Kamis, 20 September 2012

Agen Rahasia 4


Empat


Kim tiba di rumah sakit dengan setelan jas tanpa memakai dasi melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Sesaat langkah Kim terhenti saat dirinya melihat pria yang hampir menabrak Via sewaktu di Bali melintas di depannya. Melihat ekpresi yang ditunjukkan pria itu, Kim menduga ada rencana yang akan mereka lakukan kembali. Tiba-tiba Kim terkejut dengan kehadiran Via yang muncul di belakangnya, “hahhhh… kau mengangetkanku!”.
Via tertawa, “hahaha… maaf Dok… tapi… Dokter lucu terkejut”.
“Hahaha…haha…” Kim tertawa  yang dibuat-buatnya.
“Dokter marah?”.
“Sudahlah…” Kim melangkah pergi.
“Tunggu…” Via langsung memengang tangan Kim untuk menghalanginnya pergi.
“Ada apa lagi perawat Via?”.
“Kenapa Dokter semalam tidak mengangkat telponku?”.
Kim menjawab pertanyaan Via sambil berjalan, “aku sibuk”.
“Sesibuk itukah?”.
“Ya”.
Via masih memperhatikan Kim yang melangkah pergi menjauh darinya.
***
Potter masuk ke WC pria. Beberapa saat kemudian beberapa perawat pria masuk ke dalam kamar mandi. Mereka bukan BAK atau BAB di kamar mandi tersebut melainkan membicarakan kabar yang menghebohkan tentang dokter baru.
“Tidak pantas seorang dokter berhubungan dengan seorang perawat!” kata perawat salah satu dari mereka.
“Baru jadi dokter saja sudah seenaknya!” kata yang lainnya.
“Kau bilang seperti itu karena kau menyukain perawat Via kan?” kata perawat yang membuka pembicaraan yang pertama.
“Siapa sih yang gak menyukain perawat Via, dia cantik banget…”.
“Bener banget…”.
“Bukan itu saja. Aku dengar Dokter Kim memitah pemeriksaan ulang pada anak Citra,” kata yang lainnya.
“Apa! Itu tandanya dia meragukan pemerisaan  yang dilakukan Dokter Bon”.
“Harap maklum… dokter baru… suka mencari perhatian hahaha…”.
“Tapi pemeriksaan itu tidak akan dilakukan kok”.
“Kenapa? Apa Presdir Surya tidak setuju?”.
“Anak Citra di bawah pulang oleh keluarganya semalam”.
“Gak jadi dong… hahaha…haha…”.
“Apa kalian tahu Dokter Potter dan Perawat Via sudah dijodohkan dari dulu,” kata perawat yang lainnya.
“Benarkah…??”.
“Tapi semua itu batal karena perawat Via menyukain Dokter Kim”.
Potter yang dari tadi bisa menahan akhirnya tidak bisa menahan lagi saat namanya mulai di bicarakan oleh mereka. Potter langsung keluar dari WC. Semua perawat yang ada di kamar mandi terkejut melihat Potter yang tiba-tiba muncul dari balik pintu WC, “Dokter…”.
“Apa kalian tidak ada kerjaan lain selain membicarakan orang lain!!” marah Potter.
Semua diam terpaku dan tak berani menatap Potter yang menatap mereka dengan tatapan tajam.
***
Kim yang mendengar kabar bahwa anak Citra sudah di bawah oleh keluarganya pulang membuat Kim kesal. Padahal dia ingin membuktikan bahwa diagnosa Dokter Bon itu salah dan itu bisa membuka semua kejahatan yang dilakukan Dokter Bon selama ini. Tapi semua sia-sia karena anak Citra sudah pergi. Kim mulai curiga dengan kepergian anak Citra yang tiba-tiba, “pastih ada sesuatu,” nyakin Kim.
***
Via dan Sri segera melakukan pertolongan pertama pada pasien kecelakaan yang baru tiba. Dengan seriusnya Via membersihkan luka-luka pada pasien tersebut.
***
Acton menemuin Surya diruangannya, “apa benar Dokter Kim memintah pemeriksaan ulang pada anak Citra?” tanyanya ingin dengar langsung dari Ayahnya.
“Rasa penasaran dokter baru itu sudah biasa,” jawab Surya.
“Ayah tidak akan menghentikannya kan?”.
Surya menatap Potter, “sampai kapan kau berhenti mencurigain Ayah!!”.
Potter berdiri, “aku hanya tidak ingin Ayah terlibat,” lalu keluar dari ruangan.
“Anak itu!!” marah Surya yang melihat putra satu-satunya itu selalu bersikaf dingin padanya.
***
Via pulang ke apartemennya. Ketika memasukkin gedung apartemen, sekali-kali Via menolek ke belakang, apakah ada yang mengikutinnya atau tidak. Ketika sudah nyakin tidak ada yang mengikutinnya barulah dirinya melajutin langkahnya. Via tidak melihat lagi  kardus-kardus yang  berada di pinggir pintu lift. Namun  tidak mau memperdulikannya, dia langsung masuk ke dalam lift yang telah terbuka, dan langsung menuju apartemennya yang berada di lantai 4.
***
“Apa tidak terlalu besar apartemen ini untukmu?” kata Arnila melihat ukuran  apartemen baru milik Kim.
“Aku sudah bosan dengan apartemen kecil,” alasan Kim sambil merapikan buku-buku ke rak.
“Aku dengar Via juga tinggal di gedung ini,” Arnila yang sudah mengetahui mengapa Kim pindah.
Kim diam.
“Apa itu kebetulan?”.
“Bukannya kau bilang, aku harus menjaganya”.
“Kau terlalu menghabur-haburkan uangmu”.
“Aku memakai uang pribadiku”.
“Apa sampai seperti itukah kau ingin menyelesaikan kasus ini!?”.
“Ya. Aku bergabung ke polisian hanya karna kasus ini! Aku tidak penduli seberapa besar uang yang aku keluarkan! Aku hanya ingin mereka semua menerima akibat yang mereka lakukan selama ini!!” tekat Kim selama ini.
Arnila diam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu selama ini Kim sudah banyak menderita karena kasus ini. Ketika kasus ini sudah ada di tangannya, Kim tidak akan menyia-yiakan kesempatan itu.
***
Via tidak bisa memejakan matanya karena suara ribut yang berada di apartemen sebelahnya, “ahhh…” sambil menutup telingahnya dengan kedua tanganya, “dasar tetangga baru!!” kesal Via yang tidak bisa tidur. Karena tidak bisa tidur juga, Via ke luar menikmatin suasana malam dari balkon apartemennya. Untuk menghilangin rasa stress yang menyelimutin dirinya, Via menelpon Kim. Setelah tersambung, “halo Dokter…”.
“Ada apa?” tanya Kim yang sedang memukul paku ke dinding menggunakan palu untuk meletakkan lukisan.
“Dokter sedang apa?” tanya Via yang mendengar suara berisik, “kok berisik baget?”.
“Aku baru pindah”.
“Ternyata nasif Dokter sama dengan tetanggaku”.
“Maksudmu?”.
“Ya… sama-sama baru pindah,” goda Via.
Kim tersenyum lebar, “haha…”.
“Dokter tinggal dimana sekarang?”.
“Tak jauh dari rumah sakit,” diam sejenak, “sebaiknya kau tidur, sudah malam”.
“Bagaimana aku bisa tidur Dok, beriksi banget,” rengek Via.
Kim menghentikan pekerjaannya, “good night,” lalu menutup telpon.
“Kok di tutup sih…” betek Via. Tapi anehnya suara yang berisik yang tadi  terdengar sangat jelas tidak terdengar lagi. Suasana malam mulai terhening. Via yang tidak ingin ambil pusing dengan keadaan yang kebetulan ini lalu masuk ke dalam kamar dan segera tidur.
***

Dari ruang pemeriksaan  Acton kembali keruangannya, “brensek!!” dengan nada tinggi Acton melepaskan kemarahannya sambil melempar file ke atas meja kerjanya.
“Ada apa?” tanya Gita yang sudah berada di ruang Acton.
“Mereka menolak membuka mulut!”.
“Tapi kan kemarin…”.
“Aaahhh!!” Acton yang masih kesal.
***
Kim mendatangin pemukiman kumu yang berada di pinggir kota. Dengan alamat seadanya Kim melangkah memasukin pemukiman tersebut. Melihat penampilan Kim yang cool dan menarik, semua mata tertujuh kearahnya. Tanpa memikirkan apa tangapan mereka tentang dirinya, Kim terus melangkah menuju alamat yang ingin dia datangin.
“Dokter Kim…” panggil seorang pria ketika melintas di depan Kim.
Kim tersenyum pada pria itu.

Tanpa sedikit pun jijik atau gengsi Kim duduk di bangku yang sudah tidak layak lagi di dudukin itu. Kim memperhatikan keadaan rumah kayu yang yang tidak layak lagi ditempatin. “Bagaimana keadaan Citra?” tanyanya.
“Ya begitulah Dok,” jawab Budi ayah dari Citra.
Citra tiba-tiba muncul, “Dokter…” senang melihat Kim.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Kim lembut.
“Lemas dan kadang kepala pusing Dok,” keluhan Citra.
“Apa yang membuat Dokter datang kemari?” tanya Budi.
“Aku hanya ingin tahu kenapa bapak tiba-tiba membawa Citra pulang?”.
“Biaya Dok”.
“Bukannya biaya rumah sakit gratis?” sepengetahuan Kim.
“Itu juga yang aku katakan pada mereka Dok. malah mereka menjawab tidak ada yang gratis di dunia ini,” kata Budi dengan wajah sedih.
“Karena itu,” Kim yang sudah mengetahuin penyebab anak Citra di bawah pulang oleh keluarganya tempo hari.
***
“Dok, ada yang mencari Dokter,” kata Sri pada Potter yang sedang memeriksa pasien di ruang UGD.
Potter menghentikan pekerjaannya, siapa?” sambil menolek, “Arnila…” kanget melihat kehadiran teman satu kerjanya sewaktu di Bali berada di hadapannya.
Arnila tersenyum.

Potter mengajak Arnila ke kantin rumah sakit. “Kapan kau sampai di Jakarta?”.
“Semalam Dok,” bohong Arnila.
“Kenapa kau tidak menelpon kau akan datang?”.
“Aku ingin buat kejutan”.
“Aku senang akhirnya kau menerima tawaran itu”.
“Sepertinya aku tidak bisa jauh dari Dokter”.
“Hahahaha… haha… aku senang kau ada di sini”.
“Aku juga Dok”.
***
Via datang ke rumah orang tua angkatnya. Kedatangan Via disambut hangat oleh Joni yang sebelumnya Via memberitahukan kedatangannya. “Kau tidak kerja sayang?”.
“Aku Dinas malam Yah. Aku bosan sendirian di apartemen,” sambil duduk di sofa, “aku tinggal dengan Ayah  yach…”.
 Joni diam.
“Yah…”.
“Ayah ingin kau belajar mandiri sayang,” alasan Joni.
“Tapi Yah…”.
Joni membuka topik pembicaraan baru, “kalau ada waktu luang seperti ini, kau seharusnya bersenang-senang sayang. Kau harus menikmati masa mudamu, jangan terlalu serius bekerja”.
“Iya Yah”.
***
Kim menemuin Surya di ruangannya, “maaf menganggu Presdir,” sambil masuk ke dalam ruangan.
“Duduklah… apa ada masalah lagi Dok?”.
“Aku hanya ingin menayakan tentang anak Citra”.
Surya tersenyum lebar, “Aku sudah mendengarnya. Sayang sekali keluarga tiba-tiba memutuskan untuk membawa anak Citra pulang,” diam sejenak, “tapi itulah orang miskin… mereka takut dengan biaya rumah sakit yang menumpuk hahaha…”.
“Bukannya biaya rumah sakit untuk pakir miskin gratis Presdir,” Kim yang mulai memacing pembicaraan.
“Dokter Kim… aku mendirikan rumah sakit ini bukan hanya untuk orang-orang miskin saja Dokter. Dan mana ada rumah sakit memberikan pengobatan 100% gratis Dok. Aku seorang pengusaha, dan aku ingin mendapatkan keuntungan yang sangat besar,” kata Surya panjang lebar.
Kim memaksakan senyumanya, “aku sudah mendapatkan jawabannya. Permisih Presdir…” lalu keluar dari ruangan. Diluar ruangan  Kim bertemu dengan Potter yang akan keruangan Surya. Kim terus berjalan tanpa memperdulikan Potter yang memadangnya.
***
Gita mendekati Acton yang sedang termenung di taman yang berada di luar gedung kepolisian. Dengan modal segelas kopi, Gita berharap suasana Acton terhibur. “ini…” sambil memberikan gelas berisi kopi.
Acton mengambilnya, “kau belum pulang,” lalu meminumnya.
Gita duduk di sebelah Acton, “kau juga belum pulang”.
“Pulanglah”.
“Bos tidak mau mengantarku?” harap Gita.
Acton menatap Gita.
“Aku hanya bercanda Bos…” Gita yang tidak terlalu berharap banyak.
Acton tertawa melihat sikaf Gita yang tidak pastih, “hahaha…”.
“Bos ketawa haha… akhirnya aku berhasil buat Bos tertawa hahaha…” senang Gita.
Acton masih tertawa, “hahaha…”.
***
Sesampai di rumah sakit, Via langsung ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Setelah mengganti pakaiannya, barulah dirinya keruangan UGD. Sebelum masuk ke ruang UGD, Via menolek ke belakang. Via masih merasakan bahwa dirinya masih diikutin seseorang, tapi sampai sekarang dia belum tahu siapa orangnya.
Kekuatiran mulai menyelimuti dirinya, “ada apa sih dengan ku…” lalu masuk ke dalam ruang UGD.
“Kau telat 15 menit,” kata Sri pada Via yang baru tiba.
“Aku ganti pakaian dulu,” alasan Via.
“Apa kau tidak bisa memakai pakaian di rumah?”.
“Aku tidak suka model pakaian ini,” Via yang dari awal tidak menyukai seragam perawat yang dikenakannya itu.
“Kau ini!”.
“Ada pasien…”. Tanpa menungu perintah dari siapa pun Via dan Sri segera memberi bantuan pada pasien yang baru tiba.
***
Potter masuk keruangan Surya. “Kau belum pulang?” tanya Surya melihat putranya menemuin dirinya.
“Apa Ayah melakukan sesuatu?” tanya Potter yang masih teringat dengan ekpresi wajah Kim saat keluar dari ruangan Ayahnya.
“Aku tidak melakukan apa-apa”.
Potter ragu mempercayai Ayahnya.
“Kau tidak percaya?”.
Potter tidak menanggapin pertanyaan Ayahnya, dia malah mengalihkan pembicaraan, “aku akan antar Ayah pulang”.
“Baiklah”. Lalu mereka berdua meninggalkan rumah sakit.
***
“Sekarang apa rencanamu?” tanya Arnila setelah mendengar cerita Kim.
Kim diam dengan tatapan tertuju pada gambar seorang pria yang berada di layar komputer tablet miliknya.  Kata-kata  yang diucapkan Surya masih di ingatnya sangat jelas, “Dokter Kim… aku mendirikan rumah sakit ini bukan hanya orang-orang miskin saja Dokter. Dan mana ada rumah sakit memberikan pengobatan 100%  gratis Dok. Aku seorang pengusaha, dan aku ingin mendapatkan keuntungan yang sangat besar”.
***

“Kau mau pulang?” tanya Sri melihat Via  bersiap-siap untuk pulang.
“Kan sudah ganti jam,” jawab  Via yang sudah sangat mengatuk.
“Tapi kan perawat penganti lum ada yang datang”.
“Maksudmu kita harus menunggu?”.
“Ya bagaimana lagi”.
“Kau aja yang nunggu. Aku mau pulang,” kata Via lalu pergi tanpa memperdulikan kekecewaan Sri padanya.
“Via memang selalu seenaknya aja!” kesal Laila yang juga perawat di ruang UGD.
***
Joni  berada di kamar Via. Dia sudah lelah mencari file-file yang di inginkan Surya. Sudah di periksanya setiap sudut rumah ini namun dia tidak menemukan file-file tersebut. “Dimana sebenarnya kau sembunyikan,” kata Joni yang sudah putus asa.
***
Kim keluar dari apartemennya, dan menikmati suasana pagi dari balkon apartemennya. Kim mengerakkan tubuhnya dengan gaya berbeda-beda untuk membuat tubuhnya kembali segar setelah semalaman mengistirahatkan tubuhnya.
Tanpa disadari Kim, Via sedang memadang dirinya dari pekarangan gedung apartemen dengan tatapan tidak percaya, “Dokter Kim…”. Berkali-kali Via mengucek-ucek matanya untuk memastikan apakah yang dilihatnya itu benar Kim atau bukan. “Itu benar Dokter Kim…” senang Via. Via yang sudah terlajur senang tidak memikirkan kenapa Kim bisa berada di satu gedung dengannya, “Dokter Kim…!!” teriak Via tanpa memperdulikan orang-orang memperhatikannya.
Kim yang berada di lantai 5 tidak begitu jelas mendengar panggilan Via. Dia masuk tanpa mengetahui bahwa Via sudah melihatnya.
Via yang tidak mau menyerah langsung menuju ke lantai 5. Hanya ada 4 apartemen yang berada di lantai 5, itu membuat dirinya bingung apartemen yang mana Kim tinggal. Rasa penasaran yang ada pada Via membuat dirinya menduga-duga apartemen mana Kim tinggal. Ketika Via mau mengetuk pintu tiba-tiba pintu apartemen sebelahnya terbuka.
“Via…” kanget Kim melihat Via yang awalnya dia tidak ingin Via mengetahuin dirinya tinggal satu gedung dengannya.
“Dokter…”  sambil mendekati Kim, “ternyata Dokter tinggal disini juga,” Via yang tidak bisa menutupin kebahagiannya.
“Bukannya aku sudah bilang aku tinggal tak jauh dari rumah sakit”.
“Tapi aku gak mengira Dokter tinggal di sini”.
Kim tersenyum, “kau tahu dari mana aku tinggal disini?”.
“Aku melihat Dokter dari bawah”.
Kim kesal karena kecerobohannya namun tidak ditampakkannya di hadapan Via.
“Apa Dokter tidak tahu aku tinggal disini?” tanya Via penasaran.
Kim tidak menjawab, dia hanya tersenyum.




Bersambung


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar