Kamis, 06 Februari 2014

Sinopsis Prime Minister and I Episode 10


Kang In Ho yang menyadari dirinya dijebak bersama Da Jung di hotel berusaha untuk meninggalkan Myungshim hotel. Keduanya harus meninggalkan hotel itu tanpa ketahuan siapapun, apalagi akan ada wartawan yang diyakini sudah ada disana untuk menjebak mereka.
Na Yoon Hee and the gank ada di hotel itu untuk melabrak Park Joon Ki yang mungkin ada disana bersama Seo Hye Joo. Ketiga wanita ini berpapasan dengan In Ho dan Da Jung, tapi tak menyadari kalau itu mereka. Karena In Ho dan Da Jung menyembunyikan wajah mereka.
Tapi sial bagi In Ho dan Da Jung karena rombongan wartawan menemukan mereka. Reporter Byun langsung mengajukan pertanyaan pada Da Jung terkait keberadaan keduanya di hotel malam-malam hanya berdua.
In Ho yang terkejut melihat seseorang mengatakan kalau kedatangan Da Jung ke hotel untuk menemui PM Kwon Yool. Dan munculah PM Kwon Yool di belakang para wartawan. PM menanyakan apa yang dilakukan para wartawan disini, ia meminta istrinya datang ke hotel ini untuk merayakan 100 hari pernikahan mereka. Ia berterima kasih pada In Ho karena sudah mengantar Da Jung. Yool pun membawa Da Jung menuju kamar hotel.
Di sebuah kamar hotel, dimana Na Yoon Hee and the gank berada. Ny Jang tanya apa Yoon Hee yakin ini adalah tempat dimana Seo Hye Joo bertemu dengan Menteri Park. Yoon Hee yakin sekali, kalau tidak apa alasan Sek Bae memesan kamar ini. Ia ini putri tunggal Myung Shim grup. Ia menahan geram karena mereka bahkan tak memesan tempat di hotel lain melainkan hotel keluarganya.

Ny Lee mengumpat, ia akan membuat Hye Joo menyesal karena sudah menyakiti perasaan Yoon Hee, jadi Yoon Hee tak usah khawatir. Yoon Hee mengingtakan keduanya kalau kali ini mereka harus melakukannya dengan benar.
Ada yang membuka pintu kamar, Yoon Hee dan kedua temannya panik. Ketiganya harus sembunyi agar tak ketahuan dan ketiganya pun sembunyi di dalam lemari. Ketiganya mengira kalau yang masuk ke hotel itu Menteri Park dan Seo Hye Joo.
Ternyata itu Kwon Yool dan Da Jung. Yool tanya apa yang sebenarnya terjadi. Da Jung menunduk diam, masih shock dengan kejadian tadi.
Kang In Ho keluar dari hotel, ia bertemu dengan Hye Joo dan Pengawal PM. Hye Joo tanya apa In Ho sudah bertemu dnegan PM. In Ho balik bertanya bagaimana Hye Joo bisa tahu kalau ia dan Da Jung ada disini. Hye Joo mengatakan kalau Reporter dari Scandal News, Park Hee Chul yang memberi tahu mereka. Ia merasa In Ho harus menjelaskan padanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

In Ho yang marah karena dirinya dijebak dengan Da Jung oleh Menteri Park tak mengatakan apapun pada Hye Joo. Ia yang diliputi kemarahan segera masuk ke mobilnya mengabaikan panggilan Hye Joo. In Ho mengendarai mobilnya menuju suatu tempat.
Di kamar hotel, Da Jung merasa kalau Yool pasti berpikir semua itu kesalahannya, “Karena itu anda marah padaku, kan? Kalau memang anda membenciku…..”

Yool tiba-tiba menarik Da Jung kepelukannya. Da Jung terdiam terkejut.

Yool : “Aku tak berpikir bahwa ini kesalahanmu. Aku juga tak marah padamu. Aku hanya… marah pada diriku sendiri.”

Da Jung : “Perdana menteri…?”
Yool melepas pelukannya, ia minta maaf karena sudah membuat Da Jung berada pada situasi seperti ini. Da Jung merasa Yool tak perlu minta maaf. Tiba-tiba Yool melihat sesuatu di lemari. Ia melihat potongan pakaian yang terlihat keluar dan berusaha ditarik ke dalam lemari. Ia pun tahu kalau di dalam lemari itu ada orang. (bajunya Ny Lee hehe)

Da Jung berkata bahwa sejak awal ia menikah ia sudah mengira kalau hal seperti ini pasti akan terjadi.

“Nam Da Jung tunggu sebentar!” sela Yool. Tapi Da Jung yang tak tahu apa-apa berkata kalau ia ingin mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Da Jung : “Meskipun kau menikah karena aku…..”

“Nam Da Jung, kau diamlah.” Yool kembali menyela meminta Da Jung diam. Ia akan melihat lemari itu tapi Da Jung berkata, kalau ia harus mengatakannya sekarang kalau tidak ia tak akan punya keberanian lagi untuk mengatakannya. “Anda tahu kan kalau aku sangat menghormati anda?”

Yool melihat sepotong kain itu ditarik ke dalam lemari dan yakinlah ia kalau didalam sana ada orang. Ia panik karena Da Jung terus saja bicara tentang pernikahan mereka.

Da Jung : “Perdana menteri, aku benar-benar menghormati anda. Jadi meskipun pernikahan ini adalah pernikahan kont…”
Yool yang panik Da Jung bicara macam-macam segera membungkam mulut Da Jung dengan mulutnya. Da Jung terdiam terkejut, kemudian terdengar gumaman dari dalam lemari, omo omo omo… eh eh sstttt ssstttt..
“Perdana menteri?” Da Jung terkejut kenapa tiba-tiba Yool meciumnya.

Yool : “Nam Da Jung, kau terlalu banyak bicara.”
Yool menuju lemari yang ia curigai. Perlahan ia membuka pintu lemari dan braallll… munculah Yoon Hee dan kedua pengikutnya. Yool dan Da Jung kaget melihat istri-istri menteri sembunyi didalam lemari.
Ketiga istri menteri ini jadi salah tingkah karena salah memergoki orang. Yool heran apa yang ketiganya lakukan disini. Yoon Hee gelagapan, ia beralasan kalau dirinya salah masuk kamar. Ia segera keluar disusul kedua pengikutnya. Hahahah pasti malu banget dah mereka.
Ketiga Nyonya ini malu banget dah. “Apa Sek Bae salah memberi tahu nomor kamar?” tanya Ny Jang. Yoon Hee menilai itu tak mungkin, kamar 1324, ia sudah memeriksanya 10 kali.
Ny Lee : “Tapi kalian lihat kan tadi. Perdana Menteri baru saja menciumnya.”
Ny Jang tak menyangka kalau Perdana menteri ternyata memiliki sifat yang romantis juga. Yoon Hee kesal karena kedua temannya membicarakan hal itu disaat seperti ini. Ia pun mencari-cari, kira-kira dimana suaminya berada.
In Ho yang diliputi kemarahan akan menemui Menteri Park, tapi Sek Bae menghalangi karena Menteri Park Joon Ki sedang rapat dengan Presdir. Jadi ia meminta In Ho menunggu. In Ho tak mau menunggu, ia akan menerobos masuk tapi dua penjaga menghalanginya. In Ho yang tak ingin dihalangi langsung menghajar mereka.
In Ho membuka pintu dimana menteri Park Joon Ki tengah rapat. Ia menatap marah Joon Ki yang ada disana.
Da Jung dan Yool masih berada di kamar hotel. Da Jung bertanya kenapa ketiga istri menteri itu ada di kamar hotel ini. Yool garuk-garuk kepala, ia tak tahu. Yool menerima telepon dari Hye Joo yang memberi tahu bahwa reporter sudah tak ada di lingkungan hotel. Ia pun mengajak Da Jung segera keluar dari kamar hotel.
Tapi masih ada yang ingin Da Jung katakan, tentang ketiga istri menteri yang bersembunyi di dalam lemari, apa Yool sudah tahu kalau mereka ada di dalam lemari itu. “Dan itukah alasannya kenapa anda menutup mulutku dengan ciuman?”

Yool jadi gelagapan dan menjawab tentu saja. “Kenapa aku harus melakukannya jika bukan karena itu.” Da Jung heran kenapa Yool tak menutup mulutnya dengan tangan saja, kenapa harus dengan ciuman. Yool jadi salah tingkah, tidak tahu.

Da Jung kemudian menebak, “Kalau begitu, saat anda memelukku tadi dan menenangkanku dengan mengatakan kalau ini bukan salahku, apa anda melakukannya karena ada mereka, itukah maksud anda?”

Yool menjawab tentu saja, “Lalu apa kau pikir aku memelukmu karena aku terpesona padamu? Aku melakukannya karena tak punya pilihan lain.” (padahal pas pelukan Yool belum tahu ada orang di lemari)
“Tak punya pilihan lain?” Da Jung menahan kesal. “Baiklah kalau begitu, aku akan menjaga jarak 100 langkah dari anda. Tapi, anda seharusnya menghentikanku dengan tangan kenapa malah menciumku. Bukankah itu jelas-jelas melanggar kontrak?”

Yool : “Melanggar kontrak? Kalau kau mengatakan begitu, berarti kau lah yang pertama kali melanggar kontraknya. Menabrak mulutku, apa kau tak ingat? Saat itu situasinya sama seperti sekarang.”

Da Jung memprotes sama apanya, “Waktu itu anda terus-menerus menahan tanganku dan aku tak punya pilihan lain. Tapi sekarang, situasinya berbeda.”

Yool membenarkan kalau waktu itu ia menahan tangan Da Jung, tapi bukankah tadi ia sudah bilang pada Da Jung untuk berhenti bicara. “Apa sih masalahnya itu kan hanya sedikit sentuhan di bibir.”

“sedikit sentuhan di bibir?” Da Jung benar-benar kesal. “Bukankah anda yang mengatakan sendiri untuk tidak melakukan sesuatu yang melewati batas. Da Jung yang kesal keluar kamar lebih dulu.
Di luar hotel Da Jung bertemu Hye Joo yang sudah menunggu. Hye Joo akan mengatakan sesuatu tapi Da Jung yang lagi kesal langsung ngomel kalau Hye Joo pasti menyalahkannya karena masalah ini. Ia tambah kesal, apa sebenarnya yang ia lakukan. Ia sama sekali tak melakukan kesalahan hari ini. Hye Joo heran kenapa Da Jung ngomel-ngomel begitu, ia sama sekali belum mengatakan apa-apa.

Pengawal membukakan pintu mobil untuk Da Jung, tapi Da Jung yang lagi emosi tak mau duduk beriringan dengan Yool di mobil. Ia pindah ke kursi di sebelah supir.
Yool keluar dari hotel, Hye Joo berkata kalau In Ho tadi bilang… belum sempat Hye Joo menjelaskan Yool menyela meminta Hye Joo mengatakan itu besok saja. Yool pun masuk ke mobil. Hye Joo heran kenapa semua orang bersikap seperti ini. Mobil rombongan PM pun pergi meninggalkan hotel.
Kang In Ho bicara berdua dengan Park Joon Ki. Joon Ki menebak kalau In Ho pasti sangat marah karena berani menerobos masuk seperti itu. In Ho mengingatkan kalau sasarannya adalah PM bukan Da Jung. Joon Ki membenarkan, In Ho sudah mengatakan itu padanya, tapi kenapa ia harus mendengarkan In Ho karena In Ho sendiri juga tak memperlihatkan kartu (rahasia) In Ho padanya.
“Jadi apa maksudnya anda akan tetap menggunakan cara ini. Baik, kalau begitu aku tak punya pilihan lain.” In Ho menunjukan rekaman Park Joon Ki yang meminta dirinya membawakan bukti bahwa pernikahan Kwon Yool itu palsu. (bukti pembicaraan Joon Ki dengan In Ho sebelumnya)

Joon Ki cemas mendengarnya. In Ho dengan nada mengancam berkata apa Joon Ki pikir ia hanya punya rekaman ini. Ia merekam semua pembicaraan Joon Ki dengan dirinya.

Dasar Brengsek… Joon Ki jelas marah.
In Ho mencibir, “JIka aku menyebarkan rekaman ini, anda yang rugi atau aku? Aku rasa anda yang akan lebih rugi. Dengan kejadian ini, sepertinya tidak mungkin jika hubungan kita diteruskan. Dengan sangat menyesal, kita akhiri kerja samanya.”

In Ho meninggalkan Joon Ki yang diliputi kemarahan karena ancaman itu. “Apa kau pikir semuanya akan berakhir semudah ini?” ia langsung menghubungi anak buahnya (kayaknya Sek Bae) untuk mencari informasi tentang Kang In Ho.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Da Jung terus saja cemebrut. “Dia bahkan tak tahu kesalahan yang dia lakukan, hebat sekali..” gerutu Da Jung.
Yool : “Apa kau akan terus bicara sendiri seperti itu? itu sudah cukup.”

“Tak akan termaafkan walaupun dia minta maaf, tapi apa yang dia katakan?” Da Jung terus menggerutu.

Yool : “Maaf? Siapa? Aku? Tak masuk akal.”
Supir Shim pun tahu kalau dua orang ini lagi berantem. Ia pun berinisiatif menyalakan musik dengan lagu romantis.

“Supir Shim?” sahut Da Jung dan Yool bersamaan. Keduanya kesal hahaha.

Supir Shim mengerti ia segera mamatikan musiknya. “Sepertinya keadaannya agak gimana ya. Jadi…” Yool menyela sebaiknya Supir Shim jangan mempedulikan itu, Da Jung bersikap seperti itu karena alasan yang tak masuk akal.

Da Jung kesal dan meminta Supir Shim menghentikan laju mobilnya. Tapi Yool melarang. Da Jung memaksa Supir Shim menghentikan mobil. Mobil pun berhenti.
Da Jung yang kesal campur kecewa keluar dari mobil, Yool ikut keluar mengejarnya. “Kau mau kemana?” tanya Yool sambil menahan tangan Da Jung. Da Jung berkata kalau sekarang ia tak ingin bicara dengan Yool. Ia menepis tangan Yool dan berjalan pergi.
Da Jung masuk ke sebuah klub malam. Yool yang melihat Da Jung masuk ke dalam akan menyusul tapi penjaga menghalangi, “Anda tak boleh masuk!” larang penjaga.

Yool heran, “Apa maksudmu aku tak boleh masuk?”

Penjaga : Pria berusia diatas 30 tahun dilarang masuk. Anda pria paruh baya kan? Anda tak boleh masuk.” (wakakakaka)

Yool : “Apa? Apa diatas 30 tahun tak boleh masuk ke dalam klub malam? Negara seperti apa yang membuat peraturan seperti itu? aku minta maaf, tapi aku harus masuk ke dalam.”

Yool memaksa masuk tapi penjaga tetap melarang, “Aku bilang pria paruh baya ber-jas dilarang masuk. Apa anda tak bisa melihatnya?” ucap penjaga sambil menunjukan selabaran yang bertuliskan usia diatas 30 tahun tak boleh masuk dan pakaian resmi juga dilarang hahaha. Yool menarik nafas kesal. (eh jadi ingat A Gentleman’s Dignity pas keempat ahjussi mau ngelabrak cewek2 mereka di klub malam)
Di dalam klub Da Jung minum sendirian, “Ah apa yang akan kulakukan disini sekarang?”

Seorang pria mendekati Da Jung. “Aku sudah melihatmu dari tadi, kau datang sendirian kan? Bagaimana kalau kita menari bersama?” ajak pria itu. Da Jung malas menanggapinya, ia minta maaf dan mengatakan kalau ia ini wanita yang sudah menikah. “Ah aku sudah gila karena datang ke tempat seperti ini.” keluh Da Jung.
Da Jung akan pergi tapi pria itu menahan tangannya. Da Jung meminta dengan sopan pada pria itu untuk melapaskan tanganya. Pria itu tak percaya Da Jung sudah menikah, kenapa wanita yang sudah menikah datang ke klub malam, ia menilai Da Jung hanya membual.

“Aku bilang lepaskan!” Da Jung mulai marah.
Supaya bisa masuk ke klub malam, Yool dan dua pengawalnya berganti kostum. Gaya anak muda gitu. Pake jeans, jaket kulit, dan syal ala Giring Nidji yang melingkar di lehernya plus tatanan rambut yang tentu saja gaya anak muda.
Yool melihat Da Jung diganggu seorang pria. Ia melihat pria itu memaksa Da Jung.

Yool menarik tangan pria itu, “Hei lepaskan tangannya!” Da Jung menoleh terkejut melihat Yool ada disana.
Pria itu marah, “Siapa kau berani menyuruhku?”

Yool menyingkirkan tangan pria itu, “Aku? Aku suami wanita ini, dan kau siapa?”
“Aku?” Pria itu dan teman-temannya akan melawan Yool. Dua pengawal Yool langsung maju menghalau mereka.
Da Jung heran bagaimana Yool bisa masuk ke klub dengan pakaian seperti itu. Yool berkata kalau orang yang memakai setelan jas di larang masuk jadi ia ke toko baju seberang membeli baju dulu. Sekarang ia melakukan semua ini karena Da Jung. Da Jung berkata kalau begitu kenapa Yool tak pergi saja, kenapa malah datang kesini.

Yool yang tak ingin bertengkar dengan Da Jung disini mengajak pulang. Tapi Da Jung tak mau karena ia masih ingin disini, kalau Yool ingin keluar silakan keluar sendiri.
Dua pengawal PM pun membawa paksa Da Jung keluar. “Nyonya maaf ya…” (hahaha)
Sampai di rumah Da Jung masih dikawal ketat oleh dua pengawal yool. Keduanya memegangi Da Jung supaya tak lari. “Kami minta maaf Nyonya, kami benar-benar minta maaf.” Ucap si pengawal.
Setelah pengawal pergi Da Jung yang masih kesal bertanya apa Yool harus melakukan semua ini padanya. Yool minta maaf. Da Jung heran Yool tiba-tiba minta maaf padanya.

Yool : “Aku sudah memikirkannya, aku pikir aku yang salah. Tidak… aku memang salah. Aku akan minta maaf padamu.”

Da Jung tak mengerti, kalau Yool memang mau minta maaf kenapa harus melakukan ini semua dan lagi apa hanya begini saja permintaan maaf Yool.

Yool : “Lalu, apa lagi yang harus kulakukan?”
Da Jung berkata kalau ia ingin memukul mulut Yool yang kasar itu sekali saja (hahaha). Yool jelas saja kaget, “Baiklah. Silakan pukul kalau itu bisa memperbaiki keadaan.” Yool menyodorkan wajahnya siap dipukul oleh Da Jung.

Kini gliliran Da Jung yang terkejut karena Yool membolehkan dirinya memukul. “Benarkah? Aku akan beneran memukul lho.” ucap Da Jung sambil menunjukan kepalan tangannya. Yool mempersilakan. Da Jung berkata kalau Yool tak boleh menarik kata-kata itu. Yool berkata tentu saja, ia sudah siap. Jadi silakan pukul.
Da jung yang sudah menyiapkan kepalan tangan terlihat ragu-ragu, ga tega hahaha. Keduanya malah tertawa. Hahaha.
Di dalam rumah anak-anak berkumpul bersama ahjumma pembantu. Na Ra melihat kalau akhir-akhir ini oppanya terlihat mencurigakan. Bukankah sekarang libur kenapa setiap hari oppanya selalu pergi. Woo Ri malas menanggapi omongan adiknya, ia meminta Na Ra berhenti mengganggunya. Na Ra tanya oppanya ini tak pergi nge-band tanpa sepengetahuan ayah mereka kan. Woo Ri tak menjawabnya, ia kesal adiknya begitu cerewet.
Yool dan Da Jung masuk ke rumah. Anak-anak dan ahjumma terkejut sekaligus heran melihat pakaian yang Yool kenakan.

“Ayah. Apa kau benar ayah kami?” tanya Man Se.

Yool melihat penampilannya, “Kenapa jam segini kalian masih disini? Cepat tidur sana!” Yool berlalu masuk kamar.

Na Ra bertanya pada Da Jung, kenapa ayahnya jadi seperti itu. Da Jung bilang itu karena ada alasannya. Ahjumma pembantu merasa kalau apapun pasti bisa terjadi. Ia tak menyangka PM memakai pakaian seperti itu.
Yool masuk ke kamarnya, ia menarik nafas panjang. Ia melepas syal ala Giring Nidji-nya, melepas jaket dan mengibas-ibaskan rambut dengan tangannya.
Yool yang sudah berganti pakaian duduk di meja kerjanya. Ketika tengah memeriksa dokumen, ia teringat sesuatu. Ia menghubungi seseorang. “Joon Ki, ini aku.”
Keesokan harinya di Scandal News. Reporter Byun mendatangi tempat itu menuduh Hee Chul mencuri foto-foto miliknya. Hee Chul tak terima dituduh begitu (padahal iya) ia heran kenapa Reporter Byun tiba-tiba menuduhnya seperti ini. Ia tak mengerti apa yang Reporter Byun bicarakan.

Reporter Byun emosi, “Kau mencuri fotoku dan membawanya ke Perdana menteri kan? Dan juga, kemunculan perdana menteri Kwon di hotel, kau yang memberitahunya kan?”
Hee Chul masih berusaha bersikap sabar, “ Karena kau sudah menyebutnya, seharusnya kau menjaga sikapmu.” Hee Chul ikutan emosi, “Kenapa kau harus melakukan hal sejahat itu? Apa kau tak malu pada dirimu sendiri?” Hee Chul meninggikan suara sambil nunjuk-nunjuk. Reporter Byun tambah emosi, kenapa Hee Chul menunjuk-nunjuk seperti itu padanya.

“Kau, siapa yang menghasutmu sampai melakukan hal seperti ini? Apa pernah berpikir olehmu apa yang terjadi kalau aku membuka permainan kotormu ini? Hidupmu akan berakhir. Kenapa? Haruskah aku melakukannya?” gertak Hee Chul.

Reporter Byun kesal, “Ah kau ini benar-benar Reporter Park. Aku memang salah.” Tiba-tiba reporter Byun nyalinya jadi ciut dan segera pergi dari sana. Ia berpapasan dengan Boss Go dan membungkuk memberi salam lalu pergi.
Boss Go bertanya pada Hee Chul ada apa, ia sudah mendengar yang Hee Chul dan Reporter Byun bicarakan. Jadi ia ingin mendengar penjelasan dari Hee Chul. Ada apa dengan hotel? Ada apa dengan foto-foto itu?
Di ruang kerja PM, In Ho menunjukan foto-foto dirinya bersama Da Jung yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh Reporter Byun. In Ho menjelaskan kalau semuanya karena foto ini.

In Ho : “Reporter Byun sepertinya menghubungi menteri Park untuk memberikan foto-foto ini. Karena itu, aku mencoba menemui Menteri Park dan berusaha bernegosiasi dengannya. Tapi aku tak berpikir aku akan dijebak seperti ini. Aku minta maaf perdana menteri.”

Yool berkata kalau itu bukanlah kesalahan In Ho. Ini adalah salahnya karena target menteri Park Joon Ki adalah dirinya. “Apa yang sudah kau dan Nam Da Jung lakukan itu salah?
In Ho : “Setelah melihat foto-foto ini, kenapa anda tak bertanya apapun? Kenapa kami bisa di foto itu? Hubungan apa antara aku dan Nam Da Jung? apa anda sama sekali tak penasaran?”

Yool diam.

In Ho : “Benar. Bagaimanapun ini hanya pernikahan kontrak. Jika istri anda yang sebenarnya berfoto bersama pria lain, hati anda pasti akan terbakar cemburu, kan?”

Yool tetap diam, tapi pikirannya melayang ke masa lalu dikala dirinya melihat foto-foto Na Young bersama pria lain.

In Ho : “JIka aku berada di posisi anda, aku tak akan membiarkan pria itu.”

Yool : “Apa gunanya? Hatinya sudah ada pria lain. Semua yang kau lakukan akan sia-sia.”

(huwaaa jadi beneran ya Yool tahu kalau istrinya menjalin hubungan dengan pria lain)
Di luar, In Ho bertemu Da Jung. Da Jung heran melihat In Ho pagi-pagi sudah berada di kediaman PM. In Ho merasa kalau Da Jung pasti terkejut dengan kejadian semalam, ia minta maaf karena Da Jung harus mengalami kejadian itu karena dirinya. Da Jung berkata In Ho tak perlu minta maaf karena itu bukanlah kesalahan In Ho. Ia sendiri baik-baik saja kok, jadi In Ho tak perlu khawatir.
In Ho : “Apa kau sungguh baik-baik saja atau pura-pura baik-baik saja?”

Da Jung heran, “ada apa?”

In Ho : “Kau melakukannya karena ayahmu dan bagaimana kau berusaha keras melakukan yang terbaik demi pernikahan kontrak ini. Tapi kau harus mengalami kejadian kemarin, aku berpikir ini tak benar untukmu, Da Jung.”

Da Jung : “Kalau begitu, apa yang harus kulakukan? Ketika aku memutuskan menikah dengan perdana menteri, aku tak berpikir hal baik saja yang akan terjadi. Tentu saja, aku juga tak menyangka kejadian seperti kemarin akan terjadi. Bagiku, aku tak tahu kalau aku memang orang yang sederhana tapi aku hanya ingin memikirkan hal yang baik saja. Aku senang ketika ayahku bahagia, aku suka dengan pekerjaanku dan semua hal yang kulakukan disini. Dan juga, aku senang berada disini. Aku disini karena aku menyukainya.”

Ucapan Da Jung ini sepertinya membuat In Ho menyadari kalau Da Jung mulai menyukai PM.
Da Jung menebak kalau In Ho pasti belum sarapan karena pagi-pagi sudah sampai disini. Ia mengajak In Ho masuk ke rumah dan sarapan bersama.

“Tidak usah, Nyonya!” sahut In Ho sopan pada Da Jung. Ia menyadari karena masalah kemarin ia dan Da Jung seharusnya menjaga jarak. “Mulai sekarang aku berjanji tak akan membuatmu berada di posisi yang tidak menyenangkan. itulah yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu, Da Jung.”

In Ho pamit akan pergi tapi Da Jung memanggilnya, “Bisakah kita kembali seperti sebelumnya? Aku suka bicara denganmu. Aku ingin merasa nyaman lagi denganmu seperti sebelumnya. Aku ingin merasa nyaman dengan mu sama seperti dulu. aku egois kan?” In Ho diam, Da Jung pun berlalu dari sana.
Na Yoon Hee menunggu suaminya keluar dari kamar sambil membawakan vitamin. Ketika suaminya keluar dari kamar, ia meminta suaminya meminum vitamin itu. Joon Ki heran kenapa tiba-tiba Yoon Hee melakukan ini.

Yoon Hee : “Apa maksudmu? Aku akan melakukan semua yang bisa membuatmu tersenyum. Tapi, kau bilang akan pulang terlambat karena ada perjalanan bisnis, kenapa cepat pulang?”

Joon Ki balik bertanya apa Yoon Hee tak suka ia pulang cepat. Yoon Hee bilang bukan begitu, ia tentu saja menyukainya. Joon Ki pun berangkat kerja.

“Karena dia tak mengatakan apapun, aku yakin dia tak tahu kalau aku bertemu PM Kwon. Kalau sampai dia tahu, bisa-bisa ini jadi masalah, ah apa yang harus kulakukan?” Tiba-tiba Yoon Hee mendapatkan ide.
Yoon Hee and the gank mengajak Da Jung bertemu. Da Jung heran kenapa tiba-tiba Yoon Hee ingin bertemu dengannya. Yoon Hee berusaha bersikap manis, “Tentu saja kota berada dalam situasi yang mengharuskan untuk saling bertemu, kan?”
Ny Jang berkata walau bagaimanapun akan ada bazar. Da Jung bertanya apa karena itu mereka menghubunginya. Yoon Hee bilang bukan hanya itu saja, “Tentang kita bertemu di kamar hotel, aku pikir akan lebih baik jika PM pura-pura tak tahu. Bisakah kau memberitahukan itu pada PM?” Da Jung meminta ketiga nyonya tak perlu mengkhawatirkan itu. PM bukan orang yang suka menyebarkan gosip. Ketiga nyonya menarik nafas lega.
Da Jung penasaran apa yang ketiga nyonya ini lakukan di kamar hotel. Tiba-tiba Ny Lee menjawab, “Kami kesana untuk memberi pelajaran pada Sekretaris Seo karena sering bertemu dengan Menteri Park.”

“Nyonya Lee..!” tiba-tiba Yoon Hee membentak setelah mendengar Ny Lee bicara keceplosan. Ny Lee yang menyadari mulutnya sudah nyerocos langsung diam menyesal. Yoon Hee meminta Da Jung menganggap tak pernah mendengarkan apa-apa dari Ny Lee. Yoon Hee berusaha meluruskan kalau Menteri Park itu terlalu popoler. Da Jung mengerti itu dan menilai kalau Sek Seo tak akan melakukan hal seperti itu, “Kenapa wanita yang cantik dan pintar ingin bersama pria yang sudah menikah?”
“Tunggu dulu. Maksudmu, apa Menteri Park bukan pria yang menarik?” tanya Yoon Hee. Da Jung bilang bukan begitu maksudnya, “Maksudku anda mungkin salah paham.”

Yoon Hee meninggikan suaranya sambil mencengkeram gelas, “Maksudmu, apa aku ini terlalu terobsesi pada suamiku?” Da Jung bilang bukan begitu maksudnya.
Di ruangan PM, Yool tampak memandang ke luar jendela. Ia mengingat perbincangannya dengan Park Joon Ki.
Joon Ki : “Jadi dengan kata lain, maksudmu jangan pernah melibatkan wanita itu? Kenapa semua orang mengkhawatirkan wanita itu?”

Yool tanya apa maksud Joon Ki. Joon Ki berkata kalau Yool tak perlu tahu itu.

“Kalau kelemahanmu adalah wanita itu, aku tak akan tinggal diam. Aku ingin melihat berapa lama kau akan bertahan.” Ucap Joon Ki memberi peringatan pada Yool.

Yool tak mengerti apa maksud perkataan Joon Ki, tapi pikirannya mulai melayang cemas.
Hye Joo masuk ke ruangannya mengingatkan kalau seharusnya mereka mengambil tindakan hukum atas perlakukan Menteri Park. Yool tak tahu apa yang harus dilakukan, apa dan bagaimana ia harus mengambil langkah hukum ketika posisi Joon Ki adalah samchoon-nya anak-anak. Lebih dari itu, kejadian ini melibatkan Nam Da Jung dan ini membuatnya sangat khawatir.

Ada sesuatu yang ingin Hye Joo sampaikan pada Yool. Ia menyerahkan sebuah dokumen pada Yool. “Kita sudah terlalu sibuk sampai belum mendaftarkan pernikahan ini. Aku rasa anda lah yang harus melakukannya sekarang.” Ia menabak ini adalah sesuatu yang pasti akan diungkit oleh Menteri Park. Setelah menyerahkan dokumen pendaftaran pernikahan, Hye Joo keluar ruangan.
Yool membaca dokumen pendaftaran pernikahan yang belum terisi namanya atau nama Da JUng. Diluar ruangan Hye Joo berkata pada dirinya sendiri bahwa ia harus melakukan ini demi perdana menteri. Hye Joo menerima telepon dari Da Jung. Ia bertanya kenapa Da Jung menghubunginya.  Da Jung meminta Hye Joo bertemu dengannya.
Keduanya pun bertemu. Hye Joo terkejut mendengar dari Da Jung kalau Na Yoon Hee sudah salah paham padanya. Da Jung berkata kalau pada waktu itu ketiga nyonya bersembunyi di kamar hotel. “Dia berpikir kalau Menteri Park yang menemuimu dan ingin melabrakmu. Aku merasa kau harus tahu tentang ini.” Hye Joo tak menyangka, ini benar-benar keterlaluan.
Da Jung : “Tapi Sek Seo, antara kau dan Menteri Park…..?”

Hye Joo menegaskan kalau ia tak memiliki hubungan apapun dengan menteri Park Joon Ki. Da Jung tertawa lega mendengarnya karena ia sudah mengira hal itu tak mungkin. Ia berharap Hye Joo lebih berhati-hati, ketiga ahjumma itu benar-benar bisa menjambak rambut Hye Joo. Hye Joo berkata kalau ia tak akan tinggal diam. Da Jung ingin tahu apa yang akan Hye Joo lakukan.

Hye Joo : “Mata diganti mata, gigi diganti gigi. Bukankah seharusnya aku membalas mereka? Tapi apa kau kesini hanya ingin memberitahuku tentang hal ini?”

Da Jung membenarkan, ia hanya kebetulan lewat saja dan Hye Joo tak perlu berterima kasih padanya karena sudah memebri tahu ini. Hye Joo mengingatkan akan banyak orang yang melihat Da Jung disini, “Bukankah sebaiknya anda pergi sekarang, Nyonya? Tidak baik untuk bawahan PM melihatmu berjajalan-jalan di kantornya.” Da Jung mengerti.

Hye Joo menyampaikan kalau PM sudah ke rumah sakit untuk melepas perbannya, dia kesana sendirian. Da Jung terkejut karena ia tak tahu, ia pun pamit pulang.

Hye Joo menahan geram dengan tingkah Yoon Hee. Ia mencengkeram gelas plastik minumannya.
Malam hari Yool sampai di rumah, ia melihat Da Jung menidurkan Man Se di punggungnya. Yool tersentuh melihat Da Jung yang begitu sabar dan pengertian menghadapi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar pintu terbuka Da Jung menoleh dan melihat Yool sudah pulang. “Anda sudah pulang, perdana menteri?” tanya Da Jung. Yool menjawabnya dengan senyuman.
Yool membantu Da Jung merebahkan Man Se yang tertidur. Yool melihat boneka katak yang sudah banyak Da Jung buat berserakan di kamar Man Se. Da Jung memberi tahu kalau besok Lily Club mengadakan bazar. Ia sudah selesai membuat bonekanya dan ia akan membereskannya.
Yool melihat ada yang aneh dengan beberapa boneka katak itu. “Apa ini? kenapa tangan dan kakinya beda?” Da Jung terkejut cemas, “Bagaimana ini?”
Keduanya pun merombak beberapa boneka yang pemasangan kaki dan tangannya keliru. Yool malah mengajari Da Jung menjahit arah jahitannya supaya benar. Da Jung tersenyum berterima kasih karena Yool sudah membantunya.

Yool pun kembali bersikap jutek, “Aku membantumu bukan karena aku menyukaimu. Tapi karena melihatnya saja itu membuatnya kesal.” Da Jung bilang tetap saja, ia berterima kasih karena Yool sudah membantunya.
Da Jung pun teringat sesuatu, bagaimana dengan itu? PR anda. Yool terdiam terkejut dan menatap Da Jung. Da Jung tanya apa Yool sudah menyelesaikan PR Yool. Yool berkata kalau ia merasa akan menyelesaikan RP itu sampai selesai. “Kau lihat kan, aku sudah menemukan jawabannya.” Da Jung tersenyum ikut senang.

Da Jung menebak apa PR Yool itu tentang Menteri Park Joon Ki. “Tak bisakah kalian berbaikan?” Yool merasa akan lebih bagus kalau hal itu bisa terjadi tapi kelihatannya itu akan sulit.
Yool balik bertanya apa Da Jung tak takut dengan situasi yang melibatkan Da Jung jika berada di sisinya. Dengan tegas Da Jung menjawab ia sama sekali tak takut. “Anda ada disini, aku bukan seseorang yang mudah untuk menyerah.”

Da Jung kemudian memuji keahlian Yool mengkombinasikan pakaian benar-benar keren. “Perayaan 100 hari pernikahan kita, bagaimana anda bisa mendapatkan ide itu?” Yool berkata kalau ia mengatakan itu hanya untuk membuat alasan saja.

Da Jung bertanya apa Yool tahu kalau hari ke 100 pernikahan mereka itu terjadi pada hari sabtu ini. Yool heran Da Jung bahkan menghitung itu. “Ya ampun kau ini menyedihkan sekali. Aku tak peduli, kau selesaikan sisanya.”
Yool akan keluar dari kamar Man Se tapi ia teringat sesuatu dan akan mengatakannya pada Da Jung. Tapi ketika melihat wajah Da Jung, ia tak jadi mengatakannya, bukan apa-apa.

Da Jung heran kenapa tak jadi bicara, “Kalau memang ada sesuatu yang ingin dikatakan sebaiknya katakan saja.” Yool bilang nanti saja, ia berjanji akan memberitahukan itu pada Da Jung nanti.
Keesokan harinya di kantor perdana menteri. Yool menatap formulir pendaftaran pernikahan dengan perasaan bimbang.
Di tempat lain, Bazar Lily Club diadakan. Da Jung mengundang Scandal News untuk meliput kegiatan mereka. Boss Go yang sudah datang bersama Hee Chul bertanya apa boneka ini dijual dengan harga 5rb won. Hee Chul juga bertanya bagaimana Da Jung akan menjual boneka sebanyak ini.

Boss Go yang sudah mendengar dari Hee Chul berkata pada Da Jung kalau Hee Chul  sudah menyelamatkan PM dan Da Jung dari kejadian memalukan. Sebagai gantinya apa Da Jung hanya memberikan mereka laporan eksklusif tentang Bazar Lily Club. Ini benar-benar tak masuk akal. Boss Go pergi melihat barang-barang lain yang dijual di bazzar ini.
Da Jung berterima kasih pada Hee Chul, jika bukan karena Hee Chul ia dan PM pasti mendapatkan masalah besar. Hee Chul beranya apa Da Jung benar-benar tak ada hubungan dengan Kang In Ho. Da Jung menjawab tentu saja, kang In Ho itu selalu membantunya, dia orang yang baik dan ia sangat berterima kasih pada In Ho. Hee Chul menilai itu bagus dan berpesan agar Da Jung lain kali lebih berhati-hati.

Hee Chul menoleh melihat ketiga nyonya sudah datang. Ia juga memperingatkan Da Jung agar berhati-hati pada ketiga ahjumma itu. Ia berlalu dari sana untuk melihat barang-barang lain yang dijual di bazar.
Ketiga nyonya berdiri di depan bazar boneka. Da Jung menyapa ketiganya ramah tapi ketiganya jutek. Da Jung dengan penuh senyuman berterima kasih karena mereka sudah meluangkan waktu untuk datang. Ia bertanya apa ketiga nyonya ini sudah membuat bonekanya.
Yoon Hee memanggil Supir Kim. Lalu muncullah Supir Kim membawa seplastik besar berisi boneka katak. Da Jung tak menyangka kapan ketiganya membuat boneka ini. Ny Lee berkata bagaimana mungkin mereka membuatnya, mereka menyuruh orang untuk melakukannya.

Da Jung kemudian bertanya apa ketiganya siap menyambut para tamu. Yoon Hee heran, “Siap untuk apa? Kau meminta kami membuat pancake Korea atau apa?” Ketiganya tertawa remeh.
Da Jung pun menggunakan wewenangnya sebagai ketua, “Kelihatannya kalian tak akan mendengarkanku.” Yoon Hee menantang, “Memangnya kenapa? Kalau kami tak mau apa kau akan menelepon PM?”

Da Jung berkata kalau ia mungkin akan menelepon PM. “PM ingin sekali datang kesini tapi aku bilang tak usah. Kalau begitu aku merasa kalau aku harus meneleponnya untuk datang.” Kata Da Jung sambil memainkan ponselnya.

Ketiga Nyonya langsung panik, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan itu?” cegah Yoon Hee. Ia pun akan membuat pancake-nya.
Da Jung beneran nelepon Yool lho. Tapi bukan buat ngaduin ketiga nyonya. Yool terkejut mendengar Da Jung yang mengeluh karena belum menjual satu pun boneka katak. Yool tanya bagaimana Da Jung akan menjual semua boneka itu. Da Jung berkata kalau khawatir sebaiknya Yool kesana dan membantunya. Ia sudah sedih karena belum ada yang terjual.

Yool berkata kalau Da Jung yang ia kenal tidak pernah merasa sedih dengan hal seperti ini. “Tidak mungkin kau  menyuruhku menjualnya kan? Maaf, tapi aku bukan orang seperti itu.”

Da Jung kesal, siapa juga yang menyuruh Yool untuk menjualnya. Ia hanya mengatakan saja kalau bonekanya belum terjual. Memangnya tak boleh ia mengatakannya. Yool tak mau tahu pokoknya Da Jung harus melakukan yang terbaik untuk menjual boneka itu. Kalau kau bisa menjual semuanya aku akan mentraktirmu sesuatu yang enak.”

“Benarkah? Anda akan mentraktirku?” Da Jung jadi semangat nih. Yool berkata apa pernah ia mengingkari janji, sudah ya. Lagi sibuk nih. Yool menutup telepon.

(entah kenapa nih telepon-teleponan sweetu banget. Istri lagi curhat karena jualannya belum laku dan si suami walaupun jutek kelihatan banget men-suport bahkan janji bakal ngasih hadiah kalau si istri berhasil hahaha)

Da Jung menyemangati dirinya, kalau ia pasti bisa menjual semua boneka ini hari ini.
Kang In Ho mengingat permintaan Da Jung padanya yang meminta agar hubungan keduanya tampak seperti dulu lagi. Nyaman tanpa rasa canggung.

In Ho melihat Supir Shim tampak sibuk, ia bertanya apa Supir Shim akan pergi. Supir Shim mengatakan kalau ia akan menjemput Nyonya (Da Jung). PM menyuruhnya menjemput Da Jung karena sekarang sedang hujan. In Ho berkata kalau ia sedang tak sibuk, bolehkah ia ikut dengan Supir Shim.
Sampai acara bazar selesai Da Jung tak bisa menjual bonekanya. Ia tertunduk lesu, tak semangat. Hee Chul yang masih ada disana menilai kalau semua orang sudah jahat sekali, bukankah yang menjual boneka ini istrinya PM, apa meraka tak bisa membeli itu walaupun hanya sekedar untuk sopan santun saja.
Boss Go sudah bisa menebak sejak awal kalau menjual boneka itu tak akan berhasil. Tidak masuk akal menjual boneka pada istri pejabat kelas atas. “Reporter Nam, kau sudah salah konsep. Benar-benar salah konsep.”

Hee Chul kesal dengan Boss-nya kenapa malah menambahkan minyak ke atas api, kenapa Da Jung yang sudah sedih dibuat semakin down lagi. Da Jung bilang tak apa-apa kok. Ia pun bicara dengan semangat untuk menyemangati dirinya, “kalian tahu kan siapa aku? Aku ini Nam Da Jung. Jangan khawatir, aku bisa pergi ke Myung Dong dan menjual semuanya.”

Boss Go merasa Da Jung tak akan mudah menjualnya karena sekarang cuacanya sedang hujan. Hee Chul semakin kesal karena Boss Go selalu saja mematahkan semangat Da Jung. Ia pun permisi pada Da Jung mengajak Boss-nya pergi supaya tak mengatakan hal-hal yang membuat Da Jung tambah patah semangat. Sebelum pergi Hee Chul memberi ucapan semangat pada Da Jung. Da Jung yang sekarang sendirian menunduk sedih melihat tumpukan boneka katak di depannya.
Gagalnya Da Jung menjual boneka menjadi bahan olok-olok ketiga nyonya. Yoon Hee berkata bukankah ia sudah bilang istri kelas atas tak akan membeli benda seperti itu, ia memberi tahu para istri pejabat untuk tak membeli boneka itu. Ny Jang memuji Yoon Hee yang memiliki pengaruh besar diantara istri pejabat. Ia kesal pada Da Jung yang sudah membuat mereka untuk membuat pancake Korea.

Ketiganya melihat Da Jung keluar sambil membawa sekantong plastik besar boneka. Ketiganya tertawa. Yoon Hee mengajak kedua nyonya ikut dengannya menghampiri Da Jung.
Da Jung yang berada diluar gedung kesal karena hari ini hujan lebat. Ia bingung apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba Yoon Hee menyenggol Da Jung dengan sengaja hingga terlepaslah plastik berisi boneka itu dari tangan Da Jung dan jatuh ke lantai yang basah. Yoon Hee minta maaf, ia pura-pura tak tahu disana ada Da Jung. “Siapa yang menyuruhmu berdiri di depan pintu seperti itu?” Da Jung pun tahu kalau Yoon Hee sengaja mendorongnya. Yoon Hee berkata ia tak sengaja mendorong Da Jung, ia hanya memberi tahu agar Da Jung minggir dari sana.
Ny Jang mencibir, “Apa yang akah kau lakukan dengan boneka-boneka ini? kau bahkan tak bisa menjualnya satupun.”
Ny Lee : “Benar. Aku kan sudah bilang, kau tak akan bisa memenuhi standar kami.”
Da Jung meminta ketiga nyonya tak perlu khawatir pada bonekanya. Ia sendiri yang akan mengurusnya. Ia pun berterima kasih pada ketiganya karena sudah ikut bekerja keras untuk acara bazar kali ini dan ia juga minta maaf karena tak bisa mengimbangi standar mereka. “Tapi aku tak akan memenuhi standar kalian untuk hari-hari berikutnya. Aku tetap berpikir bahwa sumbangan dari produk-produk terkenal tak cocok dengan acara amal Lily Club kita.”

Yoon Hee bilang bukan itu, “Yang tidak cocok dengan acara amal Lily Club adalah kau sendiri, istri perdana menteri.”
Ny Jang meminta Yoon hee mengabaikan Da Jung, karena PM Kwon juga tak akan berada di posisi ini selamanya. Yoon Hee tertawa membenarkan ia sama sekali lupa kalau posisi perdana menteri bisa saja lepas dari tangan Kwon Yool.

Sebelum pergi Ny Lee bahkan menendang tumpukan boneka Da Jung hingga basah terkena hujan. Da Jung menahan marah melihatnya, ia tak menyangka sebegitu kasar perlakukan para istri pejabat itu.
Da Jung memunguti satu persatu boneka yang kehujanan dan memasukannya kembali ke plastik. In Ho melihat itu dengan perasaan sedih. (ok ini ost baru ya, sedih denger ost ini)
In Ho memayungi Da Jung yang kehujanan karena memunguti boneka. Da Jung yang terkejut mendongakkan wajahnya. Ia semakin terkejut melihat kalau yang disana itu In Ho. In Ho tanya apa yang Da Jung lakukan. Ia meminta Da Jung memegingi payung dan ia yang akan membereskan boneka-boneka itu.

Da Jung pun memegangi payung sedangkan In Ho memasukan boneka-boneka itu ke plastik.
PM masih di kantornya browsing mencari restouran yang bagus untuk makan malam. Untuk apa? Untuk mencari tempat yang bagus dan bagaimana membuat acara peringatan 100 hari pernikahan yang bagus.
Untuk menghibur Da Jung yang sedih, In Ho membelikan sandwich super jumbo. Da Jung takjub melihat sandwich gede itu. Ia menebak kalau Man Se pasti akan menyukai ini. In Ho sengaja membawa Da Jung ke tempat ini dan pasti Da Jung akan menyukainya. Ia melihat Da Jung sudah bisa tersenyum.

In Ho memberikan sepotong sandwich super jumbo itu pada Da Jung dan bertanya apa sekarang Da Jung sudah baik-baik saja. Da Jung membenarkan, “seperti yang kukira. Makanan adalah pelepas stres yang paling tepat. Aku pikir aku sanggup memakan semuanya.” Da Jung melahap potongan sandwich itu.
In Ho kemudian berkata kalau ia merasa sedikit menyesal. Da Jung tanya menyesal kenapa. In Ho menyesal kenapa ia harus mengungkapkan perasaannya pada Da Jung waktu itu. “Aku seharusnya menjadi teman baikmu daripada mengungkapkan perasaanku.”

Da Jung tanya tak bisakah ia dan In Ho seperti itu. “Ketua kang, tak bisakah kita seperti  dulu, menjadi teman yang baik?”

“Aku tak mau.” jawab In Ho. “Aku tak suka menjadi temanmu dan aku juga tak suka menjadi guardian angel-mu.”

Da Jung : “Ketua kang?”

In Ho tertawa, “aku bercanda kok. Aku sudah bilang padamu kan, kalau aku tak akan membuatmu tidak nyaman. Kalau itu keinginanmu, kita bisa memulainya dari awal.”

Da Jung : “Benarkah?”
In Ho : “JIka kau ingin aku menjadi temanmu, maka aku akan begitu. Jika kau suka aku menjadi guardian angelmu, maka aku akan tetap menjadi guardian angel-mu. Sampai pernikahan kontrak ini berakhir.”

Da Jung menilai kalau sekarang In Ho pasti sedang dalam masalah, “Kau sangat terpesona dengan kharisma-ku kan, apa yang akan kau lakukan?” In Ho tertawa, “Benar sekali aku punya masalah besar sekarang.”

Da Jung merasa kalau pernikahan kontrak ini berakhir dirinya akan menjadi wanita yang tinggal di rumah dikenal sebagai Janda Nasional. Ia tak tahu apa yang akan In Ho lakukan setelah itu. In Ho juga tak tahu apakah nantinya perasaannya akan berubah atau tidak karena akan sulit baginya menebak perasaannya nanti.

Da Jung meminta pendapat In Ho, apa tidak apa-apa baginya jika ia seperti ini. Apa In Ho berpikir kalau ia ini wanita yang tak tahu malu. In Ho balik bertanya pernahkah Da Jung punya rasa malu. Tak tahu malu itu pesonamu. Hahaha.
Da Jung menerima telepon dari seseorang dan terkejut, benarkah? Ia senang sekali dan berterima kasih.

In Ho tanya telepon dari siapa, kenapa Da Jung senang sekali. Da Jung memberi tahu kalau itu telepon dari balai kota. Seseorang membeli semua boneka di bazar. (hoho siapa yang membelinya)
Supir Shim melapor pada PM bahwa berdasarkan yang PM perintahkan ia sudah melaksanakan tugas dari PM tanpa identitas sedikitpun. Ia sudah membeli semuanya. (Nah lho jadi yang beli bonekanya PM ya)

Yool senang mendengarnya, ia harap Supir Shim pura-pura tak tahu di depan Da Jung nanti. Supir Shim tersenyum mengerti. Ia permisi akan membawa boneka itu diam-diam ke mobil. Ia akan menyumbangkan boneka itu untuk panti asuhan.
Ketika Supir Shim akan keluar dari ruang kerja PM, Man Se masuk ke ruang kerja ayahnya mengajak ayahnya makan sandwich bersama.
Da Jung mengeluarkan sandwich besar yang dibeli tadi. Ia memotongkan sandwich besar itu untuk Na Ra dan Man Se, keduanya tampak senang. Da Jung juga memotongkan sandwich untuk diberikan pada Woo Ri. Anak-anak membawa sandwich itu untuk dimakan bersama.
Da Jung juga akan memotongkan sandwich untuk Yool. Yool yang menopang dagu berkata kalau perasaaan Da Jung sedang bagus. Da Jung menjawab tentu saja karena di akhir acara, semua boneka terjual, apalagi yang bisa membuatnya bahagia.

Yool : “Benarkah? Ya syukurlah kalau begitu.”

Da Jung berkata kalau sejujurnya ia tak bisa menjual satupun. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang membeli semua bonekanya. Siapa ya dia?

Yool : “Aku pikir dia pasti seseorang yang ingin menjual boneka itu kembali dengan harga murah.”

Da Jung menatap sinis ke Yool, “Tidak seperti seseorang yang banyak alasan bahwa dia tak bisa menjualnya. Aku rasa orang itu pasti jauh berbeda darinya. Dia pasti memiliki hati yang baik dan berhati mulia.” (hahaha)

Yool tertawa, “Bagaimanapun, baguslah kalau kau bisa menjual bonekanya. Tapi tunggu, bukahkah kau bilang sabtu ini adalah hari ke 100 pernikahan kita? Ayo kita makan di luar pada hari itu.”

Da Jung terkejut, “Kenapa tiba-tiba?”

Yool : “Bukankah aku sudah bilang akan mentraktirmu makan jika kau bisa menjual semua bonekanya. Aku akan mentraktirmu saat itu, karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu.”

Da Jung senang sekali, “Perdana Menteri, kau harus membelikanku sesuatu yang mahal dan enak ya?”
Hye Joo membaca artikel di internet, Pelabuhan GMC Internasional yang di evaluasi ulang, memiliki opini yang bersitegang dari kedua belah pihak. Hye Joo merasa kalau ia harus melaporkan ini pada PM.
Park Joon KI tiba disana. Ia heran kenapa Hye Joo meneleponnya. Apa ini karena Kwon Yool. Hye Joo menjawab bukan, “Aku hanya ingin bicara denganmu sunbae,”

“Sunbae?” Joon Ki tertawa karena ini tak biasanya.

Hye Joo tanya kenapa Joon Ki memandangnya begitu, ia datang kesini sebagai Hoobae Joon Ki ketika kuliah. “Karena kita sudah disini, haruskah kita bernostalgia dan melakukannya seperti dulu?”
Hye Joo pindah tempat duduk di sebelah Joon Ki. Joon Ki semakin heran dengan sikap Hye Joo yang tiba-tiba seperti ini padanya. Hye Joo berkata bahwa dulu ketika masih sekolah bukankah keduanya duduk seperti ini dan sering mengobrol, apa Joon Ki sudah lupa itu tanya Hye Joo sambil mendekatkan wajahnya untuk menatap Joon Ki.

Hye Joo melihat kalau Joon Ki sudah terlihat tua. “Ketika kita di sekolah, kau sangat populer di kalangan para gadis. Tapi melihatmu sedekat ini, ternyata kau punya banyak sekali kerutan dan….”

Joon KI menyela, “Seo Hye Joo, kenapa kau melakukan ini?”

Hye Joo : “Waktu itu, kau bilang padaku jika aku datang padamu kau akan meninggalkan semuanya. Kata-kata itu, apa masih berlaku?”

Joon Ki tertawa, “Jadi kau bertingkah seperti ini karena Kwon Yool. Kau bersedia melakukan hal seperti ini untuk melindungi Kwon Yool. Itu kan maksudmu?”
Hye Joo melihat di belakangnya ada Na Yoon Hee. Bukannya menghindar dari Joon Ki, Hye Joo malah memanas-manasi Yoon Hee. Ia seolah mengambil sesuatu yang menempel di baju Joon Ji, “Aku tak yakin, kita bisa membicarakan itu nanti. Kau punya tamu sekarang.”
Joon Ki menoleh ke belakang dan terkejut melihat istrinya ada disana. Yoon Hee yang hatinya panas melihat itu menghampiri mereka. Hye Joo menyapa Yoon Hee dengan sopan. Hye Joo berkata kalau ia menelepon Joon KI dan memberi tahu kalau ia ingin bertemu.

Yoon Hee tampak menahan marah dengan kelakuan Hye Joo yang terlihat olehnya menggoda suaminya. Joon Ki tahu kalau istrinya pasti berpikiran yang tidak-tidak, ia menilai kalau Yoon Hee sudah salah paham. Ia akan menjelaskan semuanya dan meminta Yoon Hee tenang.

Yoon Hee jelas saja marah, “Tenang? bagaimana aku harus tenang? Aku jelas-jelas melihat dengan mataku sendiri."

Yoon Hee menatap marah Hye Joo, “Kau bilang kau tak tertarik dengan pria yang sudah menikah. Apa yang kalian berdua lakukan? Aku tak akan melepaskanmu hari ini.”
Yoon Hee akan memukul Hye Joo tapi Joon Ki menahannya. Yoon Hee semakin marah, “Apa kau memihak wanita ini?”

Hye Joo masih bersikap tenang, ia merasa kalau Joon Ki dan Yoon Hee perlu bicara berdua, jadi ia permisi dulu. Yoon Hee berteriak meminta Hye Joo berhenti. Melihat Hye Joo pergi, Joon Ki mengejarnya. Yoon Hee dengan mata berkaca-kaca berteriak memanggil suaminya yang lari mengejar Hye Joo.
Joon Ki menarik tangan Hye Joo untuk menahan wanita itu agar tak pergi dulu, “Apa yang kau lakukan?”

Hye joo mengingatkan, apa Joon Ki sudah lupa kalau Joon Ki sudah mengirim Nam Da JUng dan Kang In Ho ke kamar hotel. Walaupun Perdana Menteri bilang akan membiarkan itu, tapi ia berbeda dengan PM, ia tak akan melepaskan Joon Ki begitu saja kareana sudah melakukan itu. “Karena aku sudah dituduh sebagai wanita jalang maka tak ada alasan aku tak bisa melakukan ini. Kau seharusnya berterima kasih karena aku tak menyuruhmu datang ke kamar hotel.”
Hye Joo pergi dari hadapan Joon Ki. Joon Ki terdiam mengetahui kalau ini Hye Joo lakukan agar ia ribut dengan istrinya. Yoon Hee menyusul suaminya dan plak, ia menampar suaminya. Hye Joo yang masih belum jauh dari sana melihat itu. Yoon Hee yang marah dan kecewa menilai suaminya benar-benar pria jahat. Joon Ki terdiam kesal karena ia diadu dengan istrinya oleh Hye Joo.
Di rumah Da Jung mengira-ngira, apa ya yang akan Yool katakan padanya ketika makan malam nanti. Ia pun mulai berimajinasi.
Da Jung dan Yool makan malam romantis bersama, keduanya minum wine.

Yool : “Nam Da Jung-ssi selama 100 hari ini aku sangat berterima kasih padamu karena sudah bekerja keras untukku dan untuk anak-anakku. Aku ingin mengatakan ini padamu.”

Da Jung tersenyum malu.
Kembali ke kenyataan, Da Jung menilai itu tak mungkin. Yool tak akan mengatakan hal seperti itu. Lalu Da Jung berimajinasi lagi.
Keduanya makan malam, Yool makan sangat lahap. “Apa yang bisa kukatakan padamu? Ya ampun, bersihkan dirimu baik-baik dan rambutmu jangan beterbangan. Harus berapa kali aku mengatakannya padamu?” Katanya sambil memasukan makanan ke mulutnya. (hahaha)
Kembali ke kenyataan, Da Jung mengira tak mungkin Yool mengajaknya makan malam hanya untuk mengatakan itu. Ah jangan jangan… Da Jung berimajinasi lagi.
Keduanya makan malam romantis. Da Jung senyum-senyum.

“Nam Da Jung-ssi, hari ini aku akan mengatakan ini padamu.” Yool memberikan bunga untuk Da Jung, “Jadilah wanitaku.”
Da Jung ngakak dengan imajinasi liarnya. “Ah.. Nam Da Jung kau sudah berpikir terlalu jauh. Tapi apa ya? Ya ampun aku penasaran sekali.”
Da Jung melihat Woo Ri akan pergi. Ia bertanya mau kemana Woo Ri. Tapi Woo Ri tak menjawab.
Na Ra mengatakan pada Da Jung kalau akhir-akhir ini oppa-nya terlihat begitu aneh. Dia pergi ke gereja katolik. Da Jung juga heran mendengarnya. Na Ra membenarkan, ia merasa aneh karena kakanya bukan tipe orang yang mau pergi ke gereja.
Da Jung dan Na Ra membuntuti kemana Woo Ri pergi. Da Jung heran kenapa Na Ra mengikutinya. Na Ra berkata kalau ia akan meminta pada kakaknya 10rb won asalkan ia bisa menemukan kelemahan kakaknya. Da Jung dan Na Ra tertawa. (ya ampun manis sekali hehe)

Da Jung dan Na Ra terkejut melihat Woo Ri benar-benar datang ke gereja.
Di dalam gereja, Da Jung dan Na Ra celingukan mencari keberadaan Woo Ri. Gereja itu tampak sepi tak ada siappaun. Tapi tiba-tiba terdengar suara alunan piano. Keduanya mencari dimana sumber suara itu.

Da Jung dan Na Ra melihat Woo Ri berdiri di lantai 2 tengah menyanyikan sebuah lagu.
Na Ra melihat siapa yang memainkan piano itu. Seorang pemuda tampan yang langsung membut Na Ra terpesona. Da Jung tersenyum melihat dan mendengar Woo Ri menyanyi. Sementara Na Ra tersenyum melihat pria tampan yang memainkan piano.
Hye Joo menyampaikan pada Yool kalau masalah peninjauan ulang Proyek Pelabuhan Internasional juga banyak dicemooh. Berita di internet juga penuh dengan komplain masyarakat dan sekarang situasinya menjadi lebih sensitif. Yool merasa tak perlu terlalu sensitif, mulai sekarang ia meminta Hye Joo untuk memperhatikan dengann baik apa yang menjadi opini publik. Hye Joo mengerti.

Hye Joo berkata kalau ia melihat Yool mengosongkan jadwal untuk malam ini, “Apa ada sesuatu yang ingin anda lakukan?” tanya Hye Joo.

Yool berkata kalau ada sesuatu yang harus ia katakan pada Da Jung. “Sek Seo, karena kau sudah mengenalku sejak lama, apapun keputusan yang kubuat kau pasti akan memahamiku, kan?”

“Tentu saja.” jawab Hye Joo. “Tapi, apa keputusan itu melibatkan Nam Da Jung?”

Yool mengangguk, “Ada sesusatu yang sudah aku putuskan.”
Sampai di rumah Woo Ri menanyakan apa yang Da Jung lakukan di gereja. “Apa kau mengawasiku?” Da Jung bilang kalau ia tak mengawasi Woo Ii, ia hanya kesana karena ia khawatir. “Tapi kau benar-benar bernyanyi dengan baik.” Puji Da Jung.
Na Ra tak setuju, “Apa maksudmu bagus? Oppa yang di sampingnya 100 kali jauh lebih baik. Tapi, dia terlihat seperti Suho Oppa dari EXO. Oppa, siapa namanya?” Tanya Na Ra. (iya itu Suho EXO beneran hahaha)

“tahu ah.” jawab Woo Ri. Na Ra menarik baju kakaknya ingin tahu siapa yang bermain piano itu. “Oppa, apa dia temanmu, sekolah dimana dia? Kelas berapa dia?” Woo Ri malas menjawabnya, ia masuk ke kamar. Na Ra terus mengekor ingin tahu siapa Oppa yang bermain piano itu.
Da Jung menerima telepon dari PM, Ia heran bersiap-siap untuk apa. Da Jung terkejut, “Ah iya benar. Kita seharusnya makan malam hari ini kan?”
Da Jung pun bersiap-siap di kamar, memilih-milh baju mana yang tepat ia kenakan. Wakakaka berantakan banget, bingung mau milih baju yang mana. Pas dandan juga dia bingung mau pakai gaya rambut yang bagaimana.
In Ho berada di rumah sakit, ia makan bersama ayah Da Jung. Ayah berkata bukankah ia sudah bilang kalau Da Jung itu tak pandai memasak jadi kenapa dia membungkusnya seperti ini. In Ho berkata kalau rasanya tetap enak meskipun tidak rapi.

Ayah heran karena ia tak melihat anggota keluarga In Ho yang lain. In Ho berkata kalau ayahnya sudah lama meninggal dan ibunya juga sudah meninggal ketika ia masih sekolah. “Kakakku lah yang merawatku.” Ayah turut sedih mendengarnya, “Melihat keadaan kakakmu seperti itu, itu menyedihkan sekali.”

In Ho menyampaikan kalau Da Jung tak bisa datang dan akan kesini besok pagi. Ayah tahu itu karena Da Jung bilang padanya akan pergi makan malam dengan menantu Kwon. In Ho terkejut, makan malam. Ayah membenarkan itu makan malam untuk memperingati 100 hari pernikahan mereka. Ia tak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. “Ketika aku melihatnya memperlakukan Da Jung, menantu Kwon benar-benar orang yang tulus. Apa kau tak berpikir seperti itu?”
In Ho masuk ke ruang rawat kakak-nya tapi ia terkejut karena tak melihat kakaknya ditempat tidur. Ia yang panik langsung keluar bertanya pada perawat dimana kakaknya. Perawat memberi tahu kalau ada seorang pria yang membawa kakak In Ho jalan-jalan keluar untuk mencari udara segar. In Ho terkejut, seorang pria? Perawat membenarkan, dia bilang dia mengenal kakakmu dengan baik.
In Ho berlari kesana kemari mencari keberadaan kakaknya. Ia terkejut begitu melihat seseorang mendorong kursi roda dimana kakaknya duduk.
Pria itu Park Joon Ki, “Kang Soo Ho, dia kakakmu, kan? jadi alasan kenapa kau mendekati Kwon Yool apa karena kakakmu?” In Ho terdiam terkejut melihat Joon Ki tiba-tiba ada disana bersama kakaknya.

Joon Ki mendekat ke In Ho, “Katakan padaku alasan pribadi yang tak bisa kau katakan padaku, apa sebenarnya itu?” In Ho diam menatap tajam Joon Ki.
Da Jung dan Yool sampai di depan restouran tempat makan malam mereka. Yool melihat pakaian yang ia kenakan, haruskah ia memakaai semua ini. Da Jung membenarkan a memuji kalau Yool terlihat sangat tampan. “Anda harus melakukannya supaya orang-orang tak mengenali anda.” Da Jung terkesan dengan tempat makan malamnya, ia mengajak Yool untuk cepat masuk. (aih liat tatapan PM menghanyutkan hahaha)
Di dalam restouran sangat romantis. Disana ada seorang pria yang lagi melamar ceweknya. Hahaha. Dan itu mendapatkan tepuk tangan dari pengunjung lain.
Da Jung bertanya bagaimana Yool tahu ada tempat sebagus ini. Yool berkata kalau ia juga tak tahu dengan tempat ini, ia hanya bertanya pada Supir Shim untuk membuat reservasi di suatu tempat yang enak untuk makan malam. Da Jung merasa kalau ini tempat yang sangat menyenangkan.

Pria yang melamar wanitanya itu menyanyikan lagu untuk si wanita.
MC kemudian mengumumkan kalau yang akan maju ke panggung selanjutnya adalah Kwon Chong Ri dari Seoul. Yool yang lagi minum kaget, kok namanya mirip dengan dia.

MC mengatakan kalau Kwon Chong Ri akan menyanyikan sebuah lagu untuk istrinya sebagai perayaan hari pernikahannya yang ke 100 hari. Yool terkejut campur heran, apa-apaan ini?
Di dalam mobil di parkiran, Supir Shim tersenyum, “Meskipun ini hanya hari pernikahan mereka yang ke 100, paling tidak dia harus melakukan ini.”
Yool tak beranjak dari tempat duduknya padahal MC berulang kali memanggil nama Kwon Chong Ri. Da Jung tertawa geli, keempat pengawal yang tahu kalau itu adalah PM juga ikut tertawa hihi…
Da Jung berkata pada Yool kalau MC terus menerus memanggil Yool. “Cepat pergi kesana dan nyanyikan sesuatu.”

Yool : “Ah… nyanyi apaan?”
Yool bertanya ke pengawalnya, apa mereka yang melakukan ini. Pengawal gendut menebak kalau ini pasti Supir Shim yang melakukannya. Yool menahan kesal, “Ah Supir Shim keterlaluan.”

MC terus menerus memanggil nama Kwon Chong Ri, tapi yool berusaha menutupi wajahnya. Ia tak mau naik ke panggung. Da Jung yang masih tertawa geli menyuruh Yool sebaiknya naik ke panggung saja.
Yool pun apa boleh buat, naik ke panggung deh. MC menilai kalau nama Yool sangat unik, Kwon Chong Ri. “Tapi aku rasa aku pernah melihat anda sebelumnya.” Yool berusaha tak ketahuan ia tertawa, “ah bagaimana mungkin. Wajahku sama sekali tak mirip siapapun.” MC pun mempersilakan Yool untuk mengatakan sesuatu pada sang istri dan nyanyikanlah sebuah lagu dengan baik.
Yool tak tahu harus mengatakan apa, ia sama sekali belum pernah melakukan hal seperti ini jadi ia tak yakin dengan apa yang akan ia katakan.

Yool : “Ketika aku menikah, aku berjanji pada ayah mertuaku. Walaupun aku tak bisa berjanji bahwa aku tak akan membuat putrinya menderita atau aku tak bisa berjanji akan membuatnya bahagia. Tapi aku berjanji tidak akan pernah membuatnya menangis. Tapi.... aku justru sering membuatnya menangis. Bagaimanapun, dia adalah seseorang yang lebih baik jika tersenyum. Jadi untuk istriku yang telah menangis dan tersenyum untukku. Aku akan menyanyikan lagu ini untuknya.”
Yool pun menyanyikan sebuah lagu dengan suara merdunya. Up to the Sky / Sky High (Jeollamhwe) lagu miliknya Kim Dong Ryul.

Sambil menyanyi tergambar gambaran bagaimana Da Jung dan Yool awal bertemu, mendapatkan masalah, memutuskan menikah dan hidup bersama.
[Translate indo di sub]


Saat aku merasakan banyak beban
kau datang ke pikiranku
berjalan bersama, minum kopi
hidup terasa sama saja
sebelum aku tahu aku sudah lelah

walaupun kita tak bisa bertemu lagi
kau menjadi sumber kekuatan rahasiaku
ingatan tentangmu, selalu menemaniku
menjadi sesuatu yang menenangkanku.

malam saat kau kembali
aku sangat ingin terbang menuju langit
dengan bintang bintang bersinar cerah
tak ada apapun
tak ada suara
menuju langit malam
jauh di langit, menjulang tinggi
ke tempat yang aku tak akan pernah kembali

Da Jung terharu matanya berkaca-kaca.
Yool pun selesai menyanyi, ia menatap Da Jung.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar