Rabu, 28 Agustus 2013

Drama Korea I Miss You Episode 1 Part 2


Jung Woo terkejut mendengar kabar meninggalnya kakek. Hwang Mi Ran bertanya Kenapa Jung Woo begitu terkejut, bukankah Jung Woo belum pernah sekalipun bertemu dengan kakek.


Hwang Mi Ran meminta Ah Reum tetap di rumah dan bermain saja dengan boneka beruang. Ah Reum menjawab ya sambil cemberut... (ah Park Ha/ Bo Young kecil nih)
Soo Yeon sampai di taman bermain tempat ia janjian bertemu dengan Jung Woo. Tapi ia belum melihat Jung Woo, Ia pun duduk berpindah-pindah sambil menunggu Jung Woo.

Lama Soo Yeon menunggu tapi Jung Woo tak kunjung datang. Ia pun duduk di bangku ayunan sambil mengeja nama Jung Woo, “Han Jung Woo.” ucapnya sambil memainkan genangan air menggunakan kakinya. “Dia datang, tidak datang, dia datang, tidak datang.” Soo Yeon kembali memainkan genangan air menerka apakah Jung Woo akan datang menemuinya atau tidak.
Jung Woo berada di rumah duka. Ia mewakili keluarganya menerima ucapan belasungkawa dari para tamu (Lho mana Han Tae Joon selaku anaknya kakek Han kok ga ada)
Hwang Mi Ran menerima telepon dari suaminya, ia berkata bukankah ia sudah bilang kalau dia (Hyun Joo) tidak akan bicara dengan mudah. Apa sebaiknya ia yang menemui Hyun Joo. Kalau ia mencoba meyakinkan antara wanita dengan wanita ia yakin bisa mengatasinya. Ia meminta suaminya tak perlu mengkahwatirkan keadaan di rumah duka. Ia berpesan pada suaminya agar jangan memaksakan diri.
Hwang Mi Ran selesai bicara dengan suaminya di telepon. Ia berbalik dan terkejut Jung Woo ada di belakangnya. Jung Woo tak mengerti bukankah tadi Hwang Mi Ran bilang kalau ayahnya pingsan. “Apa dia tak berada di rumah sakit?”
Hwang Mi Ran tak menjawab pertanyaan Jung Woo ia malah menyuruh Jung Woo tetap di tempat menerima ucapan belasungkawa dari tamu. Hwang Mi Ran mencoba bersikap baik pada Jung Woo dengan membetulkan letak dasi Jung Woo da berkata, “Ibu juga akan segera kesana.”
Jung Woo menyingkirkan tangan Hwang Mi Ran, “Bisakah kau berhenti berpura-pura menjadi ibuku saat ayahku tak ada disini? Dimana ayahku?” (hmm Mi Ran ibu tirinya Jung Woo donk ya)
Hwang Mi Ran berkata kalau ayah Jung Woo sekarang tak berada disini. Jung Woo kembali bertanya itulah sebabnya ia menanyakan alasannya kenapa ayahnya tak berada disini.

Mi Ran : “Apa kau bertanya karena kau benar-benar tak tahu? Menurutmu kenapa dia pergi ke panjara? Itu untuk melindungi uangnya.. uangnya. Hanya itu yang diketahui ayahmu."

Jung Woo meminta ibu tirinya ini jangan membicarakan ayahnya seperti itu. Hwang Mi Ran heran kenapa Jung Woo marah padahal yang ia lakukan hanya menjawab pertanyaan Jung Woo. Itu sebabnya ia tak bisa mengatakan apa-apa pada Jung Woo.
Mi Ran akan pergi dari hadapan Jung Woo tapi ia ingat satu hal, “Kalau kau tak menyukai aku menyebut diriku ibumu cepatlah pulang ke Amerika. Aku juga ingin menjalani hidupku tanpa harus melihatmu.”
Han Tae Joon mengunjungi Kang Hyun Joo di rumah sakit (sepertinya rumah sakit jiwa nih). Hyun Joo diam sambil memainkan selang infus. Han Tae Joon melihat kalau Hyun Joo ini tak terkejut mendengar meninggalnya Presdir (kakek). Ia mendengar kalau ayahnya memanggil nama Hyun Joo bahkan saat nafas terakhirnya. “Tapi kurasa kau masih tak memahami situasinya. Tak ada lagi yang bisa kau percaya apa kau ingin membusuk disini selama sisa hidupmu?”

Hyun Joo diam saja terus memainkan selang infus. Tae Joon menatap Hyun Joo dan bertanya apa Hyun Joo tak ingin melihat anak Hyun Joo lagi.
Hyun Joo tertawa, “Tak peduli sebarapa banyak kau membenci ayahmu. Melihat bagaimana kau terburu-buru kesini bukannya menghadiri pemakamannya kau pasti benar-benar putus asa. Hyung Joon-ku, kau tak tahu dimana dia kan? Han Tae Joon kalau kau ingin uangmu bawa kembali anakku!”
Han Tae Joon mengingatkan bukankah ia sudah bilang jangan pernah membuatnya marah. Hyun Joo menyela kalau ancaman itu tak mempan untuknya. Han Tae Joon tertawa remeh dan berkata kalau ia tak punya pilihan lain. Kalau ia tak bisa memiliki uangnya maka tak ada orang lain yang bisa memilikinya.
Han Tae Joon pun akan keluar dari ruang perawatan Hyun Joo. Hyun Joo berkata Presdir memberikan uang itu padanya. Han Tae Joon tak jadi keluar ruangan, Hyun Joo bilang kalau ia tak mencuri uang itu Presdir sendiri yang memberikan itu padanya. Itu terjadi karena Presdir tahu bagaimana kejamnya Han Tae Joon, Presdir memberikan uang itu padanya untuk melindungi Hyung Joon. “Kalau terjadi sesuatu pada Hyung Joon kau tak akan melihat uang itu sepeserpun.” Han Tae Joon menatap marah.
Han Tae Joon keluar dari ruangan diikuti oleh asistennya. Han Tae Joon berkata kalau anak itu (Hyung Joon) memiliki uangnya. Jadi ia harap asistennya mengerahkan segala cara untuk menemukan Hyung Joon. Asistennya mengerti.

Ada seorang perawat yang masuk ke ruang perawatan Hyun Joo. Perawat itu Jung Hye Mi yang sepertinya menyamar menjadi perawat rumah sakit.
Perawat Jung Hye Mi dan penjaga masuk. Hye Mi dengan sembunyi-sembunyi menyiramkan cairan ke tubuh Hyun Joo agar terkesan kalau Hyun Joo buang air kecil di tempat. Perawat Jung meminta izin pada penjagga agar meninggalkan ruangan sebentar karena ia harus mengganti pakaian Hyun Joo yang basah terkena air seni. Penjaga itu melihat untuk memastikan. Keduanya pun segera keluar.
Hyun Joo tahu kalau yang datang itu perawat Jung Hye Mi. Ia bertanya dimana Hyung Joon. Hye Mi mengatakan kalau Hyung Joon ada bersamanya. Hyun Joo bernafas lega setelah mendengarnya.

Hye Mi mengatakan kalau kaki Hyung Joon terluka, Hyun Joo terkejut mendengar putranya terluka. Hye Mi mengatakan kalau ia sudah melakukan apa yang ia bisa. Hyun Joo sangat mencemaskan putranya dan bertanya apa Hyung Joon masih hidup. Hye Mi menjawab ya, tapi ia tak tahu harus berbuat apa kalau Hyun Joo memberikan uang itu pada Han Tae Joon.
Hyun Joo memberi tahu Hye Mi kalau Presdir sudah meninggal jadi satu-satunya yang bisa mereka andalkan adalah uang itu. Kalau uang itu direbut oleh Han Tae Joon makan Han Tae Joon akan membunuhnya, Hyung Joon dan juga Hye Mi. Kita semua akan mati.
Hye Mi ketakutan ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Hyun Joo meminta Hye Mi melakukan apa yang ia katakan. Hye Mi menangis ketakutan apa yang bisa ia lakukan. Hyun Joo menyuruh Hye Mi untuk menculik putra Han Tae Joon.
Jung Woo kelelahan menerima ucapan belasungkawa dari tamu ia pun tertidur terduduk. Han Tae Joon datang dan melihat putranya tertidur karena kelelahan. Penjaga menyapa Han Tae Joon. Jung Woo yang mendengar langsung terbangun. Han Tae Joon menyuruh anak buahnya untuk membersihkan tempat ini.
Jung Woo bicara berdua dengan ayahnya. Han Tae Joon mengingatkan putranya agar jangan pernah melakukan apa yang Jung Woo inginkan tanpa izin darinya. Jung Woo tak mengerti maksud ayahnya. Han Tae Joon menjelaskan kalau Jung Woo jangan berhenti sekolah dan datang kesini hanya karena emosi sesaat Jung Woo.

Jung Woo minta maaf. Han Tae Joon berkata kalau Jung Woo hanya akan dimaafkan sekali saja. Jadi ia minta putranya mengingat itu. Jung Woo mengerti ia akan melakukannya. Han Tae Joon melihat ada yang aneh dengan sikap putranya ia bertanya apa ada masalah. Jung Woo bilang tak ada, ia baik-baik saja setelah melihat ayahnya. Ia bertanya apa ia boleh datang lagi selama liburan sekolah.
Han Tae Joon malah berkata kalau putranya tak ingin pergi lebih baik jangan pergi. Jung Woo kaget tapi ia senang mendengarnya. Ia bertanya apa ia bisa melakukan itu. Han Tae Joon berkata kalau ia ini berbeda dengan Kakek Jung Woo, ia tak percaya siapapun di sekitarnya. “Putraku Han Jung Woo, kau satu-satunya yang kupercaya.”
Ternyata Hwang Mi Ran (si ibu tiri Jung Woo) mendengar perbincangan ini. Ia menguping di depan pintu, terdengar suara Han Tae Joon berkata kalau Han Jung Woo dilahirkan sebagai putra Han Tae Joon adalah suatu berkah jadi ia berharap Jung Woo jangan mengecewakannya. Hwang Mi Ran sepertinya kecewa dengan keputusan suaminya ini.
Jung Woo melepas lelah dikamarnya ia melihat payung kuning milik Soo Yeon dan teringat janjiannya dengan Soo Yeon. Ia melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam lebih.
Soo Yeon pulang ke rumah dengan perasaan kecewa karena Jung Woo tak datang. Ia pulang dengan wajah tertunduk. Soo Yeon menoleh ke belakang siapa tahu Jung Woo melintas tapi ia kembali kecewa karena ia tak melihat siapapun.
Soo Yeon menginjak pecahan kaca ia pun penasaran dengan anak yang dikurung di rumah itu. Soo Yeon melongokan kepalanya untuk melihat melalui jendela. “Hei..” panggil Soo Yeon, anak itu tidur menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.

“Apa kau sedang tidur?” tanya Soo Yeon. Anak itu yang kemungkinan adalah Hyung Joon diam saja. Tapi tidak diam saja Hyung Joon sepertinya terserang demam, wajahnya pucat dan tubuhnya sedikit menggigil.

“Apa kau sakit?” tanya Soo Yeon. Hyung Joon perlahan membuka matanya. Soo Yeon terus bertanya apa Hyung Joon baik-baik saja. “Kalau kau baik-baik saja lihat aku.” pinta Soo Yeon. “Kalau kau sedang tak tidur lihat aku!”

Hyung Joon menahan sakit, perlahan ia membalikan tubuhnya untuk melihat Soo Yeon. Soo Yeon terus bertanya apa Hyung Joon sudah makan.
Tiba-tiba ada yang menarik Soo Yeon, dia Jung Hye Mi. Hye Mi bertanya apa yang Soo Yeon lakukan. Soo Yeon berkata kalau ada anak di dalam rumah. Hye Mi memperingatkan agar Soo Yeon jangan ikut campur.

Hye Mi membuka gembok pintu, Soo Yeon berkata kalau anak itu sepertinya sedang kesakitan. Hye Mi menatap tajam, Soo Yeon langsung terdiam takut. Soo Yeon melihat kalau Hye Mi membawa makanan dan obat, ia pun permisi.
Detektif Kim protes pada atasannya kenapa atasannya mengatakan tidak bisa membuka kembali kasus investigasi itu. Atasannya bertanya apa gunanya Detektif Kim melihat sesuatu yang sudah berakhir. Detektif Kim berkata bukankah atasannya ini bilang kalau sudah mendapat pengakuan dari pelaku yang sebenarnya bukankah ia yang menempatkan tersangka itu disana. Ia tak bisa membiarkannya, kalau ia melakukan kesalahan ia ingin bertanggung jawab. Atasannya berkata apa Detektif Kim pikir ini sesuatu yang bisa diselesaikan dengan mencoba bertanggung jawab. Karena media pasti akan memberitakannya, “Apa kau ingin melihat ini dibahas disemua berita?”
Detektif Kim berkata kalau ia bisa mengerjakan kasus ini secara diam-diam dan menyelesaikannya. Bukankah setidaknya kita harus memberi tahu korban, pelaku dan keluarganya.

Atasannya bertanya bagaimana seandainya ada seseorang yang buka mulut, “Apa kau pikir aku melakukan ini hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri? Lee Tae Soo (ayah Soo Yeon) adalah seorang kriminal. Kalau kau memiliki waktu merasa bersalah atas orang itu lebih baik gunakan waktumu untuk mengerjakan kasus lain.”

“Kapten?” Detektif Kim tak sependapat tapi atasannya meminta Detektif Kim untuk berhenti bersikap seperti itu dan membuat kantor repot. Ini jelas membuat Detektif Kim kesal. (hmmm apa ada kesalahan penangkapan tersangka? Tapi kalau terjadi kesalahan, tersangkanya kan udah dieksekusi)
Seperti biasa Soo Yeon berangkat sekolah, ia berangkat sendiri tak punya teman. Ia berjalan menunduk menyembunyikan wajahnya.

Detektif Kim berada di mobilnya di depan sekolah Soo Yeon. Ia melihat Soo Yeon masuk melalui pintu gerbang. Detektif Kim kesal dengan dirinya sendiri. (wow apa yang terjadi)
Han Tae Joon benar-benar mempertahankan putranya untuk tetap berada di Korea. Ia pun memasukan putranya ke sekolah yang ada di kKrea dan tebak di sekolah mana tentu saja satu sekolah dengan Soo Yeon. Jung Woo ke sekolah sambil membawa payung kuning milik Soo Yeon, ia berkeliling tiap kelas untuk mencari Soo Yeon.
“Apa kau sedang mencari seseorang?” tanya salah satu siswi. Jung Woo membenarkan. Ia pun bertanya apa mereka kenal dengan Lee Soo Yeon.

“Siapa? Lee Soo Yeon siapa?” Tanya siswa itu.

“Orang itu. Dia yang nomor 27.” jawab siswi yang berkacamata. Temannya kaget dan ketakutan, keduanya segera pergi. Jung Woo memandang bingung.
Terdengar bel sekolah masuk berbunyi. Di depan kelas tata boga (pake celemek sih jadi aku nebak ini kelas tata boga) para siswa tak mau masuk ke kelas. Jung Woo melintas dan melihatnya aneh. Salah satu siswi bertanya pada temannya apa si nomor 27 itu tidak akan pindah ke sekolah lain. Temannya berkata kalau si nomor 27 itu tak tahu malu.
Siapakah si nomor 27 itu, Lee Soo Yeon. Soo Yeon sendirian berada di dalam ruangan memasak. Teman sekelasnya tak ada yang mau sekelas dengannya.
Jung Woo melihat Soo Yeon dengan tatapan bingung. Ibu guru datang dan bertanya kenapa semua siswa belum masuk. Salah satu siswa mengatakan kalau ini karena si nomor 27. Beberapa murid menginginkan Soo Yeon untuk pindah ke sekolah lain. Kenapa.

“Dia menakutkan,”

“Dia memalukan,”

“Anak-anak dari sekolah lain mengejekku karena aku satu sekolah dengan anak seorang pembunuh.”

Bu guru berkata bijak kalau siswanya tak boleh seperti itu. Jung Woo jelas terkejut mendengar latar belakang keluarga Soo Yeon. Ia menatap Soo Yeon yang berdiri diam di ruangan. Guru menyuruh murid-muridnya masuk tapi mereka tak mau, “Dia memegang pisau. Bagaimana kalau dia nanti menusukku?”
Soo Yeon sadar kehadirannya hanya akan membuat proses belajar terhambat. Ia pun keluar meminta izin pada guru kalau perutnya sakit, ia ingin pergi ke klinik. Teman-temannya menyingkir tak ingin dekat-dekat dengan Soo Yeon. Bu guru membolehkannya dan menyuruh murid yang lain untuk segera masuk.
Jung Woo masih berdiri disana dengan membawa payung milik Soo Yeon. Soo Yeon akan pergi tapi ia terkejut melihat Jung Woo ada disana. Soo Yeon kembali menundukan wajah. Ia melihat payungnya ada di tangan Jung Woo yang gemetaran.

“Han Jung Woo...” sapa Soo Yeon mengegetkan Jung Woo membuat Jung Woo mundur satu langkah.
Soo Yeon maju mendekat tapi Jung Woo kembali mundur dan menyembunyikan payung yang dibawanya. Soo Yeon menatap sedih ia mengerti akhirnya Jung Woo pun tahu latar belakang keluarganya. Sama seperti teman-temannya yang lain, ternyata Jung Woo pun tak ingin dekat dengannya, ia menatap sedih. Soo Yeon kembali menunduk dan berlalu dari hadapan Jung Woo.
Di dalam kelas Jung Woo langsung berteman akrab dengan beberapa siswa. Salah satu temannya bertanya berasal dari kota di Amerika yang manakah Jung Woo. Ia juga ingin sekolah ke luar negeri karena ujian disini benar-banar sulit. Mereka mendengar kalau anak-anak di Amerika buruk dalam pelajaran matematika. Mereka bertanya apa Jung Woo benar-benar populer disana.
Jung Woo bingung menanggapi pertanyaan teman-teman barunya. Ia menatap bangku kosong yang ada di belakang. Temannya memberi tahu kalau tempat duduk itu milik si nomor 27, “Ayahnya seorang pembunuh. Ayahnya sudah membunuh dua orang. Dia membantu ayahnya bersembunyi agar bisa melarikan diri. Semua orang disekitar sini hampir mati karenanya. Kau harus berhati-hati dengannya.”

Jung Woo kesal dengan ocehan teman-teman barunya, ia berdiri menatap keluar kelas. Hujan turun dengan derasnya. Terdengar suara teman-temannya bertanya bagaimana Jung Woo bisa kenal dengan si nomor 27. Jung Woo kembali menatap kursi kosong tempat duduk Soo Yeon.
Saatnya jam pelajaran olahraga. Mereka berada di lapangan basket. Jung Woo memamerkan kebolehannya dalam bermain basket. Dengan mudah beberapa lawan ia lewati dan memasukan bola ke dalam keranjang. Teman-temannya yang jadi penonton bersorak.
Lee Soo Yeon berada disana tapi ia duduk menyendiri. Ia diam saja tak ada yang mau dekat-dekat dengannya. Sesekali Soo Yeon melihat permainan basket Jung Woo. Jung Woo mendapat pengawalan ketat dari lawan tapi dengan mudah Jung Woo lolos. Hal ini membuat sang lawan kesal dan melakukan pelanggaran terhadap Jung Woo. Dengan kemampuannya Jung Woo beberapa kali mencetak angka untuk timnya.
Usai pertandingan Jung Woo mendapat perlakukan kasar dari lawan mainnya tadi, “Apa yang kalian lakukan?” tanya Jung Woo.

Mereka bilang kalau Jung Woo hampir membunuh mereka saat bermain basket tadi. “Kupikir bahuku akan patah.” Sahut salah satu dari mereka.
Jung Woo menatap tajam ketiga siswa ini. Mereka marah dan melempar bola agar Jung Woo tetap menunduk jangan menatapnya. Jung Woo berdiri dan berkata kalau ia tak ingin berkelahi, lebih baik gunakan-kata kata saja. Tapi mereka mencibir, mereka harus bagaimana karena mereka tak tahu bahasa Inggris.
Dan buk, salah satu dari mereka memukul wajah Jung Woo. mereka memperingatkan agar jung woo menjaga sikap. Mereka pergi, tapi jung woo tak terima diperlakukan kasar begitu. Ia pun melawan, terjadilah perkelahian diantara mereka 1 lawan 3. Jung Woo yang sendirian jelas kalah. Mereka memukuli dan menginjak-injak Jung Woo hingga membuat wajah dan tubuhnya terluka.
Tiba-tiba ada beberapa bola yang datang. Tidak hanya satu atau dua bola melainkan beberapa bola. Siapa yang sengaja melakukannya, Lee Soo Yeon. Soo Yeon menarik keranjang bola sambil menundukan wajahnya. 3 siswa ini mundur ketakutan melihat kedatangan Soo Yeon.

Soo Yeon minta maaf karena ia sedang bersih-bersih katanya sambil tetap menunduk menyembunyikan wajahnya. Soo Yeon mengambil bola dan memasukannya ke keranjang.
Soo Yeon jongkok dan berkata pelan pada Jung Woo. Ia menyuruh Jung Woo tetap menunduk karena mereka akan bosan dan berhenti memukuli Jung Woo. Soo

Yeon mengambil bola yang ada didekat ketiga siswa itu, ketiganya mundur ketika Soo Yeon mendekat ke arahnya. Soo Yeon mengambil bola dan bertanya apa mereka bertiga mau membantunya.

Mereka jelas tak mau, apa mereka sudah gila kenapa mereka harus membantu Soo Yeon. Mereka pun kembali mengingatkan Jung Woo agar menjaga sikap. Mereka bertiga akan berlalu meninggalkan Jung Woo dan Soo Yeon.

Soo Yeon menghampiri Jung Woo yang masih tergeletak terluka. Ia bertanya apa Jung Woo baik-baik saja. Jung Woo mencoba berdiri, ia mengambil bola dan melemparkannya ke arah ketiga siswa tadi. Duk, lemparan Jung Woo tepat mengenai kepala salah satu dari mereka.
Jung Woo menantang kenapa mereka bertiga berhenti memukulinya. Jung Woo membentak kalau ini baru saja dimulai. Jung Woo berlari ke arah ketiganya ia kembali melawan mereka.
Dan sekali lagi Jung Woo kalah. Ia kembali dipukuli ditendang dan diinjak. Soo Yeon menatapnya cemas. Luka-luka di tubuh dan wajah Jung Woo bertambah.
Soo Yeon takut melihatnya karena ini mengingatkan pada kejadian dimana ia dipukuli dan diinjank-injak oleh ayahnya. Soo Yeon menutup telinganya, ia menangis melihat Jung Woo dipukuli dan diinjak. Ia hanya bisa terdiam menunduk ketakutan. Trauma masa lalunya belum hilang.
Soo Yeon berdiri di depan loker. Disana ada payung miliknya yang sengaja diletakkan oleh Jung Woo. Soo Yeon membawa pulang payung miliknya.
Di depan pintu masuk sekolah Soo Yeon melihat Jung Woo berdiri menunggu hujan reda. Wajah Jung Woo penuh dengan luka. Soo Seon berjalan menghampiri Jung Woo.
“Han Jung Woo!” sapa Soo Yeon. Jung Woo menoleh, Soo Yeon langsung menunduk dan menyodorkan payung miliknya agar bisa digunakan oleh Jung Woo. Jung Woo terkejut melihatnya, ia ragu apa ia akan menerima pinjaman payung Soo Yeon lagi atau tidak.
Soo Yeon menitikan air mata, “Aku. Aku tidak seperti itu.” Soo Yeon mencoba menjelaskan kalau ia bukanlah seorang anak yang seperti dikatakan teman-temannya. “Aku tidak akan membunuh siapapun.”
Soo Yeon meminta Jung Woo memakai payungnya saat pulang karena luka yang Jung Woo alami akan terasa lebih sakit kalau terkena hujan. Tapi Jung Woo tak mau menerima pinjaman payung ia berjalan mundur menghindari Soo Yeon. Soo Yeon menatapnya sedih. Jung Woo terus bergerak mundur hingga tubuhnya basah kuyup karena hujan.

Soo Yeon : “Han Jung Woo?”
Jung Woo membentak, “Kau, kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Kenapa kau terus bersikap seperti ini padaku? Kalau aku tak mempedulikanmu seharusnya kau mengerti dan pergi. Aku ingin mengembalikan payungmu, kita tak ada urusan lagi.”

Soo Yeon tertunduk menangis dan berkata kalau Jung Woo basah kuyup karena dirinya. Soo Yeon minta maaf dan mengatakan kalau ia tidak apa-apa. “Aku tak ingin menangis karena sedih, tapi karena angin. Angin yang membuat mataku berair.”
Jung Woo terdiam, Soo Yeon berlalu meninggalkan Jung Woo. Terngiang dalam benak Jung Woo semua ucapan Soo Yeon tadi, bahwa Soo Yeon bukan seperti yang Jung Woo pikirkan, bahwa Soo Yeon tak akan membunuh siapapun. ‘Aku tidak menangis karena sedih, tapi karena angin. Angin yang membuat mataku berair.’
Soo Yeon berjalan menuju rumahnya tanpa menggunakan payung. Padahal hujan turun sangat deras dan ia membawa payung miliknya. Terdengar dalam ingatannya suara Jung Woo memanggilnya ketika malam itu, ‘Seragam merah. Gadis populer, Lee Soo Yeon.’ Soo Yeon berada di taman bermain tempat ia bertemu dengan Jung Woo.
Tak berapa lama kemudian setelah Soo Yeon tak ada Jung Woo duduk di ayunan sendirian dibawah guyuran hujan. Terngiang dalam ingatannya Soo Yeon menuruhnya memakai payung. Jung Woo mengenjot ayunan perlahan-lahan dan semakin lama semakin cepat. Ia menghentakan kakinya agar ayunannya semakin kencang dan tinggi. Ia melakukannya untuk melampiaskan rasa frustasinya.
Soo Yeon berjalan perlahan menuju rumahnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena ia mendengar sesuatu, “Joon kumohon. Kalau kita tak pergi sekarang dan tertangkap semuanya akan berakhir. Apa kau tak ingin bertemu ibumu?” Terdengar suara perawat Jung Hye Mi.
Soo Yeon penasaran dan memutuskan untuk mengintip melalui jendela. Perawat Jung Hye Mi melihat Soo Yeon yang mengintip di jendela, “Siapa kau tutup jendelanya!”
Soo Yeon kaget dan segera menutup jendela. Ibunya datang dan bertanya apa yang Soo Yeon lakukan. ibu yang menggunakan plastik untuk melindungi kepalanya segera mengambil payung yang dibawa putrinya, “Kenapa kau berjalan di tengah hujan seperti anjing gila. Padahal kau membawa payung.”

Ibu membuka payung dan di payung itu ada pesan yang ditulis oleh Jung Woo. Keduanya membaca tulisan itu. ‘Ini milik gadis paling terkenal Lee Soo Yeon’

Soo Yeon tahu siapa yang menulis itu, ibu yang tak tahu apa-apa menilai kalau Soo Yeon sombong sekali kenapa Soo Yeon menulis ini di payung, kenapa tak sekalian menulis nama ayah Soo Yeon disini. Kau pasti senang karena kau begitu terkenal. Ibu bergegas ke rumah. Soo Yeon mengejar meminta ibunya mengembalikan payung itu padanya.
Jung Woo masih berada di ayunan dengan genjotan ayunan yang semakin kencang, ia kesal dengan dirinya sendiri ketika mengingat kebersamaannya dengan Soo Yeon beberapa waktu lalu. Jung Woo pun meloncat dari ayunan dan berlari kencang. Ia mencari rumah Soo Yeon.
Di tengah jalan ia bertanya pada ahjumma yang berpapasan dengnnya, apa ahjumma itu tahu dimana rumah Soo Yeon. Ahjumma itu bilang kalau ia tak tahu. Jung Woo kembali bertanya kalau ia mendengar Soo Yeon tinggal disekitar sini, tapi ahjumma itu bilang kalau ia tak tahu.

Jung Woo bertanya pada ahjumma pemilik warung, disana Detektif Kim tengah berbelanja buah.
Soo Yeon di kamarnya menulis surat untuk Jung Woo.

Walaupun aku tak akan memberikan surat ini tapi aku tetap ingin mengucapkan terima kasih. Kalau aku bukan anak seorang pembunuh mungkinkah kau dan aku bisa bersahabat? Soo Yeon mencoret kata yang ia tulis (hmm kata apa ya yang dicoret)
Ibu masuk membawakan makanan untuk Soo Yeon. Ibu menyingkirkan payung kuning, Soo Yeon langsung overprotect pada payungnya. Ibunya heran apa Soo Yeon akan membuka payung itu saat keduanya makan. Ibu minta Soo Yeon menyingkirkan payung itu. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk keras, ibu dan anak ini berpandangan.
Jung Woo sampai disekitar rumah Soo Yeon (hmm kayaknya Detektif Kim ngasih tahu Jung Woo dimana rumah Soo Yeon)

Jung Woo melihat ibu-ibu di depan rumah seseorang, salah ibu itu ternyata ibu dari korban pembunuhan yang masih tak terima keluarganya meninggal dengan cara seperti ini.
Ibu Soo Yeon berteriak, “Sampai kapan kau akan seperti ini? apa yang harus kulakukan denganmu? kenapa muncul disini setiap dua minggu?” Soo Yeon memohon ibunya agar berhenti.
Ibu : “Apa aku yang membunuh suamimu? Apa aku yang membunuh anakmu? Dia sudah menerima hukumannya, seharusnya semua sudah berakhir. Apa yang kau inginkan dariku?”

Jung Woo menatap sedih keributan ini.

Si ibu yang suami dan anaknya meninggal berkata, “Anakmu masih hidup bagaimana dengan anakku? Kembalikan anakku. Kembalikan anakku.”
Ibu mendorong Soo Yeon ke arah si ibu itu, “Bawa dia. Bawa saja dan bunuh dia, lakukan apapun yang ingin kau lakukan padanya.”

Soo Yeon menangis, ibu mendorongnya hingga terjatuh. Jung Woo ikut melihat ini. Apa lagi Soo Yeon memohon-mohon sambil menangis memeluk kaki ibunya.
Ibu mendorong kepala Soo Yeon, “Dia bilang semuanya akan berakhir kalau kau juga mati.”
Detektif Kim sampai disana. Soo Yeon memohon pada ibu itu. Ia mengaku kalau ia yang salah sambil menangis.

Ibu Soo Yeon malah memukuli Soo Yeon, “Dasar bodoh apa salahmu? Apa gunanya kita hidup seperti ini. Baiklah, kita berdua saja mati hari ini. kita mati saja.” Ibu mengguncang-guncangkan tubuh Soo Yeon, “Daripada hidup seperti ini lebih baik mati.”
Soo Yeon meronta ia tak mau mati begitu saja. Ia melepaskan diri dari cengkeraman ibunya yang menangis. Dan Soo Yeon pun melihat kalau disana ada Jung Woo yang menatapnya iba.
Soo Yeon menangis, ia langsung lari tak mau bertemu dengan Jung Woo dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini. Sepatu kanannya lepas. Ia berlari menggunakan sepatu yang hanya sebelah. Jung Woo mengejarnya, tak lupa ia membawa sepatu Soo Yeon yang sebelah.

Soo Yeon terus berlari dengan tangisan mengabaikan panggilan Jung Woo yang mengejarnya. Jung Woo mengambil jalan pintas untuk mengejar Soo Yeon tapi sia-sia, ia tak menemukan gadis ini. Soo Yeon mendengar panggilan Jung Woo memanggil namanya, tapi Soo Yeon terus berlari walau hanya dengan sepatu sebelah.
Jung Woo merasakan sakit di badannya luka-lukanya yang belum sembuh terasa nyeri karena ia terus berlari. Ia berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan tiba-tiba ia mendengar sesuatu, suara dernyit ayunan.
Jung Woo pun segera berlari menuju taman bermain, ketika sampai disana Jung Woo tak melihat siapapun. Ia kecewa. Tapi ia teringat dengan satu tempat disana. Di tempat perosotan. Jung Woo mendekat ke arah perosotan.
Dugaan Jung Woo tepat, Soo Yeon duduk sembunyi di bawah perosotan. Jung Woo tersenyum karena ia berhasil menemukan Soo Yeon. Perlahan ia pun menghampiri Soo Yeon. Soo Yeon tertunduk menangis. Jung Woo melemparkan sepatu Soo Yeon.

“Aku menemukanmu!” seru Jung Woo berdiri di depan Soo Yeon. Soo Yeon terkejut menatap Jung Woo tapi dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya.
Jung Woo : “Apa kau pikir menyembunyikan wajahmu adalah segalanya?”

Soo Yeon menarik kaki kanannya dan lihat kaki kananya ada bekas luka yang sangat panjang. Soo Yeon menyembunyikan kakinya.

Jung Woo : “Apa kau pikir menyembunyikan kakimu adalah segalanya?”

Soo Yeon tetap menunduk kali ini ia menarik tangannya.

Jung Woo : “Gaun bunga.”

Soo Yeon mencengkeram bajunya yang bermotif bunga.
“Gadis populer...” panggil Jung Woo.

“Lee Soo Yeon...” panggil Jung Woo lagi. “Lee Soo Yeon.”

Soo Yeon mengangkat wajahnya memandang Jung Woo.

Jung Woo : “Anak seorang pembunuh Lee Soo Yeon, ayo kita berteman.”
Soo Yeon terkejut mendengar ajakan pertemanan dari Jung Woo.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar