Jumat, 08 Juni 2012

Because I Love You 10


10

Semalaman Alina tidak bisa tidur. Dia terus terjaga semalaman. Sarani memberikan secangkir kopi pada Alina yang sebeluumnya di belinya di kantin rumah sakit, “minumlah…”.
Alina mengambilnya, “trimah kasih,” lalu meminumnya.
“Kau istirahatlah. Biar aku yang jagah”.
Alina membuka perbicaraan lain, “apa selama ini dia tinggal bersamamu?” tanyanya.
“Iya,” diam sejenak, “apa kau masih marah soal rumah??”.
Alina diam.
“Budi pernah bilang padaku, dia akan mengotrak rumah dan mengajak kau dan Ceri tinggal bersama lagi. Dia ingin kau bangga padanya…”diam sejenak, “Budi sudah berubah Alina. aku belum pernah melihat Budi seperti ini. Ini pertama kalinya aku melihat Budi serius ingin berubah”.
Air mata Alina terjatuh membasahin pipinya. Dia tidak bisa menutupin kesedihan yang meyelimutinnya saat ini.
***
Ibu melihat Adriel bersiap-siap untuk pergi, “kau mau kemana? Kau gak jadi mengudurkan diri?” tanyanya.
“Aku mau menebus kesalahan Ibu,” jawab Adriel.
“Maksudmu apa?! Kau sudah mulai kurang ajar dengan Ibu!!”.
Adriel berusaha menghadapin Ibu dengan menahan amarahnya, “aku pergi dulu,” lalu pergi meninggalkan rumah dengan mobil yang terpakir di depan rumah.
“Dasar anak kurang ajar!!!” marah Ibu.

Adriel menemuin Pak Suroyo di perusahaannya. Kedatangan Adriel di sambut hangat oleh Pak Suroyo dan asisten-asistennya. “Silakan duduk…” kata Pak Suroyo pempersilakan Adriel duduk di sofa sama dengan dirinya.
Adriel duduk, “trimah kasih atas bantuan anda”.
“Kau jangan bertrimah kasih dulu… karena kerja sama ini hanya untuk sementara. Jika kay gagal, dana yang aku keluarkan akan aku tarik kembali dan perusahaan kalian akan menjadi milikku!” acam Pak Suroyo.
“Aku percaya pada Kay. Kay pastih berhasil,” kata Adriel yang masih meragukan apa yang dilakukan Kay.
Pak Suroyo tersenyum sinis, “kau sangat berbedah jauh dengan adik tirimu”.
“Apa maksud anda??”.
“Adik tirimu memilikin kepercayaan yang besar untuk mengatasin masalah yang dihadapinnya walaupun sebenarnya dia belum tahu hasilnya, namun dia tetap menyakinkan aku untuk percaya dengan kemampuan yang dimilikinnya. Sedangkan kau tidak ada… jangankan percaya dengan kemampuan adik tirimu, kau pun masih ragu dengan kemampuan dirimu sendiri,” kata Pak Suroyo panjang lebar.
Adriel diam terpaku mendenggar perkataan Pak Suroyo yang  benar semua tentang dirinya.
“Kita mulai saja mittingnya,” kata Pak Suroyo.
“Iya…”.
***
“Kapan Kay berangkat?” tanya Ayah pada Asistennya yang memberitahukan bahwa Kay sudah kembali ke Amerika.
“Semalam Pak,” jawab Asisten, “kemarin Pak Kay menemuin Pak Suroyo Pak”.
Ayah tampak terkejut.
“Sepertinya antara Pak Kay dan Pak Suroyo ada perjanjian”.
“Apa?”.
“Saya tidak tahu Pak. Tapi tiba-tiba Pak Suroyo setujuh bekerja sama dengan perusahaan”.
Ayah semakin penasaran apa yang di  janjikan Kay pada Pak Suroyo.
***
Setelah mendapatkan kabar dari Alina bahwa Ayah tirinya di rawat di rumah sakit Nisa dan Bob segera ke rumah sakit. Tapi tenyata di rumah sakit hanya ada Sarani yang menemanin Pak Budi yang belum sadarkan diri. “Mana Alina?” tanya Nisa.
“Eeee… aku gak tahu. tapi katanya dia akan datang lagi,” jawab Sarani.
Nisa melihat lebih dekat keadaan Pak Budi, “kenapa bisa seperti ini?”.
“Ceritanya panjang”.
***
Alina tenyata ditaman sendirian tanpa ada yang menemanin. Dia melampiaskan kesedihan pada dirinya sendiri. Air mata sekali-kali jatuh membasahin pipinya saat  teringat Ayah  tirinya terkapar tidak berdaya karena ingin melindungin dirinya dari para penjahat-penjahat itu. Pria yang selama ini di bencinya tenyata mulai melindungin dirinya itu membuat Alina tersanjung. Sudah lama sekali Alina mengharapkan perubahan pada Ayah tirinya dan akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu tiba juga.
***
Terdenggar suara ketukkan pintu dari luar rumah. Ibu yang mengira Ayah yang pulang langsung bergegas keluar dari kamar, “biar aku yang buka,” kata Ibu pada pembantu yang mau membukakan pintu yang masih di ketuk dari luar.
“Iya nyonya,” pembantu itu kembali ke dapur.
Ibu membukakan pintu namun tenyata bukan Ayah yang datang melainkan Ibu Sari. Tanpa pikir panjang Ibu Sari langsung menampar Ibu. Terdenggar jelas suara tamparan yang begitu keras dari pipi Ibu. Ibu yang tidak terimah mau membalas tamparan Ibu Sari namun  Ibu Sari berhasil menangkap tangan Ibu dan menampar Ibu kembali. “Kau pantas menerimah itu!!” marah Ibu Sari setelah mengetahuin penyebab perusahaan hampir bangrut karena perbuatan istri mantan suaminya, “kau istri yang memalukan!!!” ejek Ibu Sari lalu pergi meninggalkan rumah.
Ibu diam terpaku melihat Ibu Sari meninggalkan rumahnya.
***
Adriel menemuin Ayah di Hotel Ratu. Diperjalanannya menuju Hotel Ratu, Adriel mengingat perkataan Pak Suroyo padanya, “kau sangat berbedah jauh dengan adik tirimu”.
“Apa maksud anda??”.
“Adik tirimu memilikin kepercayaan yang besar untuk mengatasin masalah yang dihadapinnya walaupun sebenarnya dia belum tahu hasilnya, namun dia tetap menyakinkan aku untuk percaya dengan kemampuan yang dimilikinnya. Sedangkan kau tidak ada… jangankan percaya dengan kemampuan adik tirimu, kau pun masih ragu dengan kemampuan dirimu sendiri,” kata Pak Suroyo panjang lebar.
Kata-kata Pak Suroyo menganggu dirinya, “dia benar… aku tidak pernah percaya dengan kemampuanku,” yang mulai mengakuin kemampuan yang dimilikin Kay.

Setiba di Hotel Ratu Adriel langsung menemuin Ayah di ruangannya. Ayah masih bersikaf dingin padanya. “Mau apa kau?!’ tanya Ayah.
Adriel memberikan file yang berisi kerja sama perusahaan HK dengan perusahaan, “ini file kerja sama perusahaan dengan perusahaan HK Yah,” sambil meletakkan di atas meja kerja Ayah.
“Perjanjian apa antara Kay dan Pak Suroyo!?? Apa Kay akan memberikan sahamnya?!” tanya Ayah.
“Tidak Yah. Kay berjanji akan  membebaskan putri Pak Suroyo dari kasus pembunuhan dengan balasannya Pak Suroyo bersediah bekerja sama dengan perusahaan”.
“Bagaimana kalau Kay gagal?”.
“Perusahaan akan menjadi milik Pak Suroyo”.
“Apa!!” Ayah tampak marah mendenggar perjanjian yang dilakukan antara Kay dan Pak Suroyo.
“Aku nyakin dengan kemampuan Kay Yah,” Adriel berusaha penyakinkan Ayah.
“Aku ingin sendiri, pergilah….” Perintah Ayah.
“Baik,” baru beberapa langkah, Adriel menghentikan langkahnya, “bisakah Ayah kembali lagi ke rumah?” mohon Adriel.
“Pergilah…”.
“Tapi Yah…”.
Dibandingkan meladenin perkataan Adriel, Ayah malah mengatakan sesuatu yang membuat Adriel panik, “besok akan diadakan rapat pemilik saham. Aku ingin kau yang menyiapkan materi untuk besok”.
“Tapi Yah…”.
“Buatlah sedikit aku bangga padamu”.
“Baik”.
“Pergilah”.
Adriel keluar dari ruangan Ayah. Dia mulai serbah salah harus melakukan apa dulu untuk rapat besok. Walaupun sudah sering Adriel menyiapkan materi untuk rapat namun kali ini sangat berbeda. Kali ini Ayah memberikan kepercayaan penuh padanya untuk menyiapkan materi rapat untuk besok.

Di lobi Hotel Ratu Adriel bertemu dengan Gilda yang akan masuk ke dalam hotel, “Gilda…??” heran Adriel melihat Gilda di hotel.
“Kau disini? Apa om Darmawan ada??” tanya Gilda yang berniat bertemu Ayah.
 “Ya. Apa yang ingin kau bicarakan pada Ayah?” curiga Adriel.
“Aku ingin memberitahu om Darmawan tentang siapa wanita yang berhubungan dengan Kay saat ini!” licik Gilda.
“Maksudmu??”.
“Kau tahu sendiri om Darmawan itu seperti apa. Mana mau om Darmawan mempunyain mantuh seorang pelayan supermarket!!” kesal Gilda yang kesal pada Alina yang merasa di kalahkan.
 Adriel langsung menangkap apa yang direncanakan Gilda, “jangan sekali-kali kau lakukan itu!! aku tidak akan membiarkan kau menganggu hubungan mereka berdua!!” Adriel yang tidak menginginkan Alina terluka lagi.
“Hahhh… apa seakrab itu kau dengan Kay??” melihat Adriel yang begitu kikih melindungin hubungan antara Kay dan Alina, “atau… kau hanya ingin mencari muka saja…” Gilda yang belum mengetahuin masa lalu antara Adriel dan Alina.
Adriel diam.
Gilda tersenyum sinis, “kau tidak ada perubahan”.  Ketika Gilda akan pergi, Adriel langsung menahan tangan Gilda, lalu menarik Gilda keluar dari hotel. Gilda terus memberontak, “lepaskan aku…!! Kau gila yach… lepaskan aku…!!” yang terus berusaha melepaskan diri.
Adriel berhasil menarik Gilda sampai di mobil, “masuk! Aku antarkan kau pulang!”.
“Kau gila!!”.
Adriel memaksa Gilda masuk ke dalam mobil. Setela Gilda berhasil masuk ke dalam mobil barulah Adriel masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobil menjauh dari hotel. Gilda nampak kesal apa yang dilakukan Adriel padanya.
Tenyata apa yang dilakukan Adriel pada Gilda dilihat Ayah yang baru keluar dari hotel.  Ayah mulai mencuringain hubungan antara Adriel dan Gilda. “Cari tahu apa hubungan mereka berdua?” perintah Ayah pada anak buahnya.
“Baik Pak”.
Setelah mobil tiba barulah Ayah masuk ke dalam mobil. Kendaraan itu pun membawa Ayah meninggalkan hotel.
***
Alina kembali ke apartemen dengan lesuh. Tidak ada kesemangatan yang ditunjukkan Alina hari ini. Dibandingkan masuk ke dalam gedung apartemen Alina malah memilih duduk di anak tangga pintu masuk gedung. Rasa kesedihannya tidak bisa tertutupin dari wajahnya yang nampak jelas. Sekali-kali Alina menarik nafasnya untuk membuatnya santai sebelum masuk ke dalam gedung.
Tanpa disadarinnya Ibu Sari sudah berada di depannya, “kau kenapa tidak masuk?”.
Alina menolek, “tante…” berusaha untuk tersenyum, “aku… aku hanya ingin duduk-duduk disini sebentar”.
Ibu Sari duduk dii sebelah Alina, “semalam Kay berangkat ke Amerika”.
“Apa!” Alina terkejut.
“Kay tidak sempat memberitahumu. Itu juga dadakkan,” penjelasan Ibu Sari berharap Alina memaklumin.
Alina mencoba menutupin perasaannya, “kapan Kay kembali?”.
“Belum tahu”.
“Apa Kay pastih akan kembali??” Alina yang masih tromah dengan masa lalunya.
“Kay ingin secepatnya kembali”.
Alina berusaha menutupin kesedihannya. Perasaan takut kehilangan Kay menghantuin dirinya.
Ibu Sari mencoba membuka pembicaraan baru, “kenapa kau semalam buru-buru? Apa ada masalah?”’.
Alina tidak menjawab. Pikirannya saat ini hanya terfokus pada Kay yang pergi meninggalkan dirinya.
***
Adriel mengantar Gilda sampai di rumahnya. “Kita sudah sampai,” kata Adriel setelah menghentikan mobil di depan rumah Alina.
“Apa segitu pedulinya kau dengan Kay!!”.
Adriel diam.
“Jika kau penduli dengan Kay seharusnya kau mendukung rencanaku ini!!! Apa kau tidak takut wanita itu akan mempermainkan Kay nantinya!!!”.
“Alina tidak seperti kau!!” kata Adriel dengan tatapan tajam tertujuh pada Gilda.
“Apa!”.
“Dia wanita baik-baik dan tidak haus dengan harta,” Adriel yang mengetahuin seperti apa Alina.
“Hahaha…” Gilda tertawa, “kau seakan lebih mengetahuin seperti apa wanita itu!”.
“Cobahlah pelupakan Kay”.
“Hahhh… omong kosong seperti apa itu!!!” lalu keluar dari mobil. Tanpa menolek lagi, Gilda langsung masuk ke dalam rumah. setelah Gilda masuk ke dalam rumah barulah Adriel pergi dari lokasi komplek perumahan tempat Gilda tinggal.
***
“Jadi Ayahmu masih koma,” kata Ibu Sari setelah mendenggar cerita Alina.
“Ya”.
“Kenapa kau tidak melaporkan mereka ke polisi?” heran Ibu Sari.
“Percuma tan”.
“Maksudmu?”.
“Tidak ada yang berani melaporkan kejahatan mereka ke kantor polisi tan”.
“Iya. Tapi kenapa??”.
“Mereka sering melakukan kekerasan, malah sampai membunuh”.
Ibu Sari baru mengerti kenapa Alina begitu takut melaporkan mereka ke kantor polisi. “Apa selama ini kau menjalankan kehidupan dengan ketakutan?”.
Alina tersenyum, “mungkin ini takdir yang harus aku jalanin. Mempunyain Ayah tiri pemabuk dan suka main judi. Saat mereka datang untuk menagi utang-utang Ayah, saat itu juga aku merasakan ketakutan,” Alina berusaha untuk tidak menanggis namun matanya nampak sudah berkaca-kaca, “aku hanya bisa berjanji dan berusaha melunasin utang-utang Ayah,” lalu tersenyum lebar, “ tapi saat ini aku sangat bahagia tan. Selama ini aku pikir dia tidak akan berubah. Tapi kali ini dia ingin berubah untukku. Dia pun koma seperti ini hanya ingin melindunginku,” air mata jatuh membasahin pipinya, “aku merasa Ayah yang sudah meninggal kini sudah ada penggantinnya,” Alina yang sangat bahagia melihat perubahan Ayah.
  “Apa karena ini kau memutuskan untuk mengotrak?” tanya Ibu Sari mengingat perkataan Alina kemarin malam sebelum ke rumah sakit.
Alina menghapus air mata dipipinya, “awalnya tidak. Tapi kali ini iya tan”.
“Apa kau sudah menemukan kotrakkan?”.
“Belum. Ini lagi mencari tan”.
“Kenapa kau tidak mengajak Ayahmu tinggal disini?!”.
Alina sangat senang perhatian Ibu Sari padanya tapi dia tidak bisa menerimah bantuan itu, “seperti yang aku katakan kemarin tan, gak enak juga aku kelamaan tinggal disini. Kay dan tante sudah sangat baik dengan ku terutama pada Ceri. Aku merasakan tante sudah seperti ibu ku sendir. Aku merasa nyaman saat bersama tante. Trimah kasih sudah memberikan perhatian pada kami,” Alina yang sangat berutang banyak pada Ibu Sari terutama pada Kay.
Perkataan Alina membuat Ibu Sari terharum namun berusaha untuk tidak ditunjukannya, “intinya kau ingin pergi khan…?”.
Alina mengangguk.
“Ya… udah. Kalau kau mau pergi, pergi saja,” kata Ibu Sari lalu pergi meninggalkan Alina di balkon sendirian.
Alina yang sudah terbiasa dengan sikaf Ibu Sari padanya membuat dirinya hanya tersenyum menanggapin perkataan Ibu Sari padanya. Alina melihat jam di dinding sudah menuju pukul 19.30 WIB. Alina pun bersiap-siap untuk pergi.
“Kau mau kerja?” tanya Ibu Sari.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar