Minggu, 22 April 2012

My Prince Lawyers 2

Klara menatap dirinya dari kaca kamar mandi, “memang ada masalah dengan pakaianku. Biasa saja,” teringat kata-kata Erika Apa kau tidak merasa di perhatikan dengan pakaianmu sekarang. Klara kembali keruangan, “Kalian siapa?” tanya Klara pada 2 mahasiswa yang berdiri di depan meja kerjanya.
“Saya Doti dan ini Candra, kami dari kelas 5KH2,” kata Doti memperkenalkan diri.
“Kalian sedang apa? bukannya jam gajarku di kelas kalian jam 10,” kata Klara.
“Iya bu. Tapi kami sekelas mau mintak ijin,” kata Candra.
Ada apa?”.
“Orang tua dari Edi teman sekelas kami meninggal tadi malam, kami memintak ijin untuk datang ke rumah Edi.”
“Boleh saja. cumak kalian berdua khan…”.
“Tidak Bu. Kami sekelas,” kata Doti.
“Jadi belajarnya?”.
“Kalua diganti besok gimana bu?” usul candra.
“Ok. Jam 10 yach…”.
“Iya,” jawab serentak, “permisih Bu…” lalu keluar dari ruangan dosen.
Benny melihat Klara bersiap-siap untuk pergi, “Ibu Klara mau kemana? Mau ke rumah Edi??”.
“Ohhh…. Tidak. Aku gak mungkin kesana,” menutupin rasa takut, “aku hari ini cumak 1 kelas, karna mereka mau pergi, Ya…. dari pada benggong lebih baik aku pulang, iya khan,” sambil tersenyum.
“Dari pada pulang, lebih baik ibu pergi ke rumah Edi,” kata Erika.
“Gak mungkin dan gak akan mingkin,” jawab Klara.
“Ibu takut yach…” goda Benny.
Klara tersenyum, “sebaiknya aku segera pergi,” lalu pergi dari ruangan ke tempat pakir mobilnya dan pergi.

Rian muncul dari balik pintu, tidak dilihatnya Klara di meja kerjanya, “Ibu Klara ada kelas?” tanya Rian.
“Dia pulang,” jawab Erika.
“Pulang. Kenapa??”.
***
“Gak banget aku lihat mayat tuh…” kata Klara menceritakan semua pada Eka.
“Ya iyalah. Kau kan takut hantu,” kata Eka, “tapi… ngomong-ngomong cowok yang kau pinjam uangnya itu sudah kau temuin?”.
“Gimana mau ketemu. Lihat tampangnya aja belum”.
“Apa sampai dia mencarimu?”.
“Ya gimana lagi,  Aku tunggu dia mencariku”.
“Kalau dia ke kampusmu”.
“Jangan sampai. Aku bisa malu”.
“Dasar”.
***
Seperti biasa Rian sebelum pulang mengantar Erika pulang dahulu karna rumah mereka dekatan. “mau mapir?” tawar Erika setelah keluar dari mobil.
“Sudah malam. Aku pulang dulu,” kata Rian dari dalam mobil. Erika hanya tersenyum. Lalu Rian menjalankan kembali mobil kearah rumahnya sekitar jaraknya 150 meter dari rumah Erika.
***

Klara memperhatikan semua teman-temen dosennya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing tanpa memperhatikan Klara yang sedang bermain game di hpnya. Berkali-kali Klara melihat jam di lenggatnya, “1 jam lagi,” kata Klara menunggu jam 10 yang dari tadi dirinya merasa jam sangat lambat berputar. Dengan perlahan-lahan Klara keluar dari ruangan menuju kamar kecil.
Di tatapnya dirinya dari kaca, “aku bosan banget jadi dosen,” kesal Klara yang mulai bosan. Ketika sudah cukup lama menatap dirinya dari kaca. Klara kembali keruangan, di dalam ruangan Klara melihat pria berdiri di meja kerja Rian dan akan segera duduk. Bertapa terkenjutnya Klara melihat wajah pria itu, “tunggu!!!” teriak Klara ketika pria itu mau duduk. Tanpa pikir panjang Klara langsung menarik pria itu keluar dari ruangan, “kau ngapain ke sini… kau ingin buat aku malu apa!” panik Klara berusaha menarik pria itu keluar dari ruangan.
“Ibu Klara!” kata Rian.
“Hei nona,” berontak Pria itu.
“Tenang Pak Rian, aku bisa mengatasinya, tenang tenang tenang…..” yang masih menarik pria itu keluar dari ruangan. “kau sedang apa di sini!!?” Klara yang masih memengang lenggat pria itu.
“Heiiii….” Berusaha melepaskan tangan Klara yang memengangnya sangat kuat.
Rian dan Erika menyusul Klara menarik pria itu keluar dari ruangan, “pengacara ada tidak apa-apa?” tanya Rian pada pria itu.
“Pengacara,” Klara kanget sambil melepaskan tangannya dari lenggat pria itu.
“Ini pengacara Paris, Pak Paris akan sementara akan mengganti Pak Hendri mengajar di kampus ini,” diam sejenak, “apa kalian saling kenal?”.
“Tidak,” lalu memberikan kartu namanya pada Klara yang sebelumnya di ambil dari dompet yang di letak di saku jasnya. “mungkin nona ini salah orang”.
Klara tambah kanget dengan jawaban pria itu, lalu membaca kartu nama yang berikannya, “Pengacara Paris  Erikko Prengky”. Yang masih binggung, Klara menunggu Paris di pintu masuk kampus, berharap Paris keluar secepatnya. Sudah lebih 1 jam Klara menunggu di luar namun Paris tidak muncul-muncul juga, “mana sih dia?!” yang mulai bosan, “masa sih dia lupa?”.
“Lupa dengan apa?”. terdenggar suara dari belakang.
Klara langsung menolek ke belakang, “kau ingat aku khan…?” tanya Klara.
“Siapa?” kata Paris pura-pura lupa.
“Masa sih kau lupa aku!!”.
Paris pura-pura berpikir sejenak, “Ooohhh… kau wanita di hotel itu”.
“Betul”.
“Mana uangnya!? Bukannya kau sudah janji setiba di Jakarta kau langsung membayarnya!”.
“Kertas yang kau berikan itu hilang! Itulah aku gak bisa mehubunginmu! bukannya gak mau bayar”.
Paris mengeluarkan kertas dari saku jasnya, “kertas ini yang kau maksud?”.
Klara mengambil kertas itu, lalu melihat isi kertas,” kenapa bisa ke kau?! kau mejebakku yach…!”.
“Kau lupa! Kau sendiri yang jatuhkan waktu masuk lip!”.
Klara teringat waktu masuk ke lip hotel Klara di tumbur seseorang.
“Kau masih ceroboh seperti dulu”.
“Apa”.
“Ibu Klara ternyata di sini?” kata Candra.
“Kenapa?” tanya Klara pada Candra.
“Bukannya Ibu sendiri bilang, jam 10 kita masuk hari ini”.
Klara memengang keningnya, “aku lupa”.
“Besok jam 12 aku tunggu di cave di seberang,” kata Paris lalu pergi menggunakan mobil yang terpakir.
“Dasar cowok aneh!” kesal Klara.
“Pacar Ibu?” tanya Candra.
“Siapa yang mau pacaran dengan cowok aneh seperti dia! Ayo ke kelas,” lalu mereka ke kelas 5KH2.
***
“Aku nyakit, kau pastih berhasil,” kata Jenni yang mengikutin Paris selama 3 bulan ini, “kau sudah merencanakan dari awal, rencanamu ini tidak mungkin gagal”.
Paris menjatuhakn dirinya di atas kasur, “aku harap”. Hp berbunyi, Paris langsung mengangkatnya, "Hello ...".
"Hello dear ... when are you back to America, Papa miss you".
"I'm Daddy. But none of my business in Indonesia has not been completed. I promise after the completion of my business in Indonesia, I'm going straight home, "jawab Paris yang ternyata Papanya dari Amerika yang menelponnya.
"How was your fiance?".Sambil menatap Jenni,
"Jenni healthy, he's always helped me".
"You are a great couple."
Paris tersenyum.
***

“Memang dalam Negara kita ini beribu-ribu aturan, setiap satu daerah pastih memiliki atuiran itulah itulah di sebut aturan adat. Dari semua aturan-aturan yang di buat setiap daerah, yang lebih berkuasa lagi adalah aturan Negara contohnya jika seseorang memperkosa, dalam hokum adapt orang itu dinikahkan atau di usir dari kampong sedangkan dalam hokum Negara orang itu akan di hokum seberat-beratnya maksimal hukuman untuknya kurang lebih 2 sampai 3 tahun,” penjelasan Klara yang dari tadi berkali-kali melihat jam di lenggatnya, walaupun itu sedang menjelaskan pada mahasiswa. Ketika dilihatnya jam di lenggatnya untuk sekiat kalnya jam sudah menujuk pukul 11.30 WIB, “Ok, minggu depan kita lanjutin lagi, aku ingin kalian buat ringkasan tentang penjelasan aku hari ini,” yang mulai gelisah.
“Kok cepat banget sih bu,” kata Parlin yang duduk paling belakang, “kita kan baru mulai setengah jam yang lalu”.
“Ibu ada janji. Ok kita akhirin. Selamat siang,” langsung keluar dari kelas.
“Itu dosen apaan!? Baru setengah jam sudah selesai!” kesal Citra.
“Bukan di kelas kita saja, di kelas lain juga,” sambung Yenni.
“Perluh kita laporin  nih,” usul Josi.
“Benar,” semua sepakat.
***
Sebelum menemuin Paris di cave, Klara ke bank dahulu untuk mengambil uang, barulah dirinya ke cave tempat dimana mereka berdua janjian, “selamat siang,” sapa Klara sambil duduk di kursi depan Paris duduk. “Ini catatan utangku padamu,” sambil meletakkan kertas selembar di atas meja.
Paris melihat isi kertas yang di berikan Klara,
UTANG KLARA:
Uang nonton. Makan, mandi, dan foto-foto: 25.000.000,-
Uang pinjaman: 500.000,-
Jumlah seluruhnya 25.500.000,-

Lalu klara meletakkan sebuah amlop warna coklat di atas meja, “ini uangnya, kau bisa menghitungnya,” kata Klara sambil menujukkan senyumnya dari tadi.
“Ok,” Paris mengambil amlop itu, kanget melihat isi amlop uang 10.000 dan 5000 namun tidak ditunjukkan pada Klara, “aku akan hitung,” lalu mengambil satu ikat duit 5000, setelah menghitung ikatan pertama, “lima ratus ribu,” lalu mau mengambil ikatan uang 10.000.
“Kau mau menghitung semua?” heran Klara.
“Bukannya kau yang menyuruh aku untuk menghitungnya,” jawab Paris.
“Kau cowok aneh…”.
Paris tersenyum, sambil meletakkan ikatan uang 10.000 dio atas meja, “kalau ingin kerjainku, seharusnya kau membawa uang logam”.
“Aku  gak terpikit ke situ,” kesal Klara yang sebenarnya mau mengerjain Paris ternyata dirinya di kerjain.

Lalu mereka berdua memesan makanan. Seperti biasa Klara memesat salad,  makanan yang mengadung kolesterol rendah sedangkan Paris memesan stik dengan minuman jus.
“Benar kau akan jadi dosen di kampus tempat aku mengajar?” tanya Klara sambil menikmatin makan siangnya.
“Iya,” jawab singkat Paris.
“Memang uang yang kau dapat dari hotel dan pengacara kurang?”.
“Cukup, malah berlebih. Sepertinya kau tidak suka aku jadi dosen? Tenang saja, ini hanya sememtara”.
“Aku gak nyakit kau serius mau mengajar?”.
“Memang kau serius mengajar? Bukannya kau asal-asalan dalam mengajar”.
“Maksudmu!?”.
Paris tersenyum. “Kalau tidak salah waktu diBandung. Itu hari pertama masuk kampuskan, tapi kenapa kau bisa di Bandung?”.
Klara lupa, “aku mohon jangan ada yang tahu aku ke Bandung, karna alasanku, ada urusan keluarga,” rayu Klara.
“Jadi aku harus tutup mulut?”.
“Please….” Mohon Klara.
“Tidak masalah”.
“Kau ternyata pria yang baik”.
Paris tersenyum.

Setelah selesai menikmatin makan siang mereka. Paris mengantar Klara ke mobil tempat dirinya memakirkan mobilnya, “trimah kasih makan siangnya,” kata Klara sambil membuka pintu.
“Jika kau membutuhkan teman, bantuan dan pengacara yang baik, telepon aku, aku akan datang,” kata Paris.
“Gak perluh. Aku harap ini pertemuan kita terakhir,” kata Klara sambil masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Paris yang tersenyum melihatnya.
***
Diruang rapat semua dosen berkumpul untuk membahas keluhan mahasiswa tentang cara mengajar Klara selama ini di 3 kelas.
“Mahasiswa mengeluhkan cara mengajar Ibu Klara yang seenaknya sendiri!” kata Benny.
“Dan mahasiswa juga mengeluhkan jam pada pelajaran, yang seharusnya 3 jam menjadi setengah jam dalam mengajar, contohnya saja hari yang seharusnya Ibu Klara mengajar di kelas 5KH3 3 jam, karna ada janji Ibu Klara menghentikan pelajaran padahal pelajaran baru di mulai setengah jam. Dan Ibu Klara langsung memberikan tugas pada mahasiswa,” penjelasan panjang lebar Erika.
“Untuk kebaikan mahasiswa dan nama baik universitas, Pak Rudi harus segera bertindak dengan keluhan mahasiswa saat ini, takutnya kalau di diamkan Ibu Klara akan semakit banyak ulah,” kata Joni.
“Kalau menurutmu bagaimana Pak Rian?” tanya Pak Rudi pada Rian yang dari tadi diam.
Rian hanya diam.
***
“Mana kunci mobilmu?! Tanya Ayah menyambut Klara pulang.
“Maksud Ayah apa?” Klara yang tak mengerti.
“Mulai besok kau naik taxi ke kampus”.
“Apa! kenapa?”.
“Ini hukuman untukmu!!” marah Ayah.
“Salah aku apa?”.
“Kau tidak tahu kesalahanmu!!” yang mau memukul Klara, namun tidak jadi karena melihat Klara sudah ketakutan duluan, “kau yang memilih mau menjadi dosen dari pada pengacara! Sekarang kau mengajar mahasiswa dengan sekendak hatimu! Mau mu apa!!!” diam sejenak, “Jika kau sudah memilih, tunjukan bagaimana seorang dosen sepantasnya menjadi dosen!! Mana kunci mobil, ATM dan kartu kredit!”.
Klara memberikan kunci mobil, ATM dan kartu kredit pada Ayah.
“Jika cara mengajarmu sudah baik, kartu kredit, ATM dan kunci mobil Ayah kembalikan semua!!” meninggalkan Klara dan Bunda.
“Bunda….” Renggek Klara.
“Kau juga sih…”.
“Eeeehhh….”.
***

Klara keluar dari kamarnya, dilihatnya Ayah sudah berdiri didepan pintu keluar. “Ini uang untuk ongkosmu,” Ayah memberikan uang 100.000 pada Klara.
Klara mengambil uang itu, “tapi Yah…”.
“Taximu sudah menunggu di luar”.
“Iya Yah,” Klara keluar dari rumah.
“Sayang…” rayu Bunda.
“Kali ini jangan membelahnya!,” marah Ayah.
“Iya sayang”.
***
“Itu Ibu Klara khan?” tanya Sinta melihat Klara keluar dari taxi tidak seperti biasa membawa mobil sendiri.
“Iya…” jawab Liga, “tapi Ibu Klara tambah cantik saja”.
“Kau suka sama Ibu Klara?”.
“Siapa sih yang gak tergoda dengan gadis secantik Ibu Klara”.
“Idiiihhh….”.
Setiap mahasiswa yang di lewatin Klara, langsung menyapa Klara, Klara hanya membalas dengan senyuman hangat, “pagi bu…” itulah kata-kata setiap mahasiswa yang di lewatin Klara. Tak jauh dari Liga dan Sinta, Benny, Joni, Pak Rudi, Erika dan Rian juga heran melihat Klara yang turun dari taxi. “kemana mobil mewahnya?” heran Joni.
“Mungkin rusak,” kata Benny.
“Ayo kita masuk,” ajak Rian pada teman sekerjanya. Mereka berlima menuju keruangan dosen yang berada di lantai tiga. Ketika di dalam ruangan mereka melihat Klara sedang duduk di meja kerjanya.
“Ibu Klara tidak bawak mobil?” tanya Benny sambil duduk.
“Tidak,” jawab singkat Klara.
“Kenapa? Rusak?”.
“Tidak”.
“lalu bu?”.
***
“Pagi semua…” sapa Paris pada mahasiswa.
“Pagi Pak,” membalas sapaan Paris.
“Nama saya Paris, saya akan sementara menggatikan Pak Hendrik untuk mengajar Undang-undang di kelas ini,” penjelasan Paris.
“Untuk selamanya juga gak apa-apa Pak,” genit Sinta.
“Wooo….” Semua bersorak.
Paris hanya tersenyum, “sebelum kita mulai pelajaran saya mau bertanya pada semuanya. Siapa yang bisa menjelaskan tentang periode berlakunya UUD 1945 18 agustus 1945 sampai 27 desember 1949?”.
“Saya Pak?” kata Candra.
“Silakan?”.
“Dalam kurun waktu 1945-1950, UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” penjelasan Candra.
“Bagus. Ada pendapat yang lain??”.
***
Sedangkan di kelas lain, Klara juga sedang mengajar, “Hukum pidana termasuk pada ranah hokum publik,” penjelasan Klara, “siapa yang tahu hokum pidana?”.
“saya bu?” kata Liga.
“Silakan”.
“Hukum yang mengatur hubungan antar subjek hokum dalam hal perbuatan-perbuatan yang diharuskan dan di larang oleh perundang-undangan dan berakibat diterapkan sanksi berupa pemidanaan atau denda bagi para pelanggarnya,” penjelasan Liga sambil membaca buku.
“Walaupun hanya membaca buku,” yang tahu Liga membaca buku, “boleh juga.  Dalam hukum pidana dikenal 2 jenis perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran. Siapa yang tahu perbedaan kejahatan dan pelanggaran??”.

2 jam kemudian, pelajaran selesai, Klara langsung melangkah menuju taman yang berada di kampus. Sedangkan di kelas mahasiswa saling bertanya satu sama lain yang melihat Klara yang biasa tak pernah selama ini selesai mengajar.
“Tumben Ibu Klara ngajarnya lama?” tanya Citra.
“Mungkin sudah di tegur dosen lain,” sambung Erlika.
“Gak mungkin. Pastih ada yang lain, tanpang Ibu Klara tuh gak mungkin denggerin omongan Pak Rudi,” bantah Doti.
“Benar juga sih…”.
“Apa Ibu klara sakit?” tebak Erlika.
“Kalau sakit gak mungkin gajarnya selama ini!” jawab Doti.
***
“Ibu Klara kenapa termenung?” tanya Paris mendekatin Klara yang sedang duduk di bangku taman.
“Kau sedang apa disni?” tanya balik Klara.
“Tidak sofat balik bertanya,” sambil duduk di sebelah Klara.
“Jas yang bagus,” puji Klara melihat Paris memakai jas sama warna dengan celana yang dipakainya tanpa memakai dasi. Kancing kemeja dibuka 1 kancing.
Ada apa?” tanya Paris lagi.
“Sepertinya kau tahu aku sekarang lagi butuh teman bicara”.
Paris tersenyum,  “aku denggar kau tidak bawak mobil. apa karna itu?”.
Klara diam.
“Kalau diam tandanya iya. Di tahan Ayahmu?”.
Klara mengangguk, “aku malu banget tadi pagi. Semua mata melihatku waktu aku keluar dari taxi”.
“Itukan hanya sementara,” diam sejenak, “pastih Ayahmu mempunyain syarat untuk kau bisa memilikinnya lagi?”.
“Iya. Ayah ingin aku menjadi dosen yang baik”.
“Kalau gitu tunjukkan pada Ayahmu. Aku nyakit kau bisa menjadi dosen yang baik dan hebat,” kata Paris memberikan semangat.
“Kau pikir mudah?”.
“Jika kau mengerjakannya dengan hati, aku nyakit kau pastih bisa. Contohnya saja tadi saat kau mengajar, yang biasanya hanya setengah jam kau betah didalam kelas sekarang kau sudah 2 jam, itu tahap pertama”.
“Kau tahu dari mana?”.
“Dan cara mengajarmu aku lihat sudah cukup baik. Aku nyakit kau bisa mencapainya. Semangat!!”.
Klara tersenyum.
“Siang bu…pak…” sapa Liga mendekatin mereka berdua.
Ada apa?” tanya Klara.
“Tadi waktu di kelas Ibu terlihat aneh”.
“Oh… aku tidak apa-apa”.
“Syukur deh kalau gitu,” baru beberapa langkah, Liga bertanya lagi, “kalau boleh tahu, Ibu dan Bapak pacaran?”.
Klara melihat Paris, “oohhh… tidak. Kami tidak pacaran. Kenapa?”.
“Syukurlah. Permisih Bu…” lalu Liga pergi.
Klara melihat paris tersenyum, “apa yang lucu?!”.
“Sepertinya ada mahasiswa yang suka denganmu,” kata Paris.
“Aku gak suka sama berondong”.
“Kalau gitu, denganku mau?”.
“Apaan sihhh….”.
***
“Kita putus,” kata Liga pada Sarah.
“Kenapa?” tanya Sarah yang diputus tanpa ada sebab.
“Ya aku mau putus saja”.
“Kau bohong! Pastih ada perempuan lain?!”.
“Kalau Iya kenapa?!”.
“Siapa?!!”  air mata jatuh di pipi Sarah, “ Siapa perempuan itu?!!”.
Liga diam.
“Jangan-jangan benar kata temen-temen kau suka dosen baru itu?!” tebak Srah.
“Yang pastih kita putus!!” Liga meninggalkan Sarah menanggis
“Kau jahat Liga!!!” yang terus menanggis.
***
“Pagi sekali datang,” kata Paris pada Jenni yang datang ketempat kerjanya.
“Kau tidak menggajar?” sambil duduk di sofa.
“Hari ini aku tidak ada jadwal,” jawab Paris sambil duduk di sofa, “ada apa?”.
“Jadi hari ini jadi pengacar?” goda Jenni.
“Jika aku di kampus aku seorang dosen dan jika aku disini aku seorang pengacara”.
“Jika di bandung kau menjadi derektur”.
Paris tersenyum.
“Sampai sekarang aku tidak mengerti cara pikir kau mendekatin Klara. Sebenarnya jika kau jujur pada Klara kau pangeran kecilnya pastih dia langsung menerimahmu, tapi kenapa kau malah menyusahkan dirimu sendiri?”.
“Karna dia sudah di jodohkan,” diam sejenak, “kalaupun aku muncul sebagai pangeran kecilnya, itu percuma jika dia tidak memilikin perasaan apa-apa lagi padaku. Klara pastih mengikutin perintah Ayahnya. Tapi jika aku mendekatinya sebagai pria yang menyukainnya, aku nyakit klara pastih menjadi milikku”.
“Bukannya Ayahnya sudah berjanji mau menikahin kalian berdua”.
“Ayahnya pun sudah berjanji menikahkan Klara dengan pria itu”.
“Jadi inti dari semua ini, kau tidak nyakit Ayah Klara tidak memilihmu”.
***
“Selamat pagi,” sapa Klara seperti biasa. Klara melihat Rian yang masih cuek padanya, lalu mendekatinnya, “bisa bicara sebentar?” tanya Klara.
Rian menatap Klara, “baiklah, kita bicara di luar”. Lalu mereka berdua keluar dari ruangan.
Ada apa?” tanya Benny heran.
“Gak tahu,” jawab Joni. Sedangkan Erika hanya diam terpaku melihat Klara mulai mendekatin Rian.

Ada apa?” tanya Rian.
“Aku hanya mau nanya?? Kenapa selama ini kau selalu menghindar dariku?” tanya Klara yang merasa dihindarin.
“Itu hanya perasaanmu saja”.
“Apa karna aku mirip  dengan kak Esa?”.
Rian diam.
“Baru di kampus ini kita bertemu, saat kalian nikah pun aku tidak datang. Aku senang bisa bertemu dengan kakak iparku, walaupun kak Esa sudah meninggal, aku harap kau masih mau menjadi kakak iparku”.
“Iya”.
***
“Hei Berry… kau kemana saja?’ tanya Liga pada teman seangkatannya yang baru masuk kuliah.
“Biasa, ada urusan,” jawab Berry sambil duduk di sebelah Liga.
“Pagi semua….” Sapa Klara ketika mau memasukkin kelas.
“Siapa tuh?” tanya Berry.
“Dosen baru kita. Cantikkan…” puji Liga melihat penapilan Klara yang selalu menggoda.
“Sepertinya aku pernah lihat deh…” seingat Berry.
“Bercanda”.
“Ohhh…. Aku ingat. Cewek yang gak segaja aku tumbur di lip hotel,” ingat Berry.
“Maksud kau apa?”.
“Dosen itu aku ketemu di Bandung sedang berlibur, padahal hari itu hari pertama kampus kita masuk”.
“Bener,” Liga tak percaya.
“Gak ada guna aku bohong,” kata Berry melihat Klara yang sedang menjelaskan materi pelajaran hari ini.
***

Berita Klara tidak masuk pada kuliahan hari pertama karena Klara pergi ke Bandung hanya ingin melihat grup Ada Band sudah tersebar di seluruh kampus. Dari satu mulut ke mulut yang lain itulah berita itu tersebar.
Klara yang belum tahu kabar itu tersebar, masih PD ke kampus dengan senyuman yang selalu di tujukkin pada mahasiswa maupun dosen yang di lewatinnya, “tatapan mereka aneh…” kata Klara yang merasa tatapan setiap orang di lewatinnya aneh seperti biasanya. Karna tidak mau pikir panjang Klara langsung ke ruangan dosen, “selamat pagi,” safa Klara.
“Selamat pagi Ibu Klara,” Benny membalas safaan Klara.
***
Diruangan kerja Pak Rudi. “Ada sudah mendenggar kabar tentang Ibu Klara di kampus ini?” tanya Pak Rudi pada Rian.
“Ya,” jawab Rian singkat.
“Apa tidakkan Pak Rian? Bukannya Pak Rian yang menerima Ibu Klara mengajar di kampus kita ini?”.
“Saya akan coba bicara dengannya”.
“Bukan apa-apa ya Pak Rian, saya tak mau kampus ini rusak cumak karna satu orang”.
“Ya, saya mengerti”.
***
Klara menuju kelas 5KH4, karna hari ini jadwal di kelas itu Klara mengajar. Klara melihat 3 mahasiswa masih berdiri di depan kelas, perlahan demi perlahan Klara melangkah, berniat mau mengejutin mereka bertiga, tapi malah Klara yang terkejut mendenggar obrolan mereka bertiga yang sedang omongin dirinya.
“Aku gak nyangka Ibu Klara ke Bandung hanya ingin lihat grup Ada Band aja.! Keterlaluan! Kalau gitu gak usah jadi dosen!!” kata Citra kesal mendenggar kabar yang tersebar.
“Benar, gak niat banget jadi dosen!!” kata Sinta lagi.
“Kalau aku sih sudah berpikir dari awal! Lihat saja cara berpakaiannya! Gak mirip dengan dosen malah melebihin mahasiswa!,” kata Doti.
“Bener banget!,” kata Sinta.
“Brensek!!!” kesal Klara yang tahu siapa penyebar berita dirinya ke Bandung, lalu pergi.
Mereka bertiga kanget melihat Klara sudah di belakang mereka. “sejak kapan Ibu Klara di belakang kita?” tanya Doti yang ketakutan.
“Gak tahu,” Citra yang juga ikut ketakutan.
***
“Hari ini apa jadwal Pak Paris?” tanya Jenni pada sekretaris Paris di kantor pengacara.
“Hari ini Pak Paris menemuin klien di kantor polisi,” jawab Sekretaris.
Tiba-tiba Klara muncul dengan marah-marah sambil membawa sekeranjang bunga melatih, mawar dan anggrek di rangkai dalam satu keranjang, “Mana Paris!!”.
Ada apa?” Tanya Jenni.
Tanpa pikir panjang Klara naik anak tangga, berharap di lantai 2 dirinya langsung menemuin ruangan kerja Paris. Ketika sudah menemukan ruangan Paris, Klara masuk keruanga, langsung melempar keranjang bunga kearah Paris.
Ada apa ini?!!” tanya Paris tiba-tiba Klara melempar keranjang bunga padanya, “kenapa kau marah-marah!!!?”.
“Selamat kau sudah merusak nama baikku!!” marah Klara berusaha untuk tidak menanggis.
“Maksudmu apa!!”.
“Ini maksudku!!” langsung menampar Paris. “Siapkan pengacara hebat untukmu,” lalu pergi.
Jenni masuk keruangan, “ada masalah apa?”.
“Aku tidak tahu,” yang masih binggung kenapa Klara marah padanya.
“Perluh aku cari tahu?”.
“Tidak usah. Biar aku cari tahu sendiri”.
“Ok”.
*** 

 
Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar