Senin, 19 Agustus 2013

Drama Korea Don't Look Back episode 6 part 1

Episode ini dibuka dengan Yi Soo remaja yang membaca kembali dokumen yang ditemukannya di loker stasiun kereta. Dia terlihat terburu-terburu. Mencari bagian yang menurutnya paling penting, merobek bagian itu dan menyimpannya di loker nomor 14.


Episode 6

Kim Joon yang sudah bertekad pergi meninggalkan Hae Woo,tiba-tiba kembali mendekat. Hae Woo yang heran bertanya ada apa? Apa ada masalah? Dan Kim Joon tanpa menjawab sepatah katapun langsung mencuim Hae Woo. Mencium bibirnya paksa.



Terlihat di seberang sana, sebuah kamera mengambil gambar Kim Joon yang sedang mencium Hae Woo. Young Hee kah itu? Sepertinya iya.


Hae Woo sepertinya tersadar akan kecupan terlarang ini, sehingga langsung mendorong mundur tubuh Kim Joon.
Hae Woo bahkan tidak mampu mengungkapkan rasa marah dan kecewanya. Dia hanya menatap Kim Joon dalam diam. Dia bahkan tidak tahu kenapa Kim Joon seperti ini? Setan apa yang merasukinya? (Setan hawa nafsu kayaknya..Hihi..)

Kim Joon sendiri tidak mencoba meminta maaf atau sekedar menjelaskan maksud tindakan lancangnya tadi. Dia pun hanya menatap Hae Woo.
Hae Woo nekat pergi ditengah derasnya hujan. Dia merasa tidak mungkin harus tetap berdiri disitu dengan pria sekurang ajar Kim Joon.
Tapi belum beberapa langkah Hae Woo berbalik dan menatap Kim Joon dengan tatapan marah. Dia mendekati Kim Joon, lalu melayangkan tamparan yang cukup keras di pipi Kim Joon.


Kim Joon menatap tajam pada Hae Woo setelah tamparan tadi diterimanya. Mungkin dia tidak percaya gadis yang begitu dicintainya, mampu melakukan ini. Sepertinya dia lupa, kalau Hae Woo bahkan tidak tahu kalau laki-laki ini bukan Kim Joon, tapi Han Yi Soo..cinta pertamanya. Kim Joon melupakan kenyataan itu.

Setelah itu Hae Woo benar-benar berjalan pergi. Dan Yi Soo hanya tersenyum seolah menertawakan kelemahan dirinya saat ini. Begitu lemah sehingga mampu tergoda dan akhirnya melakukan tindakan bodoh seperti tadi.
Sepertinya Yi Soo menyesal dengan perbuatannya mencium paksa Hae Woo.


Terlihatlah sebuah tangan yang sedari tadi memegang kamera dan memang mengambil gambar Yi Soo saat bersama Hae Woo. Dan itu benar-benar Young Hee. Young Hee menatap Kim Joon dengan tatapan sedih. Apakah dia merasa sakit hati?


Hujan sudah mulai reda,dan Hae Woo masih terus berjalan. Perasaannya kacau, pikirannya juga. Marah, kesal semua jadi satu. Tiba-tiba dia berhenti dan teringat suaminya. Dia hareus memberitahu Joon Young kalau dia sudah tidak menunggu di kedai itu.
Tapi ternyata ponselnya tertinggal.Dan tidak ada pilihan lain kecuali kembali kesana untuk mengambilnya.


Yi Soo masih di sekitar kedai, dan pemilik kedai menyerahkan ponsel Hae Woo yang memang tertinggal dan meminta Yi Soo untuk mengembalikannya pada Hae Woo. Yi Soo memandangi ponsel itu, dia merasa tidak enak harus bertemu Hae Woo setelah kejadian tadi.

Tiba-tiba ponsel Hae Woo berdering dan tertera di layar Yi Hyun yang menelepon. Yi Soo tentu sangat ingin mengangkatnya, mendengar suara adiknya. Tapi dia takut..takut jika hatinya tidak kuat.
Sama seperti tadi saat bersama Hae Woo.

Bahkan hanya dengan memandang wajah adiknya di ponsel Hae Woo, Yi Soo sudah merasakan kerinduan itu. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk menerima panggilan tersebut, sekedar untuk mendengar suara adik tersayangnya.

Tangan Yi Soo bergetar saat mencoba menerima panggilan Yi Hyun. Dia menempelkan ponsel itu di telinganya agar dia bisa mendengar suara Yi Hyun nya.
Mata Yi Soo bahkan terlihat sedikit merah menahan tangis.
Dia memejamkan mata agar tidak goyah. Menahan kerinduan ini. Detik-detik seperti ini begitu menyakitkan untuknya. Menyimpan rindu untuk orang yang dia sayangi, tanpa bisa mengatakannya.


Yi Hyun memanggil Hae Woo,namun yang dipanggil diam saja. Membuat Yi Hyun mencoba memanggilnya lagi.
Tepat saat itu, Bang Jin pulang, dan Young Joo mengabarkan pada Yi Hyun kalau ayahnya sudah pulang.
Yi Hyun dengan segera mengucapkan selamat datang pada ayahnya tanpa beranjak dari kamar.


Setelah itu Yi Hyun kembali focus pada teleponnya. Dia masih mencoba berbicara dan bertanya apa Hae Woo unni tidak bisa mendnegar suaranya.
Yi Soo yang diseberang sana, hanya terdiam mendengar suara Yi Hyun. Lalu dengan memberanikan diri Yi Soo berkata Halo pada Yi Hyun.
Yi Hyun menjawab Oppa. Panggilan itu membuat Yi Soo kaget, dia menyangka Yi Hyun mengenalinya, bahkan saat hanya mendengar suaranya saja.
Tapi itu hanya apa yang ada dalam pikiran Yi Soo.

Yi Hyun berkata ini Joon Young Oppa kan? Yi Soo tidak kecewa, dia malah tersenyum seperti menertawakan dirinya lagi. Mana mungkin Yi Hyun mengira ini adalah Yi Soo kakaknya. Tentu saja Oppa yang Yi Hyun maksud adalah suami Hae Woo.

Yi Soo berkata kalau Hae Woo meninggalkan ponselnya. Yi Hyun bertanya apakah Unni nya tahu kalau ponselnya tertinggal? Yi Soo menjawab mungkin saja.
Yi Hyun berkata ini siapa yang memegang ponsel unninya? Kalau memang sulit untuk mengembalikan ponsel itu pada Unni nya, biar dia yang mengambilnya sekarang.

Yi Soo menjawab kalau jaraknya jauh untuk sampai kesini. Yi Hyun heran bagaimana bisa orang ini tahu. Apa orang ini juga tahu rumahnya?
Yi Soo dengan gugup menjawab kalau maksudnya bukan begitu, karena Hae Woo baru saja pergi, mungkin dia masih bisa menyusulnya. Itu yang dia maksudkan tadi. Jadi Yi Hyun tidak perlu datang kesini.
Percakapanpun berakhir, dan terlihat sekali kesedihan di wajah Yi Soo.
Rindu..itu yang dia rasakan.


Joon Young sudah sampai dan langsung menyapa Kim Joon. Joon Young bertanya dimana istrinya?Apakah Hae Woo pergi ke suatu tempat? Belum sempat Kim Joon menjawb, Hae Woo memanggil suaminya. Joon Young pun menoleh dan menghampiri Hae Woo.

Joon Young langsung berkata bagaimana kalau Hae Woo demam? Kenapa Hae Woo tidak diam dan menunggunya saja? Joon Young juga meminta agar Hae Woo segera masuk ke mobil agar tidak masuk angin. Kim Joon hanya menatap mereka tanpa berniat mendekat.

Hae Woo berkata kalau dia meninggalkan ponselnya di kedai, jadi dia kembali untuk mengambil itu. Saat Hae Woo akan masuk ke dalam kedal, belum sempat melangkah, Kim Joon berkata kalau ponsel Hae Woo dia bawa.

Kim Joon pun akhirnya mendekat dan menjelaskan kalau pemilik kedai yang menyerahkan padanya dan meminta untuk dikemablikan pada Hae Woo.
Sedikit canggung Hae Woo mengucapkan terima kasih.

Kim Joon berterima kasih karena kedai ini yang Joon Young dan Hae Woo rekomendasikan padanya benar-benar bagus. Dia berkata kalau tanpa di duga Hae Woo ternyata juga ada di kedai ini tadi. Mungkin Kim Joon tidak ingin Joon Young salah paham pada Hae Woo atas pertemuan mereka.


Joon Young menjawab kalau dia sudah tahu. Memnag kedai ini menjadi favorit istrinya sejak kuliah dulu. Joon Young berkata kalau lain kali mereka harus minum bersama. Kim Joon menyetujuinya.
Joon Young berniat mengantar Kim Joon pulang, tapi Kim Joon menolaknya. Joon Young masih mencoba memaksa Kim Joon dan berkata agar jangan merasa sungkan padanya. Namun kali ini Hae Woo yang memotong kalimat suaminya dengan berkata kalau Kim Joon lebih suka naik taksi.
Mereka bertiga pun berpisah ditempat itu.


Di dalam perjalanan pulang, Hae Woo hanya terdiam. Wajahnya juga tidak terlihat ceria. Joon Young yang tahu itu, hanya melihat tanpa bertanya appaun. Dia malah berkata kalau hujannya cepat berhenti, padahal rasanya tadi hujan seperti akan turun semalaman.
Hae Woo menjawab dengan cuek kalau itu namanya Hujan Sonagi, hujan yang turun dengan deras namun tidak merata.
Joon Young memandang istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Joon Young tahu suasana hati Hae Woo sedang tidak baik.


Yi Soo berjalan kaki menuju apartemennya. Tapi dia tiba-tiba berhenti lalu melihat ke langit. Memandang bintang. Apakah dia juga mencari Polaris seperti yang Hae Woo lakukan tadi?


Joon Young bertanya apa ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi antara Hae Woo dengan Kim Joon tadi? Hae Woo memandang suaminya, dan Joon Young menjelaskan kalau Hae Woo jadi terlihat kaku tidak seperti biasanya.
Hae Woo tersenyum dan menjawab kalau seperti yang Joon Young tahu, dia pada dasarnya kan sedikit kasar. Akhir-akhir ini dia agak sensitive mungkin karena kasus baru yang sedang dia tangani, jadi membuat dia terlihat seperti kaku.

Joon Young berkata apa karena itu Hae Woo pergi minum sendiri? Karena merasa otak Hae Woo penuh?
Hae Woo tersenyum dan menjawab kalau pasti dia sudah menjadi seorang pemabuk sekarang, karena setiap ada hal yang dia pikirkan dan dia merasa kepalanya akan pecah, hal pertama yang dia ingat memang alcohol.

Joon Young berkata mulai sekarang kalau hal itu terjadi lagi pada Hae Woo, maka Hae Woo juga bisa menggunakan dia.
Hae Woo memandang Joon Young lagi, dan Joon Young berkata kalau dia memberikan hak seumur hidup untuk Hae Woo menggunakan Oh Joon Young dalam hidup Hae Woo. “Jangan memperlakukannya seperti benda berharga dan gunakan saja. Aku akan membersihkan otakmu yang penuh itu”

Hae Woo bertanya bagaimana caranya? Joon Young menjawab apapun yang dia bisa akan dia lakukan.
Joon Young meminta Hae Woo mengatakan apa yang membuat Hae Woo merasa sulit?

Hae Woo menjawab rahasia. Joon Young pura-pura kesal, dan berkata mana bisa suami istri saling menyimpan rahasia. Hae Woo balik bertanya apa Joon Young benar-benar tidak menyembunyikan sesuatu darinya? Joon Young menjawab ada.
Hae Woo terlihat ingin tahu dan bertanya apa itu?

Joon Young menjawab rahasia. Hae Woo tersenyum dan berkata kalau dia tidak ingin tahu, tapi beritahu saja apa rahasia itu?
Joon Young berkata kalau bibirnya terasa berat. Kemudian Joon Young bilang kalau di kehidupannya yang dulu, sepertinya dia adalah kerang.
Hae Woo tertawa mendengar rahasia konyol Joon Young, dan Joon Young senang melihat istrinya tertawa lepas.


Joon Young bertanya apa kepala Hae Woo sudah terasa ringan?
Hae Woo berkata sebenarnya memang sederhana hanya dia saja yang menganggapnya rumit. Joon Young berkata kalau hari ini Hae Woo jangan memikirkan apapun dan tidur yang nyenyak. Maka semuanya akan kembali normal. Hae Woo mengangguk mengiyakan kata-kata suaminya. Dia memandang Joon Young yang begitu mencintainya. Apakah dia harus menceritakan sikap kurang ajar Kim Joon tadi?

Joon Young merasa Hae Woo memandanginya, menoleh dan dengan bercanda berkata kalau Hae Woo jangan memandangnya seperti itu, karena dia tidak akan membuat Hae Woo tidur nyenyak malam ini..(Pasti mau ronda lagi..Hihi..)
Hae Woo tiba-tiba meminta agar mereka berhenti dulu di toko buku.


Yi Hyun sedang menemani ayahnya makan sambil bercerita kalau Hae Woo unni paling sering kehilangan ponselnya. Bang Jin berkata kalau orang cerdas biasanya begitu, sering pelupa, seperti ibu Yi Hyun.

Young Joo yang sedang menyiapkan makanan untuk suaminya tersenyum mendengar dipuji seperti itu. Itu pujian atau sindiran ya? Haha
Young Joo berkata kalau dia pelupa bukan karena pintar tapi karena sudah tua. Makanya Bang Jin jangan pulang lebih dari jam 9, karena sudah tidak ada makanan di rumah, jadi Bang Jin makan saja di luar.

Yi Hyun membela ayahnya, dan berkata kalau ayah kan jarang makan dirmah, jadi sekali-kali memasak lagi di malam hari ga apa-apa kan? Bang Jin tersenyum dan berkata kalau Yi Hyun benar-benar putrinya. Yi Hyun menjawab tentu saja.


Yi Hyun menceritakan kalau dia punya teleskop baru. Bang Jin heran dan lalu bertanya pada istrinya apa yang di maksud Yi Hyun?
Istrinya menjelaskan kalau Yi Hyun memenangkan sebuah acara lalu mendapatkan hadiah. Young Joo juga bilang kalau harga teleskop itu sebesar gajinya Bang Jin selama 4 bulan. Bang Jin jadi kaget, dan bertanya apa sesuatu yang mahal itu didapat karena Yi Hyun menang di sebuah acara? Yi Hyun mengiyakan, dan Bang Jin sedikit curiga lalu bertanya acara apa emangnya?

Yi Hyun menjawab kalau dia menang sebagai komentator terbaik dari sebuah website yang sering dia kunjungi. Bang Jin merasa ini janggal. Dia meminta agar Yi Hyun memberitahu nama perusahaan dimana Yi Hyun memenangkan acara itu. Yi Hyun heran dan gantian bertanya buat apa memangnya? Bang Jin menjawab bukan untuk apa-apa, dia hanya ingin tahu saja.


Yi Soo masih dalam perjalanan menuju apartemen. Dia tahu kalau dia diikuti oleh seseorang, tapi dia tetap cuek. Yi Soo berhenti untuk memastika firasatnya, dan si penguntit itu ikut berhenti sedikit jauh dari jarak Yi Soo berdiri.

Yi Soo melihat sekeliling, seolah mencari mana jalan yang kemungkinan sepi untuk dilewati agar si penguntit bisa tertangkap basah.


Yi Soo masuk ke sebuah gang yang dimana toko-toko disana hampir tutup semua. Dia mempercepat langkahnya, lalu berbalik dengan cepat dan masuk ke sebuah tempat. Si penguntit itu, takut kehilangan Yi Soo sehingga ikut berlari kearah yang sama.

Ternyata Yi Soo masuk ke tempat dimana banyak mobil terparkir disana . Ditempat itu dia berdiri membelakangi si penguntit seolah memang menunggunya. Yi Soo bertanya kenapa pria itu mengikutinya?
Saat Yi Soo berbalik, pria itu gantian membelakangi Yi Soo. Dia kemudian berniat kabur, dan Yi Soo tentu saja tidak melepaskan pria tersebut. Dengan sekali gerak dia berhasil menghajar pria itu yang memang berniat menyerangnya.


Pertempuran pun terjadi.
Pria itu memegang kaki Yi Soo yang sakit, dan Yi Soo tanpa peduli, mengangkat tubuhnya dan dengan sekuat tenaga menendang pria itu dengan satu kakinya, kakinya yang sehat. Tendangan itu tepat mengenai wajah si pria. Sehingga Pria itupun terjatuh.


Tendangan itu tidak hanya sekali, Yi Soo menendang pria itu sampai dia tidak kuat bangkit lagi. Dan dengan satu kakinya, Yi Soo menekan dada si pria lalu bertanya siapa orang dibalik ini?
Pria itu bukannya menjawab malan nanya dimana Yi Soo berkelahi? (Jiiaahh, kepo lu..udah hampir mati juga..^^)

Tekanan kaki Yi Soo semakin diperkuat saat pria itu malah bertele-tele, dan akhirnya dia berkata kalau dia disuruh mencari kelemahan Yi Soo. Yi Soo bertanya siapa orangnya? Pria itu akhirnya menjawab kalau yang menyuruhnya adalah CEO Moon dari Hotel Grand Bleu.


Yi Soo geram sekali, dan semakin menekan kakinya menginjak dada si pria, sehingga pria itu mengaduh kesakitan.
Setelah itu dia mengambil ponsel si Pria, dan melihat isi di dalamnya. Ternyata pria ini sempat memotret saat dia mencium Hae Woo di depan kedai.
Dia kesal sekali, dan langsung mengambil memory card ponsel itu, dan meninggalkan si pengintit yang sudah tak berdaya.
Saat akan melangkah itulah, kaki kanan Yi Soo kembali terasa sakit.


Young Hee ada di apartemennya, sedang melihat hasil dari jepretanya tadi. Foto Kim Joon yang mencium Hae Wo paksa. Dia sebenarnya sedih harus melaporkan hal ini pada Chairman Yoshimura, tapi harus bagaimana lagi. Tugasnya memang mengawasi Kim Joon selama di Korea ini.


Tiba-tiba ponsel Young Hee berdering. Yoshimuralah yang menelponnya.
Yoshimura berkata tentang pembukaan resor Okinawa yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini, dia ingin agar Young Hee juga mengundang Direktur Oh Joon Young dan istrinya.
Karena Chairman Jo menganggap Kim Joon seperti cucunya sendiri, maka dia merasa perlu mengucapkan terima kasih dengan mengundang mereka.
Young Hee menjawab kalau dia akan menyiapkan semuanya.
Yoshimurapun menyuruh Young Hee untuk istirahat.

Diseberang sana Young Hee berkata kalau dia ingin bertanya sesuatu, walau terkesan tidak sopan, tapi dia sangat ingin tahu. Bagaimana bisa pekerjaan yang dia lakukan sekarang bisa membantu Chairman Yoshimura? Bisakah dia tahu apa alasanannya.

Yoshimura menjawab kalau sepertinya Young Hee tidak nyaman dengan yang dia kerjakan. Young Hee membenarkan hal itu. Yoshimura bilang kalau itu wajar terjadi mengingat Kim Joon adalah atasan Young Hee.
Young Hee menjawab dia tidak peduli, selama itu bisa membantu Yoshimura, hanya saja..
Kalimat Young Hee terputus..dia bingung bagaimana harus mengungkapkannya.

Yoshimura berkata kalau dia sedang membantu Kim Joon. Secara tepatnya dia sedang membantu Joon untuk mendapatkan apa yang ingin dia lakukan.
Young Hee bertanya sesuatu apa itu? Apa itu adalah menghancurkan Hotel Gaya?
Yoshimura menjawab kalau itu bukanlah hal yang penting. Yang terpenting adalah bagaimana proses hotel itu menuju kehancuran. Itu sebabnya Joon memerlukan bantuannya, dan dia juga membutuhkan Joon.

“Tetapi, hati manusia tidak bisa ditebak. Terkadang dorongan hati itu bisa merubah hasil yang seharusnya. Itu sebabnya aku membutuhkan bantuanmu.”

Young Hee bertanya apa maksudnya?
Yoshimura menjawab “Bahkan terkadang rencana yang sudah dipersenjatai dengan kemarahan dan kebencian bisa gagal. Bagi Joon mungkin hari ini adalah hari semacam itu.”

Yoshimura menoleh menatap laptopnya, dan terpampanglah foto Yi Soo yang sedang mencium paksa Hae Woo. Ternyata Young Hee benar-benar mengirimkannya.


Yi Soo yang sedang di apartemennya duduk di pinggiran sofa sambil melihat ikan-ikan di akuariumnya. Dia teringat kembali pertemuannya dengan Hae Woo di kedai tadi, perkataan Hae Woo yang sedang mencari alasan untuk melarikan diri, namun Hae Woo tahu dia tidak boleh melakukannya, apalagi jika dia mengingat temannya itu.
Kata-kata itu masih terngiang di telinga Yi Soo.
Yi Soo juga ingat saat Hae Woo mengucapkan terima kasih karena setiap bertemu Yi Soo, Hae Woo seolah merasa sedang disemangati.

Apalagi tindakan terakhirnya tadi, masih terekam jelas di memori otaknya. Saat dia merasakan keterkejutan di bibir Hae Woo ketika dia mengecupnya. Yi Soo jelas mengingat hal itu. Terlebih tamparan Hae Woo yang mendarat mulus di pipinya. Itu mampu meninggalkan rasa sakit untuk hati Yi Soo.


Yi Soo berdiri mendekati akuariumnya. Dia memasukkan sebelah tangannya kedalam, dan mengambil satu ikan yang sedang berenang bebas didalamnya.
Ikan itu terlihat menggelepar-gelepar di telapak tangan Yi Soo yang kurang akan air.
Yi Soo menatapnya seolah menatap seseorang yang dibencinya yang perlahan-lahan akan kehabisan nafas, lalu mati. Apakah dia membayangkan ikan itu sebagai Hae Woo? Atau mungkin dia sendiri?


Hae Woo sedang ada di toko buku bekas, tempatnya menemukan Chagall dulu. Dia terlihat seolah sedang memilih-milih buku. Joon Young setia menunggu istrinya tanpa sedikitpun mengganggunya. Joon Young tahu ada yang mengganjal hati Hae Woo.
Akhirnya Hae Woo berbicara setelah mereka lama terdiam. Hae Woo bertanya orang yang melarikan diri setelah memukul adik Joon Young, apakah bisa Joon Young memaafkannya?
Joon Young heran kenapa Hae Woo tiba-tiba menanyakannya? Hae Woo mejelaskan kalau dia hanya ingin tahu saja.

Joon Young menjawab “Memaafkan seseorang bukan hanya sesuatu yang bisa dengan mudah dilakukan.”

Joon Young kemudian meminta Hae Woo memberitahunya apa sesuatu yang sedang Hae Woo pikirkan saat ini? Biasanya Hae Woo datang ke toko buku ini karena ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan. Hae Woo tersenyum dan berkata kalau Joon Young selalu tahu tentang dirinya.
Joon Young menjawab kalau dia tahu semuanya, kecuali hal-hal yang tidak dia ketahui. Haha..iyalah..

Hae Woo menghela nafasnya dan lalu berkata 12 tahun yang lalu, orang yang menyebabkan kecelakaan tabrak lari itu, adalah ayahnya sendiri, bukan ayah Yi Soo.
Joon Young kaget, dan Hae Woo kembali menjelaskan kalau dia merasa Supir Han memutuskan untuk bertanggung jawab atas kasus ayahnya itu, dan Jung Man Chul yang membantu serta menyembunyikan kebenarannya.
Joon Young mendekati istrinya dan bertanya apa Hae Woo benar-benar yakin?

Hae Woo menjawab, dia memang tidak memiliki bukti untuk itu, tetapi seperti itulah kejadiannya jika melihat dari situasi yang ada. Atau apa itu menjadi baik karena tidak adanya bukti. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini?
Dengan hati-hati Joon Young bertanya apa kecelakaan itu ada hubungannya dengan kematian Yi Soo dan juga supir Han? Hae Woo menjawab semoga saja tidak. Paling tidak untuk meyakinkan itu dia harus menggali kembali kasus ini, dan awal mulanya adalah kasus tabrak lari itu. Tetapi sepertinya sesuatu yang sangat rumit dan mengerikan ada bersama kasus tabrak lari itu.
Hae Woo melanjutkan bahwa kejadian-kejadian yang ada sekarang ini, sepertinya berhubungan dengan kejadian 12 tahun lalu. Tapi, dia juga tidak yakin, karena merasa tidak menemukan titik pengubung dari semuanya itu.

Joon Young bingung dengan maksud titik penghubung. Hae Woo mengatakan jika dia bisa menemukan titik penghubungnya maka dia bisa menemukan kejelasan kasus ini. Tetapi masalahnya dia tidak tahu itu apa.

Joon Young berkata ini jika saja, walau dia berharap jangan sampai terjadi, tetapi jika benar ayah Hae Woo yang terlibat dalam kasus ini, apa yang akan Hae Woo lakukan?
Bahkan jika dia mencoba menghentikan Hae Woo, toh Hae Woo tidak akan menyerah kan?

Hae Woo terdiam dan kemudian berkata kalau kakeknya adalah orang yang terhormat, seperti yang Joon Young tahu. Jika benar ayahnya terlibat dalam kasus ini, dia lebih memikirkan bagaimana perasaan kakeknya. Kakek pasti akan hancur hatinya.
(Lha kakekmu kii bertopeng lo.^^)

“Jo Hae Woo..kau hebat..Jika aku jadi kau, aku akan melepaskan kasus ini. Aku akan memalingkan wajah, karena menemukan kebenarannya akan membuatku ketakutan. Jika aku jadi kau, aku tidak akan pernah bisa menyelam di dalamnya. Kau benar-benar orang hebat. Aku mengatakan ini dari dasar hatiku.”

Hae Woo hanya diam, dan Joon Young mendekati istrinya itu. Dia memegang lembut pundak Hae Woo, seolah menyalurkankekuatan padanya.

“Sebenarnya..aku juga takut.”

Dan Hae Woo balas menggenggam tangan Joon Young, seolah berusaha menemukan kekuatannya kembali.


Yi Soo sedang santai di sofanya. Dia kembali duduk dengan posisi Favoritnya seolah sedang berfikir atau malah merencanakan sesuatu yang mengejutkan lainnya.
Di depan Yi Soo ada sebuah paket yang siap dikiramkan untuk Jaksa Jo Hae Woo.


Hae Woo dan Joon Young memutuskan untuk segera pulang, dan saat itulah si bapak tua pemilik toko buku datang dengan sepedanya.
Bapak tua bertanya kapan mereka sampai disini? Hae Woo dengan senyum berkata kalau toko ini terlalu sering ditinggalkan oleh pemiliknya.
Bapak tua berkata kalau toh isinya hanya buku, siapa yang akan mencuri? Hae Woo dan Joon Young tersenyum mendengar jawaban itu.
Saat akan melangkah pergi, Hae Woo melihat kotak kayu besar di sepeda bapak tua itu, membuat Hae Woo bertanya apa isinya?
Bapak tua menjawab kalau isinya bukan apa-apa, dan menyuruh Hae Woo dan Joon Young untuk segera pergi.

Saat Hae Woo dan Joon Young melangkah menuju mobil mereka, si Bapak tua memandang penuh makna pada pasangan itu. Dia lalu mengeluarkan sebuah pena di saku celananya. Apakah itu pena beracun? Apakah bapak ini pembunuhnya?


Jo Sang Deuk sedang ada di ruangannya. Kepalanya tertunduk seolah tertidur, dan Hae Woo diluar meminta ijin untuk masuk menemui kakenya. Namun tidak ada jawaban, dan Hae Woo langsung membuka pintu. Hae Woo memanngil kakeknya, dan Sang Deuk sama sekali tidak bergerak.
Hae Woo pun mendekat, dan terus memanggil kakeknya. Hae Woo bertanya apa kakeknya tertidur? Tapi, lagi-lagi kakek hanya diam, membuat Hae Woo khawatir, dia berlari mendekat. Hae Woo menepuk lembut pundak kakek, dan kakek pun terbangun (Hadeh, belum saatnya dia mati dengan begitu mudah neng..^^)


Hae Woo terlihat lega sekali, menyadari kakeknya hanya tertidur.
Hae Woo bertanya apa tadi kakeknya ketiduran? Kakek menjawab sepertinya begitu, dia pasti sudah tua karena tidak sadar kalau sudah tertidir tadi.
Hae Woo meminta agar kakeknya pindah ke tempat tidur yang nyaman.
Kakek bertanya apa Hae Woo baru saja datang? Hae Woo membenarkan, dan Sang Deuk berkata kalau dia sedikit cemas. Hae Woo seharusnya berbulan madu, bukannya bekerja seperti sekarang ini. Hae Woo menjawab kalau dia dan suaminya cukup bersenang-senang, jadi kakeknya tidak usah khawatir.
Hae Woo kemudian berkata kalau ada yang ingin dia tanyakan pada kakeknya.
Sang Deuk bertanya apa itu?

Hae Woo bertanya apa kakeknya kenal Prof Kang Hee Soo? Kakek kemudian melirik dari sudut matanya. Dia tahu Hae Woo lambat laun akan menanyakan ini.


Jo Eui Sun pulang dengan kondisi mabuk. Nyonya Park menyambutnya, dan bertanya apa Eui Sun habis minum-minum? Eui Sun membenarkan dan berkata kalau dia hanya memiliki minuman sebagai temannya saat ini. Nyonya Park berkata kalau dia akan mengambilkan segelas air putih untuk Eui Sun. Eui Sun menjawab apa Nyonya Park mencoba untuk membuatnya sadar dari mabuknya. Saat itulah Joon Young turun dan ikut menyambut ayah mertuanya.


Eui Sun bertanya apa Hae Woo pulang telat lagi? Joon Young berkata kalau Hae Woo sedang bicara dengan kakek. Eui Sun bertanya lagi, bicara tentang apa? Omong kosong apa lagi yang akan dikatakan Hae Woo? Joon Young sedikit tidak suka mendengar kalimat terakhir ayah mertuanya. Seolah apa yang Hae Woo bilang hanya kebohongan saja.


Sementara itu Hae Woo masih bertanya seputar Hee Soo pada kakeknya.
Hae Woo berkata kalau benarkah Hee Soo menemui kakek untuk mendapat informasi gerakan kebebasan? Sang Deuk membenarkan. Kakek gantian bertanya mengapa tiba-tiba Hae Woo menanyakan itu padanya? Hae Woo menjawab karena menurutnya, ini berhubungan dengan kasus yang sedang dia tangani. Kakek bertanya apa maksudnya? Hae Woo hanya menjawab kalau dia belum tahu secara pasti jadi belum bisa menjelaskannya pada kakek.

Hae Woo kemudian bertanya kembali, mungkinkah ada sesuatu yang bisa dihubungkan antara Supir Han dan Prof Kang? Sang Deuk malah balik bertanya apa Supir Han kenalannya Hee Soo?(kakek belagak bodoh nii..-__-)
Hae Woo menggeleng dan menjawab bukan, dia juga tidak berkata seperti itu.


Lalu masuklah tanpa diundang Jo Eui Sun yang sedang mabuk. Dia dipegangi oleh Joon Young agar tidak terjatuh. Eui Sun berkata agar Hae Woo keluar dari ruangan ayahnya. Sang Deuk bertanya pada Eui Sunada masalah apa? Hae Woo mendekati ayahnya, dan Eui Sun berkata kalau ada sesuatu yang ingin dia bicarakan pada Hae Woo.
Sang Deuk menuuruh bicaranya besok saja. Saat ini Eui Sun sedang mabuk.

Eui Sun berkata pada Hae Woo kalau dia adalah ayahnya Hae Woo, dan Hae Woo adalah putrinya. Hae Woo akan mengajak ayahnya keluar dan berkata ayo bicara diluar saja. Eui Sun menepis tangan Hae Woo dan bertanya bicara tentang apa? Apa tentang dia yang Hae Woo bilang pantas mati? Apa Hae Woo pengen bilang yang seperti itu lagi padanya?

Hae Woo tidak enak dengan kakeknya mendengar Eui Sun berkata seperti itu. Eui Sun mana peduli, dan bertanya apa Hae Woo punya bukti dengan tuduhannya?
Sang Deuk membentak Eui Sun, dan Eui Sun dengan kekanak-kanakan mendekati ayahnya dan berkata kalau Hae Woo sudah tidak percaya dengan yang dia katakan. Dia juga bilang, kalau ayahnya kan tahu dia bahkan tidak bisa membunuh kecoa sekalipun sejak dia kecil. Dia ini bukan orang jahat.
Eui Sun yang mabuk itu masih melanjutkan kalimatnya “Semua Orang yang berpendidikan dan sukses itu, mereka tidak banyak berbeda dengan diriku. Anak itu memperlakukanku seolah aku pembunuh berantai.”

Sang Deuk sudah terlihat menahan amarahnya, dia bahkan berteriak dan menyuruh Eui Sun untuk diam. Eui Sun takut dibentak ayahnya. Sang Deuk berkata kalau Eui Sun berkata di depan anak dan menantunya, apa Eui Sun tidak malu? Jangan lakukan apapun yang nantinya akan Eui Sun sesali. Sang Deuk menyuruh Eui Sun segera beristirahat.


Joon Young mendekati ayah mertuanya, dan berniat mengantarnya ke kamar agar segera istirahat. Hae Woo terlihat berfikir dengan ini semua, ataukah dia merasa tidak enak dengan kasus yang ternyata melibatkan ayah kandungnya sendiri?
Sebelum pergi, Eui Sun meminta maaf pada ayahnya dan berkata kalau dia sangat mengagumi ayahnya. Ayahnya adalah guru selamanya di jaman ini. Dengan membentuk tanda hati melalui kedua tangannya dan berekspresi sangat lucu, Eui Sun berkata kalau dia sangat mencintai ayahnya.

Haha..Coba masih muda dan tampan, Hae Woo pasti tergila-gila..^^


Saat Joon Young akan membawa Eui Sun keluar, Eui Sun bertanya apa Joon Young sudah bertemu dengan CEO Moon? Joon Young menjawab kalau dia belum bisa menemui CEO Moon karena alasan penyakitnya. Eui Sun bertanya apa mungkin, CEO Moon berubah pikiran? Semua orang ternyata sama saja, Joon Young jangan terlalu percaya pada orang begitu saja.

Hae Woo yang masih belum beranjak dari ruang kakeknya hanya terdiam memikirkan kegundahan hatinya. Sang Deuk bertanya apa terjadi sesuatu antara Hae Woo dan ayahnya? Hae Woo hanya terdiam, membuat Sang Dek berkata kalau Hae Woo ga harus menjawabnya kalau memang berat untuk mengatakannya. Hae Woo hanya berkata maafkan saya kakek. Kakek menjawab tidak apa-apa, dan bertanya apa ada sesuatu yang masih ingin Hae Woo ketahui tentang Hee Soo? Hae Woo menggeleng dan berkata tidak ada. Sang Deuk juga mengingatkan agar Hae Woo istirahat, karena dia selalu cemas dengan kesehatan Hae Woo. Hae Woo menjawab agar kakeknya tidak perlu cemas, karena dia sangat sehat.
Kakek berkata seharusnya memang begitu, karena Hae Woo adalah masa depannya, mimpinya, dan semuanya.
Hae Woo hanya tersenyum dan kemudian melangkah pergi.


Joon Young menyelimuti ayah mertuanya yang langsung terlelap saat kepalanya sudah menjejak bantal. Nyonya Park datang sambil membawa segelas air dan berkata biar dia yang mengurus sisanya. (Itu air es yang mau dia bawain untuk Eui Sun kan? Ngambil air es nya di Singapura kayaknya..lama banget..^^)

Saat sudah tinggal berdua saja dengan Eui Sun yang sudah tidur, Nyonya Park memandang tuannya itu dengan tatapan penuh benci. Seolah jika bisa saat itu juga dia ingin mencekik mati Eui Sun.


Nyonya Park menaruh gelas berisi air di meja, dan menemukan sebuah kartu nama di atasnya. Dia mengambil kartu nama itu, dan melihat kalau nama CEO Giant Kim Joon lah yang tertera disana.
Nyonya Park memandang kartu nama itu penuh makna.


Bersambung ke part 2.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar