Selasa, 27 Agustus 2013

Drama Korea Who Are You Episode 3 Part 1



O iya chingu, saya ternyata dari kemarin salah menyebut nama. Yang Shi-oh yang biasa saya sebut ternyata Yang Shi-on. Maaf atas kesalahan penyebutan nama.
Episode sebelum, Sebuah koper perak besar ditemukan disebuah stasiun, Seorang kakek ada yang mengaku mencarinya. Shi-oh masuk ke basement menge-cek barang-barang yang telah ditemukan, dia melihat koper perak itu dan bertemu dengan seorang hantu yang membuatnya ketakutan.
~~~



Shi-on masih dengan ketakutannya menatap hantu wanita tadi. Dia berdiri tegang tak berkutik.

Gun-woo masuk kebasement, melihat Shi-on yang diam terpaku. Gun-woo menyentuh pundah Shi-on untuk menyadarkannya. “Ketua Tim, ada apa? Kau menatap apa?”
Shi-on berusaha menutupi lalu mengatakan tak ada. “Kenapa?”
Gun-woo memberitahu kalau pemilik kopernya datang.



Shi-on beranjak pergi, dengan ragu dia perlahan menoleh melihat hantu tadi. Hantunya masih ada disana.
~~~




Shi-on dan Gun-woo menemui pemilik koper perak. Kakek itu sepertinya sangat buru-buru untuk cepat mengambilnya. Gun-woo menanyakan KTP kakek itu, kakek itu memberikannya. Tapi Shi-on sepertinya curiga dengan si-kakek. Kakek menyadarinya.
Kakek : “im Ki Chul, 631208 – 1098182. 583-1 Mansu-dong, Namdong-gu, Kota Incheon. Aku bisa ambil sekarang, kan?”
Ki Chul akan segera membawa koper itu. Shi-on mencegahnya bertanya apa itu benar koper milik Ki Chul, kalau memang itu milikmu bisa aku lihat isinya?
Kakek menolak karena isinya hanya ini dan itu. Kakek segera ngibrit pergi.


Pintu ruangan Shi-on terbuka sendiri lagi, Shi-on sepertinya menjadi penasaran pada hantu tadi. Dia segera keluar.



Shi-on mengejar Ki Chul yang berlari keluar kantor polisi, disana juga sudah ada taksi sehingga dia bisa langsung pergi membuat Shi-on tak bisa mengejarnya.
Gun-woo juga mengikuti Shi-on, Dia menyerahkan KTP yang diberikan Ki Chul.
~~~




Gun-woo dan Shi-on mengejar taksi yang ditumpangi Ki-chul. Gun-woo menyuruh Shi-on untuk mengembalikan KTP saja. Bukankah mereka sudah melakukan tugas dengan mengembalikan barang pada pemiliknya. “Apa kau semacam jasa antar untuk barang hilang?”
Shi-on merasa Ki-chul itu aneh, hanya dengan melihat mereka bisa tau Ki-chul itu tunawisma. Tapi kenapa dia bisa memiliki taksi yang menunggunya.
Gun-woo juga mengejek Shi-on karena polisi yang mencurigai tunawisma menaiki taksi juga aneh.



Mereka masih terus mengejar taksi Ki-chul. Shi-on mengatakan kalau jika mereka salah memberikan barang pada orang itu juga tanggung jawab mereka. Gun-woo menanyakan kalau curiga kenapa diberikan.
“dia mengambilnya” seru Shi-on. Terlalu lama berdebat, jarak mobil mereka dan taksi agak jauh. Shi-on menyuruh Gun-woo untuk cepat.
~~~





Ki-chul turun dari taksi membawa kopernya dengan tergesa. Ki-chul memasuki tempat mall, Shi-on dan Gun-woo mencoba mencari Ki-chul. Beberapa kali Shi-on melihat sosok Ki-chul dikerumunan dan mengejarnya tapi tak bisa menemukan Ki-chul.
Shi-on menyuruh Gun-woo untuk berpencar. Mereka berdua mencari disetiap suduk mall itu, namun nihil.



Mereka sama-sama tak menemukan Ki-chul. Shi-on merasa kalau mereka hanya mengejar seperti ini tak akan berguna. Jadi lebih baik kita mengidentifikasi’nya dari KTP.
Shi-on bergegas akan kekantor, tapi langkahnya terhenti melihat topi yang digunakan Ki-chul ada di tong sampah. Shi-on mencoba mencari Ki-chul lagi. Mereka melihat sosok Ki-chul yang sedang berdiri didepan sebuah poster.
Gun-woo berteriak padanya, jelas saja Ki-chul langsung berlari menuju tangga darurat. Tapi dengan sigapnya Gun-woo bisa menangkap Ki-chul.




Gun-woo menarik kerah baju Ki-chul. Kenapa kau melarikan diri?
Shi-oh melihat tangan Ki-chul tak membawa koper perak lagi, Dimana kopernya?
Ki-chul diam, Gun-woo berteriak. “Dia bertanya dimana kopernya?”
Lalu tiba-tiba sebuah kunci terjatuh dari saku, Ki-chul. Gun-woo memungutnya, terlihat curiga.” Ini sepertinya kunci loker stasiun kereta bawah tanah.”
 Ki-chul meminta untuk dilepaskan. Gun-woo tak perduli permintaan Ki-chul dan menyeretnya pergi.
~~~





Ki-chul, Gun-woo dan Shi-on pergi ke tempat loker itu. Gun-woo membuka lokernya namun tak ada apapun. Ini membuat Gun-woo kesal, dia menarik baju Ki-chul dan mendorongnya ke dinding. Ki-chul ketakukan, aku tak tahu apa-apa.
Shi-on bertanya apa isi dari koper itu. Ki-chul tentu tak tau karena dia hanya dibayar oleh seorang laki-laki dan menyuruhnya menaruh koper itu diloker.
Shi-on merasa kalau ini tak berguna. “Lepaskan dia. ayo pergi ke kantor”



Gun-woo menyuruh Ki-chul datang kepusat informasi jika bertemu dengan pria tadi. Gun-woo menyerahkan KTP Ki-chul, “Naik taksi saat kau datang. Aku akan membayar ongkosnya.”
~~~



Dalam perjalanan di mobil, Shi-on masih melamun sepertinya dia memikirkan apa sebenarnya isi koper itu, apa hubungannya dengan hantu wanita itu?. Shi-on bergumam apa sebenrnya isi koper itu. Gun-woo juga bertanya apa yang ada dalam otakmu?
Shi-on bingung kenapa Gun-woo sangat ingin tau soal itu. Gun-woo mengatakan kalau dia mencoba tak terlibat semampunya.



Shi-on melirik kejalan, kemana kita akan pergi?
Gun-woo mangatakan kalau dia akan mengantarkan Shi-on karena sepertinya hari ini dia tak fit.
Shi-on meremehkan : “Simpan sikap ingin tahumu untuk orang lain,putar saja mobilnya.”
Gun-woo : “Itu tidak disebut sebagai "ingin tahu," itu disebut persahabatan antara rekan kerja. Kau takkan punya solusi yang brilian biarpun kau begadang semalaman. Kau bahkan tidak tahu apa yang ada didalam kopernya.”
~~~



Seorang pria ber-jas hitam membawa koper perak. Dia berjalan menuju ke mobil. Dia mendapatkan sebuah panggilan dan mengangkatnya.
~~~




Gun-woo mengantarkan Shi-on sampai kedepan rumahnya.
Shi-on berjalan masuk kerumah, tapi dia merasa ada sesuatu yang mengikuti. Dia berbalik dengan terkejut namun tak ada apa-apa. Shi-on mencoba mengatur nafasnya. Namun sesuatu membuatnya ingin berbalik lagi, dia terkejut melihat sosok si hantu wanita kemarin yang memandangnya.
Shi-on jelas ketakutan.



Shi-on segera menyalakan semua lampu dirumahnya, dan juga menyalakan penghangat ruangan. Dia sangat kedinginan, Shi-on masuk kekamar dan mencari jaket tebal untuk dipakainya. Shi-on bergegas duduk ke ranjang, dia mencoba menghangatkan tubuhnya. Dia juga menyembunyikan kepala karena di rumah lampu nyala-mati-nyala.



Shi-on melirik kearah pintu, benar saja disana sudah ada si hantu. Shi-on sangat frustasi, dia begitu ketakutan setiap hari harus bertemu dengan hantu-hantu. Shi-on menguatkan diri dan berjalan membuka pintu lebar-lebar,
Shi-on berteriak : “Apa yang kau inginkan dariku? Menghilanglah! kubilang, menghilang! Aku seperti ingin mati, jadi keluarlah!”




Shi-on keluar dari rumahnya masih dengan mengenakan jaket tebal. Dibelakangnya juga sudah ada si hantu yang mengikuti.
Shi-on masih berjalan dengat tergesa, sepanjang jalan dia terus menengok kebelakang. Dia ketakutan melihat hantu tadi terus mengikutinya.
~~~



Shi-on terus berjalan sampai ke halte bus. Dia melihat ada seorang siswi yang sedang menunggu bus, siswi itu terlihat sangat kedinginan dengan terus menggosok-gosok tubuhnya.
Tiba-tiba sebuah tangan terjulur menyentuh pundak siswi tadi, si hantu. Hantu itu terlihat seperti menghangatkan tubuhnya, dia lalu melirik kearah Shi-on. Shi-on terlihat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Siswi tadi naik ke-bus, diikuti hantu itu pula.




Pintu bus tertutup, Shi-on memutuskan untuk mengikuti hantu dan mengejar bus itu. Beruntung, bus’nya masih bisa dikejar. Shi-on pun naik bus itu.
Gun-woo yang baru keluar dari mini market melihat Shi-on yang mengejar mobil tadi, dia langsung bergegas masuk kemobil untuk mengikuti bus yang ditumpangi Shi-on.
~~~




Shi-on duduk di bus. Dia melirik si hantu yang juga meliriknya.
Hantu itu duduk di samping siswi SMA tadi, siswi itu benar-benar tersiksa karena dingin. Hantu itu seperti ragu untuk menyentuh si gadis tadi. Dia menyentuhnya sedikit, membuat siswi itu semakin kedinginan. Siswi SMA dengan menggigil menghentikan bus, hantu mencoba mengikuti siswi SMA tadi.




Shi-on benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan hantu itu yang mengganggu manusia. Hantu melirik ke-arah Shi-on, yang akan berdiri. Shi-on mencoba mencegah Hantu mengikuti siswi tadi.
Seolah tak perduli Hantu tetap akan turun, tapi Shi-oh terus menatap Hantu tadi. Hantu itu akhirnya mengurungkan niatnya mengikuti siswa SMA.
Shi-oh melirik siswa SMA yang kedinginan, setelah turun dia terlihat melepas jaketnya dan sudah tak menggigil lagi.


Gun-woo mensejajari bus yang ditumpangi Shi-on. Dia bergumam melihat Shi-on, “Bukankah dia gila? Mau kemana dia?”
~~~


Dihutan, seorang pria dengan membawa koper dan sekop berjalan dengan waspada. Kemudian dia berhenti dan menggali tanah disana.


Shi-oh turun dari bus mengikuti Hantu, Gun-woo juga sampai ditempat yang sama. Hutan ini adalah hutan yang sama seperti yang didatangi pria koper.


Pria koper membuka kopernya kemudian tersenyum.... dia selesai mengubur sesuatu dan menutup lubangnya.


Dikegelapan malam Shi-on terus mengikuti Hantu, dia sedikit melirik kesekitar. Hantu berhenti, dia terlihat ragu. Shi-on bertanya, kenapa?
Hantu yang memang tak bisa menjawab kemudian melanjutkan jalannya.


Gun-woo terus mengikuti Shi-on. Beberapa menit episode ke-bisuan. hehe



Hantu berhenti diatas tanah yang tadi digali Pria Koper. Tadinya Shi-on tak mengerti maksudnya, tapi kemudian melirik ketanah yang dipijak Hantu. Shi-on melihat tanah bekas galian.



Sebuah suara membuat Shi-on terkejut, dia segera berbalik terkejut. Ternyata Gun-woo yang menginjak ranting. Gun-woo pun tak kalah terkejutnya.
Shi-on bertanya tidakkah ini aneh. Gun-woo melihat kesekeliling, “Itu tidak hanya aneh. Tak peduli siapa yang melihatmu, kau seperti wanita gila sekarang.”
Shi-oh tak perduli ocehan Gun-woo, dia berjongkok melihat tanah galian dengan curiga. “Ini semua ditutupi rumput tapi hanya area ini yang basah sekarang.”




Shi-oh berusaha menggali tanah yang basah, Gun-woo benar-benar heran dengan kelakuan Shi-on. Gun-woo tak membantu tapi terus bertanya kenapa Shi-on berada di tempat ini?
Shi-on tak perduli, dia terus menggali. Shi-on melihat sesuatu terkubur disana, dia mengambil senter dan mencungkilnya.
Sebuah tangan tersembul dari tanah, membuat Gun-woo dan Shi-on terlonjak kaget.



Shi-on menyadari sesuatu, dia menatap Hantu yang masih berdiri tak jauh dari sana. Perlahan Hantu itu mengeluarkan tangannya, benar saja salah satu dari tangannya gak ada. Shi-on semakin terkejut.
~~~




Paginya, penyelidikan di tempat kejadian perkara dilakukan. Gun-woo masih terus penasaran bagaimana Shi-on bisa tau ada tangan terkubur.
Gun-woo : “Aku harus mengerti itu dahulu untuk membuat pernyataan.”
Shi-on : “Aku tak tahu. Aku sudah bilang, Aku hanya merasa seperti ada sesuatu disana.”
Gun-woo melirik sendal jepit Shi-on, “Kau sudah pulang seperti biasa, lalu kau merasa seperti itu dan datang kebukit dengan seperti ini(memakai sendal)? Kau pikir kau mempercayai itu?”



Seorang Inspektur, Lee Sang Chul dari bagian kriminal di Kepolisian Seobu meminta kerjasamanya untuk menyelidiki kasus ini. Dia bertanya jam berapa mereka menemukan potongan tangan itu?
Shi-on menjawab jam 23.50. Jelas saja Ins. Lee heran, sedang apa selarut itu disini?
Shi-on bingung. Gun-woo memberi alasan, “Dia berolahraga. Asal kau tahu, kami selalu bekerja dikantor di keamanan publik jadi kita jarang berolahraga. Latihan malam dimusim panas! Itu tradisi dibagian kami.”
~~~




Gun-woo dan Shi-on berjalan meninggalkan TKP. Gun-woo masih penasaran.
Gun-woo : “Apa kau benar-benar tidak akan mengatakannya padaku?  Bagaimana kau bisa tau kalau ada sesuatu yang terkubur disana?”
Shi-on : “Ayo pergi ke kantor dulu. Ini sudah mau jam sibuk, jadi akan memakan waktu biarpun kita pergi sekarang.”
Gun-woo : “Ketua Tim Yang Si Ohn! Apa kau akan benar-benar menjadi seperti ini? Apa kau menghinaku atau apa? Sekarang dua kali. Kita bilang saja kau beruntung dengan kasus Oh Reum. Kau tak bisa menjelaskan yang ini!”
Shi-on : “Tidak ada alasan untuk menjelaskan ini padamu! Dan aku benar-benar lelah sekarang. Mengerti?”



Shi-on terus berjalan mengacuhkan Gun-woo.
Gun-woo merasa kecewa dengan Shi-on, “Aku mencoba cocok denganmu, jadi aku mengejarmu, mengikutimu. dan bahkan aku berbohong demi kau! Bagaimana kau menganggapaku sebagai lelucon? Setidaknya aku mempercayaimu sebagai rekan kerjaku. Terlepas jika kau benar-benar gila atau apalah kejadian enam tahun lalu. Karena kita satu tim. Tapi kurasa kau tidak merasakan hal yang sama.”
Gun-woo berjalan pergi meninggalkan Shi-on yang masih merenungi kata-kata Gun-woo.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar