Kamis, 06 Februari 2014

Sinopsis Prime Minister and I Episode 4 Part 2


Karena tangannya masih menempel di telapak tangan PM, Da Jung pun terpaksa mengikutii kemana Yool pergi. Keduanya akan naik helikopter.
Da Jung tampak kesulitan membetulkan pakaian bagian bawahnya yang terus bergerak karena angin yang ditimbulkan baling-baling helikopter. In Ho benar-benar tak nyaman melihat tangan dua orang itu menempel saling menggenggam.

PM meminta Da Jung berjalan cepat. Da Jung berkata kalau ia tak bisa cepat-cepat karena pakaian yang ia kenakan tertiup angin dari baling-baling helikopter. Yool benar-benar kesal dibuatnya hehehe.
“Mereka pasti benar-benar senang!” teriak pengawal Yool. Yool menoleh mendelik ke arah kedua pengawalnya. Couple pengawal ini langsung terdiam hahaha.

Da Jung tanya kemana keduanya akan pergi. Yool menjawab kalau mereka akan pergi ke tempat yang tidak menarik jadi ia harap Da Jung diam saja.
Karena tangan keduanya masih menempel, Yool naik lebih dulu ke helikopter. Da Jung setelahnya, tapi sial Da Jung malah jatuh dipangkuan PM hahaha. PM tentu saja kesal bukan main, “apa yang kau lakukan? menyingkir dariku!” Da Jung minta maaf.

In Ho ikut naik di helikopter yang sama. Dia benar-benar tak nyaman melihat kedua tangan itu terus menempel menggenggam. PM meminta In Ho untuk memastikan ada sesuatu yang bisa melepaskan lem di tangannya ini. In Ho bilang kalau itu sudah disiapkan. Helikopter pun berangkat menuju tempat blusukannya perdana menteri. Hahaha.
Di kantor Menteri Keuangan, Park Joon Ki menerima sms dari seseorang. Ia terkejut dan cemas membaca sms itu. Sekretaris Bae yang ada di ruangan itu mengatakan kalau sekarang tak ada pergerakan yang berarti dari perdana menteri. Ia tak tahu apakah ini karena perdana menteri sibuk menyiapkan pernikahan, tapi yang jelas sepanjang minggu ini perdana menteri terus berada di kediamannya.

Park Joon Ki : “Dia pergi ke Desa Geum Chun. Aku baru saja diberi tahu dia sudah berangkat.”

Sekretaris Bae terkejut, “Kenapa perdana menteri kesana? Dia tidak mungkin….”

Park Joon Ki berkata kalau ini adalah proyek pemerintah, jadi tak akan mudah. Ia menyuruh Sek Bae untuk menghubungi pihak Myung Shim Grup. Sek Bae mengerti, ia segera keluar melaksanakan perintah.

Joon Ki : “Kwon Yool, apa kau ingin terus melanjutkan ini?”
Di dalam helikopter, ketiga penumpang ini diam saja. In Ho melihat ke samping kanannya, ga sanggup kali ya kalau suruh nengok pasangan yang tangannya saling menggenggam karena terkena lem hehehe.
Da Jung mendengar suara ponsel berdering, ia celingukan mencari dari mana sumber suara itu berasal. Ia mendengar kalau dering ponsel itu berasal dari ponsel PM, “Perdana menteri ponsel anda bunyi?” Da Jung memberi tahu dengan suara tinggi. Tapi Yool tak mendengar dengan jelas karena deru mesin dan baling-balinghelikopter. Da Jung sekali lagi dengan suara keras memberi tahu kalau ponsel Yool berdering.

Yool akan mengambil ponsel yang berada di saku dalam jas-nya dengan tangan kanan, tapi ga sampai. Ia kesulitan mengambilnya. Ia pun menyuruh Da Jung untuk mengambilkan ponselnya. Da Jung diam saja. PM mengeraskan suaranya kembali menyuruh Da Jung mengambil ponsel dari saku kemejanya.
Da Jung pun merogoh saku PM untuk mengambil ponsel. In Ho yang duduk di sebelah ngeliatin doank. Ponsel sudah diambilkan tapi Yool masih kesulitan menekan tombol jawabnya. Hahaha. (Masa ga bisa ya, apa saking jari-jarinya pendek ya hahaha ups…) Ia pun menyuruh Da Jung untuk menekan tombol jawabnya. Da Jung tak mendengar dengan jelas. Yool meninggikan suaranya lagi, “aku bilang tekan. Apa kau tak tahu bagaimana menjawab telepon?” Da Jung pun menekan tombol jawab.
Itu telepon dari Hye Joo di kantor, “Sek Seo ada apa?” tanya PM. Hye Joo menghubungi PM karena ada sesuatu yang ingin ia laporkan. Tapi suara Hye Joo tak bisa didengar oleh Yool, Yool menyuruh Hye Joo mengucap ulang karena ia tak bisa mendengar dengan jelas. Yool mencoba bergeser ke samping agar suara Hye Joo terdengar tapi tetep saja tak kedengaran karena suara bising helikopter.
Malah Da Jung yang tertarik kesana kemari dan berteriak kesakitan. “Nam Da Jung, tetap disana!” Ucap Yool. Hye Joo terkejut mendengar ada Da Jung di helikopter. “Perdana mentri, kenapa Nam Da Jung ada bersama anda?” Apa yang dikatakan Hye Joo, Yool tak bisa mendengarnya. Ia akan segera menghubungi Hye Joo lagi nanti setelah mendarat.
Yool kembali menyuruh Da Jung untuk menekan tombol. Da Jung menekan tombol tapi sial ponsel malah jatuh ke lantai helikopter hahaha. Yool jadi jengkel deh.
Da Jung akan mengambil ponsel yang jatuh itu tapi disaat yang sama Yool juga akan mengambil. Alhasil duk... kepala keduanya pun saling berbenturan. Keduanya memegang kepala yang sakit. Yool mengomeli Da Jung, “Bisa tidak sih hati-hati.” Da Jung juga protes kenapa Yool tiba-tiba ikutan menunduk. In Ho melepas sabuk pengamannya dan mengambilkan ponsel yang terjatuh. Ia memberikan kembali ponsel itu pada Yool.
Yool akan menyimpan ponselnya kembali ke saku, tapi tangannya tak sampai. Ia kesulitan melakukannya. Ia pun kembali menyuruh Da Jung memasukan ponselnya ke saku. Da Jung asal saja memasukan ponsel itu. Yool ngomel, “hei itu ketiakku, aku menyuruhmu memasukan ponsel ke sakuku!”

“Saya kan tak bisa melihat sakunya!” Da Jung ikut ngomel.
Hye Joo bertanya-tanya kenapa Da Jung ikut dalam rombongan perdana menteri. “Kenapa wanita itu mengikuti perdana menteri?”
Helikopter pun mendarat di tempat tujuan. Disana sudah ada rombongan yang menunggu. Bahkan dua pengawal perdana menteri pun sudah sampai disana. In Ho keluar lebih dulu dengan perasaan kesal hahaha. Da Jung akan keluar lebih dulu tapi kayaknya dia takut deh.

PM pun bilang kalau ia yang akan keluar lebih dulu. Ia meminta Da Jung berhati-hati ketika turun nanti. PM pun turun dari helikopter. Da Jung yang akan turun dari helikopter terlihat ragu. PM tanya apa Da Jung hanya akan duduk di sana saja. Da Jung pun turun. Tangan PM yang masih menempel pada Da Jung pun ia gunakan untuk memegangi wanita itu supaya aman turun dari helikopter. Tapi naas Da Jung malah jatuh ke pelukannya hihihi.

PM tanya apa In Ho punya sesuatu yang bisa menghilangkan lem perekat ini.
Manteri Park Joon Ki sampai di kantor perdana menteri. Ia melihat Seo Hye Joo berjalan sendirian. Ia pun memanggillnya. Sekretaris Bae pun pergi lebih dulu meninggalkan atasannya.

Joon Ki heran melihat Hye Joo tetap bekerja walaupun hari minggu, “Tidakkah perdana menteri membuatmu bekerja terlalu keras?” Hye Joo balik bertanya dengan pertanyaan yang sama pada Menteri Park. Menteri Park berkata kalau ia bekerja di hari minggu ini karena perdana menteri. Ia mengeluhkan kalau penyusunan anggaran tambahan ini benar-benar melelahkan. Tapi PM memiliki Hye Joo yang akan mengerjakan pekerjaan dan yang dia lakukan hanya mengurusi pernikahannya.

“Sama sekali tidak.” sahut Hye Joo. Perdana menteri sedang mengurusi sesuatu di kediamannya. Joon Ki tertawa, “Mengurus sesuatu kau bilang? Aku penasaran apa itu?” Hye Joo berkata kalau tak ada yang ingin Menteri Park katakan padanya, ia akan permisi.
Park Joon Ki berkata kalau masih ada yang ingin ia katakan pada Hye Joo. Hye Joo menebak Menteri Park pasti sangat kesal karena perdana menteri menikah lagi. Kalau ini yang akan Menteri Park katakan….

Joon Ki menyela bertanya, “Apa Hye Joo baik-baik saja? Kwon Yool menikah dengan wanita itu. Apa itu benar-benar tidak menganggumu?”

Hye Joo : “Memangnya apa yang harus kukatakan? ‘ini snagat sulit bagiku, aku menderita. Aku marah, aku ingin mati saja’ aku minta maaf karena mengatakan ini pada anda tapi aku baik-baik saja. Kalau sudah selesai bicara saya permisi dulu.”

“Aku baik-baik saja?” Gumam Joon Ki setelah Hye Joo berlalu dari sana.
Kembali ke tempat dimana PM meninjau lokasi danau yang tercemar limbah industri. Ia meminta beberapa pengurus disana memperlihatkan laporan padanya.

Da Jung dan In Ho memperhatikan apa yang dilakukan Perdana Menteri. Da Jung menilai di cuaca sedingin ini pekerjaan menjadi perdana menteri itu tidaklah mudah. In Ho menebak kalau Da Jung pasti lelah menunggu. Ia harap Da Jung bisa bersabar sebentar lagi. Da Jung bilang kalau ia baik-baik saja jadi In Ho tak perlu khawatir.
In Ho masih merasa tak enak karena sudah menuduh Da Jung yang bukan-bukan dengan ucapan kasarnya. In Ho pun minta maaf, “Kenapa kau tak memberitahuku tentang ayahmu? Aku tak tahu itu.” Da Jung bisa menebak kalau In Ho pasti akan membicarakan ini. Menurutnya itu hal biasa kalau ada kesalah pahaman, jadi tidak ada yang perlu dimaafkan. In Ho berharap Da Jung melupakan kata-kata kasarnya.

“Tentu saja.” seru Da Jung sambil memukul pelan In Ho. “Apa kau pikir itu yang ingin kukatakan? Ah aku pikir kata maaf saja tidak cukup.” In Ho tanya apa yang harus dilakukannya. “Apa yang harus kulakukan agar aku dimaafkan oleh Nyonya Nam?” Panggilan seperti itu membuat Da Jung tak nyaman.
In Ho berkata kalau ia mendengar apa yang Da Jung dan perdana menteri katakan, “Pernikahan… apa kau benar-benar akan melakukannya?”

Da Jung terlihat bimbang, “Jujur saja.... aku sendiri tak yakin. Kalau saja bisa, aku ingin menghindarinya. Tapi aku sadar aku harus melakukannya.”

In Ho awalnya mengira kalau ide pernikahan ini sangatlah konyol. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata pernikahan ini tidak terlalu buruk.”

Da Jung tak mengerti apa maksudnya.

In Ho tertawa, “Lakukan saja apa yang paling kau inginkan, Reporter Nam. Tak peduli apapun yang kau lakukan, aku akan selalu mendukungmu.”

Da Jung tersenyum, “Chief Kang?”
Tiba-tiba terdengar teriakan orang-orang, “perdana menteri, perdana menteri.” ucap mereka panik saat melihat Yool masuk ke danau begitu saja tanpa mempedulikan sepatu atau celananya basah. Yool mengambil sesuatu dari dalam air danau. Da Jung dan In Ho yang melihat itu segera mendekat untuk mencari tahu apa yang dilakukan perdana menteri.
Yool menemukan dua ikan yang telah mati di danau. Ia bertanya apa ini pertama kalinya terjadi disini? Mereka diam. Bahkan para pengurus disana hanya menunduk takut. Yool meminta pengelola danau mengatakan saja apa yang terjadi. Bapak itu mengatakan kalau mereka mendengar perdana menteri akan datang jadi mereka membersihkan tempat ini.
PM menoleh pada pengurus setempat, mereka menunduk diam. “Aku akan memebri kalian waktu seminggu. Setiap kondisi air, sumber-sumber mata air dan kecepatan aliran airnya, aku ingin semuanya diperiksa secara teliti dan laporkan padaku. Jika kalian menemukan sesuatu yang salah, kalian harus segera memberitahuku.” Mereka mencatat apa yang diperintahkan perdana menteri pada mereka.
Yool memanggil Da Jung untuk mendekat padanya. Yool mencium ikan yang sudah mati itu. Ia menyuruh Da Jung menyimpan baik-baik ikan yang mati itu. Da Jung tak mau memegang ikan bau yang mati, kenapa ia harus melakukan ini.

PM Yool : “Kau naik helokopter kan? Jika kau naik helikopter yang dibeli dengan pajak rakyat, maka kau harus membayarnya.”

Ini... Yool menyerahkan dua ikan yang mati itu pada Da Jung. Da Jung menjerit jijik memegangnya. “Perdana menteri...” teriaknya jijik hahaha.
Yool berdiri di tepi danau sendirian, Da Jung datang menghampirinya. Da Jung mengatakan kalau ia sudah mendapatkan ikan, wadah, air bahkan contoh kotoran ikannya pun sudah ia ambil. Yool menyuruh untuk meletakan itu disana.

Da Jung meletakan barang-barang yang ia bawa, “Jadi aku sudah membayar biaya helikopternya kan?”

Yool berkata kalau ia dan Da Jung harus menyelesaikan percakapan yang belum selesai ketika di kantor tadi. “Kau bilang ingin membatalkan pernikahan, apa kau masih memikirkan hal yang sama?”
Da Jung terdiam sejenak, “aku sangat takut.” ucapnya. Ia mengaku kalau masalah cincin itu hanyalah alasannya saja yang sebenarnya ia sangat takut dan gelisah. “Aku melakukannya untuk ayahku. Tapi posisi sebagai istri perdana menteri, itu sangat menakutkan. Aku jadi bertanya-tanya, apakah aku pantas menduduki posisi itu. Itulah yang kupikirkan. Aku merasa ingin melarikan diri. Anda mungkin tak mengerti apa yang kurasakan, perdana menteri.”

Yool memandang jauh danau di depannya, “kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Saat aku harus meninggalkan pekerjaanku sebagai seorang jaksa, saat aku masuk ke dunia politik, saat aku menjadi anggota senat, saat aku menjadi gubernur dan saat aku menjadi perdana menteri, setiap rintangan yang muncul... aku ingin melarikan diri. Karena aku takut. Bagaimanapun merasakan ketakutan seharusnya tidak menjadi alasan untuk melarikan diri,” jelasnya sambil menoleh menatap Da Jung.
Da Jung meresapi setiap kata yang diucapkan Yool. “Aku tidak harus melakukannya dengan baik kan? Selama aku tak melarikan diri, maka tidak masalah kan? Sebagai gantinya aku akan berusaha. Aku akan berusaha yang terbaik. Aku tak bisa memastikan apakah aku akan melakukannya dengan baik. Tapi aku berjanji akan melakukan yang terbaik.”
Yool tersenyum mendengar ucapan itu dari Da Jung, “Kau sudah berada di tengah jalan dengan tidak melarikan diri. Tapi kau juga akan melakukan yang terbaik kan? Kalau begitu, bukankah ini ide yang buruk.” 

Da Jung tersenyum, ia mengulurkan tangannya. “Mulai sekarang, tolong jagalah saya perdana mentri.” Yool juga tersenyum, “itulah yang ingin kukatakan, Nam Da Jung-ssi.” ucapnya sambil menjabat tangan Da Jung. 
Hari pernikahan pun tiba… mobil pengantin yang dinaiki Da Jung sampai di depan gereja. In Ho membukakan pintu untuk si pengantin wanita. Da Jung keluar dari dalam mobil dengan senyum yang sangat cantik dan juga penampilan yang sangat cantik pula. In Ho terpesona melihatnya. Tapi ia sadar diri kalau pengantin cantik di depannya ini bukanlah pengantinnya. Ia pun berusaha untuk tersenyum meskipun itu senyum yang pahit. (argh..)
PM Kwon Yool juga dengan penampilan terbaiknya. Ia tampak gagah mengenakan setelan tuxedo nya. Ia menyalami tamu undangan yang hadir. Hye Joo yang berdiri di sampingnya hanya bisa memendam rasa dan merelakan PM untuk menikah lagi.
Da Jung dan In Ho berada disebuah ruangan. Da Jung tampak gugup, ia tak tenang. Ia bertanya pada In Ho, apa dirinya kelihatan sedikit aneh. In Ho menjawab tidak kok, Da Jung terlihat sangat cantik, “Kau terlihat cantik tapi sedikit aneh sih.” ucapnya dengan suara bergetar. “Melihatmu seperti itu di hadapanku benar-benar terasa aneh.” (dihatinya kali ya)

“Benar kan?” Da Jung semakin cemas dengan penampilannya. “Bagaimana denganku? Ah ya ampun gatal sekali.” Da Jung menggaruk-garuk kepalanya hingga membuat aksesoris pernikahannya terlepas.
“Tunggu sebentar, tetaplah seperti itu!” sahut In Ho mendekat. In Ho merapikan kembali aksesoris yang terlepas itu. In Ho berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain, tapi magnet Da Jung sepertinya tak bisa lepas begitu saja dari pandangan In Ho. Da Jung jadi tak enak hati diperhatikan seperti itu.
Ketika In Ho sedang membetulkan letak aksesoris tiba-tiba PM Yool masuk ke ruangan itu. Ia melihat apa yang In Ho lakukan pada Da Jung. Menyadari disana ada PM, In Ho pun permisi ke luar ruangan. PM melirik ke arah In Ho yang keluar, ia seperti merasakan sesuatu yang aneh terhadap sikap In Ho ke Da Jung. 
Yool bertanya apa Da Jung ingat pasal kedua dari kontrak mereka. Da Jung menjawab tentu saja ia ingat, sebagai seorang istri ia akan melaksanakan semua tugasnya.

“Kau ingat, tapi jangan lupa bahwa kau menambahkan kata setia disana.” Ucap Yool. “Kau beruntung kalau aku yang melihat ini. Bagaimana kalau orang lain yang melihatnya?” (maksudnya bagaimana kalau orang lain yang melihat Da Jung hanya berdua saja dengan In Ho di ruangan, pasti akan salah paham terhadap keduanya)

Da Jung heran bukankah In Ho itu asisten PM, apa masalahnya. Yool bilang bukan itu masalahnya, “Hati-hati. Berhubungan dekat dengan pria lain, tentu saja tak boleh. Mengerti?” (ah bilang aja cembokur wakakaka)

“Iya mengerti.” jawab Da Jung jengkel.

Yool bertanya bagaimana dengan ayah Da Jung. Da Jung meminta PM jangan khawatir Boss-nya dan Hee Chul sedang menjemput ayahnya. Yool terkejut Da Jung mengundang orang-orang dari Scandal News. 
Ayah Da Jung datang bersama Boss Go, Hee Chul dan Bu dokter. Ayah Da Jung keluar dari mobil dan terkejut melihat seorang ibu-ibu yang mengenakan pakaian putih berjalan semakin menjauh. Ayah Da Jung lari mengejarnya.
Kembali ke ruangan. Yool mengingatkan bukankah ia sudah memberi tahu Da Jung supaya memastikan orang-orang dari Scandal News tidak ikut campur dengan pernikahan ini. Kalau ada satu artikel konyol yang keluar, Da Jung akan tahu akibatnya.

Da Jung menilai kekhawatiran PM terlalu berlebihan, “Iya aku mengerti. Kenapa anda terus memberitahuku hal yang sama? Kenapa anda masih disini? Anda seharusnya di luar kan?”

“Iya iya aku pergi. Aku pergi sekarang.” ucap Yool akan keluar. Tapi sepertinya ia enggan untuk keluar hahaha.
Yool pura-pura ingat akan tujuannya menemui Da Jung. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Ia memberikan itu pada Da Jung. (ngasih-in-nya itu lho ga sopan banget, kayak melemparkan gitu hihi)
Da Jung yang menerima kotak kecil itu heran, “apa ini?” ia pun membukanya. Da Jung terkejut melihat isi kotak itu adalah cincin pernikahan. Da Jung heran, “Perdana menteri, kapan anda punya waktu untuk membeli ini?”

Yool jadi salah tingkah, “Kapan aku punya waktu? Aku membelinya lewat internet?”

Da Jung tambah heran, “Lewat internet? Siapa coba yang membeli cincin pernikahan lewat internet?”

Yool : “Jadi, apa maksudmu kau tak menyukainya?”

Da Jung : “Baiklah, cincin ini kan dibutuhkan untuk pernikahan.”
Yool melihat kalau gaun pengantin yang dikenakan Da Jung terlalu mencolok, “Apa kau harus memakai sesuatu yang memamerkan tubuhmu? Tidak bisakah kau mengenakan gaun putih biasa?” Da Jung membela diri kalau gaun putihnya biasa.

Da Jung kemudian teringat sesuatu, putih? Ia memperhatikan gaun pengantinnya yang berwarna putih. Ia tiba-tiba panik, “Bagaimana ini aku tak bisa mengenakan ini.”

Yool tak mengerti, “apa? apa maksudmu?”

Da Jung tambah panik, “Tak bisakah aku mengenakan hanbok sebagai gantinya?”
Ayah Da Jung masih mencari ibu-ibu yang mengenakan pakaian putih. Ia melintas di depan ruangan. Ia melihat ke dalam ruangan dan segera masuk ke ruangan itu. Ruangan dimana ada Da Jung dan PM Yool.
Bu dokter, Boss Go dan Hee Chul mengikuti ayah Da Jung. Hee Chul dan Boss Go heran dengan sikap ayah Da Jung sekarang. Bo dokter memberi tahu kalau istri ayah Da Jung itu seorang koki, “Jika dia melihat wanita yang memakai baju putih maka dia akan mengira itu adalah istrinya.”

Boss Go dan Hee Chul pun mengerti, apa itu sebabnya ayah Da Jung memanggil dokter dengan sebutan ‘yeobo’ di rumah sakit. Dokter membenarkan itu karena dirinya mengenakan pakaian putih. Boss Go merasa kasihan pada Da Jung dan ayah Da Jung. Ia tiba-tiba teringat sesuatu, bagaimana dengan gaun pengantin? Hee Chul menilai itu tidak mungkin, Da Jung itu kan putrinya.
Tapi yang ditakutkan Boss Go benar-benar terjadi. Disaat penting seperti ini penyakit ayah Da Jung kambuh. Ya karena Da Jung mengenakan gaun pengantin berwarna putih, ayah menganggap Da Jung sebagai istrinya. “Yeobo hari ini kau cantik sekali, apa ada acara istimewa hari ini?” Da Jung sedih melihat penyakit ayahnya kambuh.
Ayah menatap marah PM Yool yang ada disana berdiri di samping Da Jung. Ia pun menghalangi PM Yool supaya tidak dekat-dekat dengan wanita yang ia sangka istrinya. “Kenapa kau berdiri di dekat istriku. Minggir sana!” Ayah Da Jung mendorong PM Yool.
Ayah Da Jung akan menarik tangan Da Jung untuk pergi dari sana. Da Jung tak tahan lagi melihatnya, “ayah….!” suara Da Jung meninggi dengan tatapan penuh air mata. “Ayah apa kau tak mengenaliku? Ini aku Da Jung.” ucapnya sambil menangis. “Bagaimana bisa ayah tak mengenaliku di hari spesial ini?” Yool iba melihat penyakit ayah Da Jung kambuh.

Da Jung yang menangis berkata kalau ia menikah karena ayahnya. “Bagaimana bisa ayah tidak mengenaliku?” Ayah Da Jung yang masih menganggap Da Jung istrinya heran, kenapa istrinya terus terus marah padanya. “ayah, kau tak bisa melakukan ini padaku.” tangis Da Jung.
PM Yool bertanya pada dokter apa yang terjadi dengan ayah Da Jung karena beberapa hari yang lalu ketika ia bertemu dengan ayah Da Jung keadaannya tidak seperti ini. Dokter mengatakan kalau ayah Da Jung beberapa hari ini terlihat sangat gugup menjelang hari pernikahan putrinya. Dia berada dalam situasi yang bahagia yang mana malah memperburuk kondisinya.
In Ho ikut bertanya apa memungkinkan bagi ayah Da Jung untuk mengantar Da Jung menuju altar pernikahan. Dokter mengira itu tidak mungkin kalau kondisinya masih terus seperti ini. In Ho melihat jam tangan dan menyampaikan pada perdana menteri kalau sekarang sudah waktunya, “Apa yang akan anda lakukan?” Yool diam tak tahu harus bagaimana.
Di dalam gereja tamu undangan telah hadir, bahkan ketiga anak perdana menteri pun ada disana. Na Ra heran kenapa acaranya terlambat begini. Ia bertanya pada Oppa-nya apa ayahnya berubah pikiran tak jadi menikah dengan Da Jung. Woo Ri malas membahasnya, ia berharap acara ini cepat selesai.
Karena kondisi ayah Da Jung yang tidak memungkinkan untuk mengantar Da Jung berjalan di altar pernikahan, In Ho merasa sepertinya pengantin pria dan wanita akan masuk bersama-sama. Yool menoleh ke Da Jung yang berdiri murung di belakangnya. Yool meminta In Ho untuk memberi waktu 5 menit lagi. In Ho mengerti, ia menoleh menatap Da Jung yang terdiam sedih, sebelum akhirnya ia pergi dari sana untuk menyampaikan pada panitia yang berada di dalam gereja.
Yool yang melihat Da Jung menunduk sedih meminta Da Jung menatapnya. Da Jung mengangkat wajahnya, ia berusaha untuk tersenyum dan menguasai dirinya. Ia mengatakan kalau tamu sudah menunggu dan keduanya harus bergegas masuk ke gereja.
Ketika akan keluar keduanya melihat salju turun. “Apa ini salju pertama?” Sahut Yool melihat salju turun di awal musim dingin ini.
Da Jung berdiri di samping Yool melihat salju yang turun. Da Jung teringat pada harapan ayahnya yang ingin menggenggam tangannya dan berjalan menuju atar pernikahan.

“Jika aku sudah melakukannya, aku sudah melakukan kewajibanku. Jika aku mati saat itu, aku tak akan pernah menyesal.”

Da Jung menangis mengingat harapan ayahnya. Karena disaat hari pernikahannya, ayahnya malah tak mengingat dirinya. “Ayah ini aku Da Jung. Ini aku putrimu, Da Jung.” batin Da Jung berharap ayahnya kembali mengingat dirinya. Yool menoleh menatap Da Jung yang menangis.

Batin Da Jung : “Seperti yang ayah inginkan, aku akan menikah hari ini. Mimpi ayah adalah memegang tanganku dan berjalan ke altar bersamaku. Walaupun ayah tak bisa mendampingiku, aku sudah memenuhi keinginan ayah. Saat ini salju pertama musim dingin sedang turun. Ada yang bilang jika kau memohon pada saat salju pertama turun, mimpimu akan menjadi kenyataan. Tapi mimpi, mimpiku…..”
Yool yang melihat Da Jung menangis akan menyentuh pundak gadis itu untuk memberinya semangat dan kekuatan tapi ia mengurungkan niatnya. Ia membiarkan Da Jung menumpahkan semua perasaan sedih dan membiarkan Da Jung menangis.
Ayah Da Jung berada disebuah ruangan melihat salju pertama di musim dingin ini turun. “Saljunya turun, Da Jung sangat menyukai salju.” sahutnya dengan ingatan yang telah kembali. Ayah tiba-tiba menyadari sesuatu kenapa dia berada disini, “Da Jung? Da Jung?” ia pun bergegas mencari putrinya.
Yool memberikan sapu tangan pada Da Jung untuk mengusap air mata. Da Jung mengusap air matanya. Yool tanya apa Da Jung sudah selesai menangis. Da Jung menjawab ya, ia bahkan menggunakan sapu tangan itu untuk membuang ingusnya, huekkk… dan mengembalikan sapu tangan itu ke Yool hahaha.

Yool yang terkejut hanya bisa tersenyum, karena Da Jung yang asli sudah kembali. Ia pun mengajak Da Jung masuk ke dalam gereja bersamanya.
Ketika keduanya akan pergi, datanglah ayah Da Jung yang memanggil putrinya. Da Jung terkejut ayah sudah mengingat dirinya. Ayah marah apa Da Jung akan masuk ke altar tanpa ia dampingi. “Ayah apa kau mengenalku?” tanya Da Jung terkejut. Ayah menjawab tentu saja ia ingat, mana mungkin ia tak mengenali putrinya. Da Jung senang melihatnya. Ia menangis memeluk ayahnya erat. Yool terharu melihatnya.
Acara pernikahan pun dimulai. In Ho bertindak selaku pembawa acara. Tapi hatinya pedih melaksanakan tugas itu. Huwaaaaa…
Yool berjalan tegap menuju altar disambut riuh tepuk tangan tamu undangan. Ia membungkuk memberi hormat pada pendeta.

Pengantin wanita pun masuk, (Oh My In Ho, ucapannya seperti tak rela ketika menyebut pengantin wanita akan masuk)
Ayah Da Jung terlihat gugup, tangannya gemetaran memegang tangan putrinya. Keduanya pun berjalan. Da Jung terharu karena sudah mewujudkan keinginan ayahnya.
Di depan Yool, ayah beralih mengganggam tangan Yool. “Menantu kwon, tolong jaga Da Jung-ku.” Da Jung hampir menangis melihatnya. Yool menjawab ya dengan tegas. Ayah Da Jung pun mengulurkan tangan putrinya pada Yool.
Pernikahan pun berjalan lancar. Da Jung dan PM Kwon Yool pun resmi menjadi suami istri. Da Jung memandang pria yang ada di sebelahnya yang kini sudah menjadi suaminya. Keduanya tersenyum.
Disebuah bar, Hye Joo datang menemui Menteri Park Joon Ki yang minum sendirian. Joon Ki menyadari kehadiran seseorang dan menoleh ke samping. Ia melhat Hye Joo sudah datang. “Apa aku bermimpi? Bukankah kau ini Sekretaris Seo?” Hye Joo balik bertanya kenapa Joon Ki menghubunginya. Joon Ki tertawa ia tak mengira kalau Hye Joo benar-benar akan datang.

Hye Joo akan pergi tapi Joon Ki menahan tangannya. Hye Joo berusaha menarik tangannya. Joon Ki melepasnya perlahan.

Joon KI : “Aku berpikir untuk meneleponmu supaya bisa menghiburmu. Tapi sejujurnya, akulah yang butuh dihibur. Aku teringat pada Na Young.” (adiknya Park Joon Ki yang merupakan istrinya Kwon Yool)
Hye Joo duduk di depan Joon Ki, “Ini tidak seperti dirimu sunbae.” ucap Hye Joo tanpa menyebut Joon Ki dengan panggilan Menteri Park. Joon Ki heran kenapa Hye Joo tak memanggilnya menteri. Hye Joo berkata kalau sekarang ia datang menemui Joon Ki sebagai teman kuliah. Ia pun meminta minuman yang diminum Joon Ki. Joon Ki pergi mengambilkan gelas untuk Hye Joo.
Ada sms yang masuk ke ponsel Park Joon Ki. Hye Joo awalnya ragu tapi ia memberanikan diri untuk melihat sms dari siapa itu. Tapi sayang harus memasukan password dulu untuk membuka ponsel Joon Ki.
PM Yool dan Da Jung berada dalam satu kamar. Keduanya duduk di kursi yang sama tapi jaraknya masih berjauhan hahaha. Yool berulang kali menarik nafas. Da Jung sendiri, duduk tegang, hahaha.

Yool menyampaikan kalau ia sudah memberi tahu wartawan bahwa bulan madunya dengan Da Jung akan diundur karena jadwalnya padat. Ia harap Da Jung mengingat itu jika ditanya oleh wartawan. Da Jung mengangguk mengerti.
Ponsel Yool bunyi, “Siapa ini? tanya Yool menjawab teleponnya. Yool terkejut, “ayah mertua?” Da Jung ikut terkejut ayahnya menelepon Yool. Ia berusaha mendekat untuk mendengar apa yang ayahnya sampaikan pada Yool.

Terdengar suara ayah Da Jung yang memuji kalau Yool sudah melakukan hal yang bagus hari ini. “Hanya ada satu yang kuinginkan darimu. Cepatlah berikan aku seorang cucu!”

“Apa?” Yool kaget mendengar permintaan mertuanya.

“Aku bilang berikan aku cucu, oke?”

Da Jung yang kaget mendengar ayahnya mengatakan itu langsung merebut ponsel Yool, “ayah aku akan meneleponmu nanti.” Da Jung menutup teleponnya.
Da Jung jadi tak enak hati dengan permintaan ayahnya. Ia harap Yool jangan terlalu memikirkan apa yang ayahnya katakan. Yool mengerti, ia melepas jas-nya dan menyuruh Da Jung keluar dari kamarnya karena ia akan istirahat.

Da Jung heran, “Ini kan kamarku. Perdana menteri, anda pergi sana ke ruang kerja.”

Yool : “Apa maksudmu? Kenapa kau menyuruhku keluar dari kamarku dan pergi ke ruang kerja?”

Da Jung : “Lalu, apa anda mengatakan kalau kita akan berbagi kamar? Kontraknya kan sudah jelas mengatakan kalau kita akan menggunakan kamar yang terpisah.”

Yool membenarkan, tapi ia tak pernah mengatakan kalau kamar ini akan menjadi kamar Da Jung. Da Jung tak mau kalah di kontrak juga tidak disebutkan kalau ini akan menjadi kamar Yool.
Da Jung tak mau keluar dari kamar ini. Ia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. “Bagaimana pun aku tak akan keluar dari kamar ini, jadi anda lakukan saja sesuka anda.”

Yool tak menyangka Da Jung akan seberani itu, “Apa kau ingin mengepung kamar ini seperti para wartawan?” Da Jung menilai Yool pintar menebak. Da Jung kembali menyuruh Yool keluar dari kamar.
Da Jung berdiri “ngomong ngomong….” ia bejalan maju membuat Yool terkejut dan mundur hingga terpojak, “Kau dan aku berbagi kamar, kemudian berbagi tempat tidur.”
Da Jung mengunci tubuh Yool menatapnya nakal, “Anda tidak berpikir apa yang selanjutnya akan terjadi kan?”

Yool menahan marah, “apa yang kau lakukan?”

Da Jung : “Saya melakukan apa yang sudah anda ajarkan pada saya, perdana menteri.”
Yool menahan kesal, “Baik. Jadi kau ingin bersikap seperti ini? Nam Da Jung, tunggu saja!” Ia pun mengalah dan keluar dari kamar. Da Jung kegirangan karena berhasil mendapatkan kamar untuk istirahat, “Yes akhirnya aku bisa bernafas lega….!”

Da Jung melihat ponsel Yool bunyi, ada yang meneleponnya.
Yool berada di ruang kerjanya, ia terus-menerus menggerutu. “Ah aku bisa gila. Aku bahkan tak bisa masuk ke kamarku. Mulai sekarang, bagaimana aku bisa hidup?”

Yool berpikir, “Benar juga. Aku akan menulis kontrak yang baru lagi. Kali ini aku akan menulis dengan sangat hati-hati dan terperinci. Aku akan menulisnya sesuai keinginaku.”
Da Jung keluar kamar tergesa-gesa setelah menjawab telepon perdana menteri. Ternyata itu telepon dari Sekretaris Seo Hye Joo.

“Nam Da Jung, dengarkan baik-baik apa yang kukatakan dan sampaikan pada perdana menteri. Ada mata-mata disana. Aku belum tahu siapa, tapi yang jelas ada mata-mata. Kau tak boleh mempercayai siapapun.” 

Da Jung melihat Yool keluar dari ruang kerja, “Perdana menteri!” panggil Da Jung tergesa-gesa dan panik. 
Yool pun akan mengutarakan perihal memperbaharui kontraknya dengan Da Jung. Ia ingin menambahkan beberapa hal dalam kontrak itu. Da Jung heran, kontrak?
Da Jung melihat disana ada dua pengawal perdana menteri yang lewat dan melihat keduanya. Yool mengatakan kalau perbaharuan kontrak akan dimulai dari pasal 3 dimana kewajiban suami disebutkan. Da Jung yang cemas meminta Yool jangan mengatakan apapun. Yool yang belum tahu apa yang terjadi meminta Da Jung mendengarkan apa yang akan ia katakan.

Yool : “Sepertinya kau tak senang dengan kontraknya tapi itu harusnya direvisi jika dibutuhkan.”

Da Jung memberi tanda agar Yool diam, tapi Yool terus saja nyerocos perihal kontrak itu. Da Jung membungkam mulut Yool dengan tangan kanannya. Yool menyingkirkan tangan kanan Da Jung. Da Jung kembali membungkam mulut Yool dengan tangannya tapi Yool kembali menyingkirkan tangan Da Jung. Ia memegang kedua tangan Da Jung agar tak membungkam mulutnya lagi. “Perdana menteri…!”

Da Jung panik, ia takut kalau Yool mengatakan hal yang tidak-tidak dan didengar oleh dua pengawal itu, yang mungkin saja mata-mata yang dimaksud Hye Joo.

Yool terus saja ngoceh mengatakan kalau ia ingin menulis ulang kontrak mulai dari pasal tiga. “Aku akan membuatnya sejelas mungkin. Jika ada sesuatu yang terjadi dan itu tidak tertulis dalam kontrak....”
Da Jung yang panik dan tak tahu harus bagaimana lagi menghentikan ocehan Yool. Tanpa pikir panjang lagi Da Jung langsung menutup mulut Yool dengan mulutnya…. Ah….

Yool kaget bukan main mendapatkan kecupan yang begitu tiba-tiba. Yool hanya bisa terdiam mematung…

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar