Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyers 8


Ayah segaja datang pagi-pagi ke pemakaman umum untuk melihat siapa yang meletakkan bunga di kuburan Budi. Ayah melihat seorang pria yang memakai kemeja berwarna merah bergaris-garis warna hitam dan celana jeas biru. “kau siapa?” tanya Ayah penasaran menunggu hari ini tiba.
Pria itu menolek ke belakang sambil berdiri, “lama tidak bertemu paman?” kata Paris yang tahu Ayah akan datang yang sebelumnya sudah diberitahu penjaga pemakaman padanya.
“Luky!” kangen Ayah.
Paris tersenyum.

Mereka mencari cave tak jauh dari pemakaman untuk mengobrol. “bagaimana keadaan ibumu?” tanya Ayah.
“Ibu suda meninggal 15 tahun yang lalu karna kecelakaan,” cerita Paris.
“Paman sangat prihatin padamu. Kau besar tanpa orang tua”.
“Tidak juga. Aku di adopsi sebuah keluarga di Amerka. Dan namaku bukan Luky lagi, Namaku sekarang Paris Eriko Prengky”.
“Kau mengganti namamu?”.
“Aku menggatikan anak mereka yang sudah meninggal”.
“Melihat keadaanmu sekarang, mereka pastih sangat menjagamu”.
Paris tersenyum.
“Apa pekerjaanmu sekarang?”.
“Aku pengacara dan dosen sebuah kampus. kampus yang sama Klara mengajar”.
“Kau dan Klara sudah bertemu?” kanget Ayah, “apa Klara tahu kau Luky?”.
“Tidak. Aku rasa dia belum tahu”.
Ayah legah mendenggarnya. “Apa tujuanmu kembali ke Indonesia? Apa kau mau menagi janji Paman akan menikahkan kau dengan Klara?”.
Paris mengingat kata-kata Klara padanya, Kau jangan menyukain aku lagi ya… aku sudah menyukain seorang pria dan  saat memilih jas semalam Tidaklah. Ini untuk kak Rian. “Aku ke Indonesia hanya ingin melihat pemakaman Ayahku saja,” kata Paris menahan perasaannya. “Aku tidak mengharapkan lagi perjodohan itu, Klara masa laluku, dan tak perluh di ingat lagi”.
Ayah tersenyum, “Paman legah mendenggarnya. Awalnya paman binggung harus memilih siapa antara kau dan Rian. Paman juga sudah telanjur janji dengan keluarga angkat Esa untuk menjodohkan Riam dengan Klara,” suasana terhening sejenak, “Paman harap Klara jangan sampai tahu kau sebenarnya Luky dan jauhin Klara. Paman takut nantinya Klara akan tahu siapa kau sebenarnya,” mohon Ayah.
“Iya. Aku akan menjauhinnya,” jawab Klara, apa kau tahu Klara sangat bearti di hatiku, kata Paris dalam hatinya.
***
Sudah lewat tiga jam dari jam 11, Klara menunggu di depan pagar rumah. Setiap telepon tidak diangkat dan setiap sms tidak satupun dibalas, “kemana sih dia!!” kesal; Klara bercampur kuatir yang biasanya Paris tidak pernah seperti ini. Setiap janji selalu Paris tepatin, sms selalu dibalasnya dan telepon pastih langsung diangkatnya. Tapi hari ini malah sebaliknya.
“Belum datang juga?” tanya Bunda.
“Belum”.
“Coba kau kerumahnya saja”.
“Iya juga ya. aku pergi dulu Bun,” lalu mengambil mobil di bagasi, langsung pergi ke ampartemen Paris.

30 menit kemudian, Klara sudah sampai di ampartemen Paris. Langsung diketuknya pintu, “tok…tok…tok…!!” tapi pintu tak terbuka juga, “paris…!!!paris…!!” panggil Klara namun tak ada jawaban dari dalam. Klara melihat satpam apartemen yang kebetulan lewat, “pak!” panggil Klara.
Satpam mendekatin Klara, “ada apa bu?”.
“Mana pemilik ampartemen ini?” tanya Klara menujuk ampartemen Paris.
“Maksud ibu pengacara Paris? Tadi pagi sudah pergi bu”.
“Pergi. Pergi kemana?” tanya Klara lagi.
“Saya tidak tahu”.
“Apa dia kekantornya?”.
“Tidak mungkin bu. Setiap hari minggu pengacara Paris tidak pernah kekantor, tapi memang selalu pergi, saya kurang tahu pergi kemana, tapi biasanya sudah pulang jam segini”.
“Trimah kasih pak,” kata Klara pada satpam lalu meninggalkannya sendiri di depan pintu, “apa dia langsung ke puncak,” berpikir sejenak, “gak mungkin, kalau ke puncak pastih dia sudah menjemputku. Kau kemana pangeran,” Klara mulai kuatir.
***
Jenni menemanin Paris minum minuman keras Cave Citra. “kau sudah banyak minum?” kata Jenni yang mulai kuatir dengan keadaan Paris.
“Aku tidak apa-apa,” kata Paris lalu meminum segelas lagi minuman keras yang sebelumnya dituangkan.
“Aku tidak suka melihat kau seperti ini”.
“Jangan cerewet”.
“Sekarang maumu apa?” tanya Jenni.
“Setelah kasus Oki, aku mau kembali ke Amerika,” jawab Paris yang sudah setenggah sadar,
“Bagaimana dengan Klara?”.
“Dia akan hidup bahagia dengan Rian”.
“Tapi orang tua angkatmu akan datang ke Indonesia”.
“Siapkan saja tempat tinggal mereka di hotel, setelah mereka pulang.ke Amerika jual hotel itu”.
“Kau membeli hotel itu karna kau ingin bertemu dengan Klara dan…”.
Paris berdiri, “aku mau pulang”.
“Aku antar”.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri”.
“Jangan bodoh!” lalu membantu Paris berjalan yang sudah gotyang-goyang berjalan.

Sesampai didepan ampartemen. Paris langsung keluar dari mobil Jenni, “kau pulanglah, “sambil keluar dari mobil, “trimah kasih”.
“Ya sudah aku pulang dulu,”  kata Jenni lalu pergi.
Paris melangkah masuk ke dalam ampartemen yang berlatai 10 itu, dan ampartemennya berlantai 7. ketika mau masuk kedalam lip, Paris melihat Klara.
“Paris,” kanget Klara melihat Paris yang setengah sadar, “kau minum?” yang tercium bauk minuman di mulut Paris.
“Jngan pendulikan aku!” kata Paris. Paris hampir terjatuh. Spontan Klara memengang lenggan Paris, langsung paris melepaskan tangan Klara dari lenggatnya, “kau pulanglah!”.
“Kau kenapa sih?!!” marah Klara melihat sikap kasar Paris padanya. “kalau hanya gara-gara jas itu kau marah padaku. Aku akan beli barang lain!” kata Klara yang menduga Paris marah padanya karna jas itu.
Paris menatap Klara, “kau pernah mengatakan suatu hari nanti jika kau mintak bantuan pastih aku bantu”.
“Iya. Aku ingat janji itu”.
“Jauhin aku”.
“Apa!” kanget Klara.
“Menjauhlah dariku”. Pintu lip terbuka, Paris langsung  masuk kedalam lip.
Klara menanggis tidak percaya apa yang didenggarnya, “dasar cowok aneh,” lalu pergi dari ampartemen.

Didalam apartemennya. Paris langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ditutupnya matanya  sambil memengang kalung berliontin kelici, dengan  mengingat saat bersama Klara. Saat di Bandung, Klara memukul dirinya yang mengira dirinya pencuri tasnya karna jasnya sama dengan pencuri tasnya. Saat dibandara, saat bersama Kristin dan saat berada di moll dan saat-saat yang lainnya yang selalu mereka berdua. Kenangan itu tidak bisa dilupakan Paris dalam sekejap,  Paris tersenyum sendiri, dan tertidur dengan kenangan di benaknya.
***
Klara teringat kata kata Paris padanya, Menjauhlah dariku, “dia pikir dia itu siapa?!” marah Klara sambil melempar boneka beruang yang diberika Paris padanya. ditatapnya boneka kelinci yang juga didapatnya dari Paris, “Entah kau pangeran atau pengacara atau apapun! Jangan berani-beraninya kau marah padaku!!” kata Klara marah pada boneka kelinci menggambarkan boneka kelinci adalah Paris. Klara membaringkan tubuhnya diatas kasur, “kenapa juga aku harus memikirkannya, nak marah atau tidak aku tidak penduli,” lalu menutup matanya, baru beberapa detik Klara menutup matanya langsung dibukaknya lagi, bangkit dari tempat tidur, langsung berteriak, “aahhh….!!! Kau buat aku marah!! Dasar cowok aneh!1” gelisah Klara.
***

Keluar dari rumah Erika dikangetkan dengan Rian yang menjemputnya lagi, “Rian…” senang Erika melihat Rian dihadapannya.
“Sudah lama aku tidak menjemputmu lagi,” kata Rian.
Erika tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “kau tidak marah lagi”.
“Maafkan aku. Kau temanku yang baik, tak pantas aku melakukan kau seperti itu”.
Walaupun hanya sebagai teman itu sudah cukup bagi Erika, baginya  teman melebihin apapun daripada tidak sama sekali.
***
Klara masuk dalam kelas, “kita ujian hari ini,” lalu membagikan kertas disetiap meja, “waktu kalian hanya 1 jam teritung dari sekarang,” kata Klara lalu duduk di meja dosen. Ambilnya hp dari tas gandeng berwarna coklat yang dibawaknya dari rumah. Klara mencoba menghubungin no Paris lagi, namun sama saja seperti yang kemarin tidak diangkatnya. Beberapa kali Klara mencoba  hasilnya tetap sama, “kau pikir siapa  harus marah ke aku!!,” marah Klara sambil mencoret kertas ujian, “seenaknya marah tanpa sebab!!” kesal Klara.
“Ibu tidak apa-apa?” tanya Sarah yang dudu dibangku paling depan.
Klara melihat kedepan, semua mahasiswa melihan heran kearahnya. Mya tersenyum, “kalian lanjutkan,” malu Klara.
***
“Kau sudah siap?” tanya Jenni pada Paris yang akan masuk ke pengadilan.
“Pertanyaanmu aneh sekali. Ini sidang bukan pertama bagiku,” jawab Paris.
“Aku tahu itu. Tapi kau kelihatan aneh semalam”.
Paris tersenyum.
“Kau tidak pernah minum semabuk itu. Sebenarnya ada masalah apa?” tanya Jenni yang belum tahu kejadian yang sebenarnya.
Paris mencari perkataan lain, “Sidang akan dimulai, ayo masuk,” sambil berjalan.
“Hatimu pastih sakit,” ucap Jenni.
“Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini, sangat…” kata Paris dengan nada suara kecil sambil berjalan berharap Jenni tidak mendenggar perkataannya yang berjalan duluan dari Jenni.
***
“Paris ke pengadilan?” kata Klara yang menelpon kantor Paris cara untuk bicara dengan Paris, “baiklah. Aku langsung ke pengadilan saja, trimah kasih,” lalu mematikan hp.
“Ibu mau kemana?” tanya Benni mendenggar perkataan Klara yang tadi menelpon.
“Aku mau ke pengadilan,” jawab Klara.
“Semangat bu!” sambung Joni.
“Untuk apa?” binggung Klara mendenggar perkataan Joni.
“Semangat memperjuangkan cinta ibu,” kata Joni lagi.
Klara tersenyum malu, “apaan si Pak Joni,” malu Klara, “ Aku tidak mungkin mencintain Paris. Kami hanya teman”.
“Ya… pastih ibu harus semangat”.
“Iya. Trimah kasih,” Klara keluar dari ruangan.
“Nak dibantah juga, kedekatan mereka melebihin dari teman,” kata Benni.
“Jadian juga gak ada yang marah khan…” kata Joni.
“Ibu Erika hanya bimbang dengan perasaannya sekarang,” kata  Erika menjawab pertanyaan Benni dan Honi.
“Wahhh… sepertinya Ibu Erika tahu sekali perasaan Ibu Klara sekarang. Tapi ngomong-ngomong kapan kalian jadian?” goda Benni melihat Rian dan Erika.
“Pak Benni ngomong apa sih!!” malu Erika sambil berdiri lalu keluar dari ruangan.
“Mau ditutupin juga masih nampak kok,” kata Benni asal bicara.
“Maksud Pak Benni apa?!” tanya Rian yang dari tadi diam.
“Masa sih Pak Rian tak tahu perasaan Ibu Erika pada Bapak,” jawab pak Benni.
“Maksud bapak?”.
***
Klara pergi kepengadilan, berharap bertemu langsung dengan Paris. Baru mau masuk kedalam pengadilan seseorang memanggilnya, “Klara…!!”. Mya menolek kebelakang, wajah perempuan yang memanggilnya itu tidak asing dilihatnya. “aku Dewi, kita teman satu SMA,” penjelasan Dewii.
“Ooohhh…. Dewi,” senang Klara bertemu kembali teman SMA yang sudah tidak bertemu kurang lebih 8 tahun kecuali dengan Eka yang tiap sat selalu bersamanya. “kau sedang apa disini?” tanya Klara.
“Ini sidangku,” jawab Dewi dengan wajah sedih.
“Apa!,” kanget Klara.

Sidang dimulai. Klara duduk di bangku paling belakang menunggu selesai sidang, langsung menemuin Paris, yang dilihatnya sedang berada didepan sidang. “dia kelihatan tampan,” puji Klara yang pertama kali melihat Paris beraksi dalam sidang.
“Apa ada nyakit anak di kadungan ada itu anak Oki?” tanya Paris pada Dewi yang duduk di depan ruang sidang..
“Keberatan ketua, pengacara terlalu menekat korban!”.
“Keberatan di tolak,” jawab ketua sidang.
“Saya bertanya lagi nona, apa benar anak itu anak Oki?”.
“Apa maksud pertanyaan pengacara!” marah Dewi.
“Aku hanya butuh jawaban ya atau tidak”.
“Ini anak Oki,” sambil melihat Oki yang duduk di sebelah Jenni.
“Kapan ada melakukan hubungan itu?”.
“Keberatan ketua.”
“Keberatan di terimah”.
“Klien saya mengatakan, awal bulan januari menyentuh ada, kalau di hitung-hitung sampai bulan sekarang, seharusnya ada sudah melahirkan. Anehnya kenapa usia kadungan ada 3 bulan”.
“Dia bohong!! “ kata Dewi yang hamper pingsat.
“Ketua. Klien saya membutuhkan istirahat,” kata pengacara Dewi.
“Karna melihat keadaan Dewi yang sedang kurang sehat, pengadilan ini di tunda samapi tgl 25 oktoberr 2011,” lalu mengetuk palu. sidang pun selesai.

 Klara mencari Paris yang sejak keluar dari ruangan pengadilan tidak terlihat lagi.
“Kau sedang apa disini?” tanya Paris muncul di belakang Klara, yang sebelumnya tahu Klara menunggunya dari tadi, namun karna sidang sedang berlangsung Paris terpaksa pura-pura tidak mengenal Klara..
Maya menolek ke belakang, “lu kemana saja?”.
Paris menatap Klara. “sedang apa kau di sini?”.
“Kau kenapa menjadi pengacara orang yang salah?” tanya Klara lupa dengan tujuannya ke pengadilan.
“Itu urusanku!” jawab Paris, “memang kau tahu dari mana klienku salah”.
“Ya… jika wanita diperkosa gak mungkin bohong,” pendapat Klara.
“Dewi temanmu?”.
“Iya. Teman SMA”.
“Aku rasa kau belum mengenalnya,” kata Paris lalu menurunin anak tangga.
Klara memengang tanga Paris, “tunggu!”.
“Ada apa lagi?!”.
Baru menurunin satu anak tangga,  keseimbangan Klara tidak bisa ditahannya, karna  kakinya  mengijak anak tangga terlalu pinggir, “ahhh…”
Paris spontan menangkap Klara yang akan jatuh, “hati-hati,”  kuatir Paris.
Klara berdiri, “maaf…” kata Klara, dilihatnya tangan mereka saling berpengangan, “ini pertama kali kita berpengangan”.
Paris melepaskan tangannya, “kau pulanglah,” kata Paris berjalan duluan.
“Aku tidak bawak mobil,” alasan Klara yang segaja tidak membawa mobil.
“Kau kan bisa naik taxi,” jawa Paris yang terus berjalan menuju pakiran.
“Hari ini sifatmu dingin padaku, besok seperti apa?” tanya Klara pada dirinya sendiri, melihat Paris pergi menaikkin mobil. kalara berusaha tenang, dituruninnya anak tangga satu persatu, setelah itu pergi dari pengadilan dengan menggunakan taxi yang lewat di depan pengadilan.
***
“Sampai kapan kau seperti ini?” tanya Jenni sambil mengambil cangkir berisi kopi yang diberikan Paris.
Paris duduk disofa, hnaya diam tidak menjawab pertanyaan Klra.
Jenni meletakkan cangkir di atas meja, “sampai kapan kau mempermaikan perasaanmu?”.
“Aku tidak mau membahasnya,” kata Paris.
“Kenapa?!”.
“Karna aku ingin melupakan Klara!!” jawab Paris dengan nada suara tinggi.
Jenni berdiri, “kau bohong! Jika kau ingin melupakan Klara, pastih dari dulu kau lakukan! Aku pulang,” Jenni langsung keluar dari apartemen.
Paris mengenggap cangkir dengan sekuat tenaga. Cangkir itu pecah karna terlalu tertekat oleh tanggan Paris. Paris melihat ditelapak kedua tangganya penuh dengan darah. Dilihatnya darah yang mengalir jatuh kelantai. “kenapa hatiku lebih sakit dari luka ini,” yang membiarkan luka mengeluarkan darah.
***

Jenni menyambut Paris diruang kerjanya, dilihatnya kedua tanganya terbalut perban, “kenapa tanganmu?”.
“Semalam kena pecahan gelas,” jawab Paris duduk di meja kerjanya, “ada pekembangan kasus Oki?”.
“Iya,” lalu meletakkan beberapa berkas di atas meja, “ini dari kantor polisi. Ternyata Dewi sudah beberapa kali masuk kekantor polisi dan saksi mau muncul di pengadilan besok”.
“Bagus. Kita pastih menang,” nyakit Paris.
“Kau selalu berusaha memenangkan setiap kasus, tapi kenapa kau tidaj berusaha memenangkan perasaanmu?” kata Jenni.
Paris diam menatap Jenni.
***
“Klara…!” panggil Dewi yang menunggu Klara dideapan kampus.
Klara mendekatin Dewi, “sedang apa disini? Dan kau tahu dari mana aku kerja disini?” tanya balik Klara.
“Soal aku tahu dari mana kau bekerja itu tidak penting. Aku mau mintak tolong?”.

Klara mengajak Dewi ke cave tak jauh dari kampus. “Ada apa?”.
“Kemarin. Waktu di pengadilan aku melihat kau bersama pengacara Paris,” kata Dewi, “kalian kenal dimana?”.
Maya tersenyum, “kami tidak segaja bertemu,” jawab Klara.
“Waahhh… sudah tampan, pengaca pula,” puji Dewi.
Klara tersenyum, “Bagaimana kadunganmu?” tanyanya.
“Baik,” diam sejenak, “ gua,” ragu-ragu, “gua kesini mau mintak tolong ke kau”.
“Tolong apa?”
“Aku ingin kau bujuk pengacara untuk membantuku. Aku ingin Oki di hukum seberat-beratnya,” air mata jatuh di pipinya.
***
“Tok…tok….tok…”pintu ruangan kerja Paris diketuk dari luar, “masuk,” perintah Paris yang  duduk dimeja kerjanya sambil membaca berkas yang diberikan Jenni padanya tado pagi.
Pintu terbuka, “Pak ada Ibu Klara?” kata sekretaris.
“Suruh dia masuk,” perintah Paris.
Klara masuk keruangan, “maafkan aku menganggu. Karna aku telepon pun tak akan kau angkat juga, jadi aku memutuskan kekantormu,” Klara melihat perban terbalut di kedua tangan Paris, “kenapa tanganmu?” kuatir Klara.
“Tidak usah pendulikan tanganku! Apa tujuanmu?!”.
“Aku mintak bantuan denganmu. Anggap saja ini bantuan terakhir”.
“Apa itu?”.
“Tolong bantu Dewi di pengadilan besok”.
“Tidak”.
“Kenapa?”.
Paris menatap Klara, “karna Oki klienku!”.
“Tapikan Oki bersalah!”.
“Kau tahu dari mana?! Dari Dewi?! Kau memang naïf, tidak bisa melihat mana yang benar dan salah,” kata Paris sambil berdiri.
“Apa maksudmu?!”.
“Aku punya saksi dan bukti Dewi bersalah”.
“Saksi?” Klara teringat dengan kata-kata Rian padanya, aku denggar dia akan melakukan apa pun untuk memenangkan kasus walaupun itu membayar saksi, “apa kau membayar saksi untuk memenangkan kasusmu?”.
“Jika itu perluh”.
Klara kanget.
“Aku akan melakukan apapun. Itulah caraku untuk hidup!”.
“Apakah harus itu kau lakukan untuk  memenangkan sebuah kasus”.
Paris berdiri di depan jendela, melihat permadangan luar kantor dari balik kaca, “kadang saksi jika kita mintak muncul ke pengadilan mereka tidak akan mau, namun jika kita menurutin apa yang mereka mintak, barulah mereka mau muncul di pengadilan,” diam sejenak, “bukti yang aku dapat bukan dari saksi saja, tapi ada bukti-bukti lain. Maafkan aku, aku tidak bisa bantu”.

Klara murung keluar dari kantor Paris. Bukan karna Paris tidak mau menolongnya, namun sifat dingin Paris padanya. “samapi kapan kau bersifat dingin padaku,” kata Klara menatap pintu masuk kantor.
***
Sedang asik  membersihkan wajah di depan kaca, tiba-tiba hpnya berbunyi, “halo…” Klara menjawab.
“Halo, ini aku, Dewi”.
“Ada apa Dew?” tanya Klara.
“Aku mau nanya soal tadi siang. Apa kau berhasil membujuk pengacara itu?” tanya Dewi dari tempat kosannya.
“Maafin aku, aku gak berhasil”.
Dewi menanggis, “ekhmmm…”.
“Kau menanggis?”.
“Jika Oki dibebaskan. Aku takut nantinya ada korban-korban berikutnya,” sedih Dewi.
***

Jam sudah pukul  9.00 WIB, semua  berkumpul di ruang sidang. Baik pengacara korban maupun pengacara tersangka sudah menyiapkan bahan untuk persidangan yang akan mereka tunjukkan dipersidangan. Klara segaja datang ke pengadilan untuk melihat Paris beraksi di depan sidang.
Setelah ketua pengetuk palu, persidangan antara Dewi dan Oki  dimulai. Pengacara Dewi bertanya  beberapa pertanyaan pada Ok yang menyudutkannya, namun itu semua tidak membuat Paris menyerah dengan melihat kliennya diserang  dengan pertanyaan yang diulang-ulang dari persidangan kemarin.. Setelah selesai pengacara Dewi bertanya pada Oki.
Sekarang giliran Paris menujukkan bukti bahwa Dewi bersalah dalam kasus ini. Dewi memfikna Oki karna Oki menolak menikahinnya. “Saya mempunyai bukti Dewi beberapa kali masuk penjara.”
“keberatan ketua. Itu semua  tidak terkait dengan kasus ini,” kata pengacara Dewi.
“Keberatan ditolak,” kata ketua.
Paris memberika 5 lembar kertas pada  ketua sidang, “itu semua bukti dari kantor polisi. 3 tahun yang lalu tertangkap menjual narkoba, lalu dihukum 2 tahun penjara, 5 kali ditangkap karna mabuk di tengah jalan dan 11 kali di tangkap satpol pp karna menjual diri di pinggir jalan. Dan 3 minggu yang lalu ada di tangkap satpol pp lagi khan…”
Dewi terkejut.
“tersangka mengakuin pernah menyentuh Dewi, tapi itu sekitar akhir bulan januari. Kalau di hitung-hitung sampai bulan sekarang, seharusnya ada sudah melahirkan, tapi… kenapa usia kehamilan ada baru 4 bulan,” sambil menatap Dewi yang duduk disebelah pengacaranya.
“Dia bohong!” bantah Dewi sambil menanggis.
“Saya punya 4 saksi yang menyatakan klien saya ada di Riau pada bulan mei sampai bulan agustus. keempat saksi ini diantaranya teman satu kerja dan bos dari perusahaan di Riau tempat Oki bekerja selama bulan mei-agustus,” kata Paris  ingin membuktikan kliennya tidak bersalah dalam kasus ini dan hanya sebagai korban  atas apa yang dilakukan Dewi.
“Diterima,” kata ketua sidang yang ingin lihat saksi yang akan di tunjukkan Paris.
Tak lama kemudia satu persatu saksi  di munculkan di depan sidang, semua pernyataan saksi sangat menyudutkan Dewi. Dewi terlihat pucat, mendenggar satu persatu pernyataan saksi yang ditunjukkan Paris di persidangan. Kalaupun keputusan bukan hari ini di beritahu, tapi dari semua bukti yang ditunjukkan Paris, itu bisa membuktikan dirinya bersalah dalam kasus ini. Malah Oki bisa menuntut balik dengan kasus pencemaran nama baik.
“Sidang akan dilanjutkan minggu depan, pembacaan hasil sidang,” kata ketua siding lalu mengetuk palu.
***
“Mana Klara?” tanya Rian tidak melihat Klara dari tadi pagi.
“Mungkin tidak masuk pak,” jawab Joni.
“Sepertinya Ibu Klara lagi ada masalah,” dugaan Erika.
***
Dewi mendekatin Klara yang menunggu Paris didepan mobil yang sedang mengobrol dengan Benny sebelum dibawak polisi. “Kau jahat,” marah Dewi yang masih menanggis.
“Maafkan aku Dewi. Tapi itu benar khan…”
Dewi tersenyum,  “aku bunuh kau,” lalu pergi.
Klara kanget mendenggar kata-kata Dewi.
“Ada apa? apa dia katakan?” tanya Paris yang langsung bergegas mendekatin Klara  yang bersama Dewi.
“Tidak apa-apa,” jawab Maya. Klara menatap Paris, “kau menguatirkan aku?” tanya Klata.
Mereka pergi ke Cave Citra. Paris memesan makanan dan minuman pada pelayan. Tak lama kemudian pesanan tersaji di atas meja. “Ayo makan. Jangan menatapku seperti itu?” kata Paris pada Klara yang menatapnya dari tadi.
“Empat hari ini kau kelihatan beruba. Yang aku lihat kau bukan Pangeran Paris yang aku kenal,” kata Klara yang menatap Paris.
Paris tidak menunjukkan kesedihannya, “manusia bisa beruba kapanpun, itupun aku,” ucap Paris.
“Kau benar. Tapi… aku tidak suka perubahanmu ini. Dulu kau sering tersenyum, tapi sekarang aku tidak melihatnya lagi”.
Paris Klara dengan mata berkaca-kaca, “kau pikir kau siapa?! Kau bukan kekasihku, pacarku atau istriku yang harus setiap hari tersenyum padamu!” kasar Paris.
Air mata jatuh dipipi Klara, langsung dihapusnya, “maaf. Jika kata-kataku membuat kau tersinggung,” berusaha untuk tersenyum, “o… bagiamana tanganmu?” melihat tangan Paris masuh terbalut dengan perban.
“Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk menjauhinku!!”.
“Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku untuk menjauhinmu!? Apa karna jas itu,” dugaan Klara sambil menanggis, “aku juga gak jadi belikan jas untuk kak Rian. Kalaupun itu masih membuatmu marah, kita bisa beli barang lain. Bukankah itu yang kau mau!”.
***
Rian mengantar Erika pulang. Sebelum turun Erika berkata pada Rian, “besok coba kau bicara dengan Klara. Sepertinya Ibu Klara lagi banyak masalah”.
“Aku pikir juga itu,” diam sejenak, “tapi… kenapa bukan kau saja”.
“Aku?”.
“Iya. Biasanya jika perempuan bicara dengan  sesama perempuan akan lebih leluasa dari pada bicara dengan pria”.
“Baiklah. Aku akan bicara dengan Klara besok. Selamat malam,” sambil turun dari mobil. setelah Erika turun Rian kembali menjalankan mobil menuju rumahnya yang berada satu komlek dengan rumah Erika.
***
Paris mengantar Klara pulang. Setelah Klara turun dari mobil, Paris langsung menjalankan mobil menuju apartemennya yang biasanya Paris selalu menunggu Klara masuk dulu baru dirinya pergi, tapi kali ini tidak dilakukannya lagi. Klara lesu masuk kedalam rumah.
“Kau sudah pulang sayang,” kata Bunda menyabut kedatangan Klara didepan pintu.
Klara tidak menjawab, dia terus melangkah masuk kekamarnya.
“Ada apa dengan Klara?” tnaya Ayah, “apa dia sakit?”.
“Mungkin ada masalah di kampus,” dugaan Bunda.
***
Paris sampai diapartemennya, langsung masuk kamar. Dikatuhknnya tubuhnya diatas kasur, membiarkan lampu kamar menyalah. Sama yang dilakukan Klara menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Dilihatnya langit-langit kamarnya yang masih terang karna lampu. Mereka saling memikirkan satu sama lain. Tersenyum jika kenangan mereka menyenangkan. Menanggis jika kenangan itu menyakitkan, “maafkan aku…” kata Klara dan Paris.
***

Pukul 11 siang Klara baru tiba di kampus. dilihatnya Paris melewatin dirinya, “sekarang dia tak mau menyapaku,” lalu kembali berjalan menuju ruangan. Didalam ruangan semua melihat kearah Klara, tapi Klara tidak menyadarinnya, dia langsung duduk dimeja kerjanya.
“Ada tidak apa-apa?” tanya Erika pada Klara yang murung.
Klara hanya tersenyum.
“bisa bicara berdua”.
“Iya”.

Mereka duduk ditaman. Erika melihat mata Klara bengkak, “sepertinya Ibu Klara menanggis sampai pagi”.
Klara memengang wajahnya, “nampaknya”.
“Ibu ada masalah? Mau cerita?” Erika memadang Klara.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Klara.
“Kata orang jika kita ada masalah, enaknya kita cerita pada orang lain, setidaknya hati ini terasa legah”.
Klara tersenyum, namun air mata jatuh membasahin pipinya, “a…aku…” Klara langsung  memeluk Erika, “aku tidak tahu apa salahku padany. Aku tak mau diperlakukan seperti ini,” menanggis dipelukkan Erika.
“Maksud ibu siapa?”.
Klara melepaskan pelukannya, “dia pikir siapa dia marah-marah ke aku!! Dasar pengacara bodoh!!” kesal Klara.
Erika legah Klara menyebutkan pengacara bukan Rian. “Pastih yang dimaksud pengacar bodoh itu Pak Paris khan?”.
“Iya,” diam sejenak, “Paris marah hanya karna aku membelikan jas yang sama untuk kak Rian dan dirinya! Padahal sudah aku jelaskan, aku tidak jadi membelikan jas ke kak Rian tapi tetap saja dia marah padaku! Seperti anak kecil marah hanya karna itu,” cerita Klara.
“Aku rasa bukan karna jas Pak Paris marah,” dugaan Erika.
“Maksud Ibu Erika”.
“Gak masuk akal saja hanya marah karna jas”.
“Terakhir Paris marah karna  itu. Malah dia meninggalkan aku di toko”.
“Selanjutnya apa Pak Paris masih marah?”.
“Tidak,” kata Klara mengingat saat-saat setelah keluar dari toko dirinya melihat Paris di tempat permainan. “Paris mengambil 3 boneka di toy box, 2 boneka beruang dan 1 boneka kelinci,” cerita Klara.
“Kalau gitu bukan karna jas”.
“Lalu?”.
“Aku tidak tahu. Yang pastih bukan karna jas,” Erika menatap Klara, “Ibu Klara masih menyukain Rian?” tanya Erika ingin tahu perasaan Klara pada Rian.
“Bukankah kata Ibu, suka dan menyukain seseorang itu sangat berbeda. Mungkin saat ini aku suka pada kak Rian karna kak Rian pernah menyelamatin aku dari penculik itu. Tapi…” tidak melajutin kata-katanya lagi.
“Tapia pa? Ibu tidak menyukain Pak Paris?”.
Klara menggeleng, “aku tidak tahu. Aku tidak tahu perasaanku padanya. tapi jujur, aku sangat nyaman jika bersama Pangeran”.
“Pangeran?”.
Klara tersenyum, “itu sebutan Kristin untuk Paris. Tapi dia memang seperto pangeran, dia selalu ada untukku, membantuku, menemaninku kadang membuat aku kesal tapi itu hanya godaan semata untuk membuat aku tersenyum,” air mata menetes kembali, “5 hari ini tidak aku lihat lagi pangeran yang aku kenal”.
Erika tersenyum setelah tahu jawaban dari kata-kata yang diucapkan Klara padanya.
***
“Minggu depan orang tua angkatmu akan ke Indonesia. Sedangkan kau besok kau sudah berangkat ke Amerika,” kata Jenni”.
“Aku serakat semua itu padamu. Aku nyakit kau pastih bisa membuat mereka nyaman di Indonesia,” kata Paris mempercayain orang tuanya pada Jenni.
“Ha…hahaha…” Jenni tertawa, “apa perluh kau pergi?”.
“Kau tahu jawabannya. Aku tidak ada kepentingan lain lagi di Indonesia”.
Jenni tersenyum, “aku pastih sangat kehilangan”.
“Kau tetap temanku yang baik”.
Jenni tersenyum lebar mendenggar perkataan Paris.
***
“Aku ingin kalian bunuh cewek ini,” kata Dewi pada 2 lelaki berbadan besar memberikan foto Maya.
“Membunuh cewek ini mudah, bayarannya gimana?” tanya salah satu lelaki dari 2 lelaki itu.
“Soal bayaran kalian gak usah kuatir,” sambil memberikan beberapa uang 100.000, “itu baru awalnya, sisanya setelah kalian selesai membunuhnya.”
“Ok,” sambil mengambil uang
***

Eka menemanin Klara memilih jam ditoko jam di moll. Klara memilih jam yang cocok untu Paris. “kenapa kau tidak berkan jas atau dasi,” saran Eka yang mengira hadiah ini untuk Rian. Klara tidak menjawab perkataan Eka, dia terus memilih jam. “sepertinya dia sangat mencintai Rian,” dugaan Eka.
***
Jenni membantu Paris memasukkan pakaiannya kedalam koper. “ini bungkusan apa?” tanya Jenni melihat bungkusan di atas lemari hias di kamar. Dikeluarkannya isi dalam  bungkusan terdapat jas dan 2 kemeja, “kau beli jas?”.
Paris mengambil jas dari tangan Jenni, “ini jas yang dibelikan Klara”.
“Jas yang bagus,” puji Jenni.
Paris tersenyum, “iya”. Hpnya berbunyi di saku celananya, dilihatnya di layer hp terdapat 1 sms. Paris melihat is sms, aku tunggu di cave citra, aku mohon datanglah. Anggap saja ini permintaan terakhirku, is isms dari Klara.
“Dari siapa?” tanya Jenni.
***
Sudah lebih 2 jam Klara menunggu Paris di Cave Citra, dan akhirnya Paris muncul juga dari balik pintu cave. “kau datang juga?” senang Klara melihat Paris.
“Ada apa?” tanya Paris.
Klara meletakkan kotak kecil diatas meja, “kau kan pernah bilang, kau mau barang lain. Aku sudah membelikannya”.
“Apa ini?” Paris membuka kotak berisi jam tanggan.
“Kau suka?”.
“Tidak. Aku sudah banyak jam!”.
“Kalaupun kau tak menyukainnya, setidaknya kau tidak mengatakan itu”.
Paris menatap Klara.
Klara berdiri, “aku pulang duluan,” lalu Klara keluar dari cave dengan wajah sedih. Tiba-tiba dua pria  mendekatin Klara, “hai cantik,” puji salah satu mereka.
“Kalian siapa?” tanya Klara ketakutan.
“Kami ingin membunuhmu,” kata  salah satu dari mereka sambil memengang tangan  Klara.
“Lepasin gua. Tolong….” Teriak Klara sambil memberontak.
“Lepasin dia?” kata Paris padakedua pria yang memengang tangan Klara.
“Jangan sok jadi palawan kesiangan,” sambil memukul Paris.
Paris mengelak mukulan pria itu lalu memukul balik di wajah dan perut pria itu sampai terjatuh. Lalu teman yang satunya melepaskan tangan Klara lalu langsung memukul paris lagi, tapi itu pun Paris bisa mengelaknya, lalu menedang dan meninju perut pria itu sampai terjatuh juga. Paris mendekatin Klara, “kau tak apa-apa?” tanya Paris melihat Klara yang ketakutan.
Klara melihat salah satu pria itu mengeluarkan pisau  lipat dari sakuny celananya lalu mencoba menusuk Paris dari belakang, “Awas…”teriak Klara
Paris menolek kebelakang, tiba-tiba pisau itu tertacam di perut Paris. Paris langsung terjatuh, “Tolong… tolong….” Panik Klara melihat darah keluar dari perut Paris. Sedangkan kedua pria itu langsung berlari. Melarikan diri. “tolong…tolong…” teriak Klara sampai ada yang menolongnya.
Paris menatap Klara, “jangan menanggis…” langsung tak sadarkam diris.
“Pangeran…!!!” Klara tambah panik melihat Paris tak sadarkan diri lagi.
Orang-orang di sekitar kejadian langsung menolong Paris, dan sebagian menelpon ambulan untuk datang ketempat kejadian. Tak lama kemudian ambulan datang. Paris langsung di bawak ke rumah sakit terdekat. Setiba di rumah sakit Paris langsung  di bawak keruanagan UGD untuk tidakan lebih lanjut.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Eka  yang langsung datang setelah menerima telepon dari Klara.
“Belum tahu, dokter belum keluar dari tadi,” yang masih menanggis.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang UGD, “bagaimana dok?” tanya Klara panik.
“Da tak apa-apa. dia laki-laki yang kuat,” puji dokter.
“Apa bisa kami lihat?” tanya Eka.
“Silakan. Tapi pasiennya dipindahkan dulu di kamar rawat”.
“Terimah kasih dok,” kata Klara.

Setelah Paris dipindahkan ke salah satu kamar di rumah sakit untuk dirawat, Klara dan Eka langsung menuju kamar. Klara melihat Paris yang tertidur lemas di atas rajang, “kau terluka? Gara-gara ingin menyelamatinku, kau relah di tusuk,” kata Klara.
“Sudahlah. Semua orang pastih akan melakukan yang sama. Itupun tidak di segaja”.
“Kau ada disini?” tanya Jenni melihat Klara di kamar, “aku denggar kau juga yang membawa Paris kerumah sakit”.
“Itu semua gara-gara aku,” menyesal Klara.
“Sudahlah jangan merasa bersalah begitu. Paris juga tidak apa-apa,” kata Jenni pada Klara, lalu menatap Paris yang terbaring di tempat tidur, “dua orang yang menusukmu itu sudah di tangkap, mereka katakan Dewi yang menyuruh mereka. Sekarang polisi sedang memburuh Dewi yang kabur. Aku jamin Dewi pastih di hokum seberat-beratnya,” penjelasan Jenni.
Paris melihat Klara murung. Sedangkan Eka trus melihat  kalung berliontin kelinci melingkar di leher Paris. Di benak Eka sekarang, masa ada cowok memakai liontin kelinci yang biasanya cewek yang suka liontin seperti itu.

Setelah melihat keadaan Paris yang mulai membaik. Klara dan Eka pulang kerumah mereka masing-masing. Sesampai dirumah Klara langsung masuk kekamar. Ditutupnya matanya, agar cepat tertidur, dan bisa bangun lebih cepat agar bisa besok kembali kerumah sakit.
***

Pagi-pagi sekali Klara kerumah sakit. Klara kanget  melihat kamar tempat Paris dirawat semalam kosong, “sus, pasien yang disini mana?” tanya Maya, “dia korban tusuk kemarin”.
“Sudah pulang bu,” jawab perawat.
“Kapan?”.
“Semalam”.
“Paris langsung pulang,” binggung Klara, “apa dia sudah sehat. Tapi tak mungkin...”.

Dari rumah sakit Klara langsung ke apartemen Paris, “tok…tok…tok…” berkali-kali Klara mengetuk namun tidak ada jawaban dari dalam, “Pengacara… pengacara…!!” panggil Maya tapi tetap saja gak ada jawaban.
“Ibu cari pengacara Paris?” tanya Satpam yang kebetulan lewat melihat Maya mengetuk pintu.
“Kemana dia?”.
“Pak Paris sudah tidak tinggal disini lagi”.
“Apa. kemana?”.
“Saya kurang tahu soal itu”. Klara mencoba menghubungin no telepon Paris namun tidak di angkat juga. “mau ya itu apa sih!!” kuatir Klara.

Klara ke kantor Paris, setiba di kantor Klara langsung menuju ruangan Paris yang berada di lantai 5 memakai lip. “Apa ada Pengacara Paris?” tanya Klara pada sekretaris.
“Beberapa hari ini Pak Paris tidak akan masuk,” jawab sekretaris.
“Kenapa? Apa lukanya parah? Atau terjadi sesuatu padanya,” kuatir Klara.
“Saya tidak tahu bu”.
“Sekarang dimana dia?”.
“Saya tidak tahu bu, Pak Paris tidak memberitahu keberadaannya”.
“Oh… mana pengacara wanita yang selalu bersama Paris?”.
“Aku disini.” Kata Jenni muncul dari balik pintu ruangan Paris.
“Kau pastih tahu dimana Paris?”.
“Paris sedang ada urusan pribadi”.
“Apa itu?”.
“Kau siapa Paris? Pacarnya, kekasihnya atau istrinya?” tanya Jenni.
“A.. aku memang bukan siapa-siapa Paris, “diam sejenak, “mungkin jika kau yang telepon pastih diangkatnya. Katakan padanya aku mintak maaf,” air mata jatuh membasahin pipinya, “permisih…” Klara keluar dari kantor. Klara melihat di sekelilingnya, “kau dimana hu…humm… kau dimana pangeran,” yang terus menanggis.
***
Rian melihat Klara masuk keruangan, padahal sekarang sudah pukul 2 siang.  Rian mendekatin Klra di meja kerjanya, “aku mau  bicara?” kata Rian lalu keluar dari ruangan. Klara mengikutin Rian sampai kekantin kampus. “duduklah dulu,” Rian memesan 2 teh pada ibu kanti. Tak lama kemudian Rian kembali dengan membawa 2 gelas teh, “minumlah,” sambil meletakkan gelas didepan Klara.
“Trimah kasih,” Klara minum.
“Kau kelihatan murung”.
“Maafkan aku. Aku terlalu memaksakan diri untuk menyukain kakak”.
“Aku tahu itu,” menatap Klara, “dari awal aku sudah tahu kau menyukain Paris. Walaupun seribu kali kau membatahnya, tapi hatimu tak bisa membatahnya”.
“Aku memang bodoh. Aku tak tahu selama ini aku sangat membutuhkannya,” air mata jatuh kembali di pipi Klara. Tidak teritung lagi Klara menanggis seharian ini, “aku sangat membutuhkannya sekarang hum…humm… hemmm….”.
“Ibu Klara tidak apa-apa?” tanya Sarah yang melihat Klara menanggis .
Klara langsung menghapus air matanya, “aku tidak apa-apa”.
Liga, Doti, Sarah,  sinta dan Roni duduk di meja Klara dan Rian duduk. “Ibu jangan menanggis lagi,” kata Liga.
“Lihat mahasiswamu sangat menguatirkan dirimu sekarang,” kata Rian.
Klara berusaha tersenyum didepan mereka, “trimah kasih”.
***
Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar