Selasa, 27 Agustus 2013

Drama Korea Who Are You Episode 7 Part 2





“Bruk!!!” Sebuah mobil menabrak tubuh seseorang yang membuat orang itu terpental dan tergeletak tak berdaya di jalan. Dia Woo-cheol, orang yang tertabrak.

Shi-on yang tadinya akan menolong Woo-cheol ternyata tubuhnya telah didorong dulu oleh Gun-woo sehingga Shi-on tak berhasil menyelamatkan Woo-cheol. Gun-woo sigap dengan segera menelfon kekantor untuk melaporkan tabrak lari ini. “Telah terjadi tabrak lari di persimpangan Ilsan. Nomor platnya adalah 57DA 8639. Tolong segera kirim penaganan darurat”



Shi-on segera menghampiri tubuh Woo-cheol yang sudah tak sadarkan diri, Shi-on menangis histeris. Dia meminta maaf pada Woo-cheol, Shi-on sepertinya menyesal karena tak bisa menyelamatkan Woo-cheol.
~~~



Woo-cheol telah berada dirumah sakit, dia masih tak sadarkan diri. Shi-on menanyakan keadaan Woo-cheol pada dokter yang menanganinya. Dokter sudah melakukan pertolongan pertama pada Woo-cheol tapi mereka masih belum bisa memastikan apakah keadaannya baik-baik saja. Shi-on tampak begitu khawatir.
~~~



Gun-woo mengantarkan Shi-on kerumahnya, Gun-woo penasaran siapa sebenarnya Woo-cheol. Shi-on mengatakan kalau Woo-cheol adalah orang yang ada ditempat kejadian enam tahun yang lalu, Woo-cheol adalah orang pertama yang datang kesana. Gun-woo benar-benar tak percaya bagaimana Shi-on melakukan penyelidikan ini sendirian, “apa kau tak takut?”


Shi-on tak menjawab pertanyaan Gun-woo malah menunjuk-nujuk kening Gun-woo, “Darah...”
Gun-woo bingung, Shi-on menunjuk kalau di kening Gun-woo ada darah. Gun-woo mengusap keningnya dan benar saja ada darah yang mengalir disana, membuat Gun-woo sedikit terkejut.


Shi-on membersihkan luka di kening Gun-woo, Gun-woo terus mengerang kesakitan dan menyuruh Shi-on untuk lebih pelan. Shi-on kesal karena dia bahkan belum menyentuh luka Gun-woo. Shi-on memukul pelan Gun-woo, “kenapa kau berlebihan?”
Gun-woo tersenyum dan mengelak kalau dia tak berlebihan. Shi-on heran bukannya dari tadi Gun-woo tak merasakan sakit sampai ketika Gun-woo melihat lukanya.




Gun-woo membela diri kalau saat dia tak mengetahuinya itu tak terasa sakit. Shi-on kembali membersihkan luka Gun-woo tapi Gun-woo terus saja mengerang. Shi-on kesal, “Diam..Diam rewel”
Shi-on mengambil plester untuk menutup luka Gun-woo tapi Gun-woo terus menjauhkan kepalanya sehingga Shi-on menjewer telinga Gun-woo agar kepalanya mau mendekat. “ini tak akan sakit”


Gun-woo akhirnya diam, tapi jarak diantara mereka menjadi begitu dekat. Gun-woo memandang Shi-on lekat-lekat, Shi-on yang menyadari pandangan Gun-woo jadi sedikit canggung sehingga segera menempelkan plesternya ke kening Gun-woo.
Shi-on menjauh, “Selesai, ini sudah selesai”



Untuk beberapa saat mereka saling diam, Gun-woo mencoba mencairkan suasana, “Ngomong-ngomog, kenapa rumahmu keliatan kuno?”
Shi-on mengatakan kalau rumahnya terlihat kuno karena tak ada yang berubah selama 6 tahun, Gun-woo merasa kalau ada beberapa barang dirubah mungkin akan lebih baik dan juga Shi-on harus megganti kuncinya. Tapi Shi-on merasa kalau keadaan rumahnya yang seperti ini malah membuatnya nyaman dan mungkin bisa membantunya mengingat kembali masa lalu.
~~~


Rumah Sakit Myeongjin
Seorang suster mengecek keadaan Woo-cheol. Keadaan Woo-cheol masih stabil meski belum sadarkan diri.





Sepeninggal suster itu, sesosok bayangan memasuki ruangan Woo-cheol. Dia perlahan mendekati Woo-cheol, orang ini sama dengan yang menculik Shi-on dan yang menabrak Woo-cheol tapi yang jelas bukan Moon-sik. Orang itu melepaskan alat bantu pernafasan Woo-cheol. Jelas saja Woo-cheol langsung sesak dibuatnya, seketika matanya membulat dan melihat si pelaku. Dengan suara yang tercekat Woo-cheol berkata, “kkkauu”




Orang itu sudah mempersiapkan semuanya, dia sudah memakai kantong tangan untuk membekap mulut Woo-cheol. Woo-cheol langsung mengerang tapi dengan keadaannya tak ada apapun yang bisa ia lakukan.
Suara mesin pendeteksi detak jantung sudah berbunyi menandakan tak ada lagi detak Woo-cheol yang terdeteksi. Orang itu perlahan melepas bekapannya, dia mengembalikan alat pernafasan Woo-cheol seperti semula dan segera kabur.
~~~




Woo-cheol telah tiada, dokter menutup tubuhnya dengan kain. Shi-on memandangi mayat Woo-cheol dengan perasaan sedih, entahlah sedih kehilangan sunbae ataukah karena orang yang bisa memberinya petunjuk telah tiada, ataupun alasan yang lain.
Gun-woo menghampiri Shi-on yang kini sedang menangis dalam diam.
~~~



Shi-on keluar dari rumah sakit dengan tergesa-gesa dan mengambil buku daftar barang, ituloh yang kemarin dibuatin Seong-chan. Gun-woo mengejar Shi-on dan menghalanginya untuk pergi. Shi-on menyuruh Gun-woo melepaskan genggaman tangannya, Shi-on ternyata sedih karena merasa kalau dia adalah penyebab kematian Woo-cheol.
Shi-on menangis dengan penuh penyesalan, “Jika saja aku membiarkan kasus ini, kasus ini pasti sudah ditutup, kenapa aku begitu fokus pada menyatukan kembali ingatanku?”




Gun-woo mencoba menenangkan Shi-on dengan memegang pundaknya, tapi seolah dia begitu sulit untuk melakukan itu. Gun-woo akhirnya mengepalkan tangan dan mengurungkan niatnya.
Shi-on masih terus menangis dan membakar daftar barang yang telah disobek-sobek olehnya.
~~~


Seong-chan mengomentari keterlambatan Shi-on dan Gun-woo yang bersama-sama. Shi-on tak menanggapi namun Gun-woo bersikap seperti akan menggeplak Seong-chan. Seong-chan tak perduli dengan Gun-woo dan memeberitahu Shi-on kalau ada orang yang meminta Seong-chan memberikan sesuatu pada Shi-on dan itu ada dimeja.
Shi-on bertanya itu dari siapa. Seong-chan kurang tahu karena yang menerima itu Seung-ha dan sekarang dia ada di basement.





Shi-on mengambil amplop yang tergeletak dimeja. Gun-woo membulatkan matanya melihat secarik kertas yang ada dikursi Shi-on, itu kertas plat nomor yang diberikan Hee-bin. “Bagaiamana kau tahu hal ini?”
“Apa?” tanya Shi-on tak mengerti. Gun-woo menunjukkan kertasnya, “Ini mobil orang yang kemarin. Pada saat workshop, Aku melihat semua kamera di daerah jalur pendakian.”



” Malam itu, 20.45. Ini terekam kamera karena mengebut.” Gun-woo menujukkan screencap mobil berplat no 57DA 8639. Shi-on bertanya tentang nomor regristasinya, tapi Gun-woo memberitahu kalau itu mobil ilegal.”Baj*ngan seperti apa yang mengincarmu?”
Shi-on memikirkan sesuatu, dia kemudian permisi untuk pergi. Gun-woo meminta untuk pergi bersama, tapi Shi-on menolak karena dia akan pergi sendiri.


Selepas kepergian Shi-on, Gun-woo bertanya. “Tidak taukah kau kalau aku khawatir?”
~~~



Shi-on masuk ke ruang Hee-bin dengan kesal, “Ada apa dengan mobil ini?”
Hee-bin bertanya apa mobil yang melakukan tabrak lari, apa kau menemukannya. Shi-on makin kesal dengan kepura-puraan Hee-bin dan mengulangi pertanyaannya. Hee-bin sedikit tergagap tapi kemudian dia meyakikan Shi-on, “Aku sudah mengatakannya padamu, Mobil itu menabrak papan reklameku dan kabur.”
“Baj*ngan dengan mobil ini. Apa kamu yakin ini adalah tabrak lari?” Shi-on kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.



Hee-bin tergagap, “Unni, apakah kamu hidup dengan kebohongan sepanjang hidupmu? Apakah aku terlihat seperti seseorang yang akan membohongi seorang polisi?”
Shi-on masih kesal tapi mencoba percaya dengan Hee-bin, “Jika mobil ini muncul lagi, pastikan memberitahuku.” Shi-on pun pergi.



Hee-bin memandang tajam seseorang dihadapannya, “Kamu ini siapa? Apa yang begitu spesial dengan mobil itu sehingga Dia seperti tadi?”
Hyung-joon hanya memandang Hee-bin, dingin. Hee-bin bertanya apakah Hyung-joon tahu apa yang terjadi. “Lihat kesini, Oppa yang tampan(iahhhh...). Apa hubunganmu dengan Yang Shi-On unnie?” Hyung-joon masih terdiam seribu bahasa, Hee-bin bertanya lagi apa Hyung-joon memiliki rasa tak suka pada Shi-on. Hyung-joon menunduk , Dia adalah wanita yang aku cintai.



Hee-bin benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Hyung-joon. Hyung-joon kembali mengulangi ucapannya, masih dengan tatapan cool’nya. “Orang yang aku cintai.”
~~~


Moon-sik bertanya apakah Gun-woo sudah yakin, Gun-woo memang tak ragu lagi. Moon-sik dengan malas berkata siapa yang mengejar Ketua Tim Yang, Gun-woo bilang kalau dia akan mengejar mereka jika dia tahu.
Moon-sik menanyakan tentang surat untuk pencarian mobil itu.
Gun-woo : “Belum ada penggilan sama sekali. Ini adalah mobil yang tidak terdaftar.”
Moon-sik : “Dia pasti sudah mengganti mobilnya sekarang bukan? Tapi siapakah pensiunan polisi yang meninggal itu?”



Gun-woo mengatakan kalau Mereka bilang dia adalah detektif pertama yang tiba saat kejadian enam tahun lalu. Gun-woo mendekatkan tubuhnya pada Moon-sik, Gun-woo meminta Moon-sik untuk membantu mencarinya, Gun-woo kasian pada Shi-on karena mengalami masalah sulit. Moon-sik mengatakan kalau ini masalah spesial, bahkan dia tak tau.


Moon-sik curiga dengan kasus ini, Gun-woo juga merasa aneh karena Kasus itu disimpan dengan begitu rahasia dan tersembunyi. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing, Gun-woo sepertinya menyadari sesuatu dan izin untuk pergi.


Moon-sik menyandarkan kepalanya ke botol minumya, dia juga terlihat begitu kelelahan dan begitu banyak pikiran.
~~~



Shi-on pulang kerumahnya sendirian tanpa ditemani Gun-woo. Namun saat dia mencoba membuka pintu rumah dia merasa ada yang aneh karena pintu sudah terbuka. Shi-on berjalan mengendap endap memasuki rumahnya, dia melongok sedikit dari pintu tapi kemudian berbalik untuk mengambil sesuatu untuk perlindungan, sapu. Keke




Tanpa pikir panjang, Shi-on langsung menerobos pintu dan memukul orang yang ada didepannya tanpa melihat siapa itu. Shi-on berusaha memukul orang itu, tapi orang itu menghentikan Shi-on dan Shi-on merasa suara itu familiar sehingga dia membuka matanya. Gun-woo lah yang telah jatuh terjerembab dengan keterkejutannya.



Gun-woo telah memasangi rumah Shi-on sebuah CCTV. Shi-on bertanya kenapa CCTV ada disana.
Gun-woo : “Kemanan rumah ini tidak cuma sekedar buruk. Begitu buruknya sampai aku harus memasang CCTV di sini?”
Shi-on menghela nafas, “Detektif Cha. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi ini masalahku. Aku akan menghadapi masalahku sendiri.”
Gun-woo mengingatkan Shi-on, “Ketua Tim. Kau hampir mati dua kali. Di hutan, dan di jalan. Jika aku tidak ada di sana-“


Shi-on benar-benar berterimakasih, tapii... Gun-woo memotong perkataan Shi-on dan mengingatkan kalau baj*ngan itu tak hanya mengincar Shi-on tapi juga berusaha membunuhnya. Shi-on juga tahu akan hal itu, dengan mata berkaca-kaca Shi-on mengatakan, “Kang Woo Cheol Sunbaenim meninggal karena aku. Ini masalahku. Aku tidak ingin kamu ada dalam bahaya karenaku. Aku akan menolak hal itu.”



Gun-woo : “Ketua Tim, Aku juga menolak untuk mati. Ini hanya CCTV seperti yang ada di minimarket. Periksalah setiap malam ketika kau pulang, dan jika ada sesuatu yang aneh, lalu periksa monitor.”
Gun-woo pun pamit pulang.
 Dalam perjalanan, Gun-woo bergumam. Apakah sangat sulit hanya untuk mengatakan ‘Terima kasih, Cha Geon-Woo’





Shi-on juga tengah memperhatikan Gun-woo dari laptop yang terhubung dengan CCTV. Shi-on menjadi teringat dengan apa-apa yang telah Gun-woo lakukan padanya. Saat dihutan waktu workshop dan juga saat Gun-woo menolong Shi-on di kecelakaan yang menyebabkan Woo-cheol tertabrak.
Shi-on hanya menghela nafas.
~~~



Moon-sik tengah melihat arsip kasus tahun 2007 tentang Kasus korupsi internal Pelabuhan Incheon. Moon-sik membacanya dengan seksama, namun tiba-tiba komputer yang digunakan Moon-sik layarnya menjadi tak jelas. Moon-sik menggetok-ngetok tapi belum juga kembali semula. Moon-sik mengetoknya dan mencoba meng-klik-klikan dan akhirnya komputer berjalan seperti semula.


Ternyata, ini semua efek dari kedatangan hantu Handsome. Hyung-joon berjalan mendekati Moon-sik yang kembali melihat arsip itu.
~~~


Didepan kuil Hee-bin, Seorang ibu setengah baya sedang menelfon dengan kesal, “Aku tahu. Aku akan bertanya sekali lagi. Jika ia berkata tidak, Aku akan membuat keputusan tegas.”



Hee-bin meregangkan tubuh  sambil bergumam kenapa dia(she) belum datang. Namun kemudian Hee-bin terkejut dengan sudah adanya Hyung-joon yang duduk bersila didepannya, “kau menakuti ku!”. Hyung-joon tak menjawab, stay cool lah.
Orang yang ditunggu Hee-bin datang, membuat Hee-bin segera merubah sikapnya.



Hee-bin heran melihat pengunjungnya menggunakan kacamata dipagi hari. Hyung-joon memberitahu kalau wanita itu dipukul suaminya. Hee-bin melirik Hyung-joon, berkedip-kedip heran.
Hee-bin segera berubah sikap sok tau pada pengunjung dan memberi nasehat, “Bibi, tipe pria terburuk adalah mereka yang menggunakan kepalan-nya terhadap wanita.”


Si bibi terkejut karena tanpa dia memberitahu tapi Hee-bin telah mengetahuinya terlebih dahulu. Si bibi membuka kacamatanya dan benar saja ada lebam disekita kelopak mata. Hee-bin juga terkejut kembali melirik Hyung-joon. Dengan menaik turunkan alisn, Hee-bin bertanya tanpa suara pada Hyung-joon, apa?



Hyung-joon dengan malas atau sok mengatakan kalau suami si bibi ketahuan selingkuh. Hee-bin kembali menatap si Bibi dengan percaya diri, Hee-bin ber-akting seolah tau segalanya. “Bibi, kenapa kau tinggal dengan pria yang menggunakan tenaganya di tempat lain. Pria yang menggunakan tenaganya pada wanita lain, dan kemudian menampar istrinya dengan sisa tenaganya. Apa yang bisa dipelajari anak-anak dari hal itu?”



Bibi tambah terkejut lagi, “Itulah yang ingin aku katakan.”
Hee-bin menggeleng-geleng kepala seolah prihatin dan tak percaya dengan perlakuan suami si bibi. Hyung-joon yang melihat Hee-bin tersenyum, seperti biasa sangat-sangat tipis.



Hee-bin mengitung uang yang diperolehnya dengan riang. Hee-bin sok jual mahal, ” Kamu pikir aku akan mendengarkanmu dengan mudah karena kau melakukan hal ini?”
Hyung-joon tak bersuara hanya menatap Hee-bin dalam diam. Hee-bin menaruh uangnya, tampak putus asa, “Oppa, walaupun kau mencitai wanita itu”. Hee-bin ragu mengucapkan kata selanjutnya, tapi kau sudah mati.
Hyung-joon menunduk, “Apakah kamu pikir aku datang kesini untuk cinta terlarang?
~~~



Shi-on diruangannya sedang sibuk berfikir, dia kemudian mengingat amplop yang dia dapat dan belum sempat dilihatnya. Shi-on pun membukanya, ada sebuah note dan nametag. Shi-on membaca notenya, ‘Ada sesuatu dengan barang-barang Woo Cheol. Aku merasa seperti harus memberikan ini padamu’
Shi-on membalik nametag itu, benar saja itu nametag Hyung-joon yang diambil Woo-cheol. Shi-on bertanya-tanya apa Hyung-joon juga detektiv.


Shi-on mencari identitas Hyung-joon dengan memasukkan identitas yang tertera di nametag itu. Sh-on menunggu dengan cemas, namun hasilnya nihil. Tak ada informasi apapun yang bisa diperoleh Shi-on.
Shi-on berkata dalam hati, “Detektif Lee Hyeong Joon. Meninggal enam tahun yang lalu setelah tertembak di atas kapal. Aku tidak mempunyai akses ke berkas-berkas itu juga informasi tentang latar belakangnya. Aku juga tidak bisa menemukan benda apa yang berhubungan dengannya. Kenapa seorang detektiv pergi ke sana(kapal) malam itu?”


Shi-on menatap nametag Hyung-joon lekat-lekat. Shi-on menemukan sebuah kata yang terlintas diotaknya, “Sebuah pengintaian, pengintaian...”
~~~


Shi-on masih memikirkan tentang pengintaian, dia teringat kata-kata seorang polisi yang menginterogasinya saat dia baru bangun dari koma. “Pada malam 21 Juli 2007, ada dua orang polisi dengan intel penyelundupan yang sedang bertugas menyamar. Tapi satu mayat ditemukan tertembak dan mati.”
Shi-on berjalan seolah menguatkan tekadnya untuk kembali menemukan bukti tentang Hyung-joon.


Shi-on memasuki sebuah ruangan, sepertinya ini gudang tempat penyimpanan semua dokumen yang ada di seluruh divisi. Shi-on berjalan memasuki salah satu lorong rak.



Disisi lain lorong dalam ruangan ternyata juga ada Moon-sik yang mengambil sebuah dokumen.


Shi-on masih mengitari lorong untuk mencari dokumen.


Moon-sik membuka lembar demi lembar dokumen yang diambilnya, dia menemukan sebuah kertas file yang bertuliskan,Lee Hyung-joon – Choi Moon-sik.
Moon-sik mengambil kertas file itu dari dokumen.




Shi-on sudah sangat dekat dengan Moon-sik, Shi-on terkejut melihat sesuatu. Ada Hyung-joon yang berjalan mendekati Shi-on yang membuat Shi-on berjalan mundur. Ternyata Hyung-joon mencoba membuat Shi-on bersembunyi dari Moon-sik.



Moon-sik berjalan keluar dari lorong rak-nya, Shi-on sudah berada di lorong rak yang lain jadi Moon-sik tak melihat keberadaan Shi-on. Shi-on akan mengatakan sesuatu, tapi dengan segera Hyung-joon menempelkan telunjuknya kebibir, memberi tanda agar Shi-on diam.
Moon-sik seolah merasa ada sesuatu yang janggal dan tengak-tengok. Namun kembali berjalan.




Moon-sik membuka pintu ruangan namun tangannya kembali tertahan dan berbalik masuk lagi. Moon-sik melongok kembali kedalam ruangan dan berjalan semakin dekat. Hyung-joon dengan seksama mendengarkan langkah Moon-sik dan segera bersikap waspada.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar