Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 12

12

“Kita mau kemana Kak?” tanya Ceri yang mengikutin Alina berjalan.
Alina tidak menjawab dia terus  berjalan melewatin pemukiman tempat dulu dirinya tinggal. Ketika cukup jauh berjalan, mereka pun tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana, “sementara kita akan tinggal disini”.
Pintu rumah terbuka, “kalian sudah datang. Ayo masuk…” ajak Sarani yang sebelumnya sudah mendapatkan telpon dari Alina bahwa mereka berdua akan tingga  di rumahnya.
“Iya”. Alina dan Ceri masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Pak Budi sedang tidur-tiduran diatas tikar. Tanpa sebab air mata jatuh membasahin pipi Alina.
Sarani melihat Alina menanggis terasa heran, “kau tidak apa-apa?”.
Alina menghapus air mata dipipinya, “aku tidak apa-apa,” lalu keluar dari rumah dan duduk di teras.
Sarani mendekatin Alina, “apa ada penyebab lain kau memutuskan untuk tinggal disini?”.
Alina diam.
***
Setiba di depan gedung apartemen. Tanpa pikir panjang Kay langsung ke apartemennya. Di dalam apartemen terlihat sangat sepih. Tidak satupun orang yang menyambut kedatangannya  dan itu wajar karena tidak satupun diberitahunya kalau dirinya pulang hari ini. Tapi Kay masih berharap ada seseorang diapartemen. Dicari-carinya di setiap ruangannya namun sia-sia saja. Tidak satupun orang di apartemen. Tapi yang membuat Kay heran bukan karena tidak ada orang di apartemen melainkan pakaian-pakaian yang dulu di beli untuk Alina dan Ceri berserak diatas kasur.
Beberapa saat kemudian terdenggar pintu terbuka. Kay langsung keluar kamar, “Ibu…”.
“Kay…” Ibu Sari tampak kanget melihat Kay kembali.
Kay tidak melihat Ibu bersama Ceri, “apa Ceri bersama Alina?”.
“Mereka sudah pergi??”.
Pertanyaan Ibu Sari membuat Kay bingung, “maksud Ibu?”.
“Ayahmu…”.
“Ayah??”. Kay tahu apa yang maksud dari perkataan Ibu kandungnya itu. Dia tahu ini akan terjadi tapi dia tahu akan terjadi seperti ini akhirnya
***
Alina dan Sarani masih duduk di teras memadangin langit-langit yang penuh dengan taburan bintang. “Tidak masalah jika kau tidak mau cerita. Aku hanya ingin kalian nyaman,” kata Sarani yang tak ingin memaksa kehendaknya.
Alina tersenyum. Tiba-tiba hpnya berbunyi. Alina nampak terkejut melihat  nomor yang menghubunginnya itu dari layar hpnya. Kay…. Ketika mau menjawab telpon dari Kay, Alina teringat dengan kata-kata Ayah padanya, “Aku ingin kau menjauhin putraku!!”.
Alina sangat terkejut. Tanpa disadarinnya air mata membasahin pipinya. Tubuhnya gemetar dan tak bisa berkata apa-apa.
“Aku tidak penduli kau mencintain putraku atau tidak. Aku hanya tidak ingin putraku hancur karena kau!!”.
Perasaan bimbang mulai menyelimutinnya. Dihatinya paling dalam dia sangat ingin menjawab telpon dari Kay  namun terhalang dengan harga dirinya. Berkali-kali telpon bordering namun tetap Alina tidak mau mengangkat telpon dari Kay itu membuat hatinya sangat terluka.
“Kenapa tidak kau angkat?” heran Sarani membiarkan hpnya bordering berkali-kali.
Alina hanya mengeleng dan berusaha untuk tidak menanggis.
***
“Bagaimana?” tanya Ibu Sari pada Kay berkali-kali menelpon Alina.
“Tidak diangkatnya,” Kay yang sudah putus asa. Kay teringat tempat yang biasa Alina datangin, “aku pergi dulu bu…”.
“Mau kemana sayang…?”.
Kay tidak menjawab pertanyaan Ibu Sari, dia langsung pergi meninggalkan apartemen untuk mencari Alina ke tempat biasa Alina datangin sepengetahuannya.
***
Bob keluar dari ruang kerjanya. Dilihatnya di meja kasir bukan Alina maupun Nisa yang menjaga kasir seperti biasanya. Bob mendekatin meja kasir. Dibandingkan bertanya mengapa Alina tidak masuk, Bob malah bertanya mengapa Nisa hari ini tidak masuk, “kenapa Nisa tidak masuk??” tanyanya pada kariawan yang menjaga meja kasir hari ini.
“Katanya sakit bos,” jawab kariawan.
“Sakit? Sakit apa?”.
“Gak tahu bos”.
Ketika mau kembali ke ruang kerjanya, tatapan Bob tertujuh pada pria yang baru masuk ke dalam supermarket yang langsung bertanya pada pengawainya yang menjaga meja kasir.
“Apa Alina ada?” tanya Kay berharap bisa bertemu dengan Alina.
“Alina tidak masuk,” jawab Kariwan.
“Apa kalian tahu dimana Alina sekarang tinggal?”.
“Setahu aku sih rumahnya sudah di jual orang tuanya”.
Kay tanpa kecewa yang tidak mendapatkan informasi apa-apa, “trimah kasih”.
“Apa kita bisa bicara?!” kata Bob.
Kay menolek. Dia tampak bingung melihat pria yang tidak dikenalnya itu mau bicara dengannya, “baiklah,” tapi dia tetap mengiyakannya.

Mereka berdua berbicara sambil berjalan meninggalkan supermarket. Bob mencoba memulai membuka obrolan, “aku senang akhirnya Alina bisa mendapatkan pengganti Adriel. Dan aku harap kau pria yang tepat”.
“Kau bicara seperti itu seakan kau pernah menyukain Alina,” kata Kay.
Bob hanya tersenyum.
“Tenyata benar,” yang sudah mendapatkan jawaban dari ekpresi wajah Bob, “apa aku perluh menganggapmu sebagai saingat?!”.
“Aku rasa tidak perluh. Dari awal aku sudah kalah,” menghentikan langkahnya dan menatap Kay, “tapi jika kau berani menyakitin Alina kau akan berhadapan langsung denganku!!”.
“Apa itu sebuah acaman?”.
“Anggap saja seperti itu”.
“Baiklah. Tapi kali ini… dia mencoba menjauhinku”.
Bob menepuk bahu Kay dengan pelat seakan memberi semangat pada Kay, “aku pergi,” lalu meninggalkan Kay.
Kay sejenak memperhatikan Bob yang berjalan meninggalkannya yang semakin jauh sambil memikirkan perkataan Bob barusan padanya. Kemudian Kay pun memutuskan ke taman kota.

Setiba di taman kota. Dibangku yang sama tempat yang biasa Alina duduk. Tenyata Alina tidak ada.  Kay tampak sudah sangat putus asa  mencari Alina. Tempat ini  satu-satunya yang biasa Alina datangin selain itu dia tidak tahu.
***
Bob mendatangin kosan Nisa namun hanya berdiri di depan gerbang rumah kosan dengan tatapan tertujuh kearah kamar kosan Nisa. Dia tahu mengapa hari ini Nisa tidak masuk kerja itu pastih gara-gara dirinya itu membuat dirinya merasa bersalah.
***

“Mana Kakakmu?” tanya Pak Budi pada Ceri yang sedang menikmatin sarapannya.
“Dia keluar sebentar,” jawab Sarani sambil meletakkan segelas kopi di atas meja yang dibuatnya untuk Pak Budi.
“Apa Alina punya masalah?” kuatir Pak Budi yang melihat Alina semalaman murung.
“Mungkin,” sambil duduk di sebelah Ceri, “mungkin tidak”.
“Maksudmu itu apa?!!”.
“Kau kan Ayahnya, kenapa tidak langsung tanya saja!!”.
“Kau ini!!”.
“Pertengkaran suami istri,” Ceri yang asal bicara.
“Ceri!!” kata Pak Budi yang tenyata mendenggar ucapan Ceri.
“Maaf…”.
Sarani hanya tersenyum menanggapin perkataan Ceri.
***
Alina segaja pergi ke taman untuk menghilangkan kesedihannya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Kay duduk di bangku yang biasa dirinya dudukin, “Kay…”. Rasa rindu mulai menyelimutin Alina yang ingin segera mendekatin Kay namun rasa itu harus ditahannya saat mengingat kata-kata Ayah Kay padanya. Alina menjulurkan tangannya seakan memengang wajah Kay.
Tenyata Kay merasakan kehadiran Alina. Kay menolek kearah Alina tenyata Alina sudah duluan meninggalkan taman tanpa sepengetahuan Kay.
***
“Tok… tok… tok…!!” Ibu Sari yang mendenggar suara ketukan pintu dari luar langsung membuka pintu. “Kau sudah pulang Kay,” yang mengira Kay yang mengetuk pintu tenyata bukan. Gilda yang mengetuk pintu.
“Pagi tan,” Gilda langsung meyapa Ibu Sari.
“Kau…” Ibu Sari yang masih menujukkan sikaf dingin pada Gilda.
“Aku denggar Kay sudah kembali. Aku ingin bertemu dengannya”.
“Kay tidak ada”.
“Tan…”.
“Kau pikir aku bohong!!!”.
“Maafkan aku”.
“Orang yang kau cari tidak ada, pergilah!!” Ibu Sari langsung menutup pintu tanpa membiyarkan Gilda masuk ke dalam.
Sejenak Gilda diam memadangin pintu yang tertutup rapat untuknya setelah itu barulah dirinya meninggalkan apartemen.

Di perkarangan gedung apartemen Gilda dan Kay berpapasan namun mereka tidak saling bertemu satu sama lain. Kay langsung ke apartemennya yang berada di lantai 30 menggunakan jasa lift. Setiba di lantai 30 Kay langsung masuk ke dalam apartemennya.
Ibu Sari yang melihat kedatangan putranya langsung menyambutnya, “kau sudah pulang sayang”.
“Ya,” langsung duduk di sofa.
“Kau tidak apa-apa?” Ibu Sari yang kuatir dengan keadaan putra kandungnya itu.
Kay tidak menjawab.
“Kau belum bertemu dengan Alina?”.
Kay mengeleng.
“Kau sudah mencarinya ke rumah teman atau… saudaranya??”.
Kay diam. Wajah kesedihannya tidak bisa di sembunyikannya di hadapan ibu kandungnya itu, “aku merindukannya Bu,” dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Sari memeluk Kay.
“Aku sangat merindukannya Bu…”.
***
Alina kembali ke rumah Sarani. Dihentikannya langkahnya di depan rumah sambil memadang sekeliling pekarangan rumah yang tidak begitu luas.  Saat ini dirinya menyadarkan dirinya untuk bangun dari mimpi indahnya selama ini. “Kau harus kuat Alina!” kata Alina pada dirinya sendiri.
“Kau sedang apa?” tanya Sarani yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Kedatangan Sarani membuat Alina terkejut, “kau…”.
“Kau pikir siapa?” Sarani menahan tawa melihat Alina yang terkejut.
“Tidak. Kau dari mana?”.
Sarani menujukkan barang belanjaannya.
“Sini aku bantu,” mengambil sebagian barang belanjaan dari tangan Sarani, “kau banyak sekali belanja”.
Sarani hanya tersenyum. Lalu mereka masuk ke dalam rumah.

Tanpa disadarin mereka berdua dari kejauhan Adriel mengamatin Alina yang sekarang dia tahu tinggal dimana. Adriel mulai  diam-diam mempunyai rencana untuk membalas kesalahannya yang lalu pada  Alina.
***
Bob kembali mendatangin kosan Nisa tapi dirinya tidak berani mengetuk pintu kosan. Dia hanya berdiri di depan gerbang rumah kosan dengan tatapan ke kamar kosan Nisa. Cukup lama dia berdiri dan memutuskan untuk segera pergi. Tapi langkahnya terhenti saat Nisa tiba-tiba keluar dan menyadarin kehadirannya.
“Bob...” panggil Nisa.
Bob menolek.
“Kau sedang apa disini?”.
“Aku menguatirkanmu”.
Nisa berusaha tersenyum, “aku tidak suka dibuat-buat. Bersikaflah biasa saja,” Nisa yang tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.
“Maafkan aku”.
“Kau mau apa kesini?”.
“Aku hanya ingin tahu kenapa semalam kau tidak masuk?”.
“Aku kurang enak badan”.
“Apa itu karena aku?”.
“Jangan terlalu berlebihan. Nanti malam aku masuk. Pulanglah”.
“Nisa…”.
“Aku sudah lelah menunggu. Sudah sangat lelah,” Nisa kembali masuk kekamar kosannya.
Bob menarik nafas panjang, dia bingung harus melakukan apa untuk menyakinkan Nisa.
***
Alina membantu Sarani  menyiapkan makan malam di dapur. Sedang asik mengoreng ayam Sarani mencoba membuka obrolan baru, “aku denggar kau pernah kuliah?”.
“Iya,” jawab Alina yang sedang memotong sayuran di meja makan.
“Jurusan apa?”.
“Kedokteran”.
“Apa kau gak berniat untuk melajutkannya lagi?”.
“Tidak”.
“Kenapa?”.
Alina diam.
“Apa karena biaya?”.
Alina masih diam.
“Jika punya biaya, apa kau mau melajutinnya lagi?”.
Kali ini Alina tersenyum, “aku tidak punya uang untuk melajutin kuliah,” jawabnya.
“Apa 20.000.000,- cukup??”.
“Maksudmu?”.
“Hasil jual rumahmu masih tersisa 20.000.000,-. Kalau kau mau kau bisa lajutin kuliahmu”.
“Kau sekarang sudah seperti Ibuku”.
“Kurangnya??” tebak Sarani.
“Iya”.
Sarani nampak kecewa.
“Sudahlah… gak usah dipikirkan. Mungkin Tuhan tidak menginginkanku menjadi dokter,” kata Alina menutupin kesedihannya, “aku buang sampah dulu,” lalu membawa sampah keluar dari rumah. Alina segaja mengalihkan pembicaraan untuk menghindarin membahas kuliahnya yang tertunda sudah cukup lama itu membuatnya membuka kesedihan masa lalunya saat dirinya harus berhenti dari kuliah karena tidak ada biaya lagi untuk kuliah.
Alina membuang sampah di tempat sampah yang telah disediahkan yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. saat mau kembali ke rumah, Alina dikejutkan oleh kehadiran Adriel yang sudah berdiri tak jauh darinya.
“Aku ingin bicara,” kata Adriel.
“Baiklah,” yang berusaha melupakan sakit hatinya pada Adriel, “kita sambil jalan,” Alina mengajak Adriel menjauh rumah tempat tinggalnya saat ini. Adriel mengikutin langkah Alina. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Alina.
“Ayah pria yang baik. Dia tidak bermaksud menyakitinmu,” yang sebelumnya sudah mengetahuin pertemuan antara Ayah tirinya dengan Alina, “aku harap kau tidak membencinya,” kata Adriel yang tidak menginginkan Alina membenci Ayah tirinya itu.
“Aku tidak membencinya. Wajar saja orang tua ingin mendapatkan pasangan yang terbaik untuk anaknya. Sama saat Ibumu menjauhin dirimu dariku,” Alina yang mulai mengukit masa lalu.
“Sampai saat ini kau tetap yang terbaik”.
Alina tersenyum.
“Apa kau sudah memaafkanku?”.
“Aku perlahan-lahan ingin melupakan semua kebencianku padamu”.
“Apa karena Kay?”.
“Mungkin,” yang berusaha untuk menutupin kesedihannya.
“Apa kau sangat mencintainnya?”.
“Ya”.
Adriel terdiam sejenak, “berusahalah untuk memperjuangkan cintamu pada Kay”.
Alina menghentikan langkahnya langsung menatap Adriel, “kau bicara apa,” yang tidak percaya Adriel bisa bicara seperti itu padanya.
“Aku dan Kay sangat berbedah. Kay pastih akan memperjuangkan cintanya padamu, walaupun di tentang oleh orang tuanya. Bukan seperti aku yang selalu melakukan apa diperintahkan orang tuaku,” kata Adriel yang mulai membandingkan dirinya dengan Kay.
Alina diam.
“Kau harus tetap memperjuangkan cintamu”.
“Kau bisa bicara seperti itu karenai kau tidak pernah diposisiku!”.
“Alina”.
“Saat ini aku ingin mencoba melupakan Kay”.
“Alina”.
“Kau saja bisa aku lupakan. Dan… aku juga pastih bisa melupakan perasaanku pada Kay,” Alina yang menguatkan dirinya sendiri.
Adriel hanya menyesalin keputusan Alina.

Tanpa disarain mereka. Ibu yang sedang mengedarain mobil yang  kebetulan melewati daerah itu melihat mereka berdua sedang mengobrol di tepi jalan. Ibu yang tidak tahu apa-apa mulai berpikir antara Adriel dan Alina mulai menjalin hubungan lagi itu membuat Ibu sangat marah. Namun Ibu tidak mendekatin mereka berdua karena Ibu mempunyai rencana yang lebih bagus dibandingkan mendekatin mereka.
***
“Mana Alina?” tanya Pak Budi pada Sarani yang sedang memasak di dapur.
“Buang sampah,” jawab Sarani.
“Ohhh”.
“Kau mau kemana?” tanya Sarani melihat Pak Budi yang bersiap-siap untuk pergi.
“Aku mau cari angin”.
“Hati-hati”.
“Ya,” Pak Budi pun pergi.
***
Kay bertemu dengan Pak Suroyo di lestoran yang sebelumnya mereka tentukan untuk bertemu. “Aku puas melihat kasus putriku yang mulai ada perkembangan,” kata Pak Suroyo yang kagum dengan kinerja kerja Kay, “kau sudah membuktikan kesombonganmu itu”.
“Kali ini aku tidak bisa memastikan kebebasan putri ada pak,” Kay yang mulai berterus teras.
“Maksud kau? Bukannya kau sudah berjanji akan membebaskan putriku!!”.
“Aku bisa membuktikan pada pengadilan putri anda tidak terlibat pembunuhan itu tapi aku tidak bisa membuktikan putri anda tidak terlibat penggunaan narkoba!”.
“Aku tahu itu”.
Kay terkejut dengan kata-kata Pak Suroyo, “maksud anda? anda mengetahuin putri anda menggunakan narkoba?”.
“Ya”.
“Sejak kapan?”.
“Setahun yang lalu”.
“Kenapa anda tidak mencoba menjauhin putri anda dari narkoba?”.
“Karena saat itu aku berpikir dengan cara itu dia bisa melupakan Alm Ibunya,” terdiam sejenak, “tenyata aku salah… aku sudah gagal menjadi orang tua yang baik untuknya”.
Kay diam.
“Apa kau bisa membantu putriku terhindar dari hukuman?”.
“Aku akan coba mengajukan rehablitasi untuk putri anda”.
“Trimah kasih”.
Kay berusaha untuk tersenyum.

Setelah pertemuan antara Kay dan Pak Suroyo selesai. Kay mengantar Pak Suroyo sampai di depan mobil yang sudah menunggu di depan lobi lestoran. Mereka berdua saling bersalaman. “Aku percaya padamu kau pastih bisa membatu putriku,” kata Pak Suroyo.
“Aku akan berusaha”.
“Sampai jumpah lagi,” lalu Pak Suroyo masuk ke dalam mobil.
“Ya”.
Setelah Pak Suroyo pergi tiba-tiba Adriel tiba-tiba muncul, “kau memang pengacara hebat Kay,” puji adriel.
“Kau…??” bingung melihat kehadiran Adriel yang dianggapnya tidak disegaja.
“Aku segaja menemuinmu”.
“Kau ingin mengucapkan trimah kasih,” canda Kay.
Adriel memberikan selebar potongan kertas kecil pada Kay yang berisi alamat, “ini alamat tempat Alina tinggal saat ini”.
Kay langsung mengambil kertas itu.
“Pastihkan kau bisa mempertahankan cintamu,” kata Adriel lalu pergi.
Walaupun masih bingung dari mana Adriel mendapatkan alamat tempat tinggal Alina saat ini semua itu tertutupin rasa rindunya yang ingin segera bertemu dengan Alina.
***
Dari ruang kerjanya Bob melihat Nisa baru tiba di supermarket. Bob mendekatin Nisa, “aku senang kau bekerja lagi,” katanya.
“Aku masih memerlukan pekerjaan ini,” ucap Nisa.
“Ya”.
“Aku hanya tidak ingin mencampurin urusan pribadi dengan pekerjaan”.
Bob menatap Nisa yang berusaha menghindarin tatapannya, “baiklah”.
Nisa berusaha untuk tersenyum, “permisih…” lalu ke meja kasir untuk melakukan pekerjaannya seperti biasanya.
Tak lama kemudian Alina tiba di supermarket. Dilihatnya Bob menatap Nisa dari pintu ruang kerjanya namun dia heran kenapa Nisa tidak membalas tatapan Bob padanya. Alina ke meja kasir mendekatin Nisa, “sudah lama,” membuka obrolan.
“Ya”.
“Bob kenapa melihatmu seperti itu?”.
“Aku gak tahu”.
“Kalian bertengkar?”.
“Tidak”.
“Nisa…” Alina yang nyakin Nisa menyembunyikan suatu masalah darinya.
“Aku mohon… aku tidak ingin membahasnya”.
“Baiklah,” Alina  mencoba mengerti kenapa Nisa tidak ingin bercerita padanya.
***
Setiba di alamat yang diberikan Adriel padanya, Kay langsung ke luar dari mobilnya. Dilihatnya rumah yang sekarang Alina tempatin yang sangat jauh berbedah dari kehidupannya selama ini. Rasa rindu bercampur kagum menyelimutin perasaan Kay saat ini.
Seorang gadis kecil keluar dari rumah seakan tahu akan kedatangannya, “Kak Kay…” Ceri yang sangat senang melihat Kay lagi dan langsung mendekatin Kay yang masih berdiri di depan mobilnya.
Kay hanya tersenyum namun tatapannya masih tertujuh kearah pintu berharap Alina juga akan keluar dari rumah menyambut kedatangannya.
“Kak Kay mau bertemu dengan Kak Alina?”.
“Alina ada?”.
“Kakak sudah pergi kerja”.
“Ohhh…” Kay yang sangat kecewa yang tidak bisa bertemu dengan Alina.
“Siapa Ceri??” tanya Sarani keluar dari rumah, “kau siapa?” tanyanya pada Kay.
“Namaku Kay,” Kay memperkenalkan diri, “aku permisih dulu,” lalu kembali masuk ke dalam mobil dan pergi.
Sarani mendekatin Ceri, “apa dia Kaya?” tanyanya pada Ceri.
Ceri mengangguk.
“Dimana kau bisa kenal dengannya?” tanya Sarani lagi yang  penasaran.
“Ada deh…” sambil masuk ke dalam rumah.
“Ceri!!” kesal Sarani seakan dipermaikan Ceri.
Ceri hanya cenggar cenggir menikmatin rasa penasaran Sarani.
***
Dari kaca yang trasparan sudah terlihat Alina berada di dalam supermarket sedang melayanin pembeli. Kay masuk ke dalam supermarket namun Alina belum menyadarin kehadirannya karena sibuk melayanin pembeli yang mau membayar barang belanjaan. Kay segaja mengambil minuman kaleng  dingin lalu langsung ke temapt kasi untuk membayar.
Tanpa memperhatikan siapa yang berada dihadapannya  Alina langsung menyebutkan biaya yang harus di bayar Kay, “6500,-“.
Kay memberikan selembar uang 10.000,-.
Alina belum menyadarin kehadiran Kay, dia malah mengembalikan uang sisa kembalian Kay tiga lembar uang seribuan dan 500 uang logam, “trimah kasih”.
Kay yang mulai kesal melihat Alina yang tidak memperhatikannya mulai memanggil nama Alina, “Alina…”.
Alina menghentikan pekerjaannya. Suara yang memanggil namanya itu sangat tidak asing di telingahnya. Perlahan-lahan Alina mengangkat kepalanya menatap pria yang dihadapannya itu, “Kay…” perasaan mulai bercampur aduk.

Mereka bicara di luar supermarket. Kay mencoba memulai pembicaraan, “maafkan Ayahku”.
Alina berusaha tidak menujukkan reaksi apa-apa dihadapan Kay, “aku tidak menyalahkan orang tuamu. Wajar dia melakukannya,” yang berusaha untuk kuat.
“Tapi bagiku itu tidak wajar!! Aku ingin kau…”.
Alina memotong perkataan Kay, “kita tidak ada hubungan apa-apa. Aku mohon jangan temuin aku lagi”.
“Alina!!” Kay mempertinggi volume suaranya.
“Lupakan aku”.
“Aku tidak bisa!!”.
“Kau harus bisa!!” yang mulai mempertinggi volume suaranya.
“Tidak!!”.
“Kau harus melupakan aku!!! Aku mohon lupakan aku… dan jangan  mencariku lagi!!” Alina membalikkan tubuhnya agar tidak dilihat Kay bahwa dirinya sedang menanggis. Air matanya semakin deras membasahin pipinya.
Saat Alina pergi kay langsung menahan tangan Alina, “aku mohon…” yang tidak relah melepaskan Alina.
Dengan kasarnya Alina menghepaskan tangan Kay dan langsung meninggalkan Kay yang masih memadangnya. Alina langsung keruangan ganti kariawan yang berada di belakang. Di dalam ruangan itu Alina sepuas-puasnya menanggis mengeluarkan kesedihannya yang sedang menyelimutinnya saat ini, “huhuhu…huhummm…huhuhuhu…”.
Nisa masuk ke dalam ruangan, “kau kenapa?” kuatir Nisa.
Alina langsung memeluk Nisa, “huhuhu…huhuhu….huhuhhh….” yang masih terus menanggis yang saat ini di pelukkan Nisa. Dan Nisa membiarkannya.
***
Kay kembali ke apartemennya. Dijatuhkannya tubuhnya diatas sofa. Tatapannya tertuju ke langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Kay mengingat jelas kata-kata yang diucapkan Alina yang membuat hatinya sangat terluka, “kita tidak ada hubungan apa-apa. Aku mohon jangan temuin aku lagi”.
“Alina!!” Kay mempertinggi volume suaranya.
“Lupakan aku”.
“Aku tidak bisa!!”.
“Kau harus bisa!!” yang mulai mempertinggi volume suaranya.
“Tidak!!”.
“Kau harus melupakan aku!!! Aku mohon lupakan aku… dan jangan  mencariku lagi!!”
Walaupun kata-kata Alina sangat menyakitkan perassaannya tapi dia tidak bisa membenci Alina. dia tahu Alina pastih punya alasan mengapa dia mengatakan itu padanya dan itu pastih karena Ayahnya.
Tanpa disadarin Kay, Ibu Sari memperhatikannya dari pintu kamar. Ibu Sari tidak tegah melihat putra kandungnya yang mulai tidak bersemangat menghadapin hidupnya lagi.
***

“Kau sudah bangun sayang,” sapa Ibu Sari menyambut putranya yang baru bangun dari tidur.
“Kepalaku sakit sekali Bu,” Kay yang mengeluh sambil memengan kepalanya.
“Cobalah untuk merikleskan pikiranmu sayang,” saran Ibu Sari.
“Aku tidak apa-apa Bu”.
“Kay…”.
“Minggu depan aku akan kembali ke Amerika Bu”.
“Apa kau akan kembali lagi?”.
“Aku gak tahu Bu”.
“Sayang…”.
“Alina ingin aku menjauhinnya Bu. Dan… aku akan melakukannya”.
Melihat putranya terluka seperti ini membuat Ibu Sari sangat marah pada sikaf mantan suaminya itu yang memisahkan Alina dari Kay.
***
Pulang dari mengantar Ceri ke sekolah, Sarani langsung bebelanja ke pasar terdekat yang tak jauh dari pemukiman tempat tinggalnya. Baik itu lauk pauk maupun sayur mayur di belinya untuk makan siang yang akan disiapkan untuk calon keluarganya.
Sedang asik memilih sayur yang bagus, seorang wanita mendekatin Sarani, “hei Sarani…!!” panggil wanita itu sambil memengang bahu Sarani dari belakang.
Sarani menolek ke belakang, “Sita!” kanget melihat teman satu kerjanya.
“Kau sedang apa disini?” melihat barang belanjaan Sarani, “kau kenapa gak kerja-kerja??”.
“Eeehhh….” Sarani bingung harus menjawab apa.
“Kau gak mau kerja lagi?”.
“Iya”.
“Lalu kau mau kerja apa? Kau pikir perusahaan atau toko-toko mau menerima kariawan mantan PSK?!”.
Sarani diam.
“Jangan bilang kau berhenti karena Budi??!” tebak Sita yang mengetahuin Sarani yang menyukain Budi dari dulu.
“Ya”.
“Kau ini!! Apa gak ada cowok lain apa!!?”.
Sarani diam.
“Ya udahlah… itu sudah keputusanmu!! Sebelum kau memutuskan menikah dengan Budi sebaiknya kau rubah dulu sifat main judi dan mabuknya itu!!”.
“Aku rasa Budi tidak akan lagi melakukannya”.
“Hahaha… kau ini lucu banget sih…!! Kalau dia tidak melakukannya lagi, lalu siapa yang aku lihat di meja judi semalam!!”.
“Apa!!” Sarani sangat kanget.
***
 “Mau pulang bareng,” ajak Nisa pada Alina yang bersiap-siap untuk pulang.
“Ya”.

Mereka berdua pulang bareng. Nisa mencoba membuka obrolan, “masih gak mau cerita?”.
Alina diam.
“Sepertinya Kay sangat serius dengan kau. Kenapa kau malah ingin menjauhinnya?” penasaran Nisa.
“Bagaimana hubunganmu dengan Bob?” Alina mengalihkan pembicaraan.
Nisa tersenyum lebar melihat Alina yang mengalihkan pembicaraan, “kau sekarang mulai pintar mengalihkan pembicaraan”.
Alina tersenyum.
“Aku bilang pada Bob aku tidak ingin menunggu lagi. Aku sudah lelah menunggu,” kata Nisa.
“Kenapa kau lakukan itu? kenapa kau tidak memberikan kesempatan pada Bob?” tanya Alina yang bingung dengan keputusan Nisa padahal setahunya Nisa sangat mencintain Bob  malah sekarang saat Bob ingin dekat dengannya dia malah ingin menjauh.
“Lalu kau??” Nisa balik bertanya, “kenapa kau malah menjauhin Kay?” diam sejenak, “dalam faktanya kau juga menyukainnya!”.
“Masalah kita berbedah Nisa!! Ayah Kay tidak menyukainku,” kata Alina dengan mata berkaca-kaca.
“Itu bukan alasan!!! Memang sampai kapan kau seperti ini!! dulu kau melepaskan Adriel juga karena Ibunya tidak menyukainmu! Apa sekarang juga kau harus melepaskan Kay hanya karena Ayah ya tidak menyukainmu!!” kesal Nisa.
“Lalu aku harus apa?” Alina yang sudah butuh mencari jalan keluar dari masalahnya.
“Kau harus tetap memperjuangkan cintamu,” Nisa menyakinkan Alina.
Alina diam.
Nisa menarik nafas panjang, “mungkin… aku juga harus tetap berusaha memperjuangkan cintaku,” yang mulai kembali kesemangatannya.
Alina menolek, “kau akan memberikan kesempatan pada Bob?”.
“Ya. Dan… kau juga….??”.
Alina tidak nyakin namun dia hanya menanggapin perkataan Nisa dengan tersenyum.
***
Nisa tidak langsung pulang. Dia mengajak Bob ketemuan di cave yang jaraknya tak jauh dari komplek rumah Bob. Bob bergegas datang ke cave setelah mendapatkan telpon dari Nisa, “maaf membuatmu menunggu,” sambil duduk.
“Mau minum?” tawar Nisa.
“Tidak”.
Suasana terhening sejenak, “aku sudah memikirkan semuanya,” Nisa memulai membuka pembicaraan yang serius.
“Maksudmu?”.
“Aku sangat mencintainmu, dan sampai saat ini pun aku masih mencintainmu,” diam sejenak, “aku akan mencoba untuk menunggumu sampai kau menyukainku”.
“Trimah kasih,” Bob yang sangat senang mendenggar kata-kata yang terucap oleh Nisa.
“Tapi aku tidak ingin terlalu lama menunggu”.
Bob memengang tangan Nisa, “trimah kasih. Trimah kasih selama ini kau sudah mencintainku dengan tulus”.
Nisa tersenyum melihat cintanya mulai terbalas.
***
Setiba di rumah, Sarani langsung masuk ke kamar. Diambilnya amplo berisi uang dari dalam tasnya. Dirinya legah saat melihat uang itu masih utuh tidak berkurang sepeserpun. Walaupun belum nyakin dengan cerita temannya itu Sarani tidak mau diam begitu saja. Kapanpun Pak  Budi pastih akan mengambil uang ini darinya untuk main judi dan mabuk-mabukkan. Sarani memutuskan untuk menyimpan uang itu di rekeningnya. Saat mau pergi ke bank, Sarani bertemu dengan Alina yang baru pulang dari kerja.
“Mau kemana?” tanya Alina melihat Sarani yang buru-buru.
Sarani terdiam sejenak untuk memikirkan jalan keluar yang terbaik.
“Sarani…” heran melihat Sarani yang terdiam.
“Ini…” sambil memberikan amplo berisi uang kepada Alina, “sebaiknya kau menyimpan”.
“Apa itu?”.
“Ini sisa uang  jual rumahmu”.
Alina mengambilnya lalu memberikannya lagi pada Sarani, “sebaiknya kau saja yang menyimpan”.
“Alina”.
“Anggap saja uang ini biaya hidup kami selama kami tinggal bersamamu”.
“Itu tidak perluh! Aku iklas membantu kalian”.
“Dibandingkan aku, kau lebih membutuhkannya,” diam sejenak, “kau bisa berhenti dari kerjaanmu dan membuat usaha dengan uang ini”.
Sarani menanggis. Dia terharum dengan perhatian yang ditunjukkan Alina padanya. Baru kali ini ada orang memperhatikan masa depannya, “trimah kasih huhuhu…”.
Alina melihat keadaan rumah seperti tidak ada penghuni selain mereka berdua, “mana Ayah?”.
Sarani diam, dia bingung harus menjawab apa.
Tampak jelas kebingungan  dari ekpresi wajah Sarani membuat Alina curiga, “apa semalam dia tidak pulang”.
“Alina…” mencoba menjelaskan.
Namun langsung di potong oleh Alina, “apa dia main judi lagi?”.
Sarani mabuk.
Alina sangat shok mendenggarnya. Dia tidak menyangkah Ayah tirinya itu akan melakukannya lagi setelah kejadian itu.
“Alina…”.
“Kenapa dia tidak pernah belajar dari kesalahannya!!!” marah Alina.
Sarani hanya diam. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubah sifat main judi dan mabuk-mabuk Pak Budi.
***
Kay menemuin Ayah di lestoran Hotel Ratu. Tidak lama dia menunggu kedatangan Ayah yang langsung datang setelah mengetahuin kedatangan putra kandungnya. Ayah langsung duduk dan langsung membuka obrolan, “bagaimana dengan kasus yang kau kerjakan?”.
Dibandingkan menjawab pertanyaan Ayah, Kay malah mengatakan sesuatu yang membuat Ayah terkejut, “aku mohon pada Ayah jangan ganggu Alina lagi”.
“Kau menemuinku hanya karena wanita itu?!!”.
“Aku mohon Yah”.
Ayah tidak memberi jawaban pada Kay, dia hanya menatap Kay dengan tatapan tajam dan Kay tidak membalas tatapannya.
***
“Apa Ayah dan Kakak tidak pulang malam ini lagi?” tanya Ceri pada Sarani yang sedang menikmatin makan malamnya.
Sejenak Sarani berhenti namun kembali melajutin makan, “mungkin,” jawabnya sambil makan.
“Kalau Kakak kerja. Ayah kemana sih gak pulang-pulang?” tanya Ceri yang lugu.
Sarani tidak menjawabnya, dia malah menyuruh Ceri melajutin makannya, “kalau makan jangan bicara!” kata Sarani  untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan Ceri nantinya.
***
Untuk melepaskan kestressannya, Alina pergi ke taman. Di bangku yang sama Alina menikmatin suasana taman yang hampir gelap. Hanya beberapa orang yang masih berada di taman menikmatin suasana taman sama dengan dirinya.
Alina menatap bintang yang bertaburan di langit. Tampak jelas bintang berkelap-kelip menghiasin malam yang cerah. Pemadangan yang indah namun suasana hati Alina saat ini tidak seindah memadangan malam ini.

Beberapa saat kemudian. Kay muncul dengan melangkah lesuh kearah Alina yang tidak disadarinnya ada di taman bersama dirinya. Setelah dekat barulah dirinya baru menyadarin kehadiran Alina, “Alina…”.
Alina mendenggar suara yang memanggil namanya, lalu dia menolek, “Kay…” sambil berdri.
Awalnya Kay mau pergi namun dia menghentikan niatmya untuk meninggalkan taman. Dia mendekatin Alina yang masih menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak menyangkah kita bisa bertemu disini”.
“Aku juga”.
Kay mendekatin Alina, “tempat ini bagus untuk menghilangkan stress”.
Alina kembali duduk, “iya”.
Suasana terhening sejenak, “minggu depan aku akan pergi,” kata Kay memberitahukan keberangkatannya, “kita tidak akan bertemu lagi”.
“Apa kau tidak akan kembali lagi?”.
“Ya”.
Alina tidak bisa menahan air matanya lagi untuk tidak keluar namun dia berusaha untuk tidak menujukkan kesedihannya  pada Kay. “Apa kau harus pergi?”.
“Iya,” Kay berdiri untuk segera pergi.
Alina teringat dengan kata-kata Nisa untuk memperjuangkan cintanya, “Kau harus memperjuangkan cintamu,” Nisa menyakinkan Alina. kata-kata Nisa membuat Alina mulai berpikir untuk memperjuangkan cintanya yang akan pergi darinya. “Bisakah kau tidak pergi?” harapan Alina yang sangat besar pada Kay.
Kay menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, “apa katamu?” berharap dirinya tidak salah mendenggar.
Alina berdiri dan menatap Kay dengan air mata masih jatuh membasahin pipinya, “aku ingin kau tidak pergi, aku ingin kau tidak pergi… huhu…huhuhu…” Alina berulang-ulang mengucapkan kata-kata itu.
Kay mendekati Alina dan langsung memeluknya, “aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan…” menyakinkan Alina.
Kali ini Alina menanggis bukan karena sedih melainkan karena kebahagian yang menyelimutin dirinya, ‘maafkan aku, maafkan aku…”.
Kay memeluk erat tubuh Alina dan tidak ingin melepaskannya. Rasa rindu yang bergelora hilang saat Alina berada di pelukkannya saat ini.

Tanpa disadarin mereka dari kejauhan Gilda memperhatikan mereka berdua. Tidak tahu sejak kapan dia berdiri disana namun rasa kesedihan sangat jelas terpancar dari wajahnya. Perasaan  frustasi mulai menyelimutin dirinya yang patah hati.
Gilda pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. ketika membalikkan tubuhnya,  Gilda melihat Adriel sudah berada di hadapannya yang berdiri tak jauh darinya. “Adriel…” yang tidak menyangkah bisa bertemu dengan Adriel di tempat ini.
“Aku kebetulan lewat dan melihat kau disini,” kata Adriel membuka obrolan.
“Aku juga. Aku kebetulan lewat dan melihat mereka disini,” kata Gilda sambil memadang kearah Kay yang masih memeluk Alina.
Adriel tersenyum, “mau aku antar pulang?” tawarnya.
“Ya”. Lalu mereka pun pergi meninggalkan taman menggunakan mobil Adriel yang tak jauh terpakir dari mereka.

Hanya beberapa saat mereka sudah tiba di rumah Gilda. “Trimah kasih,” kata Gilda lalu keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperhatikan Adriel yang masih memadangnya dari dalam mobil.
***
Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar