Kamis, 06 Februari 2014

Sinopsis Prime Minister and I Episode 8 Part 2


Da Jung menemui dokter yang merawat ayahnya. Dokter menyampaikan hasil kemoterapi ayah Da Jung sangat bagus. Ayah Da Jung juga melakukannya baik. Da Jung lega mendengarnya dan berterima kasih pada dokter.


Da Jung menyadari kalau dirinya jarang mengunjungi ayahnya dan ia juga tak melakukan apapun yang terbaik untuk ayahnya. Ia kembali mengucapkan terima kasih pada dokter.

Dokter berkata tak perlu berterima kasih begitu, karena Perdana Menteri juga sudah berusaha melakukan yang terbaik, jadi Da Jung tak perlu khawatir. Da Jung tak mengerti, perdana menteri apa maksudnya. Dokter mengatakan kalau PM sering menelepon dan memperhatikan jadwal pengobatan ayah Da Jung. Ia merasa Da Jung sudah menikah dengan orang yang baik.

Da Jung tak menyangka PM begitu perhatian pada ayahnya dan ia sama sekali tak tahu tentang ini. Da Jung tersenyum senang. 
Yool berada di kamarnya membolak-balikan halaman buku yang tak konsentrasi ia baca. Ia melihat jam tangannya. “Kapan wanita itu pulang?” Yool mengambil ponsel akan menghubungi Da Jung untuk bertanya tapi gengsi-nya gede, ga jadi deh. “Ah aku rasa dia pasti akan pulang kalau dia memang mau pulang.” (hahaha)
Boss Go dan Hee Chul masih di rumah sakit untuk menyelidiki Da Jung dan In Ho. Boss Go heran kemana In Ho pergi, dia kan bukan hantu.
“Kalian benar-benar keterlaluan.” sahut In Ho mengagetkan Boss Go dan Hee Chul. “Aku tak tahu tentang tempat lain tapi bukankah Scandal News tak seharusnya ada disini?” Boss Go berusaha mengelak, “apa, apa yang kau katakan?”

In Ho : “Apa kalian mengikuti Nam Da Jung dan aku kesini? Kalian ingin tahu apa ada sesuatu diantara kami, benar kan?”

Hee Chul diam saja dan terbatuk-batuk. Boss Go pura-pura mengalihkan pandangan ke arah lain. In Ho menilai tindakan keduanya sungguh keterlaluan. “Bukankah dia (Da Jung) pernah bekerja dengan kalian? Bagaimana bisa kalian melakukan ini? Bagaimana perasaan Nam Da Jung jika mengetahui ini?”

Hee Chul berusaha menjelaskan kalau maksudnya bukanlah seperti yang In Ho sangka. In Ho berkata kalau ia akan pura-pura tak tahu, jadi ia harap Bos Go dan Hee Chul segera pergi dari sini atau haruskah ia memanggil Da Jung kesini.

Bos Go kesal, “Apa kau pikir kami ini orang yang mudah kau suruh datang atau pergi?” Ia pun mengajak Hee Chul pergi dari sana. Sebelum pergi, Hee Chul meminta In Ho untuk merahasiakan pada Da Jung kalau ia ada disini.

Setelah duo Scandal News pergi, In Ho pun bertanya-tanya, “apa yang mewawancarai ayah Da Jung itu wartawan dari Scandal News?”
Da Jung berada di luar rumah sakit. Ia menikmati pemandangan disana. Tiba-tiba ada seseorang yang melempar salju ke arahnya. In Ho yang melakukannya. Da Jung bertanya apa In Ho sudah bertemu dengan hyung-nya In Ho. In Ho menjawab sudah.
Da Jung diam-diam mengambil salju dan gantian melemparkannya ke arah In Ho. Keduanya pun saling lempar-lemparan salju. Lari kesana-kesini tertawa gembira. (Sumpeh kenapa adegan ini harus diiringi lagunya Taemin sih. Itu lagu kan buat Da Jung sama PM kalau lagi berduaan >_<)
Sementara di rumah, Yool menantikan Da Jung yang tak kunjung pulang. Membaca buku yang tak konsentrasi dibaca, berulang kali melihat ponsel, siapa tahu ada sms atau telepon dari Da Jung.
Kembali ke Da Jung dan In Ho yang masih lempar-lemparan salju. Tanpa Da Jung dan In Ho sadari, kebersamaan keduanya dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Reporter Byun mengambil foto keduanya yang tengah bersama.

“Ini benar-benar berita besar!” sahut Reporter Byun mengambil banyak foto dua orang yang tengah bermain lempar-lemparan salju.
Karena bosan sendirian di rumah, Yool pun mengisi waktunya dengan menjahit boneka yang dibuat Da Jung. Hingga jari Yool ketusuk jarum jahit karena saking gelisahnya Da Jung yang tak kunjung pulang.

Yool melempar boneka yang di jahitnya, “Ah kenapa aku duduk disini dan melakukan ini? Ah Dasar…” Yool melihat jam tangannya. “Sudah jam segini kenapa dia belum pulang?” omel Yool. (ngomel apa kangen nih ya)
Yool keluar rumah dan melihat Man Se berdiri di luar rumah menunggu seseorang. Ia menegur putra bungsunya kenapa ada diluar dicuaca sedingin ini. Man Se mengatakan kalau ia menunggu Ahjumma (da jung) Man Se balik bertanya, “Lalu bagaiman dengan ayah? Apa ayah juga menunggu ahjumma?”

Ga mau donk ketahuan kalau dia juga nungguin Da Jung. Yool pun berkata tidak, ia keluar rumah untuk mencari udara segar. Ah segarnya, ucap Yool merasakan hembusan angin dingin. Hahaha.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Man Se berseru kalau Da Jung sudah pulang. Benar saja, Da Jung keluar dari mobil itu disambut pelukan hangat Man Se.
Selain Da Jung, keluar juga dari mobil itu Kang In Ho. Yool terkejut campur heran Da Jung pergi bersama In Ho. “Kenapa kau bisa pulang dengan Ketua Kang?”

Da Jung akan menjelaskan tapi In Ho menyela memberi tahu PM kalau kakaknya juga dirawat di rumah sakit yang sama. Jadi ia meminta Da Jung untuk pergi bersamanya ke rumah sakit. Yool pun baru tahu kalau kakak In Ho sakit dan dirawat di rumah sakit yang sama dengan ayah Da Jung. In Ho berkata kalau mereka terlambat pulang karena jalanan yang macet. In Ho pun pamit pulang.
Da Jung bertanya apa yang Yool lakukan diluar rumah. Yool balik bertanya memangnya kenapa, “Apa kau pikir aku diluar sini untuk menunggumu? Sama sekali tidak. Aku keluar untuk mencari udara segar. Tanyakan saja pada Man Se, benar kan Man Se?”

Man Se menatap bingung hahahaha. Ketiganya pun masuk ke rumah.
Yool dan Da Jung sampai di kamar. Yool duduk di meja kerjanya. Ia bertanya-tanya, kakak In Ho ada dirumah sakit, kenapa In Ho tak memberitahukan itu padanya. Da Jung menilai itu karena bukan berita yang baik, kenapa In Ho harus mengatakannya. Ia sendiri juga mengetahui itu dari ayahnya.

Yool mencari-cari dokumen di meja kerjanya, tapi ia teringat kalau dokumen yang dicari tertinggal di ruang kerja. Da Jung pun segera berlari ke ruang kerja untuk mengambil dokumen yang dimaksud. Yool yang heran berterima kasih.
Ah iya aku ingin minum yang manis-manis….

Da Jung pun langsung menyediakan minuman yang diinginkan Yool. Yool kembali berterima kasih.
Yool bertanya apa Da Jung sudah mengganti tissu kamar mandi. Da Jung langsung lari mengambil tisu dan meletakannya di kamar mandi. Yool semakin heran melihat Da Jung yang tak kenal lelah.
Boneka itu harus dibersihkan dari tempat tidur!

Da Jung pun segera membereskannya.

Bantalnya juga dirapikan… Sofa juga perlu dibereskan…
Da Jung melakukannya tanpa keluhan sedikitpun. Yool aneh melihatnya, “Ada angin apa yang membuatmu mendengarkan semua perintahku?” Da Jung berkata kalau ia akan selalu berbuat baik pada Yool. Yool tak mengerti.

“Bercanda kok,” sahut Da Jung. “Aku hanya sedang senang saja. Apa ada lagi yang harus ku lakukan?” Yool bilang itu saja dan menyuruh Da Jung keluar kamar karena ia akan tidur. Da Jung berkata kalau ia akan membantu Yool agar bisa tidur, baru setelah itu ia keluar kamar.

Yool Heran, membantuku tidur?
Da Jung meminta Yool cepat berbaring karena ia akan membacakan sebuah buku. Yool bilang tak usah lebih baik Da Jung keluar kamar saja.

Da Jung menilai Yool sudah keterlaluan, “Bagaimana bisa anda menolak kebaikan hati seseorang seperti itu?” Yool bilang bukan begitu maksudnya.

“Anda akan berbaring sendiri atau haruskah aku yang membuatmu berbaring?” Ancam Da Jung sambil bergerak maju membuat Yool mundur dan terduduk di tempat tidur.
Yool pun akan berbaring sendiri. Ia segera merangkak dan berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut.
Da Jung heran apa Yool akan tidur dengan pakaian itu, apa tak mau ganti baju dulu. Yool yang gugup bilang tak perlu, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya menyisakan kepalanya saja yang kelihatan.
Da Jung berada di sebelah Yool. Ia mengambil buku melewati tubuh Yool yang berbaring. Da Jung pun melanjutkan membaca Hikayat 1001 Malam.
Saat malam pertama, Scheherazade menceritakan sebuah kisah pada sang Sultan. Cerita tentang saudagar kaya dan Jin.

Jika sultan mengijinkanku hidup keesokan harinya, dengan sennag hati besok malam akan aku ceritakan kisah selanjutnya.

Setelah mendengar kisah dari Scheherazade, Sang Sultan berpikir, aku akan menunggu sampai besok. Meskipun begitu, setelah ia selesai mendengarkan seluruh ceritanya, aku pasti akan membunuhnya.
Da Jung melihat Yool sudah tertidur tenang. Ia tersenyum dan merasa membacakan cerita seperti ini sungguh cara yang efektif.
Da Jung mengambil spidol dan menuliskan sesuatu di perban yang membalut jari tangan Yool. “Terima kasih Perdana Menteri, karena sudah peduli pada ayahku. Selamat malam.”

Da Jung keluar kamar pelan-pelan agar tak menimbulkan suara yang bisa membuat Yool terbangun. Sebelum keluar kamar ia mematikan lampu kamar dulu.
Perlahan Yool membuka matanya (Dia tadi tidur belum ya) Ia melihat apa yang Da Jung tulis di perban tangannya.

Perdana menteri, cepat sembuh ya!

Yool tersenyum melihatnya. Matanya terus terjaga.
Keesokan harinya, Da Jung, Man Se dan Na Ra mengantar Yool sampai di depan rumah.

“Ayah, sampai bertemu nanti.” sapa Man Se dan Na Ra bersamaan. Yool heran melihat kedua putra-putrinya menyapa dengan sopan padanya. Ia pun berpesan pada keduanya agar jangan terlalu banyak bermain, kerjakan PR dengan baik.

Yool akan masuk ke mobil tapi Man Se memanggilnya. Man Se membuka kedua tangannya. Yool yang heran diam saja. Melihat ayahnya diam saja Man Se berkata kalau lengannya sudah lelah.
Yool pun mengerti, ia segera memeluk putra bungsunya. Yool melihat Na Ra yang sepertinya juga ingin dipeluk olehnya. Tapi Na Ra bilang tak apa-apa, lebih baik ayahnya memeluk Man Se saja. Lagi pula ayahnya juga hanya datang ke pertunjukannya Man Se. “Ayah kan tak peduli padaku.”
Da Jung menutup mulut Na Ra, “Kenapa kau bicara seperti itu pada ayahmu?”

Yool tanya dimana Woo Ri. Da Jung memberi tahu kalau Woo Ri ada di kamar. Dia itu sedang memasuki masa puber. Da Jung mengingatkan Yool, kalau yang lainnya sudah menunggu, jadi Yool harus segera berangkat.
Yool melepas pelukan Man Se dan akan masuk ke mobilnya, tapi Da Jung memanggilnya. Da Jung meminta anak-anak mengucapkan salam pada ayah mereka.

“Ayah, sampai nanti.” ucap Na Ra dan Man Se bersamaan. Yool tertegun melihatnya, ia terharu. Ia pun masuk ke mobil.
Da Jung juga menyapa In Ho. “Ketua Kang, kau juga semangat ya.” In Ho menjawabnya dengan senyuman.
Kemana Yool pergi kali ini… blusukan ke pasar.

Yool menyapa ahjumma penjual yang ada disana dengan menanyakan kondisi terkini pasar. Ahjumma penjual mengeluhkan kalau keadaan di pasar benar-benar kurang bagus.
Yool mengunjungi penjual ikan segar yang dijual disana.
Yool juga mengunjungi pedagang aksesoris. Yool membeli satu bando berwarna pink. Yool akan membayar tapi si penjual yang senang sekali bertemu PM, meminta Yool mengambil saja tak perlu bayar. Tapi Yool tetap membayarnya. Yool juga bertanya pada penjual, untuk putrinya yang sudah kelas lima, kira-kira dia suka tidak ya dengan bando ini. Ahjumma penjual menjawab tentu saja.
Yool melihat disana ada jepit rambut. Ia mengambil satu jepit rambut dan dihitung dengan bando tadi.
In Ho menerima telepon dari seseorang. Ia kemudian memberi tahu PM kalau Presiden sudah membuat keputusan. Akan dilakukan peninjauan ulang terhadap kelayakan proyek. Yool lega mendengarnya.

Wartawan pun bertanya terkait keputusan Presiden, “Sepertinya Presiden setuju untuk bekerja sama. Bagaimana tanggapan anda?”
PM Kwon Yool : “Masyarakat menanggung kerusakan dan tanggung jawab yang berasal dari kebijakan pemerintah yang salah. Karena Presiden sudah membuat keputusan, aku akan berbagi tanggung jawab terhadap keputusan ini. Dan aku akan berusaha proyek ini akan ditinjau secara adil.”

Wartawan masih memberondong pertanyaan, tapi Yool sudah masuk ke mobilnya.
Menteri Park Joon Ki melihat berita wawancara Yool di pasar tadi. Ia kesal dan mematikan TV-nya.

Sekretaris Bae memberi tahu Joon Ki kedatangan tamu seorang reporter dari Goryeo Ilbo.
Reporter Byun berdiri di luar ruangan Menteri Park. Ia mengingat informasi yang ia dapat dari dua polisi di kantor polisi.

Flashback
Polisi menyampaikan kalau benar PM pernah menyeret Reporter Nam ke kantor polisi dengan tuduhan penguntit dan saat itu terjadi sebelum Yool mengadakan konferensi pers. Polisi membenarkan. Polisi yang satunya memberi tahu kalau PM dan Da Jung bertengkar seperti orang gila.

Reporter Byun juga mencari informasi lewat ayah Da Jung. Ayah Da Jung mengatakan kalau PM dan putrinya berkencan ia tahu itu dari koran. Reporter Byun bertanya jadi sebelum muncul berita di koran, apa Ayah Da jung sama sekali tak tahu.

Dan yang terakhir foto-foto antara Da Jung dan In Ho yang ia dapatkan.

Flashback end
Reporter Byun senang sekali karena satu persatu bukti terkumpul. “Kalau bukan penipuan ini pasti perselingkuhan.”

Sekretaris Bae keluar dari ruangan Menteri Park mempersilakan Reporter Byun masuk.
Malam hari, di rumah PM. Man Se mewek karena ayahnya tak membelikan hadiah untuknya dan hanya membelikan hadiah untuk Na Ra.

“Kenapa ayah tak membelikanku hadiah?” tangis Man Se. “Aku benci ayah. Aku benar-benar membenci ayah.” Yool berjanji kalau ia akan membelikan Man Se hadiah. Tapi Man Se sewot menangis masuk ke kamarnya. Na Ra yang senang sekali mendapatkan hadiah dari ayahnya berkata tak usah khawatir, Man Se memang cengeng kok.
Yool mengeluarkan jepit rambut yang juga dibelinya. Na Ra bertanya apa itu. Yool menjawab bukan apa-apa, ia menyimpan jepit rambut itu ke saku jas-nya. Yool menyesal karena lupa membelikan hadiah untuk Man Se.
Da Jung keluar dari dapur membawa minuman, “Mana Man Se?” Ia penasaran dengan, kenapa tiba-tiba Yool memberikan hadiah untuk Na Ra. Yool berkata kalau ia hanya jalan-jalan di pasar dan melihat ada bando jadi ia membelinya.

Da Jung menilai itu hadiah yang bagus dan berharap Yool mau mengurangi tugas rumah yang Yool berikan pada anak-anak. “Apa anda tak merasa tugas yang anda berikan itu sangat banyak?” Na Ra tersenyum senang karena Da Jung membelanya dan berkata begitu pada ayahnya.

Yool malah menegur Da Jung tentang tugas yang ia berikan, “Kau seharusnya memikirkan tugasmu sendiri. Laporan harian. Apa kau sudah menulisnya dengan baik?”

“Tentu saja.” jawab Da Jung.

Yool akan memeriksa tugas Da Jung. Ia meminta Da Jung membawakan laporan harian itu. Da Jung tampak menahan kesal.
Yool masuk ke ruang kerjanya diikuti Da Jung yang membawa laporan harian. Da Jung mengatakan kalau ia sudah melihat berita di TV dan mengucapkan selamat pada Yool.

Sambil membaca laporan harian yang dibuat Da Jung, Yool berencana mengundang Hye Joo dan In Ho untuk minum bersama sambil membahas itu.
Mendengar kata minum, Da Jung senang sekali. Menurutnya itu ide yang bagus. “Untuk hari yang baik ini, maka So-maek lah yang terbaik.” (campuran soju dan bir)

Yool memegang saku jas tempat dimana ia menyimpan jepit rambut. Da Jung berkata kalau ia akan menyiapkan cemilan.
Da Jung akan keluar ruangan tapi Yool berkata yang tak tahu apa yang mau dia katakan. Bingung gitu deh mau ngomongnya gimana.

Da Jung berbalik bertanya, apa ada yang ingin Yool katakan padanya. Yool pun terbata-bata mengatakannya… kau tahu…

Ah iya… Da Jung menilai kedua minuman itu terlalu sederhana untuk hari baik seperti ini. Alkohol, ia akan menyiapkan minuman yang beralkohol.

Da Jung akan keluar tapi Yool kembali mengatakan sesuatu yang tak jelas… “Maksudku… kepala…”

Da Jung cemas, “Apa kepala anda sakit lagi?”

Yool kesal karena Da Jung selalu memotong ucapannya, “Dengarkan aku dulu. Maksudku, pasti kau tak nyaman karena rambutmu panjang.”

Da Jung heran, “Oh rambutku.. aku nyaman-nyaman saja.” Da Jung menyentuh rambutnya.

Yool : “apa aku pernah mengatakannya, apa kau tak ingin mengikat rambutmu dengan sesuatu atau apapun itu namanya? Jadi, kau bisa… benar… kau seharusnya mengikatnya dengan jepit rambut.”
Da Jung : Jepit rambut?

“Benar.” ucap Yool yang tangannya merogoh saku jas untuk mengambil jepit rambut yang dibelinya.

Da Jung : “Ah aku paling benci kalau menjepit rambutku. Kenapa aku harus menggunakan jepit rambut? Memangnya aku anak SD?”

Yool terkejut dan tak jadi mengeluarkan jepit rambut itu, “Anak SD? Apa aku anak SD?”

Da Jung : “Bukan. Maksudku, apa aku ini anak SD?”
Yool jadi emosi dah, “kalau begitu, mau rambutmu digerai atau tidak, aku tak peduli. Kau mau mengikatnya atau tidak, lakukan sesukamu. Dan juga, ini laporan harianmu, apa kau tak menulisnya dengan benar? Tulis ulang satu halaman penuh.”

Da Jung heran kenapa tiba-tiba Yool marah, ia akan mengambil laporan hariannya dari tangan Yool tapi Yool yang kesal meletakan itu di meja.

Yool melihat Da Jung masih di ruang kerjanya, “Apa yang kau lakukan, kenapa tak keluar?”

“Iya ya aku pergi.” ucap Da Jung sebel.
Di luar ruangan, Da Jung heran apa ia harus melawan ucapan Yool. Ia pun menenangkan hatinya supaya lebih sabar menghadapi emosi Yool yang naik turun tiba-tiba. Tapi Da Jung merasa ada yang aneh dari sikap Yool barusan.
Yool mengeluarkan jepit rambut itu dari saku jasnya. Ia tak mengerti kenapa dirinya membeli benda itu, “sekarang, aku… apa yang baru saja kulakukan?”
Park Joon Ki sampai di rumahnya, ia mengingat perbincangannya dengan Reporter Byun.

Reporter Byun : “Pernikahan PM Kwon Yool, apa anda pikir ini pernikahan sungguhan? Bagaimana jika ini adalah pernikahan palsu? Bagaimana jika aku menemukan buktinya?”

“Pernikahan palsu,” gumam Joon Ki. “Konferensi pers besok pasti akan sangat menarik.”

Ponsel Park Joon Ki bunyi, ada telepon dari Blue House. Presiden meminta Joon Ki menemuinya sekarang.
Kwon Yool, Da Jung, Hye Joo dan In Ho minum bersama. Yool memuji kedua staf nya sudah bekerja keras. Ia seharusnya bisa menyelesaikannya lebih baik lagi. Tapi ia menyadari dirinya tak terlalu bisa menangani sendirian.
Da Jung bergumam pelan ternyata Yool tahu tentang diri sendiri. Yool mendengar apa yang Da Jung gumamkan, ia mendelik ke arah Da Jung.
Yool menuangkan minuman untuk Hye Joo, “waktu itu kau mengundangku makan siang, aku minta maaf karena sudah menolaknya.” Hye Joo yang melihat ada tulisan di perban tangan Yool menjawab kalau itu bukan sesuatu yang perlu disesalkan.
Yool juga menuangkan minuman untuk In Ho, “Kau sudah bekerja keras, Ketua Kang. Pasti sangat lelah bekerja bersamaku, kan?” In Ho menjawab sama sekali tidak, tidak melelahkan. Ia malah sangat menyukainya, katanya sambil menoleh sebentar ke Da Jung.
“Aku juga, aku juga, tuangkan juga untukku!” Da Jung meminta Yool menuangkan minuman untuknya.

Yool juga memuji Da Jung yang sudah bekerja keras. Tapi Yool tak jadi menuangkan minuman ke gelas Da Jung, “Tidak tidak, kau minum pelan-pelan saja. Kalau kau terlalu banyak minum dan mabuk. Lalu siapa yang akan membersihkannya? benar kan?” (hahaha)

Da Jung : “Memangnya anda pernah melihatku mabuk?”

Yool mengingatkan tentang kekacauan besar yang Da Jung akibatkan ketika Da Jung mabuk, apa Da Jung sudah lupa itu. (ketika Da Jung muntah di wajah Yool)

Da Jung tertawa mengingat itu, “Baiklah aku mengerti. Aku tak akan minum.” Da Jung meletakan gelas dan mengambil cemilan saja.
Yool terkekeh melihat tingkah Da Jung, ia pun menuangkan minuman untuk Da Jung. “Aku akan menuangkan setengah gelas untukmu. Jadi, kau minumlah pelan-pelan.” Da Jung sanang sekali, ia akan meminumnya pelan-pelan.

In Ho dan Hye Joo diam memperhatikan keduanya.
Hye Joo mengajak Da Jung menyiapkan lebih banyak cemilan. Da jung melihat kalau cemilan yang ada di meja sudah cukup untuk mereka. Hye Joo memberi kode supaya Da Jung ikut keluar ruangan bersamanya. Da Jung yang mengerti pun mengikuti Hye Joo.
Da Jung dan Hye Joo menyiapkan cemilan. Da Jung langsung mencoba melahapnya. Sambil menyiapkan cemilan, Hye Joo bertanya tentang Da Jung yang hidup bersama PM. Da Jung yang awalnya terkejut dengan pertanyaan Hye Joo mengatakan kalau PM itu pria yang baik, walaupun agak sedikit sulit.

Hye Joo membenarkan, Yool itu orang yang sulit. “Sejak aku megenalnya, aku tak pernah melihatnya rapi seperti sekarang. Tidak pernah sekalipun dalam 20 tahun.”

“20 tahun?” Da Jung terkejut mengetahui Hye Joo sudah lama sekali kenal dengan Yool.
Hye Joo mengatakan pertama kali ia dan Yool bertemu itu ketika SMP, “Itu waktu yang sudah sangat lama kan? Walaupun dia seniorku, dia orang yang sulit didekati. Tapi dia orang yang paling dihormati. Sepertinya kau juga sangat menghormatinya, seperti aku.” Da Jung terbata-bata membenarkan, ia sangat menghormati PM.

Hye Joo : “Kalau begitu, kau pasti lebih mengetahui bahwa tak akan lebih dari hal itu kan?”
Beralih ke dalam ruangan dimana dua pria sedang minum sambil bercakap-cakap. Yool ingin tahu bagaimana Kakak In Ho bisa dirawat di rumah sakit.

In Ho cukup terkejut dengan pertanyaan Yool, “Dia mengalami kecelakaan mobil. Saat itu dia sedang bersama wanita yang dicintainya dan dia mengalami kecelakaan mobil.”

Yool : “kecelakaan mobil? Lalu bagaimana dengan wanita itu?”

In Ho : “Dia meninggal.”

Yool turut merasa sedih itu buruk sekali.
In Ho : “Sampai sekarang aku masih merasa menyesal. Aku seharusnya tidak boleh membiarkan kakakku pergi dengan wanita itu. Apa anda pernah menyesal selama hidup anda?”

Yool : “Kenapa tidak? Setiap orang pasti memiliki sesuatu yang tidak berjalan seperti yang mereka inginkan.”

In Ho penasaran ingin tahu, apa itu.

Yool : “Setiap orang mempunyai rahasia yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Paling tidak ada satu. Bisa dibilang aku juga seperti itu.”
Da Jung masuk ke ruangan mambawa cemilan. Yool tanya dimana Sekretaris Seo. Da Jung berkata kalau Hye Joo ingin memantau berita tentang Yool. Ia heran melihat kedua pria ini tak ada yang minum.
Da Jung meminum segelas minuman untuk menghilangkan kegundahan hatinya dan mengingat ucapan Hye Joo tadi.
Flashback

Hye Joo : “Kau pasti tahu bahwa tidak akan lebih dari itu kan?”

Da Jung : “Apa maksudmu?”

Hye Joo : “Untuk berjaga-jaga saja, Jika kau merasakan perasaan yang lebih dari sekedar rasa hormat pada PM. Aku berbicara ini padamu karena aku peduli. Ini karena…. Karena… PM tak akan bisa melupakan istrinya. Tak peduli siapapun wanita itu, dia tak akan memasuki hatinya. Tak peduli berapa lama waktu yang berlalu. Aku mengatakan hal ini untuk kebaikanmu.”

Flashback end
Park Joon Ki bersama Presiden di Blue House. Presiden merasa tak enak pada Myung Shim Grup (perusahaan mertuanya Park Joon Ki) yang mengerjakan proyek ini. “kau bisa mengatakan penyesalan kami secara langsung pada presdir Na, Menteri Park!”

Park Joon Ki : “Dengan terus menurunnya suara untuk partai penguasa dan pihak kepresidenan, saya yakin kalau Presdir akan mengerti bahwa tak ada lagi yang bisa dilakukan.”

Presiden penasaran apa Presdir Na bisa berpikir seperti itu.

Joon Ki berkata karena baginya ada sesuatu yang lebih mengganggunya, “sehubungan dengan PM yang mendapatkan dukungan dan popularitas dibandingkan presiden. Apa anda merasa baik-baik saja?”

Presiden terdiam, ia juga sepertinya tak suka karena Perdana menteri lebih mendapatkan banyak dukungan dan popularitas. (lha yang kerja siapa coba)
Kembali ke kediaman PM. Sambil minum, mereka membuat permainan mengungkapkan harapan masing-masing untuk tahun baru. Da Jung mengungkapkan bahwa yang menjadi harapannya di tahun baru adalah dunia tanpa PR. (hahaha)

Da Jung mengeluh pada PM kalau menulis laporan harian lima halaman itu sangat menyulitkan. “Bisakah anda mengurangi tugasku, perdana menteri?”

“Tidak akan.” tegas Yool membuat Da Jung sebel. Da Jung tahu kalau Yool pasti akan mengatakan itu.
Da Jung bertanya pada Hye Joo apa yang menjadi harapan Hye Joo di tahun baru nanti. Hye Joo berpikir sejenak, “Harapanku adalah pernikahan kontrak ini bisa berakhir dengan baik. Jadi perdana menteri bisa melanjutkan hidupnya dan Nam Da Jung juga bisa melakukan hal yang sama. Itulah harapanku.”

Da Jung heran, “Harapan macam apa itu? Kalau misalnya pernikahan kontrak ini tidak berakhir dengan baik. Apa yang akan kau lakukan?”

Hye Joo : “Aku terkejut mendengarnya, Nam Da Jung apa jangan-jangan kau tak punya rencana terhadap masa depan? Atau jangan-jangan kau berpikir bahwa pernikahanmu dengan perdana menteri sebagai sebuah jaminan asuransi untukmu iya kan?”
In Ho menegur apa maksud perkataan Hye Joo. “Aku tak percaya kau bisa mengatakan hal itu. kau harus manjaga mulutmu.”

Hye Joo mendelik ke In Ho, “Ketua Kang?”
Yool melerai keduanya. Ia sendiri tak tahu apa yang akan terjadi setelah pernikahan kontrak ini berakhir, “Jika kontrak ini berakhir apapun jalan yang dipilih oleh Nam Da Jung aku akan menjaga dan tetap menolongnya.” Yool menatap Da Jung, “Jadi tak usah terburu-buru dan pikirkan baik-baik.”
Da Jung meminat Yool tak usah khawatir padanya. “Setelah pernikahan ini berakhir? Aku akan memikirkan masalah itu. Bagiku, aku akan berpikir apa yang terjadi saat ini. Mengkhawatirkan sesuatu yang tak pasti terjadi bukanlah gayaku.” Da Jung menilai ini semua gara-gara dirinya maka suasana jadi suram begini.
Da Jung kemudian bertanya pada In Ho, “Ketua Kang yang keren, baik dan pandai berbahasa Spanyol, apa harapanmu?” Da Jung mengacungkan sendok sebagai mic ke arah In Ho.

In Ho : “Aku akan… menyatakan perasaanku yang sebenarnya pada wanita yang kusukai.”

Da Jung terkesan mendengarnya, wah….
Acara minum bersama pun usai. Hye Joo dan In Ho keluar dari kediaman PM. Hye Joo menebak kalau wanita yang In Ho maksud pasti Nam Da Jung. “Wanita yang kau cintai. Tapi harus bagaimana, hati Nam Da Jung untuk pria lain.” In Ho berdiri mematung di tempatnya berdiri.
Da Jung yang sedikit mabuk berjalan-jalan di luar. “Dia bilang ingin mengakui perasaannya. Ketua Kang sangat berani. Bagaimana bisa dia berpikir untuk melakukan itu?”

Tiba-tiba terngiang dalam benak Da Jung ucapan Hye Joo, “Perdana menteri tak akan pernah bisa melupakan mendiang istrinya. Tak peduli siapa wanita itu, tidak ada yang bisa memasuki hatinya.”

“Aku tak akan mengakui perasaanku.” sahut Da Jung merasa berkebalikan dengan sikap In Ho yang akan berani mengakui perasaan pada orang yang disukai. “Tidak akan, aku tak akan melakukannya.”
“Nam Da Jung-ssi!” Yool datang melemparkan jaket ke arah Da Jung. “Apa yang kau lakukan disini? Kalau kau tak ingin mati kedinginan, cepatlah masuk!”

Yool akan masuk ke rumah tapi Da Jung mmanggilnya. Da Jung ragu menanyakannya, “ah itu… ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

Yool : “Kalau kau ingin membicarakan mengenai tugas harianmu, hanya satu jawabanku. Tidak.”
Yool berbalik akan masuk ke rumah. Tapi pertanyaan Da Jung menghentikan langkahnya.

Da Jung : “Istri anda, apa anda masih mencintainya? Itukah alasan kenapa anda melarang orang lain masuk ke ruang piano dan melarang Woo Ri bermain musik, iya kan?

Yool berbalik menatap Da Jung.

Da Jung : “Terkadang, anda terlihat sedih apa itu karena karena mendiang istrimu. Apa Karena anda memikirkan istri, benar kan?”

Yool tak menjawab apapun. Ia memalingkan wajah sedihnya dan berlalu dari sana.

Yool masuk ke rumah, ia menarik nafas panjang.
Da Jung yang merasa sedih berusaha mengusir kesedihannya dengan sedikit berolahraga. Ia melihat In Ho datang menghampirinya. In Ho tanya apa yang Da Jung lakukan disini. Da Jung berkata seperti yang In Ho lihat, ia sedang berolahraga. Karena ia ingin mengumpulkan kesadarannya.
“Bolehkah aku bergabung karena sepertinya aku sedikit mabuk? Seperti ini?” In Ho pun memperagakan gerakan olahraga. Da Jung membenarkan dan mengikuti gerakan In Ho.

Da Jung menilai siapapun gadis itu pasti dia sangat beruntung. “Wanita yang akan menerima pengakuanmu betapa beruntungnya gadis itu bisa dicintai oleh pria sepertimu.”
In Ho pun mengumpulkan segenap keberaniannya, “Haruskah aku memberitahumu siapa wanita yang kusukai?”

Da Jung antuasias ingin tahu, “Benarkah? Siapa? Wanita seperti apa dia?”

In Ho : “Orang yang kusukai itu orang yang sangat aneh dan lucu.”

aneh dan lucu, Da Jung merasa itu sama dengannya.
In Ho : “sejujurnya aku tak pernah lagi tertawa setelah kecelakaan yang dialami kakakku. Tapi gadis itu, selalu membuatku tersenyum. Karena dia, aku sering tertawa. Dan karena dia aku selalu gembira. Anehnya, aku tidak bisa lagi bahagia semkipun aku melihatnya. Hatiku terasa sakit, orang itu… orang yang aku sukai…”
“Oh iya aku baru sadar ternyata sudah larut malam ya,” sela Da Jung yang menyadari siapa wanita yang In Ho maksud. Ia tak ingin In Ho mengatakan itu lebih jauh. “Lain kali saja aku mendengarnya, Ketua Kang.”
Da Jung akan pergi dari sana tapi In Ho mengejar dan memeluknya dari belakang. Da Jung yang kaget dan terdiam mematung.

In Ho : “Wanita yang aku sukai itu adalah kau, Nam Da Jung-ssi.”
Da Jung berlari masuk ke rumah. Ia tampak linglung dengan apa yang barusan terjadi. Ia akan minum air tapi airnya habis. Ia pun meminum alkohol sisa minuman tadi. Perasannya campur aduk jadi aneh setelah pengakuan In Ho padanya. Apa yang terjadi dengan hatinya sekarang. Ia menyentuh jantungnya yang berdegup.
Yool masuk ke ruang piano, ia teringat akan ucapan Da Jung tadi.

“Istri anda, apa anda masih mencintainya?”

Yool membuka piano itu dan menatapnya sedih.

Flashback
Yool melihat foto-foto istrinya bersama pria lain (bisa kita lihat kalau di foto itu kakaknya In Ho) foto itu diambil sebelum istrinya mengalami kecelakaan.
Kecelakaan itu sepertinya melibatkan istri Yool dengan pria itu. Posisi Na Young berada di sebelah kanan, sementara yang mengemudi di sebelah kiri. Itu adalah kecelakaan yang merenggut nyawa Na Young.

Fashback end
Yool keluar dari ruang piano dan melihat Da Jung duduk tertidur bersandar di meja. Yool dengan suara pelan membangunkan Da Jung. Ia menyentuh pelan pundak Da Jung, agar Da Jung bangun. Tapi Da Jung yang mabuk tak juga bangun.

Yool melihat botol minuman yang isinya habis, “Apa dia meminum semua ini? Nam Da Jung bangunlah!” Tapi Da Jung tak juga bangun.
Yool duduk di depan Da Jung. Ia mendengar Da Jung mengingau, “Perdana menteri.”
Yool menatap sedih Da Jung yang mengingau menyebut dirinya. “Nam Da Jung… apa yang harus kulakukan padamu? Pekerjaan rumahku yang sebenarnya adalah kau.” Ucap Yool dalam hati.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar