Rabu, 28 Agustus 2013

Drama Korea I Miss You Episode 16 part 2





Setelah ayahnya pergi, Jung Woo mulai membongkar ruang kerja ayahnya. Ia membuka-buka semua dokumen yang ada di lemari ayahnya dan menemukan dokumen Zoe dan Harry Borrison yang pernah diberikan Sekretaris Yoon pada ayahnya.



Ia juga melihat ada sebuah lemari yang terkunci. Sepertinya sebuah safety box. Ia memotret lemari itu dan mengirimkan gambar itu pada Detektif Joo dan bertanya bagaimana cara membuka kotak itu.


Di tempat kerjanya, Soo Yeon menyimpan USB itu ke dalam sepatu yang terpajang di rak dekat tempat tidurnya.


Mendadak tasnya yang berisi benang wol terjatuh. Ia segera mengejar gulungan benang itu, namun gulungan itu berhenti saat mengenai sepasang kaki.


Jung Woo.


Soo Yeon terkejut melihat kedatangan Jung Woo. Apalagi Jung Woo langsung memegang pipinya, dan bertanya darimana Soo Yeon pergi karena wajah Soo Yeon amat sangat dingin.


“Tanganmu bahkan lebih dingin lagi,” jawab Soo Yeon, “Aku pergi untuk membeli beberapa benang. Aku ingin merajut untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang lain.”


Ahh.. jadi Jung Woo menempelkan tangan ke pipi untuk menghangatkan tangan, ya. Mata Jung Woo melebar mendengar kalimat Soo Yeon yang terakhir.


“Pikiran yang lain?” tanya Jung Woo tiba-tiba dan langsung mengecup bibir Soo Yeon, sehingga Soo Yeon terkejut. Jung Woo menebak pikiran Soo Yeon yang lain itu, “Ddukbokki?” ia pun mengecup Soo Yeon lagi, “Sundae?” dan mengecup bibir Soo Yeon lagi, “Soda?” kali ini ia mencium Soo Yeon dan tersenyum menatapnya, “Aku membawa semuanya untukmu.”


Aww.. Soo Yeon terpana menerima ciuman itu, tak menyadari kalau Jung Woo telah mengacungkan buku hariannya dan berkata, “Kita akan menggunakan ini bersama-sama mulai sekarang, jadi aku akan memintamu untuk menyimpannya.”


Soo Yeon kembali terpana dan tersenyum melihat kembali buku hariannya, “Kau benar-benar menyimpannya?”


Tapi senyumnya hilang saat mendengar Jung Woo mengutip tulisan di buku hariannya, “Tik! Hanya satu lingkaran yang muncul, ‘Aku menyukainya. Tetes hujan yang memberitahukanku. Tetes hujan yang memberitahukanku kalau aku menyukaimu.”


“Berikan padaku,” pinta Soo Yeon sambil merebut buku harian itu dari tangan Jung Woo. Tapi tak mudah, karena Jung Woo langsung lari kabur dari jangkauan Soo Yeon, sehingga Soo Yeon harus mengejarnya untuk mengambil buku harian yang jauh di atasnya.


“Han Jung Woo! Berikan padaku!” Soo Yeon semakin panik karena Jung Woo terus menghindar dan menggodanya dengan menyebutkan semua kata-kata yang ia tulis di buku itu. Jika kau berharap tanpa putus asa, harapanmu akan menjadi kenyataan. Mengharaplah dengan melempar kerikil di genangan air.


“Kupikir aku akan gila. Walau kau ada di sampingku, aku selalu memikirkanmu,” ujar Jung Woo kembali menirukan kata-kata di buku hariannya. Soo Yeon terus mengejar Jung Woo.


Tapi kali ini ia tak menghindar lagi, malah menangkap Soo Yeon dan berkata lembut saat memeluknya, “Soo Yeon, berkat buku harian itu, aku mampu bertahan selama ini. Tetaplah mencintaiku seperti itu.”


Dan Soo Yeon menjawab permintaan Jung Woo dengan menyentuh pundak Jung Woo lembut dan membalas pelukannya. Merasakan pelukan itu, Jung Woo semakin mempererat pelukannya.


Ternyata kepergian Tae Joon dari rumah adalah ide dari Harry. Atas perintah Harry, Sekretaris Yoon mengatur pertemuan antara investor Jepang yang hendak menemui Tae Joon untuk urusan investasi di Kamboja. Harry menyuruh Sekretaris Yoon untuk menahan Tae Joon di sana.


Kepergian Tae Joon berarti rumah menjadi kosong dan Harry dapat leluasa mastanuk ke rumah itu. Di halaman rumah, Harry menatap rumah Tae Joon dengan berbinar-binar dan berkata

“Zoe, aku datang untuk menemui ibuku.”


Menemani Soo Yeon makan ddukbogi, Jung Woo menggulung benang wol  dan menceritakan kekesalannya karena gagal menangkap penjahat, bahkan sampai dua kali.


Ia juga kesal karena penjahat itu bahkan sempat menyandera Ah Reum agar bisa lolos, “Kalau ia tertangkap, ia akan aku pukuli sampai mati. Lima pukulan godzilla!”


Soo Yeon heran mendengar penjahat itu sampai mendatangi rumah Jung Woo. Dan Jung Woo pun menceritakan kalau ada beberapa kasus pembunuhan yang semuanya berkaitan dengan kejadian yang mereka alami 14 tahun yang lalu, “Aku tak begitu yakin akan alasan pembunuhan itu. Aku juga ingin membunuh Kang Sang Deuk dan Kang Sang Chul. Tapi, Soo Yeon, kau pun juga tahu kan kalau seseorang tak boleh membunuh orang lain?”


Soo Yeon terdiam, mendengarkan kelanjutan cerita Jung Woo. Jung Woo menduga kalau penjahat itu menyimpan dendam pada keluarganya, “Karena itu ia datang ke rumah. Ia seakan bergerak di sekitarku.”


“Kau mungkin juga dalam bahaya,” ujar Soo Yeon khawatir. Tapi Jung Woo menenangkan kalau ia adalah si kelinci gila dari bagian reserse kriminal, jadi Soo Yeon tak perlu khawatir.


Namun kekhawatiran Soo Yeon menjadi berlipat-lipat saat Jung Woo menunjukkan foto di handphnenya dan mengatakan kalau ternyata tante yang pernah ia ceritakan bukanlah tantenya.


Wanita yang menurut Jung Woo lebih cantik, tapi bukan kecantikan wajah wanita itu yang dilihat Soo Yeon, melainkan kemiripan foto wanita itu dengan foto wanita yang disebutkan Harry sebagai ibunya yang sudah meninggal.

Soo Yeon langsung mengerti mengapa Harry tiba-tiba memukul tangan Jung Woo saat Jung Woo akan menunjukkan foto tantenya. Ia juga menyadari apa maksud Harry yang ingin menjadikan anak penjahat yang membuat kakinya pincang sama seperti dirinya. Ia tahu siapa penjahat itu, dan ia tahu siapa putra penjahat itu.


Handphone yang ia pegang terjatuh, membuat Jung Woo cemas dan segera menghampiri Soo Yeon. Tapi Soo Yeon tak dapat menceritakan semua ini, karena jika ia menceritakan tentang Harry, maka mungkin akan membahayakan Harry. Ia hanya bisa meminta, “Kuharap kau tak melakukan apa yang sedang kau lakukan sekarang.”


Jung Woo tersenyum mendengar Soo Yeon yang mengkhawatirkannya. Maka untuk menenangkannya, Jung Woo mengajak Soo Yeon untuk menemui Detektif Choi, yang sudah dianggap ayah oleh almarhum Detektif Kim, “Aku tak ingin pergi sendiri. Karena malu, aku bahkan tak berani menemuinya hingga sekarang.”


Tapi Soo Yeon berkata kalau ia merasa lebih malu lagi. Karena dialah, Detektif Kim tewas, “Katamu ia mendapat kecelakaan saat mengikutiku.”


Jung Woo menatap wajah Soo Yeon yang tertunduk. Ia dapat merasakan kalau Soo Yeon menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Soo Yeon membantahnya. Dan untung bagi Soo Yeon karena Mi Ran meneleponnya.


Ia buru-buru pergi ke kamar tidurnya untuk menerima telepon itu di bawah tatapan curiga Jung Woo. 


Ternyata Mi Ran berterima kasih karena berkat Soo Yeon, Harry mau membantunya. Soo Yeon terkejut mendengar Harry sekarang berada di rumah Mi Ran (yang berarti ada di rumah tempat ibu Harry tinggal).


Ia meminta Mi Ran untuk memberikan handphonenya pada Harry, tapi Harry tak mau. Dan Mi Ran pun yang menduga kalau Soo Yeon sedang bertengkar dengan Harry, menutup teleponnya.


Soo Yeon semakin cemas dan mencoba menghubungi handphone Harry. Tapi Harry tak mau mengangkatnya. Soo Yeon kembali menelepon Mi Ran, tapi Mi Ran menuruti perintah Harry untuk tak mengangkatnya dan memeriksa dokumen kredit yang ia bawakan untuk Mi Ran.


Harry mengalihkan perhatian Mi Ran pada maksud tujuannya ia datang kemari. Apakah Mi Ran yakin kalau uang yang ia pinjamkan untuk pembukaan butik nanti? Mi Ran mengatakan cukup.

Tapi yang membuatnya tak enak adalah karena ia kembali meminjam uang, padahal uang yang dipinjam Sekdir Nam belum kembali. Ia lebih suka jika Hyung Joon berinvestasi di butiknya daripada meminjamkan uang (mungkin tanpa bunga)  seperti ini.


Harry mengatakan kalau yang ia lakukan ini hanyalah formalitas, jadi ia meminta Mi Ran untuk tak merasa terbebani. Ia juga menyadari kalau Tae Joon belum mengembalikan uang yang dipinjam darinya.


Mi Ran mengakui kalau kondisi keluarganya sedang dalam kondisi sulit, bahkan Jung Woo pun juga keluar dari keolisian, “Kau adalah benar-benar teman Jung Woo, kan?”

Harry membenarkan walau mengatakan kalau Jung Woo membuatnya gugup setiap waktu karena ia tak tahu kemana Jung Woo akan pergi. Walau begitu, Harry mengatakan kalau Jung Woo adalah teman yang mengasyikkan.


Jung Woo semakin tak dapat menutupi kecurigaannya saat selesai berbicara di telepon, Soo Yeon langsung membereskan makanan yang belum habis ia makan. Ia juga menyuruh Jung Woo untuk segera pergi menemui Detektif Choi.


Jung Woo langsung berjalan menghampiri Soo Yeon. Bukannya mengatakan kecurigaan, Jung Woo malah meletakkan handphone ke tangan Soo Yeon, “Segeralah angkat. Kalau kau tak mengangkat dalam 3 deringan, aku akan membawa surat penahanan untukmu.”


Soo Yeon tersenyum mendengar gurauan Jung Woo dan meminta agar Jung Woo berhenti mencemaskannya. Ia berharap agar Jung Woo pulang dari tempat detektif Choi dengan membawa kabar baik. Jung Woo tersenyum dan berkata kalau ia tak mendapat kabar baik, maka ia akan membuatnya.  


Jung Woo merangkul bahu Soo Yeon dan mengerti perasaan Soo Yeon yang sedang mencemaskan Harry. Soo Yeon tak perlu membohonginya dan memendamnya sendirian. Soo Yeon dapat menceritakannya padanya. Walau ia merasa ingin menghajar Harry karena mengganggu pikirannya, ia dapat pergi minum dan tahan dipukul (seperti yang Harry lakukan padanya)


Soo Yeon merasa bersalah jika Jung Woo merasa seperti itu. Tapi Jung Woo meminta agar Soo Yeon tak merasa bersalah, karena rasa cintanya jauh melebihi perasaan bersalah Soo Yeon, “Aku akan segera kembali. Tunggulah aku,” bisiknya lembut.


Mendengar hal itu, Soo Yeon langsung memeluk Jung Woo, mengagetkannya. Dalam hati Soo Yeon meminta,

“Jung Woo ya, tak peduli apapun yang aku lakukan, tak peduli kemanapun aku pergi, pastikan kalau kau selalu mencariku, ya?”

Jung Woo mendatangi tempat bilyar yang dulu pernah ia datangi 14 tahun yang lalu dan kaget melihat tempat itu sepi dan banyak dokumen yang berserakan.


Kakek Choi juga kaget melihat Jung Woo, dan tak mengenalinya. Apalagi Kakek Choi pun memukul kepalanya karena berbicara dengan non formal padanya. Jung Woo meminta maaf dan dengan bahasa jeonmal, ia menceritakan dirinya dan detektif Kim untuk menyegarkan ingatan Kakek Choi. Tapi kakek Choi malah mengusirnya, “Keluar kau. Dasar si kelinci gila!”


Jung Woo terbelalak mendengar panggilan itu, yang berarti kakek Choi sudah tahu siapa dirinya. Ia juga terbelalak melihat tumpukan koran yang ada di sana. Semuanya adalah informasi tentang kejadian 14 tahun yang lalu.


Kakek Choi berkata kalau ia melakukan penyelidikan ini karena iseng. Tapi Jung Woo bertanya apakah Kakek Choi juga pergi ke RSJ Jaekyung karena iseng? Bagaimana Kakek Choi tahu kalau kejadian 14 tahun yang lalu ada hubungannya dengan RSJ Jaekyung?


Jung Woo seakan mendapatkan mata kuliah Pengantar Menjadi Detektif, karena Kakek Choi menjelaskan kalau gudang tempat Jung Woo dan Soo Yeon diculik dan tebing tempat Detektif Kim jatuh,  berada di wilayah yang sama dengan RSJ Jaekyung. Wilayah Suseong,

“Dengan mengejar bukti yang hanya di depanmu, kau tahu sudah berapa bukti yang kau lewatkan? Pertama-tama, kau harus memahami jalur yang ditempuh si pelaku.”

Kakek Choi memberitahu kalau pelaku juga bersembunyi di tempat yang sama dengan tempat tinggal Soo Yeon yang terakhir dan cukup terkejut karena Jung Woo tahu kalau tempat tinggal Soo Yeon terakhir adalah di dekat pabrik batu bara. 

Jung Woo menjelaskan kalau ia tahu karena kata-kata Detektif Kim saat meneleponnya (‘Serbuk batu bara membuat tenggorokanku gatal’). Ia telah memeriksa tempat di sekitar situ namun pabrik itu sudah tak ada. Sementara Kakek Choi tahu tentang pabrik batubara karena ditemukan serbuk itu di mobil Detektif Kim.

Kakek Choi berkata kalau semuanya sudah terbakar, bahkan gudang tempat Jung Woo disekap pun juga terbakar. Jung Woo berkata kalau semua itu adalah tindakan ayahnya, “Tentunya kakek juga mengetahui hal ini, kan? Karena itu Kakek tak mencariku, kan?”


Kakek Choi terkejut mendengar kata-kata Jung Woo. Tapi Jung Woo berkata kalau ia sudah tahu kalau ayahnya terlibat dalam kejadian ini, dan ia sudah siap dan meminta Kakek Choi untuk menceritakan semuanya.


Harry ditinggal sendiri, karena Mi Ran mengurusi Hyun Joo yang sepertinya keluar kamar. Ia sangat geram mendengar percakapan Mi Ran yang memarahi ibunya. Ah Reum yang disalahkan karena tak mengawasi Hyun Joo juga ikut kesal dan bertanya pada ibunya, mengapa wanita itu tak dibawa ke rumah sakit jiwa saja jika ibunya tak sanggup menanganinya?


Harry hanya bisa mencengkeram tongkatnya dan menatap marah pada orang-orang yang ribut di balik pintu.


Tapi begitu pintu terbuka, ia menampakkan muka manisnya dan berkata pada Mi Ran kalau ia telah meminta pengacaranya untuk mengirim dokumen via fax. Mi Ran diminta untuk merubah tenggat waktu untuk hutang yang ditinggalkan Sekdir Nam dengan tulisan tangannya sebelum ditandangani. 


Mi Ran yang tak paham akan masalah hukum meminta agar mereka lakukan seadanya saja. Tapi Harry berkata kalau mereka harus melakukan dengan benar dan mengulang prosedur yang harus Mi Ran lakukan. Mi Ran membuka draft dokumen dan Harry menggunakan kesempatan itu untuk keluar kamar.


Saat diluar, ia melihat kamar di sebelah, dan setelah sesaat ragu, ia membuka kamar itu.


Soo Yeon ternyata pergi ke rumah Jung Woo. Sepanjang perjalanan ia terus menelepon Harry tapi tak berhasil. Sesampainya di depan gerbang, ia ditahan oleh para satpam yang mendapat perintah untuk tak membiarkan orang lain masuk. Tapi Soo Yeon tetap memaksa masuk.


Dan Harry pun melihat ibunya. Ibunya yang duduk di tempat tidur sambil membuat kerajinan dari plastik. Ia terpaku melihat ibunya, tongkat yang ia pegang terjatuh, membuat ibunya kaget.


Saat menoleh, Hyun Joo kaget melihat seorang pria muda berjalan tertatih-tatih menghampirinya, dan berkata sambil menangis, “Ibu, apakah ini ibu?”


Hyun Joo mulai memanggil nama Han Tae Joon dengan lirih, tapi ia diam saat Harry berkata sambil menangis seakan memohon, “Ibu.. ini aku, Joon. Hyung Joon. Satu-satunya yang paling ibu cintai di dunia ini.”


“Bayi..” gumam Hyun Joo. Dan ia teringat saat ia memanggil Bayi.. Bayi.. Joon.. Bayi..dan melihat saat Hyung Joon diseret oleh Perawat Hye Mi masuk ke dalam mobil.


Hyung Joon mencoba memeluk ibunya, tapi ibunya menjauh dan malah menyuruhnya memanggil Han Tae Joon. Dari luar terdengar suara Soo Yeon yang mencari Harry. Dan terdengar pintu terbuka.


Soo Yeon masuk, dan saat itu juga ibunya berteriak-teriak, “Panggilkan Han Tae Joon.. Panggil Han Tae Joon!! Kenapa kau tak panggil Han Tae Joon!! Han Tae Joon!!”


Hyung Joon terkejut melihat ibunya tak mengenalinya malah mencari Han Tae Joon. Soo Yeon yang melihat wanita yang hanya pernah ia lihat di foto, dan melihat Harry yang shock, segera memeluk Hyung Joon dan menutup telinganya.


Mi Ran masuk dan segera menenangkan Hyun Joo. Tapi Hyun Joo sudah histeris dan berteriak memanggil Han Tae Joon.


Walau dipeluk Soo Yeon, Hyung Joon tetap ingin menatap ibunya, berharap ibunya mengenalinya. Tapi ibunya tetap berteriak dan tak mengenalinya, membuat tangis Hyung Joon semakin keras. Soo Yeon mencoba menenangkannya, tapi Hyung Joon tak dapat menahan diri. Ia terus menangis.


(Seakan malu) Mi Ran menutupi Hyun Joo dengan selimut dan meminta Soo Yeon untuk membawa Harry pergi.


Walau begitu ia sempat melihat Harry yang menangis tersedu-sedu yang ditenangkan oleh Soo Yeon  yang berkata, “Jangan dengarkan.. jangan dengarkan.. semuanya baik-baik saja..”


Harry pergi dari rumah dan langsung memasuki mobil. Soo Yeon mengejarnya dan masuk ke dalam mobil. Ia meminta Harry untuk tenang dan berbicara sebentar dengannya. Tapi Harry yang sudah kalap, tak mau. Ia melarikan mobilnya dengan kencang. Soo Yeon hanya bisa mengawasi Harry dengan khawatir.


Jung Woo mengambil kotak dari rak paling atas dan membongkar isinya. Salah satu isinya adalah plastik berisi kaleng soda yang tergencet separuh. Namun yang menarik perhatiannya adalah sebuah foto.


Foto seorang wanita yang dulu pernah ia lihat. Wanita yang saat ia lihat sudah menjadi mayat.


Michelle Kim.


Ia teringat reaksi Sekdir Nam saat ia menunjukkan foto Michelle Kim. Dan ia juga menyadari sesuatu kalau foto itu terlalu tebal untuk sehelai foto.


Ia mengambil foto itu dari plastik pembungkus, dan melihat foto itu ada dua. Ia melepas foto Michelle Kim dari kertas di bawahnya.


Dan ada foto anak laki-laki di sana. Foto anak laki-laki yang pernah ia selamatkan saat terjadi kebakaran di dekat rumah Soo Yeon. Foto anak laki-laki yang kakinya terluka parah. Dan ia juga teringat saat ia melihat Harry Borison pertama kali dengan kakinya yang ditopang tongkat.


Dan ia menyadari semuanya.


Di tempat yang sepi, Harry menghentikan mobilnya tiba-tiba dan berteriak meluapkan kemarahannya. Soo Yeon bertanya tentang perasaan Harry. Tapi Harry menjerit, “Aku ini Joon! Aku ini Joon. Kang Hyung Joon!!”


Soo Yeon kaget mendengar Hyung Joon yang histeris pada masa lalunya. Perlahan ia mengajak Hyung Joon pulang.


Tapi Hyung Joon malah bertanya, “Kau melihat ibuku, kan? Ia tak mengenaliku,” kata Hyung Joon geram, “Semuanya ini karena Han Tae Joon. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?”


Seakan tak kaget, Soo Yeon menjawab kalau lebih baik mereka membicarakan hal ini dirumah. Hyung Joon bertanya apakah Soo Yeon sudah tahu tentang hal ini?


Soo Yeon menjawab kalau ia sudah tahu kalau orang yang melukai kaki Hyung joon, orang yang membuat ibu Hyung Joon disangka sudah mati dan sekarang seperti ini adalah Han Tae Joon, “Dan kau juga sudah mengetahuinya. Kang Hyung Joon, apa karena itu kau datang ke sana untuk menemui ibumu, kan?”


Hyung Joon membantahnya, “Aku tak tahu.” Tapi Soo Yeon tak percaya, “Kau tahu.”

“Lee Soo Yeon!” bentak Hyung Joon. “Kenapa kau melakukan hal ini padaku?”


“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Soo Yeon.

“Kenapa? Apa kau takut kalau aku akan membunuh Han Jung Woo?” bentak Hyung Joon.


Dan tak disangka, mobil Jung Woo datang dan ia keluar dengan menghampiri sisi pintu mobil Hyung Joon. Tanpa ba bi bu, ia langsung membuka pintu mobil Hyung Joon.


Hyung Joon membentak, menyuruh Jung Woo untuk menutup pintu mobilnya.


Tapi Jung Woo dengan tenang berkata, “Temperamennya masih juga belum berubah. Persis seperti 14 tahun yang lalu.”


Soo Yeon terkejut mendengarnya. Begitu pula Hyung Joon. Mereka menoleh pada Jung Woo, yang menyapa seakan bertemu dengan teman lama,

“Lama tak bertemu.. bocah.”

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar