Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyers 10

***
Semua mahasiswa disuruh pulang dan untuk sementara waktu diliburkan selama sehari untuk tidak menganggu pemeriksaan yang dilakukan pihak polisi di tempat kejadian.
Klara melihat Paris keluar dari mobil yang terpakir didepan kampus, “haii…” sapa Klara pada Paris yang melewatin dirinya.
Paris tak penduli sapaan Klara padanya,  dia terus melangkah menuju ruangan Pak Rudi yang berada dilantai 3 ruangan paling ujung. Paris melihat gambar tubuh yang sudah di gambar oleh polisi dan darah dari Pak Ruidi masih belum dibersikan.
“Ada Pengacara Paris?” tanya salah satu petugas yang sebelumnya sudah di telepon dari kantor polisi.
“Iya. Bagaimana tubuh korban ditemukan?” tanya Paris.
“Menggelentang”.
“Jadi korban dipukul dari depan?”.
“Sepertinya Iya. Karna terdapar luka di dahi sebelah kiri”.
“jadi memukulnya dari sebelah kanan,” paris melihat pintu, “pintu sebelah kanan, jadi tersangka langsung memukulnya”.
“Bisa juga dikirakan seperti itu”.
“Selain Pak Prengky apa ada orang lain yang datang menemuin korban?” tanya lagi Paris.
“Ada,” sambil membuka buku catatannya, “tadi pagi jam 8 Pak Surya menemuin korban”.
Ayah Klara, kata Paris dalam hatinya.
“di TKP juga ditemukan kayu.  Diujung kayu terdapat darah, waktu diperiksa darah itu milik korban. Dipekiran Kayu itu digunakan untuk membunuh korban”.
***
Sudah tiga jam Klara menunggu Paris keluar dari TKP. Klara melihat Keluar, langsung didekatin Paris, “haii…” sapa Klara, namun Paris tetap cuek seakan tidak ada orang disampingnya, “heii…” Klara berjalan mudur mengikutin Paris  yang terus berjalan. Klara  mengerakan tangnnya di depan wajah Paris. Tapi paris tetap melangkah, “heiii…ahh…” sepatu Klara mengenain batu yang menojol ke atas, Klara hampir jatuh karna batu ke itu, untunglah Paris langsung memengang  tangan Klara sehinnga Klara tidak terjatuh. “haa…” legah Klara tidak jadi jatuh. Klara melihat tangan Paris memengang tangannya.
Paris melepaskan tangannya, “kau ingin celaka?!”.
“Siapa sih yang mau celaka? Kalau aku tahu aku akan jatuh pastih aku sudah siap-siap dari tadi”.
“Hanya orang bodoh yang berjalan mudur!”.
“Itukan karna kau yang pura-pura tidak melihat!” kata Klara membelah diri.
“apa! kau…” menarik nafas, “sudahlah… kau kenapa menungguku?!”.
“kau sedang apa di  TKP?” tanya Klara.
“Itu bukan urusanmu?!” melajutin langkahnya.
“Kau pengacara Pak Rudi atau orang asing itu?”.
Paris menghentikan langkahnya tanpa melihat Klara yang berada tak jauh dibelakangnya.
“Aku tidak menyangkah orang asing itu pelakunya, karna dia tadi bertanya ruangan Pak Rudi padaku. Ini pertama kali aku melihat korban pembunuhan”.
Paris menolek, “yang kau sebut orang asing itu bukan pembunuhnya”.
“Kau tahu dari mana?”.
“Aku tahu siapa dia, dia tak mungkin berani melakukannya,” lalu melajjutin langkahnya menuju mobil, langsung masuklalu pergi dari kampus.
Klara kesal, “sudah menunggu, bukan diantar pulang, malah langsung pergi!,” Klara melangkahkan kakinya menuju gerban kampus untuk mencari taxi untuk pulang..
***
“Bagaimana keadaan Papa?” tanya Paris pada Jenni melaluin hp.
“Sudah tenang. Kau tidak usah kuatir,” kata Jenni.
“Papa tidak pernah mengalamin masalah seperti ini”.
“Kau  tidakl usah menguatirkan keadan Papa. Cari saja buti Papa tidak bersalah”.
“aku tahu itu. Sudah malam. Sampai jumpa di kantor besok,” lalu mematikan hp. Dilihatnya pemadangan luar apartemen dari blangkon.
***
Klara melihat Bunda masuk kekamarnya, “ada apa Bunda? Ayah masih marah?”.
Bunda membaringkan tubuhnya di atas kasur, “tidak. Ayah tidak marah lagi dengan Bunda”.
“Lalu kenapa Bunda tidur disini lagi?”.
“Bunda takut”.
“Takut apa?”.
“Seharian ini Ayah kelihatan murung. Bunda lebih takut melihat Ayahmu murung dari pada marah-marah”.
“Kenapa Ayah murung? Apa ada masalah di kantor?”.
“Tidak tahu, Ayahmu tidak mau cerita”.
Klara membaringkan tubunya di sebelah Bunda, “tidak apalah Bunda tidur disini, kita kan jarang-jarang tidur bersama,” manja Klara sambil memeluk Bunda.
“Sayang…”
***

Pagi-pagi sekali Klara segaja datang ke apartemen  untuk menemuin Paris, “tok…tok…tok…” tak lama Klara mengetuk pintu. Pintu terbuka, “kau sedang apa disini?” melihat jam masih jam 7 pagi.
“Mau bertemumu?”.
“Ada apa?”.
“Bukannya kau pernah mengatakan, Jika kau membutuhkan teman untuk bicara, membutuhkan sesuatu dan pengacara yang baik, telepon aku, aku akan datang, kau ingat kata-kata itu?”.
“Masuklah,” kata Paris.
Klara masuk langsung ke blangkon, “wahhh…. Ini pertama kali aku ke sini. Ternyata pemadangannya lebih indah dari sini,” puji Klara melihat pemadangan apartemen dari blangkon, “kau beli berapa apartemen ini? Apa masih ada yang kosong?” tanya Klara pada Paris yang  sedang duduk di kursi yang ada di blangkon.
“Orang tuamu tahu kau sering kesini?” tanya Paris tidak menjawab pertanyaan Klara membuka pertanyaan baru.
“Gak sopan ditanya balik tanya!” kesal Klara.
Paris tidak penduli perkataan Klara,  dia nikmatin secangkir kopi yang dibuatnya sebelum Klara datang.
***
“Baru kali ini kau di cuekin bebek oleh seorang pria,” kata Eka setelah mendenggar cerita Klara padanya, “bukannya kau pernah  bilang pengacara pernah bilang suka padamu?”.
Klara menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, “mungkin Paris tidak ada lagi perasaan ke aku”.
“Sabar saja,” kata Eka memberikan semangat pada temannya.
Hp Klara berbunyi, Klara langsung mengangkatnya, “Halo Bunda…” yang tahu siapa yang menelpon dirinya.
“Ayah Klara… Ayahmu hu…” kata Bunda sambil menanggis.
“Kenapa dengan Ayah!,” panik Klara.
“Ayah ke kantor polisi huhuhu…”.
“Apa!”.

Setelah mendenggar kabar dari Bunda Klara langsung ke kantor ditemanin Eka. Mereka ke ruang pemeriksaan, “Ayah…” panggil Klara pada Ayah yang sedang duduk di salah satu kursi  sambil di tanya beberapa pertanyaan dari petugas.
Ayah menolek, “Klara!” kanget Ayah Kalra ada di kantor pilisi.
“Kenapa Ayahku di panggil ke sini?” tanya Klara pada petugas.
“Ibu siapa?” tanya petugas.
“Saya anaknyu. Apa kesalahan Ayah saya?”.
“Kami mau bertanya kedatangan Pak Surya pagi itu saat kejadiaan dan apa hubungan Pak Surya dengan korban,” jawab petugas.
Klara mengingat kemarin Klara bertemu Ayah keluar dari kampus dengan bergesa-gesa. Tak lama kemudian Klara melihat Paris masuk keruangan bersama pria orang asing yang diduga pembunuh Pak Rudi.

Klara dan Eka menunggu diluar ruangan. Hampir 3 jam lamanya Klara dan Eka menunggu tapi yang keluar hanya petugas yang bolak-balik masuk ruangan.
“”Pengacara itu tidak memakai kalung itu lagi?” kata Eka yang tidak melihat kalung yang melingkar di leher Paris tidak seperti waktu di rumah sakit ada kalung berliontin kelici melingkar dileher Paris.
“Kalung? Kalung apa?” tanya Klara.
“Kau tidak melihat kalung yang  dipakai Paris waktu di rumah sakit?”.
Klara mengeleng, “memang kenapa dengan kalungnya?”.
“Aneh saja cowok pakai kalung berliontin kelinci”.
Klara kanget, “apa! berliontin kelinci. Itu tidak mungkin!” yang mulai berpikir kalung yang diberikan pada Luky 18 tahun yang lalu.
“Kenapa kau?” yang melihat Klara gelisah.
Klara berusaha untuk tersenyum, “ini pastih hanya kebetulan”.
“Maksudmu apa?”.
“18 tahun yang lalu aku memberikan kalung berliontin kelinci pada Luky,” cerita Klara, “ini pastih hanya kebetulan saja khan?”.
“Mungkin saja. nama mereka saja berbeda. Tapi bisa saja Luky mengganti namanya”.
“Itu tidak mungkin. kalaupun Luky kembali, dia pastih langsung menemuinku. Aku nyakit Paris bukan Luky, soal kalung yang kau bilang itu pastih kebetulan saja,” nyakit Klara namun di benaknya masih ada bimbang.
Tak lama kemudian Ayah keluar dari ruangan. “Ayah… Ayah tidak apa-apa?” tanya Klara.
“Ya,” ajak Ayah.
Klara melihat Paris bersama dengan Pak Prengky keluar dari ruangan, “wajar saja kau kemarin membelah orang asing itu, kau pengacaranya,” ucap Klara pada Paris yang tak jauh dari Ayah. “Ayo kita pulang Yah,” lalu keluar dari kantor polisi.
Paris hanya diam  mendenggar kata-kata Klara padanya menatap kepergiaanya  dengan menggunakan mobilnya yang dipakir.
"You know her?"tanya Papa, “he's smart and beautiful girl”.
Paris tersenyum mendenggar perkataan Papa, "I'd love it!".
"Yes ... it's a good girl. But why is she with that guy? ".
"The man's father".
***
“Sayang….” Sambut Bunda kedatangan Ayah dan Klara.
“Aku tidak apa-apa?” kata Ayah sambil duduk di sofa. “kau dekat dengan Paris?” tanya Ayah pada Klara yang juga duduk di sofa.
Bunda terkejut mendenggar perkataan Ayah, “Ayah tahu dari mana?” kata Bunda dengan nada suara kecil.
“Iya. Kenapa Yah?”.
“Jauhin dia!”.
“Apa! kenapa? Apa salah Paris?”.
“Jauhin Dia!!” marah Ayah.
“Kenapa kau marah-marah pada Klara?!!” marah Bunda, “tidak salah Klara dekat dengan Paris!! Perjodohan Klara dengan Rian juga sudah dibatalkan!! Mereka saling mencintain!”.
“Paris tidak mencintain Klara!!” marah Aayah.
“Kau tahu dari mana!!”.
“Bunda Ayah,” kata Klara menenangkan suasana.
“Aaahhh…” Ayah langsung masuk kekamar, dengan membantik pintu.
“Ayahmu memang keras kepala!” kesal Bunda.
“Bunda tidak pernah semarah ini dengan Ayah,” heran melihat Bunda pertama kali menentang Ayah.
“Mulai sekarang Bunda akan memebelahmu”.
Klara tersenyum, “trimah kasih Bunda”.
***
“Dari hasil fisum korban tewas sekitar  jam 9, sedangkan Papa datang pada jam 10.30. satu setengah jam dari kedatangan Papa korban sudah terbunuh. Itu saja sudah membuktikan Papa tidak bersalah dan tidak ada motif Papa untuk membunuh korban,” penjelasan Jenni, “sedangkan Pak Surya datang jam 8. aku denggar hubungan Pak surya dengan korban kurang akur. Coba kau berpikir untuk apa Pak Surya menemuin korban pagi-pagi?”.
“Aku tidak nyakit Pak Surya pembunuhnya,” kata Paris.
“Kenapa? Apa karna Ayah Klara? Bukannya sifat  Pak Surya akan melakukan apa pun untuk mencapai keinginannya”.
“Aku tidak tahu,” yang mulai pusing memikirkan masalah ini.
“Kau sebenarnya mau membuktikan Papa atau Ayah Klara yang tidak bersalah?? Kau tahu sendiri hanya mereka berdua yang datang sebelum kejadian. Jika kau membantu membuktikan Ayah Klara tidak bersalah, kau tahu kan akibatnya? Papa akan jadi tersangkah pembunuhan. Walaupun kita membuktikan Papa tidak bersalah faktanya Papa ada di tempat kejadian. Dan di kayu itu juga terdapat bekas telapak tangan Ayah”.
“Aku tidak mau membahasnyya sekarang”.
“Lalu kapan? Sampai Papa masuk penjara!?”.
“Diam!!” marah Paris, “aku butuh sendiri,” kata Paris lalu pergi dari kantor.
***

“Aku tidak menyangka orang tua Pak Paris membunuh Pak Rudi?” kata Benni.
“Jangan berpikir seperti itu. Polisi kan belum menentukan  tersangka pembunuhan Pak Rudi,” kata Rian.
“Benar. Kita tidak boleh berpikiran jelek pada Pak Paris,” sambung Erika.
“Tapi aku denggar dari polisi,  Pak Surya bisa juga jadi tersangka pembunuhan Pak Rudi,” kata Joni.
“Pak Surya  Ayahnya Ibu Klara?” tanya Benni.
“Iya. Katanya pagi-pagi Pak Surya menemuin Pak Rudi, dan sempat ada yang mendenggar keributan didalam ruangan Pak Rudi, tapi setelah Pak Surya keluar Pak Rudi tidak keluar lagi sampai Pak prengky datang,” penjelasan Joni.
Klara yang mendenggar dari balik pintu ruangan obrolan teman-teman satu ruangan tentang Ayahnya, langsung berlari keluar  menuju taman. “Ayah bukan pelakunya!” kata Klara yang tak percaya yang didenggarnya.
***
Paris ke temapt TKP. Dilihatnya  setiap sudut ruangan berharap ada bukti yang ditemukannya. “Siang pengacara?” sapa petugas pada Paris yang sedang jongkok di depan gambar yang dibuat polisi  tubuh korban saat ditemukan.
Paris menolek, “ada kabar terbaru?”.
“Iya. Jam 8 Pak Surya datang menemuin korban. Ada yang mendenggar ada keributan didalam ruangan. Sejak Pak Surya keluar, korban tidak keluar lagi dari ruangan,” penjelasan petugas.
“Jam berapa Pak Surya keluar dari ruangan?”.
“Diperkirakan jam 9. dan juga di kayu terdapat 2 cap tangan”.

Setelah mendenggar  penjelasan petugas. Paris keluar dari Tkp menuju mobilnya yang terpakir di depan kampus. dilihatnya Klara duduk di taman sedang menanggis. Paris yang yang tak mau penduli, akhirnya penduli juga melihat Klara yang terus menanggis, lalu mendekatin Klara. “Kenapa kau menanggis?” tanya Paris.
Klara menolek, langsung dihapusnya air mata di pipinya saat melihat Paris didepannya, “kau masih penduli padaku?!”.
Paris duduk di sebelah Klara,” kau memikirkan kasus  yang melibatkan Ayahmu?”.
“Mereka mengatakan Ayah bisa jadi tersangka. A… aku tak percaya Ayah membunuh Pak Rudi”.
“Itu bisa saja terjadi”.
“Apa maksudmu?” Menatap Paris, “kau mengira Ayahku memang membunuh Pak Rudi”.
“Jawabannya ada pada Ayahmu. Bukannya mereka sempat bertengkar”.
“Kau mengatakan ini karna ingin membelah klienmu khan?!!”.
“Tidak”.
“Lalu apa?”.
“Karna aku tahu dia bukan pelakunya!”.
Klara berdiri,” kau tahu dari mana?!! Memang kau ada di saat kejadian!!”.
Paris berdiri, “kau tidak mengerti Klara!!”.
“Kau yang gak mengerti!!,” marah Klara,” jika Pak prengky terbukti tidak bersalah, Ayahkulah tersangkah utamanya. Iyakan?!” kata Klara menatap Paris.
“Iya”.
Klara menanggis, “apa kau tidak bisa membuktikan Ayahku tidak bersalah”.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa”.
“Kenapa? Pak Prengky membayarmu mahal. Berapa? Aku akan membayar 5 kali lipat dari  Pak Prengky  membayarmu?!!”.
“Ini bukankarna uang!!” marah Parisd.
“Lalu karna apa?!”.
“Pak Prengky adalah papaku!”.
“Apa!!” Klara terkejut mendenggarnya.
“Aku tidak bisa menghianatin orang tua  yang sudah mengganggapku seperti anak kandungnya sendiri,” kata Paris lalu pergi meninggalkan Klara.
Klara duduk kembali. Tubuhnya gemetar. Air mata terus mengalir membasahin pipinya. Dibenaknya terombang ambing anatara percaya dan tak percaya.
***
“Kasihan Ibu Klara dan Pak Paris, mereka harus terlibat karna kasus orang tua mereka,” kata Erika.
“Kita juga mau membantu mereka, kita tak bisa berbuat apa-apa,” kata Rian.
“Setidaknya kita beri mereka semangat”.
“kau benar”.
“Besok aku akan ajak Ibu Klara ngobrol”.
“Kalau bisa jangan bahas hubungan mereka”.
“Iya”.
***
Bunda masuk kedalam kamar Klara. Dilihatnya Klara termenung di atas kasur, “seharian kau tidak makan? Ayo sayang kita makan?” rayu Bunda.
Klara menatap Bunda, “Bun. Apa Ayah seorang penjahat?”.
“Apa yang kau katakan!! Walaupun Ayahmu sering marah-marah tapi Ayah bukan penjahat!!” marah Bunda.
“Aku juga tidak percaya Ayah seorang penjahat,” Klara menanggis, “Ayah tak akan mungkin melakukannya kan Bun?”.
“Ayahmu bukan seperti itu Klara,” Bunda menanggis langsung memeluk Klara.
“Aku binggung Bun…”.
Bunda menatap Klara, dihapusnya air mata di pipi Klara, “kau tidak usah menanggis. Bunda nyakit Ayahmu akan bebas dari tuduhan itu”.
***

Pagi-pagi sekali Klara ke pemakaman Umum dengan membawa sekeranjang bunga berwarna-warni. Klara berhenti disalah satu kuburan yang berada di bawah pohon besar. “hai Esa… lama tidak bertemu,” sapa Klara pada kuburan Esa dihadapannya sambil menyiram bunga di kuburan yang bawaknya, “mungin ini untuk kedua kalinya aku kesini,” lalu tersenyum, “kau pastih marah padaku karna aku tidak pernah kesini, tapi aku tetap adikmu khan,” lalu menanggis, “aku binggung harus cerita kesiapa lagi,” diam sejenak, “kapan saja Ayah bisa menjadi tersangka pembunuhan. Kau pastih juga gak percaya Ayah bisa melakukan itu, aku pun tak percaya, tapi bukti sudah membuktikan Ayah pelakunya. Aku pusing memikirkannya,” diam sejenak,” aku mengenal seorang pengacara, dia baik, pintar dan selalu ada untukku. Kau pastih menyuruh aku mintak bantuan ke dia. Itu tidak bisa aku lakukan, karna dia pun harus menolong Papanya. Tolong bantu aku untuk berpikir… tolong kak Esa…” Klara terus menanggis. Setelah puas menanggis. Klara menghapus air mata dipipinya,” aku mintak maaf pernah mempermaikan perasaan Kak Rian, suamimu. Aku baru sadar suka dan menyukain itu sangat berbeda jauh saat dia jmenghilang perasaanku sakit sekali. Tapi ketika bertemu lagi, dia masih bersikaf dingin padaku. Aku rindu dengan Paris yang aku kenal dulu. O iya… soal Ibu Erika, kau pastih sangat setuju hubungan mereka, sebelum kalian menikah Ibu Erika sudah menyukain Kak Rian, dia wanita yang baik, dan sangat cocok sekali dengan Kak Rian,” kata Klara panjang lebar. Klara melihat kuburan yang tak jauh dari kuburan Esa, “aku ingat di sekitar pemakaman ini, Paman Budi juga dimakamkan. Aku mau kesana dulu, nanti aku kembali lagi,” kata Klara lalu ke kuburan Pak Budi.  “Pagi Kek,” sapa Klara Kakek yang sedang membersihkan kuburan Budi.
“Pagi,” kakek itu membalas sapaan Klara.
Klara melihat bunga melati yang sangat segar di kuburan Budi, “bunga yang cantik,” Puji Klara, “Kakek yang meletakkan bunga itu?”.
“Bukan non,” jawab Kakek, “saya hanya diperintakan membersihkan kuburan ini saja”.
“Mak…sud Kakek, ada orang yang menyuruh ka…kek untuk membersihkan kuburan Paman Budi?”.
“Iya”.
“Si…apa?”.
“Anak Pak Budi”.
“Luky?”.
“Bukan. Namanya bukan Luky. Namanya Paris, Pengacara Paris”.
“Aoa!” kanget Klara, Klara teringat kata-kata Eka padanya waktu di kantor polisi, Aneh saja cowok pakai kalung berliontin kelinci dan Tapi bisa saja Luky mengganti namanya,”Luky mengganti namanya? Tidak mungkin,” Klara tidak percaya. Klara teringat saat dirinya dan Paris  bertemu tiba-tiba dengan Bunda di lestoran.
“Namaku Paris Eriko Prengky. Panggil saja aku dengan Paris”.
“Pekerjaanmu?” tanya Bunda lagi.
“Aku seorang pengacara dan dosen”.
“Pekerjaan orang tuamu?”.
“Bunda….” Malu Klara pada Paris dengan Bunda yang banyak bertanya pada Paris.
“Tidak apa-apa.  kedua orang tuaku sudah meninggal. Ayah meninggal waktu aku berumur 18 tahun dan tiga tahun kemudian ibu meninggal. Aku diadopsi keluarga dari Amerika. Ayah angkatku  membuka perusahaan industri di Amerika. Dan mama sebagai dokter di rumah sakit hospital city in Amerika”.”
“Kau anak angkat?”.
“Mereka mengganggap aku sebagai anak mereka sendiri, mungkin karna aku menggatikan anaknya yang sudah meninggal”.
“Umurmu berapa?”.
“Aku lebih tua 3 tahun dari Klara Ibu”.
“Luky juga umurnya 3 tahun lebih tua dariku,” yang masih pusing memikirkannya. Klara teringat sat dirinya bertanya tentang Paris di Cave Citra.
“Kenapa kau tidak pernah cerita kau berasal dari Amerika?” tanya Klara ke inti bicara.
Paris menatap Klara, “memang kau pernah bertanya?” balik tanya Paris, “dan aku rasa itu juga tidak penting. Kau sudah tahu namaku, alamatku, pekerjaanku, sifatku kau mau tahu apa lagi? Makanan kesukaanku stik dan minuman kopi. Apa lagi yang ingin kau tahu tentang aku?”.
“Hahhh… aku juga binggung,” kata Klara sambil tersenyum.
“Tanya saja, aku akan jawab”.
Klara menatap paris. “kenapa kau mengelutin 3 profesi sekaligus?”.
“Karna aku menyukainnya”.
Benar juga”.
“Apa lagi?”.
“Sewaktu aku di culik, kau ada di tanah kosong itu?”.
“Ya”.
“Jadi luka itu karna menolongku?”.
“Iya”.
“Aku pikir, luka saat itu karna jatuh atau kau beratem sama orang, bukan menolong aku,” menyesal Klara yang baru sadar, “kenapa kau tak bilang ke aku?”.
“Karna kau tidak melihat aku”.
“Maksudmu karna aku tidak melihat, aku tak akan percaya dengan ceritamu?!”.
“Kau mau bertanya apa lagi?”.
“Kau kenapa ke Indonesia? Bukannya jika kau berkaril di Amerka lebih baik dari pada di Indonesia?”.
Paris diam sejenak, “karna… karna aku ingin lihat gadis yang aku ingkar janjinya,” menatap  Klara.
“Kau pastih sangat bersalah,” Klara menatap Paris, “apa kalian sudah bertemu?”.
“Iya. Tapi aku masih tidak berani mengatakan sebenarnya. Aku takut dia marah padaku,” kata Paris yang berusaha tidak menanggis di hadapan Klara.
Klara melihat mata Paris berkaca-kaca, “kau pastih sangat menderita dengan rasa bersalahmu itu”.
“Iya. Karna itulah aku datang ke Indonesia”.
“Seharusnya kau harus segera meminta maaf padanya. aku nyakit dia pastih memaafkanmu jika mendenggar penjelasanmu,” sarat Klara.
“itu menurutmu?”.
“Lebih cepat lebih baik”.
Paris menatap kolam renang.
Klara menanggis, hahhh….”
“Nona kenapa?” tanya Kakek tiba-tiba Klara menanggis.
“Paris itu Luky kek. Kenapa aku tidak pernah sadar selama ini pangeranku selalu ada disekitarku,” yang terus mengerti.
Walaupun Kakek tidak mengerti Kakek tetap membujuk Klara untuk berhenti menanggis, “sabar…sabar non…”.
***
Paris melihat Klara baru tiba di kampus padahal sekarang sudah jam setengah tiga. Dilihatnya Klara berjalan gemetar, dengan wajah pucat seperti menerima kabar  berita yang mengejutkan diriny, “kau tidak apa-apa?” tanya Paris kuatir.
Klara menatap Paris  yang berdiri didepannya, “jangan pendulikan aku,” lbaru satu langka tiba-tiba Klara tidak bisa mengibangin tubuhnya.
Paris langsung menangkap  tubuh Klara yang akan jatuh, “kau sakit?”.
Klara mendorong Paris, “pergilah!”.
Paris memengang tangan Klara, “ada apa dengan kau!!” marah Paris.
Klara melihat tangan Paris memengang tangannya, “hangat…”  tak sadar air mata jatuh di pipinya, “benar ini tangan Paris”.
“Apa maksudsmu?” yang tak mengerti perkataan Klara, “Aku Paris”.
“Kau Paris? Kau memang Paris, kau bukan Luky”.
Paris melepaskan tangannya.
“Kau Paris atau Luky hu…” yang  bisa menahan masalah yang terus menyerangnya. “katakan kau Paris atau Luky?!!” marah Klara.
“Paris dan Luky hanya satu orang”.
Klara berusaha tersenyum, “Trimah kasih… kau sudah berhasil membohongink”.
“Biar aku antar kau pulang,” kuatir Paris melihat Klara.
“Tidak perluh. Aku masih bisa pulang sendiri,” Klara melangkahkan kakinya ke gerbang kampus.
Paris memengang Klara, “aku antar kau pulang,” lalu menarik Klara ke mobilnya, “masuklah…”.
Klara masuk kedalam mobil. setelah Klara masuk barulah Paris masuk kedalam mobil kemudian menjalankan mobil menuju rumah Klara. Diperjlanan Klara dan Paris tidak berkata apa-apa, mereka saling diam dan tak saling melihat satu sama lain.
Ketika sampai dirumahpun Klara langsung masuk tanpa melihat Paris yang memperhatikannya. Didalam rumah Klara melihat Ayah sedang  membaca Koran hari ini. Klara duduk di sofa, “Ayah…”.
“Ada apa?” tanya Ayah berhenti membaca, lalu meletakkan Koran di atas meja.
Klara melihat  Koran di meja. Didalam Koran termuat foto Ayah. Judul artikel Koran berita yang memuat foto Ayah HUBUNGAN KEMATIAN  PAK SURYA DEREKTUR PERUSAHAAN JAYA DENGAN PEMBUNUHAN PAK RUDI, “beritanya sudah dimuat?” Klara berusaha tersenyum.
“Besok kau buat surat menguduran dirimu di kampus. kau lajutkan kuliahmu di Paris bersama Bunda kalian menetap disana”.
“Kenapa Ayah berpikir seperti itu?”.
“Mungkin besok Ayah akan ditahan,” kata Ayah.
Klara  berusaha tidak menanggis didepan Ayah, “jadi Pak Rengky bukan pembunuhnya dan… Ayah membunuhnya”.
“Ayah tidak membunuhnya. Nadinya masih terasa dan tak ada darah keluar dari kepalanya,” penjelasan Ayah.
“Maksud Ayah?”.
“Ayah memang bertengkar dengan Pak Rudi karna kedekatan Pak Rudi dengan Bunda. Ayah hanya mendorongnya, kepalanya mengenain meja, jadi dia tak sadarkan diri. Tapi sebelum Ayah pergi, Ayah masih memeriksa nadinya masih berdetak dan kepalanya tidak mengeluarkan darah sedikit pun. Ayah bersumpah tidak membunuhnya,” Ayah menanggis.
“Ayah…” Bunda  ternyata mendenggar semua yang dikatakan  Ayah dengan Klara.
“Bunda…” kanget Ayah dan Klara.
Bunda memeluk Ayah, “maafkan aku…”Bunda menanggis di pelukkan  Ayah.
“Seharusnya aku tidak melakukan itu! Seharusnya aku tidak cemburu dan seharusnya aku percaya padamu,” kata Ayah yang masih memeluk Bunda. Klara pun memeluk kedua orang tuannya.
***
"Papa proven innocent. Now Papa is only as a witness only," kata Paris memberikan kabar pada Papa dan Mama.
"Really. Thank goodness ..." kata Papa.
"While this can not Daddy come home to America, the police still want mintak description of Papa".
"Yes ... Papa understand. You are a child who can be relied upon Papa, " kagum Papa.
"And ... I'm sorry".
"For what is dear," kata Mama.
"I've membohongin Papa and Mama. Jenni and I actually do not have anything to do. we are just friends. I just want to Indonesia to meet the little girl I always yamg promise will come to him. I'm sorry, I do not mean you membohongin,” penjelasan Paris.
"Your past again?” tanya Ayah.
"Yes. I'm old enough to deny him my promise. "
"I liked the girl's affection?” tanya Mama.
Paris menanggis. Mama langsung memeluknya, "He really hates me”.
Mama menatap Papa. "My son is brave, strong and will deal with any issues blocking, only drawback was a girl from his past,” ucap Papa melihat keadaan Paris sekarang ini.
Jenni hanya diam tersenyum mendenggar kejujuran paris pada kedua orang tuanya, “akhirnya dia mengatakannya juga”.
***

Klara ke butik Eka. “kau tidak ke kampus?” tanya eka melihat Klara duduk disofa sambil membaca majalah.
“Aku malu ke kampus,” Klara menatap Eka, “kau tidak malu kan punya teman anak seorang membunuh?”.
Eka duduk disebelah klara, “kau ngomong apa! bagaimana pun keadaanmu sekarang, kau tetap teman baikku”.
Klara tersenyum, “trimah kasih, kau masih mau berteman denganku”.
Eka tersenyum. Dilihatnya langganan butiknya masuk kedalam butik, “selamat pagi…” sapa Eka.
Eka menolek, “kau…” kanget Klara melihat Jenni.
“Ibu Jenni langganan tetap butik ini. Dan brosur tentang konser Ada Band aku dapat dari Ibu Jenni,” kata Eka.
“Jadi kau  ikut serta membohonginku,” kata Klara pada Jenni.
“Klara apa maksudmu?!” kata Eka tidak mengerti maksud Klara.
“Eka bisa tinggalkan kami berdua”.
“Baik,” Eka meninggalkan Klara dan Jenni berdua.
“Kau ingin aku memintak maaf padamu? Itu tidak akan aku lakukan, karna aku tidak merasa bersalah padamu,” kata Jenni.
“Aku tidak membutuhkan maaf dari kalian berdua. Aku hanya butuh penjelasan”.
“Apa kau tidak sadar selama ini Paris selalu berusaha mendekatinmu. Selama 18 tahun Paris  berusaha ingin pulang ke Indonesia, tapi orang tua angkatnya selalu menentang Paris pulang ke Indonesia, karna apa? orang tuanya tidak mau Paris mengingat masa lalunya. Paris bisa melupakan nama pemberian orang tua kandungnya, kecelakaan orang tua kandungnya, tempat tinggalnya, negaranya tapi dia tak bisa melupakan janjinya padamu, “ Jenni tersem\nyum, “aku juga tidak mengerti apa sih keistimewaan dirimu sampai-sampai Paris nekat membohongin orang tua angkat agar bisa pulang ke Indonesia. Tapi ternyata sampai di Indonesia dia dikejutkan perjodohan kau dan Rian. Awalnya dirinya nyakit kau tidak menyukain Rian. Tapi kenyataannya  kau sendiri yang mengatakan langsung ke Paris untuk menjauhinnya,” diam sejenak, “saat itu Paris berniat pulang ke Amerika tapi dibatalkannya karna kau masih bodoh mengukapkan perasaanmu pada Rian. Paris melukaian hatinya sendiri untuk mendekatinmu. Mungkin jika aku jadi Paris aku akan langsung pergi,” penjelasan panjang Jenni.
“Lalu kenapa Paris tidak mengatakan dirinya adalah Luky?”.
“Karna Paris ingin kau mencintainnya sebagai Paris bukan sebagai Luky, pangeran kecilmu”.
***
Menejer masuk ke ruangan Ayah, “Derektur, pemilik saham menarik semua sahamnya di perusahaan kita?” menejer memberikan kabar pada Ayah.
“Pinjaman Bank?” tanya Ayah.
“Karna kasus itu, Bank menolak pinjaman kita”.
Tak lama kemudian ruangan terbuka kembali, “pak, ada polisi mencari ada,” kata sekretaris Ayah.
“Suruh mereka masuk,” perintah Ayah.
Kemudian 4 polisi, dengan 2 berpakaian bebas dan 2 berpakaian polisi masuk kedalam ruangan, “kami diperintakan menangkap Pak Surya dengan tuduhan pembunuhan pada Pak Rudi. Ini surat penahanan ada dari pengadilan,” kata salah satu polisi sambil menunjukkan surat penangkapan dari pengadilan.
***
Klara datang ke apartemen. Klara berdiri didepan pintu apartemen Paris,  tidak berani mengetuk pintu. Klara mengingat kata-kata Jenni padanya saat di butik Eka, Apa kau tidak sadar selama ini Paris selalu berusaha mendekatinmu. Selama 18 tahun Paris  berusaha ingin pulang ke Indonesia, tapi orang tua angkatnya selalu menentang Paris pulang ke Indonesia, karna apa? orang tuanya tidak mau Paris mengingat masa lalunya. Paris bisa melupakan nama pemberian orang tua kandungnya, kecelakaan orang tua kandungnya, tempat tinggalnya, negaranya tapi dia tak bisa melupakan janjinya padamu, “ Jenni tersem\nyum, “aku juga tidak mengerti apa sih keistimewaan dirimu sampai-sampai Paris nekat membohongin orang tua angkat agar bisa pulang ke Indonesia. Tapi ternyata sampai di Indonesia dia dikejutkan perjodohan kau dan Rian. Awalnya dirinya nyakit kau tidak menyukain Rian. Tapi kenyataannya  kau sendiri yang mengatakan langsung ke Paris untuk menjauhinnya,” diam sejenak, “saat itu Paris berniat pulang ke Amerika tapi dibatalkannya karna kau masih bodoh mengukapkan perasaanmu pada Rian. Paris melukaian hatinya sendiri untuk mendekatinmu. Mungkin jika aku jadi Paris aku akan langsung pergi  dan kata- kata Jenni selanjutnya Karna Paris ingin kau mencintainnya sebagai Paris bukan sebagai Luky, pangeran kecilmu. “sedang apa aku disini?”. Baru membalikkan tubuhnya pintu apartemen terbuka.
“Klara,” kanget Paris melihat Klara didepan apartemennya, “sudah berapa lama kau berdiri didepan pintu?” tanya Paris yang menduga Klara sudah lama berdiri didepan pintu.
Klara tersenyum,  “hanya beberapa menit”.
“Ayo masuk,” ajak Paris.
Klara masuk, “aku binggung harus memanggilmu apa Luky atau Paris?”.
“Panggil saja pangeran dan aku memanggilmu Cinderela”.
Klara menanggis, “kau jahat,” klara berdiri, “kenapa kau tidak bilang dari awal! Kau tidak tahu apa aku sangat terluka, kau tahu tidak aku sakit, kau tahu tidak aku sangat benci dan kau tahu tidak aku sangat rindu padamu,” menatap Paris.
Paris memengang pipi Klara, “aku pun sangat mendrita dan… aku sangat… merindukanmu Cinderela,” yang juga menanggis. Lalu mencium bibir Klara yang munggil dengan warna listif merah muda. Klara membiarkan Paris menciumnya yang cukup lama dirinya rasakan di bibirnya. Ciuman untuk kedua kalinya dirinya rasakan. Paris menatap Klara, “maafkan aku,” kata Paris.
Klara memeluk Paris, “aku tidak penduli kau Paris atau Luky, kau tetap pangeranku,” kata klara memeluk paris.
“Dan Kau tetap cinderelaku,” kata Paris yang juga memeluk Klara.

Beberapa menit kemudian, ketika keadaan mereka sudah cukup tenang menghadapin satu sama lain. Mereka saling menatap satu sama lain, “kau sekarang kelihatan tambah tampan?” puji klara.
“Kau juga tambah cantik,” kata Paris membalas pujian Klara.
Klara melihat kalung melingkar di leher Paris, “itu kalung pemberianku dulu?”.
Paris melepaskan kalung yang melingkar dilehernya, “iya…” sambil menunjukkan liontin kelici pada Klara, “kau ingat kenapa kau memberikan liontin ini padaku?”.
“Iya.  Karna Ayah melarang aku membeli kelinci untuk pangeran jadi aku beli kalung itu ,” kata Klara.
“Sudah lama sekali”.
“Iya”. Hp Klara berbunyi, Klara langsung mengangkatnya, “halo…ada apa Bunda,” setelah mengetahuin mengapa Bunda menelponnya, “Ayah dikantor pilisi!” kanget Klara, “aku segera ke kantor polisi,” sambil berdiri.
“Biar aku antar?” kata Paris.
“Iya”.

Setelah tiba dikantor polisi. “Tunggu. Kau tidak usah masuk, biar aku saja,” kata Klara keluar dari mobil lalu masuk ke kantor polisi. Kedatangan Klara disambut tanggisan dari Bunda yang langsung memeluknya, “Bunda… jangan menanggis lagi,” bujuk Klara yang berusaha tidak menanggis dihadapan Bunda.

Klara menemuin Ayah di ruang kujungan. “Ajak Bundamu pulang,” saran Ayah. “dan besok kalian berangkat ke Paris, Ayah sudah siapkan  tiket dan paspor untuk kalian berdua, ambil di tas Ayah  di mobil”.
“Ayah ingin kami meninggalkan Ayah?”.
“Ayah tidak mau kalian malu hanya karna perbuatan Ayah”.
“Tapi kan kata Ayah bukan Ayah pelakunya”.
“Siapa yang percaya?”.
“Aku”.
Ayah menatap Klara.
“Aku percaya pada Ayah”.
***
Paris masih menunggu di depan kantor polisi sambil membaca berkas kasus pembunuhan Pak Rudi. Paris mengingat perkataan pertugas saat di TKP.
“Jam berapa Pak Surya keluar dari ruangan?”.
“Diperkirakan jam 9. dan juga di kayu terdapat 2 cap tangan”.
“Siapa?”.
“Pak prengky dan Candra” jawab pertugas.
“Pak Surya keluar dari ruangan jam 9 dan Ayah masuk ruangan jam 10.30. satu setengah jam,  bisa saja 1 sampai 5 orang masuk dalam ruangan, tapi tidak ada yang  melihat yang masuk dalam satu setengah jam itu. Tapi kenapa di kayu ada cap tangan Candra? Siapa Candra?” Paris melihat Klara dan Bunda keluar dari kantor polisi. Paris langsung keluar dari mobil mendekatin mereka berdua, “biar aku antar,” tawar Paris.
Bunda dan Klara menolek, “kau sudah kembali?” tanya Bunda mengira  Paris belum kembali.
Paris hanya tersenyum.

Paris mengantar bunda dan Klara pulang kerumah yang jaraknya lumayan jauh dari kantor polisi.  Tidak samapi 1 jam perjalanan dari kantor polisi ke rumah. Bunda dan Klara langsung turun setelah samapi didepan rumah. “aku pulang dulu,” kata Paris dari dalam mobil.
Klara tersenyum.
Lalu Paris menjalankan kembali mobil menuju apartemen.
“Paris tidak menjauhinmu karna kasus ini?” tanya Bunda.
Klara tersenyum.
“Dia laki-laki yang baik”.
“Iya, dia laki-laki yang baik,” menatap mobil Paris yang semakit jauh tidak nampak lagi.
***

“Perusahaan Pak Surya bangrut. Pemilik saham menarik semuanya  saham mereka. Dan Bank juga tidak mau meijamkan minjaman lagi,” kata Jenni memberitahu keadaan perusahaan Pak Surya.
“Apa tidak ada cara lain?” tanya Paris.
“Aku rasa tidak. Ini akhir dari perusahaan Pak Surya”.
Paris diam.
“kau jangan merasa bersalah, itu semua bukan salahmu”.
“Aku tidak merasa bersalah karna aku tidak melakukan yang aku tahu itu baik hanya aku kasihan ke Klara. Aku tidak nyakit dia bisa menghadapin ini semua”.
“Menurutku sih sebaliknya. Kau hanya kuatir saja, iya khan?”.
***
Klara menemuin Ayah dikantor polisi. “kenapa kalian belum pergi?” tanya Ayah.
“Aku dan Bunda tidak akan meninggalkan Ayah,” kata Klara.
“Kalian pastih akan malu”.
“Kami tahu dan kami sudah siap  menghadapinnya. Kami sayang Ayah”.
Ayah menanggis mendenggar perkataan Klara, “maafkan Ayah. Ayah sudah membuat kalian menderita”.
“Ayah tidak membuat kami menderita. Ini hanya cobaan untuk sementara waktu”.
“Klara… Ayah ingin jujur padamu,” kata Ayah yang tidak berani menatap Klara.
“Jujur apa Yah??”.
“Sebenarnya Luky sudah kembali tiga bulan yang lalu, tapi karna keegoisan Ayah yang ingin kau menikah dengan Rian, Ayah merahasiakan ini semua”.
Klara tersenyum yang pura-pura tidak tahu, “sudahlah Yah, tidak usah dipikirkan lagi”.
“Pengacara Paris adalah Luky”.
Klara berusaha untuk tenang.

Dari kantor polisi Klara menuju kampus tempat dirinya mengajar. Tak penduli tatapan orang yang dilewatinnya, dia terus melangkah menuju ruangan dosen. “Selamat siang…”sapa Klara pada semua dosen yang menatap dirinya dengan heran. Klara langsung duduk di mejak kerjanya.
“Bisa bicara sebentar?” kata Erika pada Klra.
“Iya”.

Lalu mereka ke taman. “Ibu tidak apa-apa khan?” tanya Erika.
“saya tidak apa-apa bu”.
“Semua mahasiswa dan dosen kuatir dengan keadaan ibu”.
“Aku tidak apa-apa. Aku harus berusaha untuk kuat dengan masalah  ini. Aku nyakit masalah ini akan selesai juga,” kata Klara berusaha tegar di depan Erika.
“Ibu Klara sudah berubah. Sekarang Ibu sudah terlihat dewasa menghadapin masalah”.
“Benarkah,” tersenyum Klara.
***
“Tok…tok…tok…tok…” pintu rumah di ketuk. Bunda langsung membuka pintu.
“Mana  Surya?!!” beberapa orang langsung masuk kedalam rumah.
“Kalian siapa?” tanya Bunda.
“Mana Surya!” semua mencari Ayah disetiap sudut rumah.
“Kalian siapa?” tanya Bunda yang menanggis.
“Ambil saja barang-barangnya!” kata salah satu dari mereka.
“Jangan….” Yang berusaha ada yang mau masuk ke kamar Klara, “Ini kamar anakku, jangan…” Bunda yang menahan mereka masuk kekamar Klara.

Tak lama kemudian Klara pulang. kanget Klara melihat Bunda menanggis di anak tangga, “Bunda…” sambil mendekatin Bunda, “apa yang terjadi?” melihat isi rumah yang tidak satu barang tersisa.
“Mereka mengambil semua,” Bunda menanggis.
Klara berusaha tersenyum. Lalu Klara kekamarnya, dilihatnya lemari, kasur, meja rias dan pernak pernik dikamar sudah tidak ada tersisa. Klara melihat bungkusan yang berada paling pojok kamar, diambilnya bungkusan itu, dilihatnya baju yang dibelikan Paris dulu masih ada didalam, “mereka hanya meninggalkan ini”. Tiba-tiba hp berbunyi, Klara melihat siapa yang menelpon dirinya. Ternyata Paris yang menelponnya, Klara mengangkat teleponnya, “halo…” setelah tahu kenapa paris menelponnya, “baik. Kita bertemu di Cave,” kata Klara lalu mematikan panggilan.

Klara menemuin Paris di Cave Citra tempat mereka janjian. “maaf lama menunggu,” kata Klara sambil duduk.
Paris menatap Klara.
“Apa ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Klara melihat Paris menatapnya.
“Kau tidak apa-apa?”.
“Maksudmu apa? oh…kau pastih tahu perusahaan Ayah sudah bangrut,” berusaha untuk tersenyum.
“Aku ingin membantu perusahaan Ayahmu”.
“Kalau ingin bertemu hanya membahas masalah itu lebih baik tidak usah bertemu, “lalu berdiri, “dari pada kau membantu perusahaan Ayah, aku lebih mengiginkan kau membuktikan Ayahku tidak bersalah”.
Paris berdiri, “kau percaya pada Ayahmu?”.
Klara menatap Paris, “aku tahu Ayah pemarah, egois, keras dan ingin mendapatkan apapun yang diingininnya, tapi… Ayah tak mungkin melakukan pembunuhan. Aku percaya itu. Dan kalaupun pengadilan mengatakan Ayah bersalah, aku tetap percaya apa yang dikatakan Ayah padaku bahwa Ayah tidak membunuh Pak Rudi,” nyakit Klara.
“Jika aku berhasil membuktikan Ayahmu tidak bersalah, apa yang aku dapat?” yang berharap Klara mau menjadi kekasihnya.
Klara menatap Paris, “mungkin jika uang  aku tak sanggup membayarmu. Kau pernah mengatakan untuk aku menjauhinmu. Aku akan lakukan. Aku akan menjauhinmu, jika kau membuktikan Ayahku tidak bersalah”.
“Kau menginginkannya”.
“Iya”.
***

“Kau berniat membantu Klara?” tanya Jenni pada Paris yang sedang membaca berkas pembunuhan pak Rudi di meja kerjanya.
“Iya”.
“Tapi bukti sudah sangat tertujuh pada Pak Surya dan motif pembunuhannya pun masuk akal”.
“Aku tahu itu”.
“Apa rencanamu?”.
***
“Paris mau membuktilkan Ayah tidak besalah,” kanget Ayah setelah mendenggar berita dari Klara.
“Paris janji akan membebasakan Ayah,” menyakitkan Ayah.
“Apa rencananya?”.
“Aku tidak tahu Yah. Aku percaya padanya,” kata Klara.
“Kau sangat menyukainnya?”.
“Ayah bicara apa?” malu Klara.
“Rian mengatakan kau menyukain Paris”.
Klara tersenyum malu.
“Apa paris juga menyukainmu?”.
***
“Pak Paris….” Pak Joni menyambut kedatangan Paris di kelas tempat dirinya mengajar, “sudah lama tidak bertemu”.
Paris hanya tersenyum.
“Ada perluh apa Pak?”.
“Saya hanya mau nanya, apa di kampus ini ada mahasiswa yang bernama Candra?”.
“Ada. Tapi sudah seminggu ini dia tak masuk. Kenapa Pak?”.
“Bapak tahu alamatnya?”.
Joni menatap Paris.
“Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan pada Joni”.
“Ok. Saya akan bantu Pak Paris”.
“Trimah kasih”.
***
Hari sudah larut. Klara baru pulang, dilihatnya mobil Paris terpakir di depan rumah. Diperiksanya didalam mobil apakah didalam ada Paris atau tidak, “mana dia?” yang tidak melihat Paris didalam mobil.
“Kau cari apa?” tanya Paris muncul di belakang Klra.
Klara membalikkan tubuhnya, “kau…” kanget Klara,  “kau ingin buat aku mati terkejut!” kesal Klara.
Paris tersenyum, “jika kau mati, orang tidak akan percaya kau mati gara-gara terkejut,” canda Paris. Paris melihat Klara yang menatapnya, “kau lihat apa?”.
“Sudah lama sekali aku tidak melihat senyuman itu,” kata Klara.
“Kau menggodaku”.
“Iya”.
Paris tersenyum.

Klara dan Paris duduk di teras rumah. Melihat permadangan malam diteras rumah sambil memadang langit yang bertaburan bintang-bintang.
“Apa rencanamu jika Ayahmu bebas?” tanya Paris.
“Mungkin kami akan menjual rumah ini dan mencari rumah yang kecil,” jawab Klara, “kalau kau??”.
“Aku akan pulang ke Amerika”.
“apa!”.
“Papa dan Mama mengajak aku pulang ke Amerika”.
Klara diam mendenggar perkataan paris.
***

Esoknya Paris menemuin Ayah di penjara. “Pagi Pak Suyra. Saya  pengacara ada dalam kasus ini,” sapa Paris pada Ayah yang baru datang ditemanin satu polisi.
“Apa tujuanmu?” tanya Ayah yang masih heran melihat Paris yang tiba-tiba membelahnya. Sambil duduk.
Paris duduk, “saya hanya seorang pengacara yang hanya membelah klien. Sekarang saya ingin bapak menceritakan semua dan tidak ada yang dirahasiakan,” mintak Paris professional. Paris menyediakan alat perekam diatas meja.
“Baik. Karna kau mau membantuku. Tgl 14 Oktober saya melihat istriku berduaan dengan Pak Rudi masuk ke lestoran, saat itu aku sangat marah pada mereka berdua karna mereka mantan pacar sebelum aku dan istriku menikah. Aku  tahu istriku tidak mungkin berselingku tapi  aku tahu Rudi bagaimana, dia akan melakukan apapun untuk merusak rumah tangga kami. Tgl 15 Oktober jam 8 aku datang ke kampus untuk mintak kejelasan pada Rudi dan biar dia tidak mendekatin istriku lagi. Aku masuk ruangan Rudi tanpa mengetuk lagi. Aku tanya langsung pada Rudi apa hubungannya dengan istriku, dia jawab kau pikir apa. karna kesal aku memengang kera bajunya dan berniat mau memukulnya tapi sebelum aku memukul Rudi berhasil melepaskan tanganku dari kera bajunya. Lalu Rudi berkata kau yang duluan merebut Reni dariku dan wajar jika aku merebutnya lagi. Aku sangat kesal dan marah,” cerita Ayah panjang lebar.
“Ada langsung memukulnya dengan kayu?” tanya Paris.
“Tidak, aku tidak pernah memukulnya. Aku hanya mendorongnya, kepalanya terbentur meja”.
“Dia pingsat?”.
“Iya. Tapi tidak ada darah yang keluar, hanya memar yang aku lihat dibelakang kepalanya. Aku sempat memeriksa nadinya, Rudi masih hidup. Aku takut dan langsung pergi”.
“Siapa yang melihat ada keluar dari ruangan Pak Rudi?”.
“Tidak ada. Tapi didepan kampus aku bertemu Klara”.
“Jam berapa ada keluar dari ruangan korban?”.
“Mungkin sekitar jam 8.30”.
“Baik,” sambil mematikan rekaman, “sementara  cukup, nanti jika ada perkembangan saya beritahu ada,” sambil memasukkan rekaman di dalam tas yang dibawaknya, “permisih…” sambil berdiri.
“Tunggu…”.
Paris duduk kembali, “ada apa?”.
“Kau membantuku karna aku teman  Ayahmu atau karna Klara?”.
“Mungkin karna dua-duanya,” jawab Paris.
“Rian sudah membatalkan perjodohannya dengan Klara. Kata Rian kau dan Klara saling mencintain,” Ayah tersenyum, “pertama kali kita bertemu pun aku tahu kau bohong tapi karna tekatku ingin menjodohkan mereka berdua, jadi aku tidak memikirkan perasaan Klara. Apa kau mencintai Klara??” tanya Ayah.
“Kita bahas ini setelah ada keluar dari penjarah,” kata Paris sambil berdiri.
“Kau sama dengan Ayahmu selalu  membedahkan urusan pribadi dengan bisnis. Ayahmu sangat professional sama dengan kau,” puji Ayah.
“trimah kasih,”  Paris tersenyum. Setelah keluar dari kantor polisi Paris langsung menuju kantornya menemuin Jenni yang sudah menunggunya.
***
 
 
Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar