Rabu, 21 Agustus 2013

Drama Korea A Gentleman's Dignity Episode 6

Kali ini mereka berempat berada di tempat permainan bilyar. Karena saya tidak begitu paham dengan permainan ini saya tidak bisa menceritakannya secara lengkap, hanya apa saja yang terjadi ketika permainan berlangsung.

Mereka berempat terbagi dalam 2 grup. Do Jin dengan Jung Rok dan Tae San dengan Yoon. Untuk memulai permainan meraka melakukan suit. Jung Rok vs Yoon. Do Jin membisikkan sesuatu ke Jung Rok sebagai strategi suit mereka.

Gunting kertas batu.
Jung Rok batu dan Yoon kertas. Do Jin mendesis kesal bukankah ia sudah bilang Jung Rok harus mengeluarkan gunting. Tapi Jung Rok berpendapat lain bahwa seorang pria harus menggunakan kepalan tangannya dan meminta Do Jin tak perlu khawatir, percaya saja padanya.

Do Jin : “Kita selalu kalah karena kau. Tak bisakah kau berhenti mempercayai dirimu sebentar saja?”
Yoon : “Bilyar adalah permainan pria sejati, tak ada trik kotor. Tak boleh kabur dari permainan.”

Mereka berempat pun memulai permainan. Karena saya tak mengerti istilah dalam permainan bilyar yang pasti tim Yoon dan Tae San yang menang.
Ekspresi ketegangan Do Jin nih.
Bahkan Yoon dan Tae San sempat makan makan dulu. Hehe...
Dan inilah ekspresi yang kalah....
Dan yang kalah harus bayar.
“Meskipun sekarang ini kami sudah memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membangun ruang bilyar kami sendiri. Tapi kami masih berperilaku layaknya remaja berusia 18 tahun. Kami bermain bilyar seakan akan hidup kami tergantung itu. Kau tanya kenapa?”
Wahahaha lihat kok Do Jin pakai sendal milik tempat bilyar. Dan kemana sepatunya, ternyata masih berada di tempat bilyar.

“Karena pria tak akan pernah dewasa. Mereka hanya bertambah tua!”

Sinopsis A Gentleman’s Dignity Episode 6
Yoon dan Pengacara Kang pulang dengan menaiki mobil Pengacara Kang. Yoon duduk di samping supir sementara Pengacara Kang duduk di kursi belakang.

Pengacara Kang ingin tahu bagaimana rasanya bisa melihat seseorang tumbuh besar sejak lahir sampai dewasa. Yoon berkata kalau rasanya itu antara kebahagiaan dan penderitaan. Pengacara Kang menilai kalau gadis itu (Meari) menyukai Yoon.

Yoon tak menjawab, pandangannya teralihkan karena melihat seseorang yang dikenalnya berada di tepi jalan. Ia minta supir untuk menghentikan mobil.
Itu Yi Soo yang sedang menunggu apakah Do Jin mau menjemputnya atau tidak. Mobil yang ditumpangi Yoon berhenti tepat di depan Yi Soo.

Ternyata perkiraan Yoon tepat itu Yi Soo. Ia bertanya apa yang dilakukan Yi Soo, sedang menunggu taksi atau menunggu seseorang. Yi Soo menjawab dua-duanya tapi itu sepertinya mustahil. Ia mengatakan kalau baterai ponselnya habis dan ia tak punya uang (jujur banget ya haha)

Yoon merasa sepertinya ia datang disaat yang tepat dan Yi Soo sudah bertemu dengan penyelamat Yi Soo. Yi Soo tersenyum membenarkan.
Tiba-tiba brak..... Ada yang menabrak mobil yang dinaiki Yoon. Hingga membuat penumpang di mobil Yoon terhenyak hampir terlempar. Untung sabuk pengaman menyelamatkan mereka.
Yi Soo pun tak kalah terkejut. Ia melihat siapa yang melakukannya. Tambah terkejutlah ia ketika mengetahui siapa pelakunya. Do Jin menatap marah. Yoon dan penumpang mobil lain merasakan pusing.

“Apa ini? Apa dia sudah gila?” Sahut Yi Soo.

Yoon bertanya pada pengacara Kang apa baik-baik saja. Pengacara Kang bilang ia tak apa-apa. Yoon segera keluar untuk melabrak si penabrak. “Siapa pelakunya?” ucap Yoon marah.

“Kim Do Jin.” kata Yi Soo.
Yoon : Apa?
Do Jin keluar dari mobilnya dan terkejut melihat Yoon ada disana. Yoon tak habis pikir ternyata Do Jin pelakunya. “Apa yang menabrak kami barusan itu kau?”

Do Jin mendesah kesal kalau ini sebuah kebetulan dan bertanya mobil siapa ini. Pengacara kang yang juga sudah berada di luar mobil bertanya apa Yoon mengenal pelakunya. Yoon menjawab ya dan ia benci mengatakan kalau pelakunya itu temannya.

Yoon yang masih kesal bertanya apa yang Do Jin lakukan, apa Do Jin tahu berapa harga mobil ini. Do Jin juga bilang kalau harga mobilnya jauh lebih mahal.
Do Jin memberikan kartu namanya pada Pengacara Kang. Ia mengatakan tak perlu melibatkan perusaahaan asuransi, ia akan mengganti rugi secara langsung bahkan Pengacara Kang bisa berpura-pura terluka dan mendatangi rumah sakit.

Yoon : “Apa mungkin kau menabrakan mobilmu dengan sengaja?”
Do Jin : “Kalau tak begitu wanita ini mungkin sudah masuk ke mobil itu.”

Mereka semua terkejut, apalagi Yi Soo karena ia dijadikan alasan atas apa yang dilakukan Do Jin. Do Jin berjanji pada Pengacara Kang ia akan membayar ganti rugi sepenuhnya dan tak akan melarikan diri. Do Jin permisi dan mengajak Yi Soo bersamanya.
Di dalam mobil Do Jin. Yi Soo tak habis pikir bagaimana mungkin Do Jin menabrakan mobil dengan sengaja seperti itu. Do Jin berkata karena itu sangat berharga, kalau Yi Soo terharu lebih baik akui saja.

Yi Soo : “Menabrak mobil orang lain seperti itu apa kau berharap aku terharu?”
Do Jin : “Yang kumaksud adalah kenyataan bahwa aku datang menjemputmu.”

Yi Soo terbata-bata dan mengucapkan terima kasih tapi ia tak akan membayar ganti rugi atas kerusakan mobil. Do Jin berkata kalau ia memang tak akan pernah meminta Yi Soo melakukan itu. Ia bertanya apa Yi Soo mau diantar pulang ke rumah. Yi Soo sadar dirinya tak bisa pulang ke rumah.
Do Jin melihat pempilan Yi Soo dan bertanya apa sekarang Yi Soo sedang merayunya. Yi Soo buru-buru menutup dadanya dan berkata bukan itu maksudnya. Ia mengatakan kalau Tae San dan Se Ra sedang di rumah sekarang. Ia seharusnya pergi mendaki 2 hari 1 malam. Tapi dibatalkan dan ia belum memberi tahu mereka. (kan Tae San sudah tahu)

Do Jin mengatakan itu alasan yang masuk akal dan mengajak Yi Soo ke hotel. Yi Soo terhenyak kaget, bukankah ia mengatakan kalau ia sedang tak merayu Do Jin kenapa harus ke hotel pinjamkan saja 30rb won padanya antarkan dia ke tempat sauna.

Do Jin : “Apa kau menyukai tempat yang hangat? Kalau begitu aku akan menaikkan suhu kamar hotelnya. Kau juga boleh memasang kunci kamarnya dipergelangan kakimu.”

Yi Soo tak mau, ia ngotot lebih baik Do Jin pinjamkan saja 30rb won padanya. Do Jin tak mau karena mulai sekarang ia tak akan menghabiskan uang untuk Yi Soo. Hotel tempat ia pernah membawa Yi Soo terakhir kali apa Yi So ingat, itu adalah hotel perusahannya ia akan membawa Yi Soo kesana sekarang.
Do Jin dan Yi Soo sampai di depan hotel. Do Jin berjalan melenggang, Yi Soo bertanya apa Do Jin tak memeriksa mobil Do Jin dulu.

Awalnya Do Jin tak peduli. Tapi langkahnya terhenti dan penasaran juga. Ia akan melihatnya sekilas saja. Do Jin menutup matanya dan berbalik badan untuk melihat kondisi mobilnya.
Sampai di depan mobil Do Jin membuka mata dan tentu saja terkejut melihat bemper mobil kesayangannya penyok-penyok. Wajah Do Jin memelas sedih, “Betty!” gumamnya pelan.
“Ah jadi namanya Betty!” Yi Soo tak bisa menahan tawa.

Do Jin menatap tajam Yi Soo, “Seo Yi Soo-ssi akan kuperkenalkan padamu, ini Betty-ku... dia terluka tapi dia masih kuat.” (hahaha)

Wajah Do Jin masih memelas dan Yi Soo berusaha menahan tawanya.
Seperti masuk ke rumah sendiri Yi Soo langsung duduk untuk melemaskan kakinya yang pegal. Do Jin merasa sepertinya Yi Soo sering datang ke tempat seperti ini dan juga sepertinya Yi Soo menyukai tempat ini. Yi Soo beralasan itu karena ia kelelahan.

Do Jin : “Wanita yang merasa nyaman di tempatku adalah wanita yang seksi.”

Yi Soo berkata kalau tak ada yang bisa ia katakan tentang pakaiannya hari ini. Ia meminta Do Jin berhenti bercanda dan tarik kembali ucapan Do Jin. Do Jin heran kenapa semua orang berfikir kalau ia sedang bercanda, padahal ia tak pernah sekalipun menertawakan Yi Soo.
Yi Soo : “Kalau begitu dalam situasi seperti ini apa karena telah memuji keseksianku, apa aku harus mengatakan ‘thank you for you’ apa itu yang kau inginkan?”

Tiba-tiba ada suara seseorang membuka kunci pintu. Yi Soo bertanya apa itu room service. Do Jin balik bertanya apa ada room service yang membuka pintu kamar sendiri.
Ternyata itu Tae San. “Kim Do Pal apa kau di dalam?”

Yi Soo jelas terkejut mendengar Tae Sab datang. Ia kebingungan dan kesana kemari mencari tempat sembunyi.

Do Jin berteriak tunggu sebentar. Ia menunjuk agar Yi Soo sembunyi di kamar saja. Yi Soo masuk kamar dan menutup pintu.
Tae San bertanya kenapa Do Jin ada di hotel, apa Do Jin sedang bekerja. Do Jin menjawab ya, ia ingin bekerja semalaman dan tak ingin mengganggu Yoon di rumah jadi ia ke hotel.

Do Jin balik bertanya Tae San sendiri mau apa ke hotel. Tae San menjawab kalau ia mau istirahat, dengan adanya Meari di rumah tak ada kedamaian sedikitpun untuknya. Do Jin mengerti dan ia sendiri akan menyelesaikan pekerjaannya. Do Jin masuk ke kamarnya dimana Yi Soo berada.
“Kenapa kau masuk ke sini?” tanya Yi Soo dengan suara pelan.
“Ini kamarku!” sahut Do Jin dengan suara pelan juga.

Yi Soo minta Do Jin memikirkan sebuah cara, kenapa Tae San ada disini bukankah seharusnya dia ada di rumah Se Ra. Tapi kemudian ia berfikir itu berarti ia bisa pulang sekarang. Do Jin tanya apa itu mungkin karena di ruang tamu ada Tae San. Apa Yi Soo mau menyapa Tae San dan minta maaf karena sudah bersembunyi.
Terdengar teriakan Tae San bertanya dimana Do Jin menyimpan obat pereda nyeri. Mendengar itu Yi Soo langsung bersembunyi di belakang punggung Do Jin. Do Jin berteriak menjawab kalau obatnya ada di laci bawah TV.

Do Jin melirik Yi Soo yang berada di belakang punggungnya. Yi Soo tersadar dan segera menyingkir dari balik punggung Do Jin. Do Jin tersenyum-senyum saja dan menyuruh Yi Soo istirahat karena ia mau mandi.

Yi Soo panik, “Apa kau mau mandi?”

Do Jin berkata kalau hari ini ia ke lokasi proyek, tubuhnya penuh debu. Dalam perjalanan pulang ia menerima telepon dari seseorang dan ia sudah merasa tak nyaman selama 2 jam. Do Jin masuk ke kamar mandi.
Yi Soo jinjit-jinjit mengecek pintu. Ia akan membukanya tapi suara Tae San benar-benar mengangetkannya.

“Kim Do Jin, apa kau benar-benar akan menginap disini?” tanya Tae San. “Kau sedang apa? Apa kau sedang mandi?” Tae San mengetuk pintu kamar. “Bolehkah aku masuk?”

Yi Soo jelas panik, ia pun lari masuk ke ruangan lain. Kemana Yi Soo masuk... ke kamar mandi yang sudah pasti disana ada Do Jin hahaha....
Do Jin baru saja membuka kemejanya. Yi Soo tercengang dan hanya bisa terdiam menutup mulutnya.

“Kim Do Pal apa kau sedang mandi?” tanya Tae San sudah masuk ke kamar Do Jin.

Do Jin melirik Yi Soo. Yi Soo memberi kode agar mengatakan kalau Do Jin sedang mandi.
Do Jin mematikan wastafel dan mendekat ke arah pintu mengunci tubuh Yi Soo. wahahaha.

“Ya, aku dikamar mandi kenapa?” Kata Do Jin sambil menatap Yi Soo yang terbelalak dirinya dipepet di pintu dengan tubuh Do Jin yang kemejanya setengah terbuka.

Yi Soo gugup, Do Jin bersikap santai dan tersenyum.
Tae San masih berada di kamar Do Jin, ia melihat mobil Do Jin di parkiran dan bertanya apa yang terjadi, apa Do Jin mengalami kecelakaan. Do Jin menjawab kalau ia tak mengalami kecelakaan tapi ia-lah yang menyebabkan kecelakaan itu karena seorang wanita, kata Do Jin sambil menatap Yi Soo dan tersenyum.

Terdengar ponsel Tae San bunyi sepertinya ia mendapat SMS. Yi Soo mendorong Do Jin agar menjauh darinya tapi Do Jin tak menjauh sedikitpun padahal Yi Soo sudah mendorongnya kuat-kuat.
Tae San memberi tahu kalau Jung Rok baru saja mengirim SMS mengajaknya minum. Ia menawarkan apa Do Jin mau ikut. Yi Soo memberi kode setuju, ia ingin Do Jin ikut agar ia bisa pulang. Tapi Do Jin berkata lain, ia minta maaf pada Tae San karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini.

Terdengar suara pintu tertutup, Tae San sudah akan pergi. Yi Soo akan menggeser tubuhnya dari himpitan tubuh Do Jin tapi suara Do Jin memanggil Tae San mengagetkannya. Do Jin berpesan Tae San jangan minum terlalu banyak.

“Kau itu bukan istriku!” seru Tae San.
“Aku mencintaimu, kau tahu kan?” Ucap Do Jin seraya menatap Yi Soo.
“Karena Betty kurasa kau yang sekarang ini bukan dirimu.” sahut Tae San. Kemudian suaranya tak terdengar lagi yang terdengar hanya suara pintu tertutup.

Yi Soo mendorong jauh-jauh tubuh Do Jin dan segera keluar dari kamar mandi.
Di kamar Yi Soo kipas-kipas (gerah ya di kamar mandinya hahaha)

Do Jin keluar dari kamar mandi, ia tak jadi mandi. Yi Soo mendelik kesal apa yang dilakukan Do Jin tadi. Do Jin berkata kalau Yi Soo itu tak siap sedikitpun tapi Yi Soo tetap masuk ke kamar mandi tempat seorang pria sedang mandi.
Yi Soo beralasan itu karena ia tak mau ketahuan. Do Jin berkata kalau masalah seorang wanita adalah kesempatan seorang pria. Yi Soo kembali mendelik ternyata Do Jin benar benar orang yang licik, jahat.

Yi Soo melihat ada kain di tempat tidur dan ia ingin meminjamnya. Ia melilitkannya kain ke tubuh untuk menutupi bagian tubuhnya yang sedikit terbuka karena pakaiannya yang memang rada terbuka. Do Jin tanya kenapa. Yi Soo mengatakan kalau baju yang ia kenakan hari ini sedikit bermasalah. Ia tak bisa pulang ke rumah tengah malam mengenakan sesuatu yang sangat terbuka.

Do Jin akan mengantar Yi Soo pulang tapi Yi Soo menolak ia tak mau merepotkan Do Jin. Pinjamkan saja 30rb won padanya. Do Jin menilai bukankah meminjamkan 30rb won juga merepotkan.

Yi Soo : “Apa kau tak mau meminjamkannya padaku?”
Do Jin : “Akankah aku bersedia? Bersikeras untuk pergi disaat seperti ini?”

Do Jin mengambil dompet di jasnya. Yi Soo melihat ada sesuatu yang aneh di dompet Do Jin ia merampasnya untuk melihat lebih jelas.
“Apa ini? Dimana kau mendapatkan ini?” Tanya Yi Soo. Ternyata di dompet Do Jin ada fotonya Yi Soo.

Do Jin mengaku kalau ia mendapatkannya dari album foto SMA Meari. Ia berharap ia benar-benar merasakan cinta bertepuk sebelah tangan untuk Yi Soo sekarang.

(oh ternyata.. Kirain pinjem album SMA Meari bukan buat apa-apa ternyata ngambil fotonya Yi Soo. Yi Soo kan gurunya Meari jadi sudah pasti nama dan foto guru2 juga ada di album foto SMA Meari)

Yi Soo terdiam mendengar pengakuan Do Jin. Do Jin bertanya apa ia boleh memanggilkan taksi untuk Yi Soo. Apa itu akan merepotkan juga kata Do Jin sambil memberikan uang yang ingin Yi Soo pinjam untuk pulang. Yi Soo masih terdiam menatap Do Jin.
Do Jin ke bar Jung Rok. Jung Rok dan Tae San sudah ada disana. Keduanya menatap Do Jin penuh tanda tanya. Do Jin tanya kenapa menatapnya ada apa.

Tae San : “Kau meminta Jung Pal (Jung Rok) untuk mengajakku keluar. Siapa yang bersamamu di kamar hotel? Apa yang kau lakukan?”
Do Jin menatap kesal Jung Rok, “Apa yang kau katakan padanya?”

Jung Rok mengelak kalau ia tak pernah mengatakan apa-apa. Do Jin bertanya kalau begitu bagaimana Tae San bisa tahu. Tae San mengaku kalau ia melihat tas tangan wanita sebesar telapak tangan. (tas tangan Yi Soo yang di taruh di kasur) dan bertanya siapa dia. Jung Rok heran kenapa sangat cepat. Do Jin seharusnya masih berada di hotel sampai pagi. Hahaha.
Tepat saat itu Yoon datang. Do Jin memandangnya kesal dan bertanya siapa yang mengundang Yoon datang. Jung Rok mengaku ia yang mengundangnya. Yoon mendengarnya dan bertanya kenapa apa ia tak boleh datang.

Do Jin membolehkan Yoon bergabung asalkan Yoon tak menceritakan peristiwa kecelakaan tadi dan kalau Yoon mau menceritakannya lebih baik pergi saja.

Tae San menebak kalau Yoon pasti sudah melihat wanita itu. Ia pun bertanya pada Yoon siapa wanita itu. Yoon tak akan memberi tahu siapa wanita itu. Ia akan menjaga rahasia itu bukan untuk Do Jin tapi demi wanita itu.

Yoon mengumpat Do Jin bagaimana mungkin Do Jin menabrak mobil dengan sengaja.
Jung Rok kaget apa Do Jin mengalami kecelakaan. Tae San bertanya pada Yoon apa Yoon bersama Do Pal saat kecelakaan itu terjadi. Yoon tak tahu harus bagaimana menyampaikanya dengan kata-kata.

Do Jin juga tak mengatakan apapun ia hanya menyampaikan bahwa ini semua terjadi karena gairah seorang pria yang hanya menghabiskan sedikit uang untuk mobil yang tertabrak.

Jung Rok mulai kesal karena kedua temannya ini tak mengatakan apapun. Ia mengancam kalau kedua temannya ini tak memberitahu ia juga nantinya tak akan memberitahu tentang petualangannya.

Do Jin bertanya kapan Jung Rok pernah menceritakannya, apa Jung Rok pikir ini sebuah ancaman. Tae San juga mulai kesal dengan Jung Rok, ia merasa Jung Rok harus menelan lagi cincin itu agar temannya ini sadar.

Kemudian mereka membicarakan ulang tahun Yoon yang hanya berbeda 4 hari dengan ulang tahun Jung Rok. Tak ada cara lain bagi Yoon untuk merayakannya secara bersamaan. Tapi Jung Rok ingin ulang tahunnya dirayakan terpisah.
Karena kesal mendengar ocehan Jung Rok, Tae San punya ide pegangi si Jung Rok, ambil cincinnya dan masukan ke mulutnya hahaha. Mereka bergegas memegangi Jung Rok dan memasukkan cincin ke mulut Jung Rok.
Tae San sampai di rumah dan terkejut melihat Meari tergeletak di depan pintu. Ia jelas khawatir, tapi ketika mencium aroma alkohol dari mulut adiknya ini ia pun jadi kesal. Meari bergumam menyebut nama Yoon ibarat musim hujan.
“Kau perlu menenggelamkan dirimu di hujan agar kau bisa sadar dari mabukmu.” Tae San mengguncang-guncangkan tubuh adiknya agar segera bangun.

Meari mengeliat dan guling-guling di lantai hahaha.
Subuh-subuh Yi Soo sampai di rumah. Pelan-pelan ia masuk melewati pintu pagar. Tapi ia terkejut melihat Se Ra keluar rumah bersiap berangkat le tempat latihan golf. Se Ra menilai Yi Soo pulang terlambat atau lebih tepatnya Yi Soo pulang kepagian. Yi Soo berkata kalau ia tak ingin membicarakan hal ini.

Se Ra melihat penampilan Yi Soo, yang ia tahu Yi Soo pergi mendaki gunung. Apa Yi Soo mendaki gunung dengan pakaian yang seperti itu dan sepertinya sepatu yang dipakai Yi Soo itu miliknya. Yi Soo mengaku dan minta maaf karena ketika ia mencoba gaun ini ia pergi terburu-buru.

Se Ra tak masalah dengan itu tapi kenapa Yi Soo pulang ke rumah sekarang. Ia berfikir Yi Soo tak pulang hari ini jadi ia mengundang Tae San. Yi Soo berkata kalau ia tahu Tae San tak disini makanya ia pulang. Se Ra heran dari mana Yi Soo tahu. Yi Soo gelagapan dan terbata-bata mengatakan kalau ia merasa melihat Tae San.

Se Ra tahu kalau Yi Soo berbohong tapi ia juga tak mengatakan apa-apa dan segera berangkat ke tempat latihan golf.
Se Ra sudah berada di tempat latihan golf. Ia mengingat ucapan Tae San semalam yang merasa tak enak hati dengan Yi Soo. Ia menonaktifkan dan menyimpan ponselnya ke tas.
Ada reporter yang ingin mewawancarai Se Ra. Tapi Se Ra menolak dan beralasan ia sibuk. Si reporter tetap ngotot ingin wawancara. Ia ingin menayakan tentang permaian Se Ra yang akhir-akhir ini menurun. Ia juga mendengar kalau penampilan Se Ra dalam kompetisi nanti tak bagus kontrak Se Ra dengan pihak sponsor akan dihentikan.
Se Ra kesal mendengar ocehan si reporter, ia membenarkan apa yang dikatakan reporter tadi. Sejak kapan ia pernah mengandalkan kemampuannya, yang ia andalkan adalah kecantikannya. Untuk mendapatkan sponsor lebih penting menjaga tubuhnya daripada berlatih golf. “Jadi meskipun aku hanya memakai kaos dan berlenggak-lenggok di klub aku akan tetap terkenal. Apa aku sudah menjawab pertanyaanmu?”

Si reporter tertawa puas dan berkata itu sudah lebih dari cukup. Ia mohon diri. Se Ra menahan kesal.
Di Hwa Dam, Do Jin dan Tae San mengadakan rapat dengan bawahan mereka. Klien mereka menginginkan agar rancangannya disesuaikan lagi mereka ingin konstruksi yang berbeda. Tae San setuju ia akan memikirkan rancangan itu lagi.
Do Jin minta bawahannya menunjukan rancangan untuk Ice World, rancangan yang lain lagi. Do Jin akan menggambarkan rancangan terbarunya. Tae San ngomel kenapa Do Jin membuat kerjaan yang tak perlu. Bawahan mereka memberi kode pada Tae San agar biarkan saja Do Jin melakukan apapun. Hahaha.
Ketika Do Jin berbalik menatap, semuanya mencoba bersikap santai dan memperhatikan apa yang dibuat Do Jin dan menyahut sangat keren, kata mereka hahaha....

Do Jin menjelaskan apa yang di gambarnya. Ia mengatakan kalau yang sedang dibuat itu terlalu membosankan jadi ia akan merubahnya. Tae San menyela apanya yang membosankan.

Salah satu anak buah Do Jin bertanya apa mereka harus membuat sketsa-nya lagi. Do Jin menjawab ya dan memerintahkan mereka untuk mengulangi semuanya, bukankah anak buahnya sudah sering melakukannya.

Manajer Choi mengatakan kalau klien sudah puas dengan rancangan sketsa yang sudah ada. Do Jin mengatakan kalau rancangan yang terbaru ini akan membuat si klien lebih puas lagi. Ia tak peduli pokoknya idenya itu harus dibuat dan rancangannya harus dirubah hahaha.

Pegawai wanita Do Jin memberi tahu kalau ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Tae San meminta Do Jin segera menemui tamu itu ia yang akan menyelasaikan urusan rancangannya. Ia tahu tamu ini pasti seorang wanita bukan klien. Karena dia sudah datang kesini pasti ada satu diantara dua hal, ‘Oppa bertanggung jawablah’ atau ‘Bertanggung jawablah, Oppa’
Hu.... seru Manajer Choi. Tae San dan Do Jin mendelik padanya. Manajer Choi pun jadi serba salah. Do Jin menyuruhnya kerja lembur dan segera menemui tamunya.
Tahu kalau ia tadi berbuat salah, seperti biasa manajer Choi langsung mengucapkan pujian untuk Do Jin. “Aku mengagumimu Presdir.” katanya sambil memberikan jempol untuk Do Jin hahaha

Siapa tamu itu, Eun Jae.
Do Jin menawarkan minuman pada Eun Jae. Eun Jae merasa kalau ia sekarang benar-benar telah menjadi tamu biasa. Do Jin berkata bukankah mereka sudah membicarakannya. Eun Jae tahu maka dari itu ia datang.

Eun Jae mengembalikan sepatu yang waktu itu Do Jin berikan padanya, sepatu yang semula Do Jin berikan untuk Yi Soo. Eun Jae akan mengganggap sepatu itu sebagai miliknya kalau Do Jin memang membelikan itu untuknya. Berkencan ataupun putus itu sama saja baginya.

Eun Jae bertanya bagaimana dengan cinta bertepuk sebalah tangan Do Jin. Do Jin menjawab kabar kisah cinta bertepuk sebelah tangannya itu tak begitu baik.

Eun Jae : “Dia bahkan menolak sepatu semahal ini, apa kau tak apa-apa? Walaupun dia hanya cinta bertepuk sebelah tanganmu.
Do Jin : “Kalau itu aturan darinya makan aku akan mengikutinya.”

Eun Jae merasa kalau Do Jin benar-benar sedang jatuh cinta. Padahal tadinya ia berfikir kalau ia putus dengan Do Jin itu karena Do Jin sudah bosan dengannya.

Do Jin sadar ia bukan pria yang baik tapi ia memiliki sopan santun untuk tak berbohong. Eun Jae tertawa lebar dan berkata kalau tawanya ini mewakili semua wanita yang patah hati karena Do Jin. “Dibandingkan dengan pria yang tak punya sopan santun, pria yang tak mencintaiku itu lebih buruk.”

Eun Jae berharap cinta bertepuk sebelah tangan Do Jin akan banyak menyakiti hati Do Jin. “Katakan padanya, aku memberinya semangat. Selamat tinggal.”
Do Jin makan siang dengan Yoon. Ia melamun memikirkan ucapan Eun Jae padanya yang berharap cinta bertepuk sebelah tangannya akan banyak menyakiti hatinya.

Yoon memperhatikan dan membuyarkan lamunanya. Yoon mengingatkan kalau nanti perusahaan asuransi menelepon Do Jin ia minta Do Jin bisa bekerja sama yang baik dengan mereka. Ia sudah mengantar pengacara Kang ke rumah sakit, perlu pemeriksaan lebih lanjut sebelaum memutuskan apakah pengacara Kang perlu dirawat atau tidak.
Do Jin bertanya apa Yoon sudah minta maaf atas namanya pada pengacara Kang. Yoon tak mau melakukannya kenapa ia yang harus minta maaf, Do Jin harus melakukannya sendiri. Do Jin berfikir ini karena Yoon lebih merasa menyesal daripada dirinya. Ia juga ingin tahu ada hubungan apa antara Yoon dengan pengacara Kang.

Do Jin : “Apakah Meari yang mata dan hidungnya cantik tahu tentang hal ini?”

Yoon kesal menaham geram dan meminta Do Jin menghabiskan makanan. Do Jin senyam-senyum.
Tae San datang meminta Do Jin meletakan sendok sekarang juga, Do Jin segera melakukannya. Tae San marah, apa Do Jin merobek kontraknya dan juga Hwa Dam mendapatkan peringatan. Do Jin bersikap santai meminta Tae San duduk dulu.
Tae San duduk dan kembali bertanya kenapa Do Jin mengacaukan kontrak yang bagus. 200 juta itu sama dengan gaji bulanan semua karyawan. Do Jin belum menaggapi ocehan Tae San, ia minta Tae San makan dulu ia yang akan mentraktirnya.

Tae San tak menyangka apa Do Jin masih bisa makan sekarang. Do Jin sudah membuang 200 juta begitu saja. Sudah berulang kali ia katakan kalau kita tak berseni dengan gratis. Ia tahu Do Jin melakukannya demi seni, tapi ia melakukannya demi uang.

Do Jin mengatakan kalau masalah ini bukan karena seni tapi karena Manajer Choi dianiaya. Dia terkena gelas yang dilempar si brengsek itu. Tae San dan Yoon kaget, apa perban yang menempel dikepalanya beberapa hari yang ini apa karena itu, tanya Tae San. Do Jin membenarkan. Ia juga mengatakan ‘oh’ setelah menyadari kehilangan 200 juta. Untung saja ini bukan 2 milyar. Karena baik 200 juta atau 2 milyar ia akan tetap melakukannya.

Tae San : “Apa menurutmu yang kau lakukan itu masuk akal? Park Gyung Do, si anak anjing itu, akan kupatahkan tulang tulangnya @#%&*())&^%$#@!%^&*())”

Tae San mengeluarkan sumpah serapah yang sudah disensor dari sananya. Hahaha...
Tae San bertanya pada Yoon apa mereka benar-benar tak bisa mendapatkan apapun bahkan sedikitpun. Do Jin menyahut tak ada yang bisa didapatkan, ia sudah bertanya pada Yoon. Tae San mendelik kesal dan kembali bertanya Yoon apa benar-benar tak ada. Yoon membenarkan, Do Jin tak akan memperoleh apa-apa, tapi Tae San bisa.

Yoon menatap Do Jin dan berkata kalau si brengsek ini bisanya hanya sok keren saja. Do Jin tanya apa maksud Yoon bukankah Yoon bilang padanya kalau tak bisa mendapatkan apapun.
Yoon : “Berdasarkan pekerjaan yang telah diselesaikan kalian bisa mendapatkan sejumlah itu. Walaupun kita harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas pelanggaran kontrak. Dalam jangka panjang 200juta itu tak mungkin tapi kita bisa memperoleh senilai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan.”

Yoon minta Tae San menyerahkan dokumen yang ia perlukan dan jangan sampai si brengsek Do Jin ini membuat masalah lagi kalau perlu ikat saja dia disuatu tempat haha. Do Jin mencak-mencak kenapa Yoon tak mengatakan hal itu padanya. Yoon berkata ini itu karena sepertinya Do Jin tak ada niat untu menyesal.

Yoon pamit Tae San berteriak memuji Yoon, “Pengacara Choi kami, jaga dirimu baik-baik. Akan kudoakan disetiap langkahmu!”

“Aku akan menghajarmu saat di rumah!” sahut Do Jin kesal.

Tae San meminta Do Jin diam. “Memangnya kau sudah berbuat apa? Meskipun kita menang, aku akan membuatmu membayarnya. 200juta itu akan dipotong dari gaji bulananmu selama 2 tahun. Tunggu dan lihat saja.”
Do Jin mencoba bersikap manis, “Hei kau ini, coba ini ‘aa...’” Do Jin menyuapkan daging ke Tae San.
“Apa kau mau mati?”
“Bukankah kita ini teman!” kata Do Jin penuh senyum manja.
Jung Rok melihat istrinya masih di rumah dan bertanya apa istrinya tak ke galery.

“Apa Baek Hae Joo yang menjual pemurni air?” Tanya Min Suk tiba-tiba membuat Jung Rok terkejut.

Jung Rok heran bagaimaan istrinya tahu. Min Suk berkata seharusnya Jung Rok berbohong ia tak tahu harus bagaimana kalau Jung Rok mengakui semuanya. Jung Rok menilai istirinya sudah salah paham. Ia tak ada hubungan apa-apa denga Hae Joo.

Min Suk : “Kalau tak ada apa-apa kenapa kau membeli 20 pemurni air? Apakah kau tahu siapa yang paling sulit kutaklukan didunia ini? Lee Jung Rok, kaulah orangnya. Di dunia ini orang yang paling sulit kutaklukan adalah suamiku.”
Jung Rok berusaha menjelaskan ia mengaku kalau ia memang membelinya tapi kalau ia memang memiliki hubungan seperti yang dimaksd istrinya ia tak akan membeli pemurni air itu. Ia akan membelikan wanita itu tas, berlian bahkan mungkin apartemen. Tapi ia membeli pemurni air. Apa istrinya tahu kenapa? Karena baginya dia bukan seorang wanita.

Min Suk : “Kalau dia bukan wanita lalu apa?”
Jung Rok : “Seorang teman kuliah yang bercerai dengan anak yang harus diasuhnya dan sedang tak beruntung. Itu bukankah sesuatu yang layak untuk kau khawatirkan. Aku sudah selesai melakukannya dan doa tak akan menghubungiku lagi. Kalau masih ada yang ingin kau ketahui tanyakan saja. Akan kujawab semuanya.”

Min Suk diam, ia melirik ke jemari suaminya disana cincin Jung Rok terpakai dengan baik, “Apa kau membeli cincin yang lain lagi?” (haha padahal kemarin kan dimasukin ke mulutnya ya sama ketiga temannya)

Jung Rok : “Membeli? Aku menemukannya.”
Min Suk : “Menemukannya? Dimana? Bagaimana bisa?”
Jung Rok berdiri dan menyentuh lembut pipi istrinya, “Terlepas dari apapun yang kau bayangkan, jawabanya lebih dari itu.”

Min Suk berteriak dan menepis tangan suaminya, ia menjauh dan mengancam kalau suaminya mendekat ia akan benar-benar bercarai dan lari masuk kamar.

“Noona....” panggil Jung Rok merayu hahaha.
Meari melihat Pengacara Kang datang ke Mango Six. Ia menatapnya sebal. Pengacara Kang memesan Mango Kiwi dan Mango Coconut. Meari heran karena memesan Mango Coconut yang merupakan minuman favorit Yoon. Pengacara Kang bilang itu untuk sunbae Choi.
Terjadi keributan kecil. Pengacara Kang ingin membawa langsng apa gitu saya ga tahu tapi Meari yang ingin membawanya nanti karena ia ingin menyapa Yoon. Tapi Pengacara Kang menolak, keduanya tarik-tarikan dan plok Pengacara Kang menabok tangan Meari.
Meari tak terima ia mendatangi tempat duduk Pengacara Kang dan marah-marah. Tepat saat itu Yoon datang. Meari mengadu kalau dirinya barusan dipukul oleh Pengacara Kang. Pengacara Kang bersikap manis di depan Yoon dan berkata kalau tadi ada benturan sedikit ia minta maaf pada Meari sambil mengulurkan tangan.
Meari : “Ahjumma, sudah jelas kau memukulku dan itu cukup keras!”

Yoon meminta Meari berhati-hati kalau bicara. Meari meninggikan suaranya bersikeras kalau Ahjumma ini tadi memukulnya dengan sengaja. Yoon minta Meari memelankan suara karena semua pengunjung Mango Six memperhatikan. Meari terdiam, Yoon menyarankan lebih baik Meari melanjutkan pekerjaan saja. Ia harus mendiskusikan pekerjaaan dengan Pengacara Kang.
Pengacara Kang bilang kalau tadi itu hanya masalah kecil tak perlu dipermasalahkan. Yoon minta maaf atas nama Meari dan berharap Pengacara Kang bisa mengerti. Keduanya duduk membahas pekerjaan mereka. Meari menatap sedih Yoon tak membelanya.

Meari ijin akan pulang lebih awal pada Manajer. Manajer bertanya apa pelanggan itu benar-benar memukul Meari. Meari tak menjawab ia hanya bilang kalau ia perlu pulang lebih awal. Ponselnya hilang dan ia harus mencarinya.
Meari keluar dari gedung klub yang semalam ia datangi bersama Yi Soo. Ia menghubungi gurunya dan minta maaf. Ia menjelaskan kalau semalam ia terkunci di toilet, ia juga kehilangan ponselnya dan beruntung ia baru saja mendapatkan ponselnya kembali. Meari cemas ia ingin tahu apa yang terjadi setelah itu karena yang ia tahu gurunya ini tak membawa uang sama sekali.

Yi Soo dengan kesal berkata kalau semalam ia berpetualang, bahkan petualangan yang tak berani ditempuh Sinbad sekalipun dan semuanya ini karena Meari. Ia menutup teleponnya marah dan berkata kalau ia harus masuk kelas.
Yi Soo teringat kejadian semalam di hotel. Ia dipepet di pintu oleh Do Jin yang membuatnya panas dingin hehe. Yi Soo menyentuh wajahnya apa masih malu sekaligus panas dingin hehehe.
Ketika akan melanjutkan jalannya menuju kelas ia dikejutkan oleh Kim Dong Hyub yang berdiri di hadapannya. Ia bertanya apa ada yang ingin Dong Hyub bicarakan dengannya. Tapi Dong Hyub berkata kalau Yi Soo lah yang berhenti di depannya. Yi Soo terdiam bingung, kemudian minta maaf dan bertanya Dong Hyub mau kemana karena sebentar kagi kelas hampir dimulai.

Dong Hyub : “Kalau begitu Guru harus buru-buru, kelas bisa berlangsung tanpa murid tapi tak bisa berlangsung tanpa guru.” (haha salah ga ada guru pembelajaran masih bisa berlangsung. Lain hal nya dengan ga ada murid, siapa yang akan belajar?)

Dong Hyub berlalu dari hadapan Yi Soo. Yi Soo berteriak Dong Hyub mau kemana, apa mau bolos. Dong Hyub berkata kalau ia sakit dan akan ke klinik. Ia mengatakan kalau ia masuk angin.
Apa Yi Soo percaya.
Dong Hyub cs mengendap-endap ke pagar belakang sekolah. (Tuh kan mau bolos) Keempatnya melompati pagar sekolah. Dengan mudah keempatnya melompati pagar yang tak begitu tinggi.
Dan eng ing eng, di balik pagar Yi Soo sudah berdiri disana membawa tongkot pemukul baseball. Dong Hyub berbasa-basi kalau ia sering bertemu dengan Gurunya yang satu ini.

Yi Soo : “Bukankah kau seharusnya ada di klinik? Memangnya ini klinik?”
Dong Hyub : “Aku ingin jalan memutar. Jalan yang biasa sangat membosankan.” haha
Yi Soo : “Diam. Kau mau kembali atau tidak?”

Teman-teman Dong Hyub mengajak kembali tapi Dong Hyub menarik mereka agar kembali melewati jalan yang mereka lalui tadi. Artinya kalau tadi melompati pagar pada saat kembali juga harus melompati pagar lagi, “Kita punya harga diri kembali lewat jalan yang tadi!”
Tae San mendengar kabar dari pegawainya kalau ada berita di internet yang harus diketahui Tae San.

Tae San segera melihatnya dan disana diberitakan atas apa yang dikatakan Se Ra kepada reporter tadi, bahwa Se Ra lebih mementingkan penampilan tubuh dari pada latihan golf (wow beritanya cepet ya)

Tae San mencoba menghubungi Se Ra tapi ponselnya tak aktif. Ia khawatir dan bergegas mencarinya.
Do Jin mendatangi toko sepatu, ia melihat-lihat koleksi sepatu yang dijual disana dan tertarik dengan sepatu merah yang cantik.

Tae San kesana kemari mencari Se Ra. Ia bahkan keluar masuk bar. Ia mengirimi Se Ra SMS. ‘Kenapa kau tak mengangkat telepon? Kau dimana? Aku mengkhawatirkanmu. Paling tidak katakan kau ada dimana. Mengerti?’

‘Tolong balas, apa kau sedang minum-minum? Dimana? Aku akan menjemputmu. Hubungi aku. Cepatlah.’

Tae San mendatangi bar tempat biasa Se Ra minum dengan teman-temannya. Ia pun bertanya ke pemilik bar apa Se Ra ada disana. Pemilik bar bilang tidak, ia malah bertanya apa Tae San tak bisa menghubungi Se Ra. Ia mengira karena pemberitaan yang buruk itu bisa jadi Se Ra akan datang untuk minum tapi kelihatannya bukan disini tempatnya.

Tae San tanya apa ada tempat lain yang biasa Se Ra datangi. Pemilik bar mengatakan beberapa tempat yang sering didatangi Se Ra bersama anggota tim golf. Tae San mengerti dan segera ke tempat yang dimaksud.

Tae San terus mencoba menghubungi Se Ra, ia mulai lelah dan kesal. ia pun meninggalkan pesan. “Hei Hong Se Ra kenapa kau tak mengangkat teleponmu? Kau sengaja melakukannya ya? Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai tak bisa menjawab telepon? Kau sedang minum kan? Kau minum dengan saiapa? Si brengsek mana lagi? sudah berapa kali kau seperti ini? Kenapa aku harus berputar-putar seperti orang gila? Sebenarnya kau menganggapku apa? Kalau begitu kita akhiri saja hari ini. Kalau aku bertemu si brengsek itu bersamamu, akan kubunuh mereka semua hari ini. Mengerti?”

Tae San sepertinya tahu dimana keberadaan Se Ra. Ya dimana lagi kalau bukan di tempat latihan golf.
Benar dugaan Tae San ternyata Se Ra ada disana. Se Ra melihat kedatangan Tae San. Tae San menanyakan kenapa Se Ra sendirian. Se Ra mengatakan kalau kondisinya sedang baik jadi ia sedikit latihan. Tae San bertanya lagi kenapa Se Ra tak mengangkat telepon. Se Ra mencibir ia pikir ia sudah putus dengan Tae San dan balik bertanya kenapa Tae San meneleponnya. (Se Ra yang belum tahu isi pesan suara dan SMS Tae San)
Tae San tak mau Se Ra mendengar pesan yang ditinggalkannya. Ia berusaha mengalihkan agar Se Ra tak mengaktifkan ponsel. Ia beralasan ia tak mau Se Ra melihat berita di internet itu. Se Ra tak paham berita apa, apa ada yang menghinanya lagi. Tae San menepis ponsel Se Ra hingga terjatuh dan memeluk Se Ra.

Se Ra makin heran karena tak tahu apa yang terjadi. Tae San bilang kalau saat ini yang dibutuhkan Se Ra hanya pelukan (dukungan) darinya tapi Se Ra tetap ingin melihat apa yang mereka tulis tentang dirinya.
Se Ra akan mengambil ponselnya tapi dengan cepat Tae San menginjaknya. Tentu saja itu membuat Se Ra terbengong-bengong tak mengerti, apa salah ponselnya sampai diinjak-injak seperti itu. Tae San bilang kalau ponselnya sudah bersalah, cukup itu saja yang perlu Se Ra ketahui. Tae San kembali memeluk Se Ra dan mengatakan kalau ia mencintai Se Ra dan Se Ra harus percaya padanya.
Do Jin membaca dokumen sambil bercukur. Yoon tanya apa perusahaan asuransi sudah menghubungi Do Jin karena biaya perbaikan mobil pengacara Kang sangat besar. Do Jin menjawab ya dan mengatakan kalau biayanya 2,7 juta won.

Yoon menilai itu jumlah yang besar untuk gairah seorang pria. Ia heran apa yang disukai Yi Soo dari Do Jin. Do Jin bilang kalau Yi Soo belum mengatakan suka padanya dan ini hanya perasaannya sendiri. Singkatnya, cinta bertepuk sebelah tangan.

Yoon : “Jadi apa karena itu kau menabrakan mobilmu?”
Do Jin : “Tak mungkin aku menabraknya kan?” (kalau tak ada alasan khusus hehe)

Yoon memberi tahu kalau yang seperti itu namanya bukan cinta bertepuk sebelah tangan, itu sama saja seperti menarik karet gelang. Seperti anak SD yang iseng menjepretkan karet gelang ke anak perempuan yang dia sukai, apa bedanya?
Do Jin : “Orang lain aku tak tahu. Tapi rasanya kau bukan orang yang tepat untuk mengajariku.”
Yoon : “Memangnya aku kenapa?”
Do Jin : “Lihat Meari. Betapa beraninya dia, tapi kau tak tegas apa kau menerima atau menolaknya. Kau hanya membiarkannya saja. Dasar pengecut.”
Mulut Yoon terkunci ia tak bisa berkata apa-apa, skakmat deh.
Meari dengan seragam karyawan Mango Six mendatangi kantor Yoon. Yoon sedang sibuk dan berkata kalau ia tak punya waktu untuk bermain dengan Meari. Meari mengatakan kalau kedatangannya bukan untuk bermain. Ia ingin menuntut pengacara Kang secara resmi. Ia juga akan membayar jasa Yoon dengan gajinya. Wanita itu benar-benar sudah memukulnya.

Yoon menilai itu hanya salah paham. Meari bilang kalau pangacara Kang sudah berbohong, kenapa Yoon tak mempercayainya. Yoon tanya apa Meari punya bukti, bukti kalau pengacara Kang memukul Meari. Meari bilang kalau ia sendiri saksinya.

Meari menebak jangan-jangan pengacara kang ini salah satu wanita yang pernah tidur dengan Yoon. Yoon jelas emosi mendengarnya. Meari meninggikan suaranya, “Lalu kenapa kakak selalu melindunginya?”

Yoon berkata karena memang secara logika itu tak masuk akal. Kenapa pengacara Kang harus memukul Meari.
Dan cup, Meari mencium pipi Yoon. Oh oh Dunia seakan berhenti saat itu juga. Yoon terdiam dan menatap Meari.

Meari : “Menurut kakak, kenapa aku mencium kakak? Gadis muda sepertiku, cantik, putri dari keluarga kaya, secara logika apa itu masuk akal?”
Meari pamit. Tapi Yoon manarik tangan Meari, “Kau... sebenarnya... siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Apakah aku harus memarahimu dulu baru kau mau mendengarkanku?” Yoon meninggikan suaranya.

Meari menepiskan tangan Yoon, “Kakak, apa aku terlihat seperti anak usia 7 tahun di hadapanmu? Kenapa kau memperlakukanku seperti anak kecil? Kalau kakak memang tak menyukaiku, tolak saja aku secara terus terang layaknya wanita 24 tahun. Aku tak pernah menjadi gadis 7 tahun untukmu.”
Colin mencari sebuah alamat, ia tersenyum senang karena menemukan tempat tujuannya. Kafe Mango Six Jung Rok.

Colin melihat Meari keluar dari salah satu gedung disana, ia ingin menyapa Meari. Tapi Meari berjalan marah menuju seseorang, siapa lagi kalau bukan Pengacara Kang.
Meari melenggangkan tangan dan menabrakkan tangannya ke tangan pengacara Kang. Pengacara Kang mengaduh, “Apa yang kau lakukan?” tanya pengacara kang.

Meari berkata kalau itu hanya sentuhan kecil. “Kalau sakit, I’m sorry.” Meari melenggang santai menuju Mango Six. Colin yang melihatnya tersenyum-senyum.
Jung Rok ke galeri istrinya. Disana Park Min Suk sedang berbincang dengan salah satu seniman. Min Suk mengenalkan seniman itu pada suaminya. Jung Rok memuji kalau karya dari seniman itu sangat langka. Ia pamit akan menunggu istrinya di luar saja. Seniman itu memuji kalau suami Min Suk benar-benar tampan.

Jung Rok duduk di ayunan dan melihat Min Suk datang ke arahnya. Min Suk tanya untuk apa Jung Rok datang ke galerinya. Jung Rok berkata kalau kedatangannya itu untuk menjemput istrinya karena ia sangat merindukan istrinya.
Min Suk : “Kau baru saja membayar biaya keanggotaan klub fitnes hotel senilai 25 juta won.”

“Bagaimana kau tahu? Ah.. Im Meari...” Jung Rok kesal Meari sudah menjadi CCTV baginya. Ia berkata kalau Meari sudah salah, bukan 25 juta tapi ia mendapatkan diskon 10% jadi semuanya 22 juta.

Min Suk meminta suaminya segera menarik kembali uang itu. Jung Rok tanya kenapa ia harus menariknya ia ingin berolahraga. Bukankah istrinya menyukai pria yang sehat. Min Suk berkata kalau wanita-wanita lain juga menyukai pria yang sehat. Dan suaminya yang sehat juga menyukai wanita. Ia jadi tersingkirkan.

Jung Rok menjelaskan kalau ia mengambil uang itu sekarang kemungkinannya tak akan kembali 100% penuh. Min Suk bilang apa suaminya pikir ini karena masalah uang, “Aku marah karena diriku sendiri yang menjadi tua karenamu. Keanggotaan klub olahraga itu untuk para playboy dan kau bisa menggunakannya sebagai alasan untuk tak menjawab telepon. Tidak akan terlihat mencurigakan kalau kau pulang dengan pakaian dalam baru dan akan terkesan bisa saja ketika pulang dengan tubuh segar setelah mandi.”

Jung Rok : “Oh jadi aku bisa melakukan itu semua.”
Min Suk emosi mendengarnya, ia akan memukul Jung Rok tapi tangan Jung Rok menahan tangan istrinya dan tangan yang lain menggapi pinggang istrinya. Min Suk minta Jung Rok melepaskannya, apa Jung Rok lupa sekarang mereka berdua berada di galerinya, karyawan2nya akan melihat.

Jung Rok tak peduli, memeluk istrinya seperti ini siapa yang akan berani bicara. Ia memuji pinggang istrinya sangat langsing. Cup... Jung Rok mencium istrinya cepat. Tak lupa ia juga mengancam coba saja istrinya menggunakan kekerasan lagi. Kalau tidak ia akan mengecup istrinya lagi hehe.
Jung Rok mendapatkan SMS dari seorang wanita, ‘Kali ini aku bisa hidup karenamu, kau tahu itu kan?’

Min Suk ikut melongok untuk melihatnya tapi buru-buru Jung Rok menyingkirkan ponselnya dan terbata-bata mengatakan kalau SMS itu dari pria. “Direktur Kang itu pria.”
Tangan Min Suk meminta ponsel Jung Rok diberikan padanya. Ia ingin melihatnya sendiri. Jung Rok meyakinkan kalau SMS itu dari seorang pria beratnya hampir 100kg tingginya 185cm dan kakinya berbulu. Haha.

Min Suk tak percaya pokoknya ia ingin melihatnya langsung. Jung Rok ngoceh-ngoceh kenapa Min Suk tak percaya padanya, ia pun membanting ponsel dan menginjaknya kuat-kuat hahaha.

“Keluarkan simcard-nya!” perintah Min Suk. Min Suk akan melepas cincinnya, “Kata Dir Kang dia bisa hidup karena kau. Tapi sepertinya kau akan kehilangan hidupmu karena Dir Kang.”

Jung Rok menatap penuh permohonan, “Yobo, Honey, Noona, Min Suk Noona. Aku bersalah.”
Tae San ke tempat service hape. Ia minta semua data dan nomor kontak yang ada di ponsel Se Ra dipindahkan.
Ternyata Jung Rok juga pergi ke tempat yang sama (lihat deh cara Jung Rok menenteng ponselnya kayak nenteng sesuatu yang menjijikan haha) keduanya terkejut.

Jung Rok senang bertemu Tae San. Ia tanya apa di rumah Tae San ada kamar kosong, ijinkan ia tinggal beberapa hari. Ia kesal karena ini semua gara-gara Meari.
Di Mango Six Jung Rok bicara berdua dengan Meari. Jung Rok mengatakan kalau Meari sudah mengabaikan hal yang penting. Meari tanya apa itu. Jung Rok bilang kalau dirinya itu teman Yoon. Dengan kata lain ia tahu kapan Yoon akan datang atau pergi. Bahkan ia bisa meminta Yoon datang sekarang.

Meari : “Apa maksudmu, kau ingin aku menjadi mata-mata ganda?”
Jung Rok : “Ternyata kau itu mata-mata istriku.”

Meari mengatakan kalau Min Suk memberinya penjanjian yang bagus.

Ada noda di dahi Meari, Jung Rok mengambilkan kertas tisu dan memberikannya pada Meari untuk dibersihkan. “Jika kau tak perlu khawatir mangawasi aku bukankah kau akan punya waktu untuk bercermin.”

Meari setuju ia menjadi mata-mata ganda itu akan keren sekali tapi ia memiliki satu syarat, “Untuk sementara ini jangan biarkan Kak Yoon datang kesini!”

Jung Rok ingin tahu alasannya bukankah Meari ingin dia datang setiap hari. Meari bilang kalau ia memiliki alasan tertentu. Jung Rok bilang seharusnya Meari mengatakannya dari tadi karena Yoon sekarang sedang menuju kesini.
Yoon baru saja masuk ke Mango Six. Yoon bersikap cuek dan berbasa-basi meminta Jung Rok mengganti karyawan (ganti Meari) dia tak cantik. Meari mendelik kesal. Jung Rok berkata lain, menurutnya Meari mulai bertambah cantik.

Ada pengunjung yang datang ke Mango Six, Meari ingin menyambutnya tapi ia terkejut kalau yang datang itu Colin, pemuda yang dikenalnya di pesawat sekaligus yang menolongnya di klub kemarin.
Colin mengatakan kalau Meari berjanji akan mentraktirnya makan siang tapi Meari tak pernah menghubunginya. Meari heran bagaimana bisa Colin tahu tempatnya bekerja.

Jung Rok dan Yoon melirik siapa pemuda yang sedang bicara dengan Meari ini. Yoon melihat penampilan Colin dari kaki sampai kepala, ya pemuda yang sempurna, masih muda dan tampan haha.

Meari heran apa ketika mabuk ia mengatakan dimana tempatnya bekerja. Meari jelas lupa apa yang ia katakan ketika mabuk, tapi karena Colin sudah datang ia akan mentraktirnya karena ia masih ingat kalau Colin sudah menyelamatkannya. Colin berbangga diri dan memuji diri sendiri kalau saat itu ia sangat keren sekali. Wehehe.

Yoon bete mendengarnya, hahaha mukanya setengah cemberut. Meari meminta Colin menunggunya sebentar. Meari minta ijin pada bosnya ia akan pulang lebih awal ini permintaannya sebagai tanda persahabatan mereka. Jung Rok ingin tahu siapa pemuda itu. Meari mengatakan kalau pemuda itu yang menyelamatkannya di klub.

“Menyelamatkanmu? kenapa?” Tanya Jung Rok lagi makin penasaran.
“Karena aku cantik.” Jawab Meari, kemudian ia ke dalam untuk berganti pakaian.
Colin menatap tajam Jung Rok dan Yoon. Jung Rok yang meliriknya dan merasa heran kenapa pemuda itu terus menatapnya.

Yoon mencoba untuk melihatnya juga. Jung Rok menilai kalau anak itu sombong. Apa menurut Yoon dia bisa dipercaya. Bukankah dia itu lebih muda.

“Orang yang ditemui Meari di klub seharusnya bisa dipercaya.” Ucap Yoon. Jung Rok menyela kalau Meari bukan wanita biasa, “Dia itu seperti ‘Little Park Min Suk’ kau seharusnya mengkhawatirkan anak muda itu.”

Yoon pamit akan menuju kantornya. Colin menatapnya penuh tanda tanya.
Yoon duduk santai dengan kaki di atas meja memejamkan mata sambil memegang pipi yang tadi dikecup Meari. Ia kembali merasakan kecupan lembut dari Meari.
Colin berada di sebuah restouran menunggu Meari. Ia menatap buku agenda yang di dalamnya terdapat foto ibunya bersama ke empat sekawan. Dua dari mereka sudah ia lihat. Meari datang dan Colin pun segera menyimpan bukunya kembali.
Meari sengaja memilihkan makanan Jepang khusus untuk Colin. Apa Colin menyukai apa yang disajikan. Ia heran, Colin itu tinggal di Jepang tapi kenapa namnya ‘Colin’.

Colin mangatakan kalau ia lahir di Amerika, bukankah ia sudah mengatakannya ketika di klub (ah apa iya) Meari juga menanyakan kenapa Colin menggunakan bahasa tak formal dengannya. Colin bilang kalau usianya baru 20 tahun. Meari bilang kalau ia itu lebih tua dari Colin.

Colin ingin menanyakan sesuatu. Meari berkata kalau ia tak punya pacar tapi ia menyukai seseorang. Colin kembali bertanya apa Meari benar-benar menganggap diri Meari itu cantik, apa hubungan Meari dengan para ahjussi itu. Meari paham maksud Colin Oppa-Oppa di kafe tadi. Iitu adalah teman kakaknya. Mereka itu ikut melihat dirinya tumbuh besar. Baginya mereka masih saja orang yang belum dewasa. Tapi bagi orang lain mereka dianggap sebagai ahjussi.

Colin terus bertanya siapa nama kakak laki-laki Meari. Meari kesal Colin terus bertanya tentang kakaknya dan para ahjussi itu. Asal colin tahu kalau ia itu lebih tua dari Colin. Kenapa ingin tahu nama kakaknya Colin bahkan belum tahu namanya.
Yi Soo bersih-bersih di kamarnya. Ketika ia membersihkan kolong tempat tidur ia melihat kotak tempat ia menyimpan sarung tangan yang bertuliskan angka 836. Yi Soo membukanya dan teringat hari dimana ia membeli sarung tangan itu. Sarung tangan yang ingin ia berikan pada Tae San tapi tak jadi ia lakukan karena Tae San keburu menyukai Se Ra.
Se Ra melihat berita di internet yang memberitakan tentang apa yang ia sampaikan pada reporter tadi siang. Ia kesal dan menyingkirkan laptopnya. Yi Soo ada di sampingnya tengah melipat pakaian. Yi Soo minta berita itu jangan terlalu diperhatikan.

Se Ra memberi tahu kalau Tae San akan datang mengantarkan ponsel barunya apa Yi Soo tak apa-apa. Yi Soo bilang tentu saja ia tak apa-apa (Yi Soo belum tahu kalau Se Ra sudah tahu Yi Soo menyukai Tae San)
Yi Soo ingin tahu tentang keluarga Tae San, apa mereka keluarga kaya. Se Ra malah balik bertanya apa itu juga Yi Soo tak tahu. Apa Yi Soo pernah melihatnya berkencan dengan pria miskin sebelumnya. Se Ra menduga kalau Yi Soo belum mengetahuinya tapi Yi Soo tetap dekat dengan keluarga Tae San. Bukankah Yi Soo itu gurunya Meari, apa Yi Soo tak memeriksa latar belakang keluarga mereka.

Untuk mengalihkan pembicaraan Yi Soo bertanya apa Se Ra lapar, ia mengajak Se Ra makan. Se Ra ingin pesan makanan yang siap antar saja tapi Yi Soo menawarkan ia akan keluar membelinya, ia juga ingin keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Yi Soo meminjam jaket Se Ra.
Do Jin sampai di rumah Yi Soo. Ia membawa sepatu merah yang ia beli dari toko tadi. (Ya ampun ni orang masa mau ngasih sepatu gitu ga ditaruh di kotaknya malah ditenteng aja)

Do Jin akan mengetuk pintu tapi terkejut karena tiba-tiba pintu terbuka. Yi Soo keluar terburu-buru mengenakan jaket dan tak tahu kalau di depan pintu ada Do Jin. Ia nyelonong gitu aja.
Tapi Yi Soo tiba-tiba berhenti dan menyadari sesuatu. Ia berbalik dan terkejut melihat Do Jin berdiri di depan pintu. Do Jin mengatakan kalau ia akan mengetuk pintu tapi pintunya tiba-tiba terbuka.

Yi Soo melihat sepatu yang ditenteng Do Jin. Do Jin berkata kalau ia memikirkan aturan tentang cinta bertepuk sebelah tangan yang Yi Soo katakan. Yi Soo paham maksud Do Jin, jadi apa Do Jin membelikan sepatu yang harganya kurang dari 100rb won.

Do Jin berkata tidak ia memberi tahu kalau sepatu ini harganya lebih mahal dari sepatu yang sebelumnya. Maka dari itu ia mambayarnya dengan cara mengangsur selama 14 bulan. Setiap bulannya 100rb won. “Ini adalah standar sepatu yang aku inginkan dan sesuai dengan aturan darimu.”

Yi Soo tak mau memakai sesuatu yang mewah.

“Kalau begitu jangan dianggap sebagai sepatu yang mewah pakailah disaat yang penting.” Kata Do Jin.
Do Jin jongkok meletakkan sepatu itu agar dipakai Yi Soo nanti. “Pakailah sepatu ini saat kita bertemu lagi nanti. Saat cuaca cerah dengan pakaian yang cantik!” (saat Yi Soo menerima cinta Do Jin, maka saat itu Do Jin akan mengagap Yi Soo menerimanya)

Yi Soo terdiam terpaku menatap ke arah sepatu. Do Jin melihat Tae San datang, Tae San memberi kode agar Do Jin diam.
Tae San berjalan pelan tanpa suara ke arah Yi Soo dan tiba-tiba Tae San memeluk Yi Soo dari belakang. Do Jin akan mencegah tapi terlambat. Yi Soo jelas shock dan kaget bukan main ia hanya bisa terdiam.

“Apa yang sedang kau bicarakan dengan pria asing?” tanya Tae San mengira Yi Soo adalah Se Ra.

Tae San sadar kalau yang ia peluk itu bukan Se Ra dan tepat saat itu Se Ra keluar rumah. Se Ra melihat Tae San memeluk Yi Soo. Tae San segera melepas pelukan. Tae San tak menyangka kalau yang ia peluk itu bukan Se Ra.
Yi Soo mengatur nafas ia tampak shock tak menyangka yang barusan memeluknya itu Tae San. Se Ra berkata kalau sebenarnya ia keluar ingin menjemput Tae San tapi ia tak menyangka kalau Tae San sudah sampai di rumahnya. Ia ingin ada seseorang yang menjelaskan apa yang terjadi barusan.

Tae San berusaha menjalaskan kalau ini hanya sebuah salah paham. Ia berfikir kalau Yi Soo itu Se Ra. Bukankah ia yang membelikan jaket itu jadi ia berfikir kalau itu Se Ra. Ia ingin memberi Se Ra kejutan. Tae San minta maaf pada Yi Soo karena sudah salah paham.

Yi Soo masih terdiam, Do Jin segera melepas jaket yang membuat kesalahpahaman itu. Ia menyerahkan jaket itu pada pemiliknya. Bukankah Yi Soo akan pergi ke suatu tempat ia akan mengantar Yi Soo. Do Jin menarik tangan Yi Soo mengajaknya pergi dari sana.

Tae San kembali meyakinkan Se Ra kalau tadi itu hanya salah paham. Ia tak tahu kalau Yi Soo memakai jaket Se Ra. Se Ra tak menanggapi ia hanya mengatakan kalau kopinya sudah siap dan mengajak Tae San masuk.

Dan tinggalah sepatu merah itu sendirian,
Do Jin dan Yi Soo berjalan bersama di bawah guguran kelopak bunga cherry.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Do Jin yang melihat Yi Soo berjalan melamun. Ia tahu pasti Yi Soo terkejut karena Se Ra keluar dan Tae San juga sudah membuat kesalahan jadi Yi Soo jangan terlalu marah.
“Aku tahu!” kata Yi Soo pelan. Ia tahu kalau tadi itu hanya salah paham. Tapi itu sangat jelas baginya. “Bahkan sekarang, aku masih merasa kalau Tae San ada di belakangku. Rasanya begitu nyata. Sekarang, aku masih bisa merasakan pelukannya!”
“Kalau masih terasa terlalu nyata, ayo lakukan ini saja!” Do Jin maju dan tangannya meraih dagu Yi Soo. Wajahnya semakin mendekat dan mencium Yi Soo.

Yi Soo jelas tak menyangka, matanya terbelalak. Saking shocknya ia terdiam tak melakukan apapun.
Yi Soo menatap Do Jin dengan tatapan tanda tanya. Do Jin melepas jas dan memakaikannya pada Yi Soo. Yi Soo menepisnya tapi Do Jin memaksa memakaikannya.
Do JIn menahan kedua bahu Yi Soo menatapnya tajam, “Bagaimana? Sekarang kau bahkan memiliki lebih banyak lagi masalah yang nyata.”
Tae San terkejut mendengar apa yang baru saja Se Ra katakan. Se Ra bertanya apa Tae San benar-benar tak tahu atau hanya pura-pura tak tahu. Tae San tak percaya, apa itu masuk akal.

Se Ra : “Ada fotomu dalam buku agenda Yi Soo. Di bawah tempat tidurnya, dia menyembunyikan sarung tangan yang tertulis angka 836. Apa kau pikir itu masuk akal?”

Se Ra menduga sepertinya Yi Soo ingin memberikan sarung tangan itu pada Tae San tapi dia tak memiliki kesempatan itu dan berubah pikiran. Kalau Tae San mau ia bisa mengambilkannya. Tae San tak tahu harus bilang apa.

Se Ra bertanya-tanya apa Tae San benar-benar tak tahu kalau Yi Soo menyukai Tae San. Tae San minta Se Ra jangan berfikiran bodoh seperti itu. Se Ra berkata kalau ia hanya ingin memastikan satu hal. Tae San tanya memastikan apa lagi.

Se Ra : “Pria 20 detik Yi Soo adalah kau dan dia masih merasakan begitu. Apa yang ingin kuketahui? Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu. Kau tak bisa bilang kalau kau tak tertarik padanya kan?”
Yi Soo sampai di depan rumah. Ia berdiri menatap sepatu merah dari Do Jin yang diberikan padanya. Ia masih mengenakan jas milik Do Jin.

Tae San akan pulang. Keduanya bertemu pandang di luar rumah. Tae San tak tahu harus menyapa Yi Soo bagaimana. Keduanya terlihat canggung.
Pikiran Tae San berkecamuk, ia mengendarai mobilnya menuju bar Jung Rok. Di dalam mobil ia memikirkan apa yang dikatakan Se Ra bahwa ia-lah pria 20 detik Yi Soo dan sampai sekarang Yi Soo masih merasakan seperti itu.
Sampai di bar, Yoon dan Jung Rok menatap Do Jin dan Tae San penuh tanda tanya. Do Jin dan Tae San terlihat murung. Keduanya minum bersamaan dan menaruh gelas bersamaan membuat Yoon dan Jung Rok bertanya-tanya apa yang terjadi.

“Ada masalah apa? Apa yang terjadi?” tanya Jung Rok penasaran.
“Ada apa? apa perusahaan kalian bangrkut?” Tanya Yoon.
Do Jin dan Tae San kembali meminum minuman mereka bersamaan.

Jung Rok : “Apa ada seseorang yang datang membawa anak? Dan dia menginginkan tes DNA?”
Yoon menyenggol Jung Rok tak mungkin seperti itu, “Apa kanker? Apa kalian pergi ke rumah sakit?”

Kini giliran Jung Rok yang menyenggol Yoon tak mungkin seperti itu. Do Jin dan Tae San kembali meminum minuman mereka bersamaan.

“Bukan itu.” kata Do Jin.
“Aku melihat Yi Soo dari belakang dan salah mengira kalau dia itu Se Ra. Aku memeluk Yi Soo dan Se Ra melihatnya.” Ucap Tae San menjelaskan.
“Apa back hug yang disukai para wanita!” seru Jung Rok kegirangan. Tapi ini Membuat kedua pria yang dirundung galau ini kesal. Yoon sepertinya mengerti situasi kedua sahabatnya ia mengajak keduanya minum lagi.
Yi Soo menenangkan pikirannya dengan berendam di kamar mandi. Ia berusaha memikirkan apa yang terjadi tadi. Ia memejamkan matanya berusaha mengingat semuanya.

Ia mengingat awal petemuannya dengan Do Jin. Baju rajutan merah yang benangnya terurai karena tersangkut di tas Do Jin. Kemudian Do Jin membantu mengatasinya. Do Jin juga melilitkan jaketnya untuk menutupi rok mini milik Meari yang dipakainya.

Do Jin yang menemuinya ketika ia akan kencan buta dan ketika itu Do Jin menyatakan kalau ia siap mencintai Yi Soo walalupun cintanya bertepuk sebelah tangan. Juga ketika ia berada di kamar mandi hotel bersama Do Jin. Dan kejadian hari ini dimana Do Jin menciumnya.
Ya adegan kamar mandi ini penuh dengan gelembung-gelembung cinta, Yi Soo membuka matanya perlahan dan menyentuh bibirnya.
 
 Bersambung ke episode 7

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar