Kamis, 06 Februari 2014

Sinopsis Prime Minister and I Episode 6 Part 2


Da Jung mengunjungi ayahnya di rumah sakit. Ia memberikan hadiah natal berupa syal berwarna merah pada ayahnya. Ayahnya tanya dimana PM apa benar-benar sibuk. Da Jung menajwab tentu saja sibuk, dia bilang minta maaf karena tak bisa datang. Da Jung memuji warna syal itu cocok untuk ayahnya.

Ayah menarik nafas, “karena itu-lah para wanita tak pernah meninggalkan aku. Aku hampir gila mendengarnya.” Da Jung tertawa. Da Jung bertanya apa ayahnya sekarang baik-baik saja. Ayah heran dan langsung marah apa Da Jung sering menangis.
Ayah memperhatikan syal yang ia pakai, apa hanya ini hadiah natal untuknya. Apa tak ada lagi hadiah yang ingin Da Jung berikan untuknya. “Apa kau tak tahu apa yang kuinginkan? Karena kau sudah menikah, seharusnya sudah ada beritanya. Meskipun kau tak peduli dan tak mau merencanakannya, lalu kapan kau mau punya anak?”

Da Jung berkata lirih dan mengingatkan ayahnya agar bicara pelan-pelan saja. Ayah pun bicara lirih, ia mengatakan kalau dirinya sering mengalami yang namanya morning sick, ternyata kau jauh dari harapan. Hanya dua saja ya, laki-laki, perempuan.
Tiba-tiba ayah terkejut melihat seseorang yang lewat. Seorang pasien yang duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. “Pria yang selalu mengikuti PM Kwon Yool, tunggu, dia itu… oh iya, Pria itu adalah kakaknya.”

Da Jung memperhatikan pria yang dimaksud ayahnya, “orang itu apa kakaknya ketua Kang?”

Ayah tanya apa yang Da Jung lihat, kalau sudah selesai memberikan hadiah untuknya cepat pulang sana. “Apa kau tak ingin pergi dan menemani perdana menteri?” Da Jung bilang seperti yang ayah katakan, ia sudah memberikan PM pelukan sebagai dukungan untuk hari ini.
Da Jung mengumpulkan istri para Menteri disebuah kafe untuk membicarakan tentang kegiatan mereka. Ibu-ibu itu tampak kurang suka karena pertemuan Lily Club dilaksanakan di tempat seperti ini.

Yoon Hee terkejut, “apa kau bilang kita harus membuat boneka ini?”
Da Jung membenarkan, “Setelah bertemu dengan kalian kemarin, aku mungkin tidak terlalu banyak berpikir. Sebagai ketua Lily club, aku rasa aku harus menunjukan tanggung jawabku. Hanya ada satu cara, melakukan pekerjaan tangan.”

Yoon Hee mencibir sambil menahan marah, “Jadi maksudmu kita disuruh membuat boneka? Apa kau mengumpulkan kita disini hanya ingin mengatakan hal itu?”
Da Jung mengiyakan, ia menunjukan boneka katak yang sudah jadi. “Boneka yang kita buat ini akan diberikan pada anak-anak penyandang cacat yang membutuhkan fasilitas dan perhatian dunia. Jadi dengan satu jahitan berikan yang terbaik dan anggap saja sebagai buatan anda yang paling menakjubkan. Buat 50 boneka per orang.”

Ibu-ibu kaget, 50?
Da Jung membenarkan setiap anggota membuat 50 boneka. Akan lebih baik jika masyarakat tidak menyadari kerja keras yang dilakukan oleh wanita special dan wanita super sibuk, benar kan? Karena itulah ia mengundang ibu-ibu ini untuk datang.

“Kemarilah perkenalkan diri kalian!” panggil Da Jung pada seseorang.
Tara… munculah Boss Go dan Hee Chul dari Scandal News. Ibu-ibu kaget melihat reporter dari berita selebritis muncul disana. Boss Go menyampaikan bahwa pekerjaan yang sangat mulia ini akan diberitakan secara eksklusif oleh Scandal News yang selalu mendapatkan perhatian dari masyarakat dan menjadi yang utama.
“Ini tidak akan eksklusif.” sahut Reporter Byun muncul diantara Boss Go dan Hee Chul. “Koran harian yang terkenal di Korea, satu berita dengan sejarah panjang dan tradisinya, aku Reporter Byun Woo Chul dari koran Goryeo Ibo. Kerja keras ini akan diserahkan pada kalian yang terbaik. Aku yakin akan memberitakannya dengan sangat baik dan bertanggung jawab.”
Da Jung kembali melanjutkan bahwa sebagai ketua ia akan mentraktir mereka semua, jadi makanlah sesuka hati mereka. “Ini sandwich yang hangat dan enak sekali.” Sahut Da Jung mengambil satu sandwich dan melahapnya.
Ibu disebelah Yoon Hee berbisik, “Ny Na, haruskah kita melakukan hal ini?”

“Ah dasar wanita ini, dia bahkan memanggil wartawan. Benar-benar tak mudah melawannya.” Ucap ibu di sebelahnya lagi.

Yoon Hee melirihkan suaranya, “Berani-beraninya dia membuatku malu seperti ini.”
Hee Chul dan Reporter Byun langsung pasang aksi untuk mengambil gambar mereka, 1, 2, 3, tangan.. tangan… senyum… senyum. Para ibu ini langsung action se-cute mungkin dan tersenyum manis. Da Jung pun berpose ala Yoona 'Girls Generation' hahaha...
Sekretaris Seo mengatakan kalau jadwal Yool pada tanggal 24 desember adalah mengunjungi pasar-pasar sampai siang hari, panti asuhan, panti jompo, tempat pemadam kebakaran dll. Banyak sekali tempat yang menunggu untuk dikunjungi oleh perdana menteri.

Yool usul bagaimana kalau jadwal itu diubah ke jam yang lebih pagi, “jika kita melakukannya, kita akan selesai tepat jam 6 sore kan?”

“Jam 6 sore? apa ada alasannya?” tanya Hye Joo.
Yool berkata kalau ia akan datang ke acara festival di sekolahnya Man Se. “Bagi anak-anak aku mungkin kurang perhatian pada mereka.”

Hye Joo menilai itu rencana yang bagus. Ia mengatakan kalau ia sudah menyiapkan hadiah natal untuk anak-anak seperti tahun-tahun sebelumnya. Yool bilang tak usah, “Kau tak perlu menyiapkannya, Nam Da Jung yang akan menyiapkan hadiah untuk mereka.”

“Nam Da Jung?” Hye Joo terkejut.

Yool berkata, “setelah kejadian dengan istri Menteri Park Joon Ki waktu itu aku banyak berpikir. Selama ini aku mungkin tergantung padamu. Kau mungkin merasa terbebani dan aku bertanya-tanya apa karena itu kau terlalu sensitif akhir-akhir ini.”

Hye Joo bilang bukan seperti itu, ia tak merasa begitu. Itu karena…. Hye Joo tak jadi mengatakannya.

Yool melihat kalau selama ini Hye Joo sudah terlalu bekerja keras untuknya. “Aku sangat berterima kasih dan minta maaf. Tapi mulai sekarang aku akan berusaha lebih keras lagi agar kau tidak merasa terbebani.” 
Hye Joo kembali ke meja kerjanya. Ia menatap hadiah yang sudah ia siapkan untuk anak-anak. Ia yang marah, sedih, dan kecewa pun menyimpan kembali hadiah itu. Teringat ucapan perdana menteri padanya tadi, “Kau tak perlu menyiapkan hadiah untuk mereka. Nam Da Jung yang akan menyiapkan hadiahnya.” 
Man Se senang sekali mendengar kalau ayahnya akan datang ke acara Festival Natal di sekolahnya. Da Jung membenarkan ia juga akan ikut pergi kesana. Man Se jingkrak-jingkrak kegirangan.
“Itu tidak mungkin.” sahut Na Ra. “Ayah bahkan tak pernah datang ke acara sekolahku. Ayah keterlaluan, aku tak akan memaafkannya.” ucap Na Ra marah. (Na Ra sepertinya merasa iri karena kali ini ayah mereka menjanjikan datang ke acara sekolahnya Man Se)
Man Se mengajak Da Jung menghias pohon natal. Karena saking bahagianya, Man Se latihan menari sementara Da Jung menghias pohon natal. Na Ra yang kesal malah merusak pohon natal yang tengah Da Jung hias. Da Jung pun berusaha bersikap sabar menghadapi anak itu.
Da Jung mendatangi toko peralatan musik. Ia melihat-lihat gitar, tapi oh tidak harganya mahal-mahal. Ia pun membeli selempangan gitarnya saja (ga tahu apa namanya hahaha). Ia memilih model yang paling bagus sebagai hadiah natal yang akan ia berikan pada Woo Ri.
PM sampai di rumah dan masuk kamar. Ia terkejut melihat Da Jung tertidur akibat kelelahan karena membuat boneka katak untuk Man Se. Yool hanya bisa menarik nafas melihat Da Jung yang tidur seenaknya dengan kain boneka dan dacron berserakan disana-sini diatas tempat tidur. Yool seakan tak peduli tapi ia melihat boneka yang Da Jung buat belum jadi.
Yool pun mencoba menyelesaikan menjahit boneka itu. (huwaa Appa, the best deh hahaha) 
Boneka itu pun sudah jadi hihi… Da Jung terbangun dan terkejut melihat boneka itu sudah jadi. Ia tersenyum menebak kalau ini pasti Yool yang menyelesaikannya. (eh lihat bahkan posisi tidur Da Jung pun jadi berubah gini. Hmm jangan-jangan PM yang benerin posisi tidurnya Da Jung lagi hahaha)
Tiba saatnya bagi mereka bersiap-siap untuk berangkat ke acara festival malam natal di sekolahnya Man Se. Da Jung menyuruh Woo Ri dan Na Ra untuk cepat ganti baju. Woo Ri yang tengah membaca bilang kalau ia tak mau pergi. Na Ra yang bermain notebook pun mengatakan kalau ia juga tak akan pergi kesana, Da Jung saja yang pergi sendiri.

Da Jung akan merebut notebook di tangan Na Ra. Tapi Na Ra menangkap tangan Da Jung dan tersenyum mengejek.
Da Jung mengingatkan kalau Na Ra tak datang pasti akan menyesal. “Kau pasti akan menyesalinya jika tidak datang. Kau tahu, akan ada hadiah untukmu.”

“Hadiah apa?” Na Ra penasaran.

Da Jung bilang kalau Na Ra ingin tahu ikut dulu ke Festival, Lalu ia akan memberikan hadiah itu pada Na Ra. Na Ra kesal mendengarnya, karena Da Jung memanfaatkan itu.
Da Jung beralih ke Woo Ri, “Dan kau Kwon Woo Ri, aku tahu apa yang kau lakukan selama ini. Kau punya band kan?”

Woo Ri kaget Da Jung mengetahui itu, “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tentu saja aku tahu.” jawab Da Jung. “Dan akan ada pertunjukan kan? Bagaimana kalau perdana menteri tahu ya? Konser tanpa vokalis, pasti akan sangat sulit kan?”

“Apa kau mengancamku?” Woo Ri menahan jengkel.

“Benar sekali.” jawab Da Jung santai. “Benar sekali. Jadi kau mau ikut kan?”
Da Jung menerima telepon dari Yool. Ia terkejut mendengar sesuatu dari Yool, “Apa anda bilang?” Da Jung bicara menjauh dari anak-anak. Da Jung bicara lirih dan bertanya apa maksud perkataan Yool.

Yool yang masih berada di kantor mengatakan kalau Presiden tiba-tiba akan mengunjungi kantor perdana menteri. Da Jung panik, lalu Man Se bagaimana. Yool berkata kalau ia akan berusaha mencari cara tapi ia tak bisa janji, bisa atau tidaknya.

“Perdana menteri?” Da Jung cemas.

Hye Joo masuk ke ruangan Yool memberi tahu kalau Presiden sudah datang. Yool bilang kalau ia akan keluar sebentar lagi. Yool kembali bicara dengan Da Jung, ia akan menelepon Da Jung lagi nanti. Ia harap Da Jung berangkat lebih dulu saja dengan anak-anak. Telepon pun ditutup.
Da Jung cemas dan panik, “Ya ampun.. mau Presiden atau bukan yang berkunjung ke kantor, dia seharusnya menepati janji.” Da Jung berusaha menghubungi Yool lagi tapi ponsel Yool tak aktif.

Da Jung pun meminta ahjumma untuk pergi ke sekolah Man Se lebih dulu dengan anak-anak, ia akan menyusul kesana. Ahjumma heran kenapa Da Jung begitu cemas dan panik.
Woo Ri masuk ke kamarnya dan menelepon seseorang. Ia celingukan aman atau tidak untuknya menelepon. “Samchoon, ini aku.” (woo Ri menelepon Menteri Park)

Menteri Park Joon Ki terkejut mendengar sesuatu dari Woo Ri. “Benarkah?” Ia pun mengerti dan mengatakan kalau ia sekarang sedang makan. Ia akan bicara lagi dengan Woo Ri nanti.
Park Joon Ki tengah makan malam bersama istri dan mertuanya. Ia minta maaf pada ayah mertuanya karena menjawab telepon di tengah makan mereka. Ayah Na Yoon Hee (saya nyebutnya Presdir Na aja ya-kejutan banget bisa liat Om Lee Duk Hwa hehehe) Presdir Na bertanya apa perdana menteri Kwon Yool sedang menyelidiki pusat pelabuhan internasional di teluk Geum Cheong. Joon Ki meminta mertuanya tak perlu khawatir, ia akan mengatasi masalah ini.

Presdir Na percaya pada kemampuan menantunya, ia yakin kalau Joon Ki pasti bisa mengatasinya, kalau tidak bisa ia mungkin akan turun tangan sendiri. Ia berpesan agar Joon Ki melakukannya dengan baik. “Aku yang merawatmu, jadi aku harus melindungi kekayaanku. Sebagai Jindo (anjing penjaga) yang melindungi uangku. Itulah peranmu.”
Joon Ki : “Alasan kenapa menjadi Jindo mungkin pilihan terbaik, karena dia hanya bisa memiliki satu majikan. Meskipun begitu, aku bukan orang yang bisa menjadi jindo.”

Yoon Hee cemas kenapa suaminya mengatakan itu di depan ayahnya. Presdir Na meminta Joon Ki melanjutkan ucapan itu.

Joon Ki pun melanjutkan bahwa dalam hidup ada masanya si anjing akan menggigit majikannya. “Aku berkata seperti ini agar anda tahu bahwa tidak ada salahnya untuk berhati-hati.”

Presdir Na tertawa mendengarnya. Joon Ki permisi, ia harus pergi lebih dulu. (Sumpeh perannya Om Lee Duk Hwa nyebelin mulu >_<)
Yoon Hee kesal kenapa ayahnya selalu begitu. “Aku meminta ayah untuk membantuku berbaikan dengannya. Aku tak meminta ayah untuk menghancurkannya seperti ini. Ah aku tak tahan lagi.”
Kunjungan kenegaraan Presiden di kantor perdana menteri pun usai. Presiden mengajak PM makan malam bersama. Tapi PM minta maaf ia tak bisa karena harus segera pergi. Presiden heran dengan penolakan PM, kenapa? Apa PM sudah punya rencana malam ini. PM mengatakan kalau ia sudah bernjanji pada putra bungsunya, hari ini ia tak ingin mengecewakan putranya. Presden pun ingat, benar juga ya ini kan malam natal. Ia pun tak masalah, mungkin lain waktu ia bisa makan malam bersama PM. Presiden dan rombongan pun pergi.

Yool tanya ke Hye Joo berapa banyak waktu yang tersisa sebelum acara Festival di sekolah Man Se dimulai. Hye Joo mengatakan kalau masih ada 20 menit lagi. In Ho menyampaikan kalau ia sudah menyiapkan mobil untuk menunggu Yool di depan pintu masuk, jadi sebaiknya mereka lekas pergi.
“Perdana mentri!” panggil Da Jung tiba-tiba sampai disana. Yool terkejut dan heran bagaimana Da Jung bisa sampai disini. Da Jung mengatakan kalau ia sengaja datang kesini untuk menyeret Yool. Apa Yool pikir masuk akal, tidak bisa datang ke festival hanya karena presiden. Yool kesal, bukankah ia bilang akan mencoba mencari cara. “Dimana sih pikiranmu, bisa bisanya kau mau menyeretku?”
In Ho mengingatkan kalau mereka tak punya banyak waktu, sebaiknya cepat pergi. Da Jung yang panik menarik Yool untuk segera pergi. Hye Joo yang ditinggal di kantor hanya bisa menatap kepergian mereka.
Man Se yang sudah mengenakan kostum tari berlatih kesana kemari dengan senyum gembira karena ayahnya akan datang menonton. Ahjumma dan kedua kakaknya sudah datang. Man Se tanya mana ayahnya dan Da Jung. ahjumma bilang kalau mereka sebentar lagi akan datang jadi Man Se tak usah khawatir.

Na Ra berbisik pada oppa-nya, “Aku berani bertaruh 10rb won, ayah tak akan datang.” Woo Ri diam saja. 
Karena menjelang natal jalanan pun macet. Mobil perdana menteri pun terjebak macet. Da Jung panik apa yang harus mereka lakukan karena acaranya sebentar lagi akan dimulai.
Da Jung ngomel pada Yool kenapa sebagai perdana menteri Yool tidak meminta petugas untuk memblokir jalan, kalau Yool membiarkan mereka melakukan itu kita tak akan terjebak macet seperti ini. Yool berkata kalau ia tak bisa memblokir jalan hanya karena ingin datang ke acara sekolah TK. Da Jung membenarkan tapi ini situasi yang darurat. Yool mengingatkan pemblokiran jalan memang harus dilakukan jika saat darurat saja, “Kau harus mematuhi prinsip sendiri.” Da Jung jadi kesal.
Yool ingat bukankah Da Jung pernah bilang tahu semua jalan pintas yang ada di Seoul. Apa ada jalan pintas yang menuju TK. Da Jung yang kesal bilang tidak ada, semua jalanan akan macet di jam-jam seperti ini, kemanapun jalannya. Ah Man Se bagaimana ini? Da Jung semakin panik.
In Ho mengakitfkan GPS di ponselnya untuk mencari tahu letak TK YuSul. In Ho pun mengatakan ada jalannya, pertama kita keluar saja dari mobil. Da Jung tanya kita akan kemana.

In Ho : “Karena jalanan macet hanya ada satu cara.”

Da Jung sepertinya tahu maksudnya.
Rombongan Perdana menteri pun menuju stasiun kereta api bawah tanah. Hal ini tentu saja mengejutkan bagi penduduk Seoul yang berada di stasiun. Perdana Menteri tiba-tiba datang ke stasiun mau naik kereta api yang terkenal berdesak-desakan. Dua pengawal PM, mencoba menyisir jalan agar Yool bisa lewat dengan cepat.
Rombongan pun naik kereta, di dalam kereta tak kalah hebohnya. Penumpang kaget melihat perdana menteri dan rombongan naik Subway. In Ho mengajak meraka maju ke gerbong depan.

Karena ini pemandangan langka banyak dari penumpang yang mengabadikannya dengan ponsel mereka. Jeprat jepret deh..

Wah itu PM… itu PM

Banyak yang ingin salaman juga hahaha… Yool dengan senyum ceria menyapa mereka ramah sambil terus menuju gerbong depan.

Lihat itu lihat itu, perdana menteri.
Sementara itu, acara Festival baru saja dimulai.
Di dalam kereta, para penumpang yang melihat keberadaan perdana menteri mereka di subway langsung deh update di Sosmed mereka.

Wow daebak, aku melihat perdana menteri Kwon Yool naik kereta api hari ini.
Karena kereta yang sesak dan terus bergerak, Da Jung jadi kehilangan keseimbangan dan terdorong ke pelukan In Ho. Yool tak enak dilihatin semua orang begitu. Ia pun menarik Da Jung untuk tetap berdiri di sebelahnya. Ia mengingatkan kalau keduanya seharusnya berpegangan seperri ini di depan publik. In Ho berkata mereka harus turun di setasiun ini.
Mereka pun bersiap akan turun tapi karena kondisi kereta yang berdesak-desakan sepatu Da Jung terlepas, “Perdana menteri tunggu sebentar!” Dan hasilnya pintu kereta pun kembali tertutup. Yool, Da Jung dan In Ho masih terjebak di dalam kereta.

Pengawal yang berhasil keluar berteriak cemas, “Perdana menteri bagaimana ini?” Kereta pun kembali berjalan menuju stasiun berikutnya.
Ketiganya panik. Da Jung yang panik bertanya apa yang harus dilakukan karena mereka tak boleh terlambat datang ke acara. Yool mengomeli Da Jung, “ini semua salahmu. Kau yang menaggung konsekuensinya kalau kita terlambat menyaksikan pertunjukannya.”

“Apa?” Da Jung tak terima disalahkan. In Ho berbisik mengingatkan tidak penting siapa yang salah disini.
Di acara pertunjukan, tiba saatnya bagi kelompok Man Se yang akan tampil. Na Ra yang heran bertanya pada oppa-nya kenapa ayahnya lama sekali, apa mereka tak jadi datang.

Woo Ri : “Apa kau pikir ayah akan benar-benar datang? Ayah tak akan datang. Ayah bukan orang yang mau datang ke acara seperti ini.”
Man Se melihat dari balik panggung ayahnya dan Da Jung belum juga datang. “Dimana ayah dan ahjumma?” 

Guru Man Se menyuruh Man Se untuk siap-siap karena sebentar lagi akan tampil.
Man Se pun naik ke panggung bersama teman-teman sekelasnya. Ahjumma dan Woo Ri celingukan menanti mereka yang tak kunjung datang. Man Se melihat kursi yang disiapkan untuk ayahnya dan Da Jung masih kosong. Ia mengingat ucapan Da Jung yang mengatakan kalau ayah Man Se pasti akan datang bahkan Da Jung sendiri pun berjanji akan datang ke acara festival itu.

“Pembohong.” Man Se menunduk sedih. Musik mengalun tapi Man Se diam saja tak segera menari, ia malah menangis. “Ayah dan ahjumma berbohong padaku.” Man Se menagis tanpa suara, hanya air matanya yang terus mengalir. Woo Ri dan Na Ra khawatir melihat adiknya seperti itu.
Dan tepat saat itu, PM Yool dan Da Jung sampai disana. PM akan duduk di kursi milik orang tua lain, tapi Da Jung menariknya, eh salah tempat disana. Keduanya pun segera ke kursi yang sudah disiapkan dimana ada ahjumma, Woo Ri dan Na Ra. Man Se melihat ayahnya dan Da Jung baru saja datang.
Para orang tua yang hadir disana terkejut melihat kedatangan perdana menteri di acara itu. Woo Ri dan Na Ra tak menyangka kalau ayah mereka benar-benar datang. In Ho berdiri menunggu tak jauh dari sana.
Yool dan Da Jung yang sudah duduk tersenyum melihat Man Se berdiri di atas panggung. Man Se berdiam diri menatap ayahnya dan Da Jung. Da Jung melambaikan tangannya pada Man Se. Yool memberi kode pada Man Se untuk segera menari jangan diam saja. Man Se tersenyum, ia mengusap air matanya dan segera mengikuti gerakan yang sama seperti teman-temannya. Yool tersenyum melihat penampilan putra bungsunya di panggung.
Da Jung menoleh ke belakang dimana ahjumma, Woo Ri dan Na Ra duduk. Ahjumma tersenyum pada Da Jung, ia sepertinya senang karena Da Jung sudah menepati janji akan datang bersama PM.

Da Jung senang karena Woo Ri dan Na Ra datang padahal sebelumnya mengatakan tidak mau datang. Woo Ri cuek saja. Na Ra bilang kalau ia datang bukan karena menginginkan hadiah natal, tapi untuk Man Se. Da Jung tersenyum mendengarnya.
Da Jung memandang Yool yang terus memperhatikan penampilan Man Se di panggung. Yool tersenyum bahagia.
Acara pun usai, ada ibu-ibu yang ngajak foto berang perdana menteri dan berjabat tangan. Mereka senang bisa melihat perdana menteri meraka secara langsung. Yool pun membolehkannya hehehe.
“Ayah!” panggil Man Se tersenyum senang. Ia berlari ke arah ayahnya. Melihat anak itu berlari ke arahnya Yool jongkok membuka tangan dan menyambut Man Se ke dalam pelukannya. Ia memeluk putranya erat. Kedanya tersenyum. Yool bahagia karena bisa memeluk putranya.
Da Jung yang melihat pemandangan ini tak kuasa menahan air mata bahagianya.
Seo Hye Joo yang berada di lingkungan kampus menerima telepon dari perdana menteri. Ia mengatakan kalau malam natal ini ia sedang bertemu dengan teman-teman lamanya. “Kelihatannya anda sibuk sekali, aku tadi tak sempat mengucapkan selamat natal sebelum anda pergi. Maafkan aku. Ya perdana mentri, aku harap anda juga menikmati malam natal anda.” (padahal Hye Joo sekarang sendirian ya, tapi siapa tahu dia disini beneran ketemu temen lamanya)

Tanpa Hye Joo ketahui ternyata Menteri Park Joon Ki juga berada ditempat yang sama. Keduanya sama-sama tak menyadari satu sama lain.
Park Joon Ki masuk ke sebuah ruangan grup belajar politik korea. Ia tersenyum masuk ke ruangan itu.

Joon Ki duduk di tempat dimana ia dulu belajar bersama rekan-rekannya. Disana tampak beberapa buku yang tertumpuk di meja. Ia melihat di sampingnya ada gitar. Ia pun memainkan gitar itu dan kenangan akan masa lalunya pun kembali tebayang.

Flashback
Seorang gadis muda masuk ke ruangan dimana ada seorang pemuda yang memainkan gitar disana. Gadis itu bertanya apa ada seseorang yang bernama Kwon Yool disini. Pemuda itu mengatakan kalau Kwon Yool sedang tak ada disini.

“Hei anak kecil, siapa kau? Kenapa mencari Yool?” tanya pemuda itu.
“Aku Seo Hye Joo. Sunbae-nim kau sendiri siapa?” tanya gadis itu yang ternyata Hye Joo ketika muda. 

Pemuda itu terkejut dipanggil sunbae oleh Hye Joo. “Dari wajahmu kelihatannya kau masih SMP, kenapa aku bisa jadi sunbae-nim mu?”

Dengan lantang dan penuh percaya diri Hye Joo mengatakan ia yakin kalau dirinya akan diterima di universitas ini. Maka dari itu ia menyebut pemuda itu dengan sebutan sunbae.
Pemuda itu pun mengenalkan namanya, “Aku Park Joon Ki senang bertemu denganmu, hoobae.” Keduanya pun berjabat tangan dan tersenyum.

Flashback end
Joon Ki berjalan di sekeliling tempat itu sendirian mengenang masa lalu. Ia terkejut melihat Hye Joo ternyata juga ada disana. Hye Joo pun juga sama tekejutnya, ia tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan seniornya disini di malam natal ini.

“Bagaimana anda tahu aku disini?” tanya Hye Joo heran.

Joon Ki diam dan bersamaan itu turunlah salju yang menambah indahnya malam natal ini.
Hye Joo tersenyum melihat salju yang turun, “Mereka bilang akan ada hujan salju malam ini.” Ucapnya.

“Aku tahu.” Sahut Joon Ki. “Ini adalah hadiah yang tak terduga.”

Keduanya saling memandangan dengan jarak berdiri yang tak cukup dekat sambil dikelilingi hujan salju. (alamak entah kenapa nih adegan kok romantis ya)
Mereka sampai di rumah, Man Se melihat ada kado natal untuknya, ia segera membukanya dan itu adalah boneka katak yang lucu, Man Se senang sekali dengan hadiah natalnya.
Na Ra tersenyum mendapatkan hadiah natal, senyumnya semakin lebar tatkala ia tahu apa yang menjadi hadiah natalnya. CD album dari idol kesayangannya, Yuri hehehehe.
Para pengawal pun mendapatkan hadiah natal yang sama. Masing-masing dari mereka mendapatkan dasi merah yang cantik. Mereka pun langsung memakainya. Bukan hanya pengawal, supir Shim juga mendapatkan dasi merah itu.
Ahjumma juga mendapatkan hadiah natal, ia mendapatkan celemek pink yang sangat cantik. Ia senang sekali mendapatkannya.
Woo Ri melihat ada kotak hadiah di meja kamarnya. Ia membuka itu dan ada selempang gitar yang bagus untuknya sebagai hadiah natal.
Malam ini para pengawal dan penjaga memakai dasi merah hadiah natal mereka. Hihi keren… Mereka tersenyum senang karena ikut kecipratan hadiah natal meskipun hanya sebuah dasi.
Kang In Ho juga mendapatkan hadiah natal. Ada Kartu ucapan dari Da Jung.

Hari itu pasti akan datang saat kau bisa bermain catur bersama kakakmu, aku yakin. Aku berharap, malaikat penjagaku akan mendapatkan keajaiban natal. Selamat natal.

In Ho tersenyum mendapatkan kado natal dari Da Jung berupa catur dan ucapan selamat natal. Ya ya ya semua hadiah itu Da Jung yang menyiapkannya.
Da Jung dan PM ada di kamar menikmati minuman hangat mereka. Yool memuji kalau Da Jung sudah bekerja keras menyiapkan hadiah natal untuk semua orang. Da Jung berkata kalau Yool juga menyiapkan setengahnya dari apa yang ia lakukan. “Anda menjahit bonekanya, kan?”
Yool heran, “Kenapa hanya aku yang tidak dapat hadiahnya?” (hahaha ngarep nih ye)

Da Jung juga pengen hadiah natal, “Kalau begitu apa ada hadiah untuku? Apa anda menyiapkan sesuatu?” 

Yool tertawa, benar juga. Karena Yool sendiri sepertinya tak menyiapkan hadiah apapun untuk Da Jung.
Da Jung tiba-tiba menunjukan sebuah buku pada Yool. Yool heran apa buku ini hadiah yang Da Jung siapkan untuknya, Hikayat 1001 malam (Arabian Nights) Yool ingat kalau buku itu berasal dari ruang kerjanya. Bagaimana ini bisa jadi hadiah?
Da Jung : “Hadiah dariku adalah aku akan membacakannya untuk anda.”

Yool : “Apa?”

Da Jung : “Perdana menteri, anda menderita insomnia kan? Aku menyadarinya saat anda bekerja sepanjang malam, tanpa tidur. Karena kita sekarang sudah menggunakan kamar yang sama, supaya anda tak mendengar dengkuranku anda harus tidur lebih dulu. Jadi mulai sekarang, aku akan membacakan buku ini untuk anda.”
Da Jung segera duduk ke tempat tidur. Yool berkata kalau ia tak ingin menerima hadiah dari Da Jung. Da Jung berkata apa Yool tega mengabaikan kerja kerasnya ini. “Cepat sini!” perintah Da Jung meminta Yool duduk di sebelahnya. Yool diam saja. Da Jung memaksa, “Aku bilang cepat kesini!” Yool pun tak menolak dan duduk di sebelah Da Jung di tempat tidur yang sama.
Sebelum mulai bercerita Da Jung ingin tahu kenapa Yool mengalami kesulitan tidur. Yool bilang kalau itu bukan urusan Da Jung, kalau Da Jung bertanya begitu mending tak usah membacakan cerita. Da Jung pun mengerti ia tak akan bertanya lagi.
Da Jung pun mulai bercerita, menceritakan Hikayat 1001 Malam.

Pada suatu hari seorang Sultan bernama Syahriar hidup di negeri Persia. Sang Sultan terkejut saat menyadari istrinya tak setia padanya. Setiap malam, dia mencari wanita demi mendapatkan pendamping, sekaligus melupakan luka di hatinya. Lalu dia selalu membunuh mereka keesokan harinya.

Sampai suatu ketika, seorang putri penasehat cerdas, Scherazade mengatakan, ayah bolehkah aku menjadi istri sang sultan…..
Yool yang tiduran sambil memejamkan mata bertanya lalu apa yang terjadi selanjutanya. Da Jung diam saja. Yool tanya lagi kenapa Da Jung tak membacakannya lagi.
Yool membuka mata dan melihat Da Jung tertidur sambil memegang buku dengan kepala miring sana miring sini. Yool tertawa melihatnya dan mengambil buku itu. Ia membaca sendiri kelanjutan kisah itu. Ia membacanya dalam hati.
Ketika aku tak bisa menyingkirkan kebencian dan ketidakbahagiaanku, dan kemarahanku yang tidak bisa dihentikan dengan kezaliman. Dia adalah orang yang menyelamatkanku. Seseorang yang datang padaku ketika aku tak bisa tidur.....
Pluk… kepala Da Jung tiba-tiba tersandar ke bahu Yool. Yool terkejut dalam diamnya.

Yool menoleh ke samping untuk menatap Da Jung, “Scheherazade-ku.”

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar