Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 6


6

Kay memeriksa file-file yang diberikan Heru kemarin. Heru mengambil file-file itu dari perusahaan yang sebelumnya Kay memerintahkan untuk mengambilnya. Satu persatu file di periksa, dia ingin tahu kenapa tiba-tiba perusahaan mengalamin kerugian yang sangat besar selama 2 bulan ini. Walaupun sebenarnya Kay mencuringain seseorang namun dia tidak mau berpikir jelek dulu, dia ingin mencari bukti apakah dugaannya itu benar atau tidak. Harapan yang paling besar adalah bahwa dugaannya salah.
Kay menyadarin Alina yang baru pulang, “kau sudah pulang,” sambil menolek, “kau kenapa?” melihat Alina menanggis. Kay mendekatin Alina yang masih menanggis.
“Dia bilang dia masih sayang padaku, dia bilang dia masih mencintainku. Lalu kenapa dia menyakitinku!!” Alina yang masih menanggis.
“Kau jangan menanggis,” lalu memeluk Alina dan membiarkan Alina menanggis di pelukannya.
***
Ibu ke perusahaan bukan untuk menemuin Adriel melainkan langsung menemuin derektur keuangan. Kedatangan Ibu disambut hangat oleh derektur, “selamat siang bu,” sapa Edi derektur keuangan.
Ibu duduk di sofa, “apa benar kabar yang aku denggar itu?” tanya Ibu langsung ke inti pembicaraan.
“Iya nyonya”.
“Apa suamiku sudah tahu?”.
“Saya rasa Pak Adriel dan Pak Kay masih merahasiakan ini dari komisaris”.
“Maksudmu Kay sudah tahu?”.
“Iya nyonya. Dan saya denggar setelah presiden derektur Boy pesiun akan digantikan oleh Pak Kay”.
“Apa!” Ibu sangat terkejut.
“Minggu kemarin diadakan rapat pemilik saham. Materi rapat waktu itu membahas siapa yang akan mengantikan Pak Boy dan semua setujuh Pak Kay akan mengantikan posisi Pak Boy yang akan berakhir beberapa minggu lagi”.
“Apa yang membuat mereka memilih anak manja itu!”.
“Saya rasa karena kinerja Pak Kay nyonya”.
“Maksudmu kinerja Adriel tidak bagus!”.
“Bukan begitu nyonya. Perusahaan kita mempunyain cabang di Amerika. Cabang perusahaan di Amerika  sempat menurut dan hampir bangrut namun karena kerja keras Pak Kay, perusahaan itu kembali normal. Mungkin itu satu pernilaian mereka nyonya”.
Kalau Kay berhasil masuk ke perusahaan, aku tidak akan dapat apa-apa! Aku tidak mau… kata Ibu di dalam hatinya, “aku membutuhkan uang,” kata Ibu pada derektur keuangan.
“Maaf nyonya. Saya tidak bisa melakukannya”.
“Kenapa? Kau tidak mau mengikutin perintahku lagi!?”.
“Maafkan saya nyonya. Pak Kay memerintahkan untuk menghendel keuangan”.
“Apa!”.
“Maafkan saya nyonya, kali ini saya tidak bisa membantu nyonya”.
“Brensek!!”.
***
Kay berdiri di pintu kamar dengan tatapan terus tertujuh pada Alina yang sedang istirahat di tempat tidur. Awalnya Kay penasaran kenapa Alina pulang menanggis namun semua itu tertutup saat dirinya melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Alina.
“Kakak sedang apa?” tanya Ceri yang baru pulang sekolah.
Kay mendekatin Ceri, “ussshhh…” yang tidak ingin Alina terbangun karena suara Ceri.
“Kenapa?” bingung Ceri.
“Alina sedang istirahat”.
“Ohhh…”.
“Kau jangan berisik,” perintah Kay sambil duduk di sofa.
“Ok”.
Kay kembali memeriksa file-file.

Tenyata Alina tidak tidur. Dia tidak bisa tidur karena selalu teringat dengan pertemuan yang tidak diharapkannya itu. itu semua menganggu pikirannya.
***
Ayah mendapatkan telpon dari Ibu Sari. Ibu Sari segaja menelpon Ayah untuk mengajak bertemu, namun karena hari ini Ayah ada tamu dengan salah satu pemilik saham perusahaan Ayah menolaknya, “aku tidak bisa hari ini. Besok saja kita bertemu”.
“Kenapa harus besok! Aku ingin bertemu hari ini!” keras kepala Ibu Sari.
“Kau masih saja egois!” Ayah langsung mematikan telpon.
“Sepertinya hari ini ada sangat sibuk,” kata Pak Jon salah satu pemilik saham.
“Tidak juga,” Ayah langsung ke inti pembicaraan, “apa yang membuat Pak Jon jauh-jauh menemuinku? Apa ada masalah?”.
“Sewaktu diadakan rapat pemilik saham, saya pikir anda akan memberitahu permasalahan ini pada pemilik saham lainnya namun anda tidak melakukannya. Saya tahu anda dan mantan istri anda pemilik sahan terbesar di perusahaan tapi kami semua ingin tahu permasalahan yang dialamin perusahaan sebulan ini”.
Ayah masih tidak mengerti apa maksud perkataan Pak Jon, “maksud anda apa? Ada masalah apa di perusahaan?”.
“Ada tidak tahu apa-apa?” melihat ekpresi di tunjukkan Ayah, Pak Jon sudah mendapatkan jawabannya, “tenyata benar, anda terlalu sibuk”.
Ayah diam. Ayah memang tidak tahu apa-apa masalah yang melenggu perusahaan.
***
Ibu Sari mengomel karena Ayah menolaknya untuk bertemu, “dia pikir dia itu siapa?! Sesibuk apa dia sampai tidak bisa meluangkan waktu untukku!!” sambil melangka keluar Moll, tapi Ibu langsung menghentikan langkahnya di depan toko sepatu, tatapan Ibu tertujuh pada sepatu hak tinggi berwarna krem dan terdapat hiasan permata diujung sepatu. Ibu  sari teringat pada Alina yang tidak pernah dilihatnya memakai sepatu cantik. Ibu Sari masuk ke dalam toko dan memerintakan pelayan toko untuk mengambil sepatu ini untuknya.
“Sepatu ini edisi terbatas bu, desainernya hanya satu membuat sepatu ini,” kata pelayan toko menyakinkan pelanggannya.
“Aku ambil ini,” kata Ibu Sari yang tidak suka berpikir lama-lama.
“Baik Bu,” pelayan itu segera membungkus sepatu.

Beberapa saat kemudian, Gilda masuk ke dalam toko. Dia melihat Ibu kandung Kay, “tante Sari,” yang masih tidak percaya apa yang dilihatnya itu.
Ibu Sari menolek, “kau…” antara lupa dan ingat.
Gilda menekatin Ibu Sari, “aku Gilda tan”.
Ibu Sari baru ingat, “ohhh… aku baru ingat. Kau wanita yang meninggalkan putraku itu”.
Gilda merasa tersindir, dia menudukkan kepala menutupin rasa malunya di hadapan Ibu Sari.
“Aku denggar kau sudah menikah?” tanya Ibu Sari yang sebelumnya sudah mendenggar kabar permisahaan mereka dikarenakan Gilda memilih menikah dengan pria lain.
“Iya tan. Tapi kami sudah bercerai”.
“Ini Bu,” pelayan memberikan bungkusan berisi sepatu pada Ibu Sari.
Ibu Sari mengambilnya, “ini…”lalu memberikan kartu kredit pada kasir sambil berkata pada Gilda, “sayang sekali ya… kau sudah meninggalkan putraku dan ujung-ujungnya kalian bercerai juga,” menujukkan senyum sinisnya, “seharusnya kau bahagia bukan sebaliknya”.
“Aku terpaksa menikah tan. Dan aku sangat merasa bersalah pada Kay karena itu aku ingin menebus kesalahanku pada Kay”.
Ibu Sari tahu maksud perkataan Gilda padanya. Dibandingkan meladenin perkataan Gilda, Ibu Sari malah menujukkan sepatu yang di belinya barusan, “bagaimana menurutmu?”.
Walaupun bingung melihat sikaf Ibu Sari, Gilda tetap memberikan pendapatnya, “cantik,” pujinya, “sekarang tante tinggal dimana?”.
“Bersama Kay”.
“Eeee… tante nanti pulang dengan siapa?”.
“Kau mau mengatarku?”.
Kesempatan ini tidak bisa Gilda sia-siakan. Ini salah satunya dia bisa bertemu dengan Kay lagi.
***
Alina keluar dari kamar, dilihatnya Kay tertidur di sofa sedangkan Ceri sedang belajar. Alina cukup lama memadangin Kay dan Ceri sampai ketika Ceri menyadarin kehadirannya, “Kakak sudah bangun?”.
“Kau sudah makan?” tanya balik Alina.
“Sudah Kak”.
“Kakak pergi dulu yach…”.
“Kakak mau kemana? Kerja?”.
Alina hanya tersenyum lalu pergi.
“Kakak kenapa yach…” kuatir Ceri.
***
Adriel makan malam bersama Ayah dan Ibu di meja makan. Sejak tadi Ayah memperhatikan Adriel. Apa yang dilakukan Ayah disadarin Ibu terutama Adriel namun Adriel berusaha tidak menyadarin itu.
Ibu mencoba bertanya pada Ayah, “kenapa Ayah melihat Adriel seperti itu?”.
“Apa ada masalah dengan perusahaan?” tanya Ayah pada Adriel.
Adriel berhenti makan. Dia cukup kanget mendenggar pertanyaan Ayah yang sepertinya mulai curiga dengannya.
“Maksud Ayah apa?!” Mana mungkin perusahaan ada masalah. Jika pun ada pastih Adriel langsung memberitahu pada Ayah,” Ibu menutupin permasalahan, iya kan sayang,” tanyanya pada Adriel.
Adriel yang tidak ingin Ayah kecewa padanya, dia pun terpaksa beerbohong untuk sekian kalinya, “iya”.
“Bagus,” Ayah sedikit tenang mendenggar jawaban dari Adriel, “aku nyakin padamu,” Ayah yang pura-pura menujukkan kepercayaannya pada Adriel. Ayah ingin melihat apa yang akan dilakukan Adriel untuk menyelesaikan masalah ini.
***
Hari sudah gelap. Gilda mengantar Ibu Sari pulang menggunakan mobilnya. “Tante tinggal disini?” tanya Gilda seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.
“Kenapa? Kau tidak suka?” balik tanya Ibu Sari.
Gilda merubah ekpresi wajahnya, “tidak tan. Apartemen ini lumayan bagus”.
“Kau mau mampir?” tawar Ibu Sari sambil melihat jam di lenggannya yang sudah menuju pukul 19.30 WIB.
Gilda sangat senang dengan tawaran Ibu Sari. Itu yang sangat diharapkannya dari tadi, “i…”.
Tapi sebelum Gilda menjawabnya Ibu langsung berkata, “sebaiknya besok siang saja kau datang”.
“Kenapa tan?”.
“Aku ingin menujukkan sesuatu padamu”.
“Baik tan”.
“Sampai besok,” lalu keluar dari dalam mobil. Gilda pun pergi meninggalkan lokasi apartemen. “Kau sudah membuat anakku kecewa sekarang kau mau mendekatinnya lagi!! Kau pikir Kay tidak punya perasaan!!” marah Ibu Sari yang tidak terimah Kay dipermainkan oleh Gilda, “sekarang aku akan membuatmu kecewa!!” Ibu Sari yang ingin membalas dendam pada  Gilda.
***
Kay terbangun dari tidur lelapnya, dilihatnya Ceri sedang belajar, “Alina sudah bangun?” tanyanya pada Ceri.
“Kakak pergi,” jawab Ceri.
“Pergi? Pergi kemana?”.
Ceri mengeleng.
Kay mencari hp Alina berharap Alina membawa hpnya. Dimana-mana Kay tidak menemukannya, tanpa pikir panjang Kay langsung menghubungin nomor hp Alina.
Setelah menyambung, “halo…”.
“Kau dimana??” Kay yang masih menguatirkan keadaan Alina.
“Ditaman”.
“Aku akan kesana. Kau jangan kemana-mana!” lalu mematikan hp dan pergi.
Didepan lift Kay bertemu dengan Ibunya, “kau mau kemana?” tanya Ibu Sari melihat Kay yang sepertinya sedang buru-buru.
“Tolong jaga Ceri Bu,” kata Kay lalu pergi.
Ibu Sari terlihat bingung dengan sikaf Kay, “kenapa sih anak itu”. Lalu masuk ke dalam apartemen, “kenapa anakku?” tanyanya pada Ceri.
“Mungkin nemuin Kakak,” jawab Ceri.
Ibu Sari tersenyum sendiri, “apa sih yang membuat anakku jatuh cinta padanya???” berpikir sejenak, “cinta memang aneh,” seraya tersenyum.
***
Ditaman Alina sendiri duduk di bangku yang sama dia dudukkin seperti biasanya. Alina melihat kebayangan pasangan kekasih berada di taman menikmatin suasana malam yang indah. Sebagian menunggu pasangannya setelah pasangannya datang, mereka sama saja seperti yang lainnya. Malam hari biasanya setiap pasangan selalu memilih menikmatin malam di taman namun ada juga yang pergi ke tempat-tempat lainnya untuk memadu kasih.
Permadangan itu membuat Alina iri. Sudah lima tahun lebih Alina sudah menghapus cinta di hatinya. Dibandingkan masih mencintain Adriel, Alina lebih membencinya. Rasa cinta itu hilang saat Adriel mencampakkannya hanya karena wanita lain. Namun kebencian itu hilang saat bersama Kay. Kay membuat dirinya bahwa masih ada cinta untuknya. Malam ini Alina ingin menghilang semua kebencian yang melenggu dirinya selama 5 tahun. Dia menutup matanya sambil berharap pada Tuhan untuk menghapus kebencian dihatinya.
Dipikiran Alina hanya ada banyangan Kay dan berharap Kay ada dihadapannya untuk menemaninnya dalam kesepian. Ketika membuka matanya, Alina melihat Kay sudah berada dihadapannya sambil tersenyum padanya, Alina pun membalas tersenyum. Kay memberikan minuman kaleng pada Alina, itu membuat Alina teringat dengan apa yang dilakukan Kay pertama kali mereka berkenalan, “aku ingat, hari itu kau juga memberikan minuman untukku”.
Kay tersenyum, dia senang Alina masih mengingatnya. “Sudah berapa jam kau disini?” tanya Kay membuka obrolan.
“Mungkin sekitar 4 sampai 5 jam,” jawab Alina masih tersenyum.
Kay duduk di sebelah Alina, “apa yang kau lakukan disini?”.
“Permadangan disini sangat indah”.
“Aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih indah dari tempat ini”.
Alina hanya tersenyum.
“Kau tidak percaya?”.
Alina masih tersenyum.
“Aku janji akan membawamu ke sana”.
“Ok. Aku pengang janjimu”.
Kay memengang tangan Alina dan melihat beberapa bekas luka di balik lenggan Alina, “aku tidak ingin tangan ini terluka lagi. Apapun  masalahnya”.
“Aku tidak akan melakukannya lagi. Seseorang sudah menyadarkanku”.
“Seseorang?? Apa itu aku?”.
“Mana mungkin”.
“Lalu siapa?”.
“Ibumu. Aku tidak ingin terlihat bodoh lagi”.
Kay legah.
***
Adriel memikirkan perkataan Alina padanya, “kau peduli padaku?”.
“Alina”.
“Kenapa kau peduli padaku?”.
“Alina, aku…”.
Alina tidak membiarkan Adriel menjawab pertanyaannya, “memang kau  siapa?!”.
Kali ini Adriel diam.
“Kau merindukanku?”.
“Memang kita ada hubungan apa?! Kau mencari-cariku? Untuk apa? Kau lupa kau sudah mecampakkanku?!!”.
Adriel melihat di mata Alina penuh kebencian kepadanya, “aku tahu aku salah. Aku hanya ingin menebus kesalahanku”.
Alina mundur dua langkah, “itu percuma kau lakukan, aku tidak penduli!”.
“Aku masih mencintaimu Alina!”.
Alina langsung menampar Adriel, “kau masih berani mengucapkan itu padaku!!” Alina mulai menujukkan kemarahannya, “kau pikir aku masih mencintainmu!! Dihari itu kau mencampakkanku! Dihari itu juga aku sudah membuang perasaanku padamu!! Jadi, jangang sekali-kali kau ucapkan itu lagi padaku!! Aku jijik mendenggarya!!!”
Kata-kata yang diucapkan Alina membuat Adriel sadar apa yang dilakukannya lima tahu yang lalu sangat membuat Alina terluka dan wajar saja Alina sangat membencinya sampai saat ini.
***
Kay kembali ke apartemen sedangkan Alina pergi ke supermarket  untuk bekerja seperti biasanya. Nisa melihat Alina yang sekali-kali menguap, “tadi siang kau tidak tidur?” tanyanya.
Alina mengeleng.
“Kau ini, sudah tahu kerja malam!” Nisa kasihan melihat Alina yang berkali-kali menguap, “kau tidur aja, biar aku yang jagah”.
“Aku bisa menahannya”.
“Kau serius?”.
“Iya”.
***
Setelah melihat Ibu dan Ceri sudah tertidur lelap di atas tempat tidur, Kay kembali melajutin memeriksa file-file yang harus di pelajarin untuk mencari jalan keluar dalam menyelesaikan masalah perusahaan. Dengan gigihnya Kay ingin menyelesaikan masalah perusahaan tanpa sepengetahuan siapapun kecuali kedua sahabatnya Rudi dan Heru.
***

Ibu Sari terbangun pagi-pagi, dilihatnya Kay masih tertidur lelap diatas sofa dan file-file berserakat di atas meja. Ibu merapikan file-file itu yang tidak menyadarin file-file itu file perusahaan. Setelah itu duduk di sofa sambil memadangin putranya yang sedang tidur terlelap. Beberapa saat kemudian Ibu Sari melihat  Kay bangun, “kau sudah bangun sayang?” katanya lembut.
Kay duduk dan terkejut melihat file-file yang berserakat di atas meja sudah tersusun rapi, “ibu yang merapikannya?” panik Kay yang berpikir Ibu sudah melihat isi file-fle itu.
“Ya. Kenapa sayang?”.
Melihat Ibunya membalik bertanya Kay sudah mendapatkan jawaban bahwa ibunya belum melihat isi file, “tidak apa-apa bu,” legah Kay.
“Kau aneh sekali”.
Kay hanya tersenyum. dia terpaksa menutupin masalah perusahaan dari kedua orang tuanya terutama pada Ibu kandungnya karena jika semua ini terbongkar dan penyebab semua ini karena anak tiri Ayah yang tidak tegas itu bisa membuat pertengkaran yang hebat antara  kedua orang tuanya. Kay mencoba membuka obrolan lain, “Ibu kemarin dari mana?”.
“Awalnya mau bertemu dengan Ayahmu, karena Ayahmu sibuk ya… Ibu belanja, “aku belikan sepatu untuk Alina”.
“Sepatu??” Kay senang  melihat Ibunya yang mulai perhatian pada Alina.
“Apa kau serius dengannya?”.
“Iya. Kenapa Bu?”.
“Sedainya Gilda kembali, apakah kau tetap memilih Alina?”.
“Maksud Ibu apa?”.
“Kemarin Ibu bertemu Gilda di Moll. Malah dia mengantar Ibu pulang,” kata Ibu yang ingin melihat reaksi Kay.”Dia sudah bercerai dengan suaminya. Gilda mengatakan, dia ingin kembali lagi denganmu”.
Kay hanya diam tidak menujukkan reaksi apa-apa dihadapan Ibunya.
***
“Kau langsung pulang kan?” tanya Nisa yang melihat Alina berkali-kali menguap sejak tadi malam.
Alina menggangguk.
“Pulang! Langsung tidur”.
“Dasar cerewet!” baru beberapa langka Alina  terjatuh karena kelelahan.
Bob yang melihat  langsung menolongnya, “kau tidak apa-apa,” sambil membantu Alina berdiri.
Apa yang dilakukan Bob pada Alina membuat  Nisa cemburu namun berusaha untuk tidak ditunjukkannya, “sebaiknya kau mengatarnya pulang,” saran  Nisa.
“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri,” kata Alina melepaskan tangan Bob.
“Nanti kau jatuh lagi. Kalian juga searahkan”.
“Aku akan mengantarmu,” kata Bob.
“Aku tidak ingin kau kenapa-napa,” bujuk Nisa.
Karena Nisa memaksa akhirnya Alina pun meiyakan tawaran Bob, “baiklah”.
“Kalau gitu aku duluan,” Nisa pergi meninggalkan Alina bersama Bob. Nisa baru menujukkan kesedihannya setelah jarak mereka sudah cukup jauh. “Kenapa aku ini? Kenapa aku harus seperti ini,” sedih Nisa yang tidak bisa mengungkap perasaannya pada pria yang dicintain selama ini.

Bob mengantar Alina menggunakan mobilnya yang terpakir di depan supermarket. Di dalam  mobil Bob membuka obrolan, “bagaimana hubunganmu dengan pria itu?” tanyanya sambil menyetir.
Alina tersenyum sendiri, “dia pria baik”.
“Aku kalah saing dengan pria itu”.
Alina masih tersenyum, “Bukahlah hatimu untuk wanita lain,” yang tahu perasaan Bob padanya.
Bob hanya tersenyum.
“Apa kau tidak menyadarin selama ini ada seorang wanita  menanti cinta darimu”.
“Siapa yang kau maksud?”.
***
Untuk memastikan itu semua, Ayah memanggil presiden derektur Boy untuk menemuinnya di Hotel Ratu. Kedatangan presiden derektur Boy di sambut dingin oleh Ayah. “Selamat pagi komisaris…” sapa Pak Boy.
“Duduklah,” perintah Ayah yang duluan sudah duduk di sofa.
“Kenapa Komisaris memanggil saya?” tanya Pak Boy yang tidak tahu kenapa Ayah memanggilnya.
“Ada masalah apa dengan perusahaan?”.
Pak Boy baru tahu apa tujuan memanggilnya, “maafkan saya komisaris. Saya tidak bermaksud untuk merahasiakan masalah perusahaan pada anda,” yang sangat merasa bersalah.
“Apa Adriel yang memerintahkan kau untuk tidak mengatakan itu semua padaku?!”.
“Bukan Komisaris”.
“Lalu siapa?”.
“Pak Kay yang memerintahkan saya untuk tidak mengatakan ini semua pada anda dan juga memerintahkan untuk menghendel keuangan perusahaan sementara waktu.  Pak kay hanya ingin membantu tanpa sepengetahuan Komisaris”.
Ayah cukup kecewa dengan sikaf Kay karena menutupin masalah sebesar ini darinya namun semua itu tertutup saat Pak Boy mengatakan Kay berniat membantu masalah perusahaan secara diam-diam, “dasar anak itu,  selalu melakukan seenaknya,” Ayah yang selalu bangga pada putranya itu.
***
Adriel terkejut saat asistennya mengatakan bahwa Kay memerintahkan derektur keuangan untuk menghendel keuangan perusahaan sementara waktu, “jadi Kay sudah tahu. kapan dia tahu?” tanyanya.
“Mungkin sudah lama Pak”.
“Sekarang aku sudah terlihat bodoh dimatanya”. Adriel teringat dengan sikaf dingin Ayah yang ditunjukkan padanya semalam, “apa Ayah sudah tahu?”.
“Saya tidak tahu Pak”.
“Apa mungkin Ayah sudah tahu. Tapi mengapa Ayah mengatakan apa-apa?” bingung Adriel dengan sikaf yang tunjukkan Ayah semalam.
***
Bob menghentikan kendaraannya di depan  gedung apartemen, “sekarang kau tinggal disini?”.
Dibandingkan menjawab pertanyaan Bob, Alina malah mengatakan, “kau harus belajar menyukain wanita lain”.
“Kau mengatakan itu karena kau ingin aku melupakanmu?”.
“Salah satunya itu”.
Bob tersenyum, “aku akan mencoba melupakanmu. Lelah juga menyukain wanita yang tidak menyukainku”.
“Hahahaha…” Alina tertawa, “sampai nanti malam,” lalu keluar dari mobil. Dari dalam mobil Alina melihat Bob melambaikan tangan kearahnya sambil menjalankan kembali kendaraannya. Alina pun membalas melambaikan tangan sambil tersenyum. Ketika Boy sudah cukup jauh, barulah Alina masuk ke dalam apartemen. Baru membalikkan tubuhnya Alina melihat Kay sedang memadangnya dari pintu masuk gedung, “kau mau pergi?”.
“Siapa dia?” tanya Kay.
Alina menahan tawa melihat kecemburuan yang ditunjukkan Kay padanya, “kau marah?”.
“Aku bukan marah tapi cemburu”.
“Cemburu?? Kau cemburu dengan siapa?”.
“Siapa pria itu?”.
“Ohhh… Bob. Dia bos ku tempat kerjaku”.
“Dia sepertinya menyukainmu?”.
“Iya”.
“Jadi dia pria ya?”.
“Siapa yang kau maksud?! Hahhh… jangan sok tahu”.
“Kau seharusnya menjelaskan padaku”.
“Aku harus menjelaskan apa? Kami tidak ada hubungan apa-apa!”.
“Tapi dia menyukainmu?!”.
“Kalau dia menyukainku kau apa?!” Alina melihat ekpresi wajah Kay yang kesal, “hahaha… haha…” Alina tertawa melihat sikaf kekanak-kanakkan Kay, “kau seperti anak kecil”.
“Kau yang membuatku seperti anak kecil,” Kay melihat jam di lenggannya sudah menuju pukul 10.12 WIB, “aku harus pergi”.
“Hati-hati”.
“Ya,” Kay pergi menggunakan mobil miliknya yang terpakir di pakiran.

Setelah Kay sudah cukup jauh, Alina baru masuk ke dalam gedung dan langsung ke apartemen yang berada di lantai 30. Ketika mau membuka pintu apartemen Alina melihat Ibu Sari yang akan pergi, “tante akan pergi?” tanyanya.
“Aku ingin beli sesuatu,” kata Ibu Sari.
“Hati-hati tan”.
“Iya”.
Setelah Ibu Sari pergi barulah Alina masuk ke dalam apartemen. Didalam apartemen tidak ada satu pun, Kay dan Ibu Sari pergi tidak tahu kemana sedangkan Ceri pergi ke sekolah.  Walaupun Alina sudah sangat mengantuk  tapi Alina tetap merapika rumah dahulu dan menyiapkan makan siang sebelum dirinya istirahat. Rasa gantuk itu hilang sejenak saat membersihkan rumah dan memasak.
Ketika sedang memasak, suara ketukkan pintu menganggu pekerjaan Alina, “tok…tok…tok…” Alina segera membuka pintu. Betapa terkejutnya Alina melihat sosok wanita yang tidak asing dilihatnya.
“Ini apartemen Kay kan?” tanya Gilda.
Alina menangguk.
“Kay ada?” tanya Gilda lagi.
Alina mengeleng dengan tatapan tajam kearah Gilda.
“Tante Sari?” tanyanya lagi.
Alina  mengeleng.
Tatapan yang dilakukan Alina membuat Gilda takut memadangnya, “kau kenapa melihatku seperti itu? ada yang aneh?”.
Alina diam.
“Kau bisu ya?”.
Alina tetap diam.
Sama dengan Alina, Gilda pun tidak asing melihat wajah Alina, “wajahmu tidak asing? Apa kita pernah ketemu?”.
Alina mengeleng.
“Dimana? Ahhh… aku lupa. Kau kan bisu,” yang mengira Alina bisu, “sudahlah, gak penting juga. Besok aku ke sini lagi, dah ya…” lalu pergi  dari apartemen.
Alina mengingat jelas siapa Gilda. Gilda adalah wanita yang merebut adriel darinya lima tahun yang lalu. Melihat Gilda yang mengenal Kay membuat Alina bertanya-tanya ada hubungan apa antara Kay dengan Gilda.
***
Kay dan Heru bertemu di kafe tempat mereka tentukan untuk bertemu. Mereka langsung ke inti pembicaraan kenapa mereka bertemu. Dari segala file-file yang diberikan Heru padanya, Kay tertarik dengan satu file yang berisi perusahaan-perusahaan yang pernah bekerja sama dengan perusahaan milik orang tuanya. “Coba kau cari tahu tentang perusahaan HK,” perintah Kay pada Heru.
“Apa yang ingin kau tahu?” tanya Heru.
“Bulan lalu perusahaan itu tiba-tiba memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahaan. Aku ingin tahu apa penyebabnya? Dan atur pertemuanku dengan mereka”.
“Kau ingin bertemu dengan mereka?”.
“Aku denggar perusahaan HK termasuk perusahaan terbesar di Jakarta. Dan mereka sudah lama bekerja sama dengan perusahaan. Aneh aja tiba-tiba mereka memutuskan kerja sama dengan perusahaan”.
“Kau ingin tanya langsung?”.
“Kalau itu diperlukan kenapa tidak”.
“Kau selalu mencari jalan keluar dengan cara aneh”.
Kay tersenyum, “akan aku lakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan orang Ayahku”.
Melihat semangat yang di tunjukkan Kay membuat Heru tambah bangga dengan sikaf yang di pengang sahabatnya itu.
***
Ayah mengajak mantan istrinya bertemu di lestoran yang dulu sering mereka datangin. Kedatangan Ibu Sari disambut hangat oleh Ayah yang sudah datang duluan, “senang melihatmu lagi”.
Ibu Sari langsung duduk, “aku tidak menyangkah kau mau mengajakku ketemuan di lestoran ini”.
“Sudah lama aku tidak disini,” ucap Ayah.
Ibu Sari hanya tersenyum.
“Maafkan aku, kemarin aku sangat sibuk”.
“Kau selalu sibuk”.
“Kenapa kau ingin bertemu denganku?”.
“Aku hanya ingin tahu kenapa kau memerintahkan mereka untuk menjaga Kay? Apa ada yang akan mencelakain Kay?”.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”.
“Aku tahu kau siapa? Kau tidak mungkin melakukan itu jika tidak terjadi apa-apa?”.
“Aku hanya ingin melindungin putraku, apa menurutmu itu berlebihan?”.
“Putramu itu sudah dewasa bukan anak-anak lagi,” Ibu Sari yang pura-pura percaya pada mantan suaminya itu. Ibu Sari melihat kekuatiran dari wajah Ayah, ‘kau ada masalah?” yang mulai curiga dengan Ayah, “jangan bilang kau mengajak ketemuan hanya untuk bertemu denganku?” yang mulai tidak nyakin.
“Kau benar”.
“Apa yang ingin kau tahu?”.
Ayah menatap Ibu, “apa Kay mengatakan sesuatu padamu tentang perusahaan?”.
“Tidak,” Ibu Sari teringat dengan file-file yang berserakat di atas meja tadi pagi, “apa ada masalah dengan perusahaan?”.
“Tenyata Kay juga tidak memberitahumu?”.
“Maksudmu Kay merahasiakan itu semua dari kita?”.
“Bukan dari kita saja, tapi dari semua. Dia ingin menyelesaikan masalah itu tanpa sepengetahuan kita”.
“Tapi Kay belum pernah ke perusahaan?!”.
“Kau lupa dengan Heru”.
“Kau benar. Untuk apa Kay merahasiakannya?”.
“Mungkin dia tidak ingin kita kuatir”.
Ibu Sari menatap Ayah, “kau tidak akan merubah keputusanmu kan?”.
“Pemilik saham lain juga setujuh dengan keputusanku”.
Ibu Sari tersenyum puas.
Tanpa disadarin mereka berdua seorang wanita sedang memperhatikan mereka dari meja yang tak jauh dari mereka. Wanita itu sedang menelpon seseorang.
***
Tenyata wanita itu menelpon Ibu yang sedang berada di rumah. Ibu sangat kesal mendenggar kabar dari temannya itu kalau suaminya sedang bersama dengan mantan istrinya. Semua itu menimbulkan kecemburuan yang sangat besar dihati Ibu.
Adriel pulang dan melihat ekpresi wajah Ibu yang sedang kesal, “Ibu tidak apa-apa?” tanyanya kuatir.
“Dia sudah mulai berani main di belakangku!!”.
“Siapa yang Ibu maksud?”.
Ibu tidak memperdulikan pertanyaan Adriel, dia langsung pergi dari rumah menggunakan mobil yang terpakir di depan rumah.
***
Ceri makan di meja makan di temanin Alina, “Kakak tidak makan?”.
“Tidak. Aku masih kenyang. Kau makanlah,” kata Alina lembut.
“Apa Kakak menunggu Kak Kay dan tante Sari?”.
“Tidak. Makanlah”. Tak lama kemudian terdenggar suara pintu terbuka. “Aku tinggal dulu,” lalu meninggalkan Ceri sendiri di meja makan, “kau sudah pulang?” melihat Kay sedang berdiri di balkon.
Kay menolek, “aku pikir kau sudah pergi,” yang melihat jam sudah menuju pukul 19.35 WIB.
Kay mendekatin Alina, “aku segaja menunggumu?”.
Kay tersenyum, “kau merindukanku”. Kay melihat sikaf dingin yang ditunjukkan Alina, “kau kenapa? Apa ada masalah?”.
“Kau mengenal Gilda?” tanya Alina.
Kay terkejut mendenggar Alina menyebut nama Gilda, “apa dia datang?”.
“Bagaimana kalian bisa kenal?”.
Kay yang mengira Alina  cemburu pada Gilda, “dia mantan pacarku”.
“Apa”.
“Dua tahun kami pacaran. Tapi karena pria lain, dia mencampakkanku”.
Alina mulai berpikir nasif percintaan mereka tidak jauh bedah sama-sama ditinggalkan. “Apa kau masih menyukainnya?”.
Kay tersenyum, “akhirnya kau bertanya itu juga”.
“Maksudmu apa?”.
“Menurutmu aku masih menyukainnya atau tidak?”.
“Aku tidak bisa membaca pikiran orang!”.
Kay menatap Alina, “tatap mataku”. Alina menatap Kay. “Apa dimataku ada kebohongan?”.
“Banyak,” canda Alina.
“Apa…”.
Alina tersenyum melihat ekpresi yang ditunjukkan Kay.
“Hahhh… kau ini!”.
“Hahahaha…”.
***
Ibu Sari baru tiba di gedung apartemen, namun baru beberapa langka mau masuk ke dalam gedung, Ibu Sari di kejutkan oleh sosok wanita yang tidak asing dilihatnya keluar dari balik pintu, “sepertinya kau mudah sekali menemukanku?” tanyanya pada istri mantan suaminya.
 “Kau pastih pulang dari kencan dengan  suami orang!” kata Ibu menujukkan kecemburuannya.
Ibu Sari tahu maksud perkataan Ibu, “ohh… ini bentuk istri cemburu dengan suaminya,” sambil tersenyum, “aku pikir kau tahu siapa suamimu, tapi sepertinya aku yang lebih tahu banyak”.
“Apa maksudmu?!”.
Ibu Sari baru ingat kalau mantan suaminya itu baru melangsungkan pernikahan 3 bulan yang lalu, “aku baru ingat, kalian kan pengatin baru,” goda Ibu, “masa-masa seperti ini biasanya  masih ada kecemburuan sangat besar dengan pasangannya. Tapi… melihat umurmu, kau tidak pantas untuk cemburu lagi dengan pasanganmu,” Ibu Sari mendekati Ibu, “sebelum kau menemuinku, sebaiknya kau bertanya dulu dengan pasanganmu kenapa kami bertemu. Jangan langsung datang kesini! Kau membuat padanganku rusak!”.
“Apa!”.
“Permisih…” Ibu Sari meninggalkan istri mantan suaminya itu sendiri dengan penuh kekesalan padanya.
***
Alina melepaskan pelukkan Kay, “aku harus pergi”.
“Baiklah. Hati-hati”.
“Ya,” Alina pun pergi dengan hati berbunga-bunga. Di depan lift Alina bertemu dengan Ibu Sari, “tante. Tante kenapa?” melihat ekpresi wajah Ibu Sari yang nampak jelas sedang kesal.
“Wanita itu membuatku pusing!” lalu melihat Alina yang akan pergi, “kau akan pergi?”.
“Ya tan”.
“Ya udah pergi sana,” lalu Ibu Sari langsung masuk ke dalam apartemen.
“Ibu sudah pulang?” tanya Kay melihat Ibunya yang baru pulang, “Ibu dari mana?”.
Ibu duduk di sofa, “menemuin Ayahmu”.
“Kalian melepas rindu,” goda Kay.
“Kau jangan seperti Ibu tirimu!”.
“Ibu bertemu dengannya?”.
“Sudah dua kali aku bertemu dengannya. Wajahnya itu tidak pernah tersenyum padaku!!”.
“Siapapun mana mau bersikaf lembut dengan saingannya”.
“Hahhh… kau ini!”.
Kay hanya tersenyum.
Ceri duduk di sebelah Ibu Sari. Ibu Sari melihat rambut Ceri yang panjang, “besok kau libur kan?”.
Ceri mengangguk.
“Besok kita ke salon mempercantik rambutmu”.
Ceri sangat senang mendenggarnya.
“Kau mau kan?”.
Ceri mengangguk.
***
Ibu yang berniat segera meninggalkan lokasi apartemen, ketika melihat Alina keluar dari gedung, Ibu membatalkan niatnya. Ibu mendekatin Alina yang tidak sadar melangkah kearahnya, “kau terlihat sangat sehat”.
Alina menolek, “Tante Rani!” terkejut melihat orang tua dari mantan kekasihnya.
“Aku memang mendenggar kau tinggal didaerah sekitar sini. Tapi aku tidak menyangka kau bisa tinggal di apartemen ini. Setahuku gaji pelayan toko sangat kecil, dari mana kau mendapatkan uang untuk bisa tinggal di apartemen ini?! Jangan-jangan kau melakukan…” Ibu tidak melajutin kata-katanya.
Alina tahu maksud perkataan Ibu, “aku tidak akan melakukan perbuatan sehina itu! aku memang miskin, tapi aku punya harga diri!”.
“Kau sekarang sudah berani bicara itu padaku!”.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun mengijak harga diriku!”.
“Aku senang akhirnya Adriel memutuskan  untuk meninggalkanmu!”.
“Trimah kasih tante sudah membuka mataku”.
“Apa maksudmu?!”.
“Mungkin jika tante tidak melarang Adriel menikah denganku. Saat ini aku pastih sudah berkali-kali ingin bunuh diri karena mendapatkan Ibu mertua yang kejam seperti tante!”.
Ibu menampar Alina.
Alina tersenyum, “permisih…” lalu pergi meninggalkan Ibu.
“Apa yang membuat anak itu berani denganku!!”.
***



 Bersambung



Tidak ada komentar :

Poskan Komentar