Rabu, 28 Agustus 2013

Drama Korea I Miss You Episode 19 part 1




Sepanjang perjalanan walau nampak cemas, mereka berdua berpegangan tangan saling tersenyum, saling menguatkan. Sesampainya di kantor polisi, seluruh teman satu tim Jung Woo sudah menunggu mereka.



Begitu pula Pak Kepala Polisi yang mencegat mereka di lobi kantor. Ia menghardik Jung Woo yang sudah akan dikeluarkan dari kepolisian malah membawa lari tersangka pembunuhan.


Dengan tenang, Jung Woo memperkenalkan Soo Yeon sebagai gadis yang dulu pernah dinyatakan mati oleh Pak Kepala Polisi. Tentu saja Pak Kepala Polisi membantah kalau itu adalah kesalahannya karena itu adalah kesalahan kepolisian.


Kali ini atasan Jung Woo buka suara, kalau kesalahan Pak Kepala Polisi yang tercantum di daftar penerima uang ilegal dari Bank Sangil sudah masuk di kejaksaan dan mereka sudah mulai menyelidikinya.


Tentu saja hal ini membuat Pak Kepala Polisi marah dan menumpahkan kemarahannya pada Jung Woo yang katanya sudah gila karena mengorbankan ayahnya demi seorang wanita.


Tapi Jung Woo membantah hal itu. Ia gila karena ia dipimpin oleh orang yang tak tahu tugas polisi sebenarnya. Karena sebagai polisi, ia diajarkan untuk memastikan agar tak satupun orang diperlakukan tak adil.


Pak Kepala Polisi semakin tersudut karena Detektif Joo dengan sok luguya bertanya apakah ia tahu siapa yang membocorkan informasi rahasia tentang tempat tinggal sementara Jung Woo? Maka Pak Kepala Polisi menggunakan kartu as-nya yaitu mereka akan dihukum karena dianggap telah membantu pelarian seorang penjahat.


Tapi kali ini Soo Yeon yang menyelanya dan berkata kalau ia bukanlah penjahat, “Walau ayah saya adalah seorang pembunuh, tapi saya tak mungkin membunuh orang lain.”


Tentu saja hal ini mengagetkan Jung Woo dan atasannya. Sepertinya ibu Soo Yeon belum memberitahukan kalau ayah Soo Yeon bukanlah seorang pembunuh. Soo Yeon tentu saja kaget mendengar hal itu. Namun Detektif Joo menyarankan agar Soo Yeon bertanya pada Pak Kepala Polisi, karena Pak Kepala Polisi masalah ini lebih dari yang lainnya.


Pak Kepala Polisi terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi. Maka Jung Woo pun mengembalikan kata-kata yang selalu diperintahkan padanya, “Lepaskan lencanamu, menyingkirlah dari masalah ini, keluarlah dari sini. Tiga hal ini, adalah hadiah saya untuk anda.”


Dan mereka pun meninggalkan Pak Kepala Polisi sendiri.


Jung Woo membawa Soo Yeon ke ruang interogasi untuk dipertemukan dengan Sekretaris Yoon. Jung Woo menyentuh bahu Soo Yeon, memintanya untuk tak gugup. Hanya orang yang bersalah saja yang akan gugup. Soo Yeon tersenyum meyakinkan Jung Woo.


Atasan Jung Woo yang akan melakukan interogasi ini, dan Sekretaris Yoon pun dibawa masuk. Sekretaris Yoon kaget saat melihat Soo Yeon di hadapannya. Dan kekagetan itu bercampur dengan marah saat ia melihat tangan Jung Woo yang memengang bahu Soo Yeon.


Interogasi dimulai. Dari pertanyaan pertama, jawaban mereka tidak sinkron sama sekali. Soo Yeon mengaku bertemu pertama kali dengan Sekretaris Yoon adalah saat pesta yang diadakan oleh Harry, sementara Sekretaris Yoon mengatakan saat fashion show di Macau tahun lalu. Hari dimana Kang Sang Deuk dibebaskan dari penjara adalah saat ia menerima perintah, “Hari itu ia memperkenalkan diri dengan nama Lee Soo Yeon.”


Soo Yeon tercengang dengan pengakuan itu. Dan hal itu membuat Jung Woo heran mengapa Sekretaris Yoon menyerang Soo Yeon seperti itu. Detektif Joo mengatakan  kalau pria itu adalah versi juniornya Harry. Betapa mata Sekretaris Yoon berkilat seperti laser saat melihat mereka berdua dan meminta Jung Woo untuk tak pernah lagi memegang tangan Soo Yeon di depan pria itu.


Kakek Choi menduga kalau bagi Sekretaris Yoon, hubungannya dengan Harry sangatlah penting dan penuh kepatuhan. Bahkan mungkin Sekretaris Yoon mengaitkan dirinya dengan perasaan dan pikrian Harry. Pria itu merasa Jung Woolah yang merebut Soo Yeon, dan ia berpikir Soo Yeon meninggalkannya.


Soo Yeon bertanya bagaimanakah ia menyuruh Sekretaris Yoon untuk membunuh, dan Sekretaris Yoon menjawab kalau Soo Yeon selalu menyuruhnya lewat telepon. Dan itu adalah pertanyaan jebakan.


Di depan Sekretaris Yoon,  pada atasan Jung Woo ia mengingatkan kalau di pemeriksaan terakhir, ia berkata kalau ia adalah pembunuh, maka orang  pertama yang akan ia bunuh adalah Jung woo. Sekretaris Yoon terdiam, tak menunjukkan reaksi apapun saat ucapannya tak berhasil menyudutkan Soo Yeon.


Tanpa basa basi, Soo Yeon bertanya apakah Sekretaris Yoon dan Harry benar-benar tak berteman? Mulai geram, Sekretaris Yoon mengiyakan. Dan Soo Yeon pun mengangguk, menyetujui, “Aku juga yakin seperti itu. Karena seorang teman tak akan menyuruh temannya untuk membunuh orang lain.”


Soo Yeon berkata kalau ia tahu Harry menjebaknya karena Harry membencinya, “Tapi apa yang telah kau lakukan hingga kau harus menggantikan takdirnya untuk duduk di kursi itu?” Paras Sekretaris Yoon berubah dan ia menunduk saat berkata pelan kalau semua itu tidak benar.


Jung Woo nampak lega mendengar Soo Yeon yang bisa menguasai interogasi sehingga ia tak perlu mengkhawatirkannya. Kakek Choi yang mengetahui kalau Jung Woo bertemu dengan Harry, ingin tahu kondisi mentalnya.


Jung Woo mengatakan kalau Harry akan mengaku jika Soo Yeon memang menginginkannya. Detektif Joo yang kesal pada Harry, seakan meyumpahi Harry agar segera mengaku. Namun sepertinya Jung Woo mengasihani Harry karena ibu Harry tak mengenalinya, sikap Zoe tak sesuai yang ia mau, dan sekarang tangan kanannya juga ditahan di sini. 


Dan seperti yang diduga oleh kakek Choi, sepertinya Harry mulai berhalusinasi (atau memang selama ini seperti itu?). Di rumah Harry mengetuk-ketukkan tongkatnya, memanggil-manggil Zoe, berharap Zoe muncul mendengar suara tongkatnya.  


Tapi tak ada yang muncul, seberapa kerasnya suara tongkat itu ia hentakkan, seberapa kerasnya ia berteriak.

Ia seperti mendengar suara denting lift, dan seperti berkata pada seseorang, ia menaruh telunjuk di mulutnya, menyuruh orang itu diam. Sama seperti Hyung Joon 14 tahun yang lalu. namun setelah ditunggu-tunggu, pintu lift itu tak terbuka. Suara-suara yang menyalahkan dia pun muncul di kepalanya lagi.


Ia pun memencet tombol lift, ingin membuktikan kalau sebenarnya ada orang di dalam. Pintu lift itu terbuka, namun tak ada orang di dalamnya. Semakin ia memencet tombol itu, semakin ia frustasi karena memang tak ada orang di dalamnya. 


Dan kali ini muncul suara Soo Yeon saat berlutut di hadapannya dan Jung Woo yang tadi berkata padanya kalau ialah yang melepaskan kesempatan bersama Soo Yeon karena dendamnya pada Han Tae Joon. Ia pun hanya bisa menangis mengingat ia malah menyuruh Soo Yeon pergi dan mengambil kalung kunci itu.


Kakek Choi berpikir kalau mereka harus lebih berhati-hati karena jika situasi menjepit Harry, maka akan membuat Harry bereaksi berlebihan. Jung Woo kaget mendengarnya. Apakah maksud Kakek Choi akan ada kemungkinan ada pembunuhan berikutnya? Kakek Choi mengangguk.


Detektif Joo pun berkata kalau ia pernah mendengar, semakin muda usia penjahat itu beraksi, semakin rendah standar perasaan bersalahnya. Ia masih tetap mengusulkan untuk mencocokkan DNA Kang Hyun Joo dengan Harry, dan jika cocok Harry langsung bisa dijebloskan dalam penjara.


Tapi Jung Woo menganggap hal itu tak bisa melepaskan Soo Yeon dari tuduhan pembunuhan. Maka ia pun berkata kalau ia akan pergi sebentar.


Ternyata Jung Woo pergi untuk mengunjungi Mi Ran. Tapi bagaimanapun Jung Woo membujuknya, Mi Ran tetap tak mau buka suara. Jung Woo mencoba meyakinkan Mi Ran kalau selama 14 tahun tinggal terpisah dengannya, ia bukanlah musuh Mi Ran. Ia tak akan menerima uang ayahnya, bahkan jika ayahnya memberikan uang itu padanya.


Tanpa menunggu persetujuan Mi Ran, Jung Woo pun mulai bertanya. Siapakah yang mengancam Mi Ran agar Mi Ran bersaksi kalau Soo Yeon yang mencoba membunuhnya? Apakah ayahnya atau Harry? Jung Woo tak yakin kalau uang adalah masalah yang mendasari masal ini.


Mi Ran tak mau menjawab dan malah menyuruh Jung Woo untuk menanyakan langsung pada ayahnya. Sekarang ia hanya menyesali pernah bertemu dengan ayah Jung Woo. Hanya pikiran itu yang ada di pikirannya saat ini dan ia tak dapat memikirkan hal yang lainnya.


Jung Woo memohon ibu tirinya untuk menceritakan semua padanya, agar tak ada penyesalan yang berikutnya, “Harry, Kang Hyung Joon, adalah pembunuh. Kita tak tahu apakah ia akan membunuh lagi. Tak khawatirkah pada Ah Reum? Ah Reum juga adikku.”


Tapi sia-sia saja. Mi Ran masih belum buka mulut. Ah Reum yang menunggu Jung Woo di depan kamar ibunya, merasa sedih dan tak tahu apa yang terjadi pada keluarga mereka. Tapi ia dapat menebak kalau semuanya ini karena masalah uang.


Jung Woo yang tak ingin melihat adiknya lesu, berkata kalau ia ingin membagi rahasia pada Ah Reum, yaitu ia telah menemukan Soo Yeon yaitu Zoe. Ah Reum terkejut mendengarnya. Tapi ia lebih terkejut lagi mendengar kalau ibunya mengaku pada polisi kalau Soo Yeon-lah yang mencoba membunuh ibunya dan menganggap hal itu sesuatu hal yang mustahil.

Oleh karena itu, Jung Woo meminta tolong pada Ah Reum untuk membujuk ibunya agar memberitahu kejadian sebenarnya, karena hanya ibunyalah yang tahu siapa pelakunya.


Ah Reum menyanggupi hal itu karena ia percaya pada kakaknya. Namun Ah Reum tak habis pikir, sebenarnya Jung Woo itu mirip siapa. Jung Woo tak mirip sama sekali dengan ayah mereka. Bahkan ia pun tak tahan melihat ayah mereka.


Jung Woo menghardik Ah Reum karena bagaimanapun juga Ah Reum tetap anak ayah mereka. Namun kemudian Jung Woo berbisik pada adiknya, “Walau sebenarnya, aku juga sangat tak menyukainya.”


Jung Woo tersenyum melihat senyum adiknya itu muncul juga.


Pak Kepala Polisi menemui Tae Joon dan kaget saat Tae Joon menyuruhnya bertanggung jawab dengan mundur karena Soo Yeon ternyata hidup dan sekarang muncul. Pak Kepala Polisi tak mau karena sebelumnya Tae Joon mengatakan akan selalu mendukungnya.


Tapi Tae Joon menganggap ia sudah selesai mendukung karena ia telah membantu hingga anak Pak Kepala Polisi bisa sekolah ke luar negeri dan menikah. Dan ia menyuruh Pak Kepala Polisi itu untuk menyelesaikan kasus Soo Yeon segera. Pak Kepala Polisi meminta kompensasi uang jika ia melakukan hal itu. Tentu saja Tae Joon tak mau, karena ia sudah tak memerlukan Pak Kepala Polisi lagi.


Saat melihat kedatang Hyung Joon, ia menyuruh Pak Kepala Polisi pergi seperti mengusir seekor anjing. Pak Kepala Polisi tak dapat berbuat lain, kecuali pergi dengan muka masam.


Hyung Joon datang dan langsung mengacungkan tongkatnya, menyalahkan Tae Joon. Karena kebenciannya pada Tae Joon membuatnya kehilangan semuanya.


Tapi Tae Joon tak merasa bersalah. Ia telah memberitahukan dimana persembunyian Soo Yeon. Separuh menyindir ia bertanya apakah Soo Yeon tak bertindak sesuai dengan keinginan Hyung Joon? 

Ia menyuruh Hyung Joon duduk untuk memecahkan masalah ini bersama. Sarannya pada Hyung Joon adalah berhenti berseteru dengan Jung Woo dan  membawa Soo Yeon kembali ke Perancis, “Sama seperti yang kau lakukan 14 tahun yang lalu.”


Hyung Joon membentak Tae Joon karena semua yang ia akan lakukan adalah terserah padanya. Sekarang Tae Joon hanya bisa menuruti perintahnya.


Jung Woo pulang ke rumah dan melihat ibu sedang menemani Hyun Joo. Teringat kata-kata Soo Yeon yang mengatakan kalau Hyun Joo yang menyuruh penculikan itu, membuat perasaannya kacau saat melihat Hyun Joo.


Tapi ternyata Hyun Joo pun juga begitu. Saat ia mendengar ibu memanggil nama Jung Woo dan mengenalkan padanya, ia tak berani menatap Jung Woo dan masuk ke dalam kamar.


Ibu bingung dengan sikap Hyun Joo. Ia berkata pada Jung Woo kalau Hyun Joo menjadi sinting setelah melihat foto SMP Jung Woo. Tentu saja Jung Woo kaget dan memiliki dugaan tersendiri.


Tapi pikiran itu segera dikesampingkan karena ibu bertanya tentang Soo Yeon. Sebelum bercerita, Jung Woo memeluk ibu, dan tanpa memandang wajah ibu, Jung Woo meminta ibu tidak terkejut dengan berita yang akan ia katakan, “Soo Yeon telah dijebak dengan tuduhan pembunuhan.”


Ibu terkejut dan ingin memastikan dengan melihat wajah Jung Woo, tapi Jung Woo tetap memeluk ibu dengan erat. Jung Woo menenangkan ibu kalau ia sudah tahu siapa pelakunya, yang ia perlukan hanyalah menemukan buktinya.

Tapi ibu sudah panik dan bertanya siapa orang yang menjebak putrinya. Dengan masih memeluk ibu, Jung Woo berkata kalau ayah dan ibu tirinya. Jung Woo juga berkata kalau mereka terilbat akan apa yang terjadi 14 tahun yang lalu.


Ibu terperangah mendengarnya. Jung Woo meminta maaf dan meminta ibu untuk sedikit bersabar. Tapi ibu tahu kalau Jung Woo tak bersalah dan Jung Woo adalah putranya. Seakan juga berkata untuk dirinya sendiri, Jung Woo menenangkan ibu kalau semua akan baik-baik saja.


Di kamar, Hyun Joo mencoba memasukkan kunci Ah Reum ke dalam bandul hati miliknya. Tapi tak berhasil, malah bandul itu terjatuh. Jung Woo masuk dan dengan sopan, ia bertanya, “Walau aku ingin bertanya tentang hubunganmu dengan ayahku, kau pasti tak akan memberitahu, kan?”


Hyun Joo gemetar melihat Jung Woo. Jung Woo masuk dan memungut bandul itu. Berbeda dengan saat orang lain ingin mengambil bandul itu yang langsung direbutnya, kali ini Hyun Joo tak merebut bandul itu, hanya berkata, “Itu.. milik Joon.”

Kata-kata itu menguatkan dugaan Jung Woo kalau Hyun Joo sudah dapat mengingat.


Dengan penuh penyesalan, Hyun Joo berkata, “Semua itu .. salahku,” dan ia mengulurkan tangan, meminta kalung itu. Jung Woo pun menaruh bandul itu ke telapak tangan Hyun Joo yang langsung menggenggamnya erat. 


Melihat Hyun Joo masih mementingkan bandul itu (yang mungkin adalah kunci menuju harta), Jung Woo hanya dapat berkata, “Putramu .. sekarang sangat menderita,” dan kata-kata itu membuat Hyun Joo menoleh padanya, ingin tahu. Jung Woo pun meneruskan, “Dan ini karena dirimu.”


Hyun Joo terdiam namun terlihat berpikir.


Jung Woo kembali ke kantor polisi dan melihat Hyun Joon mengawasinya di dalam mobil. Walau Hyung Joon tak mendengar, ia berkata, “Bocah, jangan menyesal nantinya. Menyerahlah sekarang.” 


Dan tanpa mempedulikan Hyung Joon lagi, ia masuk ke dalam kantor.


Di ruang meeting, Jung Woo melaporkan kalau Mi Ran belum mau mengaku tapi ia sudah meletakkan mata-mata di dekat ibunya, yaitu Ah Reum. Ia juga menduga jika mereka dapat menemukan hubungan Sekretaris Yoon dengan Harry, maka mereka dapat memecahkan kasus ini.


Hasil pencocokan DNA telah selesai dan yang seperti diduga DNA di kaleng dan DNA Harry cocok. Detektif Joo sangat girang karena mereka dapat menahan Harry hanya dengan tuduhan pembunuhan Detektif Kim.


Tapi Jung Woo mengatakan kalau Harry dapat lolos dengan menyalahkan Michelle Kim sebagai pelakunya. Mendengar hal ini, Detektif Joo menggerutu, “Aishh.. Kau benar-benar perusak acara.”


Namun walau begitu, menurut Jung Woo, hal ini membuktikan kalau Harry adalah memang benar Kang Hyung Joon yang ada di tempat kejadian 14 tahun yang lalu dan saat itu sudah terjadi percobaan pembunuhan. Kang Hyung Joon pasti berpikir kalau saat itu Detektif Kim akan menangkapnya dan ia pasti menyangka kalau ia akan dipisahkan dengan Soo Yeon.


Kakek Choi menduga jika Hyung joon bisa membunuh Detektif Kim di usia 12 tahun, maka ia mungkin juga membunuh seseorang di Perancis jika ia membutuhkannya, “Semakin muda orang mulai melakukan kejahatan, rasa bersalah orang itu makin lama akan menghilang dan kejahatan yang serupa pun akan berulang.”


Sesaat Jung Woo memikirkan kata-kata Kakek Choi dan berkata kalau ia akan menyurati kepolisian Perancis dan mengirim hasil DNA Hyung Joon, untuk mencari tahu kemungkinan adanya kasus yang masih terbuka di sana. Atasan Jung Woo memintanya untuk juga mencari informasi tentang kecelakaan orang tua Harry Borrison.
 

Detektif Joo yang ada di samping Jung Woo melongo saat Jung Woo mulai mengetik email dan ia bertanya, “Apa mungkin kau menulis surat dalam bahasa Perancis?” Ha.


Mereka dikejutkan oleh kedatangan ibu Soo Yeon yang membawakan mereka makanan. Rupanya ibu datang kemari, ingin membawa Soo Yeon pulang. Tapi Jung Woo berpendapat kalau Soo Yeon lebih aman di kantor polisi karena pelaku itu masih berkeliaran dan, yang bahkan kata ibu,  pelaku itu juga membuntuti ibu saat di pasar.


Tapi ibu tak takut pada pelaku itu karena dulu pun ia bisa bertahan saat hidup bersama ayah Soo Yeon. Ia tak takut sama sekali pada suaminya. Ia memohon pada Jung Woo agar membiarkannya menjadi ibu Soo Yeon sekali ini saja, “


Jung Woo hanya terdiam, iba tapi tak mampu mengabulkan permintaan ibu. Di luar dugaan, atasan Jung Woo datang dan mengatakan kalau ibu dapat membawa Soo Yeon pulang setelah semua urusan administrasi selesai. Tentu saja hal ini membuat Jung Woo dan ibu terkejut. Tapi ibu Soo Yeon tak dapat menutupi kebahagiaan yang ia rasakan dan berkali-kali membungkuk untuk berterima kasih.


Atasan Jung Woo pun malah merasa sungkan dan berkali-kali pula membungkuk karena ia tak dapat berkata apapun pada apa yang terjadi dengan Soo Yeon selama ini.

Aww.. atasan Jung Woo ini termasuk dalam tim yang dulu melakukan kesalahan akan kasus salah tangkap ayah Soo Yeon, ia juga melihat bagaimana Soo Yeon dinyatakan mati dan ia juga tahu bagaimana ketidakadilan yang dialami oleh Soo Yeon pada kasus Harry ini. Maka sebagai kepala tim, hanya memulangkan Soo Yeonlah yang bisa ia berikan untuk membahagiakan ibu dan Soo Yeon yang selama ini selalu menderita. 


Soo Yeon sangat senang karena ibu datang berkunjung. Ibu merasa menyesal dan minta maaf untuk semua yang pernah terjadi. Dulu ia sangat putus asa karena hidup yang ia jalani (dari suami yang suka melakukan KDRT dan hinaan tetangga), sehingga ia bahkan tak tahan pada anaknya sendiri. 


Soo Yeon tak menyalahkan ibu. Apapun yang terjadi, ibu selalu membawanya pergi saat melarikan diri dari ayah. Ibu masih menyalahkan dirinya sendiri, karena ia membawa Soo Yeon pergi sebenarnya lebih karena ingin memiliki tempat untuk bersandar. Dan Soo Yeon pun bertanya, mengapa ibu tak segera mengatakan tentang ayahnya yang ternyata bukan seorang pembunuh?


Ibu berkata karena itu untuk pertahanan dirinya. Tak peduli suaminya pembunuh atau tidak, tapi dengan kematiannya, ia selalu berpikir kalau penderitaannya telah berakhir.


Soo Yeon menatap ibunya lama dan akhirnya memutuskan, “Jika kasus ini selesai, aku akan menikahkan ibu.” Ibu terkejut mendengar kata-kata Soo Yeon yang akan mencarikan orang sebaik Detektif Kim, namun Soo Yeon langsung ganti topik dan mengatakan kalau ia lapar. Ia ingin pulang dan makan di rumah. Ibu pun langsung menyetujuinya.


Tapi Jung Woo sudah muncul dengan membawa makanan. Makanan kesukaan Soo Yeon. Ia memanggil cintaku (aein) tapi matanya tak mengarah pada ibu yang biasa ia panggil aein, melainkan pada Soo Yeon yang langsung diciumnya. Tentu saja Soo Yeon terkejut. Apalagi seperti yang dulu, Jung Woo pun tak berhenti di situ, terus melanjutkan,


“Ddukbokki.. sosis.. soda...,” tiga kecupan diberikan Jung Woo pada Soo Yeon. 


Soo Yeon malu karena mereka sedang ada di depan ibunya. Begitu pun ibu. Mata ibu melebar, terkejut melihat Jung Woo yang terang-terangan mencium Soo Yeon tanpa malu.


Jung Woo melirik ibu, menggodanya, “Apa kau cemburu?” Ibu sudah berpura-pura tak melihatnya, tapi Jung Woo yang sangat gembira melihat mereka berdua, juga mencium pipi ibu. Tapi untuk ibu hanya sekali saja, karena ia harus menyimpan bibirnya. Lol.


Walau ibu pura-pura kesal, tapi ibu tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya melihat Jung Woo membelai rambut Soo Yeon dengan sayang. Maka saat Jung Woo meminta ibu juga ikut makan bersama, ia berpura-pura ingin ke toilet sebentar.


Dan di luar ia bertemu dengan Detektif Joo yang akan masuk ke ruang interogasi. Maka ia buru-buru mencegahnya untuk masuk. Detektif Joo yang tahu apa maksud ibu, malah kepingin tahu. Tapi ibu menahannya. Tak kurang akal, Detektif Joo menarik ibu untuk masuk ke ruang sebelah.


Yang ada kacanya. Yang bisa memperlihatkan apa yang sedang Jung Woo dan Soo Yeon lakukan. LOL.

Note: sebelumnya  Jung Woo selalu memanggil ibu sebagai aein, yang sering saya tulis dengan cinta atau pacar, dan Detektif Joo dengan istri. Nah, sekarang istri dan pacar menonton Jung Woo di ruang sebelah.


Mulanya ibu tak mau melihat, tapi saat Detektif Joo mengatakan kalau mereka berciuman (padahal nggak), ibu langsung penasaran dan melihat ke kaca, dan bertanya apakah ini gaya pacaran anak jaman sekarang?


Detektif Joo hanya menghela nafas. Ia tak tahu, karena apapun yang sedang Jung Woo-Soo Yeon lakukan, ia benar-benar merasa iri. Melihat mereka, yang ia ingin lakukan adalah menemui cinta pertamanya.


Ibu kaget mendengar cerita cinta Detektif Joo. Apa pacar Detektif Joo juga lari (seperti Soo Yeon)? Detektif Joo berkata sedih kalau saja pacarnya lari, ia bisa membawanya kembali, “Ia pergi dan menikah.”

Aww… puk puk puk..

Ibu menatap kasihan pada Detektif Joo, dan Detektif Joo melambaikan tangannya dengan wajah tersiksa saat berkata, “Selamat tinggaaall…!”


Ha. Sepertinya handphone Detektif Joo juga ingin menambah penderitaan Detektif Joo, karena alarmnya berbunyi, yang menandakan kalau ia harus minum ramuan ginseng merah. Ia pun patuh dan mengambil ramuan itu walau dengan menggerutu, “Apa gunanya juga meminum obat ini?”


Ternyata kedatangan Jung Woo ini, untuk menginterogasi Soo Yeon sebagai tersangka kejahatan yang lain. Ia mengacungkan ‘bukti kejahatan’ Soo Yeon yaitu buku hariannya dan mengutip apa yang tertulis di buku itu, “Pandangan pertama + ciuman = cinta pertama. Cinta pertama + ciuman = Han Jung Woo.”



Soo Yeon terpana mendengar kata-kata yang ia tulis di buku harian itu. Ia mencoba merebut buku itu, tapi Jung Woo tak bersedia menyerahkan bukti itu, “Pandangan pertama.. ciuman..Han Jung Woo… kenangan indah,” 


Dan seperti menunjuk bukti kejahatan, ia menyentuh bibirnya, dan kembali bertanya pada Soo Yeon, “Sebenarnya sejak kapan kau ingin menciumku seperti ini?”


Dan Jung Woo memonyongkan bukti di wajahnya sambil mengancam “Kalau kau tak mengaku, kau tak bisa pulang.”


Ha! Soo Yeon salah tingkah dan buru-buru merebut buku hariannya. Ia kan menulis buku itu hanya untuk bersenang-senang saja. Tapi Jung Woo masih mengejar jawaban dari tersangka ini, “Apakah sebenarnya kau memberikan payung itu karena kau memang berencana untuk menciumku?”


Bwahaha… ketahuan! Soo Yeon tak dapat menahan malu dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat Jung Woo mengatakan TKP yang mungkin direncanakan Soo Yeon, “Apakah di taman bermain? Atau di bawah lampu jalan?”


Jung Woo meminta kembali bukti yang ia sita, tapi Soo Yeon menyembunyikan buku itu di balik punggungnya, tak mau menyerahkan dan menyuruh Jung Woo untuk berhenti membacanya.


Ahhh!! Lupa. Ibu dan Detektif Joo ternyata juga mengikuti percakapan mereka. Ibu terkekeh geli namun lega  karena Soo Yeon tak akan punya waktu untuk bersedih dan semua itu berkat Jung Woonya. Sementara Detektif Joo hanya bisa mendesah, membuka ramuan ginsengnya dan meminum ramuan itu sambil melihat layar bioskop di depannya.


Ibu memukul kepala Detektif Joo yang minum ramuan itu sendiri. Detektif Joo pun menawarkan pada ibu untuk meminumnya.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar