Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 4


4

Ibu masuk ke kamar Adriel yang sedang istirahat. Adriel menyadarin kehadiran Ibu namun dia tidak membuka matanya,  “apa kau serius ingin bertemu dengan Kay?”.
“Iya Bu,” jawab Adriel tanpa membuka matanya.
“Untuk apa?”.
“Hanya untuk memastikan”.
“Memastikan apa? Apa sebenarnya rencanamu?!”.
Adriel membuka matanya, “bukankah Ibu ingin aku mengantikan Ayah?”.
“Iya, tapi…”.
“Aku akan melakukan dengan rencanaku sendiri”.
“Adriel!”.
“Aku ingin Ibu jangan melakukan apa-apa pada Kay”.
“Kau ingin bersikaf baik padanya?”.
“Iya”.
“Ibu bingung dengan cara pikirmu!!” Kesal Ibu lalu keluar dari kamar.
“Aku penasaran seperti apa dia? Kenapa semua orang ingin melindunginnya,” kata Adriel pada dirinya sendiri.

Ibu langsung ke kamar dan melihat Ayah sedang membaca koran diatas kasur. Ayah melipat koran lalu meletakkan diatas meja yang berada di sebelah tempat tidur sambil berkata, “aku denggar Heru tadi soreh datang. Apa yang ingin kau ketahuin?”.
Ibu menidurkan tubuhnya di sebelah Ayah, “apa salah aku ingin mengetahuin tempat tinggal anak tiriku”.
“Tolong, jangan ganggu Kay. Dia sudah cukup menderita dengan penceraianku dengan Sari,” harap Ayah Ibu bisa mengerti.
“Baiklah. Aku tidak akan berusaha mendekatin Kay lagi”.
“Trimah kasih sayang,” kata Ayah lalu memeluk Ibu.
Di hati Ibu berkata, kau pikir aku akan biarkan Kay merebut yang seharusnya menjadi milik anakku. Aku tidak akan membiarkan itu! tidak akan!!
***
“Bagaimana bos?” tanya salah satu anak buah lintenir itu.
Sejenak lintenir itu berpikir untuk  memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Setelah lama berpikir, lintenir itu pun   memerintahkan anak buahnya, “culik adiknya!”.
“Baik bos!” beberapa anak buahnya meninggalkan ruang kerjanya.
***
Sambil menidurin Ceri di tempat tidur, Alina memikirkan perkataan Kay sewaktu di Moll,  “aku suaminya”.
Kata-kata Kay membuat Alina terkejut, “kau bicara apa!”.
“Hahahaha….” Lintenir itu tertawa berserta anak buahnya, “tenyata kau sudah punya suami, ini tambah menarik”.
“Aku tidak akan membiarkan kau membawa istriku!” kata Kay pada lintenir itu.
Kata-kata Kay menganggu dirinya sampai dirinya tidak bisa tidur, “kenapa dia!! Kenapa dia asal bicara seperti itu!!” kesal Alina terutama pada dirinya sendiri. Lalu Alina keluar kamar untuk mengambil minum di dapur namun saat keluar dari kamar Alina melihat  Kay sedang berdiri di balkon dengan tatapan kedepan. Karena tidak ingin Kay mengetahuin kehadirannya, Alina membalik tubuhnya bermaksud kembali masuk ke kamar.
Tapi tenyata kehadiran Alina disadarin Kay, “ada yang ingin kau tanyakan?,” kata Kay  tanpa membalikan tubuhnya.
“Iya,” lalu mendekatin Kay, “kenapa kau bicara seperti itu?”.
Kay pura-pura tidak tahu maksud perkataan Alina, “memang aku bicara apa?! Apa aku salah mempunyai teman pengacara, polisi dan hakim di Indonesia?”.
Alina diam sejenak, “sebaiknya lain kali kita membahasnya,” Alina berjalan masuk kamar.
“Menikahlah denganku,” ucap Kay.
Kata-kata Kay membuat Alina menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya, “kau jangan bercanda. Itu tidak lucu,” katanya menatap Kay yang menatapnya.
“Aku serius, aku tidak bercanda”.
“Jika kau ingin main-main, kau salah orang!” lalu Alina masuk ke kamar. Air mata tiba-tiba jatuh membasahin pipinya, “dia pastih bercanda,”  menyakinkan dirinya sendiri.

“Memang salah jika aku mengajaknya menikah!!” marah Kay terutama pada dirinya sendiri yang tak bisa menyakinkan Alina agar mau menerimahnya.
***

Ceri bersiap-siap untuk ke sekolah, setelah berpakaian Ceri ke dapur untuk sarapan, “wahhh… makan enak,” yang melihat sarapan hari ini bedah dengan sarapan seperti biasanya.
Alina menuangkan nasi ke piring Ceri, “cepat makan, nanti telat,” sambil duduk di sebelah Ceri.
“Mana Kakak Kay?” tanya Ceri yang tidak melihat Kay sarapan bersama mereka.
“Kenapa kau mencariku,” Kay yang tiba-tiba muncul.
“Kau gak makan?” tanya Ceri pada Kay.
Kay memadang Alina yang mencoba menghindari tatapannya, “aku akan sarapan diluar. Cepatlah, aku tunggu kau di mobil,” lalu Kay keluar dari apartemen.
“Kenapa Kak Kay?”.
“Cepatlah makan,” Alina menyuap Ceri agar cepat selesai makan.

Setelah Ceri pergi, Alina memikirkkan perkataan Kay semalam, “Menikahlah denganku,” ucap Kay.
Kata-kata Kay membuat Alina menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya, “kau jangan bercanda. Itu tidak lucu,” katanya menatap Kay yang menatapnya.
“Aku serius, aku tidak bercanda”.
Lalu memikirkan sikaf Kay yang dingin padanya tadi. Itu membuat dirinya tidak nyaman dan terasa tenganggu.
***
Kay mengantar Ceri ke sekolah menggunakan mobil, didalam mobil Kay terus mengomel membuat Ceri heran melihat sikaf kekanak-kanakan Kay. “Memang salah aku mengajaknya menikah?!! Apa aku terlihat bercanda… atau terlihat main-main!!” lalu menolek kearah Ceri, “kalau kau menjadi aku, apa yang akan kau lakukan?!”.
“Aku tidak akan mengomel di tengah jalan,” jawab Ceri asal bicara.
“Apa. Kau ini!” lalu membandingkan sikaf Ceri dengan Alina, “kau tidak jauh bedah dengan kakakmu!” kesal Kay namun tetap konsen menyetir mobil ke tujuan.
***
Heru segera datang keruangan kerja Ayah setelah mendapatkan telpon dari Ayah, “kenapa bapak memanggilku?” tanya Heru hormat.
“Aku ingin bertemu dengan Kay. Tolong atur pertemuan kami,” kata Ayah.
Herum diam.
“Kau bisa melakukannya kan?”.
“Iya Pak, akan aku usahakan”.
“Kau selalu bisa aku adalkan”.
“Trimah kasih Pak”.
***
Nisa datang keapartemen untuk menemuin Alina. Nisa kagum melihat apartemen yang sangat besar, “wahhh… aku gak percaya aku bisa masuk ke apartemen ini,” lalu berdiri di balkon, “pemadangan disini juga bagus,” yang tidak henti-hentinya memuji.
Alina ikut berdiri di balkon bersama Nisa, “sepertinya aku harus pergi dari apartemen ini”.
“Kenapa? Apa dia jahat padamu? Atau berusaha memperkosamu?”.
Alina mengeleng, “Kay tidak pernah menyetuhku”.
“Lalu kenapa kau ingin pergi?”.
“Semalam Kay melamarku”.
“Apa,” Nisa terkejut, “lalu apa jawabmu? Kau menerimahnya?”.
Alina mengeleng.
“Kenapa? Kau tidak menyukainnya?”.
Alina diam, dia bingung harus menjawab apa.
“Atau kau masih teromah?”.
Alina pun tidak menjawab.
Nisa menatap Alina, “apa kau tidak bisa melupakan sakit hatimu itu?!”.
Kali ini Alina mengeleng.
“Sampai kapan kau seperti ini?”.
Alina masih diam.
“Sebaiknya kau pikirkan perasaanmu  pada Kay, jangan langsung memutuskan,” nasehat Nisa sebagai sahabat Alina.
***
Kay menemuin Rudi di Hotel Larisa. Dia menunggu Rudi di ruang kerja Rudi yang berada di lantai 17. Dengan bermalas-malasan Kay menunggu Rudi sampai selesai rapat.  Apa aja dikerjakannya untuk menghabiskan waktu yang dianggpanya sangat lama berlalu, baik itu membaca koran, main game di leptop, membaca file-file di atas meja kerja Rudi sampai hanya mondar-mandir di ruangan. Itu dilakukannya untuk menghabiskan waktu agar cepat berlalu.
Jam makan siang pun berlalu, Kay melakukan makan siang di dalam ruangan. Dia tidak bernian meninggalkan ruangan sampai waktu yang telah di tentukannya.
Selesai rapat Rudi kembali keruangannya, dilihatnya Kay bermalas-malasan, ditambah sisa makanan Kay masih berserakkan di atas meja, “heiii…!!” marah Rudi apa yang dilakukan Kay pada ruang kerjanya,”apa yang kau lakukan pada ruang kerjaku!!”.
Kay hanya tersenyum lebar menutupin rasa bersalahnya.

Setelah selesai di bersihkan ruang kerjanya oleh pelayan hotel, Rudi mulai bicara serius pada Kay yang biasa apa yang dilakukan Kay seperti ini pastih dia sedang ada masalah. “Kau ada masalah apa?” tanyanya menconba membantu meringanin beban masalah yang dipikul Kay.
Kay menyadarkan kepalanya ke sandaran sofa dengan mata menatap keatas, “apa salah aku melamarnya?”.
“Kau selalu terlibat masalah percintaan,” 5 tahun yang lalu Kay juga seperti ini, “siapa dia? Bukan wanita yang sama khan?”.
“Dia wanita biasa, keras kepala, harga diri tinggi namun dia bekerja keras untuk memenuhin hidupnya”.
“Apa itu yang membuat kau suka padanya?”.
“Aku nyaman bersamanya”.
Rudi tersenyum sendiri melihat sahabatnya itu yang selalu ada masalah dengan percintaannya, “kali ini kau melepaskannya atau mempertahankannya??”.
Kay hanya diam, dia bingung harus melakukan apa, karna ini untuk kedua kalinya dia merasakan apa itu cinta. Lima tahun yang lalu Kay mengiklaskan melepaskan wanita yang dulu dia cintain dengan pria lain. Walaupun saat ini ceritanya berbeda namuun intinya tetap sama, wanita-wanita itu tidak mau bersama Kay.
“Apa kau akan seperti ini terus? Sampai kapan kau tidak tegas dengan perasaanmu!” kesal Rudi melihat Kay yang tidak pernah memikirkan perasaannya.
Kay mendapatkan telpon dari Heru, “halo…” setelah mendenggar apa yang dikatakan Heru padanya, “baiklah. Aku akan datang,” lalu menutup telpon.
“Ada apa?” tanya Rudi.
“Ayahku ingin bertemu”.
“Temuin Ayahmu,” Rudi yang tak ingin Kay lari terus dari kenyataan.

Setiba di Hotel Ratu, Kay langsung ke lestoran tempat dimana dirinya dan Ayah ditentukan oleh Heru untuk bertemu. Kay melihat pria tua yang sudah 5 tahun tidak ditemuinnya, dengan perlahan-lahan Kay mendekatin pria itu yang menyambut kedatangannya, “Ayah,” yang berusaha tidak menujukkan kesedihannya dihadapan Ayah.
Ayah langsung memeluk Kay melepas kerinduan yang selama ini di pedamnya, “maafkan Ayah”.
“Aku juga Yah. Maafkan aku…”.
Dari jauh Heru memperhatikan Ayah dan Kay sedang melepas rindu diantara mereka berdua. Sudah lama sekali Heru ingin melihat ini namun tidak ada kesempatan untuk melakukannya karna jarak yang memisahkan mereka berdua.

Suasanapun berubah menjadi hangat, Ayah mencoba menjadi Ayah yang diharapkan Kay selama ini, “bagaimana dengan istrimu?” tanya Ayah, “lain kali kau harus membawahnya”.
“Aku belum menikah Yah,” jujur Kay yang tidak berbohong lagi pada Ayahnya.
Ayah tersenyum, “Ayah tahu,” kata Ayah yang awalnya pura-pura tidak mengetahuin kebohongan yang dibuat anaknya itu.
“Ayah tahu?”.
“Dan Ayah tahu kenapa kau berbohong,” kata Ayah yang tahu semua tentang anaknya itu, “kau melakukan itu agar Ayah membatalkan pernikahan Ayah, lalu berangkat ke Amerika menemuinmu, iya khan”.
Tebakkan Ayah benar semua, Kay sangat malu karena kebohongannya sudah diketahuin Ayah duluan, “maafkan aku,” sambil tersenyum, “tapi Ayah sudah memilih,” diam sejenak, “Ayah memilih dia dibandingkan aku”.
“Kay…”.
“Tidak apa. Aku pernah merasakannya”.
Ayah merasa terpukul dengan kata-kata Kay sangat menusuk dirinya, “maafkan kami,” Ayah yang sangat bersalah pada putranya itu.
Kay berusaha untuk tersenyum dihadapan Ayah.
***
Alina membantu membukahkan pakaian sekolah yang dikenakan Ceri. Ceri melihat pakaian mereka sudah di bungkus di dalam kain, “kita akan pergi Kak?” tanyanya.
Alina menganggu.
“Kenapa Kak?”.
“Kita tidak seharusnya ada disini. Kita harus pergi,” Alina mencoba menyakinkan Ceri.
“Tapi aku menyukain Kak Kay. Kak Kay baik dengan Ceri”.
Alina menatap Ceri yang hampir menanggis, aku juga tidak ingin pergi, aku menyukain perhatian yang Kay berikan, tapi aku gak bisa membohongin perasaanku  dan aku tidak ingin terluka untuk kedua kalinya, aku tidak ingin, kata Alina dalam hatinya dengan meneteskan air mata membasahin pipinya.
Ceri panik melihat Alina menanggis, “Kakak kenapa menanggis? Ceri akan ikutin Kakak, tapi Kakak jangan menanggis,” Ceri yang ikut juga menanggis.
Alina memeluk Ceri, “maafkan aku, maafkan aku…” yang merasa bersalah pada Ceri.
***
Ibu mendenggar kabar dari orang kepercayaannya bahwa ibu kandung Kay sudah kembali ke Indonesia itu membuat Ibu sangat terkejut, “apa tuan tahu?” tanyanya pada orang kepercayaan itu.
“Saya kurang tahu nyonya, tapi sepertinya belum nyonya”.
Ibu diam sejenak, “antar aku menemuinnya”.
“Baik nyonya”.
***
Adriel mendapatkan kabar bahwa Kay menemuin Ayah di Hotel Ratu. Adriel bergegas menuju hHotel Ratu yang jaraknya lumayan jauh dari perusahaan.  Di gerbang masuk Hotel mereka berpapasan satu sama lain tapi mereka tidak menyadarin itu. Adriel langsung menghentikan mobil di depan lobi Hotel dan langsung menuju lestoran. Adriel terlambat, hanya Ayah dan Heru saja yang berada di lestoran menikmatin pesanan mereka.
“Adriel. Sedang apa kau disini?” tanya Ayah.
Adriel nampak kebingungan, “Ayah bersama Heru?”.
“Iya. O iya, tadi Kay datang”.
“Dimana dia sekarang?!”.
“Sudah pergi,” jawab Heru tanpa menolek.
Adriel menyadarin dirinya terlambat, “aku harus pergi, permisih,” lalu pergi dari Hotel dengan penuh kekecewaan.
“Kenapa dia?” Ayah yang nampak kebingungan dengan sikaf dingin Adriel.
“Gak tahu om. Ayo makan lagi om,” kata Heru yang tidak mau Ayah berpikir macam-macam antara Adriel dan Kay.
***
Kay kembali ke apartemennya, dengan menggunakan jasa lift menaikin gedung ke lantai 30. Tidak ada yang membuat Kay semangat untuk kembali ke apartemennya. Disisi lain Kay tidak mau kembali ke apartemennya namun disisi lain dia sangat menguatirkan keadaan Alina dan Ceri terutama Alina.
Ketika lift terbuka Kay terkejut melihat Alina dan Ceri yang akan pergi, sama seperti Kay, Alina dan Ceri pun sangat kanget melihat Kay terutama Alina. Dia tidak bernian bertemu dengan Kay lagi. “Kau mau kemana?” tanya Kay melihat Alina membawa pakaiannnya.
“Aku sudah tinggalkan semua pakaian yang kau berikan, aku hanya membawa pakaian yang aku bawak saja,” kata Alina yang menghindari tatapan Kay.
“Aku tidak tanya itu! dan aku tidak penduli dengan semua itu!!” marah Kay, “yang aku tanya kau mau kemana?!”.
Alina melangka masuk ke lift namun Kay langsung menahan lengannya, “lepaskan aku!”.
“Aku pernah melepaskan wanita yang aku ontain tapi kali ini aku tidak mau mengulanginnya lagi!”.
Kali ini Alina tidak bisa bicara apa-apa, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
“Kak…” panggil Ceri yang berdiri di sebelah Alina.
Kay mengendong Ceri, “kita bicara di dalam,” lalu membawa Ceri kembali masuk ke dalam apartemen. Alina mengikutin Kay dari belakang.
***
Ayah baru pulang dari kerja dilihatnya bukan Ibu yang menyabutnya pulang seperti biasanya, “mana nyonya?” tanyanya pada pembantu yang menyambut kedatangannya.
“Pergi tuan,” jawab pembantu itu sopan.
“Kemana?”.
“Tidak tahu tuan, nyonya tidak bilang kemana akan pergi”.
Ayah memikirkan kemana istrinya itu pergi selarut ini.
“Ada yang tuan  butuhkan?”.
“Tidak”.
“Permisih tuan,” pembantu itu masuk ke dalam meninggalkan Ayah yang masih berpikir.
***
Ibu pergi ke sebuah gedung apartemen  mewah salah satu di Jakarta. Dengan ditemanin orang kepercayaannya Ibu melangkah masuk ke dalam gedung apartemen langsung ke apartemen yang ditujuh. Setiba disalah satu apartemen, orang kepercayaan Ibu mengetuk pintu apartemen, “tok…tok…tok…!!”. Tak lama kemudian pintu terbuka, seorang wanita yang seumuran dengannya keluar dari balik pintu. “Kau Sari?” Ibu yang langsung bertanya.
Wanita tersenyum tipis, “iya,” yang sepertinya sangat mengenal Ibu, “tenyata kau tidak ada apa-apa yach,” sidir ibu kandung Kay.
“Apa!”.
“Silakan masuk,” lalu Ibu Sari masuk duluan.
Ibu masuk kedalam bersama orang kepercayaannya.
“Silakan duduk,” katanya lagi sambil duduk di sofa dengan kaki dilipatnya. Setelah Ibu duduk barulah Ibu Sari bicara, “aku denggar kau ingin mengambil hak anakku”.
Ibu merasa di sudutkan, dia menemuin wanita ini berniat untuk menyudutkannya tapi malah sekarang kebalikkannya, dia di sudutkan oleh mantan istri suaminya itu.
“Kalaupun suami mu memberikan sahamnya  pada anakmu, Kay tetap menjadi pewaris tunggal perusahaan. Karena apa?? Sejak kecil Kay sudah di beri saham perusahaan olek kakeknya 25% dan sahamku 35% dan otomatis saham ayahnya setengah untuknya, itu pun jika dia bernian memberikannya pada anakmu. Tapi aku rasa Darmawan akan memberikan seluruh sahamnya pada Kay. Kau ingin tahu kenapa?” Ibu sari diam sejenak, “karena dari kecil Kay sudah di didik untuk menjadi pewaris tunggal perusahaa, hotel dan harta-harta lainnya. Jadi aku peringatin!? Jangan sekali-kali kau menyentuh anakku! Sekali kau menyetuhnya!? Bukan suamimu yang kau hadapin tapi aku sebagai ibu kandungnya!!” acam Ibu Sari yang tidak ingin Kay terluka.
Ibu tidak bisa bicara apa-apa, dia hanya menatap Ibu Sari yang penuh dengan kekuatan untuk melawannya.
***
Suasana cukup lama terhening. Ceri pun sudah tertidur lelap di pangkuan Alina. Tapi tatapan Kay masih tertujuh pada Alina yang duduk dihadapannya. Sambil membelai Ceri, Alina berusaha menghindarin tatapan Kay. “Aku yang akan pergi dari apartemen ini,” kata Kay.
Itu membuat Alina terkejut, “apa maksudmu?!” kali ini Alina menatap Kay, “ini apartemenmu, untuk apa kau pergi!”.
Kay berdiri, “dari awalpun aku bernian untuk pergi dari apartemen ini. Apartemen ini bukan onta has ku. Kalau bukan karna kau, mungkin aku sudah pergi. Tapi sekarang aku punya alasan untuk pergi”.
Air mata Alina tiba-tiba jatuh namun berusaha untuk tidak di tunjukkannya pada Kay, langsung dihapuskannya air matanya itu.
“Aku tidak ingin kita merasa tidak nyaman. Karena itu aku memutuskan untuk pergi”.
“Ini bukan apartemenku, jadi tidak ada alasan aku untuk tinggal,” diam sejenak, “tapi jika kau tinggal, aku akan pikirkan lagi”.
Bagi Kay walaupun Alina belum menujukkan suka padanya, tapi dengan dia menahannya pergi itu sudah satu jawaban untuknya, “baiklah,” sambil tersenyum.
Alina tidak menujukkan ekpresi apa-apa.
***
Bob mendekatin Nisa yang berdiri di tempat kasir, “apa hari ini juga Alina tidak masuk?” tanyanya.
“Iya,” jawab Nisa tanpa menolek.
“Apa masalahnya belum selesai?”.
“Aku rasa belum”.
“Ya udah,” yang berniat kembali ke ruang kerjanya.
“Alina dilamar pria itu,” kata Nisa yang tidak Bob terlalu berharap.
Bob menghentikan langkahnya, dia sangat terkejut mendenggar kabar itu untuk kedua kalinya, “apa”. Tak lama kemudian Bob kembali melajutin langkahnya menuju ruang kerjanya. Di ruang kerjanya Bob memikirkan perasaannya pada Alina selama ini yang selalu bertepuk sebelah tangan.
***
Setelah pergi dari rumah Ibu Sari, Ibu terlihat sangat kesal dengan kata-kata Ibu Sari yang dilontarkan padanya, “Kalaupun suami mu memberikan sahamnya  pada anakmu, Kay tetap menjadi pewaris tunggal perusahaan. Karena apa?? Sejak kecil Kay sudah di beri saham perusahaan olek kakeknya 25% dan sahamku 35% dan otomatis saham ayahnya setengah untuknya, itu pun jika dia bernian memberikannya pada anakmu. Tapi aku rasa Darmawan akan memberikan seluruh sahamnya pada Kay. Kau ingin tahu kenapa?” Ibu sari diam sejenak, “karena dari kecil Kay sudah di didik untuk menjadi pewaris tunggal perusahaa, hotel dan harta-harta lainnya. Jadi aku peringatin!? Jangan sekali-kali kau menyentuh anakku! Sekali kau menyetuhnya!? Bukan suamimu yang kau hadapin tapi aku sebagai ibu kandungnya!!”. Kata-kata Ibu Sari terus menganggu pikirannya, “dia pikir dia itu siapa!! Beraninya mengacamku!!!” Ibu yang tidak terimah.
Orang kepercayaannya hanya diam dan mendenggar keluhan Ibu sambil menyetir mobil menuju arah pulang.
***

Kay melihat Alina sedang membantu Ceri memakai pakaian sekolahnya, “aku pergi dulu,” katanya yang akan pergi jonging.
“Ya,” jawab Alina tanpa menolek.
Kay keluar dari gedung apartemen, di gerakkan badannya ke kiri ontai kanan, lalu gentian dengan kepalanya dan pinggangnya, semua dapat gilirannya. Lalu berlari di tempat sambil mendenggarkan onta dari headset yang diletakkannya kedua telingahnya.
Tanpa disadarin Kay seorang wanita berdiri di belakangnya, “Permisih… aku ingin bicara dengan kau,” kata Nisa nada suara pelan, namun tidak ada jawaban dari Kay, dia sibuk dengan dirinya sendiri, “Permisih!!” Nisa mencoba kembali namun tetap tidak ada reaksi apapun dari Kay, “heiii…” Nisa langsung membalik tubuh Kay dengan kasarnya, “kau ini tulihnya!!” marah Nisa.
Kay bingung lalu melepaskan headset dari telingahnya, “kau siapa? Apa kita saling kenal?”.
Nisa semakin kesal saat Kay melepaskan headset dari telingahnya, “pantas aja!”.
“Kau ingin bicara denganku?” tanya Kay lagi.
“Iya. aku sahabat Alina”.
“Apa”.

Lalu mereka berdua ngobrol di cave yang berada tak jauh dari gedung apartemen sambil sarapan pagi bersama, “apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Kay sambil menikmatin sarapan paginya yang sebelumnya sudah di pesannya.
“Kata Alina kau melamarnya?” tanya Nisa.
“Ya”.
“Apa kau serius dengan Alina?”.
“Iya”.
“Aku akan membantumu”.
Kay menghentikan makannya lalu menatap Nisa yang duduk dihadapannya, “kenapa kau mau membantuku?”.
“Kau tidak mau aku bantu?!”.
“Aneh aja. Kita belum saling kenal tiba-tiba kau mau langsung membantuku, bukannya seharusnya sebagai sahabat kau harus mencari tahu dulu tentangku,” Kay yang curiga maksud pertolongan Nisa.
“Aku hanya ingin menyadarkan seseorang”.
Kay tahu maksud perkataan Nisa, “kau menyukainnya”.
Nisa diam.
Dengan diamnya Nisa itu sudah jawaban dari pertanyaannya, “apa Alina tahu pria itu menyukainnya?”.
“Aku rasa dia tahu”.
“Berarti dia bukan saingatku”.
“Apa, maksudmu apa?”.
“Kalau Alina menyukain pria itu berarti aku yang bertepuk sebelah tangan ini faktanya Alina tidak menyukainnya,” sambil tersenyum, “aku tenang sekarang”.
“Kau salah! Mungkin, Alina tidak menyukain Bob tapi ada seorang pria yang pernah masuk ke kehidupan Alina,” diam sejenak, “pria itu meninggalkan Alina demi wanita lain”.
“Apa karna itu dia menolakku?”.
Nisa mengangguk, “Alina bilang, dia tidak ingin terluka untuk kedua kalinya”.
Kay mengerti perasaan Alina karna 5 tahun yang lalu juga dia di tinggalkan wanita yang sangat dia ontain dengan pria pilihan orang tuanya. Saat itu Kay sangat terluka di tambah luka peceraian orang tuanya pulih benar itu  membuat dirinya memutuskan untuk menetap di Amerika.
***
Ayah dan Ibu sarapan bersama di meja makan. Ayah mencoba bertanya pada Ibu kemana semalam pergi dan pulang selarut itu, “semalam kau kemana?” tanyanya sambil makan.
Ibu sejenak berpikir mencari alasan yang tepat, “ada teman masuk rumah sakit,” bohong Ibu.
“Ohh”.
“Maaf Yah. Semalam aku pulang, Ayah sudah tidur. Aku tidak tegah membangunkan Ayah”.
“Seharusnya kau memberitahuku”.
“Aku tidak mau menganggu pekerjaan Ayah”.
Ayah senang mendenggar pengertian istrinya itu padanya.
Pembantu mendekatin Ayah dan Ibu yang sedang sarapan, “maaf tuan nyonya. Ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan dan nyonya,” kata pembantu itu sopan.
“Siapa?” tanya Ibu.
“Nyonya Sari nyonya”.
Dibandingkan Ayah, Ibu yang paling terkejut dengan kedatangan Ibu Sari ke rumah mereka. Tiba-tiba Ibu Sari muncul dari balik pintu ruang makan, “tenyata rumah ini tidak ada sedikitpun perubahan,” ucap Ibu sari tanpa penduli dua sepasang mata tertujuh kearahnya. Lalu melihat Ayah, “kau terlihat sudah tuan. Apa posisimu sudah digantikan,” sidirnya yang langsung tertujuh pada Ibu.
“Kau tidak berubah sedikitpun!” kata Ayah tidak menyukain mantan istrinya itu.
Ibu Sari tersenyum sinis pada Ibu, “hai… kita bertemu lagi”.
Ayah terkejut dengan kata-kata Ibu Sari, “kalian sudah pernah bertemu?”.
“Istrimu tidak cerita semalam dia menemuinku,” diam sejenak, “hahhh… tenyata aku yang masih terbaik. Biasanya, jika aku mau kemana saja aku selalu memberitahumu, tenyata istrimu ini kebalikkan dariku,” yang masih tersenyum pada Ibu, “saranku hanya satu untukmu, seharusnya jika kau beristri lagi, seharusnya kau harus mencari yang lebih baik dariku”.
Ibu berdiri, “apa maksudmu!!?” marah Ibu yang tidak terimah dengan kata-kata Ibu Sari padanya.
Ayah berusaha untuk menenangkan suasana, “cukup!! Kau apa sebenarnya?!” tanya Ayah pada Ibu Sari.
“Aku hanya ingin bertemu dengan anakku,” kata Ibu Sari ketujuan awalnya.
“Kau bisa tanya langsung dengan Heru”.
“Kau tidak tahu dimana anakmu tinggal?”.
Ayah hanya diam, dia tidak ingin Ibu tahu dimana Kay tinggal saat ini.
Melihat Ayah diam, Ibu Sari sudah mendapatkan satu jawaban, “baiklah. Aku pergi dulu,” lalu Ibu Sari pergi meninggalkan rumah menggunakan mobilnya yang terpakir di depan rumah.
Ibu kembali duduk, “aku tidak suka perempuan itu!” Ibu yang masih kesal dengan kata-kata Ibu Sari padanya.
“Kau berbohong padaku!” Ayah yang kecewa pada Ibu yang berani berbohong padanya.
“Ayah, biar aku jelaskan,” Ibu mencoba menjelaskan.
Ayah berdiri, “kau tahu kan, aku bercerai dengannya karna dia berbohong padaku!” lalu pergi meninggalkan Ibu di meja makan sendiri.
Ibu sangat menyesalin apa yang dilakukan pada Ayah.
***
Heru mendapatkan telpon dari Ibu Sari, “halo…” setelah mendenggar apa yang dikatakan Ibu Sari, “baiklah tan,” lalu mematikan telpon dan bergegas pergi menemuin Ibu Sari ke tempat yang telah ditentukan. Di lobi perusahaan  Heru berpapasan dengan Ibu  yang akan menemuin Adriel diruangannya,  “siang Bu”.
Bu hanya tersenyum sambil masuk ke dalam gedung perusahaan, “apa yang dikerjakannya selama ini?” tanya Ibu  pada asistennya yang berjalan bersamanya.
“Selama ini Pak Heru memeriksa keuangan, data-data klien perusahaan dan file-file penting lainnya Bu,” jawab asistennya.
“Untuk apa?”.
“Sepertinya Pak Kay yang menyuruhnya”.
Jadi dia bekerja di belakang, kata Ibu  dalam hatinya sambil melangkah masuk ke dalam lift.
***
Di dalam ruangan, Adriel sangat pusing memikirkan saham perusahaan mengalamin menurunan di tambah keuangan perusahaan juga mengalamin penurunan, itu membuat Adriel semakin pusing dalam menghadapin masalah ini karena sebenarnya Adriel tahu siapa penyebab menurunnya keuangan perusahaan setiap bulannya, “apa Ayah tahu?” tanyanya pada asistennya.
“Saya rasa belum Pak,” jawab asisten yang setia melayanin Kay.
“Usahakan jangan sampai siapapun tahu terutama Ayah dan Heru!” perintah Kay.
“Baik Pak”.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, “apa yang terjadi?” Ibu yang samar-samar mendenggar pembicaraan antara Adriel dan asistennya.
“Permisih Pak,” asisten Adriel meninggalkan ruangan.
Diruangan tinggal Adriel dan Ibu, “apa yang terjadi?” tanya Ibu lagi.
Adriel menarik nafas panjang, “apa Ibu mengambil uang perusahaan lagi?!”.
Ibu panik, “Ibu hanya mengambil sedikit”.
“Ibu!”.
“Menurutku wajah jika aku mengambilnya! Aku istri dari pemilik perusahaan ini!” Ibu membelah diri.
“Jika sikaf Ibu seperti ini terus! Aku tak bisa menolong Ibu lagi!!” lalu pergi meninggalkan Ibu di dalam ruangan.
“Kenapa bisa seperti ini?” Ibu yang mulai menyesalin perbuatannya.
***
“Mau jalan,” ajak Kay yang melihat Alina sedang santai di sofa.
“Mau kemana?” tanya balik Alina.
“Sampai menunggu Ceri pulang, bagaimana kalau kita ke taman”.
“Baiklah,” kata Alina yang sudah lama tidak ke taman.

Setiba di taman, mereka berdua duduk di bangku yang sama yang biasa mereka dudukkin sambil menikmatin suasana taman yang sejuk. Alina mencoba membuka obrolan, “sampai kapan kau di Jakarta?” tanyanya.
“Apa”.
“Bukannya kau seorang pengacara di Amerika”.
“Aku tidak bekerja sebagai pengacara lagi”.
“Kenapa?”.
“Aku sudah bosan dengan pekerjaan itu”.
“Hahaha…” Alina tertawa, “orang-orang susah mencari pekerjaan sedangkan kau membuang pekerjaan”.
Kay ikut tertawa, “hahahaha…”.
Alina mengingat 8 tahun yang lalu dirinya yang masih kuliah kedokteran, “andai aku menyelesaikan studiku, mungkin aku tidak akan seperti ini,” Alina yang mulai menyesal dengan keputusannya untuk tidak melajutin kuliahnya, “memang benar kata orang, penyesalan itu pastih datang belakangan”.
Kay hanya menanggapin dengan senyuman, “setidaknya aku mau memperbaikinnya”.
Alina tersenyum.

Mereka sudah cukup lama berada di taman, matahari sudah berada di tengah-tengah, panasnya pun sudah sangat terasa menyengat kulit. Tapi Bagi Kay dengan dia bersama dengan wanita yang dia cintain, panasnya matahari tidak dirasakannya, “kau boleh menolakku, tapi jangan larang aku untuk mencintainmu,” ucap Kay.
Alina menatap Kay yang duduk di sebelahnya.
“Aku ingin membantu menyembuhkan luka di hatimu”.
Alina cukup terharum dengan ucapan Kay.  Kata-kata Kay membuat air mata Alina jatuh membasahin pipinya namun langsung di hapusnya. Dia bingung harus menjawab apa.
Kay menatap Alina sambil menujukkan senyuman, “jika kau mulai menyukainku, mau kah kau mengatakannya?”. Kay menunggu jawaban dari Alina, karena tidak ada jawaban apa-apa dan Alina pun tidak menujukkan ekpresi apa-apa, Kay pun mulai merubah kata-katanya, “jika kau tidak bisa mengatakannya, setidaknya kau memberikan tanda kau menyukainku. Kau bisa melakukannya khan??”.
Alina menganggu.
Kay senang melihatnya, “trimah kasih. Hahhh… kau membuatku semangat”.
Alina sekali-kali memadang Kay yang tidak mau menyerah mencintainnya.
***
Lonceng berbunyi sangat kencang dan berkali-kali dibunyikan tanda pelajaran akan segera berakhir. Satu persatu anak SD keluar dari gerbang sekolah. Sama seperti yang lain, Ceri pun keluar dengan hati yang sangat senang karena pelajaran sudah berakhir tanda harus segera pulang. “Mana mereka?” Ceri mencari-cari 3 penjaga yang selalu menjaganya.
2 pria mendekatin Ceri, “kau cari siapa adik kecil?” tanya salah satu dari mereka.
“Kau siapa?” tanya Ceri balik.
“Kami akan mengantar kau pulang”.
“Aku gak mau! Kalian pastih orang jahat!”.
Salah satu dari mereka memengang tangan Ceri, “dasar anak nakal!!”.
“To…!!”
Penjahat itu langsung menutup mulut Ceri agar tidak berteriak, “dasar anak bodoh!!”.
Tiba-tiba 3 penjaga yang diperintahkan untuk menjaga Ceri muncul, “lepasin anak kecil itu!!” perintah salah satu dari mereka.
“Jangan ikut campur!!” salah satu penjahat itu berkata pada mereka, “ini urusan kami!!”.
“Jika kalian berani membawa anak itu berarti kalian berurusan dengan kami!!” kata salah satu penjaga itu.
“Brensek!!” salah satu penjahat itu langsung maju melawan salah satu penjaga itu. Dengan beberapa kali pukulan, penjahat itu jatuh. Teman penjahat itu pun langsung melepaskan Ceri takut di kepung ketiga penjaga itu. “Awas kalian yach!!!” lalu membantu teman dan langsung pergi meninggalkan lokasi itu dengan tergesah-gesah.
Salah satu penjaga itu mendekatin Ceri yang menanggis ketakutan, “maafkan om… om terlambat! Om janji ini untuk terakhir kalinya,” bujuk penjaga itu.
Ceri menganggu sambil menghapus air matanya.
“Anak baik. Ayo kita pulang,” ajak penjaga itu. lalu mereka pun meninggalkan lokasi itu dengan mobil yang terpakir di depan sekolah.
***
Di perjalanan menuju rumah, Adriel mendapat sms dari anak buahnya yang diperintahkannya untuk mencari tahu dimana Kay tinggal. Isi sms itu adalah alamat tempat Kat tinggal selama ini. Tanpa pikir panjang Adriel langsung bergegas ke alamat yang tertera d isms.
***
Lintenir itu sangat marah saat mendenggar berita dari kedua anak buahnya yang tidak berhasil membawa Ceri, “dasar bodoh!!!”.
“Maafkan kami bos… mereka sangat terlatih,” kata salah satu mereka ketakutan melihat lintenir itu marah.
“Aku tidak suka ada kegagalan! Jika ada kesempatan bawak anak itu kemari!!”.
“Baik bos…” dua penjahat itu pun meninggalkan ruang kerja lintenir itu.
Lintenir itu masih penasaran dengan sosok pria   bersama Alina yang mengakuh seorang pengacara di Amerika, “siapa sebenarnya dia??!!” sambil melihat kartu nama yang diberikan Kay tadi malam padanya.
***
Heru menemanin Ibu kandung Kay ke apartemen tempat Kay tinggal selama ini.  “Aku tidak menyangka putraku bisa tinggal di apartemen seperti ini,” kagum bercampur sedih Ibu Sari melihat gedung apartemen yang tidak semewah tempat tinggal Kay seperti biasanya.
Heru mengetuk pintu apartemen, “tok…tok…tok…!!” tak lama kemudian pintu terbuka, seorang anak kecil keluar dari dalam apartemen, “ada Kay?” tanyanya pada Ceri yang membukakan pintu.
“Pergi,” jawab Ceri yang tidak membuka pintu lebar-lebar.
“Kak Alina?” tanya Heru.
“Pergi”.
“Jadi kau sendiri?”.
Ceri mengangguk.
“Boleh Kakak masuk?”.
Ceri mengeleng, “Kakak selalu berpesan jangan suruh orang asing masuk,” mengingat pesan Alina.
“Aku bukan orang asing! Aku temannya Kay!” menyakinkan Ceri, “aku sering ke sini, dan kau pun tahu itu?!” yang mulai kesal dengan sikaf Ceri.
“Tapi kan Kak Kay tidak, jadi untuk apa kau kesini”.
“Apa!”.
“Biar aku yang bicara,” kata Ibu Sari mencoba berbicara dengan Ceri, yang sebelumnya Heru sudah menjelaskan Kay tinggal dengan seorang wanita bersama adiknya dan berniat untuk menolong mereka.  “Hai…”.
“Hai…” Ceri membalas menyapa.
“Aku Ibu dari Kay. Boleh aku masuk?”.
“Tante haus?” tanya Ceri.
Ibu Sari senang Ceri memanggilnya dengan sebutan tante, “Heru, apa tante   terlihat muda?” geer Ibu Sari.
Heru tersenyum  dengan senyuman yang dipaksanya.
Ibu Sari kembali ke pertanyaan Ceri, “boleh. Di dalam ada minuman apa aja?”.
“Banyak. Ada jus kaleng, minuman soda dan minuman yang lainnya,” jawab Ceri lugu, “tante mau apa?”.
“Gimana kalau jus kaleng,” jawab Ibu Sari.
“Kakak mau minum apa?!” tanya Ceri pada Heru yang masih kesal padanya.
“Terserah!”.
“Baiklah,” Ceri kembali menutup pintu.
Apa yang dilakukan Ceri membuat Ibu Sari marah, “anak kurang!! Heiii bukak!!” sambil mengedor pintu, “heiii bukak!!”.
Tiba-tiba pintu terbuka kembali, Ceri  keluar membawa 3 jus kaleng, lalu menutup pintu kembali,  “dari pada nanti Kakak marah lebih baik kita menunggu di luar saja,” usul Ceri sambil duduk di depan pintu.
Apa yang dilakukan Ceri membuat Ibu Sari dan Heru tidak bisa berkata apa-apa. Kata-katanya habis karna melihat sikaf lugu Ceri, “dasar anak nakal!” kata Ibu Sari bercampur kesal dan kagum pada sikaf Ceri yang mematuhin apa yang dikatakan kakaknya. Ibu Sari duduk bersama Ceri.
Heru bingung melihat yang dilakukan Ibu Sari, “tante”.
Ibu Sari menarik Heru sampai duduk bersama mereka, “dia anak yang baik,” puji Ibu Sari, “kau kelas berapa?” tanyanya pada Ceri.
“Kelas 3,” jawa Ceri.
“Kau sepertinya sangat patuh pada Kakakmu?”.
“Iya. Kakak Alina Kakak terbaik sedunia,” puji Ceri.
“Benarkah”.
“Iya. Tante kenapa tidak tinggal bersama Kak Kay?”.
Pertanyaan Ceri membuat Ibu Sari diam.
***
Kay mendapatkan telpon dari anak buahnya yang diperintahkannya untuk menjaga Ceri. Ketiga penjaga itu menceritakan apa yang terjadi pada Ceri sewaktu di sekolah, “baiklah. Nanti kita bahas lagi,” yang tak ingin Alina tahu sebenarnya, “lakukan tugas kalian dengan baik,” lalu menutup telpon.
“Dari siapa?” tanya Alina setelah Kay menutup telponnya.
“Ayo kita pulang,” ajak Kay sambil berdiri.
Alina mengangguk lalu ikut berdiri.
“Lain kali kita harus kesini lagi”.
“Ya”’.
“Apa saat itu kau sudah bisa menyukainku?”.
Alina menatap Kay, “kau bicara apa?!” yang pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Kay.
Kay tersenyum, “hahhh…. Kau ini,” Kay berjalan duluan.
Alina mengikutin Kay dari belakang sambil berkata di dalam hatinya, kau pria baik, pujinya pada Kay.

Mereka tiba di apartemen, Kay sangat kanget melihat Ibu kandungnya sedang duduk bersama Ceri dan Heru di depan pintu apartemen, “Ibu…” terkejut bercampur rindu.
Ibu Sari langsung berdiri saat melihat Kay datang dan langsung memeluknya, “putraku”. Mereka berdua melepas rindu satu sama lain. Sudah lima tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu dan segaja untuk tidak bertemu.
“Maafkan aku Bu,” Kay  merasa bersalah pada Ibu kandungnya itu.

 Alina membiarkan Kay bersama ibu kandungnya melepas rindu di ruang tengah sedangkan dirinya menidurin Ceri di kamar.  Alina tidak mau menjadi pengganggu antara orang tua dan anak.
“Kak…”.
“Ya, kenapa?”.
Ceri yang tak ingin Alina terlalu kuatir padanya lalu menundah menceritakan apa yang terjadi padanya, “gak apa-apa”.
“Ada yang ingin kau ceritakan?”.
“Ceri sayang Kakak”.
“Aku juga. Tidurlah… sudah malam…” sambil menaikkin selimut Ceri.
Ceri pun menutup matanya untuk segera tidur.

Ketika suasana sudah kembali tenang, tidak ada lagi rasa bersalah hanya yang ada rasa kerinduan menyelimutin mereka berdua. Ibu Sari mengusap wajah Kay berkali-kali, “sudah lama sekali,” yang membayangkan perpisahannya bersama Kay selama ini, “Ibu sangat merindukanmu sayang”.
Kay tersenyum, “aku juga Bu”.
“Kau terlihat sudah dewasa”.
Kay masih tersenyum, “kapan Ibu tiba?”.
“Tiga hari yang lalu. Saat Ibu tahu kau ada di Indonesia, Ibu segera berangkat”.
“Kenapa Ibu tidak menemuinku di Amerika?”.
“Maafkan Ibu”.
Yang sudah tahu jawabannya, “Ibu masih sibuk dengan usaha Ibu?”.
“Ya. Dengan cara itu Ibu bisa melupakan semua,” lalu menatapp Kay, “tapi Ibu tidak bisa melupakanmu,” kata Ibu Sari menyakinkan Kay bahwa dia masih menyayanginya.
“Ibu masih mencintain Ayah?”.
“Ibu tidak pantas lagi mengatakannya”.
“Kenapa Bu? Kenapa kalian tidak bisa kembali seperti dulu lagi”.
“Dalam membentuk pernikahan,  yang paling utama harus ada kepercayaan sayang. Dan diantara kami tidak ada lagi sayang”.
“Aku mengerti, aku tidak akan memaksa kalian lagi”.
Ibu Sari tersenyum melihat kedewasaan yang ditunjukkan Kay, “ini namanya putraku,” pujinya.
Alina keluar dari kamar. Dua sepasang mata tertujuh kearahnya, dia  merasakan dirinya menganggu acara mereka berdua, “maafkan aku, aku gak bermaksud menganggu. Aku akan pergi meninggalkan tante dan Kay dan Ceri juga sudah tidur,” gugu Alina dan bingung harus bicara apa, “maafkan aku”.
“Kau akan pergi?” tanya Kay.
“Iya. aku sudah lama tidak masuk kerja. Aku pergi dulu, permisih tan,” lalu Alina pergi meninggalkan apartemen.
Ibu tersenyum sendiri melihat reaksi yang ditunjukkan Alina padanya.
Kay melihat hp Alina tertinggal di meja, “aku tinggal dulu Bu,” lalu mengejar Alina.
***
Adriel tiba di alamat yang berikan anak buahnya. Sebuah apartemen yang berada tak jauh dari pemukiman penduduk dan taman kota. Adriel tersenyum sendiri melihat gedung apartemen yang di tempati Kay jauh dari kemewahan, “Gakku sangka dia bisa tinggal di tempat seperti ini,” yang masih tidak percaya. Adriel melihat seorang wanita yang selama ini dicari-carinya keluar dari apartemen, “Alina…!”  Adriel langsung keluar dari mobil bermaksud untuk menemuin Alina namun Alina sudah menghilang. Adriel mencari-cari kemana Alina pergi, “kemana dia??” yang terus mencari, “kemana dia!!!?” kesal tidak bisa menemukan Alina dimana-mana.
Seseorang memengang bahu Adriel dari belakang, “kau tidak apa-apa?” tanya Kay  yang melihat sikaf aneh pria yang berteriak di depan gedung apartemen.
Adriel membalik, “kau tinggal disini?” tanyanya pada Kay yang sebenarnya tujuan utamanya datang ke tempat ini hanya untuk mencari Kay karena Adriel belum pernah melihat wajah Kay. Adriel tidah tahu bahwa pria yang dihadapannya itu adalah Kay saudara tirinya yang dicarinya. Lain dengan Kay, Kay sudah mengenal Adriel melaluin Rudi.
“Iya. Kau mencari seseorang?” tanya Kay yang pura-pura tidak mengenal Adriel.
Adriel berpikir sejenak, “tidak. Permisih…” Adriel kembali masuk ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan  komplek  apartemen itu.
Kay tersenyum sendiri, “apa dia sudah gila?” mengingat sikaf Adriel yang barusan.
*** 



Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar