di bawaknya, “nih…”
Nata langsung memakai helm itu, dan naik ke atas motor, dipenggangnya erat tubuh Evan dari belakang.
“Kita mau kemana?.”
“Terserah.”
Lalu Evan menjalankan motor kearah taman kota yang lumayan jauh dari kosan. Diperjalanan Nata tak ngomong sedikit pun lain seperti kemarin, dari taman sampai ke cave Nata tak berhenti berkicau.

Setiba di taman. Setelah memakirkan motor, Evan dan Nata mencari bangku taman yang kosong. “Di sini lagi,” kata Evan membuka obrolan, mengingatkan tempat mereka kemarin. Karena tak ada respon dari Nata, Evan bertanya, “lu kenapa?.”
“Gua jahat ya.”
“Apa.”
“Gua jahat banget ke sahabat gua,” air mata keluar membasahin pipi Nata.
Evan melihat Nata memutar hp yang di pengangnya dari kosan. Langsung di ambilnya hp Nata dan mencari apa yang membuat Nata tak seperti kemarin. Ketika membuka tempat sms masuk, Evan melihat kalau sebelum sms terakhir darinya ada sms dari Lina. Tanpa pikir panjang Evan langsung menghubungin no Lina, namun operator langsung menjawab, “Nomor tujuan ada sedang tidak aktif atau di luar jakauan….” Evan mematikan hp dan membaca isi sms dari Lina untuk Nata, Hai Nat… lm y kt g b’tm. Gw rind bang’t k kalian s’mua, t’rutama k lu Nat. Nat, s’bentar lg, mungkin tak sampai bulan ini km sdh b’cerai. Gw hrp lu bs jaga k2 Davin, kalian saling m’cintain n g pants gw m’hancurkn it s’mua. M’fkn gw y Nat… mungkin gw g pants jd shbt lu n tmn2. nmn gw sng bs jd slh 1 shbt kalian s’mua. M’fin gw… Setelah membaca sms dari Lina, Evan memberikan hp itu lagi pada Nata. “Ada hubungan apa lu dengan kak Davin?.”
Nata mengapus air mata di pipinya. “Itu masa lalu gw.”
“lu pernah ada hubungan dengan Davin?.”
“Gak.”
“Sesudah atau sebelum mereka menikah?.”
Nata terdiam, “ini bukan salah Kak Davin. Ini salah gua, gua aja kegeeran dengan kak Davin, cumak karna diperhatikan sedikit gua langsung berpikir kak Davin menyukain gua,” penjelasan Nata.
“Lu tahu kan maksud sms dari Lina?.”
“Sampai kapan pun, gua gak akan pernah merebut Kak Davin dari Lina, sampai kapan pun…” Nata menaggis lagi, “Kak Davin masa lalu gua, dan ingin gua lupakan untuk selama-lamanya.”
“Apa perasaan lu dengan Davin sudah hilang?.”
Nata menatap Evan, “Gua mau kacang rebus,” melihat jualan kacang rebus tak jauh dari mereka.
Evan menarik nafas panjang. Walaupun Evan tahu kacang hanya alasan Nata saja, tapi tetap Evan belikan. Tak lama kemudian Evan kembali dengan dua bungkus kacang rebus, “nih…” memberikan sebungkus pada Nata.
“Tadi lu sms ada yang ingin lu beritahu. Apa?” Tanya Nata.
Lalu Evan bercerita apa yang diceritakan tante semalam. Ketika cukup lama bercerita, dan kacang hamper habis.
“Oh… karna itu keluarga Kak Davin menetang pernikaha itu,” kata Nata yang belum tahu secara seperinci cerita sebenarnya.
“Apa Lina pernah cerita ke lu, dia pernah bertemu Kakek dan Tante?.”
Nata menggeleng. “tapi… dia pernah bilang kalau dia pernah lihat foto Kakek dan Tante di dompet Kak Davin”.
Suasana terhening sejenak. “Lu pernah bertemu dengan kakek dan Tante gua atau temen-temen lu lain?” Tanya Evan lagi.
“Gua pernah, di cave. Kenapa?”.
“Kakek mengirah lu Lina”.
“Apa”.
“Gua rasa lu bisa Bantu gua?” Evan ada rencana.
“Bantu apa?”.
***
Setiba di rumah kakek langsung istirahat dikamarnya. “Gimana kalau ke Bali aja?” usul Kakek berencana berlibur bersama Evan.
“Ayah masih memikirkan liburan itu? Kalau mau Ayah, ya ke Bali. Nanti aku pesan dua tiket untuk kalian,” sambil memyelimutin tubuh Kakek.
“Kau tidak ikut?.”
“Kalau aku, siapa yang gurus perusahaan.”
“Tapi kau juga butuh liburan.”
Tante terdiam sejenak untuk berpikir, “Ok, aku ikut.”
“Coba kalau Davin ikut,” harap Ayah.
“Ayah…”
Kakek tersenyum, “Ayah tahu itu tak mungkin.”
“Ayah istirahat ya, aku mau kembali ke kantor dulu.”
Kakek menggangguk.
Tante keluar dari kamar, langsung pergi di antar mang Udin, sopir pribadinya.
***
Sella dan Rut menyambut Nata yang baru pulang. “Lu dari mana, sore gini baru pulang?” Tanya Sella.
“Siapa tuh? Kok gak mampir?” Tanya Rut juga.
“Evan takut kalian marah.”
“Itu Evan?” Tanya Sella.
Nata mengangguk.
“Mau apa lagi dia?.”
“Evan gak mau apa-apa kok, hanya gajak gua jalan.”
“Bener??.”
Nata terdiam, menutupin apa yang mereka obrolkan tadi di taman.
“Nata. Lu gak bisa bohong dari gue?,” tanya Sella melihat sikaf Nata yang aneh.
“E… sebenarnya… Evan meminta gua untuk nemuin Kakeknya,” ragu-ragu.
“Untuk apa?.”
“Gua kan pernah cerita ke kalian, kalau gua pernah ketemu dengan kakek Davin khan… Kakek mengira gua Lina. Evan berpikir, kalau gua bias pura-pura jadi Lina  kakek bisa  sehat kembali.”
“Apa!!” serentak.
“Lu masih suka dengan Davin?” Tanya Sella dengan nada tinggi.
Nata mengeleng.
“Lu bohong. Kalau lu gak suka sama Davin, kenapa lu lakukan ini!!! Lu pastih
berharap melaluan kakek, Davin bisa menerima lu lagi khan…?”
“Gak!” bantah Nata.
“Lu memang munafik!!” lalu masuk ke dalam rumah.
Nata menatap Rut.
“Gua kecewa ke lu Nat” ucap Rut lalu masuk ke dalam rumah.
***
Setelah selesai makan malam, Evan mengikutin Kakek dan Tante duduk diruang tengah karna ada yang diomongin Kakek dan Tante.
“Ada apa?” Tanya Evan sambil duduk di sofa.
“Seminggu ini kau ada waktu?” Tanya Kakek.
“Gak. Kenapa?”.
“Rencananya Kakek mau gajak kita berlibur ke Bali selama seminggu,” penjelasan Tante.
“Boleh juga. Kapan berangkatnya?”.
“Lusa”.
“Apa!” kaget Evan.
“Kenapa?”.
“Enggak,” pusing Evan yang sebelumnya sudah janji ke Nata.

Malam semakin larut, Evan mengambil hp yang diletaknya di atas meja kecil sebelah kasur. Lalu Evan menulis sms untuk Nata, Nat, r’cn kt d undur dl y, krn lusa gw, kakek n tante mau ke Bali slm s’minggu, lalu dikirimnya. Karna gak ada balasan, Evan langsung menghubungin no Nata, tak lama kemudian Nata menjawab panggilan Evan yang sebelumnya dua kali Evan telepon-telepon tak di angkat. “Hallo… “
“Hallo,” jawab Nata.
Evan yang mendengar suara Nata yang serak-serak basa, seperti baru selesai nanggis, lalu bertanya, “Lu nanggis?”.
“Enggak,” bohong Nata.
“Lalu kenapa tadi gak balas sms dari gw?”.
“Gak ada pulsa. Kalau di undur gak apa-apa kok”.
“Kalau gak jadi gimana?”.
“Terserah lu aja”.
“Temen-temen lu marah?”.
Nata hanya diam.
“Kalau gitu, gak jadi aja. Nanti gua kenalin lu sebagai temen Lina”.
“Maaf ya”.
“Tak apa kok”.
“E… enaknya ke Bali,” kata Nata membuka obrolan lain.
“Memang ya lu belum pernah ke Bali.”
“Jangankan ke Bali, sampai sekarang aja gua nabung untuk masuk kuliah gak cukup-cukup”.
“Lu mau kuliah?”.
“Iya sih… tapi gak cukup. Biasalah kebutuhan cewek lebih besar hammm…..” senyum malu Nata.
“Gimana kalau lu ikut ke Bali juga, ajak juga Sella dan Rut. Soal ongkos, tempat tinggal dan makan di jamin deh”.
“Gak enak ah…”.
“Kenapa?”.
“Nanti gua di bilang kakek loe cewek matre. Gak ah”.
“Gak mungkin. Kakek gak seperti itu kok. Ayolah, agap aja ini tanda minta maaf gua  buat lu sudah dimarahin temen-temen lu, gimana?” rayu Evan.
“Gua bilang ke mereka dulu ya….”.
“Ok”.
“Slamat tidur”.
“Ya.” Lalu Evan mematikan hpnya. Lalu Evan sms kembali Nata, Bsk sore gw jemput kalian sebagai tmn2 Lina, sekalian makan malam,Lalu mengirim sms. Tak lama kemudian balasan tiba, Ok. Evan tersenyum, lalu tak lama kemudian tersadar, “tadi katanya gak ada pulsa, tapi kok bisa balas,” Evan tersenyum lagi. Lalu meletakkan kembali hp ke tempat dimana diambilnya tadi.
***

Nata mendekatim Sella dan Rut yang sedang sarapan pagi semangkok mi goreng bersama telur mata sapi yang sebelumnya di buat Sella untuk sarapan mereka di pagi hari sebelum kerja.
“Kalian marahnya sama gua? Maaf ya…” rayu Nata.
Sella dan Rut tak menjawab, mereka hanya asik menyatap sarapan mereka saja.
“Semalam Evan nelpon. Katanya gak jadi aja, dan dia minta maaf ke kalian, dah tuh dia  gajak makan malam dirumahnya, katanya anggap aja tanda maaf dari dia.”
“Kenapa gak jadi?” Tanya Sella.
Nata diam.
“Lu bilang kalau kita marah ke lu?!” Tanya Rut.
Nata mengangguk.
Sella mengambil semangkok mi lagi dari dapur yang sebelumnya di sisakan untuk Nata, “Nih makan.”
Nata tersenyum menerima semangkok mi dari Sella, “Trimah kasih yach…” lalu menyatap mi itu. “O ya, Evan juga gajak kita ke Bali.”
“Apa!” kaget mereka berdua sampai-sampai mi yang di mulut mereka keluar karna kagetnya.
***
Evan duduk di kursi dimana selalu didudukinnya jika sarapan pagi, langsung mengambil roti tawar dan selai kacang yang diletakkan diatas meja.
“Tumben bangun pagi?” Tanya Tante heran.
“Ada janji sama Dosen,” jawab Evan sambil memasukkan roti kemulutnya. “Ee… nanti malam gua mau gajak seseorang makan malam bersama kita, boleh gak?” ragu-ragu.
“Siapa?.”
“Eehhh… Sahabat Lina.”
Kakek dan Tante berhenti makan.
“Kalian jangan salah paham dulu. Agap aja ini tanda maaf Davin ke mereka.”
“Apa,” serentak.
“Gara-gara Davin, mereka bertengkar dengan Lina sampai sekarang,” alasan Evan yang tak masuk akal. “Dan kebetulan juga gua sudah janji ke mereka.”
“Nanti malam kita makan diluar,” kata Kakek.
“Kek…” kaget Evan yang mengira Kakek tak setuju.
“Jangan lupa ajak mereka juga,” kata Kakek lagi.
Evan tersenyum lega, “ dan gua juga gajak mereka untuk berlibur ke Bali, kalau Kakek dan Tante keberatan, Tante bisa potong uang saku ku untuk keperluan mereka nanti,” kata Evan lagi.
“Ya,” jawab Kakek singkat.
“Apa lagi?” Tanya Tante sambil tersenyum mendengar pemintaan Evan yang aneh.
“Tante tahu aja,” Evan tertawa, “perusahaan kan lagi mau gasih beasiswa khan?.”
“Ya, kenapa?.”
“Gua ingin usul satu orang untuk beasiswa itu.”
“Siapa?.”
“Namanya Nata, dia anak dari panti. Orang ya kerja keras dan…” Evan tak melajutkan kata-katanya.
“Dan…??,” Kakek menatap Evan.
“Intinya dia ingin kuliah tapi gak ada biaya,” alasan Evan.
“Apa dia salah satu dari cewek itu?,” tebak Tante.
“Ya.”
“Kau suka dengan ya?” Tanya Kakek curiga kenapa Evan sebegitunya pada Nata.
“Apa. Tidaklah, hanya teman kok.”
“Nanti malam, suruh dia bawak ijasanya.”
“Ok Tan, thank ya.” Setelah selesai sarapan Evan pergi kekampus, “Gua pergi dulu.”
Tak lama setelah Evan pergi, Kakek berkata pada Tante yang masih menyatap sarapannya, “Tolong buat janji dengan Darman.”
Tante menolek ke Kakek, “Ada apa Ayah. Apa ada yang penting?” Tanya Tante yang tiba-tiba ingin buat janji dengan Darman.
“Aku mau membatalkan perjodohan Evan dengan Sindy.”
“Apa.” Kaget Tante.
“Kau lihat tadi Evan, bahagian sekali. Aku tak mau kejadian Davin terjadi lagi ke Evan. Sudah cukup aku kehilangan satu cucu,” yang masih menyesal dengan perbuatannya pada Davin.
“Ayah…” Tante mendekatin Kakek, lalu memeluk Kakek dari belakang.
***
Seperti biasa Rut dan Nata melayanin pelanggan cave, Heru yang menyukain Rut tak henti memadangin Rut dari tadi. Rut yang tahu Heru memadanginnya dari tadi jadi salah tingkah didepan pelanggan cave.
“Kenapa sih lu centil banget?” Tanya Nata aneh melihat Rut.
“Lu tuh centil…” Jawab Rut yang berkali-kali melihat ke Heru di pintu dapur.
Nata melihat kearah yang dilihat Rut, “Gua kira apa?” Nata langsung menarik tangan Rut mendekatin Heru.
“Apaan sih lu,” malu Rut.
Nata buat Rut berdiri disebelah Heru, “Kalian ini saling suka tapi jual mahal. Ayo ngomong!.”
Muka Heru dan Rut memerah, binggung harus ngomong apa lagi, karna sudah malu karena Nata yang sok tahu. Edi salah satu pelayan di cave langsung menarik Nata masuk kedalam dapur membiarkan mereka berduaan.
“Lu nanti malam  sibuk gak?” Tanya Heru malu-malu.
“Gak,” jawab rut sikat yang juga malu-malu.
“Pulang dari kerja kita jalan yuk,” ajak Heru.
Rut menggangguk.
“Bener.”
Rut menggangguk lagi. “Gua masuk dulu.”
“Ya.”
Rut masuk kedalam dapur, mendekatin Edi, “Gimana?” Tanya Edi.
“Nanti malam dia gajak gua jalan.”
“Yes menang,” senang Edi.
“Kok lu seneng banget.”
“Ya iyalah, gua menang taruhan.”
“Apa.”
“Seluruh temen-temen taruhan siapa yang akan duluan gajak jalan.”
“Apa! Siapa aja yang tahu.”
“Kecuali lu dan Heru.”
“Jadi Nata tahu juga?!.”
“Dia yang gajak taruhan.”
“Apa! Bresek!!” marah Nata, “Mana sekarang dia?.”
“Gak tahu, tadi dia dapat sms langsung pergi.”
“Awas lu Nat!!” marah Rut.
***
Evan mendekatin Nata yang duduk ditaman sendirian sambil menghitung uang taruhan yang didapatnya. “Lagi banyak nih…”
Nata menolek kearah suara, “gak juga. Tadi gua menang taruhan.”
“Taruhan apa?.”
“Siapa yang duluan gajak jalan antara Heru dan Rut.”
“Rut tuh sahabat lu khan.”
“Ya…. Jadilah untuk kesalon nanti.”
Lalu tertawa lebar, “ha….ha…”
“Ada apa lu gajak gua ketemuan. Rindunya?” penasaran nata.
“Lu masih niat kuliahkan?.”
“Memang kenapa?.”
“Perusahaan Tante gua tiap tahunya selalu gasih beasiswa. Memang sih biasanya Tante yalurkannya langsung ke kampusnya. Tapi kalau lu mau,” penjelasan Eva.
“Boleh juga, Rut dan Sella juga ya... ”
”Apa!”. Tiba-tiba suara hp berbunyi sangat jelas, Evan lansung mengakat telepon yang sebelumnya di ambilnya dari saku celananya. “Hallo…”
“Hallo… Van thank ya…” kata Sindy.
“Untuk apa?” heran Evan yang tiba-tiba berterimah kasih.
“Kau memang temen gua yang pa…ling baik.”
“Gua gak gerti, maksud lu apa?.”
“Pokoknya thank ya. Bya…” langsung mematikan telepon.
“Dari siapa?” Tanya Nata melihat Evan yang kebinggungat.
“Tunangan gua?.”
“Lu sudah tunangan? Tapi kok gak ada cicinnya, “ yang melihat di tangan kanan Evan tak ada cicin yang melingkar.
“Memang sih kami tunangan belum secara sah, tapi kami dijodohkan,” tersenyum lebar, “walaupun hanya dijodohkan tapi gua sangat menyukain Sindy.”
“Kenapa lu gak pernah bilang?!.”
“Lu gak nanya.” Yang tersenyum bahagia. “O ya, nanti malam sekalian bawak ijasa lu. Mungin nanti sore gua gak bisa jemput kalian, tapi sopir yang jemput kalian. Gak apa khan…”
“Gua mau pulang,” sambil berdiri.
“Mau gua antar.”
“Gak usah,” lalu pergi.
Evan yang tak tahu perasaan Nata, hanya bisa tersenyum bahagia melihat Sindy yang tiba-tuba nelponnya yang sudah sebulan lebih komunikasih mereka putus.
***


Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar