Selasa, 27 Agustus 2013

Drama Korea Who Are You Episode 2 Part 1




FLASHBACK


Kyu-min berdiri di rooftop. Kyu-min masih shock dengan apa yang dilihatnya seminggu yang lalu di ruang Dok. Park yang tak lain adalah pamannya. Dia tak percaya akan apa yang dilihatnya sendiri.

Kyu-min merasa membenci dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apapun bahkan untuk orang yang disayanginya.





Tiba-tiba pintu rooftop terbuka, Kyu-min segera jongkok dan bersembunyi. Ternyata itu adalah Oh-reum dan Dok.Park.
Dok.Park memaksa Oh-reum untuk melakukan sesuatu tapi Oh-reum terus melawan. Oh-reum mengancam kalau dia akan melaporkan Dok.Park ke kantor polisi karena Oh-reum bisu jadi ini pake bahasa sandi. Dok.Park tak bergeming terus menarik Oh-reum. Oh-reum begitu ketakutan.




Dok.Park terus memojokkan Oh-reum namun Oh-reum terus melawan, sampai mereka berada di dinding pembatas gedung.
Karena kesal keinginannya tak dipenuhi, Dok.Park mendorong Oh-reum. Oh-reum jatuh dari lantai atas. Orang-orang berkerubung melihat tubuh Oh-reum. Dan Kyu-min yang sedari tadi mengintip kejadian itu terhenyak melihat Oh-reum jatuh, tapi dia tak berkutik hanya terus bersembunyi.


Dok.Park melihat sekeliling kalau-kalau ada yang melihat kejadian itu, dari wajahnya terlihat kepanikan. Tapi bukan karena Oh-reum, lebih pada takut apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
~~~


Kembali ke akhir episode 1, saat Shi-oh menerima pesan kalau pembunuh Oh-reum adalah Dok.Park.
Dok.Park lalu mengunci pintu ruangannya. Shi-oh dengan takut bertanya, kenapa anda tiba-tiba mengunci pintu?
Dok.Park malah balik bertanya menurutmu sendiri kenapa?




Dok.Park perlahan berjalan mendekati Shi-oh, Shi-oh tentu katakutan. Dia perlahan mundur, Shi-oh menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya lalu menelfon Gun-woo.
Gun-woo mengangkat panggilannya, namun tak ada jawaban dari Shi-oh.



Shi-oh bertanya kenapa Dok.Park melakukan semua ini?
Dok.Park : “Tentu saja ini adalah sebuah karunia bahwa kamu penasaran atas kematian gadis itu. Karena kamu adalah detektif yang hebat. Tapi apa yang harus aku lakukan? Tapi terlalu buruk untukmu, berada di depan orang yang menimbulkan alasan di di balik ini dan mengakui semua cerita”
Dok.Park mengambil pensil dimejanya, mendekatkannya pada Shi-oh. Dok.Park lalu menarik lagi pensil itu dan mematahkannya. Sontak, Shi-oh semakin takut dan juga terkejut.




Shi-oh bertanya dengan terbata-bata, apa... yang anda bicarakan?
Dok.Park tersenyum kemudian membelai pipi Shi-oh, “Kamu sudah tahu”
Shi-oh terus memegang erat ponselnya, dia melihat Dok.Park agak lengah lalu dengan segera memukul perut Dok.Park, membuat ponsel yang dipegang Shi-oh terbanting.
~~~



Diseberang, Gun-woo masih terus menunggu jawaban Shi-oh, dengan suara ponsel Shi-oh yang terbanting membuatnya sadar kalau Shi-oh dalam bahaya.
Dengan panik, Gun-woo bertanya pada Kyu-min dimana rumah sakit pamannya. “Cepat katakan padaku!”
Namun Kyu-min terus diam.
~~~



Dok.Park tersenyum dirinya telah dipukul oleh Shi-oh, Shi-oh sendiri malah terlihat lemas. Tubuhnya terkulai dan pingsan. Dok.Park tersenyum licik melihat Shi-oh tak berdaya.
Ternyata Dok.Park lebih cepat telah menusukkan bius ke lengan Shi-oh. sepertinya yang kemarin diambil oleh Do.Park dilaci. Pas episode 1.
~~~


Gun-woo berlari dengan cemas dilorong rumah sakit. Dia mencoba menghubungi seseorang.
~~~


Dok.Park menggenggam tangan Shi-oh yang tak sadarkan diri. Dia memandangi Shi-oh, Dok.Park terkejut mengingat sesuatu. Dia segera mengangkat tubuh Shi-oh.Scene-nya lari sana-sini. Hadeeh..
~~~



Gun-woo terus berlari masuk kerumah sakit Dok.Park. Gun-woo menelfon meminta bantuan, “1033 situasi darurat sedang terjadi, mohon bantuan. Memanggil pertolongan untuk seorang petugas. Meminta bantuan.”
Gun-woo terus berlari, dia bahkan akan menabrak seorang pasien dengan kursi roda, tanpa disadari Gun-woo ternyata itu adalah Shi-oh. Gun-woo tak mengenali Shi-oh karena wajahnya yang tertutup oleh rambut.




Gun-woo sampai keruangan Dok.Park tapi disana tak ada siapapun. Gun-woo terlambat.
Gun-woo melihat telfon Shi-oh yang ada dilantai, layar ponselnya sudah pecah.
Gun-woo mengingat seorang pasien dengan kursi roda yang berselisih dengannya tadi. Dia menyadari kalauu itu Shi-oh.



Gun-woo berlari keluar ruangan, dia menuju ke lift namun semuanya penuh. dia berlari lagi ke lift diseberangnya dan penuh juga. Gun-woo melihat sebuah lift yang baru akan tertutup, dia mencoba menghalanginya namun tak bisa. Gun-woo melihat sekilas disana ada Shi-oh yang tak sadarkan diri.
Gun-woo menggunakan tangga darurat menuju lantai dibawahnya, namun lift itu sudah sampai dilantai bawahnya. Gun-woo berlari menuju ke tempat parkir.



Sebuah mobil akan meninggalkan area parkir. Gun-woo mengira itu adalah mobil Dok.Park, dia segera memotong arah lalu menghadang mobil itu. Gun-woo melihat dari kaca namun itu bukan mobil Dok.Park.
Gun-woo menghela nafas, sebuah ambulans keluar dari area parkir, tadinya Gun-woo tidak ngeh dengan adanya ambulan itu namun dia kemudian tersadar, segera berbalik.
Benar saja, didalam mobil itu ada Shi-oh yang tak sadarkan diri. Gun-woo mencoba berlari mengejar mobil ambulan tadi. Mana mobil?mana?



Ambulan melaju kencang dengan Dok.park yang mengemudikannya.
Jelas saja Gun-woo yang hanya berlari akan mustahil dapat mengejarnya. Gun-woo berhenti saat Ambulan hilang ditikungan.


Gun-woo menelfon kantor : “Nomor plat 4649. Ambulans rumah sakit. Si Pembunuh menjadikan pertugas kita sebagai sandera. meminta bantuan segera.”
~~~


Dikantor, petugas mulai melacak keberadaan ambulan 4649. Mereka sibuk melihat setiap CCTV yang ada. “Ambulans putih. Nomor plat 4649, 4649. 4649”
~~~



Dok.Park membawa Shi-oh dengan ambulan menuju tempat yang sangat sepi. Sepertinya itu hutan.
Dok.Park menghentikan ambulans dan turun melihat Shi-oh. Meskipun terlihat seperti hutan disana ada seseorang yang sedang berapi, orang itu tadinya cuek tapi sejenak dia agak berfikir. Tapi sepertinya dia bukan orang, kalau ia dia orang masa Dok.Park berhenti disitu. Jadi kemungkinan dia hantu
~~~



Dikantor , Gun-woo bertemu dengan atasannya. Atasannya kesal karena belum ada panggilan dari Shi-oh. Atasan bertanya asal depertemen Gun-woo. Gun-woo sedikit ragu menjawabnya karena memang depertemennya bukan untuk penyelidikan kasus, Pusat Kehilangan dan Penemuan Kepolisian Nasional.
Atasannya semakin marah : “lalu, kenapa kalian menyebabkan keributan yang besar seperti ini. Jika saya tahu ini adalah kasus untuk Tim Satuan Khusus, kau seharusnya menyerahkannya. Ini bukan sesuatu yang bisa kau tangani dan kamu tidak punya kemampuan. Bagaimana bisa kau turun begitu saja dan membuat masalahnya semakin besar?”


Salah seorang polisi memberitahukan kalau ada sebuah panggilan masuk.
~~~


Gun-woo berlari tergesa-gesa menuruni tangga, Moon-sik datang menanyakan apa yang terjadi.
Gun-woo tak menjawab malah memegang tangan Moon-sik untuk meminta maaf, kemudian Gun-woo segera menekuk tangan Moon-sik lalu mengambil senjata Moon-sik. Gun-woo langsung kabur meninggalkan Moon-sik yang kesakitan.
~~~



Shi-oh perlahan mulai sadar, Shi-oh segera mencoba untuk berdiri. Dok.Park ternyata sudah menunggunya siuman, dia duduk tak jauh dari Shi-oh.
Dok.Park : “Kamu berbeda karena kamu seorang polisi. Kamu sadar lebih cepat dari yang kuperkirakan. Kamu belum bisa bangun sekarang. Obatnya masih bekerja, jadi akan lebih baik jika tidak bergerak.”



Dok.Park berjalan mendekati Shi-oh, Shi-oh bertanya apa yang akan dilakukan Dok.Park.
Dok.Park berjongkok didepan Shi-oh yang belum kuat untuk berdiri. “pertama-tama, menyuntikmu kembali dengan obat yang tadi lalu melepas sepatumu dan menyingkirkannya, melempar tubuhmu ke dalam air. karena aku meninggalkan sepatumu, orang akan berpikir ini adalah sebuah bunuh diri. Seorang wanita yang bangun dari koma setelah 6 tahun tidak bisa mengendalikan kegelisahan dan memilih bunuh diri ketika mayatmu ditemukan, larutan obat kamu terima akan cukup terlarut dan tidak akan terdeteksi di tubuhmu”




Shi-oh mencoba menutupi ketakutannya, “lalu, kau seharusnya sudah melakukan hal itu kenapa kau membawaku ke sini?”
Dok.Park tersenyum, karena aku penasaran.



Dok.Park berlari kebelakang mengambil kursi yang tadi didudukinya. Menghantam kearah Shi-oh namun tak mengenainya hanya beberapa centi lagi dari badan Shi-oh.
Dok.Park duduk dikursi itu, Dok.Park mengangkat dagu Shi-oh yang menunduk terkejut.
Dok. Park : “Kamu, bagaimana kamu tahu. Aku tetap tidak bisa mengerti, berapa kalipun aku memikirkannya. Seharusnya tidak ada sedikitpun bukti pembunuhan dan seharusnya tidak ada sedikipun bukti yang menyatakan ini bukanlah sebuah bunuh diri kecuali kamu mendengarnya langsung dari anak yang mati itu. kamu tidak mungkin bisa mengetahuinya..”



Shi-oh dengan berkata kalau memang benar dia mendengarnya langsung dari Oh-reum.
Dok.Park tertawa merasa tak mungkin ada orang yang bisa berbicara dengan hantu.
Shi-oh dengan sedih : “dasar gila. Apa kau tidak merasa menyesal pada Oh Reum? Karena sampah sepertimu, seorang gadis cantik meninggal. Dia mempunyai luka yang tidak bisa ia tanggung ketika dia hidup karena kamu!”



Dok.Park malah menguap mendengar kata-kata Shi-oh.
Dok.Park : “satu anak... Kenapa kamu pikir hanya satu?”
Shi-oh seolah tak percaya apa yang didengarnya, apa?
Dok.Park benar-benar terlihat tak berasa bersalah,  “Ini.. seperti hobiku. orang lain seperti golf, kemah, dll. Aku tidak tertarik akan hal-hal tersebut. hal satu-satunya yang aku sukai adalah anak-anak. tempat di mana tidak ada tangan kotor yang pernah menyentuhnya. Tubuh itu. dan, Oh Reum sangat spesial. Tidak, ia sangat istimewa” bener-bener udah gila nih. Bagi yang udah punya anak, jangan sampai ketemu sama orang-orang macam ini.



Dok.Park memejamkan matanya mengingat saat dia melakukan hal yang tak senonoh pada Oh-reum. “Ketika dia melihatku tanpa berkata apapun, dan gemetar. Apakah itu disebakan karena terangsang atau rasa sakit, aku tidak tahu.”
Dok Park bertanya pada Shi-oh, bagaimana? Apa kau tersentuh?


Shi-oh mengatai Dok.Park Gila. Dok.Park tak perduli lalu menyuruh Shi-oh menceritakan bagaimana dia bisa tau. Shi-oh meminta Dok.Park untuk mendekat, membuat Dok.Park tersenyum meremehkan.
Tangan kiri Shi-oh meraup pasir yang ada didekatnya, Dok.Park mendekat. Dengan segera Shi-oh melemparkan pasir yang dipegangnya ke wajah Dok.Park.
Tanpa membuang kesempatan, Shi-oh segera lari.



Lari Shi-oh terhenti karena ada pagar yang menghalanginya, pagar itu tak bisa dibuka karena dirantai. Dok.Park mendekat, tersenyum puas melihat jalan Shi-oh terhalang.
Tak kehabisan akal, Shi-oh menedang gerbang itu, tak disangka malah terbuka. Shi-oh lari lagi, sekarang didepannya tak ada jalan. Shi-oh memutuskan melompat dari tempat itu. Dia jatuh ketumpukan kertas-kertas. Dok.Park yang melihat keberanian Shi-oh sedikit tak percaya.
Dok.Park tak berani melompat, dia mencari jalan lain.



Shi-oh sampai disebuah ruangan, sepertinya itu gudang. Shi-oh segera bersembunyi.
Dok.Park juga sampai digudang yang sama, sepertinya dia yakin Shi-oh lari ketempat itu. Dia segera menutup pintu gudangnya. Shi-oh takut dengan apa yang akan terjadi padanya.
Dok.Park mengambil sebuah pemukul kemudian mencari-cari Shi-oh, “dimana kamu?  Aku akan menceritakan cerita yang menarik. Tidak kah kamu penasaran? Aku punya cerita yang akan mengejutkanmu.”



Dok.Park semakin mendekat, membuat Shi-oh menundukkan kepalanya. Dia takut.
Tapi beruntung, Dok.Park melewati Shi-oh karena memang tempat itu gelap. Shi-oh mencoba pergi, tapi sebuah benda yang ada didekatnya tersenggol membuatnya berbunyi. Dok.Park berbalik menyadari Shi-oh ada dibelakangnya.
Shi-oh terkejut langsung lari.




Lari Shi-oh terhenti karena gerbang gudangnya tertutup. Dok.Park segera mengejarnya, dia menghantam kepala Shi-oh dengan pemukul. Tapi beruntung Shi-oh bisa menghindar.
Namun pukulan kedua mengenai tubuh Shi-oh membuatnya jatuh tersengkur. Dok.Park tertawa puas. Dok.Park bersiap memukul Shi-oh lagi, tapi sebuah suara tembakan menggagalkannya.



Gun-woo lah yang menembakkan peluru keudara.
Gun-woo : “Park Hye Jin!  Kamu ditahan atas percobaan pembunuhan dan pemerkosaan. Kau berhak untuk diam, apapun yang kau katakan akan dipergunakan untuk melawanmu di pengadilan. dan kau punya hak untuk mendapatkan seorang pengcara, baj*ngan kau!”



Dok.Park : “Tidak sulit untuk mengaangkat tanganku. Tapi jangan mencoba terlalu keras. Karena hasilnya jelas.”
Gun-woo masih terus menodongkan senjatanya pada Dok.Park, apa?
Dok.Park : “Walaupun kau memasukkan aku dalam penjara. Aku akan bisa bebas karena tidak ada bukti.”
Shi-oh mengatakan kalau ada Kyu-min.
Dok.Park : “Akankah Kyung Min mampu untuk menjebloskan pamannya sendiri ke dalam penjara? dan, walaupun dia bersaksi. siapa yang akan percaya? anak yang menerima terapi depresi selama lebih dari 1 tahun. tapi setelah semua pertarungan pengadilan yang membosankan dan menyedihkan. Aku mungkin akan mendapatkan putusan tidak bersalah karena kurangnya bukti”



Gun-woo masih terus siaga dengan senjatanya. Dok.Park seolah menantang pada Gun-woo, “Apa kau mau menembak? Kau mungkin ingin menembak.”
Dok.Park memegang ujung senjata Gun-woo dan mengarahkannya sendiri kekepala.
Dok.Park : “bagaimanapun, kalian lebih tahu bahwa kalian tidak bisa menembak. Karena jika kalian menembak tersangka tanpa bukti fisik.. Kalian akan jadi seorang pembunuh.”


Gun-woo sangat-sangat ingin menembakkan pelurunya, tapi coba ditahan. Shi-oh hanya memandanginya dengan sangat sedih, takut.
Gun-woo perlahan menurunkan pistolnya. Tapi disambar oleh Shi-oh.
Shi-oh menodongkannya kekepala Dok.Park, “Apapun yang tidak bisa dijaga oleh hukum, keadilan akan menjaga, kamu baj*ngan! “




Gun-woo mencoba menghalangi Shi-oh untuk menembakkan pelurunya. Tapi naas, satu peluru telah melesat tapi tak mengenai kepala Dok.Park, hanya perut sebelah kirinya.
Gun-woo menggenggam tangan Shi-oh yang memegang pistolnya dengan gemetar.
~~~



Kepala Tim tengah memarahi Shi-on dan Gun-woo.
Kepala Tim : “Kalau dia tertembak 5 cm lebih dekat kejantungnya, tersangka bisa mati. Inspektur Yang Si On, Apa yang kamu pikirkan?”
Shi-oh meminta maaf.
Kepala Tim : “Akankah ‘maafkan saya’ akan menyelesaikan segalanya? tanpa melapor kepada atasan yang berwenang. kamu mengejar tersangka sendirian. kemudian meninggalkan luka pada tersangka juga? dan, dengan senjata api..”
Gun-woo menyela kalau mereka tak ada pilihan lain. Tapi Shi-oh segera menyuruh Gun-woo diam.



Shi-oh mengatakan kalau semua ini adalah salahnya. Kepala Tim bertanya apa Shi-oh bisa mempertanggung jawabkan perkataanya. Shi-oh meng-iya-kan.
Kepala Tim : “Rapat komite disiplin akan segera dibuka. Kejadian ini tidak akan lewat begitu saja. bersiap-siaplah. bersiap-siaplah untuk dipecat!”



Gun-woo keluar ruangan Ketua Tim dengan frustasi. Gun-woo menyalahkan Shi-oh.
Gun-woo : “Aku bekerja dengan keras selama 3 bulan hingga akhirnya mendapatkan form pengajuan untuk kembali ke Tim Satuan Khusus tapi semua kerja kerasku akan sia-sia sebab satu tembakan tersebut”
Shi-oh minta maaf dan berjanji akan mengeluarkan Gun-woo dari masalah. Shi-oh terus berjalan, Gun-woo dengan kekanakan bertanya, “bagaimana?bagaimana?bagaimana?”
Shi-Oh menunduk.
Gun-Woo : “baik aku, kau, Ketua Tim. kita berada dalam keadaan yang sama. bagaimana caranya kau akan mengeluarkaku? Kenapa kau melakukannya? Kenapa anda benar-benar menembaknya? Jika kau menahannya sedikit, kita tidak akan mengalami hal ini. Kenapa kau membuatnya menjadi skenario terburuk?”


Shi-oh mengatakan kalau Gun-woo juga tahu perasaan apa yang dirasakan Shi-oh waktu itu. Wun-woo menunduk karena sebenernya juga kan Gun-woo udah mau nembak. Shi-oh berjalan meninggalkan Gun-woo.
Gun-woo : “Lalu, jika ada situasi yang sama, apakah kau akan melakukannya lagi?”
Shi-oh : “Walaupun aku kembali ke situasi yang sama, aku akan melakukan hal yang sama.”





Moon-sik datang berpapasan dengan mereka. Moon-sik bertanya bagaimana keadaan Shi-oh. Shi-oh merasa kalau dia baik-baik saja.
Moon-sik melirik Gun-woo, Gun Woo yang tak enak hati segera mendekat dan meminta maaf dengan menunduk. Moon-sik pura-pura marah dengan menghimpit kepala Gun-woo diketiaknya. Dia memutar Gun-woo. Shi-oh yang melihat mereka berdua tertawa


Gun-woo tak bereaksi membuat Moon-sik melepaskan himpitannya. Moon-sik memukul kepala Gun-woo dan mengatakan kalau tidak apa-apa. Tapi Gun-woo tetap tak semangat, dia benar-benar frustasi.
Akhirnya Moon-sik mengajak mereka berdua makan.
~~~



Mereka pergi untuk minum. Moon-sik mengajak mereka berdua untuk bersulang tapi Gun-woo meminum bir-nya dulu. Moon-sik melihat Gun-woo yang sangat frustasi dan tak semangat, Shi-oh juga begitu.
Moon-Sik : “ketika aku seumuran kalian, aku membuat masalah besar. Itu adalah kasus dimana tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemecatan. Aku membereskan barangku dan kembali kerumah di pagi hari. Aku pulang kerumah, istriku sudah pergi ke perjalanan menuju pulau Jeju. Setelah 15 tahun pernikahan, itu adalah liburan keluarga kami yang pertama. Aku tidak dapat melepaskan pekerjaanku sebagai detektif.”



Moon-sik : “Aku pikir kalau aku tidak melakukannya sekarang, aku tidak akan pernah bisa. Jadi selama di Jeju, aku berpikir tentang istriku dan anak-anakku. Hal apa yang paling penting dalam hidupku? Aku menemukan hal penting dalam hidupku selama masa terburuk dalam hidupku. “




Moon-sik mendapat sebuah panggilan sehingga meninggalkan Gun-woo dan Shi-oh berdua.
Gun-woo : “Kita harus pergi sekarang. Kita disini untuk mengatakan padanya bahwa kita tidak bisa bekerja dalam satu team.”
Shi-oh : “Kita harus mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi.”



Moon-sik kembali, Hasil hukuman sudah keluar, pemotongan gaji 6 bulan.
Tentu saja itu membuat Gun-woo dan Shi-oh melongo. Pemecatan yang mereka bayangkan tak terjadi.
Gun-woo belum yakin tapi Moon-sik mengatakan kalau hukumannya memang itu dan akan diumumkan resmi besok.



Gun-woo sontak berdiri, dia bersorak dan mengepal-ngepalkan tangannya. Dia sangat senang.
Shi-oh sampai melongo melihat tingkah konyol rekannya ini. Gun-woo menyadari dirinya diperhatikan segera menurunkan tangannya. Shi-oh menyodorkan gelas kosong agar Gun-woo menuangkan bir. Gun-woo melakukannya dengan canggung, kayaknya dia masih keinget sama tadi dia yang ngotot buat gak bareng lagi sama Shi-oh.





Gun-woo duduk, dia mendekatkan gelasnya pada Shi-oh, “cheer”
Shi-oh tersenyum melihat kecanggungan Gun-woo. Merekapun akhirnya bersulang. Dan minum bersama.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar