Selasa, 20 Agustus 2013

Drama Korea A Gentleman's Dignity episode 2 part 1

Prolog
Mereka berempat berada di kafe. Bercanda dan tertawa-tawa.

Suara Tae San : “Hari ini kami sedang duduk melihat langit biru di dekat jendela sebuah kafe Perancis. Sebenarnya mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan internasional yang selalu berubah atau ketidakstabilan bursa saham luar negeri yang akan dianggap lebih normal. Tapi sebenarnya kami berada disini untuk menggosipkan teman-teman sekelas kami yang bernasib baik. Kecuali Do Pal.” (Do Pal sebutan Tae San untuk Do Jin)

Tae-san terbengong-bengong melihat tampang Do Jin yang diam saja. “Kenapa? Ada masalah apa? Apa kau mengacaukan kontrak dengan Ny Song?”

“Tidak mungkin.” sahut Do Jin. “Kau sudah banyak berkorban.”
“Lalu kenapa?” Tanya Tae San.
Do Jin : “Aku hanya merasa setelah kita berusia 40 tahun sekarang, mungkin kita sudah mencapai usia dimana kita tidak akan lagi menyadari jika seseorang menyukai kita.”
Tae San penasaran, “Apa ada yang menyukaimu? Siapa? Apa dia cantik?”
Jung Rok ikutan bertanya, “Berapa usianya? Apa dia cantik?”
Yoon pun ikut penasaran, “Apa dia cantik?”
Ketiganya menatap penuh penasaran.

Do Jin malah menerangkan tentang Konfisius dan membuat yang lain mengacuhkannya dan bicara yang lain. “Konfusius pernah berkata yang disebut usia 40-an adalah usia dimana kau tidak akan goyah oleh hasrat duniawi.”
Tiba-tiba tatapan mata Jung Rok melihat ke arah luar kafe. Yoon dan Tae San juga melongo melihatnya. Do Jin heran dan berbalik ia ingin tahu apa yang dilihat teman-temannya.

Oh oh seorang wanita cantik memakai rok mini hihi... Naluri lelaki mereka pun keluar. Melongo hahaha... keempatnya menatap wanita itu dari mulai kaki sampai kepala.
Si wanita berniat mengambil sesuatu yang terjatuh. Ke empat pria ini langsung saja nunduk ingin melihat atau lebih tepatnya ngintip hahaha (lihat apa wakakaka)
Ternyata konfusius salah, “Kami masih selalu dan selamanya pria.... pria perkasa.”

Sinopsis A Gentleman’s Dignity Episode 2 Part 1
Kim Do Jin di ruang kerjanya menatap foto Tae San bersama Se Ra. Disana juga ada sarung tangan milik Tae San yang tadi terus dipandang Yi Soo. Ia memandang kesal yang melipatnya dengan tanda jari tengah mengarak ke kursi Tae San (tanda f*ck)
Yi Soo tiduran di kamar, ia masih cemas dan gempulingan di kasur. Se Ra masuk ke kamar Yi soo dan berkata kalau dirinya kelaparan dan mengajak Yi Soo makan. Tapi Yi Soo ogah-ogahan dan bertanya apa masih ada makanan di kulkas. Ia menyarankan lebih baik pesan makanana saja. Se Ra punya usul dari pada pesan makanan lebih baik makan di luar saja.

Se Ra melihat tampang Yi Soo yang bete dan bertanya apa Yi Soo sedang depresi. Yi Soo tak menjawab ia malah bertanya apa Se Ra kenal dengan temannya Tae San yang bernama Kim Do Jin. Se Ra tentu saja kenal, ia heran bagaimana Yi Soo bisa mengenalnya. Yi Soo berkata kalau ia bertemu dengan Do Jin di lapangan baseball. Yi Soo ingin tahu seperti apa Kim Do Jin dimata Se Ra.

Se Ra : “Karena kau sudah bertemu dengannya, pasti kau tahu kalau dia tampan, pintar dan secara alami dia dikelilingi banyak wanita. Dan karena hal itu dia menjadi pria yang egois. Dia terlalu kejam bahkan sedikit penyendiri.”
Yi Soo menghela nafas panjang mengetahui bagaimana sifat Do Jin. Se Ra ingin membeli Sushi dan ia ingin Yi Soo yang membayarnya. Yi Soo merengut karena selalu saja ia yang membayar kapan giliran Se Ra.

Yi Soo bingung apa yang harus dilakukannya dulu, penyelesaian masalah muridnya dulu atau penjelasan dulu. Akhirnya ia memutuskan kalau yang akan ia lakukan sekarang adalah makan sushi dulu hahaha.
Seo Yi Soo berada di kelasnya. Kim Dong Hyub seperti biasa tak mengikuti pelajaran dengan baik, ia tiduran di kelas. Yi Soo mengingatkan muridnya jangan terang-terangan tidur di kelas hanya karena sekarang pelajaran tambahan. Dong Hyub yang sebenarnya tak tidur pun segera mengangkat kepalanya.
Saking terlalu dipikirkannya, Yi Soo melihat tulisan yang ia tulis di papan tulis berubah tulisannya menjadi ‘penyelesaian damai’ (hahaha harus penyelesaian damai dulu) bukan hanya di kelas, selebaran yang terpasang di luar pun bertuliskan hal yang sama. Ia memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini lebih dulu. Ia segera menghubungi ke empat murid untuk segera menemuinya.
Yi Soo dan ke empat muridnya berada di depan kantor Kim Do Jin untuk minta maaf secara resmi agar kasus anak didiknya tak dibawa ke meja hijau. Do Jin berkata kalau ia tak begitu mengingat apa yang terjadi tapi ia mencibir apa ini yang namanya minta maaf secara resmi.

Yi Soo tahu betul kalau ia dan muridnya terlambat minta maaf tapi paling tidak Do Jin mempertimbangkan kesungguhan ke emapat muridnya. Yi Soo mendelik ke arah murid-muridnya agar minta maaf yang benar, ke empatnya minta maaf ogah-ogahan.
Do Jin : “Jadi meski mereka tidak terlihat bersungguh-sungguh namun di dalam hati mereka apa mereka bersungguh-sungguh?”

Yi Soo menginjak kaki Dong Hyub agar minta maaf dengan benar, ia berkata kalau muridnya sudah melakukan introspeksi diri.

Do Jin menilai kalau Yi Soo itu guru yang sangat terhormat, “Aku pikir kau sudah cukup dipusingkan dengan kehidupan pribadimu yang rumit tapi sepertinya tidak. Aku berharap kau tak salah paham tapi uruslah dirimu sendiri dulu.”

Do Jin masuk ke kantornya membuat Dong Hyub kesal. Yi Soo membentak muridnya.
Yi Soo ke kafe Mango Six-nya Jung Rok. Ia melihat daftar menu yang terpampang disana. Jung Rok tanya apa ada yang dipesan.
Yi Soo : “Seorang pria yang sulit.”
Jung Rok : “Di kafe kami akulah orang yang dianggap paling sulit ditangani.”
“Apa?” Yi Soo tertawa, “Aku mencari kopi yang disukai pria sulit.”

Jung Rok bisa membantu, ia mengenal seorang pria yang seperti itu. Dia sangat egois tidak pengertian dan juga sangat kejam. Yi Soo membenarkan ia ingin tahu kopi seperti apa yang disukai pria seperti itu.
Jung Rok : “Americano dengan 3 shot.”
Sambil menunggu kopi pesanannya datang, Yi Soo memikirkan ucapan Do Jin padanya yang menebak kalau dirinya menyukai Tae San, “Cinta bertepuk sebelah tangan dan ini dengan kekasih temanmu.” Melihat ekspresi Yi Soo, Do Jin tahu kalau semuanya itu benar.

Mengingat ini Yi Soo kembali bingung plus pusing, “Ottoke? aku harus bagaimana?” Ia menggedor-gedorkan kepalanya ke meja.
Yi Soo mencoba bersikap baik di depan Do Jin. Ia datang lagi ke kantor Do Jin dan memberikan 2 kopi karena ia tak yakin apa yang Do Jin sukai.
Yi Soo : “Americano dengan ekstra shot. 2 shot dan 3 shot.”

Do Jin mengambil yang 3 shot. Yi Soo mendelik ternyata benar apa yang dikatakan Jung Rok. Yi Soo minta ia diberi waktu sebentar, ini bukan masalah penyelesaian damai. Do Jin tak bicara ia hanya menggunakan wajahnya untuk menunjuk agar Yi Soo menunggu dan duduk.

Yi Soo : “Apa aku menunggu lagi?”
Do Jin tak menjawab mungkin saking sibuknya (atau mungkin malas)
“Lagi?” Yi Soo mendesah dan duduk dimana ia kemarin duduk sambil memperhatikan betapa sibuknya Do Jin.
Yi Soo menghilangkan rasa bosannya dengan membaca buku. Do Jin memperhatikan keseriusan Yi Soo membaca. Yi Soo sadar kalau ia tengah diperhatikan, ia pun menoleh tapi Do Jin langsung memalingkan wajahnya, pura-pura sibuk. Yi Soo menyimpan bukunya.
Yi Soo mendekat ke arah Do Jin dan bertanya berapa lama lagi ia harus menunggu.

“Apa kau benar-benar tak mengingatku?” Tanya Do Jin. “Kau benar-benar tak ingat pernah bertemu denganku?”

Yi Soo minta maaf (ia ingat kok). Ia berpura-pura mengatakan kalau ia berharap bisa mengingat dimana pernah bertemu dengan Do Jin. Karena Yi Soo bilang tak mengingatnya Do Jin tak ingin lagi melanjutkan obrolannya, ia bilang kalau ia sibuk dan ada rapat jadi bicaranya lain waktu saja. Yi Soo mencak-mencak, tapi Do Jin tak peduli ia pergi begitu saja.
Ketika Do Jin sudah keluar Yi Soo duduk di kursi kerja Do Jin. Ia mengambil kertas memo dan pena akan menuliskan sesuatu.

Kalau kau punya waktu bisakah kau meneleponku? (diremas)
Aku akan menunggu teleponmu (diremas)
Pertama tama ayo kita bicara tentang penyelesaian damai. Kemudian bicarakan sisanya nanti. (diremas juga)
Aku adalah guru dan kau adalah .... (diremas lagi)
Ternyata sudah banyak yang ditulis Yi Soo. “Bagaimanapun dia sudah tahu apa yang dilakukan p*nt*tku musim semi lalu.”

Yi Soo meremas semua tulisannya dan memasukkan ke tas, tanpa ia sadarai pena Do Jin ikut masuk ke dalamnya.
Yi Soo melihat Do Jin tengah berada di kafe Mango Six sendirian. Ia pun melirik kesal. Do Jin melihat Yi Soo yang berdiri menatapnya. Oh oh Yi Soo pun ingat kalau ia pernah mengalami tatapan seperti hari ini. Ketika ia berteduh dari guyuran hujan.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang menutup mata Do Jin. Do Jin menyingkarkan tangan yang menutupi matanya dan kembali menatap Yi Soo. Yi Soo mendekat dan menempelkan memo yang tadi ia tulis di jendela tepat dimana Do Jin duduk. Yi Soo membungkuk minta maaf dan berlalu dari sana.

Do Jin segera keluar untuk mengambil kertas memo yang di tempel Yi Soo, “Aku berharap akan berjanji bertemu denganmu nanti aku akan menunggu teleponmu.”
Yi Soo sampai di rumah, tampangnya sangat lusuh. Ia melihat Se Ra sudah berdandan rapi dan cantik, ia bertanya apa ada pesta. Se Ra berkata bukan, ia akan menemui Tae San ia perlu melakukan pertengkaran hebat dengan Tae San. Yi Soo tak mengerti akan bertengkar tapi berusaha tampil seperti itu. (tampil cantik)

Se Ra : “Apa aku tak boleh tampil cantik dalam pertengkaran? Bukankah sebagai wasit kau perlu memakai perlengkapan pelindung? Ini adalah perlengkapan pelindungku.”
Se Ra cekikikan meninggalkan Yi Soo yang sedang galau. Yi Soo berbaring malas di kursi, “Kenapa pria itu dia?” Yi Soo duduk tiba-tiba, “Tidak mungkin mungkinkah ada sesuatu antara aku dengan pria itu?”
Yi Soo mendapat sms dari Meari, “Pengguna yang terhormat pesan ini dikirim terlebih dahulu. Saat kau membaca pesan ini aku mungkin sudah terbang di atas langit Jepang. Segera aku akan tiba di bandara Incheon.”
Yi Soo berfikir, “Langit Jepang?”
Di dalam sebuah pesawat penerbangan menuju Korea. Im Meari terbangun dari tidurnya dan menggeliat. Ia membuka matanya dan melihat ke arah seorang pria yang duduk di sebelahnya yang tengah menonton drama di laptop. Nonton K-drama Secret Garden Meari pun ikutan menonton.
Si pemilik laptop pun menatapnya. Meari minta maaf karena ia belum menonton episode yang dimaksud (ini adegan Secret Garden ketika rombongan Action School berada di resort milik Kim Joo Won. Kim Joo Won tiduran di sebelah Gil Ra Il terus menghilangkan kerut yang ada di dahi Ra Im dan bertatapan lama)

Im Meari penasaran apa yang dikatakan Kim Joo Won di drama itu. “Kenapa mereka berbaring bersama?”

Pria yang ada di sebelah Meari yang tak lain bernama Colin memberikan sebelah headset-nya agar Meari bisa mendengarkan apa yang dikatakan Kim Joo Won.
Meari mendengarkan dengan seksama. Ia pun terkesan dengan setiap kalimat yang diucapkan di drama itu. “Daebak. Mengagumkan. Penulis drama ini orang yang jenius apa kita bisa nonton lagi?” (haha penulis drama ini juga kok)
Colin diam saja melihat wanita yang disampingnya betul-betul cerewet.
Im Tae San berada dia area konstruksi bangunan. Seseorang datang dan berkata kalau ada seorang wanita cantik seperti Miss Korea datang mencari Tae San.

Tae San sepertinya tahu siapa yang datang, ia malah mengenakan perlengkapan pelindung. Anak buahnya heran apa Tae San tak ingin menemui wanita itu. Tae San berkata kalau ia akan menemui dia tapi ia tak boleh pergi tanpa pelindung. Tae San memakai kacamata, sarung tangan dan helm pelindungnya. Ia bahkan membawa tongkat pemukul haha.
Melihat Tae San menemui seorang wanita. Pekerja konstruksi bersiul-siul, suit.. suit.. hehe. Tae San membunyikan peluit agar para pekerja diam dan meneruskan pekerjaan. Se Ra tersenyum dan berjalan mendekat tapi Tae San mengarahakan tongkatnya melarang Se Ra mendekat. “Jawab dari situ, kenapa kau ada disini?”
Se Ra masih tersenyum, “Apa kau tak merindukanku?”
Tae San mencoba bersikap galak, “Aku sedang bekerja jadi jangan basa-basi.”
Se Ra : “Entah aku datang untuk putus denganmu atau berdamai denganmu. Salah satu dari kedua hal itu, menurutmu yang mana?”
Tae San : “Kau berada disini mungkin untuk putus. Jika harga dirimu terluka karena aku yang lebih dulu mengatakannya cepatlah katakan kemudian pergi. Aku akan mendengarkan.”
Se Ra : “Apa kau tak mau berdamai?”
Tae San : “Tidak. Karena aku tak melakukan kesalahan apapun. Kalau kau datang untuk mendapatkan maaf dariku. Kau sudah buang-buang waktu.”
Se Ra sewot, “Begitukah? Baik. Aku mengerti. Hanya untuk mempertahankan Hong Se Ra, banyak pria yang mengantri untuk memberiku berlian, mobil import dan kunci apartemen mereka. Jadi jangan khawatirkan aku. Hiduplah lebih baik. Selamat tinggal.”
Se Ra akan pergi tapi ia tak bisa lewat karema ada kubangan air. Panampilan sempurnanya tak bisa kotor begitu saja karena kubangan air. Ia pun bingung harus lewat dari mana.

Tiba-tiba Tae San mengangkat tubuh dan mebopongnya melewati kubangan air wow.... tak menghiraukan sepatu dan celananya kotor. Ketika sudah melewati kubangan air ia pun menurunkan Se Ra.

Tae San : “Siapa orangnya? Apa tiga orang? Atau satu orang yang menjanjikan memberikan tiga hal itu.” (berlian, mobil, kunci apartemen)
Se Ra tersenyum dan keduanya berciuman di lokasi konstruksi bangunan.. wekekeke
Yi Soo menjemput Meari di bandara.
“Guru!” teriak Meari membuat Yi Soo melongo kaget tak percaya. Meari langsung berhambur memeluknya dan berkata kalau ia sangat merindukan Yi Soo. Yi Soo kagum badan meari berkurang banyak sekali (dietnya berhasil hahaha) Meari berputar-putar memperlihatkan tubuhnya yang langsing dan mungil.
Colin berada di toko buku membeli buku panduan berbahasa Korea. Ia mengambil uang dari balik buku dan disana ada foto 4 sekawan (Kim Do Jin, Im Tae San, Choi Yoon dan Lee Jung Rok) bersama seorang wanita (mungkin ibunya Colin)
Im Meari tak mau pulang ke rumah kakaknya karena yang kakaknya tahu ia akan pulang bulan depan jadi ia akan menginap di tempatnya Yi Soo. Yi Soo berkata kalau Meari tak pulang Tae San mungkin akan kecewa karena adiknya yang sudah 2 tahun tak ditemui malah menginap di rumah orang lain.

Meari merengut karena gurunya ini selalu berada dipihak Kakaknya. Ia berkata kalau ini belum lebih dari dua tahun, “Kak Se Ra dan kakakku mengujungiku di New York.” Katanya.
Yi Soo : “Apa bersama dengan Se Ra?”

Meari membenarkan itu kira-kira musim panas tahun lalu. “Tapi Guru kau tak boleh mangatakan pada Kak Yoon kalau aku sudah pulang ke Korea. Beberapa hari ini aku makan banyak dan naik 2 kg, aku akan menemui dia setelah berat badanku turun.”

Yi Soo : “Kenapa kau mau menurunkannya di rumahku? Kau bisa menurunkannya di rumahmu.”
Meari : “Bagaimana kalau Kak Yoon datang berkunjung?”
Yi Soo tak masalah tapi tak tahu dengan Se Ra. Apa Meari pikir Se Ra akan membiarkan Meari menginap.
Se Ra mendelik melihat Meari akan menginap di tempatnya. Meari minta ia hanya akan menginap selama beberapa hari saja dan itu tak boleh diketahui kakaknya. Se Ra menolak. Meari tanya kenapa.
Se Ra : “Kenapa kau sok memerintah padahal kau yang membutuhkan tempat tinggal? Dan juga kau tak menyukaiku.”
Meari : “Unnie, aku memang tak menyukaimu tapi bukan berarti aku tak suka disini.”
Se Ra melirik kearah Yi Soo, “Kau dengar kata-katanya kan?”

Yi Soo berkata kalau ia mengajarkan pada Meari untuk mengungkapkan keyakinan secara tegas dan berani. Meari mengingatkan Se Ra jangan pernah mencoba mengusik gurunya. Se Ra menantang bagaimana kalau ia mengusik Yi Soo. Meari mengancam itu berarti kakaknya akan mengetahui semuanya.

Meari membawa barang-barangnya masuk ke kamar Yi Soo. Se Ra mendesah bagaimana mungkin Meari berbeda dengan Tae San. Yi Soo berkata kalau Meari itu gadis yang baik, ia berpesan agar Se Ra memperlakukan Meari dengan baik karena kemungkinan Se Ra dan Meari akan menjadi satu keluarga dan jangan menyalahkan Meari.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Yi Soo kaget plus takut kalau itu Tae San dan keberadaan Meari akan ketahuan. Tapi itu bukan Tae San melainkan Kim Do Jin. Sera heran apa Do JIn datang untuk menemui Yi Soo.

Se Ra akan membukakan pintu tapi Yi Soo malarang ia yang akan membukakannya. Se Ra tak peduli siapa yang datang ia pun pergi mandi dan berpesan agar Do Jin segera pergi ketika ia selesai mandi. Yi Soo membuka pintu kamarnya dan menyampaikan pada Meari kalau temannya Tae San yang bernama Kim Do Jin datang. Ia minta Meari agar tak berisik.
Yi Soo membuka pintu dan Do Jin masuk dengan tatapan penuh kecurigaan.

“Apa kau melihat memoku?” Tanya Yi Soo. “Kenapa kau tak meneleponku saja? Aku akan datang menemuimu.”
“Kau mengambil penaku kan?” Tuduh Do Jin.

Yi Soo tak mengerti pena apa. Do Jin mengatakan kalau pena itu tadinya ada di atas meja. Yi Soo kesal Do Jin menuduh dirinya mencuri, untuk apa ia mengambil pena milik Do Jin. Do Jin berkata kalau Yi Soo pasti menggunakan penanya itu untuk menulis memo. Ia yakin kalau Yi Soo orang terakhir yang menggunakannya dan pena itu sangat penting baginya.

Yi Soo tahu kalau Do Jin tengah kehilangan pena tapi Do JIn tak perlu semarah itu padanya, apa Do Jin mencurigainya. Ia siap diperiksa, ia akan mengosongkan isi tasnya di depan Do Jin. Ia mengatakan kalau tas-nya belum ia buka sejak tiba di rumah.
Dengan sikap kesalnya Yi Soo menjatuhkan semua isi tasnya. Krim kosmetik, dompet, buku, ponsel, kunci, dan pena.
Yi Soo jelas saja terkejut karena ia tak pernah memasukan benda itu ke dalam tasnya. Dan bral.... kertas memo yang diremas-remas pun berjatuhan semuanya.
Keduanya jongkok bersamaan. Do Jin langsung menyambar pena miliknya dan langsung menyimpannya. Yi Soo benar-benar bingung bagaimana pena itu bisa berada di tasnya ia tak melakukannya dengan sengaja. Yi Soo bicara sambil berusaha memunguti kertas memo yang berserakan. Tapi Do Jin dengan sigap menahan tangan Yi Soo. Ia ingin tahu apa isi pesan yang tertulis di memo itu.

Do Jin membacanya, “Tapi yang ini kau sengaja kan?”

Karena kau tahu jadinya seperti ini kenapa kau memintaku menunggu? dasar brengsek.

Yi Soo membereskan semuanya dan meminta Do Jin menunggu di luar ia akan menjelaskannya. Yi Soo ke kamar menyimpan tas berserta isinya yang tadi berhamburan tapi sayang masih ada yang tertinggal. Do Jin memungutnya.

Si brengsek yang sama.
Di dalam kamar Yi Soo benar-benar kesal, ia seakan ingin berteriak melampiaskan emosinya tapi ia mengginggit selempangan tas agar suaranya tak terdengar. Ia kesal kenapa semuanya terjadi disaat yang bersamaan. Meari tanya apa yang datang bersamaan.

“Kesialan..” seru Yi Soo. “Dia membawa kesialan bersamanya, aku seharusnya tak menemuinya, aku tak pernah berharap bertemu pria itu di luar.” Yi Soo keluar akan menemui Do Jin. Meari melongo tak mengerti ia membuka koper pakaianannya.
Yi Soo keluar rumah tapi ia tak melihat Do Jin. Ia celingukan tapi tak melihat siapapun, “Kim Do Jin-ssi. Presdir Kim?” Panggilnya.

Karena tak menemukan Do Jin, Yi Soo pun menelepon Do Jin mengatakan kalau ia sudah berada di luar dan bertanya dimana keberadaan Do Jin.
“Di mobil.” jawab Do Jin.
“Mobil? Aku tak bisa melihat kau atau pun mobil.” Yi Soo celingukan.
“Tentu saja. Karena keduanya berada dalam perjalanan pulang.”
“Lalu bagaimana dengan perjanjian perdamaiannya? Bukankah kau datang untuk melakukan perjanjian perdamaian.”
“Tadinya seperti itu waktu aku datang, tapi aku berubah pikiran.”
“Kenapa? Jangan bilang kau pergi karena kau harus menunggu beberapa menit. Di kantormu aku menuggu.....”
“Murid yang nakal, catatan berisi umpatan dan pencurian pulpen. Kau tak terlihat seperti ingin berdamai. Aku sedang merenungkan cara untuk berurusan denganmu. Asal kau tahu, aku mengajar kebaikan untuk menang terhadap kejahatan.”
Do Jin memutus teleponnya. Yi Soo lemas dan bergumam kalau ia kembali sial.
Yi Soo gelojotan di kasurnya. Meari ingin tahu apa yang dikatakan Do Jin pada Yi Soo. Meari memeriksa ponsel Yi Soo.
“Dia bicara tentang kebajikan menang terhadap kejahatan.” Ucap Yi Soo.
“Kenapa? apa yang terjadi?” tanya Meari sambil memijit-mijit ponsel Yi Soo.
“Pencuri. Kata dia aku pencuri.... aku sial sial sial.”
“Guru aku harus bagaimana? Tak ada yang bisa kulakukan.” kata Meari menyerahkan ponsel Yi Soo setelah menggunakannya.
Ternyata ada sms balasan dari Yoon (Yoon mengira Yi Soo yang ngirim sms. Ternyata tadi Meari mengirim sms ke Yoon)
Sms Yoon : “Aku ada pesta hari ini aku bersama temanku ada apa ? Bagaimana proses penyelesaian damai dengan Do Jin?”
Yi Soo mendelik marah pada Meari, “Apa yang kau lakukan terhadap ponselku? Apa kau cari mati?”

Se Ra msuk ke kamar Yi Soo dan bertanya ada apa. Meari berkata kalau ia hanya ingin tahu apa yang dilakukan Yoon sekarang. Yi Soo makin kesal labih baik menendang Meari keluar. Se Ra tentu saja setuju. Meari merengut melirik manatap Se Ra yang sekarang sudah keluar kamar. Tahu kalau Yi Soo marah padanya Meari menunduk tapi kemudian bertanya apa yang terjadi antara Yi Soo dan Do Jin.

Yi Soo membalas sms ke Yoon akibat sms Meari tadi, “Sedang kuusahakan tidak mudah menyelesaikan ini tapi terima kasih atas perhatianmu.”
Yoon tengah bersama Do Jin dan Tae San di Kafe. Yoon melirik ke arah Do Jin dan kembali membalas sms Yi Soo. Do Jin melihat Yoon sibuk ber-sms, ia tanya apa Yoon sedang berkencan kenapa mengirim sms lebih baik telepon saja.

“Jangan bilang kau belum menyelesaikannya.” Yoon mulai kesal.
“Apa wanita itu? apa selama ini kau berkirim sms dengannya?”
Tae San yang tak tahu apapun bertanya, “Penyelesaian apa? Wanita siapa?”
“Jangan tanya!” ucap Do Jin dan Yoon bersamaan. Haha.
“Apa yang terjadi dengan kalian?” Tae San heran.

Yoon akan membicarakan masalah ini dengan Do Jin nanti. Ia melihat kursi Jung Rok kosong. Kenapa si brengsek itu belum datang. Apa Tae San yakin dia pergi ke toilet.

Tae San memeriksa jaket milik Jung Rok dan menemukan ponsel Jung Rok. Dia melarikan diri meninggalkan ponselnya karena ponsel ini bisa dilacak oleh istrinya. Jadi kita semua adalah alibi untuknya.
Dan benar saja Park Min Suk menelepon ke ponsel suaminya. Tae San yang tadinya memegang ponsel langsung kaget dan melempar benda itu tak mau mengangkatnya. Do Jin dan Yoon juga bingung tak tahu harus bicara apa. Ketiganya tak tahu dimana keberadaan Jung Rok. Tapi ketiganya harus mengatakan kalau Jung Rok sedang bersama mereka. Kalau ketahuan bisa-bisa Min Suk benar-benar menggugat suamianya bercerai. (ketiganya ga berani sama Park Min Suk takut sewa kantornya ditinggikan haha)

“Kau saja yang jawab, kau tak pernah selingkuh.” ucap Tae San pada Do Jin.
“Suatu hari akan kulakukan. Tapi tidak sekarang.” Kata Do Jin.
“Berarti tinggal kau, dia paling percaya padamu.” ucap Tae San pada Yoon.
“Apa kau sedang meminta seorang pengacara untuk berbohong?” Yoon menolak bicara dengan Park Min Suk.
Tae San bingung, “Lalu kita harus bagaimana? Selama kita menunda sekarang ini kecurigannya akan semakin kuat. Apa kalian ingin dia bercerai?”
Do Jin : “Apanya yang begitu sulit?”

Do Jin mengangkat ponsel Jung Rok dan meletakkannya di telinga Yoon. Yoon gelagapan dan terpaksa ia yang bicara dengan Min Suk. Ia berbohong kalau Jung Rok tengah berada di toilet. Kemudian Yoon terkejut... “Tunggu, kau dimana sekarang?”
Tae San penasaran, “Kenapa? apa dia akan datang kesini?”

Yoon meminta Tae San diam. Ia kembali berbohong kalau mereka berempat sebenarnya pergi minum di tempat yang baru. Tae San mondar-mandir. Yoon langsung bilang kalau mereka berempat berada di Kafe Rich.
Yoon meminta kedua temannya bergegas menuju Kafe Rich. Do Jin bergumam, “Katamu kau tak bisa berbohong.”

Tae San bingung Rich dekat dari sana tapi bagaimana mereka bisa datang tepat waktu. Ternyata Yoon sudah memperhitungkannya, “Lokasi pelacak bisa menunjukan kita berada dimana, jadi aku tak bisa memberikannya tempat di arah berlawanan. Jaraknya tak boleh terlalu jauh.”

Tae San tanya apa Min Suk mengemudi. Yoon menebak kalau Min Suk akan mengemudi. Tapi jam-jam sekarang lalu lintas macet dan mereka bisa lebih cepat daripada Min Suk. Yoon membayar minuman dan makanan yang tadi. Ia minta Tae San segera memesan tempat di Rich.

“Aku Presdir Im apa ada ruangan yang tersedia? Kalau begitu siapkan meja untukku...”

Yoon menambahkan agar mejanya terlihat seperti 4 orang minum dan cemilannya buat seperti 4 orang memakannya.

“Jadi kau tak bisa berbohong?” Sindir Do Jin.
“Ini pembelaan diri.” sanggah Yoon gugup.
“Tapi bagaimana kita bisa menghubungi Jung Rok, ponselnya ada pada kita.” sahut Tae San.
Oh oh iya bener juga....
“Aku tahu nomor lainnya. Dia punya dua ponsel.” seru Do Jin santai.
“KENAPA TAK MENGATAKANNYA DARI TADI?” Yoon dan Tae San berteriak bersamaan... hahahhaa.
Mereka bertiga lari-lari menuju kafe Rich. Ketiganya di kejar waktu agar bukan Min Suk yang datang duluan. “Jung Rok dasar kau pria brengsek....”
Park Min Suk masuk ke sebuah ruangan dan di sana mereka berempat berkumpul bersulang. Jung Rok tanya kenapa istrinya datang. Yoon memberi tahu kalau tadi pada saat Jung Rok ke toilet Min Suk menelepon ia lupa mengatakannya.

Jung Rok mengajak istrinya bergabung tapi Min Suk menolak. Ia datang karena sudah lama tak bertemu dengan mereka semua. Min Suk menutup pintu.
Setelah Min Suk pergi mereka bertiga memukuli Jung Rok karena sudah membuat mereka takut setengah mati.

Tiba-tiba pintu terbuka, Min Suk datang lagi dan mereka berempat berpura-pura saling besulang. Wakakaka.
“Aku lupa memberitahumu kalau aku sudah membayar tagihannya. Dan juga selagi di sini aku membayarnya sedikit lebih. Jika kau akan bersenang-senang lakukanlah dengan benar.”
Ke empatnya bingung dengan tatapan tak mengerti.
Ternyata Min Suk sudah menyediakan tempat makanan plus dengan wanitanya. Masing-masing memiliki pasangan. Tapi ke empatnya canggung. Mereka bertiga menatap Jung Rok.

Si wanita merasa bosan karena dianggurin haha... Mereka berempat ga berani macam-macam karena cewe-cewe ini kemungkinan mata-mata Park Min Suk.

“Apa kalian tak bersenang-senang?” tanya salah satu wanita.
Tae San : “Bersenang-senang? Ini sudah waktunya tidur.”
Do Jin : “Terima kasih tapi kita akhiri sampai disini saja.”
Yoon : “Kenapa kalian berempat (para cewe) tak bersenang-senang? jangan pedulikan kami (para cowo)”
Jung Rok : “Ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini.”
Ketiga teman Jung Rok menahan geram.
Hahahaha.....

Bersambung ke Part 2

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar