Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyers 7

Klara keluar dari kamarnya. Dilihatnya Ayah sudah menunggunya di depan pintu keluar. “ini…” Ayah mengembalikan ATM, kartu kredit dan kunci mobil pada Klara, “kemari kan kau ulang tahun, hari ini belanjalah sepuasnya”.
Klara langsung mengambilnya, “trimah kasi Yah”.
“Ayah pergi dulu,” lalu Ayah pergi.
“Bun…” seneng Klara.
“Belanjalah sepuasmu”.
“Sudah lama banget”.
Bunda mencubin pipi Klara dengan kasih sayang.
***
Benni dan Joni heran melihat Rian dan Erika hari ini tidak datang serempak dalam 1 mobil. biasanya mereka selalu bersama-sama pergi dan pulang, namun hari ini Rian terlihat datang sendiri dan Erika menggunakan taxi ke kampus. “kenapa mereka?’ tanya Benni.
“Mungkin lagi marahan,” jawab Joni.
 Tak lama kemudian, mereka melihat Klara datang dengan menggunakan mobil yang selama ini tidak penah dipakai Klara lagi, hari ini dipakainya.. “Pagi Ibu Klara,” sapa Benny dan Joni pada Klara yang melewatin mereka berdua.
“Pagi,” Klara membalas menyapa.
Tak lama kemudian. mereka melihat Paris mengejar Klara, “hei…” Paris memengang bahu Klara dari belakang.
Klara menolek ke belakang, “kau!!” yang masih marah pada Paris. Langsung di tedangnya kaki kanan Paris namun tidak kenah, di tendangnya kaki kiri tetap tidak kenah juga, lalu menampar Paris. Paris langsung menangkap tangan Klara, “heiii…. Kau masih marah?” tanya Paris sambil tersenyum.
Klara melihat di sekitarnya, baik itu dosen maupun mahasiswa melihat kearah mereka berdua. “Eeehhh…” kesal Klara yang tak bisa melampiaskan kemarahannya, lalu Klara pergi.
Paris hanya tersenyum melihat sikap Klara padanya. Tanpa memikirkan orang-orang yang memadangnya, Paris melajutin langkahnya menuju kelas yang hari ini jadwal dirinya mengajar.
“Sepertinya Ibu Klara dan Pak Paris marahan juga?” kata Joni.
“Kok kebetulan yach…,” kata Benny, “Pak Rian marahan dengan Ibu Erika. Ini  Ibu Klara marah dengan Pak Paris?”.
***
Ayah turun dari mobil. “Sudah lama aku tidak kesini,” Kata Ayah melihat suasana memakaman umum yang sudah 16 tahun tidak di kujunginnya lagi. Ayah melangkah kesalah satu makam yang bernama Budi Yono yang terletak di tenggah pemakaman. Ayah heran melihat sebuah bunga pelatih kesukaan Alm Budi sewaktu hidup berada di makam, terlihat bunga masih segar. “siapa yang meletakkannya?” tanya Ayah yang merasa Alm Budi tidak punya saudara di Indonesia kecuali anak dan Istri yang sudah 18 tahun yang lalu tak ada kabarnya lagi. Ayah melihat seorang kakek yang sedang membersihkan sekitar pemakaman, “Permisih”.
Kakek melihat Ayah, “ada apa Pak?” tanya Kakek.
“Bapak tahu siapa yang meletakkan bunga di makam Alm Budi?” tanya Ayah.
“Anak Alm Pak Budi,” jawab Kakek.
“Apa!” kanget Ayah, “sejak kapan?”.
“Hampir tiga bulan ini Pak. Malah dia menyuruh saya untuk membersihkan kuburan bapaknya setiap hari,” diam sejenak, “biasanya setiap hari minggu anak itu datang”.
“Apa namanya anak itu Luky?”.
“Bukan Pak”.
“Siapa?”.
***
“Dia seenaknya menciumku!! Dia pikir dia tuh siapa?!” marah Klara yang becerita pada Eka.
Eka memberika secangkir kopi hangat pada Klara, “tapi kau menikmatinnya khan?” sambil duduk disofa”.
“Maksud kau?!”.
“Ini kan ciuman pertamamu, masak kau tidak ada getaran sedikitpun,” goda Eka.
Klara menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, “tidak ada,” laluy duduk kembali, “aku kesini bukan membicarakan orang aneh itu! Apa yang harus aku lakukan pada Rian?”.
“Kau kan hanya ingin tahu apakah pengacara bohong atau tidak. Langsung tanya saja ke Rian”.
“Apa tidak apa-apa,” lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur.
“Tak apa-apa kali. Kau kan hanya ingin tahu saja,” sarat Eka.
Klara menatap langit-langit kamar Eka.
***
Bunda melihat Ayah pulang lesu. “Ada apa? apa ada masalah?” tanya Bunda kuatir melihat keadaan Ayah.
Ayah duduk disofa, “Klara sudah pulang?” tanya Ayah melihat ke kamar Klara.
“Belum. Mungkin Klara menginap lagi di rumah Eka. Ada apa?” tanya Bunda lagi penasan.
“Apa  Budi punya anak selain Luky?” tanya Ayah.
“Sudah 16 tahun Ayah tak pernah lagi mengungkit Pak  Budi. Tapi kenapa Ayah sekarang mengukitnya lagi?”.
“Tadi aku ke kuburan Budi. Aku lihat ada bunga melati dikuburannya. Kata penjaga pemakaman, anaknya selalu datang setiap minggu selama tiga bulan ini,” cerita Ayah.
“Luky?”.
“Bukan. Namanya Bukan Luky”.
“Bukannya Pak Budi cumak punya 1 anak?”.
“Itulah yang membuat aku pusing. Benar Rudi  hanya punya 1 anak?”.
“Selain Luky siapa lagi??” Bunda ikut pusing memikirkannya.
***

Esoknya Klara mencoba langsung bertanya pada Rian. Klara sms Rian untuk menemuinnya di taman. “Ada apa?” tanya Rian yang baru tiba.
“Eeeh…. Aku mau nanya soal sms  untuk ketemuan di cave Citra,” kata Klara.
“Aku tidak menerima sms dari siapapun”.
“Mungkin Iya,” diam sejenak, “tapi kenapa sms aku hari ini masuk? Jika salah nomor, pastih sms hari ini tidak akan masuk juga,” binggung Klara, “sebenarnya aku ingin merayakan ulang tahun bersamamu, tapi kau tidak datang,” Klara menahan agar tidak menanggis.
“Aku datang”.
“Benarkah? Kau ke cave?”.
“Tidak. Aku kerumahmu”.
“Kau melihatnya?”.
Rian diam.
“A….aku bisa jelasin semuanya. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Rian, kami hanya….”.
Rian langsung memotong perkataan Klara, “aku tidak penduli, itu urusan pribadimu, kta tidak ada hubungan apa-apa!  Aku tidak mau ikut campur!”.
Klara berusaha untuk tersenyum, “kau benar, kita tidak ada hubungan apa-apa,” jawab Klara lesu.
Rian melihat Paris dari jauh yang akan pergi dari kampus, “sejak kapan kau mengenal Paris?”.
Klara berkata dalam hatinya, akhirnya dia cemburu juga, senang Klara, “baru sebulan lebih. Kenapa kak?”.
“Kau tahu Paris berasal dari Amerika?”.
Klara menggeleng.
“Kau dekat dengan Paris tapi kau tidak tahu dia berasal dari mana”.
“Aku kalua bereteman tidak suka bertanya, kalau dia sendiri tak mau cerita”.
“Baru tiga bulan ini Paris di Indonesia. Dia kuliah lulusan di Amerika tapi berkaril di Indonesia sebagai pengacara, pemilik hotel dan dosen. Dari ketiga profesi yang dia jalanin sangat bertentangan satu sama lain. Dan aku denggar dia akan melakukan apa pun untuk memenangkan kasus walaupun itu membayar saksi,” diam sejenak, “dan waktu kau diculik, Paris ada disana”.
“Dia ada disana? Aku tidak melihantnya?” tanya Klara antara percaya dan tidak percaya yang yang diceritakan Rian padanya.
“Sebelum kau lebih dekat lagi, sebaiknya kau cari tahu dulu siapa Paris sebenarnya”.
***
“Besok aku akan ke kantor polisi untuk bertemu dengan Oki,” kata Paris sambil melangkah kea rah pakiran.
“Perluh aku temani?” tawar Jenni.
“Boleh”.
“Ok kita bertemu di kantor pol….” Kata-kata Jenni terhenti saat melihat Klara berdiri di mobil Paris.
Paris menolek kearah yang dilihat oleh Jenni, “Klara?” lalu mendekatin Klara, “kau sedang apa disini?” tanya Paris, “mana mobilmu? Bukannya mobilmu sudah kembali”.
Klara menatap Paris tanpa mengatakan satu katapun.
“Sebaiknya aku pulang. Besok kita bertemu di kantor polisi saja,” kata Jenni lalu pergio menggunakan mobil yang dipakirnya di sebelah mobil Paris.
“Kau kenapa?” tanya Paris lagi.
“Aku ingin bicara denganmu,” kata Klara yang masih menatap Paris.

Paris mengajak Klara ke Cave Citra. Mereka duduk di meja no 4 yang berada di pinggir kolam renang. “Untung menejernya baik, jadi kita dapat diskon malam ini untuk menggantikan malam itu,” kata Paris yang coba menghibur Klara yang dari tadi tidak tersenyum padanya.
“Kenapa kau tidak pernah cerita kau berasal dari Amerika?” tanya Klara ke inti bicara.
Paris menatap Klara, “memang kau pernah bertanya?” balik tanya Paris, “dan aku rasa itu juga tidak penting. Kau sudah tahu namaku, alamatku, pekerjaanku, sifatku kau mau tahu apa lagi? Makanan kesukaanku stik dan minuman kopi. Apa lagi yang ingin kau tahu tentang aku?”.
“Hahhh… aku juga binggung,” kata Klara sambil tersenyum.
“Tanya saja, aku akan jawab”.
Klara menatap paris. “kenapa kau mengelutin 3 profesi sekaligus?”.
“Karna aku menyukainnya”.
Benar juga”.
“Apa lagi?”.
“Sewaktu aku di culik, kau ada di tanah kosong itu?”.
“Ya”.
“Jadi luka itu karna menolongku?”.
“Iya”.
“Aku pikir, luka saat itu karna jatuh atau kau beratem sama orang, bukan menolong aku,” menyesal Klara yang baru sadar, “kenapa kau tak bilang ke aku?”.
“Karna kau tidak melihat aku”.
“Maksudmu karna aku tidak melihat, aku tak akan percaya dengan ceritamu?!”.
“Kau mau bertanya apa lagi?”.
“Kau kenapa ke Indonesia? Bukannya jika kau berkaril di Amerka lebih baik dari pada di Indonesia?”.
Paris diam sejenak, “karna… karna aku ingin lihat gadis yang aku ingkar janjinya,” menatap  Klara.
“Kau pastih sangat bersalah,” Klara menatap Paris, “apa kalian sudah bertemu?”.
“Iya. Tapi aku masih tidak berani mengatakan sebenarnya. Aku takut dia marah padaku,” kata Paris yang berusaha tidak menanggis di hadapan Klara.
Klara melihat mata Paris berkaca-kaca, “kau pastih sangat menderita dengan rasa bersalahmu itu”.
“Iya. Karna itulah aku datang ke Indonesia”.
“Seharusnya kau harus segera meminta maaf padanya. aku nyakit dia pastih memaafkanmu jika mendenggar penjelasanmu,” sarat Klara.
“itu menurutmu?”.
“Lebih cepat lebih baik”.
Paris menatap kolam renang.
***
Erika mencoba menghubungin Rian untuk minta maaf. Namun dari tadi siang Rian tidak mau menggakat telepon darinya. Erika berusaha untuk menahan diri agar tidak menanggis lagi seperti malam kemarin. Dia trus mencoba menelpon dan mengirim sms tapi tetap saja tidak telepon tidak di angkat dan sms tidak dibalas.
***
Klara menatap dirinya di depan kaca. “Sudah aku duga, ini pastih hanya salah paham,” kata Klara yang sudah legah  mendenggar jawaban setiap pertanyaan yang diajukan ke Paris, semua dijawab. “Tapi aku gak nyangkah, aku punya teman dari Amerika”.
***
Setelah sampai diampartemen. Paris langsung mandi, dibiarkan tubuhnya  tersiram dengan air yang  menggalir di atas kepalanya. Ditutupnya matanya sambil mengingat pertanyaan yang diajukan Klara padanya, terutama pertanyaan terakhir padanya. “ini tidak semudah yang kau bayangkan,” kata Paris yang terus menyesal pada dirinya sendiri.
***

Paris menghubungin Jenni, mengabarkan dirinya tidak bisa bertemu di kantor polisi. “kau sakit?” tanya Jenni yang masih dikantor polisi.
“Sepertinya aku deman,” jawab Paris yang berdiri di blangkon sambil memengang kepalanya yang terasa sakit.
“Apa perluh kita ke rumah sakit,” sarat Jenni kuatir.
“Kau tahu jawabannya. Aku tak suka rumah sakit”.
“Kalau gitu aku suruh dokter saja ke ampartemenmu”.
“Tidak usah. Aku tidak apa-apa. kau ke kantor polisi saja, cari tahu kasus apa saja yang dewi sering lakukan sebelum kasus ini”.
“Baiklah. Nanti pulang dari kantor polisi aku langsung ke ampartemenmu”.
“Ya,” lalu mematikan hp. Paris melihat pemadangan luar dari ampartemennya dari blangkon.
***
Erika mengejar Rian yang jalan duluan keruangan. “Rian…” panggil Erika sambil memengang tangan Rian, “sampai kapan kau diamkan aku?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca, “aku sudah mintak maaf padamu. Apa itu kurang!”.
Rian menatap Erika.
Klara muncul dari balik pintu ruangan, dilihatnya Rian dan Erika sedang saling bertatapan, “kalian ada apa?”.
Erika melepaskan tangannya, “aku mau masuk dulu,” lalu masuk kedalam ruangan dengan kekecewaan.
“Kakak bertengkar dengan Ibu Erika?” tanya lagi Klara.
“Hanya masalah kecil,” jawab Rian.
“Oh iya. Aku mau bicarakan tentang Paris. Semalam aku bertanya pada Paris. Dia memang baru 3 bulan di Indonesia, Paris ke Indonesia hanya ingin mintak maaf pada seorang perempuan, itu saja,” cerita Klara polos.
“Syukurlah jika Pak Paris tak ada niat buruk padamu”.
“Gak mungkin Paris ada niat buruk ke aku, karna selama ini dia selalu bantu aku, kalaupun aku tidak membutuhkannya dia selalu muncul untuk bantu aku,” ingat Klara setiap membantunya.
“Kau tahu siapa perempuan itu?”.
“Aku rasa aku tidak perluh bertanya, siapa perempuan itu? Itu urusan pribadinya. Aku tak mau terlalu ikut campur urusan pribadinya,” lalu tersenyum, “yang aku tahu Paris ke Indonesia hanya ingin menemuin seorang wanita. Dia sepertinya sangat mencintain wanita itu, sampai-sampai mengejar perempuan itu ke Indonesia,” Klara teringat kata-kata Paris waktu di Bandung, “Waktu di Bandung juga Paris mengatakan, aku menunggu seorang gadis, dia sangat idolah dengan grup Ada Band, itu yang dia katakan padaku”.
“Apa Paris bertemu perempuan itu?”.
“Iya katanya”.
Walaupun masih binggung, Rian berusaha untuk tersenyum.
***
Dari kantor polisi Jenni ke ampartemen Paris dengan membawa obat-obatan untuk Paris. Ketika mau masuk kedalam lip, Jenni bertemu dengan Klara yang juga mau masuk dalam lip. Mereka saling tersenyum. “kau mau ke ampartemen Paris?” tanya Jenni.
“Iya. Aku mau nanyain soal Kristin?” jawab  Klara.
Jenni memberikan bungkusan plastik pada Klara, “tolong berikan ini pada Paris”.
“Apa ini?” Klara melihat bungkusan, “obat,” kanget melihat isi bungkusan ada beberapa obat-obatan, “siapa yang sakit? Kristin yang sakit??”.
“Katakan pada Paris aku tidak bisa ke ampartemennya, aku ada urusan lain. Permisih,” kata Jenni sambil mengambil hp dari tasnya, lalu melangkah keluar.
Walaupun masih binggung, Klara masuk kedalam lip untuk ke ampartemen Paris.
***
“Kau beritahu aku sakit?” tanya Paris menerima telepon dari Jenni yang berada di lantai bawah.
“Tidak. Aku bertemu dia dibawah”.
“Tok…tok…tok…tok…” pintu ampartemen diketuk.
“Sepertinya dia sudah datang,” kata Jenni lalu mematikan hpnya.
Paris membuka pintu, “kau sedang apa ke sini? Kalau hanya masalah Kristin, aku kan sudah katakan, aku akan beritahu nantinya,” tanya Paris ketika melihat Klara didepan pintu.
“Kau sepertinya tahu aku mau kesini,” heran Klara yang tiba-tiba Paris bertanya seperti itu padanya. “Kau sakit?” melihat wajah Paris pucat.
“Tidak”.
Klara memengang kening Paris.
“Apa yang kau lakukan?”.
“Ahhh…. Panas sekali,” kanget Klara, “jadi obat ini untukmu,” Klara meengang lenggat Paris, “kau harus istirahat,” saran Klara sambil membawa Paris ketempat tidur, “aku ambil pengompres dulu,” lalu kedapur. Tak lama kemudian Klara membawa baskop dan handuk kecil untuk mengompres Paris.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Paris melihat sikap Klara padanya.
“Panasmu tinggi sekali!”.
“Jangan buat aku tidak enak padamu,” lalu duduk.
“Tidu!!” sambil memaksa Paris membaringkan tuibuhnya kembali ke kasur, “kau ini sudah sakit cerewet sekali!”. Paris membaringkan tubuhnya kembali. Klara memeras handuk lalu meletakkan di kening Paris. “Kau sudah makan?” tanya Klara, “sebelum minum obat harus makan dulu”.
“Kau bisa masak?” tanya balik Paris.
Klara terdiam sejenak, “tidak sih… tapi kita kan bisa mesan di lestoran”.
Paris menarik nafas panjang lalu melepaskannya kembali, “kau memang bukan istri yang baik”.
“Maksudmu apa?!!”.
“Mana ada perempuan tidak bisa masak?!”.
“Jangan mengejekku!” marah Klara.
“Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan wanita yang tidak bisa masak. Walaupun masakan istri tidak enak, tapi karna dibuat dengan kasih sayang, makanan itu terasa enak”.
“Apa perempuan itu bisa masak juga?”.
“Tidak”.
“Jangan-jangan kau meninggalkannya karna tidak bisa masak,” tebak Klara, “dan sekarang kau mau menemuinnya karna dia sudah pintar masak”.
Paris tersenyum, “sampai sekarangpun dia tidak bisa masak”.
Ternyata di dunia ini ada 2 wanita yang tak bisa masak. Apa Jenni bisa masak?”.
“Iya. Masakannya sangat enak”.
“Benarkah?”.
Paris tersenyum.

Setelah minum obat Paris tertidur lelap di kasur. Kalra menatap Paris, “kalau dilihat-lihat kau tampan juga,” puji Klara, “tapi sayang kau sudah menyukain wanita lain,” Klara tersadar dari kata-katanya, “apa sih yang aku katakan, ingat Klara, kau menyukain kak Rian bukan Paris. Paris hanya teman bagimu,” kata Klara menyakitkan dirinya sendiri.
***
“Klara menginap lagi di rumah Eka?” tanya Ayah yang tidak melihat Klara dari tadi siang.
“Sepertinya iya,” jawab Bunda yang sedang dfuduk di ruang tenggah sambil menikmatoin siaran televise yang disukainnya.
“Kau belum beritahu soal Luky khan?”.
“Belumlah Yah,” diam sejenak, “tapi kalau Luky menagi janji kita yang akan menjodohkannya dengan Klara bagaimana?”.
“Itukan belum pastih Luky”.
“Memang selain Luky siapa lagi anak Budi”.
“Aku tahu itu!! Tapi kata penjaga pemakaman anak itu bukan namanya Luky!”.
“Jadi apa rencana Ayah?”.
“Minggu aku mau kesana lagi. Kata penjaga pemakaman setiap hari minggu  dia sering datang kesana”.
***
Paris bangun dari tidur lelapnya, langsung bangkit dari tempat tidur. Ketika mau ke dapur, Paris melihat Klara tertidur di sofa, “kau menjaga aku sampai seperti ini, lebih baik hentikan, kalau itu hanya sebagai teman. Itu membuat aku tambah tersiksa pada Klara yang sedang tertidur lelap dengan memadanginnya. Diangkatnya tubuh Klara ke kamar, lalu meletakkan tubuh Klara di atas kasur, setelah menyelimutin tubuh Klara, Paris keluar dari kamar.
Paris menagmbil kotak yang disimpatnya di lemari ruang tamu. Dibukanya kotak yang berisi foto-foto. Satu persatu Paris melihat foto Klara yang di poretnya diam-diam selama 3 bulan ini. Tak teritung lagi foto Klara didalam kotak.
***

Paris melihat ke jendela, dilihatnya langit sudah nampak kemerahan. Dikumpulin semua foto-foto yang beserakat dilantai maupun di atas meja, agar Klara tidak melihat foto dirinya itu, namun tidak semua foto yang terkumpul, Paris tak sadar ada foto yang terselip di bawah sofa.  Setelah menyimpat kotak ke lemarin tempat dimana dirinya mengambilnya semalam,  Paris keluar dari ampartemennya dan membiarkan Klara yang masih tertidur lelap di tempat tidur.
***
Didalam ruangan, hanya Erika dan Rian. Semua dosen-dosen sudah ke kelas tempat mereka jadwal hari ini. Erika mendekatin Rian yang duduk di meja kerjanya, “jika kau ingin aku mintak maaf pada Klara, akan aku lakukan. Tapi aku mohon jangan diamkan aku seperti ini,” kata Erika dengan mata berkaca-kaca.
Rian menatap Erika, “kau tahu apa yang kau lakukan itu keterlaluan?!”.
“Aku akan mintak maaf pada Klara, kalau itu maumu!”.
***
Paris kembali ke apartemennya dengan membawa sarapan pagi yang akan disantap oleh dirinya dan Klara. Baru di depan pintu Klara mendenggar suara kaca yang pecah dari dalam, langsung Paris masuk kedalam, menuju dapur. Dilihatnya Klara sedang mencuci piring, “kau marah!?” kata Paris Dilihatnya beberapa piring pecah berserakat dilantai.
Klara menolek kebelakang, “maaf… licin,” sambil menujukkan tangannya yang penuh dengan busa sabun.
“Biar aku bersihkan dulu, nanti kena kakimu,” Paris mengambil beling yang berserakat dilantai.
“Jangan, biar aku saja,” kata Klara sambil mengambil beling di tangan Paris.
“Auhh…” beling mengenain jari Paris.
“Kan sudah aku bilang!”.
“Itu karna  kau mengambil dari tanganku!”.
Klara menujukkan wajah sedih, “Maaf… barang-barangmu banyak yang pecah dan sekarang kau terluka gara-gara aku juga”.
“Sudahlah. Kita sarapan dulu, nanti bibi pembersih yang akan membersihkannya. Kau kesana dulu, aku ambil piring dulu,” kata Paris lembut.
Klara keruang tamu, langsung duduk disofa, tak segaja Klara mengijak foto yang terselip dibawah kursi, “apa ini,” lalu mengambil foto itu. Bertapa terkejutnya Klara melihat foto dirinya yang sedang berdiri di tepi pantai, dan setahunya dirinya  merasa tak pernah di foto dengan gaya  seperti itu. Klara menatap Paris yang mendekatinnya.
“Tok…tok…tok….” Pintu terketuk, kemudian pintu terbuka, “kau sudah sehat?” tanya Jenni langsung masuk.
Klara langsung menyembunyikan foto di saku roknya.
“Ternyata ada tamu?” kata Jenni melihat Klara.
“Aku mau pulang kok,” kata Klara mengambil tas yang terletak disofa.
“Kau bawak mobil?” tanya  Paris.
Klara menatap tajam pada Paris.
Paris yang merasa Klara menyimpat sesuatu, lalu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, “aku antar kau,” lalu meletakkan piring di atas meja. “ayo…”.
Klara mengikutin Paris dari belakang.
“Pastih ada terjadi sesuatu,” tebak Jenni melihat tatapan Klara pada Paris.

Diluar ampartemen. “Kau tunggu disini, aku ambil mobil,” kata Paris.
“Aku mau pulang sendiri,” kata Klara.
“Kau kan tidak bawak mobil”.
“Aku bisa naik taxi”.
“Kau kenapa?! Kau marah gara-gara piring pecah!!? Aku tak akan marah hanya gara-gara itu!” yang mengira Klara tiba-tiba beruba sifatnya karna piring yang dipecahinnya.
“Siapa sebenarnya kau?” tanya Klara menatap Paris.
“Apa maksudmu? Bukannya kau tahu aku seorang pengacara, pemilik hotel dan dosen”.
Klara mengambil foto dari saku roknya, “kenapa fotoku ada padamu?!!”.
Paris kanget melihat foto di tangan Klara.
“Setahu aku, fotoku denganmu hanya foto dengan grup Ada Band dan ini bukan foto saat aku berfoto dengan grup Ada Band,” diam sejenak, “jadi selama ini kau terus mengikutinku. Siapa sebenarnya kau?!”.
Apa perluh aku jawab!”.
Klara mendorong tubuh Paris, “siapa sebenarnya kau!!?” marah Klara.
“Pulanglah,” lalu Paris kembali masuk ke ampartemen.
Klara melihat Paris masuk kedalam lip. Lalu menanggis. Semua  pertanyan timbul dibenaknya, namun tak satupun yang bisa dijawab oleh dirinya sendiri.

Paris masuk ke ampartemennya. “kau tidak jadi mengantar Klara?” tanya Jenni yang duduk di sofa.
“Dia mau naik taxi,” jawab Paris sambil duduk disofa.
“Ada apa?” tanya Jenni melihat Paris murung, “apa ada terjadi sesuatu?”.
***
Eka melihat foto yang diberikan Klara padanya, “ini kalau gak salah di pantai kutai,” dugaan Eka.
“Benarkan, ini waktu kita di Bali!” kata Klara yang juga menebak foto itu diambil saat dirinya berada di Bali dengan Eka.
“Tapikan itu sudah hampir dua bulan yang lalu,” berpikir sejenak, “jadi pengacara berada di Bali saat itu. Tapi… bukannya saat itu kalian belum kenal”.
“Itulah yang membuat aku pusing saat ini”.
“Itu saja pusing, “kata Eka.
“Maksudmu?”.
“Itu tandanya pengacara sudah lama menyukainmu. Mungkin saat dirinya melihatmu di Bali. Bukannya kau pernah cerita pengacara pernah berdiri di depan rumahmu, tapi setahu kau, kau belum pernah memberitahu alamatmu padanya, itu saja nampak kalau ia sangat ingin tahu kau lebih dalam. Dan dia selalu membantumu, menemaninmu. Aku iri padamu Klara,” kata Eka.
“Tapi Paris cerita dirinya ke Indonesia untuk menemuin seorang wanita?”.
“Kalau itu aku tidak tahu. Apa pengacara pernah mengatakan suka padamu?”.
“Iya. Tapi aku suruh dia tidak menyukainku lagi”.
“Apa waktu kau suruh melupakan perasaannya padamu, pengacara menjauhinmu”.
Klara menggeleng.
“Pengacara tambah dekat khan. Itu tandanya pengacara masih berharap padamu,” kata Eka, “bukannya kau nyaman jika bersamanya. Malah sudah berapa kali ginap dirumahnya”.
“Itu karna ada Kristin”.
“Jadi  malam tadi apa?”.
“Dia sakit. Aku gak tegah meninggalkannya”.
Eka tersenyum.
***

Seperti biasa Klara pag-pagi sudah tiba di kampus. Klara duduk diimeja kerjanya sambil menatap foto dirinya yang kemarin yang temuinnya di rumah Paris, “apa benar sudah lama dia menyukainku,” kata Klara bertanya pada dirinya sendiri.
Erika mendekatin Klara, “Ibu Klara tidak ada kerjaan?”.
Klara menatap Erika, “ada apa bu?”.
“Aku mau bicara”.

Mereka ke taman. Erika langsung memintah maaf pada Klara, “aku mintak maaf”.
“Untuk apa?” tanya Klara yang merasa Erika tidak ada salah apapun padanya.
“Waktu kau sms ke Rian untuk menemuinmu di cave, aku yang membacanya”.
“Lalu?”.
“Aku tidak memberitahu pada Rian sms darimu”.
“Apa! Ibu tahu gak, aku menunggu kak Rian berapa jam di cave!!” marah Klara.
“Maafkan aku,” Erika merasa bersalah, air mata jatuh membasahin pipinya.
Klara melihat Erika menanggis, yang baru pertama kali melihat Erika sesedih itu, yang biasanya dirinya selalu tegar dalam segala hal.  “Untuk apa Ibu mengatakannya padaku? Apa Kak Rian sangat marah pada Ibu?”.
Erika mengangguk.
“Ibu sangat mencintain kak Rian yach…?”.
Erika menatap Klara.
“Aku juga mengenal seseorang yang sangat mencintain seorang perempuan,” teringat pada Paris, “walaupun perempuan itu sudah mengatakan tidak menyukainnya, namun pria itu selalu menjaganya, melidunginnya dan mendenggarkan semua keluhannya. Itu aku rasakan pada ibu. Aku sangat mengerti perasaan ibu sekarang,” kata Klara panjang lebar.
“Kau tidak usah memikirkan perasaanku. Dari awal kau bilang, kau suka Rian, aku sudah mengalah. Walaupun perasaat itu masih ada, tapi aku iklas melepaskannya untukmu,” ucap Erika.
***
Setelah mengajar, Paris keluar dari kelas langsung ke pakiran mobil. didalam mobil Paris melihat Klara berdiri didepan gerbang kampus. bergegas dirinya menjalankan mobil menuju tempat Klara berdiri, lalu menghentikan mobil didepan Klara, “perluh tumpangan Ibu Klara?” tawar Paris dari dalam mobil.
“Gak usah pendulikan aku lagi jika tak mau menjawab soal foto itu?!” kesal Klara membuang muka.
Paris keluar dari mobil, “mana fotonya?”.
“Untu apa?” tanya Klara.
“Itukan fotoku”.
“Apa!”.
“Memang kau sadar saat aku memfotomu?!”.
“Tidak”.
“Jadi itu bukan milikmu”.
“Kau membuat aku kesal!!”.
“Aku tahu itu”.
“Lalu untuk apa menyetopin mobilmu didepanku?!!” dengan nada tinggi.
“Kau tidak malu semua melihatin kita”.
Klara melihat orang-orang disekitarnya yang melihat kearah mereka, “ayo kita ke moll,” ajak Klara.
“Gapain ke moll”.
“Aku tak mau punya utang janji padamu”.
“Maksudmu?”.
“Bukannya aku pernah janji akan membelikan kau jass”.
“Gajiankan besok”.
“Aku sudah mendapatkan kartu kreditku, jadi gak usah kuatir, aku pastih bisa membayarnya”.
“Aku tak mau”.
“Apa. Mau mu itu apa sih…!!”.
“Bukannya kau janji membelikan aku jas menggunakan uang gajianmu”.
“Kau… hemmm… kau membuatku marah”.
Paris tersenyum, “bagaimana kita makan saja di moll”.
“Terserah!,” Klara masuk kedalam mobil.
Paris masuk kedalam mobil, langsung menjalankan mobil menuju moll.
***
Pak Rudi menemanin Bunda untuk sekiat kalinya belanja di supermarket yang berada di moll. “apa Surya tahu kita sering berjalan berdua?” tanya Pak Rudi.
“Tidaklah. Bisa dibunuhnya aku. Kau kan tahu Ayah sangat benci sekali padamu”.
Itu karna aku sering mendekatinmu”.
Bunda tersenyum, “sudah lama sekali ya. kita sekarang sudah tua”.
“Tapi kau masih cantik,” puji Pak Rudi.
“Kau ini selalu pintar merayu,” malu Bunda. Bunda melihat Klara bersama seorang pria melewatin supermarket, “itukan Klara?”.
“Ada apa?” tanya Pak Rudi.
“Kita berpisah disini saja”.
“Kenapa?”.
“Aku lihat anakku dengan pria”.
“Baiklah”.
Bunda langsung membayar belanjaannya yang cukup lama menghitungnya, “cepat dong bak….” Kata Bunda yang tak sabar mengejar Klara.
“Iya bu”.
***
Klara dan Paris duduk disalah satu meja di lestoran yang tak jauh dari pintu keluar lestoran. “Kau mau makan apa?” tanya Paris melihat menu lestoran.
“Salat saja” jawab Klara.
“Kau seperti kambing yang hanya suka sayur-sayuran,” ejek Paris.

Akhirnya mencarian Bunda berakhir juga. Bunda melihat Klara duduk berdua dengan seorang pria di salah satu meja di lestoran. Bunda  duduk di meja di belakang Klara duduk dengan pria itu. Mereka duduk saling membelakangin, beharap Klara tidak mengetahuin dirinya ada di belakangnya.

“Aku harus menjaga penampilanku,” jawab Kalra dengan kata-kata Paris.
“Sayang….” Baru satu kata Paris mengucapkan.
Bunda langsung berdiri, “Sayang….” Kanget Bunda sambil membalikkan tubuhnya menatap Paris.
Klara menolek kebelakang, “Bunda…!” kanget Klara melihat Bunda sambil berdiri.
“Kau bilang tadi sayang?” tanya Bunda lagi pada Paris.
Paris menatap perempuan yang ada di sebelah Klara, yang sangat dikenalnya dan sudah lama tidak bertemu lagi sejak 18 tahun yang lalu,
“Bunda… Bunda sedang apa disini?” tanya Klara.
“Ayo duduk,” ajak Bunda lalu duduk di sebelah Paris. “siapa namamu?” tanya Bunda lembut.
“Namaku Paris Eriko Prengky. Panggil saja aku dengan Paris”.
“Pekerjaanmu?” tanya Bunda lagi.
“Aku seorang pengacara dan dosen”.
“Pekerjaan orang tuamu?”.
“Bunda….” Malu Klara pada Paris dengan Bunda yang banyak bertanya pada Paris.
“Tidak apa-apa.  kedua orang tuaku sudah meninggal. Ayah meninggal waktu aku berumur 18 tahun dan tiga tahun kemudian ibu meninggal. Aku diadopsi keluarga dari Amerika. Ayah angkatku  membuka perusahaan industri di Amerika. Dan mama sebagai dokter di rumah sakit hospital city in Amerika”.”
“Kau anak angkat?”.
“Mereka mengganggap aku sebagai anak mereka sendiri, mungkin karna aku menggatikan anaknya yang sudah meninggal”.
“Umurmu berapa?”.
“Aku lebih tua 3 tahun dari Klara Ibu”.
Bunda memengang tangan Paris yang ada di meja, “kau memanggilku ibu”.
Paris tersenyum.
“Klara,” bunda melihat Klara yang duduk disebelahnya..
“Ada apa Bunnda?” tanya Klara yang diam dari tadi mendenggarkan cerita Paris pada Bunda.
“Menurutmu Paris bagaimana?” tanya Bunda.
Klara melihat Bunda, “dia pria baik, selalu ada jika aku butuhkan. Selalu mermbuatku senang  walaupun kadang membuat aku kesal, tapi selalu saja ada cara dirinya buat aku kagum padanya,” diam sejenak, “dia seperti pangeran yang selalu aku butuhkan,” kata Klara dari hati paling dalam.
Paris menatap Klara, tak disangkahnya Klara bisa mengatakan itu semua.

Paris mengatar Bunda dan Klara pulang. “kau tidak masuk dulu nak?” tanya Bunda,”Ibu akan masak sup, kau lihat sendiri ibu membeli bahannya”.
“Lain kali saja bu,” jawab Paris yang membantu Bunda menurutkan barang belanjaan Bunda.
“Hati-hati,” kata Klara.
“ Iya,” Paris masuk kedalam mobil, lalu pergi. Mobil  Paris keluar dari halaman rumah, mobil Ayah masuk kehalaman.
Bunda yang melihat Ayah pulang, langsung berkata pada Klara, “kau jangan bilang apa-apa tentang hubunganmu dengan Paris”.
“Memang kami ada hubungan apa,” binggung Klara dengan kata-kata Bunda, lalu masuk kedalam.
Ayah keluar dari mobil. Ayah melihat barang belanjaan Bunda, “baru sore kalian pulang belanja?” tanya Ayah.
“Banyak kebutuhan dapur yang habis,” jawab Bunda.
“Siapa yang tadi?”.
“Ohhh…. Itu teman sekantor Klara. Tadi ketemu di moll,” alasan Bunda.
Ayah masuk kedalam rumah. Bunda menarik nafas panjang lalu melepaskannya kembali, “jangan sampai Ayah tahu mereka pacaran,” yang mendega Paris dan Klara pacaran.
***
Klara mengajak Rian ketemuan ditaman. “Ada apa?” tanya Rian pada  Klara yang menunggunya.
“Aku mau bicarakan masalah Ibu Erika”.
“Kenapa dengannya?”.
“Kakak jangan marah lagi dengan Ibu Erika. Aku tahu dia salah tapi tidak perluh membalasnya seperti ini,” diam sejenak, “Ibu Erika sangat menderita selama ini, jangan menambah deritanya lagi dengan kakak marah padanya,” kata Klara.
Rian tersenyum, “kau mulai dewasa”.
Klara tersenyum malu, “benarkah”.
***
“Habis dari sini kau mau kemana?” tanya Jenni pada Paris yang baru menyelesaikan tugasnya sebagai pengacara  Oki disidang kasusnya.
“Aku mau ke kampus,” jawab Paris sambil membuka pintu mobil.
“Bukannya kau hari ini kau tidak ada jadwal?”.
“Aku mau menagi janji seseorang”.
“Klara,” tebak Jenni sambil tersenyum.
Paris tersenyum, “mau aku antar”.
“Tidak usah. Aku naik taxi saja”.
Paris masuk dalam mobil, “aku duluan,” lalu pergi.
Jenni melambaikan tangan. “kau masih mengharapkannya,” ucap Jenni.
***
Setelah selesai mengajar, Klara keluar dari kelas. Dilihatnya Paris menyadar di dinding tak jauh dari kelas. Mahasiswa yang lewat didepannya menyapanya dibalasnya dengan senyumannya. Klara mendekatin Paris, “kau tidak ada jadwal hari ini?” tanya Klara.
“Tidak,” jawab singkat Paris.
“Lalu ngapain kau kesini?!”.
“Aku hanya ingin nagi janji seseorang. Orang itu janji akan membelikan aku jas jika mendapatkan gaji”.
“Gak usah panjang lebar! Aku ngerti kok maksudmu”.
“Bagus kalau gitu. Sekarang kita pergi”.
“Semangat banget”.
Paris tersenyum.
***
Bunda menemanin Ayah makan siang. “kau belum memberitahu  Klara soal Luky khan?” tanya Ayah sambil makan.
“Belum,” jawab Bunda. “Ayah. Apa kita tidak bisa membatalkan perjodohan Klara dengan Rian”.
“Maksudmu apa?!!” marah Ayah.
“Sepertinya Klara menyukain seorang pria”.
“Itu tidak bisa!! Klara tetap dijodohkan dengan Rian!!” Ayah mempertegas keputusannya.
***
Klara melihat-lihat jas yang cocok untuk Paris. Klara mengambil salah satu jas yang berwarna hitam terdapat garis putih dikeranya, “ini bagus,” sambil menujukkan pada Paris.
“Lumayan,” jawab Paris melihat pakaian yang ditunjuk Klara. Lalu melajutin memilih  kemeja yang tergantung rapi.
“Ini satu,” kata Klra pada pelayan toko. Klara melihat kembali jas-jas.
Setelah mendapatkan 2 kemeja yang dipilihnya dari beberapa kemeja yang ada toko, Paris memberikan kemeja pada pelayan toko yang membantunya memilih. Dilihatnya Klara sedang melihat jas dengan model sama dengan jas yang pertama hanya bedah warna saja. yang dipengang Klara warna biru. “untukku?” duga Paris.
“Tidaklah. Ini untuk kak Rian,” jawab Klara sambil tersenyum.
“Aku tidak mau dibelikan sesuatu yang sama dengan orang lain!”.
Klara kanget, “maksudmu apa?!”.
“Aku mau yang lain,” Paris keluar dari toko.
Klara kesal dengan sikap Paris, “kau membuat aku marah!!”.
“Ini jadi bu?” tanya pelayan toko.
“Ini tidak jadi. Hitung aja yang tadi,” kata Klra pada pelayan toko.
“Baik bu,” pelayan mulai menghitung jas dan kemeja yang dipilih Paris.
Setelah membayar, Klara keluar dari toko. Tidak dilihatnya lagi Paris disekitar toko, “kemana dia? Masa sih dia langsung pulang,” sambil berjalan. Ketika melewatin tempat permainan, Klara melihat Paris sedang di  toy box atau toy story, sebuah kotak besar yang didalam kotak itu terdapat boneka, kaca mata atau benda-benda yang disajikan toko permainan, dan permain akan menekan sebuah tombol untuk mengambil benda di dalam kotak bisa terambil. Dengan satu koin kita bisa mengikutin sekali permainan,  jika berhasil benda jadi milik permain, tapi jika tidak, permain tidak dapat apa-apa. “Kau sedang apa?” tanya Klara pada Paris yang sedang mengincar boneka dalam toy box.
“Ini,” Paris memberikan boneka beruang yang sebelumnya sudah didapatkannya, “aku akan ambil boneka beruang itu lagi,” kata Paris mengicar boneka beruang berwarna coklat didalam toy box.
“Aku tak mau beruang, aku mau kelinci yang dibawah beruang itu,” kata Klara menunjuk boneka kelinci berwarna putih diatas boneka beruang yang diincar Paris..
“Memang kau pikir boneka ini semua untukmu?”.
“Memang kau perempuan!?”.
“Kau pikir cumak perempuan yang suka boneka!”.
“Cowok aneh”.
Paris berhasil mengambil boneka beruang yang diincarnya, lalu memberikan pada Klara lagi. Lalu memasukkan satu koin lagi ke toy box, sekarang Paris mengincar kelinci yang dari awal memang mengincar boneka kelici, namun karna di atas boneka beruang, terpaksa Paris mengambil boneka beruang dahulu baru mengambil boneka kelinci. Baru beberapa menit, Paris langsung berhasil mengambil boneka kelinci, “ini…” memberikan boneka pada Klara.
Klara tersenyum lebar menerima boneka, “kau pintar juga main toy box, jangan-jangan di Amerika kerjaanmu hanya main toy boy saja,” dugaan Klara.
“Permainan ini hanya butuh konsetrasi saja,” kata Paris sambil berjalan menjauhin toy boy.
“Kalau gitu ambil saja semua boneka ya,” usul Klara.
Paris tersenyum, “kau mau jualan boneka?”.
“Memang boleh dijual?”.
“Jual saja kalau kau berani,” Paris menghentikan langkahnya didepan permainan bumper cars. Permainan yang menggunakan mobil-mobilan yang akan di naikin dan dikendarain pemilik  tiket. “Kita main yuk?” ajak Paris.
“Aku tak mau,” jawab Klara.
Paris memengang tangan Klara, “harus!!” menarik Klara.
“Tunggu! Kita harus membeli tiketnya dulu,” alasan Klara.
Paris mengeluarkan 2 tiket dari saku celananya, “maksudmu ini”.
“Kau sudah merencanakannya”.
Paris tersenyum, “ayo!” Paris menarik Klara. Paris naik kesalah satu mobil, “ayo naik!” perintah Paris melihat Klara ragu-ragu naik.
“Kau ingin mati!”.
“Dasar penakut. Ini tidak membuatmu mati!”.
Klara naik ke mobil-mobilan. Baru  mengicak gas sebentar, tiba-tiba dari belakang Paris sudah menumburnya. “Auhh…” Klara menolek kebelakang, melihat Paris tetawa puas melihat dirinya yang kelihatan bodoh. Klara kembali mengijak gas, tapi  Paris sudah menumburnya lagi dari depan. “Ku balas kau,” yang berniat mau menumbur Paris, tapi Paris duluan menumburnya dari belakang, “eeehhh…..” klesal Klara.
“Hahaha….haha…ha….” Paris tertawa, lalu Paris menumbur Klara kembali. Tak lama kemudian permainan selesai. Paris dan Klara keluar dari mobil. Klara berjalan duluan, langsung Paris mengejar Klara, “kau marah?” tanya Paris.
“Badanku sakit semua gara-gara kau!”.
“Hahah….haha…haha…ha…” Paris tetawa lagi.
“Kau senang sekali aku menderita”.
“Haha…ha…” sambil berjalan duluan keluar dari moll.

Hari sudah gelap dan ternyata Diluar moll sedang hujan sangat deras. Paris dan Klara berteduh di teras moll. “nampaknya masih lama berhentihnya,” kata Paris. Baru satu langkah Paris melangkahkan kakinya, Klara langsung memengang lenggan Paris.
“Kau mau kemana?” tanya Klara menahan Paris pergi.
“Dimobil ada paying, akan aku ambilkan”.
“Kau gila! Ini lagi hujan! Kalau kau sakit lagi gimana?!!” kuatir Klara.
Paris menatap Klara yang menguatirkannya.
“Nanti kau bisa sakit lagi. Kita tunggu sampai hujannya redah saja”.
“Iya,” Paris berdiri kembali disebelah Klara. Dilihatnya Klara kedinginan. Dibuka jasnya, lalu menyelimutin tubuh Klara dari belakang.
“Kau tidak dingin?” tanya Klara.
“Tidak,” bohong Paris.
“Kau bohong”.
Paris tersenyum. “pakai jasnya yang benar, biar terasa hangat,” sarat Paris membantu Klara memakai jas, “kalau seperti ini akan terasa hangat”.
“Dasar bodoh,” kata Klara tersenyum melihat peratian Paris padanya.
Erika yang melihat sikap Klara dan Paris dari jauh, lalu mendekatin mereka berdua, “Ibu Klara”.
Paris dan Klara menolek ke belakang, “Ibu Erika,” kanget Klara. Sedangkan Paris hanya tersenyum pada  melihat Erika.
“Kalian sedang apa disini?” tanya Erika.
“Aku sedang membelikan jas untuk Paris,” jawab polos Klara sambil menujukkan bungkusan warna putih pada Erika yang dipengangnya dari toko. “Ibu sedang apa disini?” tanya Klara balik melihat barang-barang belanjaan Erika berupa kebutuhan dapur.
“Bisa kita bicara sebentar?”.
“Iya,” binggung Klara.

Erika mengajak Klara jauh dari Paris, agar Paris tidak mendenggar bicaraan mereka berdua. “Ada apa bu?” tanya Klara yang masih bingung.
“Perasaat Ibu Klara sebenarnya  ke siapa? Ke Rian atau ke Pak Paris?!” tanya Erika.
“Maksud Ibu Erika apa?”.
“Perasaan suka dan menyukain itu sangat berbeda bu. Sangat jauh berbeda, sekarang aku lihat perbedaan itu dimata ibu,” diam sejenak, “ Aku mohon Ibu Klara jangan menyakitin Rian. Jika hanya untuk bermain-main, jauhin Rian dari sekarang. Aku tidak mau melihat Rian sakit hati hanya karna ibu menyukain orang lain. Permisih…” lalu pergi meninggalkan Klara yang diam melihat Erika pergi dari moll.
Paris mendekatin Klara, setelah Erika pergi. “kau tidak apa-apa?” tanya Paris melihat Klara murung.
Klara berusaha tersenyum.

Setelah hujan redah. Paris mengantar Klara pulang. tak lama perjalanan mereka menuju rumah. “kita sudah sampai,” kata Paris menghentikan pagar didepan pagar rumah.
“Besok kau ada kerjaan?” tanya Klara.
“Tidak. Besokkan minggu. Ada apa?”.
“Besok kita ke puncak. Aku rindu ke Kristin”.
“Ok. Jam 11 aku jemput kau”.
“Iya,” Klara keluar dari mobil. setelah Klara masuk rumah, barulah Paris menjalankan mobil kembali menuju ke ampartemennya. Klara keluar kembali, dilihatnya mobil Paris yang semakit jauh semakit tak terlihat lagi, sambil mengingat kata-kata Erika padanya, Perasaan suka dan menyukain itu sangat berbeda bu. Sangat jauh berbeda, sekarang aku lihat perbedaan itu dimata ibu, “apa sih…. Aku ttidak mungkin menyukain Pari,” yang mulai bimbang, lalu masuk kembali kedalam rumah.
***
Sesampai di apartemen Paris menerima telepon dari Ayahnya dari Amerika. "How are you?"tanya Ayah angkatnya.
"I sense here. Dad and Mom do?".
"We are also healthy. Your mama miss you". Paris tersenyum, “maafkan aku Ayah. Aku belum bisa kembali”.
"I knew it, everything works, very important at this time. The plan would Dad and Mom to Indonesia".
"Really. When?" kata Paris yang juga merindukan kedua orang tua angkatnya yang sudah dianggapnya sebagai orang tua kandungnya sendiri.
*** 

 
Bersambung



Tidak ada komentar :

Poskan Komentar