Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 5


5

Ayah dan Ibu sedang makan malam bersama di  meja makan. Namun suasana makan malam terasa tengang. Ibu mencoba membuka obrolan untuk mendinginkan suasana, “Ayah masih marah?” tanyanya ragu-ragu.
Ayah diam tak menjawab.
“Maafkan aku. Aku  tidak bermaksud apa-apa menemuinnya. Aku mohon maafkan aku,” Ibu yang tidak ingin Ayah marah lagi padanya dan sampai menceraikannya.
Kali ini Ayah menatap Ibu, “jangan temuin dia lagi”.
“Iya, aku mengerti”.
Ayah tidak melihat Adriel makan malam bersama mereka, “apa Adriel belum pulang?”.
“Iya. beberapa hari ini Adriel selalu lembur Yah,” Ibu yang mulai mencari muka pada Ayah.
Ayah hanya tersenyum menanggapin.
***
Kay kembali ke apartemen, “Ibu tidak istirahat?” tanyanya pada Ibu kandungnya yang sedang menikmatin suasana kota dari balkon.
“Kau tidak berhasil mengejarnya?” tanya Ibu Sari yang tahu kenapa Kay tiba-tiba pergi.
Kay mendekatin Ibu kandunya, “tidak,” jawabnya.
“Aku tidak menyukainnya”.
“Kenapa Bu? Di wanita baik,” Kay memuji Alina dihadapan Ibunya.
Ibu Sari memadang Kay, “kau menyukainnya?”.
Kay hanya tersenyum.
“Sudah kau katakan?”.
“Iya”.
“Dia menerimahmu?”.
“Dia sudah pernah merasakan luka Bu. Dan saat ini aku sedang mencoba menyebuhkan luka itu Bu”.
“Kau seperti Ayahmu”.
“Maksud Ibu”.
“Ya… sifat pantang menyerahmu dan keras kepala kalian itu sama,” sambil memengang kepala Kay, “sifat kalian berdua itu gak jauh bedah, mungkin yang membedahkan kalian hanya generasinya saja”.
“Gak mungkin Bu, bukannya aku lebih tampan dari Ayah”.
“Hahahaha… kau ini,” Ibu Sari yang sangat senang melihat  anak satu-satunya berada di hadapannya saat ini.
***
Kedatangan Alina disambut hangat oleh kariawan-kariawan supermarket terutama Nisa, “aku senang kau bekerja lagi,” kata Nisa yang sangat senang melihat Alina bekerja kembali.
“Aku juga”.
Bob mendekatin mereka berdua, “senang melihatmu lagi,” ikut senang melihat Alina bekerja kembali.
“Maafkan aku, aku sudah terlalu lama libur,” Alina yang merasa bersalah pada Bob.
Bob hanya tersenyum menanggapin perkataan Alina. Dia memperhatikan penampilan Alina yang sangat berbeda kali ini. Alina terlihat menjaga penampilannya kali ini yang biasanya dia selalu asal-asalan berpakaian, “kau banyak perubahan”.
Alina melihat dirinya sediri, “kau bicara apa sih…” malu Alina.
“Ya udah, selamat bekerja,” Bob meninggalkan mereka berdua.
“Memang aku terlihat aneh yach?” tanya Alina pada Nisa.
“Kau terlihat cantik kali ini,” jawab Nisa.
“Kau jangan bercanda”.
“Aku serius”.
Alina semakin malu, “ahhh… kau ini”.
***
Adriel masih menyakinin bahwa wanita yang dilihatnya  keluar dari apartemen  adalah Alina. Dia nyakin dia tidak salah lihat. “Aku harus kembali, aku harus kembali untuk memastikannya,” katanya pada dirinya sendiri untuk pemastikan apa yang dilihatnya itu tidak salah.
***

“Kalian mau pulang?” tanya Bob pada Alina dan Nisa yang bersiap-siap untuk pulang.
“Iya,” jawab Alina singkat.
“Kau sepertinya sangat bahagia?” ucap Bob melihat perubahan yang ditunjukkan Alina.
Alina menolek, “apa maksudmu?”.
“Apa dia pria baik?”.
“Iya”.
“Kau bahagia?”.
Alina masih belum mengerti maksud perkataan Bob padanya, “apa maksudmu?”.
“Aku senang kau bahagia,” lalu pergi meninggalkan mereka berdua, “apa aku ditakdirkan selalu bertepuk sebelah tangan,” Bob bergumam pada dirinya sendiri.
“Kau tahu  maksud perkataan Bob?” tanya Alina pada Nisa.
“Intinya, kau terlihat cantik,” jawab Nisa asal.
“Kau ini!”.
Nisa hanya tersenyum menanggapin kekesalan sahabatnya itu kepadanya. Namun di hatinya paling dalam tersimpan kecemburuan yang paling besar pada Alina tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak ingin persahabat mereka hancur hanya karna pria, itulah prinsif  yang dipengan Nisa selama ini.
***
Kay membantu Ceri untuk bersiap-siap, “Apa kau cerita sesuatu pada Kakakmu?” tanyanya.
Ceri mengeleng.
Kay senang Alina tidak tahu apa-apa tapi Kay ingin tahu apa alasan Ceri tidak menceritakan pada Alina, “kenapa kau gak cerita pada Kakakmu??”.
“Kakak sudah banyak masalah. Aku tidak ingin menambah masalah Kakak lagi,” Ceri yang sudah dewasa.
“Aku tidak menyangkah pikiranmu sudah sedewasa itu,” bangga Kay.
Ceri mencium pipi Kay, “makasih ya Kak”.
“Untuk apa?”.
“Kakak sudah memerintahkan mereka untuk menjagaku”.
Kay hanya tersenyum.
Ibu Sari muncul dan melihat putranya sedang mempersiapkan Ceri untuk berangkat ke sekolah, “kau harus segera menikah,” sambil duduk di sofa.
Kay menolek, ‘maksud Ibu apa?”.
“Yang kau lakukan sekarang seharusnya dengan anakmu”.
Kay tersenyum sendiri.
“Kau harus segera menikah”.
Kay masih tersenyum.
“Apa kau akan menunggu selamanya”.
“Kakak sudah punya pacar?” tanya Ceri pada Kay yang menyambung pembicaraan mereka berdua.
Kay hanya tersenyum menanggapin pertanyaan Ceri.
***
Seperti biasa Ayah dan Ibu sarapan bersama di meja makan sebelum melakukan aktifitas seperti biasanya. Ayah tidak melihat Adriel di meja makan, lalu bertanya pada Ibu, “mana Adriel? Apa dia tidak sarapan?”.
“Adriel pergi pagi-pagi Yah,” jawab Ibu.
Ayah melihat jam di lenggannya yang masih pukul 7.15 WIB, “untuk apa dia pagi-pagi ke kantor?”.
Ibu bingung menjawab apa, “mungkin… mungkin ada pekerjaan yang harus di kerjakan di perusahaan,” Ibu yang asal bicara, “Adriel sangat suka bekerja, jika ada pekerjaan yang belum selesai pastih langsung segera diselesaikan sampai lupa dengan waktu”.
Melihat kegigihan Adriel bekerja di perusaan Ayah mulai merasa bersalah pada anak tirinya itu. sedangkan Ibu menikmatin rasa bersalah Ayah itu.
“Maaf tuan nyonya. Ada tamu untuk tuan Kay,” kata pembantu memberitahu mereka kedatangan seorang tamu.
“Bibi kan tinggal bilang, Kay tidak tinggal disini!” jawab Ibu yang sedikit kesal namun tidak ditampakkannya di hadapan Ayah.
“Suruh dia masuk,” perintah Ayah pada pembantu itu.
“Baik tuan,” pembantu itu pergi untuk memberitahu pada tamu untuk menemuin Ayah di ruang makan.
Tak lama kemudian pembantu itu kembali ke ruang makan bersama seorang perempuan cantik yang memakai mini dress yang bermotif bunga melati. Dibandingkan Ayah yang terkejut, Ibu yang paling terkejut melihat perempuan itu. Sama seperti Ibu, perempuan itu pun sangat kanget melihat Ibu namun dia tetap konsetrasi dengan tujuan awalnya, “pagi om,” sapa Gilda itulah namanya.
“Gilda. Sudah lama kau di Jakarta?” tanya Ayah senang melihat Gilda.
“Baru dua hari om. O iya, wanita itu siapa?” tanya Gilda yang pura-pura tidak mengenal Ibu.
Ibu kesal  mendenggar pertanyaan Gilda yang pura-pura tidak mengenalnya.
“Ini Ibu tiri Kay,” Ayah memperkenalkan Ibu.
Gilda sangat terkejut mendenggarnya sedangkan Ibu tersenyum sinis melihat kearahnya.

Setelah Ayah pergi dan segaja meninggalkan Ibu dan Gilda berdua untuk mengakrabkan diri. Mereka berdua menikmatin suasana pagi di pinggir kolam renang sambil meminum secangkir teh. Gilda mencoba membuka obrolan, “aku tidak menyangka mantan mertuaku bisa menikah dengan om Darmawan,” kata Gilda  mengingat 4 tahun yang lalu  bercerai dari Adriel.
“Aku juga tidak menyangka mantan menantuku tenyata pernah berhubungan dengan anak tiriku,” kata Ibu membalik menyindir Gilda.
Gilda mencoba menyindir Ibu lagi, “aku lebih tidak menyangka, om Darmawan bisa terpikat dengan wanita seperti Ibu,” yang sudah tahu sifat Ibu selama menjadi menantunya dulu, “tapi aku bersyukur, aku sekarang sudah berpisah dari Adriel itu membuatku terlepas dari Ibu!”.
Ibu menatap tajam kearah Gilda, lalu membuka pembicaraan baru, “kenapa kau mencari Kay? Apa kau berniat untuk mendekatinnya lagi?!”.
“Aku senang Ibu tahu tujuanku”.
“Kau pikir aku mau menjadi Ibu mertuamu untuk kedua kalinya!!”.
“Hahaha…haha…hahaha…!!” Gilda tertawa mendenggar perkataan Ibu, “Ibu pikir aku mau terjebak untuk kedua kalinya! Aku mendekatin Kay bukan berarti aku  mau menjadi menantu Ibu lagi,” Gilda mulai menyepelehkan posisi Ibu sebagai istri Ayah, “Ibu hanya Ibu tiri Kay, sedangkan Ibu kandung Kay adalah tante Sari. Sampai saat ini tante Sari masih hidup. Jadi, maaf… aku gak berniat menjadi menantumu tapi aku berniat menjadi menantu tante Sari,” kata Gilda panjang lebar.
Kata-kata Gilda membuat Ibu tambah membencinya.
***
Keuangan perusahaan semakin menurut, Adriel semakin kelabakan karena dalang semua ini adalah Ibu kandungnya sendiri,  itu membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
“Apa yang harus kita lakukan Pak?” tanya asisten pada Adriel, “kita tidak bisa merahasiakn selamanya dari komisaris”.
“Menurutmu apa yang harus aku lakukan?”.
“Katakan sebenarnya”.
Adriel duduk lemas di kursi kerjanya. Dia terlihat stress karena masalah ini menyelimutin dirinya.
***
Setelah mengantar Ceri, Kay menemuin Heru yang sebelumnya mereka sudah janjian untuk bertemu di sebuah Cave. Kedatangan Kay disambut hangat oleh Heru yang sebelumnya sudah datang duluan. “Kenapa kau ingin ketemu diluar? Apa di apartemenku mulai tidak amat,” canda Kay yang tidak menghiraukan muka serius yang ditunjukkan Heru padanya.
Heru langsung keinti pembicaraan, “keuangan perusahaan mengalamin penurunan. Jika terus begini saham perusahaan akan aclok dan kau tahu sendiri apa yang akan terjadi”.
Kay terlihat terkejut, “apa yang terjadi?”
“Ada seseorang menggunakan uang perusahaan secara pribadi”.
“Apa Ayah tahu?”.
“Aku rasa tidak”.
Kay berpikir sejenak untuk menyelesaikan masalah ini, “perintahkan pada derektur keuangan untuk menghendel keuangan sampai waktu yang aku tentukan”.
“Baiklah,” Heru melihat keseriusan Kay ingin menyelesaikan masalah ini, “apa kau akan segera terjun kelapangan?”.
“Jika itu diperlukan”.
***
Alina kembali ke apartemen, dilihatnya di dalam apartemen hanya ada Ibu Sari yang sedang berdiri di balkon sambil memadang memadangan yang ditunjukkan dari atas balkon. “Siang tan,” sapa Alina sopan.
Ibu Sari menolek, “kau sudah pulang,” lalu memadang penampilan Alina yang  sangat jauh sekali dari penampilan mewahnya yang ditunjukkannya selama ini, “kau memang gadis miskin”.
“Apa”.
“Apa yang membuat putraku sampai tergila-gila denganmu???!” Ibu Sari mendekatin Alina lalu memutarin Alina untuk melihat penampilan Alina lebih jelas kemudian berhenti di hadapan Alina, “kau harus segera di permak”.
“Apa”.
“Hahhh… aku harus buat janji dengan salon,” ngomel Ibu sambil berjalan menuju balkon.
Alina hanya tersenyum melihat sikaf Ibu Sari yang tak jauh bedah dengan Kay, “mereka memang Ibu dan anak,” katanya dengan suara pelat yang matanya masih tertujuh pada Ibu Sari yang sedang menelpon seseorang.
***
Pulang dari kerja, Adriel langsung ke apartemen dimana dirinya semalam melihat Alina keluar dan berharap kali ini dia bisa melihat Alina lagi. Dari dalam mobil, mata Adriel terus tertujuh pada pintu masuk gedung apartemen. Beberapa kali perempuan keluar masuk dari gedung namun di antara perempuan itu tidak satupun Alina. Didalam hatinya paling dalam Adriel berharap sekali bertemu dengan Alina lagi.
Tak lama kemudian Kay tiba di pakiran apartemen. Tatapan Kay langsung tertujuh pada Adriel yang duduk di dalam mobil, “mau apa dia?” Kay mulai berpikir Adriel tidak mencarinya melainkan mencari seseorang, “apa mencari seseorang? Tapi siapa?” lalu terpikir dengan Ibu kandungnya yang menginap di apartemennya semalam, “apa dia mengikutin Ibu? Tapi tidak mungkin. Untuk apa dia mengikutin Ibu,” Kay mulai pusing memikirkannya, dia pun memutuskan untuk masuk gedung apartemen.

Setiba di apartemen Kay tidak melihat Ibunya lagi, “Ibu sudah pergi?” tanyanya pada Alina yang sedang masak untuk makan siang.
“Iya. katanya dia mau mengambil pakaiannya,” jawab Alina tanpa menolek.
“Mengambil pakaian? Apa Ibu akan tinggal disini?”.
“Sepertinya Iya”.
“Apa! Hahhh… apa Ibu pikir apartemen ini tempat penampungan!”.
Alina hanya tersenyum.
***
Setelang pergi dari rumah orang tua Kay, Gilda langsung menemuin Rudi di Hotel Larisa. Kedatangan Gilda di sambut hangat oleh Rudi, “waktu kau menghubunginku kau akan datang aku sampai tidak percaya. Tenyata kau datang juga,” kata Rudi senang melihat Gilda lagi.
“Tapi kalian jahat! Tidakk satupun diantara kalian bertiga datang ke pernikahanku,” Gilda yang pura-pura menujukkan wajah kesal.
Rudi tersenyum, “maafkan aku. Di hari yang sama aku dan Heru mengantar Kay ke bandara”.
Gilda mulai merasa bersalah pada Kay. 5 tahun yang lalu dia memutuskan berpisah dari Kay dan memilih menikah dengan pilihan orang tuanya. seminggu dari permisahan mereka, orang tua Kay memutuskan untuk bercerai. Saat itu Kay sangat hancur dan akhirnya dia pun memutuskan untuk menetap di Amerika dan mengambil kuliah jurusan hukum berlawanan dengan apa yang diharapkan Ayah padanya.
Rudi mulai membuka pembicaraan baru, “kau bersama suami?” tanyanya.
“Tidak. Aku sudah bercerai dengannya”.
“Apa”.
“4 tahun yang lalu kami memutuskan untuk berpisah”.
“Sayang sekali”.
“Kenapa?”.
Rudi tidak menjawab melainkan memberi pertanyaan baru, “apa rencanamu sekarang?”.
“Aku ingin memintah maaf pada Kay”.
“Apa kau nyakin Kay akan memaafkanmu?”.
“Maksud kau Kay tidak akan memaafkanku??”.
“Itu bisa saja terjadi. Kau masih ingatkan apa yang kau lakukan pada Kay”.
“Aku tahu aku salah! Tapi sampai saat ini aku masih mencintain Kay. Kau tahu aku seperti apa, aku tidak mungkin melakukan itu jika tidak di paksa,” menujukkan wajah sedihnya, “tapi, dihatiku yang paling dalam. Aku sangat mencintain Kay sampai saat ini!” kata Gilda panjang lebar untuk menyakinkan Rudi.
***
Terdenggar ketukan pintu  dari luar, “Tok…Tok…Tok…!!”. Kay langsung membuka pintu, “Ibu,” kanget melihat Ibunya membawa 2 koper besar.
“Bawak ke dalam, aku lelah sekali,” kata Ibu Sari yang masuk duluan  dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
Kay membawa koper-koper yang Ibu Sari bawak ke dalam apartemen, “apa Ibu akan tinggal disini?”.
“Ya”.
“Apa! Bu, apartemenku ini hanya ada satu kamar. Ibu mau tidur dimana?”.
“Kau membiarkan orang asing tidur dikamarmu tapi Ibu kandungmu sendiri tidak kau bolehkan, “Ibu Sari yang pura-pura bersedih.
Alina terbangundari tidurnya karena mendenggar suara ribut dari ruang tengah. Lalu dia keluar kamar dan melihat Ibu Sari sedang berdebat dengan putranya, “tante sudah datang?” sambil duduk di sebelah Ibu Sari.
“Jangan-jangan kau tidak memperbolehkan aku tinggal disini karena kalian sering tidur bersama!” tudur Ibu Sari.
Kay dan Alina sangat terkejut mendenggar perkataan Ibu Sari. “Ibu!” marah, “kami tidak pernah melakukannya!”.
“Bagaimana aku bisa percaya pada kalian!!”.
“Sebenarnya mau Ibu apa?!!” Kay yang semakin kesal dengan Ibunya.
“Ibu mau tinggal disini,” ucap Ibu ketujuan utamanya.
 Alina baru menyadarin kata-kata Ibu Sari pada mereka berdua agar Kay mengijinkan dirinya bisa tinggal bersama Kay. Karena perbuatan Ibu Sari, Alina menahan tawa melihat sikaf kekanak-kanakan yang ditunjukkan Ibu Sari pada putranya.
“Kalau kau tidak mau! Kau harus tinggal bersama Ibu!” kata Ibu Sari membuat rencana B.
“Apa! Aku tidak mau!”.
“Kalau begitu Ibu akan tinggal bersama kalian”.
“Ahhh Ibu!”.
Alina ingin membuat suasana menjadi hangat kembali,  “aku rasa ada baiknya juga tante tinggal disini. Kau dan tante bisa sering bertemu. Bukannya kau sudah lama tidak bertemu dengan tante,” menyakinkan Kay.
“Baiklah,” Kay menyetujuin kehendak Ibu.
Karena senangnya Ibu Sari mencubit pipi Alina, “kau memang bisa diadalkan”.
Alina tersenyum, “auhhh…” sambil menahan sakit karena cubitan Ibu Sari.
Ibu Sari melihat wajah Alina lebih dekat, “pori-porimu besar sekali?!”.
Alina memengang pipi dengan kedua tangannya.
“Kau memakai apa sih… sampai wajahmu seperti itu!?” kesal melihat Alina yang tidak bisa merawat diri.
“Baru-baru ini aku memakai pelembab wajah,” jawab Alina.
“Baru-baru ini!? Jadi selama ini kau tidak pernah memakai pelembab?!”.
Alina mengeleng, “dibandingkan membeli pelembab, uangnya kan bisa di pakai untuk makan sehari-hari”.
“Apa semiskin itu kau,” Ibu Sari yang mulai prihatin dengan keadaan Alina, “aku tidak suka orang sepertimu!”.
Alina berusaha untuk tersenyum.
“Sebagai wanita, kau harus menjaga kecantikkanmu! Dan satu lagi, muka mu seperti ini karna kau juga sering lembur! Kulit itu juga butuh istirahat!!” ngomel Ibu.
Kay hanya menikmatin tontonan gratis.
Ibu Sari melihat ada beberapa bekas luka kedua tangan Alina, “kau sering melakukan bunuh diri?” tanyanya.
Alina langsung menyembunyikan kedua tanggannya.
“Apa karena pria??” tanya Ibu Sari lagi.
Alina diam dengan wajah sedih.
Dengan diamnya Alina itu satu jawaban untuk Ibu Sari, “kau memang gadis bodoh!! Kau pikir di dunia ini hanya ada satu pria! Kalaupun di dunia ini hanya ada satu pria, kau pun tidak boleh melakukannya! Seharusnya kau bersyukur bisa berpisah dengannya, itu tandanya dia pria yang tidak bertangung jawab!” nasehat Ibu.
Alina tidak menujukkan reaksi apa-apa sedangkan Kay semakin prihatin dengan keadaan wanita yang dicintainnya itu.
***
Adriel pulang dengan wajah kekecewaan. Ibu yang melihat Adriel pulang dengan lesuh terlihat sangat kuatir dengan keadaan putranya itu, “apa kau ada masalah?”.
Sejenak Adriel menatap Ibu dengan mata berkaca-kaca, lalu Adriel masuk ke kamarnya. Dijatuhkan tubuhnya diatas kasur  dengan tatapan tertujuh ke langit-langit kamar, “kau dimana? Apa kau masih marah padaku? Apa kau tidak bisa memaafkanku??” beribu pertanyaan tapi tak satupun Adriel bisa menjawabnya karena jawaban yang sebenarnya belum diucapkan oleh Alina.
***
Kay mengatar Alina ke tempat kerjanya dengan berjalan kaki. Kay merasa bersalah pada Alina dengan kata-kata kasar Ibunya yang dilontarkan pada Alina, “maafkan Ibu. Dia memang seperti itu”.
Alina tersenyum, “tapi Ibumu itu baik. Sudah lama sekali aku tidak di perhatikan seperti itu”.
“Benarkah?”.
Alina mengangguk, “aku senang diperhatikan seperti itu”.
“Kalau begitu menikahlah denganku, Ibuku akan menjadi Ibumu”.
“Apa. Hahhh… kau ini”.
“Aku serius”.
Alina hanya menanggapin dengan tersenyum.

Mereka tiba di supermarket, Alina menyuruh Kay langsung pulang, “kau pulanglah dan hati-hati”.
“Baiklah, aku pulang dulu,” lalu  Kay pergi. Baru beberapa langkah Kay kembali mendekatin Alina.
“Ada apa? Apa ada yang mau kau beli?” tanya Alina.
“Jika kau marah, benci, kesal dan sedih pada seseorang atau apa pun…  aku ingin kau menemuinku untuk melampiaskan itu semua itu padaku”.
Alina hanya diam sambil menatap Kay.
“Aku ingin kau tidak melakukan bunuh diri lagi”.
“Apa”.
“Aku  akan menghiburmu sampai kau kembali tersenyum dan sampai bebanmu hilang,” ucap Kay tulus mengatakannya.
Alina bingung harus bicara apa.
“Kau mau kan?”.
Alina  mengangguk.
Kay sangat senang, “kalau gitu aku pulang dulu. Sampai besok,” lalu pergi.
Alina masuk ke supermarket dan langsung berdiri di tempat kasir menggantikan kariawan sip siang. Nisa mendekatin Alina, “kalian bicarakan apa?” tanya Nisa yang melihat Kay dan Alina diluar supermarket sedang membicarakan sesuatu, “apa Kay melamarmu lagi?”.
“Kau bicara apa? Kami tidak bicara apa-apa”.
“Kau bohong! Kalian nampak jelas kalau kalian sedang membicarakan sesuatu,” Nisa yang masih penasaran.
“Pengen tahu aja”.
“Alina!”.
Alina hanya tersenyum melihat sikaf penasaran sahabatnya itu.
***

Adriel sarapan bersama Ayah dan Ibu. Ayah memperhatikan sikaf Adriel yang murung, “kau ada masalah?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Adriel singkat.
“Adriel hanya kelelahan Yah,” sambung Ibu yang tidak ingin Ayah tiba-tiba curiga dengan perubahan sikaf Adriel, “beberapa hari ini Adriel sangat bekerja keras”.
“Kau harus menjaga kesehatanmu,” saran Ayah.
“Baik Yah,” jawab Adriel.

Setelah Ayah pergi, tinggal Ibu dan Adriel di meja makan. “Apa kau tahu Gilda pernah pacaran dengan Kay?”.
Adriel cukup terkejut mendenggarnya, “tidak. Tapi  yang ku tahu, sebelum menikah dengan ku Gilda lagi dekat dengan seorang pria”.
“Pria itu adalah Kay”.
Kay diam. Dengan putusnya hubungan dirinya dengan Gilda itu tandanya dia tidak mau  ikut campur lagi hubungan mantan istrinya itu.
Suasana terhening sejenak, Ibu  mulai menanyakan masalah yang terjadi pada perusahaan, “kau tidak berniat memeberitahu Ayah tirimu kan?” tanya Ibu berharap Adriel tidak memberitahu perbuatannya kepada suaminya itu.
“Kenapa Ibu selalu melakukan kesalahan yang sama.” Ucap Adriel.
“Kau berani bicara seperti itu!”.
Adriel berdiri, “aku harap Ibu segera mengembalikan uang perusahaan. Semua itu bukan hak Ibu,” lalu pergi meninggalkan rumah.
Ibu panik dengan apa yang dilakukannya pada perusahaan.
***
Tiga penjaga yang diperintahkan Ayah datang pagi-pagi seperti biasanya untuk mengantar Ceri ke sekolah. Ibu Sari melihat apa yang dilakukan putranya itu terlalu berlebihan, “kau terlalu berlebihan memberikan perhatian pada mereka,” kata Ibu Sari setelah mereka pergi.
“Maksud Ibu apa?” tanya Kay sambil duduk di sofa bersama Ibunya.
“Penjaga-penjaga itu!”.
Kay tersenyum, “Jika menurut Ibu aku terlalu berlebihan, gimana dengan Ayah?”.
“Apa maksudmu?”.
“Ayah memerintahkan mereka menjagaku”.
“Ayahmu menyuruh orang untuk menjagamu?”.
Kay mengangguk.
“Apa ada orang yang menyakitinmu?!” Ibu Sari yang mulai panik.
“Aku tidak tahu, hanya Ayah yang tahu”.
Ibu Sari penasaran yang dilakukan Ayah pada Kay. Kenapa Ayah memerintahkan mereka untuk menjaga Kay? Apa ada yang akan melukain Kay? Siapa mereka?. Semua pertanyaan itu ada di benak Ibu namun tidak satupun pertanyaan ada jawabannya.
***
Alina. Nisa dan kariawan-kariawan lainnya yang sip malam bersiap-siap untuk pulang. “Mau bareng?” tawar Alina pada Nisa.
“Tidak. Aku mau ke pasar dulu,” jawan Nisa.
“Ok”. Mereka berpisah diluar supermarket dengan arah berlawanan. Di tengah perjalanan menuju apartemen, tatapan Alina langsung tertujuh pada dua pria yang berjalan kearahnya. Dua pria itu adalah anak buah dari lintenir itu.
Alina langsung bersembunyi dibalik tiang listrik, “bagaimana nih…” yang mulai panik bercampur ketakutan. Mau melarikan diri Alina takut mereka mengejarnya dan otomatis dia pastih langsung tertangkap melihat jarak mereka tidak terlalu jauh. Mau memutar jalan itu percuma saja karena mereka sudah semakin dekat dengannya dan pastih ujung-unjungnya kembali ke rencana A (melarikan diri). Jalan terakhir adalah tetap bersembunyi. Diantara pilihan itu Alina memilih untuk tetap bersembunyi. Dia terus bersembunyi berharap mereka tidak melihatnya.
Ketika mereka sudah melewatinnya, Alina bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan berharap mereka tidak menyadarinnya. Akhirnya Alina berhasil melarikan diri juga. Alina menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan demi perlahan, itu dilakukannya berkali-kali untuk menenangkan dirinya. Setelah tenang Alina kembali melajutin perjalanannya menuju apartemen.
Di waktu yang sama, Adriel melintas dijalan yang sama. Adriel melihat Alina berjalan di tepi jalan, “Alina,” kesempatan ini Adriel tidak sia-siakan begitu saja. Dia langsung menepihkan mobilnya. Adriel keluar dari mobil sambil memanggil nama Alina, “Alina…!!”.
Alina menghentikan langkahnya lalu perlahan-lahan membalik tubuhnya. Awalnya Alina mengira para bandit-bandit itu yang memanggilnya tenyata tidak, seorang pria pria yang pernah masuk dalam kehidupannya, “Adriel!” Alina cukup terkejut melihat Adriel  yang sudah 5 tahun lebih mereka tidak bertemu.
Adriel langsung memeluk Alina, “kau kemana saja? Aku mencari-carimu, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku…  maafkan aku…  maafkan aku… ,” beberapa kali Adriel ucapkan kata maaf. Lalu menatap Alina yang membiarkan Adriel memeluknya, “maafkan aku… aku sudah membuatmu menderita. Maafkan aku…”.
Alina tersenyum dengan penuh kekecewaan, matanya berkaca-kaca namun berusaha untuk tidak menanggis, “kau peduli padaku?”.
“Alina”.
“Kenapa kau peduli padaku?”.
“Alina, aku…”.
Alina tidak membiarkan Adriel menjawab pertanyaannya, “memang kau  siapa?!”.
Kali ini Adriel diam.
“Kau merindukanku?”.
“Memang kita ada hubungan apa?! Kau mencari-cariku? Untuk apa? Kau lupa kau sudah mecampakkanku?!!”.
Adriel melihat di mata Alina penuh kebencian kepadanya, “aku tahu aku salah. Aku hanya ingin menebus kesalahanku”.
Alina mundur dua langkah, “itu percuma kau lakukan, aku tidak penduli!”.
“Aku masih mencintaimu Alina!”.
Alina langsung menampar Adriel, “kau masih berani mengucapkan itu padaku!!” Alina mulai menujukkan kemarahannya, “kau pikir aku masih mencintainmu!! Dihari itu kau mencampakkanku! Dihari itu juga aku sudah membuang perasaanku padamu!! Jadi, jangang sekali-kali kau ucapkan itu lagi padaku!! Aku jijik mendenggarya!!!” lalu Alina kembali berjalan namun hanya beberapa langkah Alina menghentikan langkahnya. Dia teringat dengan kata-kata Ibu Sari, “aku memang bodoh! Hahhh…” malu pada diri sendiri, “aku memang gadis bodoh!” lalu  pergi meninggalkan Adriel yang sangat bersalah padanya. Di titik inilah Alina baru menanggis mengingat kekecewaan pada Adriel yang mencampakkannya hanya karna ingin menikah dengan wanita lainnya.
Tanpa disadarin Alina, Adriel mengikutinnya sampai ke apartemen. Tenyata apa yang dilihatnya kemarin dia tidak salah, wanita itu adalah Alina. Tapi Adriel tidak sampai mengikutin Alina masuk ke dalam gedung apartemen. Melihat dimana Alina tinggal sekarang membuat Adriel cukup tenang.
***


Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar