Kamis, 11 Oktober 2012

love for the heart


1


“Huhuhu… huhu...!” terdengar tangisan tak jauh dari tempat pakiran ojek yang berada di gang perkomplekan perumahan. “Kenapa tuh?” tanya salah satu tukang ojek yang sedang menunggu penumpang di bawah pohon besar, melihat anak laki-laki menanggis kearah mereka.
“Gak tahu,” menaikin bahunya, “mungkin di buang orang tuanya,” kata temannya yang juga sedang menunggu penumpang.
Salah satu tukang ojek mendekati anak laki-laki itu yang umurnya sekitar 12 tahun, “kau kenapa menanggis? Mana orang tuamu?” tanya Hendro.
Anak itu masih menanggis dan tak memberi jawaban.
***
Sintia dan putranya baru pulang, dilihatnya Ayu mantan kekasih suaminya 9 tahun yang lalu, masih bersedih di teras samping rumah karena kehilangan putranya 2 hari yang lalu di tasiun gambir, “belum ada kabar?!” tanyanya sinis.
Ayu mengeleng.
“Ini hanya perkiraanku saja,” diam sejenak, “jangan-jangan ini salah satu trik untuk menikah dengan suamiku?!”.
Ayu berdiri dan menatap Sintia.
Sintia menutup mulutnya, pura-pura merasa bersalah, “aku salah? Tapi… bisa saja kan,” bercampur senyuman sinis, lalu melihat putranya yang memadangnya dengan padangan heran, “ayo sayang,” lalu pergi.
“Aku pastihkan kesenanganmu akan segera berakhir!!” kata Ayu dengan penuh kebencian.
***
Hendro membawa anak laki-laki itu ke rumahnya. Istri dan putrinya yang masih berumur 7 tahun terlihat heran melihat Ayahnya membawa seorang anak. “Siapa dia?” tanya Dewi yang menggunakan bahasa isyarat dengan menggunakan kedua tangannya. Sejak kecil Dewi tidak bisa bicara, dan menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya, terutama suami dan putrinya.
Hendro yang sudah banyak belajar bahasa isyarat dari Dewi sejak 8 tahun yang lalu, mengetahui apa yang ingin di tanyakan istrinya, “dia berpisah dengan orang tuanya, dan sudah 2 hari ini dia tidur di jalan,” jawab Hendro.
Dewi mendekati anak laki-laki yang berdiri di sebelah suaminya, “kau lapar?” tanyanya dengan bahasa isyarat.
“Tante bicara apa?” tanya Edwan yang tidak mengerti bahasa isyarat dari Dewi.
Hendro meluruskan pembicaraan mereka, “ini istri om, istri om bertanya apa kau lapar?”.
“Sudah,” jawab Edwan.
“Maafkan aku, tadi sepertinya dia sangat kelaparan,” Hendro mencoba menjelaskan pada istrinya.
Istrinya tersenyum mengerti menjelasan suaminya.
Lalu Hendro memperkenalkan putrinya yang berdiri di pojok ruangan, “itu putri om, namanya Kalyca. Kau bisa memanggilnya dengan Lica”.
Lica mendekati Ayahnya, “apa dia akan tinggal di sini?” tanya Lica yang masih sangat polos.
“Apa kau tidak suka?” tanya Dewi.
Lica mendekati Edwan sambil tersenyum, “apa kau mau jadi kakakku?” yang sudah lama ingin memiliki saudara.
Hendro dan Dewi tertawa mendengar pertanyaan putrinya, “hahaha… haha…”. Sedangkan Edwan terlihat bingung dengan pertanyaan gadis kecil yang berdiri di hadapannya itu.
***
Di dalam kamar, Kay masih menatap orang tuanya dengan padangan aneh, “kau kenapa sayang?” tanyanya melihat putranya dari balik kaca riasnya, “Mama takut melihatmu seperti itu?”.
Kay mengeleng, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sintia mendekati dan tidur di dekat putranya, di peluknya Kay dari belakang dengan penuh kasih sayang, “maafkan Mama,” yang mengetahui Kay tidak menyukai sikaf dinginya pada Ayu, “Mama lakukan semua itu untukmu. Semua itu untukmu sayang,” diam sejenak, “Mama tidak akan membiarkan wanita itu merebut hakmu,” tekat Sintia.
Kay hanya diam. Umurnya yang masih 10 tahun masih tidak mengerti maksud perkataan orang tuanya. Saat ini yang dia tahu hanya orang tuanya sangat membenci wanita yang datang ke rumahnya 2 hari yang lalu.
***

Dari luar Dewi melihat putrinya sedang memperhatikan Edwan yang sedang tertidur lelap di kursi panjang yang terbuat dari rotan. Dewi mendekati putrinya, “kenapa kau melihatnya terus?”  tanyanya dengan bahasa isyarat.
Lica menolek, “apa dia mau menjadi saudaraku?” tanyanya lugu.
Dewi membelah kepala Lica dengan lembut sambil mengangguk bercampur senyum.
Edwan terbangun, dilihat istri dan anak pria yang menolongnya berdiri tak jauh darinya, “apa yang kalian lakukan?” tanyanya sambil bangkit.
“Kakak ikut dengan ku yach,” ajak Lica.
“Kemana?”.
***
Sintia dan Kay sedang menikmati sarapan mereka di meja makan. Sedang menikmati sarapan, salah satu pembantu mendekati mereka, “Nyonya, tuan besar sudah pulang,” kata pembantu itu memberitahukan kepulangan Darwin.
“Benarkah,” senang Sintia.
“Aku pulang,” kata Darwin sambil berjalan mendekati istri dan putranya yang sedang menikmati sarapan.
Kay langsung melompat dari kursi dan berlari mendekati Darwin, “Ayah…”.
Darwin langsung mengedong putranya, “masalah apa lagi yang kau buat hahhh…?” tanyanya dengan penuh canda.
“Ayah…” memeluk ayahnya dengan penuh manja.
Sintia mendekati Darwin. Darwin mencium kening Sintia, “halo sayang…” lalu melihat-lihat di sekitar ruangan, “mana Ayu?” tanyanya.
“Mungkin di kamarnya!” jawab Sintia judes.
“Aku di sini,” kata Ayu yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
Mereka bertiga menolek ke belakang. Darwin menurui Kay, “Ayah mau bicara dengan Tante Ayu dulu,” katanya pada Kay.
Kay mengangguk.
“Ikut aku! Aku ingin bicara denganmu,” kata Darwin pada Ayu lalu berjalan keruangan kerjanya yang berada tak jauh dari ruangan tengah.
Sintia menujukan wajah ketidak sukaannya pada Ayu, itu sangat terlihat jelas di mata Kay, “apa Mama tidak apa-apa?” tanya Kay kuatir.
Sintia berusaha menujukan senyum hangatnya, “bukannya hari ini kau ada jadwal latihan belah diri,” mengalihkan pembicaraan, “ini hari pertamamu loh”.
Dengan bermalas-malasan Kay menjawab, “baiklah…”.
***
Di ruangan kerja Darwin mulai bertanya pada Ayu, “apa kau sudah menemukan putra yang kau bilang itu putraku?!”.
“Apa kau masih tidak percaya Edwan itu putramu?!” tanya Ayu dengan wajah sedih.
“Sampai anak itu di temukan, aku belum mengakuinya!”.
“Kau tahu,” meneteskan air mata, “13 tahun yang lalu aku sedang mengadung anakmu”.
“Aku tahu. Tapi aku tidak tahu apa kau sudah mengugurnya atau tidak!!” Darwin yang tak mau langsung percaya.
“Aku akan buktikan padamu!” lalu melangkah pergi. Di luar ruangan Ayu melihat Sintia sedang menikmati sarapan di meja makan sendirian, “aku akan buat kau seperti diriku! Aku pastihkan itu!” tekat Ayu yang ingin membuat Sintia menderita.
***
“Kita sedang apa di sini?” tanya Edwan pada Lica yang mengajaknya ke tempat latihan belah diri.
“Aku latihan belah diri di sini Kak,” jawab Lica, “Kakak mau ikut latihan?”.
Edwan mengeleng, “aku menunggu di sini saja”.
“Baiklah. Aku latihan dulu ya Kak,” lalu pergi keruang ganti.

Di luar tempat latihan, Kay bersama sopirnya sedang berdiri di depan mobil. “Tuan tidak masuk?” tanya sopir yang sudah lama menunggu Kay untuk masuk ke tempat latihan.
“Apa aku harus masuk?” tanya balik Kay.
“Tempat ini yang terbaik tuan,” bujuk sopir berharap Kay mau masuk.
Kay tidak memberi jawaban.

Dari tempat ganti Lica melihat anak laki-laki dan pria dewasa berdiri di depan mobil yang terpakir di luar tempat latihan. Rasa ingin tahunya membuat dia mendekari mereka, “kau mau latihan juga?” tanyanya yang melihat pakaian seragam yang di kenakan anak laki-laki itu sama dengan dirinya hanya membedahkan sabuknya saja. Anak laki-laki itu berwarna putih sedangkan dirinya berwarna kuning.
“Tidak,” Kay berbohong.
“Kau bohong!”.
Kay baru ingat dengan pakaian yang dikenakannya, “awalnya iya. Tapi aku berpikir ulang”.
“Kenapa?”.
“Tempat latihanmu ini jelek!” kata Kay.
“Apa katamu!!”.
Kay membuang muka. Lica memengang tangan Kay, lalu memelitirkannya ke belakang. “Auhhh…” Kay kesakitan.
Pak sopir segera menolong Kay. Dia melepaskan tangan Kay dari genggaman Lica. Tidak memerlukan waktu yang lama Pak sopir menolong Kay. Kay yang ingin membalas memukul Lica langsung dihalangin  Pak sopir, “lepaskan aku!!” brontak Kay.
“Dasar laki-laki lemah!” ejek Lica lalu pergi.
“Apa katamu!! Aaahhh…!!” kesal Kay.
Pak sopir melepaskan Kay, “tuan tidak apa-apa?”.
“Kenapa kau menghalangiku!!?” kata Kay melampiaskan kemarahannya pada Pak sopir.
“Maafkan saya tuan”.
“Aaahhh!!”.
***
Ayu janjian bertemu dengan seorang pria kenalannya, di sebuah lestoran. Pria itu membuka pembicaraan, “apa yang harus aku lakukan?” tanya Budi.
“Aku ingin kau mecelakai seseorang,” kata Ayu memberitahu maksud mengajak Budi ketemuan.
“Siapa?”.
Ayu meletakan selembar foto di atas meja. Foto itu ternyata foto Kay. “Dia masih anak-anak”.
“Aku hanya ingin dia celaka”.
“Sampai mati?”.
“Terserah”.
“Baiklah,” Budi menyetujui permintaan Ayu, “aku akan suruh orang untuk melakukannya”.
Ayu tersenyum lebar.
***
Kay berpapasan dengan Kay di ruang tengah. Tanpa memberi sapa Kay langsung masuk ke dalam kamarnya. Sintia bingung melihat sikaf aneh putranya, “kenapa dia?”. Beberapa saat kemudian, Pak sopir melintas, “Pak,” panggilnya, “kenapa Kay?” tanyanya.
“Hanya perkelahian anak-anak Nyonya,” penjelasan Pak sopir singkat.
“Ohhh… aku pikir apa,” yang tak mau membesar-besarkan masalah.
***
Darwin berbicara dengan sekretarisnya di taman perkarangan rumah, “aku ingin kau segera menemukan anak itu,” katanya.
“Kenapa Presdir? Apa Presdir mulai mempercayai wanita itu?” tanya Susilo.
“Aku tak tahu, tapi aku yakin Ayu tidak berbohong”.
“Baiklah. Aku akan melakukannya”.
“Rahasiakan ini dari istri dan putraku”.
“Baik Presdir”.
***
Budi mendatangi tempat pangkalan ojek, dia mendekati Hendra yang sedang gobrol dengan teman-temannya. Sedang asik mengobrol, padangan teman-temannya tertuju pada Budi yang tepat berdiri di belakang Hendro. Hendro menolek dan terkejut melihat kehadiran teman lamanya, “kau”.

Mereka berdua menjauhi pangkalan ojek untuk bicara. Budi memberitahu maksud menemui Hendro, “aku ingin kau melakukan sesuatu,” sambil memberikan selembar foto yang di berikan Ayu padanya.
Hendro melihat foto tersebut tanpa mengambilnya, “kau tahu kan aku tidak melakukannya lagi!”.
“Aku hanya memintahmu untuk mencelakainya, tidak membunuhnya”.
Hendro menghela nafas panjang, “sudah aku bilang, aku tidak melakukannya lagi!!”.
Budi tidak hilang akal, dia teringat informasi dari anak buahnya, “aku dengar istrimu menderita kangker darah?”.
Hendro tidak memberi jawwaban.
Budi meletakkan foto tersebut di telapak tangan Hendro, “anggap saja ini untuk biaya operasi istrimu,” lalu pergi meninggalkan Hendro untuk berpikir.
***
“Mana Kay?” Tanya Darwin pada istrinya yang tidak melihat Kay di meja makan untuk makan malam bersama mereka.
“Dikamarnya sayang. Sepertinya dia sedang kesal,” kata Sintia mengingat putranya yang pulang marah-marah tadi siang.
“Marah? Apa ada yang menganggunya?”.
 Sintia hanya tersenyum yang tidak ingin mempermasalahkan masalah ini berlebihan.

Darwin menemui Kay di kamarnya, dilihatnya Kay sedang tidur-tiduran tempat tidur, “kau tidak makan?” tanyanya.
Kay tersentak kanget melihat kehadiran ayahnya yang tidak disadarinya, “Ayah”.
Darwin duduk di dekat putranya, “kau sedang kesal?”.
Kay diam.
“Kesal dengan seseorang itu wajar tapi jangan sampai tidak makan,”saran Darwin sambil mencubit hidung Kay dengan lembut.
Kay tersenyum malu.
“Mau cerita dengan Ayah?” Darwin menunggu putranya untuk cerita.
***
Dewi mendekati suaminya yang sejak pulang tadi soreh hanya melamun di depan teras rumah, “apa ada masalah?” tanyanya dengan menggunakan bahasa isyarat.
Hendro tersenyum menutupi masalah yang dihadapinnya, “aku tidak apa-apa,” lalu memeluk istrinya dengan penuh cinta. Walaupun Hendro menutupi apa yang terjadi, tapi Dewi merasakan suaminya saat ini sedang tertekan.
***

Ayu dan Sintia sarapan bersama di meja makan. Sintia yang mulai muak dengan kehadiran Ayu, lalu bertanya, “kapan kau pergi?!” dengan nada cetus.
“Kau mengusirku?!” tanya Ayu balik.
Sintia tersenyum sinis, “apa kau tidak punya harga diri!!?” menatap Ayu dengan tajam.
Ayu diam.
Beberapa saat kemudian, Darwin muncul, “selamat pagi,” sapanya, “mana Kay?” yang tidak melihat Kay di meja makan.
Sintia bangkit dan langsung merapikan dasi yang dikenakan suaminya. Itu segaja di lakukannya di hadapan Ayu untuk membuktikan kehadirannya tidak ada artinya di mata Darwin. “Dia sudah pergi sayang,” jawabnya.
Darwin hanya tersenyum, dia tahu kemana putranya pergi. Sedangkan Ayu terlihat kesal melihat kemesraan antara Darwin dan Sintia.
***
Edwan bangun dari tidurnya, dia langsung bangkit dan keluar dari rumah. Di luar Edwan melihat Dewi sedang menjemur pakaian di perkarangan samping rumah.  Edwan mendetinya, “selama pagi,” sapanya.
Dewi menolek ke belakang, “kau sudah bangun?” tanyanya dengan bahasa isyarat. Edwan tidak mengerti arti dari bahasa isyarat yang ditunjukan Dewi, dia bingung sambil mengarut kepalanya yang tidak gatal. Melihat ekpresi wajah Edwan yang kebingungan Dewi jadi serbah salah bagaimana cara bisa berkomunikasi dengan Edwan. Beberapa saat kemudian, Dewi jongkok dan menulis sesuatu di tanah, kau sarapan dulu, aku sudah siapkan di meja.
Edwan membaca tulisan Dewi, lalu dia menjawab, “baiklah. Tapi, dimana Lica?” tanyanya.
Dewi menulis lagi, sekolah.
“Ohhh”.
Dewi teringat kata-kata Lica yang menginginkan Edwan menjadi kakaknya. Dewi kembali menulis, apa kau mau menjadi kakak Lica?.
Cukup lama Edwan menjawab, lalu tersenyum sambil mengangguk.
Dewi tersenyum senang mendapatkan jawaban dari Edwan.
***
Pulang dari sekolah Lica langsung ke tempat latihan karate. Belum ada yang datang, dia yang pertama datang. Tapi di depan gedung latihan terpakir mobil BMW. Lica mendekati mobil tersebut, bukan karena aneh melihat mobil sebagus itu bisa terpakir di tempat latihannya melainkan ini pertama kalinya dia bisa melihat lebih dekat mobil-mobil mewah yang biasanya hanya bisa di lihat dari jauh, “wahhh…” kagum sambil menyentuh mobil tersebut.
Tiba-tiba pintu mobil bagian belakang terbuka. Lica tersentak kanget sampai mundur 2 langkah, di tambah orang yang keluar dari mobil itu ternyata anak kecil yang dipelitir tangannya kemarin, “kau…”.
“Apa ini pertama kalinya kau melihat mobil?” goda Kay.
“Enak aja!” Lica jual mahal.
“Kau masih marah padaku? Kata Ayahku, aku harus minta maaf,” sambil menjulurkan tangannya.
Lica tertawa, “hahaha… haha… kau lucu haha…”.
“Kau ternyata manis juga,” puji Kay.
Lica berhenti tertawa, dia menatap Kay dengan tatapan aneh.
“Apa kau mau menjadi temanku?”.
“Aku gak mau!” Lica menolak sambil membalikan tubuhnya.
“Kalau kau mau jadi temanku, aku akan berikan kau coklat”.
“Coklat?” Lica membalik tubuhnya lagi, dia melihat Kay memengang kotak kecil berisi coklat-coklat berbagai bentuk.
Kay memberikan kontak coklat itu pada Lica. Dan Lica langsung mengambilnya. “Kau suka coklat? Aku bisa membawakan coklat lebih banyak lagi,” kata Kay.
“Janji?” sambil menjulurkan kelekingnya.
Kay menyambut keleking Lica dengan kelekingnya, “janji”.
Lica tidak langsung percaya, dia memberikan sabuk kuning pada Kay, “kembalikan besok,” katanya lalu masuk ke dalam gedung.
Kay melihat ujung sabuk tertulis nama Lica, “besok aku pastih datang”.
Pak sopir mendekati Kay, “kita pulang tuan,” tanyanya.
“Tunggu, aku mau beli minuman dulu,” kata Kay lalu berjalan menuju warung pingiran jalan yang berada di sebrang jalan.

Tak jauh dari tempat latihan, Hendro sedang menaikin motornya dengan membiarkan mesin kendaraannya menyalah. Matanya tertuju pada Kay yang akan menyebrang jalan dan sekali-kali menolek ke arah foto pemberian Budi, untuk memastikan dia tidak salah orang. Hendro bersiap-siap akan menjalankan kendaraannya. Ketika memastikan Kay akan menyebrang, Hendro langsung tancap  gas.
Kay yang tak menyadari kendaraan menuju kearahnya terlempar sekitar 25 meter dari tempat kejadian. Kepalanya terbentur batu yang berada di pinggir jalan. Kay langsung tak sadarkan diri dengan memengang sabuk pemberian Lica.
Hendro yang sempat menghentikan kendaraannya tidak bisa menghindari masyarakat sekitar yang langsung menahannya untuk tidak melarikan diri. Masyarakat sekitar berbodong-bodong datang untuk melihat apa yang terjadi. Padangan Hendro masih tertujuh pada anak yang di tabrakannya itu. padangannya beruba saat melihat anak laki-laki itu berubah menjadi putrinya, “Lica…”. Tapi Hendro tidak bisa mendekati, karna banyak orang yang memengang dirinya.
***


Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar