Rabu, 28 Agustus 2013

Drama Korea I Miss You Episode 17 part 1






Mobil Jung Woo datang dan ia keluar dengan menghampiri sisi pintu mobil Hyung Joon. Tanpa ba bi bu, ia langsung membuka pintu mobil Hyung Joon.


Hyung Joon membentak, menyuruh Jung Woo untuk menutup pintu mobilnya.


Tapi Jung Woo dengan tenang berkata, “Temperamennya masih juga belum berubah. Persis seperti 14 tahun yang lalu.”


Soo Yeon terkejut mendengarnya. Begitu pula Hyung Joon. Mereka saling berpandangan sebelum menoleh pada Jung Woo. Soo Yeon memanggil Jung Woo, tapi perhatian Jung Woo kali ini hanya pada Hyung joon dan menyapanya seakan bertemu dengan teman lama, “Lama tak bertemu.. bocah.”


Jung Woo menatap mereka dan dengan sinis berkata, “Apakah kalian berdua merasa senang telah berhasil menipuku? Harry Borison, bukankah kau dulu pernah mengatakan kalau kita bertiga bisa bersama? Mari kita coba. Aku dan Soo Yeon akan pergi dengan mobilku, dan kau mengikuti mobil kami.”


Soo Yeon merasa cemas karena samaran Hyung Joon terbuka, tapi Hyung Joon malah tersenyum, “Han Jung Woo, akhirnya kau berhasil menyimpulkan. Kenapa lama sekali? Kukira kau sangat cepat.”


Jung Woo memanggil Hyung Joon dengan bocah dan menyuruhnya untuk tak mencari gara-gara denganya. Dan Soo Yeon buru-buru keluar untuk berbicara berdua dengan Jung Woo diikuti pandangan mata Hyung Joon yang mengawasi pembicaraan mereka.


Soo Yeon meminta maaf karena tak memberitahu hal ini sebelumnya. Jung Woo tak mempermasalahkan hal ini karena ia yakin Soo Yeon memiliki alasan tersendiri menyembunyikannya.


Ia meraih tangan Soo Yeon untuk membawanya masuk ke dalam mobil, tapi Soo Yeon tak mau, karena ada yang ingin ia bicarakan pada Hyung Joon. 


“Ayo masuklah. Aku sudah cukup menahan diri sekarang,” kata Jung Woo mencoba mengendalikan emosi.


Soo Yeon berjanji akan berbicara pada Jung Woo. Ia akan menceritakan segalanya nanti. Dan Jung Woo mengalah pada permintaan Soo Yeon. Ia hanya bertanya siapa nama asli Harry Borison. Soo Yeon menghela nafas, menunduk khawatir.


Jung Woo mengalah pada Soo Yeon, membiarkannya kembali ke mobil Hyung Joon. Sementara ia menelepon seniornya untuk mencari tahu tentang Harry Borison dan Kang Hyung Joon, juga tentang proses adopsi mereka. 


Detektif Joo pusing karena Jung Woo meminta banyak keterangan akan banyak sekali orang. Kang Hyug Joon, Yoon Young Jae (nama Sekretaris Yoon).

Teringat akan Sekretaris Yoon, Jung Woo meminta seniornya untuk memeriksa nama Moon Hae Joon, karena Sekretaris Yoon memberikan identitas Harry Borison yang memiliki nama asli Moon  Hee Joon. Dan ia menduga kalau semua itu adalah rekayasa.


Hyung Joon mengawasi Jung Woo yang sibuk menelepon dan berkata kalau Jung Woo cukup pintar karena cepat menemukan semua rahasianya. Soo Yeon mencoba membujuk Hyung Joon untuk kembali ke rumah dulu agar bisa memikirkan cara untuk membawa ibunya pergi.

Tapi Hyung Joon tak mau, “Apa gunanya membawa pergi ibu yang tak mengenaliku? Aku tak membutuhkannya,” kata Hyung Joon dingin. 


Soo Yeon meminta Hyung Joon untuk tak mengatakan hal seperti itu. Ia percaya kalau Han Jung Woo akan menolong mereka untuk mengeluarkan ibunya. Tapi Hyung Joon tak percaya kalau Jung Woo yang merupakan anak Han Tae Joon akan menolong mereka.

Tapi Soo Yeon yakin kalau Jung Woo mau membantu mereka. Jung Woo telah kembali ke rumah untuk memecahkan kasus 14 tahun yang lalu, “Ceritakan pada Jung Woo apa yang dilakukan Han Tae Joon pada ibumu sehingga Tae Joon dapat mendapat hukuman atas semua kejahatannya.”


“Dihukum? Hukuman apa yang pantas untuk orang yang membuat ibuku gila? Hukuman apa yang pantas karena membuat kakiku seperti ini?” tanya Hyung Joon tak percaya akan kenaifan Soo Yeon, “Hanya karena kau telah memaafkan Han Jung Woo, jangan berharap hal yang sama dariku. Walau aku mati, aku tak akan mau memaafkannya.”


Soo Yeon mengerti perasaan Hyung Joon. Tapi ia meminta agar tak menyalahkan Jung Woo karena Jung Woo tak bersalah. Tapi Hyung Joon langsung menyalak, “Bagaimana mungkin ia tak bersalah? Ia yang mengambilmu dariku.”

Hyung Joon mengingatkan Soo Yeon kalau dulu Soo Yeon mengatakan kalau ialah orang yang dibutuhkan Soo Yeon. Soo Yeon juga pernah mengatakan kalau hanya ialah orang yang paling penting di dunia ini, “Kau mengatakannya lebih dulu, kan? Hanya ada aku disisimu, sudah cukup bagimu, kan?”

Soo Yeon kaget karena Hyung Joon ingat akan kejadian 14 tahun yang lalu. Kejadian 14 tahun yang lalu yang katanya tak pernah bisa diingat oleh Hyung Joon ternyata diingat semuanya oleh Hyung Joon.


Hyung Joon menyadari ia keceplosan bicara. Ia berkata kalau semua yang ia lakukan ini adalah yang terbaik untuk Soo Yeon.


“Untukku?” tanya Soo Yeon tak percaya. “Kau tahu ibuku masih mencariku. Kau tahu kalau Jung Woo juga mencariku. Tapi kau tak mengatakan sepatah katapun. Semua ini demi kebaikanku?”


“Bukankah aku pernah mengatakan kalau aku melakukan ini untuk melindungimu,” kata Hyung Joon mencoba meyakinkan Soo Yeon, “Han Tae Joon masih mencarimu. Jika ia menemukanmu, orang yang disangka sudah mati, ia akan mencoba untuk membunuhmu!”


“Kalau begitu, kenapa kau malah membawaku ke hadapan Han Tae Joon?” tanya Soo Yeon menyudutkan, “Apakah itu demi kebaikanku juga?”

Soo Yeon menyadari kalau semua yang Hyung Joon katakan, semuanya adalah bohong, “Aku tak mau mendengarkanmu lagi,” dan Soo Yeon pun meraih handle pintu, tapi tangannya dicengkeram oleh Hyung Joon,


“Kau mau melihatku jadi gila?!”

“Kau sekarang sudah gila!”

Soo Yeon meminta Hyung Joon untuk melepaskan tangannya, tapi Hyung Joon tak mau dan menarik tangan Soo yeon lebih kuat lagi.


Jung Woo sejak tadi melihat percakapan mereka dari luar, melihat kalau Hyung Joon mencengkeram tangan Soo Yeon yang ingin keluar dari mobil. Ia buru-buru membuka pintu mobil Soo Yeon, tapi Hyung Joon ternyata menguncinya dari dalam. Jung Woo panik dan menggedor jendela mobil itu, tapi Hyung Joon tak bergeming.


“Aku membunuhnya,” kata Hyung Joon akhirnya, membuat Soo Yeon yang akan membuka pintu terkejut dan menoleh pada Hyung Joon yang melanjutkan kata-katanya, “Bukankah itu yang kau inginkan? Bukankah kau bilang kalau lebih baik jika semuanya mati?”


Soo Yeon terkesiap melihat Hyung Joon yang tersenyum dingin dan berkata kalau ia dapat melakukan apapun yang Soo Yeon inginkan, “Aku bahkan bisa lebih dalam melakukan sesuatu yang kau harapkan. Dan aku tak menyesalinya.”

Soo Yeon tak percaya mendengar kata-kata itu, ia memohon pada Hyung Joon agar Hyung Joon tak melakukan hal itu. Ia menangis memohon Hyung Joon untuk menarik kembali kata-katanya. Jung Woo yang melihat Soo Yeon menangis, semakin panik dan terus menggedor-gedor jendela mobil.


Kali ini Hyung Joon tak mempedulikan permintaan Soo Yeon. Ia malah menyuruh Soo Yeon pergi dan menyuruh Soo Yeon untuk memberitahukan pada semua orang kalau ia telah membunuh, “Tanpamu, aku pun juga sudah mati.”


Ia membuka kunci pintu mobil, membiarkan Jung Woo membukanya. Jung Woo ingin menghajar Hyung Joon, tapi terhenti karena Soo Yeon terisak dan berkata kalau ia tak percaya pada apa yang telah dikatakan oleh Hyung Joon. Pada Jung Woo, ia meminta Jung Woo untuk membawanya pulang ke rumah.


Jung Woo segera melepaskan Hyung Joon dan mengejar Soo Yeon. Namun Soo Yeon rupanya mengalami shock yang hebat, terjatuh dan hampir saja terhempas ke tanah jika Jung Woo tak segera menangkapnya.


Hyung Joon menatap Soo Yeon dan teringat 14 tahun yang lalu saat ia merintih kalau ia tak memiliki siapapun, Soo Yeonlah yang menenangkannya, "Hanya kau. cukup saja. Sudah cukup." 


Ia pun menjalankan mobilnya dengan cepat, hampir menyerempet Soo Yeon yang akan kena jika tak dilindungi oleh Jung Woo dengan mendekapnya erat.


Soo Yeon tak merasakannya karena ia pingsan. Jung Woo mencoba membangunkannya namun Soo Yeon tetap tak sadarkan diri. 


Ibu dan Eun Joo yang hendak makan malam terkejut melihat kedatangan Jung Woo yang membawa Eun Joo yang tampak lemah.


Jung Woo menjelaskan kalau Soo Yeon baru saja keluar dari rumah sakit membuat ibu bertambah cemas. Ibu juga mencemaskan Jung Woo yang terakhir ia dengar juga sakit. 


Soo Yeon malah mencemaskan Eun Joo, karena pertemuannya terakhir dengannya. Perlahan ia memanggil Eun Joo yang hanya duduk diam di meja makan.


Eun Joo menoleh dan menyapa Soo Yeon dengan dingin. “Siapakah kau? Jika kau ingin membantah jati dirimu, seharusnya kau harus tetap membantahnya terus.”


Soo Yeon meminta maaf pada Eun Joo. Ia sebenarnya berniat untuk kembali hanya setelah ia menemukan pembunuh Detektif Kim.

Ibu dan Jung Woo terdiam mendengar pengakuan Soo Yeon. Namun pengakuan itu melunakkan hati Eun Joo. Ia tersenyum pada Soo Yeon yang nampak sedih dan kacau, mencoba menenangkannya,

“Hei, si kelinci gila saja tak bisa menangkap pelakunya. Bagaimana mungkin kau berharap bisa menangkapnya? Masuklah dan hangatkanlah dirimu. Saat kau kecil dulu saja, kau sudah sangat lemah.”

Soo Yeon menatap Eun Joo, berterima kasih padanya.Tapi Eun Joo bersikap cool dan berkata kalau sekarang ayahnya pasti merasa tenang di sana karena Soo Yeon sudah kembali.


Jung Woo tersenyum mendengar Eun Joo yang besar hati. Tapi Eun Joo melihatnya dan menghardik Jung Woo, “Kau! Jangan ketawa, ya!”


Walaupun Eun Joo bersikap keras, tapi semua tahu kalau ini adalah cara Eun Joo yang telah menerima Soo Yeon. Eun Joo meminta ibu untuk memasak lagi, dengan ikan yang masih ibu simpan di dalam freezer. Walau ibu membantah memiliki ikan, tapi Eun Joo tahu kalau ibu menyimpannya untuk Jung woo, “Panggil aku kalau makanan sudah siap.”

Eun Joo berdiri dan hendak masuk kamar. Tapi Soo Yeon memanggilnya dan berterima kasih pada Eun Joo. Masih dengan sikap sok cueknya, Eun Joo bertanya apakah Soo Yeon bisa minum? Soo Yeon mengangguk dan mengatakan kalau rasa soju sangatlah manis. Maka Eun Joo memutuskan kalau Soo Yeon cukup oke. Dan ia pun masuk kamar.


Ibu bersyukur dengan perkembangan yang tak diduga ini. Ia tak peduli apa yang sedang terjadi, selama Soo Yeon sudah kembali ke rumah, maka hanya itulah yang penting.


Soo Yeon memeluk ibunya, memintanya agar tak menangis. Walau penuh airmata, Ibu tersenyum melihat putrinya kembali dan memeluk Soo Yeon semakin erat, “Senang melihatmu bisa kembali.”


Di dalam kamar, Eun Joo  tersenyum mendengar tangis bahagia ibu. Sementara ibu sudah bisa melihat putrinya yang hilang selama 14 tahun ini, ia hanya bisa melihat ayahnya di foto yang selalu ada di mejanya.


Ibu mengantarkan Soo Yeon untuk tidur di dalam kamar dan menemui Jung Woo yang menunggu di luar. Ibu bertanya apakah Jung Woo akan menginap di sini?  Jung Woo tak bisa menginap, karena baru hari ini ia pulang ke rumahnya dan ia akan pulang setelah menemui Soo Yeon.


Ibu bertanya apa saja yang dilakukan Jung Woo hari ini, “Aku sangat merindukanmu hari ini.” Jung Woo tersenyum dan memeluk ibu. Ia berkata kalau ibu harus mulai bersiap-siap karena ia sudah memiliki pacar sekarang, “Dia lebih muda dan sangat cantik.”


Ibu tertawa dan berkata kalau Jung Woo tak perlu khawatir lagi dan hanya perlu menjaga diri. Seolah-olah tersinggung, Jung Woo bertanya apakah berarti ia sudah tak berarti lagi di mata ibu setelah Soo Yeon kembali? Ia tersenyum dan berkata, “Tapi kaulah yang paling kusukai.”

Aww.. calon ibu mertua..


“Karena ada saingan baru, kau berkata manis? Boleh juga..”goda Jung Woo dan kemudian memeluk ibu dengan erat. Kata-kata Jung Woo membuat ibu tersenyum semakin lebar.


Tepat pada saat itu, Soo Yeon keluar kamar dan melihat ibu dan pacarnya berpelukan. Jung Woo terbelalak, dan pura-pura panik, “Ahh.. aku ketahuan!”


Tapi Jung Woo langsung memeluk mereka berdua dan berkata lega, “Akhirnya.. Apakah aku sekarang mendua? Bisakah?”


Soo Yeon dan ibu tersenyum dan membalas pelukan Jung Woo.


Di kamarnya, Hyung Joon menghancurkan pigura fotonya dengan Soo Yeon dan masuk ke dalam ruang rahasia. Kali ini ia melempar foto ibunya dan membanting rak pajangan yang menyimpan kalung dan bunga plastik ibunya,


“Ini semua karena ibu! Karena ibu, semua menjadi kacau!” teriak Hyung Joon sambil menangis, “Ia tetap pergi. Bahkan setelah aku katakan kalau aku yang membunuh Kang Sang Deuk untuknya! Zoe telah pergi. Bagaimana mungkin ia melakukan ini padaku!”


Harry si sekretaris Yoon meminta agar Hyung Joon tenang. Ia akan membawa Zoe kembali. Tapi Hyung Joon tak merasa perlu, karena ia tahu Zoe tak akan pernah kembali. Dan ia juga melemparkan kemarahannya pada Harry. Ia berteriak menyuruh Harry untuk pergi sekarang juga.


Tapi Harry menolak dan dengan tenang ia berkata kalau ia pergi maka iapun akan sendirian juga. Jadi ia akan tetap tinggal. Tapi Hyung Joon tetap mengusirnya pergi. Dan seperti anak kecil, ia menangis tersedu-sedu memanggil Zoe.


Di kamar berdua dengan Jung Woo, Soo Yeon sudah bersiap untuk tidur. Jung Woo berbaring di sebelahnya dan akan menunggui Soo Yeon hingga Soo Yeon tertidur.


Soo Yeon mengajaknya berbicara. Ia tahu kalau Jung Woo pasti sangat kaget menyadari Harry adalah anak kecil yang pernah ia selamatkan.


Jung Woo tahu kalau ternyata Hyung Joon membuatnya kesal karena ada alasannya. Ia bahkan sempat merasa kesal karena Soo Yeon sangat memperhatikan Hyung Joon, “Apakah kau tak menyadarinya?”


Soo Yeon tersenyum mendengar kata-kata Jung Woo. Atas permintaan Jung Woo, ia kemudian menceritakan masa 14 tahunnya.


Ia ingat sepertinya ia tertabrak mobil. Dan saat ia sadar, sudah ada Hyung Joon di sampingnya. Dan ia merasa tenang saat melihat wajah yang ia kenal. Walau tantenya itu kejam dan ingin meninggalkannya, tapi Hyung Joon bersikeras untuk membawanya pergi. Tapi ia tak begitu ingat akan kejadian saat itu. 


Saat tiba di Paris, ia tak mengerti bahasa Perancis. Dan pada saat itu, ia dan Hyung Joon saling bergantung satu sama lain. Ia selalu takut kalau Harry tak ada di sisinya karena Tante yang bersamanya sangat menakutkan dan sepertinya Tantenya itu tak menyukainya.


Seakan menyesal, Jung Woo berkata kalau Soo Yeon mendapat masa-masa yang sulit karena dirinya. Tapi Soo Yeon berkata ia tahu kalau semua itu bukan karena Jung Woo, “Tak ada yang salah di antara kita.”

Walau Soo Yeon merasa bukan salahnya, tapi Jung Woo berjanji kalaupun ia harus mati, ia tak akan melarikan diri dan meninggalkan Soo Yeon lagi.


“Kau tak boleh mati,” sela Soo Yeon. Dan ia meminta Jung Woo untuk mengulangi kata-kata itu lagi.


Mematuhi perintah Soo Yeon, tanpa mengucapkan kata ia harus mati, Jung Woo pun berjanji, “Aku tak akan pernah melarikan diri dan meninggalkanmu lagi,” dan Jung Woo menambahkan, “Aku juga tak akan mati sendiri.”


Soo Yeon tersenyum mendengar janji Jung Woo dan mengatakan sebuah permintaan yang sebelumnya hanya ada di dalam hatinya, “Tak peduli kemanapun aku pergi, atau apapun yang aku lakukan, aku percaya kalau aku akan menemukanku.”

Permintaan itu malah membuah Jung Woo kaget, “Kau mau pergi kemana?”


“Aku hanya berkata kalau aku percaya kalau kau bisa menemukanku dimanapun aku berada. Benar, kan?” kali ini Soo Yeon yang mengulangi kata-katanya.


Tapi Jung Woo masih menatapnya, merasa tak nyaman dengan kata-kata Soo Yeon. Soo Yeon pun mengalihkan pembicaraan dengan meringku di selimutnya lebih dalam lagi, merasa senang bisa ada di rumah lagi, “Aku akan tak mau tidur sepanjang malam, dan tetap seperti ini.”


Soo Yeon mulai menghapal perkalian 9 x 9 = 81. Jung Woo terkejut karena Soo Yeon mengingatnya. Ia kembali tenang dan ikut menghafal mundur seperti dulu. 9 x 8 = 72. Tapi menurut Soo Yeon, cara Jung Woo melafalkan terlalu pelan. Dan ia mengulangi dengan lebih cepat.

Ahh.. pasti Jung Woo kalah menghafal. Soo Yeon kan sudah ahli perkalian selama 14 tahun ini.


Jung Woo menggenggam tangan Soo Yeon dan karena hari ini sangat baik, ia meneruskan perkalian mundurnya. 9 x 2 =  18 dan Soo Yeon menimpali 9 x 1 = 9 dan karena tak ada lagi yang dikalikan, mereka berdua sama-sama tertawa geli.


Sementara itu Hyung Joon tertidur di dalam kamar Soo Yeon, mengingat saat-saat ia tertidur di kamar ini dan berbincang sepanjang malam dengan Soo Yeon. Kali ini tak ada Soo Yeon di sampingnya, ia hanya bisa menyentuh bantal di sampingnya yang kosong.


Soo Yeon menulis di buku hariannya sambil memandangi Jung Woo yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Ia membuka-buka halaman-halaman sebelumnya, dan menemukan jejak sidik jarinya.


Ia menyadari kalau Jung Woo sudah mengetahui identitas dirinya dari mula dan iapun tersenyum sedih, “Jika usahanya sampai seperti ini, bagaimana mungkin ia bisa berhenti menjadi polisi?”


Ia menutup buku harian dan mendekati Jung Woo yang terlelap. Ia mengamati wajah Jung Woo dan bergumam, “Rasanya aku sudah gila.”


Soo Yeon pun perlahan membungkuk, mendekati bibir Jung Woo. Dan perlahan ia pun menciumnya.


Hanya kecupan singkat yang diberikan oleh Soo Yeon, dan Jung Woo pun tetap tertidur. Soo Yeon pun menegakkan badan setelah mencium Jung Woo.


Tiba-tiba, tanpa membuka mata, Jung Woo menarik Soo Yeon dan mendekatkan wajah Soo Yeon kembali hingga bibir Soo Yeon kembali menciumnya.


Soo Yeon terkejut, namun ia tak menarik dirinya. Ia membiarkan Jung Woo menciumnya.


Namun itupun hanya sesaat, karena Jung Woo membuka mata, dan kaget saat melihat ia tertidur dengan mencium Soo Yeon.


LOL. Bisa ya, mimpi mencium dan terjadi. Mungkin ini adalah arti harafiah dari When your dream comes true.


Buru-buru mereka memisahkan diri. Dan Soo Yeon menatap polos ke langit-langit. Begitu pula Jung Woo.


Tapi Jung Woo yang masih penasaran, melirik pada Soo Yeon dan menatap bibirnya. Perlahan-lahan ia beringsut mendekati Soo Yeon. Semakin dekat dan semakin dekat hingga tak ada jarak di antara mereka.


Haha.. lucu banget melihat Jung Woo yang mencondongkan wajahnya dan memajukan mulutnya untuk mencium Soo Yeon. Soo Yeon sendiri hanya terdiam, tak berani melihat, tapi juga tak mau menolak. Ia hanya menunggu.


Dan Jung Woo pun akhirnya memberanikan diri untuk berguling ke atas Soo Yeon dan menatap matanya.


Soo Yeon kali ini juga menatap mata Jung Woo. Ia memberanikan diri menatap Jung Woo, menunggu Jung Woo.

Sesaat mereka berpandangan..


..namun sesaat  itu pula akal sehat Jung Woo kembali berjalan, dan ia buru-buru berguling ke samping Soo Yeon, dan memunggunginya, “Maafkan aku. Aku yang salah. Maafkan aku, Soo Yeon.”

Aww..


Soo Yeon tersenyum, merasa malu. Perlahan ia memukul punggung Jung Woo, “Aku tak bisa hidup (kalau kau seperti ini.”


Mendengar hal itu, Jung Woo langsung bangkit dan mendelik, membuat Soo Yeon kaget. Ia memukulkan tangannya ke lantai, sama seperti yang Soo Yeon tadi lakukan, “Kalau kau tak bisa hidup, jadi apa aku harus hidup seperti ini dan mati?” Ia memukulkan tangannya lagi beberapa kali, “Aku tak dapat melakukannya karena aku merasa belum pantas melakukannya!”


Dan masih mendelik, ia mengancam Soo Yeon, “Kau.. Jangan mati walau kau mau mati. Kau dan aku..”


Jung Woo langsung berhenti. Ujung kalimat itu hanya ada di pikirannya. Soo Yeon menunggu kalimat lanjutan Jung Woo. Jung Woo tak melanjutkan kalimatnya karena mungkin kalimat berikutnya adalah dari pikirannya yang kotor.


Tanpa menyelesaikan kata-katanya, Jung Woo menutup dirinya dengan selimut, tak berani menatap Soo Yeon lagi.


Ibu muncul ingin melihat apakah kedua anaknya sudah tidur. Tapi ia melihat Soo Yeon mendekati Jung Woo yang memunggunginya.


Seo Yeon tersenyum, menyentuh Jung Woo dan membelai  punggungnya, “Terima kasih Jung Woo..”


Jung Woo seakan tersengat listrik saat tangan Seo Yeon menyentuhnya, “Jangan! Minggir!” bentak Jung Woo panik. Demi mengalihkan pikirannya, ia menghafalkan perkalian secara terbalik, “9 x 9 = 88, 9 x 9 = 81, 9 x 8 = 71, 9 x 7 = 64, 9 x 6 = 54, 9 x 5 = 45...


Ha! Benar-benar terbalik semuanya. Soo Yeon terus menatap Jung Woo dari belakang, tersenyum. Akhirnya Jung Woo mulai tenang dan bisa melafalkan perkalian dengan benar.


Ibu keluar kamar dan tersenyum, mengatai Jung Woo si bandel yang naif dan bertanya-tanya apa arti Soo Yeon bagi Jung Woo hingga Jung Woo seperti itu?

Komentar :

Iya.. apa arti Soo Yeon bagi Jung Woo? Dulu saat Jung Woo mengejar Soo Yeon, ia berani mencium Soo Yeon di ruang kerja Butik Bellez. Mengapa sekarang ia tak berani mencium Soo Yeon?

Apakah Jung Woo chicken out? Apakah nyali Jung Woo ciut?

Jawabannya iya dan tidak. Saat di butik Bellez, ia tahu kalau their kiss will end up as a kiss only.


Tapi di kamar ini, dimana tak ada Mi Ran yang tiba-tiba akan muncul, a simple kiss will lead to everything right here right now. Saat Soo Yeon mencium  Jung Woo yang tidur saja, Jung Woo bisa menarik Soo Yeon dan menciumnya lagi. Apalagi saat Jung Woo membuka mata?


Maka Jung Woo pun memilih rute chicken out. ‘Rute pengecut’. Ia memilih tak berani mencium Soo Yeon daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Padahal pun kalau Jung Woo mencium Soo Yeon, pasti akan terhenti karena saat itu ibu masuk ke dalam kamar.


Saat ibu masuk kamar, dan melihat mereka, ia pasti dapat menduga apa yang telah terjadi. Namun dengan ibu melihat Jung Woo meringkuk dalam selimut, menjadi pengecut, ia menjadi lega. Jung Woo akan menjaga Soo Yeon. Yang baru saja ia lihat adalah buktinya. Jung Woo is good boyfriend material. Good husband material.
 

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar