Senin, 16 September 2013

Drama Korea Empire Of Gold Episode 1 Part 1

Seorang pria sedang melajukan mobilnya, terdengar pula suara radio yang sedang membacakan berita. “Anggota Kongres Kim Gwang Se, calon Menteri Infrastruktur menyatakan niat secara sukarela untuk datang ke kantor kejaksaan malam ini”
Pria yang mengemudi itu Jang Tae Joo(Goo Soo), setelah mendengar berita itu dia mematikan radionya.
Dilain tempat, seorang wanita sedang menelfon, dia Yeon Seol Hee (Jang Shin Young). Dia baru selesai mandi dan sedang menelfon seseorang, aku tak bisa menundanya lebih lama, dia akan pergi sekarang.
Taernyata, dia sedang menelfon Tae Joo, Tae joo menyuruhnya untuk menemui seseorang itu sekali saja.  Tapi Seol Hee seperti tak ingin melakukannya, Tae joo-yah...
Tae Joo bertanya dengan dingin, apa Seol Hee tak mau, apa dia pernah menolak tubuhmu?
Seol Hee terdiam, sakit hati mungkin dengan perkataan Tae Joo, dia hanya mengusap kaca yang berembun di depanya. Seol Hee menatap wajahnya sendiri.
Seorang Pria berumur yang sedang terduduk juga sedang menelfon, dia Kim Gwang Se, dia menyuruh sekertaris Choi untuk menyelidiki kasus Tae joo dari membuat pusat perbelanjaan bangkrut dan penggelapan uang. “Benar, jangan lewatkan satu catatanpun dari Jang Tae Joo. Kumpulkan semuanya. Lihatlah, Sekretaris Choi, apakah ini pertama kalinya kau bertransaksi di Yeouido? Jerami adalah jaksa...  Aku pergi sekarang, tunggulah di depan Kantor Kejaksaan Seoul... “
Seol Hee keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya, dia mendekati Gwang Se. Yeon Hee lalu membelai pundaknya dan melepas pegangannya pada handuk, membiarkan lilitanya terlepas.

Gwang Se sedikit terkejut lalu menghentikan panggilannya. Sedikit berfikir, Gwang Se melanjukan panggilannya, dia menyuruh memberitahukan Jaksa Park untuk menunda pertemuan 30 menit. Yeon Hee yang berada dibelakang Gwang Se hanya melihatnya dengan tatapan dingin.

Tae Joo menemui Gwang Se dan Seol Hee. Tae joo lalu menyodorkan sebuah amplop yang berisi tiket penerbangan ke Macau dan berjanji akan memberikan kunci bank yang harus ada 1 juta AS dalam tabungannya, “Jika kau menggunakannya sebagai uang saku untuk saat ini, Aku akan segera mengirimkan jumlah yang seharusnya. “

Gwang Se membuka amplopnya, dia bertanya kenapa hanya tiket keberangkatan, mana tiket pulangnya?
Tae Joo menjawab kalau dia akan mempersiapkannya dalam dua tahun. Gwang Se hanya tertawa, “Untuk anggota kongres dengan masa jabatan empat tahun dan calon untuk Menteri Infrastruktur... kau menyarankan untuk melarikan diri ke luar negeri?”

Dengan tegas Tae Joo mengatakan kalau dia harus tetap hidup, “aku percaya ini akan diajukan di persidangan dan telah dibocorkan oleh kantor kejaksaan. Dan tim investigasi keuangan dari pihak penuntut telah menyuruhmu untuk menangkapku.”
Gwang Se seperti tak perduli, Jadi?
“Jadi .....Kau akan menangkapku” ucap Tae Joo

Gwang Se tetap tak mau karena dia masih memiliki mimpi untuk memiliki negeri ini, Tae Joo menyela kalau dia akan membeli mimpi itu dengan dua milyar won. Gwang terlihat kesal, Tae melanjutkan, “Untuk istrimu, aku mempersiapkan sebuah pusat perbelanjaan mewah di Sogong-dong.”

Seol Hee sendiri menatap Tae Joo dengan dingin. Gwang se agak kesal tetapi anehnya selang beberapa detik dia akhirnya tertawa lantang, Tae Joo menatap Gwang Se pun ikut tertawa, puas.
Gwang Se menelfon Sekertaris Choi dan menyuruhnya untuk membatalkan perjalananya ke kantor Kejaksaan, kemudian bakar semua dokumen tentang Jang Tae Joo.

Tae Joo menatap Gwang Se dengan tersenyum. Gwang Se mengakhiri panggilanya, dia meminta Tae Joo untuk datang ke Macau juga, Kau mengerti aku dengan baik bukan?
Gwang Se mengulurkan tangannya. Tanpa menyambut uluran tangan Gwang Se, Tae Joo mengatakan kalau orang yang dia tau dengan baik adalah Sekertaris Choi.

Gwang Se terpaku mendengar perkataan Tae Joo. Tae Joo membuktikannya dengan menelfon Sekertris Choi.
Tae joo bertanya pada Sekertaris Choi   : Apakah kau menyukai apartemen barumu, Sekretaris Choi? . Apakah kau mendapatkan telepon dari Anggota Kongres Kim tentang pembatalan perjalanannya ke kejaksaan? Dan kau tidak mendapatkan perintah untuk membakar semua dokumen? Tentu saja kau juga tidak mendengar apapun tentang mendapatkan udara segar.

Tae Joo menatap tajam ke arah Gwang Se yang berdiri dengan gemetar. Tae Joo sangat geram dan mengambil pisau buah yang ada di depannya. Seol Hee yang sedari tadi duduk diam, sedikit khawatir dengan reaksi Tae Joo meskipun Seol Hee tak berusaha menenangkan Tae Joo.

Tae Joo memojokkan Gwang Se ke dinding dan mencengkeram lehernya. Tae Joo marah karena tak seharusnya Gwang Se berbohong, Kita memutuskan untuk menipu dunia bersama-sama. Bahkan jika kau melemparkanku ke selokan, jika kau menjadi menteri... kau hanya akan memilih siapa yang akan menawarkanmu uang...

Gwang Se meyakinkan kalau dia pasti akan ke Macau. Tae Joo tetap mencengkeram leher Gwang Se, ” Ketika politisi mengatakan 'percaya padaku'... tidakkah itu berarti, 'tertipu sekali lagi '? Dengar baik-baik... aku memiliki... apa yang kau miliki. aku punya mimpi... dan juga kekuasaan.”
Gwang Se terus mengatakan kalau dia akan pergi, Tae Joo terlihat percaya sehingga melepaskan cengkramannya menyuruhnya pergi ketika dia melambaikan tangan (menyuruhnya pergi).


Gwang Se ternyata Cuma menipu, dia mengambil pemukul golf yang ada didekatnya untuk memukul tae Joo. Tapi dengan sigap Tae Joo berbalik dan menusukkan pisaunya kearah Gwang Se.
Seol Hee yang duduk menyaksikan perdebatan mereka terkejut melihat Tae Joo menusuk Gwang Se.


Pisau ditangan Tae Joo dilumuri begitu banyak darah. Sedikit gemetar, Tae Joo menjatuhkan pisau ditanyannya. Seol Hee sangat terkejut, sampai dia mengeluarkan air mata melihat Gwang Hee meninggal. Tae Joo pun juga seperti terkejut akan tidakannya sendiri sehingga hanya berdiri terpaku.

Suara jam dinding membuyarkan keheningan, Tae Joo sedikit kaget dengan suara jam itu. Dia celingukan takut ada yang melihatnya, sampai akhirnya dia menatap kaca yang ada didepannya. Dia menatap lekat dirinya sendiri, perlahan wajah yang tadinya cemas berubah tenang. Tae Joo lalu mengambil pisau yang tadi menusuk Gwang Se.

Tae Joo menghampiri Seol Hee, dia langsung menatap Seol Hee tajam, Anggota Kongres Kim Gwang Se memanggilmu ke sini untuk berbicara dengamu. Dia mabuk. Dia menginginkanmu. kau menolak.
“Dia merobek bajumu.” Tae Joo pun merobek baju Seol Hee.



 “Dia memukulmu... dengan tangannya. Dengan stik golf. Dan kemudian... kau menikam Kongres Kim Gwang Se!” Tanpa kasihan Tae joo menyerahkan pisau yang berlumuran darah ketangan Seol Hee, Seol Hee hanya dapat menangis dan memanggil Tae Joo, Tae Joo yah...

Tae Joo mengambil telefon ke 112, mungkin dia menghubungi kantor polisi lalu dia menempelkannya pada Seol Hee. Seol Hee gemetar dan tak mengucapkan apa-apa setelah tersambung.

Tae Joo melihat kecemasan Seol hee, Tae Joo seperti meyakinkan dan mencium bibir Seol Hee. Tae Joo berbisik, Masukkan aku... atau... masukkan dirimu sendiri.

Dengan terbata-bata, Seol Hee mengatakan kalau dia telah membunuh seseorang. Agak berteriak Seol Hee mengulang kata-katanya. Beneran miris liat Seol Hee nangis. Dia menangis kesal, takut, shock.
Seperti menguatkan, Tae Joo mendekap Seol Hee dalam pelukannya.

Pembunuhan itu terjadi pukul 15.00
Lalu di jam 17.05, sepasang pengantin sedang mengucapkan janji suci di sebuah gereja. Tak ada tamu disana hanya pasangan pengantin dan pendeta.



Pasangan pengantin itu adalah Tae Joo dan Yoon Seo( Lee Yo Won), Setelah janji suci diikrarkan, Tae Joo memakaikan cincin, dilanjutkan dengan Yoon Seo. Tapi untuk Sesaat Yoon Seo terdiam karena melihat darah di jari Tae Joo, dia menatap Tae Joo lekat meskipun begitu Tae Joo bersikap biasa saja.

Empire Of Golf Episode 1~~

Ditahun 1990
Sebuah Tv sedang menayangkan variety Show, ada seorang anak yang sedang bermain game dan Tae Joo. Ibu anak itu datang, dia meminta maaf telah menguji Tae Joo karena tak semua mahasiswa Hukum kompeten. Tae Joo mengangguk tak mempermasalahkan, dan ibu anak itu meminta untuk melakukan les privat mulai minggu depan. Ibu itu lalu memerintahkan anaknya, Byung Soo yang sibuk main game untuk mengambil uang untuk bayaran Tae Joo.


Tae Joo berjalan menuju gedung yang masih dalam proses pembuatan, dia menemui ayahnya yang sedang sibuk mengelap papan nama toko mie-nya. Ayah bertanya kenapa Tae Joosering  datang, kau harus terus belajar.
Ayah bercerita tentang Toko mie yang ada di seberang jalan sekolah Hee Joo, tempatnya bagus, bagaimana kalau kita memasang ini (Papan tanda) disana. Tapi Tae Joo langsung menimpali kalau mereka tak punya uang.

Mereka lalu berdebat, intinya Tae Joo meminta ayahnya untuk menyerah saja karena penggusuran toko mereka dan membuat bangunan baru tapi sepertinya tak kunjung jadi untuk proyek negara. Meski mereka sudah membayar 90 juta won, tapi seperti penipuan mungkin negara hanya mengembalikan 10juta won dengan alasan untuk keamanan uang deposit.

Tae Joo mengambil uang les yang ada disakunya, kemudian menyerahkannya pada Ayah. Ayah menyuruh Tae Joo untuk mengembalikan uang itu, bukankah kau ingin menjadi jaksa? Kau punya waktu untuk mengajar orang lain? Kapan kau akan belajar untuk dirimu sendiri?


Tae Joo menyuruh ayahnya untuk membeli gerobak saja, Aku dan Hee Joo akan membantu akhir pekan. Tapi ayahnya menolak karena dia sudah melakukan itu selama 30 tahun sampai akhirnya dia bisa punya papan toko. Tae Joo kesal ayahnya keras kepala untuk tetap mempertahankan gedung yang bahkan mungkin pembuatnya sudah pergi dan hanya ayahnya yang tetap bertahan menunggu gedung itu.

Tae Joo mengatakan kalau dia akan mendapatkan toko, uang..
Ayah menunduk sedih dengan keadaannya kalau dia tak mau menjadi beban untuk anaknya. Tae Joo dengan agak ragu mengatakan, bahkan sekarang...bahkan sekarang.. kau menjadi beban.

Ayah sedih dan kaget mendengar perkataanya, dia sedikit mengangguk meng-iyakan kata-kata anaknya. Tae Joo sadar kata-katanya terlalu kasar, maafkan aku, eomma....
Ayah memotong perkataan Tae Joo, dia mengatakan kalau tempat ini adalah toko mie Busan, toko paling terkenal, saat berkencan dengan ibu Tae Joo dia mengajaknya kesini tanpa uang seperserpun, mereka membeli mie dan saling berbagi. Ayah berjanji akan membuka toko mie untuk ibu Tae Joo. Oleh karena itu, ayah tak mau menatap Ibu sampai dia membuka toko.

Tae Joo menatap ayahnya , Para pemenang berhak untuk menilai dunia ini.
Ayah      : Apakah itu benar? Jika itu terjadi, Tae Joo, aku akan mencoba untuk menang kali ini.


Seorang dokter sedang menerangkan tentang operasi steatoma pada pasienya. Tapi si kakek itu tak mendengarkan, malah menyuruhnya pergi.
anaknya, itu Choi Yoon Seo (Lee Yo Won). Dia menerangkan mengenai pabrik manufaktor mobil, Jika kau menandatanganinya setelah operasi....
ayahnya itu acuh, dan menyuruh mereka untuk mengakhiri pertemuan mereka. Dokter dan Yoon Seo pun keluar dari kamar itu.

Yoon Seo bertanya pada dokter yang menangani ayahnya, dokter pasti sudah mengatakan pada pers tentang operasi ayahnya. Yoon Seo menyuruh dokter itu meningkatkan keamanan tim medis.

Dokter  : Mengikuti arahan Ketua, kami akan menjaga rahasia selama 24 jam... dalam kasus kematian, eksekutif Direktur Park Jin Tae...
Mendengar kata kematian Yoon Seo terkejut, operasi apa yang diterima ayahnya?

Dokter  : Dia memiliki astrocystoma. Kami harus mengangkat tumor di lobus frontal... namun angka kelangsungan hidup setelah operasi adalah... sekitar 35%.
Mendengar penjelasan dokter, Yoon Seo hanya menghela nafasnya. “kau tidak mampu menjaga kesehatan Ayah... tapi kau dapat menyimpan rahasia, kan?”

Setelah dokter pergi, Yoon Seo tak bisa menahan kesedihanya. Badannya pun limbung.


Seseorang sedang menelfon di dalam mobilnya. Disampingnya juga ada Choi Min Jae, dia bertanya Dia mengatakan padamu untuk melaporkan perjalanan ke Cina kepada Presiden?
Min Jae                : Pemerintah saat ini menempatkan bantuan pada diplomasi dengan China. Mengapa dia membiarkanmu mengambil kredit untuk membangun hubungan...
orang itu menyela           : Cukup! Saudara dapat memberikan hadiah satu sama lain setelah mereka bertengkar... Dia hanya memberiku sekantong emas... apa yang harus aku lakukan untuknya?
Min Jae mendengarkan kata-kata orang itu dia tampak berfikir namun entah apa itu.

Orang itu terus saja mengoceh, Presiden saat ini adalah temannya saat wajib militer, 20 tahun lalu. Tapi kami masih jadi orang biasa saat itu. Min Jae tak mendengarkan, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Ayah Yoon Seo dan ibunya sedang berbincang tentang Myung Soo, Saat itu Yoon Seo masuk dan meminta waktu untuk berbicara berdua dengan ayahnya tentang perusahaan, karena ini panjang dan membosankan membosankan. Ibunya mengerti dan pergi, dia menyuruh memanggilnya jika butuh sesuatu.

Yoon Seo terdiam memandang lekat ayahnya, tanpa disadari meneteskan air mata. Ayah tau kalau anaknya telah tau operasi yang ayahnya berbahaya.
Ayah      : Dr Park tidak memiliki kompetensi dan tidak ada cara untuk membuatnya tetap diam. Ganti bank utama. Teman dong Jin adalah ketua sana. Jangan menyentuh bisnis elektronik. Jepang adalah langit dan Taiwan adalah gunung. Hidup dan asuransi kebakaran adalah sapi kuno...


Yoon Seo mencoba tegar, dia mengatakan kalau dia akan melakukan semua yang ayahnya suruh. Tapi ayah harus berjanji, untuk selamat dan berhasil dalam operasi, “Baerjanjilah padaku..”
Ayah mengatakan kalau dia tak akan mati karena di hidup untuk anak-anaknya. Jae Hee tak cukup otak, sedangkan kau masih begitu muda. Jika aku mati sekarang separuh tubuhku akan jatuh.

Ayah tak tahan melihat Yoon Seo menangis, siapa sih ayah yang tega liat anaknya nagis. Yoon Seo tertunduk, mencoba menutupi tangisnya. Ayah menyurunya jangan menangis sambil mengulurkan tisu.


Ibu Yoon Seo dan sekertaris ayahnya datang, dia memberitahu kalau Choi Dong Jin sudah pergi, dia akan ke Singapura dengan penerbangan China. Ayah menyuruh sekertarisnya untuk membatalkan kontraknya, dia menasehhati Yoon Seo untuk tetap fokus pada pekerjaanya. Ayah juga mengatakan pada Ibu Yoon Seo, selama dia boleh pergi dia ingin menemui Won Jae bulan depan.

Min Jae sedang keluar dari bandara, Sekertarisnya dengan tergesa-gesa mengahmpiri Min Jae. Dia mengatakan kalau negosiasinya hancur.
Sekertaris            : Para pengunjuk rasa diminta untuk membayar sewa sementara mereka menempati bangunan secara ilegal. aku yakin negosiasi itu dihancurkan dengan sengaja.

Min Jae menyuruh Sekertarisnya menghubungi Direktur Kim. Sekertarisnya mengatakan kalau Direktur Kim pergi ke Pulau Jeju, sedangkan Direktur Park dan Jo pergi ke Libya.
Min Jae geram mendengarkan laporan itu, “Dalam sepuluh tahun terakhir... tidak ada yang berjalan seperti rencana Ketua.”

Seorang pria sedang berada di bus yang penuh berisi pekerja yang sedang menonton tinju. Mereka sangan berisik. Tapi pria itu hanya diam, dia Jo Pil Doo. Pil Doo membuka tirai busnya, menatap gedung yang penuh dengan spanduk, sepertinya spanduk kecaman, kemarahan.
Ini Gedung tempat ayah Tae Joo.

Sekertaris Min Jae sedang menerangkan tentang para unjuk rasa. Mereka berjumlah 24 dan kebanyakan berusia lanjut.
Min Jae menyuruhnya untuk ikuti aturan jika tak memiliki alternative. Seketarisnya langsung menelfon seseorang.


Ternyata yang telfon adalah Pil Doo orang di dalam bus, dia menerima panggilan itu lalu berdiri, “Ayo kita pergi bekerja.”
Dan orang-orang didalam bus itu yang tadinya aku kira para pekerja ternyata preman, mungkin. Karena mereka langsung mengambil pemukul yang disembunyikan mereka.

Min Jae memasuki gedung lalu bertanya pada sekertarisnya, Apakah kita memiliki sisa waktu 20 menit sampai pertemuan dewan darurat?, sekertarisnya meng-iyakan.
Yoon Seo juga memasuki gedung yang sama, dia sedang menelfon seseorang berbicara mengenai pencuri skor, dan apa mereka termasuk perusak perusahaan. “Tidak, kau tidak perlu menyelidiki siapa di balik itu.”
Sambil bertelefon dia menatap Min Jae seperti pandangan sinis, tapi akhirnya dia memanggilnya dengan akrab, oppaa. Min Jae menyapa balik, Yoon Seo yah...


Mereka lalu masuk kedalam lift bersama. Sedikit berbasa basi awalnya, tapi Yoon Seo lalu mengatakan, “Dia meminta... kau dan aku berhenti. aku mengatakan kepadanya... bahwa ini semua akan berakhir hari ini. Kami memiliki 10 menit sampai pertemuan darurat. Diantara kita, sepupu, jangan mempermalukan diri di depan karyawan. Tim audit internal sedang menyelidiki proses penawaran kompleks apartemen. Paman dan kau mungkin dituduh dengan bisnis malpraktek.”

“Makanan dan Distribusi Sung Jin... Hanya itu yang aku miliki. Hanya itu yang bisa kuberikan untukmu. kau dapat menjaga keduanya... atau kau dapat memberikan satu untuk Yong Jae. Mari kita selesaikan di sini. “ lanjut Yoon Seo.

Sekertaris Min Jae mendapat panggilan, dia ternyata bernama Kang Ho Yeon dan aku akan memanggilnya sekertaris Kang. Dia agak terkejut, tapi entah kenapa. Orang yang menelfonya pun tak nampak mukanya. Dia memakai cincin besar. Sek.Kang pun mengangguk, baik.


Min Jae memejamkan matanya, merasa bersalah. Dia berniat mengatakan sesuatu, Yoon Seo yah.. tapi belum sempat melanjutkan, dia melihat Sek.Jo yang menggelengkan kepala.
Min Jae : Ayahku mewawancarai para eksekutif ketika mereka pertama kali mendapatkan pekerjaan di sini... dan aku mempromosikan mereka. Ini tidak akan terjadi sesuai rencana Ketua.

Yoon Seo mengatakan kalau mereka telah berubah pikiran. Min Jae tersenyum, Mari kita lihat pada saat pertemuan... bagaimana orang-orang mengubah pikirannya.
Yoon Seo diam terpaku mendengar penuturan Min Jae. Min Jae lalu tersenyum lagi, dan menepuk pundak Yoon Seo yang masih diam. Min Jae pun keluar dari lift meninggalkan Yoon Seo.

Bersambung ke part 2

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar