Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 7


7

Setiba di rumah, Ibu langsung menemuin Ayah di kamar, “kenapa Ayah menemuin wanita itu!?” marah Ibu.
Ayah mengetahuin maksud perkataan Ibu, “kami hanya membahas tentang Kay,” Ayah yang berusaha untuk tenang.
“Lalu kenapa Ayah tidak mengajakku?!”.
Ayah menatap Ibu, “aku tidak ingin bertengkar hanya karena masalah sepeleh”.
“Yah!!”.
“Sudah malam, aku mau tidur,” lalu membarikan tubuhnya diatas kasur, “tidurlah”.
Ibu duduk diatas kasur. Jawaban yang Ayah berikan membuat Ibu tidak puas dan masih penasaran kenapa mereka janjian bertemu berdua tanpa sepengetahuannya.
***
Nisa melihat Alina tersenyum sendiri, “kau kenapa?”.
“Aku senang sekali hari ini?”.
“Kau dapat lontre?”.
“Gak”.
“Lalu apa?” penasaran Nisa.
“Ya… gitu deh…” yang suka melihat sahabatnya itu penasaran padanya.
“Kau suka sekali melihatku penasaran!”.
***

Adriel keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama dengan kedua orangnya namun di meja makan hanya ada Ibu seorang yang sedang menikmatin sarapannya, “Ayah sudah pergi?” tanyanya sambil duduk.
“Ya,” jawab Ibu singkat.
“Apa kalian bertengkar?”.
“Ya”.
Adriel hanya menarik nafas panjang melihat kekesalan yang ditunjukkan Ibu.
Suasana terhening sejenak, Ibu membuka obrolan baru, “kemarin Ibu bertemu dengan Alina,” yang ingin melihat reaksi Adriel, “dia sudah berani melawan perkataan Ibu! Baru tinggal diapartemen seperti itu saja dia sudah bicara seperti itu, gimana kalau tinggal di apartemen mewah… hahhh… Ibu tidak bisa membayangkannya”.
“Aku mohon jangan ganggu Alina lagi bu”.
“Tenyata kalian sudah sering bertemu?!”.
“Dia membeciku bu,” dengan tatapan tajam kearah Ibu, “aku mohon pada Ibu, jangan ganggu Alina lagi! Dia sudah cukup menderita gara-gara Bu. Aku tidak ingin menganggu kehidupannya lagi Bu”.
“Baguslah, Ibu senang mendenggarnya”.
***
Alina pulang ke apartemen dengan wajah berserih-serih, “aku pulang,” sambil masuk  ke dalam  apartemen. Alina mendenggar suara dari arah ruang makan, Alina pun menuju ruang makan, “pagi,” sapa Alina pada Ibu Sari dan Ceri yang sedang sarapan.
“Kau baru pulang, ayo sarapan dulu,” ajak Ibu Sari.
Alina duduk di sebelah Ceri, “tante yang masak ini semua?” kagum melihat sarapan pagi ini ayam goreng, cumi goreng dan ikan goreng.
“Kau pikir aku seperti wanita-wanita lainnya!”.
Alina tidak mengerti maksud perkataan Ibu Sari.
“Tante tidak bisa masak Kak, setiap pagi tante selalu pesan masakkan di lestoran depan untuk sarapan”.
“Apa,” Alina menahan tawa yang dilakukan Ibu Sari.
“Kau ini!” kesal Ibu pada Ceri yang memalukannya dihadapan Alina.
Alina menyukain suasana seperti ini. Sudah lama sekali dia tidak menikmatin suasana seperti ini. Walaupun Ibu Sari bukan Ibu kandungnya tapi perhatian yang ditunjukkannya seperti Ibu kandung sendiri itu yang membuat Alina nyaman tinggal bersama Ibu Sari sampai saat ini.
“Hari ini kau tidak kemana-manakan?” tanya Ibu Sari.
“Iya. Kenapa tan?”.
“Aku ingin mengajak kalian ke salon. Penampilan kalian berdua sangat berantakkan!” hina Ibu Sari.
“Tapi…”.
Ibu Sari langsung memotong perkataan Alina, “kau tidak usah kuatir dengan uang. Aku yang akan membayarnya! Aku tidak suka melihat wanita yang tidak suka berdadan”.
Alina terdiam sejenak, “tante ajak Ceri saja”.
“Kenapa? Kau gak mau?!”.
“Maafkan aku,” Alina yang tidak mau berutang banyak dengan Kay terutama dengan Ibu Sari. Walaupun dia tahu Ibu Sari tulus membantunya, namun rasa tidak nyaman karena sikaf baik Ibu Sari padanya itu membuat Alina tidak mau memamfaatkannya.
“Ya sudah kalau gak mau”.
***
Adriel mendatangin lokasi gedung apartemen tempat Alina dan Kay tinggal. Tatapannya tertujuh pada pintu masuk gedung dan berharap Alina keluar dari pintu itu dengan senyuman hangat yang terpancar dari wajahnya. Tapi itu tidak mungkin dengan harapan Adriel, Alina sudah terlanjur membencinya. Matanya berkaca-kaca membayangkan kebenciannya yang ditunjukkan Alina waktu itu.
Tanpa disadarin Adriel, Kay yang baru pulang dari jonging mengamatinnya tak jauh darinya berdiri, “apa belum kau temukan orang yang kau cari?” tanyanya membuka obrolan.
Adriel menolek, dia terlihat bingung dengan pertanyaan pria yang belum tahu siapa pria itu sebenarnya, “sudah,” namun tetap di jawabnya, “jika kau tinggal disini, mungkin kau mengenalnya”.
Kay tersenyum, “aku penasaran siapa dia? Apa dia seorang wanita?”.
Adriel tersenyum.
Melihat Adriel tersenyum Kay sudah mendapatkan jawabannya, “apa dia kekasihmu?”.
“Dulu”.
“Jadi sekarang tidak. Melihat apa yang kau lakukan sekarang, pastih kau yang mencampakkannya”.
“Kau benar, aku meninggalkannya karena wanita lain”.
“Kau pastih sangat membenci dirimu sendiri”.
“Ya”.
“Sepertinya aku tahu perasaan wanita itu saat ini,” yang mulai membandingkan perasaannya waktu itu saat Gilda mencampakkannya, “itu sangat menyakitkan”.
“Kau sepertinya salah satu korban wanita”.
Kay tersenyum, “kau benar. Tapi aku sudah menemukan pengantinya”.
“Aku harap wanita itu seperti apa yang kau harapkan”.
“Trimah kasih. Ok… aku permisih dulu,” Kay pergi meninggalkan Adriel yang belum mengetahuin siapa dirinya sebenarnya.

Kay masuk ke dalam apartemennya, dilihatnya Ibu dan Ceri akan bersiap untuk pergi, “mau pergi,” lalu melihat Alina sedang merapikan rambut Ceri, “kau tidak ikut?” tanyanya sambil duduk di sofa.
“Tidak”.
“Kenapa?”.
Alina hanya tersenyum.
“Kalau gak mau ikut gak usah di paksa!” ngomel Ibu Sari kesal melihat sikaf jual mahal Alina, “ayo Ceri kita pergi,” lalu Ibu Sari dan Ceri meninggalkan apartemen.
“Kenapa kau gak ikut?” tanya Kay.
“A… aku bisa pergi nanti dengan Nisa,” jawab Alina yang tidak mau menyingung perasaan Kay.
Kay tersenyum, “kau jangan terlalu segan dengan Ibuku, sifatnya memang seperti itu”.
“Aku tahu. Aku hanya tidak nyaman dengan perhatian yang ditunjukkan Ibumu padaku. Aku merasa itu terlalu berlebihan”.
Kay hanya tersenyum menanggapinnya.
***
Gilda ke perusahaan milik kedua orang Kay, berharap bisa bertemu diperusahaan namun ketika tahu bahwa Kay tidak pernah ke perusahaan Gilda terlihat sedih dan kecewa tidak bisa bertemu dengan Kay lagi. Ketika mau keluar dari perusahaan Gilda bertemu dengan Adriel. Adriel cukup kanget  melihat Gilda  berada di perusahaan Ayah tirinya, “lama tidak bertemu,” ucap Gilda sambil tersenyum.

Lalu mereka ngobrol dicave yang berada di sekitar perusahaan. “Ibumu pastih sudah cerita?”.
“Ya”.
“Aku ingin menjali hubungan lagi dengan Kay”.
 “Jadi benar Kay pria itu?” yang awalnya Adriel hanya mengira-gira namun tenyata perkiraannya itu, “kenapa kau memilihku yang faktanya kau  mencintainnya?”.
“Itu cerita lama, aku tidak mau mengungkitnya,” yang tidak mau mengingat masa lalu, “saat ini aku hanya ingin memperbaikkinnya”.
“Apa kau nyakin Kay masih mencintainmu?”.
“Kata-katamu seperti kau masih mengharapkanku? Apa kau menyesal?”.
“Dalam hidupku hanya satu yang aku sesalin. Mungkin sama sepertimu, aku ingin memperbaikinnya. Tapi… sepertinya sangat susah,” Adriel teringat dengan Alina.
“Kau hanya kurang semangat,” Gilda memberi semangat pada Adriel.
“Kau tidak pernah berubah. Selalu menghadapin masalah dengan kepala dingin”.
“Kau belajar banyak tentangku”.
Adriel tersenyum.

Sudah cukup lama mereka ngobrol, Gilda pun memutuskan pergi meninggalkan Adriel yang masih ingin duduk di lestoran untuk memikirkan cara menyelesaikan masalah perusahaan yang sedang melanda perusahaan dan juga ingin menyelesaikan masalahnya pada Alina.
***
Ibu Sari mengajak Ceri ke salon. “Mau diapakan rambutnya nyonya?” tanya pelayan salon ramah pada Ibu Sari.
“Potong pendek saja,” kata Ibu Sari pada pelayan salon itu yang setengah perempuan.
Pelayan salon itu segera memotong rambut Ceri yang sudah cukup panjang. Dengan lincahnya dia mengerakkan gunting di setiap helai rambut dan membentuknya seindah mungkin.
***
Setelah membersihkan rumah dan memasak untuk makan siang, Alina istirahat di kamar. Sedangkan Kay sibuk dengan file-file perusahaan yang belum selesai di pelajarinnya. Sedang asik memeriksa file-file, Kay diganggu oleh ketukkan pintu, “tok…tok…tok…!!” ketukkan pintu membuat Kay tidak konsen lagi. Kay pun membuka pintu. Kay sangat kanget melihat Gilda, walaupun sebelumnya Kay sudah tahu bahwa Gilda sudah kembali dari Ibunya tapi Kay masih tetap terkejut melihat wanita yang dicintainnya itu dulu, “Gilda!!”.
Gilda menujukkan senyuman hangat pada Kay, “lama tidak bertemu”.
“Ya”.
“Apa aku boleh masuk?”.
Kay teringat pada Alina yang sedang istirahat di kamar, dia tidak ingin menganggu Alina yang sedang istirahat, “sebaiknya kita bicara diluar,” Kay menutup pintu dari luar.
Apa yang dilakukan Kay membuat Gilda heran namun itu tidak lama. Dia ingin menikmatin kebersamaannya bersama Kay yang sudah lama sekali tidak dikmatinnya.

Mereka berdua pergi ke cave yang berada di sekitar gendung apartemen. Gilda heran melihat sikaf Kay yang tidak menujukkan ekpresi apa-apa padanya, “dari pada kau diam, lebih baik kau marah padaku,” yang tidak ingin Kay mendiamkannya seperti ini, “apa kau tidak mencintainku lagi?”.
Dibandingkan menjawab pertanyaan Gilda, Kay malah membuka pertanyaan baru, “kapan kau datang?”.
“Minggu lalu. Aku sudah bercerai dengan suamiku dan aku ingin kembali denganmu,” Gilda langsung ketujuan awalnya menemuin Kay, “aku masih mencintainmu Kay”.
“Tapi aku tidak”.
“Apa!” Gilda terkejut, “kenapa kau bisa melupakanku? Padahal aku mengatakan padamu kau jangan melupakanku,” air mata jatuh membasahin pipinya.
“Maafkan aku. Aku sudah cukup lama menunggu,” Kay berdiri, “lupakan aku,” lalu pergi meninggalkan Gilda yang masih menanggis.
 *** 
Ayah mendapatkan kabar dari asistennya bahwa Kay saat ini sedang dekat dengan seorang wanita. Ayah heran kenapa ketiga penjaga yang diperintahkannya untuk menjaga Kay tidak memberitahu bahwa Kay sedang dekat dengan seorang wanita, “apa wanita itu Gilda?” tanyanya.
“Saya rasa bukan tuan”.
“Cari tahu tentang wanita itu!”.
“Baik tuan”.
***
Kay kembali ke apartemen dan langsung berdiri di balkon. Kay mengingat jelas kata-kata yang diucapkannya pada Gilda membuat wanita yang pernah masuk ke dalam kehidupannya itu menaggis seperti itu. melihat Gilda menaggis seperti itu membuat Kay sangat merasa bersalah, “aku seperti tidak jauh bedah dengannya.
Alina bangun dari tidur lelapnya, dia langsung keluar dari kamarnya dan melihat Kay sedang merenung dengan wajah sedih berdiri di balkon, “kau tidak apa-apa?” tanyanya kuatir.
Kay menolek, “kau sudah bangun?”.
Kesedihan nampak jelas dari wajah Kay, “kau kenapa?” tanya Alina lagi.
“Saat ini… dihatiku hanya ada kau. Aku tidak ingin ada wanita lain”.
Kata-kata Kay membuat Alina semakin bingung, “kau bicara apa?”.
Kay memeluk Alina, “aku ingin kau selamanya ada untukku”. Kay  melepaskan pelukkannya namun Kay masih memengang pinggang Alina dengan erat. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.  Tubuh Alina tidak bisa bergerak, tatapan Kay membuat Alina  tidak bisa menolak apa yang dilakukan Kay padanya. Kay mendekatkan wajahnya ke wajah Alina perlahan demi perlahan. Alina menutup matanya. Ciuman hangat menempel di bibir munggil Alina.  Mereka berdua hanyut dalam asmara yang mereka mulai bentuk. Kay yang duluan menyukain Alina menikmatin Alina yang mulai menujukkan kesukaannya pada dirinya. Perasaan Kay saat ini tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Saat ciuman itu berakhir Kay masih memengang Alina kencang sekali dan berkata, “aku mencintaimu”.
Alina tersenyum mendenggar ungkapan perasaan Kay padanya. Diwaktu yang sama, tiba-tiba Ibu Sari dan Ceri pulang. Alina melepaskan tangan Kay dari tubuhnya. “Kalian sudah pulang?” gugup Alina.
Ibu Sari melihat putranya dan Alina terlihat canggung, mulailah dia berpikir macam-macam, “kalian tidak melakukan apa-apa khan…?”.
Alina malu, dia mulai mencari topik  pembicaraan, “rambutmu cantik sekali,” melihat Ceri yang sudah memotong rambut yang panjang menjadi pendek.
“Coba Kakak ikut. Salonnya banget Kak,” puji Ceri.
“Benarkah…” Alina yang berhasil membuka topik pembicaraan.
Ibu Sari duduk di sofa, “apa kakakmu selalu seperti itu?” tanya Ibu Sari pada Ceri.
“Kadang,” jawab Ceri.
“Ceri”.
***
Gilda kembali ke rumahnya. Didalam kamar Gilda menanggis, dia masih memikirkan perkataan Kay yang menyuruh untuk melupakannya. Kata-kata Kay membuat perasaan Gilda sangat terpukul, “kau kenapa marah padaku? Maafkan aku…” Gilda yang menyesalin apa yang dilakukannya pada Kay 5 tahun yang lalu.  Gilda memadang foto yang berada di meja riasnya. Foto itu foto dirinya dan Kay yang diambil sewaktu mereka dulu bersama, “kau pastih bohong! Aku tidak percaya kau semudah itu melupakanku,” nyakin Gilda dengan dugaannya.
***
Hari sudah soreh,  dengan berpakaian seperti biasa Alina menyempatkan diri mampir ke pemakaman Ibu dan kakak kandungnya yang terletak tak jauh dari pemukiman. Mereka berdua dimakamkan bersebelahan. Alina menceritakan bahwa dirinya mulai menyukain seorang pria, “aku menyukain seorang pria, nama Kay. Dia seorang pengacara di Amerika. Yang paling utama, dia sangat mencintainku… dia terus menyakinkanku bahwa dia mencintainku,” diam sejenak, “Kay mempunyai seorang Ibu. Walaupun dia sangat cerewet tapi dia sangat baik. Dia selalu memberikan perhatian terutama pada Ceri. Ceri sangat dekat dengannya, malah karena terlalu perhatian dengan Ceri, Ceri merasa Ibunya Kay adalah Ibunya sendiri,” kata Alina panjang lebar, “aku sayang pada kalian berdua”.

Tenyata dari kejauhan dua pasang mata sedang mengamatin Alina yang sedang berbicara dengan makam Ibu dan Kakaknya. “Kau tidak berani mendekatinnya?” tanya Sarani melihat kesedihan di wajah Budi.
“Aku takut dia marah,” kata Budi duduk lemas di bawah pohon tempat dirinya bersembunyi.
“Sudah sekian kali aku mendenggar kata-kata itu tapi mana… kau tetap melakukannya lagi!!” kesal Sarani yang melihat sikaf Budi yang tidak pernah berubah.
“Bukannya kata orang penyesalan itu selalu datang belakangan!” Budi membelah diri.
“Kau itu bukan menyesal! Tapi tidak pernah berlajar dari kesalahan!! Apa kau tidak pernah berpikir untuk masa depan Alina?! Malah sekarang aku lihat kebalikkannya! Alina selalu berusaha memberikan terbaik untukmu! Jika aku jadi kau, aku tidak akan sia-siakan anak tiri seperti Alina!” kata Sarani panjang lebar.
***
Setelah Ceri tidur, Ibu Sari mendekatin Kay yang sedang berdiri di balkon menikmatin permadangan kota dari atas. “Kau serius dengannya?” tanyanya membuka pembicaraan.
Kay tahu siapa yang di maksud Ibunya, “ya Bu”.
“Apa yang membuatmu suka dengannya?”.
“Mungkin karena aku nyaman bersamanya”.
Suasana terhening sejenak, “selain ciuman apa kalian sudah melakukannya?” tanya Ibu lagi.
“Ibu bicara apa? Alina tidak seperti itu Bu”.
“Mungkin Alina aku masih bisa percaya, tapi kau….???”.
Kay tidak menyangka Ibunya lebih percaya dengan Alina dibandingkan dengannya, “masa Ibu tidak percaya denganku?!!”.
“Selama 5 tahun kau di Amerika tanpa pengawasan dari kami! Mana tahu kami kau sudah sering melakukannya disana!”.
“Bu…” Kay yang tidak menyukain tuduhan yang ditujuh padanya.
Ibu Sari tersenyum melihat wajah kesal yang ditunjukkan putranya itu. Tenyata Ibu sari hanya mengetes apakah Kay serius dengan Alina atau tidak, “Ibu tidak penduli dengan masa lalumu sayang. Yang ku penduli sekarang masa depanmu. Kau sudah memutuskan siapa yang akan menjadi pedampingmu dan sekarang kau harus berusaha untuk menjagahnya,” nasehat seorang Ibu pada anaknya.
Kay memeluk Ibu Sari, “trimah kasih sudah mendukungku Bu”.
Ibu Sari hanya tersenyum menanggapinnya.
***
Alina ke supermarket untuk bekerja seperti biasanya. Bersama Nisa Alina menjaga kasir. “Nisa… besok kau ada waktu kosong?” tanya Alina sambil menghitung barang belanjaan pengujung supermarket.
“Kenapa?” tanya balik Nisa yang memasukkan barang belanjaan ke dalam plastik, “trimah kasih,” Nisa yang mengucapkan trimah kasih pada pengujung supermarket  yang sudah selesai membayar.
“Menurutmu produk apa yang bagus untuk jenis kulitku?” tanya Alina ragu-ragu.
Nisa senang melihat Alina akhirnya mau berdadan lagi seperti dulu, “kau mau berdadan lagi?”.
“Ya… sudah lama banget aku gak berdadan. Sampai-sampai aku sudah lupa produk apa yang bagus untukku,” malu Alina, “kau mau membantuku khan…?”.
Nisa mengeleng, “besok pulang dari kerja kita langsung ke Moll”.
“Ya,” senang Alina.
“Eeeehhh… ngomong-ngomong, yang kau lakukan ini apa untuk Kay?”.
Alina terlihat malu, “kau bicara apa sihh… menurutku wajar seorang wanita ingin penampilan cantik,” Alina yang berusaha menutupin perasaannya pada Nisa.
“Tapi kenapa kau tiba-tiba??”.
“A… aku…” Alina yang bingung harus bicara apa lagi.
“Juju raja kenapa sih…”.
“’Nisa!” Alina yang sudah  sangat malu di goda terus menerus oleh Nisa.
***
Adriel berdiri di pinggir kolam, dia masih memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah yang melanda perusahaan yang disebabkan Ibu kandungnya tanpa sepengetahuan Ayah tirinya walaupun dia tahu Kay sudah mengetahuinnya. Dibandingkan memikirkan bagaimana cara meminta maaf pada Alina, Adriel lebih terfokus dengan masalah perusahaan.
Tak jauh darinya Ayah berdiri disebuah pilar memperhatikan gerak-gerik yang ditunjukkan Adriel. Ayah bingung kenapa Kay dan Adriel tidak mengatakan apa-apa padanya masalah yang melenggu perusahaan namun Ayah pun tidak mau bertanya karena pastih ada alasan kenapa mereka merahasiakan itu darinya. Saat ini Ayah hanya menunggu kejujuran dari anak kandungnya dan anak tirinya.
***

Ayah menelpon Kay untuk mengajak Kay ketemuan, “aku ingin kita bertemu, sudah lama sekali kita tidak ngobrol,” kata Ayah menjelaskan pada Kay kenapa dirinya mengajak ketemuan.
“Baiklah Yah”.
“Sampai jumpah,” Ayah menutup telpon.
Tanpa disadarin Ayah sejak tadi Ibu mendenggarkan pembicaraan antara Ayah dan Kay, “untuk apa Ayah ingin bertemu dengan Kay?” curiga Ibu.
Ayah membalik tubuhnya, “sudah lama aku tidak ngobrol dengan Kay,” jawabnya.
“Kau ingin melepas rindu dengan mantan istrimu itu!?”.
“Bu! Aku ingin bertemu Kay bukan Sari!!” marah Ayah yang tidak terimah tuduhan yang dilontarkan Ibu padanya, “aku tidak menyangka pikiranmu sesempit ini!!” lalu keluar dari kamar meninggalkan Ibu yang terlihat sangat marah pada Ayah.
“Aaahhhh…!!” Ibu melampiaskan kemarahannya dengan cara berteriak.
***
“Ayahmu yang menelpon?” tanya Ibu Sari pada Kay setelah mendapatkan telpon dari Ayah.
“Ya. Ayah ingin bertemu,” jawab Kay.
Ibu Sari melihat kesedihan di wajah putranya itu, “kau kenapa? Apa ada masalah?”.
“Maafkan aku Bu,” Kay yang merasa bersalah membohongin kedua orang tuanya tentang masalah yang melenggu perusahaan.
“Untuk apa sayang,” Ibu Sari yang mulai kuatir.
Maafkan aku sudah membohongin kalian berdua, aku tidak bermaksud membohongin kalian. Aku hanya tidak ingin melihat kalian bertengkar seperti dulu, kata Kay didalam hatinya. Kata-kata itu susah sekali diucapkannya pada kedua orang tuanya.
***
Pulang dari kerja Alina dan Nisa langsung ke Moll  untuk membeli produk alat make up yang dulu biasa Alina beli. Mereka berdua masuk ke toko yang khusus menjual produk-produk kecantikkan. “Lihat ini…” Nisa menunjukkan eye shadow pada Alina yang sedang melihat-lihat lipstick, “warnanya cantik-cantik”.
Alina mulai tertarik eye shadow yang ditunjukkan Nisa, “Iya. Aku mau yang ini”.
“Lipstiknya warna apa?”.
“Gak tahu. bingung…”.
“Ya ini aja,” mengambil lipstick yang berwarna flirty pink, “ini cocok untukmu dan dulu juga kau sering memakai warna lipstick seperti ini”.
Alina tidak menyangka Nisa masih mengingat apa yang dulu dia pakai itu mebuatnya terharum, “trimah kasih ya kau sudah mau menjadi sahabatku”.
Nisa tersenyum, “kau bicara apa…….. kita sudah bersahabat sejak SD dan aku ingin kita bersahabat sampai maut memisahkan kita”.
“Kau sahabatku yang terbaik”.
“Kau juga,” Nisa mulai memilih mascara yang  cocok untuk Alina, “aku senang Kay sudah mengembalikan kau seperti dulu”.
Alina hanya tersenyum sambil memilih blush yang akan dibelinya.
“Aku ingat sekali dulu kau tidak pernah keluar dari rumah tanpa menggunakan make up dan pakaian-pakaian yang cantik. Jangankan semua orang, aku sahabatmu saja pernah iri melihatmu. Cara kau membuat dirimu menarik membuat semua orang menjadi iri,” diam sejenak, “tapi saat kau kehilangan semuanya… akupun merasa kehilangan dirimu seperti dulu. Yang lebih aku kehilanganmu saat kau dicampakkan oleh Adriel. Sikafmu berubah menjadi dingin. Tapi sekarang kau kembali… dan aku sangat merindukan itu,” ucap Nisa dengan mata berkaca-kaca.
“Nisa….” Alina yang juga ikut bersedih.
“Aku senang Kay sudah merubahmu seperti dulu lagi”.
Alina memeluk Nisa, “maaf… selama ini aku egois padamu”.
“Aku tidak punya keluarga. Keluargamu yang menampungku. Dulu sampai sekarang hanya kau satu-satunya keluargaku. Kau keluarga dan sahabatku”.
Kata-kata Nisa membuat Alina menanggis. Orang-orang yang melihat mereka berdua terasa aneh karena tiba-tiba mereka menanggis tanpa sebab namun ada juga yang berpikir ada musibah yang menimpah mereka sampai mereka sesedih itu dan ada juga diantaranya mereka menanggis karena sudah lama tidak bertemu. Bermaca-macam pikiran orang-orang yang melihat mereka.
***
Ayah dan Kay bertemu di lestoran Hotel Ratu  yang sebelumnya mereka sudah tentukan dimana mereka akan bertemu. Sejak tadi Ayah terus memadangin Kay tanpa bicara apapun itu membuat Kay merasa tidak nyaman, “kenapa Ayah melihatku seperti itu?” tanyanya.
“Maafkan aku tidak bisa menjadi Ayah yang baik untukmu. Tapi mulai sekarang aku akan menjadi Ayah yang terbaik untukmu. Apapun akan ku lakukan untuk membuat kau menjadi yang terbaik”.
Kay tersenyum mendengar perkataan Ayah, “Ayah lupa sekarang Ayah mempunyai putra satu orang lagi. Aku tidak ingin Ayah membedahkan antara aku dan Adriel”.
“Aku tidak pernah membedahkan kalian. Tapi semua ini adalah hakmu. Aku akan menghancurkan siapapun yang akan menghambat yang seharusnya menjadi hakmu”.
Kata-kata Ayah membuat Kay diam.
Ayah membuka obrolan baru, “Ayah denggar kau sedang dekat dengan seorang wanita? Siapa dia? Dan dari keluarga mana dia?”.
“Apa Ayah masih mengingitkan aku menikah dengan wanita kelurga yang kaya??” tanya Kay.
“Sampai sekarang iya. Dengan kau menikah dengan wanita keluarga yang kaya itu bisa menambah nama baik keluarga kita semakin baik dimata semua orang. Dan kau akan semakin dihormatin Kay,” keyakinan Ayah yang dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah.
Kay tidak menunjukkan kekecewaannya dihadapan Ayah bahwa sekarang dia menyukain wanita tidak sekaya dirinya itu membuat dirinya ragu memperkenalkan Alina pada Ayahnya karena dia sudah tahu apa jawaban dari Ayah nantinya. Disisi lain Kay tidak mau menyakitin Alina namun disisi lain Kay juga tidak mau melawan Ayahnya. Namun Kay harus tegas, dia harus segera memutuskan siapa yang akan dipilihnya.
***
Ayah kandung Ceri bersembunyi di balik pohon besar. Dari kejauhan dia melihat putri kecilnya bermain dengan teman-teman seumuran di lapangan sekolah. Kerinduan nampak jelas dari wajahnya namun tidak ada keberanian untuk mendekatin Ceri. Cukup lama Pak Budi memperhatikan putri kecilnya ketika tatapannya tertujuh pada dua pria yang tak jauh darinya berdiri yang juga melihat kearah sekolah. Pak Budi mengetahuin siapa 2 pria itu, mereka anak buah dari lintenir yang dia pinjam uangnya. Ada kekuatiran yang timbul di benak dengan keselamatan putri kecilnya. Beberapa saat kemudian Pak Budi meninggalkan lokasi tempat itu.
***
Alina pulang dengan membawa banyak barang-barang produk kecantikan. Apa yang dilakukan Alina saat ini membuat Ibu Sari bingung melihat perubahan yang ditunjukan Alina yang tiba-tiba namun diam-diam Ibu Sari menyukainnya, “kau belanja sebanyak ini menggunakan uang siapa?!”.
“Eeeehhh… gajiku bulan ini tan,” malu Alina melihat skpresi yang ditunjukkan Ibu Sari terlihat marah padanya, “maaf… aku gak bermaksud menolak kebaikan tante, tapi… aku merasa tidak nyaman saja, perhatian yang diberikan tante padaku dan Ceri. Itu saja… gak lebih dari itu”.
Ibu Sari melihat produk-produk kecantikan yang Alina beli berupa blush, eye shadow, mascara, lipstick, bedak dan alas bedak, “hanya ini yang kau yang beli?!”.
Alina mengangguk, “sebagian gajiku, aku sisihkan untuk membayar sesuatu”.
“Hahhh… kau ini! Kalau mau cantik itu jangan tangung-tangung!!”.
“Maaf… gajiku bulan depan pastih aku beli produk yang lain lagi”.
“Memang kau mau bayar apa?! Kau banyak utang yach…?!”.
Kata-kata Ibu Sari membuat Alina diam. Alina pun tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Ibu Sari itu sama saja dia membuka aip keluarganya yang berusaha untuk disimpannya sendiri.
“Kalau gak mau menjawab ya sudah…” sambil berdiri lalu masuk ke dalam kamar. Beberapa saat kemudian Ibu Sari keluar dari kamar dengan membawa tas kecil berisi barang-barang make up ya, “tidur…!” perintah Ibu Sari pada Alina untuk membaringkan tubuhnya diatas kasur.
“Ibu mau apa??”.
“Tidur!!”.
Alina pun mengikutin apa yang diperintahkan Ibu Sari padanya. Dia menidurkan tubuhnya di sofa. Alina melihat Ibu Sari mengoleskan krim pelebab pada wajahnya, “ini apa tan?”.
“Jangan bicara!” yang terus mengolesin pelebab pada wajah Alina sambil menjelaskan, “ini bagus untuk wajah. Produk ini mengadung banyak vitamin yang dibutuhkan wajah dan bagus juga untuk mencerahkan kulitmu yang kusam,” penjelasan Ibu Sari.
“Ibu memakai ini?”.
“Gak lah. Ini aku beli kemarin untukmu”.
Alina tersenyum.
“Kecantikkan itu bisa hilang jika kita tidak menjaganya. Zaman sekarang bukan hati saja yang harus cantik tapi wajah juga harus cantik”.
“Ya tan”.
Ibu Sari memijat wajah Alina itu membuat Alina rileks dan nyaman. Lama-lama kelamaan Alina pun tertidur lelap di sofa dengan wajah masih di penuhin dengan krim masker. Ibu Sari yang menyadarin Alina sudah tertidur lelap hanya membiarkan saja, dia terus memijat wajah Alina sampai selesai.
***
“Bagaimana dengan saham perusahaan?” tanya Adriel pada asistennya.
“Masih seperti yang kemarin Pak, belum ada perubahan apapun. Dan sejak Pak Kay memerintakan menghendel keuangan perusahaan sementara itu membuat saham perusahaam tidak turun. Setidaknya kita masih punya waktu untuk menyelesaikan masalah perusahaan dengan waktu yang  diberikan,” penjelasan asisten yang cukup jelas bagi Adriel.
“Apa sampai sekarang kau belum tahu apa yang direncanakan Kay?”.
“Gak ada yang tahu Pak. Susah sekali menebak apa yang akan dilakukan Pak Kay karena Pak Kay bekerja di belakang asistennya”.
Adriel berdiri dan bersiap-siap untuk pergi.
“Pak Adriel mau kemana?”.
“Aku ingin cari angin dulu. Sampai besok,” lalu Adriel meninggalkan perusahaan menggunakan mobilnya.
***
Pulang dari menemanin Alina membeli produk kecantikkan, Nisa langsung pulang ke kosan yang arahnya berlawanan dari apartemen tempat Alina tinggal. Nisa tidur-tiduran diatas kasur sambil membayangkan perubahan-perubahan Alina lakukan beberapa hari ini. Itu membuat Nisa sangat senang dan puas karena Kay berhasil mengembalikan Alina seperti dulu lagi.
Sedang asik berhayal tiba-tiba pintu kosnya di ketuk dari luar, “tok…tok…tok…!!” semakin lama pintu semakin keras diketuk, “tok…tok…tok…!!!”. Nisa sangat kesal ada yang berani menganggunya, “siapa sih…!!” sambil bangkit dari tempat tidur dan langsung membuka pintu.  Nisa sangat kanget melihat Bob berada berdiri di depan pintu kosnya, “kau sedang apa disini?” bingung Nisa yang baru pertama kali Bob mengijakkan kakinya ke kosannya.
“Aku ingin bicara denganmu,” kata Bob.
“Kau ingin bicara denganku?” senang Nisa, “eeeeehhhh…. Maksudku kau mau bicara apa?” Nisa baru teringat mereka berdua masih berdiri di depan pintu, “eeehh… sebaiknya kita bicara disana saja,” Nisa mengajak Bob ke tempat dimana di sediakan ruang untuk menerima tamu, “duduk,” sambil duduk di sofa.
Bob duduk.
“Kau mau bicara apa?” tanya Nisa lagi yang masih penasaran.
“Alina menyuruhku untuk melupakannya”.
“Itukan sudah sekian kalinya. Itu yang ingin kau tanya??”.
“Tidak, bukan itu yang ingin aku tanya”.
“Apa?”.
“Alina bilang ada seorang wanita yang selalu menanti cinta dariku. Kau tahu siapa dia??”.
Nisa sangat kanget namun berusaha ditutupinnya di hadapan Bob, “Alina bicara seperti itu?”.
“Ya. Aku penasaran saja siapa wanita yang dimaksud Alina. Apa kau tahu??”.
Nisa diam.
Bob yang melihat Nisa diam lalu berpikir Nisa tidak tahu apa-apa wanita yang dimaksud Alina, “gak tahu yach… aku pikir kau tahu, secara kau sudah lama berteman dengan Alina”.
Nisa masih diam.
“Apa gak ada yang marah?” Bob membuka obrolan baru.
Tapi tenyata Nisa malah terus membahas obrolan yang pertama, “jika kau mengetahuinnya, apa kau akan menerimahnya?”.
“Gaklah”.
Nisa berusaha untuk tersenyum, “hemmm… mendenggar jawabanmu, dia pastih sangat terluka,” sedih Nisa.
“Aku tahu. Tapi cinta tidak bisa dipaksakan”.
“Kau benar. Aku memang bodoh!” yang mulai menyalahkan dirinya sendiri karena mencintain pria yang tidak mencintainnya.
***
Kay pulang ke apartemen dengan menggunakan mobil miliknya. Ketika  sedang memasukkin pakiran mobil, Kay melihat Adriel berdiri di depan mobilnya dengan mata tertujuh ke gedung apartemen. Kay penasaran wanita seperti apa yang membuat Adriel sampai seperti ini. Kay memakirkan mobilnya dahulu barulah dia mendekatin Adriel yang tidak menyadarin kehadirannya. “Kenapa kau tidak menemuinnya saja?” usul Kay.
Adriel menolek, “Kau…” sambil tersenyum, “itu sudah aku lakukan”.
“Dia tidak memaafkanmu?”.
Adriel tersenyum sambil mengangguk.
“Kau harus lebih berusah,” Kay memberi semangat.
“Kau benar,” Adriel baru ingat bahwa dirinya belum mengenal pria yang berdiri dihadapannya ini, “aku Adriel,” Adriel memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya.
Ketika Kay mau menyebutkan namanya, seorang satpam  apartemen menyapahnya yang kebetulan lewat didepan mereka, “malam Pak Kay”.
Kay membalas menyapa, “malam Pak”.
Adriel sangat terkejut mendenggar satpam itu memanggil pria yang berdiri di hadapannya itu dengan sebutan Kay, “namamu Kay?” yang masih tidak percaya.
Kay berusaha menahan tawanya melihat ekpresi yang ditunjukkan Adriel saat mengetahuin dirinya siapa, “Ya. Aku Kay. Apa kita saling kenal?” yang pura-pura tidak mengenal Adriel.
Adriel tertawa, “hahahaha… aku nampak bodoh dihadapanmu,” lalu menatap Kay, “kau sudah tahu aku siapa khan…?”.
“Jawabannya iya,” santai Kay menjawab.
“Kenapa kau tidak bilang kau adalah Kay?! Apa kau ingin mempermainkanku!!?”.
“Jangan tersingung. Bukannya aku bertanya padamu, kau mencari siapa. Faktanya kau bukan mencariku jadi untuk apa aku capek-capek memperkenalkan diriku!”.
Adriel merasa apa yang dilakukan Kay ini seperti sikaf seorang anak kecil, “kau seperti anak kecil!”.
“Aku suka menjadi anak kecil. Mereka tidak akan dipaksa untuk memikirkan sesuatu yang tidak perluh mereka pikirkan,” Kay melihat jam dilenggannya sudah menuju pukul 20.22 WIB, “aku harus masuk. Selamat malam…” lalu meninggalkan Adriel sendiri yang masih memperhatikannya sampai dirinya tidak terlihat lagi dari balik pintu.
*** 


 Bersambung


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar