Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyer (TAMAM)


“Ibu ini tugas minggu kemarin,” kata Doti meletakkan beberapa kertas di atas meja kerja Klara.
“Iya, nanti Ibu periksa. Hari ini kita masuk jam 12 khan? Suruh teman-teman fotokopi ini,” kata Klara  pada Doti memberika 2 lembar kertas untuk di fotokopi mahasiswa untuk bahan kuliah nanti bersamanya.
“Baik bu,” kata Doti mengambil kertas dari tangan Klara.
“Oh iya. Suruh Candra menghadap Ibu, dia belum ujian susulan dengan ibu”.
“Candra seminggu ini tidak masuk bu”.
“Kenapa?”.
“Tidak tahu bu. Hpnya tidak aktif lagi”.
“Klaian sudah kerumahnya?”.
“Kata ibu kosnya Candra sudah pulang ke rumah orang tuanya di Bogor.
“Ya sudahlah. Kau kembali ke kelas”.
“Baik, permisih bu,” Doti keluar dari ruangan dosen menuju kelasnya.
“Bukannya Candra mencari Ibu seminggu yang lalu untuk ujian susulan,” ingat Erika waktu Candra menumbur dirinya, alasan Candra mau ujian susulan dengan Ibu Klara.
“Candra belum mintak ujian susulan padaku?” seingat Klara.
“Kenapa dia bohong,” binggung Erika.
“Mungkin Candra takut melihat Ibu Erika. Ibu Erika kan terkenal dosen yang judes,” kata Benni.
“Apa!” Erika marah.
Benni pura-pura kembali bekerja.
Klra hanya tersenyum melihat Erika dan Benni namun di benak Klara masih memikirkan kenapa Cndra berbohong pada Erika.
***
“Sudah lama?” tanya Paris pada Jenni yang duduk di sofa yang menunggunya.
“Sekitar sejam, “jawab Jenni, “bagaimana?”.
“Pak Surya hanya mendorong korban, dan kepala korban hanya mengenai meja. Coba cari tahu apa di belakang kepala korban ada memar?”.
“Kau belum menjawab pertanyaanku?”.
“Bukannya kau bertanya apa yang aku dapat dari Pak Surta?”.
“Tidak”.
“Lalu?”.
“Bagaimana perasaanmu saat bertemu dengan mertua?” goda Jenni.
“Paris tersenyum. “kita selesaikan dulu kasus ini”.
“Kau selalu serius. Coba sekali-kal kau buat hidupmu happy”.
Paris hanya tersenyum menanggapin perkataan Jenni.
***
“Aku kasihan dengan Pak Paris dengan Ibu Klara,” kata Erika.
“Kita jangan terlalu ikut campur urusan mereka berdua. Mereka pastih bisa menyelesaikan,” nyakit Rian sambil menyetir mobil menuju rumah Erika, “besok malam kau sibuk?”.
“Tidak. Kenapa?”.
“Besok kita makan malam berdua”.
Wajah Erika langsung memerah, “benarkah”.
“Iya.  Besokkan malam minggu”.
***

Paris datang pagi-pagi ke kampus. dilihatnya Klara termenung sambil berjalan. Tak sadar Paris sudah dilewatinnya, tanpa menyapa sedikitpun pada Paris. Paris yang baru pertama  kali di cuekin langsung heran melihat sikaf Klara, “hei … !!“ panggil Paris.
Klara langsung tersadar, dibaliknya tubuhnya. “kau sudah lama berdiri di situ?” tanya Klara.
“Kau ingin cari mati ya!”.
“Apa sih…” binggung Paris marah.
“Benar kau tidak melihatku?”.
Klara mengeleng.
Paris menatap Klara, “apa yang kau pikirkan?”.
“Tidak ada. Hanya mahasiswa yang berbohong”.
“Bohong, maksudmu?”.
“Candra berbohong pada Ibu Erka kalau dia mau ujian susulan denganku minggu kemarin,” penjelasan Klara.
“Apa hari ini Candra masuk?”.
“Sudah seminggu ini dia tidak masuk. Kenapa?”.
“Bisa kita bertemu dengan Ibu Erika?” tanya Paris.
Klara mengangguk walaupun masih binggung.

Paris dan Klara menemuin Erika di ruang dosen. Didalam ruangan segaja hanya ada Paris, Klara, Erika dan Rian, selain itu di suruh keluar dari ruangan.
“Memang Pak Paris mau bertanya apa?” tanya Erika.
“Kapan Candra berbohong jika dia mau ujian dengan Klara?”.
“Pas kejadian  pembunuhan Pak Rudi. Candra menabrakku dari belakang tak jauh dari tangga. Kelihatannya dia sedang buru-buru. Katanya dia buru-buru karna mau ujian susulan dengan Ibu Klara,” cerita Erika.
“Jam berapa?”.
“Aku keluar dari ruangan jam 9.35,” jawab Erika lagi.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Rian.
“Kau mencurigain Candra?” tanya Klara yang juga tidak mengerti maksud pertanyaan Paris pada Erika.
“Iya. Aku mencuringain Candra membunuh Pak Rudi,” jawab Paris.
“Kenapa kau mencuringainnya?” tanya Rian.
“Kayu yang terdapat di TKP ada 2 cap tangan, 1 milik Pak Prengky dan 1 milik Candra”.
“Apa!” semua kanget mendenggar penjelasan Paris pada mereka.

Paris mengantar Klara pulang. “Kau serius mencurigain Candra pelakunya?” tanya Klara pada Paris.
“Jika Ayahmu berkata jujur,  Candra pelakunya,  sekarang mencari tahu keberadaan  Candra sekarang”.
“Aku percaya padamu, kata Klra lalu membuka pintu mobil untuk keluar dari mobil. “Oh iya… apa aku bisa mendenggar rekaman saat kau bertanya pada Ayah?”.
“Datanglah besok ke apartemen”.
“Iya,” Klara turu dari mobil. Tiba-tiba hpnya berbunyi, setelah tahu siapa yang menelpon langsung diangkatnya, “Halo… ada apa Ibu Erika?” tanya Klara.
“Aku mau mintak bantuan dengan Ibu Klara. Tadi mau ngomong di kampus ada Rian. Ibu bisa bantu aku?” kata Erika yang mondar-mandir di kamarnya yang menelpon Klara.
“Bantu apa?”.
“Rian mau mengajak aku makan malam. Ibu kan pintar dadan”.
Klara tersenyum tahu maksud Erika menelponnya,  “ok. Aku ke rumah ibu,” lalu mematikan hp.
“Ada apa?” tanya Paris di dalam mobil.
“Bisa antar aku ke rumah ibu Erika?”.
Paris mengangguk. Klara masuk kembali kedalam mobil. Paris menjalankan mobil menuju rumah Erika yang berada tak jauh dari kampus.
***
Erika mondar mandir di depan rumahnya menunggu Klara  yang dari tadi tidak datang-datang juga padahal sudah sejam lebih dirinya berdiri  di depan rumah. Erika melihat monil berwarna krem berhenti di depan rumah. “Maaf menunggu lama,” kata Klara yang keluar dari mobil.
Erika melihat Paris yang mengantar Klara, “Ibu bersama dengan Pak Paris?” malu Erika yang berharap Klara datang sendiri.
“Iya”.
“Apa Pak Paris tahu aku mau makan malam dengan Rian”.
“Ya”.
“Aaahhh….” Malu Erika.
“Kenapa bu?” binggung Kalar.
“Ayo masuk,” ajak Erika masuk kedalam rumah. Mereka masuk kedalam rumah,  duduk di ruang tamu.
“Jam berapa kak Rian jemput?” tanya Klara.
“Jam 6”.
Klara melihat jam di lenggannya, yang sudah menuju pukul 5, “satu jam lagi. Kita langsung saja,” ajak Klara.
“Tunggu…” Erika membisikkan sesuatu di telingga Klara agar Paris tidak mendenggar, “aku tidak ada alat untuk dadan,” malu Erika.
“Tenang. Tasku lengkap,” kata Klara yang urusan kecantikan perempuan selalu dibawaknya kemana-mana. “kamar ibu dimana?”.
“Permisih pak,” kata Erika pada Paris lalu mengajak Klara masuk kekamarnya.
“Kamar ibu lumayan,” kata Klara melihat kamar Erika tidak sebesar kamarnya.
“Kita mulai saja”.
“Gaun Ibu ada berapa? Biar aku lihat dulu”.
“Hanya satu”.
“Apa!”.
Erika langsung menutup mulut Klara. “Uuusss….” Menyuruh Klara diam.
“Ibu tidak pernah kencan?”.
“Ini pertama kalinya,” malu Klara.
“Tapi setidaknya cadangan gaun ada,” binggung Klara dengan sifat Erika. “cob aku lihat gaunnya”.
Erika mengeluarkan gaun dari lemari. Gaun berwarna kuning,  berlenggan pendek, terdapat bunga-bunga berwarna merah di bagian dadah dan panjang gaun sapai lutut.
“Cantik,” puji Klara, “Ibu punya sepatu?”.
“Sepatu kerja ada ya”.
“Mana ada kencan makai sepatu kerja,” kesal Klara. Klara melihat sepatunya berwarna coklat kekuning-kuningan, “ibu makai sepatuku saja, aku rasa ukuran sepatu kita sama”.
Erika melihat hak sepatu sangat tinggi, “berapa tinggi hak sepatu ibu itu?”.
“!0 cm”.
Erika terkejut, “lebih baik makai sepatuku saja,” kata Erika yang tidak pernah memakai sepatu berhak lebid dari 5 cm.
“Apa!”.
***
Jam 6 Rian datang  menjemput Erika untuk mengajak makan malam di lestoran yang sudah siapkannya terlebih dahulu. Dilihatnya mobil terpakir disepan rumah Erika, “bukannya itu mobil Paris?” setahu Rian. Rian masuk kedalam rumah dilihatnya Paris sedang duduk sambil membaca Koran. “Pak Paris?”.
Paris menolek, “Pak Rian sudah datang?” sambil berdiri.
“Sedang apa Pak?” tanya Rian.
Belum sempat Paris menjawan Klara keluar dari kamar, “Kak Rian sudah datang,” melihat Rian berdiri di depan pintu. “Ayo bu keluar,” memaksa Erika keluar dari kamar.
Perlahan-lahan Erika keluar dari kamar sambil menunjukkan senyuman pada Rian. Rain yang memakai stelan jas sangat tampan terlihat. Rian kanget melihat perubahan Erika, walaupun masih kaku  dengan gayanya sekarang Erika terlihat sangat cantik malam ini.
“bagaimana kak?” tanya Klara pada Rian.
“Cantik, “puji Rian.
Erika malu mendenggarnya.
Setelah Rian dan Erika  pergi. Paris melihat Klara yang tidak memakai sepatu lagi, “benar yang dipakai Ibu Erika sepatumu?” tanya Paris melihat sepatu yang dipakai Erika.
“Ibu Erika tidak punya sepatu seperti itu”.
Paris tersenyum. “Apa yang lucu?”.
“Kau cocok jadi tukang salon”.
“Aaahhh… perempuan itu perluh tahu semua itu,” kata Klara membelah diri.
“Ayo kita pulang,” lalu masuk kedalam mobil. Setelah Klara masuk mobil, Paris menjalankan mobil menuju rumah Klara. Klara memadang Paris sejak dari rumah Erika. “Apa yang kau lihat?” tanya Paris.
“Kau jangan berubah yach…”.
Paris diam yang terus menyetir.
“Aku senang dengan kau yang sekarang”.
***
“Kau suka suasananya?” tanya Rian pada Erika dengan suasana hotel yang dibuatnya seromatis mungkin. makanan didepan mereka, dengan 2 gelas anggur merah dan di tengah meja terdapat 3 lilin berwarna merah. Ditambah lagu yang romatis yang sudah disiapkan pihak lestoran.
“Dari kapan kau menyiapkan ini?” tanya Erika yang sangat senang apa yang dilakukan Rian padanya.
“Dari kemarin”.
“Aku malu jadinya.  Seharusnya kau tidak perluh melakukan ini semua”.
“Tapi biasanya jika seorang pria mau melamar  seorang wanita akan melakukan seperti ini”.
“Melamar?” kanget Erika.
“Iya. Mau kah kau menikah denganku,” kata Rian sambil meletakkan kotak yang dibukanya yang berisi cicin bermata berlian.
Erika tak percaya apa yang dilihatnya, “apa aku sedang bermimpi”.
“Tidak”.
Erika menanggis menatap Rian.
“Kenapa kau menanggis?”.
“Aku sangat bahagia”.
Rian legah mendenggar perkataan Erika. Lalu dipasangnya cicin di jari Erika.
***

Bunda datang ke penjara dengan membawa makanan untuk dimakan Ayah. “kau jangan setiap hari kesini? Aku dikasih makan kok disini,” kata Ayah pada Bunda.
“Bunda tahu makanan dipenjara tidak enak,” kata Bunda membuka isi rantang, “makanlah…”.
“Bunda… maafkan aku. Aku sudah membuatmu menderita”.
“Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Malah dengan masalah ini Bunda tahu Ayah masih sayang pada Bunda,” senang Bunda.
Ayah tersenyum melihat Bunda tersenyum. “Ada sesuatu yang aku rahasiakan darimu”.
“Apa itu?”.
“Soal Paris”.
“Kenapa dengan Paris? Apa Paris membatalkan menjadi pengacara Ayah?!”.
“Tidak. Paris itu adalah Luky”.
“Apa”.
***
Klara datang ke apartemen Paris, “tok…tok…tok…” Klara  langsung  mengetuk setiba di depan pitu. Tak lama kemudian pintu terbuka. “kau sudah datang,” sambut Paris, “Ayo masuk”.
Klara masuk langsung duduk di sofa. Paris meletakkan rekaman di atas meja. “ini rekamannya?”. Tanya Klra.
“Kita denggarkan,” kata Paris sambil meyalakan rekaman.
“Tgl 14 Oktober saya melihat istriku berduaan dengan Pak Rudi masuk ke lestoran, saat itu aku sangat marah pada mereka berdua karna mereka mantan pacar sebelum aku dan istriku menikah. Aku  tahu istriku tidak mungkin berselingku tapi  aku tahu Rudi bagaimana, dia akan melakukan apapun untuk merusak rumah tangga kami. Tgl 15 Oktober jam 8 aku datang ke kampus untuk mintak kejelasan pada Rudi dan biar dia tidak mendekatin istriku lagi. Aku masuk ruangan Rudi tanpa mengetuk lagi. Aku tanya langsung pada Rudi apa hubungannya dengan istriku, dia jawab kau pikir apa. karna kesal aku memengang kera bajunya dan berniat mau memukulnya tapi sebelum aku memukul Rudi berhasil melepaskan tanganku dari kera bajunya. Lalu Rudi berkata kau yang duluan merebut Reni dariku dan wajar jika aku merebutnya lagi. Aku sangat kesal dan marah,” cerita Ayah panjang lebar.
“Ada langsung memukulnya dengan kayu?” tanya Paris.
“Tidak, aku tidak pernah memukulnya. Aku hanya mendorongnya, kepalanya terbentur meja”.
“Dia pingsat?”.
“Iya. Tapi tidak ada darah yang keluar, hanya memar yang aku lihat dibelakang kepalanya. Aku sempat memeriksa nadinya, Rudi masih hidup. Aku takut dan langsung pergi”.
“Siapa yang melihat ada keluar dari ruangan Pak Rudi?”.
“Tidak ada. Tapi didepan kampus aku bertemu Klara”.
“Jam berapa ada keluar dari ruangan korban?”.
“Mungkin sekitar jam 8.30”.

Klara mendenggar isi rekaman antara Ayah dan Paris. “Aku bertemu Ayah di luar kampus jam 9.40,” ingat Klara.
“jJadi perjalanan dari ruangan Pak Rudi sampai ke luar hanya 10 menit,” kata Paris.
“Tok…tok…tok…tok…!” pintu di ketuk dari luar. “itu pastih Jenni,” sambil membukakan pintu, “hai…” sapa Paris pada Jenni yang ternyata datang.
Jenni melihat Klara, “ternyata kau juga datng,” kata Jenni pada Klra.sambil masuk kedalam.
“Aku hanya ingin dengarkan rekaman saja,” jawab Klara.
“Ini…” sambil memberikan berkas pada Paris, “ihasil fisu korban. Benar yang dikatakan Pak Surya terdapat memar di belakang kepala korban. Dan sepertinya memang Candra pelakunnya soal motifnya aku kurang tahu,” penjelasan Jenni.
Hp paris berbunyi. Paris langsung mengangkat Hp setelah tahu siapa yang menelpon, “halo…,” setelah mendenggar perkataan  si hpenelpon, “cari tahu keberadaan Candra sekarang. Aku tunggu kabarnya secepatnya,” lalu mematikan hp.
“Ada apa?” tanya Jenni.
“Apa sebulan ini Candra sering bolak balik ke ruangan pak Rudi?” tanya  paris pada Klara.
“Aku kurang tahu. Tapi memang beberapa kali aku lihat Candra keluar dari ruangan Pak Rudi. Ada apa?”.
“Candra menyukain anak perempuan Pak Rudi tapi tidak di setujuin Pak Rudi selama ini. Seminggu ini anak Pak Rudi dan Candra menghilag”.
“Iya juga sih… pas pemakaman Pak Rudi juga anaknya tidak muncul”.
“Perkiraan anak Pak Rudi ikut serta dalam pembunuhan orang tuanya atau dia culik Candra”.
“Lalu apa rencana kita?” tanya Klara.
“Menunggu,” jawab Paris.
Klara terkejut, “apa”.

“Sudah malam,” kata Jenni, “aku pulang duluan, jika ada kabar terbaru beritahu aku,” sambil melihat Klara tertidur pulas di sofa, “sepertinya malam ini dia harus menginap lagi malam ini”.
“Mau aku antar,” tawar Paris.
“Tidak usah. Aku bawak mobil sendiri,” sambil membuka pintu, “sampai jumpa di kantor polisi besok,” jenni pun pergi dari apartemen.
Paris menutup pintu. Setelah itu langsung masuk kamar untuk mengambil selimut, kemudian menyelimutin tubuh Klara. Beberapa kali Paris menguap. Paris duduk disofa  lalu dipejamkan matanya. Beberapa detik kemudian Paris sudah tertidur pulas dengan cara duduk.
***

Pagi-pagi sekali sebelum ke penjara, Bunda ke rumah Eka.  Eka sangat terkejut melihat Bunda di tambah maksud tujuan Bunda ke rumahnya. “Jadi Klara tidak menginap disini?!” kanget Bunda ternyata Klara tidak ada di rumah Eka. “Jadi Klara menginap dimana?” kuatir Bunda.
Eka  gelisah harus menjawab apa ke bunda.
“Kau tahu Klara menginap dimana?”.
“a..aku..”
“Katakan dimana Klara!” marah Bunda.
***
Paris dan Jenni datang ke kantor polisi menemuin petugas yang mengurus kasus Ayah. “selamat pagi,” sapa Pari, “Aku pengacara dari Pak Surya”.
“Silakan dudik,” kata petugas.
Paris duduk, “ini ada beberapa bukti bahwa Pak Paris tidak bersalah,” sambil memberikan beberapa berkas pada polisi.
Pertugas langsung membaca berkas yang diberikan Paris. “Klien saya mengatakan hanya mendorong korban, kepala korban mengenain meja kerja korban. Saya  menerima hasil fisum dari rumah sakit terdapat memar kepala korban. Saat itu korban masih hidup, karna saat itu Pak Surya masih memeriksa nadinya. Pukul 8.30  Pak Surya keluar dari ruangan korban”.
“Lalu menurut ada siapa pelakunya?”.
“Bukankah selain Pak Prengky terdapat cap tangan Candra?”.
“Tidak ada yang melihat Candra berada di lokasi”.
“Ada Pak. Namanya Ibu Erika. Ibu Erika keluar dari ruagan jam 9.35, tak ditabrak oleh Candra. Di lantai 3 terdapat 4 ruangan 1 ruangan korban, 2 ruangan dosen dan 1 ruangan rapat. Saya bertanya Candra tidak masuk di 2 ruangan itu. Apa masuk akal mahasiswa masuk keruangan rapat kecuali keruangan Pak Rudi”, penjelasan Paris.
“Baik kami akan mencari keberadaan Candra sekarang?” kata pertugas.
“Saya denggar Candra ada di Bogor. Tempat orang tuanya”.
“Trimah kasih ada  sudah memberikan informasi, kami akan tindak lajutin kasus ini” sambil menyalam Paris.
Paris hanya tersenyum.
***
“Tok…tok…tok…” pintu apartemen diketuk dari luar. Klara langsung terbangun, dilihatnya Paris tidak ada lagi di apartemen namun sarapat untuknya sudah tersedia di atas meja, susu coklat dan salad. “tok…tok…!!” Klara langsung membuka pintu, “siapa sih…” sambil membuka pintu, “haaa…. Bunda,” kanget klara melihat Bunda berada di pintu apartemen.
“Anak kurang ajar!!” marah Bunda, “kau ternyata sering membohongiku!!” yang menanggis sambil memukul Klara.
“Bunda sakit…”kata Klara kesakitan di pukul Bunda yang baru pertama kali di pukul Bunda.
“Kau seperti wanita murahan tidur di rumah pria!!”.
“Kami tidak melakukan apa-apa Bunda,” Klara menanggis, “selama aku menginap disini, paris tidak pernah menyentuhku. Aku mohon percayalah padaku, aku mohon Bunda… kami tidak melakukan apapun hu…hummm…”
Bunda langsung memeluk Klara. Hp Klra berbunyi, Klara melihat siapa yang menelponnya dari layer hp, “Paris,” langsung diangkatnya, “halo…ada apa?” setelah tahu tujuan Paris menelponnya, “baik kita bertemu di Cave,” lalu mematikan hp.
“Ada apa?” tanya Bunda.
“Paris ingin bertemu. Ada yang ingin dia  katakan,” jawab Klara.
***
4 mobil polisi yang diantara 4 polisi terdapat 5-6 polisi dalam satu mobil menuju rumah kediaman orang tua Candra yang berada di daerah Bogor. Setiba di lokasi langsung menemuin sepang suami istri yang sedang menjemur padi di halaman depan rumah.
“Ada apa Pak?” tanya pria yang sudah lanjut usia.
“Apa benar ini rumah Candra?” tanya salah satu petugas.
“Iya. Apa salah anak saya?” tanya orang tua itu lagi.
“Anak bapak terlibat pembunuhan Pak Rudi.
“Apa! pembunuhan,” yang tak percaya anaknya melakukan itu semua.
Salah satu polisi melihat seorang pria  di belakang rumah berlari kearah sawah. “Candra…!!” langsung mengejar Candra yang terus berlari tanpa penduli teriakan dari polisi. Beberapa polisi mengejar Candra. “jika  kau tidak kami tembak!!” kata salah satu polisi yang siap menebak.
Candra tak menduli ancaman polisi. Dia terus berlari, akhirnya polisi langsung menebak Candra yang tak mau berhenti berlari. Peluruh menebus kulit kaki sebelah kanan. Candra pun terjatuh ke Lumpur yang sydah di tanamin padi.
Orang tua Candra menanggis melihat Candra yang dibawak oleh polisi dengan luka di kakinya.
***
Klara datang ke Cave Citra yang biasa mereka datangin. Dilihatnya Paris sedang menunggunya di meja yang berada di pinggir kolam. Diambilnya hp dari dalam tas, lalu diam-diam memoret Paris yang juga pura-pura tidak melihat Klara. Beberapa kali Klara memoret, “seharusnya waktu dia sering tersenyum aku memoretnya,” melihat hasil poretan.
Tak sadar Klara Paris sudah ada dibelakangnya, “benarkah ini Ibu Klara”.
Klara menolek, “kau…”. kanget Klara Paris tiba-tiba di belakangnya.
“Apa tidak ada kerjaan lain selain memoret  diam-diam,” kata Paris.
“Bukannya itu juga kau sering kau lakukan,” kata Klara.
“Kau ingin memoretku? Ayo kita ketaman. Disekitar sini ad ataman kota,” paris menarik Klara keluar dari Cave.

Setiba di taman kota. Paris bergaya siap untuk di poret, Klara pun segera memoret setap gaya yang ditunjukkan Paris. Tapi setiap mau memoret gaya Paris hanya itu-itu saja, Klra mulai bosan. “Ayo poret!” perintah Paris.
“Apakah seorang pengacara tidak bisa bergaya  untuk di poret!”.
“Aku nyaman dengan gaya seperti ini”.
“Haa… ,” Klara melihat sepasang kekasih sedang berfoto berdua tak jauh dari mereka, “bagaimana kalau kita fiti berdua,” usul Klra.
“Aku tidak terbiasa  berfoto dengan sembarang wanita”.
“Haaa… cowok aneh! Memang salah kita berfoto berdua. Aku rasa tidak! Memang seorang pengacara dilarang berfoto sama seorang wanita”.
“Memang kau siapa aku? Istriku, pacarku atau kekasihku?!”.
“Kau membuatku kesal! Kembalikan semua fotoku yang ada padamu!”.
“Baik. Akan aku kembalikan. Sebenarnya mau aku buang. Kapan mau kau ambil?”.
“Apa!”.
Paris melihat Klra terkejut, lalu tersenyum lebar, “hemmm…”.
“Memang ada yang lucu!”.
“Kau lucu jika marah”.
“Jadi kau lebih suka melihat aku marah dari pada tidak! Kau memang cowok aneh!”.
Paris hanya trsenyum.   “Besok Ayahmu bebas,” kata Paris.
“Benarkah,” senang Klara mendenggar kabar dari Paris.
“Mungkin hari ini kita terakhir bertemu”.
“Apa!” kanget Klara, “kau besok berangkat?”.
“Tugasku disini sudah selesai dan Kristi aku ajak ke Amerika. Papa dan Mama sangat senang melihat Kristin”.
Kau meninggalkan aku lagi, kata Klara dalam hatinya.
Aku harus melakukannya, maafkan aku, kata Paris dalam hatinya. “semoga harimu menyenangkan,” ucap Paris sambil menjulurkan tangannya.
Klara brusaha untuk tegar, “kau juga dan jaga Kristin sebaik-baiknya”. Mereka bersalaman sambil saling menatap.
***
“Kakek kita bertemu dengan kak Cinderela dulu,” kata Kristin pada Papa.
"He's talking about?” tanya Papa pada Jenni.
“Sayang kau pastih bertemu dengan kak cinderela tapi bukan sekarang. Aku nyakit suatu hari nanti kalian akan bertemu lagi”.
“Janji kak”.
“Iya. Tapi kau harus belajar yang baik  di Amerika”.
“Iya”.
“Kau anak yang baik”.
***

Klara dan Jenni datang ke kantor polisi untu bertanya pada Candra apa yang terjadi sebenarnya. “Saya minta maaf terutama pada Ibu,” kata Candra pada Klara yang duduk dihadapannya.
“Kenapa kau lakukan itu?” tanya Klara lembut.
“Aku ingin membalas kematian adikku bu. Dua minggu  yang lalu Pak Rudi segaja menabrak Rio adikku. Tapi Pak Rudi tidak mengakuinnya, aku nyakit itu mobil Pak Rudi. Aku tahu Pak Rudi tidak suka kedekatanku dengan putrinya tapi jangan libatkan adikku, sampai merenggut nyawanya,” menanggis, “pagi itu aku segaja datang pagi-pagi niat mau membalas dendam, tapi aku mendenggar suara keributan dari dalam ruangan. Setelah orang yang bertengkar dengan Pak Rudi keluar, aku masuk. Aku lihat Pak Rudi sudah siuman, aku langsung saja memukulnya,” cerita Candra.
“Sekarang dimana  putri Pak Rudi?” tanya Jenni.
“Dia tinggal bersama temannya yang berada di Bandung,” jawab Candra.
“Apa dia tahu kau membunuh Ayahnya?”.
“Iya”.
***
Dibandara  Sukarno-Hatta. Papa, Mama, Kristin dan Paris mau masuk kedalam bandara. Paris menolek ke belakang. “Apa yang kau tunggu sayang?” tanya Mama.
“Tidak ada,” jawab Paris, “ayo kita masuk,” kata Paris pada kedua orang tuanya yang berusaha tidak menampakkan kesedihannya  meninggalkan wanita yang dicintainnya.
***
Klara, Bunda dan Jenni menunggu Ayah di depan kantor polisi.  Hampir 1 jam mereka menunggu yang akhirnya Ayah keluar juga. Bunda langsung memeluk Ayah, “ayah…” senang Bunda melihat suaminya sudah keluar dari masalahnya.
“Ayah…” kata Klara yang juga menyambut kebebasan Ayah.
“Trimah kasih atas bantuan pengacara,” kata Ayah pada Jenni.
Jenni hanya tersenyum.
“Mana Paris?” tanya Ayah.
Terdenggar jelas suara pesawat yang melewatin di atas penjarah. Klara langsung melihat arah pesawat yang terbang jauh dan semakit jauh sampai tak terlihat lagi. “Paris sudah pergi,” kata Klara yang berusaha tidak menanggis di depan kedua orang tuannya.
Jenni melihat mata Klara berkaca-kaca. “kenapa kau tidak menahannya”.
“Apa perluh aku menahannya. Seharusnya tanpa aku tahanpun dia harus tidak pergi”.
“Paris pastih kembali”.
Klara menatap Jenni, “maksudmu?”.
“Apa perluh aku telepon kau jika Paris kembali”.
Klara tersenyum sambil mengangguk.
***

Tiga bulan kemudian. seperti apa yang dikatakan Klala pada Paris, setelah Ayah bebas rumah dijual.  Uang hasil jual rumah digunakan untuk membeli rumah yang tak sebesar rumah yang lama dan sebagiannya lagi digunakan membuka toko buku disekitar kampus Klara mengajar.
“Ayah Bunda,” sapa Klra yang baru tiba di toko.
“Sayang… kau sepertinya lelah sekali,” kata Bunda menyambut kedatangan  Klara.
“Tidak juga”.
“Bu. Dimana buku UU?” tanya Doti.
“Ayo ikut Ibu,” kata Klra mengaja mahasiswanya ke bagian buku UU.
***
Paris keluar dari Bandara, dilihatnya Jenni sedang berdiri didepan pintu mobil sambil melambaikan tangannya pada Paris. “sudah lama tidak bertemu,” kata Paris pada Jenni.
“Kau kelihatan kurus,” kata Jenni.
Paris hanya tersenyum. “Kita mau kemana sekarang?” tanya Paris sambil membuka pintu mobil.
“Kau ingin langsung kerja?”.
“bukannya kau menyuruh aku ke Indonesia karna ada kasus yang tidak bisa kau selesaikan”.
“Jadi gara-gara kasus itu. Aku pikir kasus lain?”.
“Maemang ada kasus lain?”.
“Kasus hatimu,” kata Jenni sambil masuk dalam mobil.
Paris masuk dalam mobil, “jangan membahasnya lagi”.
Jenni menyetir mobil menuju kantor. “kau tidak menyukain Klara lagi? Melihat keadaanmu selama tiga bulan ini aku tidak nyakin kau melupakannya”.
“Anggap saja Klara masa laluku”.
“Sebenarnya apa lagi yang membuat kau ingin menjauhin Klara. Orang tua Klara dan orang tuamu sudah setujuh hubungan kalian berdua.  Kalian saling mencintain. Apa lagi??”.
***
“Siapa yang tahu Yurisprudensi?” tanya Klara pada mahasiswa . “masa tidak ada yang tahu?” kata Klara melihat mahasiswa diam menatap dirinya di depan kelas, “cari  apa artinya dan Negara mana yang menggunakan hokum ini. Besok ibu tunggu di meja ibu,” perintak Klara.
“Ahhh… ibu…” serentak menjawab.
“Besok kita lanjutin lagi. Selamat siang anak-anak,” lalu keluar dari kelas langsung menuju ruangan dosen yang sudah dipindahkan di lantai 2. Didalam ruangan Klara melihat teman-teman satu kerjanya sebagai dosen.
“Ini bu…” Erika memberikan undangan pada Klara.
Klara melihat undangan, “Ibu Erika dan kak Rian mau menikah,” yang ikut gembira melihat Erika dan Rian akan segera menikah.
“Acaranya masih 2 minggu lagi,” kata Erika malu.
“Sekarang yang belum menikah tinggal Ibu Klara? Kapan Pak paris melamar Ibu?” tanya Benni. Semua menatap Benni. Benni baru ingat, “maaf bu,” kata Benni pada Klara.
“Tidak apa-apa,” sambil tersenyum. Hpnya berbunyi, Klara langsung mengangkatnya setelah tahu siapa yang menelponnya, “halo…ada apa?” setelah tahu maksud si penelpon menelponnya, “benarkah. Trimah kasih,”  gembira Klara mendenggar kabar yang sudah lama di tunggunya. Semua menatap dirinya. Klara hanya tersenyum lebar.
***
“Saya harap Pengacara Paris mau membantu saya selama seminggu ini. Hanya seminggu,” kata Pak Hendrik memintak tolong pada paris.
“Kenapa harus aku?” tanya Paris.
“Saya lebih percaya pada ada dari pada siapapun. Setidaknya ada mempunyain pengalaman mengajar”.
“Baiklah. Kalau hanya seminggu”.
“trimah kasih”.
Paris hanya tersenyum.

Setelah Pak Hendrik pulang. paris bertanya pada jenni yang duduk disofa ruang kerjanya. “ini bukan termasuk rencanamu khan?” curiga Paris.
“Apa sih maksudmu? Aku tidak mengerti,” jawab Jenni.
***
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Eka melihat Klara melihat sedang melihat majalah tas dikamarnya. “dulu kau bisa beli apapun dan sekarang kau harus beli barang semampu gajimu”.
“Berat sih, tapi aku nyakit aku bisa menyesuaikan diri,” jawab klara.
“Aku bangga padamu”.
Klara tersenyum, “bagaimana dengan tas ini?” tanya Klara menunjuk tas gadeng warna merah.
“Bagus juga. Tapi kau bisa menghabiskan uang gajimu dalam sebulan”.
“Bisa 5 kali cicilan”.
“Benar juga sih…”.
***

Paris ke kampus untuk menggantikan Pak Hendrik mengajar selama seminggu. Paris  melihat Klara yang melewatinnya. Paris seakan tidak penduli dengan klara, dia terus melangkahkan kakinya menuju kelas yang sudah diberitahu pak Hendrik sebelumnya.
Klara menolek, “Paris lihat atau tiidak sih… kok jalan terus,” kesal Klara. Hpnya berbunyi, Klara langsung mengangkatnya yang tahu siapa yang menelponnya, “kau ini benar teman Paris atau tidak sih..” tanya Klara.
“Ada apa? kalian tidak bertemu?” tanya Jenni yang menelpon Klara.
“Ketemu. Cumak dia gak penduli. Sepertinya Paris sudah melupakan perasaannya ke aku”.
“Gak mungkin. Dalam 3 bulan ini Paris bodoh sepertimu”.
“Apa!” kesal Jenni mengatakan dirinya bodoh.
***
“tadi aku lihat Pak Paris mengajar lagi,” kata Erika sambil menikmatin makan siangnya di kantin kampus bersama Rian.
“Pak Paris mengajar hanya untuk seminggu di kampus ini. “diam sejenak, “sepertinya ada yang  segaja menyuruh Pak Hendrik liburan ke Bali”.
“Maksudmu, ada yang segaja mendekatin Pak Paris dengan Ibu Klara?”.
“Sepertinya iya”.
“Gak masalah sih… mereka juga saling mencintain. Tapi kenapa harus menunggu selama 3 bulan”.
“Kalau itu aku kurang tahu,” kata Rian sambil makan.
***
Setelah selesai mengajar Paris ke pakiran. Dilihatnya Klara berdiri di depan mobilnya. “Hai pengacara Paris,” sapa Klara.
“Sedang apa kau disini?” tanya Paris.
“Menunggumu”.
“Lalu?”.
“Eee… aku ingin makan malam denganmu jam 7 di Cave Citra”.
“Aku tidak akan datang”.
“Kenapa? Bukannya hari ini ulang tahunmu,” kata Klara mengingat ulang tahun Paris hari ini. “aku sudah menyiapkannya dari tadi pagi”.
Paris menatap Klara, “bukannya kau sudah janji menjauhinku!”.
“Aku juga pernah menyuruhmu menjauhinku kenapa kau tidak jauh dariku! Sekarang aku mau melakukan sama seperti yang kau lakukan padaku dulu”.
Paris membuka pintu mobil, “aku tidak akan datang”.
“Harus datang!! Gak datang awas!! Aku akan menunggumu sampai kau datang!” kata Klara lalu pergi.  Paris binggung melihat sikap Klara yang aneh. Sedangkan Klara tersenyum sambil berjalan menjauhin Paris.
***
Jam sudah menuju pukul 8 malam, tapi Paris tidak datang juga. Meja yang biasa mereka berdua dudukkin dulu sudah disiapkan seromatis mungkin. Klara terus menunggu berharap Paris datang menemuinnya.
***
Di apartemen Paris gelisah. Binggung antara datang dan tidak ke Cave Citra menemuin Klara. Berkali-kali Paris melihat jam di lenggan kirinya. Hpnya berbunyi, setelah tahu siapa yang menelponnya dari layar hp, Paris langsung mengangkatnya, “halo…ada apa?”.
“Kau sekarang dimana?” tanya Jenni.
“Apartemen. Ada apa?”.
“Kau tidak ke Cave?” tanya Jenni.
“Kau tahu dari mana?” tanya balik Paris.
“Kau tidak perluh aku tahu dari mana!! Kau memang keterlaluan! Sampai kapan kau mempermaikan perasaanmu, aku sudah lelah melihatmu!” diam sejenak, “apa kau tahu perasaan Klara saat kau meninggalkannya tiga bulan yang lalu? Sama seperti kau perasaannya. Kacau!! Tapi waktu aku beritahu kau akan kembali, Klara sangat senang. Malah acara ulang tahunmu malam ini sudah disiapkannya sebulan yang lalu. Jika kau juga tidak datang malam ini, kau sama saja menyakitin perasaanmu dan perasaan Klara. Malah lebih sakit Klara!!” kata Jenni panjang lebar, lalu langsung mematikan hpnya.
Tanpa pikir panjang Paris langsung menuju Cave Citra menggunakan mobil langsung tancap gas berharap Klara masih menunggunya di Cave. Setiba di Cave Paris masuk, dicarinya Klara yang tidak ada lagi di Cave, “katanya mau menunggu aku sampai datang,” Paris keluar dari Cave.
“Paris…” panggil Klara muncul dari belakang Paris.
Paris membalikkan tubuhnya, “Klara…”.
“Kenapa baru sekarang datang!?” kesal Klara sudah 3 jam menunggunya di Cave.
“Kau dari mana?” tanya Paris yang tidak melihat Klara didalam Cave.
“Kado untukmu ketinggalan”.
Paris tersenyum, “dasar bodoh”.
“Apa!”.
Paris langsung memeluk Klara, “maafkan aku,” kata Paris. Walaupun masih binggung Klara senang Paris memeluknya. Dinginnya malam tidak terasa lagi karna kehangatan cinta mereka berdua sudah menyatuh.
***

Klara mengajak Paris ketaman kota. “kenapa kita harus kesini?” tanya Paris yang seingatnya pernah sekali ke taman ini saat dirinya difoto oleh Klara.
“Mana hpmu?” tanya Klara.
“Untuk apa?”.
“Mana?”.
Paris mengeluarkan hp dari saku celananya, “ini”.
“Foto aku,” mintak Klara.
“Kenapa tidak gunakan hpmu?”.
“Memoriku penuh. Ayo foto!” kata Klara menunjukkan gaya yang sama seperti paris dulu saat dirinya memoret.
Berkali-kali Klara diporet oleh paris dengan gaya yang sama. “hei… yang kau tunjukkan itu gaya cowok dan kalau gak salah itu gayaku,” seingat Paris.
Klara mengikutin kata-kata Paris . “Aku nyaman dengan gaya seperti ini”.
Paris ingat kata-kata itu pernah diucapkannya pada Klara. “sepertinya kau ingat semua kata-kataku”.
“Kau lupa pengingatanku lebih baik dari padamu”.
Paris tersenyum. “ayo kita berfoto berdua?” ajak Paris.
 “Aku tidak terbiasa  berfoto dengan sembarang pria”.
Paris ingat kata-kata itupun pernah diucapkannya hanya membedahkan pria dan wanita saja, ”apa lagi yang kau ingat kata-kataku?”.
“Memang kau siapa aku? Istriku, pacarku atau kekasihku?!”.
Mau main-main denganku, kata Paris dalam hatinya. “Kau tidak mau ketiganya?” lalu membalikkan tubuhnya.
Klara langsung memengang tangan Paris, “lamaran apa seperti itu!” kesal Klara.
Paris tertawa melihat wajah Klara yang marah. “haa…ha…haa…!”.
“Ternyata benar, kau lebih suka lihat aku marah!”.
Paris memeluk Klara. “Aku mencintainmu,” ucap Paris.
Klara gembira mendenggar perkataan Paris, “mengucapkan sekali lagi”.
“Aku mencintainmu”.
“Sekali lagi”.
Paris menatap Klara, “aku mencintainmu,” lalu mencium kening Klara, “aku mencintainmu sekarang dan selamanya”.
Klara memeluk paris, “aku juga sangat mencintainmu,” ucap klara.
Cinta yang selama !8 tahun di pedam Paris akhirnya mendapatkan hasil yang diharapkannya. Sama seperti Cinta pangeran pada Cinderela yang akhirnya hidup bahagia selamanya.


 
Tamat


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar