Kamis, 07 Juni 2012

Derita Para Pedangang

Puluhan  Polisi dan Satpon PP merampas dan membuang barang-barang yang dijual pada pendangang tanpa penuh kasihan di pasar Tradisional yang biasa masyarakat Bengkulu menyebutnya Pasar Minggu.  Karna hanya ingin mengubah Bengkulu sama dengan kota-kota lain di Indonesia. Mereka tak pernah memikirkan penderitaan para pedangang yang berjuang hidup untuk sesuap nasi.
“Ibu tidak apa-apa?” tanya Bimo pada Ibu yang sudah lanjut usianya dan sedang memungut  sayur-sayuran yang di buang Satpo PP.
“Jahat, tobo tu jahat,” kata Ibu itu yang menanggis melihat sayurannya yang seharusnya dijual tapi sekarang tak pantas untuk dijual lagi.
Bimo menatap Ibu itu penuh kasihan, padahal selama ini dia ke Pasar Minggu tak pernah melihat penggusuran sehebat itu kecuali di TV saja. “Rumah Ibu dimano?” tanya Bimo sambil membantu memungut sayur-sayuran yang berserakat di jalan.
“Padahal ambo beli sayur ko mahal. Belum balik modal sudah di gusur,” kata Ibu itu yang tak menjawab pertanyaan Bimo.
“Rumah Ibu dimano?” tanya Bimo lagi.
“Di Nakau nak”.
Bimo membantu Ibu itu berdiri dan mengangkat sayur-sayur yang masih bisa dijual kedalam mobil yang berwarna merah yang tujuan kearah daerah Nakau.
***

Keesokkannya, Bimo melihat Ibu yang ditolongnya kemarin di tempat dimana dia berada kemarin. Ibu itu termenung sambil menawarkan sayur-sayurannya pada orang yang lewat di depannya, “sayur dek… sayur bu… sayur pak…!!” kata Ibu itu menawarkan barang dagangannya.
Bimo mendekatin Ibu itu, “Ibu jualan lagi di siko?” tanya Bimo sambil duduk di depan jualan Ibu itu. di benaknya masih terpikir tentang kejadian kemarin.  Apo Ibu ko gak takut sayur-sayurannyo di buang lagi?, tanya Bimo dalam hatinya. “Apo Ibu tak takut di gusur lagi?”.
“Anak yang kemarin khan?” tanya Ibu itu yang masih ingat dengan Bimo, “trimah kasih yo…”.
Bimo hanya tersenyum, “Apo Ibu gak takut di gusur lagi?” tanyanya lagi.
“Cak mano lagi nak… Ibu makan dari siko. Kalau Ibu dak jualan,  orang rumah dak makan apo?” jawab Ibu itu dengan nada suara pelan.
Bimo melihat Ibu itu yang sepertinya ke lelahan  menjual barang dagangannya yang masih banyak padahal sekarang sudah jam 14.00 WIB. Dilihatnya dari keadaan  Ibu itu berusia sekitar 70 tahunan keatas dan orangnya tidak mampu terlihat dari cara pakaian yang compang camping.
“Mentang-mentang adi diatas, tobo tu lupo yang dibawah! Padahal, kalau bukan karno kami , tobo tu dak ado apo-apo yo!!” kesal Ibu itu melihat cara pemerintahan zaman sekarang. “Dulu kami seenaknyo jualan disiko, karno Pasar Minggu tetaplah Pasar Minggu. Sekarang Pasar Minggu dak ado lagi, karno tobo tulah!!! Seenaknyo gusir seperti binatang, pikir tobo tu kami ko binatang!!! Tobo tulah yang pantas disebut binatang!!!”.
“Apo Ibu idak bisa pindah ke PTM?” tanya Bimo lagi.
“Dari mano Ibu piti nak!! Hasil jualan ini ajo Ibu cukupin untuk makan, belum lagi untuk anak Ibu yang sekolah,” keluh Ibu itu lagi, “cak mano mau nyewa tempat di PTM”.
“Ngapo Ibu idak pindah ke tempat lain ajo?” saran Bimo.
“Dak pindah kemano nak?!” jawab pria yang di sebelah Ibu itu yang juga menjual sayur-sayuran sama seperti Ibu itu.
“Ibu bisa jualan di terminal”.
Disano tuh dak ado lagi tempek. Biso-biso kami ko digusur lagi!” kata Bapak penjual sayur itu lagi.
“Ibu dan Bapak kan bisa jualan di Pasar Baru Koto?” usul Bimo lagi.
“Tempatnyo kurang strategis,” alasan Bapak itu.
Bimo terdiam memikirkan perkataan Bapak dan Ibu itu yang sama-sama penjual sayur di pinggir jalan Pasar Minggu. Ditambah dipinggiran jalan Pasar Minggu masih banyak bekas-bekas penggusuran kemarin. Ribuan penjulan banyak rugi dari kejadian pengusuran kemarin akibatnya masih meningkatnya kemiskinan di Kota Bengkulu. Tapi walaupun begitu setiap kali digusur malahan penjual di Pasar Minggu semakin banyak.

Bimo melihat cowok yang duduk di pakiran PTM, dia mendekatin cowok yang sedang melihat entah apa yang dilihatnya. “Hai Boy…” sapa Bimo pada teman SMA ya itu. Boy memang tak melanjutkan sekolahnya dia tamat dari SMA langsung melamar sebagai Satpol PP sedangkan Bimo melanjutkan pendidikannya ke tingkat lebih tinggi.
“Kau Bim,” kata Boy membalas menyapa Bimo.
“Kau idak kerjo?”.
“Iko kerjolah pulo”.
“Kerjo apo kau koh?” dari tadi ambo nengok kau duduk ajo!”.
“Ambo koh sedang jago-jago disiko,” kata Boy dengan logak Bahasa Bengkulu. “Kau sedang apo disiko?”.
“Ambo cumak lewat ajo”.
“Kau idak kuliah?”.
“Ndak pergilah pulo ambo ko,” jawab Bimo yang berkuliah di Universistas Negeri Bengkulu dan mengambil jurusan Ekonomi Akutansi. “Kau gapo idak pakai baju dinas?”.
“Kau dak buek ambo mati apo!!”.
“Sorry… ambo ko idak tahu”.
“Kau idak kasihan nengok penjulan tuh?” tanya Bimo memadang penjual dipinggir jalan, “kalau ambo  sih kasihan”.
“Kasihan dak Kasihan. Tugas tetap tugas Bim,” terdiam sejenak, “sebenarnyo ambo koh jugoidak tegah, takutnyo yang kito gusur itu sanak kitolah”.
Bimo memikirkan kenapa selalu saja ada yang disalahkan. Padahal mereka belum tentu yang salah. Yang seharusnya disalahkan sekarang ini siapa yang pertama kali menyuruh menggusur Pasar Minggu. Itulah manusia tak pernah puas apa yang dimilikin, selalu kurang. Sampai-sampai mereka tak sadar bahwa orang yang di bawak sedang menderita akibat mereka sendiri.
***
Pukul 16.00 WIB. Bimo melewatin Pasar Minggu lagi, padahalbisa saja Bimo menaikin angkot hijau langsung kearah Tanah Patah, tapi Bimo penasaran nasib Ibu penjual sayuran itu dan penjual lainnya. Tenyata mereka masih ada di tempat dimana mereka julana tadi siang. Bimo legah tidak terjadi apa-apa hari ini, tapi entah esok. Kemudian Bimo menghentikan angkot hijau, “Tanah Patah?” tanya Bimo pada tukang angkot itu.
“Iyo…” jawab tukang angkot.
Belum sempat Bimo masuk ke dalam angkot, tiba-tiba suara teriakan dari arah Pasar  Bertingkat, “gusuuuurrrr…!!” ada juga yang berteriak, “Satpolll…!!” dan ada juga, “Polisi…!!!” bermacam-macam bunyi teriakan mereka.
Para penjual yang mendenggar suara teriakan itu langsung bergegas menyelamatkan barang-barang jualan mereka. Yang tidak sempat menyelamatkan barang dagangannya harus merelakan barang-barangnya dibawak para pengusur.
“Kau tegok dak?” kata Boy yang tiba-tiba muncul dari gerombolan orang yang berdiri dibelakang Bimo.
Bimo kanget dan langsung menolek ke belakang, “ kau Boy…”.
“Belum balik?” tanya Boy.
“Idak. Ambo ndak negok tobo tu, kasihan yoch…”.
“Cak mano lagi?”.
“Kau idak ikut?” tanya Bimo pada Boy, “itukan tugas kau”.
“Ambo idak ado tugas hari iko,” jawab Boy, “cubo kau tegok, kalau tobo tu idak keras palak, idak mungkin terjadi lagi. Gara-gara orang tulah yang dak biso dikecek sekali!”.
“Tapikan…”.
Boy langsung memotong perkataan Bimo, “cubo kau bandingkan kalau tobo tu dak ado disiko dengan tobo tu adi disiko, mano yang lebih elok ditegok?”.
Bimo hanya diam dengan pertanyaan Boy. Dia terus memadang para Polisi dan Satpol PP memungut barang dagangan yang keras mempertahankan barang dagangan mereka. Dengan kasarnya mereka merampas barang-barang  jualan  para pedangan.
“Seandainyo tobo tu nurut sejak awal dak mungkin terjadi cak iko lagi. Gara-gara tobo tu keras palak yaaa… ambo dak biso gecek apo lagi! Padahal dari awal tobo tu sudah diperingatin!!”.
“Iyo,” jawab tukang angkot.
Bimo masuk  ke dalam angkot. Angkot pun berjalan melewati  prapto lalu kearah Tanah Patah. Tapi dibenak Bimo masih terpikir kalau dunia ini tak pernah adil pada orang  yang tak mampu. Padahal kalau tak ada pakir miskin tak mungkin mereka ada diatas sana.

Tamat

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar