Kamis, 06 Februari 2014

Sinopsis Prime Minister and I Episode 8 Part 1


Da Jung mengejar Woo Ri hingga ke jalan raya. Tanpa ia sadari lampu lalu lintas berubah hijau. Sebuah truk melintas cepat ke arahnya. Da Jung menoleh menatap ngeri.
Namun tiba-tiba sebuah tangan menariknya menjauh agar tak tertabrak truk itu. Yool yang menarik Da Jung, keduanya jatuh gempulingan ke aspal. Woo Ri yang melihat itu ikut terkejut.

Da Jung terkejut melihat Yool ada disana. Yool memarahi Da Jung, bagaimana Da Jung bertingkah ceroboh lari ke jalan raya seperti itu. Yool meminta Da Jung bangun, tapi tatkala ia akan bangun juga, tiba-tiba Yool menjerit kesakitan. Da Jung panik, apa Yool baik-baik saja.
Seo Hye Joo melakukan konferensi pers memberi tahu wartawan bahwa minggu depan Perdana menteri akan mengadakan pertemuan menjelang tahun baru dengan para wartawan dan tempatnya akan berlangsung di kediaman perdana menteri.

Seorang ajudan melapor pada Hye Joo. Ia berbisik menyampaikan sesuatu yang membuat Hye Joo terkejut. Hye Joo pun mengumumkan pada wartawan kalau ia baru saja mendapat informasi perdana menteri berada di rumah sakit karena kecelakaan mobil. Ia pun menyudahi konferensi pers untuk segera ke rumah sakit.
Wartawan yang hadir langsung kasak-kusuk. Diantara mereka hadir pula Boss Go dan Hee Chul dari Scandal News. Boss Go terkejut campur heran, “Kecelakaan mobil? Ada apa ini?”

Hee Chul berusaha menghubungi Da Jung untuk mencari tahu. “Da Jung Noona, ini aku. Aku mendengar ada kecelakaan mobil, apa yang terjadi dengan perdana menteri?” Tapi sayang sepertinya teleponnya ditutup oleh Da Jung.

Hee Chul berkata kalau Da Jung terdengar sangat panik. Pasti dia benar-benar berada di rumah sakit. Boss Go menyahut tentu saja, bagaimana bisa dia merasa tenang jika suaminya berada di rumah skait karena kecelakaan.

Hee Chul merasa kalau yang namanya masa depan itu tak bisa ditebak. Sepertinya belum terlalu lama saat perdana menteri membawa Da Jung ke kantor polisi sebagai seorang penguntit dan sekarang sudah menjadi istrinya PM.
Seseorang mendekati duo Scandal News untuk mencari tahu perihal kecelakaan Perdana menteri. Orang itu menguping sambil menutupi wajahnya. Boss Go menyadari ada seseorang di sebelahnya. Orang itu, Reporter Byun. Boss Go heran apa yang Reporter Byun lakukan di sampingnya. Reporter Byun diam saja hanya memasang tampang polos.

Hye Joo sampai di rumah sakit, disana sudah ada banyak wartawan yang ingin tahu kondisi terkini perdana menteri.
Da Jung berada di ruang rawat pasien, ia mengenakan seragam pasien rumah sakit. Ia yang masih cemas bertanya pada In Ho apa PM akan baik-baik saja. Bagaimana kalau lukanya parah. In Ho menegaskan kalau tak ada luka serius yang dialami PM, tapi tetap saja mereka harus menunggu hasil pemeriksaan. Da Jung khawatir apa yang harus ia lakukan.

In Ho tanya apa Da Jung sangat khawatir. Da Jung menjawab tentu saja, PM terluka karena dirinya.
Hye Joo masuk ke ruangan dimana ada Da Jung dan In Ho. Ia yang cemas bertanya mana PM. In Ho memberi tahu kalau PM sedang melakukan pemeriksaan X-Ray, sebenatar lagi juga kesini. Hye Joo ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa PM bisa mengalami kecelakaan mobil.

PM selesai melakukan pemeriksaan, ia heran sejak kapan In Ho dan Hye Joo ada disini. Da Jung yang masih cemas bertanya apa PM baik-baik saja. Tapi Hye Joo terlihat lebih cemas lagi, apa anda baik-baik saja?

Yool mengatakan kalau kakinya sakit karena cidera otot jadi ia harus istirahat dan jari tangannya sedikit terluka. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan.
In Ho melirik Da Jung yang sedari tadi mencemaskan PM.
Hye Joo ingin tahu bagaimana jari Yool bisa terluka seperti itu. Yool melihat luka di jari tangan kanannya dan teringat kejadian tadi dimana ia menyelamatkan Da Jung dari truk yang akan menabrak. Akibatnya tangannya tertindih tubuh Da Jung ketika jatuh ke aspal.
Yool mengatakan kalau luka di tangannya ini memiliki cerita yang panjang. Ia melirik ke arah Da Jung. “Anggap saja aku kejatuhan batu besar seberat 50kg.”
Da Jung kaget dan menggerutu protes, “Beratku kan bukan 50kg.”
Mendengar ucapan Da Jung, Hye Joo mengambil kesimpulan kalau PM terluka seperti itu karena menyelamatkan Da Jung. Ia melirik kesal ke arah Da Jung. Yool bilang kalau kejadiannya bukan seperti itu. Ia yang mendengar sesuatu heran, kenapa diluar berisik sekali.
In Ho mengatakan kalau wartawan datang ke rumah sakit setelah mendengar PM mengalami kecelakaan mobil. Yool tambah heran karena yang ia alamai ini bukanlah suatu kecelakaan. Yool pun meminta Hye Joo membereskan wartawan yang ada di lobi rumah sakit. Ia juga menugaskan In Ho untuk memberitahukan pada wartawan kalau rapat kabinet yang akan diselenggarakan hari ini ditunda besok. Keduanya mengerti dan segera melaksanakan perintah.
Hye Joo dan In Ho keluar dari ruangan. Hye Joo masih penasaran kenapa PM terluka karena menyelamatkan Da Jung. In Ho menjawab itu karena Woo Ri, kalau Hye Joo membutuhkan keterangan lebih jelas, sebaiknya tanyakan langsung pada PM.

“Kenapa dengan Woo Ri?” gumam Hye Joo.
Da Jung dan Yool masih berada di dalam ruangan. Da Jung duduk ditepi tempat tidur sementara Yool duduk di kursi. Da Jung mengatakan kalau ia sudah menyuruh Woo Ri pulang ke rumah. Yool bertanya apa Da Jung baik-baik saja. Da Jung berkata kalau ia sudah melakukan pemeriksaan kesehatan dan hasilnya ia baik-baik saja. Yool lega mendengarnya.
Da Jung menyesal Yool terluka karena dirinya, ia minta maaf. “Kenapa anda menyelamatkanku dan membiarkan diri anda terluka?”

Yool : “Kalau begitu, apa aku harus membiarkanmu ditabrak mobil?”

Da Jung : “Maksudku, karena aku bukan istrimu maka sebaiknya aku tak ikut campur.”
Yool menegaskan walaupun yang ia lakukan ini hanya pernikahan kontrak, ia bersumpah akan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami (melindungi istrinya). Ia menilai hal itulah yang juga Da Jung lakukan terhadap Woo Ri. “Kau juga sudah berjanji akan memenuhi tanggung jawab sebagai seorang istri. Bukankah begitu?”
Da Jung tak tahu harus mengatakan apa, “Aku… aku… bukan hanya itu alasannya.” Yool tak mengerti, apa maksud Da Jung.
Belum sempat Da Jung mengatakannya, seorang perawat masuk ke ruangan itu. Ia memberikan tagihan administarasi rumah sakit Yool dan Da Jung. Setelah menyerahkan berkas itu perawat pun keluar ruangan.

Yool membaca apa yang tertera disana. Ia terkejut, “Apa ini? Pemeriksaan kanker payudara, pemeriksaan kanker tiroid, pemeriksaan kanker rahim?” (hahahah)
Da Jung menganga kaget, ia akan merebut kertas itu tapi Yool menjauhkan kertas itu dari jangkauan Da Jung. Yool tanya kenapa Da Jung melakukan pemeriksaan ini. Da Jung bingung menjawabnya, ia juga tak mau tapi dokter terus-menerus mendesaknya untuk melakukan pemeriksaan.
Yool : “Apa?”

Da Jung : “Katanya pemeriksaan ini sangat baik untuk wanita yang sudah menikah, jadi aku tak punya pilihan. Aku kan tak bisa mengatakan tentang pernikahan kontraknya.”
“Ah sudah hentikan!” Yool menahan jengkel. “Jika kau terus bicara, aku merasa aku harus melakukan pemeriksaan tekanan darah.” Yool menarik nafas kesal. (Hahahah)

Yool melihat Da Jung berdiri diam saja, “Apa yang kau lakukan? cepat ganti baju!” perintah Yool sambil ngomel.

“Iya iya!” ucap Da Jung.

“Ganti bajunya satu menit lho ya!” sambung Yool (hahaha)
Yool dan Da Jung sudah berganti pakaian. Da Jung memapah Yool jalan supaya kesan kecelakaan mobilnya kelihatan kali ya. In Ho dan Hye Joo berjalan di belakang keduanya. Disana sudah banyak wartawan yang menunggu ingin tahu kondisi terakhir perdana menteri.
Yool bicara pelan pada Da Jung, apa keduanya harus melakukan hal ini juga (jalan pincang dan dipapah). Da Jung berkata apa Yool tidak melihat wartawan disana itu dan juga kata dokter Yool jangan terlalu memaksakan diri. “Anggap saja aku ini tongkat penyangga dan bersandar padaku.”

“Tongkat penyangga? Apa ada tongkat penyangga yang tidak senyaman ini? Kalau kau ingin melakukannya, lakukan dengan benar.” Gerutu Yool. Da Jung berkata itu karena Yool bersandar padanya dengan cara yang aneh.
Yool pun mengganti posisi bersandarnya. Yang semula lengannya dirangkul lengan Da Jung, kini ia merangkul bahu Da Jung sebagai tempat bersandarnya. Da Jung pun merasakan sesuatu yang lain ketika Yool merangkul bahunya. Yool heran kenapa Da Jung diam saja, tidak segera jalan. Tiba-tiba Da Jung jadi grogi, salah tingkah dan terbata-bata mengatakan kalau ia akan jalan kok.
In Ho yang berjalan di belakang menatap tak suka.
Wartawan terus-menerus memanggil PM akan bertanya. Bahkan Boss Go dan Hee Chul juga berulang kali memanggil Da Jung, tapi tak ada sahutan yang keluar dari PM atau pun Da Jung. Rombongan PM pun masuk lift.
Boss Go kesal bukan main diabaikan oleh Da Jung, “Dia bahkan tak memandang ke arah sini. Apa dia Reporter Nam yang kita kenal?” Hee Chul merasa Da Jung mungkin tak mendengarnya. Ia pun mengusulkan bagaimana kalau mereka memilih foto yang paling memalukan untuk di terbitkan ke koran. Boss Go tanya apa menurut Hee Chul hanya sekedar foto saja sudah cukup. “Reporter Nam, kau akan menyesalinya!” gerutu Boss Go menahan kesal.
Reporter Byun mendatangi kantor polisi. Ia memberikan minuman pada dua polisi. Ia juga memperkenalkan dirinya yang seorang warwatan dari koran Goryeo Ilbo. Dua polisi itu heran, kenapa wartawan ada disini menemui mereka. Reporter Byun berkata kalau ia hanya ingin bertanya sedikit tentang perdana Menteri Kwon Yool. (sepertinya ini gara-gara dia menguping obrolan Boss Go n Hee Chul yang mengatakan kalau PM pernah membawa Da Jung ke kantor polisi dengan tuduhan menguntit)
Woo Ri ada di kamarnya. Man Se membuka pintu kamar Woo Ri memberi tahu kalau ayah mereka sudah pulang. Woo Ri berbalik badan menatap tajam adiknya. Man Se pun mengerti kalau suasana hati Hyung-nya sedang tak baik. Ia pun mengucapkan selamat malam pada hyung-nya dan menutup kembali pintunya.
Yool dan Da Jung sudah berada di kamar. Da Jung merasa bukankah sebaiknya Yool bicara dengan Woo Ri, tapi Yool bilang nanti saja.

Yool akan melepas jasnya, melihat itu Da Jung akan membantu tapi Yool melarang, tak usah ia bisa sendiri. Da Jung memaksa membantu karena Yool terluka karena dirinya. Yool bisa meminta bantuan padanya jika melakukan hal-hal seperti ini. Da Jung pun membantu melepas jas Yool.
Yool akan melepas dasi dengan tangan kanannya. Da Jung juga akan membantu melepas dasi itu. Tapi Yool menolak. Da Jung memaksa tak apa-apa kok.
Yool akan melepas kancing baju, Da Jung pun menawarkan akan membantu. Yool menolak tak usah, ia bisa melakukannya sendiri. Da Jung meminta Yool diam saja, biar ia membantu Yool. Yool tentu saja tak mau, “Sudah kubilang aku bisa sendiri!” Keduanya pun rebutan akan membuka kancing baju. Alhasil satu kancing baju Yool malah lepas.. glundung ke lantai hahaha…
Terbukalah baju Yool. Da Jung dan Yool kaget. Yool langsung menutup dadanya dengan tangan kanan. Da Jung berbalik menutup wajahnya, “Perdana menteri aku tak lihat apa-apa kok!”

Yool jengkel dibuatnya, “Aku kan sudah bilang jangan menyentuhku. Kenapa kau tak mendengar. Nam Da Jung, kau ini gadis mesum ya?”
“Apa? Apa anda menyebutku gadis mesum?” Da Jung tak terima disebut begitu.

“Walaupun aku sudah bilang tak mau, kau masih saja melakukannya. Kalau bukan mesum apa lagi?” omel Yool.

Da Jung yang tak terima ia ini bukan gadis mesum, pikiran Yool saja yang cabul. Ia hanya berniat membantu tanpa maksud apa-apa. Giliran Yool yang tak terima disebut cabul.
Yool kembali menutup dadanya dengan tangan kanannya, “Apa kau baru saja mengatakan aku ini cabul? Keluar kau. Keluar selagi aku masih bersikap sabar!”

“Jangan khawatir, aku akan ke kamar Man Se. Ah ya ampun aku ini hanya ingin membantumu!” gerutu Da Jung segera keluar kamar.
Hye Joo minum sendirian di bar. Ia menghubungi In Ho untuk menemaninya minum. Tapi In Ho tak bisa, ia mengatakan kalau dirinya sedang rapat.
Rapat dengan siapa, ternyata dengan Menteri Park Joon Ki. Joon Ki tanya apa itu telepon dari Sekretaris Seo. In Ho membenarkan.
Joon Ki berkata berhubung masalah orang dalam sudah ketahuan, ia yakin Yool akan semakin waspada. In Ho merasa kecewa pada Joon Ki karena membawanya dalam masalah ini. Joon Ki berkata kalau saja ia tahu In Ho akan membantunya, ia tak akan melakukan sesuatu seperti itu.

Joon Ji ingin In Ho memberitahunya kenapa In Ho membantunya. “Apa alasanmu melakukan ini?” In Ho tertawa bukankah ia sudah mengatakannya, ini karena alasan pribadi. Ia pun bertanya apa Joon Ki masih tidak percaya padanya.
Joon Ki ingin In Ho membuktikannya jika In Ho ingin ia percaya. “Kwon Yool yang aku tahu tidak menikahi Nam Da Jung karena dasar cinta. Berikan padaku bukti bahwa pernikahan Kwon Yool adalah palsu!”

“Aku tak bisa melakukannya” tegas In Ho. “Sasaranku adalah Kwon Yool, bukan Nam Da Jung. Menteri Park, bukankah anda menikah karena keluarga? Hanya karena tak ada cinta, apa itu berarti tak bisa menikah?”

Joon Ki : “Apa yang coba kau dapatkan dengan mengusikku?”

In Ho : “Aku akan menutup mata perdana mentri. Dan anda, Manteri Park harus mengikat kaki dan tangannya. Jadi, dia tak akan bisa bergerak selama sisa hidupnya. Seperti kondisi koma.”
Na Yoon Hee di kamarnya tengah membaca buku yang akan ia praktekan untuk merayu suaminya. Ia memakai perfum dan mencoba berlatih menggunakan kaliamat mesra, “Yeobooo kau pasti lelah hari ini.” latihnya dengan nada mesra. Tapi berulang kali ia mencobanya itu tak terdengar seperti kalimat mesra malah terdenga aneh hahaha. Ia menilai itu sulit sekali. Yoon Hee pun akan berusaha lebih keras lagi kalau ia ingin mengakhiri perang dingin dengan suaminya. Ia pun membaca buku lagi.
Tepat saat itu Joon Ki sudah sampai di rumah. Yoon Hee senang melihatnya dan langsung mempraktekan sapaan mesra pada suaminya, “Yeobooo… kau sudah pulang?” Joon Ki heran apa yang Yoon Hee lakukan. Yoon Hee bilang tidak apa-apa kok.

Yoon Hee mulai membuka piyamanya, “Ah apa aku menyalakan pemanas ruangan terlalu lama? Kenapa panas sekali?” Joon Ki semakin heran melihat tingkah istrinya, dikacangin bo hahaha.

“Yeobooo… kau mungkin masih marah karena sikap ayahku tapi ayahku merasa sangat bersalah.” Yoon Hee memakai lagi piyamanya, ia berharap suaminya berhenti bersikap dingin padanya.

Joon Ki menyuruh istrinya keluar dari kamar karena ia ingin istirahat.
“Yeobo!” tiba-tiba Yeon Hee membentak kesal. Tapi sesaat kemudian ia pun menyadari sudah bicara yang kasar. Joon Ki tanya apa dirinya yang harus keluar ke ruang kerja. Yoon Hee bilang tak perlu, ia yang akan keluar kamar. Yoon Hee pun keluar kamar.
Joon Ki mengingat ucapan In Ho tadi, “aku akan menutup mata perdana menteri. Dan anda Menteri Park, harus mengikat kaki dan tangannya. Jadi dia tak bisa bergerak selama sisa hidupnya. Seperti kondisi koma.” Joon Ki bergumam kalau In Ho itu bukan seseorang yang mudah ditebak. Ia pun jadi bertanya-tanya apa tujuan In Ho melakukan itu.
Keesokan harinya, Yool berada di ruang kerjanya memandang foto anak-anaknya atau lebih tepat memandang foto Woo Ri, anak tertuanya.
Yool berjalan menuju jendela, ia memandang keluar jendela sambil meminum minumannya.
Da Jung masuk ke ruang kerja Yool, “Perdana menteri!” panggil Da Jung. Yool menoleh dan seeerrrr Da Jung terpana begitu melihat Yool menoleh padanya.
Yool heran kenapa Da Jung terdiam melamun, apa ada masalah. Da Jung berusaha mengusai dirinya, ia terbata-bata mengatakan tidak apa-apa. Ia datang kesini meminta Yool untuk sarapan. Da Jung pun segera keluar ruangan.
Da Jung berusaha menepis pikirannya yang menurutnya aneh, ia menyentuh jantungnya yang berdegup. “Kenapa aku seperti ini?”
Da Jung berada di kamar menyelesaikan boneka kataknya. Disana ia melihat Yool yang tengah membereskan dokumen pekerjaan. Di matanya saat itu Yool tampak begitu bercahaya.
Tuingggg…. Munculah tanda hati ketika Da Jung memandang Yool. Ia begitu terpesona melihat Yool yang terlihat bercahaya.

Aduh… jari Da Jung tertusuk jarum hahaha. Yool menoleh melihatnya. Da Jung tertawa-tawa hahaha.
Untuk menghilangkan kegalauan hatinya Da Jung berlatih kendo di halaman rumah. Ia mengayunkan pedang kendo kesana-kemari. “Nam Da Jung kau harus fokus. Kau tak boleh begini. Tetaplah fokus!”
“Bahumu tidak lurus!” tiba-tiba Yool menghampiri dan membetulkan posisi bahu Da Jung. “Hal yang paling penting adalah posisimu. Jika kau melakukan posisi dengan benar, maka kau sudah belajar setengahnya.”

“Luruskan!” Yool membetulakn posisi dagu Da Jung yang terlalu menunduk. “Lihat ke depan!” Yool berada di depan Da Jung membetulkan posisi wajah Da Jung.
Yool berdiri di belakang Da Jung memberi instruksi bagaimana melakukan kendo dengan baik. “Dengan kekuatan, ayunkan ke depan!” Kedua tangan Yool memegang kedua tangan Da Jung. “Gerakan kakimu perlahan-lahan dengan percaya diri!”

“Satu. Dua. Tiga.” Da Jung melangkah maju bersama Yool di belakangnya sambil mengayunkan pedang. (Huwaaa asyik liat scene ini hehehe)
Yool memuji kalau Da Jung sudah lebih baik berlatih kendonya. “Aku menyukai kepribadianmu yang ingin belajar. Mulai besok, kau akan ikut latihan.” Da Jung protes, bukankah sekarang musim dingin.

Yool : “Memangnya ada apa dengan cuaca jika kau ingin latihan?”

“Aku mengerti.” jawab Da Jung menunduk lemas.

Da Jung heran melihat Yool sudah berpakaian rapi, sekarang kan hari sabtu apa Yool akan berangkat bekerja. Yool mengatakan kalau ia akan ke Blue House.
Di Blue House, Presiden bertanya apa Yool baru saja mengatakan menunda proyek nasional. Yool berkata bukan begitu maksudnya. Yang ia maksudkan adalah kita tak boleh menutup mata saja jika ada masalah.

Presiden mengakui kalau Pusat Pelabuhan Internasional memang bermasalah. Tapi kita sudah menginvestasikan jutaan dollar untuk proyek ini. Menurut Yool yang lebih penting dari uang adalah kualitas hidup masyarakat.  
Presiden : “Jadi bagaimana menurut pendapatmu, PM Kwon Yool?”

Yool : “Saya ingin melakukan peninjauan kembali terhadap sisi lain kemungkinann dan dampak buruk lingkungan yang ditimbulkan. Jika ada penyalahgunaan dana setelah melakukan peninjauan kembali, bukankah lebih baik dana itu dialokasikan ke departemen yang membutuhkan?”

Presiden : “Perdana menteri, saat aku mempertimbangkanmu menduduki posisi ini, aku tak menempatkanmu untuk membuat masalah untuk hal semacam ini.”

Yool : “Saya tak membuat masalah. Saya hanya ingin memperbaiki apa yang salah.”

Presiden : “Tidakkah kau berpikir saran yang kau ajukan itu akan menempatkanku pada posisi yang tidak nyaman?”

Yool : “Saya tahu ini adalah keputusan yang sulit bagi anda. Walaupun ini sulit, saya dengan sepenuh hati meminta anda untuk membuat pilihan yang bijaksana dan tepat bagi masyarakat.”

Presiden yang tak setuju menahan jengkel.
Yool dan Hye Joo berada di luar gedung Blue House. Hye Joo bertanya apakah berhubungan langsung dengan Presiden adalah cara yang Yool pikirkan selama ini. Jika ia tahu…

Yool menyela, “Jika kau tahu, kau tak akan tinggal diam.”
Hye Joo bertanya lagi kalau presiden tak setuju dengan usulan Yool, apa yang akan Yool lakukan. Yool masih belum tahu. “Aku mungkin saja harus berkemas dan mundur.” ucapnya sambil tertawa.

Karena Yool sudah membuat keputusan yang besar hari ini, Hye Joo berniat mentraktir Yool makan siang. Tapi Yool tak bisa, karena ia sudah memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya karena salah satu anaknya sedang bermasalah.

Hye Joo mengerti, apa anda akan pulang? Yool menjawab ya, ia akan memberi tahu Da Jung agar jangan makan siang dulu dan menunggunya. Hye Joo berkata bukankah Da Jung pergi ke rumah sakit, ia mendengar kalau Da Jung ke rumah sakit setiap hari sabtu. Yool pun tak jadi menghubungi Da Jung.
Di rumah sakit Da Jung menemui ayahnya. Disana juga ada In Ho, ketiganya makan bersama. Ayah heran bagaimana Da Jung dan In Ho bisa datang berdua, bukankah In Ho seharusnya bersama menantunya. In Ho bekata kalau sekarang hari sabtu, ia memberi tahu perdana menteri kalau ia akan berlibur. Da Jung juga memberi tahu ayahnya kalau In Ho datang kesini untuk menemui kakaknya jadilah ia dan In Ho datang bersama.
Ayah bertanya bagaimana bisa jari kaki menantunya terluka. Da Jung meralat bukan jari kaki tapi jari tangan. Tapi Ayah menilai itu sama saja hahaha.

Ayah terus membicarakan Perdana mentri, “Menantuku pasti sangat terkenal. Ada seorang pria yang datang kesini. Dia menanyakan bagaimana menantuku dan Da Jung bertemu dan yang lainnya. Dia bertanya padaku pertanyaan seperti itu, sangat menjengkelkan.”

In Ho dan Da Jung berpandangan, seprtinya pikiran keduanya sama. Pria yang dibicarakan ayah ini kemungkinan seorang wartawan.
In Ho bertanya pada ayah, apa pria itu seorang wartawan. Ayah berkata kalau pria itu mengatakan sebagai penggemarnya perdana menteri. In Ho menebak itu mungkin saja wartawan dan akan datang untuk bertanya lagi, jadi ia harap ayah Da Jung hati-hati.
Da Jung membenarkan, “Jika ada yang bertanya tentang perdana menteri dan aku, jangan dijawab.” Ayah tak mau disuruh diam, memangnya rahasia apa yang Da Jung sembunyikan sampai menyuruhnya diam. Da Jung berkata kalau ia menyuruh diam, lebih baik ayah diam saja. Da Jung menyuapi ayahnya Strawberry yang dibelikan In Ho.
Duo Scandal News sembunyi dibalik tembok memperhatikan tiga orang itu.

Ayah memuji In Ho akan menjadi seorang menantu yang baik karena sudah bersikap baik dengan membawa makanan untuknya. “Jika kau tak punya pacar bagaimana dengan putriku?”

Da Jung : Ah ayah.

“Ah iya kau kan sudah menikah!” sahut ayah.
In Ho berkata kalau ia tak punya pacar tapi ada seseorang yang ia sukai. Da Jung kaget, “Benarkah? Wah aku tak tahu. Wanita seperti apa dia?” Da Jung penasaran.

“Tidak tahu, seperti apa ya?” canda In Ho pada Da Jung. Da Jung mendesak In Ho supaya mengatakan siapa wanita itu.
Boss Go melihat hubungan Da Jung dan In Ho tidak terlihat seperti hubungan yang biasa. “Bukankah ini ide yan bagus kita datang kesini?”

Hee Chul : “Aku pikir dia datang kesini karena dia istri perdana menteri. Bukankah ini keterlaluan?”

Boss Go : “Ketua staff (Kang In Ho) seharusnya mengikuti Perdana menteri, kenapa mengikuti istrinya? ‘Ada rahasia antara istri Perdana menteri dan kepala staff’ tidakkah kau pikir ini akan menjadi berita hebat? Aku curiga perdana menteri tahu atau tidak ya istrinya melakukan ini?”
PM Yool makan siang dengan ketiga putra-putrinya. Yool melirik kursi kosong yang biasanya ditempati oleh Da Jung.
Seperti biasa disaat makan seperti ini Yool selau saja menceramahi anak-anaknya, “Kwon Woo Ri, apa kau belajar dengan keras?” Woo Ri menjawab ya. Yool bertanya lagi pelajaran apa yang paling sulit. Woo Ri menjawab tidak ada. Yool pun jadi terdiam hahaha.
Yool beralih ke Na Ra, “PR Bahasa inggris yang ayah berikan padamu, apa kau sudah mengerjakannya?”

Na Ra : “Ahjumma (Da Jung) bilang kalau PR nya tidak penting. Ahjumma bilang yang paling penting untuk anak-anak itu bermain.”

Yool : “Apa? Tentu saja bemain itu penting. Tapi bagaimanapun juga kau harus bisa bertanggung jawab terhadap tugasmu disamping bermain.”

Na Ra mengerti.
Yool beralih ke Man Se, “Kau belajar tentang seribu tokoh masa lalu, kan?”

Man Se : “Ahjumma bilang itu tak usah. Ahjumma bilang anak-anak hanya perlu makan yang banyak dan tumbuh kuat.”

Yool : “Apa hanya makan…? Kalau begitu kau harus makan berbagai macam makanan. Ayah lihat, tak satupun dari kalian yang makan bayam. Setiap orang harus memakannya sebanyak tiga kali. Mengerti?”
“Ah perdana menteri,” tiba-tiba terdengar suara Da Jung yang protes. Yool menoleh dan melihat bayangan Da Jung duduk di sebelahnya dan memprotes apa yang ia katakan. “Kau bahkan tak boleh mengganggu anjing yang sedang makan. Jika kau terus mengomel seperti itu, kau akan disebut anjing galak.”

“Anjing ga…?” Yool yang terkejut tak melanjutkan ucapannya.

Da Jung : “Perdana menteri, anda kelihatannya sangat lelah sekali hari ini. Makanlah makanan enak ini dan bersemangatlah, ya? Coba telur dadar ini ya!”
Yool mengambil telur dadar itu dan ketika ia akan memakannya bayangan Da Jung sudah tak ada disana. Yool bengong mencari-cari sosok Da Jung. Anak-anak heran melihat ayahnya tampak bingung.

Menyadari kalau sedari tadi diperhatikan anak-anaknya, Yool pun bertanya apa yang akan mereka lakukan setelah makan siang. “Oh iya, latihan kendo. Itu bagus sekali. Sudah lama sekali, bagaimana kalau kita mengadakan pertarungan hari ini?”

Woo Ri bilang kalau ia tak enak badan, jadi tak bisa ikut. Woo Ri meninggalkan meja makan. Na Ra mengatakan kalau ia banyak PR yang harus dikerjakan. Na Ra juga meninggalkan meja makan. Yool beralih ke Man Se, ia mengajak putra bungsunya latihan kendo. Tapi Man Se tak mau. Man Se pun meninggalkan meja makan.
Yool pun sendirian si meja makan. Ia menyuap nasinya sambil menoleh ke kursi tempat duduk Da Jung yang kosong.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar