Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 3


3

Kay mengajak Ceri ke Moll, lalu mereka memasukkin toko pakaian yang khusus menjual pakaian anak-anak seumuran Ceri. Dengan bantuan pelayan toko, Ceri di bantu memilih pakaian yang akan di pakai nantinya. Sedangkan Kay menunggu Ceri di meja kasir.
“Berapa umur anaknya Pak,” tanya pelayan toko yang berdiri di meja kasir.
Kay menolek pada pelayan itu, “apa wajahku sudah terlihat seperti Ayahnya?”.
“Maaf Pak,” kata pelayan itu yang langsung memintak maaf mengira Kay tersingung dengan kata-katanya.
Tak lama kemudian Ceri sudah selesai memilih, beberapa pakaian sudah dipilihnya, “menurutmu mana yang bagus?” tanya Ceri pada Kay.
Kay melihat pakaian yang dipilih Ceri cukup banyak, “hitung semuanya,” lalu memberikan kartu kredit pada kasir.
“Dibelinya semuanya?” yang tak percaya apa yang didenggarnya.
“Kalau hanya satu di beli dan besoknya kau masih memakai bajuku lebih baik tidak usah beli,” pendapat Kay.
Setelah semua pakaian dibayar, Kay dan Ceri meninggalkan toko. Tak jauh dari toko, Kay melihat toko pakaian yang khusus menjual pakaian perempuan, “sepertinya kakakmu memerlukan beberapa pakaian,” lalu mereka masuk ke dalam toko itu. Pelayan toko langsung melayanin mereka berdua, “bisa saya bantu Pak?”.
“Aku mau cari pakaian untuk wanita dewasa,” kata Kay.
“Pakaian seperti apa Pak?” tanya pelayan itu yang belum mengerti penjelasan Kay.
“Umur kakakmu berapa?” tanya Kay pada Ceri.
“27 tahun”.
“Bedah tiga tahu,” yang tidak menyangka umur Alina sudah  27 tahun padahal Kay mengira umur Alina sekitar 24 atau 25 tahun. “Aku ingin pakaian perempuan yang umurnya sekitar 27 tahun, dengan ukuran celana sekitar 27 atau 28, tinggi badan 170 dengan ukuran dadah?? Berapa ukuran dadahnya?” Kay bingung berapa ukuran dadah Alina, “ahh… kau bisa carikan khan?”.
“Iya Pak,” kata pelayan itu yang sedikit mengerti penjelasan Kay, “tunggu sebentar pak,” lalu pelayan itu segera memilih pakaian. Tidak begitu lama Kay menunggu pelayan itu, beberapa pakaian pilihan pelayan itu ditunjukkan pada Kay, “silakan pilih Pak”.
“langsung hitung saja,” perintah Kay lalu memberikan kartu kredit pada kasir. Setelah semua pakaian di hitung dan kartu kreditnya di kembalikan padanya, Kay dan Ceri keluar dari toko. “Sekarang kita mau beli apa lagi?”.
“Pakaian dalam,” jawab Ceri.
“Apa! Pakaian dalam!” Kay yang tidak menyangkah Ceri memintah dibelikan pakaian dalam, “kenapa kau tidak mintak beli sepatu saja?” tawar Kay.
“Pakaian dalam lebih penting dari sepatu”.
“Hahhh…. Aku menyesal mengajakmu”.
“Dan… belikan untuk Kak Alina juga yach”.
“Apa!”.
***
Seperti Adriel kata dengan Ibu tadi pagi dia akan menemuin Rudi secara pribadi. Adriel datang ke hotel Larisa sendirian tanpa ditemanin siapapun, dia berniat memintah maaf pada Rudi atas sikaf kasarnya kemarin. Kedatangan Adriel disambut dingin oleh Rudi, “aku pikir kau tidak akan berani lagi menujukkan wajahmu di hadapanku. Tenyata aku salah. Kau sampai mengijak harga dirimu untuk menemuinku,” Rudi yang sangat puas.
“Aku disini hanya memintah maaf,” kata Adriel langsung ke inti bicara.
“Aku tahu, jika tidak tidak memintah maaf untuk apa kau jauh-jauh datang kesini, benarkan?”.
“Aku hanya tidak mau kerja sama ini batal karna hanya masalah sepeleh”.
“Bagi kau mungkin masalah sepeleh tapi bagiku itu masalah besar. Kau sudah membuat aku malu di kandangmu sendiri! Tapi… karna aku mengingat persahabatanku dengan Kay di tambah Ayahku dengan om Darmawan sudah berteman baik, aku tidak mau merusaknya hanya karna ketidak provesionalnya dirimu. Hotel Larisa dengan Hotel Ratu tetap akan bekerja sama,” keputusan Rudi.
“Trimah kasih. Urusanku sudah selesai, permisih,” Adriel yang akan segera pergi.
Baru beberapa langka Rudi memanggil Adriel, “tunggu!”.
Adriel menghentikan langkahnya tanpa menolek kearah Rudi.
“Sebaiknya kau harus lebih banyak belajar dari Kay,” saran Rudi.
Adriel nampak  tidak menyukain saran dari Rudi.
“Tapi sepertinya  kau tidak akan melakukannya, “ dugaan Rudi, “tapi kali ini kau harus mengikutin saranku”.
Adriel membalik tubuhnya, “maksud kau?”.
“Walaupun sikaf Kay yang cuek dan masa bodoh, tapi dia tipe orang yang serius, jadi kau harus hati-hati dengannya. Jangan biarkan Kay masuk, jika sekali masuk, kau tidak akan bertahan lama,” saran Rudi.
Adriel memikirkan maksud perkataan Rudi padanya. 
***
Kay dan Ceri tiba di pakiran apartemen. Kay mengeluarkan bungkusan-bungkusan dari bagasi mobil. Ceri hanya membawa 2 bungkusan sedangkkan Kay terpaksa harus membawa sisa bungkusan  itu sendiri. Didalam lift Kay memperingatin Ceri agar tidak memberitahu siapapun dia menemanin Ceri membeli pakaian dalam wanita, “ingat! Jangan ada seorang pun tahu aku membeli pakaian dalam wanita”.
“Beres,” jjawab Ceri sambil menujukkan jempolnya.
Ketika lift terbuka di lantai 30, mereka langsung keluar dari lift. Bertapa terkejutnya Ceri melihat Alina menyadar didinding dengan mata tertutup, “kakak…”Ceri langsung mendekatin Alina dan langsung menanggis..
Sama seperti Ceri, Kay pun kanget  melihat keadaan Alina. Di pengangnya lenggan  Alina untuk memeriksa nadi apakah masih berdetak atau tidak, “dia masih hidup.
Suara tanggisan Ceri membuat Alina terbangun, “kalian baru pulang,” melihat Ceri dan Kay berada dihadapannya.
“Kakak…” Ceri langsung memeluk Alina itu membuat Alina bingung.
“Dia pikir kau kenapa-kenapa,” Kay yang menjelaskan pada Alina kenapa Ceri bersikaf itu padanya.
Alina melepaskan pelukkan Ceri, “kakak tidak apa-apa, “ lalu melihat banyak bungkusan, “bungkusan apa itu?”.
“Kak Kay membeli pakaian untuk Ceri, untuk kakak juga ada,” jawab Ceri yang sangat senang.
Alina berdiri, “tolong jangan perlakukan kami seperti ini,” yang tidak menyukain perhatian Kay yang berlebihan pada mereka berdua.
“Apa maksudmu?”.
“Aku memang menumpang di rumahmu,” air mmata jatuh membasahin pipi Alina, “tapi aku buka pengemis”.
“Tapi aku tidak pernah bilang kau pengemis!” Kay membelah diri.
“Dengan caramu seperti ini, kau sudah menganggap kami seperti pengemis!”.
Kay mendekatkan dirinya pada Alina, “bisahkan kau membedahkan antara pengemis dengan dirimu!! Dan satu hal lagi, harga dirimu itu terlalu tinggi!” Kay meletakkan kunci apartemen di tangan Alina  lalu  pergi meninggalkan mereka berdua.
Alina masih menanggis.
“Kakak jangan menanggis,” Ceri yang juga ikut menanggis, “kalau Kakak marah, Ceri tidak akan memakai pakaian-pakaian ini huhuhu… Ceri tidak mau Kakak marah”.
Alina memeluk Ceri, “maafkan Aku. Dia benar, harga diriku terlalu tinggi,” yang mulai sadar kesalahannya.
***
Didalam kamar, Adriel memikirkan saran yang berikan Rudi padanya, “Walaupun sikaf Kay yang cuek dan masa bodoh, tapi dia tipe orang yang serius, jadi kau harus hati-hati dengannya. Jangan biarkan Kay masuk, jika sekali masuk, kau tidak akan bertahan lama”. Adriel tersenyum, “mana mungkin anak manja seperti dia bisa mengalahkanku,” nyakin Adriel yang bisa mengalahkan Kay.
***  
Hari sudah semakin gelap. Ceri pun sudah tertidur lelap di sofa karena kelelahan. Namun  Kay  belum juga  pulang dari tadi. Alina mulai merasa bersalah pada Kay. Dilihatnya satu persatu bungkusan diantaranya bungkusan itu terdapat pakaian dalam dan kosmetik untuknya, “sampai segininya kau memberikan padaku,” Alina yang mulai sedikit menikmatin perhatian yang di berikan padanya.
Karena tidak mau telat kerja, Alina segera berangkat dan meninggalkan Ceri sendiri di apartemen. Ketika mau keluar dari gedung apartemen, Alina melihat Kay sedang duduk di anak tangga depan pintu masuk gedung. Alina duduk di sebelah Kay lalu berkata, “maafkan aku. Seharusnya tak  sepantasnya aku bersikaf seperti itu padamu”.
Kay tersenyum, “aku sudah melupakannya”.
“Lalu kenapa kau tidak kembali?”.
“Permadangan disini bagus”.
Alina tahu itu hanya alasan Kay saja, “jangan bercanda”.
Kay tersenyum lebar, “hhmmm…” diam sejenak, “sebenarnya aku iri padamu”.
“Kau jangan bercanda,” Alina yang mengira Kay bercanda.
“Kau dan Ceri saudara tiri tapi kalian saling menyayangin sedangkan aku. Bertemu saja belum pernah,” diam sejenak, “temanku bilang, dia sepertinya tidak menyukainku”.
“Itu kan hanya tanggapan temanmu?” Alina yang mencoba menghibur Kay.
“Seperti iya,” diam sejenak, “tapi itu salahku juga, awalnya aku juga tidak menyukainnya”.
Alina tersenyum namun senyum itu hanya sesaat ketika matanya tertujuh pada 2 pria yang sedang berdiri di tepi jalan tak jauh dari gedung. Alina langsung menarik Kay bersembunyi di dalam gedung.
“Kau kenapa?” Kay merasakan tubuh Alina yang gemetar, wajahnya pucat karena ketakutan. Kay mencoba menigitip apa yang membuat Alina sampai setakut ini. Kay melihat dua pria yang berdiri di tepi jalan tak jauh dari gedung. Mereka adalah salah satu pria yang mengeroyok Alina 2 malam sebelumnya. “kau jangan takut,” Kay memeluk Alina, “aku akan menjagamu”. Alina tidak bisa mengatakan apa-apa, tubuhnya gemetar karena ketakutan.

Kay membawa Alina ke apartemen, “minumlah,” lalu memberikan segelas air putih pada Alina yang sebelumnya diambilnya di dapur.
Alina langsung meminumnya, “trimah kasih”.
“Hari ini kau jangan kerja dulu,” saran Kay.
Alina mengangguk.
Kay melihat pakaian dikenakan Alina pakaian yang sama tadi siang, “sebaiknya kau mandi, kau bauk sekali,” canda Kay yang mencoba menghibur Alina yang masih ketakutan.
“Iya…” lalu Alina masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Kay memidahkan Ceri yang sudah tertidur lelap ke kamarnya. Setelah memidahkan Ceri ke kamar, Kay ke dapur untuk membuat kopi. Setelah selesai membuat kopi, Kay ke ruang tengah sambil mencicipin kopi yang panas namun tatapannya langsung berhenti saat melihat Alina keluar dari kamar mandi dengan memakai prints dress. Tatapan Kay membuat Alina salah tingkah, “sepertinyya kependekan,” malu Alina.
“Tidak, kau terlihat cantik,” puji Kay.
Alina tidak melihat Ceri di sofa, “mana Ceri?” yang mulai panik.
“Jangan panik. Aku pindahkan Ceri di kamar. Kau bisa tidur di kamar bersama Ceri”.
“Tapi kau?”.
“Kau tidak usah kuatir denganku, aku kan laki-laki,” kata Kay sambil tersenyum.
Alina tersenyum tipis.
“Kau mau kopi?” tawar Kay.
“Tidak. Aku mau tidur saja. Selamat malam,” lalu Alina masuk ke dalam kamar.
“Malam,” matanya yang masih tertujuh kearah kamar, “dia cantik sekali,” puji Kay yang tidak bisa melupakannya. Kay berdiri di balkon lalu mengingat saat dirinya memeluk Alina tadi namun tenganggu saat Kay mulai penasaran dengan rasa takut Alina pada pria-pria itu, “kenapa dia begitu takut??  Siapa mereka??”.

Tenyata dikamar Alina tidak tidur dia masih memikirkan bagaimana cara membayar utang-utang Ayah tirinya.  Bagaimanapun mereka bersembunyi dari lentenir itu pastih suatu saat nanti mereka akan ditemukan juga dan itu yang tidak ingin Alina inginkan. Sebelum itu terjadi, dia ingin menyelesaikan semua utang-utang Ayahnya di tambah dia tidak ingin Kay orang yang menolongnya terlibat dalam masalahnya.
Bukan karna memikirkan masalah ini saja Alina tidak bisa tidur. Alina sudah terbiasa hidup terbalik, siang menjadi malam, malam menjadi siang. yang seharusnya malam orang-orang istirahat bagi Alina malam adalah untuk mencari uang dan siang untuk istirahat. Kebiasaan itu membuat Alina terbiasa dengan kehidupan yang dijalaninnya selama ini.
***

Tidak terasa jam sudah menuju pukul 3.00 WIB. Alina keluar dari kamar dilihatnya Kay tertidur di sofa tanpa memakai selimut. Diambilnya selimut dari kamar lalu menyelimutin tubuh Kay yang terlihat kedinginan karna udara pagi yang dingin pagi yang mulai terasa dari cela-cela petilasi. Dipadangnya wajah Kay yang sedang tidur, “trimah kasih,” yang sangat bertrimah kasih atas bantuan yang selama ini Kay berikan padanya dan Ceri.
Karena tidak mau menyia-yiakan wantu begitu saja, Alina pun membersihkan rumah, mencuci pakaian dan juga menyiapkan sarapan seadanya karena isi dapur Kay pun terlihat tidak lengkap dan isi kulkas pun tidak ada apa-apa. Alina  hanya memasak nasi goreng untuk  sarapan mereka nantinya.
***
Seperti biasa Bob datang ke supermarket sebelum pengantian kariawan. Di kasir Bob hanya melihat Nisa padahal Alina juga ditetapkan menjaga kasir. “Mana Alina?” tanyanya.
“Eeehhh… dia tidak masuk,” jawab Nisa ragu-ragu, “mungkin Ceri lagi tidak mau ditinggalkan,” Nisa mencoba memberi alasan pada Bob.
Bob terdiam sejenak, “atau lagi dengan pria itu,” lalu meninggalkan Nisa.
Nisa tahu Bob pastih cemburu pada pria itu, rasa cemburunya pada pria itu membuat perasaan Nisa terluka. Sudah lama sekali dia menahan perasaan ini pada Bob, dia pun tidak bisa mengatakannya  karena Bob menyukain sahabatnya dibandingkan dirinya.
***
Kay bangun dari tidurnya, dlihatnya ada selimut menyelimutin tubuhnya. Kay terlihat bingung siapa yang melakukan ini padanya. Terdenggar sauara dari arah dapur, Kay pun ke dapur melihat siapa yang berada di dapur, “kau sedang apa?” tanyanya yang melihat Alina yang sedang mencuci piring.
Alina kanget langsung membalikkan tubuhnya, “hahhh…. Kau membuatku kanget”.
Kay tersenyum melihat Alina yang sangat terkejut, “kau melakukan ini semua?” melihat sarapan sudah tersedia di atas meja makan.
Dibandingkan menjawab pertanyaan Kay, Alina malah mengomentarin peralatan dapur Kay yang tidak lengkap, “alat dapurmu tidak lenkap dan isi kulkasmu juga gak ada apa-apa. Hanya makanan ringat, apa kau terbiasa hidup seperti ini?”.
Kay duduk, “Ya”.
“Kalau kau lapar?”.
“Aku bisa menyuruh orang untuk membawa makanan”.
“Untuk aja beras ada,” kata Alina dengan nada suara pelat.
“Apa?”.
“Tidak,” sambil tersenyum, “ayo makan”.
Kay mulai memakan nasi goreng yang disiapkan Alina untuk sarapan mereka. Sambil makan mata Kay melihat isi dapur yang terlihat bersih dan pakaiannya yang berada di mesin cuci pun sudah terlipan rapi, “kau tidak tidur semalaman?” dugaannya.
“Aku sudah terbiasa hidup terbalik. Siang menjadi malam, malam menjadi siang”.
“Kenapa kau memilih pekerjaan malam? masih banyak pekerjaan pada siang hari”.
“Karena gajinya lebih besar dibandingkan siang hari”.
“Apa sebutuh itukah kau dengan uang”.
“Ya,” diam sejenak sambil memadang Kay yang duduk di hadapannya, “kehidupanku kebalikkannya denganmu. Kau berlipah dengan uang sedangkan aku kekurangan uang”.
“Apa pernah kau memipikan untuk mendapatkan uang yang banyak?”.
Alina tersenyum, “aku takut untuk bermimpi”.
“Kenapa?”.
“Karena setiap mimpi yang aku impikan akan hilang begitu saja”.
Walaupun masih penasaran Kay tidak melajutin bertanya lagi. Dia melihat penderitaan menyelimutin kehidupan Alina selama ini. “Kau terlihat sangat menderita”.
Alina masih tersenyum, “aku sudah terbiasa dengan kehidupan ini,” yang berusaha kuat dihadapan Kay.
***
Adriel mendapat telpon dari derektur Edi untuk segera ke Hotel Ratu karena Ayah dan Rudi sedang membicarakan kerja sama Hotel Ratu dengan Hotel Larisa. Adriel mengingat  sikaf kasarnya pada Rudi di Hotel Ratu membuat dirinya panik takut Rudi memberitahu Ayah tirinya itu. Walaupun dia sudah memintah maaf secara pribadi pada Rudi tapi rasa takut itu masih menyelimutinnya. Adriel angsung bergegas ke Hotel Ratu.
Setiba di Hotel Ratu Adriel melihat Ayah bersalaman dengan Rudi di depan lobi Hotel. Ayah menyambut kedatangan Adriel, “Aku tidak salah menyerahkan tugas ini padamu,” bangga Ayah pada kinerja Adriel sambil menepuk bahu Adriel dengan pelat.
Adriel hanya tersenyum.
“Aku pergi dulu”.
“Iya Yah,” Adriel menatap Rudi dengan tatapan tajam.
Setelah sopir membukakan pintu mobil untuk Ayah barulah Ayah masuk ke dalam mobil lalu mobil pun berjalan pergi meninggalkan Hotel Ratu.
Adriel mendekatin Rudi, “kau menyetujuian kerja sama ini?”.
“Ya,” jawab singkat Rudi yang masih tersenyum.
“Kau terlihat merencanakan sesuatu,” dugaan Adriel.
“Benarkah?” yang pura-pura terkejut, “aku pikir kau tidak tahu. Hahhh… mulai sekarang aku harus hati-hati denganmu”.
Adriel menatap Rudi sejenak, “Permisih,”  lalu memutuskan meninggalkan Hotel menggunakan mobil yang masih terpakir di depan lobi Hotel. Dari kaca spion Adriel melihat  Rudi melambaikan tangan kearahnya seakan sedang mengejeknya.
“Apa yang kau lakukan?!” tanya Heru melihat sikaf Rudi pada Adriel, “kau membuatnya kesal”.
“Aku senang mengerjain orang yang suka menusuk saudaranya dari belakang,” kata Rudi mengukir kata-katanya.
Kata-kata Rudi membuat Heru tidak mengerti, “maksudmu itu apa-apa?!”.
Rudi menatap Heru, “apa sejak kau menjadi asisten Kay kau menjadi bodoh!”.
“Apa!”.
“Hahh… tenyata benar”.
“Heiii…”.
“Sebaiknya kau pikirkan lagi pekerjaanmu itu!” kata Rudi lalu masuk ke dalam mobil yang sebelumnya di buka sopinya dan kemudian pergi meninggalkan hotel.
“Apa orang kaya selalu sifatnya seperti itu!” kesal Heru melihat sikaf Rudi yang tak jauh bedah dengan sikaf Kay  padanya, “hahhh… seharus aku tidak bersahabat dengan mereka!”.
***
Adriel kembali ke perusahaan. Diruang kerjanya Adriel memikirkan sikaf Rudi padanya yang seakan sedang melindungin Kay darinya. Adriel semakin kesal dengan Kay yang banyak melindunginnya. “Aku penasaran seperti apa dia?” yang mulai penaasaran dengan wujud Kay.
***
Selesai dari jonging Kay istirahat di bangku taman yang sama  Alina dudukin. Dia memikirkan perkataan Alina saat sarapan, “aku takut untuk bermimpi”.
“Kenapa?”.
“Karena setiap mimpi yang aku impikan akan hilang begitu saja”.
Kata-kata itu menganggu pikiran Kay. Kehidupannya dengan Alina memang sangat terbalik. Dia bisa melakukan apapun karena dia memilikin orang tua yang kaya sedangkan Alina harus bekerja keras untuk memenuhin hidupnya.
Dari kejauhan tiga pria memperhatikannya. Kay merasakan di perhatikan oleh mereka namun berusaha tidak menujukkannya. Cukup lama Kay membiarka mereka memperhatikannya, lalu kemudian memutuskan mendekatin mereka. 3 pria itu mulai kelabakkan untuk pura-pura tidak melihat Kay, “siapa yang menyuruh kalian?” tanyanya yang langsung ke inti masalah.
“Maafkan kami tuan,” kata salah satu dari mereka.
“Aku tidak butuh maaf dari kalian. Siapa yang menyuruh kalian? Ayah? Atau ibu tiriku?”.
“Ayah tuan,” jawab salah satu dari mereka.
“Kenapa Ayah menyuruh kalian untuk menjagaku?”.
“Tuan besar takut nyonya akan melukain tuan”.
Kay tersenyum, “tenyata dia sekarang sudah menujukkan bagaimana seharusnya ibu tiri”.
Mereka bertiga hanya diam.
“Dari pada kalian menjagaku lebih baik kalian membantuku,” Kay mendapatkan ide.
“Maksud tuan?”.
***
Alina mendapatkan telpon  dari Nisa untuk mengajaknya ketemuan.  Alina  mengajak  Nisa ketemuan di depan gedung apartemen. Nisa yang melihat tempat tinggal Alina yang baru sangat terkejut, “kau tinggal disini?” tanya Nisa seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.
Alina mengangguk, “ini hanya sementara. Setelah aman aku akan pergi”.
“Kenapa kau tidak tinggal denganku saja?”.
“Kalau aku tinggal denganmu kau akan celaka. Setidaknya kalau aku tinggal disini mereka akan mengangguku di dalam. Karena disini banyak polisi penjaga”.
“Lalu bagaimana kalau  kau sedang diluar?”.
Alina berusaha untuk tersenyum, “aku akan tertangkap”.
Nisa memeluk Alina, “aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu  kau sahabatku  satu-satunya”.
Alina sangat senang mendenggarnya, “trimah kasih kau mau menjadi sahabatku selama ini”.
Nisa masih memeluk Alina.
***
Kay pulang dan tidak melihat Alina hanya Ceri yang berada di dalam apartemen sambil nonton TV, “mana kakakmu?”.
“Pergi menemuin temannya di luar,” jawab Ceri  dengan matanya terus tertujuh kearah TV.
“Kau tidak sekolah?”.
Ceri mengeleng, “kakak menyuruhku sekolah”.
Kay menjulak kepala Ceri, “dasar bodoh! Memang yang sekolah itu kakakmu!”.
Ceri menujukkan wajah cemberut.
“Besok sekolah!”.
Ceri mengangguk dengan wajah cemberut.
Kay tersenyum melihat wajah Ceri yang cemberut.
***
“Apa tidak apa-apa kau menemaninku?” tanya Nisa pada Alina yang menemaninnya berbelanja di Moll.
“Tidak apa-apa. Setidaknya aku harus hati-hati,” jawab Alina sambil tersenyum, dia tidak ingin menujukkan ketakutannya di hadapan Nisa, “mungkin beberapa hari ini aku tidak masuk kerja”.
“Ya , itu lebih baik dari pada nantinya kau tertangkap”.
Mereka berdua melintasin toko pakaian pria. Alina menghentikan langkahnya, “kita masuk yuk,” mengajak Nisa masuk ke dalam toko. Walaupun bingung Nisa tetap mengikutin Alina. Alina melihat-lihat jaket pria, ketika sudah memutuskan jaket yang cocok Alina melihat harga yang tercantum di jaket Rp 560.000,-. Cukup kanget Alina melihat hargat jaket lalu meletakkan jaket itu kembali ke tempatnya. “Ayo…” lalu menarik Nisa keluar dari toko.
“Kenapa gak jadi?” tanya Nisa.
“Mahal”.
Nisa tertawa, “hahaha… mahalah, memang kau pikir ini tanah abang,” candanya.
“Hahahah…haha…” Alina ikut tertawa, “mungkin lain kali aku belikan,” harapan Alina suatu saat nanti.
“Untuk pria itu?” tebak Nisa.
“Aku hanya ingin membalas kebaikannya saja”.
“Siapa namanya?”.
“Namanya Kay”.
***
Ibu menyambut kepulangan Adriel, “kau pulang sayang,” melihat raut wajah Adriel yang tidak bersemangat, “kau kenapa? Apa ada masalah?”.
“Aku ingin bertemu dengan Kay”.
“Untuk apa kau ingin bertemu dengan Kay?”.
“Selama dia berada di Jakarta, dia akan terus menghantuin kehidupanku Bu”.
“Kenapa kau bicara seperti itu?”.
“Rudi”.
“Rudi pemilik Hotel Larisa?”.
“Dia sahabat Kay. Sepertinya Kay menyuruh Rudi untuk bermain-main denganku”.
“Apa. Apa maksudmu?”.
Adriel tidak menjawab dia hanya ingin segera bertemu dengan Kay.
***
Alina kembali ke apartemen. Didalam apartemen Alina melihat Kay dan Ceri tertidur di sofa dengan makanan berserakat di atas meja dan TV di biarkan menyalah. Alina mengambil selimut lalu menyelimutin tubuh Kay dan Ceri. Ketika mau menyelimutin Kay tiba-tiba mata Kay terbuka. Alina sangat terkejut dan langsung berdiri tegap.
“Kau baru pulang?” tanya Kay yang terbangun dari tidurnya.
“Iya,” gugup Alina.
Kay menahan senyum melihat Alina yang gugup, “kau tidak apa-apa?”.
Alina menatap Kay, “Ya,” lalu tersenyum, “aku tidak apa-apa”.
“Oh iya, besok Ceri harus sekolah, tidak baik untuk pendidikannya,” saran Kay.  Kay melihat keraguan di ekpresi wajah yang ditunjukkan Alina. “Kau tidak usah kuatir, aku menyuruh orang untuk menjaga Ceri 24 jam”.
“Tapi…”.
“Kau tidak usah kuatir, bukan aku yang membayar merek, orang tuaku yang membayar. Mereka di suruh untuk menjagaku. Dari pada mereka menjagaku lebih baik mereka menjaga Ceri,” mencoba menjelaskan, “apalagi aku sudah besar, tidak perluh ada yang menjagaku,” kata Kay panjang lebar menyakinkan Alina.
“Biasanya orang tua menyuruh seseorang untuk menjaga kita pastih akan ada yang mencelakain kita,” kata Alina yang mulai kuatir dengan Kay.
“Aku sudah terbiasa hidup seperti ini. Hidup sendiri tanpa ada yang menjaga. Aku anak orang kaya,” tersenyum pada dirinya sendiri, “aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan tapi…” terdiam sejenak, “ada yang tidak bisa aku lakukan”.
“Maksudmu?”.
“Sudah tiga tahun lebih aku tidak bertemu dengannya, sekarang dia muncul dengan menyuruh orang menjagaku itu terlihat aneh bagiku”.
“Kadang kerinduan seseorang itu susah di tebak, ada yang menujukkannya ada juga hanya diam. Sekarang bagaimana cara kita menilainnya,” nasehat Alina.
Kata-kata Alina membuat Kay terhibur, “kau terlihat dewasa dibandingkanku”.
Alina hanya tersenyum.
***
Nisa menceritakan semua pada Bob bahwa Alina sekarang tinggal bersama pria yang bernama Kay. Bob yang mendenggar cerita Nisa nampak kesal, “jadi mereka tinggal berdua”.
“Alina berpikir kalau dia tinggal di apartemen mereka tidak akan berani mendekatinnya karena apartemen banyak penjaga,” penjelasan Nisa.
“Dibandingkan menerima pertolonganku dia malah memilih menerima pertolongan dari orang yang baru dikenalnya!”.
“Kau cemburu?”.
“Aku selalu bertepuk sebelah tangan. Saat Adriel pergi,  aku berpikir bisa menggantikan Adriel di hatinya tapi tidak. Sekarang muncul pria lain,” lalu tersenyum, “sepertinya aku akan mengalaminnya lagi”.
“Bisakah kau melupakan perasaanmu pada Alina,” harap Nisa dengan mata berkaca-kaca.
“Apa maksudmu?”.
Nisa berusaha tidak menunjukkan rasa sukanya pada Bob, “aku pikir, mungkin suatu saat nanti kau bisa mendapatkan wanita terbaik melebihin Alina”.
“Aku tidak tahu. Aku belum pernah memikirkannya”.
“Kenapa kau tidak mau memikirkannya?!” Nisa yang mulai marah, “kau pikir di dunia ini hanya Alina!!”.
Bob bingung melihat Nisa marah padanya, “kau kenapa? Kau ada masalah?” yang mengira Nisa ada masalah di luar ceritanya.
“Tidak. Maafkan aku”.
***

“Kakak mau kemana?” tanya Ceri yang melihat Alina yang akan pergi.
“Aku akan pulang untuk ambil perlengkapan sekolahmu. Gak mungkinkan kau memakai baju bebas ke sekolah,” kata Alina.
“Tapi kak…”.
“Aku akan hati-hati,” saat Alina membalikkan tubuhnya dia melihat Kay sudah berdiri di pintu kamar, “kau sudah bangun? Aku sudah siapkan sarapan kalian, sebelum jonging sebaiknya kau makan dulu,” saran Alina sambil berjalan keluar kamar.
Kay langsung menahan lengan Alina, “biar aku suruh orang mengambilnya”.
Alina melepaskan tangan Alina, “tidak usah, aku bisa sendiri. Aku… aku akan hati-hati. Jangan terlalu menguatirkan aku”.
“Aku tidak menguatirkanmu tapi aku penduli padamu!”.
Alina menatap Kay, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Kay mulai menujukkan kesukaannya pada Alina namun Alina belum menyadarin itu semua. Tidak tahu kapan munculnya, Kay mulai penduli dengan kehidupan Alina.
“Bisakah kalian tidak bertengkar,” sambung Ceri yang tidak ingin suasana menjadi memanas.
Alina melangkah keluar kamar menghindarin Kay yang masih menatapnya. Terdenggar suara ketukkan pintu dari luar. Alina membuka pintu. Alina sangat terkejut melihat tiga pria berbadan besar di hadapannya, “si… siapa ka… lian?” tanya Alina dengan gemetar.
Kay muncul di belakang Alina, “kalian sudah datang,” menyambut ketiga pria itu, “masuklah!”. Setelah masuk ketiga pria itu, Kay melihat Alina masih berdiri di depan pintu. Kay tahu pastih Alina berpikir tiga pria itu sedang mencarinya selama ini, “mereka yang akan menjaga Ceri,” katanya mencoba menenangkan perasaan Alina.
Alina membalikkan tubuhnya, “dari mana kau tahu?”.
“Aku terbiasa dengan memperlajarin ekpresi seseorang,” kata Kay seraya tersenyum lalu masuk ke dalam.
Alina ikut masuk ke dalam dilihatnya tiga pria itu sedang membantu Ceri menyiapkan diri dari buku-bukunya dan memakaikan sepatu Ceri, “apaan ini?!” Alina mencoba menghindarin perhatian yang berlebihan  di berikan Kay pada Ceri.
Kay melihat ekpresi wajah Ceri yang langsung murung saat Alina mengatakan itu. Kay lagsung memengang tangan Alina lalu menariknya masuk ke kamar.
Alina melepaskan tangan dari genggaman Kay dengan kasarnya, “tolong jangan berikan perhatian berlebihan pada kami!”.
“Bisakah kau bicara setelah Ceri pergi!” marah Kay, “kau tidak melihat ekpresi yang ditunjukkan Ceri”.
“Ekpresi-ekpresi, ekpresi apa?! Aku tidak mengerti ekpresi yang kau maksud!!” Alina yang ikut marah pada Kay.
“Aku pernah mengatakan harga dirimu terlalu tinggi dan sekarang kau tunjukkan lagi,” lalu keluar dari kamar.
Alina menyadarkan tubuhnya ke dinding sambil memikirkan perkataan Kay padanya.

“Antar dia ke sekolah,” perintah Kay pada ketiga pria itu.
“Baik tuan,” kata salah satu dari mereka.
“Kakak gimana?” tanya Ceri.
Kay melihat Alina belum keluar dari kamar, “pergilah”.
Ceri mengangguk, “aku pergi dulu,” lalu pergi bersama tiga pria itu ke sekolah menggunakan mobil yang terpakir di depan apartemen.

Tak lama kemudian Alina keluar dari kamar,  dilihatnya Kay sedang berdiri di balkon sambil memadangin pemadangan kota dari atas. “Mungkin orang seperti aku hanya tinggal harga diri yang aku punya yang lainnya tidak lagi. Semuanya hilang dengan berjalannya waktu”.
Kay membalikkan tubuhnya, “maafkan aku. Mungkin jika aku jadi kau, aku baru tahu bertapa kau mempertahankan harga dirimu itu,” yang mulai mengerti sikaf Alina.
Alina tersenyum, “tapi kau sudah menghancurkannya perlahan demi perlahan. Dengan kau memberikan semua ini pada kami, harga diriku mulai rapuh”.
Kay mendekatin Alina lalu memengang bahu Alina dengan kedua tangannya, “siapapun tidak akan bisa menghancurkan harga dirimu  walaupun itu aku. Jadilah dirimu sendiri, itu yang membuat aku tertarik padamu,” Kay mulai memberikan penyataan bahwa dia mulai menyukain Alina.
Tiba-tiba Heru muncul, “maaf… a..aku akan pergi,” Kata Heru yang merasa menganggu kemesraan sahabatnya itu.
Kay melepaskan tangannya dari bahu Alina, “tunggu!” lalu kembali berdiri di balkon.
Sedangkan Alina masuk ke kamar, dia memikirkan perkataan Kay barusan, “Jadilah dirimu sendiri, itu yang membuat aku tertarik padamu”. Alina tersenyum sendiri sambil membandingkan masa lalunya, “tenyata semua pria itu sama,” yang tak mau terluka untuk kedua kalinya.

Heru mendekatin Kay, “kau menyukainnya?” goda Heru.
Kay hanya tersenyum
Melihat ekpresi Kay itu sudah satu jawaban untuk Heru, “dari kapan?”.
“Sebaiknya kau beritahu tujuanmu dari pada kau bertanya masalah pribadiku”.
“Hahahaha…” Heru tertawa, “sejak kapan kau menyimpan rahasia dariku?”.
“Mulai sekarang”.
“Hahhh… kau ini!” Heru tidak melihat Ceri, “mana adiknya?”.
“Sekolah”.
“Hahhh… wajar aja kalian bisa berduaan”.
Kay hanya tersenyum menanggapin perkataan Heru, “o iya, kenapa Ayah menyuruh orang untuk menjagaku? Kau tahu sesuatu?”.
“Aku tidak tahu apa-apa. Kau tidak tanya pada mereka?”.
“Aku pikir kau tahu”.
“Ayahmu gak bilang apa-apa denganku”.
Kay diam sejenak untuk berpikir, “seperti apa ibu dan saudara tiriku?”.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang mereka? Kau mencurigain mereka?”.
“Tidak. Ini terlihat aneh. Pastih terjadi sesuatu sampai Ayah menyuruh orang untuk menjagaku”.
“Perluh aku cari tahu?” Heru menawarin bantuan.
“Ya”.
“Ok, aku akan cari tahu”.
***
“Tok…tok…tok…!!” dari luar pintu ruangan Ayah di ketuk, “masuk!” Ayah langsung memerintahkan untuk masuk. “Ada apa?” tanyanya pada asistennya.
“Nyonya sudah kembali tuan,” ucap asisten memberikan laporan pada Ayah.
Ayah terkejut mendenggarnya kabar bahwa ibu kandung Kay sudah kembali ke Indonesia, “sejak kapan?”.
“Dua hari yang lalu tuan”.
“Apa mereka sudah bertemu?”.
“Aku rasa belum tuan. Tapi… sepertinya nyonya ingin bertemu dengan tuan Kay”.
Ayah diam.
“Apa yang harus aku lakukan tuan? Apa perluh aku buat nyonya untuk tidak bertemu dengan tuan Kay?”.
“Itu tidak perluh dilakukan, bagaimana pun juga mereka anak dan ibu. Aku tidak ada hak untuk memisahkan mereka,” kata Ayah yang bijaksana.
***
“Jadi kapan kau mulai bekerja? Bukannya kau kembali ke Indonesia untuk bekerja di perusaan Ayahmu,” tanya Heru yang belum mendapatkan jawaban dari Kay sejak dia pulang ke Indonesia.
“Sebelum aku bekerja aku ingin bertemu dengan Ayah dulu”.
“Lalu kenapa kau tidak lakukan?”.
“Ada hal-hal yang membuatku tidak bisa bertemu dengan Ayah”.
“Itukan sudah sangat lama,” heru yang mengira masalah yang maksud Kay masalah sewaktu dirinya meninggalkan Indonsia, “Ayahmu pastih sudah melupakannya”.
“Bukan itu”.
“Lalu apa?” tiba-tiba hpnya berbunyi. Heru melihat siapa yang menghubunginnya dari layar hp.
“Kenapa tidak kau angkat?” tanya Kay melihat Heru ragu mengangkat telpon.
“Ibu tirimu,” Heru memberitahu siapa yang menghubunginnya.
Kay terlihat bingung namun berusaha untuk tidak ditunjukkannya pada Heru.

Setelah Heru pergi, Alina keluar dari kamar, “dia sudah pergi?” tanyanya.
“Ya,” jawab Kay.
Alina melihat Kay terlihat murung, “kau kenapa?” lalu berdiri bersama Kay di balkon.
“Aku iri melihat kau dan Ceri”.
“Kenapa?”.
“Kalian begitu saling menyayangin”.
“Awalnya aku tidak menyukainnya”.
Kay menolek, “kenapa?”.
“Ceri adalah anak dari  ayah tiriku yang hobinya main judi dan mabuk-mabukkan. Jika aku melihat Ceri aku selalu teringat dengan apa yang dilakukannya ayahnya  pada kakakku,” diam sejenak, “ketika ibu meninggal aku baru sadar, sekarang tinggal Ceri saudaraku satu-satunya dan kami harus saling melindungin,” cerita Alina.
“Kau tidak bernian membencinya”.
“Mungkin kau benar,” kata Alina seraya tersenyum.
***
Setelah mendapatkan telpon dari Ibu tiri Kay, Heru segera menemuinnya dirumah orang tua Kay, “sore tan,” sapa Heru sopan.
“Kau sudah datang,” melihat Heru, “duduklah”.
“Baiklah,” lalu duduk di sofa, “kenapa tante ingin bertemu denganku?” tanya Heru yang penasaran.
“Kau laki-laki baik, pintar dan bekerja keras. Kenapa kau lebih memilih menjadi asisten Kay di bandingkan bekerja bersama Pak Rudi di hotelnya. Aku denggar Pak Rudi sudah menawarkan pekerjaan padamu”.
“Aku menyukain pekerjaanku ini”.
“Hanya itu?” Ibu yang tidak nyakin.
“Ya”.
Ibu tersenyum sinis, “aku tidak nyakin dengan jawabanmu. Tapi itu tidak ada untungnya denganku,” lalu menatap Heru, “kau pastih tahu dimana Kay tinggal?” tanya Ibu yang lalu ke inti masalah kenapa dia memanggil Heru.
“Ya”.
“Dimana?”.
“Maaf. Aku tidak bisa mengatakannya”.
“Apa Kay menyuruhmu untuk tidak mengatakannya?”.
“Ya”.
“Tenyata kau sangat setia dengan Kay. Apa kau tidak takut aku pecat?” Ibu mulai mengacam Heru.
Namun Heru tidak gentar, “sebelumnya aku mintak maaf, tapi tante tidak ada hak untuk memecatku”.
“Apa katamu!!” marah Ibu mendenggar kata-kata Heru.
“Selain Kay tidak satu pun yang berhak memecatku, walaupun itu om Darmawan,” Heru mempertegas perkataannya.
“Mentang-mentang Kay melindunginmu kau mulai kurang ajar denganku!!”.
Heru berdiri, “aku tidak pernah berlindung di belakang siapapun. Sebelumnya aku mintak maaf bersikaf tidak sopan pada tante. Aku permisih tan,” ketika membalikkan tubuhnya, Heru melihat Adriel berdiri di depan pintu menatap tajam kearahnya, “selamat sore,” sapa Heru pada Adriel.
Adriel mendekatin Heru, “katakan pada Kay, aku ingin bertemu dengannya,” Adriel melihat keraguan di wajah Heru, “jika kau tidak bisa memberitahu dimana Kay tinggal setidaknya kau bisa menyampaikan pesanku ini padanya khan?”.
“Iya, aku akan sampaikan pesanmu”.
Adriel tersenyum yang dibuat-buatnya.
***
 Kay makan malam bersama Alina dan Ceri di meja makan. Kay yang melihat Alina hanya masak nasi goreng untuk makan malam mereka membuat Kay bosan yang setiap hari harus makan nasi goreng, “selain nasi goreng apa tidak ada masakan lain yang kau bisa?” tanyan Kay.
“Selain kecap dan cabe isi kulkasmu apa aja,” jawab Alina sambil makan.
Kay baru menyadarin kalau kulkasnya tidak ada apa-apa yang bisa di masak, “ayo kita belanja,” sambil berdiri.
“Apa,” Alina dan Ceri terkejut, “apa gak kemalaman kita belanja,” ucap Alina.
“Kak Alina benar, mana ada pasar buka malam-malam,” sambung Ceri.
“Apa selama ini kau tidak mengenal adanya supermarket yang menjual kebutuhan dapur,” kata Kay pada Ceri.
“Aku tahu, tapi…”.
“Apa kau ingin kita besok makan nasi goreng lagi?”.
Ceri mengeleng.
“Kalian bicara apa sihh…?” tanya Alina yang tidak mendenggar pembicaraan Kay dengan Ceri.
“Kak kita belanja yuk,” ajak Ceri.
“Ceri!”.
“Ceri benar, hari ini kita harus belanja. Bukannya katamu isi kulkasku tidak ada yang bisa di masak dan juga peralatan dapurku juga tidak lengkap. Ayo kita belanja,” semangat Kay.
Alina tersenyum melihat sikaf Kay yang tidak jauh bedah dengan sikaf Ceri.

Mereka bertiga pergi ke Moll namun langsung ke tempat menjual kebutuhan sehari-hari yang berada di lantai satu. Kay mengambil kereta dorong untuk membawa barang belanjaan mereka nantinya. Kay melihat Alina yang sejak tadi bingung mau membeli ikan, ayam atau daging membuatnya muak, “bisakah kau cepat memilih?”.
Alina menolek, “besok kau mau makan apa?”.
“Hahhh… jadi dari tadi kau mikirkan itu?!”.
Alina mengangguk.
“Kau ini!!” Kay mengambil ikan, ayam dan daging  dan langsung dimasukkannya ke dalam keranjang.
“Apa yang kau lakukan?! Apa kau habis makan sebanyak?!”.
“Apa kau tidak pernah mengetahuin  fungsi dari kulkas?!”.
Alina tersenyum malu, “maaf”.
“Ayo Ceri,” Kay mengajak Ceri berjalan duluan dan meninggalkan keranjang pada Alina.
Alina mengikutin mereka dari belakang. Kay dan Ceri bertugas  memutuskan akan membeli apa sedangkan Alina  bertugas mendorong kereta keranjang dan mengikutin kemana mereka pergi. Kay mengambil sayur-sayuran, makanan kaleng, rempah-rempah, mi dan kebutuhan lainnya sedangkan Ceri mengambil makanan ringan. Kali ini Alina membiarkan Kay memajakan Ceri sesukanya.
Ketika di tempat peralatan dapur Kay mengambil kuali di setiap ukuran, panci setiap ukuran, sendok makan, gelas, piring, mangkok-mangkok, sapu, kain pel beserta cairan pembersi lantai dan alat-alat lainnya yang dibutuhkan.
Alina yang melihat kemahiran Kay dalam memilih membuatnya kagum, “kau terlihat pahir memilih,” pujinya.
“Aku hidup sendiri diharuskan untuk belajar mandiri”.
“Aku pikir kau hanya anak manja yang hanya mengadalkan kekayaan orang tuamu”.
“Kadang aku seperti itu”.
“Apa”.
“Memang salah aku menikmatin kekayaan orang tuaku?”.
“Tidak”.
Kay mengambil alih mendorong kereta, “itulah kehidupan,” lalu mendorong kereta tempat kasir untuk membayar barang belanjaan mereka.
Ketika selesai membayar barang belanjaan, mereka langsung memutuskan langsung pulang. Namun ketika di pintu masuk Moll mereka bertemu dengan lintenir beserta anak buahnya. Lintenir itu sangat senang melihat Alina dan Ceri, “tenyata Jakarta ini sangat sempit,” ucap lintenir itu tertujuh pada Alina.
Alina sangat ketakutan namun berusaha untuk kuat,  sedangkan Ceri bersembunyi di belakang Kay. “Jangan ganggu mereka, bawak aja aku,” ucap Alina menyerahkan diri.
Kay yang mendenggar yang ucapkan Alina seakan tidak percaya, “apa yang kau katakan!!” sambil memengang tangan Alina untuk menahannya pergi.
“Mereka bisa melukain kalian. Tolong bawak Ceri pergi,” mohon Alina pada Kay.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan kau menyerahkan diri pada mereka!! Apa kau lupa! Kau sudah berusaha melepaskan diri darinya mereka, sekarang  malah kau menyerahkan diri!!” marah Kay.
“Kau tidak tahu siapa mereka!!”.
“Diam!!” marah lintenir itu yang melihat perdebatan mereka berdua, “ikut aku atau mereka celaka!” acam lintenir itu pada Alina.
“Lepaskan aku!” kata Alina pada Kay yang masih memengangnya.
Kay mulai bicara pada lintenir itu, “aku suaminya”.
Kata-kata Kay membuat Alina terkejut, “kau bicara apa!”.
“Hahahaha….” Lintenir itu tertawa berserta anak buahnya, “tenyata kau sudah punya suami, ini tambah menarik”.
“Aku tidak akan membiarkan kau membawa istriku!” kata Kay pada lintenir itu.
“Kau mengacamku?!”.
“Di Moll ini sekitar 10 sampai 15 penjaga dan ketika terjadi sesuatu dengan cepatnya salah satu dari mereka akan menelpon polisi,” lalu tersenyum sinis, “dan mungkin kita harus bertemu lagi di pengadilan,” yang mulai menakut-nakutin para penjahat itu.
Lintenir itu mulai ketakutan dengan acaman Kay, “siapa sebenarnya kau?!”.
Kay memberikan kartu nama  yang sebelumnya diambil dari dompetnya.
Di kartu nama itu tertulis nama Kay Dwight Frank seorang pengacara di salah satu perusahaan pengacara di Amerika, “kau pengacara”.
“Walaupun aku pengacara di Amerika, aku punya beberapa teman pengacara, polisi dan hakim di Indonesia. Dengan satu ketukkan  aku pastihkan kalian akan lama di penjara,” acam Kay dengan nada halus.
“Baik, kali ini kalian selamat. Tapi ingat, ini tidak akan tahan lama. Ayo pergi,” lalu lintenir itu pergi bersama anak buahnya meninggalkan Moll.
Kay tersenyum lebar melihat ketakutan yang di tujukkan para penjahat itu, “aku pikir mereka tidak akan takut tenyata sebalikkannya,” lalu menolek kearah Alina hanya yang masih menatapnya, “kenapa kau melihatku seperti itu? apa ada sesuatu di wajahku?”.
Alina melepaskan tangannya, “sebaiknya kita pulang,” sambil melangkah keluar bersama Ceri.
Kay tahu mengapa Alina bersikaf dingin padanya.
*** 


Bersambung


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar