Senin, 17 September 2012

Agen Rahasia 3


Tiga


“Dia pikir dia tuh siapa?! Baru jadi kepala ruangan saja dia sudah seenaknya!!” ngomel Via sambil berjalan keruangan Iwan yang berada di lantai 2. Ketika berada di lantai 2, tidak segaja tatapan Via tertujuh pada pria yang tidak asing dilihatnya. Pria itu mengenakan   kaos putih dilapisin  jas hitam dengan celana jeas mau menuju ruang rawat anak. Tanpa pikir panjang Via langsung mendekatin pria itu, “my hero…” sambil memengang lenggan pria itu untuk menghentikannya  berjalan.
Pria itu menolek, “who are you?” tanya Kim yang pura-pura tidak mengenal Via.
“Kau tidak ingat aku?” tanya Via.
Kim mengeleng masih pura-pura tidak mengenal Via.
“Waktu di Bali aku memperkenalkanmu dengan Kak Potter sebagai pacarku?” berharap Kim mengingatnya.
Kim pura-pura tidak mengingatnya.
“Waktu kau selamatkan aku dari orang gila?”.
Kim pun masih pura-pura tidak mengingatnya.
“Yang ini kau pastih ingat… waktu kau selamatkan aku dari tabrak lari?”.
Kim tetap pura-pura tidak mengingatnya.
Via kesal melihat Kim yang tidak mengingat dirinya, “period can not you remember me?!!”.
Kim tertawa, “hahaha…”.
“Ada yang lucu?!” melihat Kim tertawa Via langsung menduga Kim pura-pura tidak mengenalnya, “kau pura-pura tidak mengenalku!?”.
Seorang perawat mendekatin mereka, “Dokter sudah datang”.
“Ya. Ada berapa pasien?”.
“5 Dok,” jawab perawat itu.
“Ayo kita periksa,” ajak Kim pada perawat itu.
Via langsung memengang lenggan Kim kembali untuk menghadangnya pergi, “tunggu…”.
“Ada apa lagi?” tanya Kim.
“Kau punya utang denganku”.
“Utang?”.
“When in Bali you promise to eat with me. I waited three hours in the lobby,” berharap Kim mengingatnya.
“Ok, we ate this afternoon,” kata Kim lalu pergi bersama perawat itu.
“I’ll wait!” teriak Via namun Via langsung menutup mulutnya saat semua orang melihat kearahnya dan bergegas pergi keruangan Iwan.
***
Surya mengajak Joni ketemuan di lestoran tak jauh dari rumah sakit, “sudah kau temukan?” tanyanya.
“Beri aku waktu lagi?”.
“Sampai kapan!?”.
“Aku mohon jangan kau sakitin Via,” mohon Joni.
“Sesayang itu kah kau dengannya?”.
“Aku pastih akan menemukan file itu, aku janji,” berusaha menyakinkan Surya.
“Baiklah”.
“Trimah kasih presdir”.

Setelah Joni pergi, Surya memanggil anak buahnya, “iya Presdir…”.
“Jika ada kesempatan habisin gadis itu!” perintah Surya.
“Baik Presdir,” jawab mereka lalu pergi.
Dengan tenangnya Surya melajutin menikmatin masakkan yang sebelumnya sudah di pesannya.
***
Semua perawat di UGD segera memeriksa pasien yang datang dengan keluhan penyakit yang di derita mereka masing-masing, termasuk Via yang juga ikut serta dalam memeriksa pasien. Kali ini Via sedang membersihkan pasien dengan luka di kaki dan tangannya dikarenakan kecelakaan motor di bantu oleh Sri.
Sri heran melihat Via yang dari tadi gelisah dari berkali-kali melihat jam di lenggannya, “kau ada janji?” tanyanya.
“Ya,” jawab Via namun tetap fokus membersihkan luka pasien.
“1 jam lagi ganti jam”.
“Iya aku tahu”.

Ganti jam perawat pun berlalu, Via bergegas keruang ganti perawat untuk mengganti pakaiannya. Tak lama Via menganti pakaiannya dan berdadan seadanya.
Sri mendekatin Via yang sedang berdadan, “kau ada janji dengan Dokter Potter?” tanyanya.
“Tidak”.
“Lalu?”.
“Ada deh…” lalu pergi meninggalkan ruangan.
Dewi mendekatin Sri, “gayanya itu seperti foto model!” cetus Dewi.
“Tapi dia sangat profesional,” Sri yang menyukain Via.
“Profesional apa yach…”.
Sri hanya tersenyum menanggapin kekesalan teman sekerjanya itu.
***
Sebelum Kim mengakhirin pekerjaannya, Kim memeriksa dahulu satu persatu pasiennya yang sebagian pasiennya anak-anak. “Jangan lupa minum obatnya,” kata Kim lembut pada seorang anak yang menderita penyakit tuberculosis. Tuberculosis adalah penyakit akibat infeksi kuman mycobacterium sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi yang terbanyak di paru  yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.
“Ayo sayang jawab,” kata Ibu anak itu menyuruhnya menjawab perkataan Kim.
“Iya Dok,” jawab anak itu.
“Bagus. Permisih Bu…” kata Kim pada keluarga anak itu.
“Trimah kasih Dok”.
Kim bersama beberapa perawat yang mengikutinnya meninggalkan ruangan rawat, “besok aku mau lihat hasil laboratorium anak Citra, Doti dan anakYeni”.
“Baik Dok,” jawab salah satu perawat.
“Sampai besok,” Kim pun meninggalkan ruangan tersebut.  Ketika di luar ruangan Kim melihat Via tertidur di kursi tunggu sambil duduk. Dia tersenyum melihat perjuangan yang ditunjukkan Via.
Beberapa saat kemudian Via terbangun dan melihat Kim sudah berdiri di depannya, “kau sudah selesai?”.
“Kau sudah mempersiapkan semua ini?” yang melihat Via tidak mengenakan pakaian perawat lagi.
“Aku tidak suka memakai baju itu”.
Kim tersenyum, “ kenapa menunggu disini?”.
“Aku tidak akan terkeco lagi”.
Kim masih tersenyum.

Kim mengajak Via ke lestoran yang tak jauh dari rumah sakit. Sejak tadi Via terus memadang Kim itu membuat Kim tidak nyaman, “bisakah kau tidak melihatku seperti itu”.
“Aku senang akhirnya kau mau makan denganku”.
“You like me?”.
“Yes”.
“Tapi aku tidak menyukaimu”.
Via tidak memperdulikan perkataan Kim secara halus menolak perasaannya, “mana hpmu?”.
“For what?”.
“Where?!”.
Kim memberikan hpnya pada Via, “ini...”.
Via menekan beberapa nomor di hp Kim setelah itu mengembalikan pada Kim, “save my number,” sambil menyimpan nomor Kim di hpnya.
Kim teringat dengan bukti-bukti yang ada pada Via, “aku ingin bertanya sesuatu padamu?”.
“Bertanya apa?”.
“Apa seorang wanita suka sekali menyimpan barang-barang penting ke suatu tempat yang rahasia?”.
“Tidak semua wanita seperti”.
“Kau?”.
“Kalau aku…” berpikir sejenak, “sampai saat ini tidak ada barang yang penting yang harus di simpan di tempat rahasia. Dan… apa gunanya tempat rahasia?”.
“Atau… seseorang yang menitipkan barang yang sangat rahasia, dan harus kau simpan. Biasanya dimana kau akan menyimpannya?”.
“Akan aku tolak”.
“Kenapa?”.
“Karena aku tidak suka menyimpan barang orang lain”.
Mendengar kata-kata Via, Kim meduga Via tidak tahu apa-apa tentang barang bukti-bukti itu. Walaupun benar apa yang dikatakan Robet, bahwa dia memberikan pada Via. Itu pastih tanpa sepengetahuan Via.
“Kenapa Dokter bertanya seperti itu?” tanya balik Via.
“Aku hanya ingin tahu, dimana biasanya wanita menyimpan barang rahasianya”.
“Apa ada wanita yang menyimpan barang Dokter?”.
Kim hanya tersenyum.
“Apa wanita itu kekasih Dokter?”.
“Aku belum punya kekasih”.
Via senang mendengar jawaban Kim.
Sedangkan Kim masih memikirkan dimana bukti-bukti itu di simpan.

Hari sudah gelap. Mereka berdua ke luar dari lestoran. “Kau akan mengantarku pulangkan?” tanya Via.
“No”.
“After dinner  instead of a woman is supposed to be taken home”.
Kim tersenyum sambil menghentikan taxi yang melintas di depan lestoran, “taxi…!”.
“Apa kau serius tidak akan mengantarku pulang?”.
Setelah taxi berhenti, Kim membukakan pintu taxi, “taxi ini yang akan mengantarmu pulang”.
“Kau kan bawah mobil, kau bisa mengantarku pulang,” Via yang menginginkan Kim mengantarnya pulang.
“Entered”.
Dengan wajah cemberut Via masuk ke dalam taxi.
“Good night,” lalu Kim menutup pintu taxi kembali. Taxi pun segera pergi. Kim masih memperhatikan taxi yang membawa Via pergi, “kau tidak boleh menyukainya,” kata Kim pada dirinya sendiri.
***

Pagi-pagi sekali Via sudah berada di lobi rumah sakit. Dia segaja datang pagi-pagi untuk melihat Kim dan berharap dirinya datang duluan sebelum pria pujaannya itu. ternyata benar, beberapa saat kemudian Kim muncul dengan mengedarai mobil sport. Ternyata Kim menyadarin Via menunggu kedatangannya namun dia pura-pura tidak melihat Via. Sikaf Kim yang cuek membuat Via kesal. “Hei… Dokter Kim!!” panggil Via sambil mendekatin Kim.
Kim menghentikan langkahnya lalu menolek.
“Do not you act like that to me!!” marah Via.
“Are you talking about?”.
“Apa kau tidak melihatku!?”.
Kim melihat semua orang memadang kearah mereka berdua, “semua orang melihat kita”.
Via baru menyadari perbuatannya, semua orang memadang mereka dengan tatapan aneh. Dia hanya cengar-cengir menutupin rasa malunya.

Di ruangan UGD. Sri mendekatin Via yang sedang memeriksa keadaan pasien yang baru tiba, “biar aku lajutin…” sambil mengambil ………………………… dari tangan Via, “kau di panggil Bu Sari”.
“Ada apa?”.
“Gak tahu”.
Karena penasaran Via segera keruangan Sari, “permisih…” kata Via sebelum masuk ke dalam ruangan.
“Masuklah,” kata Sari menghentikan pekerjaannya.
Via masuk, “Ibu memanggilku?”.
“Ya. Aku ingin kau bekerja profesional di rumah sakit ini. Jangan bawak urusan pribadi di rumah sakit”.
“Maksud Ibu?”.
“Aku tidak penduli ada hubungan apa kau dengan Dokter Kim, tapi jangan sekali-kali lakukan di rumah sakit ini!”.
Via baru mengerti maksud perkataan Sari, “maafkan aku”.
“Kembalihlah  bekerja”.
“Permisih…” Via keluar dari ruangan.  Via tidak langsung bekerja melainkan langsung ke kamar mandi.
***
Kim melihat hasil labor ketiga anak yang dimintahnya kemarin. Kejangalan mulai timbul di hasil labor anak Citra dengan hasil pemeriksaan yang dilakukannya kemarin. Anak Citra di diagnose penyakit Leukemia Limfoblastik Akut. Hasil labor sudah membuktikan bahwa anak Citra menderita penyakit Leukemia Limfoblastik Aku namun dari pemeriksaan yang dilakukannya kemarin tidak adanya splenomegali (86%), hepatomegali, linfadenopati dan anak Citra tidak mengeluhkan rasa nyeri saat dirinya menekan bagian tulang dada dan juga tidak adanya pendarahan pada retina.
“Ada masalah Dok?” tanya Dewi melihat kening Kim yang berkerut.
“Kita ulang pemeriksaan anak Citra,” keputusan Kim.
“Tapi Dok…”.
“Ada masalah?”.
***
Setiba di kamar mandi, Via yang ingin menghilangkan stress di kamar mandi malah dia mendengar beberapa perawat membicarakan dirinya di dalam kamar mandi.
“Gak tahu malu banget sih Via… dia kan sudah bertunagan dengan Dokter Potter!” kata salah satu perawat.
“Apa dia pikir Dokter Kim akan tergila-gila dengannya!” kata yang lainnya.
“Dia itu seperti wanita murahan!!”.
Kata-kata terakhir yang dilontarkan salah satu perawat itu membuat Via tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Semua perawat yang ada di dalam kamar mandi terkejut melihat kehadiran Via dan tidak bisa berkata-kata lagi. “Kalian pikir kalian yang terbaik!” Via melepaskan amarahnya, “hahaha… ahhh… aku tahu… kalian iri padaku!!” Via yang berpikir mereka semua iri padanya, “dimataku tidak satupun di antara kalian terlihat menarik!”.
“Apa…”.
“Dan wajar aja kalian iri padaku, because aku menarik,” Via memuuji dirinya sendiri, “dan satu lagi… aku dengan Dokter Kim punya hubungan special! Jangan sekali-kali kalian dekatin kekasihku!” cetus Via lalu keluar dari kamar mandi.
“Aahhh… dia pikir dia itu siapa!!” marah salah satu perawat.
***
Dokter Bon yang juga dokter penyakit dalam di Rumah Sakit Pelita Kasih segera keruangan  Surya setelah mendengar kabar bahwa Kim akan melakukan pemeriksaan ulang pada anak Citra. Di depan pintu ruangan  Dokter Bon berpapasan dengan Kim yang baru keluar dari dalam ruangan.
“Selamat siang…” sapa Kim pada Dokter Bon yang menujukkan wajah sinis padanya.
“Kau meragukan diagnosaku!” cetus Dokter Bon.
“Maafkan aku,” Kim yang masih bersikaf lembut, “permisih…” lalu pergi dari tempat itu.
Setelah Kim pergi, Dokter Bon masuk ke dalam ruangan, “sedang apa dia di sini?” tanyanya.
“Dia memintah izin  melakukan pemeriksaan ulang pada anak Citra,” kata Surya.
“Kau mengizinkannya?”.
“Aku terpaksa mengizinkannya”.
“Kau gila!! Jika dilakukan pemeriksaan ulang semua rencana sia-sia!!” marah Dokter Bon.
“Dia nyakin anak itu tidak menderita Leukemia limfoblastik akut!!”.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?!”.
***
Dari ruangan Surya Kim langsung ke lantai dasar menggunakan lift. Ketika keluar dari lift tatapan Kim langsung tertujuh pada Via yang berdiri di lobi. Bukan itu saja, Kim melihat dua pria yang duduk di bangku tunggu memperhatikan Via dan gerak gerik mereka sangat mencurigakan. Kim mendekatin Via, “kau mau kemana?” tanyanya.
Via menolek, “Dokter…” senang melihat Kim.
Kim melihat jam di lenggannya, “ini belum waktunya pulang,” jam masih menuju pukul 12.15 WIB.
“Hatiku lagi kurang baik”.
“Hahaha…” Via tertawa.
“Apa Dokter mau menemaninku?”.
“Hahaha… tidak”.
“Ya udah kalau tidak mau temanin! Aku bisa pergi sendiri!” Via melangkah pergi.
Kim yang melihat 2 pria itu mulai bergerak saat Via melangkah pergi, tanpa pikir panjang Kim langsung menarik tangan Via, “aku akan menemaninmu,” sambil memperhatikan 2 pria itu yang kembali duduk.
Via tidak memikirkan ekpresi wajah serius yang ditujukkan Kim. Dia hanya kegirangan Kim mau menemaninya, di tambah sampai saat ini Kim belum melepaskan pengangannya dari tangan Via.

Dari kejauhan Potter memperhatikan apa yang dilakukan Kim pada Via. Perasaat cemburu mulai menyelimutin dirinya.
***
Setelah mendapatkan telpon dari anak buahnya Acton bergegas pergi menggunakan mobil kijang miliknya yang terpakir di depan kantor palisi. Gita yang tidak mau ketinggalan ikut bergegas masuk ke dalam mobil.
“Kau sedang apa?!” tanya Acton.
“Kau mau kemana?”.
“Turun!”.
“Gak mau,” Gita yang besikeras untuk ikut.
“Gita!”.
Gita tidak mempendulikan Acton menyuruhnya untuk turun dari mobil, “ayo jalan…”.
Dengan terpaksa Acton mengajak Gita. Dengan kecepatan tinggi Acton mngedarain mobilnya menuju Pelabuhan Sunda Kelapa.

Setiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, Acton langsung menuju kapal kargo berwarna putih yang berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa. Kapal Kargo adalah jenis kapal yang membawa barang-barang dan muatan dari suatu pelabuhan ke pelabuhan lainnya biasanya dalam bentuk curah.
“Siapa kalian?” tanya salah satu  pria yang baru turun dari kapal kargo tersebut.
Acton menujukkan tanda pengenalnya, “aku ingin memeriksa kapal ini”.
“Kau pikir kami menyeludup!” kata yang lainnya.
“Kami ingin lihat surat geledah ya!” kata yang lainnya.
Gita langsung memukul pria yang berdiri di depan Acton. Dengan sekali pukul pria itu langsung terjatuh.
“Apa yang kau lakukan!” marah Acton pada Gita.
“Mereka…”.
Seorang pria muncul dari belakang mereka, “kami hanya memuat barang-barang yang mempunyai surat-surat resmi Pak Polisi”.
Acton dan Gita membalik tubuhnya. “siapa kau?!” tanya Gita.
“Aku pemilik kapal ini”.
“Aku hanya ingin memeriksa kapalmu. Aku mendapatkan laporan bahwa kapal anda memuat barang penyeludupan,” penjelasan Acton.
Pria itu tersenyum, “silakan…”.
“Tapi Bos…” semua anak buah pria itu masih menolak apa yang akan dilakukan Acton dan Gita.
“Biarkan mereka melakukan pekerjaan mereka”.
“Trimah kasih atas kerja samanya”. Acton dan Gita masuk ke dalam kapal untuk memeriksa satu persatu muatan yang berada di kapal tersebut.
***
“Kita mau apa disini?” tanya Kim pada Via yang mengajaknya ke pantai Ancol tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa.
“Pemadangan disini sangat bagus,” puji Via.
“Ya”.
Sedang menikmatin pemadangan pantai, Kim dan Via didekatin sepasang pria dan wanita. “Sile hamnida,” kata si pria pada mereka berdua dengan mengunakan bahasa Korea.
Via tampak bingung dengan bahasa yang diucapkan pria itu, “kau bicara apa???”.
Pria dan wanita itu tampak bingung dengan bahasa yang digunakan Via.
“yanh-O haseyo?” tanya Kim yang mengunakan bahasa Korea.
“Anio,” jawab si pria.
“Mwol dowa deurilkkayo?”.
“Hotel Alkisa”.
Mereka bertiga berbicara mengunakan bahasa Korea sedangkan Via yang tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka bertiga hanya bisa melogok keheranan. Cukup lama mereka berbicang-bicang. Ketika pria dan wanita itu pergi, Via langsung bertanya apa yang dibicarakan mereka bertiga, “kalian membicarakan apa?”.
“Mereka hanya menayakan arah”.
“Kalian mengunakan bahasa Jepang? atau… bahasa Cina?” tanya Via yang baru mendengar bahasa itu.
“Itu bahasa Korea”.
“Kau bisa bahasa Korea. Wahhh…” kagum Via, “eehhh… kalau bahasa Korea ya mobil apa?” tanyanya.
“Jadongchan”.
“Apa kabar??”.
“Anyong haseo”.
“Terimah kasih?” Via yang terus bertanya,
“Khamsa hamnidah”.
Via mendapatkan ide, “aku suka kamu?”.
Kim tidak menjawab, dia memadang Via.
“Aku hanya ingin tahu artinya”.
Kim menjawab pertanyaan Via, “chuaheyo”.
“Khamsa hamnidah,” jawab Via dengan mengunakan bahasa korea.
“Kau cepat belajar”.
“I learn from you”.
Tak segaja tatapan Kim tertujuh pada pria yang masuk ke dalam  kapal kontainer yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pria  itu yang hampir menabrak Via sewaktu di Bali. “I’d better go!” kata Kim yang ingin meninggalkan tempat itu.
“Wait…”.
“Goodbye…” lalu Kim pergi.
Via masih berpikir kenapa Kim tiba-tiba bergegas pergi, “apa aku salah bicara??” Via bergumam pada dirinya sendiri.
***
“Bagaimana Pak Polisi?” tanya pria itu pada Acton dan Gita ketika sudah turun dari kapal.
“Maafkan kami,” Acton memintah maaf, “permisih…” lalu pergi untuk menutupin rasa malunya.
“Dasar tak tahu malu,” kata salah satu dari mereka.
Acton berusaha tidak terbawa emosi dengan kata-kata cemoan dari mereka.
“Apa kau akan diam saja akan penghinaan mereka!!” kesal Gita.
“Jangan banyak bicara! ayo pergi!” perintah Acton pada Gita.
“Iya,” dengan terpaksa Gita mengikutin perintah Acton.
***
Malamnya, Kim kembali ke Pelabuhan Sunda Kelapa dengan mengenakan kaos coklat dilapisin jaket kulit berwarna hitam dan celana jeas berserta  memakai topi menutupi kepalanya. Dengan diam-diam Kim naik ke kapal kontainer yang tadi sore dia lihat.  Dengan penuh ketelitian Kim memeriksa satu persatu kontainer yang berada di kapal tersebut.
Ketika memeriksa kontainer yang kesekian kalinya, Kim di kejutkan dengan barang-barang penyeludupan. seperti alat-alat elektronik dan alat-alat kesehatan yang akan di sebar ke penjuru Indonesia, “ternyata ini yang mereka lakukan!”. Tiba-tiba hpnya berbunyi. Kim bergegas mematikan hpnya.
Penjaga yang mendengar suara hp berbunyi langsung bergegas menuju letak suara, “siapa di situ!!” teriak salah satu penjaga ketika melihat sesosok manusia yang berdiri di gelapan malam.
“Siapa kau?!!” kata yang lainnya yang bersiap-siap untuk menyerang.
Kim menggerakan tangan dan kakinya bersiap-siap untuk menyerang. Empat penjaga mendekatin Kim. Dengan sekali pukulan Kim menghajar  satu persatu  dari mereka.
Melihat teman-teman mereka babak belur di hajar pria yang tidak diketahuin idetistasnya itu, mereka pun langsung menyerang pria yang masih berdiri di tempatnya.
 Tanpa pikir panjang Kim langsung menghajar mereka satu persatu. Dengan sekali pukulan mereka terjatuh semua dan tak satupun yang berhasil menjatuhkan Kim. Setelah semua berhasil Kim jatuhkan, dia menelpon nomor seseorang yang tercantum di hpnya, “ada kerjaan untuk kalian… datanglah ke Pelabuhan Sunda Kelapa,” setelah mendengar jawaban dari orang yang di telponnya, lalu menutup kembali telponnya. Kim pun meninggalkan pelabuhan mengunakan mobil sport yang terpakir tak jauh dari pelabuhan.  
***
Via masih memikirkan waktu Kim meninggalkannya di pantai sendirian, di tambah disaat Via mencoba menelpon Kim, Kim malah menolak telpon darinya.
***
Acton tiba di rumahnya. Rasa lelah seharian bekerja dilampiaskannya di tempat tidur. Baru beberapa menit Acton menutup matanya, suara hp menganggu tidurnya. Dengan bermalas-malasan  Acton mengankat telpon, “halo…”.
“Bawak anak buahmu ke Pelabuhan Sunda Kelapa,” kata Kim yang ternyata menelpon Acton.
Acton langsung bangkin dari tempat tidur.
“Bawak surat pengeledahan dan penangkapan,” lalu menutup telpon.
“Hei…!!” kesal Acton tiba-tiba telpon terputus.
***

Dengan petujuk yang diberikan Kim semalam, Acton membawa beberapa anak buahnya ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Atas perintah yang diberikan Acton, mereka segera memeriksa satu persatu kapal yang berlabuh di pelabuhan tersebut.
“Apa informasi yang kau dapat tidak meleset lagi?” tanya Gita yang juga ikut dalam imformasi ini.
“Dari pada kau gak ada kerjaan lebih baik kau gak usah ikut!” cetus Acton.
Gita menujukan wajah cemberut.
“Pak…!!” panggil salah satu anak buah Acton yang berada di salah satu kapal kontainer.
Acton bergegas menuju kapal container tersebut, dan betapa terkejutnya Acton melihat beberapa pria terikat dengan mulut mereka ditutup dengan plester.
***
Setelah bersiap-siap, Via keluar dari apartemennya dan langsung masuk ke dalam lift. Ketika keluar dari lift, Via melihat beberapa kardus besar berada di pingir pintu lift, “punya siapa sih…”. Via yang tak mau ambil pusing lalu segera berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil sedan yang terpakir di pakiran gedung apartemen.
***
“Apa!!!” Surya sangat terkejut mendengar kabar dari anak buahnya bahwa semua barang-barang yang berada di Pelabuhan Sunda Kelapa di sita oleh pihak berwajib.
“Apa mereka sudah buka mulut?!” tanya Dokter Bon.
“Aku akan buat mereka semua tutup mulut,” kata Ron orang kepercayaan Surya selama ini.
“Pastihkan mereka semua tutup mulut!!” kata Surya.
“Baik Presdir,” lalu Ron meninggalkan ruangan Surya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Dokter Bon pada Surya.
Beberapa saat kemudian hand phone Surya bordering. Surya langsung mengangkatnya setelah mengetahui siapa yang menelponnya dari layar hand phone, “halo…”. Lalu mendengarkan apa yang dikatakan si penelpon. Setelah cukup lama mendengarkan apa yang dikatakan si penelpon padanya, Surya menutup telpon.
“Apa dari metri?” tanya Bon.
Surya mengangguk.
“Apa katanya?”.
Surya diam. Dia bingung harus bagaimana menyelesaikan masalah ini.
***
Via tiba di rumah sakit. Dia merasaka  ada yang mengikutin sejak dari apartemen. Tapi ketika dirinya menolek ke belakang, tak satu pun orang yang mencurigakan. Perasaan itu membuat Via ketakutan. Tiba-tiba seseorang memengan bahu Via, spontan Via langsung berteriak, “aaahhh…”.
Laila yang ternyata memengang bahu Via, “Via….” yang  berusaha menenangkan Via, “kau kenapa berteriak?”.
Via menolek ke belakang, “hahhh… kau ini!!” kesal Via pada Laila yang mengagetkannya.
“Kau ini wanita aneh!” kesal Laila lalu pergi.
“Kau yang aneh,” Via yang juga ikut kesal lalu pergi ke ruang ganti.
Ternyata benar perasaan Via, dua pria sedang mengikutin dirinya menggunakan motor dan helm tertutup.
***
Acton di temanin Gita berada diruang pemeriksaan untuk mencari informasi dari penjahat-penjahat yang ditangkap di Pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak semua mereka di bawah ke ruang pemeriksaan hanya tiga orang yang di yakinin pemimpin dari mereka semua.
“Percuma Pak Polisi, kami tidak akan membuka mulut!” kata salah satu dari mereka.
“Ooohhh…” dengan senyuman sinis Acton mengambil balok  kayu pemukul.
“Mau apa kau?!” yang mulai ketakutan.
“Kalau berani lepasin kami…!!” kata yang lainnya yang sama-sama di borgol.
“Buka borgol mereka!” perintah Acton pada Gita.
“Baiklah…” Gita membuka satu persatu borgol dari tangan mereka.
Setelah borgol  terlepas dari tangan mereka. mereka bersiap-siap memukul Acton yang hanya sendiri melawan mereka bertiga hanya kayu saja yang menjadi pengangan Acton untuk melawan mereka, “mati kau Pak Polisi…”. Mereka bertiga langsung memukul Acton.
Tanpa pikir panjang Acton langsung melawan mereka bertiga.  Acton mengayunkan  balok kayu langsung mengenai diantara mereka dan dilakukannya pada yang lain. Tak satu pun dari mereka berhasil menjatuhkan Acton. Malah sebaliknya mereka babak belur di hajar oleh Acton hanya menggunakan balok kayu.  
Sedangkan Gita hanya berdiri di pojok mengamatin mereka di hajar oleh Acton. “Masih tidak mau buka mulut?!” acam Gita pada mereka bertiga.
“Kami akan bicara…” kata salah satu dari mereka yang sudah babak belur.
Ketika salah satu  dari mereka akan bicara tiba-tiba pintu ruangan pemeriksaan terbuka, “apa yang kau lakukan!!” marah Saidun yang melihat para penjahat babak belur, “ini sudah kelewatan yang kau lakukan Acton!!”.
Acton diam.
“Obatin mereka!!” perintah Saidun pada anak buahnya yang lain.
“Tapi Atasan…”.
“Kita lajutkan pemeriksaan besok!” kata Saidun lalu meninggalkan ruangan diikutin anak buahnya.
“Aaahhh…!!!” kesal Acton.
***

Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar