Jumat, 14 September 2012

Agen Rahasia


Satu


Tabrakan yang sangat keras membuat orang-orang di sekitar yang berada di daerah itu langsung bergegas menyelamatkan semua penumpang yang mengendarain mobil sedan berwarna hitam. Di dalam mobil sedan itu terdapat 5 pria termasuk sopir dan salah satu penumpang di borgol dengan mengenakan pakaian pidana.
Beberapa saat kemudian mobil polisi dan beberapa ambulan memenuhin lokasi kecelakaan. Para medis segera memeriksa korban semua korban kecelakaan terutama penumpang yang memakai borgol. Polisi segera mengamatkan tempat kejadian dan sebagiannya lagi menertipkan lalu lintas yang hampir mancet karena masyarakat yang melintas penasaran melihat kecelakaan tersebut. Dugaan sementara dalam kecelakaan ini di segaja oleh pihak yang menginginkan pria yang diborgol itu tewas dalam kecelakaan untuk menghilangkan saksi mata.
“Bagaimana?” Tanya Acton yang baru tiba di lokasi dan langsung bertanya pada Robby bawahannya.
“Dia koma Komadan,” jawab Robby memberitahukan keadaan pria yang di borgol.
“Brensek!!!” marah Acton.
***

Beberapa hari kemudian, “Acton…Acton…!!!” teriakan keras menuju ruangan kerja Acton  yang berada di paling pojok ruangan.
Acton keluar dari ruangannya, “ada apa?”.
“Robet… Robet…” Gita yang gos-gosan karena kelelahan berlari dari lantai satu ke lantai tiga setelah mendapatrkan kabar dari rumah sakit.
“Ada apa?” Tanya Acton lagi.
“Robet sadar”.
“Benarkah??”.
“Ya”.
Tanpa pikir panjang Acton  berserta beberapa anak buahnya bergegas ke rumah sakit.

Setiba di rumah sakit Acton langsung keruang rawat dan langsung bertanya pada dokter yang keluar dari ruang rawat, “bagaimana keadaannya Dok?”.
“Maaf, kami sudah berusaha,” jawab Dokter.
“Aaahhh…!!” kesal Acton menujukkan kekesalannya.
Beberapa saat kemudian Saidun atasan mereka keluar dari ruang rawat berserta beberapa bawahannya, “sabar…” sambil menepuk bahu Acton dengan pelat.
Acton tidak menujukkan respon apa-apa, dia berusaha untuk tenang.
***
Joni mendatangin sebuah rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas. Ada beberapa penjaga menjaga rumah tersebut. Salah satu penjaga itu mengantar Joni menemuin pemilik rumah yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi. “Pak Joni sudah datang Presdir,” kata penjaga pada Surya yang sedang menikmatin secangkir kopi di teras samping rumah.
Surya menolek, “duduklah,” perintahnya pada Joni.
Joni duduk.
“Kau tahu kan Robet sudah tewas?”.
“Ya”.
“Aku ingin kau segera menemukan dokumen itu!”.
Joni diam.
“Jika kau tidak mendapatkannya, aku tidak bisa menjamin keselamatan putri angkatmu!” acam Surya.
“Tapi Presdir…”.
“Aku tidak penduli ada hubungan apa antara putri angkatmu dengan putraku!!  Aku ingin kau segera dapatkan dokumen itu!”.
“Baik,” Joni yang mengetahuin sifat Surya yang tidak pernah main-main dengan acamannya.
***

“Sekarang bagaimana?” tanya Gita pada Acton yang terlihat murung di meja kerjanya.
“Jangan tanya!” jawab Acton yang sangat stress untuk mengungkap kasus yang sudah 2 tahun di taganinnya itu.
“Apa kau akan diam?!”.
Acton menatap Gita, “bisakah kau diam!!?”.
Di waktu yang sama terdengar suara langkah menuju ruangan. Acton melihat siapa yang masuk keruangannya. Ketika mengetahuin siapa yang datang, Acton  langsung berdiri dan langsung memberi horman.
“Jangan terlalu pormal,” kata Saidun atasan Acton, “kau akan dibantu seseorang dari Agen Kepolisian Polda Bandung,” sambil meletakkan beberapa file di atas meja.
“Aku…”.
Saidun langsung memotong perkataan Acton, “dia sudah lebih duluan menyelidikin kasus ini. Dan aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik,” yang tidak ingin mendengar penolakkan Acton.
“Tapi Jedral…”.
“Dia akan menyelidikin di lapangan”.
“Maksud  Jedral, aku harus menunggu!!” kecewa Acton atas keputusan atasannya.
“Jangan bertindak macam-macam!! Komisaris sangat kecewa karena tewasnya Robet” Saidun memberikan pengertian pada Acton.
Acton diam.
“Namanya Kim. Dia Agen terbaik diantara yang lain. Sudah beberapa kasus diselesainkannya”.
Acton tetap diam.
“Semua data-datanya ada dalam file. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik!” Saidun memberi semangat sambil berjalan keluar, “ohhh iya…” menghentinkan langkahnya, “foto dan alamat segaja tidak aku berikan. Ini untuk kerahasiaan indetitasnya. Selama bertugas,” lalu melajutin jalannya keluar dari ruangan.
Gita memadang Acton yang tampak jelas kekesalan dari ekpresi wajahnya, “kau tidak apa-apa?” tanyanya.
Acton mengambil file di atas meja, “aku mau pulang,” lalu pergi.
Gita segaja tidak mengejar Acton. Dia tahu saat ini Acton butuh sendiri.
***
“Tok…tok…tok…tok…!!!” terdengar suara ketukkan pintu yang sangat keras dari luar. Seorang pria yang umurnya sekitar 55 tahun langsung membukakan pintu. Lalu tersenyum melihat tamu yang sudah lama ditunggu kedatangannya, “masuklah…” lalu duduk di sofa.
“Aku pikir kau akan datang di acara wisudaku,” kata Kim sambil duduk.
“Kau bukan putraku, untuk apa aku harus datang,” kata Hendro dengan nada cetus.
Kim hanya tersenyum menanggapin sikaf dingin yang ditunjukkan Hendro padanya.
“Aku harap rencanamu berhasil”.
“Ya,” Kim melihat foto pria seumurannya terpanjang di dinding.
“Sudah dua setengah tahun Putra tiada,” menujukkan kesedihan di wajahnya.
Kim merasakan kesedihan yang menyelimutin pria yang sudah berumur setengah abab itu.
***
“Apa tidak terlalu aneh Ayahmu menyuruhmu untuk berlibur?” tanya Deana pada sahabatnya yang sedang menikmatin makan siangnya di lestoran hotel.
“Aku tidak penduli. Ini kesempatanku untuk menemuin Kak Potter,” jawab Via yang tidak ingin menyia-yiakan kesepatan.
“Kau serius ingin mengatakannya”.
“Iya”.
“Kau ini!” kesal Deana melihat sikaf Via yang cuek.
“Untuk apa aku mempertahankan Kak Potter yang faktanya aku tidak mencintainnya”.
“Kau ini!”.
Hp Via tiba-tiba berdering. Via melihat nomor yang menghubunginnya itu nomor yang tidak tercantum dalam kontak hpnya.
“Dari siapa?” tanya Deana pada Via yang terlihat bingung.
“Gak tahu,” karena penasaran Via pun mengangkat telpon tersebut, “halo…” lalu mendengarkan apa yang dikatakan si penelpon padanya. Beberapa saat kemudian Via menutup telpon.
“Dari siapa?” tanya Deana pada sahabatnya setelah menerima telpon.
“Dari rumah sakit,” dengan menujukkan wajah sedihnya, “aku diterima jadi perawan,” kata Via yang sekali-kali memakan salad pesanannya.
“Bagus dong…”.
“Aaahhh…” kesal Via yang tidak ingin pusing karena pekerjaan.
“Sampai kapan kau seperti ini! Apa kau akan trus tergantung dengan Ayahmu!”.
“Deana!!” kesal Via mendengar perkataan Deana padanya.
“Faktanya gitu kan!!”.
“Aaahhh…!!!”. Karena kesalnya Via tidak menyadarin suaranya menganggu pengujung lestoran yang juga sedang menikmatin makan siang mereka.
“Diam…!” Deana yang malu semua orang melihat kearah mereka berdua.

Di antara orang-orang yang melihat kearah mereka berdua, Kim termasuk di antara mereka. Kim yang duduk didekat kaca bersama Arnila hanya menahan senyum melihat sikaf manja yang ditunjukkan Via dari kejauhan.
“Aku tidak menyukainnya,” ucap Arnila.
Kim menatap Arnila dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Jangan menatapku seperti itu,” katanya yang tidak ingin Potter tahu perasaannya saat ini, “Kau nyakin bisa menyelesaikan kasus ini?” tanyanya membuka topik baru.
Kim tidak terpancing dengan topik baru  Arnila tanyakan, “kau mulai ada perasaan dengan pria itu?”.
Arnila cukup lama menjawab, “tidak”.
Kim tahu Arnila berbohong, “aku tidak memintahmu untuk  tidak mencintainya. Tapi kau harus tahu, mereka sudah di jodohkan,” yang tidak ingin sahabatnya itu terlalu berharap.
“Aku tahu”.
“Bekerjalah dengan baik”.
“Ya”.
***
Didalam rumahnya, Acton memperhatikan file yang di bawaknya dari kantor polisi. Satu persatu file dilihatnya, “namanya Kim Jun Litton, asal dari Amerika. Dan sudah 6 tahun menjadi agen rahasia di Polda Bandung,” lalu melihat data-data Kim yang lainnya, “kasus pembunuhan, nakoba, penyuludupan sejata, barang mesium hahaha…” Acton terlihat cukup kagum melihat kinerja pria yang akan bekerja sama dengannya itu.
***

“Kau mau kemana?” tanya Deana melihat Via yang bersiap-siap untuk pergi.
“Aku mau menemuin Kak Potter,” jawab Via.
“Memang kau sudah dapat alamatnya?”.
“Kau pikir aku datang ke Bali dengan kosong,” Via menyobongkan dirinya sendiri.
“Terserah kau saja,” lalu kembali tidur.
Dengan gaya wanita modern, Via berjalan keluar dari hotel.
***
Kedatangan Acton di sambut oleh Gita, “bagaimana?” Gita yang penasaran keputusan yang akan diambil Acton.
Akton tidak memperdulikan sikaf penasaran yang ditunjukkan Gita padanya, dia terus masuk ke ruangannya.
Gita mengikutin Acton sampai keruangan, “bagaimana?”.
Acton menatap Gita, “apa kau tidak ada kerjaan lain selain mencampurin urusan orang lain!!”.
Gita menujukkan wajah cemberutnya.
“Segera ke rumah sakit, ambil laporan kematian Robet!” perintah Acton yang tidak penduli dengan ekpresi yang ditunjukkan Gita padanya.
“Eeeehhh!!” kesal Gita lalu keluar dari ruangan dan segera mengerjakan tugas yang diperintahkan Acton padanya.
Acton menatap hpnya yang diletakkan diatas meja, “apa rencanamu sebenarnya???” seperti sedang menunggu seseorang menelponnya.
***
“Ini untuk Dokter,” Arnila memberikan secangkir kopi pada Potter yang sedang menikmatin suasana pantai dari kejauhan.
“Trimah kasih,” Potter mengambil kopi tersebut.
“Disini pemadangannya sangat indah”.
“Ya. Lusa aku akan kembali ke Jakarta”.
Arnila tersenyum, “aku tahu. Dokter hanya sebulan di klinik ini. Dan akan datang lagi dokter-dokter yang akan menggantikan Dokter. Andai bisa memilih… apa Dokter akan tinggal di Bali selamanya?”.
Potter hanya tersenyum menanggapin perkataan Arnila, “Rumah sakit pusat membutuhkanku”.
“Aku tahu. Aku hanya bercanda”.
“Tapi aku dengar ada tawaran dari pusat untukmu? Kenapa kau tidak menerimahnya?”.
“Apa Dokter berharap aku menerima tawaran itu?” tanya Arnila yang diam-diam menyimpan perasaan pada Potter.
“Ya”.
“Baiklah. Aku akan memikirkannya lagi”.
“Aku tunggu”. Ketika mau membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya Potter melihat Via dihadapannya, “Via…”.
Via menujukkan wajah cemberut, “tenyata Kakak disini sekalian pacaran yach…?”.
Potter ingin menjelaskan pada Via, “kau salah paham”.
“Aku tidak penduli dengan penjelasan Kakak! Setidaknya ini alasan untuk membatalkan perjodohan kita”.
“Via!”.
“Untungnya sampai saat ini aku belum jatuh cinta pada Kakak!” lalu pergi dari tempat itu.
Arnila langsung menahan Potter yang akan mengejar Via, “dia lagi emosi Dok”.
Potter menghentikan niatnya untuk mengejar Via.
***
Via masuk ke salah satu cave yang tak jauh dari hotel tempat dirinya menginap, “beraninya dia bermain di belakangku!! Dia pikir aku wanita seperti apa?!” ngomel Via, “apa dia pikir aku sudah jatuh cinta padanya! Hahhh… kalau caranya seperti ini, seribu kali aku mikir mau menjadi istrinya!”. Via baru menyadarin ternyata dari tadi dirinya di perhatikan oleh orang-orang yang berada di dalam cave. Via sangat malu. Ditambah pria yang duduk di meja didepannya tersenyum padanya itu membuat Via tambah malu. Karena tidak bisa menutupin rasa malunya lagi Via pun memutuskan pergi dari cave dan langsung kembali ke hotel.

Setiba di hotel, Via melihat Potter berdiri di lobi hotel menunggu kedatangannya, “kau sedang apa disini?!” cetus Via.
“Kau salah paham,” Potter yang masih mencoba menjelaskan pada Via.
“Kau tidak perluh menjelaskan apa-apa. Kita tidak ada hubungan apa-apa,” lalu berjalan masuk ke hotel.
Namun Potter langsung memengang tangan Via untuk menahannya masuk, “Via…”.
Dengan kasarnya Via melepaskan tangannya, “jangan sentuh aku!!”. Via melihat pria yang tersenyum padanya sewaktu di cave akan melewatin mereka berdua. Via langsung membuat rencana, “sayang…” langsung mengandeng tangan pria itu yang tenyata Kim.
Dibandingkan Kim, Potter yang paling terkejut dengan kata-kata Via, “sayang??”.
“Aku mohon, bantu aku,” bisik Via pada Kim.
Kim baru mengerti apa yang direncanakan Via. Dia hanya tersenyum.
“Aku ke Bali hanya ingin memperkenalkan pada Kakak pria yang aku cintain. Dan aku ingin Kakak membatalkan rencana perjodohan itu,” harapan Via.
Potter menatap tajam kearah Kim yang tersenyum padanya. Kim mejulurkan tangannya, “Kim…”.
Potter tidak membalas apa yang dilakukan Kim, “permisih!!” dengan kesalnya Potter meninggalkan hotel.
“Hahhh… akhirnya berakhir juga,” kata Via yang puas.
“Sepertinya rencanamu berhasil,” kata Kim.
“Ya,” yang masih mengandeng Kim. Via memadang Kim, dan baru menyadarin dirinya masih mengandeng pria yang baru dikenalnya itu, “maaf… aku lupa”.
Kim hanya tersenyum.
“Trimah kasih yach…”.
“Ya”.
“Dahh…” lalu masuk ke dalam hotel yang sekali-kali menolek ke belakang.
Tiba-tiba Arnila  sudah berdiri di samping Kim, “apa rencanamu sekarang?”.
“Belum tahu,” jawab Kim tanpa menolek kearah seakan mengetahuin kehadiran Arnila sejak tadi.
“Kau tidak berencana untuk mendekatinya kan?” tanya Winna.
“Itu hanya kebetulan”.
***
“Kau dari mana aja baru sekarang pulang?” tanya Deana menyambut kedatangan Via yang langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.
“Menemuin Kak Potter”.
“Kau sudah mengatakannya?”.
Via mengangguk.
“Apa kau tidak akan menyesal?”.
Via bangkit, “untuk apa menyesal?”.
“Kau kan akan bekerja di rumah sakitnya”.
“Bukan di rumah sakitnya, tapi di rumah sakit orang tuanya,” Via memperjelas perkataan Deana.
“Itu sama saja! Rumah sakit itu juga akan menjadi milik Kak Potter!”.
“Gak ada pengaruhnya denganku”.
“Via!”.
“Sudahlah… gak akan terjadi apa-apa”.
“Hahhh… kau ini!” Deana yang sudah sangat menyerah dengan sikap cuek yang ditunjukkan Via.
***
Potter memikirkan perkataan Via di lobi klinik dengan tatapan tertujuh ke pantai, “aku ke Bali hanya ingin memperkenalkan pada Kakak pria yang aku cintain. Dan aku ingin Kakak membatalkan rencana perjodohan itu”.  Dan saat Kim memperkenalkan dirinya pada Potter, “Kim…”. Semua itu membuat Potter kesal.
Arlina mendekatin Potter, “maafkan aku Dok”.
Potter menolek, “untuk apa kau memintah maaf?”.
“Via salah paham karena aku Dok”.
Potter tersenyum, “jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Sifat Via memang susah di tebak,” Potter yang sudah lama mengenal Via.
“Jika  Dokter membutuhkan teman bicara, aku siap untuk  mendengarkannya”.
“Trimah kasih”.
***

“Via…!!” Deana membangunkan Via yang masih tertidur lelap.
“Apa sih…!” Via yang masih sangat mengantuk.
“Kau gak ikut?” tanya Deana yang sudah bersiap-siap pergi ke pantai untuk menikmatin pemadangan pantai pada pagi hari.
“Nanti aku nyusul,” jawab Via bermalas-malasan di tempat tidur.
“Ya udah. Nanti kalau sudah di pantai telpon aku yach…”.
“Ya”.
Deana pun pergi sendiri ke pantai tanpa ditemanin siapapun.
***
Arnila mengajak Kim ketemuan di salah satu cave yang berada di tepi pantai Kutai. “Apa kau akan terus menyelidikin Potter?” tanya Arnila.
“Kau ingin berhenti?” Kim balik bertanya.
Arnila diam.
“Aku tidak akan menahanmu jika kau ingin berhenti”.
“Aku sudah janji akan membantumu”.
Kim tersenyum. Tiba-tiba hp Kim berdering. Kim mendapatkan telpon dari nomor yang tidak di kenalnya namun tetap diangkatnya untuk mengetahuin siapa yang menghubunginnya, “halo… ini siapa?”.
“Kau dimana?!” tanya Acton yang tenyata yang menelpon.
“Kau siapa?” tanya Kim.
“Acton”.
“Bukanya kau menolak”.
“Kau dimana?!”.
“Aku? Aku di Bali,” jujur Kim.
“Apa!! Kau tahu kasus ini sangat penting untukku!!” marah Acton.
Raut muka Kim berubah, “dibandingkan kau, kasus ini lebih penting untukku! Setiba di Jakarta aku akan menghubunginmu!” lalu mematikan telpon.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Arnila yang melihat Kim terlihat murung.
“Ya”.
***
“Bagaimana?” tanya Gita pada Acton setelah selesai menelpon Kim.
“Dia mematikan telponku!!” Acton yang semakin kesal.
“Benarkah. Tenyata ada juga yang berani mematikan telpon darimu”. Acton menatap Gita. Gita berusaha bersikaf biasa saja dengan sikaf dingin yang ditunjukkan Acton padanya karena perkataannya.
***
Potter medatangin sebuah rumah berlantai dua yang berada di pinggir pantai. Ini untuk pertama kalinya dia datang di rumah itu. “Tok…tok…tok…” setelah beberapa kali mengetuk, pintu pun terbuka lebar, “siang om…” sapa Potter pada pemilik rumah yang membukakan pintu untuknya.
“Kau sudah dewasa,” kata Hendro.
“Maaf, baru hari ini aku mengujungin om”.
“Aku juga baru tahu dari Ayahmu,” sambil masuk ke rumahnya, “masuklah”.
Potter mengikutin Hendro masuk ke dalam rumah, “om menghubungin Ayah?” seakan tidak percaya.
“Kenapa? Kau pikir kami bermusuhan”.
“Aku senang akhirnya om mau memaafkan Ayah”.
“Aku yang salah sudah menuduh Ayahmu macam-macam. Tak seharusnya aku melakukan itu,” Hendro membesar hati, “aku memintah Ayahmu untuk menerimah ponakkanku bekerja di rumah sakit kalian”.
Walaupun masih bingung Potter tetap mengiyakannya.
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Hendro dengan sebutan Om, “Om….”. Hendro dan Potter menolek kearah suara. Terlihat jelas Potter sangat terkejut melihat Kim yang berada di rumah Hendro. Kim yang sudah mengetahuin keberadaan Potter di rumah Hendro berpura-pura terkejut, “kau…?”.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Hendro.
“Senang bertemu denganmu lagi,” kata Kim sambil menjulurkan tangannya seakan tidak terjadi apa-apa.

Kim dan Potter berpindah tempat ke teras. Potter masih memadang Kim seakan tidak percaya Kim ponakkan om Hendro dan pertemuan mereka yang sangat kebetulan.
“Jangan menatapku seperti itu,” kata Kim yang masih berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Ini sangat kebetulan!”.
Kim tersenyum, dia sangat puas melihat reaksi yang ditunjukkan Potter, “ya”.
“Aku dengar kau akan bekerja di rumah sakit orang tuaku?”.
“Ya”.
Suasana terhening sejenak, “jangan sakitin dia,” kata Potter membuka pembicaraan baru.
“Siapa yang kau maksud?” bingung Kim.
“Kau pastih tahu siapa yang aku maksud!” kata Potter lalu melangkah pergi.
Awalnya Kim tidak mengerti siapa yang di maksud Potter namun itu hanya sesaat ketika dirinya teringat dengan kejadian semalam, “hahaha… apa dia pikir aku pacarnya?!”.
Hendro mendekatin Kim yang masih mengamatin Potter yang melangkah pergi, “hukum mereka yang telah membunuh putraku! Kau harus tepatin janjimu itu!”.
“Ya”.
Hendro kembali masuk ke dalam rumah dengan menutup kembali pintu rumah yang terbuka.
Kim masih berdiri di tempatnya berdiri dengan mata tertujuh di pintu masuk rumah. Kim teringat masa kecilnya yang pahit, saat dirinya mendapatkan sang kakak tewas di depan rumahnya dengan tubuhnya penuh dengan jahitan yang tidak teratur.
***
Via menyusul Deana ke pantai, namun Via tidak menemukan keberadaan Deana. Sudah cukup jauh Via berjalan menyusurin tepi pantai namun keberadaan Deana tidak ada tanda apa pun. Berkali-kali dia menghubungin nomor hp Deana tapi tetap saja tidak dapat dihubungin, “kemana sih dia!!!?” kesal Via.
***
Ternyata Deana kembali ke hotel. Dilihatnya Via tidak ada lagi di dalam kamar hotel, “mana dia?” yang tidak menyadarin Via mencarinya di pantai.
***
Karena sudah lelah mencari Deana yang juga tidak mengetahuin bahwa Deana sudah kembali ke hotel, Via memutuskan meninggalkan pantai. Tak jauh dari pantai Via melihat pria yang berpakaian compang camping mendekatin dirinya, “sial banget sih aku ketemu orang gila…”. Via mulai ketakutan ketika pria itu semakin dekat dengannya.
“Mintak uang…” kata orang gila itu pada Via yang ketakutan.
“A..ku gak… ba…wak uang…” gugup Via.
“Bohong!!!” marah orang gila itu.
“A…aku gak bohong…” yang semakin ketakutan.
“Dasar wanita murahan!!” orang gila itu mau memukul Via.
“Aaahhh…!!”.
Tangan orang gila itu berhasil di tangkap oleh Kim. Kim yang kebetulan melintasin daerah itu dan melihat Via ketakutan segera menolong, “kau tidak apa-apa?” tanya Kim pada Via.
Via tanpak kanget melihat Kim.
Kim memberikan selebar uang 100.000,- pada pria gila itu, “pergilah!”.
Orang gila itu pun pergi.
“Kau sedang apa disini?” tanya Via yang masih heran.
Dibandingkan menjawab pertanyaan Via, Kim malah membuka pembicaraan lain, “apa kau tidak punya sepeserpun!!?” lalu melangkah pergi.
Via langsung memengang tangan Kim untuk menahannya pergi, “kau pikir aku pelit?!!” yang tidak terimah dengan perkataan pria yang baru dikenalnya itu.
“Apa namanya kalau bukan pelit”.
“Heiii…!!!” kesal Via, “kalau aku ada uang! Tidak mungkin tidak aku berikan pada orang gila itu!!” yang tidak terimah dengan tuduhan Kim padanya.
Kim menahan tawa. Dia memang segaja mengatakan seperti itu ingin melihat Via marah.
“Dan siapa yang menyuruhmu untuk membantuku?!!” kali ini Via yang melangkah pergi meninggalkan Kim yang masih memadangnya.
Tatapan Kim tertujuh pada mobil sedan yang berlaju kearah Via yang mau menyebrangin jalan. Tampak jelas mobil itu semakin melaju kencang ketika jarak Via yang tidak begitu jauh lagi. Tanpa pikir panjang Kim langsung mendorong Via untuk menghindarin mobil itu yang terus berlaju pergi. Via dan Kim jatuh di pinggir jalan. Kim berhasil menyelamatkan Via walaupun lengan dan lutut Via terluka karena mengenai aspal, “kau tidak apa-apa?”.
“Aku berdarah,” rengek Via.
“Itu hanya luka kecil”.
“Bagi perempuan, luka sekecil ini sangat besar,” Via yang sangat memetingkan penapilannya.
Kim tersenyum mendengar perkataan Via. 



Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar