Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 9


9

Adriel mengantar Gilda pulang. Terlihat jelas kesedihan dari wajah Gilda. “Kau tidak apa-apa?” tanya Adriel.
“Ya. Trimah kasih kau sudah mengantarku,” lalu Gilda keluar dari mobil.
Setelah Adriel melihat Gilda masuk ke dalam  rumah barulah dia meninggalkan lokasi komplek perumahan tempat Gilda tinggal.
***
Ceri mendekatin Ibu Sari yang terlihat murung sejak pulang tadi, “tante tidak apa-apa?” tanyanya.
Ibu Sari menolek, “iya,” jawabnya, “kau sudah makan?”.
Ceri mengangguk. Ceri melihat jam dinding yang sudah menuju pukul 17.30 WIB, “Kak Alina dan Kak Kay kemana yach… dari tadi kok belum pulang-pulang???”.
“Sebentar lagi mereka pulang”.
“Tante…”.
“Iya. Kenapa??”.
“Boleh aku menganggap tante seperti ibu ku sendiri,” harapan Ceri.
“Memang Ibumu kemana?”.
“Ibu meninggal 5 tahun yang lalu”.
“Sakit?”.
Ceri mengeleng.
“Lalu kenapa?”.
“Bunuh diri”.
Ibu Sari terkejut, “apa!!” Ibu Sari melihat kesedihan dari wajah Ceri, “kau boleh menganggapku seperti ibu kandungmu,” sambil jongkok dan menatap Ceri dengan penuh kasih sayang. Ceri langsung memeluk Ibu Sari dengan penuh kebahagiaan dan Ibu Sari membiarkannya.
***
Kay menghentikan mobil di seberang jalan tak jauh dari supermarket, “kau serius tidak mau makan denganku?” tanya Kay lagi.
“Enggak,” sambil tersenyum, “bukannya besok masih ada”.
“Kalau besok sudah lain ceritanya”.
“Sudah lain gimana? Perasaanku sama saja”.
“Kau ini memang keras kepala!” kesal Kay.
Sebelum Alina keluar dari mobil, Alina menciup pipi Kay baru keluar dari mobil. Kay menatap Alina dari dalam mobil yang tersenyum kearahnya. Kay keluar dari mobil dan mendekatin Alina.  Kay meraih pinggang Alina dan mencium bibir Alina.  Alina berusaha melepaskan diri namun Kay terlalu kuat. Orang-orang yang melewatin mereka terlihat iri apa yang mereka lakukan. Ketika ciuman itu berakhir. Alina berhasil melepaskan diri dari Kay, “apa yang kau lakukan! Ini di depan umum!” Alina yang malu dilihat banyak orang.
Kay tidak memperdulikan kemarahan yang ditunjukkan Alina. Dia mengelus pipi Alina dengan lembut, “pergilah…”.
Sikaf Kay membuat Alina luluh, “baiklah. Dahhh…..” Alina meninggalkan Kay yang masih memadangnya dari kejauhan. Setelah Alina masuk ke dalam supermarket barulah Kay pergi meninggalkan tempat itu.

Alina langsung ke tempat kasir. “Romatisnya….” Goda Nisa yang tenyata melihat kejadian itu dari kejauhan.
“Apaan sih…” malu Alina.
“Jadi serius nih…” Nisa yang masih mengoda Alina.
“Udah ah…” Alina yang sudah sangat malu.
***
Sarani berlari pulang ke rumah sambil memanggil nama Budi, “Budi… Budi…!!”.
Pak Budi mendenggar Sarani memanggilnya langsung keluar rumah, “kau kenapa? Apa yang terjadi?” yang melihat Sarani yang gos-gosan berlari pulang, “apa ada yang mengejarmu…” yang meduga ada yang mengejar Sarani sampai Sarani pulang buru-buru.
“Rumahmu… rumahmu…” yang masih gos-gosan.
Pak Budi mengambil segelas air putih  di dapur lalu memberikannya pada Sarani, “minum dulu”.
Sarani mengambilnya dan langsung meminumnya. Setelah minum, Sarani menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan-lahan agar membuat dirinya rikles.
Pak Budi duduk, “ada apa dengan rumahku?”.
“Rumahmu ada nawar,” senang Sarani.
Pak Budi kembali berdiri, “kau serius…” yang masih tidak percaya.
Sarani mengangguk.
Pak Budi senang mendenggar kabar dari Sarani. Waktu yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Rumahnya akan segera terjual dan anak-anaknya akan segera terbebas dari bahaya dari lintenir itu.
***
Adriel menidurkan tubuhnya diatas kasur. Dia teringat kata-kata Kay padanya waktu itu, Kay tersenyum, “kau benar. Tapi aku sudah menemukan pengantinya”. Adriel menghela nafas panjang saat teringat kata-kata Kay. Dia tidak menyangkah wanita yang di maksud Kay adalah Alina wanita yang sangat di cintain selama ini. Adriel mengingat saat Kay dan Alina berpelukkan di pantai tadi. Tampak jelas kebahagian yang terpancar dari wajah Alina. “Aku tidak akan menganggu dirimu. Tidak akan….” Yang mulai merelahkan Alina.
***
Kay tiba di apartemen. Dilihatnya Ibunya dan Ceri sudah tertidur lelap di tempat tidur. Kay  teringat dengan kata-kata Alina, “nanti di rumah jangan lupa makan. Ok…”. Kay ke dapur untuk segera makan. 
Sedang asik menikmatin makan malam di meja makan, Ibu Sari muncul dari balik pintu dapur, “kau lama pulang?”tanyanya.
“Ya,” jawab Kay sambil makan.
“Kemana saja kalian?”.
Kay memadang Ibunya, “Bu”.
“Apa sayang?”.
“Ibu setujuh dengan hubungan kami berdua khan…??” Kay yang tiba-tiba bertanya seperti itu padanya.
Pertanyaan Kay membuat Ibu Sari diam sejenak lalu berusaha untuk tersenyum di hadapan putranya itu yang sangat berharap banyak padanya.
***

Ibu Sari masih memikirkan perkataan Kay tadi malam. Apa yang dikatakan Kay membuat Ibu Sari serbah salah harus melakukan apa. Dia tahu benar sifat mantan suaminya itu. Jika Ayah tidak menyukainnya, dengan cara apapun akan Ayah lakukan untuk menghalanginnya. Tidak ada yang bisa merubah keputusan Ayah walaupun demi anak kandungnya.
***
Kay menemuin Heru dan Rudi di lestoran Hotel Larisa yang sebelumnya mereka sudah janjian bertemu. “Apa kau serius menemuin Pak Suroyo?” tanya Heru yang masih tidak nyakin dengan keputusan yang diambil Kay.
“Ya,” jawan Kay singkat.
“Pak Suroyo selalu memintah imbalan jika mau bekerja sama dengan perusahaannya,” sambung Rudi, “misalnya… kau harus memberikan beberapa saham cuma-cuma padanya. Aku denggar perusahaan membatalkan kerja sama dengan Pak Suroyo karena permintaannya yang tak masuk akal”.
“Kau tidak boleh melakukan itu Kay!” tentang Heru.
Kay hanya diam memikirkan jalan keluar yang terbaik.
“Kecuali… kau mau mengambil jalan pintas”.
Kay menolek, “apa maksudmu? Ada yang kau ketahuin??” tanyanya pada Rudi.
“Ada kabar mengatakan putri Pak Suroyo ditahan di kantor polisi di Amerika. Aku denggar kasus yang menimpah putrinya kasus pembunuhan. Bukti-bukti menujukkan dia yang melakukan pembunuhan itu. Korban adalah kekasihnya sendiri. Untungnya kasus yang menimpah putrinya ini tidak menganggu perusahaannya,” penjelasan Rudi panjang lebar.
“Kau menyuruh Kay untuk menjadi pengacara putrinya?!”.
“Aku hanya memberikan saran”.
“Jika bukti-bukti sudah menujukkan bahwa putrinya bersalah, aku harus melakukan apa lagi?” kata Kay.
“Pak Suroyo nyakin putrinya tidak mungkin melakukan pembunuhan itu. Karena itulah sampai sekarang Pak Suroyo masih memperjuangkan kebebasan putrinya sampai saat ini. Jika kau bisa membuktikan putrinya tidak bersalah, aku nyakin, Pak Suroyo pastih mau bekerja sama dengan perusahaan tanpa memintah imbalan apapun”.
“Perusahaan tidak bisa menunggumu sampai kau kembali Kay,” Heru menyakinkan Kay.
“Kau harus memintah bantuan seseorang Kay…” saran Rudi.
“Maksudmu siapa?” tanya Heru pada Rudi.
“Aku nyakin kau pastih sudah tahu orangnya. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah bagaimana cara Pak Suroyo nyakin dengan  kau”.
“Aku tahu,” Kay menatap  Heru.
Heru tahu maksud Kay menatapnya, “baiklah… aku akan berangkat duluan ke Amerika. Tapi… apa kau nyakin Pak Suroyo mau menyerahkan kasus putrinya padamu??”.
Kay tersenyum, “lihat aja nanti”
***
Ayah mendapatkan file-file perusahaan dari asistennya. File-file itu membuktikan bahwa dalang dari semua masalah yang terjadi pada perusahaan adalah istrinya, itu membuat Ayah murkah. Wanita yang dinikahinnya 3 bulan yang lalu tenyata dalang dari semua masalah yang terjadi pada perusahaan. Ibu selalu mengambil uang perusahaan secara diam-diam itu membuat keuangan perusahaan semakin berkurang dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar tiap bulannya.
***
Alina baru pulang. Dilihatnya Ibu Sari termenung di balkon sampai tidak menyadarin kehadirannya, “tante tidak apa-apa?” tanyanya yang kuatir melihat keadaan Ibu Sari yang tidak seperti biasanya.
“Kau sudah pulang?” tanya Ibu Sari yang baru menyadarin kehadiran Alina.
“Iya. Tante tidak apa-apa?” tanya Alina lagi.
Ibu Sari berusaha menutupin apa yang terjadi, “aku gak apa-apa”.
Walaupun Ibu Sari mengatakan tidak apa-apa, namun Alina merasakan Ibu Sari menyimpan sesuatu darinya. Alina berusaha bersikaf biasa saja dihadapan Ibu Sari tanpa menujukkan kecuringaan apapun.
***
Pak Budi dan Sarani menunggu pembeli di rumah. Mereka segaja datang lebih dulu agar pembeli tidak terlalu menunggu kedatangan mereka. Sudah hampir 1 jam mereka menunggu namun bagi Pak Budi, satu jam itu terasa sudah 10 jam menunggu. Waktu yang telah terbuang dengan sia-sia diharapkan menghasilkan kebahaggian yang sangat diharapkan Pak Budi saat ini.
“Kau gak bisa tenang?!” kesal Sarani melihat Pak Budi yang dari tadi mondar-mandir.
Pak Budi tidak memperrdulikan perkataan Sarani, dia terus menunggu dan menunggu, “jam berapa lagi mereka datang?!”.
“Sabar…”.
Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga. Orang itu menggunakan mobil sedan yang langsung di pakirkan di depan rumah. Sepasang suami istri keluar dari mobil.  “Sorry telat. Tadi macet banget,” kata si suami.
“Gak apa-apa,” jawab Sarani, “mereka yang aku maksud,” kata Sarani pada Pak Budi.
Pak Budi dan sepasang suami istri itu saling bersalaman. Pak Budi membukakan pintu rumah, “silakan lihat-lihat dulu”.
“Baiklah. Ayo Mas…” si istri mengajak suaminya masuk ke dalam rumah untuk lihat-lihat keadaan rumah.
“Semoga mereka suka,” harapan Pak Budi.
“Semoga saja,” Sarani yang juga berharap.

Diwaktu yang sama, Nisa melintas  jalan di depan rumah. Dari kejauhan Nisa melihat  Ayah tiri Alina bersama seorang wanita berdiri di depan rumah. Nisa juga melihat sepasang suami istri itu masuk ke dalam rumah itu membuat Nisa mulai berpikir macam-macam dan tanpa pikir panjang dia langsung menelpon Alina untuk memberitahukan apa yang terjadi, “halo…. Kau dimana…” Nisa yang panik, “cepat kesini!” lalu mendenggar jawaban dari Alina, “dirumahmu! Cepat datang!! Sepertinya Ayah tirimu mau menjual rumahmu!!,” setelah mendenggar jawaban dari Alina barulah Nisa menutup telponnya dan menunggu kedatangan Alina.  Berharap Alina secepatnya datang.
***
Kay pulang dengan wajah lesu. Dia harus segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan perusahaan orang tuanya. Dia masih memikirkan pendapat dari Rudi, bahwa dirinya harus memintah bantuan seseorang. Dan Kay tahu siapa yang dimaksud Rudi. Kay melangkah masuk ke dalam gedung dengan wajah tidak bersemangat. Ketika lift terbuka, Kay dikangetkan dengan Alina yang nampak sedang buru-buru untuk pergi, “kau mau kemana?” Kay langsung bertanya.
Alina tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang dia pikirkan sekarang adalah segera ke tempat lokasi rumahnya yang akan segera di jual oleh Ayah tirinya. Alina bergegas pergi meninggalkan gedung apartemen. Kay yang kuatir melihat keadaan Alina, dia pun mengejar Alina.
***
Ibu Sari dan Ceri nampak kebingungan melihat Alina yang langsung pergi  setelah mendapatkan telpon dari seseorang. “Kakakmu kenapa?” tanya Ibu Sari pada Ceri berharap Ceri tahu sesuatu.
Ceri mengeleng.
Ibu Sari semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
***
Alina dan Kay sampai ke lokasi. Mereka datang terlambat. Trasaksi sudah selesai di lakukan kedua pihak. Pembeli bersedia membeli rumah dengan uang sebesar Rp 100.000.000,- tunai. Pak Budi nampak tengang berhadapan dengan Alina yang nampak jelas marah padanya, “Alina… biar aku  jelaskan…” Pak Budi yang mau menjelaskan pada Alina.
Air mata menetes membasahin pipi Alina, “kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau melakukan ini!!!?” marah Alina yang sudah lama ditahan-tahannya.
“Aku hanya…”.
Alina langsung memotong perkataan Pak Budi, “apa kau tidak puas membuat aku menderita!! Sekarang kau menjual harta satu-satunya peninggalan Ibuku!! Kau jahat!!” Alina memukul Pak Budi dengan kedua tangannya, “kau jahat…!!” yang terus memukul.
Pak Budi tidak melawan mau pun menghindar. Dia membiarkan Alina melapiaskan kemarahan pada dirinya.
“Kau jahat…!!” Alina berhenti memukul Pak Budi namun dia masih menanggis, “seumur hidupku aku harus membayar utang-utangmu. Harus menghidupin kau dan Ceri,” diam sejenak, “aku tak pernah penduli dengan kehidupanku. Sekarang ketika aku mau kembali seperti dulu… kau mau hancurka lagi hidupku…!! Apa tidak cukup kau membuat Ibu dan Kakakku mati gara-gara kau!!! Apa aku harus bunuh diri juga agar kau bisa berubah…!!?”.
“Tidak…” Pak Budi menanggis, “jangan kau lakukan itu! kau jangan bunuh diri sama seperti Ibumu…” lalu memengang tangan Alina, “aku mohon jangan kau lakukan itu…” mohon Pak Budi.
Alina melepaskan tangan Pak Budi dengan kasarnya, “dari dulu aku ingin sekali mengatakan ini… tapi tidak bisa aku ucapkan. Sekarang akan aku katakana… jangan ganggu kehidupan aku dan Ceri lagi,” Alina melangkah pergi.
Sarani membantu Pak Budi berdiri, “kau tidak apa-apa?” tanyanya.
“Aku memang Ayah yang tidak bisa diadalkan…” Pak Budi yang sangat menyesal.
“Ayo kita pergi…” Sarani mengajak Pak Budi meninggalkan lokasi. Mereka melewatin Kay  yang dari tadi memperhatikan mereka.
***
Adriel duduk di meja kerja sambil memikirkan jalan keluar apa yang harus di buat untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang melenggu dirinya. Pikirannya buntuh tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Sekali-kai Adriel menarik nafas untuk membuatnya rikles tapi itu hanya sesaat untuk menghilangkan stressnya. Beberapa saar kemudian Adriel mendapatkan telpon dari Ayah. Adriel nampak ketakutan namun tetap diangkatnya, “halo Yah…” setelah mendenggar apa yang dikatakan Ayah, “baik Yah,” lalu menutup telpon. Ayah menyuruh Adriel menemuinnya di Hotel Ratu itu membuat dirinya tengang.

Setiba di Hotel Ratu, Adriel langsung menemuin Ayah diruang kerjanya. Kedatangan Adriel disambut dingin oleh Ayah. Adriel melihat file-file perusahaan diatas meja kerja Ayah itu tandanya Ayah sudah mengetahuinnya. “Kenapa kau tidak mengatakannya??!” tanya Ayah yang masih bersikaf dingin pada Adriel.
“Maafkan aku Ayah. Aku hanya ingin menyelesaikannya sendiri,” Adriel yang mencoba menjelaskan.
“Apa buktinya?! Sampai sekarang kau belum menyelesaikannya!!”.
Adriel diam.
“Aku pikir kau bisa aku adalkan tenyata tidak!!” Ayah yang kecewa pada Adriel, “sekarang jawab pertanyaanku! Apa kau melakukan ini hanya untuk melindungin Ibumu?!!”.
Adriel diam.
“Aku anggap itu satu jawaban darimu. Pergilah…!”.
“Ayah… apa Ayah akan menceraikan Ibu??”.
Kali ini Ayah yang diam.
“Aku tidak penduli Ayah menceraikan Ibu atau tidak. Tapi aku mohon… aku masih ingin menjadi putramu. Aku tidak akan melupakan Ayah,” lalu pergi.
Kata-kata Adriel membuat Ayah simpatik.
***
Kay ketaman. Tenyata dugaannya benar, Alina pastih ke taman untuk menghilangkan rasa frustasinya, “tenyata kau memang disini,” sambil duduk di sebelah Alina yang berusaha tersenyum padanya menutupin kesedihannya, “jangan paksakan tersenyum jika tidak bisa tersenyum”.
 “Seharusny tadi kau gak usah mengikutinku. Aku malu padamu,” kata Alina.
Kay tersenyum, “kenapa kau tidak mendenggarkan penjelasan dari orang tuamu dulu. Mungkin… dia punya alasan kuat  menjual rumah itu”.
“Ya… aku tahu alasannya,” Alina menanggis, “dia menjual rumah agar bisa main judi dan mabuk-mabukkan!” dugaan Alina.
“Manusia bisa berubah kapan pun dia mau,” nasehat Kay.
“Kau tidak tahu apa-apa! Gara-gara dia harta meninggalan Ayah kandungku habis terjual, gara-gara dia Ibuku harus banting tulang! Gara-gara dia aku dan kakakku harus berhenti dari kuliah! Gara-gara dia kakak hampir jadi pelacur! Gara-gara dia kakak mati di tabrak mobi! Gara-gara dia Ibu bunuh diri! Gara-gara dia aku juga hampir jadi pelacur!! Dan gara-gara dia aku dan Ceri harus ketakutan seumur hidup…” Alina melapiaskan kebenciannya.
Kay tidak menyangkah selama ini Alina sangat menderita.
“Sekarang dia sudah menjual rumah yang satu-satunya harta yang tertinggal… aku sangat membencinya… sangat membencinya…”.
Kay memeluk Alina berharap Alina bisa melapiaskan semua padanya.
***
“Sekarang apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?” tanya Sarani pada Pak Budi yang terlihat murung sejak tadi.
“Aku gak tahu,” Pak Budi yang sudah sangat putus asa, “aku tidak pernah melihat Alina semarah itu denganku”.
“Cobalah mengerti perasaannya selama ini”.
“Ya… aku memang Ayah yang jahat! Alina benar… aku sangat jahat!!” Pak Budi menyalahkan dirinya lagi.
Sarani merasakan kesedihan dari wajah Pak Budi. disisi lain dia sangat mengerti kebencian Alina pada Pak Budi  namun disisi lain Pak Budi ingin menebus kesalahannya. Namun itu tidak semudah dengan membalikkan telapak tangan. Pak Budi harus bekerja keras untuk menyakinkan kedua putrinya terutama Alina yang sudah terlanjur membencinya. “Aku akan memberitahu mereka, kau mau membayar utangmu”. karena tidak ada jawaban dari Pak Budi, Sarani pergi meninggalkan Pak Budi sendiri meratapin penyesalannya.
***
Kay membelikan 2 es krim di supermarket terdekat lalu kembali lagi ke taman, “ini…” memberikan salah satu es krim pada Alina. Alina nampak ragu menerimah es krim pemberian Kay. “Aku denggar es krim bisa mendinginkan kepala”.
Alina mengambil es krim itu dan langsung memakannya.
Kay melihat Alina menikmatin es krim dengan buru-buru, “jangan buru-buru memakannya, kepalamu bisa sakit!”.
Alina menghentikan menikmatin es krim lalu menatap Kay yang sedang menikmatin es krimnya.
“Kau jangan melihatku seperti itu? kau terlihat mengerikan,” Kay yang mengira Aliina tersingung dengan kata-katanya.
“Trimah kasih ya…”.
Kay pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Alina, “untuk apa?”.
“Untuk semuanya… trimah kasih untuk semuanya…” menarik panjang lalu membuanggnya perlahan-lahan, “aku… aku terasa nyaman saat kau ada disisiku”.
“Apa kata-kata itu ungkapan kau menyukainku…??” goda Kay.
Alina hanya tersenyum.
“Kau memang pelit  kata-kata!”.
***
Ibu mulai gelisa saat mengetahuin bahwa suaminya sudah mengetahuin apa yang dilakukannya pada perusahaan. Rasa bersalah mulai menyelimutin dirinya. Beberapa saat kemudian Ibu melihat Adriel baru pulang. Ibu langsung menayakan pada Adriel, “apa benar Ayah sudah tahu?” gugup Ibu.
Adriel menatap Ibu, “ya”.
“Bagaimana ini…” Ibu yang ketakutan.
“Dari awal aku sudah memperingatkan Ibu”.
“Aku gak butuh kata-katamu itu sekarang!!!” marah Ibu.
“Mungkin… besok aku akan mengudurkan diri”.
Ibu tampak terkejut, “apa Ayah yang memintahmu mengudurkan diri?”.
“Tidak. Ayah tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya malu dengan perbuatan Ibu,” lalu meninggalkan Ibu sendiri dan Adriel masuk ke kamarnya.
“Dasar anak kurang ajar!!” Ibu yang tidak menyukain kata-kata Adriel padanya. 
***
Kay kembali ke apartemen sendirian tanpa didampingin Alina. Kedatangannya disambut Ibunya, “kau dari mana sampai selarut ini??” tanya Ibu Sari.
“Aku menemanin Alina Bu,” jawab Kay sambil duduk di sofa.
“Sekarang dia dimana?” tanya Ibu lagi sambil duduk di sebelah Kay.
“Alina langsung kerja”.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Tadi setelah menerimah telpon dia buru-buru pergi??”.
Kay melihat kearah kamar, “Ceri sudah tidur?”.
“Sudah… sekarang cerita ke Ibu. Apa yang terjadi ada Alina?”.
“Rumahnya dijual Ayah tirinya”.
“Apa!”.
Kay mengingat kata-kata Alina, “aku tidak menyangkah Alina menderita seperti itu,” Kay yang kasihan melihat keadaan yang selama ini Alina jalanin.
Ibu Sari mulai ragu untuk memisahkan Kay dan Alina. Saat ini mereka saling membutuhkan satu sama lain.
***
“Aku senang kau tidak apa-apa?” kata Nisa yang dari tadi menguatirkan keadaan Alina sejak dia pergi dari rumahnya, “aku sangat menguatirkanmu”.
Alina berusaha menutupin kesedihannya, “aku tidak apa-apa. Kau tidak usah menguatirkankku seperti itu”.
“Syukurlah… aku jadi tenang sekarang”.
Suasana terhening sejenak, “apa kau akan tinggal selamanya bersama Kay?” tanya Nisa.
“Aku juga memikirkan itu. Aku tak mungkin selamanya tinggal bersama Kay dan bersembunyi dari mereka. Aku tidak ingin mereka mencelakain Kay”.
“Apa rencanamu?”.
“Tolong bantu aku cari kontrakan yang murah”.
“Baiklah”.
“Trimah kasih”.
***
“Bos… tadi Sarani mengatakan Budi akan membayar utang-utangnya besok,” kata anak buah dari lintenir itu.
“Akhirnya dia berani muncul juga!” lintenir itu yang sudah lama menahan kemarahannya, “tapi… dari mana dia dapat uang sebanyak itu??!”.
“Aku denggar dia menjual rumahnya Bos”.
“Hahahaha… jadi sekarang dia sudah jadi gembel!!”.
“Ya bos…” Lintenir itu yang mulai membuat rencana untuk menjebak Pak Budi.
***

Hari ini Kay segaja memakai pakaian rapi dengan memakai kemeja putih dilapisin setelan jas berwarna hitam dan juga memakai dasi berwarna merah bergaris-garis. Sepatu di sesuaikan dengan pakaian yang dipakainya sekarang. Sambil memadang dirinya dari cermin Kay berkata dalam hatinya, kau harus bisa menyakitkannya Kay!. Lalu sekali-kali menarik nafas untuk membuatnya rikles.
Ibu Sari melihat putranya yang tidak berpakaian sepertinya biasanya, “kau mau kemana?”.
Kay menolek, “Ibu akan mendukungku apapun yang aku lakukan, iya kan Bu??”.
Ibu tersenyum, “iya sayang. Ibu percaya kau sudah tahu mana yang terbaik”.
“Trimah kasih bu”.
“Apa kau tidak mau cerita pada Ibu?”.
Kay merusaha menutupin perasaannya, “maafkan aku Bu. Tapi… aku janji akan pastih cerita”.
Ibu Sari tidak mau memaksa putranya untuk cerita, “Ibu tunggu”.
“Aku pergi dulu”.
“Hati-hati sayang”.
Kay melangkah pergi meninggalkan komplek gedung apartemen menggunakan mobil yang selalu mengantarnya kemana dia akan pergi.
***
Ibu masuk ke dalam kamar Adriel, “kau tidak kerja?” basa-basi Ibu melihat Adriel berdiri di depan jendela tanpa menolek kearahnya.
Adriel  memadang pekarangan rumah  dari jendela kamarnya. Dia segaja tidak keluar dari kamarnya karena rasa malu dan bersalah kepada Ayah. Dilihatnya surat penguduran dirinya di meja yang akan diberikannya nanti siang. Rasa bersalah menyelimutin dirinya. “Tidak. Aku akan memberikan surat  penguduran diriku nanti siang”.
Ibu duduk di kasur, “maafkan Ibu”.
Adriel hanya menghela nafas, “apa Ayah sudah pergi?” membuka pembicaraan baru.
“Semalam Ayah tidak pulang”.
Suasana terhening sejenak, “aku ingin kita pergi dari rumah ini Bu”.
“Aku gak mau!”.
“Bu…”.
“Aku masih sah jadi istrinya! Kalaupun aku mau pergi, aku tidak mau dengan tangan kosong!!” serakah Ibu.
“Bu…”.
Ibu berdiri, “kau mau pergi!? Pergi saja sendiri….!!!” Ibu keluar dari kamar.
Adriel semakin kesal melihat sikaf Ibu yang keras kepala tanpa memikirkan orang yang terluka nantinya.
***
Gilda masih penasaran dengan wanita yang dilihatnya bersama Kay sewaktu di pantai. Rasa penasaran itu membuat Gilda mau menemuin Alina di apartemen. Belum sampai ke komplek apartemen, Gilda melihat Alina keluar dari supermarket. Awalnya Gilda berpikir Alina hanya belanja di supermarket  namun kecuringaan mulai timbul saat Alina begitu akrab dengan orang-orang yang keluar bersamanya. Diantara mereka melintas di depan Gilda. Gilda tidak mau membuang kesempatan, dia langsung bertanya, “maaf mbak…”.
“Iya, ada apa?” tanya kariawan supermarket.
“Apa kau kenal dengan wanita itu?” tanya Gilda sambil menujuk kearah Alina.
“Maksudmu Alina?”.
“Namanya Alina? Kau kenal dia?”.
“Ya iyalah. Kami kerja di tempat yang sama”.
“Maksudmu dia menejer supermarket itu?”.
“Alina pelayan sama denganku”.
Apa! Pelayan…” Gilda yang tak percaya wanita yang disukain Kay adalah wanita yang tidak ada apa-apa dibandingkan dirinya.
“Kau siapa ya Alina?” tanya kariawan supermarket itu.
“Itu bukan urusanmu!!” lalu pergi menggunakan mobilnya yang terpakir di tepi jalan tak jauh dari supermarket.
“Dasar cewek gila!!” kesal kariawan supermarket itu.

Diperjalanannya pulang, Gilda masih memikirkan status Alina yang sangat berbeda dengan Kay, “dia hanya pelayan…” yang mulai merencanakan sesuatu untuk menghalangin hubungan Kay dan Alina.
***
Di perusahaan HK. Pak Suroyo sedang rapat dengan derektur-derektur perusahaan HK di ruang rapat. Pak Suroyo menolak bertemu dengan Kay  setelah dia tahu Kay anak dari Darmawan, pengusaha yang menolak kerja sama dengan perusahaannya. Kay segaja   menunggu di luar ruang kerja Pak Suroyo karena Pak Suroyo pastih akan kembali keruang kerjanya dan tidak mungkin langsung meninggalkan perusahaan.
 Sudah lebih 3 jam Kay menunggu Pak Suroyo yang akhirnya Pak Suroyo datang juga bersama 2 pria yang berjalan di belakangnya, “selamat siang Pak…” sapa Kay.
“Kau??”.
“Aku putra dari Pak Darmawan. Nama ku Kay,” Kay memperkenalkan diri dihadapan Pak Suroyo.
“Aku sudah menolakmu kenapa kau masih disini?!!” tanya Pak Suroyo.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menganggu kenyaman anda Pak. Aku hanya ingin bicara 5 menit dengan anda”.
“Aku tahu apa yang ingin kau bicarakan!!” Pak Suroyo yang sudah mengetahuin semuanya, “sekarang pergilah!!”.
“Aku mohon… hanya 5 menit,” mohon Kay.
Pak Suroyo pun mengalah, “jangan sia-siakan waktumu?!!”.
“Trimah kasih,” lalu menghela nafas untuk membuatnya rileks, “aku denggar ada membutuhkan pengacara. Aku bersedia menjadi pengacara putri anda Pak Suroyo”.
“Kau??”.
“Aku pengacara di perusahaan pengacara di Amerika”.
“Berapa kasus yang sudah pernah kau tanganin di Amerika?”.
“Sekitar 4 sampai 5 kasus”.
“Hahahaha…hahaha…” Pak Suroyo tertawa, “kau ingin putriku mendapatkan hukuman gantung!!!?” marah Pak Suroyo. “Aku tidak akan memberikan kasus putriku pada orang yang tidak berpengalaman sepertimu!!!”.
“Mungkin aku tidak berpengalaman. Tapi aku akan tetap berusaha,” Kay yang tak pantang menyerah.
“Apa jaminanmu?!!”.
“Perusahaan orang tuaku. Aku datang kesini memintah bantuan pada anda dan dengan balasnya aku akan menjadi pengacara putri anda. Aku pastihkan putri anda tidak akan dihukum gantung,” kata Kay menyakinkan Pak Suroyo, “tapi… aku ingin anda membantu perusahaan orang tuaku dulu”.
“Hahaha…!! Kau belum bekerja tapi kau sudah memintah imbalan. Kau pikir kau siapa?!!”.
“Jika menunggu aku sampai pulang dari Amerika, perusahaan orang tuaku tidak bisa tertolong lagi”.
“Seberapa nyakin kau bisa menyelamatkan putriku???”.
“70%”.
Pak Suroyo berpikir sejenak, “baiklah,” Pak Suroyo setujuh dengan persyaratan yang berikan Kay, “lusa  sidang putriku. Aku serahkan kasus putriku padamu! Jika kau tidak bisa membebaskan putriku! Bukan perusahaan orang tuamu saja yang aku hancurkan tapi seluruh orang yang dekat denganmu!!” acam Pak Suroyo.
Kay tetap menujukkan kekuatannya, “baiklah”.
“Kapan kau berangkat?”.
“Nanti malam, keberangkatan terakhir”.
“Aku akan suruh orang untuk  mengantar berkas-berkas kasus putriku”.
“Sebelumnya trimah kasih”.
“Aku harap kau tidak membuatku kecewa,” kata Pak Suroyo yang mulai memperlembut nada suaranya.
“Ya”.
***
Pak Budi dan Sarani ke bar menemuin lintenir yang meminjakan uang pada Pak Budi. Kedatangan Pak Budi dan Sarani disambut hangat oleh lintenir itu, “akhirnya kau datang juga… silakan duduk,” ramah lintenir itu pada Pak Budi dan Sarani.
Pak Budi langsung memletakkan  amlop berwarna coklat yang berisi uang Rp 80.000.000,- di atas meja,  “aku lebihkan Rp 5.000.000,- dan jangan ganggu putri-putriku lagi!” dengan nada tinggi, “permisih…” lalu pergi.
Lintenir itu hanya tersenyum lebar, “tunggu!! Aku ingin berikan tawaran padamu”.
Pak Budi menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya, “tawaran apa?” tanyanya.
Sarani yang sudah sangat mengenal lintenir itu mulai menguatirkan Pak Budi, “ayo kita pergi,” paksa Sarani.
“Aku akan berikan Rp 50.000.000,- tapi dengan satu syarat…”.
“Apa itu?!”.
“Kau serahkan anak tirimu,” diam sejenak, “ Dia hanya anak tirimu. Kalian tidak ada hubungan sedarah, jadi tidak salahnya kau serahkan dia ke aku,” lintenir itu mulai mengasut Pak Budi yang mulai bimbang.
Sarani yang melihat Pak Budi yang mulai bimbang mulai mencoba menyakinkan Pak Budi, “Budi… ingat tujuan awalmu!! Kau tidak ingin melihat Alina menderita lagi khan… sudah lama Alina menderita karena kau… apa kau ingin membuat Alina menderita lagi!?”.
Pak Budi mulai mengingat kata-kata yang dilontarkan Alina kemarin kepadanya, “apa kau tidak puas membuat aku menderita!! Sekarang kau menjual harta satu-satunya peninggalan Ibuku!! Kau jahat!!” Alina memukul Pak Budi dengan kedua tangannya, “kau jahat…!!” yang terus memukul.
Pak Budi tidak melawan mau pun menghindar. Dia membiarkan Alina melapiaskan kemarahan pada dirinya.
“Kau jahat…!!” Alina berhenti memukul Pak Budi namun dia masih menanggis, “seumur hidupku aku harus membayar utang-utangmu. Harus menghidupin kau dan Ceri,” diam sejenak, “aku tak pernah penduli dengan kehidupanku. Sekarang ketika aku mau kembali seperti dulu… kau mau hancurka lagi hidupku…!! Apa tidak cukup kau membuat Ibu dan Kakakku mati gara-gara kau!!! Apa aku harus bunuh diri juga agar kau bisa berubah…!!?”.
Kata-kata Alina menyadarkan Pak Budi, “tidak… aku tidak ingin dia mati!” yang tidak menginginkan Alina bunuh diri seperti istrinya, “aku tidak akan menjual putriku!!” kata Pak Budi pada lintenir itu, “kau tidak bisa membeli putriku dengan uangmu itu!!!”..
“Brensek!!!” Lintenir itu nampak tidak menyukain jawaban dari Pak Budi, “hajar dia!!” perintah lintenir itu pada anak buahnya.
“Kalian mau apa…” Sarani yang mulai ketakutan melihat anak-anak buah lintenir itu yang mendekatin Pak Budi dan salah satu dari mereka memengan dirinya.  Sarani hanya bisa menanggis  melihat Pak Budi di pukul berkali-kali oleh mereka, “aku mohon jangan pukul lagi… aku mohon…” yang tak kuasa melihat Pak Budi yang sudah babak belur namun masih dihajar oleh mereka.
***
Adriel melangkah keluar dari mobilnya menuju pintu masuk perusahaan. Kariawan yang melintasinnya  masih menyapah dengan hormat. Adriel berusaha menutupin perasaannya saat ini. Baru beberapa langkah masuk ke dalam gedung perusahaan, Adriel mendapatkan telpon dari sebuah nomor yang tidak tercantung ke kontak telpon. Adriel mengangkat telpon, “halo…” tenyata Kay yang menelponnya. Kay mengajak Adriel ketemuan. “Baiklah,” lalu menutup telpon. Di benaknya bertanya-tanya kenapa Kay tiba-tiba mengajaknya ketemuan.

Adriel mendatangin tempat yang ditentukan Kay untuk ketemuan. “Kau datang juga,” kata Kay lalu meminum secangkir kopi yang sebelumnya sudah di pesannya, “kau mau minum apa?”.
“Langsung saja! Kau mau apa?!” tanya Adriel tidak menujukkan sikaf persahabatan.
“Ok…” Kay meletakkan beberapa file di atas meja, “aku ingin kita saling membantu”.
“Apa maksudmu?!”.
“Perusahaan HK bersediah bekerja sama dengan perusahaan. Mereka akan membantu keuangan perusahaan dan aku ingin kau mengurus kerja sama itu sampai selesai,” penjelasan Kay.
“Kenapa bukan dirimu??” curiga Adriel.
“Aku harus segera ke Amerika”.
Adriel berpikir sejenak, “Pak Suroyo tidak akan mau bekerja sama jika memintaannya tidak diturutin,” setahu Adriel, “apa yang dimintahnya?? Apa kau memberikan sebagian sahammu padanya??”.
Kay tertawa,” hahahaha…hahaha… aku tidak sebodoh itu!!”.
“Lalu apa?”.
“Aku buat perjanjian dengannya?”.
“Perjanjian?? Penjanjian apa?!”.
“Aku akan menjadi pengacara di kasus putrinya”.
Adriel yang pernah mendenggar kasus putri Pak Suroyo, “karena itu kau mau berangkat ke Amerika?”.
“Ya”.
“Apa kau nyakin bisa memenangkan kasus itu?”.
“Doakan saja,” Kay tidak mau menujukkan keraguannya dihadapan Adriel.
“Aku harap kau bisa melakukannya”.
“Kau juga”.
Suasana terhening sejenak, “trimah kasih kau sudah mempercayainku,” kata Adriel yang mulai menyukain Kay.
“Aku tidak akan mempercayainmu sampai masalah ini selesai,” kata Kay.
Kali ini Adriel tersenyum, “aku akan berusaha membuatmu percaya padaku”.
Kay membalas tersenyum.
***
Ibu Sari makan malam bersama Alina dan Ceri di meja makan. Alina nampak tidak bersemangat menimatin makan malamnya. “Kau kenapa?” tanya Ibu Sari pada Alina, “kau ada masalah?”.
“Tidak tan. O ya… aku berencana mau mengotrak rumah tan. Gak enak juga aku kelamaan tinggal disini,” kata Alina.
“Kau bicarakan langsung saja pada Kay,” ucap Ibu Sari.
“Baik”. Beberapa saat kemudian Alina mendapatkan telpon dari nomor yang tidak terterak di kontak telpon. Alina mengangkatnya, “halo… ini siapa?”.
“Ini aku Sarani…” nada suara Sarani yang nampak gemetar.
“Ada apa?”.
“Ayahmu… Ayahmu…”.
“Ke…kenapa dengan dia?” Alina yang mulai kuatir.
“A…ayahmu sekarang dirumah sakit”.
“Apa!!” Alina nampak terkejut, “aku akan segera datang!” lalu menutup telponnya.
“Kau mau kemana?!” tanya Ibu Sari yang melihat Alina yang bersiap-siap untuk pergi.
Alina mau menjawab pertanyaan Ibu Sari namun saat dia melihat Ceri, dia menghentikan niatnya, “aku akan segera pulang,” lalu pergi dengan tergesah-gesah.
“Kakak kenapa tan?” kuatir Ceri.
Ibu Sari berusaha menghibur Ceri, “kakakmu hanya pergi sebentar. Kita lanjutin makan”.
Ceri menganggu lalu melajutin makannya yang tertunda.
Ibu Sari terpikiran dengan Alina yang buru-buru pergi setelah menerimah telpon namun berusaha tidak ditampakkannya di hadapan Ceri. Ibu Sari nyakin Alina tidak menjawab pertanyaannya karena menjaga merasaan Ceri.
***
Setiba di rumah sakit. Alina langsung bertanya pada perawat dimana Ayah tirinya di rawat. Setelah tahu di kamar mana Ayah tirinya dirawat, Alina bergegas menuju kamar tempat Pak Budi dirawat. Kedatangan Alina di sambut Sarani yang dari tadi menunggu kedatangannya, “akhirnya kau datang juga”.
Alina melihat perban membalut tangan, kaki, dan kepala Pak Budi, “bagaimana keadaannya?” tanya  Alina.
“Dia belum sadar”.
“Kenapa bisa seperti ini?!” Alina yang membutuhkan penjelasan.
“Budi berniat membayar utang-utangnya. Tapi lintenir itu memberikan tawaran padanya. Dia menolaknya mentah-mentah!! Lalu mereka memukul sampai seperti ini,” penjelasan Sarani sambil menanggis yang tidak bisa melupakan kejadian itu.
 “Kenapa dia menolaknya?” Alina yang merasa tidak mengenal Ayah tirinya itu lagi.
“Mereka menginginkan kau Alina”.
Alina terkejut, “dia sampai seperti ini gara-gara aku,” yang tidak menyangkah, “ini bukan dia…” Alina pun menanggis, “ini bukan dia….” Yang tersanjung melihat Pak Budi melindungin dirinya, “ini bukan dia…!!” yang masih menanggis.
***
Kay pulang ke apartemen untuk bersiap-siap berangkat ke Amerika malam ini juga. Dengan bantuan Ibunya kay memasukkan pakaian ke dalam koper. “Kenapa dadakkan seperti ini?” heran Ibu melihat putranya yang buru-buru.
“Ada kasus yang harus aku selesaikan Bu,” jawab Kay.
“Berapa lama kau pergi?” tanya Ibu Sari.
“Aku gak tahu bu. Tapi aku ingin cepat pulang”.
“Apa kau sudah memberitahu Alina?”.
“Belum. Tolong Ibu beritahunya”.
“Sepertinya Alina lagi ada masalah?”.
Kay menatap Ibu dan mulai menguatirkan keadaan Alina.
“Kau pergi saja. Ibu akan coba menghibur Alina sampai kau kembali,” kata Ibu yang tidak ingin putranya ragu.
“Baiklah. Trimah kasih Bu”.
Ibu hanya tersenyum walaupun sebenarnya dirinya masih ragu.
Setelah siap, Kay pun berangkat ke bandara Sukarno_Hatta menggunakan taxi yang sebelumnya sudah di pesannya. Ibu Sari hanya mengantar Kay sampai di depan pintu masuk gedung apartemen. Rasa penasaran mulai timbul kenapa Kay tiba-tiba berangkat ke Amerika. Kasus apa yang membuat Kay harus pergi meninggalkan masalah yang menyelimutin perusahaan.
***



Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar