Rabu, 28 Agustus 2013

Drama Korea I Miss You Episode 19 part 2





Ah Reum mencoba mencari tahu apa alasan ibu memberi kesaksian palsu. Jika bukan karena uang, lalu apa alasannya?





Mi Ran ternyata lebih takut pada suaminya, maka ia tetap tak mau membuka mulut walau Ah Reum memintanya untuk mempercayai Jung Woo dan memberi pengakuan yang sebenarnya. Ia menganggap kalau Jung Woo sebenarnya masih membencinya. Dan Jung Woo yang memintanya berkata jujur, sebenarnya karena ia ingin menyelamatkan Soo Yeon. Setelah ia berkata jujur, ia takut Jung Woo akan berbalik untuk lepas dari tuduhan membuat kesaksian palsu.
Aihh… Mi Ran ini terlalu lama hidup bersama Tae Joon nih, jadi nggak percayaan gini.

 
Ah Reum meminta ibunya untuk membuka mata. Jung Woo bukanlah  orang yang seperti itu. Kalau ibunya masih seperti ini, Ah Reum mengancam tak mau menemui ibunya lagi, “Ayah tak pernah sekalipun menengok ibu saat masih di UGD. Coba ibu pertimbangkan baik-baik. Satu-satunya orang yang bisa ibu percayai hanyalah Kak Jung Woo.”
Mi Ran tetap ragu akan tindakan yang harus ia ambil. Ah Reum meyakinkan kalau permintaannya ini adalah demi kebaikan ibunya sendiri. Jung Woo harus menangkap pelakunya agar semua dapat berakhir.
Craig, pengacara Harry melaporkan kalau Zoe ada di kantor polisi untuk diinterogasi. Walau menurut Craig,  Harry masih belum diperbolehkan pergi dari Korea, tapi Harry tetap memintanya mencari cara untuk meninggalkan Korea, entah ke Jepang atau Cina, “Karena aku tak berniat kembali lagi ke Korea, kau tak perlu merisaukan yang lainnya. Aku juga tak akan pergi sendiri karena aku akan membawa Zoe dan Ibuku.”

Craig mencoba menyela, tapi pikiran Harry penuh akan rencananya. Ia akan mengganti nama lagi, dan meminta Craig untuk membuat nama yang bagus untuk semua anggota keluarganya.
Sudah larut malam, tapi Hyun Joo masih sibuk dengan bunga plastiknya. Sepertinya bunga plastik itu adalah simbol dari miliknyayang berharga bagi dirinya (yaitu mungkin adalah uang). Karena begitu Soo Yeon duduk, Hyun Joo langsung menarik bunga itu, dan mengatakan kalau itu adalah milik Joon.

Hampir menangis, Soo Yeon berkata kalau Joon (panggilan Soo Yeon pada Hyung Joon/Harry) tak menginginkan hal itu. Ia memohon agar Hyun Joo cepat sembuh dan kembali pada Joon. Saat Soo Yeon mengatakan nama itu, Hyun Joo menampakkan kalau ia sedikit ingat dengan nama itu dan menyebutkan bayi berulang kali.
Soo Yeon ingin menyalahkan Hyun Joo atas apa yang terjadi pada Jung Woo (yang juga terjadi padanya) dan pada Hyun Joon, “Jadi ibu harus segera sembuh, karena saya tak mampu membenci  ibu bahkan marah pun tak bisa karena ibu seperti ini.“
Hyun Joo menatap lembut pada Soo Yeon dan kemudian mengangsurkan bunga plastik itu pada Soo Yeon, dan mulai lagi memasukkan kunci ke dalam bandul kalungnya.
Di dapur, Soo Yeon minum soju dan membuka foto yang diam-diam ia ambil saat menguntit Jung Woo. Di foto itu, ia tuliskan kata-kata yang pernah ia tuliskan di tembok 14  tahun yang lalu, “Bogoshipeo (Aku ingin menemuimu / Aku merindukanmu).”
Eun Joo datang dan bergabung untuk minum dengannya. Melihat Soo Yeon masih bisa tersenyum, Eun Joo heran apakah Soo Yeon sudah gila atau bodoh karena ia masih bisa tersenyum di saat sepert ini. 

Soo Yeon berkata karena ia memang tak melakukan pembunuhan itu, dan ia percaya Jung Woo akan dapat menyelesaikannya. Maka yang dapat ia lakukan sekarang adalah mempercayai dan menunggu Jung Woo. 

Mereka minum semakin banyak, dan Eun Joo menyuruh Soo Yeon untuk mulai bertindak benar mulai sekarang (jangan seperti saat Soo Yeon membohonginya di butik Bellez) dan pura-pura mengancam  Soo Yeon agar tak mem-bully-nya, mentang-mentang Soo Yeon adalah putri kandung ibu.

Tapi Soo Yeon malah tertawa mendengar kata bully itu, karena sudah lama ia tak mendengarnya sejak jaman SMP. Dulu ia juga sering dibully  karena dicap sebagai anak pembunuh.

Eun Joo menatap Soo Yeon yang tenang saat menceritakan pengalamannya dan berkomentar, “Kau benar-benar telah mengalami semuanya, ya. Tapi bagaimanapun juga, ibu adalah milikku.”
Soo Yeon tersenyum dan seakan membantah kalau bukan dirinya yang perlu dikhawatirkan, “Ibu.. paling menyukai Han Jung Woo.”
Eun Joo pun juga mengiyakan karena ia dulu juga menyukai Jung Woo. Tentu saja Soo Yeon kaget. Tapi Eun Joo menenangkan Soo Yeon, “Jangan melotot padaku. Berkat dirimu,  aku hanya bisa memandangi dia selama 14 tahun ini.”
Soo Yeon merasa tak enak pada Eun Joo, tapi Eun Joo kembali menenangkan Soo Yeon karena rasa sukanya tak cukup besar untuk menggantungkan hidupnya pada Jung Woo yang menyukai Soo Yeon.



Menyadari banyak penderitaan yang dilalui Soo Yeon, walau sudah mabuk, Eun Joo menyuruh Soo Yeon untuk bercerita padanya jika Soo Yeon teringat pada kejadian buruk di masa lalunya, “Juga.. kau harus memanggilku kapan saja kau ingin munum.”
Soo Yeon tersenyum, “Kau juga. Jika kau merasa kangen dengan ayahmu, kau harus memanggilku.”
Keesokan harinya, Soo Yeon mengajak ibu dan Hyun Joo untuk membeli sepatu. Ibu sangat bahagia, apalagi Soo Yeon juga berkata kalau ia akan membuatkan ibu baju juga.

Kebahagiaan itu ia tularkan pada Hyun Joo yang mulanya tak mau mencoba karena ia terus memegang bunga plastiknya, akhirnya mau bercermin untuk melihat sepatu yang dicobanya.

Di toko sepatu, tempat banyak orang berlalu lalang mencoba sepatu, membuat Soo Yeon merasa mendengar suara langkah kaki Hyung Joon. Ia mencari-cari sosok Hyung Joon, membuat detektif Ahn yang bertugas mengawal Soo Yeon khawatir dan bertanya.
Tapi ternyata Hyung Joon memang datang untuk mengintip Soo Yeon. Ia berdiri di luar toko, melihat betapa perhatiannya Soo Yeon pada ibunya dan memeriksa kaki ibunya, “Bodoh! Apakah kau sudah lupa akan penderitaan yang telah kau lalui karena ibuku?”

Soo Yeon kembali mendengar suara langkah Hyung Joon. Walau langkah itu ternyata bukan milik Hyung Joon, tapi saat mencari-cari bunyi itu, ia melihat kaki Harry yang muncul dari balik tembok. Karena Detektif Ahn masih bersamanya, seakan ingin melindungi Hyung Joon, Soo Yeon membalikkan badan, tak berani melihat Hyung Joon.
Hanya dalam hatinya, ia berkata pada Hyung Joon, “Joon ah, janganlah takut. Semakin kau bersembunyi, pada akhirnya kau hanya akan merasa semakin kesepian.”
Ternyata Hyung Joon memang ingin sendiri. Karena ia tak datang ke kantor polisi untuk pemeriksaan, yang datang hanyalah Craig, yang sebagai pengacara, memberikan kesaksian atas nama Harry. Kesaksian itu mementahkan tuduhan polisi tentang kematian Detektif Kim dan pemalsuan dokumen. Seperti yang diduga Jung Woo, semua tuduhan itu ditimpakan pada almarhum Michelle Kim.

Atasan Jung Woo berkata kalau mereka masih berharap kepolisian Perancis mau bekerja sama dengan mereka. Detektif Joo juga masih berharap akan Mi Ran yang mau merubah kesaksiannya tentang siapa yang telah meracuninya, “Dan lebih baik lagi jika ia mau memberitahukan rahasia tentang ayahmu.”

Tapi menurut Jung Woo, hal yang terakhir itu sangatlah mustahil karena tak ada bukti yang memberatkan ayahnya. Detektif Joo kesal dan berandai-andai, kalau saja semua penjahat ada tandanya, misalnya tangannya merah kalau pidana berat, dan tangannya kuning kalau pidana ringan.
Ha! Kalau gitu, nggak akan ada polisi, Bang.
Mendadak Detektif Park memanggil mereka karena sudah ada balasan dari kepolisian Perancis. Jung Woo, satu-satunya orang yang bisa  berbahasa Perancis, membacakan, “Tuan dan Nyonya Borrison, yang mengadopsi Moon Hae Joon, meninggal pada tahun 1999, dan dinyatakan kematian akibat kecelakaan. Kecelakaan mobil.”

Detektif Joo bertanya bukankah dulu Harry pernah berkata kalau orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat?

Di surat itu ternyata juga tertulis penyebab kecelakaannya, yaitu rem dan kaleng soda. Dan polisi juga sedang memeriksa DNA yang ada di kaleng soda dengan DNA Kang Hyung Joon yang sudah dikirimkan, apakah ada kecocokan diantara kedua DNA itu. Juga, pasangan suami istri Borrison itu pernah diselidiki atas dugaan penganiayaan anak di tahun 1999 pada anak angkat mereka, Harry Borrison.
Jung Woo berkata kalau ia akan meminta pada kepolisian Perancis jika mereka mempunyai foto lama mereka, dan Kakek Choi mengatakan akan lebih baik lagi kalau ada foto si anak. Harry Borison.

Detektif Park yang belum paham, bertanya mengapa mereka harus meminta foto itu (kan mereka sudah punya foto Harry). Detektif Joo pun menjelaskan kalau ada foto itu, mereka dapat membuktikan dugaan kalau Kang Hyung Joon adalah Kang Hyung Joon dan Sekretaris Yoon (Yoon Young Jae) adalah Harry Borrison, “Kang Hyung Joon (dengan soda dan rem) menyelamatkan Yoon Young Jae dari penganiayaan orang tua angkatnya. Karena itulah Yoon Young Jae berjanji setia pada Hyung Joon, dan ia bersedia dikambinghitamkan.”
Jung Woo berkata kalau mereka sudah mendapatkan hasil DNA dari Perancis dan mendapatkan foto Harry Borrison yang memastikan kalau itu adalah Sekretaris Yoon, maka..

“Tangkap! Akan segera  penangkapan!” teriak Detektif Joo antusias. “Kang Hyung Joon.. diborgol!”
Di saat semua sudah tidur, Hyun Joo belum tidur. Ia memandangi sepatunya dan memeluk sepatunya dengan sayang. Sepertinya perhatian ibu dan Soo Yeon menyentuh perasaannya. 



Ia menatap Soo Yeon yang tidur dan memberikan bunga plastik ke tangan Soo Yeon. Senyumnya hangat saat melihat betapa tenangnya Soo Yeon tidur di pelukan ibunya. 
Mendadak terdengar suara dari luar, membuat  Hyun Joo melihat ke luar jendela. Betapa kagetnya ia melihat jendela itu terang. Ingatan akan kejadian 14 tahun yang lalu, muncul kembali ke dalam ingatannya.
Ia teringat saat-saat terakhir ia melihat putranya, yang terseok-seok di tengah hujan, dan Hyung Joon memanggil-manggilnya saat Perawat Hye Mi membawanya pergi.

Hyun Joo gemetar ketakutan dan menutupi dirinya dengan selimut. Namun ketakutannya menghilang, diganti dengan rasa penasaran akan bayinya yang selama ini ia rindukan.
Dan ia pun berjalan keluar, tanpa mantel dan bertelanjang kaki. Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, membuatnya teringat teriakan Joon-nya 14 tahun yang lalu, juga tangisan seorang pria saat di rumah Tae Joon, menangis memohon agar ia mengingat kalau pria itu adalah Joon-nya

Ia juga teringat saat bagaimana ia menyuruh orang untuk menculik Jung Woo, dan kemudian ada pria yang memperkenalkan dirinya dengan ramah, sebagai Han Jung Woo.
“Aku memang bersalah.. aku memang bersalah. Apa yang aku lakukan memang salah.. aku memang bersalah,” Hyun Joo menangis histeris dan ia terjatuh, sehingga kalung yang selalu ia pegang pun ikut terjatuh.

Ia segera memungutinya, teringat saat Hyung Joon mengembalikan kalung itu dan berkata kalau ia tak membutuhkannya. Ia pun menangis, “Aku akan memberikan ini pada Hyung Joon! Hyung Joon… Hyung Joon..”
Dan ia menyusuri jalanan, mencari-cari Hyung Joon. Panik saat ada orang menabraknya, dan malah ia yang meminta maaf, berulang-ulang mengatakan, “Aku yang bersalah.. maaf.. maaf.. bukan aku… bukan aku..”

Di tengah lalu lalang orang, Hyun Joo hanya bisa menangis ketakutan. Sendirian.
Hyung Joon tertidur di sofa, dan terbangun saat melihat pecahan bandul yang dulu pernah ia berikan pada ibunya. Dan ia melihat sosok anak kecil duduk di tangga, menunduk, seakan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia melihat dirinya sendiri, saat 14 tahun yang lalu.
Hyung Joon kaget dan berdiri hingga tongkatnya terjatuh, namun ia tak mempedulikan tongkat itu. Ia berjalan menghampiri anak itu dan menaruh telunjuk di bibirnya, memintanya untuk diam, “Kau tahu, kan? Han Tae Joon ada di sini. Kau jangan keluar dulu.”
Hyung Joon kecil mengangguk patuh dan Hyung Joon tersenyum, mengatakan kalau sebentar lagi mereka akan pergi, “Pada saat itu aku akan mengijinkanmu keluar. Okay?”

Hyung Joon kecil tersenyum, senang mendengar kata-kata Hyung Joon, dan mengangguk sambil menaruh telunjuk di bibirnya juga. Hyung Joon membalas senyum Hyung Joon kecil dan membelai rambutnya.
Ia tak menyadari kalau ia tersenyum sambil menangis.
Sementara itu Hyun Joo meringkuk kedinginan sambil memanggil-manggil putranya di dalam hatinya.
Soo Yeon yang terbangun tengah malam kaget melihat Hyun Joo tak ada. Hanya ada bunga yang tertinggal, bunga yang tak pernah terlepas dari tangan Hyun Joo. Mendapat firasat buruk, ia segera membangunkan ibunya.

Bersama-sama Eun Joo dan ibu, mereka berpencar mencari Hyun Joo. Jung Woo kebetulan menelepon Soo Yeon dan ia pun ikut mencari Hyun Joo.
Di tengah jalan mereka bertemu, dan bersama-sama mencari Hyun Joo. Hampir saja mereka putus asa jika mereka tak mendengar ada petugas yang menemukan orang tergeletak di balik tumpukan barang.
Jung Woo segera melepas mantelnya dan Soo Yeon meminta Hyun Joo untuk membuka mata dan jangan tertidur (karena jika tertidur bisa hipotermia dan meninggal). Hyun Joo sepertinya sudah lemah dan tak dapat membuka mata.

Sangat panik, Jung Woo segera meminta Soo Yeon untuk menaikkan Hyun Joo ke atas punggungnya. Tapi Hyun Joo ternyata bisa membuka mata walaupun lemah dan berkata Soo Yeon, “Joon-ah…”



Jung Woo dan Soo Yeon saling berpandangan mendengar Hyun Joo memanggil putranya dan seakan memohon Hyun Joo berkata, “Aku merindukannya… “
Soo Yeon dan Jung Woo mendatangi rumah Hyung Joon, dan ternyata Hyung Joon sedang minum-minum. Soo Yeon meminta Hyung Joon untuk mengikutinya dan Jung Woo menambahkan kalau ibu Hyung Joon berada dalam kondisi kritis, “Jangan lakukan sesuatu yang nantinya kau sesali.”

Hyung Joon santai menghadapi mereka berdua. Tak tergerak sedikitpun saat mendengar kondisi ibunya dari Jung Woo, “Aku tak punya ibu. Jangan mengaturku. Aku malah kasihan padamu. Ayah dan ibu tiri seperti itu? Kupikir kau akan menangkapku. Kenapa kau lama sekali?”

Soo Yeon meminta Hyung Joon untuk pergi bersama mereka atau kalau tidak ia tak akan dapat menemui ibunya lagi. Tapi Hyung Joon malah membentaknya, memintanya berhenti berpura-pura mengkhawatirkannya padahal ada Jung Woo di sampingnya, “Kau tak bisa membodohiku.”
“Apakah kau benar tak akan menyesalinya?” tanya  Soo Yeon sekali lagi. Tapi melihat Hyung Joon masih tetap diam, Soo Yeon tahu jawabannya. “Bodoh! Ibu yang bertahun-tahun telah kau cari. Memang kenapa kalau ia tak dapat mengenalimu?”
“Yang selalu ia lakukan adalah memanggil-manggil namamu. Kalung yang ada ditanganmu, ia memegangnya erat sepanjang hari, dan berulang-ulang kali mengatakan kalau kalung itu untukmu. Ibu yang telah kau tinggalkan hanya tetap memanggil namamu.”
“Berhentilah membuat keributan dan keluarlah,” kata Hyung Joon malas.
Jung Woo langsung menarik Hyung Joon untuk berdiri, dan sangat marah saat berkata, “Bocah, berhentilah marah. Kalau ingat semua kejahatanmu, aku tak ingin bersimpati padamu seperti ini. Tapi karena aku mengasihanimu, kasihan karena kau menjadi rusak seperti ini, maka aku bersimpati padamu. Jadi keluarlah sekarang.”
Tapi Hyung Joon mendorong Jung Woo dan membentak marah, “Terus bagaimana? Setelah itu kau akan menahanku? Sampai aku mengaku kalau aku adalah Kang Hyun Joon? Jadi aku pergi atas kemauanku sendiri, menangis dengan ibu di dalam pelukanku dan mengakui kalau aku adalah Kang Hyun Joon?”
Hyung Joon berkata kalau ia sudah tahu niat asli mereka dan ia tersenyum menantang mereka, “Aku tak mau pergi. Aku tak akan tertangkap. Bawa dulu buktinya padaku!”
  
Ia mengambil tongkatnya dan memukul gelas di meja. Jung Woo refleks langsung menutupi tubuh Soo Yeon sehingga pecahan kaca itu tak mengenainya. Seperti Soo Yeon, Jung Woo pun tak menyangka Hyung Joon akan seperti ini, “Kang Hyung Joon. Apakah akhirnya akan seperti ini? Setelah kau menangis menyebut ‘ibu.. ibu..’ setiap saat, akhirnya kau bersembunyi untuk menyelamatkan dirimu sendiri?”
Jung Woo mengingatkan kalau Hyung Joon selalu berkata kalau ia akan melakukan apa yang Soo Yeon inginkan, “Dan sekarang ia berlari menemuimu. Walaupun kau telah menjebaknya menjadi seorang pembunuh, ia masih memberi kesempatan pada orang sepertimu walau kau tak pantas menerimanya. Hanya inikah imbalan yang dapat kau berikan?

Hyung Joon menyuruh Jung Woo untuk keluar. Tapi Jung Woo masih belum selesai. Ia berkata kalau Hyung Joon tak pernah melakukan keinginan Soo Yeon,



“Walau aku lebih suka memukulimu sampai mati, tapi Soo Yeon tak menginginkannya karena ia tak ingin melihatmu lebih terluka lagi. Itu yang disebut melakukan keinginan Soo Yeon.” Dan Jung Woo meminta Hyung Joon keluar (jika Hyung Joon ingin melakukan keinginan Soo Yeon).
Tapi Hyung Joon malah tertawa, mengejek, “Apa kau kesini untuk menyatakan perasaan cintamu? Kalau memang begitu, keluar saja dan lakukan hal itu.” Tak hanya pada Jung Woo, ia pun bertanya pada Soo Yeon, apakah Soo Yeon melakukan hal ini karena rasa tanggung jawabnya atas apa yang terjadi padanya sehingga hatinya akan merasa lebih tenang? “Aku tak mau. Aku.. berharap kalau bukan ibuku, melainkan kau yang akhirnya mati.”

Soo Yeon benar-benar tak percaya mendengar kata-kata Hyung Joon yang ingin tinggal di dunia yang tanpa ada Soo Yeon di dalamnya. Ia menunjuk rumahnya dan berkata kalau ini adalah surganya, “Jangan pernah kemari lagi, tanpa ijin dariku.”

Jung Woo yang berkata kalau ini bukanlah surga. Penjara yang paling buruk adalah penjara yang didiami sendirian, “Tak ada surga yang kau tinggali sendiri. Kau memenjarakan dirimu sendiri karena dosa atas kejahatan yang kau lakukan. Ini adalah nerakamu.”
Di rumah sakit, Tae Joon mendengar kabar kematian Hyun Joo dan pada orang di telepon, ia bertanya, “Sekali lagi? Baiklah.”

Mi Ran yang mendengar hal itu, semakin ketakutan, dan diam-diam ia memencet nomor telepon seseorang.
Hyung Joon menutup telepon dan menyalakan musik klasik favoritnya, menenangkan diri. Kunci  itu terus tergenggam di tangannya.

Soo Yeon dan Jung Woo berziarah ke abu Hyun Joo. Soo Yeon meletakkan bunga plastik milik Hyun Joo dan berkata betapa Hyun Joo merindukan Hyung Joon selama belasan tahun. Jung Woo berkata kalau Hyun Joo tak meninggalkan apapun kecuali luka untuk putranya.

Soo Yeon mengajak Jung Woo untuk pergi, karena Hyung Joon tak akan berziarah kalau masih ada mereka di sini. Jung Woo pun mengulurkan tangan, dan Soo Yeon pun menggenggamnya.

Terdengar suara langkah Hyung Joon dan tongkatnya, membuat Jung Woo bertanya mengapa Soo Yeon membuat tongkat Harry seperti itu. Soo Yeon berkata agar ia bisa menemukan dimana Harry berada.

Jung Woo mengerti dan mengatakan kepergian Hyung Joon akan selalu bisa dikenali dari suara tongkatnya. Mereka pun pergi, berselisih jalan dengan Hyung Joon.

Namun Hyung Joon masih bisa melihat kepergian mereka.

Hyung Joon pergi ke tempat abu ibunya, dan melihat kunci yang mirip dengan yang ia pegang. Pada foto ibunya, ia menunjukkan kunci aslinya dan berkata, “Inikah surga yang dulu pernah ibu katakan? Sekarang aku harus mengembalikan dan lari bersembunyi. Sepanjang hidupku sampai aku mati, dengan kaki seperti ini. Terima kasih.”

Foto Harry Borrison telah keluar. Dan Detetif Joo menelepon, memberitahukan kalau laporan polisi Perancis telah ada. Dan DNA kaleng cocok dengan DNA Kang Hyung Joon. Berarti ini adalah pembunuhan, “Mereka tak pernah memberi keringanan pada kejahatan di bawah umur. Jadi entah itu Perancis ataupun Korea, Kang Hyung Joon tak punya tempat untuk melarikan diri. Tangkap ia sekarang juga. Kami sekarang sedang menuju rumah Harry.“

Jung Woo menatap Soo Yeon yang tampak sangat khawatir mendengar berita itu. Ia mengeluarkan borgolnya, dan meminta Soo Yeon untuk tak keluar dari mobil.

Saat ia hendak keluar, Soo Yeon memanggilnya. Dengan sepeda, Hyung Joon menghampiri mereka dan berdiri tepat di depan mobil Jung Woo dan tersenyum menatap mereka.

Terdengar bunyi SMS. Dari Ah Reum yang memberitahukan kalau ibunya sudah mau berbicara. Yang meracuninya bukanlah Soo Yeon, melainkan Harry Borrison.

Jung Woo tersenyum menatap Hyung Joon. Hyung Joon yang mulanya tersenyum mulai gamang. Sementara Soo Yeon menatap mereka dengan khawatir.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar