Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyers 5

 
“Ini bukan aku. Aku tak enak denganmu. aku menyukain cowok lain tapi masih bisa duduk berdua denganmu,” kata Klara.
“Tidak usah pendulikan perasaanku. Aku akan terus mendekatinmu sampai Rian mengatakan cinta padamu,” kata Paris.
“Kau tahu dari mana pria itu Rian?? Perasaan aku belum menyebut namanya,” binggung Klara.
Paris berdiri, “yang pastih, jangan suruh aku menjauhinmu, aku akan menjagamu dan melidunginmu”.
“Tapi…”.
“Aku nyakit perasaanku pastih hilang juga dengan berjalannya waktu,” lalu pergi meninggalkan Klara.
“Dia memang cowok yang aneh”.
***
“Sekarang apa rencanamu?” tanya Jenni setelah mendenggar cerita Paris. “apa kita akan pulang ke Amerika?”.
“Tidak. Aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu. Baru pulang,” kata Paris yang duduk di meja kerjanya.
“Ok kalau gitu”.
Paris termenung.
“Kau butuh istirahan,” kuatir Jenni melihat keadaan paris.
“Kau pulang saja duluan”.
“Baiklah,” Jenni keluar dari ruangan kerja paris.
***

“Kenapa kau suka sekali bermain dengan perasaanmu?” tanya Jenni pada Paris yang akan berangkat ke kampus.
“Apa maksudmu?” tanya balik Paris.
“Kau mau ke kampus khan…?”.
“Iya”.
“Lalu?”.
“Kau tahu sendiri aku akan mengatikan Pak Hendrik selama 3 bulan”.
“Kau mau menyelesaikan sampai 3 bulan?”.
“Tinggal 2 bulan lagi”.
“Intinya kita masih 2 bulan lagi di Indonesia”.
Paris diam.
“Kau jangan lupa, jam 11 ke pengadilan”.
 “Iya”.
***
“Mau dilihat dari sudut mana pun dia masih terlihat tampan,” puji Klara yang dari tadi memadangin Rian di meja kerjanya, “tapi apa boleh aku suka dengannya?”.
Erika melihat Klara yang dari tadi memadangin Rian hanya bisa diam tak bisa melakukan apa-apa, mau marah, masak cumak gara-gara memadangin Rian dia harus marah, itu malah membuat dirinya nampak malu di hadapan Rian.
Hp Klara bergetar, dilihatnya ada sms dari Paris, kenapa wanita suka sekali memadangin pria dari jauh??, “Karena wanita punya harga diri!!” jawab Klara menjawab sms dari Paris tanpa membalas. Klara melihat dosen-dosen melihat kearahnya, “aku keluar dulu,” kata Klara menutupin rasa malu.
“Kenapa dia?” tanya Benny.
“Sakit kali ha… ha…” jawab Joni.

Diluar ruangan Klara mencari Paris, “dia tahu aku memadangin Rian, pastih dia ada di sekitar sini,” nyakit Klara.
“Kau mencariku,” kata Paris sambil memengang bahu Klara dari belakang.
Klara menolek, “kau membuatku malu!”.
Paris tersenyum, “kau aja yang bodoh! Berteriak di ruangan!”.
“Eeehhh!!!”.

Mereka ke taman. “kau  ragu perasaanmu pada Rian?” tanya Paris.
“Perasaanku sih gak ragu. Aku hanya…” diam sejenak, “dia kan duda, duda dari kakakku lagi”.
“Memang salah jika kita menyukain seorang duda? Gak khan… nak itu duda kakakmu atau bukan, kalau perasaan tidak bisa di bohongin,” diam sejenak, “bukankah cinta tidak melihat apapun”.
“Kau benar,” Klara tersenyum.
Paris berusaha untuk tersenyum.
***
“Dari semua saksi dan barang bukti yang sudah ditunjukkan selama sidang, Pak Eko di bebaskan tanpa syarat,” kata ketua sidang memberikan keputusan sidang. Baik keluarga maupun yang hanya menonton menyambut gembira dengan keputusan ketua sidang.
“Kau hebat,” puji Jenni.
Paris tersenyum.
Kedua orang tua Eko bersama dengan Eko mendekatin Paris dan Jenni yang akan keluar dari ruang sidang. “pengacara saya ucapkan terimah kasih. Kalau bukan karna pengacara, anak saya pastih di penjara,” kata bapak Eko.
“Itu tugas saya membelah klien saya,” jawab Paris.
“Trimah kasih pengacara,” ucap Eko.
“Jangan terlibat lagi hal-hal seperti itu,” nasehat Paris.
“Baik pengacara”.
“Permisih,” Paris dan Jenni meninggalkan pengadilan dengan menggunakan mobil milik Paris.
“Kau hebat di segala kasus, tapi kau tidak hebat dengan memutuskan perasaanmu,” kata Jenni pada Paris yang sedang menyetir.
“Kau mau aku antar kemana?” tanya Paris tak penduli kata-kata Jenni padanya.
“Aku mau pulang”.
Paris menjalankan mobil kearah rumah Jenni.
***
Selesai mengajar Klara kembali ke ruangan dosen. Dilihatnya di meja kerjanya ada seikat bunga mawar. “dari siapa?” binggung Klara.
Tak lama kemudian, Joni, Benny, Erika dan Rian masuk keruangan melihat Klara sedang mencium bunga, “dari siapa bu?” tanya Benny.
“Tidak tahu. Sudah ada di meja,” jawab Klara.
“Dari  Pak Paris kali,” goda Joni.
“Gak mungkin. Jika dia mau kasih pastih tadi pagi”.
“Itu ada suratnya?” kata Erika melihat surat terselip di bunga.
Klara mengambil surat itu, langsung dibacanya, “untuk Ibu Klara yang cantik seperti bunga ini. Dari Liga”.
“Wahhh… ada  mahasiswa yang suka sama Ibu Klara”.
Klara hanya tersenyum, “apaan sih…” malu Klara.
Erika melhat Rian duduk diam di meja kerjanya.
***
“Dari tadi aku lihat kau diam saja?” tanya Erika pada Rian yang sedang menyetir. “Apa karna ada mahasiswa yang suka pada Klara”.
“Sudahlah. Kita bisa membahas yang lain”.
“Aku tahu kau cemburu,” kata Erika dengan nada suara pelat.
***

“Pak Paris Pak Hendra sudah datang,” kata sekretaris Paris.
“Suruh dia masuk,” perintah Paris.
“Baik Pak,” lalu keluar, 
Tak lama kemudian seorang yang umurnya sekitar 57 tahun dengan memakai kemeja warna coklat dan celana dasar hitam masuk keruangan kerja Paris, “Selamat pagi pengacara,” sapa Pak Hendra.
“Silakan duduk,” sopan Paris.
“Trimah kasih,” Pak Hendra duduk.
“Aku sudah membaca berkas Oki. Nanti aku akan ke kantor polisi untuk bertanya pada Oki apa yang sebenarnya terjadi dan selanjutnya aku akan beritahu bapak,” rencana Paris.
“Saya sepenuhnya menyerahkan kasus anak saya pada pengacara. Saya nyakit pengacara pastih bisa  membebaskan anak saya dari kasus ini,” sedih Pak Hendra.
“Saya tidak bisa janji, tapi… saya akan melakukan semampu saya”.
“Ya. saya percaya pada pengacara”.
Paris tersenyum.

Setelah Pak Hendra pergi. Paris melihat Jenni tersenyum melihatnya, “kau kenapa?” tanya Paris.
“Setiap kau menerima sebuah kasus, kau selalu nyakit akan menang. Itu terlihat dari ekresi dari wajahmu”.
Paris tersenyum.
“Oh iya. Aku kesini hanya ingin memberitahu siapa yang memerintahkan mereka menculik Klara”.
“Siapa?”.
***
“Ibu Klara!!” panggil Liga berlari kearah Klara.
Klara menghentikan langkahnya, “ada apa Liga?”.
“Eeehhh… Ibu sudah menerima bunga dariku, kemarin aku letakkan di atas meja Ibu,” kata Liga.
“Iya. Bunga yang bagus. Tapi bunga itu cocok kau berikan pada wanita yang sukain”.
“Ibu Klara yang ku sukain”.
“Apa”.
“Tidak salahkan aku menyukain Ibu Klara”.
Klara tersenyum, “aku tak bisa memaksa orang untuk tidak menyukainku. Tapi aku tak bisa menerimahmu”.
“Apa karna Pak Paris”.
“Bukan. Karna aku tidak ada perasaan apa-apa ke kau,” kata Klara lembut, “aku rasa kita sebagai dosen dan mahasiswa lebih baik dari pada sepasang kekasih,” lalu tersenyum.
“Aku kira juga begitu,” Liga melihat paris berdiri di depan mobil menatp kearah dirinya dan Klara, “itu Pak Paris”.
Klara membalikkan tubuhnya, tersenyum melihat Paris melabaikan tangan padanya. Klara menatap Liga lagi, “Ibu pergi dulu,” lalu melangkah kearah Paris.
Liga menatap Klara masuk mobil dan pergi bersama Paris, “mungkin mereka pacaran, itulah Ibu Klara menolakku,” sedih Liga.
***
“Sarahh!!” panggil Sintia mendekatin Sarah yang sedang di kelas bersama Doti.
Ada apa?” tanya Sarah.
“Liga nembak Ibu Klara”.
“Apa!” kanget Sarah, lalu melempar buku, “brensek!!” marah Sarah.
***
“jadi Liga katakan cinta padamu,” kata Paris mendenggar cerita Klara sambil menyetir mobil, “lalu kau jawab apa?”.
“Aku jawab aja aku rasa kita sebagai dosen dan mahasiswa lebih baik dari pada sepasang kekasih”.
“Kata-kata yang bijaksana”.
“Benarkah”.
“Iya”.
“Tapi…” Mata Klara tertujuh pada anak-anak yang ada di pinggir jalan yang akan menyebrang.
“Tapi apa?” tanya Paris sambil menolek pada Klara.
“Stop!!!” teriak Klara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Paris langsung mengerem mobil tiba-tiba, “kau tidak apa-apa?” tanya Paris kuatir pada Klara terjadi apa-apa.
“Anak itu,” Klara keluar dari mobil, dilihatnya anak itu jongkok di depan mobil sambil menanggis, “kau tidak apa-apa?” tanya Klara lembut.
Paris keluar dari mobil, dilihatnya 2 pria mendekatin mereka. “berikan gadis kecil itu!” perintah salah satu pria itu.
“Gak mau hu…hu…” gadis kecil itu langsung bersembunyi di belakang Klara sambil menanggis.
“Siapa kalian?!” tanya Klara pada kedua lelaki itu.
“Berikan saja! jangan banyak tanya!!!” marah salah satu dari mereka.
“Kak… aku gak mau ikut penjahat itu hu… aku gak mau hu…” kata gadis kecil yang terus menanggis.
“Aku pengacara. Jika kalian ingin anak ini, kita bertemu di pengadilan,” acam Paris mendekatin Klara.
“A…pa,” kedua pria itu mulai ketakutan, “ambil anak itu!!” lalu pergi.
Klara tersenyum pada Paris, “kau hebat”.

Mereka mengajak gadis kecil  itu ke apartemen Paris. “siapa namamu?” tanya Klara.
“Eeehhh…” ragu-ragu gadis kecil itu.
Paris memberikan segelas susu coklat pada gadis kecil, “minumlah”.
“Trimah kasih,” ia  meminum susu buatan Paris.
“Jika kau tidak katakan nama dan alamatmu, kakak tidak bisa menolongmu?” bujuk Paris.
“Eeehhh… nama aku Kristin, aku tidak tahu tinggal dimana,” jawab gadis kecil.
“Kenapa kau bisa bersama mereka?” tanya Klara.
“Paman mengajak aku pergi untuk membeli coklat, tapi sampai sekarang Kristin tidak mendapatkan coklat. Kristin rindu mama hu….”.
Klara memeluk Kristin, “kakak janji, Kristin pastih bertemu lagi dengan mama,” bujuk Klara.
“Bawak dia ke kamar. Sepertinya dia sangat lelah,” saran Paris.
Klara membawa Kristin ke kamar yang berada paling pojok dari ruang tamu.  “sekarang Kristin tidur ya,” bujuk Klara sambil menyelimutin tubuh Klara dengan selimut.
“Kakak jangan kemana-mana,” kata Kristin sambil memengang  tangan Klara.
“Ok. Kakak temenin kau tidur,” sambil membaringkan tubuhnya di sebelah Kristin. Mereka saling menatap, “kenapa Kristin menatap kakak?”.
“Kakak cantik seperti Putri”.
“Putri apa?”.
“Putri Salju”.
“Putri Salju. Bagaimana kalau secantik Putri Cinderela,” usul Klara, “dulu ada seseorang yang sangat sering memanggil kakak Cinderela dan kakak memanggilnya pangeran,” teringat Klara masa kecilnya.
Paris berdiri di dinding tak jauh dari pintu kamar yang dibiarkan terbuka, mendenggar semua apa yang dikatakan Klara pada Kristin.
“Siapa kak?” tanya Kristin.
“Dia sudah pergi jauh,” yang berusaha tidak menanggis di depan Klara, “dia janji akan datang besok, tapi dia tak pernah datang”.
“Kakak masih menunggu pangeran?”.
Klara tersenyum, “dia tak mungkin datang lagi. Dia pastih sudah lupa,” berusaha untuk tersenyum lalu memeluk Kristin.
Paris yang mendenggarnya, langsung mengeluarkan air mata membasahin pipinya, “maafkan aku,” lalu ke blangkon apartemen menatapin penyesalan selama ini.
***

Kristin terbangun dari tidur lelapnya, keluar dari kamar melihat Paris sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan. “Kau sudah bangun?” tanya Paris melihat Kristin sudah duduk di kursi meja makan.
“Iya,” jawab Kristin menatap Paris.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” sambil duduk menatap Kristin.
“Kakak juga baik sama dengan kak Cinderela”.
Paris tersenyum, “Benarkah?”.
Kristin mengangguk, “kakak juga tampan percis seperti pangeran”.
Diam sejenak, “kau boleh memanggilku pangeran”.
“Benarkah”.
Paris mengangguk.
Klara muncul dari balik pintu kamar, “sorry aku bangum kesiangan,” yang berkali-kali menguap sambil melangkah ke meja makan.
“Dia memang tukang tidur,” bisik Paris pada Kristin.
“Iya Pangeran,” jawab Kristin.
“Apa kata kalian!!” kesal Klara mendenggar perkataan Paris dan Kristin.
Paris dan Kristi hanya tertawa, “ha… ha…ha…”.
***
Klara dan Kristi turun dari mobil, “kau langsung ke kantor polisi?” tanya Klara.
“Iya, nanti aku jemput,” kata Paris dari dalam mobil, lalu kembali menjalankan mobil menuju kantor polisi.
“Dah…dah…dah… pangeran,” kata Kristin.
“Pangeran?” Klara menatap Kristin.
“Kak Paris baik sama seperti pangeran”.
“Oh… yuk,” ajak Klara ke ruangan dosen. Semua mata melihat kearah Klara yang membawa anak kecil ke kampus, di benak mereka penuh dengan pertanyaan. Di ruangan pun semua dosen heran melihat Klara. “siapa itu bu?” tanya Benni melihat gadis kecil memakai baju kaos orang dewasa,” yang pastih bukan anak ibu khan??”.
“Tidaklah. Kapan hamilnya?” jawab Klara sambil tersenyum.
***
Paris dan Jenni menemuin Oki di penjarah. “Aku Paris. Pengacara yang akan mendampinginmu di pengadilan nanti,” kata Paris memperkenlkan diri.
“Orang tua saya sudah cerita,” jawab Oki.
“Saya harap ada tidak menyimpat rahasia sedikitpun dari saya. Sekarang ada bisa jelaskan hubungan ada dengan korban”.
“Hubungan kami sudah berakhir bulan januari 2011, sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi karna saya sudah menikah, terakhir bertemu bulan September itu pun Dewi langsung memaksaku untuk menikahinnya”.
“Tapi dari pernyataan korban, kalian masih berhubungan bulan juni, itulah kandungannya sekarang sudah mengijak 3 bulan,” kata Paris.
“Mana mungkin Pak pengacara. Bulan mei sampai bulan agustus saya di Riau. Saya kerja di sebuah perusahaan swasta,” penjelasan Oki.

Setelah mendenggar pernyataan dari Oki, Paris dan Jenni keluar dari kantor polisi. “menurutmu bagaimana?” tanya Jenni melihat Paris yang mulai binggung.
“Kita harus membuktikan pada bulan mei sampai anggustus dia ada  di Riau,” jawab Paris.
“Kau benar juga”.
“Aku akan suruh orang ke perusahaan Oki bekerja”.
“Bisa juga”.
***
“Kenapa kakak panggilku?” tanya Klara pada Rian yang sebelumnya Klara di suruh menemuinnya di taman.
“Siapa anak itu?” tanya Rian.
“Oh… Kristin. Kemarin aku dan Paris menemuinnya di jalan, sepertinya korban penculikkan,” cerita Klara.
“Sudah lapor polisi?”.
“Sudah”.
“Apa perluh ada yang aku bantu”.
“Sepertinya saat ini tidak ada. Paris sudah mengatasin semuanya”.
“Kak!!!” panggil Kristin berlari mendekatin Klara.
“Kenapa lari-lari?”.
Kristin menatap Rian.
“Aku keruangan dulu,” kata Rian lalu keruangan dosen.
“Kau jangan menatap seperti itu, gak sopan,” nasehat Klara.
“Dia siapa kak?”.
“Dia… dia pangeran kakak,” senyum Klara memadang Rian berjalan.
“Dia bukan pangeran”.
“Sok tahu”.
“Kak Pengacara pangeran”.
“Iya iya,” mengalah Klara. “Kau lapar?”.
Kristin mengangguk.
“Yuk…” Klara mengajak Kristin mencari makan diluar kampus. 
Ketika berada di depan kampus, Seseorang memengang bahu  Klara dari belakang. Klara membalikkan tubuhnya, tiba-tiba tamparan menempel di pipinya, suara tamparan sangat jelas terdenggar, “itu untuk berani-beraninya merebut pacarku!!!” marah Sarah. Belum sempat Klara mengatakan satu kata Sarah sudah menyiram Klara dengan air yang di bawaknya, “Itu untuk wanita murahan sepertimu!!!”.
Air mata jatuh di pipi Klara. Kristin yang melihat langsung mendorong Sarah, “kakak jahat!!”.
Rian yang melihat langsung membuka jasnya bermaksud menyelimutin tubuh Klara dengan jasnya namun diduluankan Paris yang tiba-tiba muncul, menyelimutin tubuh Klara dengan jasnya, langsung membawa Klara dan Kristin pergi dari tempat itu menggunakan mobil yang terpakir tak jauh dari kejadian.
“Itu Pak Paris khan?” tanya Benny.
“iya,” jawab Joni yang juga melihat kejadian yang memalukan itu.

Paris melihat Klara yang menahan agar tidak menanggis, “kalau mau menanggis, menanggis saja!! ayo nanggis!!” marah Paris.
“Hu….hemmmm….huuuu….” Klara menanggis sepuasnya melepas kesedihan di benaknya, “hummm…hu….”.

Paris mengajak Klara ke ampartemennya. “Pakaianmu basah. Gantilah dulu, dilemari banyak baju yang kau pakai,” kata Paris.
Klara masuk kekamar. Tak lama kemudian Klara sudah ganti pakaian dengan memakai kemeja tanggan panjang warna putih dan celana dasar hitam milik Paris. “sepertinya kau harus menambah berat badanmu,” canda Paris melihat Klara memengang celana agar tidak kedodoran, “duduklah,” sambil membantu Klara duduk di sofa, lalu memberikan segelas susu coklat panas pada Klara, “susu coklat sangat baik menenangkan hati”.
Klara mengambil gelas isi susu coklat, “trimah kasih”.
“Kak Cinderela tidak apa-apa?” kuatir Kristin.
Klara berusaha untuk tersenyum, namun air mata masih jatuh membasahin pipinya.
Kristin mengapus air mata di pipi Klara, “kakak jangan bersedih lagi, disini ada Kristin dan pangeran”.
Klara memeluk Kristin.

Paris mengantar Klara pulang. “Istirahatlah,” kata Paris ketika Klara mau turun dari mobil.
“Kristin?”.
“Kau tidak usah kuatirkan Kristin, sementara Kristin akan tinggal bersamaku”.
“Ya sudah. Aku masuk dului,” lalu Klara masuk ke dalam rumah. Dari balik kaca Paris melihat kesedihan Klara yang masih ada walaupun tidak begitu ditampakkan namun kesedihan itu masih tampak di wajah Klara.
Dikamar Klara terus menanggis, banyangan saat Sarah menampar dan menyiramnya masih sangat jelas teringat di benaknya dan kata-kata kasar yang diucapkan Sarah untuknya.
***
“Mana Klara?!” tanya Ayah pada Bunda yang berdiri di anak tangga.
“Besok saja ya sayang. Klara butuh istirahat sekarang,” bujuk Bunda.
“Kenapa dia?!! Sakit?!!”.
“Tidak sayang, tapi sepertinya hatinya yang sakit”.
“Maksudmu apa!!!?”.
“Yang pastih Klara sekarang ingin sendiri!!” marah bunda.
“Besok suruh dia nemuin aku di kantor,” lalu Ayah meninggalkan Bunda.
“Kapan sih dia peratian dengan anaknya sendiri,” kesal Bunda.
***

Semalaman Klara sudah memikirkan apa yang akan dilakukannya pagi ini. Yang pertama memasukkan pakaiannya ke dalam koper, dan ynag kedua bergegas pergi sejauh-jauhnya dari Jakarta. Sebelum pergi Klara meninggalkan surat untuk Ayah dan Bunda di letakkan di meja riasnya.
Klara pergi ke bandara, langsung membeli tiket pesawat, “terserah mau kemana saja! mau ke kalimatan, irian, aceh, pokoknya kemana saja, jauh dari Jakarta,” kata Klara pada penjual tiket.
“Ini tiket ya bu untuk ke kalimatan,” kata penjual tiket sambil memberikan tiket pada Klara.
“Trimah kasih”. Setelah membayar Klara langsung gatri masuk ke bandara sambil membawa koper warna merah yang dibawaknya dari rumah. Tiba-tiba seseorang menarik tangga Klara sampai tubuhnya ikut tertarik ke pelukkanyang menariknya. “Paris…” kanget Klara melihat Paris dihadapannya, “sedang apa kau disini?” tanya Klara melepaskan pelukkan Paris.
“Kau mau kemana?”.
“A..aku…”.
“Ibu Klara Putri Dewi, kau tidak boleh pergi kemana-mana!” kata Paris menatap Klara sambil tersenyum.
“Apa,” yang juga menatap Paris.
Paris memengang leher Klara dari belakang, lalu mendekatin wajahnya ke wajah Klara
“Kau mau apa?” panik Klara.
“Kau tidak boleh pergi kemana-mana”.
“Maaf bu, jadi masuknya? Masih banyak yang gatri?” kata satpam  bandara.
“Ja…”.
“Tidak jadi pak,” Paris menarik tanggan Klara.
“Apa yang kau lakukan,” berontak Klara.
Namun Paris terus menarik Klara tanpa menghiraukan berontakan Klara yang dilakukannya.
Tak jauh dari pakiran Klara berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Paris, “apa sih mau mu!!!” marah Klara.
“Aku tidak mau kau menyesal dan tak akan aku biarkan!!”.
“Kau tak mengerti perasaanku!!”.
“Aku sangat mengerti!! Dan sangat sangat sangat…. Mengeti!!!”.
“Jangan halanggin aku pergi,” mohon Klara.
“Baik. Pergilah!!” baru beberapa langkah Paris  mengucapkan beberapa kata, “apa kau lupa janjimu dengan Kristin Cinderela!,” lalu melanjutin langkahnya ke mobil, lalu pergi.
Klara menanggis, binggung harus melakukan apa. klara teringat kata-katanya pada Kristin, kakak janji, Kristin pastih bertemu lagi dengan mama Kristin, kata itu membuat Klara sadar apa yang harus dilakukannya, “aku tidak boleh pergi,” lalu ke tempat pakiran, mencari Paris, “dia marah hahhh…” klara pun berjalan kaki pulang kerumah.
Tak jauh dari Klara, seseorang mengamatin dirinya dari tadi.
***
“Bagaimana jika dia pergi?” tanya Jenni pada Paris yang berdiri di blangkon rumahnya.
“Klara tak pernah ingkar janji, itu yang aku tahu sifat Klara”. Hp Paris berbunyi, langsung di angkatnya, “halo…” setelah mendenggar jawaban si penelpon, “benarkah dia tidak pergi,” sambil tersenyum, lalu mematikan hpnya, “benarkan yang aku katakan,” kata Paris pada Jenni.
“Jika kau tahu Klara tak akan pergi, kenapa kau tidak menunggunya?”.
“Aku hanya tidak mau memajakannya”.
Jenni tersenyum mendenggar perkataan Paris sambil melihat Kristin sedang bermain  boneka di sofa, “sepertinya niatmu pulang ke Amerika belum ada”.
Paris tersenyum.
“Kau manfaatkan gadis kecil itu untuk mendekatin Klara khan…?”.
“Kata kasarnya seperti itu”.
“Apa perluh aku menundah mencari orang tuanya?”.
“Jangan. Kasihan ke dia. Dia masih kecil. Masih membutuhkan orang tuanya”.
“Aku tahu, itu pastih jawabanmu”.
Paris tersenyum.
***
Klara pulang, berharap Ayah dan Bunda belum bangun dari tidurnya. Perlahan-lahan Klara melangkah masuk kekamarnya, tapi Klara langsung kanget melihat Ayah sedang membaca surat yang dibuatnya dan Bunda sedang menanggis sambil memengang pakaiannya. “Ayah Bunda…”.
“Kau tidak jadi pergi?!” tanya Ayah yang juga kanget melihat Klara.
“Tidak,” jawab Klara.
“Lalu bagaimana pekerjaanmu?!” tanya Ayah lagi.
“Pekerjaan haaa….” Klara langsung berlari keluar rumah, segera ke kampus.
“Klara!!” panggil BUnda.
“Tunggu!” kata Ayah menahan Bunda, “biarkan dia pergi!”.
***
“Disini Sarah menyiram Ibu Klara,” kata Doti.
“Kasihan Ibu Klara,” kata Yenni.
“Iya. Tegah banget Sarah menghina Ibu Klara,” kata Candra juga.
Klara yang mendenggar hanya tersenyum malu, “selamat pagi anak-anak,” sapa Klara.
Semua knget melihat Klara yang tiba-tiba muncul.
“Ibu Klara yang selalu buat masalah mau keruangan dulu, oh iya… siapa yang tahu rumah Sarah?” tanya Klara pada.
Semua menggeleng.
“Ok. Ibu keruangan dulu,” Klara melangkahkan kakinya menuju ruangan dosen.
“Itu Ibu Klara? Kok pakainnya lain banget,” kata doti melihat pakaian yang dipakai oleh Klara pagi ini. Baju kaos berwarna putih, celana jeas, topi dan sepatu olah raga.
“Itu bukan Ibu Klara yang sebenarnya,” kata Candra yang juga kanget dengan gaya pakaian Klara.
***
Klara membuka pintu ruangan, “selamat pagi,” sapa Klara. Bukan mahasiswa saja yang terkejut melihat pakaian yang kenain Klara, dosen-dosenpun ikutan kanget. Klara langsung ke meja Rian. “aku mau mintak alamat Sarah?” kata Klara pada Rian.
“Untuk apa? kami sudah memintah Sarah untuk membawa orang tuanya,” kata Rian.
“Jnagan. Jangan lakukan apa-apa. aku ingin bicara saja padanya”.
“Baiklah”.

Setelah tahu alamat Sarah, Klara bergegas ke kosan sarah yang  tak jauh dari kampus.
“Melihat kau memakai sepatu olah raga, sepertinya hari ini perjalanan akan panjang,” kata Paris tiba-tiba muncul di belakang Klara.
Klara langsung menolek, “kau… kau sedang apa disini?”.
“Aku akan jadi sopirmu seharian penuh,” Paris menarik Klara sampai ke mobil.
“Tunggu!! Kau tahu dari mana aku ke bandara”.
“Hanya lima menit untuk memikirkan itu”.
“Maksudmu?”.
“rasa malu yang kau terimah kemarin membuat dirimu untuk pergi dari Jakarta, lalu beberapa bulan kemudian kau kembali lagi,” lalu menatap Klara, “benarkan??”.
“Kau seperti dukun”.
Paris tersenyum, “ayo masuk,” sambil membukakan pintu mobil untuk Klara. Klara pun masuk kedalam mobil, setelah itu Paris pun masuk, dan segera menjalankan mobil. “kita mau kemana?” tanya Paris yang sedang menyetir.
Klara memberikan kertas pada Paris, “kita pergi ke alamat itu”.
“Alamat siapa ini?”.
“Sarah”.
“Kau tahu kenapa Sarah marah padamu?”.
“Tidak. Itulah aku ingin tahu kenapa dia marah padaku”.
“Karna Liga menyukainmu,” jawab Paris yang masih menyetir.
“Apa,” kanget Klara.
“Yang menculikmu juga dia yang suruh”.
Klara hanya diam, seakan tak percaya apa yang di denggarnya.

Tak lama perjalanan mereka menuju kosan Sarah. Paris menghentikan mobil di pinggir jalan sebuah kosan yang di cat warna hijau. “Mau aku temanin?” tanya Paris.
“Tidak usah. Biar aku sendiri,” Klara keluar dari mobil, dilihatnya Sarah sedang duduk di pintu kosannya, “hai Sarah,” sapa Klara.
Sarah kanget melihat Klara, “mau apa Ibu datang ke sini!!?” marah Sarah.
“Aku hanya ingin bicara denganmu”.
“Gak ada yang perluh di bicarakan!!”.
“Aku tahu perasaan kau sekarang? Menyukain pria memang sangat menyenangkan tapi jika pria itu menyukain wanita lain itu sangat menyakitkan, itu yang aku tahu perasaan yang kau rasakan,” diam sejenak, “dengan kau menyuruh orang untuk mencelakainku, menamparku, menyiramku dan menghinaku, itu membuat aku sadar kau sangat menyukain Liga. Tapi… cinta itu tidak bisa di paksakan. Cinta itu dari hati bukan dari mulut,” diam sejenak, “aku mengatakan ini semua bukan karna aku menyukain Liga. Aku tidak ada sedikitpun perasaan dengan Liga dan itu juga sudah aku katakan pada Liga”.
Sarah melihat Paris berdiri di pintu mobil, “Ibu menyukain pria lain”.
Klara hanya tersenyum. “Ibu Nyakit, kau pastih mendapatkan lelaki yang sangat mencintainmu”.
“Boleh aku memeluk Ibu,” kata Sarah. Klara langsung memeluk Sarah. “maafkan aku bu”.
“Ya. besok kau kuliah seperti biasa. Ibu sudah bicara dengan Pak Rian”.
“Ya bu”.
“Ok. Ibu pulang dulu”.
“Iya bu”.
Klara kembali ke mobil, “gimana?” tanya Klara pada Paris yang dilakukannya pada Sarah.
“Kau terlihat dewasa,” kata Paris sambil masuk dalam mobil.
Klara masuk dalam mobil, “benarkah….hahhh….”.
“Kita mau kemana?”.
“Kemana ya?”.
“Sopirmu ini juga butuh makan bu,” kata Paris yang tetap menyetir.
“Ok. Kita makan sopirku sayang,” ucap Klara yang berkali-kali menguap, “haaahhhh…..haahhh….”.
Paris tersenyum melihat Klara yang sudah sangat mengatuk.

Hari sudah gelap. Paris mengantar Klara pulang, dilihatnya Klara sudah tertidur lelap. Diatatapnya wajah Klara yang sedang tidur, “Kau tidak sedikitpun berubah. Kau masih cantik,” puji Paris sambil memengang pipi Klara. Paris melepaskan jaket yang dipakainya, lalu menyelimutin tubuh Klara.

Beberapa jam kemudian, Klara terbangun dari tidur lelapnya, “Tadi katanya lapar, kok aku di atar pulang,” dilihatnya Paris sudah tertidur, “apa ini,” melihat jaket Paris ada di tubuhnya, “segitu sukanya dia padaku,” melihat tangan Paris terlipat menahan dinginnya malam, lalu jaket Klara selimutin di tubuh Paris. Perlahan-lahat Klara keluar dari mobil agar Paris tidak terbangun dari tidur lelapnya. Klara membuka pagar rumah, lalu melangkah masuk ke rumah. Paris membuka matanya, dilihatnya Klara yang masuk kerumah. “kapan kau sadar, aku pangeranmu,” lalu menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya kembali.
***

Klara menerima telepon dari Paris saat mau masuk ruangan, “kau dimana?” tanya Klara.
“Aku masih dirumah,” jawab Paris.
“Jangan lupa bawak Kristin. Aku mau ajak Kristi jalan-jalan ke moll”.
“Iya. Nanti aku jemput, kita jalan bersama-sama?” jawab Paris yang berada di ruang kerjanya.
“Ibu Klara,” Rian muncul dari belakang Klara.
Klara menolek ke belakang, “Kak Rian. Baru datang Kak?” enatap Rian dihadapannya.
“Iya. Nanti siang kau ada kerjaan. Teman-teman mau mengajakmu makan”.
“Kakak ikut?” tanya Klara lagi yang mulai salah tingkah.
Rian tersenyum, “Iya”.
Paris yang mendenggar obrolan antara Klara dan Rian langsung dimatikan hpnya. Digenggamnya tangan kanannya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Jenni yang sedang menemanin Kristin bermain boneka.
Ditatapnya Jenni dan Kristin, “a..ku…”.
“Kenapa pangeran?” tanya Kristin pada Jenni.
“Tidak apa-apa sayang,” jawab Jenni.
***
“Sistem hokum eropa continental adalah suatu system hokum dengan cirri=cirri adanya berbagai ketentuan-ketentuan hokum dikodifikasi secara sistematis yang akan ditafsirkan lebih lanjut oleh hakim dalam penerapannya,” kata Klara menjelaskan di depan kelas. Klara melihat jam di lenggannya, “minggu depan kita membahas tentang system hokum anglo saxon, hokum adat dan hokum agama”.
“Baik bu,” mahasiswa serentak menjawab.
“Selamat siang,” Klara keluar dari kelas langsung menuju ruangan dosen.
“Yang di tunggu ternyata sudah datang juga,” kata Benny melihat Klara.
“Maaf lama,” kata Klara.
“Tidak apa-apa,” jawab Rian, “ayo…”.
Lalu mereka berlima pergi ke lestoran yang berada di sekitar kampus. Di lestoran mereka segera memesan makanan. Tak lama kemudian makanan yang di pesan mereka sudah tersaji di atas meja. “ayo makan…” kata Joni menyatap  makan siangnya.
Erika melihat Klara yang dari tadi melihat Rian makan yang duduk sampingnya.
***
Sudah setengah jam lebih Paris dan Krisin menunggu di dalam mobil yang dipakir dipakiran kampus. “Pangeran, itu Cinderela,” kata Kristin menujuk seorang gadis bersama seorang pria yang baru tiba. Paris menolek kea rah yang ditujuk Kristin. “Pria itu lagi. Kata kak Cinderela, itu pangerannya,” kata Kristin.
Paris hanya diam sambil trus menatap kearah Rian dan Klara,

“Kau sedang menunggu siapa?” tanya Rian yang menemanin Klara menunggu di depan kampus.
“Kristin. Tadi kata Paris akan mengantar Kristin ke sini”,
“Coba kau telepon,” saran Rian.
“Benar juga,” Klara langsung menelpon Paris,
“Halo…” Paris langsung mengangkat hpnya namun tatapannya terus kea rah Klara.
“Kau dimana?!”.
“Aku tidak jadi ke kampus,” langsung mematikan hp.
“Kenapa?!!”  tiba-tiba hp mati, “kok mati?!” waktu dihubungin Paris tidak menggangkat kembali. “kenapa sih dia!!” kesal Klara.
“Mungkin mereka dijalan,” kata Rian lagi membuat Klara tidak panik.
“Dia tak pernah seperti ini”.
“Rian tersenyum. Rian melihat mobil melewatin dirinya dan Klara, itu kan Paris, kata Rian yang melihat yang menyetir mobil itu adalah Paris. Namun tidak dikatakan pada Klara yang masih berharap Paris datang.
***
Pulang dari kampus Klara langsung ke ampartemen Paris. “tok… tok… tok…!!” Klara mengetuk pintu, kemudian pintu terbuka, “Kristin…” senang melihat Kristin yang membuka pintu.
“Kak Cinderela,” sambut Kristin.
“Mana pangeran?” tanya Klara sambil masuk.
“Tuh… tidur,” sambil menuju ke arah sofa.
Klara melihat Paris tidur di atas sofa. “kalian kenapa tidak jadi ke kampus?” sambil duduk di sofa depan sofa Paris tidur.
“Kami ke kampus kok kak”.
“Apa”.
“Pangeran lihat kakak bersama pria yang kemarin itu,” diam sejenak, “pangeran bilang dia tak mau nganggu kak Cinderela”.
Klara tersenyum menatap Paris yang tertidur lelap dihadapannya.
***



Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar