Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 11


11

Sarani mendapatkan telpon dari Alina yang memberitahukan Pak Budi sudah sadarkan diri. Sarani langsung bergegas berangkat ke rumah sakit. Namun saat keluar dari rumah Sarani terkejut melihat litenir bersama anak buahnya sudah berdiri di depan pintu rumahnya. “Kalian mau apa?! Tanya Sarani dengan kasarnya.
“Aku denggar mantan pacarmu itu sudah sadar?” kata litenir.
Sarani terkejut dari mana litenir itu tahu Pak Budi sudah sadar dari komanya, “kalian tahu dari mana?” mulai menduga ada anak buah litenir itu mengawasin mereka, “kau menyuruh anak buahmu mengawasin kami!!?”.
“Ya!!” Litenir itu mulai merubah ekpresi wajahnya.
“Kau mau apa?!!”.
“Aku hanya ingin kalian  tidak macam-macam!!”.
“Apa!!”.
“Jika kalian berani melaporkan kasus ini pada polisi! Aku tidak bisa menjamin nyawa kalian!!” acam lintenir itu.
Sarani nampak shok dengan acaman lintenir itu. Dia tahu benar siapa litenir itu sebenarnya. Dia tidak pernah main-main dengan acamannya.
“Ayo pergi…!!”. Lalu mereka pergi.
***
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Alina pada Ayah setelah di periksa dokter.
“Trimah kasih kau sudah menjagaku,” Pak Budi yang sangat bertimah kasih pada anak tirinya itu.
Alina hanya tersenyum.
Pak Budi dari tadi tidak melihat Ceri, “apa Ceri tidak mau bertemu denganku?” dugaannya.
“Ceri tidak tahu, “Alina melihat ekpresi wajah Pak Budi  dengan penuh kekecewaan, “kau ingin bertemu dengan Ceri??”.
“Ceri pastih membenciku?”.
“Kau benar. Ceri sangat membencimu”.
Pak Budi mulai merasa bersalah lagi dengan kesalahannya selama ini.
“Tapi… setidaknya  mulai sekarang kau harus berusaha untuk mendekatinnya,” Alina memberikan semangan.
Pak Budi tersenyum lebar saat Alina memberikan semangat padanya, “trimah kasih untuk semuanya”.
Alina hanya tersenyum.
***
Gilda ke Hotel Ratu ingin bertemu dengan Ayah. Dia sangat berharap Ayah ada diruangannya. “Maaf… apa om Darmawan ada?” tanya Gilda pada sekretaris Ayah.
“Ada. Apa sudah buah janji dengan komisaris??” tanya sekretaris Ayah.
“Katakan saja Gilda mau menemuinnya”.
“Baik. Tunggu sebentar…” sekretaris itu masuk ke ruangan Ayah untuk memberitahu kedatangannya. Beberapa saat kemudian sekretaris itu keluar kembali, “silakan…” mempersilakan Gilda masuk keruangan.
“Trimah kasih,” Gilda masuk keruangan, “siang om…” sapa Gilda.
“Duduklah,” Ayah mempersilakan Gilda duduk, “ada yang ingin kau bicarakan?”.
Gilda duduk, “Iya”.
“Apa itu?”.
“Aku ingin mengatakan sesuatu pada om”.
“Apa?”.
“Apa om tahu Kay sedang dekat dengan seorang wanita?”.
“Ya”.
Gilda terkejut, “om tahu,” yang berpikir Ayah sudah merestuin hubungan Kay dengan wanita itu, “jadi om merestuin mereka?!”.
“Kenapa aku harus tidak merestuin mereka? Apa ada yang salah dengan wanita itu?”.
Dari perkataan Ayah, Gilda mengetahuin bahwa Ayah belum tahu apa-apa, “om tahu Alina bekerja di supermarket??” ragu-ragu Gilda.
“Dia bekerja di supermarket?” yang baru tahu, “apa dia pemilik supermarket itu??” dugaan Ayah.
“Tidak om, dia pelayan”.
“Apa!!” Ayah sangat terkejut.

Setelah memberitahu siapa Alina sebenarnya pada Ayah. Gilda tampak puas. Rencananya berjalan dengan lancar. Gilda nyakin hubungan Kay dan Alina tidak akan bertahan lama karena Ayah tidak akan merestuin hubungan mereka. Dengan puas Gilda meninggalkan Hotel Ratu.
***
Tenyata Ayah tidak percaya begitu saja dengan perkataan Gilda. Dia menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu apakah perkataan Gilda itu benar atau tidak. “Aku ingin tahu apakah perkataan Gilda  benar atau tidak?!”.
“Baik Pak”.
“Aku ingin secepatnya!!”.
“Baik”.
“Pergilah!”.
“Permisih…” mereka meninggalkan ruangaa. Tanpa membuang waktu mereka langsung mengerjakan tugas yang diberikan Ayah pada mereka.
***
Ibu Sari mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya bahwa Gilda memberitahu siapa Alina sebenarnya pada Ayah.  Ibu Sari nampak cemas dan mulai menguatirkan hubungan antara putranya dan Alina. walaupun sebenarnya Ibu Sari sudah tahu ini akan terjadi namun dia tidak menyangkah semua ini terjadi saat Kay tidak ada dan secepat ini.
***
Sarani tiba di rumah sakit. Dia langsung ke kamar tempat Pak Budi dirawat. Sekali-kali Sarani melihat di sekitar apakah ada yang mengawasinnya dari jauh. Dia nampak tidak bersemangan masuk ke dalam kamar, “kau sudah sadar?” tanyanya pada Pak Budi.
“Ya,” jawab Pak Budi singkat.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Sarani pada Alina.
“Lihat pemeriksaan besok. Jika hasilnya sama saja. Ayah boleh balik,” penjelasan Alina.
“Baguslah,” Sarani melihat jam sudah menuju pukul 18.30 WIB, “sebaiknya kau pulang. Biar malam ini aku yang jagah”.
“Baiklah,” yang tidak ada curiga sedikitpun, “aku pulang dulu…”.
“Kau hati-hati”.
“Ya,”  Alina meninggalkan rumah sakit dengan berjalan kaki.

Setelah Alina pergi barulah Pak Budi bertanya pada Sarani dengan sikafnya yang nampak aneh, “kau kenapa? Apa kau ada masalah?” kuatir Pak Budi.
Sarani cukup lama menjawab pertanyaan Pak Budi, “tadi siang mereka datang kerumah”.
“Apa!” Pak Budi yang sangat terkejut dan mulai menguatirkan keadaan Alina, “apa mereka menginginkan Alina lagi?!”.
“Tidak”.
“Jadi apa mau mereka?!!”.
“Mereka melarang kita melaporkan pemukulan ini pada polisi,” Sarani memberitahu tujuan litemir itu datang tadi pagi ke rumahnya.
Pak Budi nampak masih cemas dengan keadaan Alina, “mereka tidak akan menyakitin Alina lagi khan…?”.
“Aku gak tahu”.
Pak Budi melihat kecemasan yang nampak jelas dari wajah Sarani, “maafkan aku sudah melibatkanmu. Tak seharusnya kau terlibat…” yang mulai merasa bersalah pada Sarani.
“Sudahlah… sudah terlanjur. Yang pastih sekarang kau harus segera sembuh”.
“Ya”.
***
“Kau baru pulang?” tanya Ibu pada Adriel yang baru pulang.
“Ya,” jawab Adriel yang langsung masuk ke kamarnya.
Ibu nampak kesal dengan sikaf dingin yang ditunjukkan Adriel padanya, “sampai kapan dia seperti itu!!”.

Di dalam kamar Adriel langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Hari ini dia sangat lelah bekerja seharian di kantor yang sangat menumpuk pekerjaan. Dia tidak ingin berpikir macam-macam, dia hanya konsen dengan pekerjaannya di  perusahaan.
***
Alina tidak langsung pulang, dia langsung ke supermarket untuk bekerja seperti biasanya. Melihat keadaan Alina yang sekali-kali menguap membuat Nisa kuatir, “kau kenapa gak pulang saja sih…!!” kesal Nisa melihat Alina yang keras kepala.
“Aku gak enak dengan Bob,” alasan Alina.
“Hahhh… kau ini!!”.
Tanpak disadarin mereka berdua Bob sudah mendenggarkan pembicaraan mereka berdua, “Nisa benar. Kau harus pulang. Aku tidak ingin kau sakit”.
“Gak apa-apa. Aku masih kuat”.
“Alina…”.
“Aku gak apa-apa Bob…” Alina menyakinkan Bob bahwa dirinya masih kuat menahan rasa gantuk yang sedang menyelimutinnya.
Melihat kedekatan antara Alina dan Bob membuat Nisa cemburu. Dia mulai mengerjakan apapun yang harus di kerjakan untuk tidak melihat  mereka berdua lagi.

Karena tidak banyak orang-orang bebelanja pada malam hari, kalaupun ada itu hanya beberapa orang saja. Alina bisa sebentar-bentar mencuri waktu untuk tidur sejenak sebelum pengujung supermarket membayar barang belanjaanya.
***

Waktupun berlalu sangat cepat. Sinar matahari yang kemerah-merahan sudah mewarnain langit. Alina masih tertidur di tempat kasir karena sejak tadi supermarket sepih. Bob memperhatikan Alina dari pintu ruangannya. Tanpa disadarinnya Nisa memperhatikannya cukup lama ketika memutuskan untuk mendekatin Bob, “kau masih menyukainnya?” tanyanya yang terlihat ragu.
“Aku hanya kasihan,” jawab Bob.
“Kasihan dan suka itu gak jauh beda,” goda Nisa yang masih menutupin perasaannya.
Bob hanya tersenyum.
Nisa mencoba membahas pertanyaan baru, “kau tidak penasaran lagi dengan wanita yang dimaksud Alina?”.
“Masih”.
“Kenapa kau tidak mencoba untuk mencari tahu?”.
“Aku nyakin dia mempunyain alasan untuk tidak mengatakannya”.
“Mungkin kau benar,” Nisa asal bicara.
“Apa??”.
“Tidak. Aku hanya asal bicara”.
Bob tersenyum lagi.
***
“Apa Adriel sudah bangun?” tanya Ibu pada Bibi pembantu yang sedang menyiapkan sarapan pagi diatas meja makan.
“Sudah pergi dari tadi nyonya,” jawab Bibi.
Ibu melihat jam dilengganya yang masih menuju pukul 7.15 WIB, “ini masih pagi”.
“Kata Tuan muda ada kerjaan yang harus diselesaikan di kantor nyonya”.
Ibu nyakin itu bukan alasan Adriel pergi sepagi itu, “dia sudah berani menghindarinku!!?” kesal Ibu melihat perubahan sikaf Adriel padanya.
***
Setelah Alina bangun dari tidurnya. Alina dan Nisa pulang bersama. Diperjalanan Nisa mencoba pembicarakan hubungan Alina dengan Kay, “bagaimana hubungan kalian? Apa Kay selalu mendampinginmu?” tanyanya.
“Kay ada di Amerika,” jawab Alina yang terlihat sedih namun berusaha untuk tidak ditunjukkan pada sahabatnya itu.
“Amerika? Kok bisa?! Apa dia gak tahu soal Ayah tirimu?”.
“Tidak”.
“Kau tidak memberitahunya?”.
“Komunikasi kami terputus”.
“Apa”.
“Aku gak niat memberitahukan keadaan Ayah. Tapi aku sangat membutuhkannya saat ini,” Alina yang tidak bisa menahan kerinduannya lagi.
“Alina…” Nisa mencoba membujuk, “apa kau sudah bertanya pada Ibu kandung Kay? Bukannya kalian tinggal serumah”.
Alina diam.
Nisa tahu benar siapa Alina, dia tidak akan memintah bantuan siapapun atau bertanya dengan siapapun walaupun sebenarnya dia sangat membutuhkan itu semua. Harga dirinya terlalu tinggi itu membuatnya merana dalam kerinduan. Nisa hanya bisa membujuk Alina agar tidak terlihat sedih lagi, “sabar yach…”.
***
Ibu Sari mengajak Gilda ketemuan di cave yang tak jauh dari komplek perumahan tempat tinggal Gilda. Gilda langsung datang keika Ibu Sari memintah untuk menemuinnya, “maaf… membuat tante menunggu,” katanya.
“Duduklah,” perintah Ibu Sari yang sedang menikmatin secangkir teh hijau  yang sebelumnya sudah dipesannya.
Gilda duduk namun masih heran dengan sikaf dingin yang ditunjukkan Ibu Sari padanya.
“Kau mau minum?” tanya Ibu Sari.
“Tidak, trimah kasih. Kenapa tante ingin bertemu denganku?” tanya Gilda penasaran.
“Kau tenyata sangat pintar”.
“Maksud tante?”.
“Kenapa kau menemuin Ayah Kay?” Ibu Sari yang mulai serius.
“Aku…”.
Ibu Sari langsung memotong perkataan Gilda, “apa untungnya kau memberitahu itu semua!?!!” dengan memperkeras volume suaranya.
Gilda mengerti maksud perkataan Ibu Sari.
“Bukannya Kay sudah mengatakan dia tidak mencintanmu lagi!!” Ibu Sari nampak marah apa yang dilakukan Gilda.
“Tan…” Gilda yang hampir menanggis.
“Aku ingin kau jauhin putraku!!”.
“Maafkan aku, aku tidak bisa”.
“Apa katamu!!!”.
“Aku akan memperjuangkan cintaku pada Kay, apapun caranya!” tekat Gilda.
“Gilda!!!”.
“Maafkan aku tan,” Gilda yang masih keras mempertahankan cintanya  pada Kay dan menyakinin cinta Kay pada Alina hanya pelampiasan belakang.
***
“Tok…tok…tok…!!” terdenggar suara ketukkan dari luar pintu. Nisa yang merasa tenganggu istirahatnya langsung membukakan pintu, “siapa sih…” kata-katanya terputus saat Bob sudah berdiri di depan pintu kosannya, “Bob…”.
“Ganggu yach…”.
Nisa hanya tersenyum.

Lalu mereka keruangan tamu. Nisa mencoba membuka pembicaraan, “kenapa kau kemari? Apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya.
“Tidak. Aku hanya kebetulan lewat”.
“Kau dari mana?”.
“Aku baru dari rumah Berry,” menyebutkan teman lamanya yang tinggal di daerah tempat Nisa tinggal, “kau tahu Berry kan?”.
“Ya”.
“Minggu nanti dia akan nikah”.
“Aku tahu”.
“Apa kau akan datang?”.
“Mungkin”.
“Mau pergi bareng?” ragu-ragu Bob mengajak Nisa.
“Apa,” Nisa cukup terkejut melihat Bob yang pertama kalinya mengajaknya pergi walaupun itu hanya ke pestah pernikahan, “kau mengajakku?” yang masih tidak percaya.
“Ya iyalah. Kau kan temanku. Itulah aku mengajakmu”.
Nisa yang mengira Bob mulai suka dengannya tenyata sampai saat ini dia masih menganggapnya hanya sebagai teman, “tidak!” yang mulai kesal.
“Ohhh… kau pastih sudah ada janji dengan pria lain?”.
“Bukan itu?”.
“Lalu?? Ohhh… kau takut dilihat pacarmu?”.
“Aku belum punya pacar!! Apa pernah kau melihat aku dengan pria lain!!!” marah Nisa.
Bob mulai merasa tidak nyaman, “maafkan aku”.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku,” sambil berdiri, “aku mau istirahat. Permisih…” lalu kembali dikamarnya. Nisa marah pada dirinya sendiri kenapa dia bisa begitu kasar pada pria yang dicintainnya itu dan kenapa dia harus menolaknya padahal dihatinya yang paling dalam itulah yang sangat diharapkannya.
***
Alina sedang membersihkan rumah, dia kepikiran dengan kata-kata Pak Budi padanya, “apa Ceri tidak mau bertemu denganku?” dugaannya.
“Ceri tidak tahu, “Alina melihat ekpresi wajah Pak Budi  dengan penuh kekecewaan, “kau ingin bertemu dengan Ceri??”.
“Ceri pastih membenciku?”.
“Kau benar. Ceri sangat membencimu”.
Pak Budi mulai merasa bersalah lagi dengan kesalahannya selama ini.
Kata-kata Pak Budi dan ekpresi wajahnya membuat Alina kasihan.
Di waktu yang sama Ceri pulang, “aku pulang…”.
“Kau sudah pulang,” sambut Alina.
“Ya Kak”.
“Habis makan kau ikut aku yach…” ajak Alina yang berniat mempertemukan Ceri dengan Ayah kandungnya.
“Mau kemana?”.
Sejenak Alina diam, “bertemu Ayah”.
“Ceri gak mau!” Ceri yang langsung menolak.
“Ceri!!” bentak Alina.
Ceri menanggis, “Ceri gak mau…huhuhu…huhuhu….huhu…” yang  terus menanggis.
“Ayah sekarang dirawat di rumah sakit. Baru tadi pagi Ayah sadar dari komanya. Yang pertama kali yang Ayah ingin lihat adalah kau,” mencoba membujuk Ceri untuk merubah keputusannya.
Hati Ceri mulai luluh, “Ayah sakit apa?”.
“Ayah dipukul orang-orang yang ingin berbuat jahat dengan kita. Ayah sayang dengan kita terutama kau. Kau anak kandung Ayah, “diam sejenak, “coba aku tanya. Apa Ayah pernah memukulmu?” tanya Alina berharap jawabannya tidak.
Ceri mengeleng.
“Apa pernah berkata kasar denganmu?”.
Ceri tetap mengeleng.
Alina puas dengan jawaban yang diberikan Ceri, “itu tandanya Ayah sangat menyanyangin Ceri”.
“Tapi Ayah sering buat Kakak menanggis”.
“Itu dulu, sekarang Ayah ingin berubah. Dan kita harus mendukungnya. Ceri mau kan bertemu dengan Ayah??”.
Ceri mengangguk.
“Sekarang ganti baju, makan dan baru kita pergi”.
“Ya Kak…” Ceri masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Alina baru menyadarin kehadiran Ibu Sari yang memperhatikan pembicaraan antara dirinya dengan Ceri. Ibu Sari hanya diam seakan memikirkan sesuatu. “Tante sudah pulang,” sapa Alina.
“Ya,” sambil duduk di sofa, “Ayahmu sudah sadar?” tanya Ibu Sari.
“Ya, tadi pagi”.
Alina melihat Ibu Sari nampak murung, “tante ada masalah?”.
Ibu Sari tidak ingin Alina tahu apa yang terjadi, “tidak”.
“Syukurlah. Aku akan siapkan makan siang,” sambil berjalan menuju dapur.
“Alina!” panggil Ibu Sari.
Alina berhenti berjalan lalu menolek, “ya”.
“Hanya satu yang aku takutin selama ini”.
Alina diam.
“Aku tidak ingin melihat putraku terluka lagi”.
“Tante…”.
“Aku sayang dengan Kay… aku akan memperjuangkan  apapun caranya untuk membuat anakku bahagia,” tekat Ibu sari.
Alina nampak bingung dengan kata-kata yang diucapkan Ibu Sari padanya.
***
Ibu menemuin Ayah di Hotel Ratu. Ayah nampak masih kesal pada Ibu yang dilakukannya pada perusahaan. Mereka terlihat tidak nyaman satu sama lain. “Mau apa kau kemarin?!!” tanya Ayah yang masih bersikaf dingin pada Ibu.
“Aku ingin Ayah pulang,” kata Ibu memberitahu niatnya, “aku tidak ingin orang-orang berpikir macam-macam tentang pernikahan kita”.
“Kau hanya memikirkan pikiran orang!! Apa kau pernah memikirkan perasaan orang yang kau sakitin!!?” marag Ayah.
“Ayah!!”.
“Aku akan urus perceraian kita!!” keputusan Ayah.
“Ayah”.
Tanpa disadarin mereka berdua, Adriel sudah berada diruangan mendenggarkan pembicaraan mereka dan itu baru Ayah sadarin kehadirannya. “Adriel…” yang merasa bersalah dengan keputusannya.
Adriel berusaha untuk tersenyum, “maaf… dari tadi aku mengetuk pintu tapi tidak ada yang menjawab. Aku akan menunggu Ayah di lestoran Hotel. Permisih…” Adriel meninggalkan ruangan.
“Lihat… Adriel pastih kecewa dengan keputusan Ayah!” Ibu yang mencoba membuat Ayah merubah keputusannya.
“Kau tidak akan bisa merubah keputusanku!!!”.
“Ayah…”.

Ayah menemuin Adriel di lestoran Hotel Ratu. “Kau pastih kecewa dengan keputusan Ayah?” Ayah membuka obrolan.
“Aku tidak akan menyalahkan Ayah,” Adriel yang tidak ingin memaksa kehendaknya, “kalau pun aku memintah Ayah untuk tidak menceraikan Ibu, Ayah akan tetap menceraikan Ibu. Iyakan Yah??”.
Ayah diam.
“Setelah Ayah bercerai dengan Ibu, apa aku masih diperbolehkan untuk memanggil kau dengan sebutan Ayah?” harap Adriel.
“Ya,” Ayah menyambut dengan bahagia, “kau boleh tetap memanggilku  dengan sebutan Ayah”.
Adriel sangat bahagia mendenggarnya, “trimah kasih Yah… trimah kasih…”.
***
Alina dan Ceri tiba di rumah sakit. Mereka berdua langsung ke kamar tempat Pak Budi dirawat. Ceri nampak ketakutan melihat Pak Budi menatapnya. Dia langsung bersembunyi di belakang Alina. “Apa yang kau takutin?” bujuk Alina.
“Tidak usah dipaksakan. Wajar jika dia membenciku,” Pak Budi yang sudah sangat pasrah.
“Ceri…” Alina menatap Ceri dengan harapan penuh padanya.
Dengan perlahan-lahan Ceri melangkahkan kakinya menuju Pak Budi walaupun sekali-sekali menolek kebelakang kearah Alina yang masih tersenyum padanya. Ketika berada di dekat Pak Budi, Ceri melihat bekas-bekas memar di wajah, dan tangan Pak Budi, “Ayah tidak apa-apa?” Ceri mencoba berbicara dengan Ayah kandungnya.
Pertanyaan Ceri membuat Pak Budi terharum dan tak bisa menahan air mata kebahagian yang keluar dari matanya, “anakku…” sambil memeluk Ceri, “maafkan Ayah… maafkan Ayah…” Pak Budi berulang-ulang mengucapkan kata maaf pada Ceri.
Ceri menganggu walaupun sebenarnya dia masih belum mengerti kenapa Pak Budi menanggis.
“Kita bicara diluar,” kata Sarani mengajak Alina keluar dari kamar.
“Ya,” Alina mengikutin Sarani.

Mereka berdua mengobrol di taman yang berada di rumah sakit. “Besok dia sudah boleh pulang,” kata Sarani memberitahukan kabar terbaru tentang Pak Budi pada Alina. Sarani melihat Alina nampak bingung, “apa kau masih tidak ingin tinggal dengannya?” dugaanya.
“Bukan itu,” bantah Alina, “aku belum mencari kotrakan untuk tempat tinggal kami”.
“Sementara wantu kalian boleh tinggal di rumahku. Sepertinya enak juga kalau tinggal rameh-rameh”.
“Tapi…”.
“Sudahlah… jangan banyak mikir. Selama ini Ayahmu sudah banyak merepotkanku. Aku sudah terbiasa direpotkan,” kata Sarani menyambut Alina dengan tangan terbuka.
“Trimah kasih”.
“Ya”.
“Ohhh iya… apa kau bisa antar Ceri pulang?” tanya Alina, “aku mau langsung kerja nanti”.
“Ya”.
“Trimah kasih yach…” yang mulai menyukain Sarani.
***
Adriel pulang dan melihat kesedihan di wajah Ibu kandungnya. Tidak bisa dibohongin rasa kekuatirannya pada Ibunya itu walaupun sejahat manapun Ibunya itu. “Ibu tidak apa-apa?” tanya Adriel.
Ibu menolek, “apa yang kalian bicarakan?” Ibu yang ingin tahu apa yang dibicarakan antara Adriel dan Ayah.
“Ayah memintah maaf”.
Ibu nampak bingung, “untuk apa?”.
“Tidak bisa mempertahankan pernikahan kalian”.
Walaupun Ibu sudah tahu tapi masih saja Ibu terlihat terkejut, “apa yang kau atakana?!” berharap Adriel dipihaknya.
“Aku atakana. Aku iklas Ayah menceraikan Ibu”.
“Adriel!!” marah Ibu.
Adriel tidak menghiraukan kemarahan Ibu padanya, “sebaiknya kali ini Ibu ikutin apa yang aku atakana. Aku akan cari rumah dan kita akan segera pindah dari rumah ini”.
“Aku tidak mau!” keras Ibu, “ini rumahku!!”.
“Ini rumah Kay Bu!! Sebelum Ibu menikah dengan Ayah, rumah ini sudah diwariskan dengan Kay. Jangankan Ibu, Ayah pun tidak ada hak dengan rumah ini!”.
“Adriel…!!”.
“Ibu!!!” dengan nada suara tinggi, “aku mohon… sekali ini saja Ibu ikutin apa yang aku inginkan. Aku mohon…”.
Ibu tidak memberi jawaban.
“Sebaiknya Ibu pikirkan dengan kepala dingin,” Adriel masuk ke kamarnya.
***
Sarani mengantar Ceri pulang ke apartemen. “Tante sudah lama mengenal Ayah?” tanya Ceri lugu.
“Ya,” jawab singkat Sarani.
“Dari kapan?”.
“Sebelum Ibumu menikah dengan Ayahmu”.
“Apa tante  menyukain Ayah?”.
Sarani terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Ceri padanya, “kenapa kau bertanya seperti itu?”.
“Karena tatapan tante dengan Ayah sama dengan tatapan Kak Alina dengan Kak Kay”.
“Kak Kay?? Siapa tuh?” tanya Sarani yang mulai mengalihkan pembicaraan.
“Dia pria yang menyukain Kak Alina”.
“Dari mana kau tahu dia menyukain kakakmu?”.
“Kak Kay sendiri yang mengatakannya”.
“Apa dia tinggal diapartemen yang sama tempat kalian tinggal?” penasaran Sarani.
Ceri menganggu.
“Jadi mereka sudah…” yang mulai berpikir macam-macam.
“Tante bicara apa sih…?” bingung Ceri.
“Anak kecil gak boleh tahu!”.
Ceri cemberut.

Akhirnya mereka sampai juga. Sarani langsung mengentuk pintu, “tok…tok…tok…!!” tak lama kemudian pintu terbuka. “Selamat malam…” Sarani menyapa Ibu Sari, “aku mau mengantar Ceri pulang”.
“Alina langsung kerga?” tanya Ibu Sari balik melihat bukan Alina yang mengantar Ceri pulang.
“Ya”.
“Kau siapa?” tanya Ibu Sari lagi.
“Dia pacar Ayahku,” sambung Ceri.
“Ceri…” malu Sarani, “jangan denggarkan omongan anak kecil”.
Ibu Sari hanya tersenyum.
“Aku pulang dulu,” Sarani pergi meninggalkan apartemen dengan wajah memerah karena malu.
Ibu Sari menutup pintu, “sepertinya dia wanita yang baik”.
“Benarkah?”.
“Apa kau tidak menyukainnya?”.
“Aku lebih menyukain tante”.
Ibu Sari memeluk Ceri, “dasar anak nakal”.
***
Bob mendekatin Alina yang sedang menghitung barang belanjaan pengujung supermarket, “perluh bantuan?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Alina yang masih sibuk dengan pekerjaannya. “Trimah kasih…” kata Alina pada pengujung.
“O iya, apa kau tahu Nisa sedang dekat dengan seseorang?”.
“Tidak. Kenapa?”.
“Tadi siang aku mengajaknya pergi ke pernikahan temanku. Tapi dia tiba-tiba marah padaku…? Itu terlihat aneh,” Bob yang masih bingung dengan sikaf Nisa pada tadi siang.
“Selama ini kau menganggap Nisa sebagai apa?” tanya Alina.
“Teman”.
“Hanya teman?”.
“Maksudmu aku harus menganggap Nisa sebagai apa?”.
“Kau ini butah atau tidak punya perasaan??!” Alina yang mulai kesal melihat sikaf Bob yang cuek.
“Maksudmu apa?”.
“Apa kau tidak tahu Nisa sudah lama menyukainmu!”.
“Apa,” Bob nampak terkejut, “wanita yang kau maksud itu apakah Nisa?” yang mulai bertanya tentang perkataan Alina tempo lalu.
“Ya”.
Bob baru sadar, kenapa dirinya sampai butah tidak menyadari ada wanita yang sangat mencintainnya selama ini. Benar apa yang dikatakan Alina, dirinya sangat cuek sampai-sampai dirinya tidak menyadarinnya.
***

“Kenapa kau menolak ajakan Bob??” tanya Alina yang pulang bersama dengan Nisa.
Nisa diam.
“Apa kau sudah menyerah?”.
“Aku ingin melupakannya”.
Alina tersenyum sinis, “kenapa baru sekarang kau menyerah!!? Kenapa tidak kemarin-kemarin!!” kesal Alina melihat Nisa sudah menyerah.
“Jadi menurutmu aku harus melakukan apa!!? Aku gak mungkin memaksa orang untuk mencintainku!! Itu tidak mungkin!!” Nisa mempekeras volume suaranya.
“Kau benar!!” lalu berjalan duluan meninggalkan Nisa yang berjalan di belakangnya.
***
4 pria berbadan besar menemuin Ayah di kamar hotel tempat selama ini Ayah beristirahat. “Info apa yang kalian dapat?” tanya Ayah yang langsung bertanya.
“Apa yang dikatakan nona Gilda itu benar tuan. Alina bekerja sebagai pelayan di supermarket yang bukak 24 jam,” penjelasan salah satu dari mereka.
“Apa lagi??”. Mereka memberitahukan apa yang di dapat mereka selama penyelidikan  ini tentang kehidupan Alina  dan keluarganya. Ayah tampak kecewa dengan Kay pada wanita pilihannya jauh dari harapannya selama ini. Setelah mendenggar penjelasan dari anak buahnya, Ayah memerintahkan untuk mempertemukan mereka berdua, “atur pertemuanku dengannya”.
“Baik tuan,” mereka pergi meninggalkan kamar.
Ayah masih memikirkan perkataan-perkataan  anak buahnya.
***
“Kau kenapa belum pergi?” tanya Ibu Sari pada Ceri yang menyadarkan diri di depan pintu.
“Mereka belum datang,” rengek Ceri.
Ibu Sari tahu siapa yang dimaksud Ceri, tiga pria yang selalu menemaninnya pergi dan pulang sekolah, “aku coba telpon mereka,” lalu mencoba menelpon salah satu dari mereka. Setelah cukup lama berbicara dengan mereka melaluin telpon. Ibu Sari mengetahuin dari mereka bahwa mereka di perintahkan oleh Ayah untuk tidak datang lagi ke apartemen Kay namun mereka tidak diberitahu alasannya. Itu semua membuat Ibu Sari bingung. Lalu menutup telponnya.
“Kemana mereka?” tanya Ceri pada Ibu Sari setelah selesai menelpon.
“Mereka tidak akan datang”.
“Kenapa??” yang masih bertanya.
Ibu Sari tidak berniat memberitahu  Ceri, “kau bisa pergi sendiri kan??” mengalihkan pembicaraan.
Ceri menganggu.
“Sekarang pergilah”.
“Iya…” dengan lesuh Ceri pergi meninggalkan apartemen.
Di benak Ibu Sari penuh banyak pertanyaan yang salah satunya kenapa Ayah melakukan itu semua??? Apa Ayah sudah mengetahuinnya?? Atau apa??.
***
Di persimpangan jalan mereka berdua berpisah. Alina langsung ke rumah sakit sedangkan Nisa pulang kekosannya. Setiba di depan kosan, Nisa dikejutkan oleh Bob yang sudah menunggunya di depan kosannya, “kau sedang apa disini?” heran Nisa.
“Maafkan aku Yach…” Bob yang langsung memintah maaf karena selama ini dia buta.
“Kenapa kau harus memintah maaf?? Apa kau melakukan kesalahan??”.
“Aku baru tahu wanita itu adalah kau”.
Mata Nisa berkaca-kaca, “apa Alina yang memberitahu?”.
Bob diam.
Melihat Bob diam Nisa sudah mendapatkan jawabannya.
“Apa aku masih punya kesempatan??” tanya Bob.
“Tapi kau tidak menyukaiku”.
“Aku akan mencoba,” menyakinkan Nisa, “aku mohon… kasih aku waktu untuk belajar untuk mencintainmu”.
“Sampai kapan? Aku sudah lama menunggu”.
Bob diam.
“Aku mau istirahat. Permisih…” Nisa langsung masuk ke dalam kamar kosannya. Di dalam kosan Nisa sepuas-puasnya menanggis melepaskan kesedihannya. Dia tidak berniat untuk menyakitin pria yang cintainnya tapi dia sudah lelah untuk menunggu lagi itu yang membuatnya menanggis saat ini.
***
Alina melihat Sarani sedang menbantu Ayah tirinya sedang memasukkan pakaian ke dalam tas. Dia teringat dengan kata-kata Sarani waktu itu padanya, “Karena Ibumu lebih baik dibandingkan denganku”. Spontan Alina mengucapkan kata-kata yang membuat Pak Budi dan Sarani terkejut, “kenapa kalian tidak menikah saja?”.
“Kau bicara apa!” kata Pak Budi.
Sarani nampak terlihat salah tingkah , itu terlihat lucu di mata Alina. Alina keluar dari kamar dan duduk di bangku tunggu. Diambilnya buku tabungan saku jaketnya. Tampak jelas kesedihan dari wajah Alina dan Sarani melihat itu semua dari pintu kamar. Ketika Sarani mau mendekatin Alina, langkahnya terhenti saat Aina mendapatkan telpon dari seseorang. “halo… ini siapa…?” yang menghubungin Alina menggunakan nomor baru, “ya…” lalu mendenggar apa yang di katakana si penelpon, “baiklah… aku akan datang,” lalu menutup telponnya.
Sarani melihat Alina nampak tegang, “kau gak apa-apa?” tanyanya.
Alina menolek lalu berusaha untuk tersenyum.

Setelah Alina pergi, Sarani kembali masuk ke dalam kamar. “Ayo kita pulang,” sambil membantu Pak Budi berdiri.
Pak Budi bingung kenapa Alina tidak nampak, “mana Alina?”.
“Dia buru-buru pergi. Nanti dia ke rumha,” alasan Sarani yang tidak ingin melihat Pak Budi salah paham.
“Ohhh gitu,” nampak kekecewaan dari ekpresi wajah Pak Budi. Dengan bantuan Sarani, Pak Budi melangkah perlahan-lahan meninggalkan rumah sakit.
***
Alina tiba di lestoran bintang lima tempat dirinya  akan bertemu dengan orang yang menelponnya tadi. Di lobi lestoran seorang pria berpakaian stelan jas hitam mendekatinnya, “apa kau Alina?” tanya pria itu.
Alina mengangguk.
“Komisaris sudah menunggu”. Lalu mengantar Alina menemuin komisaris. Komisaris yang dimaksud pria itu  adalah Pak darmawan Ayah dari Kay.  Pria itu mengantar Alina ke sebuah ruangan, “nona Alina sudah datang komisaris,” kata pria itu pada Ayah.
Ayah memadang wanita yang berdiri di belakang anak buahnya, “duduklah,” yang masih memperlebut nada suaranya.
“Ya,” lalu duduk.
Ayah membuka bahan pembicaraan, “ini pertama kali kita bertemu”.
“Ya”.
“Sudah berapa lama kau mengenal Kay?” tanya Ayah yang mulai serius.
“Baru beberapa minggu”.
Ayah memperhatikan Alina apa yang membuat putranya sampai tergila-gila pada wanita yang duduk dihadapannya itu, “apa yang membuat putraku sampai tergila-gila padamu??!”.
“Aku gak tahu,” berusaha untuk tenang.
“Apa kau mengetahuin Kay akan mewarisin perusahaan-perusahaanku dan Hotel Ratu?”.
“A…apa maksud anda?” bingung Alina yang tidak tahu apa-apa.
Ayah meihat kebingungat dari wajah Alina, “jangan bilang kau tidak tahu apa-apa?”.
Alina masih nampak bingung.
“Apa yang kau ketahuin tentang Kay?”.
“Yang aku tahu Kay seorang pengacara”.
Ayah masih tidak percaya hanya itu yang Alina tahu tentang Kay, “dia putraku dan akan menggantikanku di perusahaan!” tegas Ayah, “Aku ingin kau menjauhin putraku!!”.
Alina sangat terkejut. Tanpa disadarinnya air mata membasahin pipinya. Tubuhnya gemetar dan tak bisa berkata apa-apa.
“Aku tidak penduli kau mencintain putraku atau tidak. Aku hanya tidak ingin putraku hancur karena kau!!”. Suasana terhening sejenak, Ayah membuka pembicaraan baru, “kenapa kau berhenti kuliah? Apa karena tidak ada biaya?!”.
“I…ya…” jawab Alina gemetar.
Ayah memerintahkan sesuatu pada anak buahnya. Lalu anak buahnya meletakkan koper kecil di atas meja lalu membukannya. Di dalam koper penuh dengan uang seratus ribuan.
Alina langsung mengetahuin apa yang direncanakan Ayah padanya, air matanya semakin deras terasa harga dirinya sekarang sedang diijak-ijak.
“Kau bisa gunakan uang ini untuk kuliahmu. Kalau kurang akan aku tambahkan!!”.
Mata Alina masih tertujuh pada uang di dalam koper lalu terenyum lebar, “sebelum Ayahku meninggal pun aku belum pernah melihat uang sebanyak ini,” lalu menarik nafas panjang dan berusaha menatap Ayah, “trimah kasih,” yang masih tersenyum, “tapi aku tidak memerlukannya,” lalu berdiri, “aku akan menjauhin Kay… aku jauhin…aku akan menjauhin Kay…” yang masih menanggis, “pe…mi…sih…” lalu keluar ruangan itu dan langsung pergi dari lestoran. Air mata terus membasahin pipinya, tubuhnya gemetar dan sekali-kali hampir jatuh berusaha untuk berdiri.

Setiba di apartemen. Alina disambut oleh Ceri, “kakak sudah pulang”.
“Kita harus pergi,” Alina masuk kamar untuk mengambil barang-barangnya.
Ceri mengikutin Alina masuk ke kamar, “kemana Kak??”.
“Ya pergi!!” bentak Alina pada Ceri banyak bertanya. “Maafkan aku…” melihat Ceri yang hampir menanggis, “maafkan aku…” lalu memeluk Ceri sambil menanggis.
***
Ibu Sari mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya bahwa  mantan suaminya bertemu dengan Alina. Ibu sari bergegas menemuin Ayah. Tanpa mengentuk pintu, Ibu sari langsung masuk ke dalam ruangan kerja Ayah. Ayah tampak terkejut melihat Ibu Sari yang tiba-tiba masuk keruangannya, “apa sekarang kau tidak ada tata krama lagi!!!?” marah Ayah.
“Apa yang kalian bicarakan?!! Dan kenapa kau ingin bertemu dengannya?!!”.
“Kau ingin dia menjauhin putraku!!” tegas Ayah.
“Apa!!!”.
***
Dan inilah Kay yang keluar dari bandara Sukarno_Hatta dengan memakai kaca mata hitam dan jaket ungu. Di benaknya dia ingin sekali segera pulang untuk menemuin Alina. Dia segaja pulang ke Jakarta untuk bertemu dengan Alina. Kay mendapatkan telpon dari Heru yang masih di Amerika. “Apakah aku tidak bisa pulang juga,” kata Heru yang nampak dari suaranya dia sudah bosan di Amerika.
“Selesaikan tugasmu baru kau boleh pulang!” tegas Kay.
“Apa!!! Hahhh… kau ini…!!”.
“Nanti aku telpon lagi,” lalu menutup telponnya. Setelah itu Kay masuk ke dalam taxi. Beberapa saat kemudian taxi membawa Kay pergi meninggalkan bandara Sukarno_Hatta.
***
 

Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar