Selasa, 27 Agustus 2013

Drama Korea Who Are You Episode 4 Part 2







Shi-on tak bisa tidur dikamar, banyak pikiran yang berkelebat dikepalanya. Shi-on teri
ngat saat dia melihat Yoon-hee menangis menatap Jaksa Park di ruang forensik. Juga saat Jaksa Park marah ketika Shi-on mengungkit masalah Yoon Hee, Jaksa Park mengancam tak akan berdiam diri jika Shi-on bermain-main.
Shi-on mencoba memejamkan matanya.
~~~



Sama dengan Shi-on, Jaksa Park juga masih belum bisa tidur. Dia sedang menatap ponselnya yang berisi pesan dari Yoon Hee. ‘Cintaku, Yoon Hee: Ayo putus, aku lelah. Jangan mencariku.’
Jaksa Park meletakkan ponselnya kesal, mengingat bagaimana Yoon-hee sepertinya memutuskan hubungan dengan keputusan yang sebelah pihak.



Jaksa Park melihat sebuah foto kenangannya bersama Yoon-hee. Jaksa Park menatap foto itu lekat-lekat. Tapi kemudian seperti ada kekesalan yang membuncah, Jaksa Park pun melempar foto itu dengan sangat-sangat kesal.
~~~



Paginya, Jaksa Park jogging.
Sepertinya Shi-on sedang menunggu Jaksa Park, dia langsung muncul ketika Jaksa Park sudah mendekat. Shi-on memuji Jaksa Park yang kecepatannya diluar yang dia kira. Shi-on bertanya, bukankah kau  yang mengirimkan tamu-tamu kerumahku?



“’Kalau aku melihatmu bermain-main. Aku tidak akan diam saja.’ Apakah itu yang kau bilang pada Jang Yoon Hee?” Tanya Shi-on.
Jaksa Park kesal, dia menarik kerah baju Shi-on dan menyuruh untuk jangan menyebut nama Yoon Hee didepannya. Shi-on tak perduli perintah Jaksa Park, “Aku akan bertanya untuk terakhir kali, Apa kamu yang membunuh Jang Yoon Hee?”
Jaksa Park terlihat terkejut dengan pertanyaan Shi-on yang menjurus pada menuduh, apa?!
~~~



Shi-on pulang kerumahnya. Shi-on menatap sofa tapi tak ada Gun-woo disana. Hanya ada senjata dan note didekatnya.
Sampai rumahmu aman gunakan ini. P.S. Jangan tembak.’ Shi-on menarik pelatuk senjatanya, benar saja itu hanya senjata mainan milik Gun-woo. Shi-on tersenyum.
~~~



Gun-woo ada di Pusat Kontrol Lalu Lintas Kota.
Gun-woo sedang memperhatikan CCTV yang terpasang tak jauh dari rumah Shi-on. Gun-woo meminta untuk mengunglang video saat pelaku penyerangan dirumah Shi-on diulang. Petugas yang membantu Gun-woo mengeluh, Juniorku adalah Bosku.
Gun-woo meminta untuk mencocokkan wajahnya. Petugas merasa itu tak bisa karena gambar terlalu kecil dan gelap.
Gun-woo menyuruh untuk melihat CCTV di blok berikutnya.



Moon-sik yang mengikuti Gun-woo menyuruhnya untuk jangan mengganggu petugas yang bekerja.
Gun-woo mengatakan kalau dia akan menangkap pelakunya sendiri. Moon-sik tak perduli yang penting harus cepat selesai dalam 10 menit(mungkin 10 menit dalam melihat video ini).


Gun-woo menemukan sesuatu di rekaman CCTV. Gun-woo melihat mobil yang dibawa pelaku dan plat mobilnya terlihat jelas. Moon-sik sedikit tertarik.
Gun-woo menyuruh Moon-sik untuk mencari alamat pemilik plat nomer dan mengirim alamat pemiliknya. Gun-woo lalu pergi dengan tergesa-gesa.
~~~




Shi-on akan keluar dari ruangan. Seong-chan awalnya berbasa-basi tapi kemudian dia bertanya bagaimana Hubungan Shi-on dan Gun-woo. Shi-on dingin, apa?
“Aku lihat kalian jadi lebih dekat. Tidakkah begitu?” tanya Seong-chan.
Shi-on tak perduli menyuruh Seong-chan melanjutkan kerjanya.


Ponsel Seong-chan berbunyi. Pesan masuk, itu dari Wanita Paranormal. Namanya Jang Hee Bin (inget JOJ).
Gun Woo, kau sedang apa? ‘ Seong-chan tersenyum membaca pesan Hee Bin.
~~~


Hee Bin di tempatnya sedang membaca artikle di internet, “Mencuri hati seseorang yang mengenakan mahkota. Kekuatannya akan meningkatkan kemampuanmu dengan drastis.”
Hee Bin berfikir, mahkota? Kekuatan?



Sebuah pesan masuk dari Seong-chan. Hee Bin jelas senang.
Hee Bin, apa yang kamu lakukan?’ Tanya Seong-chan. Hee Bin tersenyum, merasa kalau Seong-chan sudah jatuh padanya.
Hee Bin : ‘Aku berlatih dance. Bagaimana denganmu?’
Seong-chan : ‘oppa sedang menilai para petugas di kantor. Anak-anak jaman sekarang, mereka kurang dididik dengan baik. Hee Bin, kapan kita bisa bertemu lagi?
Hee Bin mengirim pesan, bagaimana kalau akhir pekan?
Hee Bin bergumam senang, Mr. Cutie Policeman. Hahaha..
~~~



Hotel Message Salon
Shi-on sedang melakukan investigasi di Hotel Message Salon, “Jadi anda bilang, terakhir kali dia ada di sini adalah tanggal 12 Januari 2013. Kamu bilang dia lain dari biasanya, bukan?”
“Ya. Dia biasanya selalu datang dengan tunangannya tapi hari itu dia datang sendirian. Oh benar. Seorang wanita datang dan mereka pergi bersama setelah itu.” Tutur pegawai disana.
“Wanita?” tanya Shi-on.
~~~


Shi-on berjalan keluar dari ruang Massage. Dia masih mengingat-ingat kata kata Pegawai, ‘Dia adalah seorang wanita setengah baya dan dia menunggu di luar. Dia cukup modis. Aku mengira itu adalah ibunya.





Shi-on masuk ke lift sambil menunduk, mungkin banyak pikiran menganai teka-teki kasus Yoon-hee.
Tapi kemudian saat didalam lift, tiba-tiba lampu mati-nyala-mati. Shi-on terkejut. Tak ada apapun disekitarnya, Shi-on mendekat ke arah tombol alarm tapi seketika lampu lift menyala. Shi-on menghela nafas lega.




Shi-on balik lagi tapi dikejutkan dengan ada Yoon-hee yang  tubuh mengambang tanpa kaki. Namun tiba-tiba tubuh Yoon-hee yang membeku menjadi seperti terbakar dan mengeluarkan asap. Dan saat itu pula, besi pegangan yang ada di lift seperti ikut terbakar sehingga terlihat merah membara. Shi-on terkejut.
Lampu mati lalu saat menyala Yoon-hee sudah tak ada.


Shi-on masih dengan keterkejutannya melihat kembali telapak tangan yang tadi panas. Tak berbekas.
~~~


Gun-woo masuk ke kantor Pusat Kehilangan dan Ditemukan dengan terburu-buru. Dia mendapati ruangan yang sudah berantakan.
Gun-woo menelfon Moon-sik, “Senior, alamat yang kau berikan padaku hari ini, aku menemukan sesuatu yang cocok. Tolong, selidiki dulu dari mobil yg sebelumnya, cepatlah.”




Shi-on berjalan memasuki kantor dengan berbagai pikiran. Dia teringat dengan potongan tangan dengan warna yang berubah karena sebelum dibuang terlebih dahulu telah dibekukan. Dan teringat saat Yoon-hee terlihat begitu kedinginan karena beku dan kejadian tadi Yoon-hee terlihat seperti akan terbakar.
Shi-on bergumam, apa yang sebenarnya terjadi?




Shi-on berjalan melewati sebuah kaca. Shi-on meliriknya ragu. Benar saja disana sudah ada bayangan Yoon-hee yang terlihat terbakar. Shi-on menguatkan dirinya dan mendekati Yoon-hee, apa yang terjadi?
Yoon-hee terlihat akan menangis. Dia mulai beranjak dengan kaki yang tak ada, Shi-on pun mengikuti Yoon-hee.
~~~



Gun-woo menelfon Moon-sik untuk meminta alamat pemilik mobil yang kemarin. Moon-sik mengeluh karena dia bukan pesuruh Gun-woo. Moon-sik memberitahu kalau dia sudah mengirim alamatnya pada Gun-woo tapi Moon-sik berpesan untuk jangan membuat masalah.
Gun-woo meng-iya-kan.
~~~



Shi-on mengikuti Yoon-hee terus. Shi-on sampai didepan sebuah gedung, dia sendiri bingung apa maksudnya dan menerawang kesekeliling.
Shi-on melihat beberapa orang yang sepertinya melakukan upacara pemakaman. Dengan kotak abu yang dibawa bapak pemimpin.
~~~


Gun-woo diperjalannya menangkap pelaku penyerangan mendapatkan panggilan, dari suaranya seperti Jaksa Park.
Diseberang, orang itu memberitahu kalau mereka sudah dapat mengidentifikasi lokasi kejadian. Gun-woo langsung bertanya, dimana?
~~~


Shi-on berjalan memasuki gedung pengkremasian mayat. Dia berjalan berkeliling, melihat satu demi satu setiap ruang yang dilewati. Kemudian dia berhenti didepan salah satu ruang kremasi, Shi-on seperti terkejut. Entah melihat apa.



Gun-woo sampai ditempat pembakaran mayat dengan diikuti mobil polisi. Gun-woo masuk dengan sangat tergesa-gesa.
~~~


Shi-on menuju kedepan ruangan itu sambil menujukkan IDnya pada salah seorang yang sedang menunggu diluar ruangan, Pria Koper. Shi-on berusaha untuk masuk, Pria Koper menghalangi. Shi-on bertanya apa hubungan Pria Koper dengan orang yang ada didalam. Pria Koper mengatakan kalau dia adalah saudara perempuannya. Shi-on meminta tanda Pengenal.


Pria itu mengambil kartunya disaku jas, tapi Shi-on melihat pria tadi menyembunyikan pisau dipinggang. Shi-on seperti siaga. Pria itu memberikan surat keterangannya.




Shi-on membaca surat keterangan namun tangannya yang tersembunyi mengambil senjata yang diberikan Gun-woo. Shi-on meminta ID pria tadi. Pria Koper marah, Kau memeriksa sertifikat kematian!
Pria Koper mengacungkan pisau, Shi-on sigap menodongkan pistolnya. Saling mengacungkan senjata.



Gun-woo berlari, dia membawa pentungan satpam (Tau?), Gun-woo melawan Pria Koper dengan itu. Pria Koper mencoba menusukkan pisaunya pada Gun-woo tapi Gun-woo menghindar sehingga Pria koper hanya bisa menusuk udara. Karena serangan yang luput membuat tubuhnya oleng, Gun-woo mengambil kesempatan langsung memukulkan tongkatnya ke kaki Pria Koper.
Polisi segera menangkap Pria Koper yang telah jatuh, kalah dari Gun-woo.



Gun-woo menatap Shi-on yang masih tegang. Gun-woo melirik tangan Shi-on dan menghela nafas. Bagaimana Shi-on hanya membawa senjata palsu sebagai perlindungan.
~~~



Shi-on dan Gun-woo pulang dengan mobil yang sama.
Gun-woo : ” Apa yang kau lakukan dengan senjata palsu?”
Shi-on : ” Apa, apa yang kau pikir? Aku hanya mencoba untuk menakutinya. Bukankah karena itu kau menyerah? Sebagai taktik pertahanan diri.”
Gun-woo : “br*ngsek itu adalah orang yang masuk ke rumah mu. orang itu adalah orang yang ditemukan setelah menindaklanjuti di pusat tugas senior Choi . kebetulan Detektif Lee menemukan bahwa pria itu adalah tersangkanya. Ini rumit.”



Gun-woo melihat wajah Shi-on yang masih belum tenang, kenapa? Bukankah sudah menemukan pelakunya?
Shi-on merasa kalau ini belum selesai. Gun-woo bertanya apakah Shi-on masih memikirkan kalau pelakunya adalah Jaksa Park dan korbannya adalah tunangannya.
Shi-on terdiam.
~~~



Pusat Forensik
Gun-woo menemui petugas forensik, Petugas langsung memberikan hasil identifikasi. Mereka menemukan identitasnya karena menemukan susunan gigi yang tak lengkap. “Jang Yoon-hee”
Gun-woo melihat foto yang dibawa beserta identitas, terpampang foto pre-wedding Jaksa Park dan Yoon-Hee. Gun-woo teringat analisa Shi-on yang mengatakan kalau korbannya adalah Tunangan Jaksa Park.
Gun-woo menatapnya seolah tak percaya, apa ini benar?
~~~


Shi-on menatap jalannya interogasi antara Pria Koper dan Jaksa Park. Jaksa Park terlihat sangat kesal.



Jaksa Park menari kerah baju pelaku dan mendorongnya kedinding, “Siapa yang membunuh Young Hee?”
Pria Koper mengaku kalau dia bukan pembunuhnya. Jaksa Park makin geram, “Aku tidak peduli kalimat macam apa yang kau katakan. Tunggu dan lihat saja. Aku akan menyiksamu sampai kau mati.”
Pria Koper mengaku saat dia datang Yoon-hee sudah mati.




Jaksa Park menginterogasi tanpa menatap wajah Pria Koper. Dia sepertinya tak kuat jika harus berhadapan dengan orang yang telah membunuh orang paling dikasihinya.
Jaksa Park : “Aku memberimu satu kesempatan terakhir. Kalau begitu beri aku alamatnya.”
Pria Koper : “Seoul, Gangnam-Gu, Dogok-dong”
Mendengar alamat yang disebutkan membuat wajah Jaksa Park perlahan melunak, dia menahan tangis. “Apakah kamu mungkin... klienmu adalah..”
~~~


Ins. Lee melakukan interogasi, “Tangannya dibekukan untuk menghancurkan sidik jari, dan sisanya membusuk. Tapi tubuhnya lalu digali dan membawa tubuh ke tempat kremasi.”


Jaksa Park melihat jalannya introgasi dengan menahan tangis. Bagaimana tidak, pelakunya adalah ibunya sendiri.
Ibunya menangis, aku tak tau kalau semuanya akan berjalan begitu jauh.






Jaksa Park tak tahan lagi dan menerobos masuk keruang introgasi, Ibunya langsung memalingkan wajahnya tak ingin melihat bagaimana kemarahan putranya.
Jaksa Park menggebrak meja dengan menangis histeris, “aku tak tau kalau semuanya akan berjalan begitu jauh? Kau tidak tahu kalau kau sudah keterlaluan? Apakah kamu manusia?”
Jaksa Park terduduk tak tahan lagi menahan kesedihannya.
FLASHBACK



Ibu Jaksa Park menemui Yoon-hee, Dia memang sudah tak menyukai Yoon-hee sejak awal. Dia menyuruh Yoon-hee untuk menjauhi putranya. Ibu Jaksa Park menyerahkan amplop pada Yoon-hee.




Ternyata didalamnya ada foto Yoon-hee dan ibunya sedang berbelanja pakaian ditempat mewah. Ibu Jaksa Park langsung menuduh Yoon-hee memakai uang Jaksa Park, “Ibu dan anak, sama-sama mata duitan”
Yoon-hee membela diri kalau ibunya bukanlah orang seperti yang dituduh mertuanya. Tapi Ibu jaksa Park tak terima kata-katanya dibantah dan menampar Yoon-hee.




Sebuah panggilan masuk, ibu melihatnya segera melempar tas Yoon-hee keluar mobil. Namun tiba-tiba asma Yoon Hee kambuh, ibu tak perduli. Bagaimana kau bisa mendukung suamimu jika tubuhmu seperti itu?
Namun ternyata Yoon-hee benar-benar kehabisan nafas. Ibu ikut panik segera mengambil obatnya diluar, tapi saat menemukannya ibu seolah mendapat pikiran jahat. Dia menahan tangannya sendiri agar tak memberikan obat itu pada Yoon-hee.



Yoon-hee melanggapai-gapai pada ibu untuk meminta obatnya. Namun karena dia sudah kalap, dia tega membiarkan Yoon-hee lemas sampai kehabisan nafas dan meninggal. Ibu panik segera menggosok-gosok obat asma yang dipegangnya agar sidik jarinya hilang.
Ibu menelfon seseorang, Mr.Park(pria koper) segera datang kesini.
Setelah mendapat bayaran Mr.Park menjalankan misinya untuk melenyapkan Yoon-hee.
FlashBack End
~~~



Jaksa Park menulis surat pengunduran dirinya. Dia lalu melihat foto yang bingkainya telah retak, “Maafkan aku. karena tidak mempercayaimu, dan hingga akhirnya aku membencimu, Maafkan aku. Karena tidak bisa menjagamu. Maafkan aku. Yoon Hee.”
~~~


Moon-sik dan Shi-on sedang dicafe bersama. Shi-on berterimakasih karena bantuan Moon-sik tempo hari.
Moon-sik : “Aku dengar dari Gun Woo bahwa kau menyelesaikan kasus itu dengan sekali pukulan. Bagaiman bisa kau mengirim Gun Woo ke departemen yang lain? Tolong jaga dia Ketua Tim Yang.”
Shi-on tersenyum, “Setalah kasus ini selesai, aku akan mengrimnya ke departemen lain.”
Moon-sik : “Aku pikir dia akan terluka jika kau mengrimnya ke departemen lain. Walaupun ia berkata seperti itu, dia pria yang periang. “



Shi-on merasa Gun-woo senang memiliki Sunbae seperti Moon-sik dan Shi-on merasa kalau dia seperti mengenal Moon-sik sudah lama. Moon-sik tertawa, ini seperti tertulis diwajahku.
Shi-on tertawa. Moon-sik bercanda, banyak orang mengatakan aku seperti raja dalam drama juga.
~~~


Jaksa Park masuk keruang kantornya, dia memandang sekeliling seolah enggan untuk meninggalkan pekerjaanya.




Jaksa Park keluar gedung, dia bertemu dengan Shi-on dan berterimakasih. Shi-on meminta maaf karena telah menuduh Jaksa Park. Sekarang pasti Yoon-hee sudah tenang.
“apa kau berfikir seperti itu?” tanya Jaksa Park.
Gun-woo bertanya apakah Jaksa Park akan kembali. Aku senang bisa bekerja sama denganmu. Jaksa Park tak menjawan dan pamit pergi.



Dijalan sudah menanti Yoon-hee yang sudah terlihat bahagia. Dia mendekati Jaksa Park dan menggandeng tangannya meskipun Jaksa Park tak bisa merasakan. Yoon-hee menatap Shi-on mengangguk seolah berterimakasi.
Shi-on tersenyum dan balas mengangguk.



Gun-woo menghalangi pandangan Shi-on, apa yang kau perhatikan?
Gun-woo sekarang menolak tentang kepindahannya. Shi-on mengatakan kalau itu akan dilakukan segera, kenapa kau tak jadi?
Gun-woo merasa karena ada yang disembunyikan Shi-on. Gun-woo mengatakan akan mengikuti Shi-on sampai akhir.
~~~





Gun-woo dibasement sedang mengecek barang-barang yang telah ditemukan satu persatu.
Gun-woo melirik sesuatu di laci, ada sebuah kotak. Shi-on melihatnya, ini tak ada didaftar. Gun-woo mengocok kotak itu. Gun-woo mencoba membukanya tapi tak bisa, Shi-on memintanya.
Saat Shi-on memegang kotak itu, tiba-tiba kepalanya pusing.


Gun-woo bertanya apa yang terjadi. Shi-on mengatakan kalau dia agak pusing. Gun-woo menyuruhnya kembali, dia akan mengorganisir semuanya.
~~~



Shi-on memasuki kantor, dia masih merasakan pusing.
Shi-on berselisih jalan dengan seseorang, dia sedikit curiga dan berbalik. Tapi orang itu tak menoleh jadi Shi-on tak melihat wajahnya. Shi-on pun melanjutkan jalannya.



Ketika Shi-on sudah pergi, orang itu menoleh memperlihatkan wajahnya. Dan terlihatlah wajah Hyung-joon, kekasih Shi-on yang telah lama meninggal.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar