Kamis, 07 Juni 2012

Because I Love You 2


2

Alina merasa dirinya sudah cukup jauh berlari, suara nafas Alina yang kelelahan berlari terdenggar sangat jelas, “hem…hemmm…” Alina gos-gosan berlari menjauhin bar dan berharap mereka tidak bisa menemuinnya lagi. Namun perkiraan Alina meleset anak buah dari lentenir itu  berhasil mengejarnya, “Heiiii kau…!!” teriak salah satu pria itu padanya. Alina yang melihat anak buah dari lintenir itu langsung kembali berlari dengan sekuat tenaganya.
“Heiii berhenti!!!”.
Semakin kecang Alina berlari semakin kecang pula mereka berlari mengejar Alina yang tidak berniat berhenti. Namun karena tenaga pun semakin berkurang, Alina pun tidak konsen lagi kearah mana dirinya harus berlari. Tiba-tiba kakinya tersandung batu. Alina pun terjatuh, “auhh…” lenggan dan kakinya terluka karna tersandung aspal. Rasa sakit di kaki dan dilenggannya tertutup dengan rasa takut melihat mereka  berhasil menangkapnya.
“Akhirnya kau dapat juga!!” kata salah satu dari mereka.
Alina tidak bisa mengatakan apa-apa, tubuhnya gemetar membuat suaranya susah untuk keluar. Hanya dengan menanggis Alina bisa menujukkan ketakutannya.
Diwaktu yang sama, Kay melintasin jalan yang sama dimana Alina dikepung anak buah lintenir itu.  Kay menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan melihat kebelakang mobilnya dari kaca spion. Dia melihat wanita yang tidak asing dilihatnya di gerumulin beberapa pria. Tanpa pikir panjang Kay keluar dari mobil dan mendekatin mereka, “lepasin wanita itu,” perintah Kay pada pria-pria itu.
Pria-pria itu menolek kearah Kay, “jangan ikut campur! ini urusan kami!! Atau kau…”.
Kay langsung memotong perkataan pria itu, “kau ingin menghajarku!?”.
“Tenyata kau dimintak dihajar!! Hajar!!” salah satu pria itu memerintahkan temannya untuk menghajar Kay.
4 lawan 1, memang tidak seimbang namun dengan mudahnya Kay bisa mengalahkan mereka dengan beberapa kali pukulan. 4 pria itu babak belur di hajar Kay. “Sekarang giliran kau,” sambil menujuk pada pria yang berdiri di sebelah Alina.
“Brensek!!” pria itu langsung memukul Kay namun Kay lebih cepat memukul pria dan menendang pria itu beberapa kali sampai akhirnya pria itu jatuh bersama teman-temannya. Ketika Kay mau memukulnya lagi, pria itu langsung mintak ampun pada kay, “jangan pukul aku lagi, aku mohon…”.
Kay tidak jadi memukul pria itu, “aku peringatkan! Jika kalian berani menganggu wanita itu lagi, kalian akan menghadapin aku di pengadilan!” acam Kay, “sekarang pergilah”.
Pria-pria itu langsung berlari kocar kacir  ketakutan mendenggar acaman Kay.
Kay mendekatin Alina yang masih terlihat ketakutan, “kau tidak apa-apa?” kay melepaskan jas yang dikenainnya lalu menyelimutin tubuh Alina, “tenyata kau cantik memakai gaun,” yang mencoba menghibur Alina.
Alina teringat dengan acaman pria itu, “Ceri…” spontan Alina langsung pergi tergesah-gesah meninggalkan Kay yang terlihat kebingungan melihat sikafnya.
Kay mengambil jasnya yang terlepas dari tubuh Alina, “apa zaman sekarang tidak ada lagi kata basa basi,” Kay yang mengharapkan Alina mengucapkan trimah kasih padanya.
***
Lentenir  itu sangat marah pada anak buahnya yang tidak berhasil menanggkap Alina, “dasar bodoh!!”.
“Maafkan kami bos,” mohon salah satu dari mereka, “pria itu mengacam akan membawa ke pengadilan jika kita menganggu Alina lagi”.
“Kau pikir aku takut!!? Aku ingin uangku kembali!!” yang tidak takut dengan acaman yang berikan Kay.
***
Setiba di rumah Alina langsung masuk ke rumah, dilihatnya Ceri sedang tidur di kamar. Diambilnya jaket  dan selimut dari dalam lemari dan tidak lupa mengambil hp pemberian Bibi yang diletakkannya diatas meja, setelah itu membangunkan Ceri yang masih tertidur lelap, “Ceri… Ceri… Ceri…” sambil mengoyangkan tubuh Ceri.
Ceri membuka matanya, “Kakak pulang,” sambil duduk, “ada ketinggalan Kak”.
“Kita harus pergi,” kata Alina sambil memakaikan jaket Ceri.
“Mau pergi kemana Kak?”.
“Ayo… kita harus segera pergi,” Alina membawa Ceri meninggalkan rumah yang dibiarkannya terbuka.
Diperjalanan Ceri bertanya pada Alina, “ kita mau kemana Kak?”.
Alina tidak menjawab pertanyaan Ceri karna dirinya pun tidak tahu harus pergi kemana yang pastih dia ingin pergi dari rumah itu untuk menghindarin anak buah pria itu yang akan mencelakain mereka berdua.

Mereka tiba di taman, Alina mengajak Ceri duduk di bangku favoritnya. Dibenaknya hanya terlintas harapan mereka tidak bisa menemukan mereka berdua.
“Kita mau kemana Kak?” tanya Ceri lagi.
Alina menyelimutin tubuh Ceri dengan selimut yang dibawahnya, “Aku juga gak tahu harus pergi kemana,” yang berusaha tidak menanggis dihadapan Ceri, “tapi kita tidak bisa kembali dirumah itu lagi”.
“Kenapa Kak?”.
Dibandingkan menjawab pertanyaan Ceri, Alina malah menyuruh Ceri untuk tidur, “malam ini kita tidur disini, besok baru kita cari kotrakan”.
Ceri mengangguk lalu menidurkan tubuhnya di bangku dan kepalanya diletakkany di pangkuan Alina. Alina membelai kepala Ceri dengan penuh kasihh sayang.
***
Bob yang dari tadi tidak melihat Alina lalu bertanya pada Nisa yang berdiri di kasir menggantikan Alina, “mana Alina?”.
“Mungkin dia gak masuk?” jawab Nisa.
“Apa dia sakit?”.
“Gak tahu. Besok pulang dari kerja  rencananya aku kerumahnya,” Nisa melihat ekpresi wajah Bob yang terlihat masih kuatir, “kau tidak berniat mengujunginnya?”.
“Tidak. Alina melarangku kerumahnya”.
“Kenapa?”.
“Aku tidak tahu”.
Nisa bingung kenapa Alina melarang Bob datang kerumahnya.
***
Kay  masih penasaran kenapa Alina tergesah-gesah pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan terimah kasih dulu padanya, apa yang membuatnya tergesah-gesah sampai dia lupa mengucapkan trimah kasih padaku! Apa zaman sekarang harus membayar ucapan trimah kasih!” gomel Kay.
***

Seperti biasanya Kay bangun pagi-pagi untuk jonging memutarin  taman. Baru tiba di taman, tatapan Kay tertujuh pada Alina yang tertidur lelap di bangku taman yang biasa dia dudukin, “apa dia tidak punya rumah?” lalu mendekatin Alina. Kay memadang Alina yang bisa tidur lelap dengan cara duduk, “gadis aneh”.
Alina bangun dari tidur lelapnya dan melihat Kay berdiri dihadapannya.
“Kau sudah bangun?” tanya Kay.
Dibandingkan menjawab pertanyaa Kay, Alina sibuk mencari Ceri yang tidak ada lagi didekatnya.
“Kau cari apa?”.
Alina semakin panik melihat Ceri tidak ada dimana-mana, “Ceri… ceri…ceri…!!” panggil Alina.
“Ceri?? Kau cari kucingmu?” Kay yang mengira Ceri itu kucing.
Alina tidak pendenggarkan perkataan Kay, dia sibuk mencari keberadaan Ceri, “Ceri…!!”.
“Aku disini…” Ceri yang tiba-tiba muncul dengan membawa 2 roti dan 2 minuman gelas.
Alina mendekatin Ceri, “kau kemana aja!” yang masih panik, “aku kan sudah bilang jangan kemana-mana!”.
Ceri menujukkan 2 roti dan 2 gelas minuman mineral, “aku belikan ini untuk sarapan”.
Alina menanggis lalu memeluk Ceri, “kau jangan kemana-mana lagi,” Alina yang masih ketakutan dengan acaman itu, “kita belum aman”.
Ceri mengangguk.
Kay menmgambil selimut lalu menyelimutin tubuh Alina. Apa yang dilakukan Kay membuat Alina melihat kearah. “lucu dilihat orang pagi-pagi seperti ini kau memakai gaun seperti itu,” Kay yang mencoba menghibur Alina.
Alina teringat yang dilakukan Kay tadi malam padanya, “trimah kasih”.
Kay senang mendenggar ucapan yang sudah dinanti-nantikannya itu yang akhirnya diucapkan wanita yang dihadapannya itu, “sebaiknya kau bersihkan dirimu, kau terlihat kumal”.
Alina melihat dirinya sendiri.
“Kau bisa bersihkan dirimu di rumahku”.
Alina menatap Kay dengan penuh curiga.
“Kau jangan menatapku seperti itu!” yang tidak nyaman dengan tatapan Alina, “kau sampai tidur disini pastih kau tidak ada rumah kan?”.
Alina tidak menjawab, dia sangat malu dengan keadaannya.
“Kau tidak malu dan… tidak usah takut. Aku tidak mungkin nganggu istri orang,” ucap Kay yang mengira Alina sudah menikah dan Ceri adalah anaknya, “sebaiknya kau telpon suamimu untuk menjemputmu dirumahku. Aku tidak mau ada kesalah pahaman antara kalian berdua”.
Alina tersenyum melihat Kay mengira dirinya sudah menikah.
Sedangkan Kay senang melihat senyum itu lagi.
***
Pulang dari kerja Nisa langsung ke rumah Alina. Melihat pintu rumah Alina yang terbuka, Nisa langsung masuk ke dalam rumah sambil memanggil Alina, “Alina… Alina…” karena tidak ada jawaban dan  Alina pun  tidak ada setiap ruang yang dimasukkinnya. Nisa pun mulai kuatir, “kemana sih dia…”.
Tak lama kemudian tetangga Alina datang, “kau mencari Alina?”.
“Iya Bu, Ibu tahu Alina di mana?” tanya Nisa.
“Tadi malam dia bersama Ceri”.
“Apa. Kemana Bu?”.
“Gak tahu. Kelihatan dia tergesah-gesah”.
Nisa semakin kuatir dengan keadaan Alina dan Ceri yang tidak tahu keberadaannya sekarang.
***
Ibu mendapatkan telpon dari anak buahnya yang memberitahu bahwa Kay sudah kembali 5 hari yang lalu, “apa suamiku tahu?” tanyanya.
“Saya rasa tuan tahu nyonya,” jawab anak buah Ibu.
Ibu mematikan telpon saat melihat Ayah mendekatinnya.
“Dari siapa Bu?” tanya Ayah lalu duduk di sofa.
“Ayah sudah tahu Kay sudah kembali?” Ibu yang langsung bertanya.
Sejenak Ayah terdiam, “aku baru tahu kemarin”.
“Kenapa Ayah tidak memberitahuku?”.
“Maafkan aku”.
“Ayah. Sebenarnya Ayah menganggap aku ini apa? Istri atau hanya teman untuk tidur?!” Ibu yang tidak terimah dibohongin.
“Ibu!!!” marah Ayah sambit bangkit.
“Ayah akan melakukan apa pun untuk Kay sama dengan ku yang akan melakukan apapun untuk Adriel!!” kata Ibu lalu masuk ke kamar, “aku tidak akan membiarkan Kay mengantikan Adriel!!” tekat Ibu memperjuangkan Adriel.
***
Kay membuatkan susu hangat untuk Ceri yang sudah selesai membersihkan diri yang sekarang memakai pakaiannya, “ini untukmu”.
“Trimah kasih,” jawab Ceri sambil minum.
“Orang tuamu bercerai?” tanya Kay pada Ceri.
Ceri mengeleng.
“Lalu kenapa Ibumu tidak menelpon Ayahmu?? Atau semalam mereka bertengkar?”.
Ceri bingung dengan perkataan pria yang duduk dihadapannya itu, “Ibu ku meninggal 5 tahun yang lalu”.
“Lalu itu siapa?”.
“Kak Alina, itu kakakku. Lebih tepatnya kakak tiriku”.
“Tapi umur kalian??” yang tenyata dugaannya salah, “kalian seperti ibu dengan anak”.
“Aku senang kak Alina jadi Ibu ku”.
“Hei… kakakmu itu punya masa depan bukan hanya mengurusinmu saja”.
“Kau menyukain kakakku?”.
“Aku? Hahahaha…. Tidak! Itu tidak akan terjadi! Hidup kalian itu sangat bebingungkan”.
Ceri tidak penduli dengan perkataan Kay dia melajutin minum susu hangatnya yang tersisa.
Jadi namanya Alina, kata Kay didalam hatinya yang mengingat nama wanita yang ditolongnya itu.
Tak lama kemudian Alina keluar dari kamar dengan memakai kemeja dan celana milik Kay. Celana yang dikenakan Alina terlihat kebesaran sehingga Alina memengang ujung celana agar  tidak kedodoran, “sebaiknya kau tambah berat badanmu,” canda Kay.
Alina tersenyum lalu duduk, “trimah kasih yach”.
“Kau sudah dua kali mengucapkannya”.
Alina masih tersenyum.
“Aku lebih suka melihatmu tersenyum dibandingkan menanggis”.
“Kau menyukain kakakku,” godah Ceri”.
“Ceri,” kata Alina.
“Dasar anak kecil,” kesal Kay pada Ceri yang membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Tak lama kemudian pintu apartemen di ketuk dari luar, “tok…tok…tok…!”. Kay langsung membukakan pintu. Tenyata yang datang Heru. Heru langsung masuk sambil mengomel, “kau membuatku pusing, sekali saja kau tidak buat masalah dengan A…” Heru menghentikan perkataannya saat melihat seorang wanita cantik bersama seorang anak perempuan di tambah ppakaian yang dikenakan mereka pakaian milik Kay, “siapa mereka?” tanya Heru dengan nada suara pelat.
“Dia Alina itu Ceri adiknya,” Kay memperkenalkan Alina dan Ceri.
Alina tersenyum dan Heru membalas tersenyum.
“Hai…” sapa Ceri pada Heru.
“Hai…” Heru membalas menyapa.
***
Adriel sekarang sedang ada di hotel Ratu. Selain sebagai derektur di perusahaan kontruksi milik Ayah tirinya, Adriel juga ditugaskan oleh Ayah untuk memeriksa perkembangan hotel Ratu setiap harinya. Kedatangan Adriel disambut hangat oleh semua kariawan hotel Ratu.
“Pak Rudi dari hotel Larisa berkujung ke hotel kita,” kata Edi derektur perencanaan di hotel Ratu.
“Dimana dia?” tanya Adriel yang berniat menemuin Rudi.
“Di cave hotel Pak”.
Adriel langsung ke cave menemuin Rudi didampingin Edi dan berserta stap-stap hotel lainnya. Kedatangan Adriel disambut hangat oleh Rudi yang mengetahuin kedatangan Adriel. “Senang bertemu denganmu lagi,” kata Adriel sambil menjulurkan tangannya.
Rudi menyambut tangan Adriel lalu mereka bersalaman, “aku tidak menyangka bisa bertemu anda disini. Aku pikir Kay  yang akan menggantikan Pak Darmawan di hotel tenyata anda juga”.
Adriel tidak menyukain kata-kata Rudi yang tertujuh pada dirinya, “maksud anda?” namun Adriel berusaha tidak menujukkan ketidak sukannya pada Rudi.
“Apa anda belum tahu kay sudah berada di Jakarta?”.
“Apa,” Adriel cukup terkejut dengan perkataan Rudi bahwa Kay sudah kembali ke Indonesia.
“Hahhh… aku pikir Kay berbohong, tenyata benar”.
“Semalam Kay datang?”.
“Iya. dia tamu terhormat di pestahku”.
Adriel semakin kesal, “sepertinya anda terlihat sibuk, apa anda bisa tinggalkan hotel ini”.
“Pak…” Edi yang melihat ekpresi yang ditunjukkan Rudi.
“Anda mengusirku?”.
Adriel tersenyum sini.
 “Aku tidak menyangka sifat anda  tidak sangat provisional, wajar saja Pak Darmawan memilih Kay dibandingkan anda. Padahal selama ini Kay terlihat tidak serius. Tapi kali ini aku setujuh dengan pilihan Pak Darmawan. Anda tidak cocok mengangtikan beliau,” kata-kata Rudi dengan kata-kata pahit yang lontarkan pada Adriel.
“Apa anda bisa segera tinggalkan hotel ini atau perluh aku panggilan keamanan”.
Rudi tersenyum sinis, “tidak perluh. Aku lebih nyaman bersama Kay dibandingkan anda. Permisih!!” Rudi pun meninggalkan hotel bersama anak buahnya.
Adriel mengambil gelas lalu melemparkannya ke lantai sambil mengucapkan, “brensek!!”.
Edi dan stap-stap hotel tidak berani mengeluarkan satu katapun untuk menghibur Adriel yang terlihat sangat marah dengan kata-kata Rudi yang dilontarkannya pada Adriel.
***
Nisa memberitahu Bob bahwa Alina pergi tadi malam dari rumahnya. Lalu mereka ketemuan di gang depan rumah Alina. “Apa kau sudah tanya tetangganya?” tanya Bob yang kuatir.
Dibandiingkan Bob, Nisa lebih kuatir dengan keadaan Alina, “aku sudah tanya, tapi tidak satupun tahu keberadaan Alina dan Ceri,” Nisa yang akhirnya menanggis.
Bob memeluk Nisa, “kita pastih menemukan mereka,” menyakinkan Nisa, “pastih”.
“Aku nyakin pastih terjadi sesuatu…” nyakiin Nisa yang melihat sikaf Alina yang aneh 5 hari ini.
Bob pun nyakin pastih terjadi sesuatu sampai-sampai Alina memilih meninggalkan rumah yang sudah 8 tahun ditempatinnya.
***
Heru dan Kay ngobrol di balkon sambil menikmatin secangkir kopi. Kay menceritakan apa yang terjadi sampai dia mengajak mereka keapartemennya pada Heru.  Namun Kay belum mengetahuin kenapa Alina sampai dikejar oleh pria-pria itu dan tidur taman, dia juga tidak berniat bertanya pada Alina. Karena baginya itu urusan pribadinya dan dia tidak mau ikut campur terlalu jauh masalah Alina.
“Kasihan juga,” yang mulai simpati dengan keadaan Alina dan Ceri, “kenapa kau tidak jadikan dia istrimu,” usul Heru.
“Apa! Kau gila! Mana mungkin aku menikah dengan wanita tidak jelas seperti dia!”.
“Wanita yang jelas aja kau dicampakkan,” sindir Heru.
“Apa! Kau ini…” yang berniat memukul Heru namun tidak jadi karena tiba-tiba Alina muncul, “Alina”.
“Eehh… sebaiknya aku pergi dan trimah kasih atas pertolonganmu”.
Ketika Alina akan pergi Kay menahan tangan Alina, “kau mau pergi kemana? Bukannya kau tidak punya rumah!”.
“Aku punya rumah”.
“Lalu kenapa kau tidur di taman?”.
“Itu…”.
Kay tidak membiarkan Alina menjelaskannya, “aku tidak penduli alasanmu. Yang pastih mala mini kau tidur disini!”.
Alina menatap Kay terlihat aneh sikafnya padanya.
Heru yang tidak mau suasana menjadi tengang lalu membantu mendinginkannya, “aku rasa Kay benar. Takutnya pria-pria itu akan datang kerumahmu.  Bukannya pria-pria itu sedang mengincarmu?”.
Kay melihat Alina yang sudah tidak ingin meninggalkan apartemennya lalu melepaskan tangannya, “tinggalah beberapa hari, kalau sudah tenang kau boleh pergi”.
Alina diam sejenak untuk berpikir, “baiklah”.
“Setidaknya mereka tidak akan menemukanmu disini,” canda Heru.
Kay menatap tajam kearah Heru seperti memberi isyarat kalau kata-katanya itu bisa merubah pikiran Alina.
“Maaf”.
 “Permisih,” lalu Alina meninggalkan mereka berdua.
Setelah Alina Pergi, Kay marah-marah Heru, “kau ini bisa tidak jaga bicaramu!”.
“Tadikan aku sudah mintak maaf”.
“Hahhh… kau ini”.
“Sepertinya kau perluh satu kamar lagi”.
“Ya”.
“Ok,” suasana terhening sejenak, “Ayahmu ingin bertemu denganmu, terutama istrimu”.
“Apa! Hahahahhh….” Kay tertawa mendenggarnya, “istri apa? Memang aku sudah menikah?”.
“Apa kau lupa kebohongan yang kau buat ke Ayahmu 6 bulan yang lalu?!”.
Kay baru teringat, dia berbohong ke Ayahnya bahwa dirinya diam-diam menikah 6 bulan yang lalu untuk menghindari perjodohan yang sudah diatur Ayah. Namun karena kesibukkan Ayah belum sempat ke Amerika melihat istri Kay dan itu sangat mengutungkan bagi Kay. Sekarang Kay sudah kembali ke Indonesia dan Ayah ingin bertemu dengan Kay berserta istrinya yang faktanya tidak ada.
***
Ibu ke kamar Adriel yang mengetahuin Adriel yang baru pulang.  “Kau baru pulang?” basa-basi Ibu yang melihat Adriel sedang membuka kanci kemeja yang dikenakannya.
“Aku lelah Bu,” kata Adriel yang mengetahuin Ibu pastih mau membicarakan sesuatu padanya.
“Kay sudah kembali?” Ibu melihat ekpresi wajah Adriel yang biasa saja, “kau mengetahuin sesuatu?”.
Adriel tidak menjawab.
Dengan diamnya Adriel itu satu jawaban bagi Ibu, “kau sudah bertemu dengannya?”.
“Aku kurang nyakin”.
“Seperti apa dia?”.
Adriel tersenyum, “kenapa? Ibu juga mau membanggakan Kay”.
“Apa maksudmu!!”.
“Aku muak dengan semua ini!”.
“Adriel!!” bentak Ibu.
“Maafkan aku bu”.
Ibu memeluk Adriel, “ibu akan memperjuangkan sayang”.
Kata-kata Ibu membuat hati Adriel terhibur.
***
Kay pergi membeli masakkan untuk makan malam mereka di lestoran yang berada di depan gedung apartemen. Ketika kembali ke apartemen Kay melihat Alina yang akan bersiap-siap untuk pergi, “kau mau kemana? Bukannya katamu kau akan tinggal,” bingung Kay.
“Aku mau kerja,” jawab Alina.
“Kerja?”.
“Iya. Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku”.
“Baiklah. Hati-hati saja”.
Alina tersenyum, “oh iya, aku pinjam baju dan celanamu,” kata Alina yang masih memakai kaos dan celana milik Kay.
“Apa celananya tidak kebesaran?” tanya Kay yang tidak melihat Alina tidak memengang ujung pinggang celana.
“Sudah aku ikat dengan tali,” sambil menujukkan pinggang celana yang diikat dengan tali, “gak kedodoran lagi”.
Kay tersenyum lebar, “hemmm…”.
“O iya satu lagi”.
“Apa?”.
“Tolong jaga adikku?”.
“Kau percaya saja padaku,” Kay yang menyakinkan Alina.
“Trimah kasih. Aku pergi dulu”.
“Ya”.
“Aku pergi dulu,” kata Alina pada Ceri yang sedang mencoret-coret diatas kertas.
“Iya Kak”.
“Permisih,” Alina pun pergi meninggalkan apartemen dan langsung ke supermarket tempat dirinya bekerja.
Kay duduk diatas sofa, “dia pintar menutup penderitaannya,” katanya pada dirinya sendiri. Kay melihat hp diatas meja, lalu mengambilnya, “ini hp siapa?”.
“Kakak,” jawab Ceri.
Kay melihat kontak hp, di dalam kontak hanya ada satu nomor yang tertulis nama Bibi, “apa dia tidak punya teman?”. Lalu Kay memasukkan nomor telponnya di kontak hp milik Alina, setelah itu memissed callsnya ke hpnya. Setelah masuk, Kay menyimpan nomor Alina ke kontak hpnya. Kay melihat Ceri yang masih mencoret-coret diatas kertas, “kita beli makanan,” usul Kay.
Ceri melihat masakkan yang dibeli Kay tadi yang belum disentuh sedikitpun yang diletakkannya diatas meja.
Kay mengerti maksud tatapan Ceri, “maksudku makanan ringan. Gimana? Mau?”.
***
Budi ayah tiri Alina datang kesebuah rumah sederhana yang berada tak jauh dari rumahnya. Budi mengetuk pintu sambil melihat-lihat sekelilingnya apakah ada yang mengikutinnya. Tak lama kemudian pintu terbuka, seorang wanita keluar dengan memakai gaun berwarna merah mencolok, “masih berani kau kesini?!” kata Sarani yang tidak menyukain kehadiran Budi.
Budi yang ketakutan aka nada yang melihatnya langsung masuk ke dalam rumah, “tutup pintunya,” perintahnya.
Sarani menutup pintu, “sudah mencelakan anak kau masih berani muncul!”.
“Kau tahu dimana mereka sekarang?” yang sebelum ke rumah Sarani, Budi kerumahnya dulu karna tidak ada siapapun, akhirnya dia memutuskan kerumah Sarani yang rumahnya tak jauh.
“Tidak. Tidak satupun yang tahu keberadaan mereka. Mungkin mereka sudah bunuh diri,” dugaan Sarani.
“Apa maksudmu?”.
“Bukahkah Alina sudah beberapa kali mencoba bunuh diri, mungkin kali ini dia mau mengajak Ceri”.
Budi diam, dihatinya penuh rasa bersalah pada Alina dan Ceri terutama pada mediang istrinya yang sudah 5 tahun meninggal.
Sarani melihat kesedihan yang terpancar di wajah Budi, “percuma kau menyesal, nantinya juga kau mengulanginnya lagi”.
Budi tidak penduli tanggapan dari Sarani, di hatinya paling dalam dirinya sangat menyesal apa yang dilakukannya itu.
***
Dari jauh Nisa melihat Alina melangkah menuju supermarket, “Alina…!” terkejut bercampur senang Nisa bisa melihat  Alina lagi. Bob yang membantu Nisa dikasir lalu melihat kearah Nisa lihat. Nisa langsung berlari mendekatin Alina, dan langsung memeluknya. Sedangkan Bob tidak bisa kemana-mana karena kebetulan pengujung lagi ramai-ramainya membayar barang belanjaan mereka.
Alina bingung yang dilakukan Nisa padanya, “kau kenapa?”.
“Kau kemana aja? Seharian kami mencarimu,” Nisa yang masih kuatir.
“Aku tidak apa-apa”.
“Sekarang kau tinggal dimana?”.
“Teman”.
“Selain aku kau punya teman siapa lagi?” heran Nisa yang setahunya Alina tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali dengan dirinya dan Bob.
Alina hanya tersenyum lalu melihat kearah Bob yang kewalahan melayanin pembeli, “sepertinya kasir perluh bantuan”.
Nisa menolek kearah Bob, “kau benar”. Alina dan Nisa kekasir untuk membantu Bob melayanin pembeli.
“Senang melihatmu lagi,” kata Bob pada Alina.
Alina hanya tersenyum, “sekarang giliran kami yang bekerja”.
“Ok,” Bob pun meninggalkan meja kasir dan membiarkan Alina dan Nisa di meja kasir melayanin pembeli yang akan membayar barang belanjaan mereka.

Beberapa saat kemudian pintu Alina dan Nisa dikejutkan kedatangan Ceri yang bersama seorang pria. “Haii Kak…” sapa Ceri pada Alina dan Nisa.
Dibandingkan Alina, Nisa yang lebih kanget melihat Ceri ditambah pakaian yang dipakai Ceri pakaian pria dewasa, “dia siapa?” tanyanya pada Alina.
“Kau ambil makanan untuk kita,” perintah Kay pada Ceri.
“Makanan apa?” tanya Ceri balik.
“Terserah”.
“Terserah,” lalu Ceri mengambil makanan yang disukainnya.
Kay mendekatin meja kasir.

Dari jauh Bob memperhatikan mereka. Bob ingat jelas pria itu adalah pria yang sama  bersama Alina di taman tempoh hari. Dibenak Bob penuh pertanyaan baik itu ada hubungan apa mereka berdua? Sejak kapan mereka bertemu? Dimana mereka bertemu? Kenapa sampai mereka sedekat itu? dan pertanyaan lainnya yang tak satupun Bob mendapat jawabannya. Bob berusaha menahan perassaannya, lalu dia pun kembali keruang kerjanya untuk menghidarin kecemburuan yang paling dalam.

Melihat sikaf Kay yang memajakan Ceri membuat  Alina tidak suka, “kau jangan memajakan adikku seperti itu”.
“Adikmu?” lalu menolek kearah Ceri yang sedang memilih makanan, “dia sekarang adikku,” canda Kay.
“Apa”.
“Kau tidak lihat dia sekarang dengan siapa?” yang masih bercanda, “hahahaha…hahaha…” melihat wajah Alina yang mulai serius, “aku hanya bercanda”.
Alina mengubah ekpresi wajahnya.
Kay mengeluarkan hp dari saku celananya lalu memberikannya pada Alina, “kalau punya hp jangan di tinggalkan”.
Alina mengambilnya, “trimah kasih”.
 “Dikontak hpmu ada nomorku, kalau kau perluh sesuatu telpon saja aku”.
Alina mulai tidak menyukain perhatian yang ditunjukkan Kay padanya, “Ceri!” panggil Alina.
“Iya Kak,” lalu mendekatin Alina dengan membawa beberapa makanan ringan, “biar aku yang bayar, kalian pulang saja”.
“Kalau begitu coba kau ambil yang banyak,” saran Kay pada Ceri.
“Apa”.
Kay melihat wajah serius itu lagi di wajah Alina, “aku hanya bercanda. Ayo Ceri,” sambil berjalan menuju pintu masuk keluar supermarket.
Baru beberapa langkah Kay dan Cei berjalan, Alina memanggil Kay, “tunggu!”.
Kay menolek, “ada apa?”.
“Aku mohon, kalian langsung pulang, jangan kemana-mana lagi,” kata Alina.
Kay yang melihat kekuatiran Alina pada Ceri dari ekpresi wajahnya, “baiklah, aku langsung pulang. Ayo Ceri,” lalu menarik Ceri keluar dari supermarket.
Alina masih memperhatikan Kay dan Ceri pergi sampai hilang dari kegelapan.
“Pria itu yang kau maksud temanmu itu?” tanya Nisa.
“Iya”.
“Kalian kenal dimana?”.

Setiba di rumah, Ceri langsung memakan makanan yang dipilihnya tadi. Sedangkan Kay mengingat perkataan Alina sewaktu mau pergi dari supermarket, “Aku mohon, kalian langsung pulang, jangan kemana-mana lagi”. Kay tidak bisa melupakan Ekpresi wajah Alina, lalu memadang Ceri yang sedang makan, “dia sangat sayang padamu,” lalu menarik nafas panjang.
***

Keesokannya, Kay bangun dari tidurnya, bangkit dari tempat tidur dan langsung ke dapur untuk minum. Sambil berkali-kali menguap Kay berjalan menuju dapur tanpa disadarinnya Ceri memperhatikan tingkah lakunya. Didapur, Kay membuka kulkas dan mengambil botol minuman yang berisi air putih. Kay langsung minum, lalu kembali ke kamar untuk bersiap-siap jonging.
“Kau tidak kerja?” tanya Ceri.
Kay menolek kearah Ceri yang duduk disofa, dia baru ingat bahwa sekarang dirinya tidak tinggal sendiri lagi di apartemen, “kakakmu belum pulang?”.
Ceri melihat jam yang tergantung di dinding, jarum jam menuju jam 7.35 WIB, “biasanya kakak pulang sekitar jam 9”.
Kay teringat setiap dirinya jogging dia selalu melihat Alina duduk di taman, “kakakmu punya kebiasaan duduk ditaman?”.
“Biasanya kalau lagi ada masalah aja”.
Kay diam. Tiba-tiba hpnya berdering, Kay melihat siapa yang menghubunginnya dari layar hp. Tenyata Rudi yang menelponnya. Kay langsung mengangkatnya, “halo…” setelah mendenggar apa yang dikatakan Rudi, “baiklah,” lalu menutup telpon.
“Dari pacarmu?” tanya Ceri.
“Kau pikir aku homo”.
Ceri tertawa kecil, “hahaha…haha… homo itu apa?”.
“Dasar bodoh! Kau tidak sekolah?!”.
“Kakak menyuruhku jangan sekolah dulu”.
“Orang itu harus sekolah biar tidak bodoh!” sindir Kay.
Ceri cemberut.
“Mau sarapan di luar,” ajak Kay.
Ceri mengeleng padahal sebenarnya dia sangat menginginkannya.
“Walaupun kau tidak mau, tidak mungkin juga aku tinggalkan kau sendiri,” lalu menghubungin Alina, “jam berapa kau pulang?” tanya Kay.
“Sebentar lagi,” jawab Alina yang sedang duduk di meja kasir, “kenapa? Kau mau pergi?”.
“Aku mau mengajak adikmu makan diluar”.
Alina langsung melarang, “jangan! Jangan bawak Ceri! Tinggalkan saja Ceri kalau kau mau pergi,” Alina yang mulai kuatir, “aku mohon jangan bawak Ceri”.
Kay tidak menyukain sikaf Alina yang tidak percaya padanya, “bisakan kau percaya padaku!?”.
Alina diam.
“Aku akan menjaga adikmu! Dan tidak akan aku biarkan mereka membawa Ceri!” menyakinkan Alina, “dan tidak mungkin juga aku tinggalkan Ceri sendirian. Kalau terjadi apa-apa dengannya kau pastih juga akan menyalahkanku. Aku akan menjaga Ceri,” kata Kay panjang lebar.
“Baiklah. Tolong jaga Ceri,” Alina yang mulai percaya pada Kay.
Kay tersenyum, “Iya. dahh…” lalu menutup telpon.
“Gimana?” Ceri yang bersemangat, “kakak mengijinkan?”.
Kay yang melihat ekpresi yang ditunjukkan Ceri mulai tersenyum lebar, “tadi katanya tidak mau”.
Ceri hanya tersenyum malu.
“Dasar bodoh”.
***
Ayah sarapan bersama dengan Adriel dan Ibu di meja makan, “aku denggar hotel Larisa akan bekerja sama dengan hotel kita, aku harap kerja sama ini berjalan lancar,” harapan Ayah yang belum mengetahuin apa yang dilakukan Adriel pada presiden derektur hotel Larisa.
Adriel diam, dia sangat menyesal apa yang dilakukannya kemarin. Ibu yang sudah mengenal Adriel nyakin pastih ada yang dirahasiakan Adriel darinya.

Setelah sarapan selesai, Ayah pun sudah pergi duluan ke perusahaan tinggal Ibu dan Adriel saja di meja makan. Ibu mencoba bertanya pada Adriel, “apa kau melakukan sesuatu?”.
Adriel yang tidak bisa bohong dari Ibu lalu mulai jujur, “Iya”.
“Apa?”.
“Aku mengusir Pak Rudi dari hotel kita”.
Ibu sangat kanget mendenggarnya, “apa! Kau sudah gila!!” marah Ibu.
“Maafkan aku. Aku akan memintah maaf secara pribadi dengan Pak Rudi,” kata Adriel yang merasa bersalah.
“Ibu ingatkan, jangan sampai Ayah tahu semua ini”.
“Baik Bu”.
Walaupun Adriel akan memintah maaf secara pribadi pada Rudi presiden derektur hotel Larisa namun dibenak Ibu masih ada kekuatiran  pada Ayah yang akhirnya akan mengetahuin apa yang dilakukan Adriel itu akan merusak kepercayaan Ayah pada Adriel.
***
Kay dan Rudi janjian bertemu di lestoran yang dulu mereka sering datangin sebelum Kay memutuskan akan menetap di Amerika. Sambil ngobrol mereka menikmatin secangkir kopi. “Sudah lama sekali kita tidak kesini,” basa basi Rudi.
Kay hanya tersenyum.
“Aku senang kau tidak seperti saudara tirimu”.
“Apa”.
“Sepertinya Adriel tidak menyukainmu”.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”.
“Saat aku memujimu dia terlihat tidak suka,” Rudi menatap Kay, “jangankan Adriel, aku pun iri padamu”.
Kay hanya tersenyum menanggapin perkataan Rudi namun dibenaknya Kay memikirkan perkataan Rudi setiap katanya. Apakah Rudi benah kalau Adriel tidak menyukainnya.  Semua itu menganggu pikirannya.
Rudi melihat anak perempuan yang duduk di meja belakang Kay yang sedang menikmatin Sushi, “dia anakmu?” tanyanya.
“Bukan,” jawab Kay sambil minum.
Rudi menatap Kay.
Tatapan Rudi menganggu Kay, “kau tidak percaya? Kau bisa tanya langsung padanya”.
“Walaupun itu benar tidak ada ruginya denganku. Apalagi aku dengar kau sudah menikah”.
“Apa!” kanget tenyata Rudi mengetahuinnya juga, “kau tahu dari mana?”.
“Kau tahu kan orang tua kita, mereka satu sama lain membanggakan kita”.
Kay hanya tersenyum mengingat sikaf Ayahnya yang sudah lama tidak bertemu.
“Aku harus pergi,” sambil berdiri, “cobalah beli pakaian untuknya. Dia terlihat aneh memakai pakaian dewasa”.
Kay menolek ke belakang, dia baru menyadarin Ceri memakain pakaiannya tidak sesuai dengan badanya yang masih kecil.
“Aku pergi dulu,” kata Rudi lalu pergi.
Kay mendekatin Ceri, “sudah selesai?”.
Ceri mengangguk, “kita mau pulang?”.
“Tidak. Kita beli baju dulu”.
Ceri sangat senang mendenggar ajakan Kay.
***
Alina pulang sendirian dengan berjalan kaki menuju apartemen. Dipertengahan jalan tatapan Alina tertujuh pada gerombolan pria sedang memukul seseorang. Alina langsung bersembunyi di sebuah pohon besar yang berada tak jauh darinya. Gerombolan pria itu adalah anak buah dari lintenir itu. Alina sangat takut saat itu namun berusaha untuk tenang, “aku harus pergi,” tubuhnya mulai gemetaran, “aku harus pergi,” lalu melajutin perjalanan dengan arah berlawanan namun tetap akan menuju ke apartemen hanya saja melewatin jalan yang lebih jauh dari jalan ini.

Jarak yang di tempuh Alina kali ini lebih jauh dibandingkan tadi malam. Tadi malam Alina hanya menempuh perjalanan setengah jam dari apartemen ke supermarket dengan berjalan kaki sedangkan sekarang dirinya harus menempuh perjalanan dengan waktu    jam. Itu dikarenakan, jalan yang dilewatin Alina tadi malam  ada  anak buah lintenir itu yang sedang menghajar seseorang.
Akhirnya Alina sampai juga didepan gedung apartemen, panasnya matahari sangat menyengat kulit sehinggat keringat bercucuran keluar dari kulit. Alina melihat keatas gedung, kali ini dia harus naik ke lantai 30 karna apartemen Kay berada di lantai 30. Kali ini Alina bisa istirahat sejenak karena naik ke lantai 30 bisa menggunakan jasa lift. Rasa lelah bercampur gantuk membuat Alina yang berkali-kali akan jatuh namun  Alina berusaha untuk berdiri tengak, dia tidak ingin memalukan dirinya sendiri di depan banyak orang  yang mengunakan jasa lift juga.
Setiba di pintu apartemen, Alina mencoba membuka namun pintu terkunci. Alina menyadarkan tubuhnya ke dinding lalu duduk dengan kaki terlipat ke belakang. Karena sudah sangat mengantuk bercampur lelah, Alina pun tertidur dengan kepala menyadar ke dinding.
*** 


Bersambung

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar