Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyer 3


Rian melihat Klara sedang duduk di taman kampus. “sedang apa kau?” tanya Rian sambil duduk di sebelah Klara.
Klara menghapus air matanya, “tidak apa-apa”.
“Gara berita itu?” tebak Rian.
Klara diam.
“Itukan hanya berita. Bukannya kau sudah tunjukkan kau akan menjadi dosen yang baik,” nasehat Rian, “tidak salah jika kita menonton grup idolah kita. Esa juga menyukainnya”.
Klara menatap Rian, “jadi benar kau ada di Bandung waktu itu”.
“Iya. Saat itu aku mengira kau Esa”.
“Aku tahu,” sambil tersenyum, “waktu itu kau memanggilku Esa, sebab itulah aku pergi dari meja itu”.
Rian tersenyum.
“Jadi kau yang memberitahu aku ada di Bandung?”.
“Berry yang menyebarkan berita itu. Dia melihat kau di Bandung juga”.
“Siapa Berry?”.
“Kau tidak tahu mahasiswamu?”.
Klara termenung, “jadi bukan dia?”.
“Siapa?”.
Klara hanya tersenyum.
***
Didepan pagar, Paris berdiri menyadar di mobilnya. Ditatapnya pagar itu sambil membayangkan kejadian 18 tahun yang lalu saat dirinya berumur 10 tahun dan Klara 7 tahun.
“Ambil ini pangeran,” sambil memberikan leontin berbentuk kelinci, “tadi siang aku beli dengan uang tabunganku”.
“Trimah kasih Cinderela,” senang melihat lionti kalung itu.
“Karna Ayah melarang aku membeli kelinci untuk pangeran jadi aku beli kalung itu aja untuk pangeran. Pangeran suka kelinci khan…”.
“Iya. Karna kau sangat mirip dengan kelinci,” kata Paris kecil.
Klara kecil tersenyum.
Bayangan itu buyar saat Paris melihat Klara pulang berjalan kaki, langsung di simpannya kalung itu ke saku jasnya.
“Kau sedang apa disini?” tanya Klara heran melihat Paris di depan rumahnya.
“Kau tidak apa-apa? matamu masih bengkak,” tanya balik Paris.
“Tidak sofat balik bertanya. Kau tahu dari mana rumahku??” binggung Klara yang setahunya dirinya belum pernah mengajak Paris ke rumahnya atau memberitahu alamat rumahnya.
“Kau tidak mau mintak maaf? Aku rasa kau tahu bukan aku orangnya”.
Klara diam sejenak, “maaf. Aku pikir kau yang menyebarkannya, ternyata ada mahasiswa yang melihat aku di Bandung juga, “lalu memengang pipi Paris yang di tamparnya tadi siang, “tamparanku tidak sakit khan…”.
Paris tersenyum menatap Klara. Melihat Paris menatapnya Klara menurunkan tangannya dari pipi Paris. “Masuklah, sudah malam,” kata Paris sambil masuk ke dalam mobil, “besok kita bertemu di kampus,” Paris masuk mobil, lalu menjalankan mobil kearah ampartemennya yang lumayan jauh dari rumah Klara.
“Tatapan itu,” Klara mengingat saat Paris menatapnya, “tidak asing,” Klara menarik nafas panjang, lalu masuk ke dalam rumah.
***
Dirumah Erika. Erika masih teingat jelas saat Rian sedang mengobrol bersama Klara di taman, air mata tiba-tiba jatuh di pipinya, “Apa harus untuk kedua kalinya,” yang terus menahan perasaannya pada Rian selama ini.
***
Baru selesai mandi, Klara di kangetkan dengan suara hp di atas kasur, langsung di angkatnya, “halo….”.
“Klara… kau dimana?” tanya Eka.
“Di situ berisik baget! Kau sekarang dimana?” tanya balik Klara.
“Aku di putusin Parlin hu….” Eka menanggis.
“Bodoh! Cumak gara-gara cowok nanggis. Kau sekarang dimana?”.
“Diskotik tempat biasa,” jawab Eka.
Klara langsung ganti pakaian. Bergengas menemuin Eka yang terdenggar dari suaranya sudah sangat mabuk.

Ketika didiskotik, Klara langsung menemuin Eka yang sudah didekatin 2 pria yang duduk dikanan kirinya. “Wahhh temanmu cantik juga,” puji salah satu pria itu pada Klara.
“Kau sedang apa disini?” tanya Klara pada Eka yang sudah sangat mabuk.
“Senang-senang,” jawab Eka yang mau minum lagi.
Klara langsung merampas botol di tangan Eka, “ayo kita pulang!”.
“Mau kemana sayang,” goda 2 pria itu sambil memengang tangan Klara.
“Jangan kurang ajar!” langsung melepaskan tangan pria itu dari tangannya.
Tiba-tiba beberapa aparat keamanan masuk ke dalam diskotik, “kami polisi, diharapkan pengujung mengeluarkan KTP,” kata salah satu polisi.
Klara memukul Eka, “ini gara-gara kau!!” kesal Klara.
Semua pengujung yang tidak membawa KTP di bawak polisi terutama Klara dan Eka. Wartawan yang mencari beritapun tak mau ketinggalan berita langsung saja memoret pengujung yang terjerat rajia. Klara menutup wajahnya dengan kedua tangannya agar tidak bisa di poret oleh wartawan.
Didalam mobil Klara pusing harus melakukan apa. mau telepon Ayah itu tak akan dilakukannya karna Ayah bisa marah besar padanya.
“Bagaimana kalau mintak bantuan dengan pengacara itu?” kata Eka yang sudah setengah sadar.
“Haaa… ini gara-gara kau!” marah Eka.
***
Berkali-kali Paris menguap, baru beberapa menit Paris menutup mata, hpnya berbunyi, langsung Paris mengangkatnya, “halo…”.
“Kau sekarang dimana?” tanya Klara yang sudah berada di kantor polisi.
Ada apa?” Paris bangkit dari tempat tidur.
“Kau pernah bilang, jika aku membutuhkan pengacara yang baik, aku bisa hubungin kau,” ragu-ragu Klara.
“Kalau tak mau cerita aku tidak akan bantu”.
“Aku sekarang lagi di kantor polisi. Kami terjerat pengujung tak membawa KTP dan bersama 2 pria hidung belang,” cerita Klara.
“Tapi kau kan tadi di rumah?!! Kenapa??” tiba-tiba hp terputus. Paris menarik nafas panjang.
***
“Bagaimana?” tanya Eka.
“Ini gara-gara kau?!” marah lagi Klara.
Ketika giliran mereka berdua  dan 2 pria yang bersama mereka di data petugas. “siapa 2 perempuan ini?” tanya petugas pada 2 pria itu.
“Pelacur pak,” jawab Salah satu pria itu.
“Apa!” kanget Klara.
“Diam!!” marah petugas pada Klara. “jadi mereka pelacur?”.
“Ya iyalah Pak”.
“Sayang….” Seseorang memeluk Klara dari belakang. Klara menolek ke belakang heran melihat sikap Paris padanya. “Sayang… maafkan aku ya sudah meninggalkan kalian berdua,” dengan wajah sedih.
Ada siapa?” tanya petugas.
Paris menjulurkan tangannya, “Saya pengacara Paris, tunangan perempuan ini,” sambil memengang bahu Klara.
“A…pa…” kanget Klara mendenggar perkataan Paris pada petugas.
“Tapi kata 2 pria ini 2 wanita ini pelacur,” kata petugas.
“Apa! boleh aku bicara pada 2 pria ini Pak?”.
“Silakan,” petugas meninggalkan mereka.
Paris duduk di kursi dimana petugas yang tadi duduk, “kalian mau berapa?” tanya Paris.
“Tenyata kau pengacara yang hebat, tahu isi pikiran kami,” kata salah satu pria itu.
“Aku tidak suka berteleh-teleh”.
“kami mintak 10 juta,” kata temennya.
“Wahhh luamayan besar,” sambil tersenyum, “sekarang aku ingin kalian memilih 2 pilihan,”sambil menatap 2 pria itu, “kalian memilih uang atau di penjarah?!”.
“Ha…ha….ha… jika kami di penjara, tunanganmu juga di penjara!” acam salah satu pria.
“Benar juga. Tapi aku pastikan kalian akan lebih lama,” percaya diri, “aku denggar kalian melakukan ini bukan sekali atau dua kali, sudah sangat sering. Malah kalian sudah beberapa kali masuk penjara karna kasus yang sama. Dan kalian juga mengedar nakotika, aku rasa polisi belum tahu, bagaimana jika polisi tahu, kalian mau di hukum berapa tahun??” tanya Paris sambil tersenyum.
“Kau tahu dari mana?” tanya salah satu pria itu lagi.
“Apa perluh aku suruh polisi untuk memeriksa kosan kalian”.
2 pria itu terdiam.

Setelah 2 pria itu mengaku, bahwa Klara dan Eka bukan pelacur. Polisi pun membebaskan Klara dan Eka dengan jaminan yang berikan Paris pada polisi. Setelah mengantar Eka pulang,  barulah dirinya mengantar Klara pulang, “jangan kemana-mana lagi,” kata Paris.
“Iya,” jawab Klara sambil keluar dari mobil, “trimah kasih ya…”.
Paris tersenyum, lalu pergi. Klara melihat mobil Paris tak nampak lagi, barulah dirinya masuk kedalam rumah.
***

Esoknya. Di kampus  heboh dengan artikel di salah satu web yang berisi tentang rajia yang dilakukan polisi semalam disalah satu diskotik di Jakarta, namun bukan karna isi artikel saja yang membuat heboh namun foto yang termuat di artikel. Baik dosen maupun mahasiswa sudah tahu tentang artikel tersebut.
“Bisa Pak Rian jelaskan, apa maksud isi artikel ini?” tanya Pak Rudi, “dan kenapa foto Ibu Klara yang termuat di artikell ini!!” sambil menujukkan artikel  di lentopnya.
Rian hanya diam.
“Kenapa diam saja!!! kapan Pak Rian memecatnya!!”.
“Kasih satu kesempatan lagi. Aku mohon…”.
“haa!!!”.
***
Sejak keluar dari taxi. Semua tatapan sinis melihat kearahnya baik itu mahasiswa maupun itu dosen yang di lewatinnya, “mungkin gara-gara masalah kemarin,” dugaan Klara yang mengira seluruh kampus masih kesal padanya karna masalah ke Badung. Klara langsung duduk di meja kerjanya, dilihatnya Benny dan Joni sedang membaca sesuatu di lentop, “kalian sedang apa sih…” tanya Klara.
“Baca ini,” kata Benny meletakkan lentop di atas meja Klara.
Klara melihat lentop. Bertapa terkejutnya Klara melihat artikel yang memuat foto dirinya saat di  tangkap polisi semalam. Dilihatnya teman-teman di dalam ruangan yang pura-pura tidak melihatnya. klara berusaha menutupin rasa malu pada semua orang dengan menutupin wajahnya dengan kedua tangannya.
“Ibu Klara, aku mau bicara,” kata Erika lalu keluar dari ruangan. Klara mengikutin Erika sampai taman, “Kenapa kau selalu buat masalah?!”.
“Maksud Ibu soal artikel itu?”.
Erika diam menatap Klara.
“Aku bisa jelaskan soal artikel itu”.
“Aku tidak penduli. Jika kau tidak berminat menjadi dosen sebaiknya kau segera mundur dari pada kau akan buat masalah lebih besar lagi!” lalu meninggalkan Klara sendiri.
“Kasar banget kata-katanya,” ucap Klara.
***
Hp berbunyi, Paris langsung menggangkatnya, “halo…”.
“Kau sudah baca artikel tentang Klara?” tanya Jenni..
“Artikel?”.
“Aku baru lihat di internet ada artikel memuat foto Klara”.
Paris langsung membuka artikel dari komputernya. Betapa terkenjut Paris membaca isi artikel itu, “cari tahu tentang penulis artike ini?” perintah Paris.
“Baiklah,” jawab Jenni lalu mematikan hpnya.
Tatapan Paris terus tertuju pada foto yang di muat pada artikel.
***
Paris menemuin seorang pria sedang menikmatin secangkir kopi dan donat. “Kau yang namanya Iwan?” tanya Paris.
Iwan melihat cowok yang berdiri dihadapannya, “siapa kau?” tanya Iwan.
“Intinya saja. kau harus menghapus artikel tentang pelacur itu.”
“Ha…ha…” Iwan tertawa, “kenapa aku harus menghapusnya?”.
“Foto wanita yang kau muat di artikelmu itu tunannganku.”
“Kalau aku gak mau menghapusnya. Kau  mau apa?!”.
“Aku sudah mengiranya,” lalu melemparkan beberapa lebar kertas di atas meja.
“Apa ini,” tanya Iwan lalu melihat isi kertas-kertas itu.
“Tiga bulan yang lalu kau melakukan kekerasan pada seorang artis hanya ingin memdapatkan berita, sebulannya kau melakukan pelecehan pada anak di bawah umur. Bulan ini sekitar 3 kasus kau menyuruh orang untuk membuat kasus agar kau mendapatkan berita yang bagus, seminggu yang lalu kau merampas berita wartawan Koran lain. Bagaimana kalau… polisi tahu semua, aku rasa…” acam Paris.
“Dari mana kau tahu?”.
“Kalau tidak salah setahun yang lalu kau dipecat dari perusahaan yang lama dengan kasus yang sama”.
“Siapa kau sebenarnya? Dan dari mana kau tahu itu semua?”.
“Aku sudah katakan, aku tunangan wanita itu, dan soal aku tahu dari mana, itu sangat kecil bagiku,” lalu membalik tubuhnya.
Baru beberapa langkah Paris melangkah, “Tunggu,” panggil Iwan.
Paris menghentikan langkahnya.
“Gua akan menghapus artikel itu.”
Paris tersenyum mendenggar jawaban Iwan sambil melajutin langkahnya keluar dari Moll.
***
Klara keluar dari kampus. Dilihatnya Paris berdiri di depan mobinya, “masuklah, aku antar kau pulang,” kata Paris.
“Eeehhh… kau tahu soal artikel itu?”.
Paris melihat mata Klara berkaca-kaca, “sepertinya kau habis menanggis”.
“Aku… Aku malu sekali,” yang berusaha untuk tersenyum.
“Aku tahu. Tapi kau tidak usah kuatir lagi, artikel itu sudah terhapus”.
Klara menatap Paris, “bagaimana caranya?”.
Paris tersenyum, “kau lapar?”.
“Tapi kalau pun artikel itu sudah di hapus, faktanya seluruh kampus sudah tahu”.
“Tidak mungkinkan aku menyuruh mereka untuk menghapus seluruh isi otak mereka”.
“Apa”.
“Dengan berjalannya waktu, berita itu akan hilang sendirinya”.
“Benar juga”.
“Ayo masuk,” kata Paris masuk dalam mobil. Klara pun ikut masuk mobil, lalu mobil berlaju kencang kearah selatan.
***

Beberapa hari kemudian. percis apa yang dikatakan Paris pada Klara, berita itu akan hilang berjalannya waktu. Semua dosen dan mahasiswa tidak lagi menanggapin masalah artikel itu karna dalam sehari artikel itu muncul dan hilang. Sikap mahasiswa dan dosen pada Klara sudah kembali seperti biasanya.
“Hukum pidata adalah salah satu bidang hokum yang mengatur hubungan-hubungan antara individu-individu dalam masyarakat dengan saluran tertentu,” Klara menjelaskan di depan kelas tanpa melihat buku, “Hukum perdata dapat digolongkan, antara lain hokum keluarga, hokum harta kekayaan, hokum benda, hokum perikatan dan hokum waris. Siapa yang bisa menjelaskan pengertian dari 5 hukum yang Ibu sebut tadi??” tanya Klara pada semua mahasiswa di kelas.
***
“Siapa yang tahu undang-undang perlindungan korban dan saksi?” tanya Paris pada Mahasiswa yang sedang memperhatikan dirinya menjelaskan materi hari ini.
“Pasal 34 Pak,” jawab Rika yang duduk paling depan di depan meja dosen.
“Tahu isinya?”.
Rika menggeleng.
“Siapa yang tahu?”.
Tidak ada mahasiswa yang menjawab.
Karena tidak ada yang menjawab, Paris menyebutkan pasal 34, “Ayat 1 setiap korban dan saksi dalam pelanggaran hak asasi manusia yang berat berhak atas perlindungan fisik dan mental dan ancaman. Gangguan, terror dan kekerasan dan pihak manapun. Ayat 2 perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hokum dan aparat keamanan secara cuma-cuma, ayat 3 ketentuan mengenai tata cara perlindungan terhadap korban dan saksi diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah,” penjelasan Paris di depan gelas tanpa melihat buku. “kita ke pasal 35,” tiba-tiba hpnya bergetar dari sakunya, Paris membaca isi sms dari Klara, ternyata kau hebat juga jadi dosen, tanpa melihat buku bisa menyebutkan satu persatu ayat. Oh… iya aku lupa kau kan pengacara, wajar aja… tapi kau hebat., Paris tersenyum setelah membaca sms.
“Dari pacar ya Pak?” tanya Eva yang duduk di sebelah Rika.
Paris tersenyum.
“Yeeeee…..”goda satu kelas.
“Kita lanjutkan belajarnya?” kata Paris yang senyuman masih di wajahnya.
***
Hari sudah pukul 12 siang. Klara sudah selesai mengajar mau keruang dosen dahulu untuk meletakkan tugas-tugas mahasiswa di meja kerjanya, setelah itu baru dirinya pulang. Ketika mau keruangan, Klara melihat Rian dan Erika berjalan berdua menuju ruangan dosen. Klara mendekatin mereka berdua. “Hai…” sapa Klara.
“Ibu Klara sudah selesai mengajar?” tanya Erika.
Klara tersenyum, “Iya, baru saja. ngomong-ngomong kalian bersama terus, kalian pacaran?” tanya Klara.
Wajah Erika langsung memerah, “aku duluan,” mempercepat langkahnya.
“Kenapa Ibu Erika?” Klara melihat Rian diam, “kakak pacaran dengan Ibu Erika?” tanya Klara lagi yang berjalan bersama dengan Rian.
“Kau ngomong apa, kami hanya berteman,” jawab Rian.
“Ohhh….”. ketika sampai di ruangan Klara langsung meletakkan tumpukan kertas di atas meja, “aku pulang duluan,” kata Klara lalu keluar dari ruangan. Ketika di depan pintu utama masuk kampus, Klara didekatin oleh Liga mahasiswa yang di ajarnya. “ada apa?” tanya Klara.
“Ibu pulang sendiri kan?? Saya antar ya bu?” kata Liga menawarkan diri.
Klara tersenyum, “nanti pacarmu bisa marah”.
“Aku tidak punya pacar bu”.
“Masa sihhh….”.
“Bener bu,” menyakitkan Klara.
“Ibu Klara sedang apa?” kata Paris sambil memengang bahu Klara dari belakang.
Klara menolek ke belakang, “Pak Paris,” sambil memengang lenggan Paris, “kita pulang bareng ya Pak Paris,” sambil menatap Paris memberikan isyarat pada Paris untuk mengatarnya pulang.
“Iya,” jawab Paris.
“Liga, lain kali aja ya, Ibu ada urusan dengan Pak Paris. Ayo…” tarik Klara sampai di depan mobil. “lepas juga,” legah Klara sambil melepasakan tangannya dari lenggan Paris..
“Aku antar kau pulang,” kata Paris lalu masuk dalam mobil.
“Ok,” Klara masuk dalam mobil.
“Kenapa kau tidak suka sama Liga? Dia tampan,” tanya Paris sambil menyetir mobil menuju rumah Klara.
“Aku tidak suka aja,” jawab Klara.
“Kalau dengan aku?”.
“Jangan mulai dehhh…” yang mengira Paris bercanda, “tapi kau gak seriuskan suka denganku”.
“Aku Serius. Aku suka denganmu”.
“Apa”.
“Aku ulangin lagi. Aku suka kau,” yang masih menyetir.
Diam sejenak, “sejak kapan?”.
“Sudah lama”.

Setiba di rumah, Klara langsung keluar dari mobil, “sampai ketemu besok,” lalu masuk ke rumah.
Paris melihat dari balik kaca mobil Klara membuka pagar, Klara masuk tanpa menolek kearah Paris yang masih di luar pagar yang melihatnya.
***
“Kenapa diam saja?” tanya Rian yang mengatar Erika pulang menggunakan mobil miliknya.
“Tidak ada,” jawab Erika berusaha untuk tersenyum.
“Kau masih memikirkan perkataan Klara?”.
Erika diam.
“Tidak usah kau pikirkan, kau tahu kan Klara selalu asal bicara”.
“Iya. Aku tidak memikirkan itu kok,” kata Klara yang berusaha untuk tenang.

Setiba di rumah, Erika keluar dari mobil, “mampir,” tawar Erika.
“Lain kali saja, sudah malam,” jawab Rian dari dalam mobil, “aku pulang,” lalu menjalankan kembali mobil kearah rumahnya.
***

“Ini berkas Klien besok yang kau hadapin di pengadilan,” kata Jenni meletakkan di atas meja. Paris langsung membaca berkas. “kau hari ini tidak ke kampus?”.
“Nanti siang,” jawab Paris.
“Sepertinya kau mulai kerepotan mengatur jadwalmu”.
“Ya”.
“Mau aku gantikan?”.
“Tidak perluh. Kau juga pastih banyak kerjaan”.
Jenni duduk di sofa, “cumak karna ingin dekatin seorang gadis, kau lakukan semua ini”.
Paris diam.
“Kapan berakhir ceritamu ini”.
“Aku tidak tahu”.
“Sebaiknya secepatnya. Kau tidak mau kan orang tua angkatmu tahu tujuanmu ke Indonesia”.
“Ya, aku tahu itu”.
***
Selesai mengajar, Klara keluar dari kelas, baru beberapa langkah Klara keluar dari kelas Liga memanggil Klara, “Ibu Klara!!” Liga mendekatin Klara.
Klara menolek, “ada apa?”.
“Saya mau tanya soal materi tadi bu,” alasan Liga.
“Yang mana?”.
Liga membuka buku untuk tunjukkan materi mana yang tidak di mengertinya, “yang ini bu”.
Tak jauh dari mereka, Sarah melihat Liga berusaha mendekatin Klara, “awas kau bu!!” cemburu Sarah melihat mereka berduaan.
***
Erika di panggil Pak Rudi ke ruangannya. “Ada apa Pak?” tanya Erika.
“Saya mau tanya soal Ibu Klara. Kalau nanya Pak Rian pastih di belah, setidaknya Ibu tidak,” kata Pak Rudi.
“Bapak mau nanya apa?”.
“Menurut Ibu bagaimana cara mengajar Ibu Klara?”.
“Baik Pak, tidak ada yang komplet dengan cara Ibu Klara mengajar, cumak… cara berpakaiannya saja saya tak suka”.
“Mahasiswa juga banyak yang tak suka pakaian bu Klara, belebihin dari mahasiswa. Kalau pengacara Paris?”.
***
Rian melihat Erika keluar dari ruang Pak Rudi, “ada masalah?” tanya Rian.
“Tidak. E… Pak Paris itu pengacara?”.
“Katanya sih iya. Kenapa?”.
“Tadi Pak Rudi bilang Pak Paris adalah pengacara Pak Hendrik waktu di pengadilan. Tapi… kenapa tiba-tiba Pak Paris menggantikan Pak Hendrik mengajar di kampus ini”.
“Kalau itu aku tidak tahu”.
“Aku lihat juga Klara sangat dekat dengan Pak Paris. Apa mereka pacaran?”.
Rian diam.
***
Paris melihat klara berdiri di depan gerbang kampus. Paris mengambil hp dari sakunya, lalu menghubungin no  Klara, “halo…”.
“Halo… ada apa?” tanya Klara menjawab telepon dari Paris.
“Perluh aku antar kau pulang?”.
“Kau dimana?”.
“Coba kau balik tubuhmu,” perintah Paris.
Klara membalik tubuhnya mencari Paris menelponnya, setelah melihat Paris, Klara melambaikan tangan. Paris tersenyum, namun mata Paris tertujuh pada sebuah mobil kijang berwarna merah berhenti di depan Klara, “Klara…!!” panggil Paris melaluin hp.
Ada apa?!” tanya Klara mendenggar Paris berteriak. Tiba-tiba 2 pria memaksa Klara masuk kedalam mobil. Paris yang melihat, tanpa pikir panjang langsung berlari mendekatin Klara.
“Tolong!!!” teriak Klara terus memberontak. Namun Klara berhasil di paksa masuk ke mobil dan langsung pergi meninggalkan kampus. Paris tidak berhasil menyelamatkan Klara, dilihatnya no plat mobil, langsung di teleponnya seseorang, “halo… cari mobil kijang merah dengan no polisi B 3725 WR, segera laporkan ke aku,” setelah memerintahkan seseorang untuk mencari mobil yang membawa Klara, Paris melihat hp milik Klara yang sudah rusak karna terjatuh, sepertinya terijak saat Klara di paksa masuk ke dalam mobil. “tunggu aku Klara,” kuatir Paris.
***
“Aku tidak bisa mengatarmu pulang,” kata Rian.
“Tidak apa. Kau kan sudah janji pada pemilik tanah,” jawab Erika.
“Aku pergi dulu,” Rian masuk ke dalam mobil lalu pergi.
“Ya”,  
belum lama Rian pergi, beberapa mahasiswa mendekatin Erika, “Bu Erika!” panggil salah satu mahasiswa.
Ada apa?” tanya Erika.
“Ibu Klara diculik”.
“Apa”.
***
Paris yang sudah mendapatkan info tentang dimana Klara berada, langsung bergegas ke tempat dimana Klara dibawak dengan menggunakan motor dengan kecepatan tinggi.
Setiba di tempat dimana Klara diculik, Paris langsung mencari Klara, “dimana dirimu Klara?” panik paris yang terus mencari.
***
Klara sadar dari pingsatnya, dilihatnya dirinya berada di sebuah tanah kosong di pinggiran kota, “kalian siapa?” tanya Klara pada tiga pria yang berdiri di hadapannya.
“Kami akan membunuh kau,” kata salah satu pria itu.
“Apa salahku?” takut Klara.
“Kami tidak tahu, yang pastih kami di peritahkan membunuh kau!!”.
Klara melihatnya tiga pria itu lagi legah, Klara langsung berlari sekencang-kencangnya, “tolong!!!” teriak Klara sambil berlari.
Tiga Pria itu langsung mengejar Klara, “hei berentih!!!” perintah salah satu pria itu yang terus mengejar Klara.
“Tolong!!!” teriak Klara memintah tolong.
***
Rian melihat tanah kosong yang ditujukkan pemilik tanah. “Kenapa harus malam datangnya Pak, coba siang tadi, jadi lebih jelas lihatnya,” kata  pemilik tanah pada Rian.
“Saya siang tidak bisa, saya harus mengajar Pak,” kata Rian, “aku suka tanah ini, lingkungannya juga nyaman”.
“Ini karna di pinggiran kota”.
“Iya. Aku ingin jauh dari kota”.
“Tolong!!!”, tiba-tiba Rian dan pemilik tanah mendenggar suara teriakan mintak tolong, “Bapak denggar itu?!” tanya Rian pada pemilik tanah.
“Iya pak. Apa kutilanak?” tebak pemilik tanah.
Rian mencari letak suara mintak tolong, yang semakit jelas terdengar. “Tolong!!!”. Rian melihat tiga pria memukul seorang perempuan, tanpa pikir panjang Rian langsung menolong perempuan itu, satu persatu pria itu di pukul oleh Rian.
Klara yang melihat Rian yang ternyata menolongnya terus menanggis menahan rasa sakit di wajahnya karna di pukul 3 pria itu. Tak lama Rian mengalahkan tiga pria itu, dilihatnya perempuan itu ternyata Klara, “Klara…” lalu membantu Klara berdiri.
Langsung Klara memeluk Rian, “Rian… Rian… Rian… hu…hu…” menanggis dipelukkan Rian.
Tak jauh dari mereka berdiri Paris yang melihat Klara memeluk Rian. Senang bercampur sedih. Senang karna Klara bisa selamat, sedih karna bukan dirinya yang menyelamatkan Klara dari penjahat-penjahat itu. Paris melihat salah satu pria itu berdiri sambil mengeluarkan pisau dari sakunya, tanpa pikir panjang Paris mengambil batu besar lalu meleparnya kearah pria itu. Batu itu mengenain kepala pria itu. Rian yang kanget langsung mengajak Klara berlari menjauhin tempat itu.
Tiba-tiba seseoprang memukul Paris dengan kayu dari belakang. Paris langsung membelah diri, satu persatu Paris memukul penjahat yang mengepung dirinya.
“Bapak tak apa-apa?” tanya pemilik tanah pada Rian.
“Ya aku tidak apa-apa,” jawab Rian, yang melihat dari jauh 1 pria yang memakai jaket warna coklat di kepung 6-8 pria sekaligus. Tak lama kemudian polisi datang, langsung mengejar penjahat-penjahat yang menculik Klara.
Tak sampai 1 jam, polisi sudah meringkus semua penjahat yang menculik Klara. Paris tidak melihat polisi menangkap pria yang memakai jaket warna coklat.
Ada apa kak?” tanya Klara melihat Rian diam.
“Apa ada orang lain yang tahu kau di bawak disini?”.
“Tidak. Ada apa?”.
“Aku antar kau pulang,” kata Rian lalu mengantar Klara pulang.

Setiba di rumah. Klara langsung turun dari mobil, “trimah kasih,” kata Klara lalu masuk kedalam rumah.  “sayang…. Kau kenapa?” panik Bunda melihat wajah Klara penuh dengan memar.
“Aku di culik Bun…” renggek Klara.
“Tapi kau tida apa-apa khan…” tanya Ayah.
“Iya”.
“Obatin lukanya,” kata Ayah lalu meninggalkan Klara dan BUnda.
“Ayahmu memang keterlaluan!” kesal Bunda melihat sikaf Ayah yang masih cuek, “ ayo sayang…” ajak Bunda pada Klara ke kamarnya yang berada di lantai 2. setelah mengobatin luka Klara, Bunda menyelimutin tubuh Klara, “tidurlah sayang”.
Klara tersenyum, teringat saat dirinya di tolong Rian. Matanya perlahan demi perlahat tertutup sambil mengucapkan, “dia sangat tampan Bunda”.
Bunda hanya tersenyum mendenggar perkataan Klara.
***
“Dengan luka seperti ini, tidak ada manfaatnya kau datang kesana,” kata Jenni mengolesin salep di punggung Paris yang penuh dengan memar.
“Setidaknya aku tahu Klara tidak apa-apa”.
“Tapi pastih ada kekecewaan khan?”.
Paris teringat saat Klara memeluk Rian.
***

“Aaaahhh…!!” teriak Klara melihat memar di wajahnya.
Ada apa sayang?” tanya Bunda mendenggar teriakkan Klara.
“Wajahku”.
“Ya bagaimana lagi”.
“Bun…da…”.
***
Hari sudah jam 11 siang. Rian melihat Paris keluar dari mobil dengan menggunakan kaca mata hitam berjalan melewatin dirinya dan Erika.
Ada apa? ada yang aneh dengan Pak Paris?” tanya Erika heran tatapan Rian pada Paris.
Rian teringat dengan kejadian semalam saat I pria yang berjaket coklat di kepung 6-8 pria. “tidak salah. pastih dia…” nyakit Rian.
Ada apa?”.
“Semalam aku menyelamatkan Klara. Aku melihat Pak Paris disana”.
“Jadi kau yang menyelamatkan Klara”.
“Aku tak segaja ada di tempat kejadian”.
“Kalian sepertinya jodoh”.
Rian menatap Erika.
***
Semua mata tertujuh kearah Klara yang baru tiba di kampus. Walaupun sudah memakai kaca mata hitam, memar diwajahnya masih nampak terlihat. Klara berusaha menutupin wajahnya dengan buku yang segaja dibawaknya dari rumah. Ketika diruangan Klara langsung duduk di meja kerjanya.
“Ibu Klara tidak apa-apa?” tanya Benny.
“tidak apa-apa,” jawab Klara.
“Sebaiknya kau pulang untuk istirahat,” kata Rian.
Klara mulai salah tingkah, “Iya…”.
“Tok…tok…tok…” pintu ruangan di ketuk, tak lama kemudian terbuka, “pagi pak bu,” kata mahasiswa yang mengetuk pintu.
Ada apa?” tanya Erika.
“Ibu Klara disuruh Pak Paris ke taman,” kata mahasiswa itu.
“Iya. Trimah kasih,” kata Klara pada mhasiswa itu, “aku ke taman dulu,” Klara keluar dari ruangan.
“Mereka pacaran?” tanya Benny.
“Mungkin saja,” jawab Joni.
***
“Memangnya Ayah serius mau menjodohkan Klara dengan Rian?” tanya Bunda yang menemanin Ayah menyatap makan siangnya.
“Kau belum katakan dengan Klara?!” tanya balik Ayah.
“Belum”.
“Apa!! kapan lagi!!”.
“Sayang… aku takut Klara tidak terimah dengan perjodohan ini”.
“Tidak penduli Klara suka atau tidak. Keputusanku tidak bisa di nganggu gugat!!”.
“Iya sayang”.
***
Klara melihat Paris duduk ditaman dengan memakai kaca mata hitam. “kenapa matamu?” tanya Klara, “kau jelek memakai kaca mata,” sambil membuka kaca mata di wajah Paris, “haaaa… kenapa dengan wajahmu!?” kanget melihat luka di alis mata paris.
“Kau kira kau tidak jelek!,” kata Paris yang juga membuka kaca mata di wajah Klara, “lukamu lebih banyak dariku!”.
“Haa… cowok aneh”..
Paris  memberikan bungkusan coklat pada Klara, “ini…”.
“Apa ini,” Klara melihat isi bungkusan, “hp”.
“Hpmu terjatuhkan”.
“Iya.”
Paris mengambil hp dari sakunya lalu menghubungin sebuah nomor. Tiba-tiba hp di tangan Klara berbunyi, di layar hp tertulis pengacara Paris. “Kalau membutuhkan bantuan, telepon aku”.
“Aku mulai tidak enak dengan kau”.
“Kenapa?”.
“Kau jangan menyukain aku lagi ya… aku sudah menyukain seorang pria. Mulai sekarang jauhin aku”.
***
Rian dan Erika makan siang di kantin kampus. Sambil menikmatin pesanan mereka, Erika mencoba bertanya pada Rian, “Kau tidak pernah lagi cerita soal perjodohan itu?”.
“Tidak ada yang perluh di ceritakan,” jawab Rian.
“Kapan kalian tunangan?”.
“Aku tidak memikirkannya”.
Erika tersenyum.
***


Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar