Selasa, 20 Agustus 2013

Drama Korea A Gentleman's Dignity Episode 4 Part 2


Yi Soo bertanya-tanya pada diri sendiri siapa yang mengirimkan sepatu untuknya. Ia menebak itu ulah Do Jin, ia pun berusaha menghubungi Do Jin tapi beberapa kali ia menelpon tapi Do Jin tak menjawabnya, Akhirnya ia putuskan untuk mendatangi kediaman Do Jin.

Yi Soo ke apartemen Do Jin. Do Jin membuka pintu dengan pakaian piyama yang tak terpasang rapi, masih terbuka. Yi Soo sedikit terkejut dengan pakaian piyama yang Do Jin kenakan. Ia mengatakan kalau ia ingin masuk sebentar.
Yi Soo tanya kenapa Do Jin tak menjawab teleponnya, ia sudah berkali-kali menelepon. Ia membuka bingkisan sepatu yang ia yakini itu di kirim oleh Do Jin.

“Sepatu seharusnya dipakai, bukan ditenteng!” seru Do Jin sebagai pengakuan kalau itu ia yang mengirimkannya. “Apa tidak pas?”

Yi Soo tak bisa menerima hadiah dari Do Jin. Do Jin ingin tahu kenapa karena ia hanya ingin melakukan sesuatu yang istimewa untuk cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

Yi Soo : “Siapa yang menghabiskan 1,3 juta won hanya untuk sepatu yang diberikan pada cinta bertepuk sebelah tangannya? Kau seharusnya menghabiskan kurang dari 100rb won kalau kau ingin penerimnya gembira setengah mati. Ini hanya memamerkan uang.”

Do Jin sepertinya tersinggung, ia mengambil bingkisan sepatunya kembali. “Eun Jae!” panggil Do Jin.
Seorang wanita keluar dari dalam kamar dalam kondisi setengah sadar baru bangun dari tidur. Yi Soo jelas terkejut melihat ada seorang wanita disana.

Do Jin memberikan sepatu itu pada Eun Jae. Eun Jae tanya siapa wanita ini.

“Cinta bertepuk sebelah tanganku, Seo Yi Soo.” Jawab Do Jin. Eun Jae tertawa dan heran, “Cinta bertepuk sebelah tangan?”. Eun Jae menerima sepatu dan akan mencobanya. Ia kembali masuk ke dalam.
Yi Soo tanya siapa wanita itu.
“Menurutmu siapa?” Do Jin balik bertanya, “Jangan salah paham. Aku tak memiliki adik perempuan, aku juga tak punya saudara sepupu atau saudara yang lain.”

Yi Soo tak habis pikir ternyata ini wajah asli Do Jin, “Seperti inikah perilaku seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan?”

Do Jin : “Tak bisakah seorang pria yang cintanya bertepuk sebelah tangan tidur dengan wanita lain?”
Yi Soo : “Apa kau pikir ini masuk akal?”
Do Jin : Kenapa?
Yi Soo : Kau bilang apa?
Do Jin : “Apa kau mau tidur denganku?”
Yi Soo : “Apa kau gila?”
Do Jin : “Lalu kenapa kau marah-marah? Kau juga menyukai pria lain, Apa kau berharap aku akan setia hanya pada satu wanita? Apa kau berharap aku akan menangisinya? Hanya untuk mengingatkan, apartemen ini memiliki pelayanan pengantaran. Lain kali kau tak perlu naik sendiri.”

Do Jin membuka pintu yang artinya mempersilakan Yi Soo keluar kemudian menutup pintu keras-keras.
Do Jin tiba di Mango Six. Disana sudah ada Tae San dan si pemilik kafe, Jung Rok. Do Jin minta maaf terlambat datang karena ia ada tamu pagi-pagi.

“Bukan tamu yang bermalam semalam?” Tebak Tae San yang tahu kalau semalam Do Jin bersama Yi Soo.
“Tentu saja itu juga ada.” sahut Do Jin. Ia menanyakan keberadaan Yoon.
Tae San mengatakan kalau setelah Yoon meninggalkan rumahnya, dia pergi ke rumah ibu mertuanya. Do Jin heran apa Yoon tak mencari apartemen sendiri. Jung Rok menyahut karena itulah mereka bertiga berkumpul. Ia menyampaikan kalau ibu mertua Yoon semalam menelepon. Dia menginginkan agar kita meyakinkan Yoon.

Do Jin melirik Tae San, apa Tae San masih berfikir kalau Yoon itu yang paling pintar. Jung Rok berkata kalau Yoon yang terhangat. Ia kemudian berfikir ketiganya harus bagaimana.
Di apartemen ibu mertua Yoon (yang sepertinya dulu apartemen Yoon). Yoon memuji masakan ibu mertuanya itu akan membuatnya bertambah gemuk. Ia berharap ibu mertuanya tak khawatir dengan makan malamnya nanti karena ia berencana untuk bertemu dengan teman-temannya dan juga ada pertemuan perusahaan.
Ibu tahu karena ini juga melelahkan baginya. “Melelahkan memasak untuk menantuku di usia seperti ini.” Katanya lirih. Yoon berjanji akan terus bersikap baik pada ibu mertuanya.

Ibu tanya bagaimana Yoon akan melakukannya karena Yoon sudah melakukan banyak hal untuknya. Sekarang ia... tak ingin hidup dengan Yoon lagi. Ia tahu dan sadar ini memalukan tapi ia akan menggunakan rumah ini dan akan mengembalikannya pada Yoon saat ia meninggal nanti karena ini sudah terlalu lama, 4 tahun sejak Jung Ah pergi (4 tahun apa 7 tahun)
Yoon meminta ibu mertuanya jangan bersikap seperti ini.

Ibu : “Kau masih muda, aku benar-benar berterima kasih padamu. Tapi berhentilah menjadi menantuku sekarang!”

Yoon tak mau lagi mendengar, ia pamit akan ke kamarnya. Tapi ia terkejut ketika masuk kamar di dalamnya kosong tak ada satupun barang-barangnya.

Ibu mertua Yoon mengatakan kalau teman-teman Yoon datang dan mengambil semuanya, bahkan ia juga ikut membantu. “Tak ada kamar disini untukmu.” Ucap ibu lirih.
Do Jin, Tae San dan Jung Rok membereskan barang-barang milik Yoon di rumah Do Jin. Do Jin melihat foto pernikahan Yoon dan Jung Ah. Ia tanya apa Jung Ah selalu terlihat secantik ini.

Tae San ingat ketika Yoon dan Jung Ah pacaran, ia beberapa kali memesan hotel untuk keduanya. Jung Rok menambahkan kalau Yoon itu sangat setia dan ini sudah terlalu berlebihan karena sudah 4 tahun (ah 4 tahun apa 7 tahun???)
Yoon sampai di rumah Do Jin dan menanyakan ide siapa ini. Jung Rok dan Tae San mengatakan kalau semua ini ide Do Jin.
“Apa kau mau mati?” gertak Yoon pada Do Jin.

Do Jin tak menghiraukannya ia malah bertanya dimana ia harus meletakan foto pernikahan Yoon.
Karena sudah hampir selesai Tae San mengajak semuanya keluar. Jung Rok tanya kemana.

Tae San : “Apa kau tak tahu kalau di rumah ini hanya memiliki sepasang sumpit. Dia pria lajang lanjut usia, Kim Do Pal.”

Keempatnya belanja ke supermarket.
Do Jin dan Yoon mendorong troli belanja bersama. Do Jin berseru kalau banyak produk bagus belakangan ini. Yoon menawarkan apa Do Jin ingin dibelikan satu olehnya.

Do Jin : “Apa sebagai mas kawin?
Yoon : “tak usah. Aku hanya membutuhkanmu. Aku tahu, kau seharusnya berterima kasih karena memilikiku.”

Do Jin tertawa dan kedunya saling menyenggol. Tapi percakapan keduanya diperhatikan oleh pelayan disana yang mungkin berfikir tidak-tidak dengan keakraban keduanya. Ia mungkin menduga kalau Do Jin dan Yoon pasangan pria hahaha....
Dan si pelayan kembali mendengar percakapan dua orang pria, kalau ini Tae San dan Jung Rok. Tae San menilai kalau perubahan desain peralatan rumah tangga cepat sekali. Sedangkan peralatan di rumahnya sudah sangat kuno. Jung Rok menawarkan apa Tae San ingin dibelikan satu.

“Gomawo...!” Tae San memeluk Jung Rok dari belakang membuat pelayan terbengong-bengong melihatnya hahahaha... Disaat yang sama Jung Rok menerima panggilan telepon dari Hae Joo.
Park Min Suk menyiapkan makan malam. Jung Rok heran melihat istrinya menyiapkan banyak makanan. Ia pun bertanya-tanya perayaan hari apa ini? Apa ulang tahun pernikahan? Tapi Bukan. apa ulang tahun istrinya? Tapi sudah lewat.

Min Suk berkata kalau belakangan ini ia selalu lapar. Ia mangajak suaminya makan bersama.
Keduanya makan bersama tapi jung rok merasa ada yang aneh. Ia menyendok nasi dan di mangkuk nasinya ia melihat ada benda aneh. Apa itu, cincin kawinnya hahaha....

Jung Rok melirik istrinya yang terus makan santai. Ia melihat jari manisnya tak ada cincin haha... Ia membenamkan kembali cincin itu ke dalam nasi agar tak terlihat oleh min suk (padahal kemungkinan besar Min Suk yang meletakkan disana ya)
Min Suk melihat suaminya tak segera makan, ia tanya apa suaminya sedang tak berselera makan. Ia sangat yakin kalau suaminya ini sedang tak berselera makan karena terlalu banyak makan cemilan.

“Kenapa aku tak berselera makan, aku bahkan bisa mengunyah logam!” Jung Rok menendok nasi dan akan memakannya bersamaan dengan cincin yang ada disana.
“Apa kau akan memakannya?”
“Makan apa?” tanya Jung Rok pura-pura tak tahu.
“Apa kau tak tahu?”
Jung Rok melahap nasi berserta cincinnya. Istrinya mencibir apa suaminya ini tengah melakukan pertunjukan. Jung Rok sekuat tenaga menelan nasi beserta cincinnya.
Min Suk tak habis pikir kalau suaminya akan melakukannya, “Apa kau sudah gila, keluarkan!” bentaknya.
Jung Rok seakan merasakan kesakitan, “Park Min Suk, aku mencintaimu.”
Jung Rok dibawa ke rumah sakit. Ia meringis ketika melihat istrinya datang padahal tadi ia tiduran santai. “Sayang aku sakit!” uangkapnya.
Min Suk menunjukan hasil foto rongten yang menunjukkan kalau di dalam tubuh Jung Rok ada cincinnya. Jung Rok kaget dan mencoba tersenyum manis ke istrinya. Ia mengatakan kalau Min Suk ada di dalam hatinya. Min Suk malah membentak meminta suaminya diam.
Jung Rok disidang oleh ketiga temannya. Tae San bertanya-tanya bagaimana bisa orang yang berpengalaman seperti Jung Rok bisa selalu tertangkap. Ia menilai Min Suk orang yang mengagumkan karena bisa selalu menemukan cincin itu.

Jung Rok ngedumel kalau cincin yang sekarang ada di perutnya benar-benar sangat bermasalah. Ketiga temannya menggertak akan memukul, Jung Rok jadi ciut. Tae San menebak apa Jung Rok menemui Hae Joo lagi.

Yoon langsung ingat, “Apa wanita yang meninggalkanmu dan menikahi akuntan? Baek Hae Joo?”

Jung Rok berseru kagum Yoon sangat pintar karena ingat wanita yang pernah pacaran dengannya. Tapi Do Jin memarahinya apa pernah Jung Rok melakukan sesuatu yang benar.
Tae San ingin Jung Rok mengeluarkan cincin itu bagaimana pun caranya. Yang pasti melalui jamban atau ditadahi koran (BAB di koran wakakaka)

“Siapa yang akan mencarinya setelah itu keluar?” tanya Do Jin jijik.
“Tentu saja orang yang buang air besar!” kata Tae San.

Jung Rok menolak bagaimana bisa seperti itu.
Yoon minta Jung Rok diam dan dengarkan apa yang dikatakannya, “Kau harus menjaga kedamaian dalam keluargamu, kenapa? Karena kedamaian keluargamu juga kedamaian kami. Kemudian kedamaian 70 karyawan Hwa Dam dan 20 pegawai biro hukum Myung Yung.”

Jung Rok menyela bagaimana dengan kebahagiannya.
“Itu tak penting!” kata Yoon (hahaha)

Yoon : “Dalam hal ini, jika pernikahanmu berakhir seperti reality show ‘Cinta dan perang’. Maka akan menimbulkan dua korban tewas, Kim Do Jin dan Im Tae San. Seorang pengungsi Choi Yoon dan juga korban lain, Lee Jung Rok. Apa kau mengerti?”
Jung Rok menjawab pelan ia paham.
Tae San memberikan 4 botol obat parangsang agar Jung Rok buang air besar dan segera mengeluarkan cincin itu. Tae San juga membagikan kertas untuk Do Jin, Yoon dan juga untuk dirinya. Jung Rok tanya apa itu.
Tae San : “Bukankah sudah jelas, menggunakan ini untuk menampung kotoranmu!”
Jung Rok : “Dengan kertas A4?” (wakakaka)
Apa benar dengan kertas itu hahaha tidak...
Kertas itu ketiganya gunakan untuk menulis surat pernyataan yang ditujukan untuk Park Min Suk sebagai pemilik gedung perusahaan mereka.

Untuk iparku Park Min Suk..
Sebagai teman dekat Lee Jung Rok dan panasehat hukum Park Min Suk...
Aku menyatakan simpatiku terhadap pernikahan kalian yang penuh dengan kejutan tak terduga...
Aku Kim Do Jin tidak akan menjawab telepon dari Lee Jung Rok setelah jam 10 malam.
Jung Rok keluar santai dari kamar mandi dan dijemarinya sudah terpasang cincin kawinnya. Ia berjalan mendekat ke arah teman-temannya. Ketiganya menghindar jijik meminta Jung Rok jangan mendekat.
Collin berada di kafe manatap foto ibunya beserta ke empat pria yang kita tahu itu adalah Do Jin, Jung Rok, Yoon dan Tae San. Di balik foto itu tertulis nama mereka. Foto itu diambil tahun 1993. Ia menyimpan kembali fotonya dan mengambil sebuah alamat yang bertempat di Gangnam. Ia pun mencari lokasi tempatnya menggunakan koneksi internet.
Ternyata alamat itu, kafe kopi milik Lee Jung Rok. Colin tersenyum dan menduga-duga, “Apa dia orangnya?”
Se Ra bertemu dengan seorang pria, ia meminta Pria itu menjadi Caddy disetiap pertandingannya. Se Ra menilai kalau karier golf-nya akan segera berakhir. Masa kajayaan yang ia miliki hanya beberapa tahun diawal usia 20an-nya.

Pria itu mengerti perasaan Se Ra tapi musin kompetisi tahun ini akan sulit dan kemungkinan musim depan juga demikian. Se Ra tahu ini sulit tapi itu bukan sesuatu yang mustahil, ia akan memberi bayaran dua kali lipat.
“Hong Pro, dengan memberiku penawaran terbaik apa yang kau harapkan dariku? Apa bantuan pelatihan atau memperoleh keamaanan dengan memiliki caddy yang profesional?” tanya pria itu.
Se Ra menjawab tentu saja keduanya.

“Menurut pendapatku yang kau butuhkan adalah banyak latihan bukanlah staf unggulan.” Seru pria itu.
Meari ternyata ada di bar yang sama dan melabrak Se Ra. Ia berfikir kalau Se Ra tengah berselingkuh dengan pria lain di belakang kakaknya.

Se Ra sedang tak mau berdebat dengan Meari karena ia sedang membicarakan masalah karirnya. Se Ra minta maaf pada pria itu dan akan menghubungi lagi nanti.
Setelah pria itu pergi Se Ra mengatakan kalau Meari sudah salah paham. Meari tak percaya dan bertanya siapa pria itu, apa teman Se Ra atau teman kerja. Kakaknya mungkin akan mengerti tapi tidak dengan dirinya. Dari pada membohongi kakaknya seperti ini lebih baik Se Ra putus dengan kakaknya.

Se Ra : “Maaf kalau aku mengecewakanmu tapi pria tadi akan jadi Caddy ku yang baru dimusim ini. Ini kenyataan. Caddy itu menyuruhku lebih banyak latihan daripada merekrtut tim hebat.”
Se Ra permisi akan latihan lagi karena ia sudah gagal merekrut caddy yang hebat.
Meari pulang ke rumah. Ia langsung bertanya pada Kakaknya seberapa penting keberadaannya dalam hidup kakaknya.
Tae San : “Lebih penting daripada hidupku sendiri, kenapa?”
Meari : “Seandainya Kak Se Ra dan aku jatuh ke dalam air disaat yang sama. Siapa yang akan kakak selamatkan lebih dulu?”

Tae San : “Memangnya hanya aku yang ada disana? Bukankah kau pintar berenang? Justru untuk keadaan seperti itulah aku mendaftarkanmu ke sekolah renang sejak usiamu 4 tahun.”
Meari : “Apa maksud kakak, kakak akan menyelamatkan kak Se Ra lebih dulu?”
Tae San : “Dia punya sertifikat dibidang olahraga, dia bisa lari 100 meter dalam wktu 14 detik seharusnya dia bisa berenang, kan?”
“Jadi siapa yang akan kakak selamatkan?” Meari sewot.
Tae San : “Bagiku kau lebih penting daripada diriku sendiri. Tapi kau dan Se Ra berada dalam karegori yang berbeda, kalian tak bisa dibandingkan.”
Meari kesal dan masuk ke kamarnya.
Yi Soo tak bisa tidur. Ia hanya membolak-balikkan badannya di kasur. Ia teringat ketika ia ke apartemen Do Jin tadi siang dan melihat semuanya. Yi Soo kesal kenapa ia harus melihat yang seperti itu, kalau begini ia akan jadi gila.
Dan pagi harinya Yi Soo terbaring di lantai. Suara jam pun membangunkannya.
Yi Soo keluar kamar dan langsung menuju ke kamar mandi, tanpa ia sadari di ruang makan ada seorang pria yang tengah minum kopi dan melihatnya.
Yi Soo keluar dari kamar mandi sambil menyikat gigi. Ia menjerit ketika melihat pria itu dan mengarahkan sikat pada si pria seolah sikat gigi itu senjatanya. Si pria akan bicara tapi mulutnya penuh minuman dan ia berusaha menelan minumannya terlebih dahulu.

Se Ra yang mendengar ada keributan di luar kamar segera keluar. Ia meminta Yi Soo tenang karena pria itu adalah temannya. Pria itu memperkenalkan diri namanya Kim Bum Nae.
Yi Soo meminta penjelasan pada Se Ra siapa pria itu. Se Ra meyakinkan kalau pria itu hanya temannya. Dia datang tengah malam membawa anggur dan keduanya minum-minum. Ia sebenarnya ingin memberi tahu Yi Soo tapi Yi Soo sudah tidur.

Yi Soo minta Se Ra tak usah mempedulikannya, yang jadi masalah bagaimana kalau Tae San tahu. Seandainya keadaannya dibalik, kalau Tae San mengizinkan seorang wanita menginap di rumahnya dan berkata kalau dia hanya teman apa Se Ra tak keberatan.
Se Ra : “Aku tak akan membiarkannya kalau aku tahu. Tapi kalau aku tak tahu itu tak masalah. Tae San tak akan tahu. Benar, kan?”

Yi Soo tak habis pikir Se Ra akan seperti ini, ia menilai Se Ra sangat jahat pada Tae San.
Se Ra menerima SMS dari Tae San.

‘Apa pagimu menyenangkan? Berpakaianlah! Do Jin menuju kesana. Bukakan pintu untuknya, alasannya? Rahasia.’

Se Ra kaget dan berteriak pada temannya, “Kim Bum Nae sebaiknya kau pergi sekarang, ada tamu!”
Yi Soo heran sepagi ini ada tamu, siapa lagi sekarang?
Se Ra buru-buru keluar. Tapi disaat yang bersamaan Kim Bum Nae membukakan pintu untuk tamu yang datang, Kim Do Jin. Yi Soo tak menyangka kalau yang datang Do Jin. Terlebih Se Ra karena secepat ini Do Jin sampai di rumahnya.
Do Jin mengatakan kalau Tae San memintanya untuk mampir katanya dia akan memberi tahu alasannya nanti. Se Ra tahu itu ia baru saja mendapatkan SMS dari Tae San.

Do Jin melihat ada seorang pria disana. Se Ra menyenggol Yi Soo, “Apa kau tak mengenalkan mereka?”
Yi Soo yak paham.
“Temanmu!” kata Se Ra.

Yi Soo mengerti, ia mengenalkan Kim Bum Nae pada Do Jin sebagai temannya. Kim Bum Nae pun tahu situasi ia mengaku sebagai teman Yi Soo. Kim Bum Nae pamit, Yi Soo mengantarnya keluar.
Di luar rumah Kim Bum Nae minta maaf karena sudah membuat Yi Soo kaget, ia memberikan kartu namanya.
Dan Do Jin melihatnya. Do Jin merasa kalau sepertinya Yi Soo tak terlalu dekat dengan teman Yi Soo itu.

Yi Soo sadar Do Jin bukan orang yang mudah dibodohi, ia mengaku dan meminta Do Jin jangan mengatakannya pada Tae San tentang hal ini. Do Jin menyahut kalau sepertinya Yi Soo sudah lupa. Ia sudah pernah mengatakan kalau ia bukan pria terhormat.
Yi Soo : “Jadi apa kau akan mengatakan padanya?”
Do Jin malah tertawa. Yi Soo kesal apa yang Do Jin tertawakan, apa itu lucu.
Yi Soo : “Mana yang lebih lucu? Seorang pria yang mengirim sepatu pada wanita seharga 1,3 juta won padahal dia memiliki wanita lain atau aku yang mencoba melindungi hubungan percintaan temanku?”
Do Jin : “Sepertinya kau marah padaku. Kalau kujelaskan apakah kau akan mendengarnya?”
Yi Soo : “Kau seharusnya menjelaskan sebelum pintu ditutup.”
Do Jin mengaku kalau dia, wanita yang bersamanya semalam. “Dalam keadaan seperti itu apa kau berharap aku meninggalkan wanita itu dan berpaling mengejarmu? Aku bukan lagi pria muda yang tergila-gila pada wanita yang tak menyukaiku. Aku mungkin kurang ajar tapi aku memiliki cara tersendiri dalam melakukan sesuatu. Begitulah caraku bersikap pengertian dan bijaksana pada keduanya.”

Yi Soo bisa mengerti itu, ia berharap Do Jin juga bisa pengertian pada Se Ra. Yi Soo masuk ke rumah.
Se Ra mengikuti Yi Soo ke kamar, ia penasaran apa yang dikatakan Do Jin. Apa Do Jin tahu. Yi Soo balik bertanya apa sekarang Se Ra khawatir. Se Ra menjawab tentu saja ia khawatir.

Yi Soo kesal lalu kenapa Se Ra melakukan itu. Se Ra tak tahu harus bagaimana karena ini sudah terjadi apa yang bisa ia lakukan.
Yi Soo : “Kenapa kau harus pengertian pada laki-laki lain.”
Se Ra : “Benar, aku rasa kalau aku punya hubungan dengannya itu akan lebih menyenangkan.”

Yi Soo mengingatkan kalau Se Ra tak mau putus dengan Tae San sebaiknya berhati hati. Se Ra cuek kenapa ia harus takut putus ini hanya pertengkaran sepesang kekasih. Se Ra keluar dari kamar Yi Soo menuju kamarnya dan akan tidur lagi.
Do Jin di kantornya memikirkan ucapan Yi Soo yang memintanya mempertimbangkan dan melindungi hubungan Se Ra dengan Tae San.

Tae San tiba di kantor sambil menelepon. Usai menelepon ia bertanya apa Do Jin sudah melihat rancangannya karena rancangan itu sudah disepakati dan Manajer Choi akan mengerjakannya dalam 3 bulan. Ia menerangkan kalau pemiliknya tak suka ada dengan bentuk bangunan bersudut, harus melengkung karena ini untuk galery.

Do Jin menyela kalau semuanya lengkungan bagaimana mereka bisa memasang paku. Tapi Tae San menilai kalau klien menyukai lebih baik lakukan saja sesuai keinginan klien.
Do Jin menyerahkan tulisan ukuran dapur Se Ra. Tae San Tanya Do Jin tak mengatakan apapun pada Se Ra kan. Akhir pekan ini ia ada pertandingan, ia akan meminta Se Ra menyiapkan makan siang dan menonton pertandingannya.
Do Jin kemudian mengalihkan topik pembicaraan, ia mengatakan kalau Tae San pernah bilang padanya bahwa Seo Yi Soo iti wanita yang baik. Tapi kenapa Tae San mengacuhkan wanita baik dan menjalin hubungan dengan Hong Se Ra.
Tae San mengatakan kalau Seo Yi Soo itu gurunya Meari. “Bagiku dia bagaikan dewa-nya para wasit. Dengan kata lain, bagiku Seo Yi Soo bukanlah seorang wanita. Dia adalah manusia.”

Tae San ingat kalau ada pria yang disukai Yi Soo. Yi Soo bilang padanya kalau Do Jin mengetahuinya, Tae San ingin tahu siapa pria itu.

Do Jin : “Apa dia menyuruhmu untuk menanyakannya padaku?”
Tae San : “Tidak. Tapi siapa dia? Apa dia seseorang yang kukenal?”
Do Jin : “Kurasa tidak.”
Do Jin keluar ruangan, ia akan menghadiri rapat dengan pegawainya.
Park Min Suk memanggil ketiga kawan suaminya. Seperti seorang siswa yang bersalah dan menunggu keputusan hukuman dari sang guru. Ketiganya berdiri was-was dan juga cukup sopan hehe...
Min Suk menyuruh ketiganya duduk. Ketiganya duduk manis serapi mungkin hingga terkesan baik di depan pemilik gedung tempat mereka bekerja. Ketiganya cemas seperti menanti hukuman yang diputuskan oleh hakim.
Min Suk : “Aku mengajak kalian bertemu hari ini karena.... Sepertinya aku membuat kesalahan dalam menandatangani kontrak sewa dengan kalian. Dari teman dekat suamiku kalian mungkin akan menjadi teman dekat mantan suamiku.”

Min Suk bertanya pada sekertarisnya kapan kontrak sewa perusahaan Hwa Dam dan Firma Hukum pengacara Choi berakhir.

“Dia bukan teman dekat kami!” seru Tae San memotong pembicaraan Min Suk.
“Kami hanya teman SMA.” sambung Yoon.
“Kami sudah lama meninggalkannya!” ucap Do Jin.

Ketiganya mengeluarkan surat pernyatan yang mereka buat dan menunjukannya pada Min Suk. Min Suk membacanya satu persatu.

Mulai dari sekarang, aku Kim Do Jin tak lagi kenal dengan Lee Jung Rok.
Sebagai kuasa hukum sah dari Park Min Suk, dengan sudah memberikan Lee Jung Rok alibi, kerja sama, dan sebaginya aku mengakui diriku telah melakukan kesalahan.
Aku menyampaikan kesungguhan hati dan kesetiaan hati. Kami semuanya telah menyatakannya dalam bentuk tertulis.
Min Suk : “Kalian bertiga ada dipihakku. Apa aku akan terjebak lagi pada kebohongan kalian?”
Ketiganya berusaha tersenyum seolah mengatakan kalau itu tak akan terjadi lagi. hahaha....
Meari memeriksa setiap sudut rumah untuk mencari sesuatu. Ia mencari barang yang mungkin tertinggal oleh Yoon. Tapi sia-sia saja karena sepertinya Yoon sudah membawa semua barang-barangnya. (Sepertinya Meari berharap ada barang Yoon yang tertinggal dan itu akan ia gunakan sebagai alasan untuk bertemu dengan Yoon hehe)
Di dapur ia menemukan sesuatu, sendok aluminium. Karena sebagian besar sendok di rumahnya berwarna keemasan. Ia menebak kalau itu milik Yoon. Meari pun segera menghubungi Yoon dan mengatakan kalau Yoon sudah meninggalkan sesuatu di rumahnya. Ia akan mengantarkan itu langsung pada Yoon dan meyakinkan kalau Yoon akan mati tanpa benda ini.
Meari dandan cantik untuk bertemu dengan Yoon. Melihat Yoon masih jauh ia melihat dirinya di kaca, apa ia sudah cantik hehehe.
Yoon ingin tahu apa yang ia tinggalkan di rumah Meari. Meari merengut karena Yoon tak menyapanya lebih dulu. Yoon tanya kenapa ia harus menyapa Meari. Meari mengatakan kalau berat badannya sudah turun 15kg tapi Yoon tak pernah mengatakan ia cantik.

Yoon : “Sebelumnya kau lebih cantik.”
Meari : “Tak mungkin. Waktu kakak mengajariku setiap hari kakak bilang aku gendut, kakak bilang aku Nona babi gendut. Apa kakak lupa?”
Yoon : “Aku ingat.”
Meari : “Lalu kenapa aku lebih cantik yang sebelumnya? Setidaknya sekarang aku bukan lagi Nona babi gendut.”
Yoon : “Oh sekarang kau terlihat seperti Nona babi kurus yang baru saja kehilangan berat badan.”
Hahahahahahah meari jelas makin merengut.
Yoon kemudian bertanya memangnya apa yang ia tinggalkan sampai tanpa benda itu ia bisa mati.
Taraaaa... Meari mengeluarkan sendok aluminium yang sudah ia beri pita, “Ini punya kakak kan? Mungkin aku berlebihan tapi aku tak pernah berbohong.”

Tapi Yoon berkata kalau itu bukan miliknya. Meari bersikeras kalau itu milik Yoon karena sendok ini berbeda dari yang lain. Yoon berkata kalau sendok itu milik restouran Cina. Meari tanya kalau itu milik restouran Cina kenapa tak dikembalikan.
Yoon tersenyum dan mengusap-usap rambut Meari pelan. Kemudian merapikannya lagi.
Meari kaget campur senang, “Kakak apa yang baru saja kau lakukan?”

Yoon menyuruh Meari pulang. Besok ia ada pertandingan, ia harus menyiapkan peralatannya.
Meari mengusap kepalanya, “Kenapa kakak melakukannya? Apa karena kakak menyukaiku?”
Yoon tersenyum kemudian berbalik meninggalkan Meari sambil berpesan, “Pulanglah lebih awal. Saat malam, seseorang mungkin salah mengira kau cantik dan menculikmu.”
Meari jejogetan kegirangan.
Hari pertandingan baseball pun tiba. Tapi Yi Soo datang terlambat. Ia terburu-buru berganti pakaian di toilet. Se Ra menunggunya di luar toilet.

Se Ra tak mengerti jalan pikiran Yi Soo kenapa harus menyusahkan diri seperti ini. Seragam jelek, masker penutup wajah, panas, dan banyak debu. Yi Soo membenarkan ucapan Se Ra dan mengatakan kalau Tae San akan senang melihat Se Ra datang.

Yi Soo menitipkan semua barang-barangnya pada Se Ra. Baju, tas, bahkan sepatu.
Yi Soo bergegas ke lapangan. Se Ra kepayahan membawa barang-barang Yi Soo. Ia makin kesal ketika semua benda yang dibawanya terjatuh berhamburan di tanah.
Ia mengambil dan memasukan semuanya ke tas Yi Soo. Se Ra melihat sebuah buku dengan pembatas foto Tae San. “Kenapa ini ada disini?”
Pertandingan sudah dimulai. Se Ra dan Do Jin menonton dari bangku penonton.

Se Ra tampak melamun tak mengikuti pertandingan. Do Jin memberi tahu kalau sekarang Tae San masuk ke lapangan. Se Ra sedikit terkejut Do Jin membuyarkan lamunannaya. Keduanya segera berdiri melihat penampilan Tae San.

Tae San melambaikan tangannya pada Se Ra. Se Ra memberi tanda menyemangati untuk Tae San.
Dan satu lagi yang membuat Se Ra tercengang, nomor punggung Tae San 836. Ia teringat dengan sarung tangan di kamar Yi Soo yang bertuliskan angka 836. Kemudian foto Tae San yang ada di dalam buku Yi Soo.

Tae San siap bermain dan tersenyum menatap sang wasit, Seo Yi Soo.
“Apa kau sakit?” tanya Do Jin melihat wajah Se Ra yang tampak murung.
“Tidak, aku hanya baru menyadari kalau mereka berdua terlihat serasi ketika bersama-sama.” Ucap Se Ra seraya terus menatap Tae San dan Yi Soo yang berada di lapangan.
Se Ra akhirnya tahu siapa pria yang disukai Yi Soo.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar