Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 14


14

Ibu mendapatkan telpon dari anak buahnya. Tampak jelas kekecewaan dari raut wajah Ibu, “dasar bodoh!!” langsung dimatikan telponnya, “aaahhh!!!” kesal Ibu rencananya tidak berjalan dengan sempurna.
Adriel yang melihat Ibu kesal lalu mencoba bertanya, “apa ada masalah Bu?”.
Ibu menolek, “tidak”.
“Ibu tidak melakukan apa-apa kan?”.
“Sejak kapan kau mencampurin urusan Ibu!!?” marah Ibu.
“Aku harap Ibu tidak melakukan apa-apa,” kata Adriel yang masih mencuringain Ibu kandungnya itu.
Ibu tidak penduli dengan perkataan Adriel. Dia masih kepikiran dengan rencananya yang gagal total.
***
Sarani semakin kesal melihat Pak Budi yang  tidak berusaha untuk mencari Alina yang sejak tadi siang tidak kembali. “Kau tidak mencari Alina?!!”.
“Untuk apa aku mencarinya?”.
“Apa!!”.
“Biarkan saja dia pergi,” kata Pak Budi yang sebenarnya merasa bersalah pada Alina.
“Kau ini!!”.
“Bukannya dia sendiri bilang dia akan pergi”.
“kau ini…!!” karena tidak mau lagi ada keributan di tambah hr sudah malam membuat Sarani menahan amarahnya. Dia pun masuk ke dalam dan melihat Ceri yang nampak murung, “’kau kenapa belum tidur?” tanyanya.
“Apa Kakak akan pulang?” tanya Ceri.
Cukup lama Sarani menjawab pertanyaan Ceri, “besok Alina akan pulang”.
“Benarkah?”.
“Iya,” yang tidak ingin melihat Ceri bersedih, “tapi sekarang kau harus tidur.  Bukannya besok sekolah?”.
“Baiklah,” Ceri menidurkan tubuhnya dan kemudian menutup matanya. Sarani membelai kepala Ceri  seperti sedang menidurin anak kandungnya sendiri. Karena kasih sayang yang ditujukkan Sarani membuat Ceri nyaman dan lama kelamaan Ceri pun tertidur lelap.
***

Hari sudah pagi, sinar matahari sudah nampak jelas menyinarin bumi yang setiap saat akan berputar pada porosnya. Alina baru sadar dari pingsannya yang sejak semalaman tidak sadarkan diri. Perlahan-lahan dirinya membuka mata sambil bertanya dalam hatinya, apa yang terjadi? Dimana aku??. Heran keberadaannya yang tidak mengenal kamar yang di tidurinnya itu di tambah pakaian yang di kenakannya sudah berganti dengan pakaian yang lebih menarik. Perlahan-lahan Alina mengingat kejadian semalam sampai dirinya tidak sadarkan diri. Sesaat Alina mulai teringat dengan kejadian saat dirinya dibawah anak buah lintenir ke bar. Spontan Alina langsung bangkin dari tempat tidur. Perasaan takut mulai menyelimutin dirinya lagi. Alina pun memutuskan keluar dari kamar untuk menjawab semua pertanyaan di benaknya. Alina keluar dari kamar dan melihat seorang pria yang menolongnya kemarin sedang menikmatin sarapan di meja makan, “permisih…” Alina mencoba untuk menyapa.
Rudi menolek, “kau sudah bangun? Ayo kita sarapan?” ajaknya.
“Kau?”.
“Aku Rudi sahabat Kay,” Rudi memperkenalkan diri dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Alina hanya diam menanggapin Rudi yang memperkenalkan dirinya.
Rudi berdiri, “kemarin saat aku menolongmu Kay yang menelpon. Kay bilang dia seperti merasakan kau sedang kesusahan karena itu dia menyuruhku untuk menjagamu,” penjelasan Rudi, “dan kebetulan sekali kita bertemu. Sepertinya bantin kalian sudah bersatu sampai Kay tahu kau membutuhkan pertolongan”.
“Kau belum cerita apa-apa pada Kay kan?”.
“Belum”.
“Aku mohon jangan cerita apa-apa pada Kay,” mohon Alina yang tidak ingin Kay kuatir.
Rudi mengalihkan pembicaraan, “nanti malam Kay tiba”.
“Kau tidak akan mengatakannya kan?” Alina yang tidak terpancing dengan alihan pertanyaan Rudi.
Rudi diam tidak menjawab apa-apa.
***
Bob mengantar Nisa pulang ke kosannya. “Semalam Alina tidak masuk lagi,” keluh Nisa sambil melihat reaksi yang akan ditunjukkan Bob saat dirinya berkata seperti itu.
“Mungkin dia lagi ada urusan,” Bob yang tidak terlalu menanggapin perkataan Nisa. Dia terus terkosen dengan setir mobilnya yang akan diarahkan mobilnya ke kosan Nisa.
“Kau tidak kuatir?” pancing Nisa.
Bob menolek, “kau ingin aku kuatir?”.
Nisa membuang muka.
Bob tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan Nisa.
“Kenapa tersenyum? Memang ada yang lucu?”.
“Kau yang membuatku tersenyum”.
“Apa! Memang aku boneka!”.
Bob semakin lebar tersenyum.
Walaupun kesal Nisa senang melihat Bob tersenyum karena dirinya. Itu satu kebagaan yang tidak bisa dilupakannya.
***
“Apa kakak akan pulang?” tanya Ceri pada Sarani yang akan mengantarnya ke sekolah.
“Mungkin,” jawab Sarani yang tidak pastih.
“Kok mungkin”.
“Alina pastih kembali”.
Ceri puas dengan jawaban Sarani, “benarkah”.
“Masuklah,” perintah Sarani.
“Baiklah,” Ceri pun segera akan masuk ke dalam perkarangan sekolah namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya dari arah tak jauh Sarani berdiri.
“Ceri…” panggil Alina yang segaja datang ke sekolah Ceri.
Ceri dan Sarani menolek. “Kakak…” Ceri berlari mendekatin Alina dan langsung memeluknya, “Kakak…”.
Alina membalas pelukkan Ceri, “maafkan aku”.
“Kakak tidak akan pergi kan?”.
Alina tidak menjawab dia hanya tersenyum.
“Kakak tidak akan pergi kan?” Ceri bertanya lagi.
Tiba-tiba terdenggar suara lonceng sekolah yang berbunyi beberapa kali tanda pelajaran akan di mulai. “Masuklah, lonceng sudah bunyi,” kata Alina legah dengan  tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ceri.
“Iya Kak. Tapi Kakak tidak kemana-manakan?” Ceri terus bertanya.
Sarani yang melihat Alina bingung menjawab pertanyaan Ceri. Dia pun mencoba menjawab, “Kakakmu tidak akan kemana?” Sarani menyakinkan Ceri.
“Benarkah?”.
“Iya. Masuk sana”.
“Baiklah, dahhh…” Ceri pun berlari masuk ke dalam sekolah.
“Trimah kasih,” kata Alina yang merasa Sarani sudah membantunya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ceri padanya.
“Ayo kita pulang,” ajak Sarani. Alina mengikutin  Sarani pulang ke rumah. Mereka berjalan berdua menuju rumah yang tidak begitu jauh dari sekolah. Sarani mencoba membuka obrolan, “kau tadi kenapa tidak menjawab pertanyaan Ceri?” tanyanya sambil berjalan.
Alina diam.
“Apa kau serius akan pergi?”.
“Kay mengajakku menetap di Amerika”.
Sarani diam sejenak, “dia melamarmu?”.
“Kay ingin menikah denganku dan mempunyai anak dariku”.
“Itu tandanya dia melamarmu,” Sarani yang ikut bahagia, “apa kau sudah memberi jawaban?”.
“Belum”.
“Kenapa?”.
Alina diam.
“Apa karena Ceri dan  Budi?”.
“Ya”.
“Wajar kau ragu. Siapapun akan terganggu dengan kehadiran mereka berdua, terutama Ayah tirimu,” Sarani yang mengerti perasaan Alina saat ini.
Alina tidak menjawab, dia hanya memperhatikan Sarani yang menujukkan perhatian dengannya, “trimah kasih”.
“Untuk apa?” bingung Sarani.
“Untuk semuanya”.
“Kau ini,” malu Sarani. Tiba-tiba terdenggar suara hp berbunyi. “Hpmu bunyi”.
Alina langsung mengangkat hpnya yang masih berbunyi, “halo…” lalu mendenggarkan apa yang dikatakan si penelpon padanya, “baiklah. A… aku akan datang,” Alina yang tampak gugup.
Sarani yang melihat Alina nampak kebingungan setelah menerima telpon lalu bertanya, “dari siapa?”.
Alina menatap Sarani, “Ayah Kay. Dia ingin bertemu denganku”.
“Kenapa kau tidak bersemangat? Seharusnya kau semangat bertemu dengan calon mertuamu,” goda Sarani.
Alina hanya tersenyum menutupin apa yang  terjadi bahwa sebenarnya Ayah Kay tidak menyukain dirinya.
***
Dibandara Sukarno-Hatta Kay keluar dari bandara dengan mengenakan jaket hitam dan kaca mata hitam. Dia menyambut gembira dirinya yang telah tiba di bandara Jakarta. Kay menepatin janjinya pada Alina bahwa dirinya akan kembali untuknya. Awalnya Kay mau menghubungin Alina namun terhenti saat teringat kata-kata Alina, “aku tunggu, aku akan tunggu disini”. Kay tersenyum saat teringat kata-kata itu, “baiklah. Aku yang akan menunggumu,” lalu meninggalkan bandara menggunakan taxi yang  kebetulan lewat di bandara.
***
Adriel segaja menemuin Gilda di rumahnya. Gilda yang kurang enak badan tampak terhibur dengan kehadiran Adriel. “Aku senang kau datang,” katanya.
“Kau sakit?” tanya Adriel melihat Gilda memakai pakaian tebal.
Gilda hanya tersenyum.
“Apa perluh kita ke dokter?”.
“Tidak. Aku sudah minum obat”.
“Kau harus jagah kesehatan”.
Gilda senang melihat perhatian yang ditunjukkan Adriel padanya. Namun itu hanya sesaat ketika dirinya teringat dengan masa lalu, “maafkan aku yach…”.
“Untuk apa?”.
“Mungkin jika aku menolak pernikahan itu kau tidak akan meninggalkannya”.
Adriel mengerti maksud perkataan Gilda padanya, “itu sudah berlalu, aku tidak ingin mengingatnya kembali,” menarik nafas panjang, “sekarang aku hanya ingin menjalanin hidupku yang sekarang”.
“Kau memang tidak pernah berubah”.
“Apa kau akan menjalanin kehidupanmu ini trus?”.
Gilda mulai memikirkan perkataan Adriel. Adriel benar dia harus mulai menjalanin hidupnya yang sekarang, jangan menyia-yiakan hidup dengan melakukan yang tidak berguna.
***
Alina segera datang ke lestoran Hotel Ratu tempat dimana Ayah ingin bertemu dengannya. Kedatangannya disambut dingin oleh Ayah yang masih tidak menyukainnya di tambah keputusan Alina untuk kembali bersatu dengan Kay. “Soreh om…” sapa Alina yang masih bersikaf ramah pada Ayah.
“Duduklah,” perintah Ayah.
Alina duduk.
Suasana terhening sejenak, “kau tahu kenapa aku ingin bertemu denganmu??”.
“Ya,” Alina yang mengetahuin kenapa Ayah mau bertemu dengannya, “maafkan aku. Aku tidak bisa melepaskan Kay”.
“Apa katamu?!” Ayah yang tampak marah dengan jawaban yang diberikan Alina.
“Maafkan aku, aku tidak bisa melepaskan Kay,” Alina mengulang kata-katanya lagi.
“Aku akan menghapus nama Kay sebagai pewarisku dan Kay akan kehilangan segalanya!!” ancam Ayah.
Alina diam, dia tidak ingin Kay kehilangan apa yang harus menjadi haknya karena dirinya.
Ayah yang melihat Alina diam mulai berpiki jelek tentangnya, “kenapa kau diam?! Kau tidak ingin hidup susah!!”.
Alina tersenyum, “mungkin tuan benar, aku takut hidup susah. Karena takut aku  berkali-kali melakukan bunuh diri. Tuan benar, aku tidak ingin hidup susah,” dengan mata berkaca-kaca, “tapi aku sudah menjalaninnya selama ini,” diam sejenak, “tapi aku sudah mendapatkan satu pelajaran dari seseorang,” mengingat perkataan Ibu Sari padanya, “aku tidak ingin sia-siakan hidupku lagi. Aku tidak ingin melakukan itu lagi”.
Walaupun sebenarnya Ayah mulai terharum dengan kata-kata yang diucapkan Alina tapi Ayah masih menujukkan keras kepalanya, “kau ingin mengajarinku!!”.
“Maafkan aku, aku gak bermaksud mengajarin tuan. Aku hanya ingin katakan bahwa aku siap hidup susah bersama Kay”.
“Apa katamu!!”.
“Aku tidak akan melepaskan Kay sampai Kay sendiri yang melepaskanku”.
“Kau…!!” marah Ayah.
“Maafkan aku”.
“Aku tidak akan pernah merestuin kalian!!”.
Alina diam  terkejut dengan peryataan yang dilontarkan Ayah padanya, “maafkan aku,” yang berusaha tidak menanggis dihadapan orang tua dari pria yang dicintainnya itu.
***
Setelah pertemuannya dengan Ayah, Alina memutuskan ke taman untuk melepaskan kesedihannya. Air mata sekali-kali jatuh membasin pipinya saat teringat kata-kata Ayah padanya, “Aku tidak akan pernah merestuin kalian!!”. Kata-kata Ayah itu membuat Alina mulai berpikir kembali hubungannya dengan Kay. Disisi lain dia tidak ingin kehilangan Kay namun disisi lain dia tidak ingin Kay kehilangan segalanya karena dirinya.
Tanpa disadarinya Kay sudah menantinya dari kejauhan. Namun belum disadarinnya, tapi saat mereka mulai dekat Alina baru menyadarin kehadiran Kay. “Kay…” yang sangat bahagia bisa bertemu dengan Kay lagi.
“Alina,” sama seperti Alina, Kay pun sangat bahagia bisa bertemu dengan Alina lagi.
Alina langsung berlari mendekati Kay dan langsung memeluknya, “Kay…” menanggis di pelukkan Kay.
Kay membalas pelukkan Alina, “aku sangat merindukanmu”.
“Kay…”.
Kay menatap Alina, “kenapa kau menanggis?” Kay yang merasakan kesedihan di mata Alina.
“Ini tangisan kebahagiaan,” alasan Alina menutupin semua yang terjadi.
“Aku senang kau bahagia,” lalu memeluk Alina kembali.  
***
Gilda mengantar Adriel sampai di depan mobil, “trimah kasih sudah mau mengujunginku”.
“Ya”.
“Aku sudah memikirkan apa yang akan aku lakukan besok”.
“Apa itu yang terbaik?”.
“Aku harap”.
“Baiklah. Sampai besok,” lalu masuk ke dalam mobil.
Gilda mengentuk jendela mobil.
Adriel langsung membukanya, “ada apa?”.
“Apa besok kita bisa bertemu lagi”.
“Ya”.
“Dahhh…” Gilda melambaikan tangan pada Adriel.
“Dahhh…” Adriel pun pergi. Setelah cukup jauh Adriel pergi barulah Gilda kembali masuk ke dalam rumah.
***
“Apa kau akan kembali lagi ke Amerika?” tanya Alina.
“Ya. Mungkin tiga hari lagi aku akan berangkat. Kenapa?”.
“Apa aku boleh ikut?”.
“Apa!” Kay yang tidak percaya Alina mengatakan itu, “kau bisa mengatakannya lagi?”.
“Aku ingin ikut denganmu”.
Kay langsung memeluk Alina, “aku senang mendenggarnya”.
“Tapi…”.
Kay melepaskan pelukkannya, “ada apa?”.
“Apa Ceri boleh ikut? Aku gak mungkin meninggalkannya”.
“tanpa kau mengatakannya pun aku akan mengajaknya”.
Alina sangat senang. Semua yang ditakutinnya selama ini salah, “trimah kasih Kay”.
“Aku mencintainmu Alina dan aku pastihkan aku akan membuatmu bahagia”.
“Kau sudah membuatku bahagia Kay. Kau sudah lakukan itu”. Mereka berpelukkan kembali. “Kay…”.
“Iya,” yang masih tidak melepaskan pelukkannya.
“Apakah kau akan menyalahkanku atas apa yang akan terjadi padamu?”.
Kay menatap Alina, “apa maksudmu?”.
“Kau tahu kan Ayahmu tidak menyukainku”.
Kay mulai mengerti maksud perkataan alina, “sebelum kita bertemu pun aku tidak pernah mengharapkan semua harta itu. Dan saat kita bertemu hanya satu hal yang sangat aku harapkan”.
“Apa itu?”.
“Kau”.
Alina tersenyum mendenggarnya.
“Aku lebih menikmatin pekerjaanku sebagai pengacara dibandingkan sebagai presdir sebuah perusahaan. Menurutmu kau lebih suka menjadi istri pengacara atau istri pengusaha?”.
“Aku hanya ingin menjadi istri dari orang apa adanya”.
“Jadi itu bukan aku?” canda Kay.
“Mungkin juga”.
“Jadi ada pria lain?”.
Pura-pura berpikir, “gimananya??”.
“Hahhh… kau ini”.
Alina memeluk Kay kembali.

Kay mengantar Alina ke supermarket menggunakan mobilnya. “Apa setelah kita menikah aku masih boleh bekerja?” tanya Alina.
“Apa kau akan selamanya  bekerja di supermarket?”  tanya Kay balik.
“Kenapa tidak”.
“Kenapa kau tidak pernah memikirkan untuk membuka supermarket?”.
“Karena aku tahu aku tidak punya uang”.
“Kau pikir calon suamimu ini tidak sanggup membukakanmu supermarket?”.
“Selain uang orang tuamu apakah kau masih punya uang untuk membukakan supermarket untukku?” canda Alina.
“Kau pikir aku mengharapkan harta orang tuaku”.
“Itu sudah kau katakana padaku”.
“Hahhh… tenyata kau tidak percaya padaku”.
Alina menahan tawanya, “sedikit”.
“Alina!”.
Alina tidak bisa menahan tertawanya lagi, “hahaha… iya iya aku percaya. Aku hanya bercaya. Aku selalu percaya padamu”.
“Aku senang mendenggarnya”.
“Aku kerja dulu. Dahhh…” lalu keluar dari mobil.
“Dahhh…” lalu Kay kembali menjalanin kendaraan roda empatnya kearah apartemennya.
Setelah cukup jauh Kay pergi barulah Alina masuk ke dalam supermarket. Alina langsung ke tempat kasir.  Satu persatu Alina melayanin pembeli yang akan membayar barang belanjaan mereka.
Nisa mendekatin Alina, “tambah dekat aja,” goda Nisa.
Alina hanya tersenyum mengerti maksud perkataan sahabatnya itu, “mungkin besok aku terakhir bekerja”.
“Kenapa? Apa Kay menyuruhmu untuk berhenti?”.
“Tidak. Aku akan ikut Kay ke Amerika”.
“Apa”.
“Aku akan menikah dengan Kay”.
“Dia melamarmu?”.
Alina mengangguk.
Nisa langsung memeluk Alina, “selamat…” senang Nisa mendenggarnya.
“Diam…” Alina menutup mulut Nisa, “kau bisa diam gak sih…” malu Alina.
“Pokoknya aku bahagia,” Nisa yang tidak penduli pada Alina yang sudah sangat malu dengan tingkahnya.
***
Kay kembali ke apartemen. Dilihatnya Ibu  sudah tidur terlelap di atas tempat tidur. Dibenarkannya selimut di tubuh Ibunya lalu kemudian keluar dari kamar dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Kemudian menutup matanya dan tak lama kemudian terlelap.
***

Ibu Sari bangun dari tidur lelapnya. Dilihatnya putranya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. “Kau sudah kembali sayang?” kanget melihat kehadiran Kay, “jam berapa kau pulang?”.
“Semalam bu. Aku melihat Ibu tertidur lelap dan aku tidak ingin membangunkannya,” jawab Kay.
Ibu duduk, “Ibu pikir kau tidak akan kembali”.
“Aku sudah berjanji pada seseorang Bu”.
“Apa itu Alina?”.
“Ya Bu”.
Ibu Sari tersenyum, “kapan kau melamarnya?”.
“Aku sudah melamarnya Bu”.
“Lalu?”.
“Alina menerimahnya. Dan aku akan membawahnya ke Amerika”.
Ibu Sari ikut senang mendenggarnya, “benarkah”.
“Hari ini aku rencana mau menemuin orang tuanya”.
“Semoga sukses sayang,” Ibu Sari memberi semangat pada putranya.
“Trimah kasih Bu”
***
Adriel melihat Ibu sedang menikmatin sarapan di meja makan. “Pagi Bu,” sapa Adriel sambil duduk untuk segera menikmatin sarapan.
Ibu segaja tidak menjawab sapaan Adriel.
Adriel membuka bahan pembicaraan, “aku sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah kita Bu”.
“Kau akan pindah?” tanya Ibu.
“Kita yang akan pindah Bu”.
“Aku tidak akan pergi kemana-mana!”.
“Ibu!”.
“Jika kau ingin pergi, pergi saja sendiri!”.
“Aku tidak akan pergi jika Ibu tidak ikut!” tegas Adriel.
“Aku akan tinggal selamanya disini! tidak akan kubiarkan seorang pun mengambil posisiku dirumahku ini!!” tekat Ibu.
Adriel berdiri, “aku pastihkan Ibu akan ikut denganku!” lalu pergi.
“Dasar anak kurang ajar!!” marah Ibu pada Adriel yang sudah berani melawan dirinya.
***
Nisa menceritakan apa yang dikatakan Alina semalam pada Bob saat dirinya antar pulang. “Baguslah mereka akan menikah,” Bob yang menanggapinnya biasa saja.
“Apa kau kecewa?” tanya Nisa.
“Kenapa aku harus kecewa?”.
“Ya... gimananya…”.
Bob tersenyum, “aku malah berpikir untuk menikah denganmu”.
“Hahhh… kau pikir aku mau?!”.
“Memang kau tidak mau?”.
Nisa mencoba jual mahal, “tidak”.
“Hahaha… jangan bercanda”.
“Aku harus berpikir 100 kali untuk menikah denganmu”.
“Jangan bercanda”.
“Ya iyalah”.
“Hahhh… kau mulai jual mahal”.
Nisa tersenyum lebar, “harus…”.
“Hahhh… kau ini…”.
***
“Kau mau kemana?” tanya Sarani pada Pak Budi yang bersiap-siap untuk pergi.
“Aku akan segera pulang”.
“Bisakah kau merubah sikafmu untuk beberapa hari ini,” mohon Sarani.
“Apa maksudmu?” Pak Budi yang tidak mengerti maksud perkataan Sarani.
“Seorang pria melamar Alina. Dan beberapa hari lagi mereka akan berangkat ke Amerika. Mereka akan menikah disana,” diam sejenak, “bersikaflah baik selama sisa waktu Alina ada disini, mungkin dengan itu Alina tidak membawa kebenciannya padamu”.
“Apa dia pria baik-baik?”.
“Apa menurutmu dia sepertimu? Aku rasa Alina tidak mungkin mencari pria sepertimu”.
“Kau benar. Aku akan berusaha bersikaf baik”.
“Baguslah”.
***
Kay menemuin Rudi di Hotel Larisa. Kedatangannya disambut hangat oleh Rudi yang sudah menanti kedatangannya yang sebelumnya Kay sudah memberitahu Rudi atas kedatangannya. “Akhirnya kau datang juga,” Rudi yang sangat senang melihat Kay.
Kay hanya tersenyum sambil duduk, “sepertinya kau sedang sibuk,” melihat beberapa file diatas meja kerja Rudi.
“Hanya beberapa file yang harus ditanda tanganin”.
“Kau sekarang sudah menjadi pengusaha yang hebat,” puji Kay.
“Kau juga sekarang menjadi pengacara yang hebat,” Rudi balik memuji.
“Hahaha…” Kay tertawa sambil memperhatikan Rudi, “apa ada masalah?” melihat sikaf Rudi yang sangat berbeda.
“Ya”.
“Apa?”.
Rudi terdiam sejenak untuk memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada Kay, “apa Alina tidak cerita apa-apa?”.
“Tidak. Apa ada yang terjadi pada Alina?”.
“Kemarin Alina hampir di culik”.
“Diculik?” Kay sangat terkejut mendenggarnya. Kay teringat dirinya pernah menolong Alina saat di kejar beberapa pria.
“Dan…”.
“Ada apa?”.
“Kemarin Alina menemuin Ayahmu”.
“Apa!”.
Rudi yang melihat Kay yang tidak tahu apa-apa membuat dirinya  heran, “sepertinya wanita yang kau cintain itu suka sekali memedam kesedihannya”.
Kay menatap Rudi, “kau benar,” Kay yang tidak membantah pendapat Rudi tentang Alina.
***
Ibu Sari mencari alamat tempat Alina sekarang tinggal yang sebelumnya dimintaknya pada Kay. Sudah hampir 3 jam lebih Ibu Sari mencari tempat Alina namun belum mendapatkan alamat yang ditujuh. “Dimana sih…” Ibu Sari yang putus asa.
“Bisa saya bantu?” tanya Sarani yang kebetulan melintas.
Ibu menolek.
“Kau sepertinya sedang mencari alamat? Mau aku bantu?”.
“Ya”.
***
Alina pulang bersama Ceri. Dia tampak kanget melihat Ibu Sari berada di tempat tinggalnya sekarang, “tante…”.
“Tante…” Ceri langsung memeluk Ibu Sari.
“Kau masih kecil-kecil juga,” canda Ibu Sari lalu menatap Alina, “kau pastih tidak merawat kulitmu,” yang melihat wajah Alina yang tidak terawatt.
“Maafkan aku”.
“Kau ini gak bisa dibilangin!”.
Alina bahagia bisa bertemu dengan Ibu Sari walaupun sekarang dirinya sedang marah padanya.

Ibu Sari dan Alina ke taman. “Apa kalian sering bertemu disini?” tanya Ibu Sari pada Alina.
“Iya”.
“Apa Kay juga melamarmu disini?”.
“Iya”.
“Sudah berapa kali kau bertemu dengan Ayah Kay?”.
“Dua kali”.
“Apa dia tetap besikeras?”.
“Iya”.
“Dan kau akan tetap bertahan?”.
“Iya”.
Ibu Sari senang mendenggar jawaban dari Alina, “suatu saat nanti kau pastih bisa membuat hatinya luluh”.
“Aku juga mengharapkannya”.
***
Ayah sedang bersama Adriel di ruangannya. Mereka sedang membahas untuk mengembangkan perusahaan agar lebih berkembang lagi. Proposal yang diajukan Adriel disambut gembira oleh Ayah, “aku serahkan semua ini padamu,” memberikan kepercayaan penuh pada Adriel.
“Trimah kasih Ayah”.
Ayah melihat kesendirian Adriel selama ini, “apa kau tidak berniat menikah lagi?”.
Adriel hanya tersenyum menanggapin perkataan Ayah.
“Apa perluh Ayah membantumu mencari jodoh?”.
“Tidak perluh Yah”.
“Jadi kau sudah mendapatkan pilihan”.
Adriel diam sejenak, “mungkin”.
“Jawabanmu tidak pastih”.
Adriel masih tersenyum.
Tiba-tiba pintu ruangan Ayah terbuka, “maaf menganggu kalian,” kata Kay yang segaja tidak mengetuk pintu.
“Apa setelah kau berhubungan dengan wanita itu kau tidak punya tata krama lagi?!” sindir Ayah.
“Ayah yang membuat aku seperti ini”.
“Apa maksudmu?!”.
“Aku harap bukan Ayah yang berniat menculik Alina!”.
“Apa katamu!!” Ayah yang tidak terimah dituduh.
“Aku akan menikahin Alina di Amerika. Setuju tidaknya Ayah aku tetap dengan keputusanku. Dan ku harap Ayah tidak menganggu Alina lagi”.
“Baiklah! Aku akan menghapus namamu sebagai pewarisku, dan kau bukan putraku lagi!”.
“Permisih…” Kay pergi meninggalkan ruangan.
Adriel yang sejak tadi hanya mendenggar perkataan antara anak dan Ayah tanpa puas dengan keputusan yang dibuat Kay.
“Memang apa hebatnya wanita itu sampai dia berani melawanku!!?” marah Ayah.

Kay mendapatkan telpon dari Gilda saat mau masuk ke dalam mobil, “halo…”.
“Aku ingin bertemu,” kata Gilda.
“Aku tak bisa”.
“Aku mohon… anggaplah ini terakhir kalinya kita bertemu. Aku hanya ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya setelah aku akan mencoba untuk melupakanmu”.
Kay diam sejenak, “baiklah”.
“Aku tunggu di tempat yang biasa dulu kita datangin”.
“Baiklah,” Kay menutup telponnya.

Kay menemuin Gilda di lestoran yang dulu mereka sering datangin saat masih bersama dulu. Kedatangan Kay disambut dengan senyuman hangat oleh Gilda, “akhirnya kau datang juga”.
Kay duduk.
“Apa kau ingat? Disini kita selalu menghabiskan waktu bersama,” mengingat masa lalu, “tempat ini tidak ada perubahan sedikitpun dan aku harap tidak akan berubah selamanya”.
 “Apa yang ingin kau bicara?” yang tak mau lama-lama bersama Gilda.
“Apa sebenci itu kau denganku?”.
Kay diam.
“Aku tahu aku salah. Dan aku tahu kesalahku”.
Kay masih diam.
“Aku akan mencoba melupakanmu dan menjalanin hidupku yang baru”.
“Aku senang mendenggarnya”.
“Dulu aku pernah merebut Adriel dari seorang wanita yang tidak ingin aku ingat. Semakin aku mengingat wanita itu semakin aku merasa bersalah dengannya. Dan akupun memutuskan bercerai,” cerita Gilda, “awalnya aku tidak ingin melepaskanmu. Tapi saat aku tahu wanita itu adalah Alina, rasa bersalah itu timbul lagi. Dan aku pastih sangat merasa bersalah jika merebut kekasihnya lagi”.
Kay mengerti maksud perkataan Gilda.
“Waktu itu aku menemuinnya, dan aku memintahnya  untuk melepaskanmu. Saat dia besikeras mempertahankanmu, aku sangat marah dan sangat membencinya”.
“Kau menemuin Alina?” Kay yang tidak tahu apa-apa.
“Maafkan aku. Aku bingung harus melakukan apa lagi,” Gilda menaggis.
***
Adriel kembali kerumah, namun saat di dalam rumah Adriel dikejutkan dengan suara Ibu yang sangat keras saat sedang menerima telpon.
“Kalian harus habisin dia!! Aku tidak ingin kalian gagal lagi!!” perintah Ibu pada anak buahnya melaluin telpon. Setelah mendenggar jawaban dari anak buahnya Ibu menutup telponnya.
“Siapa yang ingin Ibu celakakan?” curiga Adriel.
Ibu sangat terkejut dengan kehadiran putranya, “itu bukan urusanmu!!”.
“Apa itu Alina?”.
“Itu bukan urusanmu!!”.
“Jadi Ibu dalang dari penculikkan itu,” Adriel yang tidak percaya dengan kenyataan yang sebenarnya.
Ibu hanya diam.
“Apa Ibu sudah gila!!!” marah Adriel.
“Adriel!!!” Ibu yang tidak terimah dengan kata-kata Adriel.
“Aku akan hentikan semua kejahatan Ibu!!”.
“Kau ingin laporkan Ibu ke polisi!!!”.
“Jika itu yang terbaik!!”.
“Kau…” Ibu yang hampir menampar Adriel.
“Silakan tampar Bu! Tapi aku tidak akan hentikan niatku!” Adriel berusaha menenangkan dirinya, “aku tidak akan melaporkan perbuatan Ibu jika Ibu menurutin keinginanku”.
“Apa maksudmu?”.
“Ibu tidak akan memintah sepeserpun dari Ayah setelah kalian bercerai”.
“Apa!”.
“Dan Ibu ikut denganku pindah”.
“Adriel!!!”.
“Tidak ada jalan lain selain Ibu menurutin keinginanku!”.
***
“Sudah malam,” kata Ibu Sari melihat langit sudah berganti warna dengan warna hitam.
“Iya”.
“Ayo kita pulang,” ajak Ibu.
“Aku ingin disini dulu tan”.
“Baiklah. Dahhh…” Ibu Sari pergi meninggalkan Alina sendiri di taman.

Tiga jam pun berlalu, Alina masih menyendiri ditaman. Ditatapnya bintang-bintang yang bertaburan di langit. Tiba-tiba hpnya berbunyi, tenyata Kay yang meenelponnya. Alina mengangkat telpon dari Kay, “halo… kau dimana?” tanya Alina.
“Aku sedang memperhatikanmu,” jawab Kay.
Alina tertawa, “jangan bercanda”.
“Aku serius. Aku sedang memperhatikanmu”.
Alina melihat disekitarnya apakah Kay tidak membohonginnya, “kau bohong”.
Kay muncul dari balik pohon yang tak jauh darinya, “aku tidak bohong,” yang masih menelpon Alina walaupun jarak mereka tidak jauh.
Alina hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Kay, “kau terlihat aneh”.
Kay mendekatin Alina, “aku ingin melihatmu saat aku tidak berada di dekatmu”.
“Kau kenapa?” Alina yang merasak kesedihan dari mata Kay.
“Aku ingin kau memberitahu semua yang kau lakukan. Baik itu sedang makan, melakukan apapun, bertemu dengan seseorang dan apapun yang kalian bicarakan, aku ingin tahu semuanya. Aku tidak ingin kau menyimpan semua itu sendiri”.
“Baiklah”.
Kay memeluk Alina.

Kay mengantar Alina ke supermarket. “Aku sudah menyuruh orang untuk mengurus keperluanmu dan Ceri dan lusa kita akan berangkat”.
“Apakah Ibumu akan ikut juga?”.
“Iya. Ibu akan mengurus pernikahan kita disana,” Kay memperhatikan kesedihan di wajah Alina, “apa  ada masalah lain?”.
“Tidak. Aku hanya memikirkan nasif Ayah tiriku jika aku tidak ada”.
“Kalau kau mau kita bisa mengajaknya”.
“Tidak usah. Aku tidak berniat mengajaknya. Aku tidak ingin kau dipermalukan disana”.
Suasana terhening sejenak, “apa kau tidak pernah  memikirkan kenapa dia melakukan itu semua?”.
“Aku tidak mau memikirkannya”.
“Kau harus memikirkannya. Mungkin dia melakukan itu sebagai pelampiasannya saja”.
“Sebelum dia menikah dengan Ibuku pun dia sudah main judi. Ibu dan kakakku meninggal karena dirinya”.
“Cobalah untuk tidak menyalahkannya”.
Alina diam.
“Sifat buruk seseorang itu bisa kita rubah jika kita merubahnya perlahan-lahan”.
“Kau mengatakan itu karena kau tidak pernah menghadapin orang  seperti itu”.
“Aku punya teman yang bisa membuat Ayahmu berubah”.
“Maksudmu siapa?”.
“Kau sudah mengenalnya”.
“Siapa?”.
***

Keesokannya Kay mengajak Alina bertemu dengan Rudi di Hotel Larisa.  Kedatangan mereka disambut hangat, “silakan duduk, kalian mau minum?” basa-basi Rudi.
“Tidak usah,” kata Kay sambil duduk. Alina ikut duduk. “Aku memerlukan bantuanmu,” Kay yang langsung tujuannya.
“Apa kau tidak bosan memintah bantuanku?”.
“kali ini hanya kau yang bisa membantuku”.
“Maksudmu?” Rudi tampak kebingungan.
***
Sebuah rumah yang tidak begitu besar berkumpul orang-orang yang selalu menghabiskan waktu dan uang di meja judi. Tak banyak dari mereka yang habis total di meja judi namun selalu kembali untuk melihat nasif mereka di meja judi.
Sama saja dengan yang dilakukan Pak Budi. Sudah berulang kali Pak Budi kalah dalam permainan ini, sudah tidak teritung lagi uang yang habis di meja judi tapi tetap saja Pak Budi kembali lagi dan kembali lagi. Dia trus mencoba dan mencoba dan berharap bisa menang namun itu hanya sia-sia belakang.
Dari kemarin Pak Budi tidak pulang-pulang. Dia menghabiskan waktunya di meja judi bersama teman-temannya.
“Kau kalah lagi hahaha…” salah satu mereka mengejek Pak Budi yang selalu kalah bermain.
“Aku pinjam uangmu,” kata Pak Budi.
“Bagaimana cara kau membayarnya?”.
“Aku pastih membayar utang-utangku!”.
“Hahaha… jangan bercanda. Kau pengangguran Budi. Kecuali  anak tirimu tidur denganku semalam”.
“Apa katamu!!!” Pak Budi tidak terimah dengan kata-kata pria itu.
“Kalau tidak mau, ya sudah…” kata pria itu lalu pergi membawa uang-uangnya.
 Pak Budi yang tidak terimah lalu mengambil botol sisa minuman keras. Dipukulnya kepala pria itu menggunakan botol yang diambilnya berkali-kali sampai pria itu jatuh di lantai tidak sadarkan diri. Pria itu terkapar lemas di lantai dengan kepala mengeluarkan darah segar.
Semua orang yang berada di tempa itut  melihat kejadian yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Diantara mereka segera melapor kejadian ini ke polisi.
***
“Kau gila! Aku sudah lama tidak terjun ke dunia itu lagi!” kata Rudi setelah mendenggar perkataan Kay.
“Aku tidak memintahmu untuk kembali terjun ke dunia itu lagi, aku hanya ingin kau membantu Ayah Alina lepas dari dunia itu,” kata Kay.
“Kau memang gila!”.
“Karena aku tahu kau pastih bisa membantuku”.
“Baiklah. Tapi aku tidak bisa janji. Karena semua itu harus ada niat dari orang itu sendiri ingin berubah,” ucap Rudi.
“Trimah kasih,” Ucap Alina pada Rudi.
“Aku nyakin kau bisa,” Kay memberi semangat pada Rudi.
Tiba-tiba Alina mendapatkan telpon dari Sarani, “halo, ada apa?” setelah mendenggarkan apa yang dikatakan Sarani, Alina nampak terkejut, “apa!!”.
“Ada apa?”  tanya Rudi pada Kay yang juga nampak kebingungan melihat Alina menujukkan reaksi terkejut seakan terjadi sesuatu.
***
Ibu Sari menemuin Ayah di Hotel Ratu, “tenyata sudah banyak perubahan selama aku pergi,” katanya yang baru pertama kali ke Hote Ratu ketika dirinya kembali ke Indonesia.
“Duduklah,” Ayah mempersilakan Ibu Sari duduk, “apa yang membuatmu menemuinku?”.
“Aku ingin membahas masalah anak kita”.
“Jika kau menginginkan aku merestuin mereka itu tidak akan aku lakukan,” Ayah yang masih besikeras.
“Aku juga tidak akan memaksamu untuk merestuin mereka, itu hakmu untuk menolak mereka. Aku hanya ingin kau sedikit pengertian dengan Kay. Bagaimana pun juga dia putramu dan satu-satunya anak kandungmu,” sambil melihat permadangan luar hotel dari balik kaca, “aku akan tetap mewariskan bagianku saham perusahaan  dan Hotel pada Kay. Dan aku tidak akan memaksamu itu mengikutin jalanku. Aku hanya ingin kau memikirkannya,” kata Ibu Sari panjang lebar.
Ayah diam.
“Baiklah. Aku sudah selesai bicara. permisih…” Ibu Sari pergi meninggalkan Hotel Ratu.
***
“Kau memang tidak pernah berubah!!” marah Sarani melihat Pak Budi yang tertangkap polisi, “bukannya kau sudah janji!!”.
Pak Budi tidak melawan. Dia tahu kesalahannya sampai membuat Sarani semarah itu padanya.
“Ahhh…!!” Sarani mau memukul Pak Budi namun langsung dihalangin polisi.
“Alina…” Pak Budi tampak terkejut melihat kehadiran Alina di kantor polisi.
Tatapan tajam masih mengarah kearah Pak Budi. Alina tidak bisa mengucapkan apa-apa untuk melepaskan kekesalannya.
Kay dan Rudi mendekatin Alina yang sebelumnya mereka menemuin pihak yang berwenang dalam kasus Pak Budi. “Ayahmu sudah boleh pulang. Dia janji tidak akan menuntun Ayahmu,” kata Kay yang tidak ingin Alina terlalu menguatirkan keadaan Ayah tirinya itu.
Namun Alina tidak menujukkan reaksi apa-apa.
“Aku akan mengantar mereka pulang,” kata Rudi, “ayo om tan…” katanya pada Pak Budi dan Sarani.
Pak Budi tidak berani menatap Alina yang masih menatapnya dengan tatapan tajam. Dia mengikutin Sarani dan Rudi meninggalkan kantor polisi.
“Ayo kita pulang,” ajak Kay.
“Maafkan aku,” Alina yang merasa malu dihadapan Kay.
“Sudahlah. Ayo kita pulang”.
Alina berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar.
***
Setiba di rumah. Sarani dan Pak Budi keluar dari mobil. “trimah kasih,” kata Sarani pada Rudi.
Rudi memberikan kartu nama pada Pak Budi, “datanglah besok ke hotelku”.
Pak Budi mengambil kartu nama yang diberikan Rudi, “untuk apa?”.
“Jika om tidak merasa malu. Di Hotelku ada lowongan satpam yang kosong”.
Perasaan Pak Budi saat ini bercampur aduk antara senang dan bingung. Sudah hampir 8 tahun lebih dirinya menjadi penggangguran dan tidak ada yang menerimahnya bekerja baik itu pekerjaan keras maupun pekerjaan ringan. Sejak kecelakaan yang menimpahnya 8 tahun yang lalu membuat kaki kirinya pincang dan karena itu tidak seorang pun yang menerima dirinya bekerja. Dan karena itu juga Pak Budi melampiaskan kekesalannya selama ini dengan mabuk-mabukkan dan main judi walaupun sebenarnya itu sangat merugikan dirinya sendiri tapi tetap dilakukannya sampai akhirnya dirinya menikah dengan Ibu dari Alina. Sejak pernikahan itu utang-utang Pak Budi selalu dibayar oleh istrinya dan akhirnya harta yang ditinggalkan oleh Ayah kandung Alina habis tidak tersisa sedikitpun.
***
“Rudi pastih bisa merubah kebiasaan Ayah tirimu,” Kay menyakinkan Alina.
“Aku sangat malu denganmu,” ucap Alina.
Kay menghentikan kendaraannya ke tepi jalan, “kenapa kau bicara seperti itu”.
“Aku hanya merasa malu dengan keadaan keluargaku”.
Kay memengan tangan Alina, “aku tidak penduli kebiasaan keluargamu. Aku mencintainmu dan aku harus mengerti bagaimana keluargamu,” yang masih menyakinkan Alina.
“Apa nanti kau juga akan mengatakan itu,” Alina yang takut Kay akan berubah.
“Aku akan buktikan itu”.
“Aku tidak bisa bilang iya atau tidak. Tapi saat ini aku mempercayainmu”.
“Ya… setidaknya kau percaya”.
Alina menciup pipi Kay.
Kay tampak terkejut saat kecupan menempel di pipinya. Dia menatap Alina.
“Salah aku menciummu?”.
“Tidak. Tapi kau hanya salah menepatkan ciumanmu”.
“Maksudnya…??”.
Tanpa basa basi lagi Kay langsung mencium bibi Alina. Dan Alina membiarkan Kay melakukan itu padanya. Cukup lama mereka melapiaskan rasa cinta mereka melaluin ciuman.
***
 

Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar