Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyers 6

Ketika mau masuk ke dalam mobil,  hpnya berbunyi. Rian langsung mengangkatnya, “halo…” setelah tahu tujuan si penelpon Rian kembali mematikan hp.
“Siapa?” tanya Erika.
“Ayah Klara. Om ingin ketemu”.
“Pergilah. Aku bisa naik taxi”.
“Baik,” Rian masuk kedalam mobil, lalu pergi.
Erika melihat Rian pergi, “akhirnya datang juga,” air mata jatuh membasahin pipinya.
***
Rian ketempat dimana dirinya sudah janjian dengan Ayah. “malam om, maaf lama,” kata Rian.
“Duduklah,” perintah Ayah yang duluan datang.
Rian duduk, “ada apa om ajak ketemuan?”.
“Aku mau membicarakan pertunanganmu dengan Klara”.
“Apa secepat ini?”.
“Lebih cepat lebih bagus”.
***
Paris terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Klara, “kau sedang apa malam-malam kesini?” tanya Paris sambil bangkit dari sofa langsung ke dapur mengambil segelas air langsung diminumnya.
“Aku dari tadi soreh. Kau aja yang tidur, tidak tahu aku sudah datang dari tadi,” diam sejenak, “kenapa kau bohong, kalau kau tidak ke kampus?”.
Paris terkenjut dengan pertanyaan Klara, “kau bukan siapa-siapa yang melarang aku untuk berbohomg!”.
“Dari jawabanmu, sepertinya kau sering sekali berbohong!”.
“Iya”.
Klara menatap Paris.
“Besok kita ke jogja,” kata Paris.
“Gapai?”.
“Bukannya kau ingin mengembalikan Kristin ke orang tuanya”.
“Orang tuanya tinggal di jogja?”.
Ada yang menelpon kantor, dia mengaku orang tua Kristin”.
“Kau percaya? Bagaimana kalau dia jiga penipu”.
“Setidaknya kita temukan dulu mereka. Aku rasa Kristin masih ingat wajah orang tuanya”.
“Benar juga”.
“Atau kau mau sendiri yang mengantarnya!” lalu Paris masuk ke kamar untuk ganti pakaian..
“Dia kenapa sih…” heran Klara melihat sikaf Paris yang kasar padanya.
Tak lama kemudian Paris keluar, langsung ke blangkon.
Klara mendekatin Paris, “kau marah ke aku?!”.
“Aku tidak ada hak marah ke kau!” lalu menatap langit yang sudah berubah warna menjadi gelap.
“Kau kelihatan marah padaku. Jika aku ada salah, bilang aja”.
Paris diam, digenggamnya besi yang membatasin blangkon. “Aku sudah katakan, aku tidak ada hak marah padamu”.
***
Erika menanggis dikamarnya sambil menatap foto Rian yang sudah lama disimpannya dari dulu. “apa untuk kedua kali aku harus mengalah hemmm…” yang terus menanggis.
***
Paris kekamar. Dilihatnya Klara dan Kristin sudah tertidur lelap di atas kasur.  Paris mebenarin selimut hingga menutupin tubuh Klara dan Kristin. Ditatapnya wajah Klara sambil membelai pipi Klara.
“Kak pangeran kenapa menanggis?” tanya Kristin yang tiba-tiba bangun melihat Mata Paris berkaca-kaca.
“Usss…. Tidurlah,” dengan nada suara rendah, “sudah malam”. Kristin menutup mata kembali. Setelah melihat Kristin tertidur kembali, Paris keluar dari kamar, langsung di tidurinnya tubuhnya di atas sofa sambil menatap lampu yang dibiarkan menyala.
***

“Kalian sudah bangun?” tanya Paris melihat Klara dan Kristin keluar dari kamar.
“Kau sedang apa?” tanya Klara mendekatin Paris sedang menyiapkan sarapan.
“Kau tidak suka makanan berminyak khan?” sambil meletakkan salat dan 2 piring nasi goring diatas meja.
“Kau pintar masak, kenapa tidak jadi koki saja?”.
“Jika hidup sendiri harus bisa segala hal, yang seharusnya tidak bisa terpaksa harus bisa”.
“Kau tidak cocok jadi pengacara, kenapa tidak jadi koki saja”.
“Kau pikir kau cocok jadi dosen, kau itu cocok ya jadi model”.
“Kapan kita makan yach…” kata Kristin yang dari tadi melihat Paris dan Klara berdebat.
“Ayo makan,” Paris duduk, lalu menyatap nasi goring yang dibuatnya untuk dirinya dan Kristin sedangkan Klara Paris menyediakan salat, makanan bereserat tinggi namun berkoresterol rendah.
“Kau masih mengharapkan Rian?” tanya Paris sambil makan.
“Ya. Bukannya kau pernah bilang cinta tidak melihat apapun”.
“Benarkah aku yang mengatakannya”.
“Ternyata pengingatanmu kurang baik!”.
Hp Paris berbunyi, “Halo…” Paris langsung mengangkat hp. Setelah mendenggar apa yang dikatakan si penelpon, “kau cari lagi,” lalu mematikan hp.
Ada masalah?” tanya Klara.
“Mereka bukan orang tua Kristin”.
Klara menatap Kristin, “seingat Kristin, disekitar rumah ada pohon, perkebunan atau sawah atau… gedung-gedung?” tanya Klara.
“Kebun teh,” jawab Kristin.
“Kebun teh,” Klara menatap Paris, “puncak!”.
Paris langsung menelpon yang menelponnya tadi, “coba kau cari tahu di daerah puncak,” setelah mendenggar jawaban, “aku tunggu secepatnya!” lalu mematikan hp.
“Coba dari kemarin tanya,” menyesal Klara, “dasar bodoh”.
Paris tersenyum,” ayo kita makan,” Paris melajutin makan yang tertunda.
“Apa bisa ketemu?” tanya Klara.
“Kita tunggu saja”.
Klara menatap Kristin, “Kristin sudah rindukan sama mama?”.
“Kristin menganggu.
“Sebentar lagi kita akan bertemu dengan mama”.
Kristin memeluk Klara, “trimah kasih Cinderela,” lalu menatap Paris, “trimah kasih juga untuk pangeran”.
Paris tersenyum.
***
“Belum ketemu juga bu Klara?” tanya Benny pada Klara melihat Kristin bersama Klara masuk keruangan.
“Iya,” jawab Klara, “kau tunggu disini sebentar, kakak mau ke kamar kecil dulu”.
“Iya kak,” jawab Kristin.
Klara ke kamar kecil,  tak lama kemudian Klara keluar melihat Erika sedang merapikan rambut di depan kaca, “Ibu Erika”.
Erika hanya tersenyum.
Baru beberapa langkah Klara kembali mendekatin Erika, “eee… aku mau nanya?”.
“Bertanya apa?”.
“Ibu Erika ada hubungan apa dengan kak Rian?”.
Erika menatap Klara, “maksud pertanyaan Ibu?”.
“Apa kalian pacaran?”.
Erika diam.
“Jika kalian pacaran, aku akan mudur”.
“Maksud Ibu Klara apa?”.
“A…ku suka pada kak Rian,” lalu menatap Erika, “Ibu Erika tidak ada hubungan apa-apa kan dengan kak Rian?”.
***
Paris menjelaskan di depan kelas tanpa memengang sebuah buku, “kita lanjutkan ke pasal 35 tentang kompensasi, resititusi dan rehabilitasi, ayat 1 berisi setiap korban pelanggaran hak asasi manusia yang berat dan atau ahli warisnya dapat memperoleh kompensasi, restitusi dan rehabilitasi, ayat 2…” Paris heran melihat mahasiswa melihat kearah pintu, lalu Paris menolek, “Kristin,” kanget melihat Kristin berdiri di depan pintu, “mana Kak cinderela?”.
“Lagi mengajar,” jawab Kristin.
“Ayo,” Paris mengajak Kristin duduk di kursi dosen, “tunggu di sini ya”.
Kristin mengangguk. Paris kembali kedepan kelas. Sedangkan Kristin melihat hp Paris dii meja, lalu dibukanya galeri hp.
“Ok kita lanjutkan ayat 2 berisi kompensasi, restitusi dan rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dicantumkan dalam amar putusan pengadilan HAM, dan ayat 3 berisi ketentuan mengenai kompensasi, restitusi dan rehabilitasi diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah”. Sudah cukup lama Paris menjelaskan materi pelajaran hari ini pada mahasiswa, tak terasa sudah 2 jam lebih. Pelajaranpun berakhir, “minggu depan kita lanjutkan lagi”.
“Baik Pak,” serentak menjawab.
Paris mendekatin Kristin yang sedang asik melihat galeri foto di hp Paris, “jangan suka memuka barang orang lain?” sarat Paris pada Kristin sambil mengambil hp dari tangan Kristin.
“Maaf pangeran,” kata Kristin.
“lain kali jangan di ulangin lagi”.
Kristin mengangguk, “foto kak Cinderela kok banyak sekali di hp pangeran?”.
Paris tersenyum, “ini rahasia kita berdua, jangan beritahu siapa-siapa?”.
“Kak Cinderela?”.
“Termasuk Cinderela juga”.
Kristin engangguk.
“Janji?”.
“Janji,” jawab Kristin.
“Kalian janji apa?” tanya Klara muncul dari balik pintu.
“Kau langsung pulang khan?” tanya Paris membuka perkataan baru.
“Kau mau kemana?” tanya balik Klara.
“Aku mau ke pengadilan dulu”.
“kalau gitu, aku ajak Kristin ke butik Eka aja. Aku gak mungkin ajak Kristin ke rumah”.
“Ya sudah. Nanti aku jemput di butik Eka saja”.
“Memang kau tahu butik Eka??” tanya Klara yang perasaannya belum pernah dirinya mengajak Paris ke butik Eka.
“Apa sih yang tidak aku tahu,” kata Paris lalu melangkah keluar kelas.
“Sombong banget”.
***
“Kau mengajak Kristin seperti anak kalian berdua saja,” goda Eka.
“Anak kalian? Maksud kau anakku dan Paris?!” kata Klara.
“Ya  iyalah. Kalian tuh seperti suami istri”.
“Enak saja”.
“Masak sih, kau tak ada sedikit pun perasaat dengan pengacara?”.
“Tak ada”.
“Kau belum sadar saja”.
“Gak mungkin dan tak akan mungkin”.
“Kenapa kau tak ajak aja Kristin ke rumahmu?”.
“Kau seperti gak tahu Ayah aja. Mana mungkin Ayah bolehkan. Kau aja yang mau menginap di rumah aja gak dibolehkan”.
“Ayahmu memang aneh”.
“Tapi bagaimanapun juga dia tetap Ayahku”.
Eka melihat Kristin yang menatap Klara dari tadi, “kau kenapa melihat Klara seperti itu?” tanya Eka.
“Kak Cinderela lebih cantik dari pada yang di foto,” ucap Kristin.
“Foto?” kanget Klara dan Eka. “Foto apa?” tanya Klara.
Kristin menutup mulutnya dengan kedua tangganya, “aku sudah janji tidak mengatakannya”.
Eka dan Klara saling menatap, “anak aneh,” kata Eka.
***
Pukul 7 malam Paris menjemput Klara dan Kristin di butik Eka. “aku pulang dulu?” kata Klara pada Eka sambil masuk ke dalam mobil.
“Iya, hati-hati,” kata Eka.
Paris tersenyum pada Eka, lalu menjalankan mobil kearah rumah Klara. Klara melihat Kristin yang tertidur lelap di kursi belakang, “enak sekali tidurnya”.
“Seperti itulah anak kecil,” kata Paris sambil menyetir.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Klara, “besok kita ketemu di kampus saja,” kata Klara lalu keluar dari mobil.
“Ya”.
“Dahhh….” Klara masuk kerumah. Setelah Klara masuk kerumah barulah Paris menjalankan kembali mobil ke ampartemennya. Hanya beberapa menit Paris sudah sampai di ampartemennya, langsung diangkatnya Kristin kekamar dan menyelimutin tubuh Kristin dengan selimut. Paris mengambil hp dari saku jasnya, lalu melihat galeri foto. Satu persatu Paris melihat foto Klara yang diam-diam dirinya foto selama ini.
***
Bunda dan Ayah masuk ke kamar Klara. “berani  juga kau pulang!!” marah Ayah, “semalam kau menginap dimana?!!”.
“Sayang…” bujuk Bunda.
“A…aku,” lama Klara mencari alasan.
“Diaman?!!”.
“Aku tidur dirumah Eka. Ayahkan tahu rumah Eka lebih dekat dari pada rumah kita dari kampus. Sedangkan aku harus pagi-pagi ke kampus dan harus bawak tugas mahasiswa yang banyak, jadi aku putuskan menginap di rumah Eka” alasan Klara.
“Kenapa kau tidak bilang sama Bunda!!!?”.
“Aku lupa”.
“Cepat tidur!!” lalu Ayah dan Bunda keluar dari kamar.
Klara langsung melepaskan nafas dari mulutnya, “syukur deh Ayah percaya,” lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, dipejamkannya matanya perlahan demi perlahan. Tak lama Klara pun tertidur nyenyak.
***

“Kau terlalu sibuk mengurusin anak itu,” kata Jenni pada Paris yang sedang membaca berkas di meja kerjanya, dan Kristin dibiarkan bermain di sofa.
“Apa ada kabar terbaru tentang kasus Oki?” tanya Paris membuka perkataan baru.
“Kau selalu begitu. Sampai kapan kau memanfaatin Kristin?”.
“Dia akan segera bertemu dengan orang tuanya”.
“Kapan?”.
“Besok”.
“Sudah dapat alamatnya?”.
“Sudah. Tinggal memastikannya saja itu orang tuanya atau bukan”.
“Perluh aku temanin?” tanya Jenni, “aku rasa tidak,” yang tahu jawaban Paris.
Paris hanya tersenyum.
***
“Ayah sudah memutuskan bulan depan Klara akan bertunangan dengan Rian,” ucap Ayah.
“Apa harus secepat itu?” tanya Bunda.
“Lebih cepat lebih baik! Segeralah bicara pada Klara”.
“Baiklah sayang”.
***
“Ibu Klara kok kelihatan gelisah? Ibu sakit?” tanya Benni.
“Iya nih, seperti induk kehilangan anaknya,” sambung Joni.
Klara hanya tersenyum dengan perkataan Benni dan Joni. Hp bergetar, Klara menerima sms, langsung dibukaknya sms yang ternyata sms dari Paris, aku tidak bisa ke kampus, kau jemput Kristin ke kantorku saja,  setelah membaca is isms, Klara langsung membalas sms , Ok. Setelah mengirim sms, Klara melihat Benni dan Joni menatapnya, “ada apa?”.
“Benar anak itu bukan anak kalian berdua?” tanya Benni.
“A…pa… maksud Pak Benni?” gugup Klara.
“Jika kalian tidak ada kerjaan lebih baik kalian pulang!” kata Rian menatap Benni dan Joni yang dari tadi mengganggu Klara. Joni dan Benni melajutin pekerjaan mereka. Klara tersenyum melihat Rian yang membelahnya. Sedangkan Erika yang tak tahan melihat Rian dan Klara saling tersenyum langsung keluar dari ruangan.
***
“Kalau dilihat, Oki hanya dijebak oleh Dewi, karna dari bulan mei sampai bulan agustus Oki di Riau, sedangkan dari pernyataan Dewi mereka melakukan hubungan pada bulan juni”.
“Jika tes DNA, umur kandungan belum mencukupin,” Paris berpikir.
“Bagaimana kalau kita jadikan bos tempat Oki bekerja sebagai saksi?”.
“Bisa juga. Aku hanya ingin tahu apa tujuan Dewi”.
“Mungkin karna sudah hamil, lalu bertemu Oki, langsung aja dia mintak Oki menikahinnya karna ayah anak di kandungannya tidak mau bertanggung jawab,” dugaan Jenni.
“Selain itu pastih ada tujuan lain!” perkiraan Paris.
“Contohnya?”.
“Tok…tok…tok…!” pintu ruangan kerja Paris di ketuk dari luar, kemudian pintu terbuka. “Maaf… sepertinya aku menganggu,” kata Klara yang melihat Paris dan Jenni sedang mengobrol.
Jenni berdiri, “kami sudah selesai”.
“Coba kau selidikit masa lalu korban,” perintah Paris.
“Ok,” lalu Jenni keluar dari ruangan.
Klara masuk, dilihatnya Kristin tertidur lelap di sofa, “dia tidur,” sambil duduk dekat Kristin.
Paris duduk di sofa, “alamat Kristin di puncak sudah ditemukan. Rencananya besok aku ke puncak”.
“Kau sendiri yang mengatar?” tanya Klara.
“Kau mau ikut?”.
Klara mengangguk, “ya, kebetulan besok aku tidak ada kelas”.
“Baguslah. Kau tahu jalan ke puncak khan?”.
“Ya”.
“Ok. Jam 9 kita berangka. Mau aku jemput besok?”.
“Tidak usah, besok aku ke ampartemenmu saja”.
“Ok”.
Klara menatap Kristin, “jadi… ini hari terakhir”.
Paris menatap Klara, “bagaimana kalau kita ajak Kristin  sopping,” usul Paris.
“Kartu kredit dan ATMku belum di kembalikan oleh Ayah,” malu Klara.
“Aku yang bayar”.
Klara tersenyum.
“Apa yang lucu?”.
“Tumben kau tidak peritungan?”.
“Maksudmu?”.
“Pertama kali kita bertemu, kau peritungan sekali denganku”.
“Bukannya kau sendiri yang menyuruh aku  menghitung. Begini katamu, bukannya kau selalu menolong aku biar dapat imbalan. Aku akan bayar, tapi tidak membayar secara lain. Aku mau bayar pakai uang,” kata Paris meniru kata-kata Klara sewaktu di hotel.
“Benarkah aku mengatakan seperti itu?”.
“Ternyata pengingatanmu kurang baik”.
Klara teringat kata-kata itu pernah dikatakannya pada Paris.
Kristin terbangun dari tidurnya, dilihatnya Klara sudah duduk disampingnya, “kak Cinderela sudah datang”.
Klara tersenyum, “gimana tidurnya? Enak?”.
“Iya, “ sambil duduk, “kata pangeran besok Kristin ketemu mama”.
“Iya”.
“Ayo kita pergi,” ajak Paris sambil berdiri, “mau pangeran gedong?”. Kristin menjulurkan kedua tangannya, langsung Paris mengedong Kristin.
“Kau sudah cocok jadi Ayah,” ejek Klara.
“Kau juga sudah cocok jadi Ibu,” balas Paris.
“Yang pastih aku gak sudih punya suami sepertimu!”.
“Nanti nyesel,” kata Paris sambil melangkahkan kakinya keluar dari ampartemennya menuju mobil yang di pakir tempat pakiran, sedangkan Klara mengikutin Paris dari belakang.

Tak lama perjalanan mereka menuju moll yang berada tak jauh dari ampartemen Paris. Mereka langsung ke toko pakaian khusus untuk anak-anak umur 7 tahun ke bawah. Klara memilih satu persatu pakaian di toko yang cocok untuk Kristin, sedangkan Paris mengikutin Klara sambil mengedong Kristin. Paris mengambil satu pakaian yang tergantung tak jauh darinya, “yang ini bagaimana?” menujukkan baju warna merah dan bawahan putih dengan lenggan pendek.
“Kau pintar juga memilih pakaian,” puji Klara.
“iiihhh…. Romatisnya,” kata salah satu ibu-ibu yang mengira Klara dan Paris suami istri dan Kristin anak mereka.
“Coba suamiku sepertinya,” kata salah satunya.
“Istri yang cantik, suami yang tampan dan anak yang cantik,” puji yang lainnya.
Paris hanya tersenyum mendenggar semua perkataan ibu-ibu itu mengosifkan mereka berdua.
Klara menarik Paris, “mereka apaan sih…” kesal Klara.
“Jangan begitu. Wajar mereka mengira kita suami istri”.
“Iya sih… kau tunggu disini saja,” lalu mengambil Kristin di gedongan Paris, “biar aku Kristin yang memilih didalam”.
Paris mengambil dompet dari saku jasnya, lalu mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya, dan memberikannya pada Klara, “nih…”.
Klara mengambil kartu kredit, “kau tunggu disini”.
“Ya.”
Klara dan Kristin masuk kembali ke toko, dan melajutin memilih pakaian yang cocok untuk Kristin. Paris melihat Klara sedang asik memilih, lalu dia pun meninggalkan toko pakaian anak-anak melangkah ke toko periasan yang tak jauh dari toko pakaian anak-anak. Tak lama Paris didalam toko periasan, lalu melangkah kembali ke toko baju dewasa sambil membawa bungkusan kecil warna coklat.

Klara dan Kristin keluardari toko, dilihatnya Paris tidak ada lagi di depan toko, “mana pangeran jelekmu itu?” tanya Klara pada Kristin
“Gak tahu kak”.
“Kita ke toko sepatu yukk..” ajak Klara ke toko sepatu yang berada di sebelah toko pakaian. Lalu mereka ke toko sepatu. Klara memilih beberapa sepatu untuk Kristin. Setelah memilih 4 sampai 5 sepatu, mata Klara tertuju pada sepatu pria yang berwarna coklat yang diletakkan paling pojok, “sepatu yang bagus,” puji Klara.
“Lihat apa?” tanya Paris tiba-tiba muncul dari belakang Klara.
“Kau dari mana?” tanya balik Klara.
“Ini…” sambil memberika beberapa bungkusan pada Klara.
“Apa ini?” Klara melihat isi bungkusan, “pakaian wanita?” heran Klara.
“Itu semua untukmu”.
“Kau belikan semua untukku. Kau tahu dari mana aku suka atau tidak modelnya?”.
“Pakainmu itu mudah di tebak. Bukannya kau tidak suka pakaian yang terlalu tertutup”.
“Sok tahu”.
“Kau lihat apa?” tanya lagi Paris.
Klara mengambil sepatu yang dilihatnya tadi, “baguskan?” tanya Paris.
“Untuk Rian?”.
“Tidaklah. Nanti kalau aku sudah dapat gaji, aku belikan sepatu ini untukmu. Kalau mengharapkan ATM kembali, tidak mungkin kembali, karna aku tahu sifat Ayah. Jadi tunggu gajian saja aku belikan”.
“Aku yang saja yang bayar,” lalu mengambil sepatu dari tangan Klara.
“Kalau kau yang bayar sama aja kau yang beli sendiri”.
“Kalau tunggu gajian, sepatunya keburu di ambil orang”.
“Iya juga sih…”.
“Kau belikan aja nanti jas untukku”.
“Benar juga. Kau kan suka pakai jas”.
Paris tersenyum sambil membayar sepatu yang dipilih Klara untuk dirinya dan Kristin. Setelah membayar, mereka bertiga ke salah satu lestoran yang ada di moll. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka langsung menyatap makanan yang di pesan mereka.
“Gimana? Enak?” tanya Paris pada Kristin.
Kristin mengangguk sambil makan.
Paris mengeluarkan 2 kotak dari sakunya, diletakkannya di atas meja, satu kotak dibukak Paris, “ini untuk Kristin,” sebuah kalung berliontin bintang.
“Cantiknya…” senang Kristin melihat kalung pemberian Paris.
“Pangeran pakaikan?’ lalu memasangkan kalung dileher Kristin. “Dan ini untukmu,” sambil meletakkan kotak di depan Klara.
Klara membuka kotak, kalung berliotin bulan sabit, “kau banyak sekali belikan untukku,” yang mulai tidak enak pada Paris.
“Anggap saja ini jiman pelidungmu,” kata Paris.
Klara tersenyum, “trimah kasih”.
Paris membalas tersenyum.
***
“Mana Klara?” tanya Ayah.
“Belum pulang sayang. Mungkin Klara akan menginap lagi di rumah Eka,” kata Bunda.
“Jangan biasakan Klara menginap di rumah Eka”.
“Eka kan satu-satunya teman baiknya, wajar saja Klara sering menginap di rumahnya”.
“Itulah aku bilang jangan dibiasakan!!!” marah Ayah.
“Iya sayang”.
***
Paris meletakkan Kristin di tempat tidur, lalu menyelimutin tubuh Kristi dengan selimut. Dilihatnya Klara yang berkali-kali menguap, “kau menginap saja disini. Anggap saja ini terakhir kau menginap disini,” sarat Paris.
Klara melihat jam didinding kamar sudah menuju pukul 11 malam, “jika kau mengantar aku, kasihan ke Kristin,” lalu berpikir sejenak, “ Iya deh…”.
Paris keluar dari kamar sambil membawa selimut dan bantal, ditidurin tubuhnya di atas sofa, lalu menutup matanya, hanya teritung beberapa menit, Paris sudah tertidur lelap.
***

Rian melihat jam di dinding ruangan, hari sudah pukul 9.30 WIB, namuan Klara belum dataang juga ke kampus. “Apa Ibu Klara langsung ke kelas?” tanya Rian.
“Setahu saya hari ini Ibu Klara tidak ada kelas,” jawab Benni, “mungkin tidak masuk Pak Rian”.
“Tadi juga anak-anak bilang Pak Paris mintak ganti hari,” sambung Joni, “katanya sih ada urusan”.
“Kok kebetulan sekali, Ibu Klara tidak masuk, Pak Paris tidak masuk juga?” kata Benni lagi.
Rian hanya diam mendenggar perkataan antara Benni dan Joni.
***
“Kita kearah mana lagi?” tanya Paris pada Klara yang duduk di depan mobil bersamanya.
“Kau benar gak tahu jalan ke puncak?” tanya Klara yang sudah bosan menjawab pertanyaan Paris yang dari tadi menanyakan lewat jalan mana menuju puncak.
“Aku tidak pernah ke puncak?” jawab Paris yang menyetir.
Klara menatap Paris dengan heran.
“Jangan menatapku seperti itu?! Kita lewat mana lagi?!” yang berada di pesimpangan.
“Lurus saja!” jawab Klara.
Paris mengikutin arahan yang diberikan Klara padanya.
***
Seperti biasa Bunda tiap bulannya belanja bulanan di supermarket yang berada di moll yang lumayan jauh dari jarak rumah. Setiap kebutuhan dapur dengan telitih Bunda melihat apakah tidak kadarluasa atau tidak. “Reni…” seseorang memanggil Bunda yang sedang memilih buah-buahan.
Bunda melnolek kearah suara, “Rudi….” Kanget melihat teman lama. Bunda mendekatin Rudi, “bukannya kau di amerika?” tanya Bunda.
“Dua tahu yang lalu aku pulang ke Indonesia. Bagaimana keadaan Surya?” tanya Pak Rudi balik.
“sehat”.
“Apa masih suka marah-marah?”.
“Kalau sifat marahnya itu tidak bisa dihilangka!”.
“Ha…ha…ha…ha…” mereka tertawa.
***
Tak terasa sudah 6 jam menempuh perjalanan menuju puncak. Klara terbangun dari tidur lelapnya yang tertidur di mobil. Dilihatnya Mobil berhenti dan Paris tidak ada di mobil hanya dirinya dan Kristin yang tetidur juga di  bangku belakang. “Mana dia?” binggung Klara. Baru membuka pintu mobil, tiba-tiba Paris muncul langsung masuk ke mobil. “kau dari mana?” tanya Klara.
“Nanya jalan,” jawab Paris melajutin menyetir.
“Sudah berapa orang kau tanya sejak aku tertidur?”.
“Kurang lebih 10 orang”.
Klara kanget, “kau serius gak pernah ke puncak??” yang masih tak percaya.
“aku kan tadi sudah katakan. Aku tidak pernah ke puncak”.
“Aku pikir kau bohong, kau kan sering berbohong”.
Paris menolek ke Klara, “hanya masalah tertentu aku berbohong”.

Kebun teh sudah terlihat sangat jelas, tidak satu ataupun dua kebun, namun setiap jalan Paris dan Klara melewati tiap kebun teh. Udara gunung yang segar enak dihirup. “Disini pemadangannya bagus,” puji Paris yang pertama kali ke puncak.
“Kau harus sering kesini,” kata Klara memadang Paris.
“Kau benar”. Paris menhentikan mobil di pinggir jalan.
Ada apa?” tanya Klara.
Paris keluar dari mobil, lalu menelpon seseorang, ketika tersambung, “kau dimana? Aku sudah sampai di puncak,”setelah mendenggar jawaban, “baiklah aku tunggu,” lalu mematikan hp.
Klara ikut keluardari mobil, “kenapa berentih?”.
“Tunggu sebentar,” kata Paris menyadarkan tubuhnya di mobil. Klara ikut menyadar di pintu mobil dekat Paris. “Aku rasa aku pernah kesini,” lalu memadang Klara, “mungkin aku lupa saja. karna itu sudah lama sekali”.
Klara hanya tersenyum, “kau memang cowok aneh”.
Paris tersenyum.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka, Klara langsung terdorong kedepan mengenai tubuh Paris yang berdiri disebelahnya. Klara dan Paris saling menatap. Jantung Klara sangat mendetak sangat kencang saat mata Paris yang menatapnya sangat tajam padanya..
“Kita sudah sampai?” tanya Kristin yang keluar dari mobil.
Klara mundur 2 langkah. “belum,” jawab Klara dengan wajah memerah.
“Wajah kak cInderela kenapa merah?” tanya Kristin yang melihat pipi Klara memerah.
Klara mengipas kedua pipinya, “disini panas seklai,” kata Klara lalu masuk ke mobil.
“Dingin begini kok dibilang panas,” heran Kristin.
Paris hanya tersenyum mendenggar perkataan Klara.
Tak lama kemudian seseorang datang menghapirin mereka memakai motor, “Bos…”sapa orang itu pada Paris yang menyambut kedatangan orang tersebut.
“Dimana?” tanya Paris.
“Ikut aku saja bos,” kata orang tersebut.
“Ok,” Paris dan Kristin masuk kedalam mobil. Paris mengikutin orang itu dari belakang.
“Katanya kau belum pernah kesini? Tapi sudah ada orang sekitar sini kau kenal,” Klara semakit binggung.
“Dia orang suruhanku untuk cari alamat Kristin,” jawab Paris tetap menyetir.
“Oh gitu”.
Tak lama kemudian mereka sampai ke sebuah rumah yang  besarnya lebih besar kamar Klara di banding rumah itu. “Ayo turun,” ajak Paris sambil turun dari mobil.
Kristin langsung turun karna sangat mengenal rumah tersebut, “mama….!!” Panggil Kristin sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Klara keluardari mobil. melihat keadaan rumah Klara sangat prihatin dengan keadaan keluarga Kristin. Tak satu katapun yang keluardari mulut Klara yang melihat keadaan rumah.
Tak lama kemudian Kristin keluarsambil menanggissambil di gendongseorang kakek yang umurnya sekitar 75 tahun. Kakek mendekatin Klara dan Paris.
“Ini kakek anak itu,” kata orang yang mengantar mereka.
“Saya ucapkan terimah kasih pada bapak dan ibu yang sudah mengembalikan cucusaya,” kata kakek.
“Mana orang tua Kristin?” tanya Klara ragu-ragu.
“Kristin memang sudah tidak ada lagi bapak dan ibunya hu…hu…” kakek menanggis, “ibunya meninggal sebulan yang lalu karna memikirkan Kristin hu…” kakek menanggis sambil memeluk Kristin.

Paris dan Klara langsung pulang ke Jakarta. Dilihatnya Klara yang dari tadi hanya diam sambil menatap luar jendela mobil. di benak Klara masih sangat jelas kata-kata Kakek pada dirinya dan Paris. “kau tidak apa-apa?” tanya Paris yang mulai kuatir, namun Klara tidak menjawab.
Setiba dirumah. Klara langsung turun tanpa menolek lagi pada Paris. Paris melihat Klara sampai benar-benar  masuk ke dalam rumah. Setelah nyakit Klara sudah masuk, barulah Paris kembali menjalankan mobil menuju ampartemennya.
***

Setelah selesai sidang. Paris dan Jenni keluar dari pengadilan setelah Oki di bawak ke kantor polisi kembali, “menurutmu kita akan menang?” tanya Janni.
“iya,” jawab nyakit Paris. “Dari pernyataan Dewi, terlihat dirinya berbohong,” sambil melangkah menuju mobil di pakiran.
“IAku juga mengira seperti itu. Dia selalu memutar-mutar perkataannya,” kata Jenni, “sekarang kau kemana? Kantor atau kampus?”.
“Aku ke kampus. Ada kelas hari ini,” lalu membuka mobil, “besok kita bertemu di kantor,” kata Paris.
“Ok,” Jenni ke tempat mobilnya terpakir.
***
Setelah memakirkan mobil, Paris langsung keluar dari mobil. matanya langsung tertujuh pada Klara yang duduk termenung di taman. Paris mendekatin Klara, “sendiri saja,” sambil duduk.
Klara menolek pada Paris yang duduk disebelahnya.
“Kau masih memikirkan keadaan Kristin?” tebak Paris.
“Iya,” diam sejenak, “aku kasihan anak umur 6 tahun sudah ditinggal kedua orang tuanya dan sekarang dia harus tinggal bersama kakek yang belum tentu akan selalu sehat. Jika kakeknya meninggal, nanti dia tinggal dengan siapa?” air mata jatuh membasahin pipi Klara.
Paris mengapus air mata di pipi Klara, “kau jangan menanggis, “diam sejenak, “bagaimana jika kau adopsi Kristin?”..
Klara tersenyum, “aku harus bilang apa ke Ayah”.
“JIka aku bagaimana?”.
“Maksudmu?”.
“Ya… aku yang adopsi Kristin”.
“Kau serius??”.
“Ya bagaimana lagi, anak itu terlalu banyak menyimpan rahasiaku”.
“Rahasia, rahasia apa?”.
Paris tersenyum.
Tak jauh dari mereka, Rian melihat Klara dan Paris duduk di taman sedang mengobrol. Senyuman di wajah Klara sangat terlihat jelas di mata Rian.
***
Bunda langsung datang ketika di telepon Pak Rudi untuk ketemuan di cave yang biasa mereka datangin waktu muda dulu. Bunda melihat Pak rudi duduk d imana mereka pernah duduk di meja yang sama waktu itu. “maaf lama,” kata Bunda sambil duduk.
“Tidak apa,” jawab Pak Rudi, “kau ingat meja ini?”.
“Iya,” jawab Bunda, “dulu kita sering duduk disini”.
“Aku senang kau masih mengingatnya”.
Bunda tersenyum, “tapi Rudi. Aku tidak mau mengingat masa lalu. Aku sekarang sudah punya suami dan anak. Aku sangat menyanyangin mereka”.
“Aku tahu itu. Tapi kita bisa berteman khan”.
“Iya”.
***
“Lihat apa?” tanya Paris pada Klara, lalu melihat apa yang dilihat Klara. Rian pergi bersama Erika. “mereka pacaran?”.
“Kata kak Rian mereka tidak ada hubungan apa-apa,” jawab Klara ya matanya tertuju pada mobil yang lewat di depan mereka.
“Kau sudah nyakit dengan perasaanmu?”.
“Maksudmu?”.
“Jika kau sudah nyakit dengan perasaanmu dengan Rian. Aku akan menyatuhkan kau dan Rian”.
“Tapi…”.
“Kau ttidak usah memikirkan persaanku padamu. Aku sudah melupakannya,” berusaha tersenyum, “bukannya kau sendiri yang katakan, kau jangan menyukain aku lagi ya… aku sudah menyukain seorang pria,” kata Paris mengatakan kata-kata yang diucapkan Klara padanya, itu yang kau ucapkan padaku. Dan saat itu aku sudah melupakan perasaanku padamu”.
Klara tersenyum.
“Jadi rencanamu apa?”.
“Gak tahu”.
“Bagaimana, jika makan malam,” usul Paris, “bukannya lusa kau ulang tahun”.
Klara menatap Paris, “kau tahu darimana lusa aku ulang tahun?”.
“Benar ya…” yang pura-pura menebak, “padahal aku hanya menebak ha…ha…”.
“Cowok aneh”.
Suasana terhening sejenak. “Aku akan siapkan lestoran yang romatis untuk kalian”.
“Gak segitunya kali”.
“Akukan sudah janji, jadi harus aku tepatin,” tersenyum, “semangat”.
Klara tersenyum, kok aku merasa tidak enak dengannya, kata Klara berkata dalam hatinya sambil menatap Paris yang tersenyum padanya.
***

Jenni menatap Paris di meja kerjanya, “kau tidak bercanda khan?” tanyanya yang sebelumnya sudah mendenggar cerita Paris tentang dirinya akan menyatuhkan Klara dengan Rian.
“Aku hanya ingin kau mendenggarkan tanpa memberi komentar,” jawab Paris tanpa menatap Jenni.
“Jadi kau pikir aku hanya tempat untuk kau cerita!?”.
“Diamlah. Aku tidak mau kita bertengkar!”.
“Aku akan diam jika kau tidak mempermaikan hatimu lagi!!” marah Jenni. “aku nyakit kau tak akan sanggup melihat mereka,” lalu keluar dari ruangan Paris. Depan pintu Jenni berpapasan dengan Klara yang akan masuk keruangan Paris.
“Dia kenapa?” tanya Klara  pada Paris.
Paris menolek ke pintu, “kau datang. Masuklah”.
Klara masuk, “kalian betengkar?”.
“Tidak,” sambil berdiri dari kursi kerjanya lalu duduk di sofa, “duduklah,” sambil duduk, “ada apa kau kesini?”.
Klara duduk, “aku mau bahas soal kemarin”.
“Soal makan malam? Kau tidak usah kuatir, sudah aku siapkan”.
“Bukan itu”.
“Lalu?”.
“Soal adopsi?”.
Oh… beberapa hari ini akan beres. Aku sudah menyuruh orang untuk mengurusnya”.
“Sukur deh kalau gitu. Aku takut kau lupa”.
“Aku tidak pernah lupa dengan janjiku,” kata Paris sambil menatap Klara. Klara hanya menanggapin perkataan Paris  dengan senyuman hangat.
***
“Aku bukan hari ini saja yang melarang kau mendekatin putriku tapi sudah berulang kali!!!” marah Pak Rudi pada Roni salah satu mahasiswa di kampus.
“Maafkan saya Pak, tapi kemarin itu kami tidak segaja bertemu di moll. Kami tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya berteman,” penjelasan Roni.
“Diam!!! Kau pikir aku percaya padamu!! Laki-laki sepertimu sudah sering aku lihat!! Aku peringatkan sekali lagi, jika kau berani dekatin putriku lagi, kau akan keluar dari kampus ini!!” acam Pak Rudi.
“Baik Pak”.
“Keluar!!”.
Roni keluar dari ruangan Pak Rudi. Diluar Roni berpapasan dengan Erika dan Klara yang akan keruangan Pak Rudi. “Tok…tok…tok…!!” Erika mengetuk pintu. “Masuk,” terdenggar suara Pak Rudi dari dalam ruangan. Erika dan Klara masuk keruangan. “kalian. Silakan duduk,” kata Pak Rudi.
Erika dan Klara duduk di meja kerja Pak Rudi. “Ada apa Pak?” tanya Erika.
“Besok jam 2 akan ada rapat yayasan. Ibu Erika bisa siapkan makanan? Biasanya Ibu Erika selalu menyiapkan makan untuk rapat khan?” perintah Pak Rudi.
“Baik Pak,” jawab Erika.
“Dan Ibu Klara bantu Ibu Erika”.
“Iya,” jawab Klara.
“tidak ada yang lain lagi Pak?” tanya Erika.
“Tidak”.
“Kalau gitu, kami permisih…” Kata Erika sambil berdiri.
“Tunggu…”.
“Ya Pak?”.
“Pegacara Paris sudah datang?”.
“Saya tidak tahu Pak, karna Pak Paris tidak mau ada meja kerja di ruangan dosen. Biasanya ada jadwal, Pak Paris langsung ke kelas. Ada apa Pak?”.
“Aku baru tahu pengacara Paris ternyata anak temanku ha…ha… padahal aku kira anaknya cumak satu, itu pun sudah meninggal 20 tahun yang lalu. Nanti jika kalian bertemu, suruh dia menemuinku”. Kata Pka Rudi.
“Biasanya Ibu Klara yang sering bertemu dengan Pak Paris,” kata Erika menatap Klara yang berdiri di sebelahnya.
“Benarkah?” Pak Rudi menatap Klara.
Klara berusaha tersenyum, “nanti aku sampaikan ke pengacara Paris”.

Erika dan Klara langsung ke sebuah toko kue yang tak jauh dari kampus. Setelah memilih beberapa kue yang akan di taruk dalam satu kota. Klara dan Erika ke kasir. “jadi untuk 25 bungkus kue ya bu,” kata pelayan toko.
“Iya. Besok pagi-pagi bisa langsung di antarkan?” tanya Erika.
“Ya bu.”
Setelah membayar. Mereka keluar dari toko kue. “Ibu Klara tidak mau beli kue?” tanya Erika.
“Tidak. Aku tidak suka kue seperti itu,” jawab Klara. “Bagaimana sebelum pulang kita makan dulu”.
“Boleh juga”.

Mereka ke salah satu lestoran yang ada di sekitar toko kue.  Mereka langsung memesan makanan dan minuman, tak lama kemudian pesanan mereka datang. “ayo makan,” ajak Erika.Klara pun menyatap makanan yang di pesatnya berupa salat. Erika yang melihat Klara hanya makan sayur-sayuran lalu bertanya, “Ibu Erika tidak makan nasi?”.
“Tidak”.
Walaupun membinggungkan Erika tetap menyatap pesanannya, berupa nasi dan ayam baker.
“Ibu Erika benarkan tidak ada hubungan dengan kak Rian?” tanya Klara.
Erika berhenti makan, “maksud Ibu Klara apa?”.
“Jika Ibu Erika tidak ada hubungan dengan kak Rian. Tolong jauhin kak Rian”.
“Apa”.
“Aku sangat suka dengan kak Rian. Tolong mengertilan persaanku,” mohon Klara.
Erika meletakkan sendok dan garpu di atas meja. “Ibu Klara pikir hanya Ibu Klara saja yang suka dengan Pak Rian. Aku dari dulu, malah sebelum menikah dengan Esa, aku sudah menyukain Pak Rian! Ibu Klara yang tak pernah ada perasaan denganku!” kata Erika yang berusaha tenang.
Klara terkejut dengan perkataan Erika padanya.

Setelah selesai makan, mereka berdua keluar dari lestoran. “Kita pisah disini saja. Ibu Klara langsung pulang khan?” kata Erika.
“Iya, aku langsung pulang,” jawab Klara.
“Soal perkataan kita tadi jangan sampai ada yang tahu”.
“Iya,” diam sejenak, “aku sudah memikirkannya”.
“Maksud Ibu Klara?”.
“Aku tidak akan menyuruh Ibu Erika untuk menjauhin kak Rian. Kita sama-sama berjuang merebut hati kak Rian. Semangat! Permisih…” Klara meninggalkan Erika yang keheranan dengan kata-katanya.
“Cewek aneh”.
***

“Wahhh…. Kau benar anak Prngky?” tanya Pak Rudi pada Paris.
“Iya,” jawab Paris singkat.
“Aku tidak sangkah, Prengky punya anak indo seperti kau,” yamng masih tak percaya melihat wajah Paris yang sama sekali tidak mirip dengan wajah orang luar. Padahal Prengky temannya itu orang Amerika asli dan istrinya pun orang  Amerika. “jangan-jangan kau anak selingkuhannya ha…” bercanda Pak Rudi.
“Aku anak angkatnya,” jawab Paris yang tersinggung dengan perkataan Pak Rudi namun tidak ditunjukkannya didepan Pak Rudi. “Ayahku orang baik. Dia tidak pernah selingku dengan wanita manapun”.
Pak Rudi yang melihat Paris yang mulai serius langsung mintak maaf, “maaf jika kau tersinggung”.
Paris berusaha tersenyum.

Dari jauh Rian dan Erika melihat keakraban Pak Rudi dengan Paris. “mereka terlihat sangat akrab?” tanya Rian.
“Kata Pak Rudi, Pak Paris anak dari temannya”.
Rian menatap Erika, “anak temannya? Jika Pak Paris anak temannya, kenapa waktu mau mengajar di kampus ini dia mintak ganti dengan Pak Hendrik?? Bukannya Pak Paris bisa mintak tolong dengan Pak Rudi?”.
“Kalau itu aku tidak tahu. Mungkin Pak Paris baru tahu”.
“Tidak mungkin, pastih orang tua Pak Paris beritahu”.
“Apa ini ada kaitannya Ibu Klara dekat dengan Pak Paris?”.
“Apa maksudmu?”.
Erika tersenyum, “bisa minjam hp, pulsaku habis, nak telepon toko kue, kok belum di antar-antar juga rotinya,” mencari bahan obrolan lain..
Rian mengeluarkan hp dari saku celananya, “ini…” memberikan pada Erika.
Erika mengambil hp dari tangan Rian. Baru beberapa angka no toko kue, hp Rian menerima sms. Erika membuka sms yang ternyata sms dari Klara, aku tunggu kak Rian di cave indah jam 7 malam.
“Sudah?” tanya Rian.
Erika langsung menutup sms dari Klara, “aku tunggu saja, mungkin sebentar lagi mereka akan datang,” kata Erika sambil memberikan hp pada Rian.
***
“Wahhhh…. Tempat yang romatis?” puji Klara melihat suasana cave yang sudah disiapkan Paris.
“Aku sudah sewa tempat ini untuk malam nanti, jadi hanya kalian berdua di cave ini,” kata Paris.
“Kau pastih banyak membuang uang?”.
“Aku kan sudah janji  akan menyatuhkan kalian berdua. Apapun akan aku lakukan untuk menyatuhkan kalian berdua”.
Klara tersenyum, “trimah kasih, suatu hari nanti jika kau mintak bantuan pastih aku bantu”.
“Itu harus”. Kata Paris yang berusaha tersenyum di depan Klara padahal dihatinya sangat terluka menyiapkan ini semua.
***
Erika gelisah di meja kerjanya, dicoret-coretnya kertas kosong di atas mejnaya. Rian yang melihat Erika gelisah lalu bertanya, “kau kenapa? Kau gelisah makanan untuk rapat nanti, bukannya kuenya sudah datang”.
“Tidak, aku tidak memikirkan kue untuk rapat nanti”.
“Kau ada masalah?”.
“Tidak”.
***
Sebelum ke cave. Klara ke salon untuk menyiapkan segalanya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Dia ingin malam ini jadi malam terindah baginya dan Rian yang rencananya malam ini dirinya mau mengatakan isi hatinya pada Rian.
Sudah lebih 5 jam Klara di salon, dan akhirnya selesai juga. Dengan memakai gaun warna merah dan sepatu warna hitan di tambah tas gadeng warna merah membuat dirinya terlihat sangat cantik hari itu.
***
Jenni melihat Paris baru pulang. “Kau sudah lama?” tanya Paris sambil membuka pintu ampartemennya.
“Sudah 2 jam aku berdiri di depan pintu,” sambil masuk, “kau dari mana?” tanya Jenni duduk di sofa.
“Kapan lagi sidang Oki?” tanya Paris duduk juga di sofa.
“Kau tidak konsen lagi dengan pekerjaanmu”.
“Maaf…” sambil memengang kepalanya, “aku kurang sehat”.
“Perluh kita ke dokter?”.
“Tidak. Aku hanya butuh istirahat saja”.
Jenni menatap Paris.
***
Sudah lebih 10 gelas air minum Klara habiskan dan 4 lilin habis yang dibiarkan Klara hidup, berharap Rian muncul. Namun sampai saat ini Rian tidak muncul-muncul. Para pelayan dan pemain musik yang sudah siap sejak sore tadi mulai bosan menunggu.
Sudah hampir 4 jam lebih Klara menunggu di cave. Dari jam 6 sore sampai jam 10 malam, namun Rian tidak muncul-muncul juga.
***
“Tok…tok…tok…!!” pintu rumah Rian diketuk dari luar. Rian langsung membuka pintu. “Erika?” heran melihat Erika datang malam-malam ke rumahnya. “ada apa?”.
“Aku mintak maaf,” ucap Erika sambil menanggis.
“Kau kenapa menanggis?”.
“Aku mintak maaf. Aku tidak bermaksud tidak memberitau denganmu”.
“Ada apa?”.
“Waktu aku minjam hpmu, ada sms dari Klara,” penjelasan Erika yang masih menanggis.
***
Dari dalam mobil Paris melihat Klara pulang sendiri dengan berjalan kaki. Paris keluar dari mobil, mendekatin Klara, “mana Rian? Bukannya seharusnya Rian mengantarmu pulang?!” tanya Paris.
“Kau sedang apa disini?” tanya balik Klara.
Paris menatap Klara yang tidak semangat seperti biasanya. “Rian tidak datang?” tebak Paris, “kau menunggunya sampai selarut ini!!  Kenapa kau tidak menelponnya?!!”.
Klara berusaha untuk tersenyum, “mungkin kak Rian tidak membaca sms dariku,” dugaan Klara.
“Itu tidak mungkin, kecuali Rian buta”.
Klara tetap tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mata Paris tertujuh pada seseorang yang berlari menujuh kearah mereka. “Ada apa?”, Klara mau menolek kebelakang, ingin tahu apa yang dilihat Paris di belakangnya.
“Aku akan melakukan sesuatu padamu. Yang pertama,” Paris memengang pinggang Klara dan mendorong tubuh Klara sampai ke pelukkannya.
“Apa yang kau lakukan?!” kanget Klara yang dilakukan Paris padanya.
“Kedua,” sambil memengang wajah Klara dengan kedua tangannya, “menciummu,” langsung mencium bibir Klara yang munggil. Klara yang kanget langsung memberontak, namun pengangan Paris yang kuat, ciuman itu cukup lama Klara rasakan. Mata Paris terus terus tertujuh pada Rian yang melihat mereka berciuman tanpa menghiraukan tatapan Klara padanya. Rian pergi dari tempat itu. Paris melepaskan tangannya.
Klara langsung mendorong Paris, “apa yang kau lakukan?!!” marah Klara.
“Rian melihat kita,” kata Paris.
“Apa!” Klara melihat sekitarnya, mencari keberadaan Rian, “dimana? Dimana Rian?!!” yang tidak melihat Rian.
Paris menujuk kea rah Rian pergi, “ke sana”.
“Heehhh….” Kalra langsung berlari kearah Rian pergi. Tapi Rian tidak terlihat sama sekali, “mana dia?” gelisah Klara, “ahhh…”.

Paris langsung pulang menggunakan mobil menuju ampartemen. Hpnya berbunyi, langsung diangkatnya, “ketemu?” tanya Paris sambil menyetir.
“Kau bohong!! Rian tidak ada!! Kau pastih mencari kesepatan padaku!!” marah Klara yang masih berdiri di depan pagar rumah.
“Itu jurus cemburu”.
“Apa”.
“Kau lari sekencang itu tetap tidak bertemu dengan Rian, itu tandanya Rian langsung bergegas pergi, iRian cemburu padaku,” penjelasan Paris.
“Kau tetap keterlaluan!! Itu ciuman pertamaku!!”.
“Tapi faktanya rencanaku berhasil membuatnya cemburu”.
“Kau bohong! Kau selalu bohong padaku!!”.
“Jika kau tak percaya, tanyakan langsung pada Rian besok”. Paris mematikan hpnya, “apa yang aku lakukan,” kata Paris yang juga tak percaya apa yang dilakukan tadi pada Klara.
***
Rian pulang. Berdiri di depan pintu dengan mengingat kejadian saat Paris berciuman dengan klara di depan matanya.
***
Sedangkan Erika masih menanggis di kamarnya. Ditatapnya foto Rian, “maafkan aku. Huhh…. Maafkan aku….” Yang terus menanggis.
***
Klara menatap wajahnya di depan kaca sambil memengang bibirnya. Masih terasa ciuman itu di bibirnya. Teringat saat Paris menciumnya, ciuman pertama kali dirinya rasakan selama ini.
***
 


Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar