Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyers 9

“Aku kuatir dengan keadaan Klara seminggu ini,” kata Bunda pada Ayah yang sedang membaca buku di tempat tidur, “Klara sering menyendiri”.
“Mungkin ada masalah di kampus,” dugaan Ayah yang masih membaca.
“Tapi Klara tak pernah seperti ini”.
“Klara sekarang sudah dewasa. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri”.
“Pastih sekarang Klara sangat menderita”.
“Jangan terlalu berlebihan”.
Bunda kesal melihat Ayah yang tak sedikitpun peratian dengan perubahan Klara seminggu lebih ini.
***

“Kau mau berangkat sayang?” tanya Bunda pada Klara yang keluar dari kamarnya yang sudah rapi.
“Iya Bunda”.
“Ayo sarapan dulu”.
“Aku sarapan di kampus saja Bunda. Hari ini aku mau gawas ujian,” kata Klara lalu berangkat kekampus menggunakan mobil yang sudah terpakir didepan rumah.
“Anakku yang malang,” kata Bunda.
***
“Pagi Bu,” sapa Erika pada Klara yang baru tiba dikampus.
Klara tidak melihat Rian yang biasanya Erika selalu berangkat ke kampus selalu bersama Rian, “mana kak Rian? Kalian sudah putus?” asal bicara Klara.
Pipi Erika langsung merah, “apaan sih Ibu Klara,” malu Erika.
Klara tersenyum melihat wajah Klara yang merah, “Ibu Erika belum katakan suka dengan kak Rian,” goda Klara.
“Maksud ibu apa sih”.
“Pura-pura bodoh”. Klara melihat pria yang memakai kemeja masuk kedalam kampus yang sebelumnya lewat didepan mereka, tersenyum pada mereka berdua dan mahasiswa yang dilewatinnya menyapa pria itu. “kita punya dosen baru bu?” tanya Klara.
“Tidak ada”.
“Itu siapa?” sambil menujuk pria itu, “aku baru pertama kali melihatnya”.
“Itu Pak Hendrik. Sepertinya Pak Paris tidak mengajar lagi dikampus ini. Karna Pak Pariskan hanya menggatikan Pak Hendri sementara”.
“Apa,” kanget Klara.

Erika menemanin Klara menemuin Pak Hendrik di kelas tempat dirinya mengajar. “benar pengacara Paris tidak lagi mengajar di kampus ini,” penjelasan Pak Hendrik.
“Kenapa?” tanya Klara.
“Saya kurang tahu soal itu. Semalam pengacara Paris menelpon saya,  dia katakan tidak mau lagi mengajar di kampus ini lagi”.
“Bapak mengenal Pak Paris dimana?” tanya Erika.
“Pengacara Paris membantu saya memenangkan kasus lahan kosong,” kata Pak hendrik lagi.
“Bapak mengenal Pak Paris hanya sebagai pengacara bapak saja, tidak ada kaitan saudara?” tanya Erika lagi.
“Tidak, kami tidak ada kaitan saudara. Dan setahu saya juga pengacara  tidak ada saudara di Indonesia, kalau gak salah berasal dari Amerika”.
“Kenapa bapak memberikan kepercayaan untuk menggatikan bapak mengajar dikampus ini?”.
“Pengacara mintak bantuan ke saya, dia ingin mengajar dikampus ini”.
“Bapak tanya kenapa?”.
“Katanya dia ingin menebus kesalahannya pada seorang perempuan”.
“Perempuan itu mahasiswa disini?”.
“Saya kurang tahu itu. Saya hanya membantu karna pengacara juga sudah membantu saya tanpa imbalan apapun”.

Setelah mendenggarkan penjelasan Pak Hendrik tentang Paris. Erika mengajak Klara makan siang di lestoran disekitar kampus. Erika melihat Klara murung sambil menatap makanan yang dipesan mereka diatas meja. “Ibu Klara tidak suka dengan masakkannya?” tanya Erika.
Klara tersenyum, “bukan begitu. Aku hanya tidak nafsu makan saja”.
“Ibu Klara masih memikirkan perkataan Pak Hendrik?”.
“Paris memang pernah cerita, dia datang ke Indonesia hanya ingin bertemu seorang perempuan tapi dia tak pernah cerita perempuan itu ada di kampus ini”.
“Apa Ibu Klara tidak pernah berpikir kalau perempuan itu ibu sendiri,” kata Erika sambil makan. Erika menatap Klara, dia tak segaja mengucapkan kata-kata itu, “maaf, bukan itu maksudku. Tapi… bisa sajakan, karna selama ini perempuan di kampus yang dekat dengan Pak paris hanya Ibu Klara”.
Klara mengingat kata-kata Paris saat di Cave Citra, karna aku ingin lihat gadis yang aku ingkar janjinya, “ dia penah ingkar janji apa ke aku,” binggung Klara.
“Mungkin Ibu dan Pak Paris teman masa kecil”.
“Tidak. Aku mengenal Paris waktu di Bandung. Sebelumnya kami tidak pernah bertemu”.
“aneh,” Erika mulai binggung.
“Dia memang cowok aneh”.
***
Rian datang kerumah Erika. “maaf ya aku tidak jempu kau tadi?” kata Rian.
“Tidak apa-apa. aku tadi diatar Ibu Klara. Bagaimana tanahnya?” tanya Erika.
“Aku mau ambil tanah itu, pemadangan sekitar  juga sangat indah”.
“kapan-kapan aku harus kesana”.
“Lainkali aku ajak kau,” janji Rian, “apa Klara masih murung?”.
“Iya. Kelihatannya Ibu Klara sangat menderita,” diam sejenak, “tadi juga kami bertanya dengan Pak Hendrik tentang Pak Paris”.
“Pak Hendrik sudah mulai mengajar lagi, lalu Pak Paris?”.
“Menghilang”.
“Menghilang?”.
“Ibu Klara juga bilang, dia sudah mencari di kantor dan apartemennya  tapi Pak Paris tidak ada juga”.
“Mau pria itu sebenarnya apa!?” kata Rian yang penasaran tujuan Paris sebenarnya.
“Menurutku Pak Paris segaja mendekatin Ibu Klara, karena dari pernyataan Pak Hendrik, Pak Paris mau mengajar ke kampus hanya ingin  menebus kesalahannya pada seorang perempuan. Perempuan mana lagi yang dekat dengan Pak Paris kalau bukan Ibu Klara”.
“Klara mengatakan apa?”.
“Dia tidak mengenal Pak Paris sebelumnya,” penjelasan Erika, “apa perempuan iitu mirip Ibu Klara, karna itulah Pak Paris mengira perempuan itu Ibu Klara. Karna tahu perempuan itu bukan Ibu Klara, Pak paris langsung menghilang,” dugan Erika.
Rian tersenyum lebar.
“Apa yang lucu?” tanya Erika.
“Ternyata pikiranmu itu seperti anak-anak”.
“Apaan sih…” malu Erika.
***

“Ibu Klara belum datang?” tanya Rian melihat Klara tidak ada meja kerjanya.
“Sepertinya iya Pak,” jawab Joni.
“Apa kita berkujung saja kerumahnya,” usul Benni.
“Jangan. Mungkin Ibu Klara perluh menyendiri,” ucap Rian memadang Erika dimeja kerjanya..
Erika tersenyum mendenggar kata-kata Rian.
***
Bunda masuk kekamar Klara. Dilihatnya Klara uring-uringan ditempat tidur, “sedang apa sayang?” kata Bunda sambil duduk diatas kasur, “kau tidak kekampus?”.
Klara duduk, “lagi malas Bun,” sambil tersenyum.
Bunda memengang wajah Klara, “wajahmu kusam. Kau pastih tidak pernah mearawat wajahmu lagi,” bunda kemeja rias untuk mengambil pembersih muka dengan pelebab wajah, “ini apa?” tanya Bunda melihat 3 bungkusan dibawah meja rias. Bunda mengambil bungkusan itu, lalu meletakkan diatas kasur, “kau shopiping? Kapan?” melihat isi bungkusan berupa beberapa pakain.
Klara memgeluarkan semua isi bungkusan, “aku lupa semua barang ini,” satu persatu melihat model pakaian yang belikan Paris waktu itu. Klara mengambil kotak yang terselip disalah satu pakaian, dibukanya kotak. Kalung berliotin bulan sabit pemberian Paris. Ditatapnya kalung dengan mengingat kata-kata Paris padanya saat itu,  anggap saja ini jiman pelidungmu, air mata jatuh membasahin pipi Klara.
“Kau kenapa sayang,” kuatir Bunda melihat Klara tiba-tiba menanggis.
“Aku memang bodoh Bunda. Selama ini aku tidak menyadarin aku sangat menyukain Paris, “Klara terus menangis.
“Maksudmu apa? selama ini kau tidak menyukaian pengacara?” tanya Bunda yang tidak mengerti maksud Klara.
“Aku sangat menyukainnya Bunda humm… aku sangat membutuhkannya sekarang, sangat…” Bunda memeluk Klara, “aku merindukannya Bunda, sangat merindukannya,” yang menanggis dipelukkan Bunda.
“Kau pastih sangat menderiat,” kata Bunda dengan penuh kasih sayang.
“Bunda…”
***

Sudah seminggu lebih Paris menghilang. Klara tak bosan selalu bertanya kekantor dan apartemen Paris, berharap Paris kembali. “Apa kau tidak bosan kesini terus?” tanya Jenni.
“Maaf, jika itu membuat dirimu ternganggu,” kata Klra lembut.
“Sampai kapan kau seperti ini?”.
“Sampai Paris menjelaskan padaku. Setelah dia menjelaskan, aku tidak akan mengganggunya lagi”.
“Apakah keras kepala Paris menular padamu?!”.
Klara hanya tersenyum, “permisih,” lalu pergi meninggalkan kantor.
“Wanita aneh,” kata Jenni melihat Klara tidak mau menyerah.
***
“Ini sudah sekiat kali Ibu Klara telat datang kekampus dan jarang mengajar pelajarnya lagi di kelas!” marah Pak Rudi pada Rian, “kalau seperti ini, apa yang harus saya jawab, jika keta yayasan bertanya!”.
“Tolong beri kesempatan Pada Ibu Klara,” mohon Rian.
“Pak Rian tahu sendiri, saya sudah berapa kali memberikan kesempatan pada Ibu Klara!”.
“Saya tahu Pak, tapi tolong kali ini saja”.
“Hahhh… saya binggung menjawabnya”.
***
Liga dan Sarah mendekatin Klara yang baru sampai dikampus, “siang bu,” serentak menyapa Klra.
Klara tersenyum, “kalian tidak masuk kuliah?” tanya Klara.
“Lagi istirahat bu,” jawab Liga.
“Ada apa?” tanya Klara.
“Seluruh mahasiswa sepakat akan membantu ibu,” kata Sarah.
“Maksud kalian apa?” binggung Klara.
“Kami semua tahu, Ibu selama ini mencari keberadaan Pak Paris. Jadi kami sepakat, jika bertemu atau melihat Pak paris akan langsung memberitahu ibu”.
“Benarkah,” senang Klara mendenggar semua mau membantu dirinya menemukan Paris, “trimah kasih,” ucap Klara langsung memeluk Sarah, “trimah kasih…”.
***

“Kenapa kau seminggu ini selalu cemberut!!” tanya Ayah yang akan berangkat ke kantor.
“Aku ingin Ayah membatalkan perjodohan itu!” kata Bunda.
“Kau tahu kan keputusan ku…”.
“Bunda langsung memotong perkataan Ayah, “keputusan apa!! kau ingin menjual anakmu lagi!!?” marah Bunda.
“Siapa yang aku jual?!” marah Ayah.
“Kau menjual Esa ke keluarga subroto!!”.
“aku tidak menjualnya!!” bantah Ayah.
“Apa namanya kalau bukan menjual! menyerahkan anak untuk penambahan dana perusahaan!!” marah Bunda, “sekarang pun kau lakukan itu pada Klara!! Kau jodohkan Klara dengan Rian dengan perjanjian dengan keluarga subroto penambahan dana perusahaan khan!!”.
Ayah terdiam.
“Malangnya anak-anak perempuanku hu…” bunda menanggis.
***
Ayah datang kekampus untuk menemuin Klara. Ketika didepan kampus Ayah bertemu dengan Pak Rudi. “lama tidak bertemu,” kata Pak Rudi sambil menjulurkan tangannya.
“Kau sedang apa disini?” tanya Ayah kanget melihat Pak Rudi mantan kekasih Bunda dihadapannya.
“Aku sudah 2 tahun disini,” jawab Pak Rudi.
“Ayah…” panggil Klara  heran melihat Ayah dikampus, “Ayah sedang apa disini?” tanya Klara.
“Ayah…” kanget Pak Rudi, “Klara anakmu?”.
“Iya, Klara anakku dari Reni,” jawab Ayah.
“Ayah dan Pak Rudi saling kenal?” binggung Klara.
“Ayo sayang. Ayah mau bicara padamu,” Ajak Ayah menjauhin Pak Rudi.

Klara mengajak Ayah kekantin kampus. “Ada apa Ayah nemuin Klara dikampus? Apa tidak bisa dirumah saja?” tanya Klara.
“Ayah takut Bunda marah lagi jika kita bicarakan dirumah,” penjelasan Ayah.
“Ayah dan Bunda bertengkar? Ada masalah apa?”.
“Bunda mengirah Ayah menjual dirimu”.
“Maksud Ayah”.
“Ayah berencana menikahkan kau dengan Rian. Tapi Bunda berpikir Ayah melakukan itu hanya untuk penambahan dana di perusahaan, padahal tidak sama sekali. Apa salah seorang Ayah ingin menikahkan anaknya pada pria pilihannya. Kau tahu sendiri Rian baik, kaya dan tampan, kebutuhanmu akan terpenuhin sampai tua  malah sampai ke cucumu nanti jika menikah dengan Rian,” rayu Ayah.
Klara tersenyum, “Ayah tidak salah kok. Wajar seorang Ayah memikirkan kebaikan anaknya,” diam sejenak, “tapi Klara tak mau dinikahkan dengan kak Rian Yah”.
“Kenapa?!”.
“Klara tidak mencintain kak Rian”.
***
"Welcome to my uncle,"sambut Jenni pada kedua orang tua angkat Paris yang keluar dari bandara Sukarno-Hatta.
"Ohh ... dear,"mama langsung memeluk Jenni, "You look beautiful". “Mama juga,” kata jeni membalas pujian mama angkat Paris.
Tak lama kemudian Paris keluar dengan membawa koper, "Hi ... long time no see,"sapa Paris pada Jenni.
“Aku pikir kau tidak akan ke Indonesia lagi,” kata Jenni pada Paris.
“Aku hanya menemanin Ayah dan Mama saja”.
“Bukan untuk yang lain?”.
Paris hanya tersenyum, tahu maksud dari pertanyaan Jenni padanya.
"Paris is often alone now,"keluhan Mama.
"Maybe Paris miss someone," jawab Jenni.
"Who?"tanya Ayah.
"Yes definitely Jenni. Jenni's fiancee, "jawab mama.
Jenni tersenyum sambil menatap paris. Jenni menelpon sopir yang berada di mobil yang dipakiran untuk mendekatin mobil ke mereka, “kau mau tinggal dirumahku atau di apartemenmu?” tanya Jenni pada Paris.
“Aku di apartemenku saja. biar orang tuaku dirumahmu,” jawab paris.
“Kenapa kau tidak dirumahku saja?”.
“Aku butuh sendiri”.
“Baiklah”.
Setelah mobil mendekat, Ayah, Mama dan Jenni masuk kedalam mobil, lalu pergi. Sedangkan Paris menggunakan taxi menuju ampartemennya.
Tak jauh dari Paris naik taxi. Doti dan Sarah melihat dan mendenggarkan perkataan Paris yang akan ke apartemennya. Tanpa pikir panjang, 2 mahasiswa itu langsung menghubungin no Klara.
***
Klara yang menerima telepon dari Doti dan Sarah langsung berdiri, “benarkah… kalian melihatnya,” yang tak percaya didenggarnya.
 “Kau mau kemana?” tanya Ayah melihat Klara akan pergi.
“Trimah kasih,” Klara mematikan hpnya, “aku harus segera pergi,” lalu Klara meninggalkan Ayah yang masih binggung padanya. tidak ada satupun taxi yang lewat didepan kampus kalaupun ada pastih ada isinya, karna tidak sabaran lagi, Klara berlari dari kampus menuju apartemen Paris yang cukup jauh jaraknya jika berjalan kaki. Klara membuka sepatunya agar bisa mempercepat langkahnya dan membiarkan hujan membasahin tubuhnya. Sekitar 1 jam lebih Klara menerobos hujan menuju apartemen. Klara langsung masuk ke lip menuju lantai 7 ke apartemen Paris. Setiba di depan pintu, Klara langsung mengetuk pintu, “tok…tok…tok…” mau memanggil nama Paris, bibir tidak bisa mengucap lagi karna menahan dingin. Pintu terbuka. Air mata langsung jatuh dipipi Klara.
Paris kanget melihat Klara basa kuyup di hadapannya, “apa yang kau lakukan?” kuatir Paris yang melihat wajah Klara yang pucat.
“Pa…nge…ran…” Klara terjatuh.
Paris langsung menangkap tubuh Klara, “Klara…klara…kalra…” panik Parius melihat Klara tidak sadarkan diri. Langsung diangkatnya tubuh Klara, lalu meletakkan di atas kasur, “badanmu dingin sekali,” kuatir Paris. Karna tak ada cara lain untuk menghangatkan tubuh Klara. Paris membuka semua pakaian yang dikenai Klara untuk mengurangi dingin tubuh Klara. Diambilnya semua selimut di lemari, semua selimut di letakkan ditubuh Klara.
“Eeehhh… jangan pergi pangeran,” kata Klara mengingau.
“Bnagunlah Klara,” tak sadar air mata  jatuh dipipinya, “ini aku… aku tak akan pergi lagi, bangunlah…” kuatir Paris. Paris membuka pakaiannya, langsung dipeluknya Klara. Berharap Klara bisa hangat dengan pelukkannya. Cara ini biasanya berhasil dilakukan jika kita ingin menghangatkan tubuh seseorang. “bangunlah Klra… aku mohon…”
***

Klara bangun. Kepalanya masih terasa sakit dirasakannya. Dilihat tubuhnya  tidak memakai pakain sehelaipun, “apa yang terjadi,” sambil memengang kepalanya dan berusaha untuk duduk.
“Kau sudah bangun?” tanya Paris muncul dari pintu sambil membawa segelas susu coklat untuk Klara, “minumlah,” memberikan pada Klara.
Klara melihat Paris hanya memakai celana panjang tidak memakai baju, “apa yang terjadi semalam?” tanya Klara yang tak ingat sama sekali.
“Kau tidak ingat?”.
“Maksudmu apa? kita melakukannya?!” kata Klara yang takut melakukan hubungan intim dengan Paris..
Paris tersenyum. “kita tidak melakukan apa-apa. aku tidak menyentuhmu sama sekali,” sambil duduk, “aku hanya menghangatkan tubuhmu,” penjelasan Paris agar Klara tidak salah paham
Klara menatap Paris.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”.
“Aku sudah lama tidak melihat senyuman itu”.
Paris tersenyum lagi.
“Jangan menghilang lagi,” diam sejenak, “aku relah kau marah padaku tapi jangan menghilang dariku lagi. Aku mohon…”.
“Minumlah,” membantu Klara meminum susu coklat buatannya, “ini bisa membantu menghangatkan tubuhmu”. Paris memengang kening Klara, “kau demam,” terasa hangat di tangannya saat memengang kening KJara. Paris berdiri.
Klara langsung memengang tangan Klara, “kau mau kemana lagi?” tanya Klara tidak mau Paris pergi lagi.
“Aku akan beli obat untukmu”.
“Kau akan kembalikan?”.
Paris duduk kembali menatap Klara, “jangan membebaninku dengan sifat bodohmu ini. Aku tak mau kau melakukan ini lagi. Kau bisa mati gara-gara kedinginan”.
Klara melihat mata merah, “kau menghawatirkanku,” tersenyum.
“Dasar bodoh”.
“Kau cowok aneh”.
Kau tetap cinderela dihatiku, kata paris dalam hatinya yang menatap Klara dihadapannya. Paris melihat kalung pemberiannya melingkar di leher Klara, “kau cantik memakai kalung itu”.
“Bukannya katamu kalung ini  jiman pelidungku”.
“Kau masih ingat kata-kataku”.
“Setiap kata-katamu akan aku ingat. Pengingatanku lebih baik dari pada kau”.
“Bukannya sebaliknya”.
“Apa”.
***
“Ibu Klara sudah datang?” tanya Erika melihat tas di atas meja Klara.
“Mungkin langsung kekelas bu, karna tadi juga kami datang Ibu Klara sudah tidak ada, hanya tasnya saja ada,” jawab Benni.
“Pagi sekali, tumbe…” heran Erika yang biasa Klara tidak pernah datang sepagi ini yang sekarang masih jam 7 pagi. Dan mana ada jadwal sepagi ini, mahasiswa saja baru datang.
“Ada apa?” tanya Rian  baru masuk kedalam ruangan melihat Erika berdiri di meja Klara, “Klara sudah datang?” yang juga heran melihat tas Klara diatas meja.
“Tapi waktu saya pulang, tas ini juga masih disini,” kata Joni yang pulang terakhir kemarin.
“Gak mungkinkan, Ibu Klara lupa dengan tas mahalnyta. Kalau lupa bukan Ibu Klara namanya?” kata Benni.
“Iya juga sih… tapi sekarang Ibu Klara dimana?” binggung Benni.
Tiba-tiba sesuatu berbunyi di dalam tas. “Hp bu Klara berbunti,” kata Joni.
“Ayo ambil,” perintah Rian pada Erika.
“Nanti Ibu Klara bisa marah?” kata Erika tidak enak membuka tas orang lain.
“Takutnya penting. Aku yang akan jelaskan pada Klara, angkatlah,” kata Rian lagi yang gak mungkin dirinya yang membuka tas Klara karna takutnya ada barang-barang aneh di tas Klara.
Erika membuka tas Klara, lalu mengambil Hp, Klara melihat nama yang menghubungin Klara dari layer Hp, “Paris…” langsung diangkatnya, “halo…”.
“Ini Erika ya…” kata Klara yang ternyata yang menelpon.
“Ibu Klara,” heran Erika, Klara menelpon hpnya sendiri.
“Tolong bawakan tasku ke Cave Citra yang ada persimpangan lampu lalu lintas,” mintak tolong Klara.
“Ibu Klara dimana?”.
“Tolong ya bu?” Klara mematikan hp.
“Ada apa?” tanya Paris.
“Klara mintak dibawakan tasnya ke Cave Citra,” jawab Erika.
“Mau aku antar?”.
“Tidak usah. Sepertinya aku perluh bicara dengan Ibu Klara”.
“Baiklah”.
***
Dari kamar Klara mendenggar ada seseorang yang datang. Tak lama kemudia Paris masuk membawa sebuah bungkusan, “pakailah ini,” memberikan bungkusan pada Klara lalu keluar dari kamar tak lupa menutup pintu kamar.
Klara mengambil bungkusan, “apa ini?” melihat isi bungkusan, pakaian perempuan.
Tak lama kemudian Klara keluar dari kamar, sudah memakai pakaian. “mau aku antar ke Cave?” tawar Paris.
Klara tersenyum.
***
Erika sampai ke Cave. Dilihatnya Klara belum datang, lalu duduk di meja tak jauh dari pintu masuk Cave. Tak lama Erika menunggu, Klara muncul dari balik pintu. “Ibu Klara…” panggil Erika.
Klara mendekatin Erika, “maaf lama,” sambil duduk.
Erika melihat wajah Klara sangat pucat, “ibu sakit?”.
“Semalam kehujanan”.
“Ini tas Ibu,” memberikan tas pada Klara, “maaf aku tadi membukanya”.
“Tidak apa-apa, tidak ada isi apa-apa kok”.
Suasana terhening sejenak, “Ibu sudah bertemu dengan Paris?”.
“Iya. Dia sudah kembali,” senang Klara.
“Apa Ibu bertanya kenapa Pak Paris menghilang?”.
Klara menatap Erika, “aku takut dia pergi lagi, jika aku bertanya”.
Erika memengang tangan Klara yang berada di atas meja, “ibu harus semangat. Dari semua ini pastih ada kebahagian untuk ibu”.
“Ibu Erika ingin tahu kenapa aku bisa seperti ini?”.
Erika melepaskan tangannya, “kenapa?”.
“Ini semu aku belajar dari Ibu.  Mungkin sudah 4 sampai 5 tahun Ibu memedam perasaan Ibu ke kak Rian, tapi sampai sekarang pun Ibu Erika masih menyukain kak Rian. Aku belajar tahu siapa yang aku sukain dari ibu. Ibu guru yang baik untukku. Cumak bedanya ibu bisa menahan perasaan ibu sedangkan aku tidak bisa,” diam sejenak, “aku tidak penduli dia marah padaku, asal jangan menghilang lagi. Itu membuat aku tersiksa”.
Erika hanya tersenyum mendenggar kata-kata Klara.
***
Di mobil Paris menunggu Klara di depan Cave Citra. Dilihatnya Klara dan Erika keluar dari Cave, didekatin mereka, “siang bu,” sapa Paris pada Erika.
Erika hanya tersenyum membalas sapaan Paris padanya, “aku duluan,” lalu pergi meninggalkan cave menggunakan taxi yang kebetulan lewat di depan cave.
“Aku antar kau pulang,” kata Paris, lalu berjalan.
“Ya,” Klara mengikutin Paris dari belakang.

Setiba dirumah. Paris memberikan bungkusan plastic berwarna putih yang berisi obat penurun panas yang sebelumnya dibelinya di apotek tak jauh dari cave saat menunggu Klara menemuin Erika. “ini… jangan lupa diminum”.
Klara mengambil bungkusan, “bagaimana lukamu?” sambil melihat kearah perut Paris, “apa lukanya berbekat?”..
“Kalau ingin melihatnya seharusnya waktu aku buka baju tadi,” canda Paris.
“Kau kira aku otak mesus sepertimu!”.
“Kalau tidak dibuka bajumu, kau pasih mati kedinginan! Memang siapa juga nau menyentuhmu, gak ada yang bagus juga”.
“Apa! kau melihat semunya!” kesal Klara sambil memukul pelat ke lengat Paris.
“Ya iylalah, aku yang membuka bajumu”.
“Aaahhhh….” Malu Klara, “aku tak percaya kau tidak menyentuhku!”.
“Hei… siapa yang mau menyentuhmu? Dengan badan sekurus itu tidak enak ditidurin,” kata Paris menahan tawa.
“Haaa…. Ahhh…” Klara memukul paris lagi.
“Hei sakit…,ha….hahaha….” Paris tertwa melihat sikaf Klara.
***
Klara memadang dirinya didepan kaca meja riasnya. “kau jangan pergi lagi, aku mohon,” kata Klara berharap Paris tidak menghilang lagi. “aku sangat tersiksa saat kau pergi”.
***
Paris berdiri di blangkon apartemennya sambil memengang jam pemberian Klara  padanya sebelum dirinya menghilang. “kau gadis istimewah dan segalanya bagiku,” diam sejenak, “tapi aku harus melakukannya. Aku sudah berjanji, maafkan aku”.
***

Bunda masuk kedalam kamar, dilihatnya Klara sedang tidur di kasur, “sayang…” bunda membangunkan Klara. Klara terbangun dari tidurnya, “sudah lama bunda tidak melihatmu tidur senyenyak ini,” senang Bunda anaknya kembali ceria tidak seperti kemarin-kemarin sering murung.
Klara tersenyum pada Bunda, “aku sangat senang sekali Bun…”.
“Ada apa?”.
“Pangeran sudah kembali”.
“Maksudmu Pengacara”.
Klara mengangguk dengan senyuman tidak hilang dari wajahnya.
“Dulu kau sering memanggil pangeran hanya untuk Luky, sekarang panggilan itu untuk Paris”.
Klara diam sejenak, “sudah 18 tahun Luky tidak ada kabar, dia pastih sudah melupakan janjinya”.
“Kau tidak mengharapkan Luky lagi?”.
Klara menggeleng, “untuk apa, jika dia juga tidak memikirkan aku”.
Bunda memengang pipi Klara, “dihatimu sekarang ada pengacara”.
Klara tersenyum, “menurut Bunda gimana?”.
“Pengacara sepertinya pria yang baik”.
“Benarkah”.
“Apa dia cocok denganku?”.
“Pengacara sama dosen, cocok!”.
Klara sangat bahagia Bunda mau mendukung hubungannya dengan Paris dan berharap hubungan ini  berjalan lancer yang diharapkan Klara.
Bunda melihat beberapa obat diatas meja rias, “kau sakit sayang,” kuatir Bunda sambil memengang kening Klara.
“Tidak Bunda. Kemarin badanku hanya panas sedikit,” yang tidak mau melihat Bunda kuatir.
“Kenapa kau gak bilang ke Bunda”.
“Bunda gak usah kuatir seperti itu, faktanya anak Bunda sekarang sudah sehat”.
“Orang tua mana yang tidak kuatir melihat anaknya sakit. Melihat kau berubah selama ini saja Bunda sangat kuatir”.
“Maaf membuat Bunda kuatir”.
“kau putrid Bunda yang cantik”.
“Klara tahu itu”.
***
“Kenapa baru datang?” tanya Jenni menyambut kedatangan Paris didepan rumah.
“mana Papa  dan Mama?” tanya Paris.
“Didalam, ayo…” Jenni mengantar Paris menemuin Papa dan Mama di ruang tengah sedang menikmatin secangkir kopi. "How? You comfortable? " tanya Paris pada kedua orang tua angkatnya.
"Yeah ... okay,"jawab Papa.
"Here we are served like kings and queens,"kata Mama.
"You are the king and queen,"ucap Paris.
"Oh ... dear,” Mama memeluk Paris, "You're a good boy".
"I know it".

Jenni mengajak Paris dihalaman saping rumah. “Sampai kapan kau membohongin orang  tuamu?” kata Jenni melihat Paris yang sepertinya belum menceritakan tujuannya ke Indonesia.
“Kenapa? Kau sudah bosan menjadi tunangan bohonganku?”.
“Iya. Gara-gara pura-pura tunangan, tidak ada yang berani mendekatinku,” diam sejenak, “aku juga tidak nyaman dengan kebohongn ini di depan kedua orang tuamu”.
“Maafkan aku”.
“Aku tak butuh mintak maaf. Aku ingin kau menyelesaikan tujuanmu ke Indonesia”.
“Aku tidak ada lagi tujuan? Dan aku juga sudah melupakannya. Aku akan segera mengatakan pada Papa dan Mama. Aku juga kurang nyaman ke kau. Trimah kasih, kau sudah membantuku selama ini,” kata Paris menjulurkan tangannya.
Jenni menyambut tangan Paris, “kau temn yang anek aku milikkin”.
Paris tersenyumn.
***
“Pagi semua,” sapa Klara memasukkin keruangan pada semua orang dalam ruangan.
“Pagi,” semua membalas menyapa Klara dengan keheranan melihat Klara yang sudah ceria kembali.
Setelah mengambil buku di laci meja kerjanya, “aku mau menagajar dulu,” kata Klara lalu keluar dari ruangan.
Rian menatap Erika dengan heran melihat sikaf Klara. Erika hanya tersenyum menanggapin keheranan Rian.

Rian mengajak Erika ke kantin kampus, mau bertanya perubahan Klara. Setelah mendenggar cerita dari Erika apa yang terjadi pada Klara. “jadi Pak Paris sudah kembali?” kata Rian.
Suasana terhening sejenak, “kau masih mengharapkannya?” tanya Erika.
“Tidak,” diam sejenak, “Klara sudah membuka mataku, kalau dirinya bukan Esa. Selama ini aku setujuh pertuangan itu karna aku melihat Esa pada Klara. Tapi ternyata tidak, dan aku rasa Esa pun tidak mau aku seperto itu. Aku harus melihat kedepan, bukan selalu melihat kebelakang. Bukan begitu Erika?”.
“Kenapa kau bertanya padaku?” malu Erika.
Rian hanya tersenyum melihat Erika.
***
Setelah mengajar. Doti dan Sarah mendekatin klara yang akan langsung pulang, “Ibu Klara!” panggil Doti.
Klara menolek, “kalian,” senang Klara melihat 2 mahasiswa yang telah membantunya menemuin Paris.
“Ketemu dengan Pak Paris bu??” tanya Sarah penasaran.
Klara tersenyum, “iya. Trimah kasih yach…” kata Klara sangat berutang budi pada 2 mahasiswanya itu, “dan bilang sama teman-teman trimah kasih juga”.
“Iya bu. Tapi ada balasannya bu,” kata Sarah.
“Maksud kalian?” binggung Klara.
“Bagaimana Ibu mengajak kami sekelas makan-makan,” usul sarah.
“Ok, gak masalah. Kapan?”.
“Besok bu”.
“Ok. Jam 7 malam kalian sekelas berkumpul di Cave Citra”.
“yesss…” senang Doti dan Sarah, “jangan lupa ajak Pak Paris bu,” kata Doti.
“ok”.
***
Paris barui sampai di apartemennya. Dilihatnya klara berdiri menyadar didepan pintu, “kau sedang apa disini?” tanya Paris.
“kau sudah pulang,” senang Klara melihat Paris.
“Kau sedang apa disini?” tanya Paris lagi.
“Eee… aku hanya menyampaikan pesan dari anak-anak untuk makan malam bersama mereka di Cave Citra besok jam 7”
“Kenapa tidak telepon?”.
“Aku  pikir kau tak akan mengangkat teleponku,” Kata Klara,”kau bisa datang khan??”.
“Tidak”.
“Kenapa?” Klara melihat espresi wajah Paris beruba bukan seperti biasanya, “kau kenapa?”.
“Kau jangan selalu didekatku!”.
“Kenapa? Kemarin kau tidak seperti ini”.
“Aku seperti itu karna kau sedang sakit!”.
“Apa aku harus sakit dulu baru…”.
Paris langsung marah, “Klara!!!”.
Klara kanget mendenggar suara Paris yang keras.
“Aku antar kau pulang!”.
“Tidak usah. Aku bawak mobil,” baru beberapa langkah Klara menolek ke Paris, “aku tidak tahu kesalahanku apa ke kau sampai-sampai kau tiba-tiba marah padaku,” diam sejenak, “kau memang cowok aneh kadang marah kadang tidak, sampai sekarang aku tidak mengerti pikiranmu,” lalu pergi.
Paris masuk kedalam apartemennya, “maafkan aku Klara, aku harus melakukannya,” menyadarkan tubuhnya didepan pintu.
***
“Kau sudah pulang sayang,” sambut Bunda pada
Klara yang baru pulang. Klara tidak menjawab, dia langsung masuk kamar. Dijatuhkan tubuhnya diatas kasur, “dasar cowok anek!” kesal Klara pada sikaf Paris padanya.
***

“Aku pikir perluh juga mengajak kalian. Dari pada isi cave hanya anak-anak semua,” kata Klara mengajak Rian, Erika, Benni dan Joni untuk makan-makan di Cave Citra nanti malam.
“Kami pastih datang bu,” kata Benni semangat.
“Syukur deh…,” senang Klara semua bisa datang nanti malam.
“Pak Paris ikut juga khan?” tanya Erika.
“Tidak, dia tak akan datang,” jawab Klara.
“Kenapa bu?” tanya Joni.
“Mungkin dia ada urusan lain,” sedih Klara.
“Wahh… makan-makan ini kan merayakan kembalinya Pak Paris. Tapi orangnya sendiri tidak bisa datang!” kata Benni.
Klara hanya tersenyum.
Hp Rian berbunyi, setelah tahu siapa yang menghubungin, “aku terimah telepon dulu,” lalu keluar dari ruangan.
“Sepertinya penting sekali,” kata Benni melihat Rian keluar menerima telepon.
***
Rian menemuin Ayah di lestoran yang sebelumnya Ayah mengajak Rian untuk bertemu. “maaf lama menunggu Ayah,” kata Rian sopan, lalu duduk.
“Kau pastih sangat sibuk,” kata Ayah.
“Tidak juga. Ada apa Yah?”.
“Aku mau mempercepat pertunangan kau dengan Klara,” kata Ayah keintin bicara.
“Maafkan aku Ayah. Aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini”.
Ayah kanget, “kenapa? Bukannya kau dulu sangat setuju dengan perjodohan ini”.
“Aku tahu. Tapi itu dulu saat aku mengira Klara adalah Esa. Tapi sekarang aku baru sadar. Ada wanita yang selalu ada disisiku saat aku senang maupun bersedih,” kata Rian.
“Kau menyukain wanita lain?!” tanya Ayah.
“Mungkin bukan aku saja menyukain wanita lain. Aku rasa Klara pun menyukain pria lain?”.
“Siapa?”.
“Mungkin Ayah tahu pengacara Paris”.
“Apa!” kanget Ayah mendenggar nama pria yang disukain Klara.

Setelah Rian pergi. Ayah termenung di lestoran sambil memikirkan nasif perusahaan jika Rian dan Klara tidak jadi menikah, dana yang dijanjikan Pak subroto orang tua angkat Esa tidak jadi diberikan. “aku bisa bangrut”. Ayah teringat kata-kata Paris padanya , Aku ke Indonesia hanya ingin melihat pemakaman Ayahku saja.  Aku tidak mengharapkan lagi perjodohan itu, Klara masa laluku, dan tak perluh di ingat lagi, “Paris tidak menyukain Klara,” stress Ayah memikirkannya.
***
“Sini biar aku bantu membawanya?” kata Pak Rudi pada Bunda yang sudah sekian kali menemanin Bunda bebelanja di supermarket.
“Trimah kasih,” sambil memberikan belanjaannya pada Pak Rudi, “kau memang laki-laki baik,” puji Bunda.
“Bagaimana kita makan dulu,” ajak Pak Rudi.
“Boleh juga,” kata Bunda menyambut usulan Pak Rudi.
Mereka kelestoran yang tak jauh dari supermarket. Baru masuk kedalam lestoran Bunda langsung dikejutkan seseorang memanggilnya, “Bunda!!!”.
Bunda langsung menolek kearah suara, “Ayah!!” kanget Bunda melihat Ayah berada di lestoran.
“Surya,” Pak Rudi pun terkejut melihat Ayah.
“Kalian!!!” marah Ayah melihat Bunda bersama Pak Rudi mantan pacarnya sebelum mereka menikah.
***
Rian dan Erika pergi bersama ke Cave Citra. Keluar dari mobil Rian melihat Paris di dalam mobil xenia berwarna krem terpakir tak jauh dari Cave, namun tatapannya terus tertujuh kearah Cave. “Tadi Klara bilang Pak Paris tidak akan datang khan?” tanya Rian pada Erika.
“Iya. Kenapa?” tanya balik Erika.
“Itu bukannya Pak Paris,” sambil menujuk orang dalam mobil,.
“Kenapa Pak Paris hanya duduk di mobil?”.
“Kita masuk saja,” ajak Rian. Mereka berdua masuk kedalam Cave, ternyata semua mahasiswa, Joni, Benni dan Klara sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
“Maaf telat,” kata Erika sambil duduk. Rian duduk di sebelak Erika.
“Wahhh…. Gak lengkap nih kalau gak ada Pak Paris,” kata Liga.
“Benar,” serentak menjawab.
Klara hanya tersenyum.
“Mungkin Pak Paris ada urusan lain, itulah tidak bisa datang keacara kalian buat,” kata Rian.
“Ya sudah, ayo makan…” kata klara tidak mau membahas Paris lagi. Semua langsung menyatap masakan yang sudah disediakan Cave untuk makan malam untuk mereka semua. Kadang di selingin candaan mahasiswa membuat suasana cave sangat meriah. Malam iini tidak ada perbedaan antara dosen dengan mahasiswa, semua sama namun kata-kata masih sopan.
tak terasa sudah jam 11 malam. Acara bubar, semua  pulang ke rumah masing-masing menggunakan kendaraan masing-masing, ada juga yang memakai angkutan umum dan  ada juga yang di antar teman atau kekasihnya.
Rian mengantar Erika pulang. “kau kenapa tak bilang Pak Paris ada diluar?” tanya Erika.
“Kita jangan terlalu ikut campur urusan mereka berdua. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka,” kata Rian sambil menyetir.
“Kau benar. Kita jangan terlalu ikut campur”.
Suasana terhening sejenak, “tadi aku bertemu dengan Ayah Klara. Aku sudah membatalkan peejodohan kami”.
Erika terkejut, “kenapa?”.
“Karna aku ingin membahagiankan wanita yang selalu disisiku saat aku senang dan sedih”.
“Siapa?”.
“Yang duduk disampingku”.
“Apa! a…ku” kanget Erika mendenggarkannya.
“Bukannya kau menyukainku”.
“Haaa… tahu dari mana aku menyukainmu? Aku cumak cerita dengan Ibu Klara appp,” Erika langsung menutup mulutnya tiba-tiba kata-kata itu terucap. Erika malu melihat Rian yang tersenyum melihatnya.
***
Baru didepan pintu. Klara mendenggar suara Ayah berteriak dan Bunda menanggis dari dalam rumah. Klara langsung masuk, ternyata Bunda sedang menanggis, “ada apa ini?” tanya Klara membutukan penjelasan Bunda dan Ayah.
“Bundamu ini selingkuh!!” marah Ayah.
“aku tidak selingku, kami hanya teman,” penjelasan Bunda sambil menanggis.
“Aaahhh…. Kenapa kau tidak mengaku juga!!” Ayah masuk kedalam, lalu menutup pintu dengan cara membantingnya.
Klara langsung memeluk Bunda, nyakit ini hnnya salah paham saja. lalu mengajak Bunda masuk kekamarnya. “Bunda mau cerita?” tanya Klara duduk di kasur bersama Bunda.
“ayahmu  mengira Bunda pacaran dengan Pak Rudi. Padahal kami hanya berteman tidak lebih,” cerita Bunda sambil menanggis.
Klara memeluk Bunda lagi, “besok Klara akan coba bicara dengan Ayah. Bunda jangan nanggis lagi,” bujuk Klara agar Bunda tidak menanggis lagi.
***
Paris baru pulang  dari mengikuti Klara. Dibaringkannya tubuhnya diatas kasur. “aku lebih baik melihatmu dari jauh dari pada menyakitinmu,” ucap Paris sambil memadang langit-langit kamarnya.
***
Klara melihat Bunda sudah tertidur lelap di kasurnya. Klara bangkit dari tempat tidur, lalu  membuka lemari pakainnya, dilihanya kemeja tanggan panjang warna putih dan celana dasar hitam milik Paris yang penah dipakainya, Klara teringat kata-kata yang diucapkan Paris saat melihat dirinya memakai pakainnya, sepertinya kau harus menambah berat badanmu, Klara tersenyum mengingatnya.
***

Pagi-pagi sekali Ayah menemuin Pak Rudi diruangannya. Tanpa mengetuk pintu lagi Ayah langsung masuk ruangan. “surya!” kanget Pak Rudi melihat Ayah masuk tanpa mengetuk pintu, “mau apa kau?!!”.
“Apa hubungan kau dengan istriku?!!” tanya Ayah dengan nada suar tinggi.
“Kau pikir apa!!?”.
“Kau!!!” Ayah memengang kera baju Pak Rudi, lalu mau memukul, “beraninya kau selingku dengan Istriku!!!”.
“Kau mau memukulku!!,” Pak Rudi melepaskan tangan Ayah dari kera bajunya, “kau yang duluan merebut Reni dariku!! Dan wajar jika aku merebutnya lagi!!”.
“Brensek kau!!” Ayah mendorong Pak Rudi. Pak Rudi terjatuh, kepalanya mengenai pinggiran meja. Ayah kanget melihat Pak Rudi tak sadarkan diri dilantai, “apa yang aku lakukan,” panik Ayah yang segaja melakukan itu semua.
***
Klara melihat Ayah keluar dari kampus dengan tergesa-gesa padahal jam masih pukul 8.40 yang biasanya jam segini Ayah selalu ada di kantornya.. “Ayah. Ayah sedang apa disini?”.
Ayah diam menatap Klara.
“Ayah tidak apa-apakan?” tanya Klara lagi melihat Ayah keringat di wajah Ayah.
“Ayah kekantor dulu,” kata Ayah lalu pergi menggunakan mobil yang terpakir di kampus.
Walaupun binggung melihat sikaf Ayah yang aneh. Klara melajutin langkahnya menuju ruangan.
***
Erika keluar dari ruangan dan akan ke kelas untuk mengajar. Tiba-tiba dari belakang seseorang menabraknya, “auhh…” semua buku yang dipengang Erika jatuh dilantai. Erika melihat siapa yang berani menabraknya, “Candra!?” kanget tenyata salah satu mahasiswa dikampus, “kenapa kau lari-lari?!!”.
Candra mengambil buku Erika yang berserakat dilantai, lalu memberikan pada Erika, “maaf bu… saya buru-buru,” jawab Candra.
“Kau dari mana?” tanya Erika lagi melihat Candra yang gos-gosan.
“Maaf bu… Ibu Klara sudah menunggu saya, mau ujian susulan. Permisih bu,” Candra berlari kembali kea rah kelasnya.
“Ohh mau ujian dengan Ibu Klara haa… anak zaman sekarang,” Erika melajutin langkahnya yang tetunda.
***
“Dia ngomong apa?” tanya Benni pada Joni yang menghadapin orang asing yang dari tadi bicara berbahas inggris pada mereka berdua.
"You know what I mean? I ask you where the room Mr. Rudi. Please tell me I am. Mr. Rudi time my friend in America, "kata orang asing.
Benni dan Joni mengeleng, tanda tidak mengerti maksud orang asing itu.
"Oh God. Why do I get to meet with a fool like them ".
Klara keluar dari kelas selesai mengajar. Klara mendekatin  Benni dan Joni yang sedang kebinggungat menghadapin orang asing, “ada apa?” tanya Klara pada Benni dan Joni.
“Kami tidak mengerti maksud orang ini?” kata Joni.
Klara bertanya pada orang asing itu, "Can I help you sir?” tanya Klara menggunakan bahasa inggris.
"You can use English?" tanya  orang asing.
"Yes. Can I help you? ".
"I'm meeting with Mr. Rudi. The room where Mr. Rudi?? ".
"Ohhh Mr. Rudi room. Mr. rising floor 3, room to room 4 that Mr. Rudi, "kata Klara menujukkan ruangan Pak Rudi.
"Accepted the love. You're pretty good girl, not like the two friends are stupid itiu, " kata orang asing lalu pergi keruangan Pak Rudi.
“Dia ngmong apa bu?” tanya Benni.
“Eee…. Katanya pak Benni dan Pak Joni pintar,” bohong Klara, lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan menahan ketawa.
***
“Aahhh….” Semua kanget mendenggar suara teriakan dari arah ruangan Pak rudi.
“Ada apa?” tanya Klara juga kanget yang sedang memeriksa tugas mahasiswa di meja kerjanya. Semua berlari keluar menuju ruangan Pak Rudi yang berada paling ujung dari 4 ruangan yang berada di lantai 3.
"I'm not a murderer!" kata orang asing memberontak dipengang 2 lelaki yang juga dosen di kampus.
“Diam!!” kata salah satu yang memengangnya.
Klara kanget melihat darah bercucuran dilantai yang berasal dari kepala Pak Rudi, “haaa….”. ditambah orang yang mencelakain Pak Rudi ternyata orang asing yang bertanya padanya, “dia…” Klara gemetar.
***
Paris sedang membaca berkas di meja kerja. Hpnya berbunyii, langsung diangkatnya telepon dari Jenni yang dilihatnya nama Jenni terjatuh dilayar Hp, “halo…apa!! kantor polisi!” kanget mendenggar apa yang dikatakan Jenni, “aku segera ke sana!” lalu mematikan Hp langsung bergegas pergi dari kantor.

Setba dikantor polisi. Paris melihat Mama menanggis, langsung dipelukknya Paris yang baru datang, "Your father was not a killer hu ..."kata Mama menanggis di pelukkan Paris.
Paris menatap Mama, "I know that. I will liberate you, " lalu Paris masuk keruanga pemeriksaan. Dilihatnya Papa sedang ditanya dengan petugas dengan satu orang yang memperjemakan perkataan Papa.
"Dad ..."panggil Paris.
Papa menolek kebelakang, "My son Paris," sambil berdiri, "I did not do anything? I came spatial Mr. Rudi just want betemu, you're announcing Mr. Rudi Papa friend in college in America. I did not kill him!" penjelasan Papa mengunakan bahasa inggris.
"I know. I know Papa was innocent. I'll prove innocence Papa. I promise," kata Paris membuat Papa tidak lagi kuatir dengan kasusnya yang dihadapinnya.
“Ada siapa?” tanya pertugas pada Paris.
“Aku pengacara dan anak Pak Prengky,” jawab Paris tegas.

Paris keluar dari ruangan pemeriksaan. "What about your father?” tanya Mama.
"Mama do not worry. Papa will be free,” jawab Paris menyakitkan Mama.
"Really?".
"Yes".
“Bagaimana?” tanya Jenni.
“Sementara hanya sebagai saksi tapi  bisa juga jadi tersangka tinggal tunggu waktunya saja,” jawab Paris, “sebelum waktunya itu tiba, aku akn membuktikan Papa tidak bersalah,” tekat Paris.
“Perluh bantuan?” Jenni menawarin diri.
“Ya. itu pastih”.
Jenni tersenyum.
***
 
Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar