Senin, 10 Februari 2014

Sinopsis I Need Romance 3 episode 1 part 1


Pada pagi hari di suatu musim dingin, seorang gadis kecil, Shin Joo Yeon, berjalan menyusuri jalanan yang tertutup oleh tebalnya salju menuju ke sebuah rumah sakit untuk melihat bayi, Joo Wan, yang baru lahir. Joo Wan memanggil Joo Yeon dengan sebutan Shing Shing.
Joo Wan bernarasi "Hari saat aku lahir adalah hari saat salju pertama turun. Shing Shing yang saat itu berumur 7 tahun, berjalan meninggalkan jejak langkahnya di salju yang saat itu masih belum terinjak oleh siapapun untuk menemuiku. Aku sudah mendengar semuanya dari Shing Shing. Saat aku baru lahir, dia bilang aku seperti ubi"
Waktu pertama kali Joo Yeon melihat Joo Wan yang baru lahir, dia langsung menghela napas prihatin karena bayi itu terlihat sangat jelek seperti ubi.
"Bagaimana dia akan menjalani hidupnya nanti jika dia sejelek ini?" kata Joo Yeon kecil dengan prihatin. LOL XD
Joo Wan melanjutkan narasinya bahwa sejak ia bayi, ia tumbuh di rumah Shing Shing karena ibunya Joo Yeon bekerja sebagai pengasuh Joo Wan. Shing Shing pernah mengatakan padanya bahwa saat ia berumur setahun, dia terlihat seperti ubi matang yang membuatnya terlihat lebih jelek. 
Dan karena sering tidak tahan melihat kejelekan bayi Joo Wan, Shing Shing sering sekali menutupi wajah bayi Joo Wan dengan topi. Tetapi walaupun begitu, Joo Yeon kecil selalu menjaga bayi Joo Wan dengan baik. Bahkan saat bayi Joo Wan (yang wajahnya setengah tertutup) tidur di pangkuannya, Joo Yeon kecil langsung tersenyum melihatnya. 

Dan mungkin karena sejak kecil wajahnya terlalu sering ditutup, bahkan sampai dewasapun Joo Wan tetap melakukan kebiasaan menutup setengah wajahnya saat ia tidur. 
"Orang tua mengatakan bahwa kebiasaan saat kita berumur setahun akan bertahan sampai kita berumur 80 tahun, sepertinya hal itu ada benarnya"
Di bandara, Joo Wan yang sudah tumbuh dewasa dan punya nama barat Allen Joo, terbangun dari tidurnya. Dia baru saja kembali ke Korea setelah 17 tahun lamanya meninggalkan negara itu. 
Setelah bangun, ia langsung mengedarkan pandangannya untuk melihat berbagai macam wanita. Ada seorang wanita berkacamata yang terlihat pintar, ada wanita berambut panjang yang terlihat lugu dan 2 pramugari yang menunduk hormat pada Joo Wan dan semua itu membuat Joo Wan teringat bahwa Shing Shing dulu juga pintar, lugu dan baik.
"Aku ingin tahu bagaimana Shing Shing sekarang?" kata hati Joo Wan
Joo Yeon dan 2 rekan kerjanya yaitu Lee Min Jung dan Jung Hee Jae sedang berjalan keluar kantor untuk makan siang sambil membicarakan romantisme antara Hee Jae dan pacarnya. 
Hee Jae dengan penuh semangat menceritakan kemesraan yang ia dan sang pacar lakukan kemarin malam di berbagai macam gang yang mereka anggap sepi tetapi ternyata setiap kali mereka pindah gang untuk berciuman selalu saja ada orang lewat dan acara kencan mereka selalu terganggu seperti itu selama satu jam lamanya.
Di cafetaria tempat mereka makan siang, Joo Yeon mendapat telepon dari ibunya yang memberitahunya bahwa si ubi sudah kembali ke Korea dan sekarang bekerja sebagai seniman musik. Mendengar pekerjaan semacam itu malah membuat Joo Yeon mengira bahwa Joo Wan tumbuh menjadi anak nakal.
Sementara itu di bandara, Joo Wan mengeluh pada seorang pria karena pria itu terlambat menjemputnya padahal dia sudah menunggu selama 40 menit. Pria itu beralasan bahwa ia terlambat karena sedang sibuk mencarikan rumah sewaan untuk ditinggali oleh Joo Wan tetapi sebelum pria itu sempat menyelesaikan perkataannya, Joo Wan langsung menaruh barang-barangnya di mobil dan meminta kunci mobilnya. 
Joo Wan dengan santainya masuk sendirian ke mobil dan menyalakannya lalu menyuruh orang itu untuk tidak meneleponnya karena dia tidak akan menjawabnya. 
"Kirim saja jadwalku lewat sms, jangan menggangguku di malam hari. Jika kau sampai melakukannya aku akan mengganti nomorku. Biarkan aku sendiri kecuali jika benar-benar sedang sangat membutuhkanku"
"Tapi Allen, sore ini kau ada pemotretan dan..."
"Akan kutemukan jalannya sendiri nanti (menuju tempat pemotretan)" ujar Joo Wan sambil berlalu pergi meninggalkan pria itu.
Di kantor, Joo Yeon sedang menyiapkan materi kerja sambil curhat pada Min Jung, mengeluhkan masalah ibunya yang menyuruhnya untuk mengizinkan si ubi tinggal di rumahnya selama setahun.
"Kau pasti merasa tidak nyaman karena Lee Jung Ho (pacarnya Joo Yeon)" kata Min Jung
"Ah benar juga"
Setelah mendapat ide bagaimana cara menolak Joo Wan tinggal dirumahnya dengan menggunakan alasan sang pacar, Joo Yeon langsung menelepon ibunya untuk memberinya nomor telepon Joo Wan.
Joo Wan tiba di sebuah pantai lalu berteriak senang kepada laut karena dia akhirnya kembali ke Korea. Joo Wan bernarasi bahwa ia sudah pernah berjanji pada Shing Shing bahwa dia pasti akan kembali ke Korea dan sekarang dia sudah memenuhi janjinya. 
Saat ia sedang menikmati indahnya pantai, Joo Yeon mengiriminya pesan menyuruh Joo Wan untuk meneleponnya. Joo Wan tersenyum melihat pesan itu lalu melakukan perintah Joo Yeon dan meneleponnya. Setelah mengangkat teleponnya Joo Yeon langsung bertanya dimana keberadaannya dengan menggunakan bahasa tidak formal.
"Kenapa kau tiba-tiba bicara tidak formal padaku?" keluh Joo Wan
"Aku sudah bicara tidak formal padamu sejak saat kau lahir" ujar Joo Yeon
"Walaupun begitu bukankah sekarang ini kita orang asing? Apa kau bahkan ingat wajahku?"
"Aku tidak ingat kecuali bahwa kau jelek. Jadi kau dimana sekarang?"
Joo Wan melihat sekitarnya lalu memberitahu Joo Yeon bahwa sekarang ia sedang berada di tempat dimana mereka dulu melihat burung camar bersama "Apa kau ingat bahwa kita pernah pergi melihat jerapah saat hujan salju?"
Joo Yeon langsung berhenti mendengar pertanyaan itu karena dia sama sekali tidak mengerti apa maksud Joo Wan. Dan karena merasa sesi basa basi mereka sudah kelamaan maka Joo Yeon memutuskan untuk menyatakan maksudnya yang sebenarnya.
"Aku masih belum memutuskan apakah kau boleh tinggal di rumahku atau tidak. Ibuku memang bilang bahwa 'rumahku adalah rumahmu'. tetapi aku tidak suka dengan hal itu"
Joo Wan langsung bingung mendengarnya "Kenapa kau tidak suka?"
Joo Yeon beralasan bahwa dia punya pacar yang terkadang datang dan tidur dikamarnya dan jika Joo Wan tinggal bersamanya maka saat pacar Joo Yeon datang, Joo Wan pasti akan merasa sangat terganggu oleh suara-suara aktivitas malam mereka. 
"Kau pasti tidak mau mendengarnya setiap malam kan? Kurasa jika kau tinggal di rumahku maka aku akan merasa tidak nyaman, pacarku juga pasti tidak suka. Aku sungguh-sangat-teramat benci kalau kau datang ke rumahku dan menggangguku"
Joo Wan hanya terdiam sedih mendengarkan ocehan Joo Yeon "Kenapa kau membenciku?"
"Pertama, karena kau jelek. Kedua... ibuku mendapat gaji dengan membesarkanmu. Dengan uang itulah bagaimana kami bisa bertahan hidup. Melihatmu hanya akan membuatku teringat saat-saat itu sampai membuatku muak"
"Muak?"
"Kau lihat kan bagaimana bencinya aku? Kuharap kita tidak pernah bicara lagi" ujar Joo Yeon dengan ceria
Saat Joo Yeon hendak memutuskan hubungan teleponnya, Joo Wan cepat-cepat menghentikannya "Aku merindukanmu. Aku merindukamu, Shing Shing"
Namun Joo Yeon sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata Joo Wan barusan dan langsung mematikan teleponnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya sementara Joo Wan termenung sedih di pantai. 
Joo Yeon bekerja sebagai pemimpin tim pemasaran sebuah stasiun TV fashion home shopping, salah satu anak buahnya adalah pacarnya yang bernama Lee Jung Ho dan dia bekerja sebagai PD. 
Joo Yeon mengumpulkan semua anak buahnya lalu mulai memberi mereka pengarahan tentang apa saja yang harus mereka persiapkan dan lakukan sebelum mereka on air. Semua orang langsung bersiap melakukan tugas mereka masing-masing.
Para model mulai bergaya, kamerawan mulai menyiapkan kameranya, MC mulai berlatih dengan skripnya, PD yang bekerja di ruang kendali mulai menghitung mundur 5-4-3-2-1... PD menjentikkan jarinya dan lampu on air-pun menyala sementara Joo Yeon, Min Jung dan Hee Jae duduk didepan komputer untuk mengawasi berapa banyak mereka mendapat order. 
Awalnya memang tidak ada yang merespon tapi setelah beberapa menit akhirnya respon yang mereka dapat mulai naik dan hanya dalam waktu semenit mereka berhasil mendapat 700 penelepon dan dengan segera hampir semua baju yang mereka jual, sold out.
Kang Tae Yoon, sunbae sekaligus mentornya Joo Yeon, yang baru selesai rapat melihat di TV bahwa Joo Yeon sekali lagi berhasil menjual habis semua baju yang mereka jual.
"Hebat" puji Tae Yoon
Saat anak buahnya sibuk merencanakan untuk minum-minum demi merayakan kesuksesan mereka menjual habis semua barang, Joo Yeon dengan tenangnya berpaling pada mereka untuk tidak tersenyum terlebih dahulu karena sebelum mereka bersenang-senang mereka harus pergi rapat dengan para patner bisnis mereka untuk bernegoisasi tentang fashion musim berikutnya.
Terutama di saat-saat seperti ini mereka harus membujuk para patner bisnis mereka agar para patner bisnis mereka mau berinvestasi lebih.
"Kumpulkan dan tinjau respon para pelanggan dan cari tahu apa yang mereka inginkan" perintah Joo Yeon

Setelah pekerjaan mereka selesai, Joo Yeon datang ke ruang kerja Tae Yoon lalu melompat ke kursi dengan kegirangan memamerkan kesuksesannya menjual habis semua baju yang dijualnya selama 5 kali berturut-turut.
"Aku benar-benar punya tangan dewa! Apa yang harus kulakukan?! Semua produk yang kujual berhasil terjual habis" teriak Joo Yeon kegirangan sambil menari-nari diatas kursi.
Tae Yoon tersenyum melihat tingkah laku Joo Yeon "Apa kau harus datang kesini hanya untuk pamer?"
"Lalu aku harus kemana lagi? Semua orang bisa mati cemburu nanti (jika Joo Yeon pamer ke orang lain)"
"Lalu apa kau pikir aku akan memberimu selamat dengan tulus hati?" goda Tae Yoon
"Siapa yah yang mengajariku?" balas Joo Yeon "Kau pasti sangat bangga, sunbae Kang. Karena memiliki hoobae berbakat sepertiku"
Tae Yoon mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Joo Yeon barusan "Baiklah, selamat Shin Joo Yeon karena telah berhasil menjual habis selama 5 kali berturut-turut"
Joo Yeon lalu menggoda Tae Yoon agar Tae Yoon berhati-hati dengan jabatannya saat ini karena Joo Yeon pasti akan naik jabatan dengan cepat dan mungkin nantinya ia akan merebut jabatan Tae Yoon.
"Ini tantangan sunbae"
"Ah, kau bercanda lagi" Tae Yoon lalu cepat-cepat mengusir Joo Yeon dengan menyuruhnya untuk pergi menemui pacarnya yang ia lihat tadi pergi ke tangga.
Mendengar nama pacarnya, Joo Yeon langsung pergi secepat kilat namun sedetik kemudian dia kembali lagi hanya untuk bertanya tentang penampilannya.
"Tidak cantik sama sekali" ujar Tae Yoon
"Aku tahu kalau aku cantik" kata Joo Yeon
Saat melihat Jung Ho, Joo Yeon langsung berlari kearahnya lalu memeluk dan menciumnya dengan penuh kebahagiaan namun raut wajah Jung Ho terlihat sama sekali tidak bahagia. 
"Sayang kenapa kau tidak menciumku? Aku akan sangat bahagia jika kau menciumku" kata Joo Yeon
Jung Ho tidak mengatakan apapun, tetapi ia langsung menuruti keinginan Jo Yeon tersebut. Setelah itu Jung Ho mengajak Joo Yeon untuk makan malam bersama karena dia ingin mengatakan sesuatu. err... kayaknya Jung Ho mau membicarakan sesuatu yang tidak baik deh!!

Saat Joo Yeon menceritakan masalah ini pada rekan-rean kerjanya, salah satu anak buahnya yang bernama Lee Woo Young langsung menduga bahwa mungkin Jung Ho akan melamar Joo Yeon karena dia pernah melihat Jung Ho sedang membeli sebuah kalung di toko perhiasan, kalung yang terkenal dengan sebutan 'two-ring love'. Setelah mendengar nama kalung itu, Hee Jae langsung mencari infonya di internet.
"Menikah bukan berarti happy ending, menikah adalah tiket kereta menuju neraka" ujar Min Jung
"Seharusnya kau mencobanya dulu (menikah)" ujar Joo Yeon
"Bukan karena aku tidak bisa menikah tetapi karena aku belum mau menikah"
Setelah Hee Jae menemukan info tentang kalung itu, dia langsung terkejut karena kalung itu harganya sangat mahal. Hee Jae lalu menunjukkan gambar kalung itu pada semua orang dan saat melihatnya, Joo Yeon langsung berbunga-bunga karena Jung Ho membeli kalung yang sangat disukainya.
"Wah, kau sangat beruntung" ujar Min Jung pada Joo Yeon

"Apa kau yakin dia membelinya? Bukan cuma dilihat-lihat saja kan?" tanya Joo Yeon pada Woo Young
"Aku melihatnya membayar. Aku tidak menyapanya karena kulihat waktu itu dia terlihat sangat fokus ada kalungnya" ujar Woo Yung
"Tapi kenapa dia melamar dengan kalung? Bukankah seharusnya dengan cincin?" tanya Hee Jae kebingungan
Saat mendengar pertanyaan Hee Jae, Joo Yeon langsung mengangkat tangannya untuk menunjukkan padanya cincin pasangan yang dulu pernah diberikan oleh Jung Ho saat ia dan Jung Ho liburan ke Bali.
Di sebuah studio foto, Joo Wan sedang bergaya didepan kamera untuk sebuah sesi pemotretan. Oh Se Ryoung, sang stylist, datang menghampirinya untuk membenarkan dandanan Joo Wan.
"Apa maksudnya 'membuatku muak'?" tanya Joo Wan tiba-tiba
"Artinya kau sangat membencinya. Kenapa?" tanya Se Ryeong
Joo Wan memberitahunya bahwa ada orang yang mengatakan bahwa ia membuat orang itu muak. Se Ryeong langsung kaget karena ada orang yang berani bicara seperti itu pada Allen Joo yang hebat.
"Siapa dia?" tanya Se Ryeong
"Orang yang pernah kusuka... dulu"
"Cinta pertama?"
Joo Wan langsung tersenyum membenarkannya.
Malam harinya, Joo Yeon dan Jung Ho makan malam berdua di sebuah restoran mewah. Joo Yeon makan dan memandangi Jung Ho dengan senyum bahagia menantikan saat-saat lamaran tiba sementara Jung Ho hanya tersenyum tipis pada Joo Yeon.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku? Kau bilang ada yang ingin kau katakan padaku?"
Lalu tanpa basa basi Jung Ho berkata "Joo Yeon-ah, sebaiknya kita putus saja"
Joo Wan sedang memainkan piano di kamarnya saat ia teringat masa kecilnya bersama Joo Yeon. Joo Wan bernarasi bahwa orang yang mengajarinya tentang musik adalah Shing Shing. Joo Wan lalu duduk didepan pianonya lalu memainkan lagu-lagu yang dulu pernah diajarkan oleh Joo Yeon muda padanya saat ia kecil.
Saat mereka masih kecil, Joo Yeon memainkan sebuah lagu ceria dengan pianonya lalu bertanya pada Joo Wan kecil tentang apa yang ia rasakan dari lagu yang ia mainkan tadi.
"Seperti anak ayam yang berlarian di bawah matahari. Anak ayam yang suka bermain-main" kata Joo Wan kecil
"Itu namanya sukacita" kata Joo Yeon muda 
Joo Yeon muda lalu memainkan sebuah lagu lain yang ia beri nama kebahagiaan. Sebuah lagu yang nadanya masih diingat dengan sangat baik oleh Joo Wan dewasa.
"Apa yang kau rasakan dengan lagu ini?" tanya Joo Yeon muda
"Seperti angin yang berhembus, angin yang terasa hangat. Aku merasa berkeringat tetapi karena aku angin aku merasa lebih baik. Aku merasa kehabisan napas jadi aku bernapas lewat mulutku dan angin itu berhembus melewati mulutku" ujar Joo Wan
"Benar, itulah namanya kebahagiaan"
"Lalu bagaimana kalau sakit?" 
Joo Yeon muda lalu memainkan lagu sedih untuk menggambarkan rasa sakit lewat lagu. Sebuah lagu lain yang nadanya masih sangat diingat oleh Joo Wan dewasa.
Sayangnya kali ini Joo Wan kecil tidak mengerti apa yang ia rasakan tentang lagu itu, Joo Yeon muda lalu memainkan lagunya kembali tetapi Joo Wan kecil tetap tidak mengerti. Joo Yeon muda lalu membantu Joo Wan kecil untuk menjelaskan rasa sakit dari lagu tersebut dengan cara mengingatkan Joo Wan kecil pada rasa sakit yang ia rasakan saat Joo Wan kecil terjatuh dari sepeda.
"Itu kan sakit di tubuh" ujar Joo Wan kecil
"Ada kalanya hatimu terasa sakit juga. Rasa sakit di tubuh dan hati memang berbeda tapi sulit menjelaskannya. Akan ada saatnya kau mengetahuinya nanti"
"Hati itu dimana?" tanya Joo Wan kecil
Joo Yeon hanya menjawabnya dengan mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa ia juga tidak tahu.
"Lalu bagaimana dengan kesedihan?" tanya Joo Wan kecil
Kembali ke restoran. Setelah mendengar kata putus dari Jung Ho, senyum Joo Yeon seketika menghilang tetapi yang ia lakukan hanya memandangi Jung Ho tanpa perasaan cukup lama sampai saat ada seorang pelayan yang lewat dan Joo Yeon dengan riangnya memesan es krim pada si pelayan.
"Kita makan es krim dulu baru setelah itu putus" ujar Joo Yeon dengan tenangnya
"Apa kau tidak mau menanyakan alasannya (alasan kenapa mereka putus)?" tanya Jung Ho yang kebingungan dengan sikap tenang Joo Yeon
Joo Yeon tertawa mendengar pertanyaan itu karena apapun alasan Jung Ho untuk putus, Joo Yeon tidak pernah mau menahan pria yang ingin berpisah dengannya, lagipula Joo Yeon sangat yakin bahwa sebelum Jung Ho memutuskan untuk berpisah dengannya, Jung Ho pasti sudah memikirkannya dengan baik.
"Jika aku menangkapmu, apa kau akan tertangkap (jika aku tidak mau putus, apa kau mau tetap disisiku)?" tanya Joo Yeon
"Hanya karena orang berusaha untuk menangkap, apa kau pikir mereka akan benar-benar berhasil menangkapnya? Bahkan sekalipun mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa menangkapnya tetapi mereka setidaknya berusaha untuk menahannya. Bukan masalah kau menangkapnya atau tidak karena yang paling penting adalah perasaan" ujar Jung Ho
"Bagiku, hal-hal semacam perasaan sama sekali tidak penting" ujar Joo Yeon dingin
Tepat saat itu pelayan datang membawakan es krim pesanan Joo Yeon dan setelah pelayan pergi, Jung Ho tersenyum sinis pada Joo Yeon lalu beranjak pergi meninggalkannya. Dan barulah setelah Jung Ho pergi, raut kesedihan tampak di wajah Joo Yeon walaupun dia tidak menangis.
Joo Wan teringat pada perkataan Joo Yeon muda yang memberitahunya tentang kesedihan
"Kesedihan adalah... hmmm... saat kau putus hatimu terasa sakit. Rasa sakit kau rasakan tumbuh semakin dalam di hatimu, itulah yang disebut kesedihan" kata Joo Yeon muda
"Kenapa putus? kan bisa pacaran lagi?" tanya Joo Wan kecil
"Beberapa orang putus karena mereka saling tidak menyukai, tapi ada juga yang melakukannya karena tidak bisa menemui orang lain bahkan sekalipun mereka menginginkannya" kata Joo Yeon muda
Joo Wan bernarasi "Karena itulah, Shing Shing adalah wanita yang telah membesarkanku. Wanita yang mengajariku memainkan piano. Orang yang mengajariku tentang hati"

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar