Senin, 17 September 2012

Agen Rahasia 2


Dua


Kim mengobatin luka Via di dalam mobilnya. Setelah membersihkan luka di lengan dan lutut Via, Kim menempel potongan perban untuk menutupin luka-luka Via yang cukup terbuka namun tidak parah. Via memperhatikan Kim yang sangat sesama mengobatin luka-lukanya, “trimah kasih yach…” katanya lembut.
Kim hanya tersenyum.
“Sepertinya kau sudah sangat lihai mengobatin luka-luka?”.
Kim masih tersenyum.
“Kau sudah tiga kali menolongku”.
“Tiga kali?”.
“Yang pertama waktu malam itu, kedua dari orang gila, dan ketiga dari tabrakkan itu.  Mungkin… jika kau tidak menolong ku, aku akan lebih parah dari luka ini,” menujukkan wajah sedihnya.
“Sebaiknya, mulai sekarang kau harus hati-hati,” saran Kim.
“ What we can meet again?“ tanya Via yang tidak memperdulikan saran yang diberikan oleh Kim.
Kim hanya tersenyum, “kau tidak dengar omonganku?”.
“Tenang… Ini hanya luka kecil,” Via yang tak mau mempermasalahkan kecelakaan  yang hampir menimpahnya.
Kim masih tersenyum.

Mereka berdua masuk ke dalam hotel.  Dengan menggunakan lift mereka menuju kamar masing-masing. Kim yang menginap di kamar lantai 5 duluan keluar dari lift. “Lantai 5, kamar berapa?” tanya Via ketika pintu lift terbuka.
Kim hanya tersenyum sambil melangkah keluar dari lift tanpa menolek ke belakang.
“Tunggu…”.
Kim menolek.
“Apa kita bisa bertemu lagi?”.
“Maybe ane day,” lalu melajuti langkahnya.
 Via masih memadang Kim sampai pintu lift tertutup rapat.

Setiba di kamar, Kim langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ditutupnya matanya berharap malam ini cepat berlalu.
***
Deana melihat Via masuk ke dalam kamar dengan balutan perban di lenggan dan kakinya, “kau kenapa?” kuatir Deana.
“Ada mobil yang hampir menabrakku,” cerita Via.
“Tapi kau tidak apa-apakan?” Deana yang masih kuatir. Via tidak memperdulikan kekuatiran yang ditunjukkan Deana padanya, dia masih membayangkan saat-saat bersama Kim. Ketidak pendulian Via membuat Deana kesal, “apa kecelakaan itu membuat otakmu hilang setengah?!” heran melihat Via senyum-senyum sendiri.
“Dia my hero”.
“Siapa?”.
Via tidak memperdulikan Deana yang kebingungan melihat sikaf anehnya. Dia terus membayangkan wajah Kim.
***
Gita membawahkan secangkir kopi keruangan Acton, “mau kopi?” tawar Gita basa-basi, namun Acton tidak memperdulikan tawaran Gita padanya itu membuat dirinya kesal. Dengan kasarnya Gita meletakkan cangkir di atas meja kerja Acton, “lama kelamaan kau bisa tua karena kasus ini!”.
Acton menutup file yang dibacanya, “kenapa sampai hari ini dia tidak memberi kabar!?”.
Gita tahu siapa yang Acton maksud, “apa kau akan diam saja?”.
Acton diam sejenak, “ikutin terus Joni kemana saja dia pergi dan laporkan padaku!” perintah Acton lalu meminum kopi yang dibuat Gita.
Gita tersenyum bukan karena tugas yang diberikan Acton padanya melainkan Acton yang akhirnya meminum kopi buatannya.
***
Via membersihkan wajahnya di depan kaca rias, “kau lama sekali  dari kamar mandi?” tanyanya pada Deana yang baru keluar dari kamar mandi.
Deana gugup, “eeehhh…”.
“Kau kenapa?”. Tiba-tiba hp Via berbunyi. Via langsung mengangkatnya setelah tahu siapa yang menelponnya dari layar hp, “halo Yah…”.
“You should go home!” perintah Ayah.
“Ada apa Yah?”
“Besok Ayah jemput di bandara!”.
“But my father?”.
“Daddy will pick you up at the airport,” lalu mematikan telpon.
Via masih heran kenapa Ayah menyuruhnya segera pulang ke Jakarta. Via memadang Deana dari kaca rias, “kau memberitahu Ayah?” curiga melihat Deana yang gugup.
“Maafkan aku,” Deana yang mengakuin kesalahannya.
***

Pagi-pagi sekali Joni menemuin Surya dirumahnya. Surya yang sedang menikmatin secangkir kopi di perkarangan rumahnya lalu menyabut kedatangan Joni yang langsung mendekatinnya, “kau datang sepagi ini pastih ada yang ingin kau katakan padaku,” yang pura-pura tidak tahu apa-apa, “katakanlah?”.
“Jangan ganggu putriku!!” marah Joni yang nyakin kecelakaan yang menimpah Via semua itu rencana dari Surya.
Surya menatap Joni dengan tatapan tajam, “jika kau tidak segera menemukan file itu, aku tidak bisa menjamin keselamatan putri angkatmu itu!” ancam Surya. Joni yang mau memukul Surya langsung dihadang anak buah Surya, dan malah Joni yang dipukul oleh anak buah Surya berkali-kali. “cukup!” perintah Surya pada anak buahnya untuk berhenti memukul Joni. Anak buah Surya berhenti memukul Joni. “Aku peringankan jangan-jangan main-main denganku!!!” peringatan Surya pada Joni.
Joni tidak menjawab, dia menahan sakit karena pukulan itu dan sekali-kali menolek kearah Surya.
***
“Tok… tok… tok…!!” pintu kamar Kim di ketuk dari luar. Kim yang baru keluar dari kamar mandi langsung membuka pintu. Bertapa terkejutnya Kim melihat Via berada di depan pintu kamarnya.
“Waahhh…” kagum Via melihat tubuh kekar Kim yang tanpa dibalutin apa-apa hanya handung yang menutupin setengah tubuhnya, “kau kekar sekali”.
Kim langsung menutup pintu kembali untuk mengenakan pakaian. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka kembali. “Kau tahu dari mana aku menginap di kamar ini?”.
“Dihotel ini banyak pelayan-pelayan yang mau memberitahuku”.
Kim menarik nafas panjang, “mau apa kau?”.
“Aku ingin balas budi denganmu”.
“Itu tidak perluh,” lalu Kim kembali masuk ke dalam kamarnya.
Dengan cepatnya Via langsung memengang tangan Kim untuk menghalangnya masuk, “apa salah jika aku ingin membalasnya?!” Via bersikeras dengan tatapan tajam kearah Kim, “aku hanya menawarkan makan bersama”.
Kim cepat mencari akal, “baiklah”.
“Benarkah,” senang Via.
“Tunggu aku di lobi”.
“Ok,” Via pun melangkah pergi. Kim tidak menujukkan ekpresi apa-apa saat Via sekali-kali menolek kepadanya.
***
“Akhirnya kau akan pergi,” Arnila yang mengantar Potter ke bandara.
“Kau harus pikirkan lagi tawaran itu,” kata Potter.
Arnila tersenyum, “baiklah, aku akan pikirkan”.
“Aku tunggu kau di Jakarta,” sambil menjulurkan tangannya.
Arnila menyambut tangan Potter, “sampai berjumpa lagi”.
“Sampai jumpa lagi,” lalu Potter memasukkin gerbang keberangkatan tanpa menolek kearah Arnila yang masih memadangnya dari kejauhan.
***
Sudah hampir 3 jam Via menunggu Kim di lobi hotel, namun Kim tidak muncul-muncul juga. Karena sudah sangat lama menunggu Via pun menyusul Kim ke kamarnya. Ketika mau memasukkin lift tanpa disadarin Via, Kim baru keluar dari lift yang satunya, itu membuat mereka tidak saling bertemu. Kim langsung masuk ke dalam taxi yang sudah menunggunya.

Setiba di kamar, Via langsung masuk ke dalam kamar karena pintu tidak terkunci. Via heran melihat dua pelayan hotel sedang merapikan dan membersihkan kamar. Sama seperti Via, dua pelayan itu pun heran melihat Via, “bisa kami bantu nona?” tanya salah satu dari mereka.
“Mana orang yang menginap dikamar ini?” tanya Via.
“Maksud nona Dokter Kim? Dokter Kim sudah pergi dari tadi nona”.
“Pergi? Pergi kemana?”.

Setelah mengetahuin bahwa Kim sudah pergi, Via pun kembali ke kamarnya. Dengan lesuh Via masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
“Kau masih marah?” tanya Deana.
“Jam berapa kita berangkat?” tanya Via lesuh.
“Nanti sore”.
Via membalik tubuhnya.
“Kau tidak apa-apa?”.
“Nanti bangunin aku”.
“Ya”.
***
“Tuan Potter sudah kembali Presdir,” salah satu anak buah Surya memberitahukan kabar terakhir pada Surya.
“Dimana dia sekarang?” tanya Surya.
“Dirumah orang tua anda Presdir”.
“Kenapa anak itu tidak mau tinggal denganku!?” heran Surya pada Potter yang tidak ingin tinggal dengannya sejak 5 tahun yang lalu.
***
Gita masuk keruangan kerja Acton, “malam bos…”.
“Ada kabar terbaru?” tanya Acton sedang mempelajarin file yang sebelumnya diberikan anak buahnya.
Gita duduk sambil mengoyangkan kakinya, “tadi pagi Joni ke rumah Surya. Anehnya… keluar dari rumah itu dia babak belur”.
Acton menghentikan membaca, “apa yang terjadi?”.
“Aku tidak tahu penyebabnya”.
Acton diam sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
***
Joni menjemput Via dan Deana di bandara Sukarno_Hatta. Tak lama Joni menunggu kedatangan Via dan Deana. “Ayah…!!” teriak Via sambil mendekatin Joni yang berdiri di depan mobil.
Joni melihat perban yang terbalut di lenggan dan kaki Via, “kau tidak apa-apa sayang?”.
Via tidak memperdulikan kekuatiran yang ditujukkan Joni melainkan sebaliknya Via yang mulai kuatir melihat luka memar di dahi Ayah angkatnya itu, “Ayah kenapa?” sambil memengang memar di dahi Joni.
“Ohhh… tadi pagi Ayah jatuh di kamar mandi,” alasan Joni, “Ayah tidak apa-apa”.
“Ayah harus hati-hati”.
“Jangan kuatirkan Ayah”.

Setelah mengantar Deana pulang kerumahnya, Joni langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah gedung apartemen mewah berlantai 10 yang jaraknya cukup jauh dari kediamannya. Mereka berdua langsung memasukkin salah satu apartemen yang berada di lantai 4. Joni sudah mempersiapkan segalanya mulai dari tempat tidur, lemari, sofa, TV, kulkas dan lain-lainnya. Semua bernuasa pink, putih, dan ungu warna kesukaan Via.
Via yang sejak tadi menahan semua pertanyaan di benaknya akhirnya bisa dikeluarkannya juga, “apartemen siapa Yah?” tanyanya.
“Sementara kau akan tinggal disini sayang?” kata Joni memberitahukan maksud dirinya membawa Via ke apartemen ini.
“Kenapa Ayah tiba-tiba mengizinkan aku tinggal sendiri?”.
“Ayah ingin kau belajar mandiri”.
Via jelas sudah terbiasa dengan kemewahan itu semua. Namun ini pertama kalinya dia harus tinggal sendiri dan melakukan sesuatu sendiri, itu membuat dirinya tidak nyaman.

Setelah Joni pergi. Via berdiri di balkon sambil memadangin pemadangan kota, “apa kita bisa bertemu lagi…” Via yang teringat dengan Kim. Tapi itu hanya sesaat ketika Via menyadarin malam ini dirinya sendiri di apartemen. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Perasaan ada yang memperhatikannya disetiap sudut ruangan membuat dirinya serbah salah dalam melakukan apapun. Ketika mencoba untuk tidur, bayang-bayangan mulai menakuti dirinya sehingga dirinya tidak bisa menutup mata.
***

Pagi-pagi sekali Deana datang ke apartemen  Via, “semalam kau tidak tidur?” tanyanya melihat Via yang sekali-kali menguap.
“Tidak”.
“Kau takut?”.
“Ini pertama kalinya aku tinggal sendiri”.
“Penakut ya penakut”.
“Deana…”.
***
Potter tiba di rumah sakit Pelita Kasih milik orang tuanya. “Pagi Dok…” satu persatu perawat menyapa Potter yang melintas di depan mereka, dan ada juga yang segaja mendekatin Potter hanya untuk menyambut kedatangannya, “selamat datang kembali Dok”.
“Trimah kasih,” balas Potter sambil tersenyum.
Beberapa dokter mendekatin Potter, “selamat datang Dokter,” sapa Beni dokter bedah sambil menjulurkan tangannya pada Potter.
Potter menyambut tangan Beni, “trimah kasih,” lalu satu persatu menyalam dokter-dokter yang datang bersama Beni.
“Akhirnya kau kembali,” kata Iwan dokter anak sambil bersalaman dengan Potter.
Potter masih tersenyum, namun tanpa di segaja tatapan Potter tertujuh pada Surya yang juga memadangnya dari lantai 3.

Potter keruangan kerja Surya yang berada di lantai 3. Mereka berdua duduk di sofa dengan saling menatap. “Kenapa kau tidak pulang ke rumah?” tanya Surya.
“Aku sudah terbiasa tinggal sendiri,” jawab Potter dengan sikaf dingin.
“Kau masih membenci Ayah?”.
Potter diam.
“Ketika ibumu tiada dan kau memutuskan untuk pergi, Ayah sangat kesepian”.
Potter tetap diam.
“Pulanglah”.
***
Setiba di kantor polisi, Gita bergegas menemuin Acton diruang kerjanya. Tanpa mengetuk pintu Gita langsung masuk ke dalam ruangan itu membuat Acton kesal pada Gita yang tidak pernah mengetuk pintu jika masuk keruangannya, “bisakah kau mengetuk pintu?!!”.
“Ada hal yang lebih penting dibandingkan membahas mengetuk pintu. Aku dapat informasi dari dokter yang memeriksa Robet sebelum meninggal,” kata Gita yang membawa kabar.
Acton melihat keseriusan dari wajah Gita, “ada apa?”.
“Robet mengatakan sesuatu pada atasan”.
Tanpa pikir panjang Acton bergegas menemuin  atasannya yang  bedah satu lantai. Sebelum masuk Acton mengetuk pintu, “tok…tok…tok…!”.
Tak lama kemudian terdengar suara dari dalam ruangan, “masuk”. Acton masuk ke dalam ruangan dan langsung memberi hormat. “Ada apa? Apa ada yang ingin kau laporkan?” tanya Saidun.
“Kenapa Jendral tidak mengatakan apa-apa?” tanya Acton yang berusaha untuk tenang.
“Apa maksudmu?!”.
“Sebelum Robet meninggal, bukankah dia mengatakan sesuatu. Apa yang dikatakannya?”.
“Robet menginginkan kita menjaga putrinya”.
“Hanya itu?”.
“Semua bukti-bukti ada pada putrinya”.
“Kenapa Jendral tidak mengatakan itu padaku?!”.
“Jika berita ini sampai tersebar diluar, nyawa putrinya jadi taruhan!” terdiam sejenak, “dugaan… ada beberapa politikus menutupin kejahatan yang dilakukan Surya. Karena itu aku menyuruh Kim untuk menjaga putri Robet dan mencari tahu dimana putrinya menyimpan bukti-bukti itu,” penjelasan Saidun panjang lebar.
“Satu pertanyaan yang ingin aku tahu jawabannya?”.
“Apa?”.
“Apakah pemerintah pusat mengetahuin misi yang dilakukan Kim?”.
“Tidak. Ini hanya tugas rahasia dan hanya beberapa orang yang mengetahuinnya termasuk kau dan Gita. Jadi… jangan siapapun tahu tentang misi ini”.

Acton kembali keruangannya.
“Bagaimana?” tanya Gita yang masih berada diruangan Acton.
“Cari tahu tentang putri Robet”.
“Baik”.
***
Pukul 12.45 WIB, Via baru tiba di rumah sakit Pelitah Kasih. Dengan memakai pakaian seperti wanita modern dan kaca mata hitam Via melangkah masuk ke rumah sakit. Semua mata tertujuh padanya itu membuat Via tidak penduli dengan tanggapan mereka.  Dengan gaya pakaian seperti itu tidak ada yang menyangka Via akan menjadi perawat di rumah sakit tersebut.
Via mendekatin salah satu perawat yang melintas kearahnya, “permisih suster”.
“Iya, bisa saya bantu nona?” tanya Dewi salah satu perawat di rumah sakit tersebut.
“Ruangan Ibu Alina dimana?” tanyanya.
“Lurus, lalu belok kanan,” sambil menujukkan arah pada Via, “ruangan paling pojok bersebelahan dengan ruangan amistrasi”.
“Ok, trimah kasih yach…” Via langsung menuju arah yang ditunjuk perawat itu. Tidak susah Via menemukan ruangan kepala perawat yang telah di beritahu perawat itu, “ini dia,” lalu Via  mengetuk pintu  ruangan, “tok…tok…tok…!!”.
Terdengar suara dari dalam ruangan, “masuk”.
Via pun masuk ke dalam ruangan, “siang Bu…”.
Alina menolek, “bisa aku bantu?”.
“Namaku Via Fayola. Tiga hari yang lalu aku dapat panggilan dari rumah sakit ini”.
Alina melihat gaya pakaian yang dipakai Via, “kau ingin jadi perawat?”.
“Iya. Apa ada yang salah?” bingung Via dengan pertanyaan yang dilontarkan kepala perawat tersebut.

Setelah Via pergi, beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Alina, “siapa dia Bu?” tanya Sri salah satu perawat di UGD.
“Sama seperti kalian,” jawab Alina lesuh.
“Perawat?” dengan serentak.
“Ruangan mana Bu?” tanya Dewi perawat dari ruangan anak.
“UGD,” jawab Alina lagi.
“Seruangan denganku?” Sri yang tak percaya.
***
Potter melihat Via yang akan meninggalkan rumah sakit, “Via…” panggilnya sambil mendekatin Via.
Via menolek, “Kak Potter”.
“Aku pikir kau tidak jadi bekerja di rumah sakit ini”.
“Besok aku mulai bekerja”.
“Selamat bergabung,” sambil menjulurkan tangannya.
“Kakak tidak marah denganku?” yang belum menyambut tangan Potter.
Potter tersenyum, “kau mempunyai hak untuk memilih”.
Kali ini Via baru menyambut tangan Potter, “thank”.
***
Arnila menemuin  Kim di apartemennya, “tok… tok… tok…!!”. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. “Hai…” sapa Arnila saat Kim membukakan pintu untuknya.
“Ayo masuk,” ajak Kim lalu duduk di sofa, “kapan kau tiba?”.
Arnila ikut duduk, “semalam,” sambil meletakkan amplop besar berwarna coklat diatas meja, “Om Saidun  menyuruhku untuk memberikan ini untukmu”.
Kim mengambilnya. Di dalam amplop terdapat benda berbentuk kunci yang sangat kecil dan foto seorang wanita. Yang membuat Kim heran bukan melihat bentuk kunci yang sangat kecil melainkan foto wanita yang tidak asing dilihatnya, “ini kan Via putri Joni”.
“Via  hanya putri angkat Joni.  Robet orang tua kandungnya”.
“Jadi, Via yang harus aku lindungin?”.
“Lebih tepatnya, kau harus menjaga dan segera mendapatkan dokumen itu!”.
Kim hanya menghela nafas panjang.
***
Potter mengantar Via pulang, “kau tinggal disini”.
“Ya. Terimah kasih ya Kak,” lalu ke luar dari mobil, “sampai besok,” kemudian masuk ke dalam gedung apartemen.
Potter masih memadangin Via yang melangkah masuk ke dalam gedung.

Via masuk ke dalam apartemennya, “sendiri lagi, “ mulai timbul rasa takutnya lagi, “tidak… aku harus melawan rasa takutku,” tekat Via namun itu hanya sesaat, “aaahhh… aku tak bisa…” rengek Via yang tak bisa melawan rasa takutnya.
***

Seperti biasa Acton tiba di kantor palisi dan langsung keruangannya. Gita yang melihat Acton, bergegas membawakan secangkir kopi untuk Acton, “pagi pak…” sapanya sambil melentakkan cangkir kopi di atas meja.
Acton pura-pura tidak melihat kopi yang dibuat Gita, “apa sudah kau selesaikan tugas yang aku perintahkan?”.
Gita menujukkan wajah cemberutnya seakan Acton tidak menghargain kerja kerasnya untuk membuatkan kopi untuknya.
“Kenapa masih di sini?!”.
Dengan kesal Gita meninggalkan ruangan.
Acton tersenyum melihat sikaf yang ditunjukkan Gita lalu meminum kopi yang dibuat Gita untuknya.
***
Via tiba di rumah sakit dengan memakai rok mini dan blus berwarna putih dan sepatu hak tinggi yang membuat penampilannya semakin menarik. Di lobi rumah sakit Via bertemu dengan Alina. “Pagi Bu…” sapa Via yang tidak menyadarin Alina sangat terkejut dengan penampilannya.
“Kenapa kau berpakaian seperti ini? bukannya kemarin sudah aku berikan pakaian yang harus kau pakai!,” kesal Alina.
“Aku tidak menyukain pakaian itu”.
“Apa!” tapi Alina berusaha untuk tenang, “apa kau akan memakai pakaian seperti itu untuk menjadi seorang perawat?!”.
“Hahaha…haha…” Via tertawa, “Ibu bercanda… mana mungkin aku memakai pakaian ini waktu bekerja. Aku akan mengganti pakaianku,” dengan santainya Via menjawab pertanyaan Alina tanpak memikirkan pikiran Alina tentangnya.
Alina masih memadang Via dengan tatapan heran, “kau ini merepotkan dirimu sendiri,” lalu pergi.
“Dia bicara apa?” Via yang tidak mengerti maksud perkataan Alina.  Lalu Via menuju ruang ganti  perawat yang berada di sebelahan ruangan kepala perawat.
***
“Presdir, Dokter Kim sudah datang,” kata Jenni memberitahukan kedatangan Kim pada Surya yang sedang memperlajarin sebuah file yang berada diatas mejanya.
Surya menghentikan pekerjaannya, “suruh dia masuk,” sambil berdiri dari kursi kerjanya.
“Baik Presdir,” lalu keluar kembali.
Beberapa saat kemudian Kim masuk ke dalam ruangan, “selamat pagi Presdir”.
“Akhirnya kau datang,” yang sudah menunggu kedatangan Kim, “duduklah”.
“Terimah kasih,” sambil duduk.
***
Potter melihat Via masuk keruangan UGD dengan berpakaian perawat yang seharusnya. Potter tersenyum saat Via menolek kearahnya. Lalu melajutin memeriksa satu persatu pasien yang datang ke UGD untuk memeriksa keadaannya.
Sari mendekatin Via, “kau tidak tahu jam berapa hari ini!?” tanyanya cetus melihat Via yang datang terlambat.
“Maafkan aku, tadi aku ganti pakaian dulu,” jawab Via.
“Bagaimana kau bisa menyelamatkan nyawa pasien jika kau aja seperti ini!” kesal Sari melihat sikaf cuek Via.
“Akukan sudah mintak maaf!”.
“Kau…”.
Potter mendekatin mereka, “berikan ini pada Dokter Iwan,”  perintah Potter pada Via untuk memberikan file pada Iwan. Potter yang segaja menyuruh Via untuk menghindarin pertengkaran antara mereka berdua di depan pasien.
“Baik,” Via pun meninggalkan ruangan.
Potter melihat kekesalan dari wajah Sari, “aku akan bicara dengannya”.
“Baiklah Dok”.
*** 

 Bersambung


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar